Hidup Berdampingan dengan Virus Corona

Nampaknya solusi untuk virus corona (covid-19) ini belum dapat ditemukan dalam waktu dekat. Vaksin dan obat membutuhkan waktu untuk dibuat. Memangnya sulap? Salah kita – warga seluruh dunia – sendiri kenapa tidak mengucurkan dana yang banyak untuk penelitian. Sudahlah kita hentikan saling menyalahkan. Faktanya demikian. Artinya apa? Artinya kita harus dapat hidup berdampingan dengan virus corona ini.

Tentu saja kehidupan tidak akan sama seperti dahulu. Kita tidak bisa serta merta kembali dengan kelakuan seperti dahulu. Ini sangat berbahaya. Kita ingin kembali seperti dahulu tetapi tidak boleh dengan cara yang ngawur atau sembrono. Itu akan membahayakan kita semua. Maka kita harus cari cara yang aman tetapi kehidupan dapat berlangsung (hampir) seperti semula.

Ada yang mengatakan bahwa hal yang utama adalah testing. Pengujian. Apakah seseorang itu aman untuk keluar rumah dan bekerja. Aman di sini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi aman juga bagi orang lain. Bagian yang terakhir itu yang penting. Itulah sebabnya saya tulis dengan huruf tebal. Banyak orang yang merasa sehat dan kemudian tidak peduli dengan kesehatan orang lain. Ini salah.

Masalah pengujian (testing) adalah alat & caranya masih belum baik, dalam artian alas tes masih mahal dan hasilnya membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya di Indonesia jumlah yang dites masih sedikit. (Pada saat tulisan ini ditulis baru ada sekitar 49767 yang sudah dites. Dari 250 juta orang warga Indonesia, baru 50 ribu. Di Amerika juga sedang ribut warga tidak ingin lockdown dan ingin kembali bekerja, tetapi tidak ada alat test-nya juga. Alat test tersebut masih dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit. Masih kekurangan.

Singkatnya, dibutuhkan sebuah cara untuk menguji yang murah dan cepat. Ayo para inventor. Ini sebuah tantangan.

Karena hal di atas belum ada solusi, maka dicari cara terdekat. Asosiasi. Bahwa kalau orang sedang bermasalah dengan covid-19, suhu tubuhnya meningkat. Tentu saja ini pendekatan kasar, tetapi dapat dilakukan untuk skala masif dan cepat. Itulah yang sekarang dilakukan di tempat-tempat umum. Maka mungkin di kemudian hari, salah satu prosedur sehari-hari kita adalah; pagi hari cek temperatur tubuh (sebelum pergi kerja), pulang dari tempat kerja (sampai rumah?) cek kembali. Catat ini. (Perlu diingat yang penting sebetulnya bukan angkanya tetapi perubahannya. Ini pendapat beberapa rekan peneliti.) Semua ini harus diotomatisasi. Kalau tidak, maka kita akan repot dan kita tidak akan melakukannya. Di belakang layar ada aplikasi (berbasis artificial intelligence dan big data) yang melakukan pemantauan. Berarti harus ada alat seperti ini. (Saya sudah kepikiran idenya dan bahkan sesungguhnya sudah mulai mengembangkan ini sebelum kejadian virus corona ini. Sekarnag terpaksa terhenti karena semua bekerja di rumah dan pendanaan juga berhenti.)

Hal lain yang kita harus berubah adalah cara pandang kita terhadap kesehatan. Jangan lagi meludah sembarangan. Kalau ada yang meludah sembarangan, perlu kita tegur. Jangan buang sampah sembarangan. Cuci tangan secara berkala. (Agak terpisah, saya sering melihat orang keluar dari wc umum tanpa cuci tangan! Kesel ngelihatnya.) Jaga kebersihan. Tingkatkan kebersihan dan kesehatan. Ini tidak mudah memang karena yang namanya kebiasaan itu tidak mudah untuk diubah, tetapi kalau kita tidak berubah ya kita akan tetap seperti ini; terkurung di rumah.

Apa yang saya ceritakan di atas baru satu hal saja. Satu upaya untuk kita dapat hidup di tengah-tengah virus corona ini. Perlu diingat, bahwa di sekitar kita ini ada banyak bakteri dan virus. Lihatlah kasus demam berdarah dan TBC yang masih ada di Indonesia. Kita sudah “dapat” hidup di tengah-tengah mereka. (Dari segi angka, mereka mengerikan, tetapi kita sudah tahu cara melawannya. Kita aja yang tetap sembrono. Covid-19 ini berbeda karena kita belum tahu saja.) Ini juga akan kita lawan. Sekarang kita belum menemukan cara melawannya.

Manusia adalah spesies yang tangguh. Man against nature. We will prevail! Kita akan muncul sebagai pemenang. Harus. Semangaaattt!!!

Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Seebuk

Banyak orang yang tidak percaya bahwa saya super sibuk. Kalau mengikuti kegiatan saya, bakalan gempor. Saya ambil contoh saja ya. Kemarin.

Acara saya dimulai pagi hari, pukul 9. Eh, ternyata acaranya pukul 8 pagi. Berarti saya harus berangkat 1 jam sebelum itu. Nah, kebetulan saat ini waktu Subuh di Bandung mendekati pukul 4 pagi. Jadi pukul 4 pagi saya sudah harus bangun. Acara workshop ini berjalan sampai pukul 5 sore, atau pukul 17.

Setelah acara tersebut, saya melanjutkan ke acara nonton dan diskusi film. Saya memilih film “I, Robot” karena terkait dengan Artificial Intelligence (AI). Di acara itu kami nonton film bersama dan kemudian membahas film tersebut. Acara ini berlangsung di IFI, di depan BEC Bandung. Acara itu berlangsung dari pukul 5 sore sampai pukul 21:30 malam. (Tentang acara ini nanti saya buat tulisan terpisah. Tapi nggak janji. ha ha ha.)

Sampai di rumah pukul 22:30. Jadi kegiatan saya itu dari pagi sampai malam. Selama itu saya tidak sempat membuka handphone saya. Jadi yang kirim WA / Telegram / dst. tidak akan saya baca.

Tidur mungkin hanya 5 jam kurang sedikit.

Hari berikutnya ya sama saja. Sibuk.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Ada banyak teknologi “baru” yang muncul. Mereka disebut “emerging technologies”. Tidak semuanya akan sukses. Akan ada yang muncul dan kemudian menghilang, tetapi ada yang muncul dan membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kita.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI – saya akan menggunakan singkatan AI dalam tulisan ini) merupakan salah satu teknologi yang akan membuat perubahan yang dahsyat. Sebetulnya AI ini bukan teknologi yang baru karena awalnya sudah dimulai pada tahun 1950-an. Yang membuat dia menjadi “baru” adalah karena adanya inovasi-inovasi di bidang lain – (mikro)elektronika, komputer, jaringan, storage, database, cloud computing – maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh AI menjadi masalah yang nyata. Dahulu dia hanya dapat memecahkan masalah mainan (dolanan) saja.

Dampak yang ditimbulkan oleh AI mirip (atau lebih hebat?) dari dampak yang ditimbulkan oleh mekanisasi / otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan membosankan akan digantikan oleh mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Akibatnya lapangan pekerjaan yang dahulu menggunakan manusia akan tergerus. Akan ramai ini. Untuk poin ini saya tidak ingin membuatnya menjadi isyu yang keras karena nanti akan ada alergi kepada AI. Padahal kita harus menguasai AI sebelum AI menguasai kita atau AI produk dari negara lain yang menguasai kita.

Sejauh mana AI akan merasuk ke dalam kehidupan kita? Nampaknya saya harus membuat tulisan – atau video – yang lebih rinci lagi bahasannya. Mencari waktu …

Machine Learning: Pengenalan Wajah

Salah satu aplikasi dari Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning adalah dalam pengenalan wajah seseorang. Salah satu perusahaan saya (PT Riset Kecerdasan Buatan) sedang mengembangkan model untuk melakukan hal ini.

Salah satu langkah yang penting dalam machine learning adalah ketersedian data untuk pelatihan (training). Data ini yang akan digunakan untuk mendeteksi orang yang bersangkutan. Proses pengambilan data ini kami sebut proses registrasi. Ada banyak cara melakukan proses registrasi. Yang kami lakukan adalah dengan mengambil video dari orang yang akan dideteksi.

Berikut ini adalah video salah satu kegiatan kami dalam proses registrasi yang disebutkan di atas. Ini kami ambil ketika ProcodeCG sedang memberikan workshop tentang machine learning di Bandung Digital Valley (BDV).

Semoga video singkat ini dapat menunjukkan apa yang kami lakukan di perusahaan kami.