Menyoal Tiktok

Sedang ramai bahasan tentang Tiktok. Bahkan negara Amerika akan melarang penggunaan Tiktok di Amerika jika tidak dimiliki oleh perusahaan Amerika. Wuih. Sedemikian seriusnyakah Tiktok?

Saat ini memang Tiktok sedang populer. Awalnya, Tiktok ditertawakan banyak orang karena dianggap tempat bermainnya anak-anak alay. Ya, benar, anak-anak alay. Maka banyak orang yang tidak mau menggunakannya. Malu ah. Saya pun sempat mencoba Tiktok. (Ini jamannya Bowo Tiktok. Masih ingatkah? Tahukah? Apa kabarnya sekarang ya?) Pokoknya semua layanan internet harus saya coba. Ya ternyata isinya seperti itu-itu saja. Memang anak-anak alay. Sekarang Tiktok isinya bukan lagi anak-anak alay, tetapi orang dewasa, dan bahkan dijadikan tempat untuk berdagang. Menjadi platform yang serius.

Bagi yang memperhatikan, perjalanan Tiktok ini akan sama dengan perjalanan aplikasi-aplikasi lain seperti Twitter dan Instagram. Pada awalnya Twitter juga sangat populer, tetapi kemudian digantikan oleh Instagram. Sekarang Instagram digantikan oleh Tiktok. Maka Tiktok pun akan digantikan oleh sesuatu lagi. (Siapkah Anda membuat “sesuatu” itu? Apa ya?)

Mengapa pergantian ini terjadi? Menurut saya, yang utama adalah karena (kelompok, komunitas) penggunanya juga berbeda. Sebagai contoh ketika Instagram naik daun, saya tanya kepada anak-anak muda penggunanya. Kenapa pakai Instagram? Salah satu alasannya adalah karena orang tuanya ada di Twitter. Ha ha ha. Ini jawaban yang nyata. Anak-anak selalu tidak ingin berada dalam satu platform dengan orang tuanya. (Ternyata hal yang sama juga terjadi antara Twitter dan Facebook. Generasi Twitter tidak mau di Facebook karena orang tuanya ada di Facebook.) Facebook, Twitter, dan Instagram bisa saja memiliki fitur yang sama dengan Tiktok, tetapi mereka tidak akan dapat memindahkan pengguna Tiktok. Kecuali, mereka mengusur pengguna-pengguna lamanya. Jadi ini bukan soal fitur semata.

Soal isinya (content) bagaimana? Bagus-bagus kok. Tapi semua platform juga punya content yang bagus-bagus. Harusnya ada semacam tempat untuk melakukan kurasi content yang bagus-bagus ya? Soalnya kalau search engine, terlalu banyak yang melakukan manipulasi (ngakalin).

Saat ini Microsoft diberitakan sedang mempertimbangkan untuk membeli Tiktok. Menurut saya ini adalah investasi yang buruk. Kecuali memang untuk dibeli kemudian dinaikkan (digelembungkan) value-nya kemudian dijual lagi. Ini membutuhkan kepandaian menggoreng nilai perusahaan. Atau Tiktok dibeli untuk dibunuh. Selain dari itu, saya tidak melihat ini sebagai investasi jangka panjang.

Nah, pertanyaannya adalah apakah saya perlu membuat akun Tiktok lagi ya? Saya sudah lupa password akun yang lama.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2020

Topik yang akan dibahas kali ini adalah topik yang serius. Pertumbuhan ekonomi sangat penting bagi kita semua, tetapi memang sulih memahaminya. Ini adalah upaya saya untuk mencoba memahami situasi saat ini. Analisis amatiran ini. Data diperoleh dari Rilis BPS tanggal 5 Agustus 2020. Saya mengikuti presentasi ini melalui Zoom. Tidak semua slide akan saya komentari.

BPS-3

Gambar di atas menunjukkan bahwa sektor Pertanian pada triwulan kedua tahun 2020 ini tumbuh pesat. Alhamdulillah. (Meskipun nanti dapat dilihat pada slide berikutnya bahwa perbandingan tahun-ke-tahun, tahun ini kita masih di bawah tahun lalu.) Sektor kedua yang tetap tumbuh positif adalah sektor Infokom (informasi dan komunikasi). Hal ini dapat kita pahami karena banyak perusahaan yang menerapkan Work from Home (WfH) dan sekolahan pun dilakukan dari rumah. Maka sektor ini tetap tumbuh. Sampai kapan? Kita belum tahu. Sektor yang paling terpukul memang sektor Transportasi dan Pergudangan.

BPS-4

Slide di atas menunjukkan perbandingan dengan tahun lalu. Seperti sudah saya komentari di atas soal sektor Pertanian dan Infokom.

BPS-14

Slide di atas menarik karena menunjukkan bahwa perdagangan & reparasi mobil dan motor terjadi penurunan drastis. Dapat dimaklumi dalam situasi COVID-19 ini. Orang tinggal di rumah. Mobil saya pun seharusnya sudah diservis mungkin 3 bulan yang lalu, tapi belum sempat saya bawa ke tempat servis. Takut juga sih.

BPS-20

Terlihat dari slide di atas bahwa pertumbuhan ekonomi ditopang oleh Konsumsi Pemerintah. Ini menunjukkan bahwa pemerintah memang sudah melakukan apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu Konsumsi Rumah Tangga menurun. Dapat dimaklumi karena orang akan ngirit dan banyak juga orang yang kehilangan pekerjaan sehingga daya beli menurun. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah menaikkan daya beli masyarakat. Itulah sebabnya ada dana bantuan (stimulus) yang langsung diberikan kepada masyarakat. (Besarnya berapa? Katanya 600 ribu/bulan? Mekanismenya bagaimana?) Ini masih dapat kita perdebatkan, tetapi memang inilah yang harus dinaikkan. Apakah nantinya akan menjurus kepada pembelian hal-hal yang konsumptif? Entahlah.

Stimulus memang dapat diberikan langsung kepada masyarakat tetapi dapat juga diberikan kepada perusahaan. Kemarin saya mendengarkan (referensi?) bahwa akan ada stimulus yang diberikan pemerintah kepada perusahaan / UMKM. Betulkah? Bagaimana bentuknya?

[Ini bagian yang perlu menjadi diskusi]

Ada sedikit keluhan dari perusahaan yang saat ini bertahan. (Seperti perusahaan yang saya kelola.) Kami tidak mendapat bantuan sepeserpun dari pemerintah. Padahal pernah perusahaan-perusahaan seperti kami ini sangat besar. Kami tetap mempertahankan karyawan sehingga mereka tidak menjadi beban dari pemerintah. Tetapi perjuangan kami ini tidak mendapat apresiasi. Stimulus malah diberikan ke pihak lain.

Stimulus yang diberikan pemerintah masih harus kita diskusikan. Ada banyak yang kelihatannya kurang/tidak berdampak. Seperti menggarami lautan. Jangan melakukan hal-hal yang “biasa” saja. Ini situasi yang tidak biasa dan membutuhkan solusi yang tidak biasa juga.

BPS-29

Dalam rangka menghambat penyebaran virus corona ini maka PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diterapkan. Akibatnya ekonomi terdampak atau terpuruk. Saat ini PSBB sudah diperlunak. Ada relaksasi. Terlihat dari slide di atas ada pertumbuhan. (Lihat data perbandingan antara bulan Juni dan Mei.) Jadi memang ada efek dari PSBB terhadap ekonomi. Permasalahannya adalah kapan kita menerapkan PSBB dan kapan melonggarkan? Antara kesehatan dan ekonomi. Tarik ulur. Kunci utamanya adalah kedisiplinan. Ketika masyarakat disiplin, maka PSBB dapat dilonggarkan sehingga ekonomi tidak terpuruk.

Demikianlah catatan dari saya.

Update

Saya tambahkan beberapa gambar / informasi dari sumber lainnya lagi. Di bawah ini adalah perbandingan pertumbuhan ekonomi dari beberapa negara lainnya. Ada beberapa analisa yang mengatakan bahwa Indonesia pada Q2 ini memang tidak terlalu terpuruk dibandingkan negara lain, tetapi negara lain akan kembali (bounce back) dengan lebih cepat pula. Bentuknya seperti huruf V (V-shaped). Sementara itu, Indonesia lebih ke arah U-shaped. Lambat tumbuhnya. Mari kita tunggu buktinya.

117103494_10222079314565811_6647725188411946409_n

Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Kehadiran di Dunia Siber

Salah satu tugas yang saya berikan kepada mahasiswa MBA saya adalah melakukan pencatatan kehadiran kita di dunia siber – atau lebih tepatnya di media sosial. “Kita” yang dimaksud di sini boleh berarti akun pribadi, boleh jadi akun bisnis yang ingin kita kembangkan. Keberadaan ini dapat kita anggap sebagai salah satu tolok ukur kepopuleran yang nantinya dapat digunakan sebagai bagian dari marketing. Itu pelajaran berikutnya (yang nanti juga akan saya coba tampilkan).

Mencatat adalah salah satu kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum kita dapat melakukan pengelolaan. Bagaimana kita dapat meningkatkan keberadaan kita di dunia siber jika kita tidak mencatat? Maka kebiasaan mencatat merupakan kegiatan yang baik.

Apa yang dicatat? Kita mulai dari yang umum saja, media sosial. Pada saat tulisan ini dibuat, media yang paling banyak digunakan adalah Instagram. Oleh sebab itu, itu yang akan dijadikan patokan. Media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter, sempat lebih populer tetapi sekarang Instagram-lah rajanya. Gambar berikut ini merupakan salah satu contoh catatan yang saya buat. (Catatan: akun-akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”.)

Beberapa catatan:

  • Akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”;
  • Facebook page berbeda dengan akun Facebook yang biasa. Akun Facebook biasa saya sudah mencapai batas atas, yaitu 5000 orang. Tidak dapat menambah teman lagi. Ada lebih dari 1000 orang yang menanti untuk diterima pertemanannya. Facebook Page lebih fleksibel, tetapi ternyata lebih sedikit followers-nya. Ini karena tidak saya promosikan;
  • LinkedIn jarang saya gunakan. Ada banyak permintaan untuk disambungkan tetapi karena saya tidak kenal, jadi belum saya terima. Ada sekitar 300-an yang belum saya proses.

Nantinya pencatatan yang kita lakukan secara manual ini dapat diotomatisasi dengan menggunakan program. Ada juga perusahaan yang menyediakan layanan untuk memantau keberadaan kita ini, tetapi kita perlu tahu cara manualnya dahulu.

Data ini akan kita jadikan dasar (baseline) sebelum kita melakukan kegiatan pemasaran. Berbagai aktivitas dapat kita lakukan dan nantinya kita ukur keberhasilannya (efektivitasnya) berdasarkan data kita ini. Nanti akan kita bahas setelah saya memberikan tugas kepada mahasiswa.

Tunggu tanggal mainnya…

Tentang Unicorn dan Pendanaan Perusahaan

Kemarin saya memberikan presentasi tentang technopreneurshipentrepreneurship berbasis teknologi. Salah satu pertanyaan yang dilemparkan adalah apa pendapat saya tentang unicorn dan pendanaan perusahaan yang berjuta-juta dolar.

Jawabannya saya satukan saja ya. Soal unicorn, definisinya, Anda dapat lihat di tempat lain. Supaya Anda juga ada sedikit berusaha. ha ha ha. (Nanti kalau banyak permintaan, ya terpaksa saya buatkan tautannya di sini.) Singkatnya adalah perusahaan yang mendapat pendanaan sangat besar sekali disebut sebagai unicorn. Hal ini disebabkan langkanya perusahaan yang seperti ini.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan perlombaan untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. Perlombaan untuk menjadi unicorn. Banyak orang yang justru melihat pendanaan perusahaan sebagai sebuah prestasi. Perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. (Padahal porsi saham mereka makin berkurang.)

Mengapa mendapatkan pendanaan dianggap sebagai prestasi? Bagi saya ini bukan sebuah presetasi. Perusahaan menghasilkan inovasi, produk / servis yang keren, itu merupakan presetasi bagi saya. Mendapatkan pendanaan sebagai prestasi? Kurang pas. Saya paham bahwa mendapatkan pendanaan – apalagi dalam jumlah yang sangat besar – tidaklah mudah, tetapi itu bukan sebuah ukuran yang layak untuk dijadikan ajang perlombaan.

Analoginya begini. Bayangkan Anda seorang koki (chef) yang keren. Anda kemudian akan membuat sebuah masakan untuk saya (kami). Maka Anda mendapatkan uang untuk belanja bahan-bahannya; daging, ikan, sayuran, bumbu-bumbu, dan seterusnya. Agak aneh kalau presetasi Anda diukur dari MENDAPATKAN UANGnya. (Saya tuliskan dengan huruf besar dan tebal.)

Bagi saya, yang lebih penting adalah makanan yang Anda buat. Apakah makanan yang Anda buat itu berupa sebuah master piece – karya yang luar biasa? Enaknya kurang ajar! Jika ya, ini adalah sebuah prestasi. Inilah yang lebih penting. Bukan mendapatkan uangnya yang lebih penting.

Kalau mendapatkan uangnya yang lebih penting, maka restoran-restoran itu lebih mementingkan pengumuman mendapatkan uangnya (investasinya) dibandingkan mempromosikan makanannya.

Begitulah pendapat saya tentang unicorn dan/atau pendanaan perusahaan yang sangat besar.

Menyikapi Kasus Cuitan CEO Bukalapak

Semalam cuitan CEO Bukalapak menjadi viral. Ini tampilannya.

Cuitan yang sepertinya biasa-biasa itu ternyata menjadi viral karena kalimat yang terakhir yang memuat kata-kata “presiden baru“. Tahun ini memang banyak orang yang sensitif terhadap pemilihan presiden. Sebagian besar orang mengasosiasikan hal ini sebagai dukungan kepada calon presiden 02, Prabowo. Padahal dalam berbagai acara Bukalapak, presiden Jokowi diundang dan hadir. Banyak orang yang mengatakan bahwa Achmad Zaky tidak berterimakasih.

Mulailah dicari-cari kesalahan-kesalahan lain, seperti misalnya data tersebut adalah data tahun 2013 bukan 2016. (Ini sudah direvisi.) Dan banyaklah kesalahan lain yang dicari-cari.

Akibat dari ini maka muncullah gerakan untuk “uninstall” aplikasi Bukalapak (dengan tagarnya). Bahkan ada banyak komentar yang negatif di Playstore. Netizen memang kejam.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan semuanya. Santai saja.

Kebetulan, saya sedang mengajar kuliah “New Venture Management” di MBA Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB. Mahasiswanya adalah para pendiri (dan biasanya CEO) dari usaha-usahanya. Kebetulan ada kasus ini yang dapat saya angkat sebagai studi di kelas.

Andai kita adalah Board of Directors (BoD) dari Bukalapak. Mari kita panggil CEO-nya dan minta pertanggungjawaban. Masalah sudah terjadi. Apa yang harus dilakukan? Itu adalah salah satu dari serangkaian pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa. Apa usulannya?

Usulan pertama adalah adanya permintaan maaf. Itu sudah dilakukan (meskipun ada yang masih belum dapat menerima itu.) Ini adalah langkah klasik.

Usulan-usulan apa lagi? Yang out-of-the-box. Maka mulailah muncul ide-ide yang “cemerlang”. Berikut ini adalah beberapa usulan yang muncul.

Ada usulan untuk menggunakan momen ini untuk menerbitkan voucher khusus. Voucher “mintamaaf“. Saya usulkan namanya voucer “BukaMaaf“. ha ha ha. Orang Indonesia sangat pemaaf.

Usulan berikutnya adalah untuk memanfaatkan spotlight ini. Turn this bad publicity into a marketing stunt. Misalnya, justru gunakan momen ini untuk menjelaskan R&D yang sudah dilakukan di Bukalapak, dan seterusnya. Justru momen ini digunakan untuk lebih memperkenalkan sisi positif dari Bukalapak. Atau mungkin dapat digunakan untuk marketing lain yang lebih menjual. Mumpung lagi dapat sorotan.

Usulan lain lagi adalah membuat short movie. Bukalapak dikenal dengan iklan-iklannya yang berbau cerita. Misalnya dalam cerita ini dikisahkan Achmad Zaky dipecat dan Bukalapak bangkrut. Kemudian ditunjukkan kerugian yang terjadi bagi Indonesia. Saya malah menambahkan sedikit twist di plot ceritanya. Diceritakan Achmad Zaky pulang ke Solo dan ketemuan dengan Jokowi (yang kw saja – Jokowi kw – ha ha ha). Kemudian Zaky berkeluh kesah kepada Jokowi dan ditanggapi dengan baik. Bahkan di akhir ceritanya diberi sepeda. “Ini sepedanya”. he he he. (Dan sepedanya itu yang kemudian dibawa ke ITB untuk dijadikan sepeda di kampus ITB – yang sekarang sudah ada pun.)

Dan masih banyak usulan-usulan lainnya lagi. Serulah. Kelas menjadi menarik. Alhamdulillah ada kasus yang dapat dibahas di kelas.

Brand Image

Dalam kuliah “New Venture Management” (NVM), saya mengangkat topik Key Performance Indicators (KPI). Bahwa setelah melewati proses inisiasi bisnis dan bisnis sudah berjalan dengan baik, maka mulai masuklah kita ke tahap pengelolaan bisnis dengan menerapkan manajemen yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencatat dan mengukur berbagai indikator dari usaha kita.

Ada beberapa indikator yang dapat dicatat dan diukur, antara lain:

  1. Jumlah produk atau servis;
  2. Brand Image;
  3. Jumlah pelanggan (the number of customers);
  4. Penjualan (sales);
  5. Keuntungan (profit);
  6. Indikator keuangan lainnya (saham, nilai investasi);
  7. dan hal-hal yang terkait dengan organisasi (jumlah karyawan).

Tulisan kali ini akan menyoroti aspek “brand image saja”. Kalau menurut Anda, apa yang dimaksud dengan “brand image”?

Jawaban dari pertanyaan di atas bergantung kepada kapan dan kepada siapa ada bertanya. Saat ini, ketika saya tanyakan kepada mahasiswa, maka jawabannya terkait dengan Instagram dan YouTube. Seberapa populernya Anda di instagram. Kalau dahulu yang lebih banyak digunakan adalah Facebook dan/atau Twitter.

Ada banyak indikator kepopuleran seseorang pada instagram; jumlah pengikut (follower), jumlah yang menyukai (like) (untuk sebuah foto atau cerita), engagement, dan seterusnya. Ini masih dapat kita bahasa lebih panjang lebar lagi.

Pertanyaannya adalah apakah kepopuleran kita di instagram dapat dianggap sebagai salah satu tolok ukur dari brand image? Artikel jurnal mana yang menyatakan demikian? (Kebanyakan yang menyatakan demikian berasal dari artikel populer yang diragukan nilai akademiknya.) Dalam beberapa diskusi dengan kawan, brand image di dunia siber (misal di instagram) belum tentu sama dengan kepopuleran di dunia nyata. Nah lho.

[Saya potong dulu ya tulisannya. Nanti saya tambahkan]

Pekerjaan rumah saya kepada mahasiswa adalah mencatat kondisi media sosial masing-masing mahasiswa dan peningkatannya secara berkala (bulan depan). Kondisi saya saat ini (21 Januari 2019):

  • Instagram: 1881 followers
  • YouTube (rahard): 412 subscribers
  • WordPress: views/day atau views/month
  • Twitter: 4526 followers
  • Facebook: 5000+ followers (yang ini akan digantikan dengan Facebook Page saja)
  • Facebook Page: 1543 (like), 1539 (followers)

Data di atas akan saya pantau. Nanti pekerjaan rumah berikutnya adalah melakukan sesuatu dan melihat efeknya pada indikator-indikator tersebut.

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.

Kapan Startup Gagal

Dalam sebuah talk show, ada pertanyaan dari pendengar. Inti dari pertanyaan tersebut adalah ini:

Kapan sebuah startup bisa dikatakan gagal?

Ini pertanyaan yang tidak mudah jawabannya. (Memangnya ada pertanyaan tentang statup yang mudah dijawab?)

Pertama, memang salah satu ciri dari entrepreneur yang membuat atau menjalankan startup adalah keras kepala. Tetap menjalankan startupnya itu meskipun banyak orang lain yang menyatakan tidak. Bahkan sudah tidak punya apa-apa pun masih tetap nekat. Ada semacam kegilaan dalam hal kenekatannya. Jadi kapan dia harus berhenti?

Tidak ada jawaban pamungkas yang cocok untuk setiap orang, tetapi saya coba berikan beberapa  kondisi yang membuat saya berhenti menjalankan usaha tersebut. Usaha dinyatakan gagal.

  1. Sudah bosan. Ketika semua pendiri (founder) sudah bosan menjalankan startup itu, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Ada juga ya yang bosan? Ada. Bayangkan semuanya sudah tidak tertarik lagi. Untuk apa diteruskan? Berhenti. Dinyatakan gagal saja.
  2. Ketika sumberdaya (uang, orang, dan seterusnya) sudah habis. Ludes. Lah mau diteruskan bagaimana lagi? Hutang? Tidak. Saya termasuk jenis entrepreneur yang tidak suka berhutang. Segala hal yang saya mulai adalah hasil kerjasama. Sama-sama sukses atau sama-sama menderita. Jadi ketika sudah tidak ada apa-apa lagi, ya terpaksa berhenti. Mungkin suatu saat diteruskan lagi ketika sumber daya sudah tersedia lagi. Untuk sementara ini, gagal.
  3. Ketika sesama pendiri berkelahi. Iya. Ada kejadian seperti ini. Saya mengalami. Dugaan saya, banyak juga yang mengalami kasus seperti ini. Ketika pendiri sudah saling berkelahi atau saling tidak bicara satu sama lainnya, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Gagal.

Itu adalah kondisi-kondisi yang dapat dikatakan startup kita gagal. Mungkin ada kondisi-kondisi lainnya, tetapi itu adalah kondisi yang saya alami.

Oh ya, gagal bukan berarti harus berhenti. Kata orang, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Nah. Jadi gagal bukan hal yang memalukan. Kalau jahat, curang, licik, menipu, tidak punya integritas, dan sejenisnya adalah hal yang memalukan. Mari semangat mengembangkan startup kita.

Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Analogi Bitcoin

Sekarang Bitcoin sedang ramai diperbincangkan. Sebetulnya apa itu Bitcoin? Daripada menjelaskan tentang Bitcoin (atau cryptocurrency lainnya), lebih baik saya buat analoginya.

Katakanlah sekolah Anda ingin mengadakan acara bazaar. Di acara tersebut ada penjualan makanan dan minuman. Agar penjualan makanan dan minuman terkendali maka panitia membuat aturan bahwa pembelian makanan dan minuman dilakukan dengan menggunakan kupon. Kupon dijual dalam pecahan Rp. 20.000,-. Maka mulailah orang yang hadir di bazaar tersebut membeli kupon.

Untuk menghindari terjadinya fraud, penipuan, kupon palsu dan sejenisnya maka jumlah penjualan kupon dibatasi. Hanya ada 500 kupon yang tersedia.

Eh, ternyata makanan dan minuman yang ada di sana enak-enak. Maka orang mulai mencari kupon. Walah. Jumlah kupon yang tersedia ternyata terbatas. Maka mulailah kupon dicari. Tiba-tiba ada orang yang menjual kuponnya. Kupon yang harganya Rp. 20.000,- dijual seharga Rp. 25.000,-. Lumayan, untung Rp. 5.000,-. Malah ada orang yang menjual kupon itu dengan harga Rp. 30.000,-.

Begitu melihat kupon dapat dijual lebih mahal dari harga belinya maka orang mulai memperjualbelikan kupon. Kupon lebih dicari lagi. Harga makin naik lagi. Sekarang harga kupon menjadi Rp. 100.000,-. Wow!!

Lucunya, orang-orang tidak menggunakan kupon itu untuk membeli makanan. Justru jual beli kuponnya yang menjadi fokus kegiatannya.

Lantas bagaimana nasib penjual makanan dan minuman itu? Hmm … sebentar kita cek dulu. Ternyata jual beli makanan dilakukan dengan uang Rupiah saja karena daripada tidak ada yang beli dan kupon malah disimpan (dan diperjualbelikan) oleh orang-orang. Kupon tidak jadi solusi.

Bazaar akan selesai. Bagaimana nasib harga kupon setelah bazaar selesai? Anda tahu sendiri.

Update: yang ini belum tentu benar, tapi lucu saja. hi hi hi.

bitcoin-mania

Apakah Blockchain Menjadi Solusi?

Salah satu janji yang digadangkan oleh Blockchain – teknologi yang berada di belakang Bitcoin – adalah dapat membuat biaya transaksi menjadi sangat murah. Janji tinggal janji. Saat ini saya belum melihat ini terjadi. Kebanyakan orang masih fokus kepada aspek “oportunis” dari crypto currency ini.

Saya masih membutuhkan sebuah sistem pembayaran yang biayanya murah untuk toko musik digital saya. (Lihat: toko.insanmusic.com) Harga sebuah lagu adalah Rp. 5000,-. Sementara itu sistem pembayaran yang ada sekarang hampir semua meminta biaya (per) transaksi di atas Rp. 5000,-. (Bahkan ada yang meminta biaya transaksi Rp. 15.000,-!) Tekorlah saya kalau biaya transaksinya seperti itu. Seharusnya biaya transaksinya adalah Rp. 100,- gitu.

Kalau sampai akhir tahun ini (2017) tidak ada yang dapat memberikan solusi, tahun depan (2018) kayaknya saya harus membuat sebuah sistem pembayaran sendiri.

Permasalahan Satelit dan Layanan Perbankan

Beberapa hari yang lalu (tepatnya tanggal 25 Agustus 2017), satelit Telkom 1 mengalami masalah. Akibatnya banyak layanan perbankan, terutama terkait dengan mesin ATM, ikut terhenti. Ribuan mesin ATM dari berbagai bank tidak dapat terhubung ke kantor pusat bank sehingga tidak dapat memberikan layanan.

Sebelum timbul kekisruhan lebih lanjut, saya ingin mengatakan bahwa ini adalah masalah – masalah besar bahkan – tetapi bukan sebuah show stopper yang menghentikan semua layanan perbankan. Layanan perbankan bermuara pada sistem core banking mereka. Layanan ini dapat diakses melalui berbagai cara (delivery channel), yang mana ATM merupakan salah satunya. Mari kita daftar cara mendapatkan layanan perbankan.

  1. Langsung ke kantor cabang bank secara fisik;
  2. menggunakan layanan ATM;
  3. menggunakan layanan phone banking;
  4. menggunakan layanan internet banking;
  5. menggunakan layanan SMS dan mobile banking.

Dari daftar di atas dapat dilihat bahwa ATM hanyalah salah satu cara untuk mengakses layanan perbankan. Keresahan yang terjadi mengkonfirmasi bahwa layanan ATM merupakan layanan yang paling populer. Namun saya menduga ke depannya layanan internet banking dan mobile banking akan lebih mendominasi di era belanja online. Coba saja kita belanja online, maka akan sangat lebih nyaman menggunakan internet banking atau mobile banking dibandingkan harus pergi ke mesin ATM dan melakukan pembayaran di sana.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk melupakan masalah yang ditimbulkan oleh berhentinya layanan satelit Telkom 1, tetapi untuk mengatakan bahwa kita tidak usah panik. Pihak perbankan dan penyedia jasa telekomunikasi memang harus menyiapkan business recovery plan (business continuity plan) ketika terjadi masalah. Ini pun harus diuji secara berkala. Mudah-mudahan ke depannya lebih baik.

Beberapa bahan bacaan

  1. Kronologi Anomali Satelit Telkom 1
  2. Masa hidup satelit Telkom 1 sudah berakhir
  3. Telkom sewa satelit untuk migrasi pelanggan
  4. ExoAnalytic video shows Telkom-1 satellite erupting debris

Potensi Aplikasi Mobile di Indonesia

Banyaknya pengguna handphone di Indonesia merupakan kesempatan untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi mobile. Namun jika kita lihat, kesempatan ini belum dimanfaatkan oleh pengembang aplikasi mobile di Indonesia. Coba kita lihat daftar aplikasi yang paling populer.

  1. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Google Playstore
  2. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Apple Store

Dari daftar tersebut dapat kita lihat bahwa aplikasi mobile yang populer kebanyakan (hampir semua malahan) tidak dikembangkan oleh pengembang dari Indonesia. Walah.

Jika kita teliti lebih lanjut, aplikasi-aplikasi yang populer dari pengembang Indonesia biasanya terkait dengan bisnis pemilik aplikasi tersebut. Sebagai contoh, aplikasi Tokopedia merupakan pendukung dari market place Tokopedia. Demikian pula dengan Bukalapak, Go-jek, MyTelkomsel, dan seterusnya. Tidak ada aplikasi yang berdiri sendiri sebagai aplikasi.

Hal yang menarik lainnya adalah pasar aplikasi mobile di luar negeri didominasi oleh Games. Di Indonesia, meskipun sudah banyak yang berusaha, pasar ini malah belum barhasil dikuasai.

Hasil berbincang-bincang dengan berbagai pengembang aplikasi mobile, kebanyakan mereka mengembangkan aplikasi sesuai dengan kebutuhan klien. Misal ada klien yang berupa sebuah perusahaan yang minta dibuatkan aplikasi, maka aplikasinya ya memang khas untuk perusahaan tersebut, bukan untuk umum.

Jadi bagaimana masa depan pengembang aplikasi mobile di Indonesia?