Category Archives: Curhat

Memotret Makanan

Beberapa hari yang lalu saya makan malam sambil rapat di sebuah restoran. Ketika makanan datang, maka saya mengeluarkan handphone untuk memotret makanan. Maka para peserta rapat pun tertawa.

Memotret makanan nampaknya sekarang sudah biasa dan malah menjadi bahan tertawaan. Padahal saya sebetulnya sudah memotret makanan dari sejak jaman … hmm … kapan ya. Lupa. Pokoknya sudah lama sekali. Di blog ini pun saya sering menampilkan foto makanan dengan judul “Mau”. Banyak orang yang mengira bahwa saya ikut-ikutan. Padahal orang yang ikut-ikutan saya. ha ha ha. Sok tahu. Eh, tapi ini sungguhan lho.

Nah ini contoh fotonya … Mau?

IMG_20150614_180103 ayam 1000

Alasan saya memotret makanan – dan juga langit (skies) – adalah karena mereka yang paling mudah dipotret. Mereka tidak bergerak dan terlihat menarik untuk dipotret. Saya belum berhasil memotret orang. Jadi alasan saya memotret makanan adalah karena mudah saja. Bukan karena gaya-gayaan. Malah jadi kelihatan bahwa kelas saya baru level makanan. he he he.

Nah … karena memotret makanan sudah menjadi mainsteam, padahal saya agak anti-mainstream, apa saya harus berhenti memotret makanan ya? Waduh.


Terlalu Banyak Data

Kemarin nyobain handphone baru. Begitu dipasang, dia langsung mensinkronkan kontak dan email. Busyet dah. Langsung handphone saya menjadi lelet. Maklum, saya memiliki data email yang sangat banyak. Sehari mungkin bisa dapat sekitar 500 email.

Desain dari aplikasi sekarang belum memperhitungkan jumlah data yang besar. Dianggapnya email hanya 10 atau 20 atau bahkan 100 email. Lah email saya ada 20.000. Gimana caranya melihat di handphone? Apalagi kalau email-email itu mengandung attachment (misal, tugas mahasiswa). Kebayangkan langsung habisnya memori komputer saya.

Baru saja saya selesai menjadi juri dari lomba pengembangan aplikasi (software). Salah satu hal yang belum dilihat oleh para pengembang adalah skala dari data. Misalnya, ada yang mengembangkan visualisasi pelaporan dengan menampilkannya dalam bentuk peta (digabung dengan Google Map?). Data yang digunakan di bawah 10 buah. Visualisasi mudah. Lah kalau datanya ada 3000 buah bagimana? Layarnya penuh dengan pin yang 3000 buah itu. hi hi hi.

Minggu lalu saya membackup web site saya, yang berisi data kuliah dan tugas mahasiswa. Web saya saja sudah ada 6 GB. Hadoh. Memang sudah kebanyakan data nih.


Bacaan Yang Pantas Dibaca

Ada berapa buku yang diterbitkan setiap harinya? Saya tidak tahu statistiknya. Semestinya banyak. Dari buku-buku yang diterbitkan ini, berapa persen yang bagus dan layak untuk dibaca? Nah, ini lagi-lagi saya tidak tahu, tetapi saya menduga jumlahnya tidak banyak. Ini berdasarkan pengalaman pribadi dikecewakan membeli buku. Mungkin ketidaksukaan saya pada beberapa buku adalah masalah selera, tetapi saya yakin memang banyak buku yang tidak layak untuk dibaca. Memboroskan waktu saja.

Bagaimana mencari buku yang pantas dibaca? Untuk itu ada beberapa situs yang memberikan resensi dari para pembaca buku. Bukan dari penerbit / penjual buku. Review dari mereka dapat membantu kita memilih buku yang pantas dibaca.

Sekarang dengan teknologi informasi (IT) makin banyak bahan bacaan lagi. Ada banyak blog, situs, situs berita, dan juga media sosial. Dari ini semua, seberapa banyak yang memang pantas untuk ditukarkan dengan waktu kita? Saya yakin, tidak banyak. Lantas, mengapa kita masih membuang waktu kita untuk membaca, mengomentari, dan bahkan mencari bacaan yang tidak manfaat itu?

Carilah bacaan yang manfaat, yang membuat kita menjadi lebih baik dan bahagia. Bukan bacaan yang membuat kita marah-marah, meningkatkan tekanan darah, dan membuat permusuhan. Lebih baik cari bacaan yang positif lah. Memang tidak banyak, tetapi ada. Hargai waktu kita.


Terima Kasih, David Letterman

Beberapa hari yang lalu, David Letterman mengakhiri acara “Late Night” di CBS setelah 33(?) tahun mengudara. Letterman merupakan salah satu sosok pembaharu acara talk show setelah Johnny Carson.

Bagi saya, David Letterman merupakan seorang “mentor” yang mengajari saya bahasa Inggris dan pop culture. He is one of my heroes.

Ketika saya berangkat ke Kanada tahun 1987, saya sebetulnya sudah bisa berbahasa Inggris tetapi penguasaan bahasa Inggris saya masih formal. Setelah sampai di Kanada saya tinggal di asrama (dorm). Dan tentu saja budaya mahasiswa mulai menjadi bagian dari saya; pop culture. Salah satunya adalah acara Late Night-nya David Letterman ini. Yeah, for better or worse, I am Westernized.

Lawakan si Dave ini lucu, nakal, synical, dan intelektual. (Entah kenapa, saya merasa perlu memberi penekanan kepada kata “intelektual”.) Satu hal lagi adalah apa yang dia lakukan tidak palsu (fake). Ini yang kemudian menjadi panutan saya. Jadi, kalau Anda melihat saya melucu (secara intelektual) di panggung itu adalah gara-gara David Letterman. Secara tidak langsung, dia adalah “mentor” saya. (And if you see me wearing boots and suits, at one point I saw Dave wearing his basket ball shoes and suits. So, it’s okay, I am thinking. I am wearing boots most of the time.)

Jangan salah, banyak komedian lain yang mengakui David Letterman sebagai mentornya. Silahkan sebut nama komedian favorit Anda, pasti David Letterman masuk sebagi bagian dari idola / mentornya. Ini adalah contoh-contohnya. (Yeah, I am collecting these so that you know how he impacted those comedians.):

Kembali ke Indonesia, salah satu kehilangan saya adalah menonton “Late Night”-nya David Letterman ini. Sekarang, tidak hanya saya saja yang kehilangan, tetapi orang banyak. Lihat ini selebritis yang sangat menyayangi Dave Letterman. Look for the love and respect they show to him:

Sekali lagi, terima kasih, David Letterman. We love you. You don’t think that you have a fan here in Indonesia, do you? Thank you for making us better (and funny) persons.


Bekerja di Tempat Liburan? Menyebalkan!

Seringkali saya diundung untuk menjadi pembicara atau mengikuti seminar di tempat-tempat liburan, seperti di Bali atau luar negeri. Terus terang saya tidak terlalu tertarik. Pasalnya adalah sudah jauh-jauh pergi ke tempat itu, saya harus kerja sambil lihat orang yang bisa santai-santai. Sebel banget. Iri dengki.

Mungkin salah satu tujuan mengadakan acara tersebut di tempat-tempat liburan adalah sebagai daya tarik. Tapi, sampai di sana juga saya tidak bisa menikmati tempatnya. Harus kerja. Kecuali saya kabur dari termpat kerja. (Mungkin ini yang banyak dilakukan orang-orang?) Seringnya malah saya harus berada di ruang pertemuan / seminar seharian. Acara dimulai setelah sarapan, kemudian selesai malam. Sudah letih. Mak keluar juga hanya sempat untuk makan malam dan harus kembali ke hotel  untuk menyiapkan materi acara besoknya.

Kalau ke tempat liburan itu enaknya ya … liburan. he he he. Leha-leha. Santai. Baca buku. Tidur-tiduran. Jalan-jalan. Makan. Dan sejenisnya. Tapi siapa yang mau membayari kita untuk pergi liburan?


Ngeblog Amatiran Saja

Membaca koran Pikiran Rakyat hari ini (Minggu, 17 Mei 2015), ceritanya tentang ngeblog. Judulnya “Bisnis manis menulis blog”. Hmmm…

IMG_8408 bisni blog

Mungkin saya agak berbeda pandangan dengan mereka yang menulis blog untuk tujuan komersial ya. Saya sih menulis blog untuk tujuan lain – salah satunya adalah belajar menulis dengan baik – bukan semata untuk berbisnis. Kalau ada duitnya ya bagus tetapi bukan itu tujuan utamanya.

Sudah ada banyak orang yang bertanya mengapa blog ini tidak saya komersialkan, mislnya dengan memasang iklan secara pribadi atau melalui Google. Jawaban saya adalah saya belum tertarik. Jawaban sebetulnya adalah karena males aja. Ngeblog amatiran saja ah.

Kalau menulis seperti sekarang ini bebas tanpa tekanan (dari diri sendiri). Tidak ada aturan atau targetan khusus yang ingin saya capai. Topik atau judul tulisan juga sesuka saya. Tidak perlu dikemas sedemikian rupa sehingga ramai dikunjungi orang (SEO stuff). Ada banyak yang baca ya Alhamdulillah. Tidak ada yang baca, juga tidak masalah. Entah ini baik atau buruk, yang pasti menyenangkan bagi saya. he he he. Itu yang penting, bukan?


(Hampir) Seminggu Tidak Ngeblog

Sebagai seorang Indonesia, pertama-tama, saya mohon maaf karena hampir seminggu ini saya tidak ngeblog. (Orang Indonesia biasanya memulai sesuatu dengan minta maaf. hi hi hi.) Hampir seminggu ini saya berada di luar negeri mengikuti konferensi security di Manila, Filipina.

Sebetulnya acara di Manila hanya dua hari, tetapi perjalanan menuju dan kembali dari sananya lebih lama. Masalahnya, saya tinggal di Bandung dan menuju Manila dari Bandung itu ternyata tidak mudah. Skedul sambung menyambung pesawat itu membutuhkan waktu. Perjalanan dimulai hari Senin dari Bandung menuju Singapura. Berangkat siang hari dari Bandung dengan menggunakan Air Asia. Menginap dulu di Singapura karena pesawat Singapura – Manila (menggunakan Jetstar) berangkat pukul 6:30 pagi. Keesokan harinya, Selasa pagi, saya berangkat ke Manila. Perjalanan Singapura – Manila membutuhkwan waktu 3 jam.

Konferensi security di Manila berlangsung dua hari, yaitu hari Rabu dan Kamis. Saya akan ceritakan isinya di tulisan yang lain ya. Setelah selesai acara, Jum’atnya saya terbang lagi dari Manila ke Singapura. Seharusnya saya menggunakan connecting flight menuju Bandung, tetapi bandara Bandung masih ditutup karena terkait dengan acara Konferensi Asia Afrika (KAA). Akibatnya pesawat saya dibatalkal. Saya menginap lagi di Singapura. Baru besok paginya, Sabtu, terbang lagi dari Singapura ke Bandung. Phew. Hampir seminggu di luar negeri. Total perjalanan empat (4) hari, sementara acaranya sendiri hanya dua (2) hari. Nah tuh.

IMG_8044 flight schedule

Selama di perjalan waktunya mepet untuk ngeblog. Demikian pula pas di acaranya, saya menjadi chairman (yang pada intinya adalah moderator, time keeping, dan yang memastikan acara berjalan). Saya harus fokus kepada presentasi semua peserta. Tidak ada waktu untuk ngeblog. (Tulisan ini pun baru bisa saya buat setelah melewati tengah malam.)


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.404 pengikut lainnya.