Kopi

Kopi Minggu pagi ini, sambil ngoprek IoT untuk presiapan presentasi nanti siang. Sayangnya eksperimen gagal (belum bisa jalan). Tidak apa-apa. Yang penting dapat menikmati kopi dulu.

DSC_8319 kopi_0001 Menambah koleksi kopi. Yang ini dari Ethiopia, kiriman dari Martin Crow. Thanks Martin.

DSC_6722 coffee_0001

Ini kopi dari Jawa Barat dan video (tentang kopi tentunya).

DSC_8264 kopi_0001

Indonesia memang surga kopi.

Iklan

Sodori Buku

Saking capeknya, semalam malah saya tidak bisa tidur nyenyak. Paginya main bola dan dilanjutkan dengan pertemuan startup baru. Pokoknya capeklah. Siang sebetulnya sempat tertidur sebentar. Sorenya sudah ada tamu. Singkatnya sibuk juga Sabtu ini. Walhasil, malam hari capek dan malah tidak bisa tidur.

Solusi saya untuk situasi seperti ini tetap sama, sodori buku. Ambil beberapa buku yang agak tebal. Tidak ada yang spesifk dari buku-buku tersebut. Asal tebal saja. Letakkan di samping tempat tidur. Mending mana, tidur atau baca buku. Biasanya pilihannya jatuh ke … tidur. hi hi hi. Jadi buku-buku ini adalah obat tidur bagi saya.

DSC_7046 books_0001
buku-buku untuk memaksa tidur

 

 

Selamat membaca. Eh, selamat tidur …

Kopi Pagi Ini

Pagi ini dibuka dengan kopi “baru” lagi. Maksudnya baru ini adalah bungkusannya yang baru, karena saya baru mendapatkan ini. Kopinya adalah Toraja. Ada dua bungkus yang saya dapatkan. Yang satu adalah Arabica, satunya Robusta. Saya bukan yang Arabica dahulu karena saya lebih suka yang Arabica.

DSC_6698 kopi_0001 Mari kita coba. Rasanya tentu saja “nendang” karena saya buat hitam pekat saja. Tanpa apa-apa.

DSC_6699 kopi_0001

Kopi sudah tersedia. Sekarang mau ngapain ya? Ngeblog sudah. Baca buku? Koding? Ngoprek IoT? Atau duduk-duduk di luar saja mumpung cuaca sangat indah di Minggu pagi ini.

DSC_6701 book_0001//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Ini buku soal hacking. hi hi hi. Baca lagi ah …

Kopi

Entah sejak kapan saya jadi makin “serius” dalam hal ngopi. (Definisi “serius” di siniĀ  perlu dipertanyakan.) Maksudnya saya jadi banyak ngopi dengan kopi yang enak-enak. Begitu. hi hi hi. (Sebetulnya soal sejak kapannya mungkin dapat dilihat dari tulisan di blog ini atau di linimasa facebook saya ya? Jadi saya menyukai kopi bukan baru kemarin sore. Bukan karena sedang nge-trend saja lho.)

Singkat kata, saya penggemar kopi.

Saya dapat menikmati kopi yang enak dan yang tidak enak, tetapi kalau ditanya enaknya dimana atau bagaimana, saya tidak dapat menjawab. ha ha ha. Ilmu tentang kopi saya masih terbatas (meskipun mungkin sudah di atas rata-rata?).

Kopi saya kebanyakan single origin dan Arabika. Kopi-kopi dari Indonesia yang saya sukai. Ini hanya masalah selera saja, meskipun banyak orang yang mencoba membahas ini dari segi yang lebih ilmiah. Bagi saya itu lebih enak saja. Namun ini tidak membatasi saya mencoba kopi-kopi yang lain.

Akibat sering ngopi yang asyik-asyik ini saya jadi tahu tempat-tempat ngopi yang asyik. Ada tempat yang wah dan ada yang sekedar melipir di pinggir jalan (pakai mobil, misalnya). Ada yang harganya mahal dan ada yang harganya hanya belasan ribu rupiah saja. Mereka tetap saja enak. ha ha ha. (Di kamus saya hanya ada dua jenis; “enak” dan “enak sekali”. Ha ha ha.)

Efek sampingan laginya, saya sering mendapat kiriman kopi-kopi yang asyik-asyik. Selalu saja ada kopi yang asyik dan enak. Kemarin dapat kopi ini; Flores Bajawa. Ya tentu saja enak. hi hi hi. Kebetulan saya memang sedang suka kopi Flores ini.

DSC_6585 kopi_0001

Mungkin sudah saatnya saya membuat tulisan-tulisan (kolom tulisan) yang khusus tentang kopi ya? Atau setidaknya menampilkan foto-fotonya dulu. Itu juga sudah banyak sekali.

Selamat ngopi!

Koding Atau Buat Dokumentasi

Sekian lama saya tidak ngeblog itu ada alasannya. Saya lagi (kebanyakan) koding. Membuat kode program untuk berbagai hal, terutama untuk aplikasi Internet of Things (IoT). Tentu saja ada kegiatan-kegiatan lain yang harus saya lakukan (dan bahkan mungkin juga yang lebih dominan), tetapi kali ini saya ingin menyoroti masalah koding.

Salah satu masalah yang sering dikeluhkan terhadap para koder (programmer) adalah kuranganya dokumentasi dari kode yang mereka buat. Ini betul. Sebagai seorang koder, saya juga sering mengalami dilema. Di satu sisi saya ingin membuat dokumentasi, tetapi di sisi lain saya masih harus meneruskan kodingan. Kalau tadi beres satu bagian, maka masih ada bagian lain yang harus dikodekan. Belum lagi kode bagian sebelumnya juga masih harus dimodifikasi. Akibatnya, waktu malah digunakan untuk membuat kode baru dibandingkan dengan membuat dokumentasi.

Yang menjadi masalah adalah banyak hal yang harus didokumentasikan. Design decisions, misalnya. Mengapa saya melakukannya seperti itu di sebuah kode? Ada alasannya. Kalau tidak didokumentasikan, maka koder selanjutnya akan kesulitan untuk memahami kode yang sudah saya buat. Jangankan koder lain, saya sendiripun kalau sudah lewat sekian bulan maka sudah lupa dengan kode-kode yang saya buat sebelumnya.

Singkatnya mengabaikan dokumentasi itu buruk! Iya semua orang tahu, tetapi tetap saja dilakukan. Sayapun tetap melakukannya. Nah, sebetulnya waktu yang saya gunakan untuk ngeblog ini dapat digunakan untuk membuat dokumentasi. Ini malah ngeblog. ha ha ha. Tapi kalau saya tidak memaksakan ngeblog, pasti ada saja yang lebih “penting”(?). Akibatnya ya blognya jadi kosong.

Dokumentasi harus menunggu. Ngeblog dahulu. Wah.

Bandung Itu Jauh

Ini adalah keluh-kesah kesekian kalinya tentang Bandung. Curcol. Biarlah diulang lagi. Namanya juga ngeblog.

Untuk berbagai alasan, saya memilih untuk tinggal di Bandung. Sebetulnya alasan singkatnya sih karena saya suka Bandung. Itu saja. Mungkin juga karena saya sudah terlalu lama tinggal di Bandung sehingga susah lepas dari Bandung, meskipun saya sempat tinggal hampir 11 tahun di Kanada. Singkatnya, salah saya sendiri memilih Bandung.

Ada banyak acara yang lokasinya di luar Bandung. Kebanyakan acara-acara yang terkait dengan saya itu adanya di Jakarta. Ternyata jarak Bandung-Jakarta itu masih “jauh”. Dahulu Bandung-Jakarta itu 2 jam. Kemudian banyak kendaraan, jadinya lebih lama lagi. Kemudian ada jalan tol, 2 jam lagi. Eh, nambah kendaraan jadi lebih lama lagi. Bahkan akhir-akhir ini karena sedang ada pembangunan, maka Bandung-Jakarta (atau sebaliknya) bisa sampai 5 jam! Naik kereta api juga sekarang 3 jam.

Bayangkan, jika ada pertemuaan yang lamanya hanya 1 jam tetapi tempatnya di Jakarta maka untuk ke Jakarta dan kembali lagi setidaknya dibutuhkan waktu 5 jam (paling cepat – asumsi 2,5 jam satu arah). Naik kereta api, setidaknya 6 jam pp. Itu belum termasuk berhenti (ngaso dulu, makan dulu, shalat dulu) atau kalau naik kereta api nunggu dulu di stasiun. Sangat tidak masuk akal untuk 1 jam pertemuan saya harus menghabiskan waktu 6 – 9 jam untuk perjalanannya.

Itulah sebabnya – dengan berat hati (dan kadang disertai rasa malu) – saya sering tidak dapat menghadiri acara-acara di Jakarta. Alasannya sederhana: Bandung jauh dari mana-mana.

Tentang Pemblokiran Telegram

Beberapa hari yang lalu dunia siber Indonesia dihebohkan oleh keputusan pemerintah Indonesia (dalam hal ini Kominfo) yang memblokir layanan telegram. (Yang diblokir adalah layanan via web dulu, kemudian akan diblokir yang aplikasi mobile-nya.) Pengelola telegram dianggap tidak kooperatif dalam memblokir layanan telegram untuk group-group yang terkait dengan terorisme.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah ini. Menurut saya cara ini tidak efektif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, telegram bukan satu-satunya media komunikasi yang digunakan oleh teroris. WhatsApp dan aplikasi lain juga digunakan. Mengapa hanya telegram yang diblokir? Fitur yang ada di WA pun sama dengan yang ada di telegram. (Dahulu memang WA tidak memiliki fitur enkripsi sehingga mudah disadap, sekarang dia memiliki fitur itu.)

Kedua, keputusan pemerintah ini malah menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu melakukan (counter-)intelligence terhadap pengguna telegram. Ini makin menunjukkan bahwa telegram merupakan platform yang bagus untuk digunakan karena tidak bisa diatasi oleh pemerintah Indonesia. Wah.

Ketiga, banyak orang (perusahaan, organisasi, individu) yang mengembangkan aplikasi di atas telegram ini. Aplikasi tersebut berbentuk “bot” (robot, chat-bot) yang dapat diprogram sesuai dengan perintah (teks) yang diberikan oleh pengguna. (Machine learning / artificial intelligence) Contohnya antara lain, early warning system, help desk, payment chatbot, dan seterusnya. Inovasi-inovasi ini terbunuh begitu saja. Telegram sekarang dapat dianggap sebagai “infrastruktur” seperti halnya YouTube.

my students_0001
sebagian dari topik penelitian mahasiswa saya. yang paling bawah tentang enkripsi yang digunakan oleh berbagai aplikasi chat

Terakhir, kalau sedikit-sedikit blokir – trigger friendly – maka ada kekhawatiran akan apa saja yang akan dilakukan di kemudian hari. Ketidak pastian. Ini buruk bagi bisnis (dan penelitian).