Category Archives: Start-up

Starting-Up: Ideation

BR starting-up

Sesi mentoring untuk mahasiswa (SBM ITB) dimulai lagi. Semester ini saya mendapatkan beberapa mahasiswa baru yang akan memulai perjalanan mereka dalam mengembangkan start “start up”. Tentu saja masih ada mahasiswa mentoring lama saya yang sudah pada fasa berikutnya. Kita ke mahasiswa yang baru memulai dulu.

Langkah awal dalam memulai sebuah usaha – start-up – adalah ide usaha. Ini langkah penting karena menentukan jadi atau tidaknya usaha mereka tersebut. Bagi saya, mereka harus dapat menjawab pertanyaan ini.

1. Masalah apa yang akan dipecahkan oleh start-up Anda?

Sebuah start-up biasanya menjawab sebuah masalah. Tanpa itu, saya tidak tertarik untuk membimbing start-up Anda (karena biasanya tidak berhasil). More on this later on.

Ada banyak usaha yang tidak menjawab pertanyaan di atas, tetapi hanya sekedar ikut-ikutan. Misalnya, Anda membuka sebuah usaha web desain (atau fashion, kuliner, atau apa saja) karena lihat orang lain membuat usaha sejenis dan terlihat berhasil. Yang seperti ini, biasanya cepat gagal.

Kembali ke pertanyaan di atas, apa masalah yang Anda hadapi? Misal, Anda mengembangkan sistem untuk membuat obat-obatan untuk penyakit demam berdarah karena penyakit itu masih sering menjadi masalah di Indonesia. Atau Anda membuat alat untuk memperpanjang usia batre handphone. Nah … itu saya juga nyari. hi hi hi.

Oh ya, saya bohong. Ada juga usaha yang dimulai dengan “solution looking for problem(s)“. Contoh dari ini adalah twitter. Sebetulnya problem yang ingin diselesaikan oleh twitter itu apa ya? Rasanya kok tidak jelas, tetapi twitter itu termasuk start up yang sukses juga. Jadi, mungkin bisa saja ada memulai usaha dengan “saya bisa (dan suka) membuat web dan melakukan pemrograman”, kemudian dilanjutkan dengan “masalah apa yang dapat diselesaikan dengan perusahaan yang saya buat?”.

Pertanyaan kedua

2. Apakah itu masalah Anda?

Yang ini sebetulnya opini saya pribadi. Jika itu masalah Anda, maka Anda akan tekun mencari solusi terhadap masalah tersebut. Ada punya passion terhadap masalah itu. Jika itu bukan masalah Anda, maka saya masih bertanya-tanya. Contohnya begini, Anda ingin memecahkan masalah transportasi di kota Jakarta (ini masalah) tetapi Anda sendiri tinggal di Bandung dan jarang pergi ke Jakarta. Saya tidak yakin Anda akan serius dalam memecahkan masalah tersebut.  Lagi pula, masih ada banyak masalah lain yang sangat personal bagi Anda dan memang harus Anda pecahkan.

Ada pepatah yang mengatakan, “necessity is the mother of invention“. Begitu.

Pertanyaan berikutnya,

3. Apa yang sudah dilakukan orang lain untuk memecahkan masalah tersebut?

Boleh jadi (dan biasanya memang) sudah ada orang-orang terdahulu yang berupaya memecahkan masalah tersebut. Jika mereka sudah memecahkan masalah tersebut, ya untuk apa kita membuat solusi yang sama? Kita tinggal menggunakan solusi mereka saja, bukan? Selesai.

Kalau mereka belum berhasil menyelasikan masalah tersebut, ini mungkin menjadi kesempatan (opportunity) untuk Anda. Boleh jadi dahulu teknologi belum tersedia sehingga sekarang mungkin ide tersebut bisa terlaksana. Sebagai contoh, mengirim lagu lewat internet dahulu tidak memungkinkan karena kecepatan internet masih super lambat. Sekarang, teknologi sudah tersedia untuk melakukannya sehinga layanan untuk mengirim lagu dapat dilakukan. (Lagu dapat digantikan dengan data medis, misalnya untuk keperluan e-health.)

Namun ada kemungkinan juga Anda masih gagal karena memang teknologi masih belum tersedia, hukum boleh memperbolehkan, orang yang sanggup melakukannya belum ada, dan seterusnya.

Pertanyaan selanjutnya…

4. Apakah Anda jagoan di bidang (start up) itu?

Jika tidak, lupakan saja ide Anda. Orang lain akan memecahkan masalah tersebut dengan lebih baik, sehingga start up mereka (jika mereka membuatnya) akan memiliki potensi kesuksesan yang lebih besar daripada Anda. Anda harus menjadi yang terbaik di bidang Anda. Harus!

Ini adalah sesi pertama saya. Pembahasan di sini mungkin masih terlalu singkat, tetapi mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada para pembaca.


Majalah Entrepreneurship

Beberes kamar. Bongkar-bongkar tumpukan buku, saya menemukan majalah “Enterprise SPARKS” dari NUS Enterprise. Majalah tipis ini membahas mengenai entrepreneurship. Menarik.

NUS entreprise sparks magazine-1 1000NUS entreprise sparks magazine-2 1000

Mari kita buat juga. Supaya entrepreneurship makin meningkat di Indonesia. Di majalah itu mungkin saya berminat untuk menjadi kontribusi penulis, bercerita tentang suka dukanya menjadi technopreneur.


Biaya Akuisisi Pengguna Dalam Start-Up

Ketika kita mengembangkan sebuah usaha start-up, kita harus mendapatkan pelanggan atau pengguna (user) dari layanan atau produk kita. Akuisisi pengguna ini ada biayanya. Pengguna ini  dapat dianggap sebagai salag satu aset dari start-up kita.  Itulah sebabnya sebuah start-up dengan jumlah pengguna yang jutaan dapat bernilai mahal meskipun penghasilannya minim.

logo insan music storeNah, berapa biaya untuk akuisisi pengguna ini? Saya ambil contoh kasus usaha toko musik digital Insan Music Store kami. Dalam kasus kami, pengguna ada dua jenis; (1) artis / musisi / band yang memproduksi lagu-lagu, dan  (2) pembeli lagu-lagu tersebut. Sebetulnya ada juga orang-orang yang hanya mengunjungi situs kami tetapi tidak membeli. Untuk yang ini saya tidak memasukkan dalam hitungan.

Untuk bergabung dengan Insan Music Store, artis / musisi / band tidak dipungut biaya. Hanya saja, sebelum kami dapat melakukan promosi dan jualan, kami harus menandatangani kontrak. Ada meterai yang harus dipasang; 2 x Rp. 6000,-. Kalau ditambah ongkos kertas dan tinta printer untuk mencetak kontrak tersebut, maka biaya untuk satu artis katakanlah Rp. 15000,-. Jadi biaya untuk akuisisi pengguna (cost per acquisition / CPA) kami adalah US$ 1,5.

Biaya ini terlihat kecil ya, tetapi kalau nantinya kami memiliki 10000 artis (atau lebih) maka tinggal kita kalikan saja dengan 1,5 dollar itu. Banyak juga ya?

ims terdaftar

Untuk  akuisisi pembeli lagu saat ini kami belum bisa menghitungnya karena gratis. Jadi, untuk yang ini anggap saja gratis. Padahal sesungguhnya kami harus menyiapkan server untuk database dari pengguna ini. Selain itu, kami melakukan promosi yang ada pengeluaran uangnya. Dugaan saya sih biayanya pukul rata akan sama seperti biaya untuk akuisisi artis tersebut, 15 ribu rupiah juga. Jika kami memiliki satu juta anggota pembeli, maka sesungguhnya biayanya adalah … 15 milyar! Nah lho. hi hi hi

Demikian cerita tentang entrepreneurship, start-up bisnis digital. Semoga bermanfaat.


Kegiatan Insan Music Store

Tadi pagi (Minggu, 7 Desember 2014), Insan Music Store hadir di Bandung Car Free Day. Kali ini suasananya agak mendung. Eh, ternyata malah ada *banyak* stand yang menampilkan senam sehingga sound systemnya saling bersahut-sahutan. Berisik. Namun kami juga akhirnya membuka stand juga.

IMG_6963 insan music store

Hari ini kami juga menandatangani kontrak dengan O2 (Observed Observer) di sana. Semoga kami bisa sukses bersama!

IMG_6969

Saya juga sempat berbincang-bicang dengan kang Yosef (lupa nama belakangnya atau institusinya). Kami ngobrol soal musik, kota Bandung, pendidikan, dan seterusnya. Kebetulan jenis musik yang kami sukai agak mirip-mirip. Dia juga banyak main musik, menjadi music director, producer, dan mengajar kesenian kepada banyak anak-anak. Karena kami juga berlatar belakang Bandung, jadi banyak hal juga yang nyambung. Mudah-mudahan ada kerjasama yang dapat kami lakukan.

Setiap minggu kami mendapatkan artis/band-band baru. Bagus bagus! Sabar ya. Satu persatu akan kami proses. Jreng!


Mentoring Entrepreneurship: Product Development

Salah satu bahan diskusi dalam mentoring entrepreneurship tadi pagi adalah tentang pengembangan produk (product development). Start up punya beberapa ide yang ingin atau harus diiimplementasikan. Permasalahannya adalah seringkali pendiri (founder) tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk atau layanan yang dimaksudkan. Apa alternatifnya?

  1. Mempekerjakan seseorang dengan memberi gaji. Masalahnya, start up seringkali tidak memiliki uang yang cukup untuk itu. Saya sendiri pernah melakukan hal ini dan kandas di tengah jalan. Produk belum selesai, modal sudah habis. Akhirnya produk dihentikan dan startup mandheg.
  2. Mencari partner partner yang dapat mengembangkan. Masalahnya, tidak mudah menemukan orang yang mau sama-sama mengembangkan produk itu. Kalaupun ketemu, imbalannya apa? Apakah berbagi kepemilikan? Porsi sahamnya seberapa besar? Pendekatan ini pun kadang (sering?) gagal. Di tengah jalan, sang partner kehilangan semangat (atau juga kehabisan modal juga) sehingga tidak menyelesaikan produk. Susah memaksa komitmen partner.
  3. Belajar untuk mengembangkan sendiri. Ini kadang dilakukan dengan modal nekad. Potensi kegagalan cukup tinggi karena untuk belajar itu butuh waktu. Jika produk atau servis yang akan dikembangkan membutuhkan teknologi atau ketrampilan yang tinggi, ya wassalam. Kalau dia hanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran, boleh jadi pendekatan ini dapat dilakukan meskipun dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mewujudkannya,

Yang pasti, kalau tidak melakukan sesuatu ya sudah pasti produk atau layanan tidak bakalan ada. he he he. Yang ini namanya mimpi atau mengkhayal … :D


Kekurangan SDM IT

Seperti biasa, selalu saja ada yang nanya ke saya apakah ada orang IT (yang bisa dipekerjakan di perusahaannya)? Biasanya yang bertanya ini sedang mengembangkan perusahaan baru – start up. Ternyata kebutuhan akan SDM IT masih tetap banyak. Repotnya, SDM tersebut tidak tersedia. Saya jadi bertanya-tanya, ke mana saja lulusan sekolahan IT (atau yang terkait) di Indonesia ya? Di Bandung saja ada banyak sekolah komputer.

Ada beberapa alasan mengapa sulit mencari SDM IT yang handal.

  1. Lulusan IT tersebut melanjutkan sekolahnya ke luar negeri (misal mengambil S2/S3 di luar negeri);
  2. Mereka sudah diijon oleh perusahaan besar (yang terlihat lebih memberikan jaminan finansial dan karir di bidang management);
  3. Akhirnya memilih bekerja di bidang non-IT (misal jadi pedagang, bukan warung, dll.);
  4. Lulusan IT itu ketika bersekolah hanya ingin menghabiskan waktu saja (daripada nganggur) ketimbang ingin menekuni bidang IT. Hasilnya ya mereka memang malas untuk bekerja;
  5. apa lagi ya?

Besok akan ada rombongan dari Singapura datang ke Bandung untuk mencari orang-orang IT. Dugaan saya mereka akan pulang dengan tangan hampa. Ugh.


Acara Insan Music Store

Eh, jangan lupa, siang ini (Minggu, 12 Oktober 2014) … mulai pukul 13:00 Insan Music Store akan hadir di Krang Kring Cafe (jl. Ciliwung, Bandung). Selain akan memberikan penjelasan mengenai toko musik digital kami, ada penampilan dari beberapa band yang sudah ada di toko musik kami.

Sampai jumpa di sana …


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.456 pengikut lainnya.