Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Iklan

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.

Apakah Blockchain Menjadi Solusi?

Salah satu janji yang digadangkan oleh Blockchain – teknologi yang berada di belakang Bitcoin – adalah dapat membuat biaya transaksi menjadi sangat murah. Janji tinggal janji. Saat ini saya belum melihat ini terjadi. Kebanyakan orang masih fokus kepada aspek “oportunis” dari crypto currency ini.

Saya masih membutuhkan sebuah sistem pembayaran yang biayanya murah untuk toko musik digital saya. (Lihat: toko.insanmusic.com) Harga sebuah lagu adalah Rp. 5000,-. Sementara itu sistem pembayaran yang ada sekarang hampir semua meminta biaya (per) transaksi di atas Rp. 5000,-. (Bahkan ada yang meminta biaya transaksi Rp. 15.000,-!) Tekorlah saya kalau biaya transaksinya seperti itu. Seharusnya biaya transaksinya adalah Rp. 100,- gitu.

Kalau sampai akhir tahun ini (2017) tidak ada yang dapat memberikan solusi, tahun depan (2018) kayaknya saya harus membuat sebuah sistem pembayaran sendiri.

Sejarah Silicon Valley

Saat ini banyak orang yang tergila-gila dengan Facebook, Instagram, dan perusahaan start up lainnya. Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Silicon Valley. Kenapa yang ngetop adalah Silicon Valley? Kemarin dan tadi pagi saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley.

18010764_10154468093081526_1086053699434838921_n

Banyak orang yang hanya melihat kondisi sekarang tetapi tidak melihat sejarahnya. Pentingnya sejarah adalah agar kita dapat mengetahui mengapa bisa terjadi (banyak perusahaan di Silicon Valley) dan bagaimana masa depannya. Itulah sebabnya saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley. (Harusnya malah buat buku.)

Yang saya ceritakan antara lain tokoh-tokohnya:

  • Frederick Terman;
  • William Shockley;
  • Robert Noyce;
  • dan seterusnya.

Mereka adalah tokoh-tokoh lama. Setelah itu baru nanti diperkenalkan tokoh-tokoh angkatan Steve Jobs. Generasi setelah itu adalah pendiri Google. Setelah itu baru Facebook.

Ada beberapa nilai-nilai dari Silicon Valley yang ternyata masih sama dari dulu sampai sekarang:

  • mengambil risiko;
  • menerima ide-ide gila;
  • terbuka, saling membantu;
  • gagal tidak masalah;
  • meritocracy.

Mentoring Adalah Fardu Kifayah

Suatu ketika ada yang bertanya kepada saya kenapa saya mau melakukan mentoring, yaitu mengajari yang orang lain (yang biasanya lebih muda) dalam hal entrepreneurship atau start up? Pasalnya saya melakukan ini seringkali tidak dibayar.

Pertama, saya melihat model ini berjalan di luar negeri, yaitu di Silicon Valley. Boleh disimak perjalanan hidup dari para entrepreneur yang sukses. Steve Jobs saya melakukan mentoring (secara tidak formal) kepada Nolan Bushnell, pendiri Atari. Demikian pula para jawara start-up sekarang juga melakukan mentoring kepada Steve Jobs. Nanti yang berikutnya juga melakukan mentoring kepada Mark Zuckerberg, dan seterusnya. Intinya adalah ini adalah model yang dilakukan di sana.

Kedua, proses turunnya ilmu itu banyak yang dilakukan di luar kelas formal. Sekolahan memiliki keterbatasan; jadwal yang ketat, sumber daya (ruangan, orang, dll.) yang terbatas, dan seterusnya. Maka mentoring adalah salah satu solusi.

Jika mentoring ini tidak dilakukan, maka tidak dapat naik kualitas entrepreneur pada masyarakat sekitarnya. Kalau saya tidak membina yang muda-muda, nanti bagaimana ceritanya kalau saya sudah tua? Saya tidak dapat ndompleng mereka. hi hi hi.

Agar mudah dicerna, saya katakan “mentoring adalah fardu kifayah“. (Dalam agama Islam, ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat. Jika salah satu sudah melakukannya, maka yang lain tidak wajib. Sudah gugur kewajibannya. Jika tidak ada yang melakukan, maka berdosalah seluruh masyarakat itu. Ini namanya fardu kifayah.)

Terlalu Awal

Salah satu “topi” yang saya pakai adalah sebagai “serial technopreneur“. Maksudnya saya sering membuat usaha (seperti bernomor seri, he he he) dalam dunia teknologi (kata techno dalam technopreneur itu). Ada banyak kegagalan yang telah saya lalui. Salah satunya adalah terlalu awal atau terlalu cepat dalam membuat sebuah usaha atau produk tertentu. Too early.

Tadi bongkar-bongkar rak buku dan menemukan beberapa buku. Salah satunya adalah buku yang ditampilkan di bagian kiri foto berikut. “Palm OS Programming“. For dummies pula. ha ha ha.

15800372_10154167340586526_8166599908409203346_o

Dahulu ada masanya sebuah produk yang disebut PDA, Personal Digital Assistant. Bentuknya sebesar handphone sekarang. Isinya adalah berbagai aplikasi, yang sekarang sudah digantikan oleh berbagai apps di handphone seperti kalender, notes, agenda, dan seterusnya. Perlu diingat pada jaman itu handphone hanya bisa telepon dan SMS.  Aplikasi hanya ada yang bawaan dari pabrikan.

Salah satu PDA yang paling populer pada jamannya adalah Palm Pilot. Sistem operasi yang digunakannya adalah Palm OS. Selain PDA Palm Pilot ada juga produk yang kompatibel, misalnya Handspring Visor. Saya punya yang Handspring Visor itu.

Pada waktu itu (dan sebetulnya sebelum Palm Pilot ngetop), saya membuat proposal untuk sebuah usaha – kalau sekarang nama kerennya adalah Start-Up – yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Tentu saja proposal saya tidak dipahami orang banyak dan mungkin ditertawakan.

Bagaimana mungkin mengembangkan aplikasi dengan memori yang terbatas? Memori handphone pada saat itu hanya Kilobytes ukurannya. Padahal saya sudah belajar pemrograman dengan memori yang terbatas. Itu jaman “komputer” Sinclair dan Apple ][ yang memorinya hanya Kilobytes. Programming menggunakan bahasa apa? Ya bahasa assembly atau bahkan machine code. Tidak masalah. Saya belajar pemrograman juga dari bahasa itu. Jadi sesungguhnya tidak ada masalah teknis.

Singkatnya, tidak ada yang tertarik untuk ikutan membuat perusahaan itu. Gagal. Sekarang, mobile apps developers sudah sangat banyak sekali.

Nah, ini adalah pengalaman buruk bahwa terlalu awal / terlalu cepat / too early dalam mengembangkan ide atau produk bukanlah hal yang baik. Namun, saya masih tetap seperti itu. Sampai sekarang. Terlalu banyak ide produk saya yang terlalu “maju” untuk jamannya. ha ha ha. Biarlah. Itulah saya.