Category Archives: Pendidikan

Kuliah Dimulai

Minggu ini (mulai dari tanggal 22 Agustus 2016 kemarin) dimulai perkuliahan di ITB. Untuk semester ini saya mengajar dua kuliah saja; Keamanan Jaringan & Informasi (S2) dan Pengantar Teknologi Informasi (S1).

Kuliah Keamanan Jaringan dan Informasi bertemu di pagi hari. Kami membicarakan tentang administrasi perkuliahan. Salah satu masalah yang kami hadapi adalah tempat untuk berbagi materi dan kordinasi. Nampaknya kami akan menggunakan Trello karena tempat e-learning yang ada saat ini masih bermasalah. (Ada banyak masalah yang nanti akan saya tulisan secara terpisah.) Kordinasi mungkin menggunakan aplikasi Telegram atau Slack. Kita lihat apakah konfigurasi seperti ini bisa berjalan.

Kuliah kedua, Pengantar Teknologi Informasi, seharusnya sudah dimulai tetapi ketika saya datang ke kelas … mahasiswanya tidak hadir. Saya menunggu satu jaman sambil membaca dokumen dan internetan. (Kalau tidak ada internet mungkin saya sudah bete duluan. he he he.) Akhirnya kelas saya anggap WO. Kita lihat minggu depan.

14054350_10153805227926526_4904123483812699040_o

Ini foto kelas yang kosong itu

Semangat … Eh, ada mahasiswa kelas yang sedang berlangsung saat ini yang membaca tulisan ini?


Keamanan dan Kinerja Aplikasi

Kemarin seharian saya menjadi salah satu juri dalam lomba aplikasi berbasis open source. Lumayan capek juga seharian menjadi juri. Sekalian ini menjadi tempat bagi saya untuk mengukur pemahaman pengembang software tentang keamanan (security) dan kinerja (performance) dari aplikasi.

Hasilnya? Kalau soal lombanya belum ada hasilnya karena masih berlangsung. Kalau soal masalah pemahaman keamanan dan kinerja ternyata masih cukup jauh juga. Saat ini pengembang masih terlalu fokus kepada aspek fungsional saja. Aspek security masih mengandalkan bawaan dari sistem / framework / tools yang ada saja. Bahkan ada yang menyerahkan kepada network (misal firewall) untuk aspek pengamanan. Sementara itu untuk aspek kinerja, umumnya belum ada yang mengukur. Program aplikasi jalan dan
“cukup cepat” saja sudah cukup bagi mereka.

Nampaknya saya harus membuat tulisan-tulisan mengenai hal ini. Hmmm…


Debat Pembenaran

Melihat debat di media sosial, saya mengambil kesimpulan bahwa para pihak yang berdebat sesungguhnya tidak mencari kebenaran tetapi mencari pembenaran. Masing-masing sudah punya pendapat sendiri-sendiri (yang tidak mau diubah), kemudian mencari argumentasi yang mendukung pendapatnya. Mencari pembenaran.

Ambil contoh yang mendukung. Sembunyikan contoh yang tidak mendukung. Bahkan sekarang seringkali contoh atau argumentasi yang mendukungnya pun tidak diperiksa kebenarannya. Seakan, semakin banyak contoh, semakin benar. hi hi hi.

Ingin dilihat paling benar atau menang dalam perdebatan. Itu tujuannya. Lah, sudah salah.

Diskusi atau debat seperti itu tidak akan memiliki ujung karena yang dicari bukan kebenaran. Yang sama-sama niat untuk mencari kebenaran saja sudah susah untuk menemukannya, apalagi yang masing-masing niatnya bukan itu. Saran saya, untuk yang model debat seperti itu lebih baik tidak usah dilayani.

Atau mungkin masalahnya di medianya. Media sosial nampaknya belum cocok untuk menjadi media diskusi. Entah medianya yang perlu diperbaiki, atau orang-orang yang menggunakannya yang harus lebih banyak belajar untuk mengendalikan teknologi ini.


Minggu Terakhir Perkuliahan

Minggu lalu adalah minggu terakhir perkuliahan di ITB. Selanjutnya adalah Ujian Akhir Semester (UAS). Mahasiswa mulai sibuk dengan tugas-tugas dan persiapan ujian. Sebetulnya dosen-dosen juga sibuk menilai tugas-tugas dan menilai ujian.

P_20160429_090117 students

Kalau sekarang, di akhir kelas sering terjadi potret bersama antara dosen dan mahasiswa. Potret di atas adalah sebagian dari mahasiswa kuliah Keamanan Informasi saya. Mahasiswanya sih banyak, tetapi pada hari itu (Jum’at) banyak mahasiswa saya yang tidak hadir karena mengira saya harus ke Jakarta (untuk peluncuran Telinga Musik Indonesia) tetapi saya memutuskan untuk di Bandung (mengajar, meeting, dan beberapa pekerjaan lainnya).

Selamat ujian untuk mahasiswa dan selamat bertugas untuk para dosen.


Mahasiswa Dan Anggota DPR

Di media sosial banyak yang mencemoohkan kinerja dan pekerjaan anggota DPR. Ada banyak guyonan yang menunjukkan anggota DPR sedang tidur, bolos hadir, dan seterusnya. Mahasiswapun banyak(?) yang mempertanyakan (anggota) DPR ini. Mau tahu kenyataan yang ada saat ini?

Menurut saya, mahasiswa saat ini tidak berbeda dengan anggota DPR!

Mahasiswa datang ke kelas untuk sekedar hadir. Memenuhi kuota kehadiran saja. Administratif.  Ada juga yang datang ke kelas dan kemudian tertidur. Yang bolos juga tidak sedikit kok. Kalau mahasiswa hadir di kelas dan ditanya, “ada pertanyaan?”, tidak ada yang menjawab. (Masih mending anggota DPR ada banyak yang bertanya.)

Lantas apa bedanya mahasiswa dengan anggota DPR?


Kurang Inisiatif dan Secukupnya Saja

Hasil ngobrol-ngobrol dengan sesama teman yang memiliki perusahaan dan juga dengan dosen-dosen, nampaknya ada benang merah dari SDM saat ini. Menurut saya ada dua hal yang sangat bermasalah, yaitu (1) kurang inisiatif, dan (2) bekerja (berusaha) secukupnya saja.

Anak-anak (SDM) sekarang kurang inisiatif. Untuk melakukan sesuatu harus disuruh. Bahkan disuruhnyapun harus rinci dan spesifik. Dalam presentasi sebuah studio animasi minggu lalu, dikatakan bahwa animator sekarang harus diberitahu detail. Tidak bisa lagi disuruh, misalnya, buat “si karakter itu memberi sesuatu ke lawannya”. Nah “memberi sesuatu” itu harus dijabarkan oleh kita, sang pemberi pemerintah. Mereka tidak bisa memiliki inisiatif sendiri menjabarkan itu.

Menurut saya hal ini disebabkan mereka takut salah. Takut kalau mengambil inisiatif ternyata bukan itu yang dimaksud. Padahal salah adalah biasa. Sistem pendidikan dan lingkungan terlalu menghukum orang yang salah jalan. Akibatnya orang takut untuk berinisiatif.

Masalah kedua adalah bekerja secukupnya saja. Kalau diberi tugas A, ya yang dikerjakan hanya A saja. Mereka tidak tertarik untuk mengerjakan A+ atau A, B, C, … dan seterusnya. Padahal justru prestasi itu dicapai ketika mereka bekerja melebihi dari yang diharapkan.

Hal ini mungkin disebabkan oleh hilangnya keingintahuan (curiousity). Entah ini karena malas atau karena mereka melihat orang lain (kawannya) tidak melakukan maka dia juga tidak melakukannya. Untuk apa lebih?

Cukup ah ngomel pagi-pagi ini.


Klakson

Sebetulnya saya termasuk yang tidak suka menggunakan klakson. Berisik. Polusi suara. Mungkin ini kebiasaan yang saya bawa dari dulu dan dari luar negeri. Dan sebetulnya bisa sih mengendarai tanpa menggunakan klakson.

Akhir-akhir ini saya jadi lebih sering menggunakan klakson. Pasalnya, banyak pengemudi – yang umumnya adalah pengendara motor – yang tidak melihat ke kiri, kanan, belakang. Mereka pandangannya lurus ke depan tetapi cara mengendarainya meliuk-liuk. Berbahaya sekali. Begitu saya klakson, baru mereka melihat ke belakang (karena spionnya pun seringkali tidak di arahkan ke belakang – mungkin untuk melihat dirinya sendiri? Ngaca? hi hi hi.) Jadi saya membunyikan klakson karena terpaksa. Sedihnya sekarang lebih banyak terpaksanya daripada tidak terpaksanya.

Saya masih berusaha untuk menahan diri agar tidak membunyikan klakson. Tapi, bagaimana ya mengajari pengemudi agar lebih sering-sering lihat kanan, kiri, dan belakang?


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.887 pengikut lainnya