Kurangnya Etos Kerja

Tadi pagi saya sentil mahasiswa (yang hadir pagi) tentang disiplin dan etos kerja (etos kuliah?). Pasalnya saya (selalu) hadir pagi dan mahasiswa banyak yang datang telat.

Saya termasuk yang tidak terlalu peduli dengan aturan kehadiran di kelas. Bagi saya, itu adalah hak mahasiswa dan bukan kewajiban. Tapi, ada konsekuensinya, yaitu kalau tidak lulus atau tidak paham materi kuliah jangan menyalahkan saya dan jangan menyesal. Saya menghargai kuliah saya sendiri. Setidaknya, harga kehadiran saya adalah Rp. 5 juta. Silahkan rugi sendiri kalau tidak ikut kuliah saya. (Di waktu dan tempat lain, Anda harus bayar segitu.)

17758256_10154430056911526_3438788283222184741_o
Persiapan kuliah pukul 7:00 pagi. Bawa kopi sendiri. Kelas masih kosong. Mahasiswa telat.

Tadi pagi, hanya tiga mahasiswa yang datang tepat waktu. Beginilah potret disiplin dan etos kerja orang Indonesia.

Tentu saja mahasiswa boleh menyampaikan alasannya. Mereka tidak tahu bahwa saya semalam pulang telat (karena ada pertandingan futsal, itu cerita lain) dan semalam akhirnya saya hanya tidur kurang dari 5 jam. (Mungkin 4 jam.) Namun ini bukan alasan untuk datang telat ke kelas. I uphold my end of the bargain.

Untuk kali tadi, saya tegur mahasiswa. Kayaknya untuk hal-hal kecil seperti ini yang seharusnya mereka mengerti sendiri ternyata tidak mengerti. Jadi memang harus diberitahu secara eksplisit. Hadoh.

Bagaimana ya mengajarkan disiplin dan etos kerja?

Kesibukan minggu lalu

Lagi-lagi ini tulisan telat. Beberapa hari terakhir ini saya lagi dalam mode super sibuk. Sebetulnya ada kalanya tidak sibuk, tetapi tidak ada akses internet. Sebagai contoh, weekend kemarin saya mengikuti acara family gathering dari group perusahaan dan komunitas kami (PT INDO CISC, PT Insan Infonesia, dan ID-CERT).

17492803_10154407197431526_7747805738232681797_o

Acara itu berlangsung di Villa Bougenvile Lembang. Saya tidak membawa notebook karena memang tujuannya adalah untuk bersenang-senang. hi hi hi. Jadinya kondisi seperti itu saya tidak ngeblok.

Sebetulnya ada banyak cerita seru yang bisa saya tuliskan tentang acara itu juga. Acaranya seru banget; mulai dari fun games, hiking, ngamen, off road, dan berendan di Maribaya. Foto-fotonya juga banyak sekali.

Eh, begitu selesai acara itu langsung dilanda kesibukan. hi hi hi. Jadi aja susah ngeblog lagi.

Melancong ke Kuala Lumpur

Beberapa hari terakhir ini saya memang tidak ngeblog. Alasannya adalah saya melancong ke Kuala Lumpur, Malaysia. Sekarang sih sudah di Indonesia lagi, tetapi kemarin-kemarin masih capek luar biasa dan juga langsung harus membereskan pekerjaan-pekerjaan yang terbengkalai. (Sebetulnya yang bikin capek berat itu perjalanan pulan dari Jakarta ke Bandung yang memakan waktu lebih dari 4 jam. Sampai di rumah menjelang pukul 2 pagi!)

Ke Malaysia sebetulnya adalah untuk seminar Cyber Intelligence Asia. Saya mewakili ID-CERT menceritakan tentang kondisi cyber security di Indonesia. Cerita tentang topik ini akan saya bahas di tulisan lain. (Mudah-mudahan tidak tersela oleh kegiatan lain ya. he he he.)

Dan tentu saja harus ada foto-foto makanan. ha ha ha. Sayang sekali tidak semua sempat saya foto. Keburu habis. ha ha ha.

P_20170314_143905 kari lamb_0001

Malaysia memang menarik makanannya. Berbeda rasanya dengan di Indonesia. Saya mencari makanan yang berjenis kari. Harga makanan di Malaysia relatif lebih murah dibandingkan dengan harga di Indonesia; maksudnya harga di Kuala Lumpur versus harga di Jakarta. (Kalau harga di kampung di Indonesia juga murah-murah.)

Sebagai contoh, umumnya makan di sana dapat RM 7 atau sekitar Rp. 21.000,-. Yang foto di atas kalau tidak salah RM 14 (atau sekitar Rp. 42.000,-). Tentu saja kalau di hotel ya jelas mahal. Kalau minuman – entah kenapa – dimana-mana juga mahal.

Cerita lainnya menyusul. Ini hanya sekedar untuk mengisi kehadiran di blog ini dahulu.

Belajar, Belajar, dan Belajar

Di sebuah tempat. Melihat mahasiswa yang sedang berkerumun. Yang cowok duduk bergerombol, ketawa-ketawa, sambil merokok. Sementara itu yang cewek ada yang sedang berjalan sambil mendekap buku teks, map, dan buku catatan. Sementara itu saya lihat pandangan mereka kosong. Apa yang ada di dalam pikiran mereka ya?

Saya menduga-duga bahwa mereka ke kampus tidak dalam mode untuk belajar. Mereka ke kampus hanya sekedar untuk menghabiskan waktu saja. Dari pada di rumah nganggur, mendingan ke kampus (entah untuk ngapain). Demikian pula pikiran orang tuanya; dari pada anak saya nggak ada kerjaan di rumah, lebih baik dia ke kampus saja. Tidak ada semangat untuk *belajar*. Bahwa saya mau ke kampus untuk belajar.

Semangat untuk belajar ini sudah hilang. Keingintahuan (curiousity) menjadi barang yang langka.

Kalau ditanya sih mau belajar, tetapi berusaha untuk belajar itu tidak. Kalau mau berusaha itu harus pergi ke satu tempat, berguru. Jauh-jauh, berusaha untuk menemui guru yang terbaik. Bukan asal saja.

Contoh paling gampang. Ada training ini dan itu gratisan. Eh, yang datang sedikit. Alasan yang tidak datang adalah sibuk. ha ha ha. Semua orang juga sibuk. Itu sebetulnya alasan untuk tidak mau berusaha.

Sementara itu saya masih ingin belajar, belajar, dan belajar.

Kopi

Kalau diperhatikan, foto-foto yang saya ambil kebanyakan terkait dengan makanan. Lebih spesifik lagi, ada banyak foto terkait dengan kopi. Ya begitulah. Kopi yang sering saya temui, sehingga foto-fotonya pun banyak kopi.

dsc_0794-kopi

Ada yang bertanya di media sosial; “bapak suka kopi ya?”. Mau saya jawab, tidak. ha ha ha.

Saya lupa sejak kapan saya menyukai kopi. Seingat saya, saya mulai rutin minum kopi ketika menyelesaikan S2 dan S3 saya di Kanada. Itu adalah masanya saya harus begadang untuk membaca makalah, membuat program, dan seterusnya. Maka kopi adalah teman yang baik. Tapi pada masa itu saya belum terlalu spesifik kepada kopi tertentu. Asal kopi, cukup. (Dan masa itu, kopi harus ditemani dengan gula. Sekarang kopi saya  hitam tidak pakai gula.)

Sekembalinya ke Bandung pun saya masih biasa-biasa saja dengan kopi. Kalau ada ya terima kasih. Kalau tidak ada, ya biasa saja. Biasanya minum kopi juga kalau pas ada acara, seminar misalnya. Selebihnya masih jarang juga membeli kopi. Tapi, masa itu juga kayaknya kopi belum setenar sekarang. Sekarang, kopi sudah menjadi life style. Keren kalau ngopi. Mungkin ini gara-gara Starbucks ya?

Saya sekarang menyukai kopi karena ternyata di Indonesia ini ada berbagai macam kopi lokal. Kebetulan juga saya sukanya kopi-kopi Indonesia. Sekarang kalau mau ngopi milih-milih. he he he. Jadi sok-sok-an begini. Bukan saya mau ngesok, tetapi ternyata perut saya sensitif terhadap kopi tertentu. Ada kopi-kopi – terutama sachet – yang bikin saya sakit perut. Ini bukan mengada-ada, tapi betulan. Maka dari itu sekarang saya terpaksa pilih-pilih kopi.

dsc_0766-kopi

Alhamdulillah, Bandung ini surganya kopi. Di setiap pojok jalan ada kedai kopi. Lagian kopi-kopi-nya enak banget. Kopi lokal! Setelah jalan-jalan ke sana sini, kopi hitam Indonesia ini memang paling mantap. Ini masalah selera sih, tapi saya bilang boleh diadu. (Kalau kopi yang menggunakan susu, flatwhite coffee di Australia lebih mantap! Mungkin ini masalah susunya.)

Mari ngopi dulu …

Siapakah Saya?

Bagi banyak orang, menunjukkan eksitensi dirinya merupakan hal yang penting. Harus tampil. Harus mendapat acungan jempol. Harus diperhatikan atasan. Kalau di media sosial, harus mendapat banyak “like” atau acungan jempol.

Mungkin karena perjalanan hidup, bagi saya, approval dari banyak orang itu sudah tidak penting lagi. Saya cenderung tidak suka spotlight. Lebih baik tidak dikenali. Alhamdulillah ini sudah mulai berjalan dengan baik. hi hi hi. Banyak orang yang tidak tahu siapa saya. Padahal saya adalah adalah sebuah buku yang terbuka. An open book. It’s very easy to find who I am. Apalagi dengan adanya internet, semua dapat dicari dengan mudah.

Belajar untuk tidak egois. Nah itu dia. Belajar untuk mengendalikan diri sendiri merupakan hal yang sulit. Apalagi jika Anda dihina atau dibully oleh orang yang tidak tahu apa-apa. Panas. Emang ente itu siapa? hi hi hi. Ketika masih muda mungkin demikian jawaban saya. Kalau sekarang, tersenyum saja.

Keabaran ini yang saya pelajari dari para guru (yang sudah pada sepuh dan memiliki kesabaran yang luar biasa). Saya bukan apa-apa dibandingkan mereka jika diukur dari tingkat kesabarannya.

hiding …

Melupakan Cita-Cita?

Masih ingatkah cita-cita kita ketika kita masih kecil dahulu? Banyak yang cita-citanya sederhana (misal menjadi tukang lotek) atau kompleks (mendaki gunung Himalaya). Namun sayangnya, sesuai dengan bertambahnya usia, kita mulai melupakan cita-cita kita itu. Kenyataan hidup membunuh cita-cita.

Apa cita-cita Anda ketika umur Anda masih belasan tahun? 20-tahunan? 30-tahunan? 40-tahunan? 50-tahunan? 60-tahunan? (Lihat video ini. Cerita perjalanan hidupmu?)

Ayo nyalakan kembali cita-cita kita itu!