Pentingnya Web KPU Bagi Kita Semua

Belakangan ini ada banyak opini, ajakan, tulisan yang salah. Ajakannya adalah untuk merusak web KPU. Wah ini salah sekali. Lebih salah dari salah.

Begini …

Pertama – dan yang paling utama – adalah hasil pemilihan umum yang resmi adalah hasil perhitungan secara manual. Titik. Itu dulu yang kita pegang. Hasil lain – apapun – tidak ada dasar hukumnya. Dahulu saya ingin agar data elektronik hasil pemilu dapat dianggap sah, tetapi landasan hukumnya tidak ada. Kami meneliti e-Voting. Sudah ada banyak mahasiswa S2 dan S3 saya yang meneliti di bidang ini. Namun secara hukum, untuk pemilu, ya sah adalah perhitungan manual.

Lantas apa hubungannya dengan web KPU? Kalau web KPU dirusak, ya tidak ada pengaruhnya. Lah yang dihitung adalah perhitungan manual. Iya, kertas yang kita coblos itu. Itu yang sahnya. Lha mbok data di web KPU mau diubah seperti apapun ya bakalan tidak pengaruh.

Kedua, justru web KPU itu kita butuhkan untuk memastikan bahwa KPU kerjanya benar. Kita dapat menguji apakah data yang ada di KPU sama dengan data yang ada di TPS kita. Kesalahan memasukkan data dapat terjadi. Perhatikan bahwa para petugas-petugas di lapangan bekerja keras, berjibaku menunaikan tugasnya. Bahkan ada yang bertugas lebih dari 24 jam. Kelelahan. Tentu saja ada kemungkinan salah menghitung atau salah melakukan data entry. Maka keberadaan web KPU dan kejelian mata kita untuk mendeteksi kesalahan dan melaporkannya kepada mereka. Itu akan menjadi umpan balik (feedback) bagi mereka untuk melakukan check & recheck.

Kalau web KPU dirusak, maka kita tidak punya kesempatan untuk ikut mengawasi. Upaya merusak web KPU itu menurut saya merupakan kejahatan kriminal yang harus dipidana. Maka menjaga web KPU merupakan tugas kita semua. Tugas seluruh warga Indonesia. Bagi yang melakukan pengrusakan, cabut saja kewarganegaraannya! Jika Anda melihat orang yang melakukan pengrusakan web KPU, tegur dan/atau laporkan ke Polisi. Sanggupkah kita melakukan tugas ini? Bersama-sama, kita pasti bisa! Mosok tidak bisa sih? Malu-maluin. Sini …

Khusus untuk Pemilu 2019, link kepada hasil perhitungan (sementara) ada link berikut ini. (Gunakan untuk memantau hasilnya ya. Jangan dirusak.)

https://pemilu2019.kpu.go.id/#/ppwp/hitung-suara/

sumber gambar


Iklan

Marah atau Tertawa

Ini kejadiannya kemarin. Seperti biasa, Sabtu sore saya main futsal. Kemarin pun demikian. Saya berangkat seperti biasa. Sampai di tempat futsal, saya cari-cari sepatu saya. Ternyata lupa bawa. Hadoh. Kaos bawa, sepatu tidak. Kok bisa ya?

Bagaimana saya menyikapi kejadian seperti ini? Saya bisa marah, tapi bisa juga tertawa. Pilih mana? Saya pilih tertawa saja. HA HA HA. Saya menertawakan diri sendiri. Kenapa kok sampai lupa? ha ha ha. Maka saya pun kembali pulang. Entah kenapa – mungkin karena saya tertawa – maka lalu lintas pun terasa tidak ramai. Bolak balik – ke rumah dan ke tempat futsal lagi – ternyata super lancar. Belum pernah selancar ini. Sampai tempat futsal masih sebelum waktunya main. Whoa. Alam berkolaborasi dengan saya.

Ada banyak kejadian yang serupa yang disikapi banyak orang dengan marah-marah. Biasanya marah kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri. Kejadian yang saya alami tadi, yang saya jadikan contoh, memang sangat mudah untuk ditertawakan. Ada banyak kejadian lain yang lebih sulit situasinya. Maka untuk memilih tertawa lebih susah, tapi bisa. Tentu saja ini menurut saya.

Jadi Anda pilih marah-marah atau tertawa?

Belajar Kalah

Kebanyakan orang tidak mau kalah. Atau lebih tepatnya tidak mau belajar menerima kekalahan. Maunya menang terus. Memang tidak ada orang yang senang kalau kalah, tetapi kalah adalah bagian dari kehidupan yang perlu dilalui juga.

Saya ambil contoh di lingkungan olah raga sekitar saya saja. Ketika kita bermain sepak bola atau futsal, maka kita ingin tim kita anggotanya yang hebat-hebat saja. Padahal ada anggota yang masih baru belajar bermain. Mereka kita singkirkan. Kita tidak mau mereka bagian dari tim kita. Alasannya adalah kemungkinan kalah akan sangat besar dengan keberadaan mereka. Untuk yang seperti ini, saya tidak terlalu mempermasalahkan anggota tim. Yang penting adalah bisa bermain bersama-sama. Mungkin ini karena tujuan saya adalah untuk mencari kesenangan, bukan mencari prestasi.

Contoh lain, begitu tim kita kalah – misal tim olah raga – maka pertandingan berikutnya ada yang tidak hadir. Sudah pasti kalah, mengapa perlu hadir? Mereka lupa bahwa ini adalah kegiatan bersama – team work. Bahwa kehadiran untuk mendukung acara itu lebih penting dari menang kalah. Begitu juga ketika sedang bermain dan kalah, maka patah semangatlah. Sementara itu justru saya tetap bersemangat bermain. Karena hanya semangatlah yang saya miliki.

Ketika kita pernah merasakan (sakitnya) kalah, maka ketika kita menang kita tidak sombong. Tidak jumawa. Berempati terhadap yang kalah. Bolehlah menunjukkan kesenangan, tetapi jangan berlebihan. Normal saja.

“You got to lose to know how you win”

(Aerosmith – Dream On)

Tercapai 1000 YouTube Subscribers

Akhir tahun lalu saya mencanangan akan memiliki 1000 YouTube subscribers (pelanggan?) di kanal YouTube saya. Pada waktu itu saya memulai dengan sekitar 100-an orang saja. Maklum, pada waktu itu saya belum tertarik kepada YouTube. Sekarang saya harus melihat kepada YouTube karena saya memberikan pekerjaan rumah kepada mahasiswa saya (terkait dengan membuat video pitching start-up). Jadi terpaksa saya sendiri juga harus mencoba.

Tentu saja target pada akhir tahun lalu tidak tercapai. Gagal. Memang saya tidak melakukan hal yang khusus untuk meningkatkan jumlah subscribers saya. Saya ingin melakukannya secara organik, tidak pakai pura-pura atau menggunakan trick-trick yang nakal.

Awal tahun saya mulai mencoba menambahkan jumlah video di kanal YouTube saya. Teori saya – seperti yang sudah-sudah – adalah kuantitas lebih penting dari kualitas. Maka saya akan memperbanyak jumlah video dahulu. Inipun bukan hal yang mudah. Membuat video yang asal-asalan pun tidak mudah. ha ha ha. Tadinya ingin membuat satu video setiap minggunya, tetapi target ini juga tidak terkejar. Jangankan membuat video – menulis di blog ini saja juga sudah mulai keteteran. (Semakin banyak kegiatan-kegiatan saya. Harusnya saya tuliskan juga di blog ini ya? Hmm…)

Akhirnya beberapa hari yang lalu jumlah subscribers kanal YouTube saya sudah melewati 1000 orang. Target tercapai.

Target berikutnya adalah membuat video yang lebih banyak (dan lebih bagus) agar semakin banyak orang yang menonton dan semakin banyak orang yang belajar. Ya, saya ingin mengajari orang melalui YouTube.

Ayo, yang belum berlangganan, daftar di sana ya. Jangan lupa ya. Ini channelnya.

https://www.youtube.com/BudiRahardjoBandung

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Kesulitan Kerja Remote: Disiplin

Kemajuan teknologi informasi membuat orang dapat bekerja dari jarak jauh. Remote worker. Seseorang tidak perlu berada secara fisik di kantor, tetapi dapat mengerjakan tugas-tugas kantor yang harus dikerjakan. Secara teknis, tidak ada masalah yang signifikan. Tentu saja ada hal rinci yang harus dikerjakan atau dibereskan, tetapi ini ada solusinya.

Yang menjadi masalah adalah etos kerja. Disiplin. Setelah saya perhatikan ternyata banyak orang (mungkin malah sebagian besar?) orang Indonesia sulit memiliki disiplin dalam bekerja. Jangankan bekerja dari jarak jauh. Bekerja secara fisik di kantor pun sudah memiliki masalah.

Salah satu ujian yang saya berikan (meskipun tidak secara eksplisit saya katakan bahwa ini ujian) adalah kehadiran di kantor untuk 3 bulan pertama. Biasanya untuk pekerja baru, mahasiswa kerja praktek / magang, dan sejenisnya, saya haruskan mereka hadir setiap hari ke kantor. Ini untuk mengajari tentang disiplin. Jika disiplin ini sudah ada, maka bekerja di tempat lain merupakan langkah selanjutnya.

Ternyata hanya untuk hadir secara rutinpun sudah menjadi masalah. Seminggu rajin, minggu-minggu berikutnya mulai berat. Bulan kedua mulai terlihat mana yang memiliki disiplin dan mana yang tidak / belum.

Jadi, saya masih belum yakin bahwa bekerja dari jarak jauh (remote worker) akan dapat dilakuan di Indonesia. Ini pendapat umum. Tentu saja ada yang bisa. Di tempat saya, ada banyak yang memang dapat bekerja secara remote.

Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.