Category Archives: Curhat

Tidak Perlu Membagi Materi Presentasi

Kegiatan yang paling sering saya lakukan adalah memberikan presentasi. Sebagai seorang dosen atau guru – formal atau informal – memang bercerita merupakan kegiatan utama. Dalam satu minggu kadang saya harus memberikan presentasi setiap hari. Hadoh.

Biasanya panitia atau penyelenggara acara meminta saya memberikan materi presentasi. Katanya untuk dibagikan kepada peserta. Sebetulnya menurut saya ini tidak perlu dilakukan. Memang ada peserta yang membaca atau mempelajari materi presentasi sebelum presentasi? Rasanya tidak ada. Kebanyakan peserta mengumpulkan materi presentasi untuk jaga-jaga saja. Kalau-kalau materi presentasi itu diperlukan. Padahal pada kenyataannya materi presentasi itu pun hanya menyemak. Menjadi tumpukan kertas yang terbuang percuma.

Untuk kasus perkuliahan, pembagian materi presentasi sebelum kuliah justru malah membahayakan. Mahasiswa malah kemudian mengabaikan isi kuliah karena merasa dapat membaca materi tersebut di lain waktu. Maksudnya pas lagi mau ujian dibaca lagi. he he he. Mereka jadi tidak memperhatikan dosen pas kuliah. Jadi, jangan bagikan materi kuliah sebelum kuliah.

Materi presentasi mungkin dibutuhkan oleh penyelenggara untuk memastikan bahwa materinya sesuai dengan topik dari presentasi. Itu saja yang mungkin alasan yang paling tepat.

Khusus untuk saya, ada masalah tambahan. Cara saya membuat materi presentasi berbeda dengan umumnya, yaitu saya hanya menampilkan kata kunci (keywords) saja. Bagi yang tidak hadir ke presentasi saya akan kebingungan dengan potongan kata-kata tersebut. Memang kunci utama dari presentasi adalah HADIR. Untuk yang tidak hadir, ya sebetulnya  yang dibutuhkan adalah makalah rinci. Bukan materi presentasi.

Jadi, kalau saya akan memberikan presentasi, jangan ditanya materi presentasinya ya. hi hi hi


Apresiasi dan Usaha

Seringkali saya diminta untuk mengajarkan ini dan itu. Atau memberikan presentasi tentang sebuah topik. Dengan senang hati saya melakukannya, tetapi pada waktu yang saya bisa. Maklum, saya kan super sibuk.

Sayangnya kenyataan tidak seindah yang diperkirakan. Kadang ketika saya memberi presentasi ini dan itu, yang hadir tidak banyak. Setelah itu yang tadinya minta diajarkan malah tidak datang. ha ha ha. Ini sih namanya tidak mengapresiasi. Apalagi terus minta materi presentasinya. wk wk wk. Bagi saya sendiri tidak menjadi masalah karena saya memang senang berbagi. Mau ada yang menerima atau tidak itu tidak menjadi pertimbangan bagi saya.

Saya melihat banyak orang yang kurang usaha. Maunya banyak, tapi usaha kurang. Malas. Mau melakukan sesuatu asal mudah. Asal sesuai dengan enaknya dia. Misalnya, waktunya yang sesuai dengan jam kosongnya dia. Padahal untuk mendapatkan sesuatu dibutuhkan usaha. Kadang kalau terpaksa harus bolos kuliahlah. Lucunya, untuk nonton pertandingan sepak bola yang jam 2 di pagi haripun dikejar sementara yang penting malah ditinggal tidur. wk wk wk.

Budaya “disuapi” juga merupakan tantangan yang berat. Ini berlawanan dengan budaya “usaha”. Itulah sebabnya banyak orang yang berada malah kalah semangat dengan yang pas-pasan. Maklum, kalau pas-pasan ya *terpaksa* harus berusaha. Kepepet itu motivator yang efektif. ha ha ha

Banyak yang merasa sudah berusaha. Padahal apa yang dia lakukan masih jauh dari usaha yang dilakukan oleh orang lain. Mana bisa dia menjadi lebih sukses. Kadang saya bertanya kepada mahasiswa, berapa jam dia tidur dalam satu hari. Kalau lebih lama dari saya, berarti dia memang kurang berusaha. Memang ini bukan ukuran utama, tetapi setidaknya menunjukkan berapa keras dia berusaha. Sebagai contoh, kadang untuk menuju tempat klien saya harus bangun jam 3 pagi (atau kurang) dan kemudian sudah harus menembus jalan pukul 3:30. Shalat Subuh pun terpaksa dilakukan di perjalanan. Namanya juga berusaha.

Konsistensi dalam melakukan usaha juga kadang kurang dijaga. Mau jadi hebat tetapi melakukannya kadang-kadang. Kalau sempat saja. Padahal konsistensi itu sangat penting. Bayangkan apabila jantung berhenti berdetak. Sebentaaaar saja. Dia harus konsisten berdetak apapun yang terjadi.

Nah … kalau tidak mau memberi apresiasi, tidak mau berusaha, ya jadi zombie saja. hi hi hi. Eh, jangan-jangan untuk menjadi zombie pun membutuhkan usaha yang luar biasa. Hadoh.


Selfie Atau Tidak?

Dahulu saya sering memotret diri sendiri. Tujuannya tidak jelas. Soalnya kalau motret orang lain gak bisa dan gak berani minta ijin. Banyak sudah memotret diri sendiri. Saya rasa banyak orang Indonesia yang seperti itu. Bertahun-tahun kemudian baru muncul istilah selfie.

Sekarang, yang namanya selfie bukan hal yang aneh. Bahkan ini sudah menjadi hal yang jamak. Mainstream.

Nah, karena saya kurang suka mainstream, akhirnya saya jadi jarang memotret diri lagi. Bahkan dipotret oleh orang lainpun juga jarang. Kalaupun ada potret sendiri juga saya simpan sendiri. Alasannya ya itu, anti-mainstream. Gak mau sama dengan orang lain.

Tapi kadang-kadang memang dibutuhkan selfie untuk promosi. Nah, foto bersama pak Bambang ini diambil kemarin di acara komunitas talenta dari Roemah Creative Management. Sebagian karya dari talenta ini dapat didownload di toko musik digital Indonesia: toko.insanmusic.com.

BR Bambang 0001

Acaranya di Grapari Telkomsel di jalan Ir. H. Juanda (Dago) Bandung. Karena kelaparan, akhirnya saya dan Aiep pindah ke cafe di dekat situ. Namanya Rock ‘N Rice. Nah, di sana baru potret selfie. Yaaah … jadi mainstream lagi dong.

IMG_9079 BR RnR 0001_01

Kata salah satu promotor digital marketing, jangan anti mainstream. Jadi, selfie atau tidakya? Nyruput kopi dulu ah.

IMG_20150815_211247 kopi 0001


Kurang Bacaan Online Yang Menarik

Akhir-akhir ini saya merasa kekurangan bacaan online yang menarik. Bacaan online saya cari ketika saya tidak punya akses ke buku (konvensional).Ya terpaksa cari bacaan online.

Kalau dahulu, saya masih mengakses situs berita semacam detik.com dan sejenisnya. Sekarang tidak lagi. Ada banyak alasannya. Yang pertama adalah cara menampilkan berita di situs itu sekarang dipotong-potong jadi beberapa halaman. Mungkin ini untuk membuat traffic semu? Sebagai contoh, yang dahulunya dapat dibaca 1 halaman sekarang harus mengklik 3 atau 4 kali untuk membaca keseluruhan berita. Mungkin dengan cara begini di log tercatat 4 kali akses. Padahal ini semu.

Berita yang ada di situs-situs itu juga sekarang sering tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Salah mengutip. Atau penulisannya tidak menarik. Hambar. Data saja. Seperti tidak ada wartawan yang bagus saja. Maaf.

Media sosial juga dahulu lebih menarik karena orang menuliskan berbagai hal secara kreatif. Cara masing-masing. Kalau sekarang, kebanyakan hanya melakukan re-share, re-post, re-tweet, dan re-re lainnya. Sekali-sekali tidak mengapa, tetapi kalau sebagian besar orang melakukan itu menjadi membosankan dan mengesalkan, Tidak ada kreativitas lagi.

Ubak-ubek, ke sana, ke sini. Gak nemu juga. Akhirnya ya terpaksa ngeblog seperti. Biarpun keluh kesah, ini tetap orisinal. he he he. (Padahal sesungguhnya ini bertentangan dengan prinsip yang saya anut, yaitu menuliskan hal yang positif-positif.)


Fakta Khayalan

Bermula dari fakta khayalan
Muncul cerita rekaan
Membakar emosi kerumunan

Tak sedikitpun kau menyesal
Telah membuat orang kesal
Membuat kebencian masal

Jangan tersinggung kawan
Karena ini hanya fakta khayalan


Tidak Suka Membaca

Saya suka membaca, tetapi mengapa judul dari tulisan ini adalah tidak suka membaca? Sebenarnya saya juga tidak suka membaca. Lho? Kok? Yang tidak suka saya baca adalah tulisan saya sendiri. Jadi saya suka membaca tulisan orang lain, tetapi saya tidak suka membaca tulisan sendiri.

Saya tidak tahu apa alasannya. Seringnya saya merasa tulisan saya kok hanya segitu saja. Jelek. Merendahkan diri sendiri. he he he. Mungkin saya terlalu berat dalam mengkritik diri sendiri. Entahlah. Yang pasti, saya tidak suka membaca tulisan saya sendiri. Titik.

Lucunya, saya suka menulis. Nah lho. Akibatnya, yang saya lakukan adalah menulis dan kemudian melupakannya.


Memaksa Untuk Berjalan

Biasanya orang mencari tempat parkir yang paling dekat dengan tempat yang dituju. Kalau di kampus, orang pasti mencari yang dekat dengan kantornya atau tempat mengajar.  Khusus untuk kampus, saya memilih berbeda.

Di kampus ITB saya memilih untuk parkir di daerah Selatan sementara kantor saya di bagian paling Utara dari kampus ini. Alasan utamanya karena di bagian Selatan biasanya lebih banyak tersedia tempat parkir. Kalau mau, saya bisa memaksakan diri mencari tempat di bagian Utara, tetapi saya memilih di bagian Selatan. Ini juga untuk memaksa saya jalan. Berolah raga. Lumayanlan. Jarak dari tempat parkir ke kantor lebih sedikit dari 400 meter. Pulang pergi, 800 meter. Kalau mau ditambah sedikit menjadi 1 Km. Lumayanlah.

IMG_9046 nike parkir

Untungnya udara Bandung masih mendukung. Pagi-pagi masih dingin. Sejuk. Asyik untuk jalan. Gembira. Sementara itu ada banyak orang yang marah-marah karena tidak mendapatkan tempat parkir yang super dekat dengan kantornya. Hi hi hi.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.455 pengikut lainnya.