evoting 1999 dan ivoting 2021

Alhamdulillah, Sabtu kemarin telah dilaksanakan pemilu ketua IA-ITB (Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung) dengan menggunakan ivoting – internet voting. Dalam rangka untuk mencegah penyebaran COVID-19, maka pemilihan ketua IA-ITB tidak dapat dilakukan dengan pertemuan secara fisik. Semua harus dilakuan melalui daring (online). Ini adalah sebuah transformasi digital yang “terpaksa” dilakukan. Ha ha ha. Alhamdulillah perhelatan ini berhasil dilaksanakan dengan baik.

(Hasil akan saya sisipkan di sini.)

Bagi saya ini merupakan pengalaman yang menarik karena sebelum ivoting 2021 ini saya sempat terlibat dengan pengamanan pemilihan umum Indonesia di tahun 1999. Saat itu saya diperbantukan untuk mengamankan sistem IT KPU (pengumpulan suara, perhitungan, dan penampilan hasil pemilu). Banyak orang yang tidak tahu bahwa sistem IT sudah digunakan untuk pemilu di Indonesia pada tahun 1999, meskipun ini bukan evoting asli karena pencoblosan suara masih dilakukan dengan betul-betul mencoblos kertas suara (bukan dengan menggunakan perangkat elektronik). Hasil pemilu tentu saja masih berdasarkan perhitungan cara manual, namun sistem IT digunakan untuk mencegah terjadinya kecurangan dan kesalahan dengan cara mencatatkan semuanya.

Nampaknya suatu saat saya bisa bercerita banyak tentang hal-hal yang kami hadapi pada masa itu. Seperti misalnya, pada hari H plus sekian (lupa saya hari ke berapa) ditemukan celah keamanan (security hole) pada server web yang berbasis IIS (Internet Information Service)-nya Microsoft yang kami gunakan pada waktu itu. Perbaikan (patch) secara resmi baru akan keluar dua minggu lagi! Nah lho. Apakah web harus dimatikan sambil menunggu ketersediaan patch? The show must go on. Yang kami lakukan waktu itu adalah menambah server (firewall) dengan menggunakan Linux di depannya sehingga yang terlihat ke publik adalah Linux bukan IIS. Phew. (Meskipun akhirnya kami menemukan solusi yang tidak resmi sehingga masalah IIS tersebut tertangani.) Ini adalah salah satu dari sekian banyak cerita seru yang kami alami.

Suatu saat akan kami ceritakan pengalaman (lessons learned) yang kami alami di ivoting IA-ITB 2021 ini. Ada banyak cerita seru juga. ha ha ha.

Bagi saya yang menarik adalah saya ikut membantu (di belakang layar) keamanan dari evoting 1999 dan ivoting 2021. Ini adalah tonggak-tonggak bersejarah dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk demokrasi. Ke depannya saya melihat akan lebih banyak penggunaan ivoting ini. It works!

Tentang Rush Lagi

Semalam, pas mau tidur saya pikir puter lagu atau video dulu. Ternyata di iPad saya gak ada yang jalan. Maklum ini iPad versi pertama (atau kedua?) yang sudah lama dan kadaluwarsa. Pokoknya sudah tidak bisa diupgrade lagi OS-nya. Tapi masih ada beberapa aplikasi yang jalan, terutama aplikasi untuk baca buku. Itu yang penting. Aplikasi YouTube tidak jalan. Eh, ada aplikasi Netflix yang masih jalan. Ya sudah cari sesuatu di Netflix. Nemu tentang dokumentasi band Rush. Nontonlah itu. Akibatnya malah nyaris tidak bisa tidur. ha ha ha.

Bagi sebagian (kecil) pembaca, mungkin sudah tahu bahwa band Rush inilah yang membuat saya sekolah di Kanada dan menjadi bagian dari kehidupan saya. Salah satu cita-cita saya ke Kanada adalah supaya bisa ketemu Rush juga. Dan selama tinggal di Kanada (lebih dari 10 tahun), tidak pernah ketemu Rush dong. ha ha ha. Nanti kapan-kapan saya ceritakan ini.

Dari video dokumenter tentang Rush yang saya saksikan tadi malam ada beberapa hal yang penting. Salah satunya adalah Neil Peart, drummernya, tidak suka temu muka dengan fans. Bukan karena arogan, tetapi karena dia memang pemalu (shy). Introvert? Pokoknya dia memang merasa tidak nyaman bertemu dengan fans saja. Jadi kalau ada artis atau pemusik yang bisa dan lazim ketemu dengan fans, dia malah merasa aneh. Jadinya dia malah melarikan diri kalau ada acara “meet and greet“. Untung pemain lainnya, Geddy Lee and Alex Lifeson tidak masalah dengan ketemu fans. Diwakilkan oleh mereka saja. Hi hi hi. Wah kebetulan juga. Kalau saya sebagai fans pengen ketemu dengan dia sudah bakalan ditolak juga. ha ha ha. Jadi untung juga tidak berusaha. Alesan.

Nonton video ini terpaksa saya hentikan supaya saya bisa tidur. Kalau tidak, bisa sampai pagi menyimaknya. Jadi nonton dokumenternya akan disambung lagi. Ya tulisan ini akan disambung lagi. Mungkin.

Ini videonya: https://www.netflix.com/title/70137744

Rocketman

Beberapa hari yang lalu saya membuat komentar di salah satu postingan kang Emil (Ridwan Kamil) di facebooknya, yaitu tentang desain istana kepresidenan yang akan datang. Desainnya berbentuk burung yang besar dan megah. Saya membuat komentar yang bernada guyonan (seperti dalam gambar berikut). Bahwa desain seperti itu gampang di-roket. he he he. Eh, yang like dan komentar banyak dong. Ha ha ha. Jarang saya mendapat banyak respon seperti itu.

Serunya yang komentar itu kadang nggak nyambung atau tendensius. Ada yang mengira saya hater kang Emil. Hadoh. Sangat jauh banget. Lah dari dulu saya termasuk yang mendukung kang Emil. Orang baik harus didukung. Anyway, saya tidak bisa membaca komentar-komentar itu karena entah kenapa facebook memiliki bugs untuk membuka banyak komentar. Eh, ini kalau saya buka di komputer. Entah kalau dibuka di handphone mungkin bisa juga.

Roket. Rocket. Sebuah kata yang selalu menarik. Apa yang terbayang di kepala Anda ketika saya sebutkan kata ini? Bagi saya sih kata ini membuat konotasi pergi ke ruang angkasa. Mungkin gara-gara waktu kecil banyak baca komik. Bahkan yang terbayang jelas oleh saya adalah halaman denpan salah satu buku Tintin.

Kalau sekarang, kata roket ini saya asosiasikan dengan Elon Musk dan SpaceX-nya. Pergi ke Mars. Dalam kaitannya dengan ini sering saya tanyakan ke mahasiswa saya, “jika Anda ditawari Elon Musk untuk pergi ke Mars, siapa yang bersedia?“. Ternyata tidak banyak yang angkat tangan. Anak muda sekarang kurang jiwa petualangannya. Kalau saya masih muda, saya akan angkat tangan. No question. Yakin. Saya ingin membuat manfaat. Meskipun pergi ke Mars sangat berisiko. Setidaknya ada risiko tidak dapat kembali ke dunia (earth). Tidak masalah. Maklum ketika masa muda banyak semangat “Me against the world“. Lah kesempatan untuk meninggalkan the world dengan berkarya merupakan salah satu jawaban. ha ha ha.

Kata roket juga mengingatkan saya akan salah satu lagu Elton John, Rocketman. Lagu ini juga sarat dengan makna. Silahkan cari liriknya dan resapi maknanya. Hebat Elton John dan Bernie Taupin.

Jadi kalau saya sebut rocket, apa yang ada di kepala Anda?

(dari) Tulisan (ke) Video (kemudian) Audio

Ini adalah perjalanan dari cara saya mendongeng. Semuanya dimulai dari blog. Eh, sebelum itu saya memulai dari membuat halaman web dengan langsung menuliskan kode HTML. Kala itu namanya masih homepage. Tapi itu kejauhan. Kita mulai dari blog saja ya.

Blog merupakan media saya mendongeng dalam bentul tulisan. Pada awalnya ini dilakukan karena teknologi yang tersedia pada masa itu baru sanggup untuk mendukung tulisan. Kecepatan internet masih lambat. GPRS. (Apa itu? Silahkan pelajari.) Sudah lambat, harganya juga mahal. Akses internet itu dapat dikatakan masih mahal. Jadilah mendongeng dengan bentuk tulisan di blog merupakan sebuah hal yang paling memungkinkan. Padahal ini kurang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang tidak suka membaca (dan menulis tentunya). Blog memiliki fitur yang memudahkan orang untuk bercerita. Seseorang yang mau nge-blog tidak harus tahu tentang HTML dan kode-kode singkatan lainnya. Dia tinggal mengetikkan apa yang ada di otak (dan hatinya?). Maka mulailah saya ngeblog. Itu tahun 2002, kalau tidak salah. Itu dimulai dengan menggunakan layanan blogspot.com (dan banyak lagi) sebelum akhirnya saya mangkal di wordpress.com (dan baru-baru ini ke medium.com).

Langkah selanjutnya saya ingin membuat dongeng dalam bentuk audio. Secara teknis ukuran berkas audio lebih besar dari teks tetapi lebih kecil dari video. Jadi dari blog ke membuat suatu yang berbentuk audio harusnya lebih natural. Namun ternyata ini tidak terjadi. Jika di tulisan ada blog, maka untuk audio ada podcast.

Membuat podcast sudah pasti lebih susah daripada membuat tulisan, tetapi tingkat kesulitannya ternyata cukup tinggi. Pertama saya harus memiliki alat rekam yang bagus. Digital recorder harganya masih mahal. Itu yang bagus. Handphone juga sudah dapat digunakan untuk merekam, tetapi memori handphone untuk menyimpan rekaman suara masih terbatas. Program (tools, software) untuk mengedit hasil rekaman juga masih ribet. Jika blog ada di banyak tempat, podcast ternyata masih sedikit dan juga ribet. Singkatnya, saya tetap ngeblog saja.

Teknologi komputer dan jaringan berkembang terus. Kemampuan komputasi handphone sudah setingkat laptop. Memorinya pun sudah besar. Handphone sudah dilengkapi dengan kamera yang kualitasnya mendekati atau bahkan di atas digital camera. Maka mengambil video merupakan hal sangat mudah. Mengedit video masih ribet. Softwarenya masih mahal dan membutuhkan kemampuan komputer yang bagus juga. Lama kelamaan masalah ini terpecahkan juga. Mulai banyak software untuk mengedit video yang kualitasnya bagus, mudah digunakan, dan gratis pula. Tempat untuk menyimpan video-video tersebut mulai banyak, yang utamanya tentu saja YouTube. Luar biasa ini YouTube. Video sebesar apapun tinggal kita unggah. Akhirnya saya membuat video untuk YouTube.

YouTube channel saya ada di sini: https://www.youtube.com/channel/UC3S4LLQIPK1TT5S2LmieCYg

Setelah membuat video barulah saya melirik lagi untuk mendongeng melalui suara. Secara tidak sengaja saya menemukan Anchor.fm. Ini sebuah layanan yang membuat podcasting semudah ngeblog. Saya tinggal mengunggah suara saya – yang saya ambil dari video YouTube saya – ke situs anchor.fm itu. Langsung saya membuat sebuah episode untuk podcast saya. Yang lebih menariknya lagi, anchor.fm juga mendistribusikan podcast itu ke beberapa tempat dan khususnya ke Spotify. Mengapa ini penting? Karena ada banyak orang yang mendengarkan musik dan podcast melalui Spotify. Jadi Anchor.fm ini menyerupai YouTube bagi saya.

Podcast saya ada di sini: https://anchor.fm/budi-rahardjo

Pendekatan saya dalam mendongeng tetap sama, “create and shoot“. Jadi saya langsung bercerita dan publish. Kalau ada editing itu hanya minor. Ya kualitasnya seperti itu. Apa adanya. Oh ya, ini semua saya lakukan sendirian. Jadi inilah sebabnya saya tidak melakukan proses editing. ha ha ha. Kebanyakan kerjaan.

Dari peta perjalanan ini ternyata saya berangkat dari tulisan (ngeblog) ke video (YouTube channel) baru ke podcast (anchor.fm dan spotify). Lucu juga. Tadinya saya pikir secara teknologi harusnya saya ke podcast dulu baru ke video. Ternyata kenyataan berkehendak lain. Yang penting Anda dapat menikmati dongeng saya. Ya kan?

Lucunya Statistik Podcast Saya

Bagi yang belum tahu, saya sekarang sudah memulai podcast. Ada di Anchor.fm. (Ini dia: https://anchor.fm/budi-rahardjo) Ocehan saya dapat diakses via Anchor.fm sendiri dan juga via Spotify. Langganan ke sana ya. Idenya adalah dia merupakan komplemen dari blog ini. Di sini kita buat versi tulisnya. Di sana ada versi audionya. Di YouTube ada versi videonya. Kira-kira begitu idenya.

Baru saja saya melihat statistik podcast saya yang nampaknya diperoleh dari Spotify. Ada bagian yang “lucu” bagi saya. Ini bagian yang lucu tersebut.

Perhatikan bahwa gender yang “not specified” lebih banyak dari yang “female“. Ha ha ha. Artinya banyak orang yang takut data pribadinya dikeruk oleh Spotify ya.

Kemudian juga mengenai statistik usia (age), kok yang usianya antara “28-34” itu tidak banyak. Maksudnya bagaimana ya? Itu termasuk generasi apa ya? Agak aneh. Soalnya dia di antara dua puncak. Aneh aja. Ada yang dapat memberikan analisis tentang hal ini?

Satu Tahun Bekerja Dari Rumah

Bulan ini, Maret 2021, merupakan waktu yang penting bagi banyak orang. Setahun yang lalu pada bulan ini pandemi COVID-19 resmi dinyatakan. Maka semua kegiatan dikurangi untuk mencegah penyebaran virus corona ini. Bekerja mulai dilakukan dari rumah. Work from Home (WfH). Sekolah juga dilakukan dari rumah.

Pada awalnya semua orang kebingungan dan khawatir. Apakah kita dapat melakukan kegiatan kita dari rumah? Tidak dari kantor? Tidak dari sekolahan? Setahun kemudian kita mengetahui bahwa kita bisa. Tentu saja dengan cara yang berbeda. Maka ada istilah new normal. Ada kegiatan yang dianggap sebagai normal, yaitu bekerja dari rumah. Dari dahulu kita ingin menerapkan remote workers, yaitu bekerja bekerja tidak di kantor, tetapi selalu gagal. COVID-19 langsung membuatnya menjadi berhasil. Tentu saja definisi dari “berhasil” itu juga akan berbeda. Tidak sama.

Bagi saya sendiri bekerja dari rumah bukanlah sebuah hal yang baru. Saya sendiri sudah biasa bekerja dari rumah, dari kantor klien, dari kampus, dari kafe, dari co-working space, dari … mana saja. Saya memang bekerja dengan menggunakan internet. Jadi bekerja dari rumah malah sebetulnya merupakan hal yang natural bagi saya. Hanya saja pada waktu itu orang lain belum bekerja dari rumah sehingga ketika diajak untuk melakukan online, video conferencing misalnya, banyak yang tidak bisa (atau tidak mau). Sekarang malah itu yang menjadi pilihan utama. Jadi lebih mudah bagi saya.

Bagimana dengan Anda? Bagaimana pengalaman Anda setelah satu tahun bekerja dari rumah?

Susahnya Jadi Dosen

Banyak orang yang merasa bisa menjadi dosen atau guru. Biasanya ini terjadi kepada seseorang yang baru saja memberikan presentasi di seminar. Wah, menarik nih menjadi pengajar. Maka kemudian dia menyatakan diri ingin menjadi dosen. Tidak semudah itu, Ferguso. Masalahnya adalah orang ini hanya memberikan presentasi satu atau dua jam. Dia belum merasakan susahnya jadi dosen. Lah, memang masalahnya apa?

Pertama, menjadi dosen itu membutuhkan sebuah rutinitas. Sekali mengajar dengan mengajar 14 atau 15 kali secara rutin merupakan hal yang berbeda. Satu dua kali masih oke. Selanjutnya, maka mulailah muncul kebosanan. Nampaknya ini sama dengan ngeblog ya? Ha ha ha. Itulah sebabnya banyak blogger yang sudah tidak aktif lagi sekarang. Kembali kepada topik, rutinitas ini atau kebosanan ini yang menjadi masalah.

Kedua, memeriksa tugas atau ujian. Nah ini yang paling menyebalkan dari kegiatan dosen. Menyiapkan materi itu merupakan pekerjaan yang kelihatannya susah, tetapi itu susah yang menyenangkan. Yang susah (mungkin susah) tapi menyebalkan itu adalah memeriksa tugas atau ujian mahasiswa. Bayangkan kalau Anda memeriksa tugas yang sama untuk 50 siswa, misalnya. Membosankan. Dan jangan lupa, ini semua membutuhkan waktu. Memeriksa tugas mahasiswa itu membutuhkan waktu. Sebagai contoh, saya membuat tulisan ini sebagai selingan dari memeriksa tugas mahasiswa. Saya sudah memulai memeriksa tugas mahasiswa mulai pukul 9 pagi tadi dan sekarang pukul 10:11. Kalau saya perhatikan yang saya periksa baru seperempatnya. Padahal ini tugas yang mudah. Ada masalah teknis, yaitu saya harus me-rename nama berkas yang mereka kirimkan. Ini kesalahan saya. Seharusnya saya buatkan standar penamaan berkas (“NIM.pdf”, misalnya) sehingga berkas sudah terurut. Baiklah.

Kembali ke memeriksa tugas mahasiswa. Nampaknya ini bakalan sampai makan siang.

Demikian sedikit cerita dari balik layar tentang dukanya jadi dosen. Masih mau jadi dosen?

Kunci Publik Kelas

Ini adalah percobaan untuk mendistribusikan kunci publik untuk PGP/GnuPG. Sebetulnya cara yang benar adalah mendistribusikan ini ke keyserver. Itu juga sudah saya lakukan. Ini hanya sebagai alternatif saja. Ini adalah kunci publik “kelasbr2021” yang akan digunakan di kelas “secure operation & incident handling” yang saya ajarkan pagi ini.

-----BEGIN PGP PUBLIC KEY BLOCK-----

mQGNBGAhbdsBDACndGRdpQqb+TjQeytLJl0R74uTCQlAI11UMHf9ASmCa50rbrSN
TJlh70MzBIxRkWLGijievPrtkLJpAdBa9XAI39q05s8sFy5iZAkGfeBPWnH8N0JL
fa6qfB9XgUbj44AZguI5/1V0Qu/vCn0Qr6kQKiwoB+Hbq8DaDSspka4nmCv3WPWv
STpPW+j4du6M3Kv+oQmvKjjd+PE8rBvHlIXQm3hlOiqJtcQ4rhVZDJCMUm/h4FuW
z/s2hROnWYm2UiT2YrsbFa8pszk/08CZUgDQvHXv/umcIfdC4h6prlfaoO9BgJ6b
o6wPSYEnLUKaOfcfcZ03oMuOI1fj9msO3L39t3zZS+yv0CMQlO93el0H7vwG3ONm
we974ZoMcYoUKPKRyNfi7M3KeLc/3Xwqm8jKC6EXWz1tyXuS5ZFWWfSSKjtsncIG
iX0ya77joxKHBCHtaV7lTmL+ulOn4wWvIj2vDAC4jSrOysN00Dlw2rV+AAZSHczY
P5QlJsTf3+9tbhcAEQEAAbQlQnVkaSBSYWhhcmRqbyA8a2VsYXNicjIwMjFAZ21h
aWwuY29tPokB1AQTAQoAPhYhBDYm0pCR6XAquOtZRgaGxZV+ECP+BQJgIW3bAhsD
BQkDwmcABQsJCAcCBhUKCQgLAgQWAgMBAh4BAheAAAoJEAaGxZV+ECP+IGgL/0nu
m9XzZldRpDQbF9cRZzWMoXbDINffPLAameZ6uTiJ/+Wjhs3jH2L2ome+P1Vs/GxK
iwYi3mmozomx5TivFJoPqfVyhGmAdQigq1fpBt6irTA/005Se+NFgWBok1Xl4f66
Pc+Dt7QlNnSrMh1RZ61tccp69kUqwvQv/cMxDcdCX6Ea6OuMtnEK20afb1xO5Dl4
H4eLPVxlJiNvt3XqLN6BWoWgsHyLcuJtUa4M1dEeZoJj3uMZiw0gfN3iEU6z2jMd
tpMsv2LYh6bAnN4K5fvJsmXU1yZspj4PIn5cDTjHukXqInXA4sXFyEERYhq7pjGQ
fKLp+RR5psJhio4xDdusAnLQaJjLXls6s6QDrgc1kiGbXIEZlTFLfoABDHsEAG3x
/ab4DStsSo8Qsv/7kDGIX+bi/6fOnSLARo+oECohMhzcIwVWwXIGsBBY79ISmHP6
nfA+BofQTPrcFguvYTQOzWxe+42xQHRj1iP7BjQdQmPt9AVuWnBPXNWt9esk6LkB
jQRgIW3bAQwAw80HZvdjRDe5S0ITmdVbDrj1gGAcsKc+NMauKE5x9HaTj/rBhkVr
PhtV9rgsEjQV5evuvzRCNyfeSZ0mktNvSql6NEWf7knhbm5tXuVu3AVl/U1xgfMO
Ou9VApjNUIGYjuJ0W1ht0OdHGEk7FY5U/AJqUpP3aTXhN1oqfAqEkVXrHUYcK4Xd
ZnJMPyhrERjjkQJz8gqQ/W9jmZDbQXNa8owUTulwE1TNUTIKMmP4iX+Otiis024c
9x1At6/MqdVpQysspYmkHALzeV8bUd1Gf3on+WLz2elb3U0GkB1314NmHU6Gjj0m
L1tJl9vZv7ISP2eSuAjS2AHNH4eBFGzq5ibN0lQvtV9gF6RCmwSOsfHgx0Bc7nCp
VoddLhtBJmWUCxwBWsVMCqBQqfkbZeYs3WoJR/5E3C33jynqDEYUrhr/rtjj52Nm
mH3WEIU8+IS+/M6cx8uBs6bnGJ/ISiEpm+OHI5owS/0L1WTile2zHl0mMGflKODw
jZz18xvO8ZTZABEBAAGJAbwEGAEKACYWIQQ2JtKQkelwKrjrWUYGhsWVfhAj/gUC
YCFt2wIbDAUJA8JnAAAKCRAGhsWVfhAj/tZwDACZQ7pqUZDPAQaftc992djBXZC7
8D5suV4M+yHtqCjpUD0Bo8YI7CCdM3PuvfsQvDrPdBZ9TcBmyYj6wFLBuq48LQj+
nb4ByrQ65WTEWuny8qVdoBPhE9KYZwbahNWK9oCyWBOZfWDBDE7p79erRZmW2pJh
z8bJVjPDl71RyeE9u6EWEZ+vwR0ZpDhq8FXUl0o+ZEYMjL10LrMey8p4YXwi+ZL9
V0apciQ8AVHreJirjFmMyQjMJ84LWax7gLOXi2EFhioefzhI3jPWxT1pfKSSoX6x
XIEE2l1Y6Zsmi3tzpDbPP/ny7WZU3CkOF80Zr8lgLf2I6Z3JiTBs2pCTKru0pb0u
I9KKhSNuha8ijbmFPttd+oYSNU5YSn2YTREUrT7SIw/rrcG5f+oEA4ctULrQuZpt
EYNFVcCgrnEBl6cy754qMiu25vd2NjKq+vFyHxM9s7nLXbrRAiblB3t/wCoNQYtE
8Ub7l4VviNrKVo3h560512HJghKqi6J35C5+Xc4=
=DmkX
-----END PGP PUBLIC KEY BLOCK-----

Berkah COVID-19: distribusi SDM

Kemarin dari sebuah diskusi internal, mas Helmi (perlu diperjelas Helmi yang mana – ha ha ha) mengangkat sebuah opini bahwa salah satu berkah dari COVID-19 ini adalah adanya distribusi SDM Indonesia yang lebih merata. Sejak Indonesia mereka. Hadoh. Sebelum COVID-19 ini, sumber daya manusia Indonesia yang “bagus-bagus” berkumpul di Jakarta. Maklum, duit ada di Jakarta. Maka berbondong-bondonglah orang-orang pindah ke Jakarta. Sekarang dengan adanya COVID-19 maka banyak orang yang bekerja dari rumah – work from home. Maka banyak orang yang “mudik”. Tidak tinggal di Jakarta lagi, tetapi tetap bekerja ke perusahaan (yang di Jakarta). Ada yang kerja di Blitar, misalnya, katanya. ha ha ha.

Efek dari bekerja dari rumah ini adalah kembalinya orang-orang ke daerah-daerah asalnya. Apakah ini menimbulkan efek perekonomian di daerahnya? Misalnya kan dibutuhkan lagi orang yang memasak, jualan produk harian, pembantu, dan seterusnya. Mereka juga akan beli makanan, butuh hiburan, dan seterusnya yang semunya menimbulkan kegairahan perekonomian di daerah.

Pertanyaannya adalah apakah setelah COVID-19 ini berlalu, atau setidaknya kita menemukan cara untuk hidup berasamanya, orang-orang akan tetap di tempatnya sekarang ataukah kembali ke Jakarta?

Jawaban saya saat ini adalah kemungkinan besar orang akan kembali ke Jakarta. Insentif apa untuk tetap tinggal di tempat yang sekarang? Yang ada adalah biaya hidup lebih murah dan lebih dekat ke keluarga, tetapi dahulu mereka bisa meninggalkan kedua hal di atas. Jadinya melakukan lagi bukanlah hal yang sulit. They have done it before.

Agar mereka tetap berada di tempat sesungguhnya adalah kepentingan dari daerah tersebut. Artinya kepentingan dari pemerintah daerah. Akan ada trickle down effect dari ekonomi. Apakah pimpinan daerah melihatnya begitu? Dugaan saya tidak. Jadi tidak akan ada upaya-upaya atau inisiatif untuk membujuk mereka agar tetap di tempat. Apakah di tempat tersebut ada coffee shop, tempat makan, biosokop, toko buku, tempat pertunjukan (musik, pementasan, seni, arts, …), dan seterusnya. Fasilitas seperti ini yang dicari oleh orang-orang yang kabur dari Jakarta.

Orang kreatif akan berkumpul dengan orang kreatif. Berkumpul di sini dalam artian bertemu secara fisik. Ini ternyata masih kebutuhan. Penelitian dari Richard Florida menunjukkan demikian, meskipun ini sebelum terjadinya COVID-19. Sekarang orang masih takut bertemu fisik karena belum paham cara menanggulangi COVID-19. Nanti setelah paham – baik melalui vaksin atau kemampuan medis lainnya – maka orang akan bertemu lagi secara fisik. Artinya orang akan kembali ke Jakarta.

Singkatnya distribusi SDM saat ini hanya sementara. Buktikan bahwa saya salah.

Kasus Eiger

Kemarin ramai timeline media sosial terkait dengan Eiger. Apa ceritanya? Berikut ini saya coba koleksi apa yang saya dapatkan dari internet.

Kasus diangkat oleh Dian Widiyanarko yang mendapat surat teguran dari bagian hukum (legal) Eiger. Ini dapat dilihat dari twitter-nya (di sini). (Catatan: surat memang bertanggal 2020 tetapi baru diterima oleh Dian Wiiyanarko baru-baru saja. Ada konfirmasi dari Dian di twitternya.)

Pada intinya surat mengatakan keberatan atas review yang dilakukan oleh Dian atas produk Eiger. Masalahnya Dian tidak dibayar (tidak diendorse) oleh Eiger. Dia melakukan review secara suka rela. Maka Dian keberatan diatur-atur oleh pihak Eiger.

Ternyata tidak hanya Dian yang dikirimi surat dari pihak legal Eiger ini. Ini ada beberapa contoh lainnya.

Sebelumnya banyak orang yang bertanya-tanya siapa “Hendra” ini karena ada komentar-komentar dari yang bersangkutan pada video-video unggahan para youtubers. Komentar tersebut terkesan menggurui dan mengatur-atur cara para youtubers dalam membahas produk-produk Eiger. (Foto-foto menyusul.)

Kasus ini dimanfaatkan oleh kompetitor untuk melakukan marketing. Berikut ini beberapa contohnya. Selain kompetitor yang jelas-jelas bergerak di bidang yang sama (mirip), momen ini dimanfaatkan juga oleh pelaku bisnis di bidang lain. (Contoh ada dari Durex. Foto tidak disertakan.)

Komentar-komentar miring dan lucu-lucu pun akhirnya bermunculan di media sosial. (Tidak saya tampilkan di sini, karena nantinya jadi panjang dan out of topic. Semestinya ada yang mengumpulkan komentar / meme yang lucu-lucu tersebut.)

Akhirnya pimpinan dari Eiger harus turun tangan dan mengirimkan surat berikut.

(Jika Anda menemukan data lain, mohon diberitahukan.)

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kasus ini? Bad Public Relation? Atau apa?

Jika Anda memiliki sebuah produk atau layanan dan kemudian direview oleh pihak lain, maka apa yang akan Anda lakukan? Cuek? Ngomel (ngedumel)? Tegur? Nyolot? Ajak kerjasama? Lain-lain?

Dari kacamata saya, seharusnya pihak Eiger lebih bijak dalam melihat review-review yang dilakukan oleh pembeli. Jika memang tampilan review kurang baik, misalnya kameranya kurang bagus, mungkin bisa dimodali? hi hi hi.

Tautan terkait

Statistik Terkait Indonesia

Ada banyak data dan statistik tentang Indonesia dan dunia bisnis di Indonesia yang menarik. Ini ada berapa contoh statistiknya. Kalau ada yang punya lagi, boleh dibagikan. Kalau ada yang dapat menganalisis datanya lebih asyik lagi.

Data penduduk Indonesia ini menunjukkan bahwa baby boomers sudah minoritas. Generasi terbaru biasanya lebih suka menggunakan handphone sehingga ketika mengembangkan aplikasi maka harus mobile first. Dapat dilihat pula bahwa pulau Jawa masih merupakan kunci utama.

Baru tahu bahwa sebagian besar orang Indonesia masih suka COD. Apakah ini disebabkan karena banyak orang yang belum memiliki akun di bank?

Masalah Kebijakan WA Terbaru

Baru-baru ini terjadi keributan yang luar biasa di seluruh dunia tentang kebijakan privasi aplikasi WhatsApp (WA) terbaru. (Kebijakan tersebut dapat dilihat di sini. Demikian pula Terms and Condition-nya) Dalam pandangan sebagian besar orang, kebijakan WA terbaru ini merisikokan data pribadi pengguna karena dianggap memberikan data tersebut kepada Facebook (FB). Pengguna takut dengan masalah keamanan (security) dari aplikasi WA jika WA menggunakan layanan (keluarga) Facebook.

Akibat dari kehebohan ini ada banyak pengguna WA yang kemudian hijrah ke aplikasi lain seperti Telegram, Signal, dan Bip. Diberitakan bahwa saat ini ada sekitar 2 milyar pengguna WA. Jumlah yang tidak sedikit. Pengguna Telegram sekitar 500 ribu dan pengguna Signal lebih sedikit lagi. Dalam dua minggu ada jutaan orang yang memasang aplikasi Telegram.

Saya membuat video tentang hal ini. Lihat video berikut ini.

Setelah video tersebut, saya ikut diundang untuk berdiskusi dengan WhatsApp yang kemudian menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Untuk hal ini, saya membuat update videonya. Ini dia.

Singkatnya bagaimana? Dalam pandangan saya ada beberapa hal yang utama. Pertama, kebijakan privasi WA ini cukup baik. Saya baca strukturnya sangat mudah. Ada tiga bagian utama saja, yaitu:

  • Data apa saja (tentang saya) yang dikumpulkan oleh WA;
  • Bagaimana WA mendapatkan data tersebut (baik diperoleh oleh WA sendiri atau melalui pihak lain);
  • Setelah data tersebut terkumpul, bagaimana penggunaan data tersebut.

Intinya hanya tiga hal itu saja. Menurut saya ini bagus karena kalau dahulu agak kurang jelas. Perlu diperhatikan bahwa WA dibeli oleh Facebok sudah di tahun 2016. Jika kita ketakutan sekarang, maka seharusnya kita sudah takut dari tahun 2016. Ha ha ha. Jadi apa yang dilakukan oleh WA dengan mendokumentasikan hal ini adalah merupakan sebuah peningkatan dari transparansi mereka. Bahwa kita tidak suka apa yang sudah mereka lakukan itu lain soal.

Kedua, dalam video kedua saya tersebut ditekankan bahwa perubahan kebijakan dan T&C ini sebetulnya lebih terkait dengan WhatsApp business. Jadi WA ini memiliki tiga layanan; Messenger, Business, dan Business API. Perubahannya adalah sekarang jika kita menggunakan WA business, maka kita dapat memanfaatkan infrastruktur yang dimiliki perusahaan keluarga Facebook. Ke depannya akan ada banyak fitur commerce yang akan menguntungkan bisnis yang menggunakan layanan tersebut. Pengguna messenger – seperti saya – sebetulnya tidak terlalu berubah. Ketika kita berhubungan dengan akun WA bisnis, maka kita dapat melihat bahwa itu adalah akun bisnis dan akun bisnis itu menggunakan layanan hosting Facebook atau tidak. Ini malah lebih transparan. Atau ini malah jadi membuat orang takut?

Ada banyak lagi yang ingin saya tuliskan, tetapi nanti saya buat seri tulisan saja. (Atau tulisan ini saya revisi.) Sementara ini dulu ya. Silahkan simak videonya.

Siapa Musisi Favorit Kamu?

Ketika ditanya “siapa artis (musisi) favorit kamu”, saya sering bingung menjawabnya. Masalahnya ada banyak yang saya suka. Ada beberapa pertanyaan yang serupa, yaitu ganti “musisi” dengan “lagu” atau “album”. Jawabannya juga susah. Jawaban hari ini mungkin berbeda dengan jawaban besok.

Salah satu cara saya untuk mengetahui sesungguhnya apa yang saya suka adalah dengan melihat statistik saja. Ketika saya memutar sebuah lagu di komputer saya, maka ada program yang mencatat tentang lagu tersebut. Salah satu layanan yang saya sukai adalah “last.fm”. Mereka melakukan hal tersebut. Hasilnya adalah statistik seperti gambar di bawah ini.

Ini adalah gambaran tentang album yang paling banyak saya putar. Tentu saja ini berdasarkan software yang saya gunakan untuk memutar lagu. Dalam hal ini saya menggunakan Rhythmbox (di Linux) dan iTunes (di Macbook). Keduanya saya pasangi plugin last.fm sehingga mereka mencatat statistik tersebut. Untungnya aplikasi Spotify juga melakukan hal ini. Hanya saja aplikasi di handphone saya tidak memiliki plugin ini.

Aplikasi lain yang tidak memiliki plugin last.fm adalah YouTube. Jadi kalau saya mendengarkan lagu melalui browser saya yang diarahkan ke YouTube, maka lagu yang saya dengarkan tersebut tidak tercatat dalam statistik saya. Padahal ini sekarang yang paling banyak saya lakukan, mendengarkan lagu melalui YouTube. Alasannya karena masih ada banyak lagu yang tidak ada di Spotify.

Dahulu saya juga memiliki koleksi lagu-lagu secara fisik dalam bentuk kaset, piringan hitam, CD, dan files (mp3, FLAC, dll.) yang saya simpan di CD dan harddisk. Sekarang mereka malah menyampah. Di depan saya ada 10 harddisk yang berisi macam-macam, termasuk lagu-lagu. Sekarang mau saya upload saja ke server saya. Mumpung saya lagi buat NAS untuk menampung berbagai berkas. Atau sekalian di-online-kan saja (misal sewa google drive atau amazon)? Hmmm …

Kembali ke pertanyaan, siapa artis / musisi / lagu / album favoritmu, jawaban saya adalah tinggal melihat statistik saya tersebut. Tidak bisa berbohong.

Xiao Long Bao

Setiap ke tempat makan dim sum yang ada Xiao Long Bao selalu saya pesan makanan itu. Sayangnya biasanya rasanya biasa-biasa saja atau kurang enak. Satu-satunya tempat yang enak Xiao Long Bao-nya adalah di restoran Imperial Treasure di Plaza Indonesia, Jakarta. Sebelumnya nama restorannya lupa, tetapi restoran tersebut kemudian menjadi tidak halal. Kalau yang di luar Indonesia, yang di Singapura memang restorannya tidak halal jadi tidak pernah mencoba di sana.

Ini fotonya (yang rasanya biasa-biasa saja).

Xiao Long Bao (sumber: @rahard)

Isinya adalah cairan yang ada rasa jahenya (tidak tajam). Jadi begitu digigit salah satu ujungnya, maka cairan hangat itu keluar dan masuk ke kerongkongan kita. Makannya harus ada caranya. ha ha ha.