Apakah Perlu Sekolah Formal?

Banyak orang yang mempertanyakan apakah masih perlu sekolah formal? Buktinya banyak orang yang dropout – gagal sekolah formal – yang sukses juga. Bahkan kalau di dunia IT banyak contohnya. Sekarang ditambah lagi dengan bisnis-bisnis online ada juga yang sukses. Jadi untuk apa sekolah?

Di saat yang sama, banyak orang yang menihilkan proses belajar. Ada yang kemudian menihilkan kemampuan seorang profesor yang telah puluhan tahun mendalami ilmunya. (Kebetulan kalau di Indonesia, ini kasus agama. ha ha ha. Misalnya ada yang meragukan keilmuan Prof. Quraish Shihab atau mas Nadirsyah Hosen. ha ha ha.) Banyak orang yang merasa kemudian sok bisa.

(Di bidang ilmu saya juga sama sih. Ada banyak yang tiba-tiba menjadi pakar security. he he he. Tapi kalau ini saya ambil sebagai contoh, jadi berkesan lebay. hi hi hi.)

Sekolah formal, jika dilakukan dengan benar, sangat dibutuhkan! Singkatnya demikian.

Mengapa ada embel-embel “jika dilakukan dengan benar”? Karena saat ini banyak orang yang sekolah bukan untuk mencari ilmu, tetapi hanya sekedar untuk menghabiskan waktu. Daripada anak ngganggur di rumah, lebih mereka disuruh sekolah saja. Jadinya di sekolah ya hanya sekedar membunuh waktu saja. Demikian pula yang menjadi pengajarnya, mereka bukan niat untuk menjadi guru (pengajar, dosen), tetapi hanya sekedar untuk bekerja dan menunaikan tugas administratif saja. Hasilnya menjadi buruk dan kemudian timbullah persepsi bahwa sekolah formal itu tidak penting.

Kan sudah ada buku-buku dan internet? Mengapa perlu sekolah formal?

Untuk sebagian kecil orang, belajar mandiri dapat dilakukan dan memang bagi mereka sekolah formal tidak begitu penting (selain dari ijasahnya). Tapi “sebagian kecil”nya itu sangat kecil sekali. Saya jarang menemukan orang yang dapat belajar mandiri seperti ini. Umumnya orang tidak sanggup belajar sendiri. Dibutuhkan kedewasaan dan ketekunan yang luar biasa.

Sedihnya banyak orang yang merasa dapat belajar sendiri dan kemudian mudah puas setelah mengetahui kulitnya. Padahal sesungguhnya mereka itu tidak mengerti, tapi kemudian paling vokal kalau berbicara. Ini gawat sekali.

Sekolah formal menunjukkan peta perjalanan atau tuntunan dalam belajar. Sebelum mempelajari B, sebaiknya belajar A dahulu sebagai dasarnya. Hal ini diperoleh dari pemahaman dan pengalaman sebelumnya. Maka sekolah formal dapat mempermudah proses belajar. Tanpa tuntunan tersebut, belajarnya boleh jadi nabrak ke sana sini sehingga memboroskan waktu yang semestinya tidak perlu terjadi.

Belajar dengan seorang guru yang memang gurunya dalam bidang itu membuat kita menjadi lebih mudah belajar. Guru ini biasanya ada di sekolah formal, meskipun ada juga yang informal. Yang terakhir ini jarang.

Kembali ke pokok pembicaraan, singkatnya, sekolah formal itu masih penting. Begitu.

Iklan

Saya Juga Bisalah

Sekarang banyak orang yang sok jago. Merasa bisa segala hal. Semua orang dikritiknya. Padahal mereka tidak mengetahui banyak hal dari apa yang dikritiknya. Media sosial penuh dengan spesies seperti itu. Dalam olah raga, penonton selalu merasa lebih jagoan daripada pemain dan pelatih. ha ha ha.

Ada proses belajar, melalui teori dan praktek, untuk dapat mengerjakan sesuatu dengan baik. Apalagi kalau mau jadi jagoan. Proses belajar ini membutuhkan waktu. Tidak bisa seketika. Tapi, banyak yang mau instan. Proses belajar ini juga membutuhkan upaya. Tidak boleh malas.Tapi, banyak yang maunya disuapi.

Ketika orang yang merasa jagoan ini diberitahu, misalnya untuk membaca referensi ini dan itu, mereka malah bertanya “memangnya isinya apa”. Halah. Padahal sudah ditunjukkan referensinya. Mereka tinggal membaca. Namun inipun diabaikan. Jika orang tidak mau menjelaskan kepada mereka, maka mereka enggan berusaha untuk belajar dan tetap pada pendirian mereka (yang salah).

Bagaimana menghadapi orang semacam itu ya? Abaikan saja? Soalnya mengajari mereka itu membutuhkan kesabaran dalam ukuran yang luar biasa. Gimana ya?

Begitu ada orang yang berkata “saya juga bisa”, langsung saya meringis. Hadoh. Ujian kesabaran nih.

Masih Sibuk

Hadoh. Bagaimana ini ya? Saya kira kesibukan akan mereda. Eh, ternyata tidak. Padahal bulan Ramadhan sudah berjalan 1/2 bulan. Menjelang lebaranpun masih tetap sibuk.

Saat ini setidaknya ada 5 mahasiswa S2 bimbingan saya yang mau sidang minggu depan. Makanya banyak yang bimbingan. hi hi hi. Okelah. Selain itu ternyata ada banyak kerjaan lain yang juga meningkat. Padahal kelas-kelas juga sudah selesai (tinggal perbaikan tugas-tugas yang belum berhasil saya periksa semuanya). Wogh.

Semangat!

Warisan

Ternyata lagi heboh soal “warisan”. Maksudnya soal tulisan tentang warisan agama itu. Saya mah nyantai saja. ha ha ha. Bayangkan begini.

Jika, misalnya (ini misalnya lho), Anda mendapat warisan 3 milyar Rupiah. Kalau Anda diberitahu bahwa Anda dapat warisan 3 milyar, bagaimana sikap Anda? Kalau saya sih akan senang dan berkata … Amiiin … eh, Alhamdulillah. hi hi hi …

Sama lah dengan warisan agama. Ya, Alhamdulillah jugalah. hi hi hi …

Tentu saja berusaha sendiri lebih baik. Sudahkah kita berusaha?

#selalupositif

[mau nulis yang panjang-panjang, tidak ada yang baca. lagian, ini lagi bulan puasa. alasan, yang tidak nyambung tapi original.]

Ramadhan Yang Tetap Sibuk

Kuliah sudah selesai. Tadinya saya pikir kegiatan akan berkurang. Pas masuk bulan Ramadhan pula. Cocoklah. Eh, ternyata kegiatan tidak berhenti. ha ha ha.

Kemarin saja saya memberikan presentasi (terkait dengan entrepreneurship), meeting, meeting, dan meeting. Tahu-tahu sudah hampir buka saja. Enaknya sih jadi tidak terasa berat puasanya, tetapi di sisi lain badan terasa banget capeknya.

Yang penting tetap semangat. Semangat!

Minimnya Kemampuan Menulis

Ini saya sedang memeriksa tugas mahasiswa dalam bentuk makalah. Ada lebih dari 100 makalah yang harus saya periksa. Makalah ini berasal dari kuliah S1 dan S2. Semuanya memiliki topik keamanan (security). Yang menjadi masalah adalah mahasiswa-mahasiswa ini tidak memiliki kemampuan menulis.

Ada makalah yang bahasanya acak-adut. Ada nuansa dia menerjemahkan makalah. Kalau menerjemahkan makalah dan dia mengerti, masih lumayan. Lha ini nampaknya dia tidak mengerti apa yang dia tuliskan. Mbulet. Ketahuanlah dari tulisannya. (Penggunaan Google Translate masih menghasilkan tulisan yang aneh bahasanya.)

Sebagian besar – mungkin 8 dari 10 mahasiswa – tidak tahu cara menuliskan referensi dan tidak tahu cara menggunakannya dalam tulisan. Ini parah sekali. Padahal salah satu kunci utama dalam penulisan makalah adalah penulisan dan pemanfaatan referensi. Padahal (2), saya sudah mengajarkan di kelas bagaimana tata cara penulisan referensi. Tidak menyimak? Tidur? Hadoh.

Banyak tulisan yang terlalu banyak bagian pengantarnya. Mungkin ini karakter orang Indonesia (yang kalau bicara juga terlalu banyak pengantarnya; “sebagaimana kita ketahui, … dan seterusnya”)? Akibatnya, pembahasan materinya sendiri menjadi terlalu singkat dan kurang mendalam. Mungkin mahasiswa kita jarang membaca makalah di jurnal sehingga tidak mengetahui bagaimana membuat tulisan yang yang singkat dan langsung kepada topiknya. Maklum, jumlah halaman untuk tulisan di jurnal dibatasi. Lewat dari batas itu, harus bayar mahal.

Ada lagi yang tulisannya sangat singkat. Maka ada akal-akalan untuk membuatnya terlihat lebih panjang, misalnya dengan membuat spasi yang lebih besar atau dengan memasukkan gambar-gambar yang tidak penting. ha ha ha.

Di atas itu saya tertawa sambil menangis. Jika kualitas tulisan mahasiswa-mahasiswa saya seperti ini, saya dapat membayangkan kualitas di tempat lain. Kira-kira samalah. Mau diadu dengan karya mahasiswa di luar negeri? Walah. Keok lah.

Harus mulai dari mana memperbaikinya? Perbanyak latihan menulis. Sekarang sudah banyak media untuk belajar menulis. Lha, blog ini juga merupakan sebuah tempat untuk latihan menulis. Apa alasan untuk tidak (latihan) menulis ya?

Adil

Pernahkah engkau merasakan keadilan?

Jadi ceritanya saya melihat banyak orang yang berteriak-teriak tentang keadilan. Dalam hati saya bertanya, pernahkah mereka merasakan keadilan? Lupakan soal definisi keadilan dahulu. Gunakan nurani dahulu untuk mendefinisikannya. Jangan-jangan mereka belum pernah merasakan atau bahkan melihat keadilan.

Di Indonesia, banyak orang berebut di jalan. Demikian pula di berbagai layanan, ada banyak yang tidak ingin antri. Mengapa? Dugaan saya adalah karena mereka khawatir tidak mendapat giliran. Dengan kata lain, tidak mendapatkan keadilan. Jika mereka yakin bahwa ada keadilan, pasti mereka akan kebagian. Bahwa akan tiba datangnya giliran saya, maka saya bisa bersabar.

Kalau saya sudah menunggu, kemudian ada orang menyela dan malah dia yang dilayani dahulu, maka saya merasa tidak adil. Maka saya tidak akan membiarkan orang lain mendahului saya. Saya pun tidak akan memberikan mengalah atau memberikan giliran kepada orang lain, karena nantinya saya malah tidak mendapat giliran.

Dalam mengemudi, saya termasuk yang banyak mengalah. Memberi jalan bagi orang lain. Sering kali orang yang saya beri jalan malah bingung, karena biasanya orang lain tidak memberi jalan. Demikian pula saya sering ketawa (meringis lebih tepatnya) dengan orang yang “memberi lampu dim” untuk minta jalan. Apalagi yang berkali-kali memberi lampu dim itu. Seolah-olah berkata, “Awaaasss … saya mau jalan”. Ha ha ha. Tanpa diberi lampu pun saya sudah biasa memberi jalan. Anda / dia bukan lawan saya. Mengapa perlu dihalang-halangi? Toh saya akan mendapat giliran juga. Adil.

Keadilan justru lebih mudah dilihat di luar negeri. Di negeri yang sudah maju tentunya. Di negeri itu, kita akan mendapat keadilan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Tidak perlu khawatir tidak kebagian.

Benar juga kata sebagian orang bahwa masalah yang ada ini mungkin dapat dipecahkan dengan piknik ke luar negeri. ha ha ha. Tentunya maksudnya belajar dari luar negeri. Ambil kebiasaan atau budaya baiknya. Jangan malah membawa kebiasaan buruk kita ke luar negeri. ha ha ha. Perhatikan bagaimana keadilan terjadi di sana.

Maka, mulailah terbayang apa yang disebut dengan “adil”.