Diskusi Dilema Media Sosial (Senin Malam 21 September 2020)

Informasi tentang acara dadakan. Betul. Sebetulnya acara ini sudah ingin kami adakan kapan-kapan tetapi belum menemukan waktu yang “tepat”. Ternyata tidak ada waktu yang “tepat”. Jadi mumpung ada waktu, kami jreng-kan saja. Senin malam, 21 September 2020. Mungkin melalui Zoom dan YouTube. (Detail menyusul.)

Ada dua hal yang ingin disampaikan; (1) tentang topik bahasannya sendiri yaitu dilema media sosial, dan (2) adalah tentang group diskusi kami. Jadi kami memiliki group diskusi yang awalnya adalah mentoring entrepreneurship yang saya adakan secara rutin setiap Rabu siang. Banyak orang yang ingin tahu isinya seperti apa sih? Nah, ini saya ambilkan sebagian dari orang-orang yang sering terlibat dalam diskusinya (yang bisa ngalor ngidul tetapi bertopik).

Tentang topiknya, dilema media sosial. Media sosial sendiri dianggap sebagai salah satu emerging technology. Di negara lain, media sosial merupakan hal yang “baru”. Sementara itu di Indonesia, media sosial bukan barang baru lagi, tetapi kita belum paham efeknya. Lah, mau belajar kemana? Secara kita ini merupakan pionir pengguna (bukan pembuat) di bidang ini. Tidak ada tempat belajar untuk melihat efek sampingannya. Mungkin malah dapat disebut bahwa kita adalah kelinci percobaan bagi media sosial. (Dan kita tidak sadar bahwa kita adalah kelinci. Masih mending kelinci, bukan monyet ya? Ha ha ha.)

Topik efek negatif dari media sosial baru mencuat belakangan ini setelah para pengembang dan orang-orang yang terlibat di perusahaan media sosial itu angkat suara. Ternyata mereka sendiri mengalami kegalauan dalam produk atau servis yang mereka kembangkan. Bahkan ada yang merasa menyesal. Ada banyak tulisan dan buku yang menyarankan agar kita menghapus aplikasi media sosial kita.

Sebetulnya media sosial ini juga bukan tanpa jasa. Ada banyak jasanya. Masalahnya adalah apakah manfaatnya jauh lebih baik dari mudharatnya? Lah, apa saja sih efek negatifnya? Itu yang ingin kita diskusikan hari Senin malam ini.

Saya berharap agar banyak yang dapat mengangkat topik ini agar kita sadar (aware) terhadap situasi yang kita hadapi.

Be there or be square! Hadirlah!

Rekomendasi Video

Ada banyak bahan bacaan dan bahan tontonan di luar sana. Mana saja yang bagus? Dibutuhkan waktu dan usaha untuk memilah-milah. Nah, ini saya menemukan video yang bagus. Yang sangat disarankan untuk ditonton.

Video ini adalah kuliah terakhir dari Randy Pausch. Pasalnya, Randy mengidap kanker dan diberi waktu 3 sampai dengan 6 bulan lagi. Dia bukan orang yang pesimistik, maka dia membuat video ini untuk anaknya. Namun video kuliah ini sangat bermanfaat bagi banyak orang. Termasuk saya.

Bagi saya, video ini sangat menginspirasi. Banyak hal yang bersinggungan atau sejalan dengan prinsip hidup saya. Asyik. Ternyata saya tidak sendirian dalam “kegilaan” atau keanehan pilihan hidup.

Untuk tidak berpanjanglebar, mari kita saksikan videonya.

Permasalahan Sekolah dari Rumah (2)

Tulisan terdahulu (bagian 1) tentang akses dan materi (content) dapat dilihat pada tautan ini (https://rahard.wordpress.com/2020/08/25/permasalahan-sekolah-dari-rumah/). Pada bagian ini kita bahas satu masalah lagi, yaitu perangkat.

PERANGKAT

Ada perangkat yang dibutuhkan untuk akses ke internet. Perangkat ini dapat berupa handphone (yang dilengkapi dengan layanan internet, baik yang berlangganan via operator atau via WiFi). Perangkat dapat juga berupa perangkat khusus seperti Access Point, (WiFi) router, dan seterusnya. Untuk masyarakat umum, perangkat yang digunakan untuk ini biasanya adalah handphone.

Perangkat handphone umumnya cocok untuk dipakai oleh satu orang. Bagaimana untuk keluarga dengan dua anak dan orang tua yang bekerja? Maka seringkali perangkat akses handphone ini tidak cukup. Maka perangkat akses internet di rumah harus yang lebih baik. Untuk sementara ini ini katakanlah kita anggap handphone.

Untuk akses kepada layanan 3G, 4G, WiFi, ada banyak handphone yang harganya sudah terjangkau untuk orang kota. Yang perlu dicarikan adalah perangkat yang murah meriah untuk seluruh Indonesia.

TO DO: ketersediaan perangkat akses yang murah

Perangkat kedua adalah perangkat untuk mengerjakan tugas. Bagusnya ini adalah komputer atau laptop (notebook). (Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah laptop saja.) Idealnya satu orang (satu anak, satu siswa) satu laptop. Apakah ini masuk akal? Untuk itu harus disediakan laptop dengan harga yang murah.

Alternatif dari laptop adalah tablet. Namun penggunaan tablet membutuhkan akses ke cloud untuk menyimpan data yang jumlah dan ukurannya banyak. Ini kembali menjadi masalah akses yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya.

TO DO: ketersediaan laptop yang murah

Terkait dengan perangkat ini adalah perangkat lunaknya (software). Ada banyak perangkat lunak yang dibutuhkan; untuk menulis (word processing), untuk menggambar (drawing, painting), dan seterusnya. Ada banyak perangkat lunak yang berbayar dan ada pula alternatifnya yang tidak berbayar (freeware, open source). Jika dahulu ini masalah, saat ini bukan masalah lagi. Hanya perlu dilakukan pendataan saja sehingga masyarakat tahu alternatif-alternatifnya.

TO DO: dibuat daftar perangkat lunak yang gratis atau murah

Kebanyakan Mengajar

Dalam satu semester biasanya saya mengajar 3 mata kuliah. Itu maksimal. Untuk kasus-kasus tertentu kadang bisa 4 mata kuliah. Nah, sekarang saya mengajar … (eng, ing, eng) … 6 mata kuliah! Gila!

Mengapa ini bisa terjadi? Saya berpikir keras.

Ah, baru kebayang. Biasanya mata kuliah dibuka oleh kampus setelah melakukan optimasi terhadap ketersediaan sumber daya, khususnya ruangan. Karena jumlah ruangan terbatas, maka jumlah mata kuliah yang dapat dilayani terbatas. Sekarang, gara-gara covid-19 ini, semua kuliah dilakukan secara daring (online). Maka batas ruang (dan waktu) hilang! Maka kampus dapat memberikan semua mata kuliah bersamaan. Terserah kepada dosen dan mahasiswanya saja.

Bodohnya, saya sebagai dosen mengiyakan saja. Maka terjadilah 6 mata kuliah itu. Hayah. Semester depan saya akan ngerem lagi ah.

Sebetulnya ini bisa saya atasi juga. Jika semua mata kuliah saya sudah tersedia secara elektronika, misalnya sudah saya rekam dalam bentuk video, maka kelas saya juga dapat saya ajarkan secara daring. Jadi saya dapat mengajar beberapa kelas secara paralel. Toh mahasiswa tinggal nonton video, membaca buku dan bahan bacaan lainnya (makalah, standar), dan mengerjakan tugas-tugas (quiz, pekerjaan rumah) yang juga sudah dapat dibuat secara elektronik. Artinya, batas waktu juga bisa saya jebol. Nah, sekarang masalah berpindah ke mahasiswa.

(Catatan: itulah sebabnya dosen dan guru, mari kita buat versi elektronik dari kuliah / kelas kita.)

Sulit bagi mahasiswa untuk mengambil beberapa mata kuliah secara paralel. Saat ini tidak mungkin. Suatu saat mungkin ditemukan cara untuk melakukannya. Maka pada saat itu, batas ruang dan waktu sudah bisa kita libas. Whoah!

Oh ya. Ini ada versi video dari tulisan ini.

Permasalahan Sekolah dari Rumah

Dalam rangka mengurangi penyebaran virus corona, jaga jarak atau social distancing dilakukan. Maka sekolah-sekolah dilakukan secara daring (online). Sekolah dilakukan dari rumah dengan menggunakan internet atau mekanisme lainnya (radio, tv dan seterusnya), meskipun internet merupakan hal yang utama.

Ada beberapa masalah dengan sekolah dari rumah ini. Masalah tersebut dapat kita bagi dua; (1) akses terhadap materi, dan (2) ketersediaan materi pelajaran.

AKSES

Masalah akses, khususnya akses internet, di Indonesia ini masih riil. Digital divide adalah masalah yang nyata. Sebagai negara yang memiliki ukuran fisik besar, ini bukan masalah yang mudah. Masih ada banyak daerah yang tidak memiliki akses kepada telekomunikasi, apa lagi internet. Jadi masalah utamanya adalah ketersediaan: ada atau tidak ada akses.

To do: perbanyak akses internet di berbagai tempat. Bagaimana dengan program USO dahulu?

Masalah kedua adalah harga. Harga akses ke internet saat ini sebetulnya sudah dapat dikatakan terjangkau jika digunakan untuk keperluan yang “biasa-biasa” saja dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Masalahnya, yang kita hadapi saat ini bukan masalah “biasa” saja. Akses yang dibutuhkan saat ini malah langsung ke kualitas video (kelas, perkuliahan). Jadi kita melewati teks, langsung ke video. Artinya kuota yang dibutuhkan langsung besar.

Bayangkan satu keluarga dengan dua orang anak. Maka dibutuhkan akses internet untuk 3 atau 4 orang (dua orang anak dan orang tua). Ini akses internet dengan kuota yang besar. Untuk akses teks atau media sosial biasa tidak terlalu masalah, ini untuk akses video.

To do: akses internet murah untuk pembelajaran.

Saat ini mulai ada inisiatif dari provider yang memulai dengan memberikan harga murah untuk akses kepada situs-situs pembelajaran tertentu. Contoh adalah produk dari Telkomsel ini, “Merdeka Belajar Jarak Jauh dengan Kuota Belajar Rp10!“. (Update: dapat kabar dari kawan bahwa produk Telkomsel ini tidak bisa diulang karena ada yang abuse untuk beli ratusan GB.)

MATERI PEMBELAJARAN

Jika masalah akses sudah susah, maka masalah ketersediaan materi pembelajaran juga tidak kalah susahnya. Saat ini belum banyak tersedia materi pembelajaran dalam bentuk elektronik yang dapat diakses secara daring.

Sudah ada banyak upaya untuk membuat materi pembelajaran dalam bentuk elektronik, tetapi masih belum mencukupi dan masih menggunakan kaidah lama. Artinya kita baru sebatas melakukan pemindaian (scanning) materi lama ke dalam bentuk elektronik. Hal ini belum mengantisipasi bahwa ada banyak teknologi lain yang dapat digunakan untuk pendidikan. Ini seperti membuat mobil dengan mengacu kepada delman. Atau membuat komputer dengan mengacu kepada mesin ketik. Tidak akan terbayang bahwa komputer dapat melakukan pertukaran data melalui mekanisme file sharing. Mesin tik tidak memberikan bayangan file sharing.

Perlu dimengerti bahwa kita tiba-tiba dihadapkan kepada masalah ini karena adanya virus corona yang memaksa kita untuk melakukan transformasi digital dengan segera. Dari dahulu kita mencoba melakukannya tetapi karena tidak terpaksa, langkahnya lambat. Sekarang terpaksa. Namun perlu dipahami bahwa membuat materi pembelajaran ini tidak mudah dan membutuhkan waktu.

Kita mulai dari pemindaian (scanning) materi. Kemudian dilakukan dengan menulis ulang materi tersebut ke dalam dokumen presentasi dan dokumen word processing. Ini sudah merupakan peningkatan, tetapi menurut saya ini masih memiliki masalah. (Lihat tulisan saya, “Membaca Buku atau Menonton Video“.) Menurut saya, perlu dikembangkan materi dalam bentuk video karena siswa sekarang cenderung untuk lebih menyukai pelajaran dalam bentuk visual (dan audio). Tentu saja membuat materi pendidikan dalam bentuk seperti ini menjadi lebih sulit, lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang lebih banyak.

To do: membuat materi pelajaran dalam bentuk video. Perlu pendanaan yang besar untuk ini. Pengembangan materi ini juga perlu kajian lagi karena kebanyakan materi yang ada tidak menarik sehingga pembelajaran kurang optimal. Perlu story tellers. (Ini akan menjadi pembahasan terpisah.)

PENUTUP

Sebetulnya masih ada banyak hal yang perlu didiskusikan, akan tetapi tulisan ini sudah terlalu “panjang” (untuk ukuran kekinian). Akan saya buatkan tulisan untuk bahasan lainnya. Untuk sementara ini mari kita diskusikan tentang hal-hal yang sudah saya ungkapkan di atas. Beri komentar atau masukan Anda.

Update: Bagian kedua dari tulisan ini (tentang perangkat) ada pada tautan ini:
https://rahard.wordpress.com/2020/08/29/permasalahan-sekolah-dari-rumah-2/

Membaca Buku atau Menonton Video

Tahukah Anda bahwa berdasarkan ranking PISA (Programme for International Student Assessment), Indonesia dalam membaca merosot ke ranking 72 dari 77 negara. Artinya, siswa Indonesia memang tidak suka membaca. Bukan hanya siswa Indonesia, orang Indonesia secara umum tidak suka membaca. Sementara itu pada beberapa pertemuan (yang saya ikuti dan amati) ada beberapa upaya untuk menaikkan minta baca dengan cara membuat banyak buku. Hmmm …

Pendekatan ini menurut saya masih kurang tepat. Kita sudah lama mencoba hal ini dan tidak berhasil. Maka dari itu perlu dilakukan pendekatan lain yang berbeda dari sebelumnya. Out of the box. Dalam hal ini saya mengusulkan untuk membuat video daripada membuat buku. Alasan saya adalah orang Indonesia lebih menyukai audio visual. Video lebih banyak dilihat daripada buku.

Apakah melihat video lebih buruk atau lebih rendah daripada membaca video? Ukuran yang dibuat oleh kebanyakan orang adalah berbasis membaca. Padahal secara kultur, orang Indonesia tidak suka membaca. Sudah pasti kita akan berada pada peringkat rendah. Ini seperti mengukur kehebatan binatang dari kemampuan berenangnya. Lah, kalau seperti ini akan susah. Leopard pasti akan kalah dengan ikan. Demikian pula kalau ukurannya adalah kemampuan memanjat pohon. Maka yang memang adalah monyet, bukan buaya.

Sebetulnya yang lebih utama adalah masuknya ilmu itu ke kita, bukan? Bahwa medianya melalui buku atau melalui video semestinya tidak masalah. Dahulu buku yang paling memungkinkan karena teknologi yang tersedia (dan paling murah) adalah dengan menggunakan percetakan. Sekarang sudah ada YouTube dan cloud untuk menyimpan data dalam bentuk apapun, termasuk video. Jadi sekarang semestinya lebih memungkinkan membuat video.

Masih banyak orang yang tetap ngotot bahwa membaca (buku) dan membuat buku adalah yang paling utama. Bagi sebagian kecil orang Indonesia ini benar. Saya sebetulnya termasuk kelompok yang ini, yaitu kelompok yang lebih suka membaca. Lucunya orang-orang yang mengusulkan perbanyak baca buku bukan orang yang suka membaca buku. Ketika saya tanya buku apa yang sedang dibaca, atau sebutkan sepuluh (10) penulis Indonesia kesukaannya, maka mereka kesulitan menjawab. Persis. Karena mereka tidak suka membaca.

Saya ambilkan contoh yang sedang saya alami ini. Saya sedang membaca dua buku (berserta buku-buku lainnya); (1) Pedro Domingoes – The Master Algorithm, (2) Shoshana Zuboff – The Age of Surveillance Capitalism. Kedua buku tersebut merupakan buku yang banyak direkomendasikan oleh orang-orang terkenal (thinkers, leaders) berskala dunia. Ternyata memang buku-buku tersebut bagus. Sayangnya, lambat sekali saya membaca buku tersebut.

Saat ini bacaan saya untuk buku Pedro Domingoes baru sekitar 65% dan buku Prof. Zuboff baru 2% (karena baru memulai). The Master Algorithm bercerita tentang madzhab Artificial Intelligence (AI). Bagus, tapi susah bacanya. Bakalan lama untuk menyelesaikannya. Saya membutuhkan informasi yang cepat. Maka yang saya lakukan adalah saya mencari video tentang buku-buku tersebut. Eh, ada! Maka yang saya lakukan adalah menonton video-video tersebut. Setelah menonton video tersebut maka saya paham esensi dari buku yang sedang saya baca.

Berikut ini adalah link-link video yang saya maksudkan di atas:

Poin yang ingin saya sampaikan adalah menonton video itu bagus untuk meningkatkan minat baca. Harapannya, setelah menonton video tersebut maka orang akan membaca buku-bukunya. Jika akhirnya tidak membaca bukunya pun, setidaknya esensi dari apa yang diutarakan dalam buku tersebut sudah dipahami. Nah, ini yang saya maksudkan perlu diperbanyak video-video yang berkualitas.

Oh ya, contoh video-video yang berkualitas ada banyak. Misalnya video-video yang dibuat oleh National Geographic, BBC, PBS, dan seterusnya. Banyak sekali videonya. Nah, harus dibuat video semacam ini ke dalam bahasa Indonesia.

Oh ya (lagi). Sebagai perbandingan, saya buatkan juga video tentang opini ini. Di bawah ini ada videonya. Anda pilih yang mana? Membaca tulisan ini atau menonton videonya?

Menyoal Tiktok

Sedang ramai bahasan tentang Tiktok. Bahkan negara Amerika akan melarang penggunaan Tiktok di Amerika jika tidak dimiliki oleh perusahaan Amerika. Wuih. Sedemikian seriusnyakah Tiktok?

Saat ini memang Tiktok sedang populer. Awalnya, Tiktok ditertawakan banyak orang karena dianggap tempat bermainnya anak-anak alay. Ya, benar, anak-anak alay. Maka banyak orang yang tidak mau menggunakannya. Malu ah. Saya pun sempat mencoba Tiktok. (Ini jamannya Bowo Tiktok. Masih ingatkah? Tahukah? Apa kabarnya sekarang ya?) Pokoknya semua layanan internet harus saya coba. Ya ternyata isinya seperti itu-itu saja. Memang anak-anak alay. Sekarang Tiktok isinya bukan lagi anak-anak alay, tetapi orang dewasa, dan bahkan dijadikan tempat untuk berdagang. Menjadi platform yang serius.

Bagi yang memperhatikan, perjalanan Tiktok ini akan sama dengan perjalanan aplikasi-aplikasi lain seperti Twitter dan Instagram. Pada awalnya Twitter juga sangat populer, tetapi kemudian digantikan oleh Instagram. Sekarang Instagram digantikan oleh Tiktok. Maka Tiktok pun akan digantikan oleh sesuatu lagi. (Siapkah Anda membuat “sesuatu” itu? Apa ya?)

Mengapa pergantian ini terjadi? Menurut saya, yang utama adalah karena (kelompok, komunitas) penggunanya juga berbeda. Sebagai contoh ketika Instagram naik daun, saya tanya kepada anak-anak muda penggunanya. Kenapa pakai Instagram? Salah satu alasannya adalah karena orang tuanya ada di Twitter. Ha ha ha. Ini jawaban yang nyata. Anak-anak selalu tidak ingin berada dalam satu platform dengan orang tuanya. (Ternyata hal yang sama juga terjadi antara Twitter dan Facebook. Generasi Twitter tidak mau di Facebook karena orang tuanya ada di Facebook.) Facebook, Twitter, dan Instagram bisa saja memiliki fitur yang sama dengan Tiktok, tetapi mereka tidak akan dapat memindahkan pengguna Tiktok. Kecuali, mereka mengusur pengguna-pengguna lamanya. Jadi ini bukan soal fitur semata.

Soal isinya (content) bagaimana? Bagus-bagus kok. Tapi semua platform juga punya content yang bagus-bagus. Harusnya ada semacam tempat untuk melakukan kurasi content yang bagus-bagus ya? Soalnya kalau search engine, terlalu banyak yang melakukan manipulasi (ngakalin).

Saat ini Microsoft diberitakan sedang mempertimbangkan untuk membeli Tiktok. Menurut saya ini adalah investasi yang buruk. Kecuali memang untuk dibeli kemudian dinaikkan (digelembungkan) value-nya kemudian dijual lagi. Ini membutuhkan kepandaian menggoreng nilai perusahaan. Atau Tiktok dibeli untuk dibunuh. Selain dari itu, saya tidak melihat ini sebagai investasi jangka panjang.

Nah, pertanyaannya adalah apakah saya perlu membuat akun Tiktok lagi ya? Saya sudah lupa password akun yang lama.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2020

Topik yang akan dibahas kali ini adalah topik yang serius. Pertumbuhan ekonomi sangat penting bagi kita semua, tetapi memang sulih memahaminya. Ini adalah upaya saya untuk mencoba memahami situasi saat ini. Analisis amatiran ini. Data diperoleh dari Rilis BPS tanggal 5 Agustus 2020. Saya mengikuti presentasi ini melalui Zoom. Tidak semua slide akan saya komentari.

BPS-3

Gambar di atas menunjukkan bahwa sektor Pertanian pada triwulan kedua tahun 2020 ini tumbuh pesat. Alhamdulillah. (Meskipun nanti dapat dilihat pada slide berikutnya bahwa perbandingan tahun-ke-tahun, tahun ini kita masih di bawah tahun lalu.) Sektor kedua yang tetap tumbuh positif adalah sektor Infokom (informasi dan komunikasi). Hal ini dapat kita pahami karena banyak perusahaan yang menerapkan Work from Home (WfH) dan sekolahan pun dilakukan dari rumah. Maka sektor ini tetap tumbuh. Sampai kapan? Kita belum tahu. Sektor yang paling terpukul memang sektor Transportasi dan Pergudangan.

BPS-4

Slide di atas menunjukkan perbandingan dengan tahun lalu. Seperti sudah saya komentari di atas soal sektor Pertanian dan Infokom.

BPS-14

Slide di atas menarik karena menunjukkan bahwa perdagangan & reparasi mobil dan motor terjadi penurunan drastis. Dapat dimaklumi dalam situasi COVID-19 ini. Orang tinggal di rumah. Mobil saya pun seharusnya sudah diservis mungkin 3 bulan yang lalu, tapi belum sempat saya bawa ke tempat servis. Takut juga sih.

BPS-20

Terlihat dari slide di atas bahwa pertumbuhan ekonomi ditopang oleh Konsumsi Pemerintah. Ini menunjukkan bahwa pemerintah memang sudah melakukan apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu Konsumsi Rumah Tangga menurun. Dapat dimaklumi karena orang akan ngirit dan banyak juga orang yang kehilangan pekerjaan sehingga daya beli menurun. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah menaikkan daya beli masyarakat. Itulah sebabnya ada dana bantuan (stimulus) yang langsung diberikan kepada masyarakat. (Besarnya berapa? Katanya 600 ribu/bulan? Mekanismenya bagaimana?) Ini masih dapat kita perdebatkan, tetapi memang inilah yang harus dinaikkan. Apakah nantinya akan menjurus kepada pembelian hal-hal yang konsumptif? Entahlah.

Stimulus memang dapat diberikan langsung kepada masyarakat tetapi dapat juga diberikan kepada perusahaan. Kemarin saya mendengarkan (referensi?) bahwa akan ada stimulus yang diberikan pemerintah kepada perusahaan / UMKM. Betulkah? Bagaimana bentuknya?

[Ini bagian yang perlu menjadi diskusi]

Ada sedikit keluhan dari perusahaan yang saat ini bertahan. (Seperti perusahaan yang saya kelola.) Kami tidak mendapat bantuan sepeserpun dari pemerintah. Padahal pernah perusahaan-perusahaan seperti kami ini sangat besar. Kami tetap mempertahankan karyawan sehingga mereka tidak menjadi beban dari pemerintah. Tetapi perjuangan kami ini tidak mendapat apresiasi. Stimulus malah diberikan ke pihak lain.

Stimulus yang diberikan pemerintah masih harus kita diskusikan. Ada banyak yang kelihatannya kurang/tidak berdampak. Seperti menggarami lautan. Jangan melakukan hal-hal yang “biasa” saja. Ini situasi yang tidak biasa dan membutuhkan solusi yang tidak biasa juga.

BPS-29

Dalam rangka menghambat penyebaran virus corona ini maka PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diterapkan. Akibatnya ekonomi terdampak atau terpuruk. Saat ini PSBB sudah diperlunak. Ada relaksasi. Terlihat dari slide di atas ada pertumbuhan. (Lihat data perbandingan antara bulan Juni dan Mei.) Jadi memang ada efek dari PSBB terhadap ekonomi. Permasalahannya adalah kapan kita menerapkan PSBB dan kapan melonggarkan? Antara kesehatan dan ekonomi. Tarik ulur. Kunci utamanya adalah kedisiplinan. Ketika masyarakat disiplin, maka PSBB dapat dilonggarkan sehingga ekonomi tidak terpuruk.

Demikianlah catatan dari saya.

Update

Saya tambahkan beberapa gambar / informasi dari sumber lainnya lagi. Di bawah ini adalah perbandingan pertumbuhan ekonomi dari beberapa negara lainnya. Ada beberapa analisa yang mengatakan bahwa Indonesia pada Q2 ini memang tidak terlalu terpuruk dibandingkan negara lain, tetapi negara lain akan kembali (bounce back) dengan lebih cepat pula. Bentuknya seperti huruf V (V-shaped). Sementara itu, Indonesia lebih ke arah U-shaped. Lambat tumbuhnya. Mari kita tunggu buktinya.

117103494_10222079314565811_6647725188411946409_n

Kematian Privasi?

Kematian Privasi ?
Yuk, simak ulasan dari pakarnya.
Buruan daftar, tempat terbatas

nyantrik BR

***
Budi Rahardjo adalah pendiri dan ketua ID-CERT (Indonesia Computer Emergency Response Team) yang berdiri tahun 1998. ID-CERT merupakan tim koordinasi teknis berbasis komunitas independen dan non profit. ID-CERT berawal dari “kenekatan”, karena belum ada CERT di Indonesia pada saat itu. ID-CERT bersama JP-CERT (Jepang) , AusCERT (Australia) dan CERT negara-negara lain di regional Asia Pacific adalah pendiri forum APCERT tahun 2001.

Beberapa insiden yang dilaporkan masyarakat ke ID-CERT antara lain pembajakan akun medsos, pembajakan pengelolaan nama domain, deface, Web/Phishing, spam dan aktivitas internet abuse lainnya. Sebagai pimpinan ID-CERT Budi Rahardjo melihat dan mengalami langsung pasang naik (dan tak pernah surut) beragam insiden keamanan internet di Indonesia.

Melihat ke belakang, Pak Budi, demikian para mahasiswa di ITB memanggilnya, adalah orang Indonesia pertama yang membuat website (dahulu disebut “homepage”) . “The Ultimate Indonesian homepage” adalah halaman web pertama tentang indonesia yang numpang di server University of Manitoba, Canada, tempat Pak Budi bersekolah dan bekerja di awal tahun 90-an. Sebagai informasi halaman web pertama di dunia dibuat oleh Tim Berners-Lee di Swiss pada 6 Agustus 1991 yang berjalan di atas komputer NeXT. Secara kebetulan komputer Pak Budi waktu itu juga NeXT. Singkat cerita, sampai sekarang, belajar dan ngoprek, adalah his way of life.

Malam ini, Kamis 06 Agustus 2020, Jam 19.30, Pak Budi akan mengajak kita untuk berdikusi tentang sesuatu yang (dulu?) menjadi barang berharga kita, yaitu privasi. Apakah benar privasi telah mati di era internet ini? Kami tunggu Anda.

Catatan: Kami membatasi jumlah peserta zoom sebanyak 50-an orang, agar setiap peserta punya kesempatan untuk berdiskusi. Namun jangan khawatir, Anda tetap bisa mengikuti keseruan diskusi secara LIVE di Youtube Channel Budi Rahardjo.

ya mbok google dulu

muncul lagi. itu klaim kepakaran seseorang yang tak berbasis.
aneh juga di jaman internet ini orang malas mencari informasi.
ya mbok google dulu.

banyak yang mewawancara saya tanpa mengetahui siapa saya.
lakukan pekerjaan rumah dahulu.
ya mbok google dulu.

pak budi tahu sistem operasi bernama linux?
ya mbok google dulu.
(yang ini mungkin tidak ketemu karena informasi untuk kalangan terbatas?)

Masih Tak Berpuisi

Masih belum berhasil membuat lirik lagu atau puisi yang bagus. Bagaimana mau bisa? Wong latihan juga jarang atau tidak pernah. Ha ha ha. Ini seperti ingin menjadi programmer yang handal tapi jarang membuat kode.

Ya, ya, ya, saya tahu saya harus sering latihan menulis. Terlalu banyak alasan untuk tidak menulis. Tadinya blog ini merupakan salah satu tempat latian saya untuk menulis. Dojo-nya saya. Tapi saya terlalu malu untuk menampilkan kedunguan saya di sini. Ha ha ha.

(Mencari kertas untuk dicorat-coret dulu dan kemudian dibuang.)

Memantau Temperatur Secara Daring

Beberapa hari yang lalu katanya Bandung dingin. Pagi hari temperaturnya bisa mencapai 15C. Wah. Yang bener? Akhirnya saya iseng dan memasang sensor temperatur (DHT-22) yang saya hubungkan ke perangkat IoT (ESP 8266). Data dari sensor ini dapat diakses secara daring (online), meskipun masih internal di jaringan LAN kami. Videonya ada di sini.

Hasil dari pembacaan sensor kemudian saya plot dalam bentuk grafik. Hasilnya kok ada yang aneh. Ada lonjakkan pada jam tertentu. Apa ya? Lihat pada bagian kiri di grafik berikut ini. Ada bagian yang meloncat.

suhu

Akhirnya tadi pagi, saya tongkrongi pas jam segitu. Apa yang terjadi? Eh, ternyata sensor terkena sinar matahari secara langsung. Ha ha ha. Pantas saja ada lonjakan data. Maka sensor saya pindahkan, tapi masih di bawah atap. Hasilnya tidak ada lonjakan lagi, tapi temperatur Bandung masih terlihat tinggi.

photo6127252777890589447

Sekalian saya pindahkan ke tempat yang lebih adem saja. Di sini saja. Mari kita amati perubahannya. Secara cepat saya amati, bedanya 1 derajat Celcius. Beda jarak 1 meter sudah beda hasilnya. Masalahnya adalah lebih ke arah di bawah atap yang berbeda. Saya akan amati lebih lanjut.