Kebalik Hari

Ceritanya saya sering mengalami kejadian seperti ini. Terbangun tengah malam dengan sebuah ini. Seperti sekrang ini. Ini pukul 1:45 pagi. Ada banyak ide yang muncul. Misalnya, ide pemrograman, pengembangan produk, dan maunya langsung kontak kawan-kawan dan pengembang untuk mengeksekusi ide-ide tersebut. Tapi ini tidak mungkin karena semua sedang tertidur. Apa yang saya lakukan? Terpaksa semua ini saya catat di kertas atau buku catatan.

Masalahnya adalah kalau saya kerjakan terus, bisa-bisa ini bablas sampai Subuh. Sebetulnya ini tidak apa-apa kalau pagi hari bisa tidur. Kebalik. Ini tidak bisa saya lakukan karena pukul 8 pagi besok saya mengajar. Ha ha ha. Dan acara besok itu dari pukul 8 pagi itu berlangsung sampai pukul 3 siang. Non-stop. (Kalau dahulu malah diteruskan dengan futsal sampai pukul 6 malam.)

Ini juga nekad ngeblog karena kalau ditunda-tunda, maka ini menjadi tambahan hal yang perlu dilakukan besok pagi. (Padahal sekarang sudah pagi.) Ini menjadi sebuah baris di dalam buku catatan saya. Sekalian saja saya ngeblog supaya tidak menjadi catatan itu. Done.

Masih menimbang-nimbang tetap kerja atau kembali tidur. Selamat malam. Eh, selamat pagi.

Mencari Orang Data

Salah satu masalah dalam penanganan COVID-19 adalah data. Lagi-lagi data. Tidak ada data. Kurang data. Akurasi data dipertanyakan. Kenapa data lambat sampai? Dan seterusnya. Data terkumpul dalam betuk “silo-silo”. Terkotak-kotak.

Sebetulnya ini bukan masalah pertama (dan bukan yang terakhir) di Indonesia. Masih ingatkah kita tentang data Pemilu? Awalnya juga kita kesulitan data. Namun dengan adanya kawalpemilu, crowdsourcing data, maka keterbukaan data dan juga peningkatan kualitas data (ini asumsi saya) menjadi lebih baik.

Permasalahan utama yang saya perhatikan adalah di Indonesia ini saya kesulitan menemukan orang yang suka dengan data. Apalagi mencari orang yang senang dan dapat melakukan kurasi data. Susah sekali. Kita tidak terlalu peduli dengan data. Hard facts. Kita sering mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Ya ampun memang.

Pada suatu ketika (belasan tahun yang lalu), salah satu institusi tempat saya berada mencari orang untuk mengelola web site kami. Maka kami meminta sebuah biro psikologi untuk melakukan proses seleksi. Salah satu kriteria (bahkan yang utama) adalah suka melakukan kurasi data. Akhirnya kandidat yang kami terima memang cocok. Web site selalu up to date. Tanpa instruksipun dia lakukan proses kurasi.

Nah, sudah berapa lama ini saya membayangkan punya spin-off perusahaan yang melakukan kurasi data set (untuk training AI). Ah, nampaknya ini butuh usaha yang lebih keras.

Antrian Tulisan

Ada banyak topik dalam antrian tulisan saya, tetapi nampaknya antrian ini malah makin bertambah bukan makin berkurang. Pasalnya sekarang saya lebih suka membuat video dan memasangnya di channel YouTube saya. Bukan karena apa-apa, tapi ternyata membuat video lebih mudah bagi saya. Tinggal shoot (tanpa retak), potong depan dan belakangnya. Upload. Selesai.

Sebetulnya ada banyak yang masih harus saya tuliskan karena di video masih banyak yang tertinggal. Saya tidak bisa bercerita lama di video. Itupun sudah lama (belasan menit dari target 5 menitan). Maka seharusnya detail dari apa yang saya ceritakan tersebut bisa dituliskan di sini. Ya itu tadi, masalahnya topik-topik tersebut masuk ke dalam antarian juga. Jadinya akan lambat keluarnya.

Mungkin saya harus memulai kembali menuliskan topik-topik tersebut, meskipun sedikit. Toh nanti tulisan-tulisan ini dapat disunting ulang. Video susah untuk disunting lagi. Hanya saja, saya jarang menyunting ulang tulisan. Sama seperti di video. Sekali tulis, ya sudah.

Kembali ke laptop dulu. Semoga ada paksaan saya untuk lebih banyak menulis lagi.

Bugar Setelah Mandi

Salah satu tips bekerja di rumah dari saya adalah mandi sebelum bekerja. Biarpun di rumah, mandi dulu lah. Ini membuat kita segar dan bersemangat untuk bekerja.

Hari ini saya merasa kurang fit. Agak lemas. Dan memang semalam perut agak berontak. Puasa saat ini merupakan tantangan besar bagi saya. Setelah istirahat sejenak, saya memulai hari dengan mandi dulu. Segar. Semoga badan menjadi lebih fit lagi. Setidaknya, semangatnya sudah naik dahulu. Yihaaa…

Bagi saya, mandi membuat badan segar dan meningkatkan semangat. Jika saya ke Jakarta menggunakan kereta api dan kembali ke Bandung menggunakan kereta api lagi, saya mandi dulu di stasiun Gambir. Ada tempat mandi yang lumayan bagus. Bayar Rp. 75 ribu sih, tapi ini membuat saya segar kembali. Naik kereta api menuju Bandung tinggal tidur di kereta api. Segar.

Tapi ini kan opini saya. Ada banyak orang – malah mungkin lebih banyak – yang tidak suka mandi. Ha ha ha. Bagi mereka, mandi adalah hukuman. Oh well.

Kacamata Baca

Pas lagi seru-serunya mengurung diri di rumah – work from home, bekerja dari rumah – kacamata baca patah. Ini sudah yang kesekian kalinya. Maklum kacamata baca biasanya saya beli di depan masjid setelah selesai Jum’atan. (Pertanyaan: kenapa ya selalu ada yang jualan kacamata di emperan masjid setelah habis jumatan?)

Harga kacamata baca di emperan gini murah meriah, mulai dari Rp. 25 ribu sampai Rp. 50 ribu. Kalau beli di toko (yang bukan toko kacamata) harganya sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 75 ribu. Kalau di optik, kacamata yang beneran ya harganya mahal. Saya pernah punya yang harganya Rp. 1 juta. Memang rasa dan kualitasnya beda. Ada harga, ada kualitas.

Saya dapat membeli kacamata baca dimana saja ini karena kemungkinan mata saya tidak ada silindris. Jadi tinggal dikonversi saja dengan usia. Saya tinggal sebutkan usia, penjualnya sudah tahu rentang ukuran kacamatanya. Sekarang saya menggunakan plus 2. Anda bisa menduga usia saya. Ha ha ha.

Karena sekarang sedang ada wabah virus corona, maka orang-orang diharapkan tetap tinggal di rumah. Jum’atan pun diharapkan tidak dilakukan di masjid dan dilakukan di rumah (dengan menggantinya menjadi shalat Dzuhur). Maka alternatif saya adalah mencari kacamata di toko seperti Borma atau Ace hardware. Tapi ya itu tadi, kalau boleh tidak bepergian lebih baik tidak pergi.

Belanja online! Ini adalah alternatif yang menarik. Maka mulailah kami melihat di berbagai situs online. Maka ketemu yang jualan kacamata baca yang harganya Rp. 22 ribu. Penjualnya kebetulan di Lembang. Jadi langsung kami pesan. Waktu itu weekend sehingga tidak dikirim dengan segera. Senin hari kacamata datang. Kami pesan tiga buah. Langsung saya cuci dengan sabun.

Kacamata baca murah meriah

Pagi ini saya coba. Hasilnya oke lah. Sesuai dengan harapan saya, yaitu tidak terlalu tinggi. Selama kacamata ini dapat dipakai dan dapat bertahan lebih dari sebulan, dia sudah bagus. Ini sama dengan kacamata yang biasanya saya beli di depan masjid. Jadi saya senang.

Kesimpulannya adalah … direkomendasikan. Recommended.

Semakin Sibuk

Dengan adanya kasus virus corona ini, banyak orang yang harus bekerja dari rumah (work from home). Banyak orang yang sudah mulai bosan berada di rumah karena tidak ada lagi yang dapat dikerjakan. Sementara itu saya malah kebalikannya. Semakin banyak kerjaan. Semakin sibuk.

Kalau dahulu ada banyak kerjaan yang membutuhkan saya hadir di sebuah tempat, misalnya untuk rapat ini dan itu. Seringkali saya tidak dapat ikutan dengan alasan saya tidak ada di tempat atau saya sedang berada jauh dari tempat rapat tersebut. Nah sekarang saya tidak punya alasan itu lagi. Semua rapat dilakukan secara online (daring). Jadi alasan saya yang dahulu, batasan fisik, tidak dapat digunakan. Saya harus cari alasan lain, misalnya internet lambat?

Ada statistik yang mengatakan bahwa kalau dahulu bekerja adalah 9 jam sehari sekarang – di tengah-tengah kasus virus corona – malah jadi 11 jam/hari. Hadoh. Nampaknya ini yang terjadi dengan saya. Jadi tambah sibuk.

Ada banyak hal yang menarik yang ingin saya tuliskan di blog ini, tetapi masalahnya adalah tidak sempat. Nampaknya justru alasan ini malah dapat saya gunakan untuk (tidak menulis di) blog ini. Ha.

Kebanjiran Informasi

Salah satu masalah – di antara banyak masalah lainnya – pada masa kini adalah kebanjiran informasi. Saat ini setiap orang ingin meneruskan (forward, share) informasi-informasi yang terkait dengan virus korona dan penyakit yang terkait (corona virus, covid-19). Di setiap media sosial dan terutama group WA (WhatsApp) ada banyak informasi.

Ada beberapa group WA yang ketika saya membuka handphone terlihat lebih dari 300 pesan yang belum terbaca. Sebetulnya mungkin lebih dari 500 pesan. Saya buka group WA tersebut, bukan untuk membaca, tetapi untuk scroll sampai di akhir group supaya semua pesan ditandai sudah dibaca kemudian saya keluar. Sejam kemudian saya buka handphone lagi dan ada 300 pesan lagi yang belum dibaca dari group tersebut. Ini baru satu group WA. Bayangkan saya (dan Anda) masuk ke banyak group WA.

Idenya memang baik. Semua ingin berbagi informasi. Sayangnya informasi tersebut tidak disaring dengan baik. Begitu dapat sebuah informasi / pesan, langsung diteruskan ke berbagai group. Boleh jadi di group tersebut sudah ada pesan yang sama. Anggota dari group tersebut kemungkinan besar juga sudah mendapatkan pesan yang sama dari group-group lainnya.

Banjir informasi. Banjir, banjir, banjir. Yang namanya banjir tidak ada yang bagus.

Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari berbagai group WA yang terlalu banyak memberikan pesan. Toh tidak manfaat juga bagi saya karena tidak saya baca pesan-pesannya.

Bagi Anda yang ingin berbagi pesan, sebaiknya tahan dulu satu atau dua hari (bahkan kalau pakem saya sih tunggu 3 hari) sebelum meneruskan pesan tersebut. Selektiflah dalam berbagi,