Semester Baru

 

Semester baru sudah dimulai di ITB hari-hari kemarin. Kelas sudah mulai. Saya mengajar tiga kelas semester ini. Semuanya berhubungan dengan keamanan informasi (information security). Ini foto kelas Keamanan Informasi (7:00 s/d 9:00), dipotret di akhir kelas. Masih pada segar.

P_20170118_083618_BF-01 kelas

Selain mengajar, saya juga membimbing S2 dan S3. Lupa jumlah mahasiswa bimbingannya. ha ha ha. Ini foto ketika bimbingan dengan sebagian mahasiswa.

P_20170118_111302_BF bimb

Waktunya memperbaharui halaman web juga. (Belum sempat euy.) Demikian pula masih ada setumpuk makalah (perbaikan) mahasiswa yang harus saya koreksi lagi. Ballpoint sudah disiapkan.

p_20170117_114824-01-ballpoint

Ayo semangat!

Menertawakan Sains

SSaya suka komedi. Banyak hal yang dapat dipelajari dari komedi. Saya belajar bahasa Inggris melalui komedi. Demikian pula, ada banyak cerita sejarah yang saya pelajari dari komedi juga. Sains? Matematika? Rekayasa? Semua ini dengan lawakan? Wah ini baru menarik.

Pagi hari di awal tahun 2017 ini saya membuka internet. Serius. Sehabis Subuh, sebelum matahari terbit saya membuka internet. Entah kenapa, terbuka YouTube. Yang terpampang di layar saya ada berbagai pelawak, mulai dari Johnny Carson, Jonathan Winters, dan kemudian Robin Williams. Eh, ternyata salah satunya menunjuk ke video ini.

Nampaknya ini adalah sebuah acara wawancara tentang Matematika dengan pelawak Steve Martin. Entah kenapa, Steve mengajak pelawak Robin Williams ke atas panggung. Mungkin dia tahu bahwa Robin Williams lebih tahu tentang sains (Matematika dan Fisika) lebih dari dia. Maka terjadilah berbagai adegan lucu di video itu. (Videonya dipotong menjadi beberapa video, masing-masing 10 menitan.) Gak bisa berhenti nonton video ini. Aje gile busyet dah.

Saya baru tahu bahwa Robin Williams itu ternyata cerdas banget! Dia banyak membaca dan mengerti banyak hal. Silahkan lihat videonya. Ada banyak lawakan yang terkait dengan matematika (dan fisika). Serius! Edan pisan!

Lawakan jenis ini – yang membutuhkan pendengar untuk mikir – merupakan jenis yang saya sukai. Ah, ternyata bisa juga menggabungkan lawakan dengan sains. Ini merupakan dorongan positif buat saya agar terus dapat menjelaskan konsep yang susah dengan lawakan.

Belajar ah … (dan banyak membaca tentunya).

Membaca Adalah Bekerja

Ada banyak pekerjaan yang menuntut kita untuk membaca. Untuk mengoperasikan sebuah alat harus baca manualnya dahulu. Kadang manualnya bertumpuk-tumpuk. Untuk memahami sebuah konsep, harus baca dahulu dokumen yang terkait dengan konsep tersebut. Untuk membuat sebuah laporan, harus membaca data yang diterima dahulu (dan kemudian dilanjutkan dengan memahami sebelum menuliskannya). Seringkali datanya berlembar-lembar (dan bahkan ada yang jumlahnya ratusan halaman).

Banyak orang yang menyepelekan membaca sehingga tidak dapat mengapresiasi orang yang membaca. Dianggapnya orang yang terduduk dengan sebuah dokumen di hadapannya adalah tidak bekerja. Kan hanya membaca. Apa susahnya?

Itulah sebabnya juga seringkali mahasiswa S3 disepelekan oleh berbagai pihak. Oleh tempat kerjanya dia tetap diberi pekerjaan yang berat karena toh sekarang dia hanya membaca makalah orang lain. Apa susahnya? (Oleh sebab itu mahasiswa S3 sering frustasi karena tidak dipahami.)

Kalau membaca – hanya sekedar membaca – saja sudah dianggap susah, apalagi memahami ya?

[sedang membaca dan mencoba memahami]

Judul / Topik Thesis / Penelitian

Minggu ini mulai banyak mahasiswa berdatangan untuk mencari topik penelitian & thesis S2 mereka. Berikut ini adalah beberapa topik yang saya tawarkan. Deskripsi dari masing-masing topik mungkin belum terlalu rinci, tetapi mudah-mudahan penjelasan ini masih dapat memberikan bayangan. Topik besarnya adalah security & big data.

  1. Anonimity + eVoting + Visual Cryptography ID. Topik ini melanjutkan disertasi dari I Made Ardhana (softcopy disertasi sedang saya telusuri dan akan diupload di web site). Fokus kepada implementasi ide-ide yang ada di dalam disertasi tersebut. Ada beberapa design decissions yang harus diambil dalam implementasinya beserta pembaharuan teorinya. Titik beratnya kepada programming. (Ada beberapa snippet code yang sudah saya buat sebagai proof of concept.) [Sudah ada rencana 1 mahasiswa yang memilih ini. Masih dapat ditambah khususnya untuk sisi attack-nya.] Untuk aspek teorinya, pengukuran tingkat anonimitas, juga sedang mencari mahasiswa. Namun yang ini lebih banyak aspek matematisnya. Jika menyukai matematika (atau memang mahasiswa matematika), bisa memikirkan topik ini.
  2. Stegokripto. Meneruskan thesis dari Almaarif (lihat budi.rahardjo.id bagian students). Pencarian kode yang berbeda antara data dan noise. (Coding theory. Mencari kode yang orthogonal terhadap noise. Ide on-curve dan off-curve pada Elliptic Curve juga dapat dipakai.) Pada thesis terdahulu proses pembedaan kode dan noise dilakukan dengan menggunakan marker tertentu. (Proses pendeteksian dapat dilakukan dengan sliding window, atau bahkan matriks. Belum dilihat aspek kinerjanya.) Kode terdahulu juga dapat lebih disempurnakan sehingga aplikasi menjadi lebih integrated. (Sebelumnya pecah-pecah menjadi beberap aplikasi.)
  3. Mekanisme pengamanan program chat (Signals / dahulu TextSecure, WA, dll.) dengan menggunakan Curve 25519. Thesis memahami protokol yang digunakan dan melakukan re-implementasi di program Open Whisper Systems. (Ini juga dapat menjadi topik thesis di Matematika.)
  4. Cryptocurrency. Block chain. Ini adalah konsep di belakang Bitcoin. Memahami dan membuat protototipe sebuah digital money. Mengembangkan teori uang digital.
  5. Secure phone. Beberapa komponen dari konsep secure phone, yaitu authentication module (menggunakan SAM). [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengerjakan ini.] Ini bagian besar dari disertasi Virtual Trusted Machine (mahasiswa S3: Raidun). Beberapa kemungkinan implementasi dari ide secure phone dengan menggunakan DSP board.
  6. Proteksi DNS terhadap DoS attack. [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengambil ini.] Fokus kepada teknis. (Sementara untuk aspek teori adanya di level S3.)
  7. Automated software security testing. Exploring several framework. [Sudah ada 1 mahasiswa yang memilih menggunakan Sully]
  8. Beberapa sub-topik dari disertasi mahasiswa saya. (Mahasiswa S3 akan memberikan beberap sub-topik dari penelitian [kesulitan] mereka saat ini yang dapat menjadi topik thesis.) Topik terkait dengan Graph-based Social Network Analysis (SNA), graph compression, big-data in SNA,  Distributed IDS (ant-colony), eLearning berbasis Jigsaw, …

Sementara ini daftarnya adalah seperti itu. Akan saya tambahkan dengan link-link lain agar lebih jelas lagi dalam update berikutnya.

Peneliti(an) di Indonesia

Banyak orang yang berkeluh kesah bahwa penelitian di Indonesia lebih “rendah” dibandingkan dengan negara-negara lain. Indikatornya adalah jumlah publikasi dari perguruan tinggi di Indonesia lebih sedikit dari perguruan tinggi di negara lain. Ya, itu fakta.

Ada banyak kendala terkait dengan penelitian di Indonesia. Saya sudah pernah membahasnya di blog ini. Tidak perlu saya ulangi bukan?

Hal lain yang membuat susahnya publikasi di Indonesia adalah kurangnya orang yang mau mereview makalah untuk berbagai jurnal. Kalau kita menulis makalah dan diterbitkan di sebuah jurnal, maka kita mendapat nilai (kum) dari makalah itu. Kalau kita mereview, tidak dapat apa-apa. ha ha ha. Oleh sebab itu sulit menemukan reviewer yang baik di Indonesia.

Oh ya, makalah kami baru saja secara resmi dipublikasikan. Untuk menambahkan publikasi orang Indonesia.

paper stegokripto

Budi Rahardjo, Kuspriyanto, Intsan Muchtadi-Alamsyah, Marisa W. Paryasto, “Information Concelment Through Noise Addition,” 2015. Dapat diunduh di: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877050915035577

Bagaimana Nasib Jurnal Lokal?

Baru-baru ini saya membaca tentang iming-iming duit (bahasa halusnya adalah “apresiasi”) bagi yang menulis di jurnal internasional. Tujuannya adalah agar meningkatkan jumlah publikasi peneliti Indonesia di jurnal internasional. Bagus sih. Memang tingkat kemajuan pendidikan dan penelitian sebuah negara salah satunya diukur dengan jumlah publikasi di jurnal internasional yang terakreditasi.

Namun bagi negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris ini menjadi masalah. Sebagian besar peneliti di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Lantas apa kita tidak perlu ada jurnal dalam bahasa Indonesia yang berkualitas baik?

Kalau semuanya diarahkan untuk menulis dalam jurnal internasional, yang menggunakan bahasa Inggris, lantas apa jadinya jurnal lokal? Semakin terpuruk saja. Semakin tidak ada insentif untuk menulis di publikasi lokal.

Nampaknya kita harus membuat sebuah jurnal lokal yang berkualitas sehingga banyak orang yang mau mempublikasikan tulisannya dalam bahasa Indonesia. Menulis bukan untuk sekedar mendapatkan “kum” atau “rupiah”, tetapi karena memang mencintai ilmu dan teknologi. Berminat?

e-Commerce Untuk UMKM

Hari Senin lalu, saya mengadakan acara Focus Group Discussion (FGD) tentang pemanfaatan e-commerce untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Inti topik yang dibahas adalah apakah memang UMKM dapat memanfaatkan e-commerce?

Pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk e-commerce diaulat dapat meningkatkan jumlah transaksi perdagangan. Untuk perusahaan besar, hal ini dapat dimengerti. Namun, bagi UMKM ini masih dipertanyakan. Ada beberapa masalah.

Pertama, UMKM memliki sumber daya manusia (SDM) yang sedikit. SDM ini juga biasanya difokuskan untuk membuat produk, bukan untuk mengelola sistem e-commerce. Penguasaan teknis dari SDM ini juga terbatas.

Kedua, lokasi UMKM juga menentukan ketersediaan infrastruktur IT. Bayangkan UMKM yang berada di desa terpencil. Jangankan untuk e-commerce, listrik juga mungkin terbatas. Telekomunikasi juga mungkin belum menjangkau.

Selain itu sistem e-commerce yang ada saat ini mungkin harus dipermak sehingga sesuai dengan kebutuhan dan kondisi UMKM. Sebagai contoh, UMKM biasanya tidak memiliki sistem inventory yang dapat dihubungkan dengan sistem e-commerce. Sistem pembayaran non-tunai juga biasanya terbatas pada transfer bank.

Ah, masih banyak tantangan yang harus dipecahkan agar e-commerce dapat dimanfaatkan lebih maksimal oleh UMKM.