Category Archives: Curhat

Lagi-lagi Foto Dengan Banner Saja

Kemarin, tanggal 12 Januari 2015, presiden Jokowi mampir ke Bandung City Creative Forum (BCCF) Simpul Space #3. Sebetulnya acara ini tidak ada di jadwal resminya. Pagi menjelang siang saya ditelepon untuk ikutan hadir di BCCF. Hayu lah. Maka, siang menjelang sore saya ke sana.

Sampai di sana ketemu banyak orang. Ngobrol. Diskusi. Wawancara (dengan MediaWave). Berpotret dengan banner.

BR BCCF

[sumber foto: mediawave]

Tadinya sih saya kepikiran untuk potret dengan pak Jokowi. Singkat ceritanya – karena sesungguhnya nunggunya lumayan lama – saya ikutan duduk di halaman depan. Disuruh ikut meramaikan duduk di depan. Padahal pak Jokowi nantinya akan masuk ke dalam dan melihat karya-karya kreatif orang-orang Bandung. Dan betul saja. Pak Jokowi datang dan bersalam-salaman dengan orang-orang – sebetulnya saya sempat salaman dengan pak Jokowi juga dan Fiki, yang punya acara, juga bilang ke pak Jokowi “ini pak budi rahardjo” tetapi saya yakin pak Jokowi sudah pusing dengan banyaknya orang di sana untuk mendengar atau memperhatikan nama saya. ha ha ha. Not a chance. Kesempatan salaman itu dimanfaatkan beberapa orang untuk berpotret. Saya? Gak sempat untuk berpotret.

Jadi, lagi-lagi saya hanya berpotret dengan banner saja. hi hi hi. Wokeh lah …


Terlalu Banyak

Ternyata, terlalu banyak itu tidak baik. Sebetulnya saya sudah tahu hal ini, tetapi mungkin tidak mengerti maknanya. Ketika menulis tulisan ini, saya mengerti. Saya ingin menulis banyak hal; ini, itu, ini yang agak berbeda, itu yang jauh berbeda, bukan ini dan itu. Akibatnya, justru ketika saya sudah siap menulis semuanya menjadi campur aduk.

Bagaimana memisahkan adukan ini? Mari memilah-milah …


Ballpoint Yang Bagus

Untuk membuat mood menjadi lebih bagus ketika memeriksa tugas mahasiswa salah satu cara yang saya lakukan adalah menggunakan ballpoint yang bagus. Yang saya maksud dengan bagus adalah enak digunakannya sehingga dia digunakan sampai titik tinta terakhir. Biasanya kan ballpoint itu sudah hilang sebelum dia habis masa pakainya. Atau sengaja dibuang? hi hi hi

IMG_7205Eh, ternyata memang ballpoint yang mahal-mahal itu enak dipakainya. ha ha ha. Saya mendapatkan ballpoint yang mahal-mahal dari cinderamata. Harusnya mau beli sendiri ya? Toh dipakai sendiri. Tapi kok rasanya gimana gitu. hi hi hi. Dasar.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah adakah ballpoint yang murah tapi enak dipakainya? Ada saran? Merek? Terus belinya dimana?

Sementara itu saya masih memeriksa tugas mahasiswa. Mudah-mudahan moodnya tetap bagus supaya nilainya juga bagus-bagus.


Tanpa Perayaan Tahun Baru

Saya sudah terbiasa untuk tidak melakukan perayaan tahun baru. Bagi saya ini sama dengan hari libur lainnya saja. Jadi biasanya tahun baru ya tertidur seperti biasa. Kalaupun pas terbangun itu juga seperti terbangun biasa (karena tiba-tiba muncul ide di malam hari itu). Bagi banyak orang, terbangun malam hari dan melewati tengah malam untuk memasuki hari berikutnya bukanlah hal yang biasa. Jadi ini perlu dirayakan. hi hi hi. Bagi saya, ini sih sama dengan hari-hari biasa.

Bukan berarti saya anti perayaan tahun baru lho. Saya tidak anti. Hanya saja saya tidak melakukan perayaan tahun baru. Itu saja. (Bahkan perayaan ulang tahunpun kami tidak melakukan yang spektakuler. Paling-paling menu makanan lebih saja. Ataupun makan di luar pada kesempatan berikutnya, yang mana ini juga biasa juga. hi hi hi.) Setiap hari adalah perayaan.

Eh sebetulnya ada sebelnya juga dengan perayaan tahun baru, yaitu ada yang pasang petasan keras-keras sehingga menggangu tidur. Ini juga pas ngeblog ada suara petasan keras-keras. Grrr. Saya heran saja ada orang mau membakar uang begitu saja. Bukankah membeli petasan adalah sama dengan membakar uang?

Oh ya, kalau melewati pergantian hari itu membuat banyak orang menjadi gembira, maka saya usulkan agar lebih diperbanyak … begadang. ha ha ha.

Selamat tahun baru. Ngantuk. Zzz…


Ketersediaan SDM IT Indonesia

Salah satu komponen utama dalam bisnis teknologi informasi (IT) – dan bisnis apapun sebetulnya – adalah sumber daya manusia (SDM). Apa jumlah SDM tersebut mencukupi? Bagaimana dengan kualitasnya (dibandingkan dengan SDM dari negara lain)? Berapa gaji mereka? Bagaimana trend kebutuhan SDM IT (bidang apa saja; administrator sistem, jaringan, rekayasa perangkat lunak / pemrograman, database)? Ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan. Jawaban dari pertanyaan ini dibutuhkan jika kita ingin merencanakan sebuah pekerjaan (proyek). Selain itu, jawaban ini dibutuhkan juga untuk sekolah-sekolah yang terkait dengan program studi teknologi informasi; apakah perlu membuka program studi baru dan menutup yang lama, dan sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu – saya lupa tepatnya, mungkin sekitar tahun 2000 atau 2003 – kami pernah membuat sebuah survey untuk Bandung High-Tech Valley (BHTV). Survey yang didukung oleh Deperindag (waktu itu Industri dan Perdagangan masih menjadi satu) kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku, Blue Book. Seharusnya survey yang sejenis dilakukan kembali. Mari?

Untuk sementara ini mari kita coba jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan hitung-hitungan kasar. (Hitungan ini akan saya perbaiki sejalan dengan waktu dan ketersediaan data yang lebih baik. Hitungan yang lebih akurat nanti kita lakukan dengan menggunakan survey riil.)

Kita mulai dari sisi pendidikan formal dahulu. Perlu diingat bahwa banyak SDM IT yang tersedia tidak melalui pendidikan formal IT. Untuk mereka akan dibahas secara terpisah. Untuk pendidikan formalpun, kita batasi dahulu yang terkait dengan Teknik Elektro / Komputer, Informatika, dan Ilmu Komputer. Sebetulnya jurusan Teknik Fisika, Fisika, dan Matematika juga masih termasuk yang dapat menghasilkan SDM IT. (Pada kenyataannya ada juga lulusan dari Arsitek, Astronomi, Geologi yang akhirnya menjadi pekerja di dunia IT.) Mereka belum kita masukkan ke dalam hitungan. Anggap saja sebagai bonus :)

Pertanyaan pertama adalah ada berapa sekolah yang menghasilkan SDM IT di Indonesia? Berapa jumlah lulusan yang dihasilkan untuk setiap jenjangnya (S3, S2, S1, D4, D3, SMK) dalam satu tahun?

Bandung

Kita ambil contoh Bandung dahulu dan mulai dariĀ  ITB. Prodi STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB menerima (sekitar) 300 mahasiswa STEI setiap tahunnya untuk program S1. Katakanlah sebagian besar lulus tepat waktunya sehingga ada 300 lulusan setiap tahunnya. (Kalaupun tidak tepat, toh ada lulusan tahun sebelum-sebelumnya juga sehingga dapat kita katakan sekitar angka itu kelulusannya. Nanti akan saya perbaiki lagi jika ada data yang lebih akurat.) Dari lulusan ini sebagian besar melanjutkan ke S2 dan S3. Ada yang ke luar negeri dan ada yang di dalam negeri. Dari segi bidang ilmu, berapa persen yang menggeluti IT-related? Saya ambil dugaan mengikuti hukum pareto saja ya.

  • IT: 80% dari 300 adalah 240 orang
  • non-IT: 20%

Pertanyaan selanjutnya adalah ada berapa persen yang tetap berkarya di bidang IT (dalam hal ini termasuk elektronika, telekomunikasi, tenaga listrik) dan berapa persen yang di non-IT (misal menjadi manager dari bank, migas, perdagangan umum, dan sebagainya – dalam kapasitas yang non-IT karena dalam perusahaan tersebutpun kerjaan merekapun masih bisa IT).

  • IT: ??%
  • non-IT: ??%

Ditambah dengan jurusan lain yang juga mengajarkan kuliah yang IT-related (seperti Teknik Fisika dan bahkan Fisika), katakanlah didapatkan 50 lulusan. Angka ini ditambahkan dengan 240 orang tadi sehingga menghasilkan 290 orang. Katakanlah mudahnya ada 300 orang S1 yang dapat bekerja di bidang IT.

Untuk yang S2, ada beberapa program S2 yang terkait dengan IT secara langsung seperti misalnya program S2 Chief Information Officer (CIO), Layanan Teknologi Informasi (LTI), Telekomunikasi, dan seterusnya. Total mahasiswa yang terkait ada lebih dari 100 orang.

Untuk mahasiswa S3 yang terkait dengan teknologi informasi, jumlahnya masih sangat minim. Mungkin jumlahnya masih belasan orang saja.

Hitungan kasar total ada sekitar 400 orang lulusan IT-related/tahun dari ITB. Sedikit ya?

Di Bandung, selain ITB ada perguruan tinggi lain yang juga menghasilkan lulusan IT, antara lain: Telkom University (dahulu IT Telkom atau STT Telkom), Unikom, Unpas, dan beberapa yang lainnya. (Jumlahnya ada berapa? Harus kita survey. Katakanlah ada 10.) Dari segi ukuran, mereka lebih besar dari ITB. Katakanlah setidaknya mereka sama dengan ITB.

Jumlah lulusan: 10 x 400 = 4000 lulusan S1/tahun. (Ini banyak atau tidak ya? Kalau dibandingkan dengan India, tentunya angka ini sangat kecil.)

Lulusan D3. Ada beberapa politeknik dan sekolahan yang menghasilkan D3 di bidang IT di Bandung, seperti antara lain Telkom University (dahulu Poltek Telkom), Polban, Politeknik Pos, …

Kota-kota lain

[Di sini kita coba cari data untuk Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makasar]

[masih belum selesai ditulis]


SK (Dokumen) Elektronik

Baru saja saya membersihkan meja (dan sebagian lemari) yang isinya berbagai dokumen. Salah satu contoh adalah dokumen SK (Surat Keputusan) terkait dengan membimbing mahasiswa, menguji, dan tugas-tugas lainnya. SK / dokumen ini menyemak di meja dan lemari saya. Akhirnya saya putuskan untuk membuang mereka. Padahal seringkali dokumen-dokumen tersebut diperlukan untuk kenaikan pangkat dan lain-lain. (Itulah sebabnya pangkat saya macet tidak naik-naik. hi hi hi.)

Mengapa dokumen-dokumen seperti ini tidak dibuat dalam bentuk elektronik dan tersedia secara online? Padahal sekarang kan jamannya teknologi informasi. Aplikasi untuk itu tidak susah untuk dibuat. Manfaatnya adalah kita tidak perlu susah-susah untuk mengisi borang (form) ini dan itu. Semua data sudah tersedia.

Sekarang saya terpaksa membuang dokumen-dokumen tersebut. Sebagian sempat saya scan. Tetapi yang menjadi masalah adalah hasil scan tersebut mau saya simpan di mana? he he he. Ah kebanyakan “masalah”. Buang saja. Beres kan?


Menjadi Pemimpin

Menjadi pemimpin itu ternyata tidak mudah. Salah satunya adalah harus membuat keputusan. Padahal seringkali sebuah keputusan tidak dapat menyenangkan semua pihak. Pasti saja ada yang tidak suka, atau bermasalah dengan keputusan tersebut. Agar tidak salah mengambil keputusan, perlu mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Namun pada akhirnya, pemimpinlah yang mengambil keputusan. Sayang sekali banyak “pemimpin” yang berusaha menyenangkan semua pihak sehingga malah tidak mengambil keputusan. Ini bukan ciri pemimpin yang baik.

Kesalahan pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab seorang pemimpin. Pekerjaan dapat didelegasikan kepada bawahan, tetapi tanggung jawab tetap pada sang pemimpin.

Menjadi pemimpin itu pasti akan dikritik karena tidak dapat menyenangkan semua pihak. Bahkan, kadang bukan sekedar kritik, cacian dan bahkan fitnah pun dilayangkan kepada sang pemimpin itu. Dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk menjadi pemimpin.

Dengan tugas dan tanggung jawab yang besar, mengapa masih banyak orang yang ingin jadi pemimpin ya?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.113 pengikut lainnya.