Belajar (Sambil Nonton)

Hari Rabu ini (17 Mei 2017) saya berniat untuk hadir di acara ini; Konser Musik dari mas Yockie Suryo Prayogo. [Lihat posternya.] Yang mengisi acaranya bukan hanya mas Yockie sendiri, tapi banyak musisi / penyanyi yang berkualitas. Saya sudah nonton berbagai konsernya. Keren-keren dan tidak membosankan.

18422397_724427514428427_8031676336600894694_o

Biasanya orang nonton konser hanya untuk bersenang-senang, tetapi kalau sama mas Yockie ini kita mau belajar. Dalam beberapa kali pertemuan dengan mas Yockie, umumnya informal sambil ngopi-nopi, saya banyak belajar. Ada banyak seluk beluk industri musik dan kebudayaan yang tidak muncul ke permukaan. Dalam diskusi baru bisa dipahami mengapa demikian. Nah, konser ini merupakan salah satu media untuk belajar.

Saya banyak berharap agar banyak anak muda yang hadir sehingga dunia musik Indonesia dapat lebih maju.

Jreng ah! Sudah beli tiketnya? Saya sudah …

Meningkatkan Kreativitas dan Produktivitas

Ini bukan tulisan tentang pabrik, karena di pabrik biasanya produktivitas lebih utama dibandingkan kreativitas. hi hi hi. Ini bukan juta cerita tentang paradoks, tetapi tentang peningkatan keduanya pada saat yang bersamaan. Yang saya maksud adalah membuat tulisan.

Membuat tulisan yang banyak itu tidak mudah. Silahkan dicoba. Silahkan coba ngeblog setiap hari. Dilarang copy-and-paste tentunya. Ini baru soal kuantitas. Kita belum bicara soal kualitas. Itu lebih susah lagi. Lihat saja kualitas cerita sinetron kita. ha ha ha. Maaappp …

Bagaimana meningkatkan kreativitas (dan produktivitas) dalam membuat tulisan? Kalau ini bisa saya jawab dengan tuntas, bisa kaya raya saya. Ini adalah 1-million-dollar-question. Saya tidak bisa menjawab dengan seratus persen, tetapi saya juga tidak mau melarikan diri dari pertanyaan ini.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan menggunakan musik. Musik membuat saya lebih mudah menulis. Tetapi ada sampingannya juga. Topik dari tulisan jadi terpengaruh dari musik yang sedang didengarkan. Contoh tadi pagi. Saya harus menulis sebuah artikel dalam 1 jam. Musik yang saya pasang adalah jenis musik dari tahun 70an – yang banyak berjenis pop, balada, folk, nelangsa (mellow). Ternyata produktif juga. Artikel selesai dalam 1 jam. Efek sampingannya adalah mood saya jadi mellow. Akhirnya ngeblog juga tebawa mellow.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah gunakan apa saja yang cocok dengan Anda karena sifat kita berbeda-beda. Whatever works. Kebetulan, salah satu metoda yang cocok bagi saya adalah dengan musik. (Tulisan ini juga dibuat sambil mendengarkan musik tahun 70an juga.)

Selamat mencoba. Semoga kreativitas dan produktivas Anda mencuat.

Menertawakan Sains

SSaya suka komedi. Banyak hal yang dapat dipelajari dari komedi. Saya belajar bahasa Inggris melalui komedi. Demikian pula, ada banyak cerita sejarah yang saya pelajari dari komedi juga. Sains? Matematika? Rekayasa? Semua ini dengan lawakan? Wah ini baru menarik.

Pagi hari di awal tahun 2017 ini saya membuka internet. Serius. Sehabis Subuh, sebelum matahari terbit saya membuka internet. Entah kenapa, terbuka YouTube. Yang terpampang di layar saya ada berbagai pelawak, mulai dari Johnny Carson, Jonathan Winters, dan kemudian Robin Williams. Eh, ternyata salah satunya menunjuk ke video ini.

Nampaknya ini adalah sebuah acara wawancara tentang Matematika dengan pelawak Steve Martin. Entah kenapa, Steve mengajak pelawak Robin Williams ke atas panggung. Mungkin dia tahu bahwa Robin Williams lebih tahu tentang sains (Matematika dan Fisika) lebih dari dia. Maka terjadilah berbagai adegan lucu di video itu. (Videonya dipotong menjadi beberapa video, masing-masing 10 menitan.) Gak bisa berhenti nonton video ini. Aje gile busyet dah.

Saya baru tahu bahwa Robin Williams itu ternyata cerdas banget! Dia banyak membaca dan mengerti banyak hal. Silahkan lihat videonya. Ada banyak lawakan yang terkait dengan matematika (dan fisika). Serius! Edan pisan!

Lawakan jenis ini – yang membutuhkan pendengar untuk mikir – merupakan jenis yang saya sukai. Ah, ternyata bisa juga menggabungkan lawakan dengan sains. Ini merupakan dorongan positif buat saya agar terus dapat menjelaskan konsep yang susah dengan lawakan.

Belajar ah … (dan banyak membaca tentunya).

Budaya Produktif

Mengapa saya ngeblog? Ada banyak alasan. Salah satunya adalah agar saya bisa produktif. Selalu menghasilkan karya. Mungkin kualitas tulisan saya ini tidak hebat-hebat amat, tetapi yang penting adalah produktif.

Saat ini kita punya masalah dengan media sosial. Di sana, kebanyak orang hanya “berbagi” (share) tulisan orang lain. Atau kalau tidak tulisan ya foto, video, dan berita-berita dari tempat lain (yang seringkali palsu dan gak mutu) yang ditampilkan. Kebiasaan untuk membuat tulisan (content) sendiri nampaknya malah makin dijauhkan dengan keberadaan media sosial tersebut.

Memang lebih mudah menekan tombol “share” daripada mengarang sendiri. Mengarang itu harus pakai mikir. hi hi hi. Sementara menekan tombol share, tidak. ha ha ha. Ini tidak fair juga sih. Menekan tombol share itu masih harus mikir. Tapi mestinya sel otak yang dipakai untuk itu jauh lebih kecil daripada kalau kita menulis sendiri. Eh, siapa tahu tidak juga. Siapa tahu kalau menekan tombol share sambil marah-marah malah sel-sel otak semua membara. ha ha ha.

15369063_10154092908046526_7944125947555663912_o
selfie sesudah ngeblog

Anyway … tulisan ngasal pagi ini. Tapi ini asli karangan sendiri lho. Makanya ngasal.

Pembenaran

Bagaimana memastikan bahwa ide bisnis kita, misal dalam kerangka start-up, sudah pada jalan yang benar? Istilah kerennya adalah validasi. Ada banyak cara yang ditempuh orang. Ada yang ikutan kompetisi, ada yang ikut bimbingan atau mentoring, ada yang ikut asosiasi, dan seterusnya.

Pembenaran juga tidak hanya terjadi di dunia start-up saja tetapi dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita menuliskan sesuatu di media sosial dan berharap banyak disukai (like) oleh banyak orang. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mencari pembenaran.

Cara-cara di atas, meskipun sah-sah saja, bukan satu-satunya (eh banyak ya?) yang dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Seringkali saya melakukan inisiatif-inisiatif tanpa menunggu pembenaran dari orang lain. Masalahnya adalah banyak inisiatif yang saya lakukan (di dunia internet, bisnis, pendidikan, kepemimpinan, dan lain-lain) banyak yang belum mengerti. Jadi bagaimana mungkin saya menunggu pembenaran dari orang-orang yang belum mengerti? Cara yang saya lakukan adalah jalan terus saja. Kalau kata iklan Nike, “just do it.”

Jadi, saya hanya senyum-senyum saja ketika orang membuat lomba, perkumpulan, atau apapun tanpa mengajak saya. Padahal saya bergerak di bidang itu. ha ha ha. Biarlah. Saya toh tidak mencari pembenaran dari mereka.

Mencari Gojek-nya Pendidikan

Sudah pernahkan Anda menggunakan Go-Jek (termasuk Go-Food, dll.)? Ketika pertanyaan ini saya lontarkan di berbagai pertemuan, jawabannya (sebagian besar) adalah sudah. Singkatnya, bagi banyak orang Indonesia, Go-Jek adalah hal yang natural dari penerapan teknologi terhadap layanan ojek.

Kalau kita ceritakan tentang “ojek” ke rekan kita yang berada di luar negeri, khususnya di negara maju yang memiliki transportasi publik yang bagus, mereka akan heran. Mengapa ada ojek? Mosok ada layanan transportasi publik berbasis sepeda motor?  Mereka akan mempertanyakan keamanan dari layanan ojek tersebut. Segudang pertanyaan lain akan menyusul.

Ada banyak alasan mengapa ojek dan aplikasi Go-Jek tumbuh di Indonesia. Infrastruktur transportasi yang masih belum bagus dan belum merata menyebabkan banyak jalan yang hanya dapat dilalui dengan motor. Gang, misalnya. Kemacetan di jalan besarpun membuat layanan ojek masuk akal. Belum lagi ini membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang Indonesia.

Sesuatu hal yang aneh dan tidak mungkin di luar negeri menjadi sesuatu hal yang lumrah di Indonesia.

Mari kita melirik ke dunia pendidikan. Aplikasi pendidikan apa yang Anda gunakan akhir-akhir ini? Sering? Berapa banyak orang yang menggunakan aplikasi ini? Jawabannya adalah tidak banyak atau bahkan tidak ada. Pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan memang masih kalah cepat dengan pemanfaatan di dunia bisnis.

Pendidikan di Indonesia tidak dapat disamakan dengan pendidikan di luar negeri. Lingkungan dan karakter orang Indonesia yang berbeda menyebabkan banyak cara pendidikan luar negeri yang tidak dapat diterapkan secara langsung. Kondisi infrastruktur yang dibutuhkan untuk transportasi publik sama buruknya dengan kondisi “infrastruktur” yang dibutuhkan untuk menjalankan pendidikan.

Nah, apakah “ojek” dari pendidikan di Indonesia? Mungkin ada sesuatu hal yang mungkin dianggap aneh oleh orang Barat, tetapi masuk akal bagi orang Indonesia. Sesuatu yang khas Indonesia. (Kearifan lokal?) Kalau sudah ketemu “ojek”nya, mungkin dapat dibuatkan aplikasi “gojek”nya untuk pendidikan ini.

Kita butuh pemikiran yang berbeda. Mari kita cari “the gojek app for Indonesian education”.

Nge-vlog gak ya?

Belakangan ini memang sedang marak orang-orang membuat video blog (vlog). Nah, dua hari yang lalu saya diwawancara oleh harian Pikiran Rakyat tentang topik vlog ini. Hari ini, Minggu 23 Oktober 206, muncul tulisannya. hi hi hi.

p_20161023_111929-vlog-0001

Saya sendiri belum mempertimbangkan untuk membuat vlog. Sekarang saja dengan blog ini (dan yang baru saya mulai di medium) sudah riweuh. Kurang terurus. Apa lagi nanti kalau nambah dengan nge-vlog. Bisa-bisa terbengkalai semua. Ada sih beberapa video YouTube saya, tetapi isinya lebih ke arah tutorial-tutorial. Nanti kalau sudah ada mood mungkin juga buat vlog. Sekarang belum dulu.

Sementara ini, silahkan tonton bodoran saya waktu di Australia kemarin dulu ya. hi hi hi.

Atau kalau mau bodoran dalam bahasa Indonesia, yang ini? (Sudah lama sih.)

Lagian, bagusnya orang lain yang buat vlog supaya tidak kita-kita lagi. Loe lagi, loe lagi. hi hi hi. Mari kita perbesar jumlah orang kreatif. Mari menulis. Eh, membuat video?