Ada di Majalah Info Komputer

Kemarin dapat kiriman majalah Info Komputer, dalam rangka ulang tahun yang ke 30 tahun. Ada saya di dalam majalah itu. hi hi hi. Ini dia saya ambil fotonya dari twitternya infokomputer.

br-infokomputer

Di situ ada cerita singkat mengenai security (keamanan). Silahkan dibeli majalahnya. hi hi hi.

Iklan

Resensi: Spammer

Tidak banyak novel atau cerita di Indonesia yang bersifat agak teknis. Kebanyakan ceritanya adalah keseharian dan umum-umum saja. Maka adanya sebuah cerita yang teknis – seperti spammer (orang yang melakukan spamming) – sangat menarik bagi saya. Apa lagi latar belakang saya memang urusan komputer.

Saya menerima buku ini, sebuah novel thriller karangan Ronny Mailindra dengan judul “Spammer”. Begitu terima, tidak langsung saya baca karena kesibukan saya. Begitu ada waktu senggang, saya cicil bacanya.

p_20161209_132557-spammer-0001

Novel ini bercerita tentang seorang spammer (yang kerjanya mengirim spamming untuk mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang kena spam) yang kena batunya. Tanpa sengaja, berkas yang dia curi dari sebuah komputer tenyata sebuah barang bukti kejahatan. Penjahatnya menyewa hacker untuk memastikan berkas tersebut musnah. Maka terjadilan perang antar kedua orang ahli komputer itu.

Awalnya ceritanya agak lambat (untuk selera saya). Kemudian mulai menjadi cepat dan seru sehingga saya harus menyelesaikannya dengan cepat. (Saya baca dalam dua hari. Bahkan ada yang sampai lewat tengah malam.)

Seringkali dalam film atau novel yang bercerita tentang teknis komputer (IT) ada hal-hal yang tidak akurat. Misal, nomor IP yang digunakan adalah 333.123.123.123. Padahal angka yang digunakan tidak boleh lebih dari 255 (karena 8-bit). Atau perintah-perintah yang diketik di layar salah atau tidak benar. Hal-hal seperti itu sering mengesalkan karena kita jadi tahu bahwa film/novel itu ngasal. Nah, buku ini tidak begitu. Sang pengarang memang punya latar belakang IT sehingga hal-hal yang teknis cukup akurat.

Nilai saya adalah 4,5 dalam skala 5. (Atau kalau dibuat skala 10 adalah 9. hi hi hi.) Recommended bagi orang teknis.

Indonesia Update 2016

Perjalanan saya ke Australia ini sebetulnya dalam rangka acara “Indonesia Update 2016” yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU) Indonesia Project. Topik dari acara tahun ini adalah Digital Indonesia. Itulah sebabnya saya diundang menjadi salah satu pembicara. Saya akan berbicara tentang “cyber security”.

Acaranya dilangsungkan di kampus ANU, di kota Canberra, selama dua hari. Presentasi saya adalah presentasi terakhir di hari terakhir. (Ini ada keuntungan tersendiri, yaitu saya bisa suka-suka saya. Meskipun tidak bisa sebebas yang saya pikirkan. hi hi hi.) Pembicara yang lain keren-keren juga.

p_20160917_063951-01-jadwal

Peserta dari acara ini ternyata sangat banyak. Ruangan yang digunakan, sebuah teater, berukuran hampir 500 orang. Dan peserta yang datang banyak sekali. Hampir memenuhi ruangan. Berarti mendekati 500 orang.

Di hari pertama saya hanya mendengarkan. Bayu pembicara kedua mengidekan situasi politik di Indonesia seperti trilogi start wars. Dias (lupa di sesi berapa) juga menyinggung soal star wars. Akhirnya saya putuskan untuk menutup acara tema star wars; the return of the Jedi. ha ha ha.

cshi2hhumaa-wjv-jedi
the return of the (code) jedi

Tadinya saya mencari apa yang bisa dipakai untuk baju (dan lightsaber) untuk manggung. Gak nemu. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan hoodie saja. Jadilah seperti foto di atas. Lumayanlah. Tema Star Wars terjadi juga. hi hi hi.

p_20160917_130953_bf-folks-0001
Foto para pembicara sesi terakhir. Potret sebelum bubar

Di kampus ini saya menginap di University House, semacam hotel / dorm untuk tamu-tamu dari universitas. Tempatnya sangat dekat dengan ruang acara. Jadi tidak perlu transportasi. Tinggal jalan 2 menit dari kamar ke tempat presentasi. Tempatnya asyik juga. [foto-foto menyusul]

Canberra ini ternyata masih dingin juga. Harusnya sih temperaturnya sudah naik tetapi masih dingin. Setelah acara selesai, hari Minggu di kampus ini kosong banget. Sepiii. [foto2 menyusul, lagi] Canberra, meskipun ibu kota, ternyata kecil dan sepi. hi hi hi.

Judul / Topik Thesis / Penelitian

Minggu ini mulai banyak mahasiswa berdatangan untuk mencari topik penelitian & thesis S2 mereka. Berikut ini adalah beberapa topik yang saya tawarkan. Deskripsi dari masing-masing topik mungkin belum terlalu rinci, tetapi mudah-mudahan penjelasan ini masih dapat memberikan bayangan. Topik besarnya adalah security & big data.

  1. Anonimity + eVoting + Visual Cryptography ID. Topik ini melanjutkan disertasi dari I Made Ardhana (softcopy disertasi sedang saya telusuri dan akan diupload di web site). Fokus kepada implementasi ide-ide yang ada di dalam disertasi tersebut. Ada beberapa design decissions yang harus diambil dalam implementasinya beserta pembaharuan teorinya. Titik beratnya kepada programming. (Ada beberapa snippet code yang sudah saya buat sebagai proof of concept.) [Sudah ada rencana 1 mahasiswa yang memilih ini. Masih dapat ditambah khususnya untuk sisi attack-nya.] Untuk aspek teorinya, pengukuran tingkat anonimitas, juga sedang mencari mahasiswa. Namun yang ini lebih banyak aspek matematisnya. Jika menyukai matematika (atau memang mahasiswa matematika), bisa memikirkan topik ini.
  2. Stegokripto. Meneruskan thesis dari Almaarif (lihat budi.rahardjo.id bagian students). Pencarian kode yang berbeda antara data dan noise. (Coding theory. Mencari kode yang orthogonal terhadap noise. Ide on-curve dan off-curve pada Elliptic Curve juga dapat dipakai.) Pada thesis terdahulu proses pembedaan kode dan noise dilakukan dengan menggunakan marker tertentu. (Proses pendeteksian dapat dilakukan dengan sliding window, atau bahkan matriks. Belum dilihat aspek kinerjanya.) Kode terdahulu juga dapat lebih disempurnakan sehingga aplikasi menjadi lebih integrated. (Sebelumnya pecah-pecah menjadi beberap aplikasi.)
  3. Mekanisme pengamanan program chat (Signals / dahulu TextSecure, WA, dll.) dengan menggunakan Curve 25519. Thesis memahami protokol yang digunakan dan melakukan re-implementasi di program Open Whisper Systems. (Ini juga dapat menjadi topik thesis di Matematika.)
  4. Cryptocurrency. Block chain. Ini adalah konsep di belakang Bitcoin. Memahami dan membuat protototipe sebuah digital money. Mengembangkan teori uang digital.
  5. Secure phone. Beberapa komponen dari konsep secure phone, yaitu authentication module (menggunakan SAM). [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengerjakan ini.] Ini bagian besar dari disertasi Virtual Trusted Machine (mahasiswa S3: Raidun). Beberapa kemungkinan implementasi dari ide secure phone dengan menggunakan DSP board.
  6. Proteksi DNS terhadap DoS attack. [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengambil ini.] Fokus kepada teknis. (Sementara untuk aspek teori adanya di level S3.)
  7. Automated software security testing. Exploring several framework. [Sudah ada 1 mahasiswa yang memilih menggunakan Sully]
  8. Beberapa sub-topik dari disertasi mahasiswa saya. (Mahasiswa S3 akan memberikan beberap sub-topik dari penelitian [kesulitan] mereka saat ini yang dapat menjadi topik thesis.) Topik terkait dengan Graph-based Social Network Analysis (SNA), graph compression, big-data in SNA,  Distributed IDS (ant-colony), eLearning berbasis Jigsaw, …

Sementara ini daftarnya adalah seperti itu. Akan saya tambahkan dengan link-link lain agar lebih jelas lagi dalam update berikutnya.

Keamanan dan Kinerja Aplikasi

Kemarin seharian saya menjadi salah satu juri dalam lomba aplikasi berbasis open source. Lumayan capek juga seharian menjadi juri. Sekalian ini menjadi tempat bagi saya untuk mengukur pemahaman pengembang software tentang keamanan (security) dan kinerja (performance) dari aplikasi.

Hasilnya? Kalau soal lombanya belum ada hasilnya karena masih berlangsung. Kalau soal masalah pemahaman keamanan dan kinerja ternyata masih cukup jauh juga. Saat ini pengembang masih terlalu fokus kepada aspek fungsional saja. Aspek security masih mengandalkan bawaan dari sistem / framework / tools yang ada saja. Bahkan ada yang menyerahkan kepada network (misal firewall) untuk aspek pengamanan. Sementara itu untuk aspek kinerja, umumnya belum ada yang mengukur. Program aplikasi jalan dan
“cukup cepat” saja sudah cukup bagi mereka.

Nampaknya saya harus membuat tulisan-tulisan mengenai hal ini. Hmmm…

Keamanan Aplikasi Pokemon Go

Saat ini aplikasi Pokemon Go sedang mendapat sorotan. Aplikasi ini membuat berbagai “kegaduhan” di berbagai negara. Pengguna atau pemain aplikasi Pokemon Go ini sering terlalu serius dalam berburu monster (Pokemon) sehingga melupakan berbagai aspek, termasuk keselamatan dirinya. Saya jadi ingat masa kecil bermain layang-layang dan berburu layangan yang putus ke jalan tanpa mengindahkan keselamatan diri. hi hi hi.

Di Indonesia sendiri aplikasi Pokemon Go ini belum diluncurkan secara resmi, tetapi ini tidak menghalangi orang-orang untuk mencari aplikasi dari tempat-tempat yang tidak resmi. Jumlah pemain Pokemon Go dari Indonesia ini belum diketahui secara resmi, tetapi jumlahnya pasti *BANYAK SEKALI*. (Sampai saya tulis dengan huruf besar dan bold. ha ha ha.)

Tulisan ini akan menyoroti masalah keamanan (security) dari aplikasi Pokemon Go karena saat ini mulai muncul berbagai isyu tentang keamanannya. Bahkan tadi saya mendengar berita tentang adanya larangan bagi Polisi & Tentara untuk menggunakan aplikasi Pokemon Go ini sehingga ada yang kena razia segala. Sebelum ini menjadi hal-hal yang terlalu berlebihan (kasihan yang terkena razia), nampaknya perlu saya buat tulisan ini. Jadi ini latar belakangnya.

Beberapa hal yang menjadi alasan keamanan aplikasi ini, antara lain:

  1. Aplikasi menggunakan GPS untuk mengetahui lokasi (koordinat) pengguna. Lokasi ini dikirimkan ke server untuk digunakan sebagai bagian dari permainannya. Dikhawatirkan pihak pengelola server menggunakan data ini untuk hal-hal yang tidak semestinya (surveillance, misalnya).
  2. Aplikasi mengunakan kamera untuk mengambil gambar (foto, video) tentang lokasi sebagai bagian dari permainan. Dikhawatirkan data ini (foto, video) dikirimkan ke pengelola untuk hal-hal yang negatif juga. Bagaimana jika lokasi kita merupakan tempat yang sangat sensitif (rahasia)?

Itu hal-hal yang muncul di berbagai diskusi. Sebetulnya ada hal-hal lain yang juga dikhawatirkan tetapi menurut saya hal ini belum tentu benar, misalnya

  1. Aplikasi digunakan oleh Pemerintah Amerika Serikat (dalam hal ini CIA) untuk memantau orang-orang Indonesia. Untuk hal ini, langsung saya tanggapi saja. Tidak benar! Atau, belum tentu benar. Jadi begini. Aplikasi Pokemon Go dijalankan oleh sebuah perusahaan swasta. Perusahaan ini sangat menghargai kerahasiaan data penggunanya. Umumnya perusahaan tidak suka menyerahkan data ini ke pemerintah. Meskipun mereka kadang menjual data ini untuk keperluan bisnis lainnya (iklan, misalnya). Jadi, secara umum, perusahaan Nintendo tidak bekerjasama dengan CIA. (Catatan: di sisi lain, pihak intelligence Amerika memang terkenal melakukan penyadapan-penyadapan terhadap perusahaan-perusahaan Amerika juga. Jadi boleh jadi terjadi penyadapan, tetapi ini biasanya tanpa sepengetahuan perusahaan sendiri. Jadi terjadi spy-and-contra-spy antara mereka. Adu kepintaran. Untuk hal ini, memang terjadi. Ada beberapa catatan saya yang saya diskusikan di kelas Security yang saya ajarkan di ITB.)
  2. Pokemon Go dikembangkan oleh orang yang anti Islam. Wah ini sudah kejauhan teori konspirasinya. Alasannya karena banyak Pokemon di masjid. Jawaban terhadap hal ini adalah database untuk penempatan Pokemon itu berasal dari data aplikasi Ingress yang dikembangkan oleh Niantic Labs, perusahaan yang membuat kedua aplikasi tersebut. (Silahkan gunakan Google untuk mencari “Pokemon Ingress”.) Kebetulan saja, masjid adalah tempat banyaknya orang berkumpul dan terdata di Ingress. Itu saja. Jadi tidak ada konspirasi di sini.

Mari kita ke permasalahan utamanya. Apakah aplikasi Pokemon Go ini aman atau berbahaya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam, tetapi saya dapat mengajukan analogi seperti ini. Aplikasi Pokemon Go memang menambahkan celah keamanan (security hole), tetapi saat ini pun Anda sudah memiliki security hole yang lebih besar. Jadi kalau Anda mempermasalahkan keamanan dari celah lubang udara, sementara pintu rumah Anda sendiri sudah terbuka lebar, ya kurang tepat. You already have bigger problems.

Apa saja “masalah-masalah” yang sudah ada tersebut? Ada banyak, contohnya:

  1. Ada banyak aplikasi lain yang menggunakan GPS. Di Indonesia ada aplikasi Waze, Google Maps, Nike+, Swarm, Instagram, Twitter, Facebook, Go-Jek, dan seterusnya. Jika penggunaan GPS dipermasalahkan, maka aplikasi-aplikasi tersebut sama statusnya. Bahkan mereka lebih “mengerikan” dalam hal memberikan data ke penyedia jasa aplikasi tersebut.
  2. Ada banyak aplikasi yang menggunakan kamera; instagram, facebook, path, dan seterusnya. Orang Indonesia terkenal dengan potret-memotret dengan handphone, selfie. Beberapa aplikasi tersebut juga sudah menggabungkan informasi dari GPS untuk menandai lokasi dimana foto diambil. Ini juga sama statusnya dengan aplikasi Pokemon Go.
  3. Anda menggunakan layanan publik seperti Gmail, Yahoo!, dan seterusnya. Maka ini juga dapat dianggap sebagai “masalah”. Mereka malah menyimpan data email Anda. Jika Anda (dan bahkan instansi Anda) menggunakan layanan email-email ini, malah ini justru lebih berbahaya daripada aplikasi Pokemon Go. (Perhatikan bahwa ada banyak instansi pemerintahan yang menggunakan layanan ini!)
  4. Ketika memasang aplikasi Pokemon Go, aplikasi diperkenankan mengakses akun Google (Gmail) Anda secara penuh. Ya ini tergantung kepercayaan Anda kepada pengelola aplikasi Pokemon Go.  Lagi pula, dari mana Anda tahu bahwa aplikasi tersebut tidak tersusupi oleh virus / malware? Kan Anda belum mendapatkan itu secara resmi. Nah lho

Solusi?

Untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan tertentu yang membutuhkan keamanan (Militer, Polisi, Penegak Hukum, dst.) maka seharusnya mereka menggunakan handphone khusus; secure handphone. Untuk pekerja seperti itu, mereka tidak boleh menggunakan handphone yang dijual secara umum dan tidak boleh menggunakan aplikasi yang belum disertifikasi. (Sebetulnya kami sudah mampu mengembangkan secure handphone sendiri. Silahkan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Saya tidak ingin beriklan di tulisan ini.) Saat ini saya juga sedang membimbing mahasiswa (level S3) yang meneliti tentang secure mobile phone dan aplikasinya. Saya juga sedang terlibat pembahasan tentang evaluasi keamanan handphone beserta aplikasinya. Tunggu tanggal mainnya untuk yang ini ya.

Oh ya, jika para pembaca belum mengetahui latar belakang saya, memang salah satu bidang yang saya geluti adalah security.

Untuk orang-orang biasa? Ya, anggap saja Pokemon Go sebagai pemainan yang tidak aman. Kalau memang tidak ada yang dirahasiakan di handphone Anda dan dalam kehidupan Anda, nikmati saja. Tapi sadar saja bahwa tidak ada perlindungan keamanan di sana. Sama seperti aplikasi-aplikasi lainnya, termasuk media sosial yang Anda gunakan (Facebook, Path, Instagram, Twitter, dan seterusnya).

Jadi, sudah berhasil menangkap berapa Pokemon?

[Update: Bonus. Untuk “menakut-nakuti”, silahkan lihat video berikut ini]

Resensi Buku: The Snowden Files

Dua minggu lalu, saya dihubungi oleh seorang kawan. Katanya apakah saya bisa mereview sebuah buku. Soal baca buku – dan dikasih buku – tentu saja saya senang. Hanya saja saya belum pernah melakukan resensi buku di muka publik. Tapi, saya terima saya tantangan ini.

Buku yang diajukan adalah, The Snowden Files. Waw. Menarik. Ini buku terkait dengan teknologi dan security. Bidang saya. Semakin okelah. Kemon!

Buku saya terima sehari kemudian dan mulai saya baca dengan cepat. Akhir-akhir ini kecepatan baca saya menurut dengan drastis. Ini justru kesempatan untuk memaksa diri sendiri untuk lebih cepat dalam membaca.

DSC_3100 snowden 1000

Minggu lalu, hari Rabu pagi, acaranya dilakukan. Saya memberikan resensi buku saya. Sementara itu acaranya adalah tentang cybersecurity dan saya malah tidak bicara tentang itu. ha ha ha.

The Snowden Files bercerita tentang kasus Edward Snowden yang menjadi terkenal karena membocorkan rahasia dari NSA, salah satu agen keamanan di Amerika Serikat. NSA dikatakan menyadap negara-negara lain. Terkait dengan dokumen NSA itu ada banyak rahasia-rahasia negara lain. Maka ributlah dunia.

Sebetulnya sudah menjadi rahasia umum (artinya semua orang tahu) bahwa Amerika melakukan penyadapan ke seluruh dunia. Dokumen ini menunjukkan buktinya. Sah! Bahwa memang Amerika melakukan penyadapan terhadap seluruh dunia termasuk sekutunya dan partner dekatnya, Inggris. Seru. Ini partnernya sendiri lho. Termasuk yang juga disadap adalah pimpinan negara Jerman.

Yang membuat Snowden membocorkan dokumen-dokumen NSA ini sebetulnya bukan masalah penyadapan yang dilakukan Amerika terhadap negara lain, tetapi justru penyadapan yang dilakukan oleh Amerika terhadap warga negaranya. Ini merupakan tindakan yang tidak sah secara hukum di Amerika. Snowden sangat terusik dengan hal ini. Inilah yang membuat dia membocorkan dokumen-dokumen NSA yang berisiko tinggi kepada nyawanya.

Indonesia juga disebut secara singkat. Bahwa pak SBY, sebagai presiden saat itu, disadap melalui Australia. Ya begitulah. Ini sempat menjadi keributan di media Indonesia.

Yang menarik dari buku ini adalah cara menceritakannya. Tidak kering. Ceritanya seperti novel. Ini mengingatkan saya akan buku “Take Down: the pursuit of and capture of Kevin Mitnick, America’s Most Wanted Man“, yang bercerita tentang pengejaran hacker juga. Atau “The Cuckoo’s Egg: tracking a spy through the maze of computer espionage” karangan Clifford Stoll, yang menurut saya merupakan salah satu buku kesukaan saya.

Buku yang saya terima merupakan terjemahan. Biasanya saya paling sulit membaca buku terjemahan karena biasanya kualitasnya buruk. Terjemahan buku ini cukup baik sehingga saya bisa menyelesaikan bacaannya dalam waktu satu minggu.

Sangat direkomendasikan.