Belajar Tidak Selalu Berhasil

Seharian ini saya mencoba ngoprek pemrograman lagi. Coding. Sebetulnya saya hanya ingin mencoba menggunakan bahasa pemrograman Golang untuk membaca webcam saya melalui OpenCV. Masalahnya versi OpenCV yang didukung Golang adalah versi terbaru yang tidak ada di komputer saya. Artinya saya harus mengunduh dan merakit (compile) sendiri. Oke lah.

Dahulu saya biasa merakit sendiri berbagai paket program dari kode sumbernya. Tidak masalah. Namun sekarang ternyata proses perakitannya menjadi lebih kompleks. Ini disebabkan kode sumbernya juga semakin kompleks dan platform yang digunakan orang juga bervariasi sehingga ada banyak konfigurasi yang harus dilakukan. Ternyata konfigurasi bawaan dari paket ini tidak cocok dengan sistem operasi yang saya gunakan (Linux Mint 18.1 Serena).

Setelah ngoprek nyaris seharian – dari pagi sampai menjelang Maghrib ini – ternyata hasilnya tidak ada, alias gagal. Ya begitulah. Belajar kadang memang harus seperti ini. Banyak gagalnya dahulu. Tidak selalu harus berhasil. Kesel memang. (Ini ngetiknya juga sambil kesel.) Habis mau gimana lagi? Keselnya saya adalah karena menghabiskan waktu yang seharusnya dapat saya gunakan untuk belajar yang lainnya. Grrr.

Anggap saja ini adalah upaya saya untuk menambah “jam terbang” ngoprek Linux. (Padahal saya ngoprek Linux sejak pertama kali dia dibuat Linus. ha ha ha.)

Berikut layar terakhir hari ini sebelum saya berhenti dulu. “100% tapi gagal”. Heu.

Oh ya, versi videonya ada di YouTube channel saya. Ini dia.

Era Pendidikan 1-on-1

Sekolah dari rumah (school from home) memaksa banyak orang untuk menggunakan teknologi informasi. Mulai ada “masalah” terkait dengan ujian. Kebanyakan guru atau dosen masih menggunakan ujian secara konvensional. Kasih soal yang sama, kemudian semua mahasiswa harus menjawab. Ada LMS (Learning Management System) yang membantu mengacak soal dan jawaban sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang ingin nyontek atau mengunakan joki, tetapi ini sulit dengan kondisi saat ini.

Saya mengambil pendekatan yang berbeda. Ujian yang saya berikan kepada mahasiswa saya biasanya adalah membuat makalah, yang notabene akan berbeda-beda antar mahasiswa. Dengan kata lain, saya tidak mempunyai masalah nyontek atau joki. Namun timbul “masalah” baru bagi saya, yaitu untuk memeriksanya tidak dapat dilakukan secara gelondongan. Harus satu persatu. Selamat datang di era pendidikan 1-on-1, atau saya terjemahkan 1-ke-1.

Jika digeneralisir, pendidikan jaman sekarang masih bersifat pabrik. Semua siswa dibuat sama. Semua harus bisa mengerjakan soal yang sama. Bahan pelajaran sama. Ujian juga sama. Memang tujuannya adalah lulusannya dapat bekerja di tempat yang sama. Pabrik. Untuk pekerjaan yang individual, pendidikan seperti ini tidak cocok.

Pendidikan 1-ke-1 memberikan perhatian yang spesifik ke satu siswa. Bahan yang diberikan ke satu siswa boleh jadi berbeda dengan siswa satunya lagi. Ada siswa yang mudah mengerti dengan tulisan, sementara ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan diagram. Kecepatan belajar siswa juga akan berbeda. Sekarang semua disamakan. Harus selesai pada saat yang sama. Pada pendidikan 1-ke-1, kecepatan belajar siswa dapat berbeda. Artinya, masuk sekolah dan selesainya pun dapat berbeda.

Dahulu hal semacam ini tidak memungkinkan karena kekurangan tenaga pengajar. Namun sekarang dengan bantuan teknologi informasi (aplikasi, database, big data, artificial intelligence) seharusnya ini dapat dilakukan. Namun memang harus ada upaya yang terstruktur dan terencana untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Ayo kita mulai.

Tanda Kehadiran Kelas Secara Digital

Kuliah sudah (hampir) selesai. Sekarang mulai masuk ke UAS (Ujian Akhir Semester). Bagi kelas saya, UAS ini dapat dilakukan di rumah karena kebetulan berupa makalah (term paper). (Untuk yang harus ujian tertulis seperti yang dilakukan secara konvensional akan kita bahas secara terpisah. Wah harus buat tulisan lagi ya?) Yang saat ini menjadi masalah adalah daftar kehadiran.

Saat ini kelas banyak yang dilakukan secara daring (online). Sebagai contoh, ini adalah cuplikan foto kelas saya yang baru selesai satu jam yang lalu. Kelas yang lain juga mirip.

advanced-programming

Bagaimana mengubah kehadiran di video conferencing (yang dalam kasus ini menggunakan aplikasi Zoom) menjadi daftar hadir kelas? Sebetulnya ini dapat dilakukan secara manual, tetapi bayangkan jika semua kelas sekarang melakukan hal ini. Harus ada cara yang mudah dan otomatis. Ini tantangan bagi pengembang teknologi. Ayo buat!

Duduk Mengajar

Dikarenakan wabah virus corona, maka perkuliahan di ITB (dan dimana-mana) terpaksa harus dilakukan secara daring (online). Saya sendiri sebetulnya sudah terbiasa mengajar kelas secara online. Ada kelas saya yang dilakukan di dua tempat bersamaan; di kampus Ganesha (ITB) dan di kampus ITB yang di Jatinangor. Ada kelas yang dilakukan secara online tetapi tidak real-time, dalam artian saya tidak langsung mengajar pada saat yang besamaan, misalnya yang di IndonesiaX. Ada juga kelas yang memang benar-benar saya lakukan secara menyeluruh online seperti yang saya lakukan di President University. Ada juga channel YouTube, tetapi ini cerita yang berbeda. Intinya, mengajar online bukan hal yang baru bagi saya, Hanya kali ini sedikit berbeda karena semua kegiatan ajar-mengajar dilakukan secara online.

Ternyata salah satu hal yang melelahkan bagi saya adalah duduk mengajar. Kalau di kelas biasa, kelas tatap muka secara fisik, saya biasanya mengajar sambil berdiri dan berjalan di depan kelas. Melakukan ini juga melelahkan, tetapi ternyata duduk itu lebih membuat badan ini pegal-pegal. Sebelum tulisan ini ditulis, saya baru beres mengajar dua kelas dan melakukan satu rapat secara online. Terus menerus dari pukul 9 pagi sampai pukul 15 sore. Bayangkan. Ternyata pegel linux juga. Ha ha ha.

Situasi ketika mengajar online

Kursi yang saya gunakan sudah cukup bagus. Bagus. Jadi ini bukan salah kursinya, tetapi memang bekerja secara online itu tetap melelahkan. Hmm. Mungkin saya yang salah. Mungkin seharusnya cara saya mengajar online-pun harus saya lakukan dengan berdiri ya? Hmmm. Nampaknya saya akan mencoba ini. Saya harus membuat dudukan untuk webcam yang lebih fleksibel. Akan dicoba di skedul kelas berikutnya. Sementara itu, sekarang saya mau istirahat dulu. Nonton TV (dokumenter) dulu ah.

Mengejar Belajar

Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka ingin (ikut) belajar ini dan itu. Ketika saya mengatakan bahwa saya memberikan pelajaran ini dan itu (dan itu terbuka untuk umum), banyak yang bilang ingin ikutan. Hampir semua hanya sekedar bicara saja, tetapi tidak ada aksinya. Jadi kalau ada yang bilang, pak saya ingin ikutan ini dan itu, saya hanya tertawa. Yeah, right.

Belajar itu susah. Belajar itu mahal. Belajar itu membutuhkan waktu. Belajar itu membutuhkan usaha. Masih ada hambatan lain (lebih tepatnya alasan) dalam berusaha untuk (tidak) belajar. Ini baru pada tahap berusahanya dulu lho, belum sampai pada hasilnya.

Ketika ada orang yang hebat, maka saya kejar mereka untuk belajar. Saya satroni. Saya sisihkan waktu saya untuk mendatangi yang bersangkutan. Alasan-asalan saya tebas, hanya untuk memastikan bahwa saya bisa belajar.

Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu saya mengundang beberapa orang yang jagoan dalam bidang perkopian (dalam artian mereka memiliki usaha di bidang tersebut) dan beberapa orang penggemar kopi. Tujuannya adalah untuk berdiskusi soal alat kopi. Kali ini memang topik utamanya adalah itu, meskipun pada kenyataannya ada banyak topik yang dibicarakan. Alhamdulillah ada banyak yang datang. Ini foto sebagian yang datang.

Bandung Connection: Coffee moguls in Bandung

Saya senang sekali dapat belajar ke mereka. Luar biasa ilmu-ilmunya.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika ingin belajar, ya harus mau usaha. Harus dikejar. Itu saja. Sebagian besar orang, tidak mau usaha.

Belajar dari biografi

Biografi. Perjalanan hidup seseorang. Wah. Ini salah satu bacaan yang paling saya sukai. Untuk mengetahui mengapa dia melakukan sesuatu, saya perlu belajar dari perjalanan hidupnya. Dan seringkali setelah mengetahui itu saya menjadi lebih apresiasi terhadap karya-karyanya.

Biografi dari orang asing selalu lebih menyenangkan karena yang diceritakan bukan hanya keberhasilannya saja, tetapi kegagalan demi kegagalan juga. Malah, seringkali porsi kegagalan ini jauh lebih banyak dari suksesnya. Mungkin kalau orang Indonesia, malu untuk menceritakan kegagalan ya?

Dahulu saya melakukan ini dengan membaca buku-buku. Sekarang sudah ada YouTube dan Netflix yang mendokumentasikan ini semua. Asyik. Waktu untuk belajarnya jauh lebih singkat, meskipun banyak detail yang dihilangkan. Jadi buku memang selalu lebih baik. Asal kita punya waktu lebih banyak saja. Tapi memang menonton video jauh lebih mudah. Sayangnya video-video masih jarang tersedia secara gratisan. Saya terpaksa menontonnya di Netflix yang berbayar. Itu salah satu alasan saya berlangganan Netflix. Sayang sekali, saat ini Netflix difilter oleh ISP Indihome.

Biografi yang baru-baru ini saya lihat antara lain:

  • Annie Leibovitz: fotografer terkenal. Awalnya dia terkenal sebagai fotografer dari Rolling Stones (band dan majalah). Foto-fotonya banyak yang menjadi legendaris.
  • Dolly Parton: penyanyi country legendaris dengan suara yang khas dan potongan rambut (wig) yang khas juga.
  • Quncy Jones: produser legendaris. Saya baru sadar bahwa dia termasuk generasi “lawas”, yaitu generasi masa Miles Davis, Frank Sinatra, dan seterusnya. Perkenalan saya sebetulnya melalui album-album yang lebih “baru”, seperti albumnya Michael Jackson. Etika kerjanya luar biasa. Saya yang super sibuk saja mungkin tidak sanggup mengalahkan kekuatan fisiknya.

Biografi siapa lagi yang pantas untuk ditonton?

Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Belajar Gagal

Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang dalam perjalanan hidupnya selalu berhasil. Tidak pernah gagal. Sekolahnya bagus terus nilainya. Setelah selesai kuliah, kemudian dia bekerja. Maka mulailah terjadi masalah karena beberapa kali dia gagal. Singkat ceritanya, akhirnya dia bunuh diri. Hah??? Iya.

Akhir-akhir ini saya mendengar berbagai cerita yang mirip, yang pada intinya adalah banyak orang yang dalam perjalanan hidupnya tidak pernah atau jarang mengalami kegagalan. Semua harus berhasil. Tidak boleh salah. Akibatnya, dalam kehidupannya dia selalu merasa takut gagal dan takut salah. Orang seperti ini biasanya bersifat defensif. Begitu dikritik sedikit, maka dia akan ngamuk atau depresi.

Sekarang saya akan melihat ini dari kacamata saya sebagai seorang pendidik. Seorang dosen. Ada yang salah dalam pendidikan kita ini. Kita mengajari anak-anak untuk tidak boleh salah. Tidak boleh gagal. Mari kita ambil contoh. Dalam ulangan atau ujian, siswa dinilai. Ada yang nilainya bagus dan ada yang nilainya buruk dan bahkan ada yang tidak lulus. Setelah itu, ya sudah selesai.

Lah memangnya ada kelanjutannya lagi? Ada. Yang gagal seharusnya diberi kesempatan untuk memperbaiki. Ini tidak terjadi! Kenapa ini tidak terjadi? Karena ini merupakan beban tambahan bagi sang guru (dosen). Bagi dia, lebih baik memberi nilai dan sudah. Salah sendiri bagi yang nilainya buruk. Salah sendiri mengapa tidak belajar. Guru (dosen) tidak mau sibuk. Sistem di sekolahanpun memaksa guru (dosen) untuk memberikan nilai sekarang juga karena sekolahan dituntut untuk mengeluarkan nilai secara tepat waktu (peduli amat tentang masalah guru dan siswanya).

Saya mencoba memecahkan masalah ini dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa saya untuk memperbaiki nilai ujian (makalah) yang mereka kerjakan. Untuk itu memang saya menjadi kerja dua kali (atau lebih). Selain itu nilai yang saya berikan juga jadi terlambat. (Sebetulnya tidak terlambat, tetapi banyak mahasiswa yang nilainya T atau incomplete alias belum selesai.) Akibatnya saya sering ditegur. Mereka tidak tahu bahwa nilai saya lambat masuk bukan karena saya lalai, tetapi karena saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk gagal.

Pelajaran yang ingin saya berikan kepada mahasiswa saya adalah; (1) gagal adalah hal yang biasa, ulangi lagi, (2) yang tidak boleh adalah curang (misal plagiat, nyontek). Poin (2) itu, yaitu curang, dapat dilakukan oleh mahasiswa karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki. Dengan metoda saya, mereka tidak perlu curang. Kalaupun gagal dapat diulangi lagi. Lakukan dengan kemampuan diri sendiri.

Kembali ke poin utamanya adalah kita semua (apalagi anak-anak) harus diajari untuk gagal. Bahwa kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Lawan terus. Kita bisa!

Rektor Asing?

Belakangan ini sedang ramai dibicarakan tentang kemungkinan menggunakan tenaga kerja asing untuk menjadi rektor di perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu alasannya adalah agar perguruan tinggi di Indonesia meningkat peringkatnya di dunia.

Pendapat saya soal hal ini adalah oke-oke saja, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jadi saya sampaikan dahulu kontra-nya, baru nanti pro-nya.

Pertama, rektor asing belum tentu memahami situasi di Indonesia. Bagi yang pernah menggeluti perguruan tinggi di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia di lingkungan perguruan tinggi lagi pasti dapat memahami perbedaan yang besar. (Saya cukup lama di Kanada sebagai mahasiswa dan juga sempat mengajar / jadi dosen di sana. Saat ini saya dosen di ITB.) Bagi orang asing yang ke Indonesia – atau bahkan orang Indonesia yang lama di luar negeri kemudian kembali ke Indonesia – pasti akan mengalami culture shock. Ada banyak hal di Indonesia yang “tertinggal” di bandingkan dengan kawannya di luar negeri. Kalau tidak dapat menyesuaikan diri, pasti frustasi.

Rektor (asing) ini menghadapi banyak dosen yang sesungguhnya tidak berniat mengajar atau meneliti. Banyak dosen yang hanya ingin statusnya saja, atau mengejar pangkat (gelar, ketenaran) saja. Eh, jangankan dosen, ada juga orang yang menjadi rektor karena merupakan batu loncatan untuk menjadi menteri. Dosen mengajar hanya untuk mendapatkan nilai (kum) saja. Bukan karena ingin mengajarkan ilmunya.

Penelitian yang dilakukan dosen pun banyak yang ngasal. Asal hanya mendapatkan dana saja. Menulis makalah-pun kebanyakan ngasal. Dana penelitian juga datangnya telat. Sebagai contoh, dana penelitian yang harusnya turun di awal tahun baru turun di bulan September. Sementara bulan November laporan hasil penelitian harus masuk. Bagaimana mau menjalankan penelitian model begini? Tahun depannya juga belum tentu ada dana penelitian. Topik penelitianpun berubah-ubah. Tidak ada konsistensi.

Itulah sebabnya tingkat penelitian di Indonesia rendah. Tidak aneh, bukan?

Mahasiswa yang ada juga tidak kalah kacaunya. Banyak mahasiswa yang sebetulnya tidak serius kuliah. Alasan mereka ke kampus adalah daripada nganggur di rumah. Tidak ada semangat untuk kuliah. Apa harapan Anda dengan perguruan tinggi yang mahasiswanya seperti ini?

Tingkat perguruan tinggi salah satunya diukur dengan jumlah penelitian yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut. Penelitian-penelitian seperti ini umumnya terjadi di tingkat S3 (dan juga S2), bukan S1. Maka seharusnya yang lebih ditekankan adalah mahasiswa S2 dan S3. Sayangnya di Indonesia fokusnya malah mendapatkan mahasiswa S1. Ya, tidak akan naik peringkatnya.

Berdasarkan itu semua, rektor asing mungkin tidak akan berpengaruh kepada peringkat perguruan tinggi di Indonesia.

Namun ada hal-hal yang mungkin dapat berubah dengan adanya rektor asing. Ini pro-nya.

Rektor asing tidak memiliki (conflict of) interest untuk menjadi menteri. Maka dia tidak menggunakan jabatannya ini sebagai batu loncatan. Mereka juga tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan banyak pihak di Indonesia sehingga hal-hal yang terkait dengan KKN (terutama aspek nepotisme-nya) tidak terjadi.

Rektor asing dapat membawa budaya pendidikan yang lebih baik. Dia dapat membawa koneksi-koneksi pendidikannya. Hubungan ke perguruan tinggi di luar negeri (misal dari tempat dia berasal) dan lembaga penelitian dapat diperbaiki. Kredibilitas dari perguruan tinggi dapat naik sehingga dipercaya oleh lembaga asing untuk melakukan penelitian, misalnya.

Jadi, mungkin saja rektor asing dapat memperbaiki kualitas perguruan tinggi di Indonesia.

Membaca dan Bercerita

Akhir-akhir ini saya merasa lebih susah lagi dalam membaca. Ketika saya membaca sesuatu yang bagus, maka saya langsung berhenti. Takut lupa. Mencoba memaknai. Tetapi ujung-ujungnya adalah mengkhayal. ha ha ha. Akibatnya kecepatan membaca buku menjadi sangat lama.

Selain itu timbul perasaan bahwa percuma saja kalau saya membaca buku kemudian yang pintar hanya saya sendiri. Saya harus mengajarkan kepada orang lain. Harus bercerita. Langsung dipikirkan skenario-skenario berceritanya. Biasanya dalam bentuk presentasi karena itu yang paling mudah saya lakukan. Seharusnya sih dalam bentuk tulisan lagi. Buku! Tapi ini paling berat dan lambat. Lagi-lagi akibatnya adalah kecepatan membaca jadi jatuh lagi.

Di jaman YouTube begini, nampaknya lebih mudah kalau direkam saja ya. Nanti kita bandingan. Mana yang lebih mudah; membuat video atau menulis di blog ini. Sebetulnya untuk merekam videonya sih mudah. Menyuntingnya (edit) itu yang menghabiskan waktu.

Oh ya, saya sudah memiliki channel di YouTube. Silahkan cari sendiri ya. Ini pekerjaan rumah untuk Anda. ha ha ha.

Teknik Mengajari Seseorang

Pada suatu hari Hasan dan Husein sedang berada di masjid. Mereka melihat seorang tua yang sedang berwudhu. Diperhatikan, cara berwudhunya salah. Kemudian orang tua ini melakukan shalat, tata caranya pun shalat. Eh, salaaahhh. Hasan dan Husein ingin mengajari orang tua ini, tetapi mereka masih terlalu muda. Jika mereka menegur dan mengajari, kemungkinan besar orang tua ini akan marah dan tidak mau terima. Jadi harus bagaimana?

Mereka berdua akhirnya mencari cara yang lebih baik. Mereka pura-pura bertengkar tentang tata cara wudhu dan shalat mereka di depan sang orang tua tersebut. Mereka kemudian pura-pura minta tolong kepada orang tua tersebut untuk memberitahu mereka cara wudhu (dan shalat) mana yang lebih benar. Orang tua tersebut memberi tahu tata cara wudhu dan shalat yang benar. Ah, dia teringat kembali tata caranya yang benar. Pada saat yang sama dia tidak dipermalukan.

Ini adalah salah satu teknik untuk mengajari seseorang. Ada kalanya ego seseorang terlalu besar untuk diberitahu bahwa dia salah. Jika kita langung mengatakan bahwa Anda salah, ini yang benar maka kemungkinan besar dia tidak akan terima. Dia akan merasa malu dan akan mempertahankan pendapatnya (yang salah). Akhirnya tujuan untuk mengajari yang benar menjadi tidak tercapai. Ingat, tujuannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa kita benar. Tidak penting “kita”nya. Jangan karena kita merasa ingin dikatakan benar maka kita memaksakan diri. Tahanlah ego.

Jadi ketika saya bertanya, mungkin sebetulnya saya sedang mengajari Anda. hi hi hi.

Banyak

Banyak orang senang menggunakan kata “banyak“. Lah, kalimat barusan juga. ha ha ha. Eh, tapi serius sedikit. Beberapa kali saya menguji mahasiswa dan menanyakan berapa kali pengujian yang sudah dia lakukan. Jawabannya adalah “banyak”. Maksudnya? Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata dia melakukan percobaannya sepuluh kali. Wah, itu belum “banyak” menurut saya. Kalau 40 itu banyak, menurut saya. (sttt … jangan ditanya kenapa ya. hi hi hi.)

Kadang kata “banyak” cukup untuk menjelaskan sesuatu, tetapi ketika kita berbicara angka – kuantitatif – kata “banyak” itu harus digantikan dengan sebuah angka. 3? 7? 73?

Angka 12 dapat disebut banyak kalau terkait dengan jumlah anak. Banyak itu. Angka 12 disebut sedikit kalau dia menyatakan jumlah penduduk sebuah kota. Sedikit sekali, bahkan.

Seringkali kita tidak dapat menentukan angka persisnya, tetapi yang lebih penting adalah “ball of park”-nya. Apakah puluhan? Ratusan? Ribuan? Jutaan? Jadi ketika Anda menyatakan “banyak”, sebutkan juga perkiraan rentangnya.

7? 15? 75? 300? 2500? 64.000? 120.000? 1.000.000? 1 Milyar?

Kuliah Pagi Ini: Hash

Pagi ini seharusnya adalah waktunya UTS, tetapi di kelas saya tidak ada UTS. Adanya makalah di akhir kelas. Term paper. Maka pagi tadi saya memilih untuk mengajar.

Kuliah tadi pagi melanjutkan kuliah sebelumnya yang menyisakan bagian akhir dari kriptografi. Mulailah saya menjelaskan tentang message digest dan fungsi hash. Untuk menjelaskannya saya langsung membuat kode singkat di depan kelas. Live coding. Sebetulnya saya tidak berencana untuk langsung membuat kode di depan kelas karena seingat saya kodenya sudah ada di komputer. Baru teringat bahwa kode tersebut ada di komputer saya di rumah. Yang ada adalah screenshot yang saya ambil. Yaaah. Tapi saya teringat kodenya (karena gampang kok). Langsung saya kodekan. Lima menit selesai.

Kode singkat BR1-hash

Intinya adalah saya menunjukkan bahwa fungsi hash itu dapat dibuat dengan menjumlahkan karakter-karakter yang membentuk sebuah kata. Misalnya kata yang ingin kita hash-kan adalah “BUDI”, maka kita ambil nilai ASCII dari ‘B’, ‘U’, ‘D’, ‘I’ dan dijumlahkan. Hasil perjumlahannya adalah 292. Jadi nilai hash-nya adalah 292. Ketika ada orang yang mengubah kata tersebut menjadi “RUDI”, maka nilai hash-nya menjadi tidak cocok.

Kemudian saya cerita tentang pemanfaatan hash ini dalam pemrograman database sampai ke Blockchain. Untuk yang ini, ceritanya lain kali saja ya. Sudah kepanjangan.

Kehadiran di Dunia Siber

Salah satu tugas yang saya berikan kepada mahasiswa MBA saya adalah melakukan pencatatan kehadiran kita di dunia siber – atau lebih tepatnya di media sosial. “Kita” yang dimaksud di sini boleh berarti akun pribadi, boleh jadi akun bisnis yang ingin kita kembangkan. Keberadaan ini dapat kita anggap sebagai salah satu tolok ukur kepopuleran yang nantinya dapat digunakan sebagai bagian dari marketing. Itu pelajaran berikutnya (yang nanti juga akan saya coba tampilkan).

Mencatat adalah salah satu kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum kita dapat melakukan pengelolaan. Bagaimana kita dapat meningkatkan keberadaan kita di dunia siber jika kita tidak mencatat? Maka kebiasaan mencatat merupakan kegiatan yang baik.

Apa yang dicatat? Kita mulai dari yang umum saja, media sosial. Pada saat tulisan ini dibuat, media yang paling banyak digunakan adalah Instagram. Oleh sebab itu, itu yang akan dijadikan patokan. Media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter, sempat lebih populer tetapi sekarang Instagram-lah rajanya. Gambar berikut ini merupakan salah satu contoh catatan yang saya buat. (Catatan: akun-akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”.)

Beberapa catatan:

  • Akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”;
  • Facebook page berbeda dengan akun Facebook yang biasa. Akun Facebook biasa saya sudah mencapai batas atas, yaitu 5000 orang. Tidak dapat menambah teman lagi. Ada lebih dari 1000 orang yang menanti untuk diterima pertemanannya. Facebook Page lebih fleksibel, tetapi ternyata lebih sedikit followers-nya. Ini karena tidak saya promosikan;
  • LinkedIn jarang saya gunakan. Ada banyak permintaan untuk disambungkan tetapi karena saya tidak kenal, jadi belum saya terima. Ada sekitar 300-an yang belum saya proses.

Nantinya pencatatan yang kita lakukan secara manual ini dapat diotomatisasi dengan menggunakan program. Ada juga perusahaan yang menyediakan layanan untuk memantau keberadaan kita ini, tetapi kita perlu tahu cara manualnya dahulu.

Data ini akan kita jadikan dasar (baseline) sebelum kita melakukan kegiatan pemasaran. Berbagai aktivitas dapat kita lakukan dan nantinya kita ukur keberhasilannya (efektivitasnya) berdasarkan data kita ini. Nanti akan kita bahas setelah saya memberikan tugas kepada mahasiswa.

Tunggu tanggal mainnya…

Menyikapi Kasus Cuitan CEO Bukalapak

Semalam cuitan CEO Bukalapak menjadi viral. Ini tampilannya.

Cuitan yang sepertinya biasa-biasa itu ternyata menjadi viral karena kalimat yang terakhir yang memuat kata-kata “presiden baru“. Tahun ini memang banyak orang yang sensitif terhadap pemilihan presiden. Sebagian besar orang mengasosiasikan hal ini sebagai dukungan kepada calon presiden 02, Prabowo. Padahal dalam berbagai acara Bukalapak, presiden Jokowi diundang dan hadir. Banyak orang yang mengatakan bahwa Achmad Zaky tidak berterimakasih.

Mulailah dicari-cari kesalahan-kesalahan lain, seperti misalnya data tersebut adalah data tahun 2013 bukan 2016. (Ini sudah direvisi.) Dan banyaklah kesalahan lain yang dicari-cari.

Akibat dari ini maka muncullah gerakan untuk “uninstall” aplikasi Bukalapak (dengan tagarnya). Bahkan ada banyak komentar yang negatif di Playstore. Netizen memang kejam.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan semuanya. Santai saja.

Kebetulan, saya sedang mengajar kuliah “New Venture Management” di MBA Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB. Mahasiswanya adalah para pendiri (dan biasanya CEO) dari usaha-usahanya. Kebetulan ada kasus ini yang dapat saya angkat sebagai studi di kelas.

Andai kita adalah Board of Directors (BoD) dari Bukalapak. Mari kita panggil CEO-nya dan minta pertanggungjawaban. Masalah sudah terjadi. Apa yang harus dilakukan? Itu adalah salah satu dari serangkaian pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa. Apa usulannya?

Usulan pertama adalah adanya permintaan maaf. Itu sudah dilakukan (meskipun ada yang masih belum dapat menerima itu.) Ini adalah langkah klasik.

Usulan-usulan apa lagi? Yang out-of-the-box. Maka mulailah muncul ide-ide yang “cemerlang”. Berikut ini adalah beberapa usulan yang muncul.

Ada usulan untuk menggunakan momen ini untuk menerbitkan voucher khusus. Voucher “mintamaaf“. Saya usulkan namanya voucer “BukaMaaf“. ha ha ha. Orang Indonesia sangat pemaaf.

Usulan berikutnya adalah untuk memanfaatkan spotlight ini. Turn this bad publicity into a marketing stunt. Misalnya, justru gunakan momen ini untuk menjelaskan R&D yang sudah dilakukan di Bukalapak, dan seterusnya. Justru momen ini digunakan untuk lebih memperkenalkan sisi positif dari Bukalapak. Atau mungkin dapat digunakan untuk marketing lain yang lebih menjual. Mumpung lagi dapat sorotan.

Usulan lain lagi adalah membuat short movie. Bukalapak dikenal dengan iklan-iklannya yang berbau cerita. Misalnya dalam cerita ini dikisahkan Achmad Zaky dipecat dan Bukalapak bangkrut. Kemudian ditunjukkan kerugian yang terjadi bagi Indonesia. Saya malah menambahkan sedikit twist di plot ceritanya. Diceritakan Achmad Zaky pulang ke Solo dan ketemuan dengan Jokowi (yang kw saja – Jokowi kw – ha ha ha). Kemudian Zaky berkeluh kesah kepada Jokowi dan ditanggapi dengan baik. Bahkan di akhir ceritanya diberi sepeda. “Ini sepedanya”. he he he. (Dan sepedanya itu yang kemudian dibawa ke ITB untuk dijadikan sepeda di kampus ITB – yang sekarang sudah ada pun.)

Dan masih banyak usulan-usulan lainnya lagi. Serulah. Kelas menjadi menarik. Alhamdulillah ada kasus yang dapat dibahas di kelas.