Membaca dan Bercerita

Akhir-akhir ini saya merasa lebih susah lagi dalam membaca. Ketika saya membaca sesuatu yang bagus, maka saya langsung berhenti. Takut lupa. Mencoba memaknai. Tetapi ujung-ujungnya adalah mengkhayal. ha ha ha. Akibatnya kecepatan membaca buku menjadi sangat lama.

Selain itu timbul perasaan bahwa percuma saja kalau saya membaca buku kemudian yang pintar hanya saya sendiri. Saya harus mengajarkan kepada orang lain. Harus bercerita. Langsung dipikirkan skenario-skenario berceritanya. Biasanya dalam bentuk presentasi karena itu yang paling mudah saya lakukan. Seharusnya sih dalam bentuk tulisan lagi. Buku! Tapi ini paling berat dan lambat. Lagi-lagi akibatnya adalah kecepatan membaca jadi jatuh lagi.

Di jaman YouTube begini, nampaknya lebih mudah kalau direkam saja ya. Nanti kita bandingan. Mana yang lebih mudah; membuat video atau menulis di blog ini. Sebetulnya untuk merekam videonya sih mudah. Menyuntingnya (edit) itu yang menghabiskan waktu.

Oh ya, saya sudah memiliki channel di YouTube. Silahkan cari sendiri ya. Ini pekerjaan rumah untuk Anda. ha ha ha.

Iklan

Teknik Mengajari Seseorang

Pada suatu hari Hasan dan Husein sedang berada di masjid. Mereka melihat seorang tua yang sedang berwudhu. Diperhatikan, cara berwudhunya salah. Kemudian orang tua ini melakukan shalat, tata caranya pun shalat. Eh, salaaahhh. Hasan dan Husein ingin mengajari orang tua ini, tetapi mereka masih terlalu muda. Jika mereka menegur dan mengajari, kemungkinan besar orang tua ini akan marah dan tidak mau terima. Jadi harus bagaimana?

Mereka berdua akhirnya mencari cara yang lebih baik. Mereka pura-pura bertengkar tentang tata cara wudhu dan shalat mereka di depan sang orang tua tersebut. Mereka kemudian pura-pura minta tolong kepada orang tua tersebut untuk memberitahu mereka cara wudhu (dan shalat) mana yang lebih benar. Orang tua tersebut memberi tahu tata cara wudhu dan shalat yang benar. Ah, dia teringat kembali tata caranya yang benar. Pada saat yang sama dia tidak dipermalukan.

Ini adalah salah satu teknik untuk mengajari seseorang. Ada kalanya ego seseorang terlalu besar untuk diberitahu bahwa dia salah. Jika kita langung mengatakan bahwa Anda salah, ini yang benar maka kemungkinan besar dia tidak akan terima. Dia akan merasa malu dan akan mempertahankan pendapatnya (yang salah). Akhirnya tujuan untuk mengajari yang benar menjadi tidak tercapai. Ingat, tujuannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa kita benar. Tidak penting “kita”nya. Jangan karena kita merasa ingin dikatakan benar maka kita memaksakan diri. Tahanlah ego.

Jadi ketika saya bertanya, mungkin sebetulnya saya sedang mengajari Anda. hi hi hi.

Banyak

Banyak orang senang menggunakan kata “banyak“. Lah, kalimat barusan juga. ha ha ha. Eh, tapi serius sedikit. Beberapa kali saya menguji mahasiswa dan menanyakan berapa kali pengujian yang sudah dia lakukan. Jawabannya adalah “banyak”. Maksudnya? Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata dia melakukan percobaannya sepuluh kali. Wah, itu belum “banyak” menurut saya. Kalau 40 itu banyak, menurut saya. (sttt … jangan ditanya kenapa ya. hi hi hi.)

Kadang kata “banyak” cukup untuk menjelaskan sesuatu, tetapi ketika kita berbicara angka – kuantitatif – kata “banyak” itu harus digantikan dengan sebuah angka. 3? 7? 73?

Angka 12 dapat disebut banyak kalau terkait dengan jumlah anak. Banyak itu. Angka 12 disebut sedikit kalau dia menyatakan jumlah penduduk sebuah kota. Sedikit sekali, bahkan.

Seringkali kita tidak dapat menentukan angka persisnya, tetapi yang lebih penting adalah “ball of park”-nya. Apakah puluhan? Ratusan? Ribuan? Jutaan? Jadi ketika Anda menyatakan “banyak”, sebutkan juga perkiraan rentangnya.

7? 15? 75? 300? 2500? 64.000? 120.000? 1.000.000? 1 Milyar?

Kuliah Pagi Ini: Hash

Pagi ini seharusnya adalah waktunya UTS, tetapi di kelas saya tidak ada UTS. Adanya makalah di akhir kelas. Term paper. Maka pagi tadi saya memilih untuk mengajar.

Kuliah tadi pagi melanjutkan kuliah sebelumnya yang menyisakan bagian akhir dari kriptografi. Mulailah saya menjelaskan tentang message digest dan fungsi hash. Untuk menjelaskannya saya langsung membuat kode singkat di depan kelas. Live coding. Sebetulnya saya tidak berencana untuk langsung membuat kode di depan kelas karena seingat saya kodenya sudah ada di komputer. Baru teringat bahwa kode tersebut ada di komputer saya di rumah. Yang ada adalah screenshot yang saya ambil. Yaaah. Tapi saya teringat kodenya (karena gampang kok). Langsung saya kodekan. Lima menit selesai.

Kode singkat BR1-hash

Intinya adalah saya menunjukkan bahwa fungsi hash itu dapat dibuat dengan menjumlahkan karakter-karakter yang membentuk sebuah kata. Misalnya kata yang ingin kita hash-kan adalah “BUDI”, maka kita ambil nilai ASCII dari ‘B’, ‘U’, ‘D’, ‘I’ dan dijumlahkan. Hasil perjumlahannya adalah 292. Jadi nilai hash-nya adalah 292. Ketika ada orang yang mengubah kata tersebut menjadi “RUDI”, maka nilai hash-nya menjadi tidak cocok.

Kemudian saya cerita tentang pemanfaatan hash ini dalam pemrograman database sampai ke Blockchain. Untuk yang ini, ceritanya lain kali saja ya. Sudah kepanjangan.

Kehadiran di Dunia Siber

Salah satu tugas yang saya berikan kepada mahasiswa MBA saya adalah melakukan pencatatan kehadiran kita di dunia siber – atau lebih tepatnya di media sosial. “Kita” yang dimaksud di sini boleh berarti akun pribadi, boleh jadi akun bisnis yang ingin kita kembangkan. Keberadaan ini dapat kita anggap sebagai salah satu tolok ukur kepopuleran yang nantinya dapat digunakan sebagai bagian dari marketing. Itu pelajaran berikutnya (yang nanti juga akan saya coba tampilkan).

Mencatat adalah salah satu kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum kita dapat melakukan pengelolaan. Bagaimana kita dapat meningkatkan keberadaan kita di dunia siber jika kita tidak mencatat? Maka kebiasaan mencatat merupakan kegiatan yang baik.

Apa yang dicatat? Kita mulai dari yang umum saja, media sosial. Pada saat tulisan ini dibuat, media yang paling banyak digunakan adalah Instagram. Oleh sebab itu, itu yang akan dijadikan patokan. Media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter, sempat lebih populer tetapi sekarang Instagram-lah rajanya. Gambar berikut ini merupakan salah satu contoh catatan yang saya buat. (Catatan: akun-akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”.)

Beberapa catatan:

  • Akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”;
  • Facebook page berbeda dengan akun Facebook yang biasa. Akun Facebook biasa saya sudah mencapai batas atas, yaitu 5000 orang. Tidak dapat menambah teman lagi. Ada lebih dari 1000 orang yang menanti untuk diterima pertemanannya. Facebook Page lebih fleksibel, tetapi ternyata lebih sedikit followers-nya. Ini karena tidak saya promosikan;
  • LinkedIn jarang saya gunakan. Ada banyak permintaan untuk disambungkan tetapi karena saya tidak kenal, jadi belum saya terima. Ada sekitar 300-an yang belum saya proses.

Nantinya pencatatan yang kita lakukan secara manual ini dapat diotomatisasi dengan menggunakan program. Ada juga perusahaan yang menyediakan layanan untuk memantau keberadaan kita ini, tetapi kita perlu tahu cara manualnya dahulu.

Data ini akan kita jadikan dasar (baseline) sebelum kita melakukan kegiatan pemasaran. Berbagai aktivitas dapat kita lakukan dan nantinya kita ukur keberhasilannya (efektivitasnya) berdasarkan data kita ini. Nanti akan kita bahas setelah saya memberikan tugas kepada mahasiswa.

Tunggu tanggal mainnya…

Menyikapi Kasus Cuitan CEO Bukalapak

Semalam cuitan CEO Bukalapak menjadi viral. Ini tampilannya.

Cuitan yang sepertinya biasa-biasa itu ternyata menjadi viral karena kalimat yang terakhir yang memuat kata-kata “presiden baru“. Tahun ini memang banyak orang yang sensitif terhadap pemilihan presiden. Sebagian besar orang mengasosiasikan hal ini sebagai dukungan kepada calon presiden 02, Prabowo. Padahal dalam berbagai acara Bukalapak, presiden Jokowi diundang dan hadir. Banyak orang yang mengatakan bahwa Achmad Zaky tidak berterimakasih.

Mulailah dicari-cari kesalahan-kesalahan lain, seperti misalnya data tersebut adalah data tahun 2013 bukan 2016. (Ini sudah direvisi.) Dan banyaklah kesalahan lain yang dicari-cari.

Akibat dari ini maka muncullah gerakan untuk “uninstall” aplikasi Bukalapak (dengan tagarnya). Bahkan ada banyak komentar yang negatif di Playstore. Netizen memang kejam.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan semuanya. Santai saja.

Kebetulan, saya sedang mengajar kuliah “New Venture Management” di MBA Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB. Mahasiswanya adalah para pendiri (dan biasanya CEO) dari usaha-usahanya. Kebetulan ada kasus ini yang dapat saya angkat sebagai studi di kelas.

Andai kita adalah Board of Directors (BoD) dari Bukalapak. Mari kita panggil CEO-nya dan minta pertanggungjawaban. Masalah sudah terjadi. Apa yang harus dilakukan? Itu adalah salah satu dari serangkaian pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa. Apa usulannya?

Usulan pertama adalah adanya permintaan maaf. Itu sudah dilakukan (meskipun ada yang masih belum dapat menerima itu.) Ini adalah langkah klasik.

Usulan-usulan apa lagi? Yang out-of-the-box. Maka mulailah muncul ide-ide yang “cemerlang”. Berikut ini adalah beberapa usulan yang muncul.

Ada usulan untuk menggunakan momen ini untuk menerbitkan voucher khusus. Voucher “mintamaaf“. Saya usulkan namanya voucer “BukaMaaf“. ha ha ha. Orang Indonesia sangat pemaaf.

Usulan berikutnya adalah untuk memanfaatkan spotlight ini. Turn this bad publicity into a marketing stunt. Misalnya, justru gunakan momen ini untuk menjelaskan R&D yang sudah dilakukan di Bukalapak, dan seterusnya. Justru momen ini digunakan untuk lebih memperkenalkan sisi positif dari Bukalapak. Atau mungkin dapat digunakan untuk marketing lain yang lebih menjual. Mumpung lagi dapat sorotan.

Usulan lain lagi adalah membuat short movie. Bukalapak dikenal dengan iklan-iklannya yang berbau cerita. Misalnya dalam cerita ini dikisahkan Achmad Zaky dipecat dan Bukalapak bangkrut. Kemudian ditunjukkan kerugian yang terjadi bagi Indonesia. Saya malah menambahkan sedikit twist di plot ceritanya. Diceritakan Achmad Zaky pulang ke Solo dan ketemuan dengan Jokowi (yang kw saja – Jokowi kw – ha ha ha). Kemudian Zaky berkeluh kesah kepada Jokowi dan ditanggapi dengan baik. Bahkan di akhir ceritanya diberi sepeda. “Ini sepedanya”. he he he. (Dan sepedanya itu yang kemudian dibawa ke ITB untuk dijadikan sepeda di kampus ITB – yang sekarang sudah ada pun.)

Dan masih banyak usulan-usulan lainnya lagi. Serulah. Kelas menjadi menarik. Alhamdulillah ada kasus yang dapat dibahas di kelas.

Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.