Fakir Bandwidth

Ini tulisan tentang keluh kesah susahnya akses internet. Link internet di tempat ini (tidak perlu disebutkan namanya) sangat lambat. Padahal ini seharusnya merupakan tempat yang internetnya kecang. Di Indonesia masih banyak fakir bandwidth.

Yang sedang saya coba akses adalah StackOverflow, karena ini sedang mengajar pemrograman. Bayangkan, di tempat lain internetnya wuzzz, wuzzz, wuzzz. Di sini siswa terpaksa nunggu dulu. Belajar tersendat-sendat. Jadi inget pejabat yang mengatakan “internet cepat untuk apa”? Ya, untuk belajar!

Keluh kesah pagi ini … [meringis]

Editor Yang Mana?

Editor adalah perangkat (tools) yang kita gunakan untuk membuat sebuah tulisan. Pemilihan editor ini tentunya bergantung kepada jenis tulisan atau dokumen yang ingin kita buat. Apakah kita ingin membuat catatan kecil, kode program, atau membuat web? Editor akan menyesuaikan dengan jenis tulisan tersebut. Meskipun demikian masih ada banyak pilihan editor.

Pemilihan editor bergantung kepada selera penggunanya. Ya, betul selera. Bahkan pemilihan editor ini dapat membuat orang bertengkar. Macam pertengkaran agama saja. hi hi hi.

Untuk desain web ada beberapa alternatif. Berikut ini ada beberapa komentar saya terhadap editor ini. Kesemua editor ini tersedia di berbagai sistem operasi.

Brackets. Editor ini memang didesain untuk front-end developers, yaitu pengembang web. Selain fitur standar, ada tombol yang langsung bisa menjalankan live preview (dengan menggunakan browser Google Chrome). Bagi banyak orang, fitur ini sangat menarik. Editor yang yang kami ajarkan kepada pengembang web.

Atom. Editor ini merupakan saingan berat dari Brackets. Untuk pengguna yang banyak juga menulis program selain mengembangkan web, Atom dirasakan lebih menarik. Di sistem operasi Linux yang saya gunakan, Atom terasa lebih stabil dari Brackets.

Sublime. Ini adalah editor dari pengembang – atau lebih tepatnya programmer – yang lebih komplit lagi. Biasanya jika Anda lebih banyak membuat kode program, maka Sublime ini merupakan editor pilihan. Sayangnya editor ini berbayar, meskipun sesungguhnya ada versi evaluasi yang tidak perlu membayar. (Setahu saya, versi yang evaluasi ini tidak beda dengan versi berbayarnya. Jika demikian, pakai versi evaluasi terus saja ya? hi hi hi.)

Lantas dengan banyaknya pilihan ini, mana yang akan Anda pilih? Nah lho. Bagaimana dengan saya? Wah, saya sudah terlanjur familier dengan editor vi (atau vim). Seperti saya katakan, ini masalah “agama”. ha ha ha. Jangan bertengkar ya.

Banjir Informasi

Membaca bagian awal dari buku Madilog-nya Tan Malaka, saya merasakan kegalauan Tan Malaka akan kesulitan mendapatkan sumber bacaan (buku). Saya juga sempat mengalami masa kesulitan mendapatkan sumber referensi ketika menempuh pasca sarjana saya. Untuk mendapatkan sebuah referensi, saya harus melakukan interlibrary loan, yaitu meminjam ke perpustakaan tempat lain. Dibutuhkan waktu berhari-hari (dan bahkan minggu) untuk referensi sampai di tempat saya. Itu di Kanada, sebuah negara yang sudah maju. Tidak terbayang oleh saya jika saya berada di tempat yang sistem perpustakaannya belum sebaik itu.

Ya itu jaman sebelum ada internet. Ketika akses kepada (sumber) informasi masih sangat terbatas. (Sebetulnya jaman itu sudah ada internet, tetapi akses kepada internet masih dibatasi untuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Juga, kecepatan akses internet masih sangat terbatas. Masih teringat saya harus mengakses jaringan kampus dengan menggunakan layar teks saja melalui modem 1200 bps.)

Internet (dan teknologi terkait) mendobrak akses kepada informasi. Sekarang – setidaknya di kota-kota besar di Indonesia – akses kepada informasi tidak ada batasnya. Seperti halnya aliran air dari sebuah sungai yang tadinya mampet, sekarang menjadi lancar.

Sayangnya air yang tadinya jernih sekarang berubah menjadi keruh. Terlalu banyak sampah. Ditambah lagi, air yang tadinya mengalir dengan baik sekarang menjadi banjir badang. Tanggul-tanggul bobol. Sekarang kita kebanjiran informasi.

Ketika banjir – dimana-mana ada banyak air – kita kesulitan mendapatkan air yang jernih untuk minum. Kondisi saat ini sama. Terlalu banyak informasi abal-abal, sehingga untuk mendapatkan informasi yang jernih tidak mudah. Dibutuhkan keahlian dan teknologi untuk menyaring informasi yang keruh menjadi informasi yang dapat kita teguk.

Sementara itu, kita jangan ikut serta memperkeruh “air informasi” ini dengan melemparkan “sampah informasi” yang tidak penting. Tahan diri untuk membuang “sampah informasi”. Maukah kita melakukannya?

Resensi: Spammer

Tidak banyak novel atau cerita di Indonesia yang bersifat agak teknis. Kebanyakan ceritanya adalah keseharian dan umum-umum saja. Maka adanya sebuah cerita yang teknis – seperti spammer (orang yang melakukan spamming) – sangat menarik bagi saya. Apa lagi latar belakang saya memang urusan komputer.

Saya menerima buku ini, sebuah novel thriller karangan Ronny Mailindra dengan judul “Spammer”. Begitu terima, tidak langsung saya baca karena kesibukan saya. Begitu ada waktu senggang, saya cicil bacanya.

p_20161209_132557-spammer-0001

Novel ini bercerita tentang seorang spammer (yang kerjanya mengirim spamming untuk mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang kena spam) yang kena batunya. Tanpa sengaja, berkas yang dia curi dari sebuah komputer tenyata sebuah barang bukti kejahatan. Penjahatnya menyewa hacker untuk memastikan berkas tersebut musnah. Maka terjadilan perang antar kedua orang ahli komputer itu.

Awalnya ceritanya agak lambat (untuk selera saya). Kemudian mulai menjadi cepat dan seru sehingga saya harus menyelesaikannya dengan cepat. (Saya baca dalam dua hari. Bahkan ada yang sampai lewat tengah malam.)

Seringkali dalam film atau novel yang bercerita tentang teknis komputer (IT) ada hal-hal yang tidak akurat. Misal, nomor IP yang digunakan adalah 333.123.123.123. Padahal angka yang digunakan tidak boleh lebih dari 255 (karena 8-bit). Atau perintah-perintah yang diketik di layar salah atau tidak benar. Hal-hal seperti itu sering mengesalkan karena kita jadi tahu bahwa film/novel itu ngasal. Nah, buku ini tidak begitu. Sang pengarang memang punya latar belakang IT sehingga hal-hal yang teknis cukup akurat.

Nilai saya adalah 4,5 dalam skala 5. (Atau kalau dibuat skala 10 adalah 9. hi hi hi.) Recommended bagi orang teknis.

Aplikasi Jaga: Pencegahan Korupsi

jaga-logoKemarin kami berdiskusi tentang aplikasi yang namanya Jaga. Pada dasarnya aplikasi ini bertujuan untuk mencegak korupsi melalui keterbukaan informasi. Keberadaan informasi yang tersedia di aplikasi Jaga ini dapat membuat masyarakat ikut berpartisipasi dalam membantu menjaga penyalahgunaan-penyalahgunaan.  Ada informasi tentang anggaran dan ketersediaan fasilitas di sekolah, rumah sakit, puskesmas, perijinan, dan tidak menutup adanya informasi-informasi lainnya.

jaga-screen

Berikut ini adalah salah satu contoh tampilan dari aplikasi Jaga yang tersedia untuk Android dan iPhone. Kita bisa melakukan drill-down untuk mencari data yang lebih rinci.

Secara teknologi, di belakangnya menggunakan konsep ESB (Enterprise Service Bus) yang diimplementasikan menggunakan WSO2. Nampaknya saya bakalan mengajak developer-developer untuk menggunakan standar ini agar dapat saling berkomunikasi. Dia bisa menjadi platform, bukan sekedar aplikasi saja.

Secara umum aplikasi ini bagus, namun ada beberapa permasalahan yang kemarin kami diskusikan. Masalah yang utama adalah bagaimana mengajak komunitas untuk menggunakan platform ini sebagai media untuk edukasi dan pencegahan korupsi? Komunitas mana saja yang perlu diajak untuk menggunakannya secara intensif?

Ada pertanyaan tentang penggunaan artis atau buzzer untuk mempromosikan sebuah produk atau layanan. Sebetulnya ini hal yang biasa, tetapi gara-gara ada banyak demo dengan pendemo bayaran maka dikhawatirkan image penggunaan artis / buzzer ini sama saja dengan pendemo bayaran. hi hi hi. Apa pendapat Anda?

Hal lain yang menurut saya penting adalah bagaimana membuat warna (brand) yang positif, good news. Kalau orang mendengar kata korupsi atau anti-korupsi, biasanya konotasinya adalah negatif. Misal ada yang berita tentang tertangkapnya seseorang karena korupsi dan seterusnya. Bad news. Pendekatan good news menurut saya lebih menarik. (Sama seperti tulisan-tulisan saya di blog ini yang condong untuk good news. Berita-berita di luar sana kebanyakan menggoreng bad news. Males! Nyebelin. Boleh jadi memang bad news lebih menjual, tetapi good news lebih menghasilkan kultur positif di kemudian hari.)

Ayo kita coba aplikasi Jaga ini dan beri komentar Anda di sini.

Mengajarkan Debugging?

Bagaimana ya cara mengajarkan “debugging” (mencari sumber masalah dalam koding, sistem)?

Seringkali kita memberikan tutorial atau tugas tentang satu hal (kode pemrograman misalnya). Kemudian siswa mengikuti tutorial tersebut. Ketika ada masalah, tidak jalan, maka siswa kesulitan mencari sumber masalahnya. Ketika melapor, yang dilaporkan juga tugas tidak jalan. Nah ini membingungkan karena ada banyak hal yang membuat sebuah kode / sistem tidak jalan.

Hal yang sama juga terjadi dalam pengembangan sebuah sistem. Ketika ada masalah maka kita harus mencari sumber masalahnya dan memperbaikinya. Debugging.

Kemampuan debugging ini ternyata tidak dimiliki oleh semua orang. Namun semestinya bisa diajarkan. Bagaimana ya cara mengajarkannya yang baik?

Salah satu ide adalah dengan membuat soal yang memiliki kesalahan, kemudian siswa diminta untuk mencari kesalahan tersebut dan memperbaikinya. Semakin sering melakukan hal ini (mencari kesalahan dan memperbaikinya), mudah-mudahan meningkatkan kemampuan untuk debuggingnya.

Hal lain juga yang perlu diajarkan adalah bagaimana membagi-bagi sistem. Divide and conqueror. Ini bisa jadi topik terpisah.

Ketika Koding Menguasai

Semalam, pukul 1 malam (atau tepatnya pukul 1 pagi) saya terbangun. Teringat sebuah ide koding (pemrograman) LED yang saya buat beberapa waktu yang lalu. [Lihat tulisan saya tentang ini.] Saya ingin membuat sebuah kode lagi. Langsung saja saya tidak bisa tidur lagi.

Ada dua pilihan. Tetap memaksakan diri untuk tidur kembali (dengan risiko kehilangan ide dan juga tidur mungkin tidak nyenyak) atau bangun dan membuat kode, koding. Saya ambil pilihan yang terakhir. Langsung ambil laptop.

Sambil koding saya nyalakan TV. Eh, film yang sedang main adalah film horor. ha ha ha. Hmm … sudah malas saya mengubah channelnya untuk memilih film yang lain. Pikiran sedang fokus ke kode. Maka saya biarkan saja film horor itu tetap on. hiii. Koding berlanjut. Ternyata semangat koding mengalahkan seramnya film horor. Baru kali ini saya tahu. ha ha ha.

Setelah sekitar setengah jaman koding, beres. Ide terimplementasi. Untungnya tidak terlalu banyak masalah di kodenya. Saya upload kode ke akun sementara saya untuk kemudian besok saya upload ke github. Baru bisa tidur kembali. Nyenyak.