Punten … Permisi …

Bangsa Indonesia dikenal sebagai sebagai bangsa yang penuh dengan sopan santun. Eh, ini masih ya? Atau ini jaman dahulu? Mungkin ini bukan hanya Indonesia saja ya? Katanya sih ini salah satu karakteristik orang “Timur”.

Tinggal di luar negeri dalam waktu yang cukup lama, saya melihat bahwa budaya sopan santun (basa basi?) ternyata tidak dimonopoli oleh bangsa Timur saja, tetapi juga oleh orang Barat juga. Di Kanada, orang sangat sopan santun. Kalau pagi-pagi ketemu orang – yang tidak kita kenalpun – pasti dia akan bilang “Good morning“. Tapi ini mungkin juga Kanada yang memang dikenal banyak sopan santunnya. Bahkan salah satu guyonannya, kalau di Kanada ada maling masuk rumah dan ketahuan oleh yang punya rumah maka sang maling akan ditegur, “I am sorry, maybe you are in the wrong house?” ha ha ha.

Kembali ke topik utama, soal sopan santun. Saya melihat anak muda sekarang mulai kehilangan karakter itu. Sebagai contoh, saya melihat banyak anak muda yang kalau jalan dia tidak peduli dengan sekitarnya. Kalau ada pintu yang kita bukakan dan kita pegang (budaya Barat nih), dia tidak mengucapkan terima kasih. Lewat aja. Excuse me? Kalau ada orang-orang pun dia lewat aja.

Saya membiasakan diri untuk sopan. Ketika melewati orang – tua atau muda – saya selalu berusaha untuk mengatakan “Punten” (ini bahasa Sunda yang artinya “Permisi”). Gesture seperti ini harus diajarkan kepada generasi muda (yang tua juga sih). Itulah sebabnya saya merasa perlu untuk menuliskan topik ini.

Sudahkah Anda mengatakan “Punten” (Permisi) hari ini?

Iklan

Apakah Perlu Sekolah Formal?

Banyak orang yang mempertanyakan apakah masih perlu sekolah formal? Buktinya banyak orang yang dropout – gagal sekolah formal – yang sukses juga. Bahkan kalau di dunia IT banyak contohnya. Sekarang ditambah lagi dengan bisnis-bisnis online ada juga yang sukses. Jadi untuk apa sekolah?

Di saat yang sama, banyak orang yang menihilkan proses belajar. Ada yang kemudian menihilkan kemampuan seorang profesor yang telah puluhan tahun mendalami ilmunya. (Kebetulan kalau di Indonesia, ini kasus agama. ha ha ha. Misalnya ada yang meragukan keilmuan Prof. Quraish Shihab atau mas Nadirsyah Hosen. ha ha ha.) Banyak orang yang merasa kemudian sok bisa.

(Di bidang ilmu saya juga sama sih. Ada banyak yang tiba-tiba menjadi pakar security. he he he. Tapi kalau ini saya ambil sebagai contoh, jadi berkesan lebay. hi hi hi.)

Sekolah formal, jika dilakukan dengan benar, sangat dibutuhkan! Singkatnya demikian.

Mengapa ada embel-embel “jika dilakukan dengan benar”? Karena saat ini banyak orang yang sekolah bukan untuk mencari ilmu, tetapi hanya sekedar untuk menghabiskan waktu. Daripada anak ngganggur di rumah, lebih mereka disuruh sekolah saja. Jadinya di sekolah ya hanya sekedar membunuh waktu saja. Demikian pula yang menjadi pengajarnya, mereka bukan niat untuk menjadi guru (pengajar, dosen), tetapi hanya sekedar untuk bekerja dan menunaikan tugas administratif saja. Hasilnya menjadi buruk dan kemudian timbullah persepsi bahwa sekolah formal itu tidak penting.

Kan sudah ada buku-buku dan internet? Mengapa perlu sekolah formal?

Untuk sebagian kecil orang, belajar mandiri dapat dilakukan dan memang bagi mereka sekolah formal tidak begitu penting (selain dari ijasahnya). Tapi “sebagian kecil”nya itu sangat kecil sekali. Saya jarang menemukan orang yang dapat belajar mandiri seperti ini. Umumnya orang tidak sanggup belajar sendiri. Dibutuhkan kedewasaan dan ketekunan yang luar biasa.

Sedihnya banyak orang yang merasa dapat belajar sendiri dan kemudian mudah puas setelah mengetahui kulitnya. Padahal sesungguhnya mereka itu tidak mengerti, tapi kemudian paling vokal kalau berbicara. Ini gawat sekali.

Sekolah formal menunjukkan peta perjalanan atau tuntunan dalam belajar. Sebelum mempelajari B, sebaiknya belajar A dahulu sebagai dasarnya. Hal ini diperoleh dari pemahaman dan pengalaman sebelumnya. Maka sekolah formal dapat mempermudah proses belajar. Tanpa tuntunan tersebut, belajarnya boleh jadi nabrak ke sana sini sehingga memboroskan waktu yang semestinya tidak perlu terjadi.

Belajar dengan seorang guru yang memang gurunya dalam bidang itu membuat kita menjadi lebih mudah belajar. Guru ini biasanya ada di sekolah formal, meskipun ada juga yang informal. Yang terakhir ini jarang.

Kembali ke pokok pembicaraan, singkatnya, sekolah formal itu masih penting. Begitu.

Saya Juga Bisalah

Sekarang banyak orang yang sok jago. Merasa bisa segala hal. Semua orang dikritiknya. Padahal mereka tidak mengetahui banyak hal dari apa yang dikritiknya. Media sosial penuh dengan spesies seperti itu. Dalam olah raga, penonton selalu merasa lebih jagoan daripada pemain dan pelatih. ha ha ha.

Ada proses belajar, melalui teori dan praktek, untuk dapat mengerjakan sesuatu dengan baik. Apalagi kalau mau jadi jagoan. Proses belajar ini membutuhkan waktu. Tidak bisa seketika. Tapi, banyak yang mau instan. Proses belajar ini juga membutuhkan upaya. Tidak boleh malas.Tapi, banyak yang maunya disuapi.

Ketika orang yang merasa jagoan ini diberitahu, misalnya untuk membaca referensi ini dan itu, mereka malah bertanya “memangnya isinya apa”. Halah. Padahal sudah ditunjukkan referensinya. Mereka tinggal membaca. Namun inipun diabaikan. Jika orang tidak mau menjelaskan kepada mereka, maka mereka enggan berusaha untuk belajar dan tetap pada pendirian mereka (yang salah).

Bagaimana menghadapi orang semacam itu ya? Abaikan saja? Soalnya mengajari mereka itu membutuhkan kesabaran dalam ukuran yang luar biasa. Gimana ya?

Begitu ada orang yang berkata “saya juga bisa”, langsung saya meringis. Hadoh. Ujian kesabaran nih.

Sidang Mahasiswa

Hari ini saya baru bisa sedikit bernafas lega. Dua minggu terakhir ini (dan sebetulnya sebelumnya juga) saya disibukkan untuk urusan kampus. Ada tujuh mahasiswa bimbingan saya yang maju sidang. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa S2. Sementara itu ada tiga mahasiswa bimbingan S3 yang juga melakukan sidang kemajuan.

Berikut ini foto-fotonya. Yang pertama adalah foto-foto mahasiswa S2.

P_20170613_091148-01 yogi P_20170613_101452-01 auliak

P_20170613_111214-01 ali P_20170614_131048-01 naim

P_20170614_142004-01 syarifudin P_20170615_100401-01 syaiful andy

P_20170615_110611-01 bakti

Yang berikut adalah foto-foto mahasiswa S3 bimbingan.

P_20170616_075106 kholish

P_20170620_090605-01 andry P_20170620_112535-01 teguh

Untuk melakukan itu semua ada banyak persiapan-persiapan, yang artinya kesibukan. Selain itu saya masih ada urusan lain, yaitu menilai makalah-makalah mahasiswa untuk tiga kuliah yang saya berikan semester lalu. Itulah sebabnya saya agak hilang di blog ini. Padahal niat untuk membuat tulisan setiap hari masih ada. Semangat.

Minimnya Kemampuan Menulis

Ini saya sedang memeriksa tugas mahasiswa dalam bentuk makalah. Ada lebih dari 100 makalah yang harus saya periksa. Makalah ini berasal dari kuliah S1 dan S2. Semuanya memiliki topik keamanan (security). Yang menjadi masalah adalah mahasiswa-mahasiswa ini tidak memiliki kemampuan menulis.

Ada makalah yang bahasanya acak-adut. Ada nuansa dia menerjemahkan makalah. Kalau menerjemahkan makalah dan dia mengerti, masih lumayan. Lha ini nampaknya dia tidak mengerti apa yang dia tuliskan. Mbulet. Ketahuanlah dari tulisannya. (Penggunaan Google Translate masih menghasilkan tulisan yang aneh bahasanya.)

Sebagian besar – mungkin 8 dari 10 mahasiswa – tidak tahu cara menuliskan referensi dan tidak tahu cara menggunakannya dalam tulisan. Ini parah sekali. Padahal salah satu kunci utama dalam penulisan makalah adalah penulisan dan pemanfaatan referensi. Padahal (2), saya sudah mengajarkan di kelas bagaimana tata cara penulisan referensi. Tidak menyimak? Tidur? Hadoh.

Banyak tulisan yang terlalu banyak bagian pengantarnya. Mungkin ini karakter orang Indonesia (yang kalau bicara juga terlalu banyak pengantarnya; “sebagaimana kita ketahui, … dan seterusnya”)? Akibatnya, pembahasan materinya sendiri menjadi terlalu singkat dan kurang mendalam. Mungkin mahasiswa kita jarang membaca makalah di jurnal sehingga tidak mengetahui bagaimana membuat tulisan yang yang singkat dan langsung kepada topiknya. Maklum, jumlah halaman untuk tulisan di jurnal dibatasi. Lewat dari batas itu, harus bayar mahal.

Ada lagi yang tulisannya sangat singkat. Maka ada akal-akalan untuk membuatnya terlihat lebih panjang, misalnya dengan membuat spasi yang lebih besar atau dengan memasukkan gambar-gambar yang tidak penting. ha ha ha.

Di atas itu saya tertawa sambil menangis. Jika kualitas tulisan mahasiswa-mahasiswa saya seperti ini, saya dapat membayangkan kualitas di tempat lain. Kira-kira samalah. Mau diadu dengan karya mahasiswa di luar negeri? Walah. Keok lah.

Harus mulai dari mana memperbaikinya? Perbanyak latihan menulis. Sekarang sudah banyak media untuk belajar menulis. Lha, blog ini juga merupakan sebuah tempat untuk latihan menulis. Apa alasan untuk tidak (latihan) menulis ya?

Membaca Isyarat

Kalau diperhatikan, nampaknya banyak orang yang tidak mampu membaca isyarat. Ada pesan yang tersurat (yang diutarakan atau ditulis secara langsung) dan ada pesan yang tersirat (yang tidak langsung tertulis).

Contoh ekstrimnya sih ketika kita berkendaraan. Kita sudah memberikan tanda belok ke kiri, eh ada saja kendaraan (biasanya motor) yang nyelonong dari kiri untuk jalan terus. Ya ampun. Apa dia tidak “membaca” isyarat tersebut? Ini yang sudah jelas-jelas terlihat. Padahal ada isyarat lain yang tidak dikatakan secara langsung, misalnya ketika kita memperlambat kendaraan. Ada sesuatu. Misal, ternyata di depan kita ada kendaraan lain yang lebih lambat sehingga kita juga harus memperlambat. Yang seperti ini lebih sukar untuk “dibaca”.

Apa penyebab ketidakmapuan membaca isyarat ini ya? Saya menduga ini terkait dengan pendidikan. Siswa terlalu banyak “disuapi” sehingga tidak berusaha untuk belajar sendiri. Semua tanda-tanda dikatakan secara langsung sehingga siswa tidak dapat mengembangkan naluri untuk membaca sendiri.

Pernah saya contohkan juga dalam tulisan di blog ini tentang perbedaan cara orang Indonesia dan orang Barat dalam bercerita. Untuk mengutarakan “menunggu lama sekali” dalam film, terlihat perbedaannya. Di film Indonesia, sang aktor akan berdiri dan berkata “aku menunggu lama sekali”. Sementara dalam film Barat, sang aktor tidak berkata-kata tetapi di depannya ada asbak dan setumpuk puntung rokok. (Meskipun sekarang akan berbeda karena rokok dianggap politically incorrect.) Ini hanya sebagai contoh saja. Mungkin karena dibiasakan seperti ini, maka orang Indonesia menjadi kurang mampu membaca isyarat.

Nah, yang lebih parah lagi adalah “membaca isyarat” dalam tulisan. Itulah sebabnya sering terjadi kesalahpahaman dan keributan di media sosial karena masalah ketidakmapuan membaca isyarat ini. Ada tulisan yang sebetulnya mengatakan “A”, tetapi menjadi dibaca “B”.  Yang sudah terlihat secara fisik saja sudah susah, apalagi yang hanya dalam bentuk tulisan. Emoticons dan emoji sedikit membantu, tetapi masih susah untuk menjabarkan makna sebenarnya.

Jadi harusnya bagaimana? Mungkin memang kita harus mengubah pelajaran yang ada dan teknik penyampaiannya. Wah, ini sih perjalanan panjang. Memang. Tidak ada jalan pintas untuk mengubah sebuah kebudayaan. Atau, kita mau tetap seperti ini?

Adil

Pernahkah engkau merasakan keadilan?

Jadi ceritanya saya melihat banyak orang yang berteriak-teriak tentang keadilan. Dalam hati saya bertanya, pernahkah mereka merasakan keadilan? Lupakan soal definisi keadilan dahulu. Gunakan nurani dahulu untuk mendefinisikannya. Jangan-jangan mereka belum pernah merasakan atau bahkan melihat keadilan.

Di Indonesia, banyak orang berebut di jalan. Demikian pula di berbagai layanan, ada banyak yang tidak ingin antri. Mengapa? Dugaan saya adalah karena mereka khawatir tidak mendapat giliran. Dengan kata lain, tidak mendapatkan keadilan. Jika mereka yakin bahwa ada keadilan, pasti mereka akan kebagian. Bahwa akan tiba datangnya giliran saya, maka saya bisa bersabar.

Kalau saya sudah menunggu, kemudian ada orang menyela dan malah dia yang dilayani dahulu, maka saya merasa tidak adil. Maka saya tidak akan membiarkan orang lain mendahului saya. Saya pun tidak akan memberikan mengalah atau memberikan giliran kepada orang lain, karena nantinya saya malah tidak mendapat giliran.

Dalam mengemudi, saya termasuk yang banyak mengalah. Memberi jalan bagi orang lain. Sering kali orang yang saya beri jalan malah bingung, karena biasanya orang lain tidak memberi jalan. Demikian pula saya sering ketawa (meringis lebih tepatnya) dengan orang yang “memberi lampu dim” untuk minta jalan. Apalagi yang berkali-kali memberi lampu dim itu. Seolah-olah berkata, “Awaaasss … saya mau jalan”. Ha ha ha. Tanpa diberi lampu pun saya sudah biasa memberi jalan. Anda / dia bukan lawan saya. Mengapa perlu dihalang-halangi? Toh saya akan mendapat giliran juga. Adil.

Keadilan justru lebih mudah dilihat di luar negeri. Di negeri yang sudah maju tentunya. Di negeri itu, kita akan mendapat keadilan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Tidak perlu khawatir tidak kebagian.

Benar juga kata sebagian orang bahwa masalah yang ada ini mungkin dapat dipecahkan dengan piknik ke luar negeri. ha ha ha. Tentunya maksudnya belajar dari luar negeri. Ambil kebiasaan atau budaya baiknya. Jangan malah membawa kebiasaan buruk kita ke luar negeri. ha ha ha. Perhatikan bagaimana keadilan terjadi di sana.

Maka, mulailah terbayang apa yang disebut dengan “adil”.