8 Jam Bimbingan

Seperti sudah dituliskan sebelumnya – soal sibuk – ternyata memang perkuliahan selesai bukan jaminan bakal tidak sibuk. Buktinya kemarin skedul saya lumayan padat. Delapan jam melakukan mentoring (startup / entrepreneurship) dan bimbingan thesis / disertasi mahasiswa; dari pukul 9 pagi sampai mendekati pukul 5 sore. Hadoh.

Saking sibuknya, makan siang dilakukan sambil bimbingan. Jeda sedikit hanya untuk shalat saja. Pokoknya itu non-stop.

Untungnya sebagian besar saya lakukan dengan duduk. Bukan berdiri. (Eh, kenapa pakai ditulis “untung” ya? he he he. Memang untungnya dimana?)

Yang penting tetap semangat. Hal-hal lain yang tadinya ingin saya lakukan (termasuk ngeblog yang lebih serius), terpaksa ditunda dulu.

Iklan

Rp. 20.000,-

Beberapa waktu yang lalu saya harus membayar langgangan koran. Tujuh puluh ribu rupiah. Buru-buru saya keluarkan uang Rp. 50.000,- dan Rp. 20,000,- dari dompet dan menyerahkan uang itu ke pengantar koran. Tiba-tiba dia bilang, “Pak ini dua ribuan”. Ya ampuun. Setelah saya perhatikan lagi, itu memang uang Rp. 2.000,-an. Warnanya hampir sama sih. He he he.

Kejadian berikutnya juga bikin saya ketawa sendirian. Mau beli makanan di warung dekat rumat. Saya perkirakan ada lima lembar dua puluh ribuan di dompet. Okay, ada seratus ribu. Cukuplah. Setelah saya perhatikan lagi, itu semua dua ribuan. Hanya ada Rp. 10.000,-. Jauh banget. Gak bisa beli makan di warung. Akhirnya terpaksa pakai Go-Food. ha ha ha.

Berisiko juga nyimpen uang dua ribuan. Jangan-jangan mungkin saya pernah memberikan uang Rp. 20.000,- untuk parkir ya? Kayaknya kalau itu kejadian, tukang parkirnya gak bakalan protes. he he he.

Kok Masih Sibuk?

Kuliah sudah selesai satu minggu yang lalu. Seharusnya sekarang ada waktu bagi saya untuk sedikit menghela nafas. Begitu yang saya perkirakan. Eh, tapi entah kenapa kok sampai sekarang masih sibuk terus ya? Tandanya sibuk adalah blog ini tidak terupdate.

Sebetulnya ada jawabannya, yaitu ada beberapa mahasiswa yang masih bimbingan thesis karena mengejar batas waktu. Harusnya sih ini tidak begitu sibuk. Kenyataannya tidak begitu. Sibuk juga.

Ok. Mudah-mudahan minggu-minggu depan sudah mulai agak reda kesibukan. Sudah masuk bulan Ramadhan juga. Mari kita lihat apakah masih sibuk atau sudah tidak.

Berita Yang Terlalu Wah

Coba perhatikan berita yang muncul di media massa konvesional; baik yang berbentuk cetak maupun online. (Online seperti detik.com sudah saya anggap sebagai media konvensional.) Berita yang ditampilkan umumnya terlalu wah. Yang saya maksudkan dengan “wah” di sini adalah terlalu dibesar-besarkan.

Bagaimana saya tahu ini? Saya tahu karena ada berita yang saya tahu aslinya dan yang ditampilkan terlalu wah. Misalnya, si Fulan jagoan ini dan itu. Padahal saya tahu si Fulan ini biasa-biasa saja. Saya duga si Fulan tidak berniat untuk menyombongkan diri atau membesar-besarkan. Medialah yang melakukannya. Berita lain yang sejenis adalah startup ini luar biasa. Padahal saya tahu ada banyak yang lebih hebat tetapi tidak muncul di media. Jangan salah, saya suka berita yang bagus. Good news. Tetapi yang tidak saya suka adalah berita yang tidak benar. Berita yang terlalu dibesar-besarkanpun menurut saya bukan berita benar.

Pada awalnya saya tidak terlalu peduli, tetapi kalau ini dibiarkan terus menerus maka apa jadinya dunia jurnalisme Indonesia? Apakah ini didorong oleh bisnis? Bahwa berita yang heboh lebih menarik sehingga lebih banyak dibaca dan akhirnya dapat dijual kepada pihak yang tertarik untuk pasang iklan. Uang yang berbicara. Parah.

Sekarang saya lebih suka dan lebih mengandalkan berita yang ditulis oleh orang bisa. Citizen journalism. Tadinya saya mengira bahwa media massa konvensional masih akan mendominasi. Setidaknya, mendominasi bahan bacaan saya. Ternyata sekarang tidak. Berita dari orang biasa memang masih harus dipertanyakan juga keabsahannya. Take it with a grain of salt, kata orang Barat. Sekarang berita dari media konvensionalpun tidak dapat diandalkan keabsahannya.

Artinya kita harus belajar untuk membedakan mana berita atau tulisan yang sesungguhnya dan mana yang sudah penuh dengan bumbu.

Ada MSG?

Masih Ngeblog

Masih ngeblog di tahun 2018? Di jamannya vlog gini? Iya, masih ngeblog. hi hi hi. Tersipu-sipu juga saya. Berasa menjadi manusia yang tua gitu. Seperti dinosaurus. Sudah punah. Banyak blogger angkatan saya sudah gulung tikar – eh, naik kelas.

Tapi, tadi saya melihat ada daftar 50 blogger Indonesia terbaik di tahun 2018. Nah, artinya ngeblog itu masih hidup. Belum hilang. Alhamdulillah.

Bagusnya lagi, blog ini tidak termasuk di dalam daftar itu. Bahkan mungkin di daftar 1000 blog Indonesia terbaik pun ndak masuk. Artinya ada banyak blog-blog yang lebih baik. Peningkatan kualitas. Alhamdulillah lagi.

a day in the life …

Ini bukan tentang lagunya the Beatles, meskipun judulnya sama. Ini adalah tentang keseharian saya. Untuk apa diceritakan ya? Kepo? Ha ha ha. Namanya juga “blog”. Jadi sekali-sekali mencatatan (log) kegiatan sehari-hari. Seperti kegiatan sehari-harinya di pesawat ruang angkasa. Ciyeh.

Okay. Kemarin saya melakukan banyak hal. Catat dulu.

  1. Mewawancarai calon mahasiswa untuk CCE MBA SBM ITB. (Iya, singkatan semua.)
  2. Memberi mentoring entrepreneurship (selama 1 jam saja)
  3. Futsal (1 jam saja juga)
  4. Latihan band bersama BANDOS (Band Dosen ITB)

Itu garis besarnya. Tentu saja ada hal-hal lain. Ternyata sibuk juga saya untuk hari yang tidak saya ramalkan sebagai sibuk. Hmm…

interview CCE MBA SBM ITB

28619378_10155353991686526_2245848601284629566_o
Latihan BANDOS

Komitment, konsistensi dalam berolahraga

Topik ini sudah pernah saya angkat sebelumnya, tetapi menurut saya masih perlu diulang-ulang. Ini juga termasuk konsisten (dalam mengulang). ha ha ha.

Saya berolahraga karena “terpaksa”. Maklum, di usia yang sudah segini harus makin rajin berolahraga. Tidak seperti waktu masih muda dulu, bisa ngasal aja. Sekarang harus rutin. Maka harus dicari olah raga yang membuat kita senang melakukannya. Saya pilih futsal. Anda bisa pilih apa saja.

Yang paling penting dalam berolahraga adalah konsistensi. Olah raga itu harus rutin. Tidak bisa kita puasa olah raga, kemudian dalam satu hari kita penuh berolahraga. Kemudian puasa olah raga lagi. Kacau kalau seperti ini. Bayangkan kalau kita tidak makan selama sebulan dan kemudian hanya makan satu hari saja untuk memenuhi kebutuhan satu bulan itu.

Dalam berolahraga yang berkelompok – team – maka ada aspek tambahan yang harus dipenuhi, yaitu komitmen. Kalau kita tidak hadir, maka tim akan kekurangan pemain dan bahkan gagal untuk berolahraga. Itulah sebabnya olahraga sepak bola agak susah karena harus ada minimal 22 orang pemain; 11 untuk satu sisi. Bayangkan kalau kita malas hadir dan berpikiran bahwa akan ada yang lain. Yang lain juga berpikiran demikian. Maka yang hadir hanya 5 orang. Mana bisa main bola hanya dengan 5 orang!

Saat ini saya rutin main futsal, tetapi sayangnya komitmen dari para pesertanya kurang. Pengamatan saya sih hanya kami bertiga yang selalu hadir dalam futsal rutin kami. Terang benderang atau hujan, hadir. Kesibukan dalam keseharian juga tidak menjadi penghambat. Bagi saya ini soal komitmen.

Kebanyakan orang terlalu banyak cari alasan. Apa saja alasannya, mulai dari sibuk, hujan, tidak sempat, malas, dan kawan-kawannya. Sudahlah. Lawan saja alasan-alasan asal-asalan tersebut.

Oh ya, ini juga menunjukkan karakter seseorang.