Pakaian dan Perlakuan

Perlakuan seseorang terhadap kita bergantung pada pakaian yang kita pakai. Seharusnya sih tidak begitu banget, tetapi itulah kenyataan. Kalau kita pakai pakaian keren (baca: mahal), maka kita akan mendapatkan perlakuan spesial. Sementara itu kalau kita berpakaian gembel, maka kita akan mendapatkan perlakukan busuk juga. Itulah sebabnya banyak orang berpakaian keren-keren.

Saya melakukan yang sebaliknya. Saya sering berpakaian tidak terlalu keren. Apa adanya. Selama pakaian itu bersih, tidak masalah bagi saya. Bersih itu sebuah keharusan. Sisanya, optional. Ha ha ha. Dan tentu saja saya mendapatkan perlakukan yang berbeda.

Seringkali saya gunakan hal ini – berpakaian seadanya – untuk menguji layanan dari seseorang atau sebuah organisasi, saya berpakaian seadanya. Jika orang itu memang ramah, maka dia akan tetap ramah meskipun pakaian saya bukan pakaian mahal.

Berani mencoba?

Iklan

Sidang MK (babak 2)

Judul tulisan ini memang tendensius, “Sidang MK” gitu lho. Lah kan suka-suka saya, mau saya kasih judul “Sidang MK” atau “Game Mortal Kombat” juga terserah saya kan? he he he. Tapi kan bapak pakai “babak 2”. Mana “babak 1”-nya pak? Lah, apa memang harus urut? Kata siapa? Saya mau mulai dari “babak 17” terus mundur juga ndak apa-apa kan? Yo wis pak. Karepmu. Pastilah. he he he.

Kembali ke topik. Sidang MK. Saya tidak mengikuti siaran Sidang MK di televisi. Kenapa tidak? Lah, kenapa harus? Sekarang saya tanya ke Anda, “apakah Anda mengikuti FIFA Women’s World Cup?”. Tidak juga kan? Kenapa? Karena bagi Anda itu tidak penting. Nah, sidang MK juga bagi saya tidak menarik karena sudah tahu hasilnya. Berikut ini adalah narasi tanya jawab kepada saya.

Penanya: Lho, bapak sudah tahu hasil sidang MK?
Saya: Ya sudahlah. Sama dengan saya sudah tahu hasil akhir “FIFA Women’s World Cup”
Kok bisa pa? Bapak ahli nujum ya?
Bukan. Saya hanya ahli logika.
Coba buktikan. Kalau bapak sudah tahu hasil “FIFA Women’s World Cup?”, nantinya hasilnya bagaimana?
Mau bukti? Nanti hasilnya adalah “Indonesia tidak juara di Women’s World Cup” itu. Silahkan nanti buktikan.
Oalah paaak. Kan Indonesia tidak ikutan.
Lah, kan saya tidak mempermasalahkan itu. Yang penting hasilnya saya sudah tahu kan?
[yang nanya mulai mangkel. kezel.]

Ok deh. Kalau begitu, bapak tahu hasil akhir MK?
Sudah tahu juga.
Apa? Atau, bagaimana?
Sebetulnya mau saya ceritakan, tapi nanti Anda malah tambah mangkel. Jadi tidak usah saya ceritakan.


[yang nanya langsung ngeloyor pergi tanpa pamit. menengok pun tidak. ketika sudah agak jauh, saya lihat jari tangannya menunjukkan sesuatu. saya yakin bukan jempol, tapi saya tidak tahu apa itu.]

Parodi Superhero (4)

Nanti malam mau ngeronda lagi ah, pikir Spiderman. Mumpung besok hari libur. Tapi entah kenapa Spiderman merasa bahwa malam ini kejahatan bakalan sepi. Para penjahat kayaknya mau liburan juga. Tapi kan dia harus tetap waspada. Untuk jaga-jaga agar tidak bosan, Spiderman membawa handphonenya Peter Parker.

Seperti sudah diduga, malam ini sepi kejahatan. Padahal Spiderman sudah menunggu di daerah yang biasanya ramai kejahatan. Maka Spiderman duduk nangkring di atas gedung sambil mainan handphone. Untung di atas gedung ini masih ada sinyal operator. Main game online dia. Apa gamenya? Dia tidak mau cerita.

Kruyuk. Kruyuk. Halah. Perutnya bunyi. Kelaparan ternyata. Spiderman lupa belum makan malam. Tadi siang juga makannya sedikit. Hadoh. Mau pulang ke rumah kok males. Sampai di rumah juga pasti belum ada makanan yang siap. Harus buat dulu. Yang paling cepat bikin roti atau supermi. Tapi malas. Hmm …

Kan ada Go-Jek. Ada Go-Food. Spiderman kepikiran. Untung juga bawa handphone. Maka dia mulai melihat-lihat menu yang tersedia di Go-Food. Maklum ini kan tengah malam dan mau liburan pula. Tidak banyak tempat jual makanan yang masih buka. Mau apa ya? Pizza saja kayaknya. Dia yang paling gak ribet. Bisa dibawa ke atap gedung. Kalau yang berkuah seperti soto-soto-an bakalan susah. Gak ada mangkok. Pizza it is!

Maka Spiderman memilih pizza dari kedai yang masih buka. Minumnya apa ya? Sebetulnya dia ingin minuman soda, tapi malam-malam begini enakan minum kopi. Agak kurang cocok sih, tapi jebret aja. Untungnya masih ada yang mau jualan pizza. Wuih. Mudah-mudahan ada driver Go-Jek yang mau antar.

malam kk“, sebuah pesan di aplikasi Go-Jek muncul.
malam“, jawab Spiderman.
sesuai aplikasi ya kk?” (ini kayaknya jawaban standar ya? jangan-jangan itu sudah diset di aplikasi go-jek, tinggal klik saja?)
iya. tapi jangan panggil saya pakai kk“. Spiderman kesel karena dipanggil “kakak”. Entah kenapa sekarang memang banyak yang menggunakan kata “kakak” untuk memanggil seseorang. Mungkin supaya agak sopan ya?

“jadinya apa kk. eh, maap”
“mas atau abang aja”, jawab Spiderman.
“baik bang. maap tadi gak yakin”
“kok gak yakin? emangnya ada nama peter yang perempuan?”
“maaap bang. kali aja … he he he”
“hayah”
“ditunggu ya bang”

Berapa menit kemudian ada pesan lagi.

“bang. ini beneran ngirimnya ke alamat itu?”
“emang kenapa?”
“itu kan daerah serem bang. rawan. banyak orang jahat”
“gpp. aku jamin”
“gimana abang bisa jamin?”
“percaya deh. aku jamin!”, Spiderman tidak ingin mengungkapkan jati dirinya.
“gimana kalau di jalan satunya bang. beda satu blok”
“oke deh. tungguin di perempatan aja”. Spiderman mengalah. Daripada ribut-ribut terus gak dapat pizza. Toh dia bisa loncat atau mengayun ke sana.
“oke. makasih bang”

Beberapa menit kemudian si abang Gojek celingukan di perempatan jalan yang sepi. Merinding juga dia. Gimana kalau dirampok. Ini masih daerah yang dekat-dekat dengan daerah rawan kejahatan. Hadoooh. Mana si abang Peter ini.

Berkelebat sebuah bayangan berwarna merah. Mengayun dan menyambar pizza dan kopi yang dibawa abang Gojek. Kaget si abang Gojek. Untung dia gak sampai pipis di celana. Cepat-cepat kabur dia dari sana. Bukan hanya rawan kejahatan di daerah sini, tapi rawan hantu juga. Kalau penjahat bisa dilihat. Nah ini hantu. Hiii … Langsung dia nyalakan motor. Ngebut dia. Di tikungan godek-nya nyaris kena trotoar. Saking ngebutnya.

Sementara itu di puncak sebuah gedung tampak sebuah bayangan merah yang sedang menikmati pizza (dan kopi). Nom nom nom …

Oh ya. Tidak lupa Spideman memberikan nilai 5 bintang kepada si abang Gojek. Tak lupa dia memberikan tip Rp. 10.000,-. Soalnya dia tidak mau orang bilang Spiderman pelit. Beberapa waktu yang lalu Peter Parker dapat pesan tahunan dari Gojek yang bilang dia jarang kasih tip, padahal dia *selalu* kasih tip. Salah tuh aplikasi Gojek. Hallowww Gojek?

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3, 4]

Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Membaca dan Bercerita

Akhir-akhir ini saya merasa lebih susah lagi dalam membaca. Ketika saya membaca sesuatu yang bagus, maka saya langsung berhenti. Takut lupa. Mencoba memaknai. Tetapi ujung-ujungnya adalah mengkhayal. ha ha ha. Akibatnya kecepatan membaca buku menjadi sangat lama.

Selain itu timbul perasaan bahwa percuma saja kalau saya membaca buku kemudian yang pintar hanya saya sendiri. Saya harus mengajarkan kepada orang lain. Harus bercerita. Langsung dipikirkan skenario-skenario berceritanya. Biasanya dalam bentuk presentasi karena itu yang paling mudah saya lakukan. Seharusnya sih dalam bentuk tulisan lagi. Buku! Tapi ini paling berat dan lambat. Lagi-lagi akibatnya adalah kecepatan membaca jadi jatuh lagi.

Di jaman YouTube begini, nampaknya lebih mudah kalau direkam saja ya. Nanti kita bandingan. Mana yang lebih mudah; membuat video atau menulis di blog ini. Sebetulnya untuk merekam videonya sih mudah. Menyuntingnya (edit) itu yang menghabiskan waktu.

Oh ya, saya sudah memiliki channel di YouTube. Silahkan cari sendiri ya. Ini pekerjaan rumah untuk Anda. ha ha ha.

Teknologi & Politik

Baru-baru ini beredar berita tentang Google yang membatasi akses Huawei terhadap kode Android dan layanan Google lainnya (Google Play, Gmail App). [Link berita akan saya kumpulkan dan letakkan di bagian akhir dari tulisan ini.] Ini berita yang cukup menggemparkan meskipun merupakan sesuatu yang sudah lama diduga oleh negara-negara yang bergantung kepada layanan sebuah perusahaan di sebuah negara tertentu. Mereka tidak mengira bahwa hal ini akan dieksekusi.

Sebagai sebuah perusahaan yang berdomisili di Amerika, Google harus taat kepada peraturan dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa perusahaan Huawei melanggar berbagai keputusannya [dibutuhkan referensi di sini] maka pemerintah melarang perusahaan lain untuk melakukan bisnis dengan Huawei. Mau tidak mau Google (dan perusahaan Amerika lainnya) harus nurut.

source: https://www.theasset.com/belt-road-online/35604/us-warns-europe-against-using-huawei-

Ini merupakan contoh politik yang mempengaruhi bisnis. Sebetulnya kalau mau ditelaah lebih lanjut lagi, ini mempengaruhi teknologi. Sedemikian pentingnya teknologi sehingga menjadi salah satu penentu keputusan. Kali ini teknologi 5G yang menjadi perebutan. Setelah ini kemungkinan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) yang akan mendapat perhatian yang sama, karena AI ini sama pentingnya (bahkan dapat dikatakan lebih penting) dari teknologi 5G.

Berulangkali saya katakan kepada mahasiswa saya agar tidak buta politik, tetapi jangan terjun ke politik praktis. Pahamilah politik sehingga kita tidak tersesat atau bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik (praktis).

Lantas bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kasus ini membuka mata kita seberapa tergantungnya kita dengan teknologi asing. Begitu pihak asing menutup teknologi tersebut, matilah kita. Maka kemandirian teknologi bukanlah isapan jempol. Dia merupakan sebuah hal yang riil. Kedaulatan Teknologi.

Contoh yang riil. Beberapa waktu yang lalu (tahunan?), kami pernah mengusulkan adanya “app store” sendiri. Handphone yang beredar di Indonesia dapat menggunakan “app store” kita sendiri. Namun nampaknya ide ini belum mendapat dukungan dan bahkan tidak dimengerti. Sekarang semoga kita mengerti mengapa perlu ada “local app store“. (Rincian mengenai hal ini masih harus dibahas. The devils are in the details.)

Demikian pula kemampuan untuk membuat kernel dari sistem operasi (terutama untuk handphone) juga merupakan hal yang utama. Tidak banyak orang Indonesia yang ngoprek tentang hal ini. Saya hanya tahu beberapa orang saja. Apakah Anda pernah ngoprek kernel sebuah sistem operasi?

Kebutuhan SDM (sumber daya manusia) yang menguasai teknologi-teknologi ini secara mendalam dapat dikatakan sangat kritis. Darurat SDM teknologi. Apakah kita akan menunggu sampai kita diblokir dulu baru kemudian bergerak?

Tautan terkait berita Huawei