Kasihan

Berantem di dunia maya bukan hal yang baru. Flame war sudah ada dari … hmm, entah kapan ya. Tahun 80-an pun saya sudah merasakan debat kusir di dunia internet. Ada banyak teori mengapa perdebatan di dunia maya lebih mudah terjadi. Salah satunya adalah karena kita tidak dapat melihat bahas tubuh dari lawan bicara. Tentu ada alasan-alasan lain.

Maju ke sekarang. Fast forward. Media sosial menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Sayangnya, cara berkomunikasi di media sosial tidak pernah diajarkan. Akibatnya banyak terjadi perdebatan yang tak berujung. Bagaimana menangani hal ini?

Salah satu cara yang saya ambil adalah menggunakan metodologi yang saya sebut “kasihan”. Iya, maksudnya kasihan kepada lawan diskusi.

Begini. Sangat mudah bagi kita untuk mencari kesalahan lawan bicara. Kita bisa mencari kesalahan dari argumentasinya, sampai kepada kesalahan pribadinya. Sangat mudah sekali. Yang susah adalah menahan diri untuk tidak menghina lawan bicara atu memicu kemarahan. Sangat mudah mengatakan “dasar goblok”. Dijamin langsung ribut. ha ha ha. Nah, bagaimana menahan diri itu? Ya kasihan.

Sering saya melihat betapa “lucunya” opini atau cara berpikir seseorang. Maka saya katakan dalam hati, “kasihan kalau saya kritik”. (Kasihan kalau disepet.) Ya sudahlah. Maka tidak terjadilah flame war.

Tidak mudah melakukan hal ini karena pada prinsipnya ini menekan ego kita, yang selalu ingin terlihat benar/hebat. Tidak mudah.

Silahkan dicoba. Membutuhkan latihan untuk mengasihani.

Meningkatkan Kreativitas dan Produktivitas

Ini bukan tulisan tentang pabrik, karena di pabrik biasanya produktivitas lebih utama dibandingkan kreativitas. hi hi hi. Ini bukan juta cerita tentang paradoks, tetapi tentang peningkatan keduanya pada saat yang bersamaan. Yang saya maksud adalah membuat tulisan.

Membuat tulisan yang banyak itu tidak mudah. Silahkan dicoba. Silahkan coba ngeblog setiap hari. Dilarang copy-and-paste tentunya. Ini baru soal kuantitas. Kita belum bicara soal kualitas. Itu lebih susah lagi. Lihat saja kualitas cerita sinetron kita. ha ha ha. Maaappp …

Bagaimana meningkatkan kreativitas (dan produktivitas) dalam membuat tulisan? Kalau ini bisa saya jawab dengan tuntas, bisa kaya raya saya. Ini adalah 1-million-dollar-question. Saya tidak bisa menjawab dengan seratus persen, tetapi saya juga tidak mau melarikan diri dari pertanyaan ini.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan menggunakan musik. Musik membuat saya lebih mudah menulis. Tetapi ada sampingannya juga. Topik dari tulisan jadi terpengaruh dari musik yang sedang didengarkan. Contoh tadi pagi. Saya harus menulis sebuah artikel dalam 1 jam. Musik yang saya pasang adalah jenis musik dari tahun 70an – yang banyak berjenis pop, balada, folk, nelangsa (mellow). Ternyata produktif juga. Artikel selesai dalam 1 jam. Efek sampingannya adalah mood saya jadi mellow. Akhirnya ngeblog juga tebawa mellow.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah gunakan apa saja yang cocok dengan Anda karena sifat kita berbeda-beda. Whatever works. Kebetulan, salah satu metoda yang cocok bagi saya adalah dengan musik. (Tulisan ini juga dibuat sambil mendengarkan musik tahun 70an juga.)

Selamat mencoba. Semoga kreativitas dan produktivas Anda mencuat.

your name

SeBaru beres nonton film “your name”. Bagus atau tidak? Lumayanlah menurut saya. Tapi, tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat resensi film itu. Film ini mengingatkan saya akan beberapa hal.

Hal yang pertama – kok seperti tulisan formal? hi hi hi – adalah film ini mengingatkan saya akan cerita pendek yang bersambung karangan saya yang merupakan awal-awal dari ngeblog ini; “Aku Tak Tahu Namamu“. Whoa, baru sadar bahwa cerita itu saya buat tahun 2007. Sembilan tahun yang lalu. (Waktunya melanjutkan? Hadoh.)

Hal yang kedua, film ini mengingatkan saya akan inti dari lagu Johnny Hates Jazz – Magentized. Lihat YouTube-nya di bawah ini. Kebetulan ini adalah salah satu lagu come back dari JHJ setelah sekian tahun menghilang. (Ada versi parodi anak-anak juga.)

Hal yang ketiga. Eh, tidak ada yang ketiga. Kembali ke filmnya. Seperti halnya film Jepang yang saya tonton, biasanya romatik. hi hi hi. Selamat menonton film “your name”. Ceritakan pengalaman Anda.

Budaya Produktif

Mengapa saya ngeblog? Ada banyak alasan. Salah satunya adalah agar saya bisa produktif. Selalu menghasilkan karya. Mungkin kualitas tulisan saya ini tidak hebat-hebat amat, tetapi yang penting adalah produktif.

Saat ini kita punya masalah dengan media sosial. Di sana, kebanyak orang hanya “berbagi” (share) tulisan orang lain. Atau kalau tidak tulisan ya foto, video, dan berita-berita dari tempat lain (yang seringkali palsu dan gak mutu) yang ditampilkan. Kebiasaan untuk membuat tulisan (content) sendiri nampaknya malah makin dijauhkan dengan keberadaan media sosial tersebut.

Memang lebih mudah menekan tombol “share” daripada mengarang sendiri. Mengarang itu harus pakai mikir. hi hi hi. Sementara menekan tombol share, tidak. ha ha ha. Ini tidak fair juga sih. Menekan tombol share itu masih harus mikir. Tapi mestinya sel otak yang dipakai untuk itu jauh lebih kecil daripada kalau kita menulis sendiri. Eh, siapa tahu tidak juga. Siapa tahu kalau menekan tombol share sambil marah-marah malah sel-sel otak semua membara. ha ha ha.

15369063_10154092908046526_7944125947555663912_o
selfie sesudah ngeblog

Anyway … tulisan ngasal pagi ini. Tapi ini asli karangan sendiri lho. Makanya ngasal.

Nge-vlog gak ya?

Belakangan ini memang sedang marak orang-orang membuat video blog (vlog). Nah, dua hari yang lalu saya diwawancara oleh harian Pikiran Rakyat tentang topik vlog ini. Hari ini, Minggu 23 Oktober 206, muncul tulisannya. hi hi hi.

p_20161023_111929-vlog-0001

Saya sendiri belum mempertimbangkan untuk membuat vlog. Sekarang saja dengan blog ini (dan yang baru saya mulai di medium) sudah riweuh. Kurang terurus. Apa lagi nanti kalau nambah dengan nge-vlog. Bisa-bisa terbengkalai semua. Ada sih beberapa video YouTube saya, tetapi isinya lebih ke arah tutorial-tutorial. Nanti kalau sudah ada mood mungkin juga buat vlog. Sekarang belum dulu.

Sementara ini, silahkan tonton bodoran saya waktu di Australia kemarin dulu ya. hi hi hi.

Atau kalau mau bodoran dalam bahasa Indonesia, yang ini? (Sudah lama sih.)

Lagian, bagusnya orang lain yang buat vlog supaya tidak kita-kita lagi. Loe lagi, loe lagi. hi hi hi. Mari kita perbesar jumlah orang kreatif. Mari menulis. Eh, membuat video?

(belajar) Santun

Budaya sebuah bangsa itu berbeda. Ada kaum yang kalau bicara agak teriak-teriak, bahkan tangannya juga main ke depan muka kita. Ada yang kalau bicara langsung to-the-point. Ada yang harus membutuhkan “intro” yang panjang untuk menyampaikan maksudnya. Ada yang tidak boleh langsung. Harus muter-muter dulu. Cara menyampaikan yang salah, bisa ribut. ha ha ha. (Bayangkan itu yang biasa teriak-teriak diajak diskusi dengan orang yang biasa lemah lembut. Langsung dikira marah-marah. hi hi hi.)

Perlu diingatkan bahwa ketika kita ingin menyampaikan pesan, maka kita perlu melihat budaya penerima pesan tersebut. Salah cara menyampaikannya, maka pesanpun tidak sampai.

Budaya Indonesia itu penuh dengan kesantunan, berbeda dengan budaya “Barat” yang sering langsung kepada intinya. Sebagai contoh, ketika kita menawakan makan/minum kepada orang Indonesia biasanya tidak dijawab langsung dengan “ya”. Biasanya jawabannya adalah “tidak” dulu, meskipun yang bersangkutan lapar atau haus. Setelah beberapa kali ditanya, barulah dijawab “ya”. Sementara itu dalam budaya Barat, begitu sekali dijawab tidak, ya sudah. Tidak ditawari lagi.

Saya termasuk yang “tercemar” oleh budaya Barat. Ketika kembali ke Indonesia, saya membawa budaya Barat ini dalam berkomunikasi. Sebagai contoh, kalau ada seseorang (atasan, pejabat) yang salah, saya akan katakan terus terang “bapak salah!”. Hasilnya, banyak orang yang “terluka”. Padahal maksud saya baik, tetapi akibatnya malah jadi negatif. Sudah pesan tidak sampai, malah suasana tidak nyaman dan hubungan jadi retak. Untuk kasus yang saya jadikan contoh tadi, kalau di Indonesia, yang lebih tepat adalah “bapak kurang tepat” (bukan salah, ha ha ha). Atau, “bapak kurang optimal”. Halah.

Di sebagian komunitas, berbahasa kasar juga wajar. Misal di beberapa daerah dan komunitas tertentu di Amerika, penggunaan kata “f***” (the word) dalam berbicara mungkin dianggap biasa. Tapi coba pakai kata ini di lingkungan lain. Orang-orang bakalan melotot dan menganggap kita tidak sopan. Bukan orang sekolahan.

Di kalangan anak muda di Indonesia juga ada yang terbiasa menggunakan kata “anjing” (dan variasinya seperti “anjrit”, “anjis”, dan seterusnya) dalam berkomunikasi. Bagi mereka ini adalah hal yang lumrah. Coba kalau mereka jadi ketua RT dan memberi sambutan dengan kata-kata ini. Ha ha ha. Bakalan dilempari oleh warga. Lagi-lagi perlu diperhatikan budaya setempat.

Belajar untuk lebih santun merupakan salah satu alasan saya membuat blog ini. Saya harus bisa lebih santun dalam menyampaikan pesan. Begitu.

Sisi Positif Berita Positif (dahulu: sisi negatif berita negatif)

Kebanyakan orang – entah sengaja atau tidak sengaja – senang mengumbar berita negatif. Begitu ada berita negatif, langsung dibagi (share) di media sosialnya. Akibatnya, isi dunia media sosial adalah berita-berita negatif yang kemudian mengundang debat dan marah-marah. Negatif juga hasilnya.

Pertanyaan saya adalah “apa manfaatnya mengumbar berita negatif tersebut”?

Apakah dengan mengumbar berita negatif tersebut kemudian mengubah keadaan menjadi lebih baik (positif)? Apakah kemudian orang-orang menjadi lebih baik? Apakah kemudian orang menjadi lebih bahagia? Bukankah orang kemudian menjadi ikut kesal, naik pitam, tekanan darah naik? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Sudahi berbagi berita negatif. Lebih baik berbagi berita positif saja. Oleh sebab itu, misi dari tulisan-tulisan di blog ini adalah menyebar berita positif. + + + Mari kita buat dan sebar tulisan yang membuat orang-orang tersenyum, tertawa, dan bahagia.

Eh, tapi tulisan ini termasuk yang positif atau negatif ya? hi hi hi. Positif lah. Maunya sih begitu. Habis nulis ini saya jadi semangat untuk makan dan buat kopi. ha ha ha. (Harus ya ada kata-kata “kopi” nya. wk wk wk.)