Mentoring Adalah Fardu Kifayah

Suatu ketika ada yang bertanya kepada saya kenapa saya mau melakukan mentoring, yaitu mengajari yang orang lain (yang biasanya lebih muda) dalam hal entrepreneurship atau start up? Pasalnya saya melakukan ini seringkali tidak dibayar.

Pertama, saya melihat model ini berjalan di luar negeri, yaitu di Silicon Valley. Boleh disimak perjalanan hidup dari para entrepreneur yang sukses. Steve Jobs saya melakukan mentoring (secara tidak formal) kepada Nolan Bushnell, pendiri Atari. Demikian pula para jawara start-up sekarang juga melakukan mentoring kepada Steve Jobs. Nanti yang berikutnya juga melakukan mentoring kepada Mark Zuckerberg, dan seterusnya. Intinya adalah ini adalah model yang dilakukan di sana.

Kedua, proses turunnya ilmu itu banyak yang dilakukan di luar kelas formal. Sekolahan memiliki keterbatasan; jadwal yang ketat, sumber daya (ruangan, orang, dll.) yang terbatas, dan seterusnya. Maka mentoring adalah salah satu solusi.

Jika mentoring ini tidak dilakukan, maka tidak dapat naik kualitas entrepreneur pada masyarakat sekitarnya. Kalau saya tidak membina yang muda-muda, nanti bagaimana ceritanya kalau saya sudah tua? Saya tidak dapat ndompleng mereka. hi hi hi.

Agar mudah dicerna, saya katakan “mentoring adalah fardu kifayah“. (Dalam agama Islam, ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat. Jika salah satu sudah melakukannya, maka yang lain tidak wajib. Sudah gugur kewajibannya. Jika tidak ada yang melakukan, maka berdosalah seluruh masyarakat itu. Ini namanya fardu kifayah.)

Belajar, Belajar, dan Belajar

Di sebuah tempat. Melihat mahasiswa yang sedang berkerumun. Yang cowok duduk bergerombol, ketawa-ketawa, sambil merokok. Sementara itu yang cewek ada yang sedang berjalan sambil mendekap buku teks, map, dan buku catatan. Sementara itu saya lihat pandangan mereka kosong. Apa yang ada di dalam pikiran mereka ya?

Saya menduga-duga bahwa mereka ke kampus tidak dalam mode untuk belajar. Mereka ke kampus hanya sekedar untuk menghabiskan waktu saja. Dari pada di rumah nganggur, mendingan ke kampus (entah untuk ngapain). Demikian pula pikiran orang tuanya; dari pada anak saya nggak ada kerjaan di rumah, lebih baik dia ke kampus saja. Tidak ada semangat untuk *belajar*. Bahwa saya mau ke kampus untuk belajar.

Semangat untuk belajar ini sudah hilang. Keingintahuan (curiousity) menjadi barang yang langka.

Kalau ditanya sih mau belajar, tetapi berusaha untuk belajar itu tidak. Kalau mau berusaha itu harus pergi ke satu tempat, berguru. Jauh-jauh, berusaha untuk menemui guru yang terbaik. Bukan asal saja.

Contoh paling gampang. Ada training ini dan itu gratisan. Eh, yang datang sedikit. Alasan yang tidak datang adalah sibuk. ha ha ha. Semua orang juga sibuk. Itu sebetulnya alasan untuk tidak mau berusaha.

Sementara itu saya masih ingin belajar, belajar, dan belajar.

Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi

Beberapa hari yang lalu (Senin, 27 Februari 2017) saya diminta untuk memberikan presentasi terkait dengan mindset anti-hoax. Saat ini hoax sudah merajalela sehingga perlu dilakukan sesuatu. Acaranya dilakukan di Unikom, Bandung.

Presentasi saya dimulai dengan definisi dari hoax. Apa ya? Hoax saya definisikan sebagai sesuatu yang tidak benar tetapi direkayasa seolah-oleh sebuah fakta. Hoax asalnya bisa hanya sekedar guyonan. Main-main. Namun oleh beberapa orang (yang tidak memiliki sense of humor?) dianggap sebagai serius dan kemudian bergulir. Namun ada juga yang memang merekayasa “fakta” palsu ini untuk kepentingan tertentu (biasanya ujung-ujungnya duit juga).

Ada kesulitan dari banyak orang untuk membedakan fakta, opini, dan hoax. Mari saya ambilkan beberapa contoh.

  • Fakta: Persib adalah klub sepak bola kota Bandung
  • Opini: Persib adalah klub sepak bola terhebat
  • Hoax: Persib pernah menjuarai Liga Sepak Bola Inggris

Contoh-contoh di atas memang mudah dikenali karena sangat jelas bedanya. Ada banyak hal yang sulit dibedakan.

16903271_10154326694056526_6889321425773985855_o
[sumber: koran Pikiran Rakyat]
Untuk mendeteksi hoax harus memiliki ilmu dan wawasan. Sebagai contoh, bagaimana kita tahu bahwa “Persib pernah menjuarai Liga Inggris” itu membutuhkan pengetahuan dimana letak Inggris selain mengetahui bahwa Persib itu klub sepak bola Bandung. Tanpa pengetahuan ini tentu saja akan sulit untuk menentukan ini fakta atau bukan.

Bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan ini? Dibutuhkan banyak membaca dan piknik. hi hi hi.

Setelah mengetahui itu hoax, maka terserah kepada kita apakah kita akan ikut menyebarkannya atau menghentikannya. Memang sulit sekali untuk tidak ikut berbagi (share) di dunia media sosial. Satu klik saja sudah bisa berbagi. Padahal sebelum membagikan berita, kita perlu cek dulu apakah itu fakta atau hoax.

Salah satu tips saya adalah “Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi”.

Bagaimana dengan penanganan hoax yang memang sengaja dibuat? Itu cerita lain kali ya.

Bumi Datar (Flat Earth)

Kemarin di dua tempat terjadi perdebatan tentang apakah bumi itu bulat atau datar. Mungkin juga perdebatan tidak hanya terjadi di dua tempat itu saja. Ya, topik sedang ngetrend. Jadi ingat cover album Kansas ini, Point of Know Return. (Sambil juga ingat bukunya Friedman, the World is Flat.)

kansas_-_point_of_know_return

Menurut Anda tentang bumi datar itu opini atau hoax? Ada yang berpendapat bahwa ini adalah hoax karena bukan fakta. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa ini adalah opini dan itu sah-sah saja. Nah lho.

Semester Baru

 

Semester baru sudah dimulai di ITB hari-hari kemarin. Kelas sudah mulai. Saya mengajar tiga kelas semester ini. Semuanya berhubungan dengan keamanan informasi (information security). Ini foto kelas Keamanan Informasi (7:00 s/d 9:00), dipotret di akhir kelas. Masih pada segar.

P_20170118_083618_BF-01 kelas

Selain mengajar, saya juga membimbing S2 dan S3. Lupa jumlah mahasiswa bimbingannya. ha ha ha. Ini foto ketika bimbingan dengan sebagian mahasiswa.

P_20170118_111302_BF bimb

Waktunya memperbaharui halaman web juga. (Belum sempat euy.) Demikian pula masih ada setumpuk makalah (perbaikan) mahasiswa yang harus saya koreksi lagi. Ballpoint sudah disiapkan.

p_20170117_114824-01-ballpoint

Ayo semangat!

Perlu Lebih Banyak Esai

Saat ini saya (masih) memeriksa ujian mahasiswa, yang harusnya selesai segera. Ujian dalam bentuk pilihan berganda (multiple choice) sangat cepat diperiksa. Kita tinggal mencocokkan daftar jawaban dengan pilihan mahasiswa. Sayangnya ujian seperti ini tidak mengukur kemampuan mahasiswa dalam menyampaikan pendapat.

Ujian yang sedang saya periksa memiliki bagian pilihan berganda dan esai. Pada bagian esai saya dapat melihat ketidakmampuan mereka dalam mengemukakan pendapat. Penyampaian pendapat tidak langsung tetapi berputar-putar. Mbulet. Hadoh.

Menilai ujian dalam bentuk esai jauh lebih susah dan menghabiskan banyak waktu, tetapi ujian jenis ini lebih mendidik. Selain mendapatkan jawaban, kita juga mengajari mahasiswa dalam menuliskan pendapatnya. Kalau mereka tidak belajar sekarang, kapan lagi? Setelah lulus?

Menertawakan Sains

SSaya suka komedi. Banyak hal yang dapat dipelajari dari komedi. Saya belajar bahasa Inggris melalui komedi. Demikian pula, ada banyak cerita sejarah yang saya pelajari dari komedi juga. Sains? Matematika? Rekayasa? Semua ini dengan lawakan? Wah ini baru menarik.

Pagi hari di awal tahun 2017 ini saya membuka internet. Serius. Sehabis Subuh, sebelum matahari terbit saya membuka internet. Entah kenapa, terbuka YouTube. Yang terpampang di layar saya ada berbagai pelawak, mulai dari Johnny Carson, Jonathan Winters, dan kemudian Robin Williams. Eh, ternyata salah satunya menunjuk ke video ini.

Nampaknya ini adalah sebuah acara wawancara tentang Matematika dengan pelawak Steve Martin. Entah kenapa, Steve mengajak pelawak Robin Williams ke atas panggung. Mungkin dia tahu bahwa Robin Williams lebih tahu tentang sains (Matematika dan Fisika) lebih dari dia. Maka terjadilah berbagai adegan lucu di video itu. (Videonya dipotong menjadi beberapa video, masing-masing 10 menitan.) Gak bisa berhenti nonton video ini. Aje gile busyet dah.

Saya baru tahu bahwa Robin Williams itu ternyata cerdas banget! Dia banyak membaca dan mengerti banyak hal. Silahkan lihat videonya. Ada banyak lawakan yang terkait dengan matematika (dan fisika). Serius! Edan pisan!

Lawakan jenis ini – yang membutuhkan pendengar untuk mikir – merupakan jenis yang saya sukai. Ah, ternyata bisa juga menggabungkan lawakan dengan sains. Ini merupakan dorongan positif buat saya agar terus dapat menjelaskan konsep yang susah dengan lawakan.

Belajar ah … (dan banyak membaca tentunya).