Bandung Dingin

Beberapa hari ini kata orang Bandung terasa dingin. Menurut saya juga. Bagaimana sesungguhnya? Kebetulan Bandung memiliki beberapa sensor cuaca yang dapat diakses secara online. (Saat ini layanan ini belum diluncurkan sehingga URL-nya belum dapat saya tampilkan di sini. Sebentar lagi akan beres dan akan dibuka untuk publik melalui API.)

Sebaran dari sensor-sensor tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini.

weather-1-allplaces
Sensor cuaca di kota Bandung

Daftar namanya adalah sebagai berikut.

weather-2-allsensors_0001_01
Daftar sensor cuaca di kota Bandung

Mari kita lihat kondisi Bandung pada pagi ini. Berikut ini adalah gambar sensor yang berada di kantor CBN Bandung, yang berada di jalan Pasir Kaliki. Ada hal yang menarik bahwa terjadi kenaikan temperatur sebelum jam 8 pagi. Temperatur di bawah 20 derajat Celcius dan kemudian melonjak.

weather-3-cbn_0001
Temperatur di depan kantor CBN Bandung

Sebagai perbandingan, berikut ini adalah situasi di rumah saya (Insan Music Store), yang letaknya di sekitar Bandung Timur Laut.

weather-4-insan_0001
Temperatur di kantor Insan Music Store

Saya cek data dari sensor-sensor lain, ternyata mirip. Mereka semua mengalami kenaikan setelah pukul 7:20 pagi. (Data rinciannya di database. Kapan-kapan mau dioprek ah.)

weather-5-paledang_0001
Temperatur di Kelurahan Paledang, Bandung

Jadi kesimpulan sementara, memang tadi pagi Bandung cukup dingin, yaitu di bawah 18 derajat Celcius. (Kalau di Lembang katanya di bawah 14 derajat Celcius. Wow!)

Mengapa Bandung dingin akhir-akhir ini, sudah ada pembahasannya di tempat lain. Nanti akan saya sampaikan tautannya di sini.

Iklan

Ngoprek IoT Lagi

Minggu pagi, enaknya ngoprek hardware lagi. Ngoprek Internet of Things (IoT) lagi. Maka digelarlah berbagai komponen dan perangkat di atas meja.

P_20170507_080328-01 IoT

Ada banyak yang ingin saya kerjakan. Satu-satu dioprek.

Weather station. Ada perangkat IoT untuk menangkap data cuaca. Coba cari yang mana di atas meja itu. Sudah ketemu. Pertama kali mau ngoprek, cek dulu apakah ada batrenya. Eh ternyata di perangkatnya belum ada batrenya. Ada yang membutuhkan 3 batre AA yang rechargeable. Untuk yang sensor suhu, kelembaban, dan tekanan juga membutuhkan batre (2 AAA tidak perlu rechargeable.) Yaaah. Terpaksa harus ditunda dulu ngopreknya. Besok beli batrenya ah.

P_20170507_082611-weather-01

Acer CloudProfessor (CFP). Yang ini berupa sebuah perangkat (Acer CloudProfessor, atau kita singkat saja CFP) dan beberapa sensor lainnya. CFP ini berupa sebuah perangkat yang terhubung ke cloud-nya Acer. (Di foto dia yang berwana hitam.)

IMG_20170507_100812-01

CFP ini dapat dihubungkan dengan berbagai sensor dan actuator. Sebagai contoh, dia dapat dihubungan dengan LED. Nantinya ada aplikasi di handphone yang dapat kita gunakan untuk mengendalikan LED itu melalui cloud. Ada juga sensor cahaya dan ada motor yang dapat dipasang menjadi kipas.

Sensor/LED - Acer CFP - cloud - handphone

Saya bahkan mencoba oprekan lain, yaitu mengendalikan kipas dengan handphone. Kipas ini terhubung dengan Arduino Leonardo yang di atasnya dipasang expansion board. Videonya dapat dilihat di sini:

Demikian ngoprek IoT di hari Minggu ini. Ngoprek akan dilanjutkan lagi sore hari. Nanti mau ngoprek BLE (Bluetooth LE). Kalau sempat.

Masa Depan Industri Mikroelektronika

Menebak masa depan bukanlah hal yang mudah. Orang yang hebatpun sering salah dalam memprediksi. Saya sendiri pernah “beruntung” menebak masa depan beberapa teknologi dengan baik karena kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula. (I was in the right place and the right time.) Sebuah keberuntungan.

Sebagai contoh, saya mengenal World Wide Web (WWW) sejak pertama kali dibuat oleh Tim Berners-Lee. Kebetulan pada saat itu saya harus bekerja menggunakan NeXT computer. Pada saat yang sama, di Swiss, Tim Berners-Lee juga menggunakan komputer NeXt untuk mengembangkan WWW-nya. Saya sempat katakan bahwa WWW memiliki masa depan yang cerah, tetapi orang-orang tidak percaya karena waktu itu sedang musimnya protokol / aplikasi “Gopher”. Untuk membuktikannya, saya membuat halaman tentang Indonesia yang pertama. (The Indonesian homepage.)

Hal yang sama juga terjadi dengan Linux. Pada masa itu saya membutuhkan sistem operasi UNIX untuk komputer di rumah. Di kampus / kantor saya menggunakan Sun Microsystem untuk pekerjaan dan penelitian saya. Di rumah saya hanya punya komputer berbasis Intel. UNIX yang ada saat itu adalah SCO UNIX yang mahal dan Minix (yang entah kenapa kurang sreg). Ternyata di Finlandia ada seorang mahasiswa yang sedang berusaha membuat sebuah sistem operasi yang mirip UNIX. Saya jadinya ikut ngoprek juga. Ternyata asyik. Saya ngajakin teman-teman buat perusahaan pendukung Linux, tetapi pada sibuk sekolah semua. Akhirnya kami tidang ngapa-ngapain. Muncullah RedHat.

Nah, saya punya perasaan yang sama tentang Internet of Things (IoT) ini. Ini adalah masa depan.

Ketika saya berbicara dengan orang-orang pembuat perangkat keras, manufakturing elektronika dan mikroelektronika, kebanyakan masih mengarah kepada produk SIM card (smartcard). Dapat dipahami karena pasar SIM card di Indonesia saja ada lebih dari 500 juta unit pertahunnya. Sebuah pasar yang sangat besar. Maka akan sangat sulit untuk membujuk mereka untuk berubah haluan.

Kalau kita perhatikan lebih lanjut perangkat IoT ini, tidak ada yang menggunakan SIM card. Komunikasi antar perangkat ini sekarang kebanyakan menggunakan WiFi. Ke depannya apakah akan tetap menggunakan WiFi? atau Bluetooh (BLE)? Zigbee? LoRa? Yang pasti nampaknya bukan yang berbasis seluler. (Halo perusahaan seluler. Siap-siap menurun.)

photo559633135318444158

Komponen utama dari IoT adalah “prosesor” dan “media komunikasi”. Kunci utamanya adalah harus murah. Sangat murah. Mereka tidak harus menggunakan prosesor yang paling hebat (secara komputasi), tetapi yang cukup bagus dan murah. Masalahnya, jumlah yang diproduksi ini skalanya adalah milyaran unit. Beda 10 sen saja sudah beda jauh biayanya.

Jadi prosesor jenis apa? Nah, itu kita belum tahu. Sama-sama mencari tahu. Bahkan perusahaan besar sekalipun, seperti Intel dan IBM, masih mencari-cari. Mari kita perhatikan perkembangannya.

[Hal lain yang terkait dengan software dan data akan kita bicarakan dalam topik terpisah. Kita masih mencari “killer application” untuk IoT sebagaimana adanya Visicalc (spreadsheet) untuk komputer dan SMS untuk handphone. Google-nya IoT?]