Category Archives: Pendidikan

Kursus Information Security di IndonesiaX

Ini adalah kursus saya di IndonesiaX: Information Security

Selamat menikmati.


Nasib Pengajar

Akhir-akhir ini ada banyak “serangan” kepada pengajar (guru dan dosen). Maksudnya serangan di sini adalah kritikan dan juga tuduhan-tuduhan. Kira-kira isinya bernada “pengajar tidak mengajar dengan baik dan hanya memikirkan uang”. Maka timbullah pro dan kontra.

Di satu sisi, saya yang merasa sebagai pengajar yang baik (hi hi hi, betulkah?) merasa trenyuh. Begitu ya padangan orang? Semestinya mereka tahu bahwa pengajar itu susah banget kerjanya. Kami-kami ini memiliki komitmen yang tinggi. Gaji tidak seberapa tetapi upaya tinggi. Kebanyakan dari kami menjadi pengajar bukan karena uangnya. (Mungkin jadi pengemudi Go-Jek pendapatannya lebih banyak? he he he.) Saya mengajar karena senang mengajar.

Ada banyak orang yang menjadi pembicara di sana sini dan kemudian beranggapan bahwa mengajar itu mudah. [Harus diletakkan meme dari seorang internet marketer yang merendahkan guru itu. ha ha ha.] Wah, kalau hanya jadi presenter yang notabene hanya mengajari sekali di tempat yang sama sih mudah. Begitu harus mengajar di kelas atau memberikan kuliah 15 kali pertemuan dalam kurun 1 semester, modhar … he he he. Tidak mudah! Silahkan dicoba.

Sttt… ini rahasia kita saja ya. Ini rahasia pengajar. hi hi hi. Baru sekedar untuk urusan *hadir* rutin saja sudah menjadi sebuah masalah. (Kok kayak siswa atau mahasiswa? Iya. Memang sama!) Apalagi hadir dan *siap* dengan bahan pengajaran beserta semangat mengajarnya. 15 minggu berturut-turut. Silahkan dicoba. Tidak mudah.

Di sisi lain, memang ada pengajar yang tidak memiliki komitmen. Ada yang hadir hanya sekedar untuk memenuhi daftar hadir. Peduli amat dengan apa yang diajarkan. Yang lebih parah adalah yang ada namanya tetapi kehadirannya minim (karena asyik mengerjakan proyek, menjadi nara sumber di sana sini, atau ikut seminar / workshop di luar kota). Saya tidak menutup mata, ada yang seperti ini. Nah, yang perlu kita lihat memang porsinya. Banyakan yang ngaco seperti ini atau banyakan yang baik-baik?


Berguru

Akhir-akhir ini ada banyak berita tentang sekolah abal-abal, wisuda abal-abal, ijasah abal-abal. Sebagai seorang pengajar, rasanya sedih banget. Tapi ini adalah kenyataan di Indonesia.

Belajar itu adalah proses seumur hidup. Dia tidak berhenti hanya dengan diterimanya selembar kertas; ijazah atau sertifikat. Semakin kita belajar, semakin kita paham akan banyak hal yang belum kita kuasai. Itu memang hukum alamnya. Jadi kalau yang berhenti belajar, itu sesungguhnya melawan kodrat hukum alam.

Saya mengalami sendiri berhadapan dengan mahasiswa yang kuliah hanya untuk sekedar menunaikan kewajiban SKS saja. Dia tidak peduli akan ilmunya. Yang penting hadir dan ikut ujian. Tidak ada rasa keingintahuan (curiousity). Padahal saya sudah serius mencurahkan seluruh daya upaya untuk menurunkan ilmu saya kepada sang mahasiswa. Mereka tidak sadar bahwa ilmu saya ini dicari banyak orang dan harganya mahal. Sayang sekali tidak dimanfaatkan.

Tentu saja ada banyak dosen (guru) yang bekerja hanya untuk memenuhi persyaratan administratif; datang dan bicara. Mereka tidak sungguh-sungguh ingin mengajar. Mungkin dahulunya ada idealisme untuk mengajar, tetapi kenyataan membuat mereka patah semangat dan kemudian sama dengan mahasiswanya; penuhi syarat administratif saja. Lengkaplah sudah keterpurukan pendidikan di Indonesia.

Untuk belajar, carilah guru yang bagus. I am a good teacher! (Self proclaimed? ha ha ha)

Tapi, saya tidak menyerah. Masih ada banyak orang yang ingin berguru tetapi belum menemukan guru atau sumber ilmu yang pas saja. Jangan menyerah.


Potret Kondisi SDM Indonesia

Tulisan ini merupakan dugaan saya – kalau tidak dapat dikatakan pengamatan – mengenai kondisi sumber daya manusia (SDM) di sekitar saya. Saya coba tampilkan ini dalam bentuk gambar dahulu.

IMG_9373 kenyataan sdm

Lulusan sekolahan (perguruan tinggi) atau calon pekerja merasa bahwa kemampuannya sudah bagus. Alasannya adalah dia membandingkan dirinya dengan kawan-kawan di sekitarnya. Karena kebanyakan kawan-kawannya biasa-biasa saja, maka dia merasa sudah jago. Hebat. Bahkan ada yang menjadi juara di kelasnya. Dia tidak membandingkan dirinya dengan “kawan-kawan” (peer) di luar negeri, yang sesungguhnya merupakan saingan dia.

Kenyataannya, industri atau tempat mereka akan bekerja membutuhkan kemampuan pekerja di atas itu. Para pekerja yang baru lulus dan baru mulai bekerja kaget dengan kebutuhan yang ada. Sebagai contoh, sering saya menanyakan kepada calon pekerja yang akan menjadi programmer mengenai bahasa (atau framework, tools, library) yang mereka kuasai. Banyak yang hanya berkutat di PHP saja. Tidak banyak yang pernah membuat skrip dalam bahasa Perl / Python / Ruby / sh / (dan bahasa interpreter lainnya). Barulah mereka sadar bahwa mereka itu kuper (kurang pergaulan) ketika menjadi mahasiswa. Itulah sebabnya ketika menjadi mahasiswa, jangan hanya kuliah saja.

Lebih parah lagi, kebutuhan di tempat saya lebih tinggi dari kebutuhan rata-rata di industri. Jangan ditanya kenapa. he he he. Jadi ekspektasi saya selalu meleset. Ugh!

Judul tulisan ini mungkin terlalu bombastis. Seharusnya saya tidak menyamaratakan dan membuat klaim “Indonesia”. Mungkin apa yang saya sampaikan ini hanya berlaku di lingkungan saya.


Peneliti, Industriawan, Pedagang, Investor, dan Pemerintah

Salah satu topik diskusi di kegiatan mentoring entrepreneurship mingguan saya kemarin adalah soal keterkaitan antara peneliti, industriawan, pedagang, investor, dan pemerintah. Sebetulnya awalnya dimulai dari pertanyaan mengapa banyak penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi tidak menghasilkan apa-apa? Mengapa tidak ada (tidak banyak) hasil penelitian yang mendukung industri? Dan seterusnya.

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda.

Tugas peneliti adalah meneliti. Persis seperti namanya. Dia tidak berkewajiban memasarkan hasil penelitian. Bahkan untuk membuat produk jadi pun masih bisa kita perdebatkan. Hasil dari penelitian dapat berbentuk karya ilmiah (makalah) atau paten. Hasil ilmiah ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk industriawan yang ingin membuat produk (atau layanan) berdasarkan hasil penelitian tersebut. Bahwa ada banyak hasil penelitian yang tidak terpublikasikan dengan baik, itu memang masalah lain dan memang ini menjadi tanggungjawab dari penelitian. Ini kita bahas lain kali ya.

Peneliti berada di menara gading (ivory tower). Mengawang-awang. Memang demikian. Kalau dilihat dari kasta (apakah masih ada?), mungkin peneliti berada di kasta Brahmana. (Benar?) Jadi urusan komersialiasi bukan menjadi perhatian mereka. Jangan disalahkan. Memang fungsinya demikian.

(Mengenai apakah topik penelitian harus terapan atau hanya teoretis, itu bahasan terpisah. Saya berpendapat, teoritispun harus tetap diakomodasi. Kemudian soal penelitian tidak harus selalu berhasil, bahkan kecenderungannya adalah gagal, juga kita bahas terpisah. Banyak sekali bahasannya ya?)

Peneliti biasanya berada di perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Banyak kasus (kalau banyak semestinya bukan kasus lagi ya?) produk atau layanan dikembangkan dari kampus (misal oleh mahasiswa) dan kampus tidak mendapatkan apa-apa. Menurut saya ini wajar saja. Mosok perguruan tinggi harus iri kepada mahasiswanya? Ini sama dengan orang tua yang iri kepada kesuksesan anaknya kemudian menuntut biaya kos-kosan dan makan kepada anaknya. ha ha ha. Sekarang banyak perguruan tinggi yang mencoba cari keuntungan dengan mencoba melakukan komersialisasi hasil penelitian. Menurut saya ini kurang pas.

Tugas industriawan yang mengembangkan produk untuk menjadi sebuah industri. Memang industriawan harus rajin-rajin melihat atau menyambangi perguruan tinggi untuk mendapatkan hasil penelitian yang menjadi basis dari produknya. Jangan berharap pihak perguruan tinggi yang akan menghubungi industriawan. Industriawan juga dapat melakukan penelitian sendiri. Jangan salah, perusahaan besar dapat menjadi penghasil penelitian juga. Contohnya adalah IBM. Lihat saja jumlah paten yang dihasilkan oleh IBM dengan jumlah peneliti yang tidak sedikit! Perguruan tinggi kalah oleh IBM dalam hal jumlah penelitiaannya. Sayangnya di Indonesia tidak banyak yang menjadi industriawan. Kebanyakan orang di Indonesia yang mengaku industriawan adalah pedagang.

Pedagang, sesuai dengan namanya, ya berdagang. Dia tidak harus terkait dengan hasil penelitian di Indonesia (lokal). Jika dapat membeli sebuah produk dengan harga yang murah di sebuah tempat, kemudian menjualnya di tempat lain (termasuk di Indonesia) dengan harga yang lebih mahal tentu akan dia lakukan. Tidak ada yang salah dari ini. Pedagang juga adalah pekerjaan yang terhormat. Hanya saja, kalau memang menjadi pedagang, ya jangan mengaku sebagai industriawan.

Investor adalah orang yang memberikan pendanaan dengan harapan terjadi imbal balik yang berlipat di kemudian hari. Investor berbeda dengan bank dalam hal risiko yang diambil. Investor lebih nekad. Gagal 9 dari 10 investasi merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, institutionalized investors nampaknya masih jarang. (Adakah?)

Pemerintah tugasnya adalah mempermudah ini semua dengan membuat aturan dan membuat infrastruktur yang tidak menarik secara hitungan bisnis bagi swasta. Pemerintah tidak mendapatkan hasil secara langsung. Adalah salah kalau pemerintah  mengeluarkan uang 10 rupiah dan berharap dapat kembalian dari uang itu. Tidak. Uang yang dikeluarkannya akan hilang (menjadi program). Hasilnya adalah terjadinya iklim penelitian, industri, dan perdagangan yang lebih kondusif. Dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Nah, ini yang kemudian disalahkan menjadi korupsi. Kan menguntungkan pihak lain? Nah.

Masing-masing pihak menjalankan fungsinya masing-masing. Saat ini peneliti dituntut untuk mampu mengkomersialkan hasil penelitiannya. Salah besar! Ini sama dengan menuntut investor untuk menghasilkan karya ilmiah (yang notabene pekerjaan peneliti). Tidak pas.

Begitu. Semoga menjadi jelas. (Atau menjadi semakin ruwet?) Yang pasti, akan muncul banyak pertanyaan lain. Ini wajar.

(Yang belum disebut budayawan, olahragawan, pemain band, … eh apa lagi ya? Jreng!)


Long Live Electronics!

[Mohon maaf, judulnya dalam bahasa Inggris karena itulah yang terbayang di kepala saya.]

Beberapa tahun yang lalau ada diskusi “galau” di antara kami, lulusan dan dosen dari jurusan Teknik Elektro. Pasalnya, mahasiswa lebih tertarik kepada ngoprek software daripada hardware. Banyak tugas akhir dan thesis dari mahasiswa Elektro yang akhirnya lebih berat aspek softwarenya. Ketika ditanyakan kepada sang mahasiswa, alasannya sederhana yaitu “software lebih mudah“. Hadoh.

Sesungguhnya ngoprek software itu terlihat mudah kalau dia hanya mainan (dolanan). Kalau dia dikerjakan secara sungguhan, software itu tidak mudah. Ada ilmunya. Kemarin ada orang yang mengatakan, buat apa kuliah untuk belajar pemrograman. Bisa belajar sendiri. Boleh jadi dia benar untuk sebagian kecil orang, tetapi umumnya orang masih harus sekolah untuk belajar pemrograman yang baik dan benar. (Ini bisa menjadi bahan diskusi yang lebih dalam.)

Ngoprek software itu lebih murah daripada ngoprek hardware. Nah, kalau yang ini mungkin benar. Kalau membuat rangkaian elektronik, kita harus beli komponen. Kalau komponennya rusak – dan ini sering terjadi dalam eksperimen – maka kita harus beli komponen lagi. Biarpun harganya murah, tetapi ini keluar uang secara nyata.

Anyway. Intinya adalah ada anggapan bahwa software itu lebih mudah sehingga banyak yang tidak tertarik kepada hardware.

Kami, khususnya yang berlatar belakang Elektronika, agak khawatir. Jangan-jangan masa depan Elektronika dan secara umum Electrical Engineering akan mati. Dia menjadi tidak relevan lagi. Hadoh.

Namun ternyata masa depan Elektronika cerah (kembali) dengan munculnya Internet of Things (IoT). Ada banyak aplikasi baru yang membutuhkan perangkat keras. Elektronika! Yaaayyy. Ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah kompleksitas dari komponen elektronika sudah semakin tinggi sehingga kemampuan komputasi komponen dalam ukuran kecil sudah menyamai komputasi komputer desktop (jaman dahulu). Mulanya muncul Arduino. Kemudian ada Raspberry Pi. Sekarang muncul yang lebih canggih (dan lebih kecil lagi), seperti Intel Curie.

Peningkatan kompleksitas dalam ukuran kecil ini juga dibarengi dengan harga yang murah. Ini yang membuat ngoprek perangkat keras (kembali) masuk ke dalam jangkauan kantong mahasiswa (dan laboratorium). Sementara itu banyak ide aplikasi yang dapat dikembangkan dengan menambahkan hardware ini; wearable computing, smart sensors, health & personal applications, dan masih banyak lagi. Maka ngoprek perangkat keras menjadi relevan lagi. Ilmu elektronika menjadi relevan kembali. Alhamdulillah.

Long Live Electronics!


Kok Dosen Tahu?

Kadang ada mahasiswa yang mau menipu (ngibulin) dosen dengan tugas-tugasnya. (Hal yang serupa dengan siswa dan guru.) Tentu saja modus seperti ini seringkali ketahuan. Sang mahasiswa bertanya-tanya, kok dosennya tahu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya tampilkan foto (yang lucu) ini.

anak nyalahin dog

Dialog yang terjadi mungkin seperti ini.

Orang tua: Hadoh biyuuung. Siapa yang corat-coret?
Anak: Emm … bukan aku. Dia (sambil nunjuk doggy)
Doggy sambil mendhelik: (aje gile busyet, teganya mas bro)

Tentu saja bagi orang tua akan gampang mengetahui kejadiannya. Sementara bagi sang anak, heran banget. Bagaimana orang tua saya kok tahu? Kira-kira hal yang mirip seperti ini terjadi antara mahasiswa dengan dosen.

Nah. Lain kali jangan coba-coba nipu dosen atau guru ya.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.635 pengikut lainnya