Medsos Bukan Untuk Hal Serius

Kesimpulan sementara saya saat ini adalah “media sosial bukan tempat untuk mendiskusikan hal yang serius“.

Beberapa tahun yang lalu ada sebuah diskusi di facebook dan twitter – kala itu sedang ngetrend kultiwt, kuliah (via) twitter. Diskusinya akan mengarah kepada hal yang lebih dalam atau serius. Apa yang terjadi? Peserta mulai berkurang. Mreteli. Mrotoli. he he he. Awal-awalnya sih pesertanya banyak dan seperti yang mau serius semua. Kenyataannya tidak demkian. Hanya ngomong saja. Kejadian seperti ini berulang kali.

Sekarang ini sedang ramai untuk sebuah topik. Semua orang berkomentar. Semua orang menjadi “pakar dadakan”. Semua menuntut untuk diskusi yang lebih dalam. Saya pancing dengan topik yang lebih teknis dan mendalam, ternyata tidak ada yang komentar alias sepi. Ha ha ha. Ini semakin membuktikan bahwa medsos bukan untuk hal yang serius.

Jadi, jika ada yang meminta Anda untuk mendiskusikan sesuatu secara serius di medsos, lupakan saja. Toh mereka hanya sekedar ngomong. Ha ha ha.

Donasi Kopi Untuk Nakes (part 8): Laporan Distribusi

Masih melanjutkan program “Donasi Kopi Untuk Nakes”, kali ini kami menyerahkan kopi yang siap seduh ini ke RS Santo Boromeus dan RS Kartini. Distribusi kali ini dilakukan secara mendadak tanpa persiapan yang panjang. Ini adalah bentuk apresiasi kita semua kepada para Nakes yang bertarung dengan COVID-19. Membuat kehidupan kita menjadi lebih baik.

Berikut ini ada beberapa foto penyerahan kopi tersebut.

Bersama bu Ning dari RS Boromeus
Masih dari RS Santo Boromeus
Bersama kang Jacob dari RS Kartini

Semoga program ini dapat terus berlangsung. Bagi yang berminat untuk bergabung, silahkan kontak kami.

Tautan ke informasi Donasi Kopi Lainnya (daftar isi):

Kasus Cybersecurity

Minggu ini entah kenapa banyak sekali kasus security, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Mungkin sebetulnya setiap minggu ada tetapi minggu ini kebetulan yang kena agak sedikit populer. Jadi terlihat.

Berikut ini contoh sebuah perusahaan besar, Entrust, yang juga terkena ransomware. Setidaknya, lockbit klaim bahwa mereka berhasil menyerang Entrust. Agak aneh juga ya, penyerang ngaku. he he he.

https://www.bleepingcomputer.com/news/security/lockbit-claims-ransomware-attack-on-security-giant-entrust/

Link untuk yang di Indonesia menyusul ya. Ini siap-siap mengajar dulu. Kasus-kasusnya terkait dengan kebocoran data di PLN, pelanggan Indiehome (yang ini belum jelas sumber kebocorannya), BIN, dan seterusnya.

Kuliner (Singkat) Solo

Sebetulnya ini bagian dari nonton konser Dream Theater di Solo. Sekalian saja kulineran di Solo. Sudah lama sekali saya tidak ke Solo. Terus terang saya tidak ingat terakhir kalinya ke Solo. Waktu kecil saya ingat ke Solo – atau lebih tepatnya stasiun Solo Balapan – karena bapak saya yang mengembangkan sistem persinyalan di situ. Bapak saya pegawai PJKA. Jadi waktu kecil teringat stasiun Solo Balapan. Setelah dewasa kayaknya saya belum pernah ke Solo lagi. Maka ini kesempatan.

Solo kurang dikenal sebagai tempat kulineran. Yang saya tahu adalah Jogja, selain Bandung tentunya. Maka saya meminta beberapa tips dari teman-teman saya yang hobbynya memang kulineran. Diberikanlah saya daftar tempat yang perlu dikunjungi. Eh, ternyata kawan saya – mas Wasis – yang hobbynya kulineran juga ke Solo nonton konser yang sama. Ya sudah, nebeng dia kemana saja.

Saya dan anak saya menggunakan kereta api Argo Wilis dari Bandung ke Solo. Enak keretanya. Lumayan 7 jam sampai Solo. Sampai di Solo sekitar jam 3 sore. Langsung ke hotel. Kami cari hotel yang dekat dengan stadion Manahan tempat konser. Sebetulnya ada hotel yang pas di depannya, tetapi karena kami memutuskan pergi ke Solonya terlambat jadi hotelnya sudah penuh. Akhirnya kami dapat hotel Fave yang tidak jauh juga. Bisa jalan.

Dari stasiun kami mengambil go-car. Meskipun ada tempat mengambil penumpang di stasiun, stasiun dikuasai oleh taksi koperasi. Jadi kami mengambil go-car di pinggir jalan. Tak mengapa. Rp. 30-ribuan sampai di hotel dengan go-car. Langsung cek in. Beberes. Shalat dan bisa berangkat makan malam janjian dengan mas Wasis.

Tempat yang kami kunjungi adalah Bakmi Jowo Bu Citro. Sampai di sana mas Wasis sudah menunggu. Maka saya langsung pesan bakmi godog (rebus) dan anak saya pesan bakmi goreng. Terus kami ngobrol juga dengan pemiliknya, pak Joko, yang menceritakan sejarah usaha bakminya yang dirintis oleh orang tuanya.

Secara makanan, ternyata lebih “plain” dari tempat-tempat lain. Nah ini dia, saya suka makanan yang plain. Kebanyakan restaurant atau kedai masakannya tajam-tajam bumbunya. Ini tidak. Langsung cocok. Meskipun yang lebih enak menurut saya adalah bakmi yang gorengnya, tapi yang godhog itu juga nikmat. Porsinya juga tidak kebesaran. Pokoknya pas.

IMG_2651 bakmi godog
Bakmi Godog Bu Citro, Surakarta (Solo)
IMG_2652 bakmi goreng

Yang saya baru tahu bahwa orang Solo itu suka meracik teh. Teh di sini rasanya juga beda. Beda dalam artian ENAK! Rasanya tidak tajam dan tidak enteng juga. Pas lah. Cocok juga. Jadi puaslah. Recommended Bakmi Jowo Bu Citro.

Lepas dari sana kami ke Esensi Kopi untuk ngopi dan ngamen. He he he.

BR LR Solo jreng

Besok paginya kami makan di Soto Pleret. Ini juga enak meskipun saya makan sedikit karena salah strategi. Paginya saya sarapan di hotel dulu. Biasanya hotel sederhana seperti Fave ini makanan sarapannya ala kadarnya. Eh, ternyata ini enak. Meskipun pilihannya tidak banyak, tetapi rasanya enak. Tidak biasa. Enak. Jadi saya yang tadinya hanya ingin nyobain, malah jadi sarapan beneran. ha ha ha. Walhasil pas di Soto Pleret saya hanya mencicipi punya anak saya. Enak juga. Tehnya? Enak juga. Jadi cocok juga ini Soto Pleret. Recommended juga.

a6bdea63-89e9-4c56-965e-592b68d01c76
Tempat Soto Pleret, Solo

Setelah dari sana kami kembali ke hotel. Beberes dan bekerja sebentar akhirnya kami putuskan makan siang mencari tengkleng. Saya bukan penggemar tengkleng, tetapi ada beberapa tempat yang disarankan. Wah malas cari tempat tersebut, maka kami cari tempat yang dapat kami datangi dengan jalan kaki. Ternyata ada, Warung mbakdiah.

Tengklengnya juga ternyata tidak tajam. Jadi enak. Satenya – yang 1 porsinya hanya 5 tusuk – agak terlalu liat dagingnya untuk saya. Mungkin karena kurang tebal dagingnya. ha ha ha. Tapi tengkleng yang biasanya saya tidak suka, ini oke. Secara total, enak. Recommended.

tengkleng
Warung Tengkleng mbak Diah, Laweyan, Solo
IMG_2674

Dari sana kami mencari tempat ngopi yang bisa dipakai untuk kerja sampai sore. Saya harus meeting online dari jam 1 sd 3. Akhirnya kami putuskan ke Janji Jiwa yang tempatnya dekat ke sana. Jalan kaki mungkin hanya 10 menit kurang. Maka kami parkir di sana – kopi dan donat – sampai pukul tiga. Setelah itu kembali ke hotel. Istirahat sejenak. Pesan makanan di hotel dan malamnya menuju konser Dream Theater.

IMG_2683

Demikianlah sedikit cerita tentang kuliner di Solo. Secara singkat, secara rasa (taste) cocok dengan lidah saya yang suka dengan makanan yang plain. Sukses kulineran di Solo.

(Tulisan ini akan saya update dengan foto-fotonya. Menyusul.)

Direktori Video Channel YouTube Saya

Setelah dipikir-pikir, nampaknya saya perlu membuat direktori atau daftar video yang ada di channel YouTube saya. Pasalnya saya tidak dapat mengandalkan kepada mesin pencari (search engine). Sering saya sudah tahu kategori video saya, tetapi ada beberapa video saya di kategori tersebut. Jadi harus menelusuri secara manual.

Pengkategorian video ini juga bagus jika ada seseorang yang menyukai hanya satu jenis bahasan atau satu topik saja. Adanya daftar tersebut dapat memudahkan seseorang untuk melihat video-video sejenis saja. Misalnya video tentang lagu-lagu. Eh, yang ini kayaknya hanya sedikit yang tertarik.

Satu hal lagi yang diperlukan adalah membuat semacam kurikulum – atau lebih sederhana dari itu – terkait dengan satu materi bahasan. Misal, ada urutan video terkait dengan kuliah security atau pemrograman.

Ngeblog di Jalan

Sudah lama saya tidak ngeblog. Alasan klasiknya adalah sibuk. Jika Anda melihat YouTube channel saya, mungkin bisa melihat sedikit dari kesibukan saya. Kali ini saya di kereta api dalam perjalanan dari Bandung ke Solo. Kesempatan ini saya gunakan untuk ngeblog. Mari kita lihat berhasil atau tidaknya – ngeblok di jalan.

Ceritanya saya ngeblog selalu dengan menggunakan komputer. Jari-jari saya jempol semua sehingga tidak bisa ngetik dengan nyaman di handphone. Saya juga tidak suka ngeblog offline. Gak mood. Jadi ini menggunakan komputer yang tethering ke handphone dengan menggunakan operator Telkomsel.

Selama melewati kota-kota, nampaknya sinyal Telkomsel cukup baik. Tadi sempat ketutup bukit (hutan?), sinyal menghilang. Sekarang nyambung lagi. Setidaknya teknologi sekarang jauh lebih baik dari dahulu. Coverage dari layanan operator seluler juga semakin bagus. Mestinya ngeblog kali ini lancar. (Ini saya ngetik sambil waswas juga. Khawatir sudah ngetik banyak-banyak eh putus dan hilang.)

Saya kira intro-nya cukup sekian dulu. Nanti mau cerita yang lebih panjang. Lebih bener. Sebetulnya ngeblog yang ngasal juga tidak masalah sih. Soalnya sekarang kan orang tidak lagi membaca blog. Ha ha ha. Yakin tidak ada yang membaca tulisan ini.

Barusan saya coba publish kemudian ini saya sunting lagi. Ini untuk mencoba mode menulis sedikit, publish, sunting lagi, publish, edit lagi, publish, dan seterusnya. Nampaknya mode seperti bisa saya lakukan.

Penyerahan Beasiswa Program Perempuan & Guru Menulis (Gelombang 3)

Tadi pagi – pukul 6:30, 22 Juli 2022 – kembali kami melakukan program sermonial untuk penyerahan beasiswa untuk program Perempuan Menulis yang dimotori oleh mbak Indari dan kawan-kawan. Dana sudah ditransfer beberapa hari sebelumnya, tetapi belum sempat diserahkan secara virtual. Keterlambatan ini dikarena kesibukan saya yang selalu meleset terus harinya. Baru hari ini bisa terjadi.

Semoga beasiswa ini dapat membantu kegiatan tersebut. Semoga akan semakin menambah khazanah dunia kreatif – khususnya buku – Indonesia. Semangat.

Tautan terkait

Healing Adalah Tidur

Lucu juga mendengar istilah “healing” di antara anak-anak sekarang. Saya mengambil arti dari “healing” sebagai upaya untuk mencari penyembuhan dari kelelahan, kejenuhan, kecapekan dari rutinitas atau pekerjaan yang keras atau berat. Upaya “healing” ini biasanya dilakukan dengan berbagai cara, tetapi bagi saya adalah dengan tidur.

Namanya juga manusia, saya seperti lainnya juga bisa lelah juga. Seperti saat ini kebetulan saya capek dari acara yang kemarin berturut-turut saya ikuti. Mulai dari seminar, yang mana saya menjadi chairman-nya sehingga harus mengatur jalannya acara dan seterusnya, sampai ke acara musik yang mana kami akan manggung padahal belum pernah latihan sebelumnya. Jadi acara itu padat dari pagi sampai malam selama beberapa hari. Ini di luar kota pula. Di Jakarta sih, tetapi bagi saya Jakarta itu adalah luar kota. Ha ha ha. Jadinya setelah semuaca acara itu beres, maka saya perlu “healing”. ha ha ha. Maka saya perlu tidur. Itu yang saya lakukan. Jadi mohon maaf, saya belum bisa melakukan pekerjaan rutin saya secara sempurna karena saya tertidur.

Kalau healing saya adalah tidur, bagaimana dengan healing Anda?

Review Buku: The New New Thing

Ini adalah salah satu buku yang saya baca lebih dari sekali. Kenapa demikian? Ada beberapa hal. Yang pertama, pengarangnya, Michael Lewis adalah pengarang yang tulisannya sangat bagus. Setidaknya, cara penulisannya saya sukai. Dia telah membuat banyak buku yang terkenal dan sebagian bahkan menjadi film. Pasti banyak yang sudah pernah nonton film “The Blind Side” dengan Sandra Bullock. Atau pernah nonton “Moneyball” dengan Brad Pitt sebagai pemeran utamanya? Buku-buku tersebut merupakan karangan dari Michael Lewis. Ada banyak buku lainnya yang bagus-bagus. Dia termasuk penulis yang produktif.

Alasan kedua, buku The New New Thing ini menceritakan tentang Silicon Valley. Salah satu topik kesukaan saya juga. Pas bahasan dari buku ini mengambil tokoh Jim Clark, pendiri Netscape dan banyak perusahaan lainnya. Kebetulan juga saya sedang di Kanada dan menggeluti bidang-bidang itu. Jadi saya berada di pusaran itu. I was a fly on the wall, begitu kata orang-orang. Tentang hal ini bisa saya bahas lebih panjang lagi.

Kembali ke laptop. Buku ini menceritakan tentang kehidupan Jim Clark dari masa mudanya yang pendidikannya agak “tidak linier”. Di umur 16 tahun dia berhenti sekolah dan malah ikutan Navy (Angkatan Laut) selama 4 tahun. Setelah itu baru dia kembali sekolah – sekolah malam – dan ternyata sangat menguasai matematika. Singkat ceritanya dia berhasil mengumpulkan SKS sehingga dia nantinya akhirnya mendapatkan PhD (S3) dari University Utah. Di sini lah nyambung lagi dengan saya karena di sana ada Ivan Sutherland, yang paper klasiknya menjadi salah satu fondasi dari disertasi S3 saya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana dia memulai membuat perusahaan Silicon Graphics, Netscape, Healtheon, dan MyCFO. Diceritakan tentang keseruaannya – kesulitannya, kegagalannya, perkelahiannya, dan seterusnya. Bagaimana dia ribut dengan venture capital (VC) dan bagaimana hubungan mereka yang bersifat hate-and-love. Saling membenci tapi saling membutuhkan. Untuk hal ini saja buku ini sudah merupakan sebuah bacaan yang sangat penting.

Ada banyak lagi yang ingin saya ceritakan tetapi lebih baik jika Anda membaca sendiri buku ini. Tidak akan menyesal. Percayalah. (Seperti iklan saja.)

Penyerahan Beasiswa Program Perempuan & Guru Menulis Buku (Gelombang 2)

Pagi tadi – pukul 6:30 pagi! – saya menyerahkan donasi beasiswa Program Perempuan & Guru Menulis buku untuk gelombang kedua. Ternyata setiap pagi (?) ada pertemuan di Zoom untuk ibu-ibu ini. Jadi serah terima dilakukan pas di acara itu saja.

(Rekaman proses serah terimanya nanti akan saya sertakan di sini. Sementara ini informasi dari video saya dulu.)

Semoga beasiswa ini dapat bermanfaat. Untuk para donatur, semoga ini menjadi amal jariyah yang selalu mengalir. Bagi yang berminat untuk berpartisipasi, silahkan kunjungi link di bawah (info mengenai program ini) untuk instruksinya (kirim ke rekening mana dll.)

Tautan terkait

Budaya Disuapin dan Belagak Pilon?

Jangan bosan dengan tulisan saya yang mengangkat topik ini lagi ya, karena untuk menjelaskan itu harus dilakukan berkali-kali dengan cara yang (sedikit banyak) berbeda. Siapa tahu penjelasan yang ini lebih dapat dipahami daripada yang sebelumnya.

Ini masih cerita tentang budaya disuapin. Maksudnya bagaimana? Begini.

Kadang saya melihat ada orang-orang (banyak) yang merasa harus menjelaskan secara eksplisit dan rinci. Contohnya di dalam film (atau sinetron) untuk menunjukkan bahwa seseorang itu menunggu lama dia berkata, “saya sudah lama menunggu di sini”. Padahal ada cara lain untuk menjelaskan itu, misalnya di depannya ada asbak yang berisi banyak puntung rokok dan beberapa cangkir kopi di depannya. Tidak perlu dijelaskan bahwa dia menunggu lama. Berikan kepada pemirsa untuk mengambil kesimpulan atau interpretasi sendiri.

Hal-hal seperti ini istilahnya adalah patronizing. Menganggap pemirsa tidak memiliki kemampuan untuk menyimpulkan sendiri. Dengan kata lain, pemerisa itu bodoh. Harus diberitahu.

Nah, di sisi lain ada juga orang yang menulis dengan menyiratkan sebuah hal tetapi ketika ditanyakan (atau dikonfrontasi) dia mengelak. Ngeles. Kan saya tidak menuliskan hal itu (secara eksplisit). Memang tidak secara tersurat, tetapi itu tersirat. Misal kalau di Amerika ditampikan foto 7-eleven dan kemudian ditampilkan gambar orang India. Memang stereotype di sana adalah penunggu 7-eleven adalah orang keturunan India. Silahkan juga tonton film seri The Simpsons. Apu, sang penunggu 7-eleven, adalah orang India. Tentu saja dia tidak perlu menuliskan secara eksplisit, “penunggu 7-eleven adalah orang India”. Pemirsa cukup cerdas untuk melihat arah penulis cerita tersebut.

Oh ya, ketika seorang tersebut ditanyakan tentang maksudnya tulisannya, gambarnya, videonya, atau opininya dalam bentuk apapun, maka orang tersebut ngeles. Belagak pilon. Saya kan tidak menulis itu. Mereka pikir kita ini bodoh. Ha ha ha.

Ada yang tersurat dan ada yang tersirat.

Berpikir itu tertanya harus diajarkan.

Tidak Suka Melihat Makanan Bersisa

Pernahkah Anda pergi ke suatu tempat – biasanya acara kondangan – kemudian melihat orang mengambil makanan yang terlalu berlebihan dan tidak dihabiskan? Makanan yang banyak tersebut teronggok di piring dan ditumpuk. Pastinya makanan ini akan dibuang karena sebagian besar orang tidak tertarik untuk mengambil makanan bekas prasmanan ini. Kesal sekali melihatnya. Ya mbok kalau ambil makanan itu secukupnya. Kalau nanti sudah habis mau ambil lagi ya silahkan antri lagi.

Foto Opor Lebaran …

Kalau di rumah masalahnya berbeda lagi. Sisa makanan biasanya harus ditumpuk lagi dan dimasukkan ke lemari es. Nah repotnya kalau sisa makanannya itu tinggal sedikit dan rasanya kerepotan untuk menyimpan di lemari es itu terasa membebani. Jadi bagaimana? Insting pertama yang muncul adalah, mari kita makan. Kita habiskan. Ha ha ha. Akibatnya, saya khawatir nanti berat badan naik.

Sifat kurang suka melihat makanan bersisa ini mungkin terbawa dari kecil. Waktu kecil, di rumah kami banyak anggota keluarga. Orang tua saya sering menerima keponakan yang bersekolah di Bandung. Jadi rumah kami ini seperti tempat penampungan saudara-saudara. Jadinya orangnya banyak. Ya tentu saja, makanan hanya ada secukupnya. Dibagi-bagi. Saya tidak perlu menceritakan keterbatasannya sampai seberapa. he he he. Pokoknya cukup untuk membuat saya sangat menghargai makanan. Susah ketika masih kecil atau muda memang merupakan pelajaran terbaik.

Bagaimana dengan Anda?

YouTube Channel Mencapai 10 ribu Subscribers

Baru sadar bahwa channel YouTube saya sudah mencapai lebih dari 10 ribu subscribers. Tadinya saya perkirakan masih minggu-minggu depan. Bahkan saya sudah mencoba membuatkan semacam hadiah untuk subscriber ke 10 ribu. Eh, tahu-tahu sudah lewat saja. Bahkan kalau saya cek sekarang sudah lewat 100 orang. Ha ha ha. Jadi hadiah yang ke 10 ribu itu lewat. Saya lagi mikir buat sayembara apa lagi ya untuk menunjukkan apresiasi. Ada ide?

Bagi yang belum pernah melihat, silahkan kunjungi YouTube channel saya di sini:

https://www.youtube.com/user/rahard

Saya agak kurang suka mempromosikan channel YouTube saya. Jadi saya nyaris tidak pernah meminta orang untuk Like atau Subscribe. Biar tumbuh secara natural saja. Mau berlangganan ya syukur. Tidak berlangganan juga tidak apa-apa.

Penyerahan Beasiswa Program Perempuan dan Guru Menulis Buku (gelombang 1)

Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya di sini, ada program untuk mengajari Perempuan dan guru dalam menulis buku, menerbitkan buku, dan menjual buku. Tugas saya adalah mencarikan donatur yang bersedia mendukung program ini. Link mengenai caranya ada di bawah.

Gelombang pertama, 20 orang sudah dipilih. Masing-masing mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 100.000,-. Berikut ini adalah video serah terimanya.

Video Serah Terima Beasiswa

Semoga beasiswa ini dapat mencapai tujuannya. Terima kasih kepada para donatur. Semoga ini dapat menjadi amal yang terus mengalir. Kegiatan tersebut akan kami laporkan perkembangannya.

Tautan Terkait