Category Archives: Pendidikan

Mari Kita Blokir Memblokir

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang blokiran situs tertentu karena dianggap terkait dengan radikalisme(?) sesuai dengan permintaan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). [Link Kominfo.] Riuh rendah pendapat dan komentar di media sosial (Facebook, Twitter). Ada yang menuduh pemerintah anti Islam. Padahal tuduhan ini tidak benar, tetapi begitulah pendapat yang ada di dunia siber Indonesia. Kominfo kurang public relation nampaknya. hi hi hi.

Tidak produktif. Sebetulnya blokir memblokir ini bukan untuk pertama kalinya. Sebelumnya sudah diterapkan  blokiran dengan alasan pornografi. Sekarang alasannya adalah terkait dengan radikalisme. Nanti lama kelamaan alasannya adalah tidak sesuai dengan budaya Indonesia atau bahkan beda cara pandang dengan Pemerintah. Ini berbahaya. Padahal jaman pak Harto-pun internet Indonesia tidak pernah ada blokir-blokiran.

Dari dahulu saya berpendapat bahwa blokir-memblokir yang dilakukan Pemerintah ini kurang tepat. Terlalu banyak cara untuk melewati pemblokiran tersebut. Ini menjadi kontraproduktif. Kita jadi sibuk memblokir dan membuat anti-blokir. (Nanti dilanjutkan dengan anti-anti-blokir dan anti-anti-anti-blokir … dan seterusnya.)

Cara terbaik untuk menangani kasus-kasus perbedaan pendapat dan sejenisnya adalah dengan pendidikan dan perbanyak konten positif. Cara ini lebih elegan dan berkesinambungan (long lasting).

Ayo kita perbanyak konten yang positif. Mosok kita hanya bisa berkeluh kesah?


Minta Slidenya Dong

Saya sering memberikan presentasi. Setelah presentasi selesai, di media sosial ada banyak komentar. Salah satu komentar yang paling sering muncul adalah … “minta slidenya dong”. hi hi hi.

Pada prinsipnya saya tidak keberatan slide saya diminta. Secara, saya dari dulu sudah terbiasa berbagi materi presentasi saya. Selain materi presentasi, tulisan-tulisan saya pun tersedia online (di budi.insan.co.id). Sayang sekali akhir-akhir ini saya tidak punya waktu untuk memperbaharui situs saya itu. Akhirnya materi saya upload ke slideshare.net atau scribd.com.

Ada beberapa masalah yang membuat saya tidak dapat berbagi slide secara langsung. Masalah pertama, dalam presentasi (di dunia nyata, secara fisik) sering saya mengambil gambar-gambar yang saya peroleh dari internet. Permasalahannya adalah seringkali saya tidak teliti (kurang rajin) untuk menuliskan sumber dari gambar tersebut. Kalau materi ini kemudian saya bagi secara online, saya boleh dimarahi karena melanggar hak cipta dari pemilik gambar tersebut. Maka, cara terbaik adalah menghapuskan gambar-gambar tersebut dari materi presentasi saya. Akibatnya, materi presentasi jadi membosankan, dull, atau bahkan lebih gawatnya … tidak dapat dimengerti.

Tambahan lagi cara saya membuat materi presentasi mengikuti aliran zen atau Lessig-style. Dalam slide saya, yang muncul hanya kata-kata (keywords) saja. Kata-kata ini merupakan pengingat dan pointer bagi saya untuk bercerita. Isi sesungguhnya ada dalam presentasi saya. Jadi, kalau hanya melihat slide-nya saja akan sulit menangkap apa yang saya presentasikan. Itu sebabnya juga saya kurang tertarik untuk memasang slide yang isinya hanya kata-kata kunci saja. Tapi, mungkin nanti akan saya coba (eksperimenkan). Siapa tahu saya salah, bahwa sesungguhnya orang pun hanya tertarik kepada kata kuncinya saja.

Begitu … Nah, kalau ada yang berkomentar lagi … “minta slidenya dong”, harus saya jawab apa ya?


Super Dosen

Di Indonesia, seorang dosen itu harus menjadi superman (superwoman). Seorang dosen harus melaksanakan “Tri Dharma Perguruan Tinggi”; (1) Pendidikan, (2) Penelitian, dan (3) Pengabdian pada masyarakat.

Sebetulnya tidak ada yang salah pada Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Masalahnya adalah untuk mengharapkan ketiganya dapat dilakukan oleh seorang dosen dengan tingkat yang sangat baik itu sangat sukar. Ada dosen yang rajin mengajar (aspek pendidikan), tetapi jarang melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Waktunya sudah habis untuk mengajar. Hal yang sama juga terjadi pada dosen yang rajin melakukan penelitian sehingga sering kuliahnya terbengkalai atau dia tidak pandai dalam mengajar. (Banyak dosen yang pintar tetapi mengajarnya buruk.) Juga ada dosen yang banyak memiliki proyek di luar kampus (aspek pengabdian masyarakat) sehingga kuliah dan penelitiannya terbengkalai. Singkat katanya, sulit untuk mengharapkan ketiga aspek tersebut melekat dalam satu dosen. Yang lebih memungkinkan adalah harapan tersebut dilekatkan kepada institusinya. Bukan pada individual dosennya.

Tuntutan seperti di atas hanya dapat dipenuhi oleh seorang super dosen.

Saya sendiri bukan seorang super dosen. Namun saya mencoba memenuhi ketiga aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Dalam mengajar, saya tidak buruk-buruk amat. Eh, cenderung baik malahan. hi hi hi. Memuji diri sendiri. Kelas saya ramai dihadiri mahasiswa. Kadang ada mahasiswa dari tempat lain yang minta ijin untuk duduk di kuliah saya. Daftar kehadiran saya juga relatif rajin, mendekati 100%. Ada kalanya saya tidak dapat hadir mengajar karena terpaksa harus hadir di pertemuan yang sangat penting. (Tidak mengada-ada sangat pentingnya.)

Karena sibuk mengajar inilah yang membuat saya sulit untuk memenuhi permintaan mahasiswa di tempat lain untuk memberikan kuliah umum atau sejenisnya. Bukan berarti saya tidak mau lho. Hanya saja harus diatur skedulnya agar saya tidak (terlalu banyak) membolos kuliah.

Di bagian penelitian, apa yang saya kerjakan juga cukup baik. Hasil penelitian umumnya dituangkan dalam bentuk karya ilmiah. Ranking saya dalam penulisan karya ilmiah juga lumayan. Kalau kita lihat ranking Webometric saat ini yang menggunakan Google Scholar, misalnya, hari ini saya menempati urutan 272 untuk seluruh Indonesia. Not bad for a busy person like me.

BR webometric

Ada banyak dosen lain yang seharusnya memiliki karya ilmiah lebih banyak tetapi entah kenapa tidak produktif. Padahal mantra dosen di luar negeri adalah “publish or perish”. Menghasilkan karya ilmiah atau hilang.

Di bidang pengabdian masyarakat, saya banyak berkontribusi dalam hal-hal yang terkait dengan IT dengan bentuk komunitas (ID-CERT, misalnya) dan komersial (berbagai perusahaan / start-up yang saya miliki). Ada banyak yang saya kerjakan di sini. Bahkan dahulu saya cenderung lebih banyak aktif di sini. Sekarang saya mengurangi aktivitas di sini meskipun saya masih banyak membina start-up.

Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini? Bahwa orang biasa seperti saya dapat ikut berkontribusi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Berusaha untuk menjadi super dosen. Namun ini bukan hal yang mudah.

Saya ulangi sekali lagi. Seharusnya Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut diterapkan pada tingkatan institusi, bukan individual.


Budaya Membaca

Dalam presentasi saya kemarin – “Menuju Masyarakat Digital Madani” – terjadi debat mengenai budaya membaca orang Indonesia. Atau, lebih tepatnya, budaya tidak membaca orang Indonesia. hi hi hi.

Yang menjadi perdebatan adalah apakah kita harus mengubah budaya orang Indonesia agar lebih menyukai membaca sebagaimana orang-orang Barat? Saya mengambil posisi yang agak berbeda. Saya berpendapat bahwa orang Indonesia lebih senang melihat dan mendengar. Dengan kata lain, cara belajar orang Indonesia adalah dengan menggunakan YouTube. Oleh karena itu daripada memaksa orang Indonesia untuk membaca, mungkin lebih mudah membuat visualisasi dari berbagai ilmu pengetahuan. Bagaimana pendapat Anda?

Sementara itu, saya sendiri masih hobby membaca. Ini adalah buku-buku yang baru saya dapatkan.

IMG_7521 buku

Nah, kapan waktu untuk membacanya ya? hi hi hi.

Sementara itu, kalau kuliah, sering saya bawa buku-buku untuk “show and tell”. Setidaknya agar mahasiswa bisa merasakan telah “memegang” buku-buku yang keren. he he he. Membacanya sih lain kali.

IMG_7518 buku kuliah


Berbagi Ilmu

Berbagi ilmu itu ada banyak caranya. Ada yang melalui cara formal, seperti yang saya lakukan kemarin di Telkom University. Yang ini bagian dari “studium generale”. Saya mempresentasikan sedikit tentang security. Materi lebih banyak tentang diri saya untuk memotivasi mahasiswa. Ini foto-foto dari depan.

IMG_7495 telkomu 1000 IMG_7494 telkomu 1000 IMG_7493 telkomu 1000

Berbagi ilmu juga dapat dilakukan dengan cara informal. Ini contoh yang dilakukan di tempat kami secara internal. Foto-foto ini tentang Luqman berbagi ilmu tentang Desain.

DSC_5622 LR design 1000

DSC_5629 LR multimedia 1000 DSC_5626 design audience 1000

Yang penting adalah … berbagi ilmu. Yuk mari …


Starting-Up: Ideation

BR starting-up

Sesi mentoring untuk mahasiswa (SBM ITB) dimulai lagi. Semester ini saya mendapatkan beberapa mahasiswa baru yang akan memulai perjalanan mereka dalam mengembangkan start “start up”. Tentu saja masih ada mahasiswa mentoring lama saya yang sudah pada fasa berikutnya. Kita ke mahasiswa yang baru memulai dulu.

Langkah awal dalam memulai sebuah usaha – start-up – adalah ide usaha. Ini langkah penting karena menentukan jadi atau tidaknya usaha mereka tersebut. Bagi saya, mereka harus dapat menjawab pertanyaan ini.

1. Masalah apa yang akan dipecahkan oleh start-up Anda?

Sebuah start-up biasanya menjawab sebuah masalah. Tanpa itu, saya tidak tertarik untuk membimbing start-up Anda (karena biasanya tidak berhasil). More on this later on.

Ada banyak usaha yang tidak menjawab pertanyaan di atas, tetapi hanya sekedar ikut-ikutan. Misalnya, Anda membuka sebuah usaha web desain (atau fashion, kuliner, atau apa saja) karena lihat orang lain membuat usaha sejenis dan terlihat berhasil. Yang seperti ini, biasanya cepat gagal.

Kembali ke pertanyaan di atas, apa masalah yang Anda hadapi? Misal, Anda mengembangkan sistem untuk membuat obat-obatan untuk penyakit demam berdarah karena penyakit itu masih sering menjadi masalah di Indonesia. Atau Anda membuat alat untuk memperpanjang usia batre handphone. Nah … itu saya juga nyari. hi hi hi.

Oh ya, saya bohong. Ada juga usaha yang dimulai dengan “solution looking for problem(s)“. Contoh dari ini adalah twitter. Sebetulnya problem yang ingin diselesaikan oleh twitter itu apa ya? Rasanya kok tidak jelas, tetapi twitter itu termasuk start up yang sukses juga. Jadi, mungkin bisa saja ada memulai usaha dengan “saya bisa (dan suka) membuat web dan melakukan pemrograman”, kemudian dilanjutkan dengan “masalah apa yang dapat diselesaikan dengan perusahaan yang saya buat?”.

Pertanyaan kedua

2. Apakah itu masalah Anda?

Yang ini sebetulnya opini saya pribadi. Jika itu masalah Anda, maka Anda akan tekun mencari solusi terhadap masalah tersebut. Ada punya passion terhadap masalah itu. Jika itu bukan masalah Anda, maka saya masih bertanya-tanya. Contohnya begini, Anda ingin memecahkan masalah transportasi di kota Jakarta (ini masalah) tetapi Anda sendiri tinggal di Bandung dan jarang pergi ke Jakarta. Saya tidak yakin Anda akan serius dalam memecahkan masalah tersebut.  Lagi pula, masih ada banyak masalah lain yang sangat personal bagi Anda dan memang harus Anda pecahkan.

Ada pepatah yang mengatakan, “necessity is the mother of invention“. Begitu.

Pertanyaan berikutnya,

3. Apa yang sudah dilakukan orang lain untuk memecahkan masalah tersebut?

Boleh jadi (dan biasanya memang) sudah ada orang-orang terdahulu yang berupaya memecahkan masalah tersebut. Jika mereka sudah memecahkan masalah tersebut, ya untuk apa kita membuat solusi yang sama? Kita tinggal menggunakan solusi mereka saja, bukan? Selesai.

Kalau mereka belum berhasil menyelasikan masalah tersebut, ini mungkin menjadi kesempatan (opportunity) untuk Anda. Boleh jadi dahulu teknologi belum tersedia sehingga sekarang mungkin ide tersebut bisa terlaksana. Sebagai contoh, mengirim lagu lewat internet dahulu tidak memungkinkan karena kecepatan internet masih super lambat. Sekarang, teknologi sudah tersedia untuk melakukannya sehinga layanan untuk mengirim lagu dapat dilakukan. (Lagu dapat digantikan dengan data medis, misalnya untuk keperluan e-health.)

Namun ada kemungkinan juga Anda masih gagal karena memang teknologi masih belum tersedia, hukum boleh memperbolehkan, orang yang sanggup melakukannya belum ada, dan seterusnya.

Pertanyaan selanjutnya…

4. Apakah Anda jagoan di bidang (start up) itu?

Jika tidak, lupakan saja ide Anda. Orang lain akan memecahkan masalah tersebut dengan lebih baik, sehingga start up mereka (jika mereka membuatnya) akan memiliki potensi kesuksesan yang lebih besar daripada Anda. Anda harus menjadi yang terbaik di bidang Anda. Harus!

Ini adalah sesi pertama saya. Pembahasan di sini mungkin masih terlalu singkat, tetapi mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada para pembaca.


Menceritakan Sejarah

Salah satu alasan saya suka menonton History channel di TV adalah cara mereka menceritakan sejarah. Sangat menarik sekali. Sebagai contoh, seri Pawn Stars sangat menarik. Di acara itu diceritakan tentang sebuah toko gadai yang membeli dan menjual barang. Ceritanya lebih banyak tentang bagian membelinya. Yang membuatnya menjadi menarik adalah cerita dan pengetahuan di balik barang yang dijual. Bagaimana dia (mereka) mengetahui hal itu?

Di Indonesia, kita sering tidak menghargai sejarah. Kita bilang bahwa kita menghargai sejarah, tetapi pada kenyataannya tidak. Hayo, siapa yang senang kelas sejarah?

Masalahnya adalah bagaimana mengajarkan atau menceritakan sejarah. Umumnya ini dilakukan dengan cara yang sangat membosankan. Ceritanya hanya tentang data, tetapi tidak ada emosi di belakangnya. Padahal justru ceritanya itu yang membuat apa saja menjadi menarik.

Saya sendiri menyukai sejarah yang berhubungan dengan komputer. Ketika mengajar, saya sering bercerita hal-hal yang terjadi di belakang layar. Sangat menarik. (Misal, ketika membahas tentang “shellshock” atau “bash bug”, saya bercerita tentang sejarah bash – Bourne Again Shell. hi hi hi. Mengapa namanya seperti itu?)¬† Itu pula yang membuat topik yang dibahas menjadi lebih mudah diingat. Melekat selama-lamanya. Dan … tanpa penyiksaan harus mendengarkan cerita yang membosankan. hi hi hi.

Nampaknya kita harus lebih banyak belajar cara bercerita. Story telling.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.170 pengikut lainnya.