Lebih Banyak Buat Vlog

Akhir-akhir ini saya lebih banyak membuat vlog – video yang saya unggah ke YouTube – dibandingkan dengan membuat blog. Kenapa? Karena saya sudah menemukan workflow yang pas untuk saya.

Cara saya membuat vlog adalah dengan menggunakan aplikasi OBS (gratisan) di komputer untuk merekam videonya. Kamera yang saya gunakan juga hanya webcam, yang kualitasnya bagus (Logitech 925e). Setelah direkam, langsung saya unggah ke YouTube channel saya tanpa editing. Jadi prosesnya cepat sekali. Rekam antara 10 menit sampai dengan 15 menit, terus langsung unggah. Selesai.

Dahulu saya memiliki workflow yang lebih ribet. Awalnya saya menggunakan kamera DSLR yang harus difokuskan ke saya. Ini saya minta bantuan anak saya. Kalau anak saya lagi sibuk, saya menunggu dulu. Hasil video dari kamera DSLR tentu saja jauh lebih bagus dari hasil webcam, tetapi ternyata orang tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Mungkin karena konten saya lebih banyak ceritanya daripada melihat video saya. Suara saya rekam dengan menggunakan handphone. Keduanya – video dari DSLR dan audio dari handphone – harus saya gabungkan dengan menggunakan aplikasi Shotcut (gratisan juga dan tersedia di berbagai sistem operasi). Setelah itu saya render (membutuhkan waktu 30 menitan) dan hasilnya barus bisa diunggah ke YouTube. Dengan kata lain, prosesnya membutuhkan setidaknya waktu 1 jam sampai 2 jam. Lama. Ribet. Hasil tentu saja lebih bagus, tetapi lama. Ternyata waktu yang menentukan juga.

Menulis – ngeblog – ini juga bukan sebuah hal yang mudah. Untuk menulis hambatannya adalah dalam mengetikkan apa yang ada di kepala saya. Bottleneck di situ. Untuk membuat tulisan ini saja dibutuhkan setidaknya waktu 20 menit. Ini tulisan yang “nggak pakai mikir”. Kalau tulisan yang lebih berat dan membutuhkan link ke sana ke sini pasti membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Akibatnya waktu dan energi yang dikeluarkan mendekati membuat video dengan DSLR itu.

Kalau diurutkan waktu yang dibutuhkan untuk membuat konten ini dari yang paling cepat ke paling lama adalah; (1) video pakai OBS+webcam, (2) ngeblog, dan (3) video pakai DSLR.

Kalau diurutkan kualitas konten – menurut saya tentunya – maka urutannya terbalik dari yang di atas. Ternyata konten yang bagus masih repot membuatnya. Memang konsekuensinya demikian.

Jangan khawatir, saya akan tetap ngeblog. Hanya saja mungkin frekuensinya agak lebih rendah. Kecuali saya membuat tantangan kepada diri sendiri untuk membuat blog tiap hari. Jadi ada waktu 30 menit untuk menulis setiap hari. Hmmm… punyakah saya waktu seperti itu? Nah, itu pertanyaannya.

Satu pemikiran pada “Lebih Banyak Buat Vlog

  1. Ayo, pak Budi, nulis tiap hari. Saya jadi semangat menulis lagi sejak mbaca tulisan pak Budi tentang “menulis setiap hari”.

    Terima kasih sudah menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s