ya mbok google dulu

muncul lagi. itu klaim kepakaran seseorang yang tak berbasis.
aneh juga di jaman internet ini orang malas mencari informasi.
ya mbok google dulu.

banyak yang mewawancara saya tanpa mengetahui siapa saya.
lakukan pekerjaan rumah dahulu.
ya mbok google dulu.

pak budi tahu sistem operasi bernama linux?
ya mbok google dulu.
(yang ini mungkin tidak ketemu karena informasi untuk kalangan terbatas?)

Masih Tak Berpuisi

Masih belum berhasil membuat lirik lagu atau puisi yang bagus. Bagaimana mau bisa? Wong latihan juga jarang atau tidak pernah. Ha ha ha. Ini seperti ingin menjadi programmer yang handal tapi jarang membuat kode.

Ya, ya, ya, saya tahu saya harus sering latihan menulis. Terlalu banyak alasan untuk tidak menulis. Tadinya blog ini merupakan salah satu tempat latian saya untuk menulis. Dojo-nya saya. Tapi saya terlalu malu untuk menampilkan kedunguan saya di sini. Ha ha ha.

(Mencari kertas untuk dicorat-coret dulu dan kemudian dibuang.)

Online Terus

Salah satu efek dari COVID-19 ini ternyata adalah makin banyaknya diskusi / seminar / talkshow / acara-acara daring (online). Kalau dahulu saya banyak menolak acara karena datang secara fisik membutuhkan waktu. Sekarang semuanya dapat dilakukan secara daring sehingga tidak bisa menolak. Tidak ada alasan untuk menolak. Ha ha ha.

Seberapa sibuknya atau seberapa seringnya? Berikut ini saya tampilkan contoh-contoh poster acara-acara saya.

digitalisasi kopi BR Ferly

ITEBA BR pelatihan IoT

Beberapa acara ini ada yang terbuka untuk publik dan ada juga yang tertutup. Untuk yang terbukan biasanya saya sampaikan di Facebook & Twitter saya. Sementara itu yang tertutup, ya tentu saja tidak dapat saya bagikan. Ataupun kalau mau diceritakan biasanya saya ceritakan setelah acaranya selesai. Ha ha ha.

Jadi kalau saya katakan bahwa saya sibuk, ya betulan sibuk. Lihat saja itu ada yang acaranya Sabtu malam atau Minggu malam. Itu sebetulnya karena saya sudah tidak bisa pada hari-hari lainnya. Begitu.

Semangat!

Mendokumentasikan Sejarah Internet Indonesia

Minggu lalu saya terlibat dalam sebuah diskusi online tentang “sejarah internet Indonesia”. Salah satu usulan yang muncul adalah bagaimana jika kita mendokumentasikan ini dalam bentuk buku. Jawaban saya pada waktu itu adalah orang Indonesia kurang suka membaca, jadi mungkin lebih baik sejarah itu didokumentasikan dalam bentuk video saja yang kemudian dapat diunggah ke YouTube.

Di video saya tersebut ada beberapa yang berkomentar bahwa dokumentasi dalam bentuk tulisan (buku, blog, wiki, dll.) masih tetap dibutuhkan. Memang benar. Ada orang-orang yang lebih suka membaca daripada melihat video. Lagi pula membaca bisa langsung menuju ke poin yang dicari. Tulisan juga lebih ringan (dari sisi penggunaan bandwidth). Maklum internet di Indonesia masih terbatas kualitasnya.

Nampaknya suatu saat saya perlu juga bercerita di blog ini tentang perjalanan saya – keterlibatan saya – dengan perkembangan internet di Indonesia dan dunia. Nah, masalahnya waktu untuk menuliskannya itu. Eh, tapi ini menarik tidak ya? Sekarang yang mengunjungi blog ini juga makin menurun. ha ha ha.

Membahas Opini Geblek

Jika ada sebuah opini yang jelas-jelas “geblek“, sebaiknya tidak usah dibahas. Aneh juga melihat orang-orang membahas opini tersebut, menunjukkan letak ke-geblek-an dari opini tersebut. Dibahas. Ditunjukkan. Diuraikan. Hal semacam ini justru malah menghina intelegensia kita. Seolah-olah kita tidak tahu dan perlu diberitahu. Hentikan! Stop it!

“Tapi kan mungkin ada orang yang tidak paham bahwa opini itu salah”, demikian kata sebuah sanggahan. Ya biarkan saja. Jika orang tersebut memang percaya kepada opini yang geblek itu, dia memang geblek. Apapun penjelasan Anda tidak akan mengubah ke-geblekan-nya. Lupakan untuk memberi pencerahan kepadanya. Dia tidak akan tercerahkan dan Anda malah akan menjadi kesal sendiri. Hentikan! Stop it!

48yclu

Kesibukan Minggu Ini

Saya punya banyak kerjaan, tapi tidak punya waktu
Kamu punya banyak waktu, tapi tidak punya pekerjaan

Masih soal kesibukan. Minggu ini – eh, sebetulnya sudah dimulai dari beberapa hari yang lalu – adalah urusan pemrograman. Kami mendapat tugas untuk melakukan porting teknologi AI Face Recognition kami ke komputer yang menggunakan CPU berarsitektur ARM 64-bit. Ini barang baru sehingga banyak pustaka (library) dan kakas (tools) yang belum tersedia. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah.

Saya sedang baca-baca blognya Ariya (di sini) tentang cross-compiling. Jadi saya melakuan proses perakitan (compiling) di komputer saya – yang menggunakan CPU Intel x86 – untuk target perangkat yang menggunakan ARM 64-bit itu. Tulisan Ariya Hidayat ini sangat bagus dan mudah dimengerti oleh saya. Terima kasih.

Di luar tugas ini saya masih harus memberikan presentasi di sana-sini. Kalau sekarang “di sana-sini” ini hanya secara virtual. Saya-nya sendiri masih tetap di rumah. Ha ha ha. Jangan salah, lelahnya tetap sama. Bahkan kadang saya merasa memberikan presentasi secara virtual ini lebih melelahkan daripada memberikan presentasi secara fisik. Mungkin ini hanya perasaan saya saja.

Sekarang saya harus kembali bekerja, memeriksa beberapa dokumen yang harus saya baca dan koreksi. Plus masih ada kerjaan kodingan lainnya. uhuk.

Minggu Pagi

Hari Minggu ini mau ngapain ya? Eh, ternyata ada banyak hal yang harus dikerjakan. Ha ha ha. Mau leha-leha jadi tidak bisa. Oke lah. Mari kita buat hari Minggu ini menjadi produktif. Santai tapi produktif. Jreng!

107791339_10157446825826526_1567370339887067067_o

Jadinya pagi ini dimulai dengan memikirkan kode. Ada sebuah tugas untuk melakukan parsing data absensi. Data ini dari sistem absensi yang berbasis teknologi Face Recognition yang kami kembangkan. Data ada di sistem dan sekarang data ini harus dibuat menjadi laporan (untuk diteruskan ke bagian SDM). Maka mulai menyingsingkan lengan baju dan mulai ngoprek Python, Pandas, dan seterusnya.

Berhenti sejenak. Ada rekomendasi untuk membaca buku “Surveillance Capitalism” karangan Shoshana Zuboff (profesor Harvard). Hmmm. Saya memang banyak terlibat dalam pengembangan teknologi yang dapat digunakan untuk melakukan surveillance. Nampaknya harus membaca buku yang memberikan kritik terhadap kegiatan ini. Sementara ini lihat videonya dahulu.

Terus ada lagi kebutuhan untuk mencoba portability dari kode biner yang dihasilkan dengan menggunakan  bahasa Golang. Komputer desktop saya menggunakan Linux Mint yang sudah agak kadaluwarsa, tetapi compiler toolset saya termasuk yang terbaru. Jadi saya menggunakan desktop ini untuk menghasilkan kode yang belum tentu dapat jalan di tempat lain. Ada sebuah alat (digital signage) yang saya kembangkan. Nah, saya harus cek dulu apakah kode-kode saya dapat berjalan di sana. Kode ini membutuhkan OpenCV pula untuk membaca kamera.

Oh ya, tadi sempat memperbaharui web site saya (budi.rahardjo.id) dengan data mahasiswa bimbingan saya. Belum semua. Tadi baru sempat upload satu tesis mahasiswa bimbingan. Mengerjakan seperti ini membutuhkan waktu juga. Ada 3 mahasiswa saya yang baru lulus. Harus saya upload semua tesisnya agar dapat digunakan oleh seluruh masyarakat.

Dan masih banyak lainnya, yang kalau saya tuliskan dapat menghabiskan hari Minggu saya. Whoa!

Jadi saya masih terheran-heran dengan adanya orang yang tidak tahu harus ngapain. Saya tidak punya waktu untuk mengerjakan hal-hal yang ingin (dan harus) saya kerjakan. Sementara mereka bisa leha-leha. Nampaknya saya salah memilih lifestyle? ha ha ha

Kesibukan Multi-dimensi

Mungkin sudah bosan mendengarkan alasan saya soal sibuk ya? Habis bagaimana lagi? Ini alasan sesungguhnya. Untuk mengetahui saya sibuk atau tidak, tinggal lihat blog ini (dan facebook). Kalau tidak ada update, artinya saya (super) sibuk.

Masalahnya saya mengerjakan banyak hal dalam satu saat. Ya memang karena saya orangnya seperti itu. Sebagian besar orang memang tidak demikian. Good for them (you). Ini adalah kekuatan saya dan juga my curse.

Hal yang saya kerjakan juga biasanya pada domain yang berbeda sehingga memang tidak terdeteksi kalau Anda (atau orang lain) hanya berada pada domain atau dimensi tersebut. Ada dimensi blog (yang ini). Ada dimensi YouTube, Twitter, WA, Telegram, dan dunia nyata. Di dunia nyatapun ada macam-macam lagi; futsal, musik, kuliah, profesional, komunitas, hobby (programming dll.). Saya pun paham tidak ada orang yang tertarik untuk mengikuti dimensi-dimensi saya itu. Paling banter hanya 2 dimensi saja.

BR sibuk

Banyak orang yang akhirnya kalau menghubungi saya via WA / email dan tidak mendapat jawaban maka dalam benaknya saya tidak mau merespon. Sebetulnya bukan itu. Yang lebih tepat adalah saya tidak dapat merespon lagi karena WA-nya sudah terdesak ke bawah oleh pesan-pesan baru lainnya. Solusinya bagaimana? Ya kirim pesan lagi saja. Ha ha ha.

Saya harus kembali ke dunia nyata dulu. Baru saja merusakkan printer di Sabtu pagi ini. Kesal. Ya sudah. Menertawakan diri dulu saja.

Belajar Tidak Selalu Berhasil

Seharian ini saya mencoba ngoprek pemrograman lagi. Coding. Sebetulnya saya hanya ingin mencoba menggunakan bahasa pemrograman Golang untuk membaca webcam saya melalui OpenCV. Masalahnya versi OpenCV yang didukung Golang adalah versi terbaru yang tidak ada di komputer saya. Artinya saya harus mengunduh dan merakit (compile) sendiri. Oke lah.

Dahulu saya biasa merakit sendiri berbagai paket program dari kode sumbernya. Tidak masalah. Namun sekarang ternyata proses perakitannya menjadi lebih kompleks. Ini disebabkan kode sumbernya juga semakin kompleks dan platform yang digunakan orang juga bervariasi sehingga ada banyak konfigurasi yang harus dilakukan. Ternyata konfigurasi bawaan dari paket ini tidak cocok dengan sistem operasi yang saya gunakan (Linux Mint 18.1 Serena).

Setelah ngoprek nyaris seharian – dari pagi sampai menjelang Maghrib ini – ternyata hasilnya tidak ada, alias gagal. Ya begitulah. Belajar kadang memang harus seperti ini. Banyak gagalnya dahulu. Tidak selalu harus berhasil. Kesel memang. (Ini ngetiknya juga sambil kesel.) Habis mau gimana lagi? Keselnya saya adalah karena menghabiskan waktu yang seharusnya dapat saya gunakan untuk belajar yang lainnya. Grrr.

Anggap saja ini adalah upaya saya untuk menambah “jam terbang” ngoprek Linux. (Padahal saya ngoprek Linux sejak pertama kali dia dibuat Linus. ha ha ha.)

Berikut layar terakhir hari ini sebelum saya berhenti dulu. “100% tapi gagal”. Heu.

Oh ya, versi videonya ada di YouTube channel saya. Ini dia.

Bekerja Adalah Bergembira

Bagi sebagian besar orang (?), bekerja adalah hukuman. Bekerja adalah penderitaan. Ini karena dalam kepalanya di bekerja karena terpaksa. Padahal ini dapat diubah dengan cara pikir yang berbeda dan dengan sedikit keberuntungan.

Setiap orang pasti punya kesenangan. Setidaknya, sebagian besar orang lah. Soalnya saya pernah melihat sebuah video tentang seseorang yang tidak punya keinginan apa-apa. Agak aneh, tapi ada. Untungnya ini bukan sebagian besar orang. Katakan ada orang yang suka mencoba berbagai makanan. Eh, ternyata dapat pekerjaan untuk menguji berbagai makanan. Lah cocok banget. Ada orang yang senang main bola basket (sepak bola) dan kemudian dibayar untuk main bola basket (sepak bola). Dan seterusnya. Sangat menyenangkan bukan?

Tadinya mau bilang bahwa kalau bekerja malah merasa tertekan, sebaiknya pindah tempat kerja. Tapi, jaman sekarang ini susah mendapat pekerjaan. Ya kalau dapat pekerjaan, disyukuri saja dan serius dalam bekerja. Itu sebabnya sangat beruntung bagi orang yang mendapatkan kerja sesuai dengan minat atau hobbynya. Beruntung. Lucky.

Maka, bekerja adalah bergembira.

Oh ya, ada video saya tentang hal ini di channel YouTube saya. (Ayolah subscribe. ha ha ha.) Video ini menyitir soal bekerja di startup seperti yang saya lakukan. Ketika orang lain berlibur, ini saya malah bekerja. Soalnya, bekerja itu menyenangkan. Itu video dibuat ketika tanggalan merah.

If work is so much fun, why take a holiday.

Kebalik Hari

Ceritanya saya sering mengalami kejadian seperti ini. Terbangun tengah malam dengan sebuah ini. Seperti sekrang ini. Ini pukul 1:45 pagi. Ada banyak ide yang muncul. Misalnya, ide pemrograman, pengembangan produk, dan maunya langsung kontak kawan-kawan dan pengembang untuk mengeksekusi ide-ide tersebut. Tapi ini tidak mungkin karena semua sedang tertidur. Apa yang saya lakukan? Terpaksa semua ini saya catat di kertas atau buku catatan.

Masalahnya adalah kalau saya kerjakan terus, bisa-bisa ini bablas sampai Subuh. Sebetulnya ini tidak apa-apa kalau pagi hari bisa tidur. Kebalik. Ini tidak bisa saya lakukan karena pukul 8 pagi besok saya mengajar. Ha ha ha. Dan acara besok itu dari pukul 8 pagi itu berlangsung sampai pukul 3 siang. Non-stop. (Kalau dahulu malah diteruskan dengan futsal sampai pukul 6 malam.)

Ini juga nekad ngeblog karena kalau ditunda-tunda, maka ini menjadi tambahan hal yang perlu dilakukan besok pagi. (Padahal sekarang sudah pagi.) Ini menjadi sebuah baris di dalam buku catatan saya. Sekalian saja saya ngeblog supaya tidak menjadi catatan itu. Done.

Masih menimbang-nimbang tetap kerja atau kembali tidur. Selamat malam. Eh, selamat pagi.

Mencari Orang Data

Salah satu masalah dalam penanganan COVID-19 adalah data. Lagi-lagi data. Tidak ada data. Kurang data. Akurasi data dipertanyakan. Kenapa data lambat sampai? Dan seterusnya. Data terkumpul dalam betuk “silo-silo”. Terkotak-kotak.

Sebetulnya ini bukan masalah pertama (dan bukan yang terakhir) di Indonesia. Masih ingatkah kita tentang data Pemilu? Awalnya juga kita kesulitan data. Namun dengan adanya kawalpemilu, crowdsourcing data, maka keterbukaan data dan juga peningkatan kualitas data (ini asumsi saya) menjadi lebih baik.

Permasalahan utama yang saya perhatikan adalah di Indonesia ini saya kesulitan menemukan orang yang suka dengan data. Apalagi mencari orang yang senang dan dapat melakukan kurasi data. Susah sekali. Kita tidak terlalu peduli dengan data. Hard facts. Kita sering mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Ya ampun memang.

Pada suatu ketika (belasan tahun yang lalu), salah satu institusi tempat saya berada mencari orang untuk mengelola web site kami. Maka kami meminta sebuah biro psikologi untuk melakukan proses seleksi. Salah satu kriteria (bahkan yang utama) adalah suka melakukan kurasi data. Akhirnya kandidat yang kami terima memang cocok. Web site selalu up to date. Tanpa instruksipun dia lakukan proses kurasi.

Nah, sudah berapa lama ini saya membayangkan punya spin-off perusahaan yang melakukan kurasi data set (untuk training AI). Ah, nampaknya ini butuh usaha yang lebih keras.

Antrian Tulisan

Ada banyak topik dalam antrian tulisan saya, tetapi nampaknya antrian ini malah makin bertambah bukan makin berkurang. Pasalnya sekarang saya lebih suka membuat video dan memasangnya di channel YouTube saya. Bukan karena apa-apa, tapi ternyata membuat video lebih mudah bagi saya. Tinggal shoot (tanpa retak), potong depan dan belakangnya. Upload. Selesai.

Sebetulnya ada banyak yang masih harus saya tuliskan karena di video masih banyak yang tertinggal. Saya tidak bisa bercerita lama di video. Itupun sudah lama (belasan menit dari target 5 menitan). Maka seharusnya detail dari apa yang saya ceritakan tersebut bisa dituliskan di sini. Ya itu tadi, masalahnya topik-topik tersebut masuk ke dalam antarian juga. Jadinya akan lambat keluarnya.

Mungkin saya harus memulai kembali menuliskan topik-topik tersebut, meskipun sedikit. Toh nanti tulisan-tulisan ini dapat disunting ulang. Video susah untuk disunting lagi. Hanya saja, saya jarang menyunting ulang tulisan. Sama seperti di video. Sekali tulis, ya sudah.

Kembali ke laptop dulu. Semoga ada paksaan saya untuk lebih banyak menulis lagi.