Category Archives: Curhat

Menghilang …

Baru saja dapat SMS dari seseorang (yang tidak saya ketahui siapa karena tidak ada di dalam daftar kontak handphone saya). Isinya menanyakan kemana saja saya karena tidak pernah muncul di acara-acara IT. Hmm… saya jadi berpikir; apa iya ya?

Memang akhir-akhir ini saya tidak banyak terlibat di keramaian acara-acara. Ada beberapa alasan. Alasan yang pertama dan utama adalah kebanyakan acara-acara tersebut berada di Jakarta. Sementara itu saya tinggal di Bandung. Malas rasanya kalau ke Jakarta hanya untuk satu acara kemudian kembali ke Bandung. Tiga jam ke Jakarta dan tiga jam kembali ke Bandung. Kalau acaranya hanya satu atau dua jam, maka justru habis waktunya di perjalanan. It’s not worth it. Kapan-kapan saya tulis opini yang lebih panjang tentang ini ya?

Belum lagi setelah perjalanan yang menghabiskan waktu tersebut tentu saja saya lelah. Besoknya sudah habis energi. Padahal masih banyak yang harus saya kerjakan.

Saat ini waktu saya habis banyak di kampus. Perkuliahan. Biasanya saya hanya mengajar dua mata kuliah tetapi semester ini menjadi empat! Hadoh. Saya bukan dosen yang menggampangkan kuliah. Bukan dosen yang asal namanya tertampang di jadwal kemudian banyak mangkir mengajar atau menyerahkan kepada asisten. Demikian pula, materi kuliah saya perbaiki terus menerus. Hasilnya ya habis waktu.

Selain itu saya juga banyak melakukan mentoring kepada berbagai start-up dan inisiatif-inisiatif di Bandung. Ini juga menghabiskan waktu. Tetapi bagi saya ini menghabiskan waktu yang produktif. This is the real work. Bukan hanya ramai-ramainya dan muncul di media saja mencari popularitas. Maaf kalau ada yang tersinggung.

Mungkin ini semua sebabnya saya terlihat menghilang dari sirkuit media.


Internet Mengajari Budaya Instan?

Beberapa rekan berdiskusi mengenai efek (negatif) dari internet terhadap kebiasaan manusia. Salah satu yang muncul adalah dugaan bahwa internet mengajari kita untuk tidak sabar dalam membaca. Kalau dahulu kita membaca berita sampai habis. Kalau sekarang orang lebih senang membaca judulnya saja. Atau kalau dibaca tulisannya juga hanya halaman pertama yang dibaca. Jarang ada orang yang mau membaca tulisan yang panjang-panjang. Apakah benar demikian?

Terkait dengan hal ini akhirnya orang tidak mau mendiskusikan hal-hal yang rumit. Padahal ada banyak orang yang merasa telah membahas hal-hal yang penting, tetapi sesungguhnya hanya bagian kulitnya saja. Ketika intinya dibahas – dan tentunya berat, membutuhkan bacaan yang lebih dalam – maka banyak orang yang kemudian menghilang.

Orang juga diajari malas untuk mencari sumber bacaan (berita) sesungguhnya. Mereka ingin disuapi. Padahal sesungguhnya teknologi tersedia. Atau, mungkin justru karena teknologi tersebut maka orang kehilangan skill yang seharusnya simpel.

Hmm…


Menuju Bandung Smart(er) City

Hari Minggu lalu saya mengikuti pertemuan antara Dewan Smartcity Kota Bandung dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung. Pertemuan ini pada intinya adalah melakukan kordinasi program-program yang sudah ada di SKPD, yang terkait dengan teknologi informasi.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memberi arahan bahwa Bandung ini memiliki banyak layanan publik. Pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan SKPD untuk memberikan layanan dengan lebih baik dan lebih cepat. Setiap SKPD diminta untuk mendata layanan-layanan apa saja yang mereka berikan dan berapa yang sudah dapat diakses secara online. Jika belum maka aplikasi-aplikasi apa saja yang akan dikembangan. Tahun ini, tahun 2015, adalah tahun untuk merealisasikan sebagian dari aplikasi tersebut.

Rapat kali ini membahas prioritas dari aplikasi yang akan dikembangkan di tahun 2015 oleh para SKPD tersebut. Tidak semua aplikasi harus dikembangkan saat ini juga, tetapi roadmapnya sudah harus jelas. Selain itu ada juga hal-hal yang mendasar bagi kebutuhan semua SKPD seperti misalnya infrastruktur internet.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah aplikasi-aplikasi ini seharusnya dapat digunakan oleh kota / kabupaten lainnya. Jika ada kota / kabupaten lain yang sudah mengembangkan aplikasi tertentu, maka kita dapat menggunakan aplikasi tersebut. Tidak perlu setiap kota / kabupaten mengembangkan sendiri-sendiri. Untuk itu mungkin perlu ada sebuah app store untuk aplikasi e-government kota / kabupaten. Hmmm.

Begitu laporan dari saya. Laporan selesai. Bubar jalan … grak!


Terlalu Banyak Bicara

Melihat kondisi akhir-akhir ini di media sosial – terkait dengan berbagai kasus politik – saya jadi agak sedih, kesal, geram. Galau, kata anak-anak sekarang. Pasalnya banyak orang yang berkomentar, seperti yang paling tahu. Kemudian ada banyak organisasi yang mendukung ini dan itu dengan penyataan-pernyataan yang menurut saya normatif. Maksudnya begitu, “mari kita dukung pemberantasan korupsi”. Lah tentu saja. Pernyataan seperti itu tidak perlu harus keluar dari berbagai orang / organisasi.

Apakah mereka itu

  1. Mencari muka? Agar muncul (eksis)?
  2. Takut kalau dikatakan tidak ikutan (ketinggalan kereta)?
    [tuh mereka sudah membuat pernyataan. kita harus juga buat pernyataan. seperti begitu?]
  3. … [apa lagi ya]

Masalahnya, membuat pernyataan-pernyataan itu tidak memberikan solusi. Yang dibutuhkan oleh masyarakat itu adalah solusi. Jalan keluar. Bukan pernyataan. Anak kecil juga bisa buat pernyataan. hi hi hi.

Bikin pernyataan-pernyataan itu hanya memperkeruh suasana dan … bising. Berisik! Eh, jangan-jangan blog ini juga jadi berisik. hi hi hi.


Diam Adalah Emas

Riuh rendah di dunia media {konvensional, sosial}. Kesannya, semua ingin bicara. Ingin tampil. Ingin eksis. Ingin jadi jagoan. Padahal mereka belum tahu apa yang terjadi dan mengapa terjadi. Apalagi mengetahui langkah selanjutnya.

Diam …

Mungkin diam adalah hal yang terbaik untuk kita lakukan. Saya akan diam dan kembali ke pojokan tempat saya bersembunyi.

We can be so violent with our silence …


Ke(terlalu)sibukan

Ini adalah minggu pertama perkuliahan dimulai di ITB. Ternyata langsung super sibuk. Gas pol. Akibatnya tidak sempat ngeblog dalam beberapa hari. Luar biasa. Kemarin malam mau coba ngeblog, eh listrik di rumah bermasalah sehingga tidak bisa ngeblog. Pokoknya sih banyak hambatan untuk ngeblog. Ini bukan cari-cari alasan, tetapi alasan sesungguhnya. Apa sih … hi hi hi.

Malam ini nyaris tidak dapat ngeblog lagi karena (lagi-lagi) urusan perkulihanan. Kayaknya semester ini banyak sekali kuliah yang harus saya ajarkan. Nah lho. Ini pusing ngatur waktunya. Ada kemungkinan ada kuliah yang terpaksa tidak saya ajarkan. (Mikir dulu malam ini, yang mana.)

Sementara ini dulu yang mau saya tuliskan. Ada beberapa hal yang sudah ingin saya tuliskan juga tetapi waktunya belum ada. Ugh.


Terlalu Banyak Berencana

Rencana saya pagi ini adalah ingin membuat dokumentasi program twitter crawler yang saya buat. Membuat dokumentasi merupakan pekerjaan yang kurang disukai oleh engineer. Tahu, dokumentasi itu penting, tetapi tetap saja prioritas dari upaya dan daya untuk mendokumentasi itu rendah.

Masalah saya adalah di kepala saya sudah ada rencana mau nulis ini dan itu. Untuk itu dibutuhkan waktu sekian lama. Oke, harus menyiapkan meja. Musik siap. Kopi harus buat dulu. Dan seterusnya. Kebanyakan berencana sehingga waktu yang sesunguhnya digunakan untuk menulis menjadi sedikit. Begitu mikir bahwa waktu menulisnya sedikit, maka mood turun lagi. Wah, males deh. Ngopi dan mendengarkan musik iya, menulis tidak. he he he.

Ngeblog dulu ah … Woles weh …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.161 pengikut lainnya.