Membaca Buku

Anak muda Indonesia jaman sekarang nampaknya tidak suka membaca buku. Padahal jaman sekarang sudah ada eBooks. Semestinya tidak ada lagi hambatan untuk membaca buku. Kalau jaman dahulu kan harus cari buku fisik. Kalau pesan belipun harus nunggu lama dan mahal. Mungkin justru kemudahan itu yang membuat orang menjadi malas?

Saya sudah mencoba menghimbau dan menyindir mahasiswa saya supaya gemar membaca. Hasilnya masih nol besar. Mungkin saya harus memberikan tugas baca kepada mereka. Kemudian harus disertakan juga foto halaman yang mereka baca (atau malah sekalian foto mereka membaca ha ha ha) sebagai bukti. Hi hi hi.

Masalahnya, tanpa membaca ilmu kita rendah sekali. Sudah ilmu rendah, banyak komentar pula (di media sosial misalnya). ha ha ha. Jadinya kacau balau.

Baca, baca, dan baca!

Fakir Bandwidth

Ini tulisan tentang keluh kesah susahnya akses internet. Link internet di tempat ini (tidak perlu disebutkan namanya) sangat lambat. Padahal ini seharusnya merupakan tempat yang internetnya kecang. Di Indonesia masih banyak fakir bandwidth.

Yang sedang saya coba akses adalah StackOverflow, karena ini sedang mengajar pemrograman. Bayangkan, di tempat lain internetnya wuzzz, wuzzz, wuzzz. Di sini siswa terpaksa nunggu dulu. Belajar tersendat-sendat. Jadi inget pejabat yang mengatakan “internet cepat untuk apa”? Ya, untuk belajar!

Keluh kesah pagi ini … [meringis]

Gelas Yang Penuh

Perjalanan hidup seseorang membentuk karakternya. Saya bersyukur melalui jalan hidup yang diberikan kepada saya. Lengkap dengan positif dan negatifnya. Komplit. Hasilnya adalah saya menjadi seseorang yang (mudah-mudahan) selalu bersykur dengan apapun yang saya peroleh. Positif thinking. Dalam perdebatan gelas yang setengah kosong atau gelas yang setengah isi, mungkin saya menyebutnya gelas yang hampir penuh. ha ha ha.

Hal yang membuat saya demikian mungkin karena saya sudah melalui masa susah juga. Bahkan pada masa susahpun saya masih dapat melihat orang lain yang lebih susah lagi dari saya, sehingga saya masih dapat bersyukur. Jadi mungkin kuncinya adalah mencari dan melihat orang lain yang lebih menderita? ha ha ha. Mellow tetap ada, tetapi tetap bersyukur.

Apakah kemampuan untuk bersyukur ini dapat diajarkan? Saya tidak tahu. Mestinya sih iya, tetapi bagaimana mengajarkannya itu yang saya tidak tahu. Ada orang yang melihat orang lain lebih susah, tapi bukannya bersyukur tapi malah tetap menggerutu. ha ha ha. Tetap saja negatif. Mungkin ini bukan ilmu, tapi seni. The art of grateful.

Alhamdulillah … masih bisa bersyukur.

Itu Lagi Topiknya

Mau ngeblog tapi kok topiknya itu lagi, itu lagi. Sebetulnya karena ini adalah sebuah blog, ya dia merupakan catatan (log) keseharian. Tentunya dalam keseharian ada topik yang itu lagi, itu lagi. Yang rutin seperti itu tampaknya tidak perlu diceritakan lebih dari sekali ya?

Topik yang saya maksud adalah kesibukan saya. Iya, saya orang yang super sibuk. Pasti banyak yang tidak percaya. Hi hi hi.

Tanda-tanda kalau saya sedang sibuk itu adalah tidak ngeblog. Saya mencanangkan akan ngeblog setiap hari. Nah, kalau gagal melakukan itu pasti ada sesuatu yang lebih penting dari ngeblog. (Sesungguhnya hampir semua lebih penting dari ngeblog. hi hi hi.)

Ini ada waktu beberapa menit. Mencatatkan log dulu.

[kembali ke kesibukan]

Harus Kompetisi?

Saat ini kita sering melihat kompetisi “business plan”. Mengapa business plan perlu dikompetisikan? Demikian pula ada kompetisi menggambar, computer programming, musik, dan bahkan pemilihan kepala daerah. [hi hi hi. yang terakhir itu ngasal.] Mengapa semua mesti dikompetisikan?

Ketika saya mengajar pemrograman, misalnya, saya tidak mengajari mereka untuk diadu dalam sebuah kompetisi. Apa yang diajarkan itu bukan untuk dikompetisikan. Itu semua untuk dipahami dan dikuasai. Bukan untuk ditandingkan. Bahkan yang diajarkan juga boleh jadi untuk kesenangan semata-mata. Just for fun.

Apa yang ada di kepala para orang tua ketika ingin mengadu anaknya?

Motret, Tanggung Jawab

Jaman dahulu, memotret sebuah momen dipikir panjang-panjang. Masalahnya, sayang klise filmnya. Ada yang isinya hanya 24. Dua puluh empat kali jepret, habis. Harus beli lagi. Uang. Setelah itu film juga harus dicetak. Uang lagi. Maka, kita akan sangat berhati-hati dalam memotret.

Sekarang, tinggal cekrek potret saja. Foto hanya berupa sebuah berkas di memori yang biasanya berupa sebuah SD card. Tidak suka foto tadi, tinggal dihapus saja dari SD card tersebut. Tidak ada beban. Akibatnya, kita menjadi hambur dalam memotret. Ini juga yang saya alami.

Lama kelamaan koleksi foto saya menjadi super banyak dan ini berimplikasi kepada disk. Jadi sesungguhnya menghamburkan uang juga. Selaini itu, pengelolaan menjadi rumit. Kalau saya ingin mencari sebuah foto tertentu, repotnya bukan main. Foto ini tersimpan dalam folder apa ya?

dsc_0468-kopi-0001
Ngopi sore-sore. Foto yang telah saya edit dengan menghapus bagian kiri dan kanan yang tidak penting.

Hal lain yang saya lakukan terhadap foto adalah melakukan backup di situs online seperti Flickr atau Google Photos. Sesekali juga saya unggah ke Facebook, Twitter, dan Instagram. Untuk hal ini biasanya foto tidak saya unggah mentah-mentah. Foto ini harus saya edit dulu. Biasanya saya potong bagian-bagian yang tidak penting, misalnya ujung kursi yang terpotret (dan mengganggu isi foto). Atau warnanya yang terlalu terang atau terlalu gelap sehingga perlu disesuaikan. Ini yang membuat saya pusing karena banyaknya foto yang saya ambil. (Sebagai contoh, foto-foto yang saya ambil dalam sebuah konser terakhir ternyata ada 1000 foto. Sampai sekarang belum selesai diproses. Hadoh.)

Sekarang saya mulai berpikir, kalau motret jangan sembarangan. Harus tanggung jawab dalam hal mengeditnya dan mengelolanya. Pikir-pikir dahulu. Jangan asal cekrek saja. Tapi ini masih susah. Masih ngasal motret saja. Masih banyak berkas yang harus diproses. Masih harus berlajar lebih disiplin. Ugh.