Category Archives: kuliah

Fenomena Batu Akik

Dalam diskusi mentoring entrepreneurship tadi siang, salah satu topik yang muncul adalah fenomena batu akik (gemstone) di Indonesia. Pada saat tulisan ini dibuat, batu akik sedang populer sekali. Kemana kita melihat, selalu terlihat ada orang yang melakukan jual beli batu akik. Di Bandung, sudah beberapa hari ini ada pameran batu akik di RRI. Dari jumlah kendaraan – motor dan mobil – yang parkir di depan RRI nampaknya banyak sekali orang yang hadir.

Jika Anda memiliki akun media sosial, pasti ada banyak foto dan berita tentang batu akik yang Anda temui. Ada tulisan dan gambar yang serius, tetapi ada juga yang guyonan. Singkatnya adalah batu akik sedang populer saat ini.

batu akik kolang kaling

[Saya menemukan foto/gambar di atas. Ada yang tahu sumber aslinya dari mana? Untuk memberikan acknowledgement di sini.]

Ada beberapa pertanyaan yang muncul

  • mengapa batu akik menjadi populer saat ini?
  • apakah ada kejadian tertentu yang memicu ini?
  • apakah ada orang tertentu yang berperan di balik kepopuleran batu akik ini?
  • apakah bisnis batu akik ini riil?

Batu akik sudah ada dari jaman dahulu. Bahkan, guyonannya pun ada. Pelawak Srimulat Tessy dikenal menggunakan banyak cincin batu akik. Toh, dulu-dulu kepopuleran batu akik biasa-biasa saja.

Apakah kita dapat menggunakan teori Malcom Gladwel, “tipping point“, untuk menjelaskan fenomena ini? Telah terjadi sebuah “tipping” yang mengakibatkan kepopuleran batu akik meningkat secara drastis.

Diskusi bukannya malah menambah daftar pertanyaan. Ha ha ha. Bagaimana pendapat Anda?


Kuliah Semester Ini

Tanpa saya sadari, ternyata semester ini saya mengajar banyak kuliah. Biasanya saya hanya mengajar dua mata kuliah, tetapi kali ini ternyata menjadi empat. Hadoh.

  1. Keamanan Informasi (Introduction to Security) – untuk S1
  2. Keamanan Jaringan (Network Security) – S2
  3. Keamanan Perangkat Lunak (Software Security) – S2
  4. Secure Operation and Incident Handling – S2

Busyet dah. Nanti kita organisir dulu kelas dan jadwalnya. Sementara ini saya masih sibuk mempersiapkan materi kuliahnya.


Ke(terlalu)sibukan

Ini adalah minggu pertama perkuliahan dimulai di ITB. Ternyata langsung super sibuk. Gas pol. Akibatnya tidak sempat ngeblog dalam beberapa hari. Luar biasa. Kemarin malam mau coba ngeblog, eh listrik di rumah bermasalah sehingga tidak bisa ngeblog. Pokoknya sih banyak hambatan untuk ngeblog. Ini bukan cari-cari alasan, tetapi alasan sesungguhnya. Apa sih … hi hi hi.

Malam ini nyaris tidak dapat ngeblog lagi karena (lagi-lagi) urusan perkulihanan. Kayaknya semester ini banyak sekali kuliah yang harus saya ajarkan. Nah lho. Ini pusing ngatur waktunya. Ada kemungkinan ada kuliah yang terpaksa tidak saya ajarkan. (Mikir dulu malam ini, yang mana.)

Sementara ini dulu yang mau saya tuliskan. Ada beberapa hal yang sudah ingin saya tuliskan juga tetapi waktunya belum ada. Ugh.


Kode: Menampilkan Basis Bilangan 10, 2, 8, dan 16

Kuliah “Pengantar Teknologi Informasi” hari ini menjelaskan tentang basis bilangan. Manusia terbiasa dengan basis bilangan 10 atau desimal. Sementara itu, komputer bekerja dengan basis bilangan dua atau biner. Untuk memperjelas dan memberikan contoh bilangan yang sama tetapi ditampilkan dalam basis yang berbeda, saya buat skrip (perl) yang sederhana.

Berikut ini adalah skripnya. (Catatan: saya menuliskannya dengan pakem bahasa C.

#! /usr/bin/perl
# a simple counter to show numbers in 
# decimal, binary, octal, and hex
# Budi Rahardjo - br-paume.itb.ac.id - rahard
# 2014
$n=128;
print "decimal - binary - octal - hexadecimal\n";
print "========================================\n";

for ($i=0; $i <= $n ; $i++) {
   $decimal = sprintf("%04d", $i);
   $binary = sprintf("%08b", $i);
   $octal = sprintf("%08o", $i);
   $hex = sprintf("%08x", $i);
   print "$decimal - $binary - $octal - $hex\n";
   sleep 1; # pause for a second to enjoy the output :)
}

Jika dijalankan, potongan hasilnya seperti ini (sesungguhnya dia berjalan sampai mencapai 256):

decimal - binary - octal - hexadecimal
========================================
0000 - 00000000 - 00000000 - 00000000
0001 - 00000001 - 00000001 - 00000001
0002 - 00000010 - 00000002 - 00000002
0003 - 00000011 - 00000003 - 00000003
0004 - 00000100 - 00000004 - 00000004
0005 - 00000101 - 00000005 - 00000005
0006 - 00000110 - 00000006 - 00000006
0007 - 00000111 - 00000007 - 00000007
0008 - 00001000 - 00000010 - 00000008
0009 - 00001001 - 00000011 - 00000009
0010 - 00001010 - 00000012 - 0000000a
0011 - 00001011 - 00000013 - 0000000b
0012 - 00001100 - 00000014 - 0000000c
0013 - 00001101 - 00000015 - 0000000d
0014 - 00001110 - 00000016 - 0000000e
0015 - 00001111 - 00000017 - 0000000f
0016 - 00010000 - 00000020 - 00000010
0017 - 00010001 - 00000021 - 00000011
0018 - 00010010 - 00000022 - 00000012
0019 - 00010011 - 00000023 - 00000013

Saya kemudian dapat menjelaskan kepada mahasiswa contoh-contoh bilangan dalam beberapa basis. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat.


Atensi Kepada Detail (dalam menulis)

Menulis, seperti pekerjaan lainnya, mencerminkan pola kerja kita. Pada tulisan ada komponen isi dan ada komponen tampilan visual. Pasalnya, tulisan itu harus dibaca dengan menggunakan mata. Maka komponen visual itu menjadi penting. (Ada audiobook, tetapi itu menjadi bahasan terpisah.)

Komponen visual ini sering dilupakan oleh banyak orang. Akibatnya, membacanya menjadi melelahkan, membosankan, menyebalkan. Bahkan untuk karya ilmiah, format tulisan menjadi sangat penting. Huruf besar atau kecil, tebal (bold) atau tidak, diletakkan di tengah atau pinggir, dan seterusnya menjadi hal yang sakral.

Saya ambil contoh buruk tulisan mahasiswa untuk lebih jelasnya.

IMG_5131 tugas mhs 1000

Perhatikan komentar-komentar saya di tulisan tersebut. Ada banyak hal detail yang dilupakan oleh penulis pada bagian referensi. Hal-hal semacam ini *SANGAT MENGGANGGU* dalam hal visual dari tulisan. Bahkan untuk hal ini, nilai menjadi buruk. Jika ini sebuah buku thesis atau disertasi, sudah pasti akan ditolak.

Jadi, sekali lagi, perhatikan detail dari tulisan Anda. Ok?


Nilai Kuliah Terpaksa T

Ternyata saya salah informasi mengenai batas waktu pemasukan nilai kuliah. Teryata nilai harus masuk hari ini! Wadoh. Padahal saya memberitahu mahasiswa bahwa batas akhir tugas masuk adalah Jum’at kemarin dan saya membutuhkan waktu dua minggu untuk menilai. Eh, salah dong. Akibatnya mahasiswa menyerahkan tugas hari Jum’at kemarin (selalu di batas akhir – hi hi hi) dan saya tidak punya kesempatan untuk memeriksa. Jadi, hari ini nilai saya masukkan “T” (incomplete). Mohon maaf kepada para mahasiswa.

Ada beberapa mahasiswa yang sudah saya periksa tugasnya. Mereka yang memasukkan tugas jauh sebelum batas akhir sehingga sudah sempat saya periksa. Untuk mahasiswa-mahasiswa ini ada yang sudah mendapat nilai “A” dan ada beberapa yang harus memperbaiki dulu sebelum mendapatkan nilai “A”.

Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan ini.


Kredibilitas Sumber Berita Online

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag B (non-A). Mana yang benar? Yang terakhir? Atau yang mana?

Terlebih lagi sekarang marak bermunculan situs-situs “berita” yang sebetulnya adalah situs yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang bentuknya memang sungguhan main-main (parodi), tetapi tidak sedikit yang sebetulnya palsu dan seolah-olah sungguhan. Yang terakhir ini yang berbahaya karena informasinya dapat menyesatkan. Sayangnya justru sekarang banyak orang yang tidak mau sedikit meluangkan waktu untuk memeriksa kredibilitas sumber informasinya. Entah tidak mau atau mungkin tidak memiliki kemampuan (skill, kesabaran) untuk melakukan itu. Dia tidak sadar bahwa orang dapat menilai kualitasnya berdasarkan sumber informasinya itu. You are what you read. Akan sangat menyedihkan jika semakin banyak orang yang terjerumus kepada kebodohan ini. Saran saya, cobalah luangkan sedikit waktu untuk memeriksa kredibilitas dari sumber informasi yang Anda gunakan.

Semakin banyak masalah dengan sumber berita online, semakin menjadi pembenaran bahwa sumber online memang tidak memiliki kredibilitas untuk digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya Wikipedia bakalan tetap sulit untuk diperkenankan sebagai sumber referensi karya ilmiah. Wah. Padahal isinya sangat membantu bagi mahasiswa yang mencari sumber rujukan. Mosok kita masih dibatasi denganĀ  penggunaan jurunal dan buku konvensional sebagai rujukan?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.113 pengikut lainnya.