Memulai Perkuliahan Lagi

Hari ini sebetulnya sudah merupakan minggu kedua dari perkuliahan di ITB. Semester ini saya mengajar tiga (3) mata kuliah. Semuanya di bidang information security:

  • II3230 – Keamanan Informasi (Information Security)
  • EL5215 – Keamanan Perangkat Lunak (Software Security)
  • EL6115 – Secure Operation and Incident Handling

Ini potret yang saya ambil di kelas Keamanan Informasi minggu lalu.

ITB information security class 2018

Kelasnya dimulai pagi sekali, pukul 7 pagi. Ayo semangat! Semoga tetap bersemangat sampai akhir semester.

Iklan

Tanpa KTP: mencari dompet ukuran A4

Kemarin siang saya mengunjungi salah satu grapari Telkomsel untuk membeli Kartu Halo. Setelah menunggu hampir 30 menit, akhirnya saya dilayani, Namun, akhirnya gagal untuk mendapatkan Kartu Halo-nya Telkomsel. Alasannya adalah saya tidak memiliki KTP.

Setahun yang lalu, KTP saya habis. Sementara itu eKTP saya tak kunjung datang meskipun saya sudah mendaftarkan diri tahunan yang lalu – di awal program eKTP. Alasannya adalah blankonya tidak ada. Lucu saja. Blanko kok tidak ada selama tahunan. Kalau disuruh mengadakan sendiri, beli sendiri blanko-nya pun saya mau kok. Akibatnya, saya sekarang tidak memiliki KTP. KTP saya digantikan dengan SUKET (Surat Keterangan). [saya juga baru tahu singkatannya adalah SUKET – ha ha ha.]

SUKET ini – seperti namanya – adalah surat dalam bentuk kertas A4. Saya belum tahu apakah ada orang yang kemana-mana membawa SUKET ini. Adakah dompet berukuran A4? ahahay. Walhasil, SUKET ini saya pindai (scan) dan hasil pemindaiannya ini yang ada di handphone saya. Ternyata waktu daftar di grapari Telkomsel itu foto SUKET di handphone saya tidak laku,

Di tengah kehebatan pemanfaatan teknologi informasi, pembuatan KTP saja negeri ini tidak mampu.

Suatu saat, saya diminta untuk menjadi salah satu anggota tim untuk membenahi eKTP. Saya ingin tertawa karena melihat ironinya. Lah, saya sendiri termasuk manusia SUKET. Ah, sudahlah.

Sementara itu saya akhirnya membeli kartu SIM dari operator lain yang tidak membutuhkan kehadiran SUKET fisik. Saya tidak menyalahkan operator, saya menyalahkan siapa ya? #korbaneKTP

Analogi Bitcoin

Sekarang Bitcoin sedang ramai diperbincangkan. Sebetulnya apa itu Bitcoin? Daripada menjelaskan tentang Bitcoin (atau cryptocurrency lainnya), lebih baik saya buat analoginya.

Katakanlah sekolah Anda ingin mengadakan acara bazaar. Di acara tersebut ada penjualan makanan dan minuman. Agar penjualan makanan dan minuman terkendali maka panitia membuat aturan bahwa pembelian makanan dan minuman dilakukan dengan menggunakan kupon. Kupon dijual dalam pecahan Rp. 20.000,-. Maka mulailah orang yang hadir di bazaar tersebut membeli kupon.

Untuk menghindari terjadinya fraud, penipuan, kupon palsu dan sejenisnya maka jumlah penjualan kupon dibatasi. Hanya ada 500 kupon yang tersedia.

Eh, ternyata makanan dan minuman yang ada di sana enak-enak. Maka orang mulai mencari kupon. Walah. Jumlah kupon yang tersedia ternyata terbatas. Maka mulailah kupon dicari. Tiba-tiba ada orang yang menjual kuponnya. Kupon yang harganya Rp. 20.000,- dijual seharga Rp. 25.000,-. Lumayan, untung Rp. 5.000,-. Malah ada orang yang menjual kupon itu dengan harga Rp. 30.000,-.

Begitu melihat kupon dapat dijual lebih mahal dari harga belinya maka orang mulai memperjualbelikan kupon. Kupon lebih dicari lagi. Harga makin naik lagi. Sekarang harga kupon menjadi Rp. 100.000,-. Wow!!

Lucunya, orang-orang tidak menggunakan kupon itu untuk membeli makanan. Justru jual beli kuponnya yang menjadi fokus kegiatannya.

Lantas bagaimana nasib penjual makanan dan minuman itu? Hmm … sebentar kita cek dulu. Ternyata jual beli makanan dilakukan dengan uang Rupiah saja karena daripada tidak ada yang beli dan kupon malah disimpan (dan diperjualbelikan) oleh orang-orang. Kupon tidak jadi solusi.

Bazaar akan selesai. Bagaimana nasib harga kupon setelah bazaar selesai? Anda tahu sendiri.

Mencari Developer Software

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara Bekraf yang diorganisir oleh Dicoding di Bandung. Acara ini mengumpulkan developer software (pengembang aplikasi) di kota Bandung dan diberikan berbagai pengetahuan (seminar, training). Berikut ini adalah contoh foto yang hadir. Banyak! Lebih dari 1000 orang!

DSC_0217_0001

Namun yang menjadi masalah adalah ketika saya mencari developer, ternyata kesulitan. Sebetulnya mereka ada dimana? Ini adalah sebuah paradoks; katanya banyak SDM yang mencari pekerjaan tetapi ada banyak perusahaan yang kesulitan mencari SDM.

Saya mendapat permintaan untuk programmer dan support (untuk berbagai jenis software baik yang sudah kadaluwarsa maupun yang masih baru). Akhir-akhir ini malahan dapat permintaan tiap minggu! Nah, apakah perlu saya tanggapi permintaan-permintaan ini dengan lebih serius? Dahulu kami memang pernah memiliki perusahaan outsourcing seperti yang dimaksudkan, tetapi sekarang para pengembangnya sudah tersebar. (Ada yang pindah ke luar kota, mengambil kuliah di luar negeri, menjadi freelancer, membuat perusahaan sendiri, atau menjadi bagian dari perusahaan kami lainnya.) Nah, perlukah kami membuat kembali perusahaan ini?

Apakah Blockchain Menjadi Solusi?

Salah satu janji yang digadangkan oleh Blockchain – teknologi yang berada di belakang Bitcoin – adalah dapat membuat biaya transaksi menjadi sangat murah. Janji tinggal janji. Saat ini saya belum melihat ini terjadi. Kebanyakan orang masih fokus kepada aspek “oportunis” dari crypto currency ini.

Saya masih membutuhkan sebuah sistem pembayaran yang biayanya murah untuk toko musik digital saya. (Lihat: toko.insanmusic.com) Harga sebuah lagu adalah Rp. 5000,-. Sementara itu sistem pembayaran yang ada sekarang hampir semua meminta biaya (per) transaksi di atas Rp. 5000,-. (Bahkan ada yang meminta biaya transaksi Rp. 15.000,-!) Tekorlah saya kalau biaya transaksinya seperti itu. Seharusnya biaya transaksinya adalah Rp. 100,- gitu.

Kalau sampai akhir tahun ini (2017) tidak ada yang dapat memberikan solusi, tahun depan (2018) kayaknya saya harus membuat sebuah sistem pembayaran sendiri.

Merakit Kode Besar

Sudah lama saya tidak merakit (compile) kode yang cukup besar sehingga menghabiskan waktu yang cukup lama. Kemarin saya merakit kode Tensorflow dari source code karena paket yang sudah jadi tidak sempurna jalannya di notebook saya. Terpaksa harus merakit ulang.

Eh, ternyata proses kompilasi membutuhkan waktu yang lama. Setelah 3 jam tidak kunjung berhenti, akhirnya saya tinggal main futsal dahulu. Pulang main futsal baru selesai. Saya tidak tahu tepatnya kapan selesainya, tetapi berarti antara 3 sampai dengan 6 jam. Ajegilebusyet.

Terakhir saya melakukan proses kompilasi yang lama (seingat saya) adalah di awal tahun 90-an. Waktu itu saya merakit kernel Linux dari source code di komputer dengan prosesor 386SX berkecepatan 16 MHz. Memorinya waktu itu di bawa 2 MBytes. Jadul banget ya? Dibandingkan handphone saat ini, komputer saya waktu itu tidak ada apa-apanya.

Proses kompilasi kemarin dilakukan di notebook yang menggunakan prosesor i3 dengan memori hanya 2 GBytes. Notebooknya sampai tidak responsif saking kerja kerasnya dia. ha ha ha. Kasihan juga sih, tapi apa boleh buat. Itu yang saya miliki. Tidak boleh mengeluh. (Anak muda zaman now maunya harus menggunakan komputer yang high-end. Gak mau kerja kalau tidak menggunakan komputer yang bagus. hi3. Ini saya contohkan bahwa sayapun masih menggunakan komputer apa adanya.)

Alhamdulillah hasil perakitan berjalan. Coba kalau tidak jalan. Wah. Harus merakit jam-jaman lagi. Ugh. (Dahulu kalau salah konfigurasi, hasil perakitan kernel tidak jalan. Harus merakit ulang. Dapat dibayangkan kesabaran yang harus saya lalui.)

Selamat ngoprek.

Verifikasi NIK dan KK

Mumpung sedang ramai-ramainya dibahas tentang pendaftaran ulang nomor kartu telepon prabayar, mari kita diskusikan aspek teknis. Kesempatan untuk belajar “protokol”.

Ceritanya kita sebagai pengguna diminta untuk mengirimkan NIK dan KK melalui SMS ke 4444. Saya punya masalah dengan mengirimkan KK. Mengapa harus mengirimkan KK? Permasalahannya adalah operator jadi memiliki KK kita. Untuk apa? Seharusnya kita berikan informasi secukupnya saja. Sesedikit mungkin. Ini masalah privasi. Pertanyaannya adalah bagaimana cara operator dapat memastikan bahwa NIK yang kita kirimkan itu benar (terasosiasi dengan KK)?

Berikut ini adalah video yang saya buat (beberapa menit yang lalu). Sekalian nyoba nge-vlog agar kekinian. hi hi hi.

Selamat menikmati videonya. Semoga bisa menjadi sumber pembelajaran.

Update: Ini ada cuplikan dari berita. Di gerai bisa akses KK; diberikan data NIK, keluar KK-nya. Parah. Ini seharusnya tidak boleh karena data KK kemudian dapat dikumpulkan.

NIK KK

Update lagi: berikut ini adalah tampilan layar papan tulis (whiteboard) ketika saya mengajar network security di kelas.

P_20171108_084040 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

P_20171108_090635 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

P_20171108_092802 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js