a day in the life …

Ini bukan tentang lagunya the Beatles, meskipun judulnya sama. Ini adalah tentang keseharian saya. Untuk apa diceritakan ya? Kepo? Ha ha ha. Namanya juga “blog”. Jadi sekali-sekali mencatatan (log) kegiatan sehari-hari. Seperti kegiatan sehari-harinya di pesawat ruang angkasa. Ciyeh.

Okay. Kemarin saya melakukan banyak hal. Catat dulu.

  1. Mewawancarai calon mahasiswa untuk CCE MBA SBM ITB. (Iya, singkatan semua.)
  2. Memberi mentoring entrepreneurship (selama 1 jam saja)
  3. Futsal (1 jam saja juga)
  4. Latihan band bersama BANDOS (Band Dosen ITB)

Itu garis besarnya. Tentu saja ada hal-hal lain. Ternyata sibuk juga saya untuk hari yang tidak saya ramalkan sebagai sibuk. Hmm…

interview CCE MBA SBM ITB

28619378_10155353991686526_2245848601284629566_o
Latihan BANDOS
Iklan

Belajar (Sambil Nonton)

Hari Rabu ini (17 Mei 2017) saya berniat untuk hadir di acara ini; Konser Musik dari mas Yockie Suryo Prayogo. [Lihat posternya.] Yang mengisi acaranya bukan hanya mas Yockie sendiri, tapi banyak musisi / penyanyi yang berkualitas. Saya sudah nonton berbagai konsernya. Keren-keren dan tidak membosankan.

18422397_724427514428427_8031676336600894694_o

Biasanya orang nonton konser hanya untuk bersenang-senang, tetapi kalau sama mas Yockie ini kita mau belajar. Dalam beberapa kali pertemuan dengan mas Yockie, umumnya informal sambil ngopi-nopi, saya banyak belajar. Ada banyak seluk beluk industri musik dan kebudayaan yang tidak muncul ke permukaan. Dalam diskusi baru bisa dipahami mengapa demikian. Nah, konser ini merupakan salah satu media untuk belajar.

Saya banyak berharap agar banyak anak muda yang hadir sehingga dunia musik Indonesia dapat lebih maju.

Jreng ah! Sudah beli tiketnya? Saya sudah …

Meningkatkan Kreativitas dan Produktivitas

Ini bukan tulisan tentang pabrik, karena di pabrik biasanya produktivitas lebih utama dibandingkan kreativitas. hi hi hi. Ini bukan juta cerita tentang paradoks, tetapi tentang peningkatan keduanya pada saat yang bersamaan. Yang saya maksud adalah membuat tulisan.

Membuat tulisan yang banyak itu tidak mudah. Silahkan dicoba. Silahkan coba ngeblog setiap hari. Dilarang copy-and-paste tentunya. Ini baru soal kuantitas. Kita belum bicara soal kualitas. Itu lebih susah lagi. Lihat saja kualitas cerita sinetron kita. ha ha ha. Maaappp …

Bagaimana meningkatkan kreativitas (dan produktivitas) dalam membuat tulisan? Kalau ini bisa saya jawab dengan tuntas, bisa kaya raya saya. Ini adalah 1-million-dollar-question. Saya tidak bisa menjawab dengan seratus persen, tetapi saya juga tidak mau melarikan diri dari pertanyaan ini.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan menggunakan musik. Musik membuat saya lebih mudah menulis. Tetapi ada sampingannya juga. Topik dari tulisan jadi terpengaruh dari musik yang sedang didengarkan. Contoh tadi pagi. Saya harus menulis sebuah artikel dalam 1 jam. Musik yang saya pasang adalah jenis musik dari tahun 70an – yang banyak berjenis pop, balada, folk, nelangsa (mellow). Ternyata produktif juga. Artikel selesai dalam 1 jam. Efek sampingannya adalah mood saya jadi mellow. Akhirnya ngeblog juga tebawa mellow.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah gunakan apa saja yang cocok dengan Anda karena sifat kita berbeda-beda. Whatever works. Kebetulan, salah satu metoda yang cocok bagi saya adalah dengan musik. (Tulisan ini juga dibuat sambil mendengarkan musik tahun 70an juga.)

Selamat mencoba. Semoga kreativitas dan produktivas Anda mencuat.

Budaya Produktif

Mengapa saya ngeblog? Ada banyak alasan. Salah satunya adalah agar saya bisa produktif. Selalu menghasilkan karya. Mungkin kualitas tulisan saya ini tidak hebat-hebat amat, tetapi yang penting adalah produktif.

Saat ini kita punya masalah dengan media sosial. Di sana, kebanyak orang hanya “berbagi” (share) tulisan orang lain. Atau kalau tidak tulisan ya foto, video, dan berita-berita dari tempat lain (yang seringkali palsu dan gak mutu) yang ditampilkan. Kebiasaan untuk membuat tulisan (content) sendiri nampaknya malah makin dijauhkan dengan keberadaan media sosial tersebut.

Memang lebih mudah menekan tombol “share” daripada mengarang sendiri. Mengarang itu harus pakai mikir. hi hi hi. Sementara menekan tombol share, tidak. ha ha ha. Ini tidak fair juga sih. Menekan tombol share itu masih harus mikir. Tapi mestinya sel otak yang dipakai untuk itu jauh lebih kecil daripada kalau kita menulis sendiri. Eh, siapa tahu tidak juga. Siapa tahu kalau menekan tombol share sambil marah-marah malah sel-sel otak semua membara. ha ha ha.

15369063_10154092908046526_7944125947555663912_o
selfie sesudah ngeblog

Anyway … tulisan ngasal pagi ini. Tapi ini asli karangan sendiri lho. Makanya ngasal.

Pembenaran

Bagaimana memastikan bahwa ide bisnis kita, misal dalam kerangka start-up, sudah pada jalan yang benar? Istilah kerennya adalah validasi. Ada banyak cara yang ditempuh orang. Ada yang ikutan kompetisi, ada yang ikut bimbingan atau mentoring, ada yang ikut asosiasi, dan seterusnya.

Pembenaran juga tidak hanya terjadi di dunia start-up saja tetapi dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita menuliskan sesuatu di media sosial dan berharap banyak disukai (like) oleh banyak orang. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mencari pembenaran.

Cara-cara di atas, meskipun sah-sah saja, bukan satu-satunya (eh banyak ya?) yang dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Seringkali saya melakukan inisiatif-inisiatif tanpa menunggu pembenaran dari orang lain. Masalahnya adalah banyak inisiatif yang saya lakukan (di dunia internet, bisnis, pendidikan, kepemimpinan, dan lain-lain) banyak yang belum mengerti. Jadi bagaimana mungkin saya menunggu pembenaran dari orang-orang yang belum mengerti? Cara yang saya lakukan adalah jalan terus saja. Kalau kata iklan Nike, “just do it.”

Jadi, saya hanya senyum-senyum saja ketika orang membuat lomba, perkumpulan, atau apapun tanpa mengajak saya. Padahal saya bergerak di bidang itu. ha ha ha. Biarlah. Saya toh tidak mencari pembenaran dari mereka.

Nge-vlog gak ya?

Belakangan ini memang sedang marak orang-orang membuat video blog (vlog). Nah, dua hari yang lalu saya diwawancara oleh harian Pikiran Rakyat tentang topik vlog ini. Hari ini, Minggu 23 Oktober 206, muncul tulisannya. hi hi hi.

p_20161023_111929-vlog-0001

Saya sendiri belum mempertimbangkan untuk membuat vlog. Sekarang saja dengan blog ini (dan yang baru saya mulai di medium) sudah riweuh. Kurang terurus. Apa lagi nanti kalau nambah dengan nge-vlog. Bisa-bisa terbengkalai semua. Ada sih beberapa video YouTube saya, tetapi isinya lebih ke arah tutorial-tutorial. Nanti kalau sudah ada mood mungkin juga buat vlog. Sekarang belum dulu.

Sementara ini, silahkan tonton bodoran saya waktu di Australia kemarin dulu ya. hi hi hi.

Atau kalau mau bodoran dalam bahasa Indonesia, yang ini? (Sudah lama sih.)

Lagian, bagusnya orang lain yang buat vlog supaya tidak kita-kita lagi. Loe lagi, loe lagi. hi hi hi. Mari kita perbesar jumlah orang kreatif. Mari menulis. Eh, membuat video?

Mengajarkan Debugging?

Bagaimana ya cara mengajarkan “debugging” (mencari sumber masalah dalam koding, sistem)?

Seringkali kita memberikan tutorial atau tugas tentang satu hal (kode pemrograman misalnya). Kemudian siswa mengikuti tutorial tersebut. Ketika ada masalah, tidak jalan, maka siswa kesulitan mencari sumber masalahnya. Ketika melapor, yang dilaporkan juga tugas tidak jalan. Nah ini membingungkan karena ada banyak hal yang membuat sebuah kode / sistem tidak jalan.

Hal yang sama juga terjadi dalam pengembangan sebuah sistem. Ketika ada masalah maka kita harus mencari sumber masalahnya dan memperbaikinya. Debugging.

Kemampuan debugging ini ternyata tidak dimiliki oleh semua orang. Namun semestinya bisa diajarkan. Bagaimana ya cara mengajarkannya yang baik?

Salah satu ide adalah dengan membuat soal yang memiliki kesalahan, kemudian siswa diminta untuk mencari kesalahan tersebut dan memperbaikinya. Semakin sering melakukan hal ini (mencari kesalahan dan memperbaikinya), mudah-mudahan meningkatkan kemampuan untuk debuggingnya.

Hal lain juga yang perlu diajarkan adalah bagaimana membagi-bagi sistem. Divide and conqueror. Ini bisa jadi topik terpisah.