Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Iklan

Belok Kiri Tidak Boleh Langsung

Beberapa hari yang lalu saya sedang mengendarai mobil dan berada di lajur paling kiri. Ketika sampai di perempatan, saya hendak belok ke kiri tetapi lampu lalu lintas sedang merah. Saya berhenti. Eh, ada motor di belakang yang klakson-klakson maksa. Si mbak pengendara ini akhirnya sampai di sebelah kanan saya dan masih ngomel. Ya ampun mbak. Pahami dulu aturan lalu lintas.

Dahulu belok ke kiri boleh langsung. Itu yang saya pahami. Sekarang sudah tidak boleh lagi. Harus menunggu sampai lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Ini dia peraturannya (dalam bentuk grafis). [UU No. 22 Tahun 2009, Pasal 112]

28058965_10214202359546281_5595278213907909827_n

Jadi ingin buat sticker ini dan dipasang di belakang mobil.

Nah, sekarang jangan marah-marah dan jangan klakson-klakson kalau kendaraan di depan tidak langsung belok kiri ya.

Harus Ada Manfaat

Surat kabar Pikiran Rakyat hari Minggu (18 Februari 2018) memuat wawancara dengan saya. Ini dia fotonya. (Halaman 16)

photo6073164107248413151

Topik wawancaranya bervariasi, tetapi utamanya dimulai dari seputar pemanfaatan media sosial. Contoh-contoh pertanyaannya antara lain adalah sejak kapan saya mengenal media sosial, media sosial apa saja yang saya gunakan, dan seterusnya. Tentang blog ini juga dibahas.

Satu point utama saya adalah apapun yang saya kerjakan harus memiliki manfaat. Blog ini juga harus memiliki manfaat. Kalau dia hanya menceritakan atau mencatatkan (log) kegiatan sehari-hari saya tanpa manfaat sih itu “kepo aja”. he he he. Untuk apa juga orang tahu ini itu yang terkait dengan saat. Tidak manfaat. Setiap topik yang dibahas dalam blog ini harus memiliki manfaat bagi pembacanya.

Mengutarakan manfaat juga tidak harus kaku dan serius. Nanti malah tidak sampai pesannya. Bagaimana caranya? Itu dia yang masih terus saya pelajari.

Jadi apa manfaat tulisan ini? Bahwa semua harus ada manfaatnya. Lah jadi mbulet begini. Rekursif.  hi hi hi.

Presentasi Tentang Blogging

Ini adalah blog tentang blogging. Rekursif. Ha ha ha. Seriously, pagi ini saya akan presentasi tentang bagaimana memanfaatkan blog untuk mendiseminasikan ilmu pengetahuan dan teknologi.

blogging-2018

Sebetulnya sekarang masih berpikir apa-apa yang ingin saya sampaikan. Masih campur aduk dan belum tertata dengan rapih. Ada hal terkait dengan menulis, ngeblog, dan tentang topik yang akan ditulis.

Kemampuan menulis ternyata merupakan barang yang langka. Padahal kemampuan ini tidak dapat muncul dengan tiba-tiba. Dibutuhkan latihan yang rutin. Dahulu untuk melatih dan mendapatkan tanggapan (feedback) dari pembaca, kita harus mencari media. Surat kabar merupakan media yang memiliki pembaca sangat banyak, tetapi sulit untuk menembus surat kabar. Untuk hal yang lebih teknis, jurnal merupakan target media, tetapi ini lebih sulit lagi. Akibatnya kita kekurangan penulis yang handal.

Saat ini sudah ada blog seperti ini. Blog ini mudah digunakan dan murah (dan bahkan gratisan seperti yang ini). Pembacanya juga tidak terbatas. Siapapun yang memiliki akses internet merupakan potensi pembaca. Tinggal bagaimana kita membuat tulisan yang bagus sehingga banyak pembacanya.

Jadi apa lagi alasan untuk tidak berlatih menulis?

Memulai Perkuliahan Lagi

Hari ini sebetulnya sudah merupakan minggu kedua dari perkuliahan di ITB. Semester ini saya mengajar tiga (3) mata kuliah. Semuanya di bidang information security:

  • II3230 – Keamanan Informasi (Information Security)
  • EL5215 – Keamanan Perangkat Lunak (Software Security)
  • EL6115 – Secure Operation and Incident Handling

Ini potret yang saya ambil di kelas Keamanan Informasi minggu lalu.

ITB information security class 2018

Kelasnya dimulai pagi sekali, pukul 7 pagi. Ayo semangat! Semoga tetap bersemangat sampai akhir semester.

Sederhanakan!

Zen: the art of simplicity

Entah kenapa, saya selalu mencoba untuk membuat yang kompleks menjadi lebih sederhana. Menjadi lebih mudah dimengerti. Ternyata menyederhanakan masalah itu tidak sederhana. (Rekursif?)

Problem utama dalam menyederhanakan masalah adalah membuatnya tidak menjadi “cemen” (watered down). Masalah tetap menjadi masalah, tetapi lebih mudah dimengerti. Masih masalah. Ya ampun. Kenapa jadi susah begini untuk mencoba menyampaikan penyederhanaan. Ironis ya? Mari kita ambil contoh.

Rumus yang dibuat Einstein ini; E = mc^2  (lebih baik lihat gambar di bawah ini).

emc2

Rumusnya keren kan? Meskipun kita tidak mengerti, tidak apa-apa. Rumus itu demikian sederhananya sehingga kita mudah menghafalnya (dan mudah mengertinya?), meskipun saya yakin di dalamnya sangat kompleks. Itu yang saya sebut menyederhanakan dengan sempurna. Bandingkan dengan persamaan Schrödinger di bawah ini.

schro

Eh, mungkin juga persamaan Schrödinger itu sederhana ya? Hanya saja saya yang tidak mengerti. Sebetulnya masih ada contoh-contoh persamaan lain yang juga rumit, tapi nanti kalau saya tampilkan malah poin utama saya tidak sampai. (Maxwell anybody?)

Kembali ke persoalan menyederhanakan masalah. Dua contoh di atas mudah-mudahan dapat menunjukkan bahwa sederhana itu bagus. Elegan. Lebih mudah dimengerti, meskipun proses untuk membuatnya tidak mudah.

Even if something looks effortlessly simple, it likely took a great deal of effort to reach such a state.

Sisi lain dari menyederhanakan masalah adalah kita dituduh tidak mengerti. Hi hi hi. Sering sekali saya mendapat tuduhan seperti itu. Padahal untuk membuatnya menjadi lebih sederhana itu kita harus mengerti secara mendalam (sehingga dapat mengerti bagian-bagian mana yang dapat dihapus tanpa mengurangi maknanya).

pak, kalau Sederhana … itu nama restoran

hayah …

Berkomentar

Sejalan dengan makin diterimanya sistem elektronik (blog, media sosial, dan sejenisnya) dalam berdialog, berkomentar atau mengomentari komentar-komentar lainnya (apa sih ini … hi hi hi) sudah menjadi kebiasaan. Nah, sebelum menjadi kebiasaan yang buruk, mari kita belajar untuk membuatnya menjadi yang baik.

Satu hal yang sering mengganggu bagi saya adalah adanya orang yang asal berkomentar tanpa memperhatikan yang dia komentari. (Mumet?) Contohnya begini, ada sebuah dikusi tentang teori relativitas dan kemudian ada komentar dari Einstein. (Iya, Einstein sudah tiada. Ini kan hanya contoh. Contoooohhhh ya.) Setelah itu ada orang yang komentar ngasal. Yang lebih “mengerikan” (lucu?) adalah sang komentator ini kemudian menyarankan Einstein untuk belajar Fisika dulu. “Makanya, belajar Fisika dulu bro“. Pakai “bro” pula. ha ha ha. Dia tidak tahu dan TIDAK MAU MENCARI TAHU bahwa lawan bicaranya adalah Einstein.

Di zaman internet saat ini, untuk mencari tahu tentang seseorang itu sangat mudah sekali. Ada Google (dan kawan-kawannya). Klik sedikit maka kita tahu bahwa Einstein itu paham soal Fisika. Masalahnya adalah mau atau tidak maunya.

make-a-comment-like-a-boss-done

Oh ya, saya pun beberapa kali pernah di-masbro-kan seperti contoh Einstein di atas (untuk bidang yang berbeda). Ha ha ha. (Bidang apa? Ya tinggal dicari sebagaimana dicontohkan tadi.)

Inti yang ingin saya sampaikan adalah ketika kita akan memberikan komentar maka ketahui dahulu lawan bicara kita. Itu saja.