Sepatu Futsal Baru

Waktunya sepatu baru. horeee… Foto berikut ini adalah foto sepatu futsal saya. Merek dari sepatunya ternyata berubah-ubah, dari kiri ke kanan: Umbro, Specs, dan Joma. (Sebelumnya lagi saya pakai Diadora.)

P_20170420_150253-01 sepatu futsal
Older, old, and new

Masing-masing sepatu ini sudah berjasa pada masanya. Sudah banyak gol yang dihasilkan oleh sepatu-sepatu itu.

Sepatu saya biasanya modelnya bukan yang terbaru. Selain karena harganya yang lebih murah, sepatu yang saya butuhkan adalah yang modelnya lebar (wide). Biasanya model-model yang baru adalah jenis yang lancip / panjang. Tidak cocok dengan saya.

Semoga sepatu yang baru cocok, enak digunakan, dan awet. Sekarang tinggal cari sepatu untuk sepak bola (lapangan besar). Hi hi hi.

Iklan

Sepak Bola

Sepak bola pertama tahun 2017 ini. Seperti biasa, kami bermain di lapangan Progresif, Bandung. Lapangan ini dipilih karena bagus meskipun menggunakan rumput sintetis. Terawat dengan baik lapangannya. Rata, tidak renjul-renjul.

dsc_0341-br-0001

Lawan main kali ini cukup berat. Lupa scorenya, kami kalah telak. Kalah menang itu biasa. Yang penting bagi saya adalah olah raganya.

dsc_0312-team-0001

Semoga bisa terus rutin bermain bola.

Konsistensi (Futsal)

Saya penggemar olah raga futsal. Entah kapan mulainya saya menyukai olah raga ini (yang pasti lebih dari 7 atau 8 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun yang lalu?). Pada mulainya sih saya hanya bisa main 5 atau 10 menit. Setelah itu berkunang-kunang. hi hi hi. Sekarang saya bisa bermain 2 jam full.

Sebetulnya yang membuat saya bisa bermain lama ada dua hal. Pertama, rutin melakukannya. Seminggu saya bermain futsal dua kali dan itu saya lakukan secara konsisten tahunan. Yang kedua, saya bermain futsal bukan untuk mencari prestasi tetapi untuk berolah raga. Sebagai orang yang sudah berusia, saya membutuhkan olah raga. Kebetulan cocoknya futsal. Karena tujuannya tidak untuk mencari prestasi, maka saya tidak menjadi sok jago. ha ha ha. Main menjadi lepas dan menyenangkan.

Sering saya melihat orang yang tidak konsisten. Dan ke futsal hanya sekali-sekali. Kemudian ingin menonjol pula. Ha ha ha. Yang ini menggelikan bagi saya.  Meskipun mungkin mereka lebih mahir dalam bermain, tetapi saya lebih menghargai orang yang konsisten hadir latihan secara rutin. Apa lagi yang berharap punya stamina tinggi tetapi datang sekehendak sendiri. Ha ha ha.

Team work itu sangat penting. Ini dapat terlihat di luar lapangan juga. Ini membentuk karakter seseorang. Tidak percaya?

Sepak Bola Lagi

Pagi ini – ya betulan pagi, karena dimulai pukul 6 pagi – kami bermain sepak bola. Ini adalah pertama kali tim kami – Tim FRSS (Futsal Rabu & Sabtu Sore) – bermain sepak bola. Biasanya tim kami bermain futsal. Masalah di sepakbola adalah mengumpulkan ornag yang banyak dan sewa lapangan yang lumayan mahal.

Berangkat dari rumah habis Subuh, karena jarak ke lapangan cukup jauh. Tempatnya di Progresif Sports yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Jarak tempuh dari rumah hampir 40 menit dengan mobil.

Sampai di sana ternyata sudah banyak anggota tim FRSS yang datang. Tadinya agak khawatir yang datang sedikitan. Ternyata malah melampaui dugaan. (Entah berapa yang datang? 18 orang mungkin?)

DSC_5067 team 0001

Kali ini lawan tanding kami adalah tim Sharing Vision (SV). Biasanya saya malah main sepak bola dengan tim SV ini. Terima kasih mas Rayyan dari SV yang telah mengorganisir acara ini sehingga bisa sukses dan menyenangkan. Kayaknya harus dibuat rutin, sebulan sekali nih.

DSC_5070 0001

Lapangan sepak bola Progresif ini menggunakan rumput sintetis, tetapi tidak terlalu tajam untuk kulit kaki. Jadi masih enak lah. Untuk bermain dengan menggunakan sepatu futsalpun – jika terpaksa – masih bisa.

Kali ini tim kami unggul 3-1. Saya menyumbang satu assist. Tetapi yang lebih penting, segar setelah berolah raga. Semoga ini membuat kita tetap sehat.

Mengukur Kebugaran Diri

Sebagai salah satu early adopter dari teknologi, saya menggunakan smart band. Itu lho gelang elektronik. Saya menggunakannya untuk memacu diri agar rajin berolah raga. Kerennya adalah agar menjaga kebugaran diri. hi hi hi.

Gelang elektronik yang saya gunakan adalah Mi Band. Pada awalnya saya menggunakan Mi Band milik anak saya yang tidak terpakai. Kala itu saya hanya ingin mencoba saja apakah nyaman menggunakan gelang terus menerus. Seperti menggunakan jam tangan terus menerus. Ternyata dia tidak mengganggu.

13724837_10153708150076526_5986811014591242222_oYang menarik bagi saya adalah gelang elektronik memaksa saya untuk berjalan. Berapa langkah jalan yang sudah saya lakukan hari ini? Langkah ini dapat dikonversikan menjadi jarak (dalam satuan Km.) Saya bisa melihat statistiknya dan membandingkannya dengan hari-hari sebelumnya. Secara umum saya menggunakan target 8000 langkah/hari. Ini sayangnya tidak tercapai setiap hari. ha ha ha. Target ini hanya tercapai ketika saya berolah raga futsal. (Lihat gambar. Itu adalah statistik saya hari ini setelah selesai bermain futsal.)

Gelang elektronik yang saya gunakan saat ini adalah Mi Band 1S. Yang sebelumnya, yang punya anak saya, rusak karena jatuh ketika main futsal dan tidak berfungsi lagi. Yang saya gunakan kali ini adalah pemberian dari pak Djarot Subiantoro. Terima kasih pak. (Tadinya saya mau beli Mi Band 2 yang baru keluar.)

Sebelum menggunakan Mi Band ini saya menggunakan aplikasi Nike+ di handphone untuk melakukan itu. Hanya dia membutuhkan GPS, sehingga tidak dapat melakukan pencatatan jika saya berada di dalam gedung (misal sedang main futsal). Yang ini masih saya pakai ketika saya berjalan di luar. Oh ya, jeleknya aplikasi yang di handphone ini (karena menggunakan GPS) dia boros dalam penggunaan handphone. Sementara yang Mi Band ini dapat dicharge 2 minggu sekali.

Ayo berolah raga …

Munggahan di Lapangan Sepak Bola

Hari Senin ini nampaknya sudah masuk ke bulan Ramadhan. Waktunya puasa Ramadhan. Sebelum puasa, dipuaskan main sepak bola dulu. hi hi hi. Di tatar Sunda ada istilah “munggahan”, yaitu (mungkin) bersilaturahim sebelum masuk ke bulan Ramadhan. Nah, ini munggahan di lapangan bola. he he he.

Sudah lama saya tidak main sepak bola. Maka tadi pagi bermain sepak bola di lapangan Progressif (Bandung) beserta tim Sharring Vision melawan tim Rumah Zakat (RZI).

BR super soccer 0001

Lumayan asyik. Ternyata masih bisa lari. Lapangannya juga bagus. Sintetik.

Alhamdulillah masih bisa olah raga.

update: mendapat review bagus dari pemain (satu tim dan lawan tanding) dengan dikirimnya foto ini. lumayan memberikan kontribusi 1 assist.

13391506_10209428974946264_4993102922056987967_o

Baret dan Benjut Itu Biasa

Saya penggemar olah raga. Maniak, bahkan, untuk jenis olah raga tertentu. Penggemar di sini bukan hanya sekedar menjadi penonton, melainkan ikut memainkan olah raga tersebut. Sejak dari kecil. Ada olah raga yang jenisnya jalan (naik gunung, jalan Bandung Lautan Api), Tae Kwon Do, Sepak Bola, Rugby, Hockey, Futsal, … apa lagi ya?

Dalam melakukan olah raga, pasti ada luka-luka. Jalan ada kesleo. Bela diri, kepukul, ketendang, patah tulang, dan seterusnya. Saya pernah pingsan dari harus dijahit gara-gara tidak serius dalam latihan bela diri. Main bola pasti ada baret, benjut, terkilir. Rubgy apa lagi, pasti baret dan benjutlah. he he he. Yang perlu kita perhatikan adalah agar cedera itu minimal dan cepat pulih. Juga agar cedera tidak terulang lagi. Hal lain yang penting juga adalah bagaimana agar kita tidak mencederai orang lain.

Agak aneh kalau kita ingin dunia yang ideal dan steril. Dunia tanpa baret dan benjut. Tidak ada!

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berinteraksi dengan manusia lain, tentunya kita akan mengalami “baret” dan “benjut” dalam bentuk yang berbeda. Kata-kata dan tingkah laku juga menimbulkan baret dan benjut juga, meskipun tidak terlihat secara fisik. Nah, yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menangani baret dan benjut ini serta tidak membuat baret dan benjut bagi orang lain.

[ditulis sambil tulang kering agak ngilu karena kemarin beradu pas futsal]