Sidang MK (babak 2)

Judul tulisan ini memang tendensius, “Sidang MK” gitu lho. Lah kan suka-suka saya, mau saya kasih judul “Sidang MK” atau “Game Mortal Kombat” juga terserah saya kan? he he he. Tapi kan bapak pakai “babak 2”. Mana “babak 1”-nya pak? Lah, apa memang harus urut? Kata siapa? Saya mau mulai dari “babak 17” terus mundur juga ndak apa-apa kan? Yo wis pak. Karepmu. Pastilah. he he he.

Kembali ke topik. Sidang MK. Saya tidak mengikuti siaran Sidang MK di televisi. Kenapa tidak? Lah, kenapa harus? Sekarang saya tanya ke Anda, “apakah Anda mengikuti FIFA Women’s World Cup?”. Tidak juga kan? Kenapa? Karena bagi Anda itu tidak penting. Nah, sidang MK juga bagi saya tidak menarik karena sudah tahu hasilnya. Berikut ini adalah narasi tanya jawab kepada saya.

Penanya: Lho, bapak sudah tahu hasil sidang MK?
Saya: Ya sudahlah. Sama dengan saya sudah tahu hasil akhir “FIFA Women’s World Cup”
Kok bisa pa? Bapak ahli nujum ya?
Bukan. Saya hanya ahli logika.
Coba buktikan. Kalau bapak sudah tahu hasil “FIFA Women’s World Cup?”, nantinya hasilnya bagaimana?
Mau bukti? Nanti hasilnya adalah “Indonesia tidak juara di Women’s World Cup” itu. Silahkan nanti buktikan.
Oalah paaak. Kan Indonesia tidak ikutan.
Lah, kan saya tidak mempermasalahkan itu. Yang penting hasilnya saya sudah tahu kan?
[yang nanya mulai mangkel. kezel.]

Ok deh. Kalau begitu, bapak tahu hasil akhir MK?
Sudah tahu juga.
Apa? Atau, bagaimana?
Sebetulnya mau saya ceritakan, tapi nanti Anda malah tambah mangkel. Jadi tidak usah saya ceritakan.


[yang nanya langsung ngeloyor pergi tanpa pamit. menengok pun tidak. ketika sudah agak jauh, saya lihat jari tangannya menunjukkan sesuatu. saya yakin bukan jempol, tapi saya tidak tahu apa itu.]

Iklan

Parodi Superhero (4)

Nanti malam mau ngeronda lagi ah, pikir Spiderman. Mumpung besok hari libur. Tapi entah kenapa Spiderman merasa bahwa malam ini kejahatan bakalan sepi. Para penjahat kayaknya mau liburan juga. Tapi kan dia harus tetap waspada. Untuk jaga-jaga agar tidak bosan, Spiderman membawa handphonenya Peter Parker.

Seperti sudah diduga, malam ini sepi kejahatan. Padahal Spiderman sudah menunggu di daerah yang biasanya ramai kejahatan. Maka Spiderman duduk nangkring di atas gedung sambil mainan handphone. Untung di atas gedung ini masih ada sinyal operator. Main game online dia. Apa gamenya? Dia tidak mau cerita.

Kruyuk. Kruyuk. Halah. Perutnya bunyi. Kelaparan ternyata. Spiderman lupa belum makan malam. Tadi siang juga makannya sedikit. Hadoh. Mau pulang ke rumah kok males. Sampai di rumah juga pasti belum ada makanan yang siap. Harus buat dulu. Yang paling cepat bikin roti atau supermi. Tapi malas. Hmm …

Kan ada Go-Jek. Ada Go-Food. Spiderman kepikiran. Untung juga bawa handphone. Maka dia mulai melihat-lihat menu yang tersedia di Go-Food. Maklum ini kan tengah malam dan mau liburan pula. Tidak banyak tempat jual makanan yang masih buka. Mau apa ya? Pizza saja kayaknya. Dia yang paling gak ribet. Bisa dibawa ke atap gedung. Kalau yang berkuah seperti soto-soto-an bakalan susah. Gak ada mangkok. Pizza it is!

Maka Spiderman memilih pizza dari kedai yang masih buka. Minumnya apa ya? Sebetulnya dia ingin minuman soda, tapi malam-malam begini enakan minum kopi. Agak kurang cocok sih, tapi jebret aja. Untungnya masih ada yang mau jualan pizza. Wuih. Mudah-mudahan ada driver Go-Jek yang mau antar.

malam kk“, sebuah pesan di aplikasi Go-Jek muncul.
malam“, jawab Spiderman.
sesuai aplikasi ya kk?” (ini kayaknya jawaban standar ya? jangan-jangan itu sudah diset di aplikasi go-jek, tinggal klik saja?)
iya. tapi jangan panggil saya pakai kk“. Spiderman kesel karena dipanggil “kakak”. Entah kenapa sekarang memang banyak yang menggunakan kata “kakak” untuk memanggil seseorang. Mungkin supaya agak sopan ya?

“jadinya apa kk. eh, maap”
“mas atau abang aja”, jawab Spiderman.
“baik bang. maap tadi gak yakin”
“kok gak yakin? emangnya ada nama peter yang perempuan?”
“maaap bang. kali aja … he he he”
“hayah”
“ditunggu ya bang”

Berapa menit kemudian ada pesan lagi.

“bang. ini beneran ngirimnya ke alamat itu?”
“emang kenapa?”
“itu kan daerah serem bang. rawan. banyak orang jahat”
“gpp. aku jamin”
“gimana abang bisa jamin?”
“percaya deh. aku jamin!”, Spiderman tidak ingin mengungkapkan jati dirinya.
“gimana kalau di jalan satunya bang. beda satu blok”
“oke deh. tungguin di perempatan aja”. Spiderman mengalah. Daripada ribut-ribut terus gak dapat pizza. Toh dia bisa loncat atau mengayun ke sana.
“oke. makasih bang”

Beberapa menit kemudian si abang Gojek celingukan di perempatan jalan yang sepi. Merinding juga dia. Gimana kalau dirampok. Ini masih daerah yang dekat-dekat dengan daerah rawan kejahatan. Hadoooh. Mana si abang Peter ini.

Berkelebat sebuah bayangan berwarna merah. Mengayun dan menyambar pizza dan kopi yang dibawa abang Gojek. Kaget si abang Gojek. Untung dia gak sampai pipis di celana. Cepat-cepat kabur dia dari sana. Bukan hanya rawan kejahatan di daerah sini, tapi rawan hantu juga. Kalau penjahat bisa dilihat. Nah ini hantu. Hiii … Langsung dia nyalakan motor. Ngebut dia. Di tikungan godek-nya nyaris kena trotoar. Saking ngebutnya.

Sementara itu di puncak sebuah gedung tampak sebuah bayangan merah yang sedang menikmati pizza (dan kopi). Nom nom nom …

Oh ya. Tidak lupa Spideman memberikan nilai 5 bintang kepada si abang Gojek. Tak lupa dia memberikan tip Rp. 10.000,-. Soalnya dia tidak mau orang bilang Spiderman pelit. Beberapa waktu yang lalu Peter Parker dapat pesan tahunan dari Gojek yang bilang dia jarang kasih tip, padahal dia *selalu* kasih tip. Salah tuh aplikasi Gojek. Hallowww Gojek?

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3, 4]