Kalibrasi (IoT)

Sekarang banyak orang mengembangkan IoT. Salah satunya adalah untuk mengukur temperatur dan kelembaban. Masalanya, kebanyakan hanya mengambil kode (dari internet) dan kemudian menjalankannya tanpa melakukan kalibrasi. Apakah data yang kita gunakan sudah benar? Apakah kode yang kita gunakan sudah benar? (Dalam kode terdapat konversi dari data yang diterima oleh sensor ke temperatur dan kelembaban.)

Untuk mengetahui hal tersebut, saya membeli sensor hygrometer. Saya beli dua buah. Eh, ternyata keduanya juga tidak akur datanya. Data temperatur nyaris sama (31C), tetapi data kelembaban jauh berbeda (35% dan 41%). Mana yang benar? Saya juga meragukan kebenaran data tersebut karena perasaan saya temperatur saat menulis ini tidak panas. (Ini di Bandung di rumah saya.)

Sensor Hygrometer

Memang saya membeli sensor yang harganya murah. Ini hanya untuk percobaan. Nampaknya saya harus membeli sensor yang lebih akurat (dan lebih mahal).

Bagaimana dengan data dari sensor IoT? Saya menggunakan sensor DHT-22 yang kemudian saya hubungkan dengan perangkat Wemos D1 mini. Data kemudian saya kirimkan ke komputer. Berikut ini perbandingan data dari sensor Hygrometer dan sensor IoT. (Mohon maaf fotonya agak kabur.) Mana yang benar? Temperatur: 30 C (hygrometer), 27,8 (IoT). Kelembaban : 45% (hygrometer), 77,4% (IoT).

Lagi-lagi saya tidak tahu mana yang benar. Nampaknya saya harus membeli alat hygrometer yang lebih akurat untuk mastikan hasilnya.

Tadinya saya ingin membuat grafik seperti ini, memantau temperatur dan kelembaban di rumah saya. (Saya juga memiliki sensor yang lebih akurat.)

Tulisan ini untuk menunjukkan bahwa kita harus melakukan kalibrasi dalam pengukuran yang menggunakan IoT sekalipun. Jangan merasa bahwa kalau data dari IoT sudah pasti benar.

Mewawancara Kursi Kosong

Belakangan ini ramai dibicarakan soal wawancara Najwa dengan kursi kosong. Wah, saya tidak terlalu minat untuk urusan sensasi, tapi ini kemudian memicu saya untuk punya ide. Bagaimana kalau saya mewawancara diri saya sendiri? Hi hi hi. (Plot twist?)

Langsung saya mengumpulkan ide dan kemudian membuat video ini. Nah, saya sebetulnya ingin cerita bahasannya, tapi kok malah jadi spoiler ya? Tapi kan sebetulnya blog ini ditujukan untuk orang-orang yang lebih suka membaca. Semestinya tidak terlalu masalah. Tapi just in case saja. Untuk yang mau lihat videonya, jangan dibaca dulu tulisan di bawah ini. Tonton dulu videonya.

[baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan spoilernya untuk yang mau nonton videonya dulu]

… [baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan spoilernya untuk yang mau nonton videonya dulu] …

… [baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan soilernya untuk yang mau nonton videonya dulu] …

Nah. Sekarang baru akan saya bahas secara singkat tentang poin-poin yang ingin saya sampaikan di video itu.

Pekerjaan rumah (PR) dari wartawan. Banyak wartawan yang tidak mengerjakan PR-nya ketika akan mewawancara. Saya sering diwawancara. Sering banget! Banyak wartawan yang dia hanya menjalankan tugas yang diberikan secara ngasal. Asal diselesaikan saja checklist itu. Sebagai contoh, ketika mewawancara seseorang ya di-google dulu lah orang yang bersangkutan. Kalau sekarang kan gampang. Kalau dahulu gimana coba? Harus ke perpustakaan, tanya sana sini, dan seterusnya.

Untuk kasus saya, ya wartawannya setidaknya tahu latar belakangnya lah. Saya bekerja dimana (dosen ITB, misalnya) dan bidang keahlian saya apa (information security salah satunya). Beberapa kali kejadian ada wartawan yang tidak tahu siapa saya kemudian main wawancara saja. Kalau mau iseng, saya jawab dengan ngawur juga. ha ha ha. Ini menyambung kepada poin berikutnya.

Bertanya pada pakarnya. Jika Anda ingin mewawancara saya, ya tanyakan tentang hal-hal yang saya kompeten untuk menjawabnya. Kalau tanya apa saja ke saya, ya jawabannya juga apa saja. Sekarang ini banyak wartawan yang ngasal dalam mencari narasumbernya. Mereka asal ambil orang dan kemudian pendapatnya dianggap sebagai valid. Bahkan ada yang langsung memberi label “pakar”, atau “pengamat”. Matinya kepakaran!

Mencari sensasi. Banyak orang yang sekarang mencari sensasi untuk meningkatkan popularitas. Apa saja ditempuh. Termasuk yang tidak etis sekalipun. Tentu saja orang tahu mana yang mencari sensasi dan mana yang mencari kebenaran atau berkarya. (Sayangnya hal yang sensasi lebih banyak ditonton karena dianggap sebagai hiburan. Dari pada nonton video binatang yang lucu, lebih baik nonton sensasi itu dan kemudian ikut memberi komentar pula!) Marilah kita hargai yang berkarya sungguhan.

Menurut saya, hal-hal yang salah harus ditegur. Diluruskan. Kita kan ingin sama-sama meningkatkan kebudayaan kita. Meningkatkan intelektual kita juga. Tetapi tegurlah dengan santun. Semoga video saya tersebut dapat memberi pencerahan.

Film Yang Paling Sering Ditonton

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat dalam sebuah diskusi (atau lebih tepatnya adalah ngobrol-ngobrol). Tiba-tiba ada pertanyaan tentang “film apa yang paling sering kita tonton”. Wah, pertanyaan yang menarik dan agak susah saya jawab.

Untuk dunia musik, ada layanan yang melakukan pemantauan (tracking) tentang lagu yang kita dengarkan. Salah satu yang saya suka adalah last.fm. Layanan ini dapat menunjukkan lagu apa yang paling sering kita dengarkan, artis (musisi) siapa yang paling sering kita dengarkan, albumnya, dan statistik lainnya. Ada plugin last.fm untuk berbagai aplikasi pemutar lagu dan layanan (misal spotify) yang melakukan pemantauan ini. Yang seperti ini tidak ada untuk film.

Berikut ini beberapa film yang mungkin paling sering saya tonton. Saya gunakan kata mungkin karena ini yang teringat oleh saya. Film ini juga saya tonton beberapa kali di TV, bukan di bioskop. Untuk yang nonton di bioskop, rasanya saya belum pernah nonton film lebih dari sekali.

  1. Indiana Jones, “Temple of Doom”. Saya memang menyukai aktor Harrison Ford, tetapi alasan film ini kemungkinan yang paling sering saya tonton adalah karena beberapa kali film ini diputar di TV. Jadi secara tidak sengaja saya melihat ini di TV dan terus ditonton sampai habis. Rasanya memang pernah juga saya intentionally memutar film ini.
  2. Sleepless in Seattle. Mirip seperti alasan di atas, film ini juga beberapa kali diputar di TV. Jadi tertonton beberapa kali, tetapi saya juga memutar film ini beberapa kali. Lagi-lagi karena saya menyukai aktrisnya, Meg Ryan. (Selain film ini, film “You’ve Got Mail”, rasanya saya sukai juta. Namun saya kurang menyukai film “When Harry Met Sally”.)
  3. John Carter. Berbeda dengan yang di atas, saya memang memutar film ini secara mandiri. Bahkan beberapa hari yang lalu saya tonton lagi film ini karena dia ada di Disney+ Hotstar yang baru saya langganani. Awalnya saya menonton film ini adalah karena director-nya adalah Andrew Stanton dari Pixar. Jadi saya tertarik ke film ini bukan karena aktor atau aktrisnya. (Ternyata film ini terinspirasi oleh sebuah buku. Harus mencari bukunya.)
  4. Star Wars. Seri yang pertama-tama dibuat. Yang ini kemungkinan saya tonton karena film yang klasik. Ini juga pertama kalinya saya mengenal aktor Harrison Ford dan produser George Lucas. Di kemudian hari saya selalu mencoba menonton film yang ada keduanya.
  5. Ghost Rider. Lagi-lagi saya menonton film ini karena beberapa kali diputar di TV. (Nampaknya saya lebih sering menonton apa saja yang ada, bukan mencari sendiri ya?) Lagi-lagi juga karena saya menyukai aktor Nicholas Cage.
  6. Apa lagi ya? Kemungkinan ada banyak lagi (seperti film-film yang dibuat oleh Pixar), tetapi karena tidak ada aplikasi pencatat maka saya tidak tahu. Nampaknya saya harus melakukan pencatatan secara manual. (Ayo, ini kesempatan untuk membuat layanan pencatat dan plugin-nya.)

Jadi ini lah perkiraan film-film yang saya paling sering saya tonton. Untuk kasus saya, film saya tonton berulang karena ditampilkan di TV. Sekarang saya sudah berlangganan Netflix, Disney+ Hotstar (sempat pula berlangganan Amazon Prime dan Apple) sehingga modenya adalah saya yang harus memilih filmnya, bukan lagi bergantung kepada apa yang diputar di TV.

Diskusi Dilema Media Sosial (Senin Malam 21 September 2020)

Informasi tentang acara dadakan. Betul. Sebetulnya acara ini sudah ingin kami adakan kapan-kapan tetapi belum menemukan waktu yang “tepat”. Ternyata tidak ada waktu yang “tepat”. Jadi mumpung ada waktu, kami jreng-kan saja. Senin malam, 21 September 2020. Mungkin melalui Zoom dan YouTube. (Detail menyusul.)

Ada dua hal yang ingin disampaikan; (1) tentang topik bahasannya sendiri yaitu dilema media sosial, dan (2) adalah tentang group diskusi kami. Jadi kami memiliki group diskusi yang awalnya adalah mentoring entrepreneurship yang saya adakan secara rutin setiap Rabu siang. Banyak orang yang ingin tahu isinya seperti apa sih? Nah, ini saya ambilkan sebagian dari orang-orang yang sering terlibat dalam diskusinya (yang bisa ngalor ngidul tetapi bertopik).

Tentang topiknya, dilema media sosial. Media sosial sendiri dianggap sebagai salah satu emerging technology. Di negara lain, media sosial merupakan hal yang “baru”. Sementara itu di Indonesia, media sosial bukan barang baru lagi, tetapi kita belum paham efeknya. Lah, mau belajar kemana? Secara kita ini merupakan pionir pengguna (bukan pembuat) di bidang ini. Tidak ada tempat belajar untuk melihat efek sampingannya. Mungkin malah dapat disebut bahwa kita adalah kelinci percobaan bagi media sosial. (Dan kita tidak sadar bahwa kita adalah kelinci. Masih mending kelinci, bukan monyet ya? Ha ha ha.)

Topik efek negatif dari media sosial baru mencuat belakangan ini setelah para pengembang dan orang-orang yang terlibat di perusahaan media sosial itu angkat suara. Ternyata mereka sendiri mengalami kegalauan dalam produk atau servis yang mereka kembangkan. Bahkan ada yang merasa menyesal. Ada banyak tulisan dan buku yang menyarankan agar kita menghapus aplikasi media sosial kita.

Sebetulnya media sosial ini juga bukan tanpa jasa. Ada banyak jasanya. Masalahnya adalah apakah manfaatnya jauh lebih baik dari mudharatnya? Lah, apa saja sih efek negatifnya? Itu yang ingin kita diskusikan hari Senin malam ini.

Saya berharap agar banyak yang dapat mengangkat topik ini agar kita sadar (aware) terhadap situasi yang kita hadapi.

Be there or be square! Hadirlah!

Rekomendasi Video

Ada banyak bahan bacaan dan bahan tontonan di luar sana. Mana saja yang bagus? Dibutuhkan waktu dan usaha untuk memilah-milah. Nah, ini saya menemukan video yang bagus. Yang sangat disarankan untuk ditonton.

Video ini adalah kuliah terakhir dari Randy Pausch. Pasalnya, Randy mengidap kanker dan diberi waktu 3 sampai dengan 6 bulan lagi. Dia bukan orang yang pesimistik, maka dia membuat video ini untuk anaknya. Namun video kuliah ini sangat bermanfaat bagi banyak orang. Termasuk saya.

Bagi saya, video ini sangat menginspirasi. Banyak hal yang bersinggungan atau sejalan dengan prinsip hidup saya. Asyik. Ternyata saya tidak sendirian dalam “kegilaan” atau keanehan pilihan hidup.

Untuk tidak berpanjanglebar, mari kita saksikan videonya.

Permasalahan Sekolah dari Rumah (2)

Tulisan terdahulu (bagian 1) tentang akses dan materi (content) dapat dilihat pada tautan ini (https://rahard.wordpress.com/2020/08/25/permasalahan-sekolah-dari-rumah/). Pada bagian ini kita bahas satu masalah lagi, yaitu perangkat.

PERANGKAT

Ada perangkat yang dibutuhkan untuk akses ke internet. Perangkat ini dapat berupa handphone (yang dilengkapi dengan layanan internet, baik yang berlangganan via operator atau via WiFi). Perangkat dapat juga berupa perangkat khusus seperti Access Point, (WiFi) router, dan seterusnya. Untuk masyarakat umum, perangkat yang digunakan untuk ini biasanya adalah handphone.

Perangkat handphone umumnya cocok untuk dipakai oleh satu orang. Bagaimana untuk keluarga dengan dua anak dan orang tua yang bekerja? Maka seringkali perangkat akses handphone ini tidak cukup. Maka perangkat akses internet di rumah harus yang lebih baik. Untuk sementara ini ini katakanlah kita anggap handphone.

Untuk akses kepada layanan 3G, 4G, WiFi, ada banyak handphone yang harganya sudah terjangkau untuk orang kota. Yang perlu dicarikan adalah perangkat yang murah meriah untuk seluruh Indonesia.

TO DO: ketersediaan perangkat akses yang murah

Perangkat kedua adalah perangkat untuk mengerjakan tugas. Bagusnya ini adalah komputer atau laptop (notebook). (Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah laptop saja.) Idealnya satu orang (satu anak, satu siswa) satu laptop. Apakah ini masuk akal? Untuk itu harus disediakan laptop dengan harga yang murah.

Alternatif dari laptop adalah tablet. Namun penggunaan tablet membutuhkan akses ke cloud untuk menyimpan data yang jumlah dan ukurannya banyak. Ini kembali menjadi masalah akses yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya.

TO DO: ketersediaan laptop yang murah

Terkait dengan perangkat ini adalah perangkat lunaknya (software). Ada banyak perangkat lunak yang dibutuhkan; untuk menulis (word processing), untuk menggambar (drawing, painting), dan seterusnya. Ada banyak perangkat lunak yang berbayar dan ada pula alternatifnya yang tidak berbayar (freeware, open source). Jika dahulu ini masalah, saat ini bukan masalah lagi. Hanya perlu dilakukan pendataan saja sehingga masyarakat tahu alternatif-alternatifnya.

TO DO: dibuat daftar perangkat lunak yang gratis atau murah

Kebanyakan Mengajar

Dalam satu semester biasanya saya mengajar 3 mata kuliah. Itu maksimal. Untuk kasus-kasus tertentu kadang bisa 4 mata kuliah. Nah, sekarang saya mengajar … (eng, ing, eng) … 6 mata kuliah! Gila!

Mengapa ini bisa terjadi? Saya berpikir keras.

Ah, baru kebayang. Biasanya mata kuliah dibuka oleh kampus setelah melakukan optimasi terhadap ketersediaan sumber daya, khususnya ruangan. Karena jumlah ruangan terbatas, maka jumlah mata kuliah yang dapat dilayani terbatas. Sekarang, gara-gara covid-19 ini, semua kuliah dilakukan secara daring (online). Maka batas ruang (dan waktu) hilang! Maka kampus dapat memberikan semua mata kuliah bersamaan. Terserah kepada dosen dan mahasiswanya saja.

Bodohnya, saya sebagai dosen mengiyakan saja. Maka terjadilah 6 mata kuliah itu. Hayah. Semester depan saya akan ngerem lagi ah.

Sebetulnya ini bisa saya atasi juga. Jika semua mata kuliah saya sudah tersedia secara elektronika, misalnya sudah saya rekam dalam bentuk video, maka kelas saya juga dapat saya ajarkan secara daring. Jadi saya dapat mengajar beberapa kelas secara paralel. Toh mahasiswa tinggal nonton video, membaca buku dan bahan bacaan lainnya (makalah, standar), dan mengerjakan tugas-tugas (quiz, pekerjaan rumah) yang juga sudah dapat dibuat secara elektronik. Artinya, batas waktu juga bisa saya jebol. Nah, sekarang masalah berpindah ke mahasiswa.

(Catatan: itulah sebabnya dosen dan guru, mari kita buat versi elektronik dari kuliah / kelas kita.)

Sulit bagi mahasiswa untuk mengambil beberapa mata kuliah secara paralel. Saat ini tidak mungkin. Suatu saat mungkin ditemukan cara untuk melakukannya. Maka pada saat itu, batas ruang dan waktu sudah bisa kita libas. Whoah!

Oh ya. Ini ada versi video dari tulisan ini.

Permasalahan Sekolah dari Rumah

Dalam rangka mengurangi penyebaran virus corona, jaga jarak atau social distancing dilakukan. Maka sekolah-sekolah dilakukan secara daring (online). Sekolah dilakukan dari rumah dengan menggunakan internet atau mekanisme lainnya (radio, tv dan seterusnya), meskipun internet merupakan hal yang utama.

Ada beberapa masalah dengan sekolah dari rumah ini. Masalah tersebut dapat kita bagi dua; (1) akses terhadap materi, dan (2) ketersediaan materi pelajaran.

AKSES

Masalah akses, khususnya akses internet, di Indonesia ini masih riil. Digital divide adalah masalah yang nyata. Sebagai negara yang memiliki ukuran fisik besar, ini bukan masalah yang mudah. Masih ada banyak daerah yang tidak memiliki akses kepada telekomunikasi, apa lagi internet. Jadi masalah utamanya adalah ketersediaan: ada atau tidak ada akses.

To do: perbanyak akses internet di berbagai tempat. Bagaimana dengan program USO dahulu?

Masalah kedua adalah harga. Harga akses ke internet saat ini sebetulnya sudah dapat dikatakan terjangkau jika digunakan untuk keperluan yang “biasa-biasa” saja dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Masalahnya, yang kita hadapi saat ini bukan masalah “biasa” saja. Akses yang dibutuhkan saat ini malah langsung ke kualitas video (kelas, perkuliahan). Jadi kita melewati teks, langsung ke video. Artinya kuota yang dibutuhkan langsung besar.

Bayangkan satu keluarga dengan dua orang anak. Maka dibutuhkan akses internet untuk 3 atau 4 orang (dua orang anak dan orang tua). Ini akses internet dengan kuota yang besar. Untuk akses teks atau media sosial biasa tidak terlalu masalah, ini untuk akses video.

To do: akses internet murah untuk pembelajaran.

Saat ini mulai ada inisiatif dari provider yang memulai dengan memberikan harga murah untuk akses kepada situs-situs pembelajaran tertentu. Contoh adalah produk dari Telkomsel ini, “Merdeka Belajar Jarak Jauh dengan Kuota Belajar Rp10!“. (Update: dapat kabar dari kawan bahwa produk Telkomsel ini tidak bisa diulang karena ada yang abuse untuk beli ratusan GB.)

MATERI PEMBELAJARAN

Jika masalah akses sudah susah, maka masalah ketersediaan materi pembelajaran juga tidak kalah susahnya. Saat ini belum banyak tersedia materi pembelajaran dalam bentuk elektronik yang dapat diakses secara daring.

Sudah ada banyak upaya untuk membuat materi pembelajaran dalam bentuk elektronik, tetapi masih belum mencukupi dan masih menggunakan kaidah lama. Artinya kita baru sebatas melakukan pemindaian (scanning) materi lama ke dalam bentuk elektronik. Hal ini belum mengantisipasi bahwa ada banyak teknologi lain yang dapat digunakan untuk pendidikan. Ini seperti membuat mobil dengan mengacu kepada delman. Atau membuat komputer dengan mengacu kepada mesin ketik. Tidak akan terbayang bahwa komputer dapat melakukan pertukaran data melalui mekanisme file sharing. Mesin tik tidak memberikan bayangan file sharing.

Perlu dimengerti bahwa kita tiba-tiba dihadapkan kepada masalah ini karena adanya virus corona yang memaksa kita untuk melakukan transformasi digital dengan segera. Dari dahulu kita mencoba melakukannya tetapi karena tidak terpaksa, langkahnya lambat. Sekarang terpaksa. Namun perlu dipahami bahwa membuat materi pembelajaran ini tidak mudah dan membutuhkan waktu.

Kita mulai dari pemindaian (scanning) materi. Kemudian dilakukan dengan menulis ulang materi tersebut ke dalam dokumen presentasi dan dokumen word processing. Ini sudah merupakan peningkatan, tetapi menurut saya ini masih memiliki masalah. (Lihat tulisan saya, “Membaca Buku atau Menonton Video“.) Menurut saya, perlu dikembangkan materi dalam bentuk video karena siswa sekarang cenderung untuk lebih menyukai pelajaran dalam bentuk visual (dan audio). Tentu saja membuat materi pendidikan dalam bentuk seperti ini menjadi lebih sulit, lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang lebih banyak.

To do: membuat materi pelajaran dalam bentuk video. Perlu pendanaan yang besar untuk ini. Pengembangan materi ini juga perlu kajian lagi karena kebanyakan materi yang ada tidak menarik sehingga pembelajaran kurang optimal. Perlu story tellers. (Ini akan menjadi pembahasan terpisah.)

PENUTUP

Sebetulnya masih ada banyak hal yang perlu didiskusikan, akan tetapi tulisan ini sudah terlalu “panjang” (untuk ukuran kekinian). Akan saya buatkan tulisan untuk bahasan lainnya. Untuk sementara ini mari kita diskusikan tentang hal-hal yang sudah saya ungkapkan di atas. Beri komentar atau masukan Anda.

Update: Bagian kedua dari tulisan ini (tentang perangkat) ada pada tautan ini:
https://rahard.wordpress.com/2020/08/29/permasalahan-sekolah-dari-rumah-2/

Membaca Buku atau Menonton Video

Tahukah Anda bahwa berdasarkan ranking PISA (Programme for International Student Assessment), Indonesia dalam membaca merosot ke ranking 72 dari 77 negara. Artinya, siswa Indonesia memang tidak suka membaca. Bukan hanya siswa Indonesia, orang Indonesia secara umum tidak suka membaca. Sementara itu pada beberapa pertemuan (yang saya ikuti dan amati) ada beberapa upaya untuk menaikkan minta baca dengan cara membuat banyak buku. Hmmm …

Pendekatan ini menurut saya masih kurang tepat. Kita sudah lama mencoba hal ini dan tidak berhasil. Maka dari itu perlu dilakukan pendekatan lain yang berbeda dari sebelumnya. Out of the box. Dalam hal ini saya mengusulkan untuk membuat video daripada membuat buku. Alasan saya adalah orang Indonesia lebih menyukai audio visual. Video lebih banyak dilihat daripada buku.

Apakah melihat video lebih buruk atau lebih rendah daripada membaca video? Ukuran yang dibuat oleh kebanyakan orang adalah berbasis membaca. Padahal secara kultur, orang Indonesia tidak suka membaca. Sudah pasti kita akan berada pada peringkat rendah. Ini seperti mengukur kehebatan binatang dari kemampuan berenangnya. Lah, kalau seperti ini akan susah. Leopard pasti akan kalah dengan ikan. Demikian pula kalau ukurannya adalah kemampuan memanjat pohon. Maka yang memang adalah monyet, bukan buaya.

Sebetulnya yang lebih utama adalah masuknya ilmu itu ke kita, bukan? Bahwa medianya melalui buku atau melalui video semestinya tidak masalah. Dahulu buku yang paling memungkinkan karena teknologi yang tersedia (dan paling murah) adalah dengan menggunakan percetakan. Sekarang sudah ada YouTube dan cloud untuk menyimpan data dalam bentuk apapun, termasuk video. Jadi sekarang semestinya lebih memungkinkan membuat video.

Masih banyak orang yang tetap ngotot bahwa membaca (buku) dan membuat buku adalah yang paling utama. Bagi sebagian kecil orang Indonesia ini benar. Saya sebetulnya termasuk kelompok yang ini, yaitu kelompok yang lebih suka membaca. Lucunya orang-orang yang mengusulkan perbanyak baca buku bukan orang yang suka membaca buku. Ketika saya tanya buku apa yang sedang dibaca, atau sebutkan sepuluh (10) penulis Indonesia kesukaannya, maka mereka kesulitan menjawab. Persis. Karena mereka tidak suka membaca.

Saya ambilkan contoh yang sedang saya alami ini. Saya sedang membaca dua buku (berserta buku-buku lainnya); (1) Pedro Domingoes – The Master Algorithm, (2) Shoshana Zuboff – The Age of Surveillance Capitalism. Kedua buku tersebut merupakan buku yang banyak direkomendasikan oleh orang-orang terkenal (thinkers, leaders) berskala dunia. Ternyata memang buku-buku tersebut bagus. Sayangnya, lambat sekali saya membaca buku tersebut.

Saat ini bacaan saya untuk buku Pedro Domingoes baru sekitar 65% dan buku Prof. Zuboff baru 2% (karena baru memulai). The Master Algorithm bercerita tentang madzhab Artificial Intelligence (AI). Bagus, tapi susah bacanya. Bakalan lama untuk menyelesaikannya. Saya membutuhkan informasi yang cepat. Maka yang saya lakukan adalah saya mencari video tentang buku-buku tersebut. Eh, ada! Maka yang saya lakukan adalah menonton video-video tersebut. Setelah menonton video tersebut maka saya paham esensi dari buku yang sedang saya baca.

Berikut ini adalah link-link video yang saya maksudkan di atas:

Poin yang ingin saya sampaikan adalah menonton video itu bagus untuk meningkatkan minat baca. Harapannya, setelah menonton video tersebut maka orang akan membaca buku-bukunya. Jika akhirnya tidak membaca bukunya pun, setidaknya esensi dari apa yang diutarakan dalam buku tersebut sudah dipahami. Nah, ini yang saya maksudkan perlu diperbanyak video-video yang berkualitas.

Oh ya, contoh video-video yang berkualitas ada banyak. Misalnya video-video yang dibuat oleh National Geographic, BBC, PBS, dan seterusnya. Banyak sekali videonya. Nah, harus dibuat video semacam ini ke dalam bahasa Indonesia.

Oh ya (lagi). Sebagai perbandingan, saya buatkan juga video tentang opini ini. Di bawah ini ada videonya. Anda pilih yang mana? Membaca tulisan ini atau menonton videonya?

ya mbok google dulu

muncul lagi. itu klaim kepakaran seseorang yang tak berbasis.
aneh juga di jaman internet ini orang malas mencari informasi.
ya mbok google dulu.

banyak yang mewawancara saya tanpa mengetahui siapa saya.
lakukan pekerjaan rumah dahulu.
ya mbok google dulu.

pak budi tahu sistem operasi bernama linux?
ya mbok google dulu.
(yang ini mungkin tidak ketemu karena informasi untuk kalangan terbatas?)

Masih Tak Berpuisi

Masih belum berhasil membuat lirik lagu atau puisi yang bagus. Bagaimana mau bisa? Wong latihan juga jarang atau tidak pernah. Ha ha ha. Ini seperti ingin menjadi programmer yang handal tapi jarang membuat kode.

Ya, ya, ya, saya tahu saya harus sering latihan menulis. Terlalu banyak alasan untuk tidak menulis. Tadinya blog ini merupakan salah satu tempat latian saya untuk menulis. Dojo-nya saya. Tapi saya terlalu malu untuk menampilkan kedunguan saya di sini. Ha ha ha.

(Mencari kertas untuk dicorat-coret dulu dan kemudian dibuang.)

Online Terus

Salah satu efek dari COVID-19 ini ternyata adalah makin banyaknya diskusi / seminar / talkshow / acara-acara daring (online). Kalau dahulu saya banyak menolak acara karena datang secara fisik membutuhkan waktu. Sekarang semuanya dapat dilakukan secara daring sehingga tidak bisa menolak. Tidak ada alasan untuk menolak. Ha ha ha.

Seberapa sibuknya atau seberapa seringnya? Berikut ini saya tampilkan contoh-contoh poster acara-acara saya.

digitalisasi kopi BR Ferly

ITEBA BR pelatihan IoT

Beberapa acara ini ada yang terbuka untuk publik dan ada juga yang tertutup. Untuk yang terbukan biasanya saya sampaikan di Facebook & Twitter saya. Sementara itu yang tertutup, ya tentu saja tidak dapat saya bagikan. Ataupun kalau mau diceritakan biasanya saya ceritakan setelah acaranya selesai. Ha ha ha.

Jadi kalau saya katakan bahwa saya sibuk, ya betulan sibuk. Lihat saja itu ada yang acaranya Sabtu malam atau Minggu malam. Itu sebetulnya karena saya sudah tidak bisa pada hari-hari lainnya. Begitu.

Semangat!

Mendokumentasikan Sejarah Internet Indonesia

Minggu lalu saya terlibat dalam sebuah diskusi online tentang “sejarah internet Indonesia”. Salah satu usulan yang muncul adalah bagaimana jika kita mendokumentasikan ini dalam bentuk buku. Jawaban saya pada waktu itu adalah orang Indonesia kurang suka membaca, jadi mungkin lebih baik sejarah itu didokumentasikan dalam bentuk video saja yang kemudian dapat diunggah ke YouTube.

Di video saya tersebut ada beberapa yang berkomentar bahwa dokumentasi dalam bentuk tulisan (buku, blog, wiki, dll.) masih tetap dibutuhkan. Memang benar. Ada orang-orang yang lebih suka membaca daripada melihat video. Lagi pula membaca bisa langsung menuju ke poin yang dicari. Tulisan juga lebih ringan (dari sisi penggunaan bandwidth). Maklum internet di Indonesia masih terbatas kualitasnya.

Nampaknya suatu saat saya perlu juga bercerita di blog ini tentang perjalanan saya – keterlibatan saya – dengan perkembangan internet di Indonesia dan dunia. Nah, masalahnya waktu untuk menuliskannya itu. Eh, tapi ini menarik tidak ya? Sekarang yang mengunjungi blog ini juga makin menurun. ha ha ha.

Membahas Opini Geblek

Jika ada sebuah opini yang jelas-jelas “geblek“, sebaiknya tidak usah dibahas. Aneh juga melihat orang-orang membahas opini tersebut, menunjukkan letak ke-geblek-an dari opini tersebut. Dibahas. Ditunjukkan. Diuraikan. Hal semacam ini justru malah menghina intelegensia kita. Seolah-olah kita tidak tahu dan perlu diberitahu. Hentikan! Stop it!

“Tapi kan mungkin ada orang yang tidak paham bahwa opini itu salah”, demikian kata sebuah sanggahan. Ya biarkan saja. Jika orang tersebut memang percaya kepada opini yang geblek itu, dia memang geblek. Apapun penjelasan Anda tidak akan mengubah ke-geblekan-nya. Lupakan untuk memberi pencerahan kepadanya. Dia tidak akan tercerahkan dan Anda malah akan menjadi kesal sendiri. Hentikan! Stop it!

48yclu