Penyerahan Beasiswa Program Perempuan & Guru Menulis Buku (Gelombang 2)

Pagi tadi – pukul 6:30 pagi! – saya menyerahkan donasi beasiswa Program Perempuan & Guru Menulis buku untuk gelombang kedua. Ternyata setiap pagi (?) ada pertemuan di Zoom untuk ibu-ibu ini. Jadi serah terima dilakukan pas di acara itu saja.

(Rekaman proses serah terimanya nanti akan saya sertakan di sini. Sementara ini informasi dari video saya dulu.)

Semoga beasiswa ini dapat bermanfaat. Untuk para donatur, semoga ini menjadi amal jariyah yang selalu mengalir. Bagi yang berminat untuk berpartisipasi, silahkan kunjungi link di bawah (info mengenai program ini) untuk instruksinya (kirim ke rekening mana dll.)

Tautan terkait

Budaya Disuapin dan Belagak Pilon?

Jangan bosan dengan tulisan saya yang mengangkat topik ini lagi ya, karena untuk menjelaskan itu harus dilakukan berkali-kali dengan cara yang (sedikit banyak) berbeda. Siapa tahu penjelasan yang ini lebih dapat dipahami daripada yang sebelumnya.

Ini masih cerita tentang budaya disuapin. Maksudnya bagaimana? Begini.

Kadang saya melihat ada orang-orang (banyak) yang merasa harus menjelaskan secara eksplisit dan rinci. Contohnya di dalam film (atau sinetron) untuk menunjukkan bahwa seseorang itu menunggu lama dia berkata, “saya sudah lama menunggu di sini”. Padahal ada cara lain untuk menjelaskan itu, misalnya di depannya ada asbak yang berisi banyak puntung rokok dan beberapa cangkir kopi di depannya. Tidak perlu dijelaskan bahwa dia menunggu lama. Berikan kepada pemirsa untuk mengambil kesimpulan atau interpretasi sendiri.

Hal-hal seperti ini istilahnya adalah patronizing. Menganggap pemirsa tidak memiliki kemampuan untuk menyimpulkan sendiri. Dengan kata lain, pemerisa itu bodoh. Harus diberitahu.

Nah, di sisi lain ada juga orang yang menulis dengan menyiratkan sebuah hal tetapi ketika ditanyakan (atau dikonfrontasi) dia mengelak. Ngeles. Kan saya tidak menuliskan hal itu (secara eksplisit). Memang tidak secara tersurat, tetapi itu tersirat. Misal kalau di Amerika ditampikan foto 7-eleven dan kemudian ditampilkan gambar orang India. Memang stereotype di sana adalah penunggu 7-eleven adalah orang keturunan India. Silahkan juga tonton film seri The Simpsons. Apu, sang penunggu 7-eleven, adalah orang India. Tentu saja dia tidak perlu menuliskan secara eksplisit, “penunggu 7-eleven adalah orang India”. Pemirsa cukup cerdas untuk melihat arah penulis cerita tersebut.

Oh ya, ketika seorang tersebut ditanyakan tentang maksudnya tulisannya, gambarnya, videonya, atau opininya dalam bentuk apapun, maka orang tersebut ngeles. Belagak pilon. Saya kan tidak menulis itu. Mereka pikir kita ini bodoh. Ha ha ha.

Ada yang tersurat dan ada yang tersirat.

Berpikir itu tertanya harus diajarkan.

Tidak Suka Melihat Makanan Bersisa

Pernahkah Anda pergi ke suatu tempat – biasanya acara kondangan – kemudian melihat orang mengambil makanan yang terlalu berlebihan dan tidak dihabiskan? Makanan yang banyak tersebut teronggok di piring dan ditumpuk. Pastinya makanan ini akan dibuang karena sebagian besar orang tidak tertarik untuk mengambil makanan bekas prasmanan ini. Kesal sekali melihatnya. Ya mbok kalau ambil makanan itu secukupnya. Kalau nanti sudah habis mau ambil lagi ya silahkan antri lagi.

Foto Opor Lebaran …

Kalau di rumah masalahnya berbeda lagi. Sisa makanan biasanya harus ditumpuk lagi dan dimasukkan ke lemari es. Nah repotnya kalau sisa makanannya itu tinggal sedikit dan rasanya kerepotan untuk menyimpan di lemari es itu terasa membebani. Jadi bagaimana? Insting pertama yang muncul adalah, mari kita makan. Kita habiskan. Ha ha ha. Akibatnya, saya khawatir nanti berat badan naik.

Sifat kurang suka melihat makanan bersisa ini mungkin terbawa dari kecil. Waktu kecil, di rumah kami banyak anggota keluarga. Orang tua saya sering menerima keponakan yang bersekolah di Bandung. Jadi rumah kami ini seperti tempat penampungan saudara-saudara. Jadinya orangnya banyak. Ya tentu saja, makanan hanya ada secukupnya. Dibagi-bagi. Saya tidak perlu menceritakan keterbatasannya sampai seberapa. he he he. Pokoknya cukup untuk membuat saya sangat menghargai makanan. Susah ketika masih kecil atau muda memang merupakan pelajaran terbaik.

Bagaimana dengan Anda?

YouTube Channel Mencapai 10 ribu Subscribers

Baru sadar bahwa channel YouTube saya sudah mencapai lebih dari 10 ribu subscribers. Tadinya saya perkirakan masih minggu-minggu depan. Bahkan saya sudah mencoba membuatkan semacam hadiah untuk subscriber ke 10 ribu. Eh, tahu-tahu sudah lewat saja. Bahkan kalau saya cek sekarang sudah lewat 100 orang. Ha ha ha. Jadi hadiah yang ke 10 ribu itu lewat. Saya lagi mikir buat sayembara apa lagi ya untuk menunjukkan apresiasi. Ada ide?

Bagi yang belum pernah melihat, silahkan kunjungi YouTube channel saya di sini:

https://www.youtube.com/user/rahard

Saya agak kurang suka mempromosikan channel YouTube saya. Jadi saya nyaris tidak pernah meminta orang untuk Like atau Subscribe. Biar tumbuh secara natural saja. Mau berlangganan ya syukur. Tidak berlangganan juga tidak apa-apa.

Penyerahan Beasiswa Program Perempuan dan Guru Menulis Buku (gelombang 1)

Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya di sini, ada program untuk mengajari Perempuan dan guru dalam menulis buku, menerbitkan buku, dan menjual buku. Tugas saya adalah mencarikan donatur yang bersedia mendukung program ini. Link mengenai caranya ada di bawah.

Gelombang pertama, 20 orang sudah dipilih. Masing-masing mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 100.000,-. Berikut ini adalah video serah terimanya.

Video Serah Terima Beasiswa

Semoga beasiswa ini dapat mencapai tujuannya. Terima kasih kepada para donatur. Semoga ini dapat menjadi amal yang terus mengalir. Kegiatan tersebut akan kami laporkan perkembangannya.

Tautan Terkait

Donasi kopi (part 7): Laporan distribusi

COVID-19 masih bersama kita. Mari kita berikan semangat dan apresiasi kepada para tenaga kesehatan kita. Program “Donasi Kopi untuk Nakes” masih berlangsung. Berikut ini laporan atau dokumentasi dari kegiatan distribusi kopinya. Kali ini kopi berasal dari donatur BCA, BFI Finance, dan iForte. Terima kasih untuk para donatur.

Liputan di Kompas TV Jawa Barat

Liputan di TVRI

(Liputan di TransTV masih menunggu link)

Liputan dari beberapa sumber berita:

Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak; donatur dan tentu saja para Nakes. Semoga kita semuanya diberi kesehatan dan semoga ini menjadi amal jariyah kita semua. Aaamiiin.

Tautan ke informasi Donasi Kopi Lainnya (daftar isi):

Donasi Untuk Program 10.000 Perempuan dan Guru Menulis Buku 2022

Program PEREMPUAN & GURU MENULIS BUKU ini dimotori oleh mbak Indari Mastuti, seorang penulis buku yang telah menerbitkan banyak buku. (Tentang mbak Indari Mastuti dapat dilihat pada tautan ini.) Peserta akan diajarkan cara (1) menulis buku, (2) menerbitkan buku, dan (3) menjual buku.

Kenapa perempuan dan guru harus menulis?

  1. Menulis membuat hati lebih bahagia, bahagia membuat orang bisa lebih berpikir jernih dan cerdas.
  2. Menulis buku sendiri membuat orang lebih menghargai buku yang ditulis orang lain, mereka akan menjadi suka baca.
  3. Menulis menjadi terapi jiwa yang trauma atau tak bahagia, energi negatif tersalurkan melalui tulisan.

Tiga alasan itu menjadi pendorong gerakan 10.000 perempuan dan guru menulis buku. Mereka akan menulis, membaca, lalu menjadi lebih cerdas dan bahagia. Kalau begitu siapa yang diuntungkan? Generasi di masa selanjutnya di Indonesia karena kecerdasan berawal dari rumah dan sekolahan dari IBU dan GURU.

Upaya untuk mencetak 10.000 penulis dari kalangan perempuan dan guru sudah dimulai dari akhir Oktober 2021 dan akan berakhir di akhir 2022. Saat ini sudah terbit 9 buku karya perempuan dan guru tersebar di seluruh Indonesia. Ini akan dilanjutkan. (Contoh buku tersebut dapat dilihat pada tautan berikut: https://tokopedia.link/indscriptcreative)

Bersediakah Anda menjadi bagian dari gerakan ini? Mengalokasikan sebagian rezeki agar lebih banyak perempuan dan guru ikut dalam gerakan ini? Cukup dengan memberikan sebesar 100 ribu rupiah per-orang saja, mereka akan menjadi perempuan dan guru yang lebih cerdas dan bahagia. Semoga Indonesia semakin kuat dengan semakin cerdasnya perempuan dan para guru melalui aktivitas menulis buku.

Donasi dapat dikirimkan ke rekening:

BCA DIGITAL 0086-3422-2886 atas nama Budi Rahardjo

(Catatan: Perhatikan bahwa ini adalah rekening BCA Digital – Blu Digital. Di beberapa aplikasi bank, ada beda antara BCA dan BCA Digital sehingga kalau dipilih BCA saja maka rekening ini tidak muncul. Pilih BCA DIGITAL untuk bank tujuannya.)

Berikan konfirmasi pengiriman donasi (transfer uang) ke email: bungbr@gmail.com

Secara berkala, informasi penggalang dana dan kegiatan ini akan kami publikasikan secara berkala sehingga Anda dapat memantau kemajuannya.

Tautan Terkait

Orang Yang Hobbynya Mencela

Pernah memperhatikan gak? Di media sosial ada orang-orang yang hobbynya mencela. Setiap mengirimkan postingan negatif tentang apa saja. Hari ini tentang pemerintahan negara, besok tentang kota, besok tentang pendidikan, besok tentang kesehatan, besok tentang … apa saja. Pokoknya setiap ada berita negatif, maka dia teruskan (forward).

Akhirnya saya menemukan postingan yang mencoba menjelaskan itu. Ternyata ini adalah orang-orang yang tidak memiliki prestasi (karya). Kalau dia memiliki prestasi, maka diskusinya akan seputar area atau bidang terkait. Tentu saja tidak harus prestasi, tetapi juga kegagalan-kegagalannya. Orang yang berprestasi ini tidak terlalu khawatir dengan kegagalan ini karena tidak mungkin ada prestasi tanpa dimulai dari kegagalan. Ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki prestasi sendiri. Yang dimiliki adalah sifat iri hati. Maka dicelanya setiap hal.

Dari kacamata agama, mencela itu bukan sesuatu yang disarankan juga. Kalau mencela merupakan sesuatu hal yang disarankan, maka mari kita mencela. Di pagi hari kita mencela. Siang hari mencela. Malam hari mencela. Karena itu semua menjadi bagian dari ibadah. Ibadah mencela. Ha ha ha. Tapi kan tidak ada ajaran seperti itu. Jadi tuntunan siapa / apa / mana yang diacu ya?

Lantas bagaimana kalau bertemu dengan orang seperti ini? Percuma untuk debat. Lebih baik dihindari saja. Jangan ditanggapi. Istilahnya, “don’t feed the troll”. Ha ha ha. Acuh saja.

Apakah Anda termasuk orang yang senang mencela?

Bukti Kesibukan Saya

Banyak orang yang masih tidak percaya bahwa saya adalah orang yang super sibuk. Sibuk dengan apa? Ya banyak hal, antara lain mengajar, menjalankan perusahaan, membimbing (mentoring) untuk mahasiswa dan start-ups. Itu belum termasuk melakukan hobby seperti futsal dan nge-band. Oh ya, ada juga kesibukan belajar dan coding.

Supaya percaya. Ini saya lampirkan slide dari presentasi STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB dari raker kemarin. Monggo.

Beban mengajar

Ternyata saya menduduki ranking teratas untuk jumlah SKS terbanyak dalam mengajar di tahun ini. Hadoh. Saya sendiri baru tahu. Baru sadar. Pantesan sibuk.

Oh ya, ada video juga tentang hal ini di youtube channel saya.

METAVERSE: apa itu?

Sedang ramai dibicarakan soal Metaverse. Apa itu? Sebetulnya saya ingin membuat sebuah tulisan yang komprehensif, tetapi itu akan membutuhkan banyak waktu. Sementara ini banyak orang sudah membutuhkan penjelasan agar tidak kacau dan menimbulkan kerugian. Sebagai contoh, ada banyak orang yang menderita kerugian karena tidak paham soal cryptocurrency (dikenal dengan kependekan crypto, meskipun di dunia saya kependekan ini memiliki arti yang lain yaitu cryptography) dan NFT. Akhirnya banyak terjadi penipuan atau orang yang merasa ditipu karena tidak paham tentang hal tersebut.

Baiklah. Mari kita mulai penjelasan yang agak singkat.

Kata metaverse sendiri digunakan pertama kalinya (coined) oleh pengarang buku Neal Stephenson dalam bukunya, Snow Crash (1992). Dia menceritakan sebuah “dunia virtual” yang berupa sebuah jalan lebar yang memiliki panjang 64.000 Km. (Lebih tepatnya 2 pangkat 16 Kilometer.) Di pinggir jalan virtual tersebut dapat “dibangun” berbagai hal; bangunan, layanan, atau apapun. (Bayangkan ini seperti jalan raya yang ada toko di kiri kanan jalannya.) Pemilik jalan virtual ini adalah sebuah konglomerasi yang mengalahkan perusahaan telepon – ya, ini tahun 1992. Akses dilakukan dengan menggunakan sebuah perangkat yang dipasangkan di kepala / mata. Kalau sekarang, ini dikaitkan dengan Virtual Reality atau Augmented Reality. (Kalau ke depannya, visi ini harus dirombak dengan menggunakan kacamata saja. Toh sudah ada Google glass atau Hololens.)

Ide seperti ini sesungguhnya bukanlah isapan jempol. Saat ini sudah ada beberapa “virtual world”, yaitu dunia digital tempat orang-orang berkumpul. Kalau jaman dahulu ini bentuknya menggunakan teks biasa; mailing list, bulletin board, USENET news, dan IRC. Metaverse 0.1. Kemudian muncul games yang lebih visual atau grafis. Awalnya games-games tersebut dimainkan sendiri, tetapi internet kemudian menjadi lebih murah dan lebih cepat. Awalnya ada games seperti The Sims. Untuk yang terhubung ke internet, ada games Second Life. Pada “virtual world” ini – teks atau grafis – orang-orang berinteraksi satu dengan lainnya. Seperti berinteraksi di dunia nyata saja.

Aplikasi (games) awal tersebut umumnya statis, dalam artian kita hanya dapat bermain saja. Maka muncul versi selanjutnya, yang mana pengguna juga dapat membuat obyek yang interaktif. Pengguna dapat membuat program di dalamnya. Contoh yang seperti ini adalah games Minecraft dan Roblox yang banyak dimainkan oleh anak-anak. Ya, betul, anak-anak. Jadi anak-anak melakukan pemrograman (tanpa mereka sadari) dengan menggunakan bahasa Java atau Lua di dalam games tersebut. Maka ini dapat dikatakan sebagai Metaverse 0.9.

Aplikasi selanjutnya adalah pengembangan dari games tersebut dengan menggunakan blockchain sebagai framework di bawahnya. Maka sekarang kita memiliki transaksi keuangan di dalam dunia meta tersebut. Uang di dunia “metaverse 1.0” ini adalah cryptocurrency. Contoh implementasi dari ini adalah permainan Sandbox, yang menggunakan cryptocurrency Ethereum dan SAND. Di dalam dunia Sandbox, seorang pemain dapat “membeli tanah” dan membangun obyek di atasnya. Tanah ini kemudian dapat diperjual belikan. Demikian pula, pengguna dapat membuat obyek-obyek (statik atau dinamis) seperti misalnya avatar, lukisan, meja, dan seterusnya dalam bentuk NFT (Non-Fungible Token). [Wah ada banyak istilah di sini – seperti blockchain, cryptocurrency, NFT – yang penjelasannya akan saya lakukan terpisah karena bisa panjang nantinya dan tidak fokus.] Obyek-obyek ini, dalam bentuk NFT, dapat diperjualbelikan. Maka lengkaplah dunia metaverse ini; ada individual, ada interaksi, ada obyek, ada uang, ada transaksi, … apa lagi ya?

Lantas bagaimana kita menyikapi metaverse ini? Tidak perlu khawatir. Status saat ini mirip dengan status internet di tahun 1990-an. Pada saat itu bentuk dari yang namanya “internet” masih belum jelas. Apa saja yang dapat dilakukan oleh “internet” belum jelas. Sekarang sudah lebih tergambar dan bahkan muncul istilah-istilah baru sepertu “cyberspace”. Jika kita gantikan kalimat yang ada kata “cyberspace” dengan “metaverse”, maka maknanya masih tetap (akan tetapi Anda lebih didengarkan karena kekinian).

Jadi jangan terlalu khawatir. Banyak orang yang takut kehabisan tanah di Sanbox misalnya. Ini kan hanya satu dari sekian banyak implementasi dari metaverse. Nanti akan ada banyak “dunia-dunia” lainnya. Santai saja.

Lantas apakah ada opportunities di sana? Tentu saja. Bahkan orang masih mencari killer applications untuk blockchain, yang mana metaverse hanya merupakan salah satunya. Ini sama seperti apakah perlu kita memiliki situs web (website) atau akun media sosial. Kalau dahulu tidak ada orang yang memiliki itu. Sekarang, semua instansi pemerintahan harus memiliki situs web. Demikian pula perusahaan dan bahkan individual. Tetapi apakah kalau kita tidak memiliki situs web bakalan mati? Tidak juga. Namun kompetitor bisnis yang memiliki situs web dan akun media sosial akan memiliki nilai tambah daripada yang tidak. Demikian pula dengan metaverse.

Mari kita melangkah dengan perlahan.

Penjelasan dalam bentuk video sudah saya buat dan saya simpan di beberapa tempat, yang mana salah satunya adalah di akun Pinalle saya. Lebih tepatnya di sini. (Silahkan simak.)

Cerita tentang Metaverse di Pinalle.com

https://pinalle.com/rahard/WWIwZk4xWC9FOUZmVlFrRUZhdXVBTkI0OVZwRFlhYWZmWVNwYzU5T3VlND0=

Semoga bermanfaat

IKN dari kacamata orang IT

Sedang riuh-rendah dibahas soal IKN – ibu kota negara. Sayangnya kebanyakan bahasannya soal politik dan kepentingan-kepentingan yang tidak jelas. Tentu saja ini karena dari kacamata orang IT (information technology, teknologi informasi). Kalau dari kacamata orang politik mungkin bahasannya tetap menarik. Atau tetap juga tidak menarik. Ha ha ha.

Mari kita bicarakan IKN dari kacamata orang IT saja. Lebih spesifik adalah apa yang harus diperhatikan ketika kita membuat kota baru. Tentunya latar belakang pemikiran dilandasi dengan harapan bahwa kota ini akan menghadapi tantangan baru di depannya. Artinya kota ini harus mengambil asumsi-asumsi yang baru. Setidaknya dari kacamata IT, aspek infrastrukturnya harus memenuhi syarat.

Hal utama yang harus disediakan oleh sebuah IKN baru adalah listrik. Semua yang terkait dengan IT membutuhkan listrik. Kebutuhan listrik akan sangat besar dan harus sangat handal (reliable). Setidaknya sumber listrik harus dari dua tempat yang berbeda. Siapkah? Oh ya, listrik ini bukan hanya untuk perkantoran saja, tetapi juga harus dapat digunakan untuk menghidupkan peralatan komputer beserta lingkungannya, misal AC di data center. Sebentar, itu akan saya bahas terpisah.

Hal berikutnya yang perlu mendapat perhatian adalah masalah jaringan (network). Sudah pasti IKN akan terhubung dengan kota-kota lain di Indonesia, selain bangunan-bangunan di kota tersebut harus terhubung dengan jaringan fiber optic. Lagi-lagi, seperti halnya kebutuhan listrik, kebutuhan jaringan ini harus diberikan oleh setidaknya dua penyedia jasa yang berbeda. Adakah?

Menggelar kabel listrik dan jaringan di sebuah kota tidak mudah. Banyak kota di Indonesia yang sulit dilakukan penggelaran ini karena jalan-jalan sudah dipadati oleh bangunan, sehingga untuk menggelar semuanya di bawah tanah (karena kalau di atas akan bersliweran dan tidak bagus) harus dilakukan dengan perencanaan yang matang. Yang terlihat di kota saya saat ini, jalur untuk listrik dan jaringan di bawah tanah sudah tidak dapat dilakukan lagi. Padahal harus disediakan “gorong-gorong” dalam ukuran yang raksasa.

Data center. Gedung pusat data. Meskipun sekarang sudah jalannya cloud, tetapi tetap ada kebutuhan untuk data center yang sifatnya lokal. Membangun sebuah data center yang sesuai dengan standar itu tidak mudah dan mahal. Sebagai contoh, lantai untuk meletakkan server (komputer-komputer dan perangkat lainnya) itu membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Ini sangat berbeda dengan perkantoran yang isinya hanya manusia dan komputer biasa. Kalau ruangan perkantoran biasa ini diisi dengan server, jadinya ambrol. (Detail tidak saya ceritakan di sini. Ini saja sudah kepankangan.)

Bahasan di atas hanya yang singkat-singkatnya saja. Kita dapat membahas lebih banyak lagi rinciannya. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa “the devils are in details”. Bahwa rinciannya akan lebih sulit lagi untuk dibahas secara singkat.

Oh ya, ada video singkat saya yang membahas tentang hal ini di YouTube. Silahkan disimak ini.

Kuliah Hybrid (Offline & Online)

Sekarang kuliah di ITB sudah diperkenankan untuk dijalankan secara hybrid. Jadi ada mahasiswa yang datang ke kampus (offline) dan ada mahasiswa yang mengikuti kuliah secara daring (online) dengan menggunakan Zoom. Ada juga kelas yang masih full online.

IMG_20220128_084900
Kelas Hybrid saya. Itu komputer saya terhubung ke Zoom.

Kelas memang harus memiliki fasilitas internet yang cepat dan juga cukup untuk menampung mahasiswa. Untuk kasus saya, ada kelas yang tidak cukup untuk menampung semua mahasiswa sehingga digilir yang datang offline. Ternyata mahasiswa banyak yang ingin masuk kelas offline karena sudah lama tidak ke kampus dan tidak ketemu teman-temannya secara fisik. Jadi mereka lebih suka offline.

Tapi – ada tapinya – dugaan saya ini tidak akan bertahan lama. Nanti lama kelamaan juga mahasiswa akan lebih senang kuliah online. Kenapa? Karena tidak perlu harus pergi ke kampus – ngabisin waktu. Tidak perlu bersiap-siap sebelumnya. Tinggal cuci mata atau cuci muka, beres. Tidak perlu pakai baju yang resmi. Asal kelihatan rapi sudah cukup. Jadi, dugaan saya mahasiswa bakal lebih suka kuliah online. Bagaimana menurut Anda, para mahasiswa?

Sarapan di Hotel: Sosis Dingin!

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih hotel adalah sarapannya. Setidaknya, ini yang menjadi pertimbangan saya. Namun sayangnya banyak hotel yang tidak memperhatikan hal ini. Mungkin mau ngirit?

Sarapan saya di hotel dan di rumah berbeda. Kalau di hotel saya memilih sarapan dengan telur, sosis, beef bacon, dan roti. Kalau di rumah, hanya roti saja. Maklum males membuat telur dan jarang memiliki simpanan sosis dan beef bacon. Kembali ke sarapan di hotel. Untuk telur, biasanya hotel-hotel tidak terlalu bermasalah. Kan kalau memasak telur gampang. Telur mata sapi. Sunny side up. Beres.

Nah, mari kita bicarakan sosis. Yang ini, seringkali kondisinya sudah DINGIN! Ini saya tulis pakai tanda seru karena saya agak marah. Ini yang membuat sarapan menjadi tidak enak. Padahal sosis yang panas dan dingin sangat menjadi pembeda antar surga dan neraka. Ha ha ha. Memang untuk menjaga agar sosis tetap panas ini tidak mudah. Kalau dia dibiarkan di atas pelengangan, maka sosis akan menjadi kering. Tidak enak juga. Kalau dibiarkan terbuka, maka dia akan menjadi dingin. Sebetulnya saya pernah melihat alat yang membuat sosis ini berputar-putar terus sehingga panasnya tetap rata, tetapi alat seperti ini hanya saya lihat untuk sosis yang ukurannya besar dan memang biasanya untuk pembuat hotdog. Anyway, ada banyak cara untuk membuatnya tetap panas. Atau, mungkin sebaiknya saya minta tolong agar sosis ini dipanaskan lagi? Hmmm.

Tentu saja sarapan bukan hanya sosisnya saja. Kopi juga sangat menentukan. Yang ini malah lebih parah lagi. Ngasal saja. Asal ada kopi. Ini akan saya tuliskan secara terpisah. Sekarang saya sednag di rumah tapi ingin sarapan seperti di hotel. Bagaimana ya?

Oh ya, hotel mana yang sarapannya enak?

Masalah Design Charger MacBook

Beberapa versi dari Apple MacBook terakhir, charger-nya memiliki bentuk yang aneh. Tidak seperti charger notebook lainnya. Biasanya charger notebook kepalanya hanya plug (colokan) saja, kemudian komponen elektronik chargernya di dalam sebuah boks terpisah. Kalau yang MacBook, komponennya berada di colokannya. Susah menjelaskannya ya? Ini saya ada gambarnya.

IMG_20220123_075026 charger Mac
Gambar colokan MacBook (sebelah kanan)

Perhatikan bentuk badanya yang agak aneh. Colokan kemudian memanjang ke belakang. Akibat bentuk seperti ini, dia sering mengganggu tempat colokan (power bar, extension). Contoh di gambar terlihat bahwa badanya terlalu panjang sehingga nyaris tidak dapat digunakan di situ. Foto ini saya ambil di hotel tempat kami menginap kemarin.

Kenapa ya desainnya seperti itu? Ada yang tahu?

Tidak Harus Tahu Semua

Sekarang banyak orang yang sedang membicarakan tentang “Layangan Putus”. Saya tidak tahu itu apa dan menahan diri untuk tidak mencari tahu. Kebanyakan orang sekarang takut kalau dianggap “kuper” (kurang pergaulan). Eh, istilah “kuper” sudah kuno banget ya? Kalau istilah ini dalam bahasa Inggrisnya adalah FOMO, fear of missing out. Nah.

Dasar memang saya anti-mainsteram. Saya malah nonton film dokumenter tentang Mesir, ancient Egypt di National Geographic Channel. Ah, juga sedang nonton film seri “Manifest” di Netflix. Seru. Hi hi hi. Saya tidak takut ketinggalan. Yang penting ilmu nambah. Cerita tentang hal-hal yang saya tonton ini nampaknya bisa menjadi pembahasan yang lebih mendalam dan seru.