Category Archives: Curhat

Mencari Talenta

Sebuah pesan masuk ke ponsel saya:

Pak Budi, apakah punya orang yang dapat mendesain rangkaian dengan menggunakan FPGA untuk sebuah proyek. Selain itu butuh orang juga untuk membuat firmware-nya.

Selang berapa lama, ada pesan lain lagi:

Pak, saya butuh orang yang bisa python untuk mengakses data dari database (SQL) kemudian mem-push ke sebuah sistem lainnya.

Pesan-pesan semacam ini sering hadir di ponsel saya. Mungkin karena saya mengajar di ITB sehingga dipikirnya dekat dengan sumber daya manusia yang handal. Kenyataannya adalah susah untuk mendapatkan SDM, talenta, yang dibutuhkan tersebut.

Lulusan S1 dari perguruan tinggi sekarang entah pada lari kemana. Dugaan saya, sebagian melanjutkan pendidikan ke S2. Sebagian lagi bercita-cita menjadi manager. Maka tawaran pekerjaan seperti yang ditampilkan di atas sulit untuk dipenuhi. Bukan hanya ITB saja yang tidak dapat memenuhi itu, perguruan tinggi lainnya, bahkan politeknik dan SMK-pun sulit menghasilkan talenta yang dimaksudkan.

Pendidikan yang ada memang tidak mampu menghasilkan talenta yang siap digunakan. Waktu yang singat dan pelajaran yang mungkin dipaksakan (dijejalkan) kepada siswa tersebut membuat lulusannya hanya memahami kulit-kulit pelajaran saja. (Maha)siswa pun jarang yang mau belajar sendiri di luar apa yang sudah diajarkan di kelas. Mereka sudah puas jika lulus dari mata kuliah/pelajaran tersebut.

Maka, pencarian talenta masih berlanjut.

Oh ya, tawaran yang pertama, yang FPGA itu, masih terbuka.


Puasa dan Berat Badan

Ini pertanyaan yang berulang. Mari kita tanyakan lagi. Di bulan puasa ini, berat badan Anda apakah

  1. turun;
  2. tetap;
  3. tambah?

Dahulu saya selalu berasumsi bahwa berat badan kita pastinya akan turun. Logikanya kan kita puasa. Biasanya makan banyak dan sering, sekarang dikurangi. Jadi seharusnya berat badan kita turun.

Kenyataannya, saya pribadi biasanya menemui kondisi nomor 2 yaitu berat badan tidak berubah. Saya tidak tahu alasan sesungguhnya, tetapi dalam karangan saya ini terjadi karena badan menyesuaikan dengan pola makan kita. Boleh jadi kita mengurangi jumlah yang kita makan di bulan puasa, tetapi aktivitas kita juga berkurang. Walhasil, ya berat badan tetap saja.

Saya pernah mengalami penambahan berat badan di bulan puasa. Gak puasa kali ya? Puasa! Demi Allah. (he he he. Mesti pakai sumpah segala.) Heran juga kenapa kok bisa nambah. Mungkin karena sadar puasa maka ada ketakutan kurang gizi jadi makan tambah banyak? Rasanya tidak juga. Alasan yang memungkinkan adalah pada bulan lain jam makan saya tidak teratur. Karena merasa bisa makan kapan saja, maka jadwal makan saya kacau balau. Ada yang makan siangnya telat (karena kesibukan) sehingga berakibat makan malam yang lebih telat sehingga badan bingung. Belum lagi apa yang dimakan gak karu-karuan. Maklum merasa bahwa pola makan bisa diperbaiki kapan saja meskipun tidak dilaksanakan juga. Bulan puasa menuntut saya lebih tertib dalam jam makan dan apa yang dimakan. Hasilnya, berat badan malah naik. Nah.

Kalau Anda bagaimana?


Realitas Penelitian

Baru-baru ini terjadi kasus dimana hasil penelitian dipertanyakan.

Setelah menghabiskan sekian milyar Rupiah, hasil penelitiannya kok hanya sebuah produk yang tidak jalan.

Nampaknya banyak orang yang tidak mengerti situasi penelitian, terlebih lagi penelitian di Indonesia. Mari kita coba bahas satu persatu. (Meskipun rasanya saya sudah pernah menuliskan hal ini, saya tuliskan lagi. Maklum. Kan selalu ada pembaca baru.)

Penelitian pada dasarnya bertujuan untuk mencari sesuatu atau membuktikan sesuatu. Sang peneliti memiliki sebuah keyakinan (hipotesa) akan sesuatu tetapi belum terbukti. Penelitian dilakukan untuk menunjukkan atau membuktikan bahwa apa yang diyakininya itu benar atau salah. Hipotesanya ada yang simpel sampai ke yang mengawang-awang. Sebagai contoh, dapatkah seseorang berkomunikasi melalui gelombang yang dikeluarkan oleh otak kita? Dapatkah orang hidup di Mars? Adakah batre yang dapat menyimpan energi cukup besar, tetapi ukurannya sangat kecil dan dapat diisi dengan sangat cepat (misal untuk handphone atau bahkan untuk mobil)?  Untuk menjawab ini maka kita melakukan penelitian.

Jangka waktu penelitian sangat bervariasi. Mungkin ada penelitian yang hanya memebutuhkan beberapa tahun saja tetapi ada yang membutuhkan ratusan tahun. Boleh jadi peneliti awalnya sudah meninggal dan diteruskan oleh peneliti selanjutnya dan seterusnya. (Ini sebabnya catatan penelitian sangat penting.)

Biaya? Tentu saja sangat bervariasi. Membuat sebuah particle accelerator tentunya bisa menghabiskan triliyunan rupiah dengan sangat mudah. Menurut Anda, berapa biaya untuk melakukan penelitian kehidupan di Mars?

Semua itu terkait dengan topik penelitian. Tidak semua topik penelitian harus menghasilkan produk yang dapat dibuat dalam jangka pendek. Memang ada topik-topik penelitian yang aplikatif, dalam artian dapat menghasilkan produk, tetapi tidak semua begitu. Suatu saat saya bertanya kepada seorang peneliti (dari bidang Matematika), apa keluaran penelitiannya? Teorema. Apakah teorema yang ditelitinya itu memiliki implementasi atau aplikatif? Kemungkinan tidak. Lantas apakah perlu ditolak? Perlu diingat bahwa handphone yang kita gunakan dapat terjadi karena adanya temuan seperti Fourier Transform. Itu full matematik. Demikian pula algoritma kriptografi RSA baru digunakan 15 tahun setelah dia ditemukan. Siapa yang menyangka?

Penelitian di Indonesia memiliki masalah yang lebih berat lagi. Ada BANYAK masalah. Contohnya, dana penelitian dari Pemerintah baru turun di tengah-tengah tahun sementara laporan harus masuk di akhir tahun. Lah, di awal tahun itu siapa yang mendanai penelitian? Para peneliti ini harus makan apa? Ini bukan masalah yang baru ada kemarin sore. Ini masalah yang sudah ada bertahun-tahun. Mosok sih tidak ada yang tahu? Saya yakin semuanya tahu tetapi tidak peduli atau tidak mau memperbaiki hal ini. Pihak kampus tidak mau atau tidak sanggup untuk menjadi buffer pendanaan karena meskipun sudah jelas dananya ada (hanya turun terlambat) nanti mereka disalahkan karena melanggar prosedur. Jangan-jangan malah mereka yang dituduh korupsi dan masuk penjara. Administratif mengalahkan substansi.

Belum lagi ada masalah dana penelitian yang tidak berkesinambungan. Bagaimana mau meneliti jangka panjang kalau baru satu tahun dana penelitian sudah dihentikan. Salah satu alasannya adalah tema atau topik yang berubah. Akhirnya peneliti ini juga harus mengubah penelitiannya sesuai dengan tema yang sedang ini. Itu kalau mau hidup. Kalau yang tetap tekun dengan topik penelitiannya malah kemungkinan mati. Di kita ini yang penting “ada penelitian”. Supaya kalau dicek ada. Peduli amat kalau penelitiannya itu jalan atau tidak. Terus kalau ada masalah, semua angkat tangan.

Dana penelitian dari industri? Di Indonesia, sebagian (besar?) “industri” sebetulnya adalah pedagang. Mereka hanya memasarkan produk yang sudah jadi dari luar negeri. Mencari dana penelitian dari mereka itu masih dapat dikatakan sulit bahkan impossible. Bertahun-tahun saya mencoba membujuk para Country Managers dari berbagai perusahaan dunia yang ada di Indonesia untuk melakukan sedikit penelitian di Indonesia. Belum pernah ada yang merespon dengan positif. Untuk apa susah-susah (dan malah meresikokan karir mereka)?

Akhirnya, banyak peneliti yang terpaksa mengeluarkan uang dari koceknya sendiri. Saya pun demikian. Malu menceritakannya. Mosok negara disubsidi oleh para peneliti yang kantongnya juga cekak. Hanya orang gila (yang memang mencintai bidangnya) yang mau melakukan penelitian yang benar di Indonesia ini.

Lantas para peneliti Indonesia dipaksa bersaing dengan peneliti di luar negeri? Mimpi. Maka jangan marah kalau ada banyak peneliti Indonesia yang berkiprah di luar negeri. Mereka memang HARUS berada di luar negeri. Kalau ada pemain sepak bola Indonesia yang kualitasnya luar biasa, apakah dia harus kita kerem (kurung) di Indonesia? Biarkan dia main di liga-liga dunia, bukan?

Ada banyak lagi yang dapat kita diskusikan. Oh ya, perlu diingat bahwa selain “Research” ada juga “Development“. Kan R&D. Kita harus dapat membedakan itu. Ini kita bahas di tulisan lain ya.

Oh ya, saya masih meneliti di Indonesia. Dasar orang gila. Dahulu juga sempat menjadi peneliti di Kanada. Just in case you are wondering.


Bacaan S3 Saya

Barusan beberes ruang kerja. Ada setumpuk makalah (fotocopyan) di atas meja. Makalah-makalah ini membantu saya menyelesaikan studi S3 di Kanada. Ketika pulang, saya bawa. Kalau sekarang lucu sekali mau berat-berat membawa makalah-makalah ini. Ya perlu diingat masa itu internet belum sekencang sekarang. Mau cari ini dan itu masih susah.

Lagi mikir-mikir. Apa saya buang saja ya? Sudah saya lihat-lihat di internet dan ada softcopynya.

  1. John Rusby – Formal Methods and the Ceritification of Critical Systems
  2. Paolo Prinetto and Paolo Camuati (eds.) – Correct Hardware Design Methodologies, North Holland, 1991
  3. Aarti Gupta, Formal Hardware Verification Methods: a Survey, School of Computer Science, Carnegie Mellon University, 1992

Oh ya. Makalah-makalah ini pernah saya gunakan juga mengajar kuliah “Metoda Formal” di ITB. Sayangnya peminatnya makin lama makin sedikit sehingga akhirnya terpaksa ditutup.

Kembali ke pertanyaan saya, buang saja ya? Toh sudah ada versi digitalnya di internet.


Saya, Saya, dan Saya

Manusia-manusia Indonesia ini nampaknya makin egois saja. Yang ada dalam pikirannya dia hanya dirinya sendiri. Empati dan berkorban sudah merupakan barang yang langka. Mungkin sebaiknya kata-kata itu dihapuskan saja dari kamus Bahasa Indonesia.

Berikut ini beberapa contohnya:

  • Saya mau masuk surga. Peduli amat dengan orang lain. Kamu mau masuk neraka kek, surga kek. Peduli! Yang penting saya masuk surga. Saya mau menjalankan apa yang diperintah oleh agama saya. Awas kalau menghalangi jalan saya. Bukankah seharusnya dia mengajak orang lain dengan santun?
  • “Memberi” lampu besar (dim). Seolah berkata … “Awaaasss saya mau lewat! Kamu berhenti dulu!”. Dia tidak yakin orang akan memberikan jalan untuknya karena dia pikir semua akan seperti dia, tidak mau mengalah. Jadi lucu (kesel?) aja saya melihatnya karena saya cenderung memberi jalan untuk orang lain.
  • Saya mau puasa … kalian semua yang jualan tutup! Tidak peduli ibu-ibu yang harus berjualan makanan di pinggir jalan untuk menafkahi keluarganya. Mereka terpaksa harus berjuang. Pedulikah kita terhadap mereka? Tidak! Saya kan puasa! Hargai saya dong! Bukankah seharusnya kita juga memikirkan mereka. Yang jualan juga punya hati nurani. Menutup warungnya dengan tirai. Ibu-ibu yang berjualan juga tidak vulgar di depan orang banyak.
  • Berdiri menghalangi jalan, duduk di tangga menghalangi orang yang turun naik tanggak, berjalan dengan super santainya tanpa mengetahui bahwa dia menghalangi ornag lain, memarkir kendaraan sesukanya tidak mau berbagi dengan orang lain, parkir di trotoar atau bahu jalan tanpa peduli ini akan mengganggu lancarnya lalu linta, berdagang sembarangan. Semuanya tidak pernah mencoba memperhatikan apakah apa yang dilakukannya menyulitkan orang lain.

Yang penting adalah Saya, Saya, dan Saya!

Ada contoh-contoh lain? Silahkan …


Memotret Makanan

Beberapa hari yang lalu saya makan malam sambil rapat di sebuah restoran. Ketika makanan datang, maka saya mengeluarkan handphone untuk memotret makanan. Maka para peserta rapat pun tertawa.

Memotret makanan nampaknya sekarang sudah biasa dan malah menjadi bahan tertawaan. Padahal saya sebetulnya sudah memotret makanan dari sejak jaman … hmm … kapan ya. Lupa. Pokoknya sudah lama sekali. Di blog ini pun saya sering menampilkan foto makanan dengan judul “Mau”. Banyak orang yang mengira bahwa saya ikut-ikutan. Padahal orang yang ikut-ikutan saya. ha ha ha. Sok tahu. Eh, tapi ini sungguhan lho.

Nah ini contoh fotonya … Mau?

IMG_20150614_180103 ayam 1000

Alasan saya memotret makanan – dan juga langit (skies) – adalah karena mereka yang paling mudah dipotret. Mereka tidak bergerak dan terlihat menarik untuk dipotret. Saya belum berhasil memotret orang. Jadi alasan saya memotret makanan adalah karena mudah saja. Bukan karena gaya-gayaan. Malah jadi kelihatan bahwa kelas saya baru level makanan. he he he.

Nah … karena memotret makanan sudah menjadi mainsteam, padahal saya agak anti-mainstream, apa saya harus berhenti memotret makanan ya? Waduh.


Terlalu Banyak Data

Kemarin nyobain handphone baru. Begitu dipasang, dia langsung mensinkronkan kontak dan email. Busyet dah. Langsung handphone saya menjadi lelet. Maklum, saya memiliki data email yang sangat banyak. Sehari mungkin bisa dapat sekitar 500 email.

Desain dari aplikasi sekarang belum memperhitungkan jumlah data yang besar. Dianggapnya email hanya 10 atau 20 atau bahkan 100 email. Lah email saya ada 20.000. Gimana caranya melihat di handphone? Apalagi kalau email-email itu mengandung attachment (misal, tugas mahasiswa). Kebayangkan langsung habisnya memori komputer saya.

Baru saja saya selesai menjadi juri dari lomba pengembangan aplikasi (software). Salah satu hal yang belum dilihat oleh para pengembang adalah skala dari data. Misalnya, ada yang mengembangkan visualisasi pelaporan dengan menampilkannya dalam bentuk peta (digabung dengan Google Map?). Data yang digunakan di bawah 10 buah. Visualisasi mudah. Lah kalau datanya ada 3000 buah bagimana? Layarnya penuh dengan pin yang 3000 buah itu. hi hi hi.

Minggu lalu saya membackup web site saya, yang berisi data kuliah dan tugas mahasiswa. Web saya saja sudah ada 6 GB. Hadoh. Memang sudah kebanyakan data nih.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.387 pengikut lainnya.