Category Archives: Pendidikan

Debat Pembenaran

Melihat debat di media sosial, saya mengambil kesimpulan bahwa para pihak yang berdebat sesungguhnya tidak mencari kebenaran tetapi mencari pembenaran. Masing-masing sudah punya pendapat sendiri-sendiri (yang tidak mau diubah), kemudian mencari argumentasi yang mendukung pendapatnya. Mencari pembenaran.

Ambil contoh yang mendukung. Sembunyikan contoh yang tidak mendukung. Bahkan sekarang seringkali contoh atau argumentasi yang mendukungnya pun tidak diperiksa kebenarannya. Seakan, semakin banyak contoh, semakin benar. hi hi hi.

Ingin dilihat paling benar atau menang dalam perdebatan. Itu tujuannya. Lah, sudah salah.

Diskusi atau debat seperti itu tidak akan memiliki ujung karena yang dicari bukan kebenaran. Yang sama-sama niat untuk mencari kebenaran saja sudah susah untuk menemukannya, apalagi yang masing-masing niatnya bukan itu. Saran saya, untuk yang model debat seperti itu lebih baik tidak usah dilayani.

Atau mungkin masalahnya di medianya. Media sosial nampaknya belum cocok untuk menjadi media diskusi. Entah medianya yang perlu diperbaiki, atau orang-orang yang menggunakannya yang harus lebih banyak belajar untuk mengendalikan teknologi ini.


Minggu Terakhir Perkuliahan

Minggu lalu adalah minggu terakhir perkuliahan di ITB. Selanjutnya adalah Ujian Akhir Semester (UAS). Mahasiswa mulai sibuk dengan tugas-tugas dan persiapan ujian. Sebetulnya dosen-dosen juga sibuk menilai tugas-tugas dan menilai ujian.

P_20160429_090117 students

Kalau sekarang, di akhir kelas sering terjadi potret bersama antara dosen dan mahasiswa. Potret di atas adalah sebagian dari mahasiswa kuliah Keamanan Informasi saya. Mahasiswanya sih banyak, tetapi pada hari itu (Jum’at) banyak mahasiswa saya yang tidak hadir karena mengira saya harus ke Jakarta (untuk peluncuran Telinga Musik Indonesia) tetapi saya memutuskan untuk di Bandung (mengajar, meeting, dan beberapa pekerjaan lainnya).

Selamat ujian untuk mahasiswa dan selamat bertugas untuk para dosen.


Mahasiswa Dan Anggota DPR

Di media sosial banyak yang mencemoohkan kinerja dan pekerjaan anggota DPR. Ada banyak guyonan yang menunjukkan anggota DPR sedang tidur, bolos hadir, dan seterusnya. Mahasiswapun banyak(?) yang mempertanyakan (anggota) DPR ini. Mau tahu kenyataan yang ada saat ini?

Menurut saya, mahasiswa saat ini tidak berbeda dengan anggota DPR!

Mahasiswa datang ke kelas untuk sekedar hadir. Memenuhi kuota kehadiran saja. Administratif.  Ada juga yang datang ke kelas dan kemudian tertidur. Yang bolos juga tidak sedikit kok. Kalau mahasiswa hadir di kelas dan ditanya, “ada pertanyaan?”, tidak ada yang menjawab. (Masih mending anggota DPR ada banyak yang bertanya.)

Lantas apa bedanya mahasiswa dengan anggota DPR?


Kurang Inisiatif dan Secukupnya Saja

Hasil ngobrol-ngobrol dengan sesama teman yang memiliki perusahaan dan juga dengan dosen-dosen, nampaknya ada benang merah dari SDM saat ini. Menurut saya ada dua hal yang sangat bermasalah, yaitu (1) kurang inisiatif, dan (2) bekerja (berusaha) secukupnya saja.

Anak-anak (SDM) sekarang kurang inisiatif. Untuk melakukan sesuatu harus disuruh. Bahkan disuruhnyapun harus rinci dan spesifik. Dalam presentasi sebuah studio animasi minggu lalu, dikatakan bahwa animator sekarang harus diberitahu detail. Tidak bisa lagi disuruh, misalnya, buat “si karakter itu memberi sesuatu ke lawannya”. Nah “memberi sesuatu” itu harus dijabarkan oleh kita, sang pemberi pemerintah. Mereka tidak bisa memiliki inisiatif sendiri menjabarkan itu.

Menurut saya hal ini disebabkan mereka takut salah. Takut kalau mengambil inisiatif ternyata bukan itu yang dimaksud. Padahal salah adalah biasa. Sistem pendidikan dan lingkungan terlalu menghukum orang yang salah jalan. Akibatnya orang takut untuk berinisiatif.

Masalah kedua adalah bekerja secukupnya saja. Kalau diberi tugas A, ya yang dikerjakan hanya A saja. Mereka tidak tertarik untuk mengerjakan A+ atau A, B, C, … dan seterusnya. Padahal justru prestasi itu dicapai ketika mereka bekerja melebihi dari yang diharapkan.

Hal ini mungkin disebabkan oleh hilangnya keingintahuan (curiousity). Entah ini karena malas atau karena mereka melihat orang lain (kawannya) tidak melakukan maka dia juga tidak melakukannya. Untuk apa lebih?

Cukup ah ngomel pagi-pagi ini.


Klakson

Sebetulnya saya termasuk yang tidak suka menggunakan klakson. Berisik. Polusi suara. Mungkin ini kebiasaan yang saya bawa dari dulu dan dari luar negeri. Dan sebetulnya bisa sih mengendarai tanpa menggunakan klakson.

Akhir-akhir ini saya jadi lebih sering menggunakan klakson. Pasalnya, banyak pengemudi – yang umumnya adalah pengendara motor – yang tidak melihat ke kiri, kanan, belakang. Mereka pandangannya lurus ke depan tetapi cara mengendarainya meliuk-liuk. Berbahaya sekali. Begitu saya klakson, baru mereka melihat ke belakang (karena spionnya pun seringkali tidak di arahkan ke belakang – mungkin untuk melihat dirinya sendiri? Ngaca? hi hi hi.) Jadi saya membunyikan klakson karena terpaksa. Sedihnya sekarang lebih banyak terpaksanya daripada tidak terpaksanya.

Saya masih berusaha untuk menahan diri agar tidak membunyikan klakson. Tapi, bagaimana ya mengajari pengemudi agar lebih sering-sering lihat kanan, kiri, dan belakang?


Hilangnya Indra Sosial Musisi Indonesia

Salah satu musisi favorit saya saat ini adalah Steven Wilson (akun Facebook). Dia dikenal banyak orang melalui band Porcupine Tree yang beraliran progressive rock. Sekarang dia justru lebih produktif dengan karya-karya pribadinya. (Termasuk memproduksi band atau artis lainnya.)

Steven_Wilson_Hand_Cannot_Erase_coverAlbum besar Steven Wilson yang baru adalah “Hands. Cannot. Erase“. Album ini terinspirasi dari sebuah kejadian menyedihkan. Tersebutlah seorang perempuan muda bernama Joyce Carol Vincet yang tinggal di London. Joyce ditemukan meninggal di apartemennya. Yang menyedihkannya adalah jenasahnya baru ketahuan setelah lebih dari 2 tahun! Joyce ini adalah orang biasa seperti kita-kita. Mengapa temannya atau saudaranya tidak ada yang tahu? Tidak ada yang menanyakan keberadaan dia setelah sekian lama?

Baru-baru ini kejadian yang mirip juga terjadi di Xian, Cina. Ditemukan seorang yang meninggal di lift setelah terjebak selama sebulan. Sebulan! Bagaimana mungkin ini terjadi?

Mungkin ini adalah arah dari masyarakat kita? Makin tidak peduli. Ditambah lagi dengan gadget atau handphone. Semakin tidak peduli dengan sekeliling kita.

Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini adalah kesensitifan dari Steven Wilson. Dia membuat karya musiknya bukan sekedar membuat bunyi-bunyian yang enak didengar, tetapi juga memiliki misi sosial. Dia memotret kondisi sosial – dalam hal ini kejadian di Inggris tempat dia berada – dan kemudian mencoba mengingatkan kita. Inikah yang kita inginkan?

Indra Steven Wilson untuk menangkap kondisi sosial ini masih berjalan dengan baik. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Ah, kebanyakan karya yang diciptakan saat ini lebih ke arah “aku cinta aku”, “sedihnya aku”, dan sejenisnya. Aku, aku, dan aku. Mending kalau “Aku”-nya Chairil Anwar. Kemana karya atau lagu yang berisi kritik sosial? Sebagai contoh, lagu karya Yockie Suryo Prayogo – “Kehidupan” yang dikenal melalui band God Bless.

Semoga musisi Indonesia (yang masih muda) dapat mengasah indra sosialnya dan dapat memotret kondisi sosial bangsa Indonesia.


Balada Dosen

Hari ini, Rabu, saya bisa leha-leha di rumah. Biasanya jam 7 saya sudah harus di kelas. Gara-gara gerhana matahari – bukan, ding, ini hari libur Nyepi – maka hari ini kampus diliburkan. Saya bisa leha-leha di rumah. (Sebetulnya nanti harus kerja juga.)

Kalau tidak ada kuliah, mahasiswa bersorak sorai.

Jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita-kita saja. Dosen juga sebetulnya senang kalau tidak mengajar. he he he.

HOREEE …


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.841 pengikut lainnya