Konser Badai Pasti Berlalu (Plus)

Yeah, yeah, yeah.

Saya sudah dua kali nonton konser ini – Jakarta & Bandung – dan dua-duanya mantap. Berbeda. Tidak sama. Seru. Sayangnya saya tidak sempat nonton yang Surabaya dan Malang.

Lihat ini contoh video (Jurang Pemisah) yang saya ambil ketika konser di Jakarta.

14542315_10209951744086136_8011555052935738874_o

Sebenarnya ini bukan hanya sekedar tontonan, tetapi sebuah upaya pendidikan kepada masyarakat Indonesia tentang (sejarah) perjalanan musik pop Indonesia. Kita bisa banyak belajar dari para musisi ini. Sejarah itu untuk dipelajari dan tidak dilupakan. Tidak juga untuk bejalan di tempat.  Untuk bisa maju ke depan dengan lebih baik. Tahun depan ada yang baru-baru. Ayo nonton!

Informasi tiket ada di: www.mahanalive.com.

Mari kita dukung musik Indonesia. Mosok kalau ada band / artis asing biar harganya mahal  ditonton, sementara yang Indonesia tidak dihargai. Yang Indonesia didukung juga dong. Mari …

Checksound

Hari Senin kemarin, kami (BandIT) manggung lagi. Main band, maksudnya. Manggung di acara tertutup, closed group di Foodism (Jakarta).

Salah satu kegiatan yang penting sebelum manggung adalah checksound. Pada intinya, checksound adalah melakukan setup perangkat (gitar, bass, keyboards, drums, dll.) dengan sound system (amplifier) yang akan digunakan. Selain itu juga checksound digunakan untuk mengetahui setup mikropon (microphone).

Checksound merupakan salah satu aktivitas yang sangat penting. Pasalnya, setiap panggung memiliki konfigurasi yang berbeda. Luas panggung, ruangan (indoor atau outdoor), amplifier yang digunakan, letak speakers dan monitor, dan seterusnya. Perbedaan ini membuat setingan tidak sama. Suara gitar bisa terdengar kurang keras atau terlalu keras. Dari sisi penyanyi juga salah satu yang sangat penting adalah dapat mendengar suaranya sendiri via speaker monitor. Seringkali suara sendiri tidak terdengar sehingga kita tidak dapat mengontrol suara kita. Fals hasilnya.

Beberapa kali saya pernah manggung tanpa checksound. Hasilnya kacau. Oleh karena itu sekarang saya selalu memaksa melakukan checksound sebelum manggung.

Launching Insan Music Store

Hari Sabtu ini, 9 April 2016, Insan Music Store akan mengadakan acara launching di Bandung.

Tempat: Telkomsel Loopstation, Jl. Diponegoro 24, Bandung
Waktu: pukul 8:00 pagi s/d pukul 17:00

Launching ims spanduk

Pada acara ini, saya akan menjelaskan tentang apa itu “toko musik digital” dan dunia musik digital. Kita bisa lihat banyaknya toko musik konvensional (fisik) yang tutup. Demikian pula penjualan lagu yang jatuh. Bagaimana seharusnya para artis musik / musisi menyikapi hal ini? Pada awalnya tidak ada platform yang memudahkan bagi para artis musik Indonesia untuk mempromosikan dan menjual lagunya. Sekarang ada:

toko.insanmusic.com

Saya juga akan menjelaskan bagaimana proses pembelian lagu melalui Mandiri e-cash. Datang saja, nanti langsung dibuatkan akunnya dan langsung bisa membeli lagunya. Sudah pada punya akun di toko.insanmusic.com belum? Ayo buat. Gratis lho. Demikian pula buat (atau nanti kita buatkan akun Mandiri e-cash-nya).

Tentu saja acara akan diramaikan dengan band-band yang berada di Insan Music Store dan Roemah Creative Management.

Launching ims flyer

Ditunggu kedatangannya ya. Jreng!

Launching ims backdrop

Platform Distribusi Lagu Digital

Kadang saya bingung melihat banyak artis musik dan asosiasi (artis) musik yang ribut soal pembajakan. Mereka telah menghasilkan karya dan kemudian meras bahwa dunia digital memudahkan orang untuk “membajak” lagu mereka. Terminologi “membajak” di sini adalah mengambil (download atau sejenisnya) lagu (karya) mereka tanpa membayar.

Ok lah pembajakan digital ini tidak benar secara hukum dan etika. Lantas apa solusinya? Sebagian besar tidak membicarakan solusi. Hanya berkeluh kesah tentang pembajakan itu. Iya, lantas apa solusinya? Pokoknya nggak mau dibajak. Iyaaaa … apa solusinya?

logo-insan-musicDahulu saya dapat memahami tentang sulitnya mengatakan solusi karena belum tersedia layanan / aplikasi / teknologi / framework / platform untuk itu. Sekarang sudah banyak. Kami, salah satunya, membuat platform distribusi lagu digital di Insan Music Store. Silahkan lihat ke toko digital kami di toko.insanmusic.com. Anda bisa langsung membuat akun manager dan kemudian membuat channel musik digital Anda (sebagai artis, atau sebagai manager artis musik).

Seharusnya keluh kesah mengenai “pembajakan” ini dapat berkurang. Eh, saya lihat tidak juga. Para artis musik ini masih tetap saja melihat ke belakang, yaitu masih berkeluh kesah tentang pembajakan tanpa mau mencoba platform tersebut. Ya, mana bisa selesai masalah dengan berkeluh kesah saja.

Download Lagu Legal

Beberapa tahun yang lalu – sebetulnya sudah lamaaa banget, tahun 89? – saya membuat beberapa lagu. Lagu-lagu tersebut saya karang ketika saya berada di Kanada. Sayang juga kalau lagu tersebut hilang demikian saja. Lumayan kalau bisa didengarkan oleh orang lain. Saya yakin banyak dari Anda yang punya lagu dan punya masalah yang sama.

Selain itu mungkin juga Anda punya teman yang punya band tetapi tidak tahu harus diapakan lagu-lagunya. Mereka ingin mempromosikan lagunya. Bahkan lebih dari sekedar itu. Mereka ingin lagunya juga bisa diunduh (download) secara legal (dan berbayar).

Kalau dahulu belum banyak tempat untuk upload lagu-lagu. Sekarang sudah ada banyak tempat untuk upload lagu-lagu tersebut. Yang paling terkenal tentunya adalah iTunes. Hanya saja untuk upload ke iTunes tidak mudah. Itu juga tempatnya di luar negeri.

Nah, saya memiliki toko musik digital – Insan Music Store (IMS). Situsnya adalah toko.insanmusic.com. Beberapa hari yang lalu, saya nekad upload beberapa lagu saya. Sekarang lagu-lagu tersebut sudah dapat didownload di sini:

toko.insanmusic.com/artist/budi-rahardjo/

Ini screenshot-nya.

10623542_10153431155266526_5814226168791331358_o

Ayo download lagu-lagu saya secara legal. Untuk mencobanya, silahkan Anda bergabung (membuat akun, create account). Gratis kok. Ayo ceritakan pengalaman Anda setelah mencoba toko musik digital saya.

Oh ya, kalau Anda (atau teman Anda) punya band, silahkan bergabung juga.

Hilangnya Indra Sosial Musisi Indonesia

Salah satu musisi favorit saya saat ini adalah Steven Wilson (akun Facebook). Dia dikenal banyak orang melalui band Porcupine Tree yang beraliran progressive rock. Sekarang dia justru lebih produktif dengan karya-karya pribadinya. (Termasuk memproduksi band atau artis lainnya.)

Steven_Wilson_Hand_Cannot_Erase_coverAlbum besar Steven Wilson yang baru adalah “Hands. Cannot. Erase“. Album ini terinspirasi dari sebuah kejadian menyedihkan. Tersebutlah seorang perempuan muda bernama Joyce Carol Vincet yang tinggal di London. Joyce ditemukan meninggal di apartemennya. Yang menyedihkannya adalah jenasahnya baru ketahuan setelah lebih dari 2 tahun! Joyce ini adalah orang biasa seperti kita-kita. Mengapa temannya atau saudaranya tidak ada yang tahu? Tidak ada yang menanyakan keberadaan dia setelah sekian lama?

Baru-baru ini kejadian yang mirip juga terjadi di Xian, Cina. Ditemukan seorang yang meninggal di lift setelah terjebak selama sebulan. Sebulan! Bagaimana mungkin ini terjadi?

Mungkin ini adalah arah dari masyarakat kita? Makin tidak peduli. Ditambah lagi dengan gadget atau handphone. Semakin tidak peduli dengan sekeliling kita.

Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini adalah kesensitifan dari Steven Wilson. Dia membuat karya musiknya bukan sekedar membuat bunyi-bunyian yang enak didengar, tetapi juga memiliki misi sosial. Dia memotret kondisi sosial – dalam hal ini kejadian di Inggris tempat dia berada – dan kemudian mencoba mengingatkan kita. Inikah yang kita inginkan?

Indra Steven Wilson untuk menangkap kondisi sosial ini masih berjalan dengan baik. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Ah, kebanyakan karya yang diciptakan saat ini lebih ke arah “aku cinta aku”, “sedihnya aku”, dan sejenisnya. Aku, aku, dan aku. Mending kalau “Aku”-nya Chairil Anwar. Kemana karya atau lagu yang berisi kritik sosial? Sebagai contoh, lagu karya Yockie Suryo Prayogo – “Kehidupan” yang dikenal melalui band God Bless.

Semoga musisi Indonesia (yang masih muda) dapat mengasah indra sosialnya dan dapat memotret kondisi sosial bangsa Indonesia.

Selera Musik

Selera musik itu sangat persona. Setiap orang berlainan dan sulit untuk dibanding-bandingkan.

Untuk melakukan tracking selera musik, saya menggunakan last.fm. Ketika saya nyetel musik di komputer saya, dia akan mengirimkan datanya untuk distatistikkan. Memang ini tidak mencakup lagu-lagu yang saya dengarkan di mobil, misalnya. (Kecuali kalau nanti stereo di mobil saya sudah nyambung ke internet. he he he. Tak lama lagi?)

Berikut ini adalah top 10 artis / band yang saya dengarkan hasil dari pemantauan Last.fm.

BR top10 lastfm

Hal yang menarik dari statistik ini adalah ternyata memang saya penggemar band Genesis. Perlu diingat bahwa lagu-lagu band Genesis itu banyak yang panjang-panjang (lebih dari 10 menit) tetapi masih saya dengarkan juga. Jadi sesungguhnya kalau dilihat dari waktu (menitnya) mungkin bisa lebih njomplang lagi.

Dan tentu saja The Beatles. Ini juga masalah madzhab. Bagi banyak orang, kalau tidak kenal the Beatles berarti tidak kenal musik pop. hi hi hi. Lucunya, banyak anak muda sekarang yang sok jago soal musik tapi *tidak kenal* the Beatles. hwarakadah. Diragukan ke-jagoannya.

Di dalam daftar itu ada dua artis/band Indonesia, yaitu Ada Band dan Chrisye. Iya, ada masanya saya sangat menggemari Ada Band sampai saya membuatkan halaman web fan page. ha ha ha. Sekarang apa kabarnya Ada Band ya?

Konser Badai Pasti Berlalu + LCLR+

Bagi Anda, penggemar musik Indonesia, silahkan tonton konser Badai Pasti Berlalu, LCLR+, Yockie Suryo Prayogo berikut. Kali ini, konsernya digelar di Surabaya. Saya sudah nonton dua konser sebelumnya – di Jakarta dan di Bandung – dan komentar saya adalah luar biasa! Keduanya beda dan keduanya sama kerennya.

konser badai pasti berlalu

Bagi yang seumuran saya (baca: tua, ha ha ha), Badai Pasti Berlalu dan LCLR merupakan bagian dari perjalanan menikmati musik Indonesia. Ini merupakan salah satu tonggak musik Indonesia. Saya punya koleksi album-albumnya dalam bentuk kaset dan CD. Beli aslinya tentunya. Sayang sekali kasetnya sudah hilang. hik hik hik.

Bagi yang muda, ini adalah tempat belajar. Melihat bagaimana musik Indonesia melalui perjalanannya. Ini juga merupakan tempat untuk menurunkan ilmu bagi yang tua ke yang muda (proses mentoring) dan juga momen untuk kolaborasi. Meneruskan tongkat estafet. Salah satu kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Tiket bisa dipesan online di: konserbadaipastiberlalu.com

Jreng!

Jadi Nonton Konser LCLR Plus

Horeee … saya sudah mendapatkan tiket untuk konser LCLR Plus yang akan digelar tanggal 23 Januari ini di Sabuga Bandung. Sudah pada beli belum? Ayo, kita rame-rame nonton. Kapan lagi kita mendukung musik Indonesia yang keren.

Percuma berkoar-koar mendukung musik Indonesia kalau gak nonton ini.

LCLR large

Nah, sekarang mau cari baju dulu. Model yang tahun 70-an, flower generation. Hmm…

Insan Music Store

Sekedar update tentang toko musik digital kami, Insan Music Store. Sekarang kami sedang menjajagi kolaborasi dengan payment Mandiri e-cash agar rekan-rekan dapat membeli lagu secara lebih nyaman di web toko.insanmusic.com. Tunggu tanggal mainnya.

Sementara itu, tanggal 5 Desember 2015 ini kami akan berada di dekat Alun-alun Bandung, di Cikapundung. Bagi yang mau mengunjungi booth kami silahkan. Mulai dari sore sampai malam.

xbanner insan music

Konser LCLR Plus

Tanggal 1 Oktober kemarin saya menyaksikan konser LCLR Plus di Balai Kartini, Jakarta. LCLR adalah singkatan dari Lomba Cipta Lagu Remaja, sebuah kegiatan yang digelar oleh Radio Prambors di tahun 1970-an. Tepatnya 1976. Sejarahnya kira-kira begini. (Ini juga tahunya gara-gara menonton klip video di konser tersebut dan hadir di acara konferensi pers sebelum acara.)

Pada tahun segitu, dunia musik pop Indonesia kebanyakan berisi lagu-lagu yang “cengeng”. (Maaf kalau ini menyinggung beberapa pihak.) Ya, mungkin sama seperti saat ini lah. he he he. Maka beberapa orang punya ide agar dibuat semacam lomba untuk membuat lagu-lagu yang bagus. Motor utamanya adalah Radio Prambors. Lucu atau ironinya, Radio Prambors dahulu justru lebih dikenal bernuansa “Barat”. Nah, ini mengusung lagu-lagu ciptaan orang-orang Indonesia. Keren kan?

Eh, ternyata lomba tersebut sukses. Ada banyak yang mengirimkan lagu dan hasilnya adalah lagu-lagu yang luar biasa bagusnya. Yang mungkin paling “terkenal” bagi banyak orang adalah lagu “Lilin-lilin kecil”, tetapi sesungguhnya ada *BANYAK* lagi lagu-lagunya yang bagus. Silahkan didengarkan. Maka LCLR dapat dikatakan menjadi salah satu tonggak musik Indonesia.

Salah satu motor musik dari LCLR itu adalah Yockie Suryo Prayogo. Cerita tentang mas Yockie ini bisa panjang lagi. Lain kali ya. Ada banyak karyanya yang luar biasa. Selain LCLR, yang terkenal juga adalah album “Badai Pasti Berlalu” yang digarap bersama Eros Djarot dan Chrisye. Nah, konser LCLR plus kali ini mengusung lagu-lagu dari LCLR plus lagu-lagu karya mas Yockie. Konsernya sendiri dilakukan dua hari, tanggal 1 dan 2 Oktober 2015. Saya hadir yang tanggal 1 Oktober 2015.

Saya sendiri merasa bersyukur kenal mas Yockie. Jadinya saya dikasih tiket untuk keluarga mas Yockie. hi hi hi.

IMG_9534 amplop

Di hari-H-nya saya sengaja menginap di hotel Puri Denpasar yang bersebelahan dengan Balai Kartini, tempat dilangsungkannya acara. Siang hari saya sudah bisa nengok konferensi persnya. Setelah itu saya juga bisa lihat gladiresiknya. Dan malamnya, saya menikmati acaranya.

Ada beberapa foto yang saya ambil ketika acara belum mulai. Setelah acara mulai saya tidak bisa mengambil foto dari jarak dekat karena tidak punya kartu tanda pers. hik hik hik. Lain kali mau minta ah. Jadinya foto-foto pas acara diambil dari jarak jauh dan hasilnya kurang memuaskan. (Foto-foto akan saya link di sini secara bertahap ya. Sabaaar.)

DSC_0061 yockie salam 0001

Sebagai sampel, saya video lagu pembukaannya; “Overture – Jurang Pemisah”. Sayang sekali bagian awal kepotong karena saya sibuk menyalakan iPhone. Ini video saya ambil dengan menggunakan iPhone. Lumayanlah bisa ditonton. Selamat menikmati.

Band dari konser ini adalah:
Keyboard 1: Yockie Suryo Prayogo
Keyboard 2: Eggy
Drummer: Iqbal
Gitar: YankJay Naki Nugraha
Violin: Didiet

Jam Terbang

Ada istilah “jam terbang”, yang maknanya adalah seberapa sering kita sudah melakukan sesuatu. Semakin sering, tentunya semakin ahli kita dalam melakukan sesuatu tersebut. Di dalam bahasa Inggris ada pepatah; “practice makes perfect”. Saya percaya akan hal ini.

Malcom Gladwel, dalam bukunya “Outliers”, menjelaskan bahwa orang-orang yang hebat itu sesungguhnya tidak lahir hebat. Mereka mengalami masa latihan yang cukup lama, 10 ribu jam atau 10 tahun. Jagoan tidak hadir tiba-tiba seperti halnya diceritakan dalam dongeng. Tiba-tiba masuk ke hutan, ketemu kotak yang sakti, tiba-tiba jadi jagoan silat. hi hi hi.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga menerapkan hal ini. Saya main futsal, main musik, dan bahkan menulis di blog ini juga menerapkan hal ini. Saya mulai nge-blog sejak tahun 2002. Jadi sekarang sudah 13 tahun saya ngeblog. Wuih. Hanya saja, jumlah tulisan saya belum mencapai 10 ribu. Baru lebih dari 4000-an. Maka dari itu saya masih harus rajin menulis di blog ini.

Banyak orang yang heran kenapa saya lumayan bagus main futsalnya – dalam artian banyak mencetak gol – ya karena latihan. Seminggu dua kali. Itupun sebenarnya masih belum cukup, tapi karena usia ya saya anggap cukup. Sementara banyak anak-anak yang jauh lebih muda dari saya tidak mau latihan rutin.

Dalam bermusikpun saya baru pada tahap banyak manggung. Tadi siang juga manggung lagi dengan anak saya. Lagi-lagi menambah jam terbang. Terlalu banyak orang yang tidak mau berusaha untuk belajar. Saya kutipkan dari buku Gladwel:

“The Beatles ended up traveling to Hamburg five times between 1960 and the end of 1962. On the first trip, they played 106 nights, five or more hours a night. On their second trip, they played 92 times. On their third trip, they played 48 times, for a total of 172 hours on stage. The last two Hamburg gigs, in November and December of 1962, involved another 90 hours of performing. All told, they performed for 270 nights in just over a year and a half. By the time they had their first burst of success in 1964, in fact, they had performed live an estimated twelve hundred times”

Lihatlah bagaimana the Beatles berjuang dari bawah. Bayangkan 270 kali manggung dalam satu setengah tahun. Sepertinya manggung setidaknya dua hari sekali. Sementara itu saya mungkin baru manggung 30 s/d 40 kali setahun. Ini saja sudah lebih dari artis / band profesional. ha ha ha. Oh ya, kondisi panggung yang dialami oleh the Beatles juga sangat jauh dari sempurna. Panggung yang gak beres. Sound yang gak beres. Penonton yang gak beres. Pokoknya tidak seperti yang dibayangkan atau diinginkan oleh banyak orang. Tidak banyak alasan. Maka dapat dimengerti mengapa the Beatles menjadi sebuah band yang paling sukses.

DSC_0023 BR LR 0001

Mari menambah jam terbang terus …

Bongkar Gitar

Senar gitar putus. Terpaksa beli senar satu set. Sekalian waktunya untuk ganti seluruh senar. Bongkar gitar dulu.

IMG_8812 bongkar gitar

Ternyata salah satu masalahnya adalah mencabut pin yang digunakan untuk mengunci senar. Mungkin karena sudah lama belum ganti senar dan memang dia harus tertanam dengan baik sehingga sukar untuk dibukanya. Takut juga saya membukanya. Lihat-lihat dulu di internet tentang cara membukanya. Katanya pakai tang, tapi saya takut malah tang itu merusak pin-nya.

IMG_8815 ungkit pin 1000

Akhirnya saya putuskan untung mengungkit pin tersebut dengan obeng kecil. Eh, ternyata berhasil dengan mudah. (Lihat foto di atas.)

Sekalian juga waktunya untuk membersihkan kotoran (dekil) yang melekat di fretboard. Bingung juga pakai cairan apa. Takutnya malah ngerusak catnya. Akhirnya saya pakai cairan yang biasa digunakan untuk membersihkan keyboard komputer. Lancar jaya.

Terakhir, pasang senar lagi. Saya beli senar yang ukurannya 10. Eh, ternyata terlalu keras. Saya lupa. Kayaknya dahulu saya menggunakan senar yang ukurannya 9. Lebih kecil (light, enteng) dan lebih nyaman di jari. (Tapi jadi tidak terbiasa pakai gitar orang yang umumnya menggunakan ukuran 10.) Akhirnya terpaksa gitar distem turun satu kunci. Beres.

Jreng!