Budaya Disuapin dan Belagak Pilon?

Jangan bosan dengan tulisan saya yang mengangkat topik ini lagi ya, karena untuk menjelaskan itu harus dilakukan berkali-kali dengan cara yang (sedikit banyak) berbeda. Siapa tahu penjelasan yang ini lebih dapat dipahami daripada yang sebelumnya.

Ini masih cerita tentang budaya disuapin. Maksudnya bagaimana? Begini.

Kadang saya melihat ada orang-orang (banyak) yang merasa harus menjelaskan secara eksplisit dan rinci. Contohnya di dalam film (atau sinetron) untuk menunjukkan bahwa seseorang itu menunggu lama dia berkata, “saya sudah lama menunggu di sini”. Padahal ada cara lain untuk menjelaskan itu, misalnya di depannya ada asbak yang berisi banyak puntung rokok dan beberapa cangkir kopi di depannya. Tidak perlu dijelaskan bahwa dia menunggu lama. Berikan kepada pemirsa untuk mengambil kesimpulan atau interpretasi sendiri.

Hal-hal seperti ini istilahnya adalah patronizing. Menganggap pemirsa tidak memiliki kemampuan untuk menyimpulkan sendiri. Dengan kata lain, pemerisa itu bodoh. Harus diberitahu.

Nah, di sisi lain ada juga orang yang menulis dengan menyiratkan sebuah hal tetapi ketika ditanyakan (atau dikonfrontasi) dia mengelak. Ngeles. Kan saya tidak menuliskan hal itu (secara eksplisit). Memang tidak secara tersurat, tetapi itu tersirat. Misal kalau di Amerika ditampikan foto 7-eleven dan kemudian ditampilkan gambar orang India. Memang stereotype di sana adalah penunggu 7-eleven adalah orang keturunan India. Silahkan juga tonton film seri The Simpsons. Apu, sang penunggu 7-eleven, adalah orang India. Tentu saja dia tidak perlu menuliskan secara eksplisit, “penunggu 7-eleven adalah orang India”. Pemirsa cukup cerdas untuk melihat arah penulis cerita tersebut.

Oh ya, ketika seorang tersebut ditanyakan tentang maksudnya tulisannya, gambarnya, videonya, atau opininya dalam bentuk apapun, maka orang tersebut ngeles. Belagak pilon. Saya kan tidak menulis itu. Mereka pikir kita ini bodoh. Ha ha ha.

Ada yang tersurat dan ada yang tersirat.

Berpikir itu tertanya harus diajarkan.

Satu pemikiran pada “Budaya Disuapin dan Belagak Pilon?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s