Donasi Kopi

Semua industri terkena dampak pandemi COVID-19. Banyak bisnis yang harus berhenti atau tertunda karena dibatasi orang yang dapat berkumpul atau berinteraksi. Salah satu yang terdampak juga adalah dunia kopi. Supply chain kopi dari petani sampai ke kedai kopi semua terpengaruh. Kedai kopi terpaksa ditutup karena pelanggan tidak boleh duduk minum kopi di kedai. Satu-satunya penjualan adalah dengan take-away atau menggunakan jasa online, yang tidak dapat dilakukan oleh setiap orang.

Salah satu upaya yang ingin kami lakukan adalah menghidupkan dunia perkopian dengan membeli produk-produk kopi.

Pada saat yang sama, kita menyaksikan kerja keras para tenaga kesehatan (nakes) dalam menjaga kesehatan kita semua. Mulai dari dokter, perawat, petugas administrasi, petugas ambulans, penjagaa kebersihan, relawan, sampai ke penggali lubang kubur. Mereka bekerja keras, berjibaku dengan merisikokan kesehatan dan nyawa mereka sendiri. Mereka ini perlu diapresiasi.

Salah satu upaya yang ingin kami lakukan adalah memberikan kopi (siap seduh, praktis) sehingga mereka dapat menambah semangat, ketenangan, kebahagiaan ketika mereka sedang beristirahat ataupun ketika bekerja.

Kopi ini dapat juga dinikmati untuk pasien isolasi mandiri.

1 Kebaikan 2 Manfaat

Donasi dapat dikirimkan ke rekening BNI an. Budi Rahardjo: 1236439769. Konfirmasi pengiriman donasi ke email bungbr@gmail.com.

Semoga kita semua dilindungi Yang Maha Kuasa dan diberi kesehatan. Sehat, Indonesia!

Kopi Lanang

Pertama kali saya mencoba kopi Lanang itu dari sebuah pameran. Waktu itu acaranya di akhir pameran dan para peserta stand sudah mulai bongkar-bongkar stand mereka. Saya lihat ada satu stand kopi yang mau bongkar-bongkar. Eh, dia nawari kopi Lanang yang merupakan produksi dari mereka dengan harga yang sangat murah. Saya rasa daripada mereka pulang mebawa barang lagi, maka lebih baik dijual murah. Saya beli.

Sesampainya di rumah, kopi ini saya giling dan seduh. Wuih enak euy. Sayang sekali saya tidak tahu kemana mau beli kopi ini. Ya itu tadi, beli kopi itu juga agak ngasal karena harganya murah sehingga tidak bertanya kemana kalau mau beli lagi. Bungkus kopinya pun tidak memberikan informasi itu. Ya sudah, sampai di situ saja saya menikmati kopi lanangnya. Saya sendiri masih tidak tahu yang dimaksud kopi lanang itu apa.

Lama kelamaan saya diberi penjelasan dari kawan-kawan yang bergerak di bidang per-kopi-an tentang apa itu kopi lanang atau dikenal juga dengan nama peaberry. Nanti saya buatkan link tentang informasi itu di sini. Intinya adalah kopi ini cukup langka dari setiap panen sehingga harganya lebih mahal. Dari segi rasa selama ini kopi lanang selalu enak sekali. Jadi kalau ada pilihan kopi lanang, hampir selalu saya sikat. Belum pernah dikecewakan.

Minggu-minggu lalu saya mendapatkan dua kopi lanang ini; dari Glic dan dari Penyeo Kakopi. Tidak dapat disangkal kopinya enak sekali rasanya dan bau aromanya pun enak. Seringkali saya menemukan kopi yang enak sekali rasanya tetapi bau aromanya biasa saja. Aroma kopi itu ikut membuat selera minum kopi meningkat. Ada satu kopi celup dari Australia yang bau aromanya luar biasa sekali. Semerbak bau kopi enak kemana-mana. Soal rasa sih biasa-biasa saja. Setiap mau minum kopi yang itu selalu saya nikmati dulu baunya. Kembali ke kopi lanang ini, saat ini saya sedang menikmati keduanya. Yang Glic karena ukuran paketnya yang kecil, isinya sudah habis. ha ha ha. Yang satunya masih cukup banyak.

Peaberry coffee dari Glic
Kopi Lanang Penyoe Kakopi

Demikianlah review singkat saya tentang kopi lanang yang sedang saya nikmati. Kontak untuk Glic dan Penyoe Kakopi menyusul ya.

Review Kopi

Banyak yang meminta saya untuk membuat review tentang berbagai jenis kopi. Ini disebabkan saya sering mendapatkan kiriman kopi. Ini benar, setiap minggu saya mendapatkan berbagai jenis kopi sehingga koleksi kopi saya mungkin cukup untuk 1 tahun ke depan. Itu kalau semuanya saya minum sendiri. Kalau saya bagi-bagian tentunya lebih cepat habis. Saya juga penggemar kopi, sehingga katanya cocok juga lah untuk menjadi orang yang membuat review kopi.

Ini contoh kopi yang datang ke saya minggu ini

Masalahnya adalah saya tidak punya ilmu coffee tasting. Saya hanya penggemar kopi. Bagi saya kopi itu hanya ada dua kategori; enak dan enak sekali. Ha ha ha. Prinsip ini saya curi dari mantan mahasiswa saya, Andhi, yang bilang bahwa selain racun tikus, makanan itu hanya dua jenis; enak dan enak sekali. Jadinya nantinya isi review saya ya hanya bilang enak atau enak sekali.

Oke lah karena banyak yang memaksa, nanti akan saya coba buatkan review kopi yang lebih rutin. Selain itu juga mungkin akan saya coba buat content yang sama untuk kanal YouTube saya. Baiklah.

Kelangkaan Chips

Saat ini sedang terjadi kelangkaan chips (komponen kecil) sehingga industri otomotif kesulitan memproduksi mobil. Bukan hanya itu saja, barang-barang terkait dengan komputer seperti gadget dan game console pun terkena imbasnya. Harganya menjadi mahal – kalau ada. Sebetulnya masalah apa? Kenapa dapat terjadi seperti ini? Sampai kapan ini akan berlangsung? Apakah Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan ini?

Jum’at malam yang baru lalu ada diskusi mengenai kelangkaan chips ini. Penjelasan dari kawan-kawan saya di Pusat Mikroelektronika sangat mencerahkan. Ini rekaman dari diskusi tersebut.

Materi presentasi dari diskusi ini tersedia di halaman berikut:

https://elektronika.stei.itb.ac.id/2021/06/20/chipageddon-global-chip-shortage/

Semoga bermanfaat.

Sibuk

Ini postingan tentang topik sibuk yang kesekian kalinya. Maklum, ini manusianya orang sibuk. Jadi topik yang paling sering muncul adalah sibuk. Hanya saja biasanya saya tidak menuliskan itu di sini. Maksudnya tidak sering-sering menuliskan itu.

Minggu ini hampir setiap hari saya ada meeting dan seminar (online) sampai pukul 9 malam. Kadang setelah itu dilanjutkan ikut (mendengarkan) meeting yang sedang berlangsung (sampai pukul 10). Belum lagi ada tugas untuk memeriksa makalah mahasiswa.

Tulisan ini dibuat sambil memeriksa tugas mahasiswa dan juga mempersiapkan materi Data Science with Python (hari kedua). Untuk materi besok, soal kelangkaan chips, baru akan saya siapkan Jum’at pagi. ha ha ha. Ini posternya.

Kata orang, “if you want to get the job done, give it to the person who is already busy”. What a concept. Ngeri kali. Ha ha ha.

Mengatasi Berita Bohong (Hoax)

Baru-baru ini saya mendapatkan sebuah pesan pribadi dari seseorang yang menanyakan bagaimana caranya untuk meluruskan sebuah berita bohong (hoax) yang sedang beredar di group WhatsApp yang diikutinya. Dia menyertakan beberapa potret (screenshots) dari berita yang dimaksudkan. Situasi seperti ini bukanlah yang pertama kali yang saya alami, karena memang keberadaan berita bohong di Indonesia sudah menjadi semacam wabah (penyakit). Pertanyaannya tetap sah, bagaimana mengatasinya? Berikut ini opini saya.

Pertama, jangan langsung didebat berita bohong tersebut di group WA karena debatan Anda akan tenggelam dalam pesan-pesan lainnya. Masalah dari group chat (dan media sosial secara umum) adalah mereka mudah hilang. Maksudnya sulit bagi kita menemukan data atau tulisan yang sudah lama, misal 3 bulan yang lalu. Jadi kalau ada yang mengirim ulang berita bohong (atau membuat modifikasi dari berita bohong lama), maka kita akan repot lagi karena jawaban kita sudah hilang. Maka salah satu cara untuk mengatasi ini adalah menyimpan sanggahan kita, klarifikasi dan seterusnya, ke sebuah situs web (atau blog) yang relatif lebih permanen dan lebih mudah dicari / diakses.

Kedua, perang dengan berita bohong adalah masalah keabsahan fakta. Darimana kita tahu bahwa yang cerita yang disampaikan itu adalah berita bohong? Maka data tersebut harus didokumentasikan, misalnya boleh dalam bentuk potret layar (screenshot) sehingga orang lain juga dapat melihat topik yang yang sedang dibahas. Jadi data atau “fakta” dari yang disebut berita bohong atau sanggahannya keduanya harus tersedia.

Ketiga, sanggahan atau pelurusan berita bohong ini harus mudah dicari dan juga diviralkan. Maka inilah perlunya ada organisasi semacam hoax buster. Nampaknya saya pun harus membuatkan daftarnya di sini sehingga mudah dicari oleh orang ya? (Nanti saya perbaharui tulisan ini secara berkala dengan daftar tersebut.)

Berikutnya lagi adalah orang yang membuat berita bohong ini akan terus membuat berita bohong. Maka perlu ada upaya untuk menangkap dan menyeret orang tersebut ke meja hijau. Harus diberi hukuman agar jera. Contoh-contoh kasus sebelumnya perlu juga ditampilkan. Saat ini kan lawakannya adalah (1) buat berita bohong, (2) kalau ditangkap nangis-nangis, (3) selesaikan dengan pernyataan yang disegel dengan meterai. Seperti itu belum cukup. Aspek jeranya kurang.

Tentu saja edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan berita bohong – dan bahkan ikut menyebarkan – perlu dilakukan. Seringkali orang tidak secara sadar ikut menyebarkan dengan meneruskan berita bohong tersebut dengan menambahi kata-kata “apakah ini benar?”. Mereka tidak sadar bahwa mereka sebetulnya ikut menyebarkan berita bohong tersebut. Sebelum menyebarkan dan menambahkan kata “apakah ini benar?” itu ada baiknya melakukan pencarian (checking) terlebih dahulu. Memang ini menjadi lebih repot daripada sekedar meneruskan berita bohong tersebut dengan menambahi kata “apakah ini benar?”. Intinya ya harus mau ikut repot. Ini yang susah. Orang malas untuk melakukan hal itu.

Sudah terlalu panjang. Nanti malah tidak dibaca kalau kepanjangan.

Daftar tempat untuk memeriksa berita bohong atau tidak:

  • (akan saya tambahkan)

Menjadi Outsider

Dari dulu saya merasa bahwa diri saya adalah seorang outsider. Maksudnya bagaimana sih? Mungkin definisi dari outsider itu harus diperjelas dulu ya? Langsung dari cerita saja ya. Mulainya entah sejak kapan. Saya ambil contoh random saja ya.

Ketika SMP atau SMA biasanya orang memiliki kelompok group. Saya kok merasa tidak punya ya. Hanya di SMA saja saya ada kelompok yang isinya hanya berempat orang saja. Selain itu tidak ada. Contohnya begini. Misalnya saya bisa main musik, tetapi di SMA saya tidak pernah ikut kelompok musik. Padahal untuk ukuran SMA mungkin kemampuan gitar saya oke lah. Eh, malah sekalinya diajak main musik ya malah menabuh drum di festival. Selain itu saya tidak pernah diajakin kelompok musik. Solusi saya, ya buat group musik sendiri. ha ha ha. Seingat saya ada beberapa kelompok amatiran yang saya ikuti, mulai dari musik eksperimen (splicing tape, slowing it down, dll.) sampai ke yang Beatles-an.

Main sepak bola juga sama. Saya tidak pernah diajakin ikut klub sepak bola. Yang ini saya tidak buat klub sepak bola sendiri, karena repotnya luar biasa. ha ha ha. (Kalau sekarang, futsal.)

Dari segi kelompok yang berasal dari strata ekonomi, juga tetap outsider. Tidak masuk ke group orang kaya. Tidak masuk group orang miskin. Tidak masuk group orang tengah. Mungkin kawan-kawan bingung, saya harusnya masuk ke kelompok mana. Walhasil, saya tidak termasuk kelompok mana-mana. Bagi semua group, saya adalah outsider.

Waktu menjadi mahasiswa juga sama saja. Di kampus juga ada kelompok band, tetapi lagi-lagi saya juga tidak diajakin. Ya buat band sendiri. Ya tetap juga tidak diajakin. Ya sudah, buat acara sendiri saja. Ha ha ha. Olah raga, politik, keilmuan, semuanya juga sama. Saya tetap jadi outsider.

Sampai sekarang kejadian outsider tetap berlangsung. Ini di semua lini; mulai dari olah raga, musik, bisnis, pendidikan, dan seterusnya. Ada acara alumni lah, itu lah, dan seterusnya, nama saya tidak pernah ada karena tidak pernah diajak. Saya ambil asumsi mereka mengira saya sibuk (padahal memang iya – ha ha ha). Atau mungkin dikiranya saya tidak atau tidak mampu. Apapun, saya tidak ikutan. Solusi saya juga gampang saja dan masih tetap sama, buat klub / kelompok sendiri. Buat acara sendiri. Happy-happy sendiri saja. ha ha ha. Jadi tidak perlu bergantung kepada orang lain.

Jadilah matahari.

Membaca Buku

Baru-baru ini kita temui (lagi) statistik yang menunjukkan rendahnya minat baca orang Indonesia. Lihatlah dari urutan 61 negara, kita menduduki peringkat 60. Alias, peringkat kedua dari bawah. ha ha ha. Kalau dari 160 negara juga mungkin tetap peringkat kedua dari bawah juga ya? Hadoh.

Oke lah. Ada banyak kemungkinan penyebabnya. Salah satunya adalah kita bukan bangsa yang senang membaca tetapi lebih senang berkomunikasi melalui verbal. Jadi semestinya kita lebih baik dalam hal menonton video (edukasi) atau mendengarkan podcast (edukasi). Saya beri kata “edukasi” dalam tanda kurung karena saya juga belum yakin. Mudah-mudahan demikian. Jadi secara intelektual tidak ada masalah karena hanya beda cara belajarnya saja. Yang repot itu kalau kita tetap tidak belajar. Jadi bukan karena medianya yang menjadi masalah tetapi kita yang masalah. Kita yang tidak mau belajar. Mosok sih?

Saya sendiri termasuk yang suka membaca. Namun saya juga sadar bahwa ini adalah anomali.

Baru-baru ini saya menemukan sebuah tulisan yang mengatakan bahwa kalau kita memposkan foto atau tulisan tentang buku yang sedang kita baca maka itu adalah riya dan harus dihindari. Hadoh. Saya sangat tidak setuju.

Untuk orang-orang yang hobby membaca, menampilkan buku yang sedang dibaca itu bukan untuk pamer tapi untuk memberitahukan orang lain mana buku yang pantas untuk dibaca dan mana yang tidak. Tentu saja ini subyektif, tetapi sangat membantu. Ada (terlalu) banyak buku di luar sana, maka bantuan untuk memilah mana buku-buku yang bagus merupakan hal yang sangat bermanfaat. Adanya resensi buku juga sangat membantu untuk memilah buku. (Itulah sebabnya ada situs seperti Goodreads, dll. yang menampilkan banyak review buku.)

Bagi orang yang banyak membaca, menampilkan buku bukan pamer. Bayangkan kalau kita rajin membaca dan sudah membaca ratusan (atau ribuan?) buku, maka menampilkan 1 buku di media sosial kita bukanlah hal yang istimewa. Biasa saja. Bukan pamer. Mungkin kalau orangnya baru membaca 3 buku kemudian mau pamer? Ya mungkin saja karena bagi yang bersangkutan membaca buku itu merupakan hal yang istimewa. ha ha ha. Ya sudahlah. Sekali lagi, bagi yang sering membaca buku menampilkan buku yang sedang dibaca – apalagi kalau ada resensinya – merupakan hal yang baik. Jauh dari riyaa.

Jadi, buku apa yang sedang Anda baca?

Lambat Membaca (dan menulis)

Lagi kesel. Soalnya ini kok lambat sekali membaca buku. Ada banyak buku yang ngantri dibaca. Saat ini sedang membaca buku “The Prosperity Paradox” dan nampaknya majunya sangat lambat. Kalau ada buku yang bagus, ini sering terjadi. Baca satu halaman, mikir dulu. Lewat satu dua hari, baru melanjutkan baca. Selain buku itu ada beberapa buku lain lagi yang saya baca secara paralel, tetapi yang lainnya malah lebih lambat lagi. Hadoh.

Akibat dari lambatnya membaca saya juga jadi lambat menulis. Biasanya saya cepat menulis di wordpress ini. Semuanya langsung jreng ditulis, tapi kali ini sampai saya membuat tulisan yang berbentuk draft dulu. Wadaw. Lebih lambatnya menulis ini karena saya merasa bahwa waktu saya untuk menulis ini lebih baik digunakan untuk membaca dulu. Jadi membaca itu semacam bottleneck untuk semua proses.

Demikian laporan keluh kesah. Sementara ini. Jangan khawatir, akan ada laporan keluh kesah berikutnya lagi. Kembali ke membaca.

Mendongeng Apa Lagi Ya?

Sudah beberapa minggu saya tidak membuat konten podcast (dan YouTube). Masalahnya bukan karena tidak ada topik, tetapi malah kebanyakan topik yang mau dibahas. Jadinya malah bingung. Terlalu banyak pilihan. Procrastinating. hi hi hi.

Untuk tulisan di sini (blog), semestinya saya dapat menjelaskan apa-apa yang sudah saya buat di YouTube. Ini juga belum sempat. Hadoh.

Jadi, ada usulan apa yang mau saya bahas? Terutama untuk konten di podcast saya karena di sana saat ini belum ada 100 podcast. Target saya, akhir tahun ini harus ada 100 podcast. Ha ha ha. Mestinya sih bisa. Kan masih belum pertengahan tahun. Kalau setiap hari bikin podcast, 100 podcast sih tercapai mestinya. Tapi nggak janji ya.

Kasus Ransomware Lagi

Mungkin sebagian dari para pembaca sudah pernah mendengar kata “Ransomware” dan masalah yang pernah ditimbulkannya. Belum pernah? Baiklah, saya jelaskan secara singkat apa itu Ransomware. Ransomware adalah sebuah contoh dari malware, malicious software, yaitu perangkat lunak yang memiliki itikad jahat. Contoh malware yang paling banyak kita kenal adalah virus komputer. Ransomware merusak sistem komputer kita dengan mengacak (encrypt) berkas-berkas atau harddisk komputer kita. Akibatnya komputer tidak dapat bekerja. Ransomware ini kemudian meminta bayaran kepada pengguna untuk mendapatkan kunci yang digunakan untuk mengacak. Biasanya pembayaran ini dilakukan melalui bitcoin sehingga tidak terlacak siapa orang sesungguhnya. Kasus ransomware yang sempat menjadi terkenal adalah WannaCry.

Baru-baru ini ransomware membuat gara-gara lagi di Amerika. Seorang cracker berhasil menguasai sistem komputer yang dimiliki oleh Colonial Petroleum (Colonial Oil Industries) dan menanamkan Ransomware di sistem komputer tersebut. Ternyata sistem ini digunakan untuk mengelola pipa yang menyalurkan bahan bakar (bensin) di Amerika Timur. Akibatnya produksi (distribusi) terhenti sehinggal 45% dari distribusi bensin di Amerika bagian Timur terganggu. Banyak orang yang menjadi panik dan kemudian menyerbu pom bensin untuk mengisi bensin mobilnya (menimbun bensin). Akibatnya terjadi kelangkaan bahan bakar. Ada sedikit kekacauan.

Bidang energi merupakan salah satu bidang yang dianggap sebagai infrastruktur kritis (critical infrastructure). Selain bidang energi ada bidang-bidang lain yang juga dianggap sebagai infrastruktur kritis. Setiap negara memiliki daftar yang berbeda, tetapi biasanya energi (termasuk listrik) merupakan yang dianggap infrastruktur kritis. Perlindungan terhadap sistem yang termasuk infrastruktur kritis harus dilakukan dengan lebih serius.

Ini adalah sebuah contoh bagaimana masalah keamanan di dunia siber (cybersecurity) berdampak nyata. Banyak yang tadinya menganggap remeh masalah keamanan sekarang menjadi lebih terbuka. Ini merupakan pelajaran yang cukup mahal.

Tautan bahan bacaan:

evoting 1999 dan ivoting 2021

Alhamdulillah, Sabtu kemarin telah dilaksanakan pemilu ketua IA-ITB (Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung) dengan menggunakan ivoting – internet voting. Dalam rangka untuk mencegah penyebaran COVID-19, maka pemilihan ketua IA-ITB tidak dapat dilakukan dengan pertemuan secara fisik. Semua harus dilakuan melalui daring (online). Ini adalah sebuah transformasi digital yang “terpaksa” dilakukan. Ha ha ha. Alhamdulillah perhelatan ini berhasil dilaksanakan dengan baik.

(Hasil akan saya sisipkan di sini.)

Bagi saya ini merupakan pengalaman yang menarik karena sebelum ivoting 2021 ini saya sempat terlibat dengan pengamanan pemilihan umum Indonesia di tahun 1999. Saat itu saya diperbantukan untuk mengamankan sistem IT KPU (pengumpulan suara, perhitungan, dan penampilan hasil pemilu). Banyak orang yang tidak tahu bahwa sistem IT sudah digunakan untuk pemilu di Indonesia pada tahun 1999, meskipun ini bukan evoting asli karena pencoblosan suara masih dilakukan dengan betul-betul mencoblos kertas suara (bukan dengan menggunakan perangkat elektronik). Hasil pemilu tentu saja masih berdasarkan perhitungan cara manual, namun sistem IT digunakan untuk mencegah terjadinya kecurangan dan kesalahan dengan cara mencatatkan semuanya.

Nampaknya suatu saat saya bisa bercerita banyak tentang hal-hal yang kami hadapi pada masa itu. Seperti misalnya, pada hari H plus sekian (lupa saya hari ke berapa) ditemukan celah keamanan (security hole) pada server web yang berbasis IIS (Internet Information Service)-nya Microsoft yang kami gunakan pada waktu itu. Perbaikan (patch) secara resmi baru akan keluar dua minggu lagi! Nah lho. Apakah web harus dimatikan sambil menunggu ketersediaan patch? The show must go on. Yang kami lakukan waktu itu adalah menambah server (firewall) dengan menggunakan Linux di depannya sehingga yang terlihat ke publik adalah Linux bukan IIS. Phew. (Meskipun akhirnya kami menemukan solusi yang tidak resmi sehingga masalah IIS tersebut tertangani.) Ini adalah salah satu dari sekian banyak cerita seru yang kami alami.

Suatu saat akan kami ceritakan pengalaman (lessons learned) yang kami alami di ivoting IA-ITB 2021 ini. Ada banyak cerita seru juga. ha ha ha.

Bagi saya yang menarik adalah saya ikut membantu (di belakang layar) keamanan dari evoting 1999 dan ivoting 2021. Ini adalah tonggak-tonggak bersejarah dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk demokrasi. Ke depannya saya melihat akan lebih banyak penggunaan ivoting ini. It works!

Tentang Rush Lagi

Semalam, pas mau tidur saya pikir puter lagu atau video dulu. Ternyata di iPad saya gak ada yang jalan. Maklum ini iPad versi pertama (atau kedua?) yang sudah lama dan kadaluwarsa. Pokoknya sudah tidak bisa diupgrade lagi OS-nya. Tapi masih ada beberapa aplikasi yang jalan, terutama aplikasi untuk baca buku. Itu yang penting. Aplikasi YouTube tidak jalan. Eh, ada aplikasi Netflix yang masih jalan. Ya sudah cari sesuatu di Netflix. Nemu tentang dokumentasi band Rush. Nontonlah itu. Akibatnya malah nyaris tidak bisa tidur. ha ha ha.

Bagi sebagian (kecil) pembaca, mungkin sudah tahu bahwa band Rush inilah yang membuat saya sekolah di Kanada dan menjadi bagian dari kehidupan saya. Salah satu cita-cita saya ke Kanada adalah supaya bisa ketemu Rush juga. Dan selama tinggal di Kanada (lebih dari 10 tahun), tidak pernah ketemu Rush dong. ha ha ha. Nanti kapan-kapan saya ceritakan ini.

Dari video dokumenter tentang Rush yang saya saksikan tadi malam ada beberapa hal yang penting. Salah satunya adalah Neil Peart, drummernya, tidak suka temu muka dengan fans. Bukan karena arogan, tetapi karena dia memang pemalu (shy). Introvert? Pokoknya dia memang merasa tidak nyaman bertemu dengan fans saja. Jadi kalau ada artis atau pemusik yang bisa dan lazim ketemu dengan fans, dia malah merasa aneh. Jadinya dia malah melarikan diri kalau ada acara “meet and greet“. Untung pemain lainnya, Geddy Lee and Alex Lifeson tidak masalah dengan ketemu fans. Diwakilkan oleh mereka saja. Hi hi hi. Wah kebetulan juga. Kalau saya sebagai fans pengen ketemu dengan dia sudah bakalan ditolak juga. ha ha ha. Jadi untung juga tidak berusaha. Alesan.

Nonton video ini terpaksa saya hentikan supaya saya bisa tidur. Kalau tidak, bisa sampai pagi menyimaknya. Jadi nonton dokumenternya akan disambung lagi. Ya tulisan ini akan disambung lagi. Mungkin.

Ini videonya: https://www.netflix.com/title/70137744

Rocketman

Beberapa hari yang lalu saya membuat komentar di salah satu postingan kang Emil (Ridwan Kamil) di facebooknya, yaitu tentang desain istana kepresidenan yang akan datang. Desainnya berbentuk burung yang besar dan megah. Saya membuat komentar yang bernada guyonan (seperti dalam gambar berikut). Bahwa desain seperti itu gampang di-roket. he he he. Eh, yang like dan komentar banyak dong. Ha ha ha. Jarang saya mendapat banyak respon seperti itu.

Serunya yang komentar itu kadang nggak nyambung atau tendensius. Ada yang mengira saya hater kang Emil. Hadoh. Sangat jauh banget. Lah dari dulu saya termasuk yang mendukung kang Emil. Orang baik harus didukung. Anyway, saya tidak bisa membaca komentar-komentar itu karena entah kenapa facebook memiliki bugs untuk membuka banyak komentar. Eh, ini kalau saya buka di komputer. Entah kalau dibuka di handphone mungkin bisa juga.

Roket. Rocket. Sebuah kata yang selalu menarik. Apa yang terbayang di kepala Anda ketika saya sebutkan kata ini? Bagi saya sih kata ini membuat konotasi pergi ke ruang angkasa. Mungkin gara-gara waktu kecil banyak baca komik. Bahkan yang terbayang jelas oleh saya adalah halaman denpan salah satu buku Tintin.

Kalau sekarang, kata roket ini saya asosiasikan dengan Elon Musk dan SpaceX-nya. Pergi ke Mars. Dalam kaitannya dengan ini sering saya tanyakan ke mahasiswa saya, “jika Anda ditawari Elon Musk untuk pergi ke Mars, siapa yang bersedia?“. Ternyata tidak banyak yang angkat tangan. Anak muda sekarang kurang jiwa petualangannya. Kalau saya masih muda, saya akan angkat tangan. No question. Yakin. Saya ingin membuat manfaat. Meskipun pergi ke Mars sangat berisiko. Setidaknya ada risiko tidak dapat kembali ke dunia (earth). Tidak masalah. Maklum ketika masa muda banyak semangat “Me against the world“. Lah kesempatan untuk meninggalkan the world dengan berkarya merupakan salah satu jawaban. ha ha ha.

Kata roket juga mengingatkan saya akan salah satu lagu Elton John, Rocketman. Lagu ini juga sarat dengan makna. Silahkan cari liriknya dan resapi maknanya. Hebat Elton John dan Bernie Taupin.

Jadi kalau saya sebut rocket, apa yang ada di kepala Anda?