Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.

Iklan

Mengapa Bahasa Python?

Saya ingin belajar bahasa pemrograman. Bahasa apa yang sebaiknya saya pelajari?

Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan yang sering (dan berulang) ditanyakan. Jawabannya bergantung kepada waktu. Jawaban beberapa tahun yang lalu akan berbeda dengan jawaban sekarang. Ini disebabkan oleh pesatnya perkembangan komputer dan bahasa pemrograman.

Jawaban atas pertanyaan ini pada saat sekarang adalah bahasa Python. Mengapa Python?

  1. Mudah. Definisi “mudah” ini tentu saja harus diperjelas lagi. Dia lebih mudah dipelajari daripada bahasa pemrograman lainnya, sehingga Python digunakan oleh orang dari berbagai bidang – tidak hanya orang yang berlatar belakang teknologi informasi saja. Saya melihat banyak penggunaan Python di bidang sains. Bahasa Python juga merupakan sebuah bahasa yang interpreted, yaitu tidak perlu dirakit (compile) dahulu seperti bahasa pemrograman C misalnya. Ini membuat siklus koding menjadi lebih sederhana.
  2. Tersedia di berbagai sistem operasi. Python tersedia untuk sistem operasi Linux, Mac OS X, Windows, dan seterusnya. Tidak semua bahasa pemrograman tersedia dengan baik untuk berbagai sistem operasi. Artinya siapapun dapat menggunakan Python./
  3. Tersedia banyak pustaka (library). Menurut saya ini aspek yang paling penting dari mengapa belajar bahasa Python. Pustaka (library, module) ini membuat pemrograman kita menjadi lebih mudah karena sudah ada orang lain yang mengembangkan alat bantunya. Untuk melakukan statistik, sudah ada pustakanya. Grafik? Ada juga. Untuk bidang-bidang yang khususpun seperti Artificial Intelligence dan Machine Learning juga sudah ada modulnya. Apapun, nampaknya sudah ada. Ini yang membuat bahasa Python sangat menarik dibandingkan bahasa pemrograman lainnya.

Oh ya. Versi video dari penjelasan ini ada di YouTube. Saya sedang memulai channel Padepokan Budi Rahardjo ini di sana. Silahkan dicek (dan juga dikomentari ya – kalau perlu subscribe juga).

Adab-beradab

Adab (Arabic: أدب‎) in the context of behavior, refers to prescribed Islamic etiquette: “refinement, good manners, morals, decorum, decency, humaneness”.

Apa itu adab? Kutipan di atas merupakan definisi yang dapat kita baca dari Wikipedia. Singkatnya adalah keluakuan baik.

Sayang sekali adab ini kok terlihat menurun ya? Banyak yang dapat dikatakan tidak beradab. Mungkin karena tidak pernah diajarkan dan diharapkan orang dapat beradab dengan sendirinya? Nampaknya ini tidak terjadi. Apa perlu diajarkan kembali di sekolahan? Mungkin, tetapi dengan sudah terlalu banyaknya yang harus dipelajari di sekolahan maka pelajaran adab ini sebaiknya dilakukan oleh keluarga dan masyarakat.

Ambil contoh. Semisal kita benar dalam satu hal, maka akan “kurang beradab” kalau kita memamerkan kebenaran kita itu di depan muka orang yang salah. “Saya benar kan? Kamu salah! Weee” (sambil menjulurkan lidah). Yang seperti ini menurut saya tidak beradab.

Saya sering melihat orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi menurut saya mereka lebih berpendidikan (educated) daripada mereka yang sekolahan. Banyak yang punya gelar tapi tidak berpendidikan (uneducated). Nampaknya definisi berpendidikan juga harus kita lihat ulang. Bukan dari gelar, tetapi dari tingkah lakunya.

Setuju?

Mengajarkan Cyber Security

Minggu lalu saya diminta untuk memberikan presentasi tentang cyber crime (yang akhirnya saya buat lebih umum menjadi cyber security) kepada siswa SMP, SMA, guru-guru dan orang tua di Al Izhar Jakarta. Baiklah. Ini merupakan tantangan tersendiri karena biasanya pendengar presentasi saya adalah mahasiswa.

Beberapa hal utama yang saya sampaikan adalah tentang privasi dan hoax. Bagaimana kita harus menjaga privasi kita dan berbagai kemungkinan serangan terhadap pencurian data pribadi kita. Sementara tentang hoax adalah kita harus MAU mencari informasi dan banyak membaca. (Kata MAU memang sengaja saya tebalkan karena masalahnya bukan bisa atau tidak bisa melainkan mau atau tidak mau.)

Secara umum acaranya berjalan lancar. Sayangnya saya tidak banyak mengambil foto. Maklum, susah kan menjadi pembicara dan mengambil foto.

IMG_20180928_094643 kids
kids are always kids

Foto di atas adalah foto siswa SMP. Bagaimana kalau guru-gurunya berfoto? Sama saja. ha ha ha.

guru-al-izhar_0001

Semoga apa yang saya presentasikan dapat bermanfaat bagi semuanya.

Minggu Pertama Perkuliahan

Minggu lalu adalah minggu pertama perkuliahan semester ini di ITB. Sebagaimana sudah saya antisipasi, jadwal saya kacau balau. hi hi hi. Berikut ini adalah daftar kuliah yang saya ajar semester ini.

BR kuliah 2018

Terlalu banyak bukan? Biasanya dalam satu semester saya hanya mengajar dua mata kuliah. Jadwal di atas belum pasti karena ada dua mata kuliah yang hanya dua orang pesertanya. Kuliah tersebut juga sebenarnya harusnya diberikan semester depan. Ada kemungkinan kedua kuliah tersebut saya batalkan.

Untuk kuliah yang bisnis, itu dijalankan oleh tiga orang dosen beserta beberapa mentor. (Mentornya hebat-hebat.) Jadi saya tidak harus selalu berada di kelas pada hari itu. (Biasanya ada pertemuan – mentoring – di luar jam kelas tersebut,)

Mudah-mudahan minggu ini sudah lebih jelas lagi jadwal perkuliahannya.

Indonesia Darurat Menulis

(Hampir) setiap minggu, di kantor kami ada acara sesi berbagi dimana topik yang ditampilkan sangat bervariasi. Minggu lalu saya mengangkat topik “Menulis”. Ini adalah sedikit cerita tentang itu, meskipun judulnya agak sedikit bombastis.

menulisSebagai seorang dosen, salah satu pekerjaan saya adalah memeriksa tugas mahasiswa. Tugas yang saya berikan kebanyakan adalah membuat makalah. Menulis. Hasilnya? Sudah dapat ditebak, sangat tidak memuaskan. Ternyata mahasiswa Indonesia tidak dapat menulis! Hadoh.

Di luar kampus, saya terlibat dalam berbagai perusahaan (yang umumnya bernuansa teknologi). Lagi-lagi saya melihat sulitnya mencari sumber daya manusia yang dapat menulis. Padahal salah satu aspek utama di dalam perusahaan adalah adanya tulisan; antara lain berupa proposal, laporan pekerjaan, paten, dan seterusnya. Bahkan salah satu bottleneck di perusahaan kami adalah penulisan laporan.

Menulis itu pada dasarnya adalah menyampaikan gagasan kepada pembaca. Ada beberapa kata kunci di sana. Yang pertama adalah pembaca. Kita harus tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Untuk tulisan yang terkait dengan urusan akademik, pembacanya adalah peneliti lain atau dosen penguji. Untuk tulisan yang terkait dengan bisnis, pembacanya adalah calon klien (bohir). Untuk tulisan di majalah atau surat kabar, pembacanya adalah orang awan. Untuk tulisan dalam buku cerita anak-anak, pembacanya adalah anak-anak. Dan seterusnya.

Perbedaan pembaca inilah yang membuat tulisan kita juga berbeda-beda. Untuk tulisan yang akademik, adanya rumus matematik merupakan hal yang penting (dan menguntungkan bagi penulis). Sementara itu jika tulisan yang akan kita berikan ke surat kabar ternyata ada rumus matematiknya, kemungkinan besar akan ditolak.

Kata kunci kedua adalah gagasan. Apa yang ingin kita sampaikan? Seringkali ada banyak gagasan yang ingin dituangkan sekaligus. Hasilnya? Ya membingungkan. Batasi gagasan yang ingin kita sampaikan. Biasanya maksimal dalam satu tulisan ada tiga (3) gagasan. Lebih dari itu sebaiknya dipecah menjadi beberapa tulisan saja.

Kata kunci ketiga adalah menyampaikan. Bagaimana cara menyampaikannya lagi-lagi terkait dengan media yang digunakan oleh pembaca. Jika medianya adalah jurnal akademik, maka cara penyampaiannya juga sanga formal dan bahkan harus sesuai dengan standar yang ada. Seringkali mahasiswa tidak mengetahui hal ini. Ketika ditanya “mengapa format judul seperti itu” mereka tidak dapat menjawab. Kalaupun menjawab adalah karena perkiraan mereka atau karena melihat yang lain, tapi mau mencaritahu standar yang sesungguhnya digunakan.

Demikian pula ketika kita menulis di surat kabar, maka ada tata cara penyampaiannya. Ada batasan jumlah kata yang diperkenankan dalam satu artikel. Penggunaan bahasanya pun juga lebih luwes.

Menulis merupakan sebuah kemampuan (skill) yang harus dilatih. Dia harus dilatih secara rutin dan sering. Ketika kita memulai latihan menulis, pasti kualitasnya jelek. Namanya juga baru latihan. Sama seperti kalau kita mulai belajar naik sepeda. Tidak bisa langsung bisa. Ada jatuh bangunnya. Demikian pula dalam menulis. Maka salah satu pekerjaan rumah (PR) yang saya berikan kepada peserta kemarin (dan Anda juga) adalah berlatih menulis SETIAP HARI. (Terpaksa itu saya tulis dalam huruf besar dan cetak tebal.) Mari kita menulis satu paragraf setiap hari. Mari kita mulai dari kuantitas dahulu. Setelah itu tercapai, barulah kita bicara soal kualitas.

Ada satu hal lagi yang harus dibahas, yaitu penggunaan Bahasa Indonesa yang baik dan benar. Ah, ini sebaiknya menjadi topik yang terpisah. Sudah terlalu banyak gagasan yang ingin saya sampaikan. Nah.

Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.