Memantau Temperatur Secara Daring

Beberapa hari yang lalu katanya Bandung dingin. Pagi hari temperaturnya bisa mencapai 15C. Wah. Yang bener? Akhirnya saya iseng dan memasang sensor temperatur (DHT-22) yang saya hubungkan ke perangkat IoT (ESP 8266). Data dari sensor ini dapat diakses secara daring (online), meskipun masih internal di jaringan LAN kami. Videonya ada di sini.

Hasil dari pembacaan sensor kemudian saya plot dalam bentuk grafik. Hasilnya kok ada yang aneh. Ada lonjakkan pada jam tertentu. Apa ya? Lihat pada bagian kiri di grafik berikut ini. Ada bagian yang meloncat.

suhu

Akhirnya tadi pagi, saya tongkrongi pas jam segitu. Apa yang terjadi? Eh, ternyata sensor terkena sinar matahari secara langsung. Ha ha ha. Pantas saja ada lonjakan data. Maka sensor saya pindahkan, tapi masih di bawah atap. Hasilnya tidak ada lonjakan lagi, tapi temperatur Bandung masih terlihat tinggi.

photo6127252777890589447

Sekalian saya pindahkan ke tempat yang lebih adem saja. Di sini saja. Mari kita amati perubahannya. Secara cepat saya amati, bedanya 1 derajat Celcius. Beda jarak 1 meter sudah beda hasilnya. Masalahnya adalah lebih ke arah di bawah atap yang berbeda. Saya akan amati lebih lanjut.

Solid: Memisahkan Data dari Aplikasi

Siapa yang sudah pernah dengar nama “Tim Berners-Lee”? Kalau Anda belum tahu, silahkan Google dahulu. Ya, dia adalah “penemu” – kalau dapat disebut penemu karena sebetulnya lebih cocok disebut “pengembang” – dari World Wide Web (WWW). Saya mengenal beliau sejak pertama kali WWW dikembangkan karena kebetulan. Kebetulan saya “terpaksa” menggunakan workstation NeXT dan kebetulan juga Tim Berners- Lee menggunakan NeXT workstation ketika mengembangkan WWW. (Mestinya saya cerita tentang hal ini ya? Panjang. Jadi saya tunda ya.)

Baru-baru ini Tim Berners-Lee mengusung sebuah ide baru yang disebut Solid. Apa itu Solid? Terpaksa saya membaca sana sini karena informasinya masih sangat minim. Solid adalah sebuah konsep (platform?) untuk mengembangkan aplikasi dengan memisahkan data dari aplikasi. Mengapa pemisahan ini penting?

Saat ini ketika kita menggunakan sebuah aplikasi (misalnya aplikasi untuk handphone Android kita), maka aplikasi tersebut membutuhkan informasi mengenai Anda sebagai penggunanya. Aplikasi tersebut akan meminta identitas Anda, nama, alamat email, dan seterusnya. Bahkan untuk aplikasi yang bersifat transaksional, aplikasi tersebut akan meminta nomor rekening Anda.

Ketika Anda memasang aplikasi yang lain lagi, maka proses di atas terulang kembali. Anda harus memasukkan data Anda lagi, lagi, dan lagi. Akibatnya adalah ada banyak data Anda yang tercecer dimana-mana. Di setiap aplikasi ada data Anda. Anda tidak tahu data apa saja yang disimpan di sana. Yang mengerikan lagi adalah kalau data Anda itu berada di berbagai penyedia layanan tersebut. Pokoknya kita sudah tidak dapat mengendalikan data (pribadi) kita lagi. Solid mencoba memecahkan masalah tersebut.

Pada Solid, data kita ditempatkan pada sebuah Pod (namanya itu). Aplikasi yang membutuhkan data kita akan mengakses Pod tersebut. Kita dapat memilah-milah mana yang akan kita berikan akses (atau kita cabut aksesnya). Data akan berada di satu tempat. Memudahkan kita untuk mengelolanya.

Nah, bagaimana cara mengembangkan aplikasi yang berbasis Solid ini? Itu saya juga belum tahu. Ha ha ha. Mari kita belajar bersama.

Apa Itu Internet of Things (IoT)?

Belakangan ini mungkin Anda sering mendengar kata IoT – Internet of Things. Apalagi dengan ramainya istilah industri 4.0, semakin banyak orang berbicara tentang bagaimana cara menghubungkan dunia nyata (fisik) dengan dunia siber (cyber). Apa itu IoT?

Ada dua kata dalam Internet of Things, yaitu “Internet” dan “Things”. Kita mulai dari kata keduanya dahulu, “things”. Apa itu “things”?

Terjemahan langsung dari kata “things” adalah “barang” atau “benda”. Dalam istilah ini yang dimaksudkan dengan barang adalah … ya apa saya, barang-barang. Maksud lebih spesifiknya lagi adalah barang yang dapat kita program. Kalau dahulu, barang atau benda yang dapat diprogram adalah komputer. Namun sekarang sudah banyak benda lain yang dapat diprogram. Handphone kita juga dapat diprogram. Microwave di dapur kita juga dapat diprogram. Mesin cuci juga dapat diprogram, meskipun barang-barang yang terakhir saya sebutkan di sini memiliki pemrograman yang terbatas.

Dalam istilah IoT, yang dimaksudkan barang adalah semua barang. Keberadaan komponen mikroprosesor dan mikrokontroler yang semakin kecil dan semakin murah membuat semua benda dapat diprogram.

Kata kedua adalah “internet”. Yang dimaksud dengan “internet” di sini adalah jaringan komputer. Boleh jadi jaringan komputer ini adalah “internet” yang kita kenal sekarang, tetapi boleh juga jaringan internal (misal berbasis Bluetooth).

Benda yang dapat diprogram sudah cukup menarik, tetapi mereka berdiri sendiri. Begitu mereka dapat diakses melalui sebuah jaringan maka benda tersebut dapat mengirimkan data ke tempat lain. Mereka juga dapat dikendalikan (dapat diprogram) dari jarak jauh.

Gabungan kedua kata tersebut – Internet of Things – bermakna benda-benda yang dapat diprogram dan terhubung melalui jaringan.

Contoh-contoh IoT ada banyak. Dalam kehidupan sehari-hari yang sudah sering kita lihat adalah smart watch, jam yang bukan hanya dapat menunjukkan waktu saja tetapi dapat juga memantau kondisi fisik kita; berapa jarak jalan kaki kita, denyut jantung, dan seterusnya. Hasilnya dapat dilaporkan melalui Bluetooth ke handphone dan dapat langsung terlihat di internet. Selain ini masih banyak contoh-contoh lainnya.

Lomba Pemrograman (IoT)

Internet of Things (IoT) sedang ramai dibicarakan. Salah satu pemanfaatan yang paling mudah dilakukan dengan IoT adalah untuk memantau temperatur, kelembaban, dan hal-hal yang terkait dengan lingkungan (cuaca? weather).

Di Bandung, kami sudah memasang beberapa (banyal) sensor yang terkait dengan cuaca ini. Weather sensors. Target awalnya adalah tersedia 150 sensor yang tersebar di kota Bandung. Data dari sensor-sensor tersebut kami kumpulkan dalam sebuah basis data. Nah, sekarang data tersebut kami buka.

Kami mengajak semua untuk mengembangkan aplikasi terkait dengan data cuaca tersebut dalam sebuah lomba. HackBDGWeather. Hackathon ini sekarang sudah dibuka dan kami menunggu proposal-proposal (ide-ide) dari Anda sekali. Silahkan kunjungi situs webnya di

https://hackathon.cbn.id


Ayo ramaikan. Kami tunggu proposalnya ya. Ditunggu sampai tanggal 15 Januari 2019.

Source Code Versioning & Security

Dalam kuliah “Software Security” yang saya ajarkan minggu lalu, kami berdiskusi mengenai topik “source code versioning” dan “security“. Apa kaitannya keduanya? Adakah kaitannya?

Source code versioning adalah sebuah kegiatan dalam pengembangan perangkat lunak. Pada awalnya pengembangan perangkat lunak dilakukan secara serampangan. Tidak ada metodologi. Pokoknya asal jadi saja. Salah satu masalah yang muncul adalah ketidakjelasan versi yang digunakan. Misal, di sistem produksi ada masalah dengan perangkat lunaknya. Dia menggunakan versi 1.1. Sementara itu di bagian pengembangan, perangkat lunaknya sudah sampai ke versi 1.7. Agak sulit menentukan masalah karena ada perbedaan versi. Masalah lain juga dapat terjadi ketika terjadi upgrade. Misal, perangkat lunak dari versi 1.1 diperbaharui menjadi versi 1.3 kemudian diperbaharui lagi ke versi 1.7. Ternyata ada masalah di versi 1.7, maka perangkat lunak harus dikembalikan ke versi sebelumnya. Tanpa menggunakan versioning, ini akan sulit dilakukan.

Saat ini ada banyak sistem source code versioning ini. Yang paling terkenal saat ini adalah Git.

Mari kita sekarang membahas topik utamanya; hubungan antara code versioning ini dengan security. Dalam diskusi yang kami lakukan, kami belum menemukan hubungan atau alasan yang dapat diterima dengan mudah bahwa code versioning itu mendukung security. Yang kami temukan adalah alur seperti ini:

Pengembangan perangkat lunak sangat disarankan (harus?) menggunakan code versioning. Karena code versioning ini digunakan, maka hal-hal yang terkait dengan itu harus aman (secure). Kendali-kendali keamanan apa saja yang sudah diterapkan?

Itu yang baru dapat kami utarakan.

Mengajar(i) Data Science

Kemarin (Senin) adalah sesi kedua dari acara “Data Science with Python”, yang kami adakan di Bandung Digital Valey (BDV). Pada acara ini kami mengajari penggunaan Python untuk Data Science.

Apa itu Data Science? Masih belum ada jawaban yang dianggap sebagai definisi formal dari “data science”. Definisi yang paling “dekat” dan yang paling banyak digunakan adalah penjelasan dari Drew Conway. Pada intinya Data Science adalah gabungan dari kemampuan komputasi (hacking skill), matematika (statistik), dan pemahaman atas masalah yang akan diteliti (domain problem).

Pada pertemuan pertama, Senin sebelumnya, kami melakukan persiapan-persiapan dahulu yaitu memasang Python beserta modul-modul (library) terkait. Ternyata ini tidak mudah karena ada banyak versi dan konfigurasi. Python sendiri ada versi 2 dan 3. Kali ini kami fokus ke versi 3 (meskipun saya pribadi masih banyak mengunakan versi 2). Sistem operasi yang digunakan peserta juga bervariasi; Mac OS X, Linux, dan Windows. Masing-masing juga konfigurasinya beda-beda. Jadi intinya adalah … pusing.

Selain tools, kami mulai menggunakan tools tersebut untuk melakukan sedikit operasi statistik, yaitu linear regression. Ini kemudian menjadi pekerjaan rumah karena waktunya yang tidak cukup.

Nah, kemarin topik ini dilanjutkan. Setelah membahas PR tentang linear regression, kami kemudian maju lagi ke topik baru. Kali ini yang kami lakukan adalah memproses data log dari web server dan mengambil data yang ada dalam request kepada web server tersebut. Data ini harus diproses (parsing) dan kemudian akhirnya dimasukkan ke Pandas, sebuah kumpulan tools Python untuk pemrosesan data.

Cerita teknisnya menyusul ya.

Mencari Developer Software

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara Bekraf yang diorganisir oleh Dicoding di Bandung. Acara ini mengumpulkan developer software (pengembang aplikasi) di kota Bandung dan diberikan berbagai pengetahuan (seminar, training). Berikut ini adalah contoh foto yang hadir. Banyak! Lebih dari 1000 orang!

DSC_0217_0001

Namun yang menjadi masalah adalah ketika saya mencari developer, ternyata kesulitan. Sebetulnya mereka ada dimana? Ini adalah sebuah paradoks; katanya banyak SDM yang mencari pekerjaan tetapi ada banyak perusahaan yang kesulitan mencari SDM.

Saya mendapat permintaan untuk programmer dan support (untuk berbagai jenis software baik yang sudah kadaluwarsa maupun yang masih baru). Akhir-akhir ini malahan dapat permintaan tiap minggu! Nah, apakah perlu saya tanggapi permintaan-permintaan ini dengan lebih serius? Dahulu kami memang pernah memiliki perusahaan outsourcing seperti yang dimaksudkan, tetapi sekarang para pengembangnya sudah tersebar. (Ada yang pindah ke luar kota, mengambil kuliah di luar negeri, menjadi freelancer, membuat perusahaan sendiri, atau menjadi bagian dari perusahaan kami lainnya.) Nah, perlukah kami membuat kembali perusahaan ini?

Potensi Aplikasi Mobile di Indonesia

Banyaknya pengguna handphone di Indonesia merupakan kesempatan untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi mobile. Namun jika kita lihat, kesempatan ini belum dimanfaatkan oleh pengembang aplikasi mobile di Indonesia. Coba kita lihat daftar aplikasi yang paling populer.

  1. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Google Playstore
  2. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Apple Store

Dari daftar tersebut dapat kita lihat bahwa aplikasi mobile yang populer kebanyakan (hampir semua malahan) tidak dikembangkan oleh pengembang dari Indonesia. Walah.

Jika kita teliti lebih lanjut, aplikasi-aplikasi yang populer dari pengembang Indonesia biasanya terkait dengan bisnis pemilik aplikasi tersebut. Sebagai contoh, aplikasi Tokopedia merupakan pendukung dari market place Tokopedia. Demikian pula dengan Bukalapak, Go-jek, MyTelkomsel, dan seterusnya. Tidak ada aplikasi yang berdiri sendiri sebagai aplikasi.

Hal yang menarik lainnya adalah pasar aplikasi mobile di luar negeri didominasi oleh Games. Di Indonesia, meskipun sudah banyak yang berusaha, pasar ini malah belum barhasil dikuasai.

Hasil berbincang-bincang dengan berbagai pengembang aplikasi mobile, kebanyakan mereka mengembangkan aplikasi sesuai dengan kebutuhan klien. Misal ada klien yang berupa sebuah perusahaan yang minta dibuatkan aplikasi, maka aplikasinya ya memang khas untuk perusahaan tersebut, bukan untuk umum.

Jadi bagaimana masa depan pengembang aplikasi mobile di Indonesia?

Koding Atau Buat Dokumentasi

Sekian lama saya tidak ngeblog itu ada alasannya. Saya lagi (kebanyakan) koding. Membuat kode program untuk berbagai hal, terutama untuk aplikasi Internet of Things (IoT). Tentu saja ada kegiatan-kegiatan lain yang harus saya lakukan (dan bahkan mungkin juga yang lebih dominan), tetapi kali ini saya ingin menyoroti masalah koding.

Salah satu masalah yang sering dikeluhkan terhadap para koder (programmer) adalah kuranganya dokumentasi dari kode yang mereka buat. Ini betul. Sebagai seorang koder, saya juga sering mengalami dilema. Di satu sisi saya ingin membuat dokumentasi, tetapi di sisi lain saya masih harus meneruskan kodingan. Kalau tadi beres satu bagian, maka masih ada bagian lain yang harus dikodekan. Belum lagi kode bagian sebelumnya juga masih harus dimodifikasi. Akibatnya, waktu malah digunakan untuk membuat kode baru dibandingkan dengan membuat dokumentasi.

Yang menjadi masalah adalah banyak hal yang harus didokumentasikan. Design decisions, misalnya. Mengapa saya melakukannya seperti itu di sebuah kode? Ada alasannya. Kalau tidak didokumentasikan, maka koder selanjutnya akan kesulitan untuk memahami kode yang sudah saya buat. Jangankan koder lain, saya sendiripun kalau sudah lewat sekian bulan maka sudah lupa dengan kode-kode yang saya buat sebelumnya.

Singkatnya mengabaikan dokumentasi itu buruk! Iya semua orang tahu, tetapi tetap saja dilakukan. Sayapun tetap melakukannya. Nah, sebetulnya waktu yang saya gunakan untuk ngeblog ini dapat digunakan untuk membuat dokumentasi. Ini malah ngeblog. ha ha ha. Tapi kalau saya tidak memaksakan ngeblog, pasti ada saja yang lebih “penting”(?). Akibatnya ya blognya jadi kosong.

Dokumentasi harus menunggu. Ngeblog dahulu. Wah.

Masa Depan Industri Mikroelektronika

Menebak masa depan bukanlah hal yang mudah. Orang yang hebatpun sering salah dalam memprediksi. Saya sendiri pernah “beruntung” menebak masa depan beberapa teknologi dengan baik karena kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula. (I was in the right place and the right time.) Sebuah keberuntungan.

Sebagai contoh, saya mengenal World Wide Web (WWW) sejak pertama kali dibuat oleh Tim Berners-Lee. Kebetulan pada saat itu saya harus bekerja menggunakan NeXT computer. Pada saat yang sama, di Swiss, Tim Berners-Lee juga menggunakan komputer NeXt untuk mengembangkan WWW-nya. Saya sempat katakan bahwa WWW memiliki masa depan yang cerah, tetapi orang-orang tidak percaya karena waktu itu sedang musimnya protokol / aplikasi “Gopher”. Untuk membuktikannya, saya membuat halaman tentang Indonesia yang pertama. (The Indonesian homepage.)

Hal yang sama juga terjadi dengan Linux. Pada masa itu saya membutuhkan sistem operasi UNIX untuk komputer di rumah. Di kampus / kantor saya menggunakan Sun Microsystem untuk pekerjaan dan penelitian saya. Di rumah saya hanya punya komputer berbasis Intel. UNIX yang ada saat itu adalah SCO UNIX yang mahal dan Minix (yang entah kenapa kurang sreg). Ternyata di Finlandia ada seorang mahasiswa yang sedang berusaha membuat sebuah sistem operasi yang mirip UNIX. Saya jadinya ikut ngoprek juga. Ternyata asyik. Saya ngajakin teman-teman buat perusahaan pendukung Linux, tetapi pada sibuk sekolah semua. Akhirnya kami tidang ngapa-ngapain. Muncullah RedHat.

Nah, saya punya perasaan yang sama tentang Internet of Things (IoT) ini. Ini adalah masa depan.

Ketika saya berbicara dengan orang-orang pembuat perangkat keras, manufakturing elektronika dan mikroelektronika, kebanyakan masih mengarah kepada produk SIM card (smartcard). Dapat dipahami karena pasar SIM card di Indonesia saja ada lebih dari 500 juta unit pertahunnya. Sebuah pasar yang sangat besar. Maka akan sangat sulit untuk membujuk mereka untuk berubah haluan.

Kalau kita perhatikan lebih lanjut perangkat IoT ini, tidak ada yang menggunakan SIM card. Komunikasi antar perangkat ini sekarang kebanyakan menggunakan WiFi. Ke depannya apakah akan tetap menggunakan WiFi? atau Bluetooh (BLE)? Zigbee? LoRa? Yang pasti nampaknya bukan yang berbasis seluler. (Halo perusahaan seluler. Siap-siap menurun.)

photo559633135318444158

Komponen utama dari IoT adalah “prosesor” dan “media komunikasi”. Kunci utamanya adalah harus murah. Sangat murah. Mereka tidak harus menggunakan prosesor yang paling hebat (secara komputasi), tetapi yang cukup bagus dan murah. Masalahnya, jumlah yang diproduksi ini skalanya adalah milyaran unit. Beda 10 sen saja sudah beda jauh biayanya.

Jadi prosesor jenis apa? Nah, itu kita belum tahu. Sama-sama mencari tahu. Bahkan perusahaan besar sekalipun, seperti Intel dan IBM, masih mencari-cari. Mari kita perhatikan perkembangannya.

[Hal lain yang terkait dengan software dan data akan kita bicarakan dalam topik terpisah. Kita masih mencari “killer application” untuk IoT sebagaimana adanya Visicalc (spreadsheet) untuk komputer dan SMS untuk handphone. Google-nya IoT?]

IoT Programming

Steve Jobs pernah berkata, “Untuk setiap penggemar hardware, ada 10 orang yang suka ngulik software. Software hobbyists”. Tidak persis benar, tetapi kira-kira begitulah kata-katanya. Itulah sebabnya dia (dan Steve Wozniak) membuat komputer Apple ][. Sebelumnya kalau mau ngoprek software, harus ngoprek kit komputer. Harus tahu hardware. Padahal ada orang yang tidak memiliki latar belakang hardware, tapi ingin ngoprek komputer.

Salah satu kesulitan ngoprek hardware adalah menyambung-nyambungkan komponen. Bahkan untuk sekedar menyambungkan LED juga tidak mudah. Padahal “hello world” di dunia hardware itu adalah blinking LED.

Jika menyambungkan 1 LED saja sudah susah, apalagi menyambungkan 6 LED (atau lebih). Itulah sebabnya jarang yang membuat tutorial untuk menyalakan LED lebih dari 1 buah.

Salah satu solusi yang kami tawarkan adalah  membuat LED board yang cocok dengan board yang umum ada di lapangan. Sebagai contoh, ini adalah tampilan ProcodeCG LED (6 buah LED) yang disambungkan dengan NodeMCU. Bersih kan? Tidak perlu ada kabel-kabel.

p_20170306_092518-nodemcu-procodecg-0001

Sekarang kita dapat membuat kode Knight Rider LED tanpa perlu pusing dengan kabel-kabelnya. Jadi orang yang gemar software tetapi tidak memiliki latar belakang hardware dapat juga ikut ngoprek IoT (Internet of Things).

[Nanti video dan kode untuk menyalakan LED tersebut akan saya unggah ke YouTube. Sekarang akses internet lagi lemot.]

Selamat ngoprek.

Ngoprek IoT

Sudah seminggu ini (atau mungkin lebih?) saya ngoprek Internet of Things (IoT). Apa sih IoT itu? Pada dasarnya ini adalah perangkat keras (hardware) dalam ukuran kecil yang dapat diprogram untuk mengambil data (misal data temperatur) dan meneruskannya ke internet. Teknologi elektronika dan komputer berkembang dengan pesat sehingga perangkat dapat menjadi lebih kecil dan murah. Demikian pula kecepatan akses internet menjadi lebih cepat dan juga lebih murah. Kedua hal inilah yang menyebabkan populernya IoT.

p_20170220_075632-kopi-iot-01
NodeMCU boards

Latar belakang saya memang elektronika, sehingga seharusnya tidak banyak kesulitan dalam ngoprek IoT ini. Kenyataannya ada hal-hal yang sangat spesifik sehingga harus saya oprek dulu sebelum bisa jalan. Tadi malam saya ngoprek sampai jam 2 pagi (eh, 2 malam?). he he he.

Saya memiliki banyak development boards. Begitu ada yang baru, beli atau minta. (Yang terakhir itu yang menarik, minta. he he he.) Terus dioprek. Hasilnya saya masukkan ke YouTube dan kodenya saya simpan di Github supaya dapat dimanfaatkan orang lain. Ayo ngoprek IoT juga.

Mengajarkan Debugging?

Bagaimana ya cara mengajarkan “debugging” (mencari sumber masalah dalam koding, sistem)?

Seringkali kita memberikan tutorial atau tugas tentang satu hal (kode pemrograman misalnya). Kemudian siswa mengikuti tutorial tersebut. Ketika ada masalah, tidak jalan, maka siswa kesulitan mencari sumber masalahnya. Ketika melapor, yang dilaporkan juga tugas tidak jalan. Nah ini membingungkan karena ada banyak hal yang membuat sebuah kode / sistem tidak jalan.

Hal yang sama juga terjadi dalam pengembangan sebuah sistem. Ketika ada masalah maka kita harus mencari sumber masalahnya dan memperbaikinya. Debugging.

Kemampuan debugging ini ternyata tidak dimiliki oleh semua orang. Namun semestinya bisa diajarkan. Bagaimana ya cara mengajarkannya yang baik?

Salah satu ide adalah dengan membuat soal yang memiliki kesalahan, kemudian siswa diminta untuk mencari kesalahan tersebut dan memperbaikinya. Semakin sering melakukan hal ini (mencari kesalahan dan memperbaikinya), mudah-mudahan meningkatkan kemampuan untuk debuggingnya.

Hal lain juga yang perlu diajarkan adalah bagaimana membagi-bagi sistem. Divide and conqueror. Ini bisa jadi topik terpisah.

Ngoprek IoT

Kata IoT – Internet of Things – sedang ngetop sekarang. Dimana-mana saya melihat kata ini sebagai bagian dari seminar, kompetisi, startup, dan seterusnya. Pokoknya seru saja. Nah, sayapun tidak mau ketinggalan.

Saya mencoba menggunakan Arduino UNO dan board buatan DycodeX untuk kode IoT ini. (Sebetulnya saya punya banyak board lainnya, tapi itu untuk cerita terpisah.) Selain board ini saya juga menggunakan LED board buatan ProcodeCG. Berikut ini adalah beberapa video yang saya buat untuk menunjukkan demo / contoh kode dengan board-board di atas.

Dalam dunia hardware, IoT, salah satu cara memulai atau mencoba adalah membuat demo “blinking LED”. Kalau di dunia software, ini adalah “Hello World” versi hardware. Biasanya sih blinking LED-nya hanya satu LED. Kali ini saya mencoba menggunakan beberapa LED biar lebih seru.

Video di bawah ini menunjukkan demo Knight Rider, yaitu LED yang bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Nama ini diambil dari film seri Knight Rider (jaman dahulu dan versi barunya). Dalam film tersebut ada mobil cerdas yang bernama KITT. Kalau dia aktif, maka ada LED yang bergerak-gerak seperti ini.

Dalam video di bawah ini, saya membuat Knight Rider LED juga tetapi dengan menggunakan board Arduino UNO.

Video di bawah adalah demo untuk membuat LED seperti meter yang ada di radio (equalizer). Board yang digunakan adalah DycodeX ESpectro.

Oh ya, kode-kode untuk demo di atas dapat dilihat dan diunduh dari koleksi saya di github.com yaitu di: https://github.com/rahard/BRiot-stuff. Selamat ngoprek.

Mainan IoT

Lagi seru-serunya topik IoT (Internet of Things). Maka saya pun tak mau ketinggalan ngoprek IoT. Pada dasarnya IoT ini adalah menghubungkan “things” ke internet. “Things” yang dimaksud di sini bisa apa saja. Biasanya sih dimulai dengan menghubungkan sensor (misal sensor temperatur) ke internet.

Beginilah konfigurasi yang saya gunakan saat ini. (Corat-coret di kertas bekas.)

14080070_10153796588911526_1526882988396792016_n

Untuk sensor, kali ini saya menggunakan SensorTag dari Texas Instrument. SensorTag ini memiliki banyak sensor; temperatur, kelembaban, akselerasi, tombol yang dapat ditekan dan seterusnya. Versi yang saya gunakan ini menggunakan Bluetooth (tepatnya BLE, Bluetooth Low Energy) untuk berkomunikasi.

Saat ini ada aplikasi bawan (untuk handphone iOS dan Android) yang dapat digunakan untuk memantau sensor-sensor tersebut. Aplikasinya bagus sekali. Nah, saya ingin membuat aplikasi serupa sehingga data dari sensor dapat saya proses sesukanya. (Misal mau dikirim ke server sendiri.) Saat ini selain dapat memantau data sensor, aplikasi ini dapat juga mengirimkan data tersebut melalui protokol MQTT ke server IBM. (Nampaknya TI ini memiliki partnership dengan IBM.) Saya mencoba menghubungkan aplikasi ini ke server MQTT lainnya tetapi belum berhasil. Ini juga salah satu alasan mengapa saya harus membuat aplikasi sendiri.

Untuk membuat aplikasi di handphone, ternyata ada tools yang menarik dari Evothings. Mereka membuat semacam interface sehingga kita dapat melakukan pemrograman di komputer desktop kita, kemudian mengirimkan kodenya ke handphone (yang dipasangi aplikasi Evothings Viewer). Maka aplikasi langsung dijalankan di handphone. Ini mengurangi kesulitan upload program ke handphone. (Sebetulnya kita bisa juga setup web server sendiri sih.)

Pemrograman di handphone tersebut ternyata menggunakan bahasa Javascript. Ada beberapa library yang perlu digunakan untuk mengakses sensor melalui BLE. Saya sudah mencoba beberapa library tersebut, belum ada yang sukses. Tidak ada error, tetapi outputnya masih kosong. (Harus melakukan debugging dulu dan saya belum terbiasa melakukan debugging dalam bahasa Javascript.)

Alternatif lain yang sedang saya pikirkan adalah menghubungkan sensor tersebut langsung dengan single board computer (SBC) semacam Raspberry Pi. Ternyata ada orang-orang yang juga sukses melakukan pendekatan itu. Saat ini saya tidak punya Raspberry Pi tetapi malah punya yang dari Getchip.com. Ini keren banget, $9 chip dan sudah bisa langsung jalan Linux di atasnya. Sudah ada Bluetooth 4.0 juga. Jadi hal lain yang ingin saya lakukan adalah melakukan pairing antara SensorTag TI ini dengan SBC dari Getchip.com ini. (Ini foto kedua benda tersebut yang saya ambil dari meja saya.)

13987404_10153796571416526_4784112517654812880_o

Saya masih belum berhasil mainan dengan getchip.com secara stabil. Entah kenapa koneksi ke benda ini via WiFi kok tidak stabil. Tersendat-sendat. Jadi malas juga koding langsung di sini. Ide lain adalah via komputer desktop saya dulu saja. Toh sama-sama Linux.

(Update: kalau saya sambungkan SBC getchip ini dengan USB ke Macbook, saya bisa akses dengan nama “chip.local”. Jadi saya bisa “ssh root@chip.local” dengan password default “chip”. Setelah itu saya bisa masuk ke console linux dengan koneksi yang lebih stabil. Saya bisa main-main dengan getchip ini seperti tutorial yang ada di sini. Misal, saya bisa sambungkan kabel ke ground untuk coba seperti switch dan dibaca via GPIO. Atau harusnya mainan dengan LED, tapi saya tidak punya breadboard dan LED.

root@chip:/sys/class/gpio# echo 415 > export
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/direction
in
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/value
1
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/value
0

)

Tadi saya pasang Bluetooth dongle yang 4.0 di komputer desktop saya (running Linux Mint). Kemudian menggunakan berbagai tools (bluez, dll.) untuk mencoba pairing dengan SensorTag ini. Belum berhasil. (Saya menggunakan panduan dari sini dan membaca data di sini. Saya lihat ada juga yang mencoba menggunakan python untuk ini.)

[To Do: Javascript vs Python. Pilih bahasa apa untuk kodingnya?]

Jika data sudah sampai di server MQTT – ini di cloud – maka saya akan dapat membuat berbagai aplikasi sendiri. Jadi tujuan akhirnya adalah saya dapat memantau sensor dari internet.

Nah, sekarang belum ada yang jalan … ha ha ha. Jadi masih ada banyak yang harus dikerjakan. Saya akan pilah-pilah dulu. (Divide and conquer.)

Selain itu dalam 2 atau 3 minggu ke dapan saya akan dapat IoT board lain dengan sensor yang langsung dihubungkan dengan boardnya. (Lihat board Espresso di smkholding.com dan DycodeX.)  Ini akan jadi thread yang berbeda. Asyik. Banyak oprekan.