Category Archives: Curhat

(Hampir) Seminggu Tidak Ngeblog

Sebagai seorang Indonesia, pertama-tama, saya mohon maaf karena hampir seminggu ini saya tidak ngeblog. (Orang Indonesia biasanya memulai sesuatu dengan minta maaf. hi hi hi.) Hampir seminggu ini saya berada di luar negeri mengikuti konferensi security di Manila, Filipina.

Sebetulnya acara di Manila hanya dua hari, tetapi perjalanan menuju dan kembali dari sananya lebih lama. Masalahnya, saya tinggal di Bandung dan menuju Manila dari Bandung itu ternyata tidak mudah. Skedul sambung menyambung pesawat itu membutuhkan waktu. Perjalanan dimulai hari Senin dari Bandung menuju Singapura. Berangkat siang hari dari Bandung dengan menggunakan Air Asia. Menginap dulu di Singapura karena pesawat Singapura – Manila (menggunakan Jetstar) berangkat pukul 6:30 pagi. Keesokan harinya, Selasa pagi, saya berangkat ke Manila. Perjalanan Singapura – Manila membutuhkwan waktu 3 jam.

Konferensi security┬ádi Manila berlangsung dua hari, yaitu hari Rabu dan Kamis. Saya akan ceritakan isinya di tulisan yang lain ya. Setelah selesai acara, Jum’atnya saya terbang lagi dari Manila ke Singapura. Seharusnya saya menggunakan connecting flight menuju Bandung, tetapi bandara Bandung masih ditutup karena terkait dengan acara Konferensi Asia Afrika (KAA). Akibatnya pesawat saya dibatalkal. Saya menginap lagi di Singapura. Baru besok paginya, Sabtu, terbang lagi dari Singapura ke Bandung. Phew. Hampir seminggu di luar negeri. Total perjalanan empat (4) hari, sementara acaranya sendiri hanya dua (2) hari. Nah tuh.

IMG_8044 flight schedule

Selama di perjalan waktunya mepet untuk ngeblog. Demikian pula pas di acaranya, saya menjadi chairman (yang pada intinya adalah moderator, time keeping, dan yang memastikan acara berjalan). Saya harus fokus kepada presentasi semua peserta. Tidak ada waktu untuk ngeblog. (Tulisan ini pun baru bisa saya buat setelah melewati tengah malam.)


Masalah Band Amatiran

Ada dua hal yang paling susah dalam band amatir ketika manggung, yaitu (1) berhenti bersamaan di akhir lagu, dan (2) recover kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Mari kita bahas yang pertama dahulu, berhenti bersamaan.

Dalam memainkan lagu, memulai secara bersamaan itu relatif lebih mudah. Cara paling gampang adalah kita menghitung, satu dua tiga dan jreng. Mulai. Namun kadang memulaipun bermasalah. Nah, kalau mulainya sudah bermasalah ini tanda-tanda akan bermasalah seterusnya. he he he. Biasanya sih ini tidak masalah.

IMG_7929

[Foto Gen81 Band manggung di Ganesha Night, 17 April 2015]

Lagu sudah mulai dimainkan. Kesulitan muncul pada saat akan berhenti. Bagaimana berhenti di akhir lagu? Ada banyak lagu yang aslinya berhenti dengan menggunakan fade out. Makin lama, makin kecil volume suaranya. Kalau manggung, ini tidak bisa dilakukan. Berhenti harus jreng! Harus bersamaan. Itu susahnya. Sering ada yang berhenti duluan dan ada yang masih mau terus. he he he. Kelihatan repotnya band amatiran itu di sini. hi hi hi.

Yang lebih repot lagi adalah kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Misalnya ada bagian yang harus dimainkan 4 bar. Eh, ini baru 2 bar ada yang sudah pindah ke bagian lain. Nah lho. Bagaimana pemain musik lainnya? Apakah kemudian memaksa untuk memainkan 4 bar? Yang salah ngikut? Atau justru yang lainnya menjadi ngikut hanya 2 bar saja? Masalah recover kalau ada kesalahan itu merupakan yang sering dihadapi. Band yang baru, amatir, biasanya kacau balau kalau ini terjadi. hi hi hi.

Jika dua hal di atas bisa diatasi, maka band terlihat relatif bagus. Setidaknya, kompak! Dan kompak itu susah.


Siapa Yang Mau Harga Naik?

Salah satu keluhan (kritikan) yang banyak muncul akhir-akhir ini adalah tentang kenaikan harga. Dan tentu saja yang disalahkan adalah pemerintah. Maklum, siapa lagi yang bisa disalahkan? hi hi hi.

Ada satu hal yang mungkin terlalu sepele sehingga terlupakan: tidak ada orang yang suka harga bahan pokok naik.

Jangankan orang yang gak punya duit, yang kaya dan punya duit sekalipun saya yakin tidak suka adanya kenaikan harga bahan-bahan pokok. Semua orang punya keluarga dan kadang pegawai (yang membantu pekerjaan). Pastinya semua orang akan merasakan dampak dari kenaikan harga. Jadi, orang yang kayapun akan pusing tujuh keliling.

Pilihan untuk menaikkan harga bukanlah pilihan yang mudah. Ini adalah pilihan yang tidak populer bagi para politisi dan sangat kritis. Jika ada pilihan lain, pastilah mereka akan pilih yang itu karena ini akan berimbas bagi kepopulerannya. Jadi, mengatakan bahwa menaikkan harga adalah jalan yang termudah menurut saya sebetulnya tidak demikian.

Saya juga yakin yang memberikan kritik juga tidak serta merta tidak berusaha. Usaha banyak dilakukan tetapi terkendala dengan kondisi ini. Harga yang naik.

Poin saya sebetulnya adalah ini, bahwa kita bersama-sama menghadapi masalah ini karena masalah ini bukan masalah Anda saja tetapi masalah kita semua. Semoga kita diberi kemudahan untuk melalui masalah ini.


Komitmen, Konsistensi, dan Ketekunan

Dalam berbagai kegiatan – baik itu pendidikan, olah raga, hobby – ada banyak inisiatif yang pada mulanya ramai namun akhirnya kendor. Pada mulanya yang hadir banyakan. Setelah beberapa kali pertemuan – jangankan beberapa kali, 2 atau 3 kali saja – jumlah yang hadir mulai menurun. Setelah itu yang hadir malah justru satu atau dua orang saja. Ha ha ha. (Saya pernah mengajar kuliah dengan jumlah mahasiswa yang menurun dengan drastis. Nama mata kuliahnya adalah “Metoda Formal” – Formal Methods. Jumlah yang mendaftar dapat dihiutung dengan jari tangan. Satu tangan saja.)

Komitmen pada kelompok (untuk ikut aktif), konsistensi dalam hal kehadiran, dan ketekunan untuk tetap menekuni ilmu dan skill tersebut merupakan hal yang ternyata langka. Instan memang lebih menarik.

Banyak yang bertanya mengapa blog saya ini ramai dikunjungi. Ya, karena ketiga hal di atas itu (dalam hal menulis di blog). Tidak terlalu susah secara teori, tetapi susah untuk dipraktekkan. Hal yang terlihat mudah dan sederhana sering diremehkan sehingga tidak dilakukan. Bagi yang terbiasa dengan hal-hal yang instan, ini merupakan hambatan yang luar biasa.

Bagi Anda-Anda yang aktif menyelenggarakan kegiatan, jangan kecewa atau putus asa jika kehadiran dari para peserta anjlok dan bahkan mungkin tinggal hanya Anda sendiri. hi hi hi. Anda tidak perlu membuktikan kepada orang lain. Anda hanya perlu meyakinkan kepada diri Anda sendiri.

Saya bermain futsal dengan kawan-kawan sudah bertahun-tahun (rasanya sudah lebih dari 7 atau 8 tahun). Saya futsal bukan untuk cari prestasi tapi cari olah raganya. Kadang yang datang belasan orang (cukup untuk 3 tim), kadang pernah hanya 3 orang – yang akhirnya harus bujukin orang-orang lain untuk bergabung. Saya mencoba untuk tetap rutin melakukannya.

Mengajar (atau presentasi) juga demikian. Mau yang datang 100 orang atau hanya 1 orang, tetapi saya layani dengan semangat yang sama. Bermain musik juga sama. Membuat dan menjalankan perusahaan (usaha) juga sama. Terlalu banyak tantangan untuk membuat kita berhenti. Terlalu banyak alasan atau pembenaran untuk membuat kita tidak tekun.


Hari Terbaik Untuk Ngeblog

Berdasarkan statistik yang saya miliki dari blog ini, hari yang terbaik untuk menuliskan (menampilkan) blog adalah Senin pagi menjelang siang. Orang terbanyak mengakses blog ini menjelang atau sekitar makan siang.

Meskipun akses internet bisa lewat handphone pribadi, nampaknya orang masih banyak mengakses internet – setidaknya, blog – dari kantor atau kampus. Itulah sebabnya, setelah liburan Sabtu dan Minggu, orang kembali ke kantor untuk memulai kerja. Pas jam makan siang mereka mau istirahat, menghela nafas sejenak. Ini waktu untuk membuka blog. Nah, jika Anda ingin mendapatkan traffic terbaik ke blog Anda, tampilkan pas jam makan siang hari Senin.

Hari Senin juga merupakan hari kerja yang paling bahagia. Katanya. Setelah kita di-charge pada weekend, maka hari Senin masih ada sisa kebahagiaan … he he he. Sebelum dihajar oleh pekerjaan, kuliah, dan tugas-tugas lainnya. Jadi, kalau mau nagih hutang, lakukan hari Senin. Mumpung masih bahagia. wk wk wk.

Sayangnya, hari Senin (dan Selasa) bagi saya di semester ini adalah hari yang paling sibuk! Dari pagi sampai malam ada saja pekerjaan yang harus saya selesaikan. Akibatnya, saya tidak bisa ngeblog di prime time. uhuk. Tulisan ini saja saya buat di antara kesibukan (sehabis ngajar, sebelum mentoring / bimbingan mahasiswa). Begitulah ceritanya.


Menuliskan Konsep

Mengapa ya kita – orang Indonesia – kurang suka menulis? Ada yang mengatakan ini budaya. Bukankah budaya dapat kita ubah? Jika kita mau berubah tentunya. Atau, memang sesungguhnya kita tidak ingin berubah?

Saya sering menugaskan mahasiswa untuk menulis. Hasilnya kurang maksimal. Mahasiswa ternyata tidak siap untuk menulis. Saya perhatikan juga tulisan-tulisan mereka yang seharusnya formal tetapi keluarnya menjadi “alay“. hi hi hi.

Saat ini mahasiswa sedang ramai berdemo. Berteriak-teriak menyuarakan ini dan itu. Saya belum melihat mereka menghasilkan semacam “buku putih”, atau apalah, yang berisi konsep pemikiran mereka tentang apa-apa yang terjadi saat ini dan kemungknan solusinya. Saya tidak tahu apakah masalahnya hanya pada penulisannya saja atau – malah lebih menyeramkan lagi – mereka tidak memiliki konsep. Ah, bahkan membuat memikirkan soal konsep pun mungkin bangsa kita sudah tidak sanggup. Kering.

Mengkhayal? Mungkin itu pun sudah merupakan sebuah hal yang “mahal”. Padahal mengkhayal merupakan hal yang paling murah dan mudah.

Mungkin harapan saya agar mereka (kita?) mulai menulis konsep dengan baik terlalu berlebihan. Berteriak-teriak memang lebih mudah.


Masalah iPhone

iPhone 5 saya mulai bermasalah. Batrenya mulai terasa cepat habis. Pagi hari batre penuh 100% (karena sudah dicharge semalam). Siang-siang batrenya sudah di bawah 50%. Bahkan kadang-kadang pukul 2 siang batre sudah tinggal 20%. Hadoh!

Memang iPhone ini saya gunakan untuk mengakses messaging (whatsapp, telegram) dengan menggunakan layanan 3G (dari sebuah operator yang tidak perlu saya sebutkan namanya). Selain messaging itu, rasanya tidak ada aplikasi lain yang saya gunakan secara penuh. Kadang, kalau lagi iseng aja, saya jalankan Nike+ yang menyalakan GPS dan ini sudah pasti menguras batre lebih deras lagi. Semua saya matikan kecuali 3G itu saja. Saya menduga efek dari sinyal operator yang bermasalah (kecil, kadang hilang) di tempat saya berada juga ikut andil dalam menguras batre.

Saya beli kabel untuk nge-charge iPhone 5 saya. Kabel aslinya mulai bermasalah (putus). Eh, iPhone ini gak mau dengan kabel yang murah meriah. Yang harganya 75 ribu rupiah tidak mau. Terpaksa saya beli yang 200 ribu. Kabel ini berjalan baik dengan charger-nya meskipun kadang muncul pesan yang mengatakan bahwa perangkat ini (kabel?) tidak didukung. Ngechage tetap jalan. Jadi saya tidak peduli. Sampai saya beli power bank. Eh, ternyata kalau saya pasang dengan kabel ini dia hanya ngecharge beberapa detik kemudian off lagi. Saya harus cabut dan pasang kabelnya lagi untuk ngecharge (beberapa detik) kemudian off lagi. Hayaaahhh. Mosok saya harus beli kabel asli dan power bank yang lebih bagus???

Saya baca-baca memang kayaknya masalah batre ini masalah umat manusia. he he he. Namun saya merasa kok iPhone saya ini seharusnya bisa lebih baik dari kondisi yang ada saat ini.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.226 pengikut lainnya.