Kuliah Pagi Ini: Hash

Pagi ini seharusnya adalah waktunya UTS, tetapi di kelas saya tidak ada UTS. Adanya makalah di akhir kelas. Term paper. Maka pagi tadi saya memilih untuk mengajar.

Kuliah tadi pagi melanjutkan kuliah sebelumnya yang menyisakan bagian akhir dari kriptografi. Mulailah saya menjelaskan tentang message digest dan fungsi hash. Untuk menjelaskannya saya langsung membuat kode singkat di depan kelas. Live coding. Sebetulnya saya tidak berencana untuk langsung membuat kode di depan kelas karena seingat saya kodenya sudah ada di komputer. Baru teringat bahwa kode tersebut ada di komputer saya di rumah. Yang ada adalah screenshot yang saya ambil. Yaaah. Tapi saya teringat kodenya (karena gampang kok). Langsung saya kodekan. Lima menit selesai.

Kode singkat BR1-hash

Intinya adalah saya menunjukkan bahwa fungsi hash itu dapat dibuat dengan menjumlahkan karakter-karakter yang membentuk sebuah kata. Misalnya kata yang ingin kita hash-kan adalah “BUDI”, maka kita ambil nilai ASCII dari ‘B’, ‘U’, ‘D’, ‘I’ dan dijumlahkan. Hasil perjumlahannya adalah 292. Jadi nilai hash-nya adalah 292. Ketika ada orang yang mengubah kata tersebut menjadi “RUDI”, maka nilai hash-nya menjadi tidak cocok.

Kemudian saya cerita tentang pemanfaatan hash ini dalam pemrograman database sampai ke Blockchain. Untuk yang ini, ceritanya lain kali saja ya. Sudah kepanjangan.

Iklan

Kehadiran di Dunia Siber

Salah satu tugas yang saya berikan kepada mahasiswa MBA saya adalah melakukan pencatatan kehadiran kita di dunia siber – atau lebih tepatnya di media sosial. “Kita” yang dimaksud di sini boleh berarti akun pribadi, boleh jadi akun bisnis yang ingin kita kembangkan. Keberadaan ini dapat kita anggap sebagai salah satu tolok ukur kepopuleran yang nantinya dapat digunakan sebagai bagian dari marketing. Itu pelajaran berikutnya (yang nanti juga akan saya coba tampilkan).

Mencatat adalah salah satu kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum kita dapat melakukan pengelolaan. Bagaimana kita dapat meningkatkan keberadaan kita di dunia siber jika kita tidak mencatat? Maka kebiasaan mencatat merupakan kegiatan yang baik.

Apa yang dicatat? Kita mulai dari yang umum saja, media sosial. Pada saat tulisan ini dibuat, media yang paling banyak digunakan adalah Instagram. Oleh sebab itu, itu yang akan dijadikan patokan. Media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter, sempat lebih populer tetapi sekarang Instagram-lah rajanya. Gambar berikut ini merupakan salah satu contoh catatan yang saya buat. (Catatan: akun-akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”.)

Beberapa catatan:

  • Akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”;
  • Facebook page berbeda dengan akun Facebook yang biasa. Akun Facebook biasa saya sudah mencapai batas atas, yaitu 5000 orang. Tidak dapat menambah teman lagi. Ada lebih dari 1000 orang yang menanti untuk diterima pertemanannya. Facebook Page lebih fleksibel, tetapi ternyata lebih sedikit followers-nya. Ini karena tidak saya promosikan;
  • LinkedIn jarang saya gunakan. Ada banyak permintaan untuk disambungkan tetapi karena saya tidak kenal, jadi belum saya terima. Ada sekitar 300-an yang belum saya proses.

Nantinya pencatatan yang kita lakukan secara manual ini dapat diotomatisasi dengan menggunakan program. Ada juga perusahaan yang menyediakan layanan untuk memantau keberadaan kita ini, tetapi kita perlu tahu cara manualnya dahulu.

Data ini akan kita jadikan dasar (baseline) sebelum kita melakukan kegiatan pemasaran. Berbagai aktivitas dapat kita lakukan dan nantinya kita ukur keberhasilannya (efektivitasnya) berdasarkan data kita ini. Nanti akan kita bahas setelah saya memberikan tugas kepada mahasiswa.

Tunggu tanggal mainnya…

Apa Itu Internet of Things (IoT)?

Belakangan ini mungkin Anda sering mendengar kata IoT – Internet of Things. Apalagi dengan ramainya istilah industri 4.0, semakin banyak orang berbicara tentang bagaimana cara menghubungkan dunia nyata (fisik) dengan dunia siber (cyber). Apa itu IoT?

Ada dua kata dalam Internet of Things, yaitu “Internet” dan “Things”. Kita mulai dari kata keduanya dahulu, “things”. Apa itu “things”?

Terjemahan langsung dari kata “things” adalah “barang” atau “benda”. Dalam istilah ini yang dimaksudkan dengan barang adalah … ya apa saya, barang-barang. Maksud lebih spesifiknya lagi adalah barang yang dapat kita program. Kalau dahulu, barang atau benda yang dapat diprogram adalah komputer. Namun sekarang sudah banyak benda lain yang dapat diprogram. Handphone kita juga dapat diprogram. Microwave di dapur kita juga dapat diprogram. Mesin cuci juga dapat diprogram, meskipun barang-barang yang terakhir saya sebutkan di sini memiliki pemrograman yang terbatas.

Dalam istilah IoT, yang dimaksudkan barang adalah semua barang. Keberadaan komponen mikroprosesor dan mikrokontroler yang semakin kecil dan semakin murah membuat semua benda dapat diprogram.

Kata kedua adalah “internet”. Yang dimaksud dengan “internet” di sini adalah jaringan komputer. Boleh jadi jaringan komputer ini adalah “internet” yang kita kenal sekarang, tetapi boleh juga jaringan internal (misal berbasis Bluetooth).

Benda yang dapat diprogram sudah cukup menarik, tetapi mereka berdiri sendiri. Begitu mereka dapat diakses melalui sebuah jaringan maka benda tersebut dapat mengirimkan data ke tempat lain. Mereka juga dapat dikendalikan (dapat diprogram) dari jarak jauh.

Gabungan kedua kata tersebut – Internet of Things – bermakna benda-benda yang dapat diprogram dan terhubung melalui jaringan.

Contoh-contoh IoT ada banyak. Dalam kehidupan sehari-hari yang sudah sering kita lihat adalah smart watch, jam yang bukan hanya dapat menunjukkan waktu saja tetapi dapat juga memantau kondisi fisik kita; berapa jarak jalan kaki kita, denyut jantung, dan seterusnya. Hasilnya dapat dilaporkan melalui Bluetooth ke handphone dan dapat langsung terlihat di internet. Selain ini masih banyak contoh-contoh lainnya.

Tentang Unicorn dan Pendanaan Perusahaan

Kemarin saya memberikan presentasi tentang technopreneurshipentrepreneurship berbasis teknologi. Salah satu pertanyaan yang dilemparkan adalah apa pendapat saya tentang unicorn dan pendanaan perusahaan yang berjuta-juta dolar.

Jawabannya saya satukan saja ya. Soal unicorn, definisinya, Anda dapat lihat di tempat lain. Supaya Anda juga ada sedikit berusaha. ha ha ha. (Nanti kalau banyak permintaan, ya terpaksa saya buatkan tautannya di sini.) Singkatnya adalah perusahaan yang mendapat pendanaan sangat besar sekali disebut sebagai unicorn. Hal ini disebabkan langkanya perusahaan yang seperti ini.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan perlombaan untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. Perlombaan untuk menjadi unicorn. Banyak orang yang justru melihat pendanaan perusahaan sebagai sebuah prestasi. Perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. (Padahal porsi saham mereka makin berkurang.)

Mengapa mendapatkan pendanaan dianggap sebagai prestasi? Bagi saya ini bukan sebuah presetasi. Perusahaan menghasilkan inovasi, produk / servis yang keren, itu merupakan presetasi bagi saya. Mendapatkan pendanaan sebagai prestasi? Kurang pas. Saya paham bahwa mendapatkan pendanaan – apalagi dalam jumlah yang sangat besar – tidaklah mudah, tetapi itu bukan sebuah ukuran yang layak untuk dijadikan ajang perlombaan.

Analoginya begini. Bayangkan Anda seorang koki (chef) yang keren. Anda kemudian akan membuat sebuah masakan untuk saya (kami). Maka Anda mendapatkan uang untuk belanja bahan-bahannya; daging, ikan, sayuran, bumbu-bumbu, dan seterusnya. Agak aneh kalau presetasi Anda diukur dari MENDAPATKAN UANGnya. (Saya tuliskan dengan huruf besar dan tebal.)

Bagi saya, yang lebih penting adalah makanan yang Anda buat. Apakah makanan yang Anda buat itu berupa sebuah master piece – karya yang luar biasa? Enaknya kurang ajar! Jika ya, ini adalah sebuah prestasi. Inilah yang lebih penting. Bukan mendapatkan uangnya yang lebih penting.

Kalau mendapatkan uangnya yang lebih penting, maka restoran-restoran itu lebih mementingkan pengumuman mendapatkan uangnya (investasinya) dibandingkan mempromosikan makanannya.

Begitulah pendapat saya tentang unicorn dan/atau pendanaan perusahaan yang sangat besar.

Menyikapi Kasus Cuitan CEO Bukalapak

Semalam cuitan CEO Bukalapak menjadi viral. Ini tampilannya.

Cuitan yang sepertinya biasa-biasa itu ternyata menjadi viral karena kalimat yang terakhir yang memuat kata-kata “presiden baru“. Tahun ini memang banyak orang yang sensitif terhadap pemilihan presiden. Sebagian besar orang mengasosiasikan hal ini sebagai dukungan kepada calon presiden 02, Prabowo. Padahal dalam berbagai acara Bukalapak, presiden Jokowi diundang dan hadir. Banyak orang yang mengatakan bahwa Achmad Zaky tidak berterimakasih.

Mulailah dicari-cari kesalahan-kesalahan lain, seperti misalnya data tersebut adalah data tahun 2013 bukan 2016. (Ini sudah direvisi.) Dan banyaklah kesalahan lain yang dicari-cari.

Akibat dari ini maka muncullah gerakan untuk “uninstall” aplikasi Bukalapak (dengan tagarnya). Bahkan ada banyak komentar yang negatif di Playstore. Netizen memang kejam.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan semuanya. Santai saja.

Kebetulan, saya sedang mengajar kuliah “New Venture Management” di MBA Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB. Mahasiswanya adalah para pendiri (dan biasanya CEO) dari usaha-usahanya. Kebetulan ada kasus ini yang dapat saya angkat sebagai studi di kelas.

Andai kita adalah Board of Directors (BoD) dari Bukalapak. Mari kita panggil CEO-nya dan minta pertanggungjawaban. Masalah sudah terjadi. Apa yang harus dilakukan? Itu adalah salah satu dari serangkaian pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa. Apa usulannya?

Usulan pertama adalah adanya permintaan maaf. Itu sudah dilakukan (meskipun ada yang masih belum dapat menerima itu.) Ini adalah langkah klasik.

Usulan-usulan apa lagi? Yang out-of-the-box. Maka mulailah muncul ide-ide yang “cemerlang”. Berikut ini adalah beberapa usulan yang muncul.

Ada usulan untuk menggunakan momen ini untuk menerbitkan voucher khusus. Voucher “mintamaaf“. Saya usulkan namanya voucer “BukaMaaf“. ha ha ha. Orang Indonesia sangat pemaaf.

Usulan berikutnya adalah untuk memanfaatkan spotlight ini. Turn this bad publicity into a marketing stunt. Misalnya, justru gunakan momen ini untuk menjelaskan R&D yang sudah dilakukan di Bukalapak, dan seterusnya. Justru momen ini digunakan untuk lebih memperkenalkan sisi positif dari Bukalapak. Atau mungkin dapat digunakan untuk marketing lain yang lebih menjual. Mumpung lagi dapat sorotan.

Usulan lain lagi adalah membuat short movie. Bukalapak dikenal dengan iklan-iklannya yang berbau cerita. Misalnya dalam cerita ini dikisahkan Achmad Zaky dipecat dan Bukalapak bangkrut. Kemudian ditunjukkan kerugian yang terjadi bagi Indonesia. Saya malah menambahkan sedikit twist di plot ceritanya. Diceritakan Achmad Zaky pulang ke Solo dan ketemuan dengan Jokowi (yang kw saja – Jokowi kw – ha ha ha). Kemudian Zaky berkeluh kesah kepada Jokowi dan ditanggapi dengan baik. Bahkan di akhir ceritanya diberi sepeda. “Ini sepedanya”. he he he. (Dan sepedanya itu yang kemudian dibawa ke ITB untuk dijadikan sepeda di kampus ITB – yang sekarang sudah ada pun.)

Dan masih banyak usulan-usulan lainnya lagi. Serulah. Kelas menjadi menarik. Alhamdulillah ada kasus yang dapat dibahas di kelas.

Pelaksanaan Hackathon IoT (di Bandung)

Pada tulisan sebelumnya (tautan akan saya pasang di sini), telah saya sampaikan akan adanya lomba untuk membuat aplikasi terkait dengan data cuaca yang ada di kota Bandung. Data tersebut berasal dari sensor (IoT) yang kami pasang di berbagai tempat di kota Bandung.

Pada tanggal 23 Januari 2019 acara dilangsungkan. Dari 38 tim yang memasukkan proposal, 15 tim dipanggil untuk berlomba. Mereka diberi waktu dari pagi sampai malam untuk mengembangkan aplikasinya. Ini ada video di awal sebelum acara dimulai.

Hackathon IoT: hackBDGweather

Di pembukaan acara, saya menceritakan mengenai latar belakang sensor cuaca ini dan bagaimana cara mengaksesnya. Setelah itu, tentu saja dilakukan potret bersama. (Apa lagi kalau bukan itu? ha ha ha.)

IMG_4975 hackathon_0001

Hari kedua, tanggal 24 Januari 2019, tim mempresentasikan karya mereka dan dinilai oleh juri. Hasilnya adalah tiga pemenang yang ditampilkan di web hackathon.cbn.id.

Senang sekali dengan kegiatan ini. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi kota Bandung dan tempat-tempat lain di Indonesia. Langkah-langkah selanjutnya antara lain:

  • menerapkan hal yang sama di kota-kota (tempat-tempat) lain di Indonesia;
  • menambah data (sensor) yang dimasukkan (ada permintaan data terkait dengan tanah untuk pertanian dan perkebunan);
  • membuat aplikasi-aplikasi yang lebih menarik.

Ayo semangat! Ayo berpartisipasi.

Tautan terkait acara ini:

Brand Image

Dalam kuliah “New Venture Management” (NVM), saya mengangkat topik Key Performance Indicators (KPI). Bahwa setelah melewati proses inisiasi bisnis dan bisnis sudah berjalan dengan baik, maka mulai masuklah kita ke tahap pengelolaan bisnis dengan menerapkan manajemen yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencatat dan mengukur berbagai indikator dari usaha kita.

Ada beberapa indikator yang dapat dicatat dan diukur, antara lain:

  1. Jumlah produk atau servis;
  2. Brand Image;
  3. Jumlah pelanggan (the number of customers);
  4. Penjualan (sales);
  5. Keuntungan (profit);
  6. Indikator keuangan lainnya (saham, nilai investasi);
  7. dan hal-hal yang terkait dengan organisasi (jumlah karyawan).

Tulisan kali ini akan menyoroti aspek “brand image saja”. Kalau menurut Anda, apa yang dimaksud dengan “brand image”?

Jawaban dari pertanyaan di atas bergantung kepada kapan dan kepada siapa ada bertanya. Saat ini, ketika saya tanyakan kepada mahasiswa, maka jawabannya terkait dengan Instagram dan YouTube. Seberapa populernya Anda di instagram. Kalau dahulu yang lebih banyak digunakan adalah Facebook dan/atau Twitter.

Ada banyak indikator kepopuleran seseorang pada instagram; jumlah pengikut (follower), jumlah yang menyukai (like) (untuk sebuah foto atau cerita), engagement, dan seterusnya. Ini masih dapat kita bahasa lebih panjang lebar lagi.

Pertanyaannya adalah apakah kepopuleran kita di instagram dapat dianggap sebagai salah satu tolok ukur dari brand image? Artikel jurnal mana yang menyatakan demikian? (Kebanyakan yang menyatakan demikian berasal dari artikel populer yang diragukan nilai akademiknya.) Dalam beberapa diskusi dengan kawan, brand image di dunia siber (misal di instagram) belum tentu sama dengan kepopuleran di dunia nyata. Nah lho.

[Saya potong dulu ya tulisannya. Nanti saya tambahkan]

Pekerjaan rumah saya kepada mahasiswa adalah mencatat kondisi media sosial masing-masing mahasiswa dan peningkatannya secara berkala (bulan depan). Kondisi saya saat ini (21 Januari 2019):

  • Instagram: 1881 followers
  • YouTube (rahard): 412 subscribers
  • WordPress: views/day atau views/month
  • Twitter: 4526 followers
  • Facebook: 5000+ followers (yang ini akan digantikan dengan Facebook Page saja)
  • Facebook Page: 1543 (like), 1539 (followers)

Data di atas akan saya pantau. Nanti pekerjaan rumah berikutnya adalah melakukan sesuatu dan melihat efeknya pada indikator-indikator tersebut.