Category Archives: Bisnis

Valuasi Perusahaan IT (part 2)

Ini masih soal tentang menilai (valuation) harga sebuah perusahaan IT. Ceritanya ada sebuah perusahaan yang ingin membeli perusahaan lain, sebuah perusahaan IT. Nah, bagaimana menilai harga dari sebuah perusahaan IT itu?

Cara yang konvensional adalah dengan menilai aset yang dimiliki oleh perusahaan IT tersebut, tetapi cara ini kurang cocok. Bayangkan, sebuah perusahaan IT mungkin didirikan oleh 5 orang mahasiswa. Mereka hanya menggunakan 5 notebook dan 1 server. Kalau dilihat dari aset hardwarenya, maka nilanya hanya harga 5 notebook dan 1 server ini saja. Wah, pasti *sangat kecil*. Mana mau perusahaan IT tersebut dihargai dengan itu saja.

Jika harga tersebut ditambahkan dengan software yang dimiliki (dibeli) oleh perusahaan IT tersebut, hasilny juga masih belum pas. Masih kemurahan. Apalagi kalau softwarenya berbasis open source yang gratisan pula. Mosok harganya Rp 0,- ???

Ada hal lain lagi yang dapat dianggap sebagai aset, yaitu HaKI atau Intellectual Property Rights (IPR) dari perusahaan IT tersebut. Contoh HaKI  adalah  paten atau sejenisnya. Problemnya adalah software patent tidak dikenal di Indonesia. (Bagusnya memang seperti itu. Lain kali akan saya bahas ini.) Namun bukan itu yang menjadi masalah utamanya. Masalahnya adalah bagaimana menilai “sebuah” HaKI di bidang IT?

Sebagai contoh, misalnya sang perusahaan IT tersebut mengembangkan sebuah software yang unik, memiliki desain yang keren, dan mengimplementasikan proses-proses (termasuk business process) yang bagus di dalamnya. Software / karya ini mau dihargai berapa? Bagaimana dengan ide-ide yang tertuang di dalamnya? Masih sulit untuk dihargai. Padahal justru ini adalah salah satu “aset” utama dari perusahaan IT yang harganya mahal. Maka, masih perlu diskusi dan perdebatan panjang untuk menerima hal ini sebagai salah satu cara menilia perusahaan IT.

Cara valuasi lain, yang itu dengan menilai harga user / customer / pelanggan yang dimiliki dapat dibaca di sini. Masih bersambung lagi … Sementara itu, semoga tulisan ini bermanfaat.


Start-Up Tidak Identik Dengan Kaya Raya

Satu hal yang sering salah dipahami adalah orang mengasosiasikan membuat start-up karena ingin kaya raya. Ini salah besar. Start-up TIDAK identik dengan kaya raya. Bila Anda ingin kaya raya, maka menjadi pegawai (profesional) memiliki probabilitas yang lebih besar. Gaji di perusahaan multi-nasional yang raksasa bisa mencapai ribuan dolar per bulan. Lupakan membuat start-up.

Dalam sebuah start-up, seringkali founder malah justru lebih menderita. Dalam hal penggajian, misalnya, pegawai digaji duluan baru foundernya. Itupun kalau masih ada sisa. Nah. Masih mau membuat start-up?

Mengapa orang mau membuat start-up? Karena ingin memecahkan masalah dan ingin membuat perubahan di dunia. Ada sebuah kutipan dari seorang jutawan (dolar tentunya) di acara “secret millionaire”:

They are making changes in the world, and I am only making money


Starting-Up: Ideation

BR starting-up

Sesi mentoring untuk mahasiswa (SBM ITB) dimulai lagi. Semester ini saya mendapatkan beberapa mahasiswa baru yang akan memulai perjalanan mereka dalam mengembangkan start “start up”. Tentu saja masih ada mahasiswa mentoring lama saya yang sudah pada fasa berikutnya. Kita ke mahasiswa yang baru memulai dulu.

Langkah awal dalam memulai sebuah usaha – start-up – adalah ide usaha. Ini langkah penting karena menentukan jadi atau tidaknya usaha mereka tersebut. Bagi saya, mereka harus dapat menjawab pertanyaan ini.

1. Masalah apa yang akan dipecahkan oleh start-up Anda?

Sebuah start-up biasanya menjawab sebuah masalah. Tanpa itu, saya tidak tertarik untuk membimbing start-up Anda (karena biasanya tidak berhasil). More on this later on.

Ada banyak usaha yang tidak menjawab pertanyaan di atas, tetapi hanya sekedar ikut-ikutan. Misalnya, Anda membuka sebuah usaha web desain (atau fashion, kuliner, atau apa saja) karena lihat orang lain membuat usaha sejenis dan terlihat berhasil. Yang seperti ini, biasanya cepat gagal.

Kembali ke pertanyaan di atas, apa masalah yang Anda hadapi? Misal, Anda mengembangkan sistem untuk membuat obat-obatan untuk penyakit demam berdarah karena penyakit itu masih sering menjadi masalah di Indonesia. Atau Anda membuat alat untuk memperpanjang usia batre handphone. Nah … itu saya juga nyari. hi hi hi.

Oh ya, saya bohong. Ada juga usaha yang dimulai dengan “solution looking for problem(s)“. Contoh dari ini adalah twitter. Sebetulnya problem yang ingin diselesaikan oleh twitter itu apa ya? Rasanya kok tidak jelas, tetapi twitter itu termasuk start up yang sukses juga. Jadi, mungkin bisa saja ada memulai usaha dengan “saya bisa (dan suka) membuat web dan melakukan pemrograman”, kemudian dilanjutkan dengan “masalah apa yang dapat diselesaikan dengan perusahaan yang saya buat?”.

Pertanyaan kedua

2. Apakah itu masalah Anda?

Yang ini sebetulnya opini saya pribadi. Jika itu masalah Anda, maka Anda akan tekun mencari solusi terhadap masalah tersebut. Ada punya passion terhadap masalah itu. Jika itu bukan masalah Anda, maka saya masih bertanya-tanya. Contohnya begini, Anda ingin memecahkan masalah transportasi di kota Jakarta (ini masalah) tetapi Anda sendiri tinggal di Bandung dan jarang pergi ke Jakarta. Saya tidak yakin Anda akan serius dalam memecahkan masalah tersebut.  Lagi pula, masih ada banyak masalah lain yang sangat personal bagi Anda dan memang harus Anda pecahkan.

Ada pepatah yang mengatakan, “necessity is the mother of invention“. Begitu.

Pertanyaan berikutnya,

3. Apa yang sudah dilakukan orang lain untuk memecahkan masalah tersebut?

Boleh jadi (dan biasanya memang) sudah ada orang-orang terdahulu yang berupaya memecahkan masalah tersebut. Jika mereka sudah memecahkan masalah tersebut, ya untuk apa kita membuat solusi yang sama? Kita tinggal menggunakan solusi mereka saja, bukan? Selesai.

Kalau mereka belum berhasil menyelasikan masalah tersebut, ini mungkin menjadi kesempatan (opportunity) untuk Anda. Boleh jadi dahulu teknologi belum tersedia sehingga sekarang mungkin ide tersebut bisa terlaksana. Sebagai contoh, mengirim lagu lewat internet dahulu tidak memungkinkan karena kecepatan internet masih super lambat. Sekarang, teknologi sudah tersedia untuk melakukannya sehinga layanan untuk mengirim lagu dapat dilakukan. (Lagu dapat digantikan dengan data medis, misalnya untuk keperluan e-health.)

Namun ada kemungkinan juga Anda masih gagal karena memang teknologi masih belum tersedia, hukum boleh memperbolehkan, orang yang sanggup melakukannya belum ada, dan seterusnya.

Pertanyaan selanjutnya…

4. Apakah Anda jagoan di bidang (start up) itu?

Jika tidak, lupakan saja ide Anda. Orang lain akan memecahkan masalah tersebut dengan lebih baik, sehingga start up mereka (jika mereka membuatnya) akan memiliki potensi kesuksesan yang lebih besar daripada Anda. Anda harus menjadi yang terbaik di bidang Anda. Harus!

Ini adalah sesi pertama saya. Pembahasan di sini mungkin masih terlalu singkat, tetapi mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada para pembaca.


Bagaimana Mempopulerkan Situs (How to Generate Traffic to Your Site)

Untuk ketigakalinya dalam minggu ini saya mendapat pertanyaan atau keluhan dari beberapa instansi tentang tidak populernya situs (portal, web site, blog) mereka. Ada yang aksesnya dalam satu bulan ini adalah … nol. hi hi hi. Mereka kemudian berencana untuk mendesain ulang situs mereka. Padahal menurut saya bukan di situ masalahnya.

Ada juga orang-orang yang ingin mempromosikan layanan mereka dengan menumpang (ndompleng) situs-situs yang rame, termasuk blog ini. hi hi hi. (Lihat saja ada yang komentarnya OOT.) Topik SEO (Search Engine Optimization) merupakan sebuah hal yang dicari-cari orang. Bahkan ada bisnisnya tersendiri. Jadi masalah mempopulerkan situs atau menghasilkan traffic pengunjung itu merupakan “masalah” bersama.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa masalah utama dari ketidakpopuleran sebuah situs itu adalah informasi (data) yang tersedia tidak berubah untuk waktu yang terlalu lama. Ada situs pemerintahan yang terakhir diperbaharui tiga tahun yang lalu. Tentu saja tidak ada yang ingin mengunjungi situs itu kembali. Sekali mengunjungi – tahun lalu, misalnya – sudah cukup.

Salah satu cara untuk mempopulerkan situs adalah memperbaharui informasinya (content) secara berkala. Sering! Setiap hari kalau bisa. Itulah sebabnya situs-situs berita mendapatkan banyak traffic karena setiap hari orang hadir untuk mendapatkan berita terbaru. Ini juga saya terapkan di blog ini. Saya berusaha untuk menulis *setiap hari* (meskipun akhir-akhir ini banyak terjadi kegagalan). Jadi rumus saya adalah:

Kuantitas lebih penting daripada kualitas

Oleh sebab maka daripada itu … (hi hi hi), sering perbaharui situs Anda. Setelah sering diperbaharui, mulai kita tingkatkan kualitasnya.

Rumus kedua saya adalah

Tulisan yang baru (bukan copy and paste) lebih menarik

Maksudnya begini. Tulisan Anda yang “ngaco” jauh lebih menarik daripada menuliskan ulang (copy and paste) karangan orang lain, meskipun karangan orang lain itu super bagus. Percayalah. Cobalah. Kenapa demikian? Karena orang dapat membaca tulisan tersebut dari sumber aslinya. Lah kalau tulisannya adalah tulisan asli Anda, maka tentu saja kembalinya ke Anda. Tentu saja tulisan Anda ini tidak serta merta langsung disukai orang tetapi ini membutuhkan waktu, tetapi prinsipnya adalah buatlah yang orisinal.

Begitulah tips saya untuk mempopulerkan situs. Semoga bermanfaat.


Majalah Entrepreneurship

Beberes kamar. Bongkar-bongkar tumpukan buku, saya menemukan majalah “Enterprise SPARKS” dari NUS Enterprise. Majalah tipis ini membahas mengenai entrepreneurship. Menarik.

NUS entreprise sparks magazine-1 1000NUS entreprise sparks magazine-2 1000

Mari kita buat juga. Supaya entrepreneurship makin meningkat di Indonesia. Di majalah itu mungkin saya berminat untuk menjadi kontribusi penulis, bercerita tentang suka dukanya menjadi technopreneur.


Biaya Akuisisi Pengguna Dalam Start-Up

Ketika kita mengembangkan sebuah usaha start-up, kita harus mendapatkan pelanggan atau pengguna (user) dari layanan atau produk kita. Akuisisi pengguna ini ada biayanya. Pengguna ini  dapat dianggap sebagai salag satu aset dari start-up kita.  Itulah sebabnya sebuah start-up dengan jumlah pengguna yang jutaan dapat bernilai mahal meskipun penghasilannya minim.

logo insan music storeNah, berapa biaya untuk akuisisi pengguna ini? Saya ambil contoh kasus usaha toko musik digital Insan Music Store kami. Dalam kasus kami, pengguna ada dua jenis; (1) artis / musisi / band yang memproduksi lagu-lagu, dan  (2) pembeli lagu-lagu tersebut. Sebetulnya ada juga orang-orang yang hanya mengunjungi situs kami tetapi tidak membeli. Untuk yang ini saya tidak memasukkan dalam hitungan.

Untuk bergabung dengan Insan Music Store, artis / musisi / band tidak dipungut biaya. Hanya saja, sebelum kami dapat melakukan promosi dan jualan, kami harus menandatangani kontrak. Ada meterai yang harus dipasang; 2 x Rp. 6000,-. Kalau ditambah ongkos kertas dan tinta printer untuk mencetak kontrak tersebut, maka biaya untuk satu artis katakanlah Rp. 15000,-. Jadi biaya untuk akuisisi pengguna (cost per acquisition / CPA) kami adalah US$ 1,5.

Biaya ini terlihat kecil ya, tetapi kalau nantinya kami memiliki 10000 artis (atau lebih) maka tinggal kita kalikan saja dengan 1,5 dollar itu. Banyak juga ya?

ims terdaftar

Untuk  akuisisi pembeli lagu saat ini kami belum bisa menghitungnya karena gratis. Jadi, untuk yang ini anggap saja gratis. Padahal sesungguhnya kami harus menyiapkan server untuk database dari pengguna ini. Selain itu, kami melakukan promosi yang ada pengeluaran uangnya. Dugaan saya sih biayanya pukul rata akan sama seperti biaya untuk akuisisi artis tersebut, 15 ribu rupiah juga. Jika kami memiliki satu juta anggota pembeli, maka sesungguhnya biayanya adalah … 15 milyar! Nah lho. hi hi hi

Demikian cerita tentang entrepreneurship, start-up bisnis digital. Semoga bermanfaat.


Mentoring Entrepreneurship: Product Development

Salah satu bahan diskusi dalam mentoring entrepreneurship tadi pagi adalah tentang pengembangan produk (product development). Start up punya beberapa ide yang ingin atau harus diiimplementasikan. Permasalahannya adalah seringkali pendiri (founder) tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk atau layanan yang dimaksudkan. Apa alternatifnya?

  1. Mempekerjakan seseorang dengan memberi gaji. Masalahnya, start up seringkali tidak memiliki uang yang cukup untuk itu. Saya sendiri pernah melakukan hal ini dan kandas di tengah jalan. Produk belum selesai, modal sudah habis. Akhirnya produk dihentikan dan startup mandheg.
  2. Mencari partner partner yang dapat mengembangkan. Masalahnya, tidak mudah menemukan orang yang mau sama-sama mengembangkan produk itu. Kalaupun ketemu, imbalannya apa? Apakah berbagi kepemilikan? Porsi sahamnya seberapa besar? Pendekatan ini pun kadang (sering?) gagal. Di tengah jalan, sang partner kehilangan semangat (atau juga kehabisan modal juga) sehingga tidak menyelesaikan produk. Susah memaksa komitmen partner.
  3. Belajar untuk mengembangkan sendiri. Ini kadang dilakukan dengan modal nekad. Potensi kegagalan cukup tinggi karena untuk belajar itu butuh waktu. Jika produk atau servis yang akan dikembangkan membutuhkan teknologi atau ketrampilan yang tinggi, ya wassalam. Kalau dia hanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran, boleh jadi pendekatan ini dapat dilakukan meskipun dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mewujudkannya,

Yang pasti, kalau tidak melakukan sesuatu ya sudah pasti produk atau layanan tidak bakalan ada. he he he. Yang ini namanya mimpi atau mengkhayal … :D


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.457 pengikut lainnya.