Gara-gara Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi ternyata bikin saya pusing. Begini. Saya kan menulis cerita tentang “Jek dan Sar” (linknya nanti saya pasang di sini). Cerita ini terhenti cukup lama. Tahunan. Terus apa hubungannya dengan teknologi?

Dalam cerita “Jek dan Sar” itu mereka berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Nah, jaman sekarang siapa yang menggunakan SMS? Anak-anak milenial pasti akan tertawa sampai sakit perut kalau masih ada orang berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Tidak masuk akal. Hanya teks saja dan bayar pula!

Kalau cerita saya itu mau kekinian, maka semuanya harus saya tulis ulang dengan menggunakan WA/Telegram (atau apapun program messaging yang sedang populer saat ini). Bahkan akan lucu kalau Jek dan Sar tidak saling kirim foto lewat Instagram, misalnya. Nah lho.

Kalau cerita saya tulis dengan setingan lama – jama SMS itu – maka saya yang pusing karena saya harus terbang ke waktu jaman itu. Beban ada di saya. Meskipun ini mungkin adalah pilihan yang paling logis. Toh cerita-cerita yang mengambil setingan waktu jaman dahulu pun masih tetap mungkin. Lah Dilan saja mengambil setingan waktu tahun 1990-an. Berarti saya saja yang kurang kreatif. Ha ha ha.

Jadi bagaimana bagusnya?

Iklan

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Ada banyak teknologi “baru” yang muncul. Mereka disebut “emerging technologies”. Tidak semuanya akan sukses. Akan ada yang muncul dan kemudian menghilang, tetapi ada yang muncul dan membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kita.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI – saya akan menggunakan singkatan AI dalam tulisan ini) merupakan salah satu teknologi yang akan membuat perubahan yang dahsyat. Sebetulnya AI ini bukan teknologi yang baru karena awalnya sudah dimulai pada tahun 1950-an. Yang membuat dia menjadi “baru” adalah karena adanya inovasi-inovasi di bidang lain – (mikro)elektronika, komputer, jaringan, storage, database, cloud computing – maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh AI menjadi masalah yang nyata. Dahulu dia hanya dapat memecahkan masalah mainan (dolanan) saja.

Dampak yang ditimbulkan oleh AI mirip (atau lebih hebat?) dari dampak yang ditimbulkan oleh mekanisasi / otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan membosankan akan digantikan oleh mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Akibatnya lapangan pekerjaan yang dahulu menggunakan manusia akan tergerus. Akan ramai ini. Untuk poin ini saya tidak ingin membuatnya menjadi isyu yang keras karena nanti akan ada alergi kepada AI. Padahal kita harus menguasai AI sebelum AI menguasai kita atau AI produk dari negara lain yang menguasai kita.

Sejauh mana AI akan merasuk ke dalam kehidupan kita? Nampaknya saya harus membuat tulisan – atau video – yang lebih rinci lagi bahasannya. Mencari waktu …

Rajin Futsal

Saya termasuk yang rajin futsal. Terlalu rajin, bahkan. Seminggu saya futsal tiga kali; Senin, Rabu, dan Sabtu. Masing-masing itu waktunya 2 jam. Hal ini sudah saya lakukan selama belasan tahun.

Alasan utama saya rajin futsal adalah untuk kesehatan. Semakin berusia saya harus memaksakan diri berolahraga. Futsal ini salah satu olah raga yang cocok bagi saya karena dia olah raga rame-rame. Kalau olah raga sendirian, misal jalan atau lari di thread mill, jadi malas. Akhirnya berhenti berolahraga. Memang pemilihan jenis olahraganya ya cocok-cocokan. Saya cocok dengan futsal.

Banyak orang yang tidak berolahraga dan mencari banyak alasan; capek, jauh tempatnya, hujan, tidak punya uang, dan sejuta alasan lainnya. Kalau mau dicari, ya akan selalu ada alasannya. Memang bagian yang terberat bagi olah raga adalah memaksakan diri pergi ke tempat olah raganya.

Karena tujuannya adalah untuk kesehatan, maka dalam bermain futsal saya tidak mencari prestasi. Mau kalah atau menang, tidak penting itu. Yang penting adalah hadir dan bersemangat. Nah, soal semangat itu banyak anak muda yang kurang atau hilang semangat ketika kalah dalam bermain. Saya tidak. Kalau mau diadu, maka saya akan menang dalam hal semangat. Soalnya di aspek lain, skill misalnya, pastilah saya kalah dengan yang lebih muda. Tapi soal semangat, saya masih bisa menang. Ha ha ha. Jadi bisa dipastikan saya yang paling semangat di tim.

Mau sehat? Ya harus berusaha. Futsal adalah salah satu upaya saya untuk sehat.

Sudah Lama Ku Tak Menangis

Menangis. Seseorang dapat menangis karena kesedihannya. Orang dapat juga menangis karena bahagia. Menangis katanya juga merupakan obat.

Beruntungkah orang yang tak pernah menangis?

Bagi saya ada beberapa lagu yang membuat saya menangis. Menjadi mellow. Baru kali ini saya mendengarkan lagu dari Payung Teduh dengan serius. Eh, nemu lagu yang aransemennya bagus banget di YouTube. Mendengarkan lagu ini langsung saya menjadi menangis. Menangis karena berterimakasih atas banyak karunia yang saya dapati. (Interpretasi lirik yang berbeda.)

Di hari Jum’at ini, saya bersyukur kepada Allah swt yang telah berbaik hati kepada saya. Ya, Allah, terimalah cinta hambaMu ini.

Update: dan khotbah Jum’at kali ini pun membahas bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur atas karunia yang kita terima. Lho, kok bisa pas banget. There’s no such thing as coincidence.

Update lagi: Jadi ingin melanjutkan cerpen Jek and Sar. hi hi hi. Jangan nagih saya soal yang ini ya.

Review Kopi

Setiap minggu saya menerima kopi dari berbagai sumber. Kopinya enak-enak semua. Jangan-jangan saya tidak bisa membedakan kopi enak yang tidak enak. Ha ha ha. Saya ingin membuat review kopi-kopi ini tapi selalu tidak sempat. Ini saya paksakan untuk membuat reviewnya.

Kopitikami

Ini kopi datang dari Indra, yang berada di satu perusahaan dengan saya. Jadi agak “gak netral” juga. Ada conflict of interest. Ha ha ha. Tapi saya buat senetral mungkin.

DSC_7156 koptitikami_0001

Ini adalah kopi dari daerah Jawa Barat. Biasanya saya agak kurang cocok dengan kopi dari daerah Jawa Barat karena agak fruity, tapi entah kenapa yang ini tidak terlalu fruity. Jadi enak bagi saya.

Salah satu cara untuk membuat reviewnya netral adalah kopi ini saya bagikan ke tempat lain. Salah satunya adalah saya bawa ke sebuah kedai kopi di Bandung. Saya berikan ke baristanya. Pada pertemuan berikutnya, sang barista mengatakan kopinya ini enak. (Sebelumnya saya bawa kopi dari Afrika dan dia bilang kopi yang itu sudah agak kelamaan.)

Kopi Padang

Kalau kopi dari Padang, biasanya saya tahunya Kopi Solok. Saya belum banyak ngopi Solok. Perasaan saya terakhir kali minum kopi Solok kurang berkesan karena agak gosong. Ini ada kiriman dari (kelompok petani?) Padang yang mengirimkan kopi.

DSC_6977 kopi padang_0001

Kopi yang dikirim ini ternyata rasanya beda. Bedanya dia agak sedikit fruity. Lho kok karakternya seperti kopi dari Jawa Barat. Tidak ada rasa gosong,. Jadi kopi ini lebih enak dari kopi Solok yang pernah saya coba. Apalgi bagi yang senang kopi dari Jawa Barat, kopi yang ini pasti cocok.

Kesimpulan saat ini, kopi-kopi ini enak. Silahkan dipesan.

Selain kopi-kopi ini masih ada kopi-kopi yang lain lagi. Nanti akan saya bahas secara berkala ya.

Menjadi Rektor?

Menyambung tulisan sebelum ini (tentang rektor asing), saat ini sedang ada pendaftaran untuk menjadi Rektor ITB. Maka mulailah kawan-kawan kasak kusuk.

Kawan: “Mas, nggak daftar jadi Rektor ITB?”
Saya: “Untuk apa? Apa untungnya buat saya.”
Kawan: “Ya ngeramein aja.”
Saya (dengan percaya dirinya): “Lah, kalau kepilih gimana?”

Ha ha ha. Bagi yang sudah kenal dengan saya mungkin sudah tahu bahwa jabatan administratif tidak menarik bagi saya. Jangankan jadi rektor, jadi menteri pun saya tidak mau. (Memangnya ada yang nawarin jadi menteri? Ada lah. Meskipun saya yakin tawaran itu tidak serius.)

Kalau mau hitung-hitungan, jabatan-jabatan tersebut tidak bermanfaat bagi saya secara pribadi. Entah itu bermanfaat bagi orang lain (orang banyak), tetapi bagi saya ini tidak ada manfaatnya. Kalau saya mau sih sudah dari dulu bisa. Cieeehhh.

Begini. Seseorang itu harus tahu impiannya. Menjadi rektor – atau menjadi menteri – bukan impian saya. Bukan cita-cita saya. Itu hanya akan menjadi distraction bagi saya.

Lantas, cita-citanya apa dong? Menjadi entrepreneur. Technopreneur. Nah.

Rektor Asing?

Belakangan ini sedang ramai dibicarakan tentang kemungkinan menggunakan tenaga kerja asing untuk menjadi rektor di perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu alasannya adalah agar perguruan tinggi di Indonesia meningkat peringkatnya di dunia.

Pendapat saya soal hal ini adalah oke-oke saja, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jadi saya sampaikan dahulu kontra-nya, baru nanti pro-nya.

Pertama, rektor asing belum tentu memahami situasi di Indonesia. Bagi yang pernah menggeluti perguruan tinggi di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia di lingkungan perguruan tinggi lagi pasti dapat memahami perbedaan yang besar. (Saya cukup lama di Kanada sebagai mahasiswa dan juga sempat mengajar / jadi dosen di sana. Saat ini saya dosen di ITB.) Bagi orang asing yang ke Indonesia – atau bahkan orang Indonesia yang lama di luar negeri kemudian kembali ke Indonesia – pasti akan mengalami culture shock. Ada banyak hal di Indonesia yang “tertinggal” di bandingkan dengan kawannya di luar negeri. Kalau tidak dapat menyesuaikan diri, pasti frustasi.

Rektor (asing) ini menghadapi banyak dosen yang sesungguhnya tidak berniat mengajar atau meneliti. Banyak dosen yang hanya ingin statusnya saja, atau mengejar pangkat (gelar, ketenaran) saja. Eh, jangankan dosen, ada juga orang yang menjadi rektor karena merupakan batu loncatan untuk menjadi menteri. Dosen mengajar hanya untuk mendapatkan nilai (kum) saja. Bukan karena ingin mengajarkan ilmunya.

Penelitian yang dilakukan dosen pun banyak yang ngasal. Asal hanya mendapatkan dana saja. Menulis makalah-pun kebanyakan ngasal. Dana penelitian juga datangnya telat. Sebagai contoh, dana penelitian yang harusnya turun di awal tahun baru turun di bulan September. Sementara bulan November laporan hasil penelitian harus masuk. Bagaimana mau menjalankan penelitian model begini? Tahun depannya juga belum tentu ada dana penelitian. Topik penelitianpun berubah-ubah. Tidak ada konsistensi.

Itulah sebabnya tingkat penelitian di Indonesia rendah. Tidak aneh, bukan?

Mahasiswa yang ada juga tidak kalah kacaunya. Banyak mahasiswa yang sebetulnya tidak serius kuliah. Alasan mereka ke kampus adalah daripada nganggur di rumah. Tidak ada semangat untuk kuliah. Apa harapan Anda dengan perguruan tinggi yang mahasiswanya seperti ini?

Tingkat perguruan tinggi salah satunya diukur dengan jumlah penelitian yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut. Penelitian-penelitian seperti ini umumnya terjadi di tingkat S3 (dan juga S2), bukan S1. Maka seharusnya yang lebih ditekankan adalah mahasiswa S2 dan S3. Sayangnya di Indonesia fokusnya malah mendapatkan mahasiswa S1. Ya, tidak akan naik peringkatnya.

Berdasarkan itu semua, rektor asing mungkin tidak akan berpengaruh kepada peringkat perguruan tinggi di Indonesia.

Namun ada hal-hal yang mungkin dapat berubah dengan adanya rektor asing. Ini pro-nya.

Rektor asing tidak memiliki (conflict of) interest untuk menjadi menteri. Maka dia tidak menggunakan jabatannya ini sebagai batu loncatan. Mereka juga tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan banyak pihak di Indonesia sehingga hal-hal yang terkait dengan KKN (terutama aspek nepotisme-nya) tidak terjadi.

Rektor asing dapat membawa budaya pendidikan yang lebih baik. Dia dapat membawa koneksi-koneksi pendidikannya. Hubungan ke perguruan tinggi di luar negeri (misal dari tempat dia berasal) dan lembaga penelitian dapat diperbaiki. Kredibilitas dari perguruan tinggi dapat naik sehingga dipercaya oleh lembaga asing untuk melakukan penelitian, misalnya.

Jadi, mungkin saja rektor asing dapat memperbaiki kualitas perguruan tinggi di Indonesia.