Industri 4.0

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang “industry 4.0”. Apa itu? Mengapa dia muncul? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah opini saya.

Pertama harus dipahami dahulu bahwa ada perbedaan antara “revolusi industri ke-4” (fourth industrial revolution) dan “industri 4.0”. Revolusi industri mencakup berbagai aspek (domain) kehidupan, sementara industri 4.0 hanya spesifik ke dalam industri-nya sendiri. Revolusi industri ke-4 menunjukkan integrasi antara dunia nyata dan dunia siber. Internet of Things (IoT) dengan berbagai sensornya merupakan contoh integrasi kedua dunia tersebut. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat dipahami. Nanti akan saya uraikan lebih dalam lagi jika dibutuhkan.

Menurut opini saya, istilah “industri 4.0” ini sebetulnya muncul dari kekalahan Jerman dalam bidang industri oleh Tiongkok (China). Perlu diingat bahwa jaman dahulu produk-produk buatan Tiongkok memiliki kualitas yang buruk, sementara produk buatan Jerman memiliki kualitas yang sangat baik. Namun sekarang, Tiongkok mampu memproduksi produk dengan tingkat kualitas yang super baik. Maka istilah “industry 4.0” dikoinkan oleh Jerman untuk menunjukkan hal lain dari hanya sekedar membuat produk yang baik saja.

Apakah sebuah instansi (perusahaan, industri) telah mengadopsi industri 4.0? Seberapa jauh tingkat adopsinya? (Ini akan saya perbaharui pada tulisan selanjutnya.)

Data BUKAN Minyak Terbaru

Banyak orang yang mengatakan bahwa “data is the new oil“. (Saya belum menemukan terjemahan yang pas sehingga judul dari tulisan ini seperti ini.) Alasan yang digunakan mereka adalah data dapat diperjualbelikan dan bahkan katanya harganya mahal. Itulah sebabnya banyak layanan (umumnya di internet) yang gratis dengan menukarkan dengan data pribadi kita.

Saya tidak sependapat dengan analogi data dengan minyak, karena bagi saya analogi yang lebih cocok adalah data sama dengan sampah. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan.

  • Data kita hasilkan secara rutin. Ini sama dengan kita menghasilkan sampah setiap hari. Mulai dari sampah makanan kita, sampai ke sampah dari pekerjaan kita sehari hari. Kita juga menghasilkan data setiap hari. Sebagai contoh sekarang hampir setiap handphone memiliki kamera, maka setiap orang memotret apa saja. Yang tidak penting-pentingpun dipotret. Demikian pula banyak orang yang ikut di dalam group (misal WA group) yang isinya chatting tidak penting. (Sekali-sekali lihat chat anak2 di bawah SMA. Chatnya lucu-lucu. Yang kadang-kadang hanya 1 huruf saja. “P”. Kemudian dibalas “T”. Kemudian dibalas “K”. Ini adalah data yang sama dengan sampah.)
  • Sampah juga dapat memiliki nilai (value). Misalnya, sampah plastik dapat didaur ulang menjadi plastik kembali. Ada harganya. Itulah sebabnya ada orang yang pekerjaannya adalah mengumpulkan plastik bekas minuman kemasan. Namun secara umum sampah tidak diminati orang. Sama dengan data yang kita hasilkan, mungkin saja setelah diolah dia akan memiliki nilai. (Catatan: menurut pendapat saya ini sudah berubah dari data menjadi informasi.) Namun secara umum data yang kita hasilkan juga tidak diminati oleh orang lain.
  • Kita pusing dengan sampah. Bagaimana mengolah limbah sampah? Saya pun pusing dengan data yang ada di komputer saya. Di depan saya ada 5 harddisk yang sudah saya copot dari komputer. (Di komputernya masih ada 2 disk lagi.) Di dalamnya banyak data yang mirip dengan sampah; berkas-berkas yang saya unduh dari internet, foto-foto jepretan saya, lagu-lagu, materi presentasi, tugas mahasiswa, dan seterusnya.

Selain hal-hal di atas, masih banyak poin lain yang menunjukkan bahwa data itu lebih mirip dengan sampah.

Saya ambil contoh. Saya memiliki daftar nama mahasiswa yang mengambil kuliah saya saat ini. Itu data. Apakah ada nilainya? Jangan cepat-cepat mengatakan iya. Jika memang data ini ada nilainya, maka apakah Anda mau membelinya dengan harga Rp. 5 juta? Kemungkinan besar, tidak. Bagaimana jika Rp. 500 ribu? Kemungkinan juga tidak. Kalau Rp. 50 ribu. Mulai Anda mikir. Kalau Rp. 5 ribu? Mungkin Anda berminat (karena gorenganpun harganya seperti itu.) Mungkin Anda berminat karena ingin menjukkan bahwa data itu ada harganya, tetapi jujur saja. Untuk apa data itu bagi Anda? Data tersebut tidak ada nilainya. Atau nilainya sangat kecil. Sama dengan sampah.

one man junk is another man’s treasure

Demikianlah pendapat saya, bahwa “Data is the new junk“.

Oh ya, ada versi video dari opini saya ini di YouTube channel saya.

Gara-gara Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi ternyata bikin saya pusing. Begini. Saya kan menulis cerita tentang “Jek dan Sar” (linknya nanti saya pasang di sini). Cerita ini terhenti cukup lama. Tahunan. Terus apa hubungannya dengan teknologi?

Dalam cerita “Jek dan Sar” itu mereka berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Nah, jaman sekarang siapa yang menggunakan SMS? Anak-anak milenial pasti akan tertawa sampai sakit perut kalau masih ada orang berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Tidak masuk akal. Hanya teks saja dan bayar pula!

Kalau cerita saya itu mau kekinian, maka semuanya harus saya tulis ulang dengan menggunakan WA/Telegram (atau apapun program messaging yang sedang populer saat ini). Bahkan akan lucu kalau Jek dan Sar tidak saling kirim foto lewat Instagram, misalnya. Nah lho.

Kalau cerita saya tulis dengan setingan lama – jama SMS itu – maka saya yang pusing karena saya harus terbang ke waktu jaman itu. Beban ada di saya. Meskipun ini mungkin adalah pilihan yang paling logis. Toh cerita-cerita yang mengambil setingan waktu jaman dahulu pun masih tetap mungkin. Lah Dilan saja mengambil setingan waktu tahun 1990-an. Berarti saya saja yang kurang kreatif. Ha ha ha.

Jadi bagaimana bagusnya?

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Ada banyak teknologi “baru” yang muncul. Mereka disebut “emerging technologies”. Tidak semuanya akan sukses. Akan ada yang muncul dan kemudian menghilang, tetapi ada yang muncul dan membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kita.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI – saya akan menggunakan singkatan AI dalam tulisan ini) merupakan salah satu teknologi yang akan membuat perubahan yang dahsyat. Sebetulnya AI ini bukan teknologi yang baru karena awalnya sudah dimulai pada tahun 1950-an. Yang membuat dia menjadi “baru” adalah karena adanya inovasi-inovasi di bidang lain – (mikro)elektronika, komputer, jaringan, storage, database, cloud computing – maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh AI menjadi masalah yang nyata. Dahulu dia hanya dapat memecahkan masalah mainan (dolanan) saja.

Dampak yang ditimbulkan oleh AI mirip (atau lebih hebat?) dari dampak yang ditimbulkan oleh mekanisasi / otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan membosankan akan digantikan oleh mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Akibatnya lapangan pekerjaan yang dahulu menggunakan manusia akan tergerus. Akan ramai ini. Untuk poin ini saya tidak ingin membuatnya menjadi isyu yang keras karena nanti akan ada alergi kepada AI. Padahal kita harus menguasai AI sebelum AI menguasai kita atau AI produk dari negara lain yang menguasai kita.

Sejauh mana AI akan merasuk ke dalam kehidupan kita? Nampaknya saya harus membuat tulisan – atau video – yang lebih rinci lagi bahasannya. Mencari waktu …

Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Teknologi & Politik

Baru-baru ini beredar berita tentang Google yang membatasi akses Huawei terhadap kode Android dan layanan Google lainnya (Google Play, Gmail App). [Link berita akan saya kumpulkan dan letakkan di bagian akhir dari tulisan ini.] Ini berita yang cukup menggemparkan meskipun merupakan sesuatu yang sudah lama diduga oleh negara-negara yang bergantung kepada layanan sebuah perusahaan di sebuah negara tertentu. Mereka tidak mengira bahwa hal ini akan dieksekusi.

Sebagai sebuah perusahaan yang berdomisili di Amerika, Google harus taat kepada peraturan dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa perusahaan Huawei melanggar berbagai keputusannya [dibutuhkan referensi di sini] maka pemerintah melarang perusahaan lain untuk melakukan bisnis dengan Huawei. Mau tidak mau Google (dan perusahaan Amerika lainnya) harus nurut.

source: https://www.theasset.com/belt-road-online/35604/us-warns-europe-against-using-huawei-

Ini merupakan contoh politik yang mempengaruhi bisnis. Sebetulnya kalau mau ditelaah lebih lanjut lagi, ini mempengaruhi teknologi. Sedemikian pentingnya teknologi sehingga menjadi salah satu penentu keputusan. Kali ini teknologi 5G yang menjadi perebutan. Setelah ini kemungkinan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) yang akan mendapat perhatian yang sama, karena AI ini sama pentingnya (bahkan dapat dikatakan lebih penting) dari teknologi 5G.

Berulangkali saya katakan kepada mahasiswa saya agar tidak buta politik, tetapi jangan terjun ke politik praktis. Pahamilah politik sehingga kita tidak tersesat atau bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik (praktis).

Lantas bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kasus ini membuka mata kita seberapa tergantungnya kita dengan teknologi asing. Begitu pihak asing menutup teknologi tersebut, matilah kita. Maka kemandirian teknologi bukanlah isapan jempol. Dia merupakan sebuah hal yang riil. Kedaulatan Teknologi.

Contoh yang riil. Beberapa waktu yang lalu (tahunan?), kami pernah mengusulkan adanya “app store” sendiri. Handphone yang beredar di Indonesia dapat menggunakan “app store” kita sendiri. Namun nampaknya ide ini belum mendapat dukungan dan bahkan tidak dimengerti. Sekarang semoga kita mengerti mengapa perlu ada “local app store“. (Rincian mengenai hal ini masih harus dibahas. The devils are in the details.)

Demikian pula kemampuan untuk membuat kernel dari sistem operasi (terutama untuk handphone) juga merupakan hal yang utama. Tidak banyak orang Indonesia yang ngoprek tentang hal ini. Saya hanya tahu beberapa orang saja. Apakah Anda pernah ngoprek kernel sebuah sistem operasi?

Kebutuhan SDM (sumber daya manusia) yang menguasai teknologi-teknologi ini secara mendalam dapat dikatakan sangat kritis. Darurat SDM teknologi. Apakah kita akan menunggu sampai kita diblokir dulu baru kemudian bergerak?

Tautan terkait berita Huawei

Data Entry

Mari kita bahas (lagi) tentag dota entry, eh data entry. Supaya lebih jelas, saya akan ambilkan sebuah contoh kasus pemilihan umum di sebuah negara antah berantah.

Seorang operator data entry menemukan form (borang) dengan data seperti berikut:

calon #1 = 20
calon #2 = 20
calon #3 = 20
total suara = 80

Jika kita perhatikan, maka jumlah total suara tidak sama dengan jumlah yang seharunya. Jumlah seharusnya adalah 20+20+20 = 60. Jika Anda operator data entry tersebut, apa yang Anda lakukan?
(a) perbaiki data;
(b) masukkan (entry) data persis seperti itu.

Misalnya Anda berniat untuk memperbaiki data tersebut. Apa yang akan Anda perbaiki? Misal Anda ambil inisiatif mengubah jumlah total suara. Oleh Anda total suara diganti menjadi 60. Jreng! Anda masukkan data dan ternyata keputusan Anda itu salah! Maka Anda (dan institusi tempat Anda bekerja) langsung mendapat tuduhan menghilangkan suara! Ribut.

Kenapa keputusan Anda salah? Karena ternyata ada beberapa kemungkinan kesalahan. Kemungkinan pertama, yang salah adalah data untuk calon #3. Seharusnya data yang benar adalah “calon #3 = 40“. Maka jumlah total suara sudah benar, 80. Nah lho.

Kemungkinan tersebut bukan satu-satunya kemungkinan. Bisa jadi yang salah adalah data di calon #1 atau calon #2 atau keduanya atau ketiganya. Misalnya, bisa jadi datanya harusnya “calon #2 = 30” dan “calon #3 = 30“. Dan seterusnya. Paham maksud saya kan?

Ok. Cara yang paling aman adalah data dimasukkan APA ADANYA. As is. Pilihan (b). Sebagai seorang operator, Anda memasukkan data apa adanya. Seperti mesin scanner saja. Namun form ini diberi tanda (flag, warning) bahwa ada masalah di dalamnya. Tolong seseorang (manusia) melakukan verifikasi ulang.

Nah, inilah yang terjadi pada sistem perhitungan suara di Pilpres 2019. Itulah sebabnya terlihat bahwa sistem seperti tidak melakukan perhitungan, padahal dia melakukan perhitungan tetapi untuk jumlah yang salah ini maka aplikasi akan meminta perhatian seorang pemeriksa.

Ada yang berkomentar juga, kalau begitu seharusnya aplikasi tidak mau menerima data yang salah tersebut. Data yang jumlahnya totalnya salah, misalnya, jangan dimasukkan. Lah, jika demikian maka data itu mau diapakan dibuang? Ini malah bermasalah. Seolah-olah operator melakukan kecurangan dengan membuang data. Malah akan lebih bermasalah lagi. Tuduhannya malah lebih berat lagi. Jadi sudah benar bahwa data tetap dimasukkan tetapi diberi tanda (flag, warning).

Sudah kepanjangan ah.