Sibuk

Iya, iya, iya. Saya sudah agak lama tidak menulis di blog ini. Alasan saya – sama seperti orang lain – masih tetap klasik, sibuk. Whoaaahhh. Iya. Beneran.

Menulis blog tadinya merupakan satu-satunya saya mengungkapkan ide. Ternyata sekarang lebih mudah menggunakan video. Dahulu, jaringan internet masih lambat (dan komputernya juga masih lambat) sehingga untuk membuat video masih susah. Sekarang tinggal rekam – dan kalau perlu edit sedikit – selesai.

Ini contoh video yang saya buat dan langsung upload ke channel saya di YouTube. Ya, vlog pertama saya.

Saya termasuk yang membuat video dalam satu take. One shot. That’s all. Sekali jadi. Tidak ada ambil ulang. Saya paham bahwa kebanyakan orang membuat video dengan melakukan pengambilan berkali-kali. Agar sempurna tentunya. Akibatnya, membuat video masih lebih sulit dari sekedar menulis.

Untuk menulis blog ini saya harus menunggu sampai saya berada di depan komputer untuk waktu yang agak lama. Membuka internet, kemudian mengetikkan tulisannya. Hal ini agak sulit untuk dilakukan sambil berjalan. Saya juga masih sulit untuk menulis dengan mengunakan handphone. Saya harus menulis dengan menggunakan keyboard dalam ukuran sebenarnya. Ini juga yang membuat saya menjadi lambat menulis di blog.

Baiklah. Sudah saya jelaskan mengapa saya lambat memperbaharui blog ini. Mengenai kesibukan saya, akan saya ceritakan di sini. Atau … malah di channel YouTube saya? ha ha ha. Ya jadinya malah tambah lambat update ini dong.

Iklan

Pakaian dan Perlakuan

Perlakuan seseorang terhadap kita bergantung pada pakaian yang kita pakai. Seharusnya sih tidak begitu banget, tetapi itulah kenyataan. Kalau kita pakai pakaian keren (baca: mahal), maka kita akan mendapatkan perlakuan spesial. Sementara itu kalau kita berpakaian gembel, maka kita akan mendapatkan perlakukan busuk juga. Itulah sebabnya banyak orang berpakaian keren-keren.

Saya melakukan yang sebaliknya. Saya sering berpakaian tidak terlalu keren. Apa adanya. Selama pakaian itu bersih, tidak masalah bagi saya. Bersih itu sebuah keharusan. Sisanya, optional. Ha ha ha. Dan tentu saja saya mendapatkan perlakukan yang berbeda.

Seringkali saya gunakan hal ini – berpakaian seadanya – untuk menguji layanan dari seseorang atau sebuah organisasi, saya berpakaian seadanya. Jika orang itu memang ramah, maka dia akan tetap ramah meskipun pakaian saya bukan pakaian mahal.

Berani mencoba?

Sidang MK (babak 2)

Judul tulisan ini memang tendensius, “Sidang MK” gitu lho. Lah kan suka-suka saya, mau saya kasih judul “Sidang MK” atau “Game Mortal Kombat” juga terserah saya kan? he he he. Tapi kan bapak pakai “babak 2”. Mana “babak 1”-nya pak? Lah, apa memang harus urut? Kata siapa? Saya mau mulai dari “babak 17” terus mundur juga ndak apa-apa kan? Yo wis pak. Karepmu. Pastilah. he he he.

Kembali ke topik. Sidang MK. Saya tidak mengikuti siaran Sidang MK di televisi. Kenapa tidak? Lah, kenapa harus? Sekarang saya tanya ke Anda, “apakah Anda mengikuti FIFA Women’s World Cup?”. Tidak juga kan? Kenapa? Karena bagi Anda itu tidak penting. Nah, sidang MK juga bagi saya tidak menarik karena sudah tahu hasilnya. Berikut ini adalah narasi tanya jawab kepada saya.

Penanya: Lho, bapak sudah tahu hasil sidang MK?
Saya: Ya sudahlah. Sama dengan saya sudah tahu hasil akhir “FIFA Women’s World Cup”
Kok bisa pa? Bapak ahli nujum ya?
Bukan. Saya hanya ahli logika.
Coba buktikan. Kalau bapak sudah tahu hasil “FIFA Women’s World Cup?”, nantinya hasilnya bagaimana?
Mau bukti? Nanti hasilnya adalah “Indonesia tidak juara di Women’s World Cup” itu. Silahkan nanti buktikan.
Oalah paaak. Kan Indonesia tidak ikutan.
Lah, kan saya tidak mempermasalahkan itu. Yang penting hasilnya saya sudah tahu kan?
[yang nanya mulai mangkel. kezel.]

Ok deh. Kalau begitu, bapak tahu hasil akhir MK?
Sudah tahu juga.
Apa? Atau, bagaimana?
Sebetulnya mau saya ceritakan, tapi nanti Anda malah tambah mangkel. Jadi tidak usah saya ceritakan.


[yang nanya langsung ngeloyor pergi tanpa pamit. menengok pun tidak. ketika sudah agak jauh, saya lihat jari tangannya menunjukkan sesuatu. saya yakin bukan jempol, tapi saya tidak tahu apa itu.]

Anda Benar

Zaman sekarang sering kita berdebat dengan seseorang dan dia terus ngeyel. Sudah dijelaskan berkali-kali dengan berbagai cara, tetapi saja dia ngeyel. Untuk kondisi seperti ini, satu-satunya jalan adalah menyelesaikan perdebatan. Bagaimana caranya? Dengan mengatakan “Anda Benar“.

Penjelasan mengenai “Anda Benar” dapat dilihat pada gambar berikut. Mudah-mudahan Anda dapat memahaminya. hi hi hi.

Jadi ketika Anda sudah tidak dapat lagi menjelaskan, daripada debat kusir tidak berhenti, katakan “Anda Benar” saja.

Teknik Mengajari Seseorang

Pada suatu hari Hasan dan Husein sedang berada di masjid. Mereka melihat seorang tua yang sedang berwudhu. Diperhatikan, cara berwudhunya salah. Kemudian orang tua ini melakukan shalat, tata caranya pun shalat. Eh, salaaahhh. Hasan dan Husein ingin mengajari orang tua ini, tetapi mereka masih terlalu muda. Jika mereka menegur dan mengajari, kemungkinan besar orang tua ini akan marah dan tidak mau terima. Jadi harus bagaimana?

Mereka berdua akhirnya mencari cara yang lebih baik. Mereka pura-pura bertengkar tentang tata cara wudhu dan shalat mereka di depan sang orang tua tersebut. Mereka kemudian pura-pura minta tolong kepada orang tua tersebut untuk memberitahu mereka cara wudhu (dan shalat) mana yang lebih benar. Orang tua tersebut memberi tahu tata cara wudhu dan shalat yang benar. Ah, dia teringat kembali tata caranya yang benar. Pada saat yang sama dia tidak dipermalukan.

Ini adalah salah satu teknik untuk mengajari seseorang. Ada kalanya ego seseorang terlalu besar untuk diberitahu bahwa dia salah. Jika kita langung mengatakan bahwa Anda salah, ini yang benar maka kemungkinan besar dia tidak akan terima. Dia akan merasa malu dan akan mempertahankan pendapatnya (yang salah). Akhirnya tujuan untuk mengajari yang benar menjadi tidak tercapai. Ingat, tujuannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa kita benar. Tidak penting “kita”nya. Jangan karena kita merasa ingin dikatakan benar maka kita memaksakan diri. Tahanlah ego.

Jadi ketika saya bertanya, mungkin sebetulnya saya sedang mengajari Anda. hi hi hi.

Pentingnya Web KPU Bagi Kita Semua

Belakangan ini ada banyak opini, ajakan, tulisan yang salah. Ajakannya adalah untuk merusak web KPU. Wah ini salah sekali. Lebih salah dari salah.

Begini …

Pertama – dan yang paling utama – adalah hasil pemilihan umum yang resmi adalah hasil perhitungan secara manual. Titik. Itu dulu yang kita pegang. Hasil lain – apapun – tidak ada dasar hukumnya. Dahulu saya ingin agar data elektronik hasil pemilu dapat dianggap sah, tetapi landasan hukumnya tidak ada. Kami meneliti e-Voting. Sudah ada banyak mahasiswa S2 dan S3 saya yang meneliti di bidang ini. Namun secara hukum, untuk pemilu, ya sah adalah perhitungan manual.

Lantas apa hubungannya dengan web KPU? Kalau web KPU dirusak, ya tidak ada pengaruhnya. Lah yang dihitung adalah perhitungan manual. Iya, kertas yang kita coblos itu. Itu yang sahnya. Lha mbok data di web KPU mau diubah seperti apapun ya bakalan tidak pengaruh.

Kedua, justru web KPU itu kita butuhkan untuk memastikan bahwa KPU kerjanya benar. Kita dapat menguji apakah data yang ada di KPU sama dengan data yang ada di TPS kita. Kesalahan memasukkan data dapat terjadi. Perhatikan bahwa para petugas-petugas di lapangan bekerja keras, berjibaku menunaikan tugasnya. Bahkan ada yang bertugas lebih dari 24 jam. Kelelahan. Tentu saja ada kemungkinan salah menghitung atau salah melakukan data entry. Maka keberadaan web KPU dan kejelian mata kita untuk mendeteksi kesalahan dan melaporkannya kepada mereka. Itu akan menjadi umpan balik (feedback) bagi mereka untuk melakukan check & recheck.

Kalau web KPU dirusak, maka kita tidak punya kesempatan untuk ikut mengawasi. Upaya merusak web KPU itu menurut saya merupakan kejahatan kriminal yang harus dipidana. Maka menjaga web KPU merupakan tugas kita semua. Tugas seluruh warga Indonesia. Bagi yang melakukan pengrusakan, cabut saja kewarganegaraannya! Jika Anda melihat orang yang melakukan pengrusakan web KPU, tegur dan/atau laporkan ke Polisi. Sanggupkah kita melakukan tugas ini? Bersama-sama, kita pasti bisa! Mosok tidak bisa sih? Malu-maluin. Sini …

Khusus untuk Pemilu 2019, link kepada hasil perhitungan (sementara) ada link berikut ini. (Gunakan untuk memantau hasilnya ya. Jangan dirusak.)

https://pemilu2019.kpu.go.id/#/ppwp/hitung-suara/

sumber gambar


Marah atau Tertawa

Ini kejadiannya kemarin. Seperti biasa, Sabtu sore saya main futsal. Kemarin pun demikian. Saya berangkat seperti biasa. Sampai di tempat futsal, saya cari-cari sepatu saya. Ternyata lupa bawa. Hadoh. Kaos bawa, sepatu tidak. Kok bisa ya?

Bagaimana saya menyikapi kejadian seperti ini? Saya bisa marah, tapi bisa juga tertawa. Pilih mana? Saya pilih tertawa saja. HA HA HA. Saya menertawakan diri sendiri. Kenapa kok sampai lupa? ha ha ha. Maka saya pun kembali pulang. Entah kenapa – mungkin karena saya tertawa – maka lalu lintas pun terasa tidak ramai. Bolak balik – ke rumah dan ke tempat futsal lagi – ternyata super lancar. Belum pernah selancar ini. Sampai tempat futsal masih sebelum waktunya main. Whoa. Alam berkolaborasi dengan saya.

Ada banyak kejadian yang serupa yang disikapi banyak orang dengan marah-marah. Biasanya marah kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri. Kejadian yang saya alami tadi, yang saya jadikan contoh, memang sangat mudah untuk ditertawakan. Ada banyak kejadian lain yang lebih sulit situasinya. Maka untuk memilih tertawa lebih susah, tapi bisa. Tentu saja ini menurut saya.

Jadi Anda pilih marah-marah atau tertawa?