Category Archives: music

Insan Music Store

Sekedar update tentang toko musik digital kami, Insan Music Store. Sekarang kami sedang menjajagi kolaborasi dengan payment Mandiri e-cash agar rekan-rekan dapat membeli lagu secara lebih nyaman di web toko.insanmusic.com. Tunggu tanggal mainnya.

Sementara itu, tanggal 5 Desember 2015 ini kami akan berada di dekat Alun-alun Bandung, di Cikapundung. Bagi yang mau mengunjungi booth kami silahkan. Mulai dari sore sampai malam.

xbanner insan music


Konser LCLR Plus

Tanggal 1 Oktober kemarin saya menyaksikan konser LCLR Plus di Balai Kartini, Jakarta. LCLR adalah singkatan dari Lomba Cipta Lagu Remaja, sebuah kegiatan yang digelar oleh Radio Prambors di tahun 1970-an. Tepatnya 1976. Sejarahnya kira-kira begini. (Ini juga tahunya gara-gara menonton klip video di konser tersebut dan hadir di acara konferensi pers sebelum acara.)

Pada tahun segitu, dunia musik pop Indonesia kebanyakan berisi lagu-lagu yang “cengeng”. (Maaf kalau ini menyinggung beberapa pihak.) Ya, mungkin sama seperti saat ini lah. he he he. Maka beberapa orang punya ide agar dibuat semacam lomba untuk membuat lagu-lagu yang bagus. Motor utamanya adalah Radio Prambors. Lucu atau ironinya, Radio Prambors dahulu justru lebih dikenal bernuansa “Barat”. Nah, ini mengusung lagu-lagu ciptaan orang-orang Indonesia. Keren kan?

Eh, ternyata lomba tersebut sukses. Ada banyak yang mengirimkan lagu dan hasilnya adalah lagu-lagu yang luar biasa bagusnya. Yang mungkin paling “terkenal” bagi banyak orang adalah lagu “Lilin-lilin kecil”, tetapi sesungguhnya ada *BANYAK* lagi lagu-lagunya yang bagus. Silahkan didengarkan. Maka LCLR dapat dikatakan menjadi salah satu tonggak musik Indonesia.

Salah satu motor musik dari LCLR itu adalah Yockie Suryo Prayogo. Cerita tentang mas Yockie ini bisa panjang lagi. Lain kali ya. Ada banyak karyanya yang luar biasa. Selain LCLR, yang terkenal juga adalah album “Badai Pasti Berlalu” yang digarap bersama Eros Djarot dan Chrisye. Nah, konser LCLR plus kali ini mengusung lagu-lagu dari LCLR plus lagu-lagu karya mas Yockie. Konsernya sendiri dilakukan dua hari, tanggal 1 dan 2 Oktober 2015. Saya hadir yang tanggal 1 Oktober 2015.

Saya sendiri merasa bersyukur kenal mas Yockie. Jadinya saya dikasih tiket untuk keluarga mas Yockie. hi hi hi.

IMG_9534 amplop

Di hari-H-nya saya sengaja menginap di hotel Puri Denpasar yang bersebelahan dengan Balai Kartini, tempat dilangsungkannya acara. Siang hari saya sudah bisa nengok konferensi persnya. Setelah itu saya juga bisa lihat gladiresiknya. Dan malamnya, saya menikmati acaranya.

Ada beberapa foto yang saya ambil ketika acara belum mulai. Setelah acara mulai saya tidak bisa mengambil foto dari jarak dekat karena tidak punya kartu tanda pers. hik hik hik. Lain kali mau minta ah. Jadinya foto-foto pas acara diambil dari jarak jauh dan hasilnya kurang memuaskan. (Foto-foto akan saya link di sini secara bertahap ya. Sabaaar.)

DSC_0061 yockie salam 0001

Sebagai sampel, saya video lagu pembukaannya; “Overture – Jurang Pemisah”. Sayang sekali bagian awal kepotong karena saya sibuk menyalakan iPhone. Ini video saya ambil dengan menggunakan iPhone. Lumayanlah bisa ditonton. Selamat menikmati.

Band dari konser ini adalah:
Keyboard 1: Yockie Suryo Prayogo
Keyboard 2: Eggy
Drummer: Iqbal
Gitar: YankJay Naki Nugraha
Violin: Didiet


Jam Terbang

Ada istilah “jam terbang”, yang maknanya adalah seberapa sering kita sudah melakukan sesuatu. Semakin sering, tentunya semakin ahli kita dalam melakukan sesuatu tersebut. Di dalam bahasa Inggris ada pepatah; “practice makes perfect”. Saya percaya akan hal ini.

Malcom Gladwel, dalam bukunya “Outliers”, menjelaskan bahwa orang-orang yang hebat itu sesungguhnya tidak lahir hebat. Mereka mengalami masa latihan yang cukup lama, 10 ribu jam atau 10 tahun. Jagoan tidak hadir tiba-tiba seperti halnya diceritakan dalam dongeng. Tiba-tiba masuk ke hutan, ketemu kotak yang sakti, tiba-tiba jadi jagoan silat. hi hi hi.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga menerapkan hal ini. Saya main futsal, main musik, dan bahkan menulis di blog ini juga menerapkan hal ini. Saya mulai nge-blog sejak tahun 2002. Jadi sekarang sudah 13 tahun saya ngeblog. Wuih. Hanya saja, jumlah tulisan saya belum mencapai 10 ribu. Baru lebih dari 4000-an. Maka dari itu saya masih harus rajin menulis di blog ini.

Banyak orang yang heran kenapa saya lumayan bagus main futsalnya – dalam artian banyak mencetak gol – ya karena latihan. Seminggu dua kali. Itupun sebenarnya masih belum cukup, tapi karena usia ya saya anggap cukup. Sementara banyak anak-anak yang jauh lebih muda dari saya tidak mau latihan rutin.

Dalam bermusikpun saya baru pada tahap banyak manggung. Tadi siang juga manggung lagi dengan anak saya. Lagi-lagi menambah jam terbang. Terlalu banyak orang yang tidak mau berusaha untuk belajar. Saya kutipkan dari buku Gladwel:

“The Beatles ended up traveling to Hamburg five times between 1960 and the end of 1962. On the first trip, they played 106 nights, five or more hours a night. On their second trip, they played 92 times. On their third trip, they played 48 times, for a total of 172 hours on stage. The last two Hamburg gigs, in November and December of 1962, involved another 90 hours of performing. All told, they performed for 270 nights in just over a year and a half. By the time they had their first burst of success in 1964, in fact, they had performed live an estimated twelve hundred times”

Lihatlah bagaimana the Beatles berjuang dari bawah. Bayangkan 270 kali manggung dalam satu setengah tahun. Sepertinya manggung setidaknya dua hari sekali. Sementara itu saya mungkin baru manggung 30 s/d 40 kali setahun. Ini saja sudah lebih dari artis / band profesional. ha ha ha. Oh ya, kondisi panggung yang dialami oleh the Beatles juga sangat jauh dari sempurna. Panggung yang gak beres. Sound yang gak beres. Penonton yang gak beres. Pokoknya tidak seperti yang dibayangkan atau diinginkan oleh banyak orang. Tidak banyak alasan. Maka dapat dimengerti mengapa the Beatles menjadi sebuah band yang paling sukses.

DSC_0023 BR LR 0001

Mari menambah jam terbang terus …


Produktif Karena Berisik

Tadinya saya merasa aneh sendiri karena sering membutuhkan noise (berisik) untuk bekerja secara produktif. Ternyata ini tidak aneh! Aneh juga. (Kok jadi mbulet begini.) Ada teorinya kah?

Kemarin saya memasang aplikasi “anoise” di komputer Linux saya. Aplikasi ini menghasilkan ambient noise dengan suara-suara yang berbeda. Standarnya adalah suara berisik dari kedai kopi (coffee shop). Kalau kita pasang, maka kita berasa bekerja di sebuah kedai kopi. Jadi tidak usah beli kopi mahal di kedai kopi yang terkenal itu. Pasang suara ini di kamar saja dan buat kopi sendiri. Berasa di coffee shop yang mahal. Sekarang tidak alasan untuk tidak produktif.

Yang lucunya, ada suara-suara yang memang berisik seperti orang ngebor jalan (atau pakai timbris?), orang membuat bangunan, suara perahu boat, dan seterusnya. Mungkin memang ada orang yang membutuhkan suara bising seperti itu untuk produktif. Siapa tahu?

Di youtube ada banyak lagu instrumental dengan suara air mengalir yang juga menenangkan hati. Silahkan cari dengan kata kunci “relaxing music” atau “relaxing music instrumental“. Kalau yang ini khawatirnya malah kita jadi ngantuk dan tidur melulu. Produktivitas malah hancur. hi hi hi.

Oh ya, ada juga yang streaming suara-suara coffeeshop seperti Coffitivity.

Semuanya ini sebetulnya memiliki nuansa “Barat”. Kalau yang khas Indonesia ada gak ya? Suara kodok ngorek kali ya? Beneran. Adakah ambient noise yang bernuansa Indonesia? Saya cuma menemukan satu dan itupun suara jalanan. Bukan suara hutan, sungai, air mengalir yang menyejukkan. Nah, siapa tahu ini bisa jadi ide start-up Anda.


Manggung

Bulan Mei kemarin manggung (ngeband) dua kali. Belum sempat saya tampilkan di sini. Eh, foto-fotonya juga saya gak punya. Jadi tidak ditampilkan di sini.

Bulan ini, Juni, baru manggung satu kali. Hari Sabtu kemarin saya manggung dengan anak saya (Luqman) di acara CCE Night (MBA ITB). Pagi harinya saya ada acara 40 hari meninggalnya ayah saya. Salah satu mata acara di CCE Night itu adalah in memoriam Nuri Annisa, mahasiswa penyelenggara CCE Night tahun lalu. Kebetulan Nuri ini juga adiknya Akmal, mahasiswa saya yang kemudian menjadi tim perusahaan saya. Anyway, bagi saya manggung ini juga sebagai bagian dari tribute untuk mereka yang sudah berada di tempat yang terbaik di sana.

Playlist lagunya adalah (1) Creed – One Last Breath, (2) Dream Theater – Wait for Sleep, dan (3) Foo Fighters – Everlong. Lagu terakhir saya pilih untuk menghormati salah satu mentor saya, David Letterman. (Sudah saya tuliskan di blog ini juga.) Kapan-kapan main dengan full band lagi.

Berikut ini cuplikan manggungnya … (Hasil tangkapan dari tabletnya Akmal.) Saya belum punya cuplikan manggung-manggung sebelumnya.

Selamat menikmati.


Biaya Akuisisi Pengguna Dalam Start-Up

Ketika kita mengembangkan sebuah usaha start-up, kita harus mendapatkan pelanggan atau pengguna (user) dari layanan atau produk kita. Akuisisi pengguna ini ada biayanya. Pengguna ini  dapat dianggap sebagai salag satu aset dari start-up kita.  Itulah sebabnya sebuah start-up dengan jumlah pengguna yang jutaan dapat bernilai mahal meskipun penghasilannya minim.

logo insan music storeNah, berapa biaya untuk akuisisi pengguna ini? Saya ambil contoh kasus usaha toko musik digital Insan Music Store kami. Dalam kasus kami, pengguna ada dua jenis; (1) artis / musisi / band yang memproduksi lagu-lagu, dan  (2) pembeli lagu-lagu tersebut. Sebetulnya ada juga orang-orang yang hanya mengunjungi situs kami tetapi tidak membeli. Untuk yang ini saya tidak memasukkan dalam hitungan.

Untuk bergabung dengan Insan Music Store, artis / musisi / band tidak dipungut biaya. Hanya saja, sebelum kami dapat melakukan promosi dan jualan, kami harus menandatangani kontrak. Ada meterai yang harus dipasang; 2 x Rp. 6000,-. Kalau ditambah ongkos kertas dan tinta printer untuk mencetak kontrak tersebut, maka biaya untuk satu artis katakanlah Rp. 15000,-. Jadi biaya untuk akuisisi pengguna (cost per acquisition / CPA) kami adalah US$ 1,5.

Biaya ini terlihat kecil ya, tetapi kalau nantinya kami memiliki 10000 artis (atau lebih) maka tinggal kita kalikan saja dengan 1,5 dollar itu. Banyak juga ya?

ims terdaftar

Untuk  akuisisi pembeli lagu saat ini kami belum bisa menghitungnya karena gratis. Jadi, untuk yang ini anggap saja gratis. Padahal sesungguhnya kami harus menyiapkan server untuk database dari pengguna ini. Selain itu, kami melakukan promosi yang ada pengeluaran uangnya. Dugaan saya sih biayanya pukul rata akan sama seperti biaya untuk akuisisi artis tersebut, 15 ribu rupiah juga. Jika kami memiliki satu juta anggota pembeli, maka sesungguhnya biayanya adalah … 15 milyar! Nah lho. hi hi hi

Demikian cerita tentang entrepreneurship, start-up bisnis digital. Semoga bermanfaat.


Kegiatan Insan Music Store

Tadi pagi (Minggu, 7 Desember 2014), Insan Music Store hadir di Bandung Car Free Day. Kali ini suasananya agak mendung. Eh, ternyata malah ada *banyak* stand yang menampilkan senam sehingga sound systemnya saling bersahut-sahutan. Berisik. Namun kami juga akhirnya membuka stand juga.

IMG_6963 insan music store

Hari ini kami juga menandatangani kontrak dengan O2 (Observed Observer) di sana. Semoga kami bisa sukses bersama!

IMG_6969

Saya juga sempat berbincang-bicang dengan kang Yosef (lupa nama belakangnya atau institusinya). Kami ngobrol soal musik, kota Bandung, pendidikan, dan seterusnya. Kebetulan jenis musik yang kami sukai agak mirip-mirip. Dia juga banyak main musik, menjadi music director, producer, dan mengajar kesenian kepada banyak anak-anak. Karena kami juga berlatar belakang Bandung, jadi banyak hal juga yang nyambung. Mudah-mudahan ada kerjasama yang dapat kami lakukan.

Setiap minggu kami mendapatkan artis/band-band baru. Bagus bagus! Sabar ya. Satu persatu akan kami proses. Jreng!


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.619 pengikut lainnya