Category Archives: Curhat

Dilarang Beropini!

Pemanfaatan teknologi informasi sekarang membuat orang menjadi mudah untuk mengeluarkan pendapat. Opini dapat disalurkan melalui blog atau bahkan melalui status facebook dan tweet di twitter. (Saya pribadi agak sedikit alergi dengan tweet di twitter karena jadinya menggampangkan topik yang dibahas.)

Yang menjadi masalah adalah seringkali orang yang mengeluarkan opini ini bukanlah orang yang kopeten di bidangnya. Sebagai contoh, saya pernah diminta untuk mengeluarkan pendapat mengenai siapa yang akan menjadi juara dunia sepak bola. ha ha ha. Memangnya saya kredibel gitu untuk melakukan analisis sepak bola dunia? Tidak! Ya opini saya akan ngawur. Penonton bola seperti saya lebih sok tahu daripada orang yang memang menggeluti bidang sepak bola.

Di dunia media sosial, banyak orang yang mudah sekali mengeluarkan opini.  Yang ini malah lebih banyak lagi yang tidak kompeten. Sayangnya banyak pembaca yang kemudian berpikir bahwa opini tersebut valid, seperti diutarakan oleh pakarnya. Kemudian opini ngawur ini diteruskan ke berbagai teman. Tambah ngawur lagi. Tidak ada upaya untuk mencoba mencari tahu hal yang sesungguhnya. Malaslah.

Lantas, apa orang tidak boleh beropini? Kan itu hak saya.

Ya boleh juga sih beropini sesukannya, tetapi jangan marah kalau ditertawakan orang. Siap tidak? Yang ini biasanya tidak siap. Tidak mau ditertawakan. Nah. Kalau Anda merasa berhak untuk membuat opini ngawur, maka orang juga berhak untuk menertawakan Anda.

Mari kita tertawa … ha ha ha.


Pengalihan Dana Penelitian

Baru-baru ini ada keributan soal pengalihan dana penelitian dari perguruan tinggi (ke industri). Ya, ya, ya. Semua pandai berteori tetapi jarang (atau bahkan tidak ada?) dari mereka yang sesungguhnya melakukan penelitian sehingga mengetahui apa yang terjadi dengan penelitian di Indonesia. Namun begitu yang dibicarakan adalah masalah uang, semua lantas merasa berkepentingan. hi hi hi.

Perguruan tinggi dituntut untuk melakukan penelitian. Harus. Ini salah satu tri dharma perguruan tinggi. Lantas dananya mau diberhentikan? Dan kemudian semua pihak marah-marah kalau ranking penelitian (dan hasilnya dalam bentuk makalah) kalah dari Malaysia? Ha ha ha.

Begini saja. Penelitian harus selesai bulan November. Ini sudah bulan Agustus. Dana penelitian belum turun. Lantas peneliti mau hidup dari mana? Bagaimana dengan keluarganya? Jangan salahkan para peneliti yang akhirnya hijrah ke negeri lain. Lantas kita membicara dana penelitian yang tidak kunjung muncul? Ini sih berebut pepesan kosong.

Saya? Ah saya sih masih termasuk orang gila yang masih mau melakukan penelitian di Indonesia. Bagaimana lagi, wong jiwa saya adalah jiwa peneliti. Saya melakukan penelitian bukan untuk mencari tepuk tangan, tetapi karena memang harus meneliti. Dengan sumber daya yang terbatas, Alhamdulillah, saya masih masuk ke dalam ranking peneliti dari Indonesia.

Mohon maaf kalau tulisan kali ini isinya adalah curhatan (seorang peneliti).


Long Live Electronics!

[Mohon maaf, judulnya dalam bahasa Inggris karena itulah yang terbayang di kepala saya.]

Beberapa tahun yang lalau ada diskusi “galau” di antara kami, lulusan dan dosen dari jurusan Teknik Elektro. Pasalnya, mahasiswa lebih tertarik kepada ngoprek software daripada hardware. Banyak tugas akhir dan thesis dari mahasiswa Elektro yang akhirnya lebih berat aspek softwarenya. Ketika ditanyakan kepada sang mahasiswa, alasannya sederhana yaitu “software lebih mudah“. Hadoh.

Sesungguhnya ngoprek software itu terlihat mudah kalau dia hanya mainan (dolanan). Kalau dia dikerjakan secara sungguhan, software itu tidak mudah. Ada ilmunya. Kemarin ada orang yang mengatakan, buat apa kuliah untuk belajar pemrograman. Bisa belajar sendiri. Boleh jadi dia benar untuk sebagian kecil orang, tetapi umumnya orang masih harus sekolah untuk belajar pemrograman yang baik dan benar. (Ini bisa menjadi bahan diskusi yang lebih dalam.)

Ngoprek software itu lebih murah daripada ngoprek hardware. Nah, kalau yang ini mungkin benar. Kalau membuat rangkaian elektronik, kita harus beli komponen. Kalau komponennya rusak – dan ini sering terjadi dalam eksperimen – maka kita harus beli komponen lagi. Biarpun harganya murah, tetapi ini keluar uang secara nyata.

Anyway. Intinya adalah ada anggapan bahwa software itu lebih mudah sehingga banyak yang tidak tertarik kepada hardware.

Kami, khususnya yang berlatar belakang Elektronika, agak khawatir. Jangan-jangan masa depan Elektronika dan secara umum Electrical Engineering akan mati. Dia menjadi tidak relevan lagi. Hadoh.

Namun ternyata masa depan Elektronika cerah (kembali) dengan munculnya Internet of Things (IoT). Ada banyak aplikasi baru yang membutuhkan perangkat keras. Elektronika! Yaaayyy. Ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah kompleksitas dari komponen elektronika sudah semakin tinggi sehingga kemampuan komputasi komponen dalam ukuran kecil sudah menyamai komputasi komputer desktop (jaman dahulu). Mulanya muncul Arduino. Kemudian ada Raspberry Pi. Sekarang muncul yang lebih canggih (dan lebih kecil lagi), seperti Intel Curie.

Peningkatan kompleksitas dalam ukuran kecil ini juga dibarengi dengan harga yang murah. Ini yang membuat ngoprek perangkat keras (kembali) masuk ke dalam jangkauan kantong mahasiswa (dan laboratorium). Sementara itu banyak ide aplikasi yang dapat dikembangkan dengan menambahkan hardware ini; wearable computing, smart sensors, health & personal applications, dan masih banyak lagi. Maka ngoprek perangkat keras menjadi relevan lagi. Ilmu elektronika menjadi relevan kembali. Alhamdulillah.

Long Live Electronics!


Gagal Mencoba Cara Baru Ngeblog

Dikarenakan satu dan lain hal – yang pada prinsipnya akses ke internet saya agak susah – maka saya mencoba cara lain untuk ngeblog. Biasanya, begitu ada ide langsung saya tuliskan di blog dan langsung publish. Nah, akhir-akhir ini saya terpaksa membuat draft dulu sebelum publish. Ternyata cara ini tidak cocok untuk saya. Hasilnya adalah banyak draft dan tidak ada satu-pun yang ter-publish. Hadoh.

Nampaknya saya harus kembali ngeblog ke cara lama, atau tetap mencoba dan berlatih ngeblog dengan gaya baru ini. Eh, harus keduanya ya. Okelah. Berlatih. Sementara itu saya publish tulisan curhat ini dulu. Jreng!


Lebaran

Lebaran (dan mudik) rupanya berimbas ke blog ini juga. Beberapa hari ini belum sempat ngeblog karena “mudik”. Sebetulnya mungkin lebih tepat disebut “ngota” alias ke kota karena kami ke Jakarta. Untungnya perjalanan lebaran kami melawan arus mudik sehingga tidak mengalami kemacetan.

Sebelum lupa, saya memohon maaf lahir dan batin. Semoga amalan kita diterima oleh Allah (swt).

11705389_10153010703456526_7608551199243869090_o

Oh ya, berat badan yang turun karena puasa kemarin itu sudah kembali lagi dan malah bertambah dalam beberapa hari saja. Hadoh. Makan-makan terus tanpa disertai dengan olah raga. Alasannya sih karena nggak sopan menolak tawaran makanan dari saudara-saudara. he he he. Gawat sekali nih. Semoga berat badan dapat kembali “normal”. Hi hi hi.

Bagaimana dengan lebaran Anda? Mudik?


Waktu Cepat Berlalu

Liburan mahasiswa sudah hampir berakhir. Liburan Hari Raya sih memang sangat singkat. Nyaris tidak libur. Padahal tadinya saya ingin memperbaiki dan memperbaharui materi kuliah. Selain itu ingin mencoba berbagai tools, aplikasi, dan seterusnya. Banyaklah kemauannya, tapi kenyataannya nyaris nol besar.

Banyak waktu saya yang “terbuang” untuk membaca. Yang saya bacapun buku buku-buku teknis saja, tetapi buku novel pun ada. Sebagai orang teknis, kadang saya merasa berdosa menghabiskan waktu tidak untuk hal-hal yang teknis. Padahal sesungguhnya meningkatkan pemahaman tentang hal-hal di luar yang teknis – dengan membaca – merupakan hal yang sangat penting. Sesungguhnya waktu itu tidak terbuang dengan membaca.

Waktu cepat berlalu. Merugilah orang yang menyia-nyiakan waktu.

[dimana saya letakkan time machine itu ya? … mencari …]


Pengunjung Mulai Mudik

Iseng-iseng saya mengamati statistik pengunjung blog ini. Ternyata terjadi penurunan. Ada dua kemungkinan. Pertama, saya kurang rajin menulis sehingga pengunjung juga kurang perlu rajin melihat. Atau, kebanyakan pengunjung mengakses blog ini dari kantor atau sekolah. Nah, sekarang adalah musimnya mudik. Maka ketika pengunjung mudik, statistikpun ikut mudik. hi hi hi.

Sebetulnya ini masa yang menarik. Ketika pengunjung sedang sepi, maka saya malah dapat bereksperimen menulis macem-macem. Toh yang membaca sedikit. he he he. Tujuan membuat blog ini kan bukan mencari popularitas, tetapi sebagai tempat saya untuk melakukan eksperimen dalam hal menulis.

Mau eksperimen apa ya? Hmmm…


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.456 pengikut lainnya.