Mengatasi Berita Bohong (Hoax)

Baru-baru ini saya mendapatkan sebuah pesan pribadi dari seseorang yang menanyakan bagaimana caranya untuk meluruskan sebuah berita bohong (hoax) yang sedang beredar di group WhatsApp yang diikutinya. Dia menyertakan beberapa potret (screenshots) dari berita yang dimaksudkan. Situasi seperti ini bukanlah yang pertama kali yang saya alami, karena memang keberadaan berita bohong di Indonesia sudah menjadi semacam wabah (penyakit). Pertanyaannya tetap sah, bagaimana mengatasinya? Berikut ini opini saya.

Pertama, jangan langsung didebat berita bohong tersebut di group WA karena debatan Anda akan tenggelam dalam pesan-pesan lainnya. Masalah dari group chat (dan media sosial secara umum) adalah mereka mudah hilang. Maksudnya sulit bagi kita menemukan data atau tulisan yang sudah lama, misal 3 bulan yang lalu. Jadi kalau ada yang mengirim ulang berita bohong (atau membuat modifikasi dari berita bohong lama), maka kita akan repot lagi karena jawaban kita sudah hilang. Maka salah satu cara untuk mengatasi ini adalah menyimpan sanggahan kita, klarifikasi dan seterusnya, ke sebuah situs web (atau blog) yang relatif lebih permanen dan lebih mudah dicari / diakses.

Kedua, perang dengan berita bohong adalah masalah keabsahan fakta. Darimana kita tahu bahwa yang cerita yang disampaikan itu adalah berita bohong? Maka data tersebut harus didokumentasikan, misalnya boleh dalam bentuk potret layar (screenshot) sehingga orang lain juga dapat melihat topik yang yang sedang dibahas. Jadi data atau “fakta” dari yang disebut berita bohong atau sanggahannya keduanya harus tersedia.

Ketiga, sanggahan atau pelurusan berita bohong ini harus mudah dicari dan juga diviralkan. Maka inilah perlunya ada organisasi semacam hoax buster. Nampaknya saya pun harus membuatkan daftarnya di sini sehingga mudah dicari oleh orang ya? (Nanti saya perbaharui tulisan ini secara berkala dengan daftar tersebut.)

Berikutnya lagi adalah orang yang membuat berita bohong ini akan terus membuat berita bohong. Maka perlu ada upaya untuk menangkap dan menyeret orang tersebut ke meja hijau. Harus diberi hukuman agar jera. Contoh-contoh kasus sebelumnya perlu juga ditampilkan. Saat ini kan lawakannya adalah (1) buat berita bohong, (2) kalau ditangkap nangis-nangis, (3) selesaikan dengan pernyataan yang disegel dengan meterai. Seperti itu belum cukup. Aspek jeranya kurang.

Tentu saja edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan berita bohong – dan bahkan ikut menyebarkan – perlu dilakukan. Seringkali orang tidak secara sadar ikut menyebarkan dengan meneruskan berita bohong tersebut dengan menambahi kata-kata “apakah ini benar?”. Mereka tidak sadar bahwa mereka sebetulnya ikut menyebarkan berita bohong tersebut. Sebelum menyebarkan dan menambahkan kata “apakah ini benar?” itu ada baiknya melakukan pencarian (checking) terlebih dahulu. Memang ini menjadi lebih repot daripada sekedar meneruskan berita bohong tersebut dengan menambahi kata “apakah ini benar?”. Intinya ya harus mau ikut repot. Ini yang susah. Orang malas untuk melakukan hal itu.

Sudah terlalu panjang. Nanti malah tidak dibaca kalau kepanjangan.

Daftar tempat untuk memeriksa berita bohong atau tidak:

  • (akan saya tambahkan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s