Category Archives: food

Kaleng Tidak Menipu

Biasanya kalau melihat kaleng cookies, orang masih ragu-ragu. Isinya apa? Apakah betul-betul cookies atau sudah berganti menjadi rengginang. Atau bahkan isinya adalah jarum, benang, dan alat-alat untuk menjahit lainnya. hi hi hi.

Tadi saya buka kaleng ini.

P_20160804_171056-01

Alhamdulillah. Isinya masih cookies. (Meskipun hampir habis juga.) hi hi hi …

Kaleng tempat cookies ini memang klasik di Indonesia.


Xiao Long Bao

Sudah lama saya tidak mampir ke restoran ini, Imperial Treasure di Plaza Indonesia, Jakarta. Menu yang menjadi pilihan saya adalah Xiao Long Bao. (Lihat foto.)

xiao-long-bao

Makanan ini di dalamnya seperti siomay tapi ada rasa jahenya sedikit. Di dalamnya ada airnya sehingga ketika digigit, maka air keluar dari “bungkusan”nya itu. Dimakan hangat-hangat (atau kalau gak sabar, panas … ha ha ha). Enak banget.

Makanan ini jarang di temukan di restoran-restoran dan kalaupun ada seringnya restorannya tidak halal. Jadi kalau ke Jakarta dan ke Plaza Indonesia pas jam makan, maka ini pilihan saya.

Sebetulnya tidak itu saja sih yang saya makan. “Teman”nya – yang sebetulnya malah lebih besar ukurannya adalah Lamian (Mie Tarik). Yang ini tidak perlu saya tampilkan fotonya kan? hi hi hi.


Kopdar Jogja

Bermula dari postingan di Facebook tentang sate klathak di Jogja, saya menimpali bahwa saya mau ke Jogja hari Senin. Maka sesampainya di Jogja saya langsung kopdar (kopi darat) dengan beberapa teman di Jogja.

P_20160620_175756_BF group

Sesampainya di Jogja saya ke hotel dan langsung dijemput Yusuf Nurrachman (dari Rumahweb) untuk ke sate Klathak Pangestu di Jl. Damai. Tempat ini dipilih karena paling dekat dengan hotel. Di sana sudah menunggu Yeni Setiawan. Tak berapa lama, muncul Jarwadi. Potret bersama lagi.

P_20160620_180731_BF group

Saya memesan sate klathak dan sop kepala. Ini dia penampakannya.

P_20160620_174427 sate klathakP_20160620_174554 sop kepala

Setelah di sana, acara dilanjutkan ke tempat kop: Klinik Kopi, yang dikomandani oleh mas Pepeng (blognya apa ya?). Unik juga tempat ngopi di sini. Ternyata tempat ini katanya ada di film AADC2. Baru tahu saya. Secara, saya tidak nonton AADC begitulan. Dan sesampainya di sana sudah ada Dedy Hariyadi [url?] yang bergabung.

P_20160620_190205_BF kopi

Begitulah kopdar Jogja yang terjadi dadakan. Let’s do it again guys.


Kopi (Lagi)

Asyik. Baru dapat kopi lagi.

kopi baru

Sebetulnya saya tidak tahu mereknya apa. Tapi kayaknya enak. Hari ini mau dicoba ah. Enak euy.


Kopi

Pagi ini dimulai pukul 3:30 pagi di Bumi Serpong Damai (BSD). Semalam ada meeting sehingga saya terpaksa menginap di sana. Pukul 4 pagi meluncur dari BSD menuju Bandung. Ada kelas pukul 8 pagi.

Perjalanan Jakarta – Bandung cukup lancar. Sampai di kampus pukul 7 pagi. Langsung menuju kafe Eititu, yang berada di Campus Center Timur. Mereka belum buka, tetapi karena saya sering makan di sana para pekerjanya sudah hafal dengan saya. Jadi, mereka sedang menyapu dan ngepel tapi saya sudah bisa pesan kopi hitam. Long black.

IMG_20160415_073147

Nendang! Membuat saya terjaga selama kuliah. Eh, sebetulnya tanpa kopi pun tidak masalah. Ini hanya pembenaran saja. he he he.

Setelah mengajar saya pulang karena siang, setelah Jum’atan, ada rapat. Kali ini saya minta dibuatkan kopi lagi. Sama juga, kopi hitam. Ukurannya malah lebih banyak, satu mug. hi hi hi. Lumayan membuat saya lebih terjaga ketika rapat. (Lagi-lagi ini pembenaran.)

Sekarang pengen kopi lagi, tapi kayaknya jatah kopi hari ini sudah cukup.


Mencari Makanan Halal

Salah satu hal yang dicari ketika traveling adalah makanan halal. Kali ini saya sedang berada di Bangkok. Di airport agak susah juga mencari makanan yang halal. Hampir semua tempat yang ada menyajikan pork. Akhirnya saya hanya menemukan roti cokelat di convenience store saja.

Setelah sampai di hotel, saya juga mencari tempat makan di sekitar hotel. Soalnya kalau makanan di hotel biasanya juga harganya mahal dan tidak terlalu menarik. Kebetulan ini tempatnya di tengah kota Bangkok. Mall yang terdekat adalah Central Embassy. Ini nampaknya mall yang isinya barang mahal semua. Saya lihat daftar tokonya, hanya ada restoran yang mahal. Yang lumayan kayaknya Starbucks dan Coffee Bean. Hmm. Cari di luar saja ah.

Menyusuri jalan di luar juga lumayan panas. Nemu beberapa tempat makan yang nampaknya murah, tetapi kayaknya juga tidak halal. Mana tulisannya juga pakai tulisan Thailand. ha ha ha. Ini sudah mendekati malam sehingga sudah banyak yang tutup juga. Okelah kembali ke mall tadi saja dan makan di Starbucks saja ah.

Sesampainya di Central Embassy saya jalan-jalan dulu. Yang belum dieksplorasi adalah Lower Ground (LG). Di sana ada tempat makan yang berupa kumpulan jenis makanan. Melihat-lihat daftarnya dulu. Kok gak jelas juga. Ah, masuk saja. Siapa tahu di sana ada makanan vegetarian. Eh, ternyata ada. Saya pesan satu jenis masakan vegetarian. Tiba-tiba saya melihat orang kerja yang berkerudung. Eh ternyata ada yang jual makanan halal!

 

P_20160321_181625 eathai halal

Asyik. Makanannya juga kayaknya enak. Akhirnya pesan prata kari. Ternyata enak! Alhamdulillah ternyata dimudahkan. Besok makan di sini lagi ah.

P_20160321_182424


GO-JEK dan Uber Adalah Solusi

Kami tinggal di dekat kota Bandung. Maksudnya “dekat” di sini, adalah 500 meter dari batas kotamadya Bandung. Dari batas kotamadya ke rumah hanya 2 menit lah. Menariknya adalah hampir semua restoran tidak ada yang mengantar ke tempat kami. Hanya ada satu, restoran 449, yang mau. he he he. (Apa mereka tidak kenal kota Bandung?)

Adanya GO-JEK merupakan solusi bagi kami. Sebetulnya persisnya adalah GO-FOOD, bukan ojek untuk ditunggangi. Kalau mau naik ojek, saya masih pakai ojek biasa. Sejak ada GO-JEK kami jadi mudah memesan makanan apa saja. Mereka mau mengantar ke tempat kami, yang sebetulnya tidak jauh berbeda dari tempat lainnya.

Demikian pula dengan Uber. Kalau pesan taksi konvensional, sudah nunggu lama tidak ada kabar kemudian ada kabar bahwa taksinya tidak ada. Pusing. Padahal mau ke bandara atau ke stasiun kereta api. Dengan Uber, kami dapat memastikan ada atau tidaknya kendaraan. Kalau ada, kami juga tahu kapan perkiraan datangnya. (Saya sudah tuliskan tentang ini ya.) Kepastian.

Sebetulnya saya tidak fanatik sekali dengan GO-JEK atau Uber. Hanya saja, alternatif lain tidak ada. Maka mereka merupakan solusi bagi kami. Mungkin bagi orang lain layanan GO-JEK atau Uber dipilih karena murahnya. Bagi saya bukan itu. Saya masih menggunakan taksi biasa dan ojek biasa bila memungkinkan (ada). Lagi-lagi, saya menggunakan GO-JEK atau Uber karena alternatif lain tidak ada.

Mau nggojek makanan dulu ah. (Sekarang masalahnya adalah sinyal operator saya sering jelek di sini.)


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.885 pengikut lainnya