Melupakan Cita-Cita?

Masih ingatkah cita-cita kita ketika kita masih kecil dahulu? Banyak yang cita-citanya sederhana (misal menjadi tukang lotek) atau kompleks (mendaki gunung Himalaya). Namun sayangnya, sesuai dengan bertambahnya usia, kita mulai melupakan cita-cita kita itu. Kenyataan hidup membunuh cita-cita.

Apa cita-cita Anda ketika umur Anda masih belasan tahun? 20-tahunan? 30-tahunan? 40-tahunan? 50-tahunan? 60-tahunan? (Lihat video ini. Cerita perjalanan hidupmu?)

Ayo nyalakan kembali cita-cita kita itu!

Festival Band Alumni ITB 2017

Setelah 3,5 tahun berlalu, festival band alumni ITB ada lagi. Pada fesband yang lalu saya tidak ikutan. Lupa kenapa. Kali ini saya ikutan. Bahkan, saya ikutan di 3 band (dalam dua hari). Sebetulnya saya bisa ikutan di satu kategori lagi, sehingga 4 band dalm 3 hari. Mungkin itu rekor di antara peserta. ha ha ha.

Jum’at malam (3 Feb 2017). Band yang pertama manggung – membuka acara – adalah Band Alumni Elektro ITB. Lagu yang dibawakan adalah (1) Kansas – Carry on Wayward Son dan (2) Cokelat – Bendera. Yang dicari memang lagu yang bernuansa rock! Di festband kali ini memang hanya diberikan kesempatan untuk membawakan dua lagu dengan catatan harus ada minimal satu lagu berbahasa Indonesia atau buatan sendiri.

band-el-fesband-2017-0001
Band Alumni Elektro ITB

16463646_10154979500928749_717606295467438938_o
Waktu check sound. [Sumber Foto: Uut]
Hari Sabtu saya ikutan dua band; Band Dosen ITB (BANDOS) dan Father and Son (berdua dengan anak saya). Bersama BANDOS, kami membawakan lagu (1) Moody’s Mood (versi Brian McKnight) dan (2) Panah Asmara (versi Afgan, bukan Chrisye). Untuk band ini saya hanya bermain gitar dan keyboard, plus  vokal latar saja.

16487800_10208642935735674_8485832120577806802_o-br-keyboard

Di Father and Son, kami membawakan (1) Extreme – More than Words dan (2) Ungu – Tercipta Untukmu. Kami masuk ke kategori IDOL. Memang agak membingungkan karena kami tidak berniat untuk masuk kategori ini. Habis gak ada lagi kategorinya. hi hi hi. Kami membuka sesi IDOL.

16427218_10154224007325778_8744350497478206683_n
Father and Son. Luqman (kiri), saya (kanan). (Sumber Foto: Kadri)

Agak susah juga membuka sesi ini karena konfigurasi sound belum pas. Monitor suara gak bunyi sehingga saya tidak dapat mendengarkan suara saya sendiri. Pas checksound malah lebih asyik.

16473048_10154988901152486_4375659508002605105_n
Checksound – menyanyikan Creed – One Last Breath. (Sumber Foto: Yayo)

Hari Minggu (5 Feb 2017) saya kembali ke Bandung. Phew … Istirahat dulu. Sampai berjumpa di acara musik berikutnya.

Nonton Konser Badai Pasti Berlalu – Jogja

Ini untuk ketiga kalinya saya nonton konser Badai Pasti Berlalu (Plus). Yang pertama, yang di Jakarta. Kemudian dilanjutkan yang di Bandung. Nah, yang di Jogja ini yang ketiga. Di antaranya ada yang di Surabaya dan Malang yang tidak sempat saya tonton. Sebelum yang di Jakarta itu juga sudah ada lagi katanya.

Nonton kali ini saya niatkan lebih banyak untuk potret memotret. Saya minta ijin ke mbak Tiwie agar diperbolehkan memotret. Saya dikasih ID supaya bisa blusukan. Yayyy.

Ke Jogja memang saya niatkan spesifik untuk nonton konser yang dilakukan tanggal 6 Desember November 2016. Itu hari Minggu malam. Wah. Karena saya berangkat dari Bandung dan pesawat dari Bandung adanya sore hari, maka saya berangkat sehari sebelumnya. Daripada nanti pesawat telat dan tidak bisa nonton. Lagian, saya mau lihat juga pas mereka checksound. Maka berangkatlah saya ke Jogja hari Sabtu. (Minggu pagi ada kesempatan jalan-jalan ke Prambanan dulu. hi hi hi.)

dsc_8612-yockie-epic-0001

Hari Minggu siang, saya mampir dulu ke Grand Pacific tempat acara akan dilangsungkan. Di sana sudah ada mas Yockie Suryo Prayogo dan band yang sedang checksound. Mulailah saya mencoba motret sana sini dengan kamera yang saya miliki (hanya Nikon D3100 saja). Saya sendiri tidak berani mengganggu keseriusan mereka. Jadi untuk menegursapa mas Yockie-pun tidak saya lakukan. Saya hanya sampai jam 3-an kalau tidak salah, karena saya mau pulang istirahat dulu bentar (karena tadi ke Prambanan).

Malam sebelum jam 7, saya sudah jalan dari hotel ke Grand Pacific. Hotel yang saya pilihpun yang dekat dengan venue supaya bisa jalan kaki. Sesampainya di sana penonton sudah mulai berdatangan, tetapi artis-artisnya belum ada. Ternyata hanya mas Kadri saja yang sudah ada di tempat. Saya beli kaos plus CD mas Kadri saja.

Nunggu-nggung, akhirnya juga datang para pemain dengan menggunakan bis. Lantas mereka berkumpul di ruang tunggu. (Potret-potret lagi.) Setelah siap, maka dilanjutkan dengan berdoa yang dipimpin oleh Keenan Nasution. Setelah itu jreng!

Maka sibuklah saya memotret sana sini sambil menikmati konsernya. (Jadi pengen beli kamera dan lensa yang lebih bagus lagi euy.)

Dari segi konser, kalau saya urutkan maka yang saya sukai secara musik adalah (1) yang di Jakarta, (2) di Bandung [karena saya jauh dari panggung], (3) yang di Jogja. Tapi kalau acara konsernya yang di Jogja yang lebih berkesan karena saya bisa kluyuran potret memotret. Ini baru pertama kalinya saya diberikan ijin motret konser. hi hi hi.

Oh ya, foto-foto konser ini ada di halaman Facebook saya. [nanti link menyusul]

Ada Band

Entah kenapa sore ini saya tiba-tiba teringat Ada Band. Tadinya nyalain keyboard, entah kenapa main chord2nya lagu “Manusia Bodoh”. Langsung saja saya mendengarkan koleksi lagu-lagu Ada Band. Nyalakan komputer dan search YouTube.

Eh, nemun Rhoma Irama membawakan lagu “Manusia Bodoh”-nya Ada Band. Hadoh! Ha ha ha. Ini dia.

Kalau dilihat di video itu maka banyak pendengar yang bingung. Saya juga. Ha ha ha. Pasalhnya begini. Sebagian besar fans Ada Band adalah anak-anak muda yang mungkin belum pernah tahu siapa itu bang Rhoma Irama. Jarang yang tahu bahwa bang Haji ini adalah the king of Dangdut. Dia adalah profesornya. (Sayang bang Haji lari ke dunia politik. Padahal sudah bagus-bagus di dunia musik itu saja. Sayang juga musik Dangdut tidak berkembang semenjak bang Rhoma Irama tidak terlalu aktif.)  Di video dapat dilihat bahwa anak-anak muda pada bingung. Ha ha ha.

Saya penggemar Ada Band dan termasuk yang bingung. Ha ha ha. Tapi akhirnya saya harus acungi jempol untuk bang Rhoma karena menurut saya berhasil membawakan lagu klasik Ada Band dengan baik.

Kembali ke Ada Band. Saya termasuk penggemar berat mereka, terutama jaman masih ada Krishna Balagita. Bahkan dulu di web site saya ada halaman khusus untuk Ada Band. (Serius!) Saking seriusnya, saya bahkan sempat ketemuan dan makan siang bersama mas Krishna. (Entah dia masih ingat atau nggak. hi hi hi. Sayangnya jaman dahulu belum model selfie.) Link di blog ini pun masih menyisakan tautan ke blog mas Krishna.

Apa kabar Ada Band? Apa kabar Krishna Balagita?

(Beres) Manggung

Seharusnya tulisan ini saya tampilkan segera setelah manggung minggu lalu, tetapi karena belum sempat ya terpaksa baru tampil sekarang.

Ada keponakan menikah. Kesempatan digunakan untuk manggung. Kami buat band keluarga. hi hi hi. Awalnya sih mau manggung dengan anak saya saja, tetapi keluarga mau ikutan juga. Jadinya manggung dengan keluarga setelah berdua dengan anak manggung dulu.

img-20161015-wa0017-band

img-20161015-wa0020-band

Setelah selesai manggung, beres-beres alat-alat. Setelah acara semua selesai kami kembali ke hotel. Eh, gitaran dilanjutkan di hotel. Dasar. ha ha ha. Sambil main-main begitu, eh senar gitar putus. Untungnya bukan tadi pas lagi manggung. Begitulah.

dsc_7820-guitar-minus-1string-0001

Waktunya pasang senar baru.

p_20161021_081501-strings-0001

Konser Badai Pasti Berlalu (Plus)

Yeah, yeah, yeah.

Saya sudah dua kali nonton konser ini – Jakarta & Bandung – dan dua-duanya mantap. Berbeda. Tidak sama. Seru. Sayangnya saya tidak sempat nonton yang Surabaya dan Malang.

Lihat ini contoh video (Jurang Pemisah) yang saya ambil ketika konser di Jakarta.

14542315_10209951744086136_8011555052935738874_o

Sebenarnya ini bukan hanya sekedar tontonan, tetapi sebuah upaya pendidikan kepada masyarakat Indonesia tentang (sejarah) perjalanan musik pop Indonesia. Kita bisa banyak belajar dari para musisi ini. Sejarah itu untuk dipelajari dan tidak dilupakan. Tidak juga untuk bejalan di tempat.  Untuk bisa maju ke depan dengan lebih baik. Tahun depan ada yang baru-baru. Ayo nonton!

Informasi tiket ada di: www.mahanalive.com.

Mari kita dukung musik Indonesia. Mosok kalau ada band / artis asing biar harganya mahal  ditonton, sementara yang Indonesia tidak dihargai. Yang Indonesia didukung juga dong. Mari …

Checksound

Hari Senin kemarin, kami (BandIT) manggung lagi. Main band, maksudnya. Manggung di acara tertutup, closed group di Foodism (Jakarta).

Salah satu kegiatan yang penting sebelum manggung adalah checksound. Pada intinya, checksound adalah melakukan setup perangkat (gitar, bass, keyboards, drums, dll.) dengan sound system (amplifier) yang akan digunakan. Selain itu juga checksound digunakan untuk mengetahui setup mikropon (microphone).

Checksound merupakan salah satu aktivitas yang sangat penting. Pasalnya, setiap panggung memiliki konfigurasi yang berbeda. Luas panggung, ruangan (indoor atau outdoor), amplifier yang digunakan, letak speakers dan monitor, dan seterusnya. Perbedaan ini membuat setingan tidak sama. Suara gitar bisa terdengar kurang keras atau terlalu keras. Dari sisi penyanyi juga salah satu yang sangat penting adalah dapat mendengar suaranya sendiri via speaker monitor. Seringkali suara sendiri tidak terdengar sehingga kita tidak dapat mengontrol suara kita. Fals hasilnya.

Beberapa kali saya pernah manggung tanpa checksound. Hasilnya kacau. Oleh karena itu sekarang saya selalu memaksa melakukan checksound sebelum manggung.