Rajin Futsal

Saya termasuk yang rajin futsal. Terlalu rajin, bahkan. Seminggu saya futsal tiga kali; Senin, Rabu, dan Sabtu. Masing-masing itu waktunya 2 jam. Hal ini sudah saya lakukan selama belasan tahun.

Alasan utama saya rajin futsal adalah untuk kesehatan. Semakin berusia saya harus memaksakan diri berolahraga. Futsal ini salah satu olah raga yang cocok bagi saya karena dia olah raga rame-rame. Kalau olah raga sendirian, misal jalan atau lari di thread mill, jadi malas. Akhirnya berhenti berolahraga. Memang pemilihan jenis olahraganya ya cocok-cocokan. Saya cocok dengan futsal.

Banyak orang yang tidak berolahraga dan mencari banyak alasan; capek, jauh tempatnya, hujan, tidak punya uang, dan sejuta alasan lainnya. Kalau mau dicari, ya akan selalu ada alasannya. Memang bagian yang terberat bagi olah raga adalah memaksakan diri pergi ke tempat olah raganya.

Karena tujuannya adalah untuk kesehatan, maka dalam bermain futsal saya tidak mencari prestasi. Mau kalah atau menang, tidak penting itu. Yang penting adalah hadir dan bersemangat. Nah, soal semangat itu banyak anak muda yang kurang atau hilang semangat ketika kalah dalam bermain. Saya tidak. Kalau mau diadu, maka saya akan menang dalam hal semangat. Soalnya di aspek lain, skill misalnya, pastilah saya kalah dengan yang lebih muda. Tapi soal semangat, saya masih bisa menang. Ha ha ha. Jadi bisa dipastikan saya yang paling semangat di tim.

Mau sehat? Ya harus berusaha. Futsal adalah salah satu upaya saya untuk sehat.

Memulai Tahun 2019

Seharusnya tulisan ini saya buat minggu lalu, pas tanggal 1 Januari 2019, tetapi alasan klasik – sibuk – membuat saya baru bisa menuliskannya sekarang. Tahun baru 2019 ini saya mulai dengan bermain sepak bola. Persis tanggal 1 Januari 2019, pukul 5:30 pagi saya sudah berada di lapangan sepak bola Progressif (di Bandung). Mau masuk ke tempatnya juga harus membangunkan satpam yang tertidur dengan earphone melekat di telinganya. ha ha ha.

Sesampainya di lapangan, datang juga pak Ali (dari Galados ITB). Hari ini saya ikut tim yang tanding dengan Galados ITB. Seharusnya saya ikut Galados ITB ini, secara saya alumni ITB dan dosen ITB gitu. Ha ha ha. Tapi saya belum pernah latihan atau bermain bersama Galados. Eh, mungkin pernah sekali tapi itu sudah lama sekali.

IMG_20190101_054153-01
Bersama pak Ali di lapangan bola

Sudah satu tahun (atau lebih?) saya tidak bermain sepak bola karena terakhir bermain terjadi insiden. Saya ditabrak dari samping sehingga pingsan mungkin 5 menit. Semenjak itu saya trauma bermain bola lagi sehingga menggantungkan sepatu bola.

Kali ini saya mencoba memberanikan diri bermain lagi. Alhamdulillah masih bisa berlari dan bahkan ikut berkontribusi menghasilkan 1 gol.

IMG_20190101_065241-01
berpose di pinggir lapangan (sementara yang lain masih berada di lapangan)

Memulai tahun 2019 dengan kegembiraan. Semangat.

Pemain Bola Brewokan

giroud

Entah kenapa, sekarang saya melihat ada beberapa (banyak?) pemain sepak bola yang brewokan. Contohnya seperti Olivier Giroud di gambar samping ini. (Foto saya ambil dari games FIFA 18.)

Tulisan ini saya buat sambil nonton pertandingan bola piala dunia antara Denmark dan Australia. Pas Australia mendapat kesempatan untuk membuat gol melalui titik penalti. Pemain yang mengeksekusi penalti, Jedinak, juga brewokan seperti Giroud. ha ha ha.

Ini mengingatkan saya akan penampilan Band ZZ Top yang jenggotnya panjang banget. Super keren. Ha ha ha.

zz-top

Ini menjadi pembenaran bagi saya untuk brewokan. ha ha ha.

Tim FIFA 18 Murah Meriah

Seperti kebanyakan orang, saya juga menyukai game FIFA 18. Lagi-lagi seperti kebanyakan orang (?), saya tidak terlalu jago dalam memainkan pertandingannya. Kalahlah sama anak-anak, yang lebih paham menggunakan joystick. Sementara itu saya juga tidak punya banyak uang (uang beneran atau uang coin-nya FIFA) untuk dibelanjakan membeli pemain. Jadi pertanyaannya adalah bisakah kita membuat sebuah tim FIFA 18 yang murah meriah?

Jawaban singkatnya adalah BISA!

Sebelum ke detailnya, perlu saya jabarkan dulu yang saya maksudkan dengan “murah meriah”. Definisi saya adalah pemainnya memiliki harga tidak lebih dari 1000 koin.

Tentu saja ada banyak kemungkinan yang dapat kita peroleh karena harga pemain di FIFA 18 bervariasi dari mulai 150 sampai ratusan ribu (dan jutaan?). Kalau harga pemainnya kemurahan, maka kualitasnya kurang bagus dan nanti kita bisa frustasi sendiri memainkannya. Kalau harganya mahal, kita tidak punya uang. Jadi kita cari yang pertengahan.

Setelah batasan harga, batasan kedua yang saya gunakan adalah kecepatan (pace | PAC) dari pemain kita. Salah satu kelemahan dari FIFA 18 adalah kalau pemain kita lambat dalam berlari, tewaslah dia. Apapun kehebatan lainnya, kalau dia tidak bisa lari ya percuma. (Tentu saja ada pengecualian, tetapi umumnya begitu.) Maka salah satu kriteria saya adalah kalau bisa kecepatan berlari pemain adalah di atas 80. Yang paling asyik adalah kalau kecepatan larinya di atas 90.

Berikutnya lagi adalah masalah fisik. Sebetulnya ini boleh jadi tidak terlalu penting, tetapi jika pemain kita memiliki fisik yang gampang lelah maka dia harus cepat diganti. Akibatnya kita harus punya banyak pemain penggani. Mahal lagi. Belum lagi ada batasan 3 orang pengganti dalam satu pertandingan. Kalau lebih dari 3 pemain yang sudah lelah bagaimana? Tewaslah kita. Nah, kalau bisa fisiknya mendekati 80 lah.

Satu faktor lagi yang penting adalah chemistry. Kita boleh saja memiliki pemain yang hebat-hebat tetapi jika tidak memiliki chemistry yang baik nantinya bakalan sulit memainkannya. Banyak operan bola yang salah, tidak sampai, atau dipotong. Maklum pemainnya saling tidak mengerti. Soal chemistry nanti akan saya bahas lagi.

Hasilnya akhirnya adalah ini. Saya kan tuliskan pemainnya satu persatu.

fifa18-cheapplus

Sebelum sampai ke tim seperti itu, saya melalui “jalur lain” dulu, yaitu ke tim yang pemainnya lebih bagus tetapi chemistry sangat buruk. Maklum, pemain-pemain tersebut berasal dari negara yang berbeda dan liga yang berbeda. Sebagai contoh, penjaga gawang tadinya saya menggunakan Hradecky (83), tetapi dia tidak memiliki chemistry yang bagus dengan center back (CB) yang lainnya. Penjaga gawang lainnya yang saya miliki juga tidak memiliki kemungkinan chemistry yang baik dengan pemain lainnya, akhirnya saya pilih Gomes saja meskipun dia hanya level 80.

Akhirnya saya putuskan untuk mencoba menggunakan pemain-pemain dari Brazil semua. Saya korbankan pemain yang lebih bagus skill-nya untuk mendapatkan chemistry yang lebih baik (dan tetap menjaga batasan yang saya berikan di atas). Hasilnya tidak mengecewakan.

  • Penjaga Gawang (GK): Gomes (80)
  • LB: Dalbert (77)
  • CB:  Felipe (82)
  • CB: Diego Carlos (79)
  • RB: Michel Macedo (76)
  • LM: Taison (82)
  • CM: Fred (80)
  • CM: Allan (81)
  • RM: Felipe Anderson (RW/81)
  • ST: Adriano (75)
  • ST: Soares (79)

Selamat mencoba tim ini. Setelah itu, kita bisa tingkatkan kualitasnya dengan membeli pemain-pemain lain. Tentu saja setelah kita mendapat lebih banyak koin dari hasil bermain atau jual beli pemain.

Reparasi Otot

Tadi pagi, akhirnya diputuskan untuk pergi mencari bantuan. Ceritanya otot pundak kanan saya sakit. Sebetulnya sakitnya sudah lama, bulanan. On – off. Saya tidak tahu awalnya kenapa, mungkin salah posisi saja. Mencoba mengambil tas berat di belakang mobil sehingga badan melintir. Jadi ada yang ketarik. Mungkin itu, tetapi mungkin juga bukan itu.

Kemarin sakitnya luar biasa, tetapi masih bisa ketahan sakitnya. Pagi tadi sakit lagi. Maka diputuskan saja untuk ke tempat yang paling terkenal di Bandung, Ebun di jalan Jatihandap. Tempatnya sih tidak jauh dari rumah saya, tetapi di Google Maps belum ada. Saya cari di Google Maps dengan kata kunci “Ebun Fisioterapi” tidak ada. Akhirnya mencari jalan Jatihandap saja yang dekat ke terminal Cicaheum. Ternyata tidak susah mencarinya.

Sesampainya di sana, sudah banyak yang menunggu. Ternyata tidak ada nomor antrian. Tinggal melihat siapa yang terakhir, terus ikut selanjutnya saja. Ada tiga orang yang bekerja. Pasien demi pasien berdatangan. Ada anak datang dengan tangan (pergelangan tangan) yang ketekuk. Masuk. Dua menit kemudian sudah keluar. Ya, demikian cepatnya untuk hal-hal yang mungkin mudah. Setelah menunggu giliran selama 30 sampai 45 menitan, giliran saya.

Masalah saya ternyata ada otot-otot yang “membeku”. Jadi ada otot yang masalah di punggung, tetapi karena tidak “diperbaiki” akibatnya saya menghindari pergerakan dan otot yang di lengan menjadi beku. Ini karena kelamaan tidak ditangani. Memang kondisi seperti ini mungkin sudah sebulan lebih. Jadi itu masalahnya. Mungkin hanya 10 menit (atau kurang), saya sudah keluar dari situ. Selanjutnya saya harus banyak meregangkan otot-otot saya, terutama sebelum main futsal. Jadi memang saya harus datang 10 atau 15 menit lebih awal untuk melakukan pemanasan.

Singkatnya, Ebun (apa ya nama yang benar? Ebun Fisioterapi?) menyembuhkan. Silahkan ke sana jika membutuhkan bantuan terkait dengan otot dan tulang.

Konsistensi (Dalam Berolahraga)

Topik yang ingin saya bahas kali ini adalah konsistensi dalam berolahraga. Sebetulnya masalah konsistensi ini tidak hanya terbatas kepada olah raga saja, tetapi untuk hal-hal lain. Sama sebetulnya. Tetapi agar dapat dipahami, saya ambil yang khas olah raga.

Salah satu tantangan terbesar dalam berolahraga adalah konsistensi. Yang saya maksudkan dengan konsistenasi adalah kegiatannya dilakukan secara rutin, terus menerus, berkala atau terjadwal. Selalu saja ada alasan untuk tidak melakukan olah raga, misalnya ketika hari hujan maka itu dapat dijadikan alasan untuk tidak olah raga (tidak pergi ke tempat olah raga). Wah hujan. Tidak sempat, merupakan alasan yang klasik juga. Sibuk nih. Padahal duduk-duduk ngopi bisa. he he he. Alasan yang sebetulnya banyak juga digunakan tetapi tidak mau diakui adalah … malas. ha ha ha.

Saya mengambil futsal sebagai kegiatan olah raga rutin saya. Seminggu dua kali. (Kadang tiga kali.) Ini sudah saya lakukan bertahun-tahun. (Mulai kapan ya? Lupa. Bisa dicek dari postingan di blog ini.) Maka saya dapat main futsal selama 2 jam. Ini bukan hal yang aneh jika kita sudah melakukannya secara rutin. Ada (banyak) orang yang futsal hanya sekali dua kali dalam setahun. Kadang orang yang sama ini merasa harus langsung bisa menjadi jagoan (atau memiliki stamina yang sama) dan kemudian memaksakan diri. Hadoh.

Seperti sudah saya singgung di awal tulisan, bahwa konsistensi ini juga dibutuhkan di bidang lain. Itu akan kita bahas di tulisan lainnya. Sementara ini, bagaimana olah raga Anda? Rutin? Berkala? Kala mau dan kala tidak mau. ha ha ha.

Sepatu Futsal Baru

Waktunya sepatu baru. horeee… Foto berikut ini adalah foto sepatu futsal saya. Merek dari sepatunya ternyata berubah-ubah, dari kiri ke kanan: Umbro, Specs, dan Joma. (Sebelumnya lagi saya pakai Diadora.)

P_20170420_150253-01 sepatu futsal
Older, old, and new

Masing-masing sepatu ini sudah berjasa pada masanya. Sudah banyak gol yang dihasilkan oleh sepatu-sepatu itu.

Sepatu saya biasanya modelnya bukan yang terbaru. Selain karena harganya yang lebih murah, sepatu yang saya butuhkan adalah yang modelnya lebar (wide). Biasanya model-model yang baru adalah jenis yang lancip / panjang. Tidak cocok dengan saya.

Semoga sepatu yang baru cocok, enak digunakan, dan awet. Sekarang tinggal cari sepatu untuk sepak bola (lapangan besar). Hi hi hi.