Menertawakan Sains

SSaya suka komedi. Banyak hal yang dapat dipelajari dari komedi. Saya belajar bahasa Inggris melalui komedi. Demikian pula, ada banyak cerita sejarah yang saya pelajari dari komedi juga. Sains? Matematika? Rekayasa? Semua ini dengan lawakan? Wah ini baru menarik.

Pagi hari di awal tahun 2017 ini saya membuka internet. Serius. Sehabis Subuh, sebelum matahari terbit saya membuka internet. Entah kenapa, terbuka YouTube. Yang terpampang di layar saya ada berbagai pelawak, mulai dari Johnny Carson, Jonathan Winters, dan kemudian Robin Williams. Eh, ternyata salah satunya menunjuk ke video ini.

Nampaknya ini adalah sebuah acara wawancara tentang Matematika dengan pelawak Steve Martin. Entah kenapa, Steve mengajak pelawak Robin Williams ke atas panggung. Mungkin dia tahu bahwa Robin Williams lebih tahu tentang sains (Matematika dan Fisika) lebih dari dia. Maka terjadilah berbagai adegan lucu di video itu. (Videonya dipotong menjadi beberapa video, masing-masing 10 menitan.) Gak bisa berhenti nonton video ini. Aje gile busyet dah.

Saya baru tahu bahwa Robin Williams itu ternyata cerdas banget! Dia banyak membaca dan mengerti banyak hal. Silahkan lihat videonya. Ada banyak lawakan yang terkait dengan matematika (dan fisika). Serius! Edan pisan!

Lawakan jenis ini – yang membutuhkan pendengar untuk mikir – merupakan jenis yang saya sukai. Ah, ternyata bisa juga menggabungkan lawakan dengan sains. Ini merupakan dorongan positif buat saya agar terus dapat menjelaskan konsep yang susah dengan lawakan.

Belajar ah … (dan banyak membaca tentunya).

Shalat Jum’at Yang Kurang Khusyu

Kayaknya shalat Jum’at saya tadi kurang khusyu. hi hi hi. Masalahnya ada dua kejadian yang terlihat oleh saya. Ceritanya begini. Di masjid kami ini sering ada anak-anak yang ikutan Jum’atan (dan kemudian biasanya minta tanda tangan ke khatib). [Saya juga masa kecil pernah ngalami hal yang sama. hi hi hi.] Nah, tadi ada kejadian ini.

Kejadian yang pertama. Dua shaf di depan saya ada tiga anak kecil yang mungkin masih SD. (Di depan saya shafnya kosong.) Yang di tengah berbicara dengan teman di sebelah kirinya ketika khatib sedang khutbah. Ngobrol. Temannya yang sebelah kanan akhirnya menegur; “sssttt maneh teh ulah ngobrol. batal siah!”  (Sunda: sssttt kamu jangan ngobrol. batal!)  Yang ditegur tidak terima. “Maneh oge batal! Ngomong!“. (Kamu juga batal karena ngomong”. “Maneh nu batal“. “Maneh” … saling tunjuk. Sampai akhirnya yang sebelah kiri juga nimbrung “sssttt”. he he he. Lucu aja. Jadi teringat kasus yang ada saat ini. Saling menyalahkan. ha ha ha. Seperti kanak-kanak saja. hi hi hi.

Kejadian kedua. Entah kenapa, kotak sumbangan (kencleng) datang dari sebelah kanan saya dan melewati baris shaf di depan saya. Padahal di situ ada anak kecil juga. Ketika saya mengisi kencleng, dia melirik terus karena kencleng akan saya teruskan ke sebelah kiri saya. Di tangannya saya lihat dia pegang uang. Eh. Maka kencleng saya teruskan ke dia (kanan depan) bukan ke kiri dulu. Maka dia memasukkan uangnya dengan susah payah. Rp. 5000,-. Ah, mungkin itu uang jajannya. Bagus juga anak ini. Tanpa dinyana, anak di depannya juga mau ngisi kencleng itu. Terlihat oleh saya, lembaran Rp. 50 ribu! Whoa. Malu saya. Ini anak kecil dengan entengnya memasukkan uang Rp 50 ribu. Sementara kita-kita ini memasukkan Rp. 2000,- saja terasa berat. Plak! Tamparan keras.

Jum’atan menjadi kurang khusyu karena saya mendapat dua pelajaran dari anak-anak ini. (Berusaha keras untuk mendengarkan isi khutbah; tentang pentingnya silaturahim.) Semoga Allah masih menerima shalat Jum’at saya ini. Amiiin.

Soto Jakarta

Sebuah percakapan di restoran kemarin siang

Saya: mbak pesan Soto Jakarta
Pramusaji: ??? nggak ada, pak
Saya: habis?
Pramusaji: kita gak jual Soto Jakarta
Saya: lah. biasanya kan ada
Pramusaji: [bingung … tak lama kemudian, ting … nemu]
Pramusaji: Soto Betawi, maksudnya pak?
Saya: iya. itu … Betawi, Jakarta, sama saja kan? Satu ya.
Pramusaji ngeloyor. Dalam hatinya dia mungkin berkata, bapak satu ini perlu ditampol juga dengan nampan ini.

[Ini cerita fiktif saja, tapi nyaris terjadi. Serius lho. Saya pikir namanya Soto Jakarta.]

Stand-up Comedy

Malam ini saya akan memulai eksperimen baru, yaitu mencoba melakukan lawakan. Menjadi stand-up comedian. hi hi hi. Ini bukan bohongan. Ini sungguhan lho.

Jadi ceritanya malam ini akan ada acara MBA CCE Night. Biasanya saya ikut mengisi dalam bentuk main band, tetapi malam ini kami tidak main (karena satu dan lain hal). Saya tetap berkomitmen untuk ikut berpartisipasi. Daripada main gitaran sendiri, saya pikir ini adalah momen yang tepat untuk mencoba menjadi stand-up comedian.

Bagi saya, stand-up comedy bukan hal yang baru. Saya sudah menyukainya sejak saya di Kanada tahun 1987-an. Bahkan, salah satu hero saya adalah David Letterman, seorang pembawa acara talk show yang sangat lucu. Gurunya dia, Johnny Carson, juga lucu. Ada banyak komedian yang saya ikuti. Beneran. Saya banyak belajar teknik presentasi dari para komedian ini. Jadi stand-up comedy sudah melekat hampir 30 tahunan. Sedemikian lama ya?

Pagi ini saya masih memikirkan apa yang akan saya ceritakan. hi hi hi.

vi-stand-up-comedy

Semuanya perlu direcanakan. Tidak ngasal dan tiba-tiba saja.

Salah satu kesulitan menulis lawakan adalah cerita yang ditulis sangat terkait dengan kultur. Jadi kalau kita mencoba melawak dengan kultur lain, akan sulit sekali. Saya sendiri terbiasa dengan bodoran Sunda dan Amerika. Ini kombinasi yang agak aneh. he he he. Jadi ini merupakan usaha yang luar biasa susah bagi saya. Tantangan tidak untuk dihindari.

Bring it on …

See you tonight.

Kok Dosen Tahu?

Kadang ada mahasiswa yang mau menipu (ngibulin) dosen dengan tugas-tugasnya. (Hal yang serupa dengan siswa dan guru.) Tentu saja modus seperti ini seringkali ketahuan. Sang mahasiswa bertanya-tanya, kok dosennya tahu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya tampilkan foto (yang lucu) ini.

anak nyalahin dog

Dialog yang terjadi mungkin seperti ini.

Orang tua: Hadoh biyuuung. Siapa yang corat-coret?
Anak: Emm … bukan aku. Dia (sambil nunjuk doggy)
Doggy sambil mendhelik: (aje gile busyet, teganya mas bro)

Tentu saja bagi orang tua akan gampang mengetahui kejadiannya. Sementara bagi sang anak, heran banget. Bagaimana orang tua saya kok tahu? Kira-kira hal yang mirip seperti ini terjadi antara mahasiswa dengan dosen.

Nah. Lain kali jangan coba-coba nipu dosen atau guru ya.