Motret, Tanggung Jawab

Jaman dahulu, memotret sebuah momen dipikir panjang-panjang. Masalahnya, sayang klise filmnya. Ada yang isinya hanya 24. Dua puluh empat kali jepret, habis. Harus beli lagi. Uang. Setelah itu film juga harus dicetak. Uang lagi. Maka, kita akan sangat berhati-hati dalam memotret.

Sekarang, tinggal cekrek potret saja. Foto hanya berupa sebuah berkas di memori yang biasanya berupa sebuah SD card. Tidak suka foto tadi, tinggal dihapus saja dari SD card tersebut. Tidak ada beban. Akibatnya, kita menjadi hambur dalam memotret. Ini juga yang saya alami.

Lama kelamaan koleksi foto saya menjadi super banyak dan ini berimplikasi kepada disk. Jadi sesungguhnya menghamburkan uang juga. Selaini itu, pengelolaan menjadi rumit. Kalau saya ingin mencari sebuah foto tertentu, repotnya bukan main. Foto ini tersimpan dalam folder apa ya?

dsc_0468-kopi-0001
Ngopi sore-sore. Foto yang telah saya edit dengan menghapus bagian kiri dan kanan yang tidak penting.

Hal lain yang saya lakukan terhadap foto adalah melakukan backup di situs online seperti Flickr atau Google Photos. Sesekali juga saya unggah ke Facebook, Twitter, dan Instagram. Untuk hal ini biasanya foto tidak saya unggah mentah-mentah. Foto ini harus saya edit dulu. Biasanya saya potong bagian-bagian yang tidak penting, misalnya ujung kursi yang terpotret (dan mengganggu isi foto). Atau warnanya yang terlalu terang atau terlalu gelap sehingga perlu disesuaikan. Ini yang membuat saya pusing karena banyaknya foto yang saya ambil. (Sebagai contoh, foto-foto yang saya ambil dalam sebuah konser terakhir ternyata ada 1000 foto. Sampai sekarang belum selesai diproses. Hadoh.)

Sekarang saya mulai berpikir, kalau motret jangan sembarangan. Harus tanggung jawab dalam hal mengeditnya dan mengelolanya. Pikir-pikir dahulu. Jangan asal cekrek saja. Tapi ini masih susah. Masih ngasal motret saja. Masih banyak berkas yang harus diproses. Masih harus berlajar lebih disiplin. Ugh.

Memotret Itu Gampang, Tapi

Dulunya memotret itu susah. Eh, sebetulnya tidak susah karena tinggal tekan tombol di kamera saja. Maksudnya susah itu karena pakai mikir dulu. Kalau dulu apa lagi, mikirnya harus lebih banyak karena harga film (klise) itu mahal. Sekali cekrek, film kepakai dan nanti kalau habis harus beli lagi. Belum lagi nanti ada biaya cetaknya. Sebelum menekan tombol potret itu harus berpikir panjang.

Sekarang, memotret itu gampang. Bahkan hampir semua handphone dilengkapi dengan kamera. Sekarang hasil potret disimpan dalam memori yang mudah untuk dihapus. Kalau ada hasil jepretan yang tidak disukai, tinggal hapus (delete). Selesai. Tempatnya kosong lagi dan dapat digantikan oleh foto yang lain. Harga memori juga semakin murah sehingga jumlah foto yang kita ambil juga lebih banyak.

Jadi semestinya tidak ada masalah dalam hal potret memotret lagi bukan? Eh, ternyata masih ada. Sekarang saya menghadapi masalah itu, yaitu … kebanyakan foto. Karena saking mudahnya untuk memotret, enteng saja kita jepret sana jepret sini. Hasilnya banyak sekali foto di dalam kamera atau handphone kita. Problem saya adalah memroses dan menyimpan foto-foto tersebut. Saya harus memilah-milah foto mana yang layak untuk disimpan dan mana yang tinggal hapus. Pada kenyataannya hampir semua saya simpan. Yang jelek sekalipun. Masalahnya adalah disk tempat penyimpanan foto menjadi cepat habis.

Foto-foto itu juga sekarang saya proses. Biasanya saya crop untuk membuatnya lebih bercerita. Bagian-bagian yang tidak perlu (noise) dihilangkan dari foto tersebut. Selain itu juga kontras warna, vignette, dan seterusnya dilakukan (ditambahkan) pada foto-foto tersebut. Yang ini membutuhkan (banyak) waktu. Justru ini masalah saya. Hadoh.

Kaleng Tidak Menipu

Biasanya kalau melihat kaleng cookies, orang masih ragu-ragu. Isinya apa? Apakah betul-betul cookies atau sudah berganti menjadi rengginang. Atau bahkan isinya adalah jarum, benang, dan alat-alat untuk menjahit lainnya. hi hi hi.

Tadi saya buka kaleng ini.

P_20160804_171056-01

Alhamdulillah. Isinya masih cookies. (Meskipun hampir habis juga.) hi hi hi …

Kaleng tempat cookies ini memang klasik di Indonesia.

Xiao Long Bao

Sudah lama saya tidak mampir ke restoran ini, Imperial Treasure di Plaza Indonesia, Jakarta. Menu yang menjadi pilihan saya adalah Xiao Long Bao. (Lihat foto.)

xiao-long-bao

Makanan ini di dalamnya seperti siomay tapi ada rasa jahenya sedikit. Di dalamnya ada airnya sehingga ketika digigit, maka air keluar dari “bungkusan”nya itu. Dimakan hangat-hangat (atau kalau gak sabar, panas … ha ha ha). Enak banget.

Makanan ini jarang di temukan di restoran-restoran dan kalaupun ada seringnya restorannya tidak halal. Jadi kalau ke Jakarta dan ke Plaza Indonesia pas jam makan, maka ini pilihan saya.

Sebetulnya tidak itu saja sih yang saya makan. “Teman”nya – yang sebetulnya malah lebih besar ukurannya adalah Lamian (Mie Tarik). Yang ini tidak perlu saya tampilkan fotonya kan? hi hi hi.

Munggahan di Lapangan Sepak Bola

Hari Senin ini nampaknya sudah masuk ke bulan Ramadhan. Waktunya puasa Ramadhan. Sebelum puasa, dipuaskan main sepak bola dulu. hi hi hi. Di tatar Sunda ada istilah “munggahan”, yaitu (mungkin) bersilaturahim sebelum masuk ke bulan Ramadhan. Nah, ini munggahan di lapangan bola. he he he.

Sudah lama saya tidak main sepak bola. Maka tadi pagi bermain sepak bola di lapangan Progressif (Bandung) beserta tim Sharring Vision melawan tim Rumah Zakat (RZI).

BR super soccer 0001

Lumayan asyik. Ternyata masih bisa lari. Lapangannya juga bagus. Sintetik.

Alhamdulillah masih bisa olah raga.

update: mendapat review bagus dari pemain (satu tim dan lawan tanding) dengan dikirimnya foto ini. lumayan memberikan kontribusi 1 assist.

13391506_10209428974946264_4993102922056987967_o

Kebanyakan Motret

Baru sadar bahwa saya kebanyakan motret. Maksudnya ada terlalu banyak foto yang belum saya proses dan belum sempat diunggah ke tempat penyimpanan online. Ternyata kebanyakan motret itu juga masalah.

Kalau dahulu, karena film dan untuk mencetaknya menjadi foto mahal, memotret itu harus dipikir dahulu. Orang-orang diatur posisinya, baru dijepret. Apa yang dipotret juga harus dipertimbangkan juga. Tidak main jepret aja.

Sekarang, memotret dilakukan dengan kamera digital. Bahkan cukup dengan handphone. Apa saja dipotret. Toh hasilnya hanya sebuah berkas kecil yang bisa dihapus sesuka kita. Tidak ada biaya untuk afdruk (mencetak menjadi foto). Akibatnya kita – atau, lebih tepatnya, saya – kebanjiran berkas foto. Sekarang mau diapakan berkas-berkas foto ini? au dibuang sayang, tapi mereka ini memenuhi disk saya. Sudah satu 1 TB disk yang penuh. Beli disk lagi gitu?

Sebetulnya yang lebih masalah adalah kurangnya waktu yang ada untuk memilih-milah berkas itu. Daripada waktunya dipakai untuk memilah berkas, lebih baik waktunya dipakai untuk cari uang yang kemudian digunakan untuk membeli disk. ha ha ha.

Seriously, saya lagi pusing dengan berkas-berkas foto ini.