Category Archives: Curhat

Ngaso

Dua hari kemarin cukup padat acara saya. Sebetulnya yang paling padat adalah hari Sabtu. Itu adalah hari kami, Insan Music Store, mengadakan launching – seperti telah dituliskan di artikel sebelumnya. Seharian kami berada di tempat acara. Akibatnya, belum sempat ngeblog.

Tadi pagi mau ngeblog, tetapi ada banyak kerjaan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah menjemur alat-alat musik dan peralatan lain yang kemarin kehujanan. Selain itu saya juga mengumpulkan foto-foto dari acara kemarin. Ada banyak fotonya. Mungkin jumlahnya lebih dari 600 foto. Tentunya harus dipilah-pilah mana yang layak disimpan dan mana yang bisa dihapus saja. Jadinya belum sempat ngeblog dengan serius.

Tulisan ini hanya untuk menceritakan bahwa saya ngaso sejenak. Eh, kebanyakan ngasonya ding. hi hi hi.


Sabtu Yang Produktif

Pagi ini, Sabtu pagi, saya memulai hari dengan melakukan backup komputer. Rencananya memindahkan data dari berbagai disk di komputer ke backup disk 2 TB. Dugaan saya jumlah data yang harus dibackup lebih dari 1 TB. Masalahnya proses ini dilakukan melalui USB yang agak lambat. Jam-jaman lah waktunya. (Ketika membuat tulisan ini, di belakang layar sedang terjadi proses backup.)

Sebetulnya seharusnya pagi ini ada main sepak bola di lapangan besar, tetapi nanti sore saya ada futsal dan nanti malam akan ada pertemuan yang akan menyita waktu dan tenaga. (Lewat tengah malam.) Terpaksa tidak ikutan sepak bola.

Sekarang saya sambil membereskan materi kuliah, web, data insan music, dan juga akan melanjutkan menulis laporan (tentang e-commerce). Pokoknya semuanya harus saya kerjakan pagi ini. Padahal di luar cuacanya begitu indah. Beautiful morning in Bandung. duh. Mendingan berjemur di luar saja.

Atau, alternatif lain adalah membawa. Ada banyak buku baru yang saya peroleh karena kemarin menunggu toko buka di BEC dan mampir ke Gramedia. Pulangnya bawa buku. Hadoh. Kapan bacanya ya? Yang membuat saya galau adalah saya merasa kalau membaca itu tidak produktif. Menghabiskan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk menulis. Bagaimana nih?

25906487520_bdba7871d0_o

 


Agama Orang Lain

Kenapa ya kok banyak orang yang sibuk ngurusi agamanya orang lain? Asyik mencela, mencari-cari kesalahan, mengomentari agama orang lain. Kemudian kalau melihat simbol-simbol agama lain ketakutan. Seolah-olah keyakinannya bergantung kepada simbol-simbol agama lain. Demikian pula jika ada kegiatan agama lain, langsung defensif.

Padahal kalau sudah yakin dengan agamanya sendiri, hal-hal di atas tidak perlu dilakukan. Saya meyakini bahwa hidayah hanya datang dari Allah. Tetaplah teguh dan bersabar. Tidak perlu kita sibuk dengan mencela agama orang lain.


Aku Berbeda!

Entah sejak kapan – seingat saya, sejak kecil – saya memahami bahwa saya berbeda. (Tidak bosan-bosannya saya menggunakan kalimat ini untuk memulai tulisan karena masih banyak orang yang belum mengerti maksud saya.) Untuk itu saya tidak pernah membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Hasilnya, saya merasa bahagia saja. Mungkin ini juga terjadi karena saya tidak peduli. he he he.

Sebagian besar orang membandingkan dirinya dengan orang lain. Hasilnya ada dua kemungkinan. Pertama, menjadi minder karena orang lain terlihat lebih sukses. (Perlu saya tebalkan kata “terlihat” karena kenyataannya sering terbalik.) Kemungkinan lain adalah menjadi sombong atau arogan karena orang lain terlihat gagal.

Sebagian besar orang ingin menjadi orang lain dan ingin terlihat hebat di mata orang lain. Misalnya, ada tetangga yang sekolahnya tinggi maka dia ingin sekolahnya tinggi juga. Bukan karena ingin ilmunya, tetapi karena ingin dilihat tinggi. Ingin dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ada yang menjadi pejabat, maka dia ingin menjadi pejabat juga. Ada yang kaya, maka dia ingin jadi kaya juga. Minder terus. Padahal, sesungguhnya dia tidak tahu yang dia inginkan.

Saya sendiri mendapat banyak tawaran untuk menjadi seperti orang lain. Dari mulai yang biasa sampai ke yang tingkatnya cukup tinggi. No thanks. Terima kasih. Tidak. Saya tidak mau itu. I know what I want and that’s not it. Saya berbeda bukan karena semata-mata ingin berbeda. Kebetulan yang saya inginkan dan cara saya mencapainya berbeda dengan mainstream.

Kasus yang saya hadapi karena berbeda ini banyak. Kebanyakan kasusnya kecil-kecil tapi di mata orang jadi besar. Sebagai contoh yang kecil, cara saya berpakaian. Saya berpakaian tidak serapih (baca: necis) orang-orang. Pakaian saya bersih. Tentu saja. (Untuk hal ini saya agak OCD. he he he.) Tetapi pakaian saya dianggap orang “tidak cocok” dengan status saya. Saya ke kampus pakai kaos, jeans, sepatu boots atau kets. Kalau pakai kemejapun biasanya tidak saya masukkan (tucked in), tetapi saya biarkan di luar. Nah, ini bikin gatel orang-orang di Indonesia sini karena katanya saya dosen dan S3. Harusnya pakai pakaian yang perlente. Bagi saya ini hal kecil, tetapi bagi orang ini masalah besar. Mungkin kalau saya kerja di Facebook ndak masalah karena si Mark juga pakaiannya seperti itu. ha ha ha. Poin saya adalah saya tidak tertarik untuk dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Mengenai “kesuksesan” orang lain, itu sebetulnya … ilusi. Saya jadi teringat lagu “Grand Illusion” dari band Styx. Silahkan cari liriknya dan pelajari. Di video yang saya sertakan ini juga ada introduction mengenai apa yang saya maksudkan. (Jangan-jangan tulisan ini sebetulnya hanya supaya saya bisa memposkan video ini. hi hi hi. Styx merupakan salah satu band kesukaan saya. Ini kesempatan untuk menuliskan sesuatu dengan link ke Styx.)


Klakson

Sebetulnya saya termasuk yang tidak suka menggunakan klakson. Berisik. Polusi suara. Mungkin ini kebiasaan yang saya bawa dari dulu dan dari luar negeri. Dan sebetulnya bisa sih mengendarai tanpa menggunakan klakson.

Akhir-akhir ini saya jadi lebih sering menggunakan klakson. Pasalnya, banyak pengemudi – yang umumnya adalah pengendara motor – yang tidak melihat ke kiri, kanan, belakang. Mereka pandangannya lurus ke depan tetapi cara mengendarainya meliuk-liuk. Berbahaya sekali. Begitu saya klakson, baru mereka melihat ke belakang (karena spionnya pun seringkali tidak di arahkan ke belakang – mungkin untuk melihat dirinya sendiri? Ngaca? hi hi hi.) Jadi saya membunyikan klakson karena terpaksa. Sedihnya sekarang lebih banyak terpaksanya daripada tidak terpaksanya.

Saya masih berusaha untuk menahan diri agar tidak membunyikan klakson. Tapi, bagaimana ya mengajari pengemudi agar lebih sering-sering lihat kanan, kiri, dan belakang?


Platform Distribusi Lagu Digital

Kadang saya bingung melihat banyak artis musik dan asosiasi (artis) musik yang ribut soal pembajakan. Mereka telah menghasilkan karya dan kemudian meras bahwa dunia digital memudahkan orang untuk “membajak” lagu mereka. Terminologi “membajak” di sini adalah mengambil (download atau sejenisnya) lagu (karya) mereka tanpa membayar.

Ok lah pembajakan digital ini tidak benar secara hukum dan etika. Lantas apa solusinya? Sebagian besar tidak membicarakan solusi. Hanya berkeluh kesah tentang pembajakan itu. Iya, lantas apa solusinya? Pokoknya nggak mau dibajak. Iyaaaa … apa solusinya?

logo-insan-musicDahulu saya dapat memahami tentang sulitnya mengatakan solusi karena belum tersedia layanan / aplikasi / teknologi / framework / platform untuk itu. Sekarang sudah banyak. Kami, salah satunya, membuat platform distribusi lagu digital di Insan Music Store. Silahkan lihat ke toko digital kami di toko.insanmusic.com. Anda bisa langsung membuat akun manager dan kemudian membuat channel musik digital Anda (sebagai artis, atau sebagai manager artis musik).

Seharusnya keluh kesah mengenai “pembajakan” ini dapat berkurang. Eh, saya lihat tidak juga. Para artis musik ini masih tetap saja melihat ke belakang, yaitu masih berkeluh kesah tentang pembajakan tanpa mau mencoba platform tersebut. Ya, mana bisa selesai masalah dengan berkeluh kesah saja.


Negeri Yang Tidak Ramah Inovasi

Di Indonesia ini ada inovasi sedikit saja, malah diganjel. Bukan didukung. Penelitian dicela. Pas penelitiannya mau dibawa ke luar negeri, baru panik. Penelitian harus berhasil, karena kalau gagal bisa masuk bui. Inovasi aplikasi, mau diblokir.

Mungkin sebaiknya anak-anak muda Indonesia yang ingin memulai usaha (sebagai entrepreneur) atau menjadi inovator berada di luar negeri saja? Kemudian setelah di luar negeri, menggunakan Indonesia sebagai pasar. Negara rugi berkali-kali lipat. SDM di luar negeri, pajak gak dapat, nama gak dapat, hanya jadi pasar saja.

Mau menulis seperti ini saja kayaknya bagusnya dilakukan di luar negeri dengan menggunakan fasilitas dari luar negeri saja ya. Sekalian.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.733 pengikut lainnya