Saya dan Rush

Ceritanya setelah lulus dari ITB, saya gamang tentang apa yang mau saya lakukan. Saya ingin sekolah di luar negeri. Tiba-tiba ada tawaran sekolah S2 di Kanada. Tentu saja saya tertarik. Saya tanya, apa syaratnya? Tinggal tanda tangan saja. Ah, lebih menarik lagi. Ha ha ha.

Sebelum penentuan, saya diwawancara dahulu. Salah satu pertanyaannya adalah, “apa yang Anda ketahui tentang Kanada”? Nah … Hayo. Kalau Anda ditanya dengan pertanyaan tersebut, jawabannya apa?

Saya tidak tahu banyak soal Kanada. Setelah berpikir sejenak, saya jawab “RUSH”. Ha ha ha. Bagi yang belum tahu, Rush adalah group band musik (keras) dari Kanada. Ini adalah salah satu supergroup. Ketika masih SMA, ini adalah salah satu grup favorit saya.

Yang mewawancara mesem dan tertawa. You’re accepted katanya. Ha ha ha. Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain dan mestinya jawaban saya oke juga sehingga saya diterima, tetapi dalam benak saya ini adalah jawaban yang membuat saya diterima di Kanada. Rush got me into Canada.

Akhirnya saya tinggal di Kanada; sekolah dan bekerja. Yang tadinya berencana tinggal hanya 2 tahun akhirnya menjadi 10 tahun lebih (mendekati 11 tahun). Alhamdulillah.

Terima kasih Rush.

Tulisan ini saya buat dalam rangka untuk mengenang Neil Peart, drummer Rush yang baru meninggal kemarin. May you rest in peace, professor. Neil Peart adalah dummer pilihan drummers. Demikian hebatnya dia. Itulah sebabnya dia mendapat julukan the Professor.

Perjalanan Sejarah Musik Saya

Sebagai kelanjutan dari video sebelumnya – “Siapa Pahlawan Musik Indonesia Pilihanmu” – kali ini kami membuat video tentang perkenalan kami dengan musik. Kami di sini maksudnya adalah personil dari Insan Music Project Band.

Video kali ini adalah tentang latar belakang musik saya. Kapan saya mengenal musik pertama kali? Seingat saya adalah sejak kecil (SD). Pada waktu itu ada banyak saudara yang tinggal di rumah kami. Seperti keluarga-keluarga Indonesia lainnya, orang tua saya menerima keponakan dan saudara-saudara yang ingin sekolah di Bandung. Sejak kecil ada sepupu, om, dan saudara lainnya yang tinggal. Salah satunya sekolah di Seni Rupa ITB. Pada masa itu, mahasiswa menggemari musik yang aneh-aneh. Dalam hal iniĀ  musik Progressive Rock sering diputar. Jadi sejak kecil saya sudah sering mendengar musik dari group Yes, Genesis, Gong, Pink Floyd, dan seterusnya.

Eh, kok malah bercerita di sini. Silahkan simak videonya saja ya. Ini sejarah perjalanan musik saya, yang panjangnya mungkin sama dengan sejarah perjuangan Indonesia sejak jaman Majapahit. ha ha ha.

Dan tentu saja, sebagaimana YouTuber lainnya, kalau suka mohon ikutan berlangganan (subscribe). Ha ha ha. Saya sedang mencoba menguji teori saya, tentang akuisisi pelanggan yang mana saya menargetkan untuk mendapatkan 1000 pelanggan (subscribers) di YouTube. Nampaknya ini akan menjadi cerita tersendiri.

Pahlawan Musik Indonesia

Hari Pahlawan baru saja lewat beberapa hari yang lalu. Pahlawan tidak harus selalu identik dengan senjata dan perang fisik, tetapi dapat juga melakukan “pertempuran” di dunia yang berbeda. Di dunia musikpun ada pahlawan-pahlawannya.

Sehabis latihan band, kami (Insan Music Band) ngobrol-ngobrol. Topik yang kami angkat kali ini adalah tentang “Siapa Pahlawan Musik Indonesia” menurut pendapat masing-masing. Latar belakang yang berbeda – usia, pendidikan, kawan main, tempat tinggal – akan mengusung nama-nama yang berbeda pula. Karena namanya juga ngobrol-ngobrol santai, mohon dimaafkan guyonan kami (disambi makan dan ngopi pula). hi hi hi. Silahkan simak videonya.

Begitulah pahlawan musik Indonesia menurut kami. Kalau saya, sebetulnya ada banyak, tetapi yang melekat di kepala saya adalah Koes Plus. Maklum, saya besar dengan mendengarkan musik Koes Plus (dan progressive rock – ha ha ha).

Jadi, siapa pahlawan musik Indonesia menurut Anda?

Manggung Lagi

Hari Sabtu kemarin (13 Oktober 2018), kami – Insan Music – manggung lagi. Kali ini kami ikut meramaikan acara ITB Ultra Run 170k, yaitu acara lari dari Jakarta ke Bandung (170 Km). Betulan ini lari dari Jakarta ke Bandung. Hanya saja memang ada yang dibagi menjadi beberapa orang, 16 orang dalam satu tim.

Acara musiknya sendiri diadakan di Lapangan Basket kampus Ganesha. Kami kebagian main Sabtu sore pukul 17-an.

DSC_3723 insan music project_0001
Insan Music Project (kiri ke kanan: bass, drums, vokal, vokal+gitar, lead gitar, synthesizer)

Personel kami kali ini adalah Aiep (bass), Reza (drums), Dita (vokal), saya (vokal + gitar), Luqman (lead gitar), dan Fae (synthesizers). Kami membawakan musik genre alternative rock. Lagu pembuka kami adalah “Higher” dari band Creed. Setelah itu dilanjutkan dengan lagu-lagu lain dengan total lima lagu.

DSC_3539 insan music project_0001

Manggung kali ini cukup sukses dan menyenangkan. Sound systemnya juga bagus sehingga mainnya enak. Semoga kami bisa manggung lagi dengan sound system yang bagus lagi. Jreng!

update: ini video teaser habis latihan untuk acara ini.

a day in the life …

Ini bukan tentang lagunya the Beatles, meskipun judulnya sama. Ini adalah tentang keseharian saya. Untuk apa diceritakan ya? Kepo? Ha ha ha. Namanya juga “blog”. Jadi sekali-sekali mencatatan (log) kegiatan sehari-hari. Seperti kegiatan sehari-harinya di pesawat ruang angkasa. Ciyeh.

Okay. Kemarin saya melakukan banyak hal. Catat dulu.

  1. Mewawancarai calon mahasiswa untuk CCE MBA SBM ITB. (Iya, singkatan semua.)
  2. Memberi mentoring entrepreneurship (selama 1 jam saja)
  3. Futsal (1 jam saja juga)
  4. Latihan band bersama BANDOS (Band Dosen ITB)

Itu garis besarnya. Tentu saja ada hal-hal lain. Ternyata sibuk juga saya untuk hari yang tidak saya ramalkan sebagai sibuk. Hmm…

interview CCE MBA SBM ITB

28619378_10155353991686526_2245848601284629566_o
Latihan BANDOS

Bagaimana Membuat Lirik?

Pusing. Mau ngarang lagu. Melodi dapat, lirik gak bisa. Dari dahulu saya paham bahwa saya paling tidak bisa membuat lirik. Bagaimana sih caranya? Apakah ada panduan? Buku? Link?

Saya sudah berusaha untuk membuat tulisan, prosa, puisi, apapun, tetapi kok tetap bloon aja sih? Apa memang tidak ada bakat ya? Mosok skill membuat lirik tidak bisa dipelajari sih?

Atau … memang harus berkolaborasi?