Perjalanan Sejarah Musik Saya

Sebagai kelanjutan dari video sebelumnya – “Siapa Pahlawan Musik Indonesia Pilihanmu” – kali ini kami membuat video tentang perkenalan kami dengan musik. Kami di sini maksudnya adalah personil dari Insan Music Project Band.

Video kali ini adalah tentang latar belakang musik saya. Kapan saya mengenal musik pertama kali? Seingat saya adalah sejak kecil (SD). Pada waktu itu ada banyak saudara yang tinggal di rumah kami. Seperti keluarga-keluarga Indonesia lainnya, orang tua saya menerima keponakan dan saudara-saudara yang ingin sekolah di Bandung. Sejak kecil ada sepupu, om, dan saudara lainnya yang tinggal. Salah satunya sekolah di Seni Rupa ITB. Pada masa itu, mahasiswa menggemari musik yang aneh-aneh. Dalam hal ini  musik Progressive Rock sering diputar. Jadi sejak kecil saya sudah sering mendengar musik dari group Yes, Genesis, Gong, Pink Floyd, dan seterusnya.

Eh, kok malah bercerita di sini. Silahkan simak videonya saja ya. Ini sejarah perjalanan musik saya, yang panjangnya mungkin sama dengan sejarah perjuangan Indonesia sejak jaman Majapahit. ha ha ha.

Dan tentu saja, sebagaimana YouTuber lainnya, kalau suka mohon ikutan berlangganan (subscribe). Ha ha ha. Saya sedang mencoba menguji teori saya, tentang akuisisi pelanggan yang mana saya menargetkan untuk mendapatkan 1000 pelanggan (subscribers) di YouTube. Nampaknya ini akan menjadi cerita tersendiri.

Iklan

Pahlawan Musik Indonesia

Hari Pahlawan baru saja lewat beberapa hari yang lalu. Pahlawan tidak harus selalu identik dengan senjata dan perang fisik, tetapi dapat juga melakukan “pertempuran” di dunia yang berbeda. Di dunia musikpun ada pahlawan-pahlawannya.

Sehabis latihan band, kami (Insan Music Band) ngobrol-ngobrol. Topik yang kami angkat kali ini adalah tentang “Siapa Pahlawan Musik Indonesia” menurut pendapat masing-masing. Latar belakang yang berbeda – usia, pendidikan, kawan main, tempat tinggal – akan mengusung nama-nama yang berbeda pula. Karena namanya juga ngobrol-ngobrol santai, mohon dimaafkan guyonan kami (disambi makan dan ngopi pula). hi hi hi. Silahkan simak videonya.

Begitulah pahlawan musik Indonesia menurut kami. Kalau saya, sebetulnya ada banyak, tetapi yang melekat di kepala saya adalah Koes Plus. Maklum, saya besar dengan mendengarkan musik Koes Plus (dan progressive rock – ha ha ha).

Jadi, siapa pahlawan musik Indonesia menurut Anda?

Belok Kiri Tidak Boleh Langsung

Beberapa hari yang lalu saya sedang mengendarai mobil dan berada di lajur paling kiri. Ketika sampai di perempatan, saya hendak belok ke kiri tetapi lampu lalu lintas sedang merah. Saya berhenti. Eh, ada motor di belakang yang klakson-klakson maksa. Si mbak pengendara ini akhirnya sampai di sebelah kanan saya dan masih ngomel. Ya ampun mbak. Pahami dulu aturan lalu lintas.

Dahulu belok ke kiri boleh langsung. Itu yang saya pahami. Sekarang sudah tidak boleh lagi. Harus menunggu sampai lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Ini dia peraturannya (dalam bentuk grafis). [UU No. 22 Tahun 2009, Pasal 112]

28058965_10214202359546281_5595278213907909827_n

Jadi ingin buat sticker ini dan dipasang di belakang mobil.

Nah, sekarang jangan marah-marah dan jangan klakson-klakson kalau kendaraan di depan tidak langsung belok kiri ya.

Hindari Kebiasaan Mencela

Salah satu biang keributan adalah mencela seseorang. Orang yang dicela tidak terima dan balik mencela. Cela-mencela. Akhirnya jadi baku hantam. Atau, setidaknya berkelahi di media sosial. Kebencian ini juga akhirnya terbawa ke dunia nyata.

Kalau dicari-cari, pasti setiap orang memiliki kelemahan dan kesalahan. Namanya juga manusia. Bukan malaikat. Maka apa hebatnya mencela? Kalau monyet bisa bicara, mungkin mereka akan menertawakan kita karena kebisaan kita hanya mencela. (Kalau pandai memanjat pohon, mungkin monyet akan kagum. he he he.)

Dari kebiasaan muncul kebudayaan. Akan sangat menyedihkan kalau yang dikenal orang dari budaya Indonesia adalah budaya mencela. Banyak bangsa yang menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Nah, kita mosok hanya menghasilkan kebudayaan mencela. Ini juga nanti tercatat lho seperti halnya kebudayaan bangsa jaman dahulu yang tercatat dalam artifak-artifak sejarah; prasasti, candi, dan bahkan dalam  landmark-landmark. Malu ah.

Hentikan kebiasaan mencela!

Kalau ada yang mencela atau mengajak kita mencela atau bahkan sekedar mengajak kita tertawa dalam celaannya, tinggalkan. Tidak lucu.

Mengenali Pahlawan Indonesia

Ketika jaman saya masih kecil, semua anak-anak diwajibkan mengetahui dan bahkan menghafalkan nama pahlawan-pahlawan Indonesia. Biasanya disebutkan mereka dari daerah mana. Ini mungkin bagian dari doktrinasi bernegara Indonesia? Hasilnya adalah kami jadi mengetahui pahlawan-pahlawan Indonesia.

Jaman dahulu memang belum ada internet, sehingga pengetahuan kami juga terbatas. Tetapi di sisi lain kami juga tahu bahwa kami tidak tahu semua. (Muter begini. hi hi hi.) Artinya, kami tidak sok tahu.

Baru saja Bank Indonesia menerbitkan uang baru. Uang baru ini menampilkan wajah pahlawan Indonesia. Sayangnya ketika membaca sebuah thread tulisan (post) di media sosial tentang uang ini, banyak yang menyikapinya dengan negatif. Sebagai salah satu contoh adalah banyak yang tidak tahu (dan saya pada awalnya) tentang Frans Kaisiepo yang ditampilkan pada pecahan uang 10.000 rupiah.

rupiah_10000
Tampilan uang 10.000 Rupiah yang baru [sumber sindonews]
Sedihnya banyak yang menyikapi ketidak tahuan ini dengan menghakimi. Saya tidak sampai hati untuk menuliskan komentar-komentar mereka di tulisan ini. (Dan ini juga dapat saya anggap sebagai ikut menyebarkan kebencian.) Padahal untuk memecahkan ketidaktahuan ini mereka dapat mencari informasi di internet. Ini salah satunya, “Biografi Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo“. Sangat mudah sekali. (Coba bayangkan jaman dahulu sebelum ada internet!) Keberlimpahan informasi ini ternyata tidak menjadi jaminan orang menjadi lebih terdidik. Aneh. Apakah ini merupakan kegagalan pendidikan Indonesia?

Hal yang sama dapat juga dilakukan untuk mencari informasi mengenai pahlawan-pahlawan Indonesia lainnya yang diabadikan di uang baru kita. Ayo cari tahu.

Telo yang tidak Let

Ok, ok, ok. Sekarang semua orang sedang wabah “Om Telolet Om”. Bukan hanya di Indonesia saja, sampai ke luar negeri. Cadas sekali.

Saking banyaknya, sampai saya sebel. Saya buat saja meme seperti ini.

15541988_10154140729471526_8872625022606398657_n

Sebetulnya dari segi desain, seharusnya saya tulis “om telo …”. Sebelum Robin selesai mengucapkan katanya sudah keburu digampar Batman. Seharusnya begitu, tetapi saya teringat akan kata “telo”.

Jaman saya dahulu, kata “telo” digunakan sebagai kata yang agak sedikit makian tetapi berkesan akrab. Kamu telo. Gitu kira-kira. Jadi kalau saya buat “Om Telo …”, nanti dikira Robin sedang mencoba sok akrab atau memaki Batman. Bakalan digampar dua kali kalau begitu. he he he. Itu cerita soal design decision.

Sekarang jaman sudah berubah. Kalau saya sebut kata “telo”, pasti yang terbayang oleh anak sekarang adalah “telolet”. Maka kalau ada yang berkata “telo”, pasti akan dilanjutkan dengan “let”.

Okay? Gak pakai telolet ya …

Aplikasi Jaga: Pencegahan Korupsi

jaga-logoKemarin kami berdiskusi tentang aplikasi yang namanya Jaga. Pada dasarnya aplikasi ini bertujuan untuk mencegak korupsi melalui keterbukaan informasi. Keberadaan informasi yang tersedia di aplikasi Jaga ini dapat membuat masyarakat ikut berpartisipasi dalam membantu menjaga penyalahgunaan-penyalahgunaan.  Ada informasi tentang anggaran dan ketersediaan fasilitas di sekolah, rumah sakit, puskesmas, perijinan, dan tidak menutup adanya informasi-informasi lainnya.

jaga-screen

Berikut ini adalah salah satu contoh tampilan dari aplikasi Jaga yang tersedia untuk Android dan iPhone. Kita bisa melakukan drill-down untuk mencari data yang lebih rinci.

Secara teknologi, di belakangnya menggunakan konsep ESB (Enterprise Service Bus) yang diimplementasikan menggunakan WSO2. Nampaknya saya bakalan mengajak developer-developer untuk menggunakan standar ini agar dapat saling berkomunikasi. Dia bisa menjadi platform, bukan sekedar aplikasi saja.

Secara umum aplikasi ini bagus, namun ada beberapa permasalahan yang kemarin kami diskusikan. Masalah yang utama adalah bagaimana mengajak komunitas untuk menggunakan platform ini sebagai media untuk edukasi dan pencegahan korupsi? Komunitas mana saja yang perlu diajak untuk menggunakannya secara intensif?

Ada pertanyaan tentang penggunaan artis atau buzzer untuk mempromosikan sebuah produk atau layanan. Sebetulnya ini hal yang biasa, tetapi gara-gara ada banyak demo dengan pendemo bayaran maka dikhawatirkan image penggunaan artis / buzzer ini sama saja dengan pendemo bayaran. hi hi hi. Apa pendapat Anda?

Hal lain yang menurut saya penting adalah bagaimana membuat warna (brand) yang positif, good news. Kalau orang mendengar kata korupsi atau anti-korupsi, biasanya konotasinya adalah negatif. Misal ada yang berita tentang tertangkapnya seseorang karena korupsi dan seterusnya. Bad news. Pendekatan good news menurut saya lebih menarik. (Sama seperti tulisan-tulisan saya di blog ini yang condong untuk good news. Berita-berita di luar sana kebanyakan menggoreng bad news. Males! Nyebelin. Boleh jadi memang bad news lebih menjual, tetapi good news lebih menghasilkan kultur positif di kemudian hari.)

Ayo kita coba aplikasi Jaga ini dan beri komentar Anda di sini.