Category Archives: Pendidikan

Salah Fokus Ketika Presentasi

Ini adalah waktunya sidang-sidang di tempat saya. Ada sidang thesis mahasiswa S2 dan sidang kemajuan / proposal untuk mahasiswa S3. Ada presentasi mahasiswa yang oke, tetapi kebanyakan malah bermasalah.

Salah satu masalah utama dalam presentasi adalah salah fokus dalam materi yang dipresentasikan. Seringkali mahasiswa langsung masuk ke hal-hal yang teknis tanpa memberikan cerita mengenai latar belakang atau konteksnya. Akibatnya, pertanyaan yang muncul menjadi seperti bola liar. Kemana-mana. Bayangkan, kalau dalam sebuah presentasi tiba-tiba saya mengatakan “Kita dapat meningkatkan theta untuk mendapatkan hasil yang lebih baik“. Lah, “theta” itu apa???

Mahasiswa sering lupa bahwa penguji mereka bukan orang bodoh, tetapi boleh jadi mereka bukan berada di bidang yang ditekuni mahasiswa yang bersangkutan. Istilah-istilah atau konsep yang ada di bidang itu boleh jadi tidak dimengerti oleh penguji. Maka berilah gambaran kerangka besarnya. Fokus kepada konsep utamanya. Ketika diminta untuk menjelaskan rinciannya, barulah kita masuk lebih ke hal-hal yang lebih teknis. Penguji sudah siap untuk menerima penjelasan kita.

Masalah berikutnya adalah banyaknya yang ingin dijelaskan tetapi waktu yang tersedia tidak cukup. Ini bahasan di lain kesempatan. :)


(Belajar) Bertanya

Kebanyakan mahasiswa dari Asia (termasuk Indonesia) tidak banyak bertanya dalam kelas. Ketika guru atau dosen bertanya, “ada pertenyaan?”, maka hampir tidak ada yang bertanya. Justru setelah kelas selesai, kadang ada (maha)siswa yang datang mendekati sang guru untuk bertanya. Padahal pertanyaan yang diajukan seringkali merupakan pertanyaan siswa lainnya. hi hi hi.

Ada beberapa alasan ini terjadi. Pertama, karena malu. Malu dianggap bodoh. Padahal tidak tahu – koreksi, belum tahu – itu bukan berarti bodoh. Bertanya menjadi seperti aib. Akibatnya tidak berani bertanya. Kedua, boleh jadi karena tidak tahu apa yang mau ditanya. hi hi hi. Mungkin saking tidak tahunya, jadi semuanya mau ditanya tetapi kalau semuanya mau ditanyakan kan malah jadi aneh. Ketiga, takut dianggap sok tahu atau kemintar oleh kawan-kawannya. Jadi tidak berani bertanya.

Akibatnya, banyak orang yang tidak tahu cara bertanya. Bertanya itu juga sebuah keahlian (skill). Dia harus dipelajari dan diasah. Coba perhatikan, banyak orang Indonesia yang kalau bertanya terlalu banyak pendahuluannya. “Seperti kita ketahui … dan seterusnya, dan seterusnya”. Lima menit kemudian barulah muncul pertanyannya. hi hi hi.

Apakah ada pertanyaan yang bodoh? Tadinya saya pikir tidak ada. Eh, ternyata ada. Ini contohnya.

Pada sebuah segmen berita di TV tentang sebuah musibah, seorang wartawan bertanya kepada keluarga orang yang terkena musibah itu; “bagaimana perasaan Anda?”. Ini termasuk pertanyaan yang bodoh.

Sekarang, kemampuan menjawab pertanyaan kalah penting dengan kemampuan bertanya. Sudah ada mesin “Google” untuk menjawab semua pertanyaan. Mengenai jawabannya benar atau salah, itu lain cerita. hi hihi. Pokoknya ada saja jawabannya. Yang menjadi lebih penting adalah “apa yang akan ditanyakan”. Kemampuan bertanya menjadi kuncinya. Maka dari itu, pelajarilah cara bertanya dan latihlah.

Di sisi lain, ada orang yang (selalu) bertanya karena MALAS! Yang seperti ini mau diapakan ya? (Kalau di tempat kami, kalau bertanya karena malas … disuruh baca buku dulu. wk wk wk.)


Bagaimana Melakukan Percobaan

Tadi saya mendengarkan presentasi mahasiswa tentang hasil penelitiannya. Ada satu kesalahan yang sering terjadi dari penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, yaitu bagaimana melakukan percobaan.

Kebanyakan mahasiswa melakukan percobaan dengan cara asal-asalan. Asal dilakukan saja. Sebagai contoh, berapa kali sebuah percobaan dilakukan? Satu kali jelas tidak cukup (meskipun ada mahasiswa yang melakukannya juga – hi hi hi). Ada yang melakukan percobaannya beberapa kalai saja, katakanlah 15 kali. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa dia melakukannya 15 kali? Mengapa tidak 17 kali? Pemilihan angkanya ini random sekali. Lagi-lagi ngasal. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa hanya segitu? Mengapa tidak 100? 1000? atau bahkan mengapa tidak satu juta kali? Harus ada alasaannya.

Menampilkan hasil dari percobaan juga merupakan hal yang sering gagal untuk dilakukan. Ada mahasiswa  yang menampilkan hasilnya dalam tabel yang berlembar-lembar jumlah halamannya. Ini kurang bermanfaat. Cara yang lebih baik adalah menampilkan hasil percobaan tersebut dalam bentuk grafik. Secara cepat kita dapat mengambil kesimpulan atau melihat adanya anomali dari grafik tersebut.

Menampilkan data atau hasil dari percobaan yang dilakukan dalam jumlah yang banyak juga menjadi persoalan tersendiri. Ada kalanya kita menampilkannya secara linier, tetapi ada kalanya juga kita tampilkan hasilnya dalam sumbu yang logaritmik.

Ah, masih banyak lagi hal-hal yang harus saya bahas dengan mahasiswa tentang bagaimana melakukan percobaan ini. Sayangnya literatur mengenai hal ini masih sangat kurang. Hadoh.


Video Tentang (nge)Blog Ini

Berikut ini tayangan di YouTube tentang cerita “ngeblog yang sukses”. Ini presentasi saya di acara Free Saturday Lesson (FSL), yang diselenggarakan oleh Comlabs ITB.

Selamat menikmati


Bacaan Anda?

Ingin sekedar polling untuk mencari tahu seberapa besar minat baca orang Indonesia. Kata orang sono, “you are what you read“. Pertanyaannya:

Buku apa saja yang (sedang / sudah) Anda baca dalam satu (1) bulan terakhir ini?

Anda dapat menuliskannya secara singkat di bagian komentar. Silahkan …

Oh ya, yang sedang saya baca (antara lain):

  1. Ed Catmul – Creativity, Inc.
  2. Harper Lee – To kill a mockingbird
  3. Tom Kelly – The art of innovation

Perlukah Sekolah?

Topik yang sedang hangat saat ini adalah “apakah sekolah itu perlu?”. Ini dipicu dari beberapa contoh orang yang gagal sekolah (baca: dropout) tetapi sukses. Sebetulnya topik ini bukan topik baru. Sudah ada banyak bahasan. Berikut ini adalah opini saya.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “apakah sekolah itu perlu” adalah YA. Bersekolah itu perlu. Dengan catatan bahwa yang bersekolah memang serius ingin bersekolah, bukan untuk sekedar mendapatkan selembar kertas ijazah. Banyak (kebanyakan?) mahasiswa yang saya temui pergi ke sekolah hanya karena (1) ingin mendapatkan selembar kertas itu atau (2) dari pada nganggur ya kuliah saja. Untuk yang seperti ini, menurut saya mau sekolah atau tidak sekolah menjadi tidak relevan. Kondisi ini, yang ngasal sekolah, itu nyata karena sebagai dosen sering saya temui fakta ini.

Mengapa bersekolah sampai tinggi itu penting? Mari kita ambil contoh. Kalau saya minta Anda untuk membangun sebuah garasi atau ruang tamu, saya yakin sebagian besar dari kita bisa. Tanpa sekolahanpun rasanya bisa. (Meskipun secara keilmuan tetap salah, tetapi secara kasat mata dapat ditunjukkan bahwa garasi atau ruang tamu itu bisa jadi.) Nah, sekarang saya minta Anda untuk membuat gedung 73 tingkat. he he he. Untuk yang ini yang membuat harus sekolahan.

Apakah lantas orang yang tidak sekolahan tidak bisa sukses? Oh bisa saja. Bahkan ada banyak contoh orang yang tidak sekolahan tetapi sukses. Hanya saja … yang sering dilupakan oleh orang … mereka harus bekerja 3, 4, 5 atau belasan kali lebih keras daripada kebanyakan orang. Saya ulangi lagi, MEREKA HARUS BEKERJA LEBIH KERAS untuk mencapai kesuksesan itu. Kebanyakan orang hanya melihat dari sisi hasilnya saja tanpa mau melihat betapa besarnya pengorbanan mereka untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Kalau saya tanya kepada Anda, berapa jam sehari Anda tidur? Maukah Anda tidur kurang dari 5 jam setiap hari selama 5 tahun? Saya yakin sebagian besar akan mengatakan tidak. Berapa jam sehari Anda habiskan waktu untuk mendalami keahlian tertentu? Sudah berapa lama Anda menekuni hal itu? Orang yang tidak sekolahan, tetapi sudah menghabiskan setidaknya 10000 jam (atau 10 tahun) menekuni bidang tersebut, saya yakin dia lebih kompeten dibandingkan anak yang baru lulus kuliah. Maka jangan heran kalau ada orang yang dropout tetapi sukses dalam bidangnya. Ini wajar saja.

Tidak perlu lagi kita berdebat perlu sekolah atau tidak. Yang lebih penting lagi adalah mari kita berkarya dan memberi manfaat bagi umat manusia. 3.0


Entrepreneurship: Mentoring

Salah satu cara untuk mengajari entrepreneurship adalah melalui mentoring. Ada banyak pengetahuan dan pengalaman yang belum terkodekan dalam bentuk tulisan (atau video). Masih banyak pengetahuan dan pengalaman ini yang terekam dalam kepala orang yang bersangkutan. Tacit. Itulah sebabnya metoda mentoring dirasakan cukup efektif.

Kemarin saya menjadi mentor beberapa mahasiswa entrepreneurship – sekolah bisnis dan managemen ITB. Topik yang kami bahas kemarin adalah marketing. (Mengenai topiknya kapan-kapan saya tuliskan.) Ini foto di akhir mentoring.

IMG_6145 mentoring

Saya jadi teringat sebuah foto yang berisi venture capital dan beberapa pendiri (founder) beberapa startup yang didanai oleh VC tersebut. Keren banget. Semoga foto ini juga dapat jadi foto bersejarah karena mereka sukses dengan startups-nya. Aaamiiin.

Link terkait …

  • Syncosta: statistics
  • Patiama: modern Indonesian motif fashin
  • Arthurapple: marketing and advertising
  • Mobydick: Point of Sale
  • Sampeyan Motor: motorcycle sparepart & accessoris
  • Pedstreat: juice …

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.161 pengikut lainnya.