Opsi Ubah Fonts

Mengapa sebagian besar aplikasi tidak mengijinkan saya menggubah fonts-nya? Padahal salah satu alasan memilih sebuah aplikasi adalah adanya customization untuk mengubah fonts-nya.

Salah satu alasan saya menggunakan seesmic.com (melalui web) sebagai twitter client saya adalah karena saya dapat mengubah tampilannya (baca: fonts) dengan menggunakan userstyles. Sementara itu aplikasi twitter client lainnya (yang bukan web-based) tidak bisa. Aneh juga. Itu hanya contoh salah satu aplikasi saja.

Jadi, kalau Anda membuat aplikasi, tolong berikan opsi untuk mengubah fonts. Kalau tidak, kemungkinan saya tidak akan menggunakan aplikasi Anda. he3. Pake ngancem segala 🙂

Visualisasi Alien

Baru saja nonton film yang ada makhluk ruang angkasa (alien). Kenapa bentuk dari alien itu dibuat serem ya? Complicated. Seperti benda kuno, berbatuan 🙂  Atau seperti Homer Simpson dengan baju baja.  Kenapa tidak dibuat yang ngganteng saja ya?

Kemudian pesawat ruang angkasa juga dibuat seperti kuno. Padahal mungkin bentuknya lebih moderen dari pada yang kita miliki. Clean. Sederhana. Zen. Mungkin user interface-nya seperti iPod gitu? Atau iPhone? he he he.

Dari semua yang ada mungkin Startrek (dari mulai film seri-nya sampai film-nya) yang paling manusiawi visualisasi aliennya – termasuk visualisasi pesawat ruang angkasanya.

Cliparts buatan sendiri

Saya suka menantang diri sendiri. Kemarin, ketika membuat materi presentasi, saya menantang diri sendiri: apakah bisa presentasi kali ini menggunakan cliparts buatan sendiri. Tidak ada yang mengambil dari tempat lain.

Awalnya saya yakin dengan tantangan ini, tetapi kemudian baru ingat bahwa foto-foto yang saya ambil berada pada disk yang komputernya rusak (sudah sebulan belum kembali). Untuk mengambil berkas dari disk itu repot sekali. Ini prosesnya terjadi jam 11 malam. Jadi saya tidak ingin utak atik hardware – pasang disk di external enclosure – kemudian mount ini di Macbook dan seterusnya. Saya harus bisa menggunakan foto-foto yang ada saja. Akhirnya, saya putuskan untuk membatasi pencarian kepada foto-foto yang pernah saya upload ke facebook dan picasa saja. Alhamdulillah ternyata banyak. Wah, untung juga suka upload-upload foto 🙂

Setelah bekerja keras – browsing, download, resize, dan lain-lain – akhirnya selesai juga materi presentasi saya. Senang juga telah berhasil memenuhi tantangan diri sendiri. 🙂

Selamat Jalan, Steve Jobs

Hari ini, 6 Oktober 2011, Steve Jobs meninggal dunia. Siapa Steve Jobs? Bagi yang suka dengan komputer dan gadget (nerds lah), Steve Jobs adalah tokoh yang tidak asing lagi. Dia adalah pendiri perusahaan Apple Computers. Bagi saja, Steve Jobs dan Apple memiliki kenangan khusus.

[image taken from Apple web site today]

Di sekitar awal tahun 80-an (mungkin tahun 1981?) saya berkeinginan membeli electric guitar. Kebetulan saya pergi ke Singapura. Dengan membawa uang di saku, saya pergi menuju toko alat-alat musik. Di tengah jalan, saya melihat toko komputer yang menampilkan Apple ][ di etalasenya. Maka, beloklah saya untuk melihat-lihat. Ternyata, saya tidak sekedar belok tetapi pulang dengan membawa Apple ][. Gitar tidak jadi terbeli 🙂  Perlu diingat juga bahwa pada masa itu sedang maraknya komputer Apple clone (gadungan). Yang saya beli adalah komputer Apple asli! Kebayang bagaimana terpikatnya saya dengan Apple.

Perkenalan saya dengan World Wide Web (WWW) di awal perkembangannya juga gara-gara Steve Jobs, yaitu gara-gara saya menggunakan NeXT computer / workstation. Pada waktu itu, Steve Jobs ditendang dari Apple Computer. Dia kemudian mendirikan perusahaan NeXT yang membuat workstation dan sistem operasi yang canggih (pada jamannya). Nah, tanpa sengaja saya hanya kebagian workstation NeXT ini waktu kerja. Kebetulan Tim Berners-Lee di belahan dunia yang lain sedang mengembangkan WWW dengan menggunakan NeXT computer. Maka beruntunglah saya bisa mencicipi awal dari WWW. Thanks again to Steve Jobs.

Steve Jobs merupakan saya satu idola saya dalam hal kreatifitas dan juga cara dia memberikan presentasi. Hampir semua buku tentang Steve Jobs saya baca; biografi, video wawancara, sampai ke cara teknik presentasi Steve Jobs. Oh ya, minggu lalu saya mengajari cara presentasi di kelas dan yang saya jadikan contoh adalah … Steve Jobs. Tentu saja.

Satu hal yang ada pada Steve Jobs tetapi jarang ditemukan di banyak orang adalah … taste! Dia punya taste terhadap desain yang luar biasa. Sampai sekarang saya masih mengagumi NeXT computer. (Dan dulu pun saya sempat menggunakan NeXT computer yang memperkenalkan saya kepada World Wide Web.)

Selamat jalan, Steve Jobs. Semoga kreatifitas dan inspirasimu menjadi amal. Amin.

Karya Berkarakter Indonesia?

Di kampus kebetulan sedang ada pameran arsitektur Jerman. Saya mampir sebentar kemarin. Ingin tahu apa yang dimaksud dengan “Jerman”nya. Bukannya kalau desain bangunan itu global? Di mana letak Jermannya? Tentu saja saya belum menemukan jawabannya karena saya bukan pakar arsitektur. Mengertipun tidak. he he he.

Apa arsitektur “[sebuah bangsa]” itu harus mengambil bentuk-bentuk tradisional? Seperti arsitektur Jepang mungkin menggunakan tatami? Arsitektur Indonesia menggunakan bentuk rumah gadang? Begitu?

Hampir bersamaan, saya membaca facebook dari mas Yockie Suryo Prayogo. (Yang tidak tahu mas Yockie, dia in pemain piano/keyboard / komposer yang tangguh. Bersama Chrisye dan Eros Jarot mereka menghasilkan karya musik Badai Pasti Berlalu yang klasik itu.) Mas Yockie sedang meradang karena musik Indonesia (musik pop dan rock) lebih banyak dikuasai oleh industri dan meniru-niru artis Barat. Tidak berkarakter Indonesia. Saya kembali bertanya, musik yang berkarakter Indonesia itu seperti apa?

Apa musik berkarakter Indonesia itu seperti musiknya orang Brazil, Samba. Begitu kita dengar musik yang bernuansa samba kita tahu itu musik Brazil. Kalau Indonesia, mungkin dangdut? Calung? Gamelan? Apa begitu? Harus mengusung nuansa tradisional, gitu?

Mohon pencerahan.

Desain Interaksi Manusia Dengan Lingkungan Elektronik

Ceritanya saya sedang membantu anak saya untuk mendesain sebuah rangkaian elektronik untuk interaksi antara manusia dengan lingkungan. Jadi ada sebuah acara di mana pengunjung memasuki lorong. Ada titik-titik di mana ketika pengunjung berada di tempat itu maka ditampilkan foto / panel lampu. Kira-kira skenario dan requirement-nya seperti ini.

Lagi mau membuat desain dan detailnya. Kira-kira ada yang sudah pernah membuat seperti ini gak ya? Ada batasan budget yang sangat kecil.

  • Sensor menggunakan apa? Saya kok cenderung menggunakan LDR. Alasannya yang paling murah dan sederhana. Mungkin juga belum tentu bisa digunakan (terlalu terang cahanyanya?). Switch pilihan berikutnya, tetapi harus memikirkan pemasangannya sehingga kalau ada pengunjung, switch tertekan. Apa perlu buat “lantai” yang sebetulnya adalah tombol dengan ukuran raksasa?
  • Controller menggunakan apa? Saya kok cenderung menggunakan microcontroller. Itulah sebabnya saya cari-cari board Arduino.

Browser terlalu lebar

Setelah update Ubuntu ke versi 11, default dari Firefox agak beda. Begitu dijalankan maka dia akan mengambil layar penuh, yang artinya melebar. Ini yang saya heran. Mengapa browser dibiarkan terlalu lebar. Bukankah tampilan tulisan yang terlalu lebar akan menyulitkan kita dalam membacanya?

Bayangkan kalau Anda membaca tulisan (artikel) yang diformat lanscape satu kolom. Susah membacanya. Setelah sampai ke kata terakhir di ujung sebelah kanan, maka mata kita akan tergopoh-gopoh mencari baris selanjutnya di ujung layar sebelah kiri.

Saya jadi curious. Apakah ada yang memang membaca tulisan dalam format landscape, 1 kolom, dengan jumlah kolom (karakter) yang banyak?

Desain Urinoir

Desain sebuah produk harus disesuaikan dengan budaya dari penggunanya. Saya ingin mengangkat topik desain urinoir, tempat kencing yang digunakan di wc lelaki. Topik yang tidak lazim, tetapi harus dibahas.

Warga Indonesia sebagian besar beragama Islam. Bagi Muslim, membersihkan alat kemaluan setelah pipis merupakan sebuah kewajiban. Nah, yang dimaksud membersihkan di sini adalah mencuci.

Seingat saya waktu kecil dulu tidak ada desain tempat pipis (urinoir) yang khusus. Urinoir bergabung bersama tempat buang air besar. Bahkan dahulu sekali, semuanya hanya berbentuk lubang di tanah. (Plumbingless system he he he.) Sekarang ada tempat pipis khusus, urinoir.

Repotnya desain urinoir pada awalnya tidak mengakomodasi kebutuhan untuk mencuci alat pipis 🙂 Silahkan lihat di hotel-hotel besar. Maka repotlah bagi yang mau pipis. Tidak ada fasilitas untuk mencuci. Ada yang kemudian membawa gayung berisi air ke urinoir. Ada yang membasahi kertas tisue dengan air untuk mengelap (kemudian bingung mau membuangnya di mana). Pokoknya desain tidak cocok.

Kemudian muncul desain urinoir yang menyediakan pipa kecil di bagian atas. Pipa ini mengeluarkan air ketika urinoir di-flush. Maka ada solusi untuk mencuci ini. Saya rasa yang mendesain ini mengerti kebutuhan orang Muslim.

Sekarang ada inovasi desain urinoir lagi!

Salah satu hal yang ditakutkan ketika pipis adalah adanya cipratan air pipis ke celana. Kalau kena air pipis, najis, maka yang bersangkutan tidak dapat menggunakan celana ini untuk shalat. Repot. (Makanya ada yang bawa sarung ke mushola / masjid dan berganti dengan sarung ketika mau shalat. hi hi hi. Ada yang merasa kurang nyaman dengan ini, tapi bagaimana lagi kalau celana kena najis?)

Nah, ternyata saya menemukan desain urinoir yang bisa membantu untuk menghindari cipratan pipis ini. Saya menemukannya di rest area jalan tol Cikampek km 57 (arah menuju Bandung) dan sekarang di rest area jalan tol Cikampek km 42 (arah menuju Jakarta).

Ada plastik bening yang dipasang di bagian bawah urinoir yang sekarang ada untuk menghindari cipratan. (Lihat foto.) Menariknya juga plastik tambahan ini dapat dibuka untuk memudahkan bagi petugas pembersih wc (janitor).

Hebat … Nah, ini dia desain yang khas Indonesia yang mungkin tidak bisa ditemukan oleh desainer di luar negeri. Sekarang tinggal bagaimana membujuk hotel-hotel bintang 5 untuk memasang desain ini.

Berbagi Dengan Hati

Sebetulnya saya ingin membuat judulnya, “sharing with passion“, tapi karena ini blog berbahasa Indonesia maka saya berusaha untuk menggunakan judul dalam Bahasa Indonesia. Kok susah ya? Ok, kita lanjutkan kepada topik tulisan ini.

Saya ingin mengajak kita untuk berbagai ilmu. Hanya saja, saya ingin megajak kita untuk lebih serius dalam berbaginya. Secara spesifik yang ingin saya bahas adalah materi tulisan atau presentasi yang dibagi.

Saya lihat terlalu banyak tulisan atau materi presentasi yang dibuat asal jadi saja. Tanpa hati. Meskipun secara isi tidak ada yang salah, tetapi secara penampilan tulisan tersbeut tidak menarik. Akibatnya, pembacanya (harapannya adalah murid) menjadi tidak tertarik untuk membaca. Kalau membaca saja sudah tidak tertarik, apalagi untuk mengerti.

Membuat materi presentasi yang baik ternyata tidak mudah. Tentu saja! Dia membutuhkan waktu untuk membuatnya. Saya ambil contoh. Kemarin saya mencoba memperbaiki materi presentasi saya. Materi itu sudah saya buat beberapa tahun yang lalu. Sekarang saya ingin coba perbaiki dari segi penampilannya. Setelah beberapa jam lewat, hasilnya belum memuaskan tetapi setidaknya materi ini lebih baik dari sebelumnya (dari segi penampilan). Tentunya ini menurut saya.

Silahkan ambil materi presentasinya di sini:

Bagian belakang dari materi presentasi ini belum saya selesaikan. Nanti kalau punya waktu beberapa jam lagi akan saya perbaiki. Ini juga menunjukkan pendekatan yang saya ambil, post modern? (I show you things under the hood.  No need to hide them. Work in progress is shown.) Maksudnya, saya tidak menunggu sampai tulisan sempurna untuk berbagi. Kalau menunggu, mungkin tulisan ini belum bisa saya bagikan sampai tahunanan. Sayang sekali.

Melihat-lihat fonts

Setelah beres mengajar dan bimbingan, waktunya untuk melihat-lihat fonts 🙂  [ini sebetulnya dalam rangka untuk memperbaiki slides, presentasi untuk TEDx]

Sekarang download-download fonts dulu. Nanti dicoba untuk menggunakannya.

Nah yang repot adalah kalau buat slides dengan fonts tambahan, berarti harus mengirimkan fonts itu juga ke panitia ya? Soalnya nanti kalau di komputer panitia bisa jelek tampilannya karena tidak ada fonts yang saya gunakan. Atau, saya harus menggunakan komputer saya sendiri untuk presentasinya. That’s it.

Oh ya, kalau saya buat berkas PDF, apakah fonts-nya langsung terikut sertakan? Kalau tidak, nanti di tempat yang menerima berkas PDF itu akan jelek tampilannya. Jadi gimana ya?