Era Pendidikan 1-on-1

Sekolah dari rumah (school from home) memaksa banyak orang untuk menggunakan teknologi informasi. Mulai ada “masalah” terkait dengan ujian. Kebanyakan guru atau dosen masih menggunakan ujian secara konvensional. Kasih soal yang sama, kemudian semua mahasiswa harus menjawab. Ada LMS (Learning Management System) yang membantu mengacak soal dan jawaban sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang ingin nyontek atau mengunakan joki, tetapi ini sulit dengan kondisi saat ini.

Saya mengambil pendekatan yang berbeda. Ujian yang saya berikan kepada mahasiswa saya biasanya adalah membuat makalah, yang notabene akan berbeda-beda antar mahasiswa. Dengan kata lain, saya tidak mempunyai masalah nyontek atau joki. Namun timbul “masalah” baru bagi saya, yaitu untuk memeriksanya tidak dapat dilakukan secara gelondongan. Harus satu persatu. Selamat datang di era pendidikan 1-on-1, atau saya terjemahkan 1-ke-1.

Jika digeneralisir, pendidikan jaman sekarang masih bersifat pabrik. Semua siswa dibuat sama. Semua harus bisa mengerjakan soal yang sama. Bahan pelajaran sama. Ujian juga sama. Memang tujuannya adalah lulusannya dapat bekerja di tempat yang sama. Pabrik. Untuk pekerjaan yang individual, pendidikan seperti ini tidak cocok.

Pendidikan 1-ke-1 memberikan perhatian yang spesifik ke satu siswa. Bahan yang diberikan ke satu siswa boleh jadi berbeda dengan siswa satunya lagi. Ada siswa yang mudah mengerti dengan tulisan, sementara ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan diagram. Kecepatan belajar siswa juga akan berbeda. Sekarang semua disamakan. Harus selesai pada saat yang sama. Pada pendidikan 1-ke-1, kecepatan belajar siswa dapat berbeda. Artinya, masuk sekolah dan selesainya pun dapat berbeda.

Dahulu hal semacam ini tidak memungkinkan karena kekurangan tenaga pengajar. Namun sekarang dengan bantuan teknologi informasi (aplikasi, database, big data, artificial intelligence) seharusnya ini dapat dilakukan. Namun memang harus ada upaya yang terstruktur dan terencana untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Ayo kita mulai.

Tanda Kehadiran Kelas Secara Digital

Kuliah sudah (hampir) selesai. Sekarang mulai masuk ke UAS (Ujian Akhir Semester). Bagi kelas saya, UAS ini dapat dilakukan di rumah karena kebetulan berupa makalah (term paper). (Untuk yang harus ujian tertulis seperti yang dilakukan secara konvensional akan kita bahas secara terpisah. Wah harus buat tulisan lagi ya?) Yang saat ini menjadi masalah adalah daftar kehadiran.

Saat ini kelas banyak yang dilakukan secara daring (online). Sebagai contoh, ini adalah cuplikan foto kelas saya yang baru selesai satu jam yang lalu. Kelas yang lain juga mirip.

advanced-programming

Bagaimana mengubah kehadiran di video conferencing (yang dalam kasus ini menggunakan aplikasi Zoom) menjadi daftar hadir kelas? Sebetulnya ini dapat dilakukan secara manual, tetapi bayangkan jika semua kelas sekarang melakukan hal ini. Harus ada cara yang mudah dan otomatis. Ini tantangan bagi pengembang teknologi. Ayo buat!

Hidup Berdampingan dengan Virus Corona

Nampaknya solusi untuk virus corona (covid-19) ini belum dapat ditemukan dalam waktu dekat. Vaksin dan obat membutuhkan waktu untuk dibuat. Memangnya sulap? Salah kita – warga seluruh dunia – sendiri kenapa tidak mengucurkan dana yang banyak untuk penelitian. Sudahlah kita hentikan saling menyalahkan. Faktanya demikian. Artinya apa? Artinya kita harus dapat hidup berdampingan dengan virus corona ini.

Tentu saja kehidupan tidak akan sama seperti dahulu. Kita tidak bisa serta merta kembali dengan kelakuan seperti dahulu. Ini sangat berbahaya. Kita ingin kembali seperti dahulu tetapi tidak boleh dengan cara yang ngawur atau sembrono. Itu akan membahayakan kita semua. Maka kita harus cari cara yang aman tetapi kehidupan dapat berlangsung (hampir) seperti semula.

Ada yang mengatakan bahwa hal yang utama adalah testing. Pengujian. Apakah seseorang itu aman untuk keluar rumah dan bekerja. Aman di sini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi aman juga bagi orang lain. Bagian yang terakhir itu yang penting. Itulah sebabnya saya tulis dengan huruf tebal. Banyak orang yang merasa sehat dan kemudian tidak peduli dengan kesehatan orang lain. Ini salah.

Masalah pengujian (testing) adalah alat & caranya masih belum baik, dalam artian alas tes masih mahal dan hasilnya membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya di Indonesia jumlah yang dites masih sedikit. (Pada saat tulisan ini ditulis baru ada sekitar 49767 yang sudah dites. Dari 250 juta orang warga Indonesia, baru 50 ribu. Di Amerika juga sedang ribut warga tidak ingin lockdown dan ingin kembali bekerja, tetapi tidak ada alat test-nya juga. Alat test tersebut masih dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit. Masih kekurangan.

Singkatnya, dibutuhkan sebuah cara untuk menguji yang murah dan cepat. Ayo para inventor. Ini sebuah tantangan.

Karena hal di atas belum ada solusi, maka dicari cara terdekat. Asosiasi. Bahwa kalau orang sedang bermasalah dengan covid-19, suhu tubuhnya meningkat. Tentu saja ini pendekatan kasar, tetapi dapat dilakukan untuk skala masif dan cepat. Itulah yang sekarang dilakukan di tempat-tempat umum. Maka mungkin di kemudian hari, salah satu prosedur sehari-hari kita adalah; pagi hari cek temperatur tubuh (sebelum pergi kerja), pulang dari tempat kerja (sampai rumah?) cek kembali. Catat ini. (Perlu diingat yang penting sebetulnya bukan angkanya tetapi perubahannya. Ini pendapat beberapa rekan peneliti.) Semua ini harus diotomatisasi. Kalau tidak, maka kita akan repot dan kita tidak akan melakukannya. Di belakang layar ada aplikasi (berbasis artificial intelligence dan big data) yang melakukan pemantauan. Berarti harus ada alat seperti ini. (Saya sudah kepikiran idenya dan bahkan sesungguhnya sudah mulai mengembangkan ini sebelum kejadian virus corona ini. Sekarnag terpaksa terhenti karena semua bekerja di rumah dan pendanaan juga berhenti.)

Hal lain yang kita harus berubah adalah cara pandang kita terhadap kesehatan. Jangan lagi meludah sembarangan. Kalau ada yang meludah sembarangan, perlu kita tegur. Jangan buang sampah sembarangan. Cuci tangan secara berkala. (Agak terpisah, saya sering melihat orang keluar dari wc umum tanpa cuci tangan! Kesel ngelihatnya.) Jaga kebersihan. Tingkatkan kebersihan dan kesehatan. Ini tidak mudah memang karena yang namanya kebiasaan itu tidak mudah untuk diubah, tetapi kalau kita tidak berubah ya kita akan tetap seperti ini; terkurung di rumah.

Apa yang saya ceritakan di atas baru satu hal saja. Satu upaya untuk kita dapat hidup di tengah-tengah virus corona ini. Perlu diingat, bahwa di sekitar kita ini ada banyak bakteri dan virus. Lihatlah kasus demam berdarah dan TBC yang masih ada di Indonesia. Kita sudah “dapat” hidup di tengah-tengah mereka. (Dari segi angka, mereka mengerikan, tetapi kita sudah tahu cara melawannya. Kita aja yang tetap sembrono. Covid-19 ini berbeda karena kita belum tahu saja.) Ini juga akan kita lawan. Sekarang kita belum menemukan cara melawannya.

Manusia adalah spesies yang tangguh. Man against nature. We will prevail! Kita akan muncul sebagai pemenang. Harus. Semangaaattt!!!

Aplikasi (Contact) Tracing vs. Privasi

Belakangan ini mungkin Anda sudah mendengar bahwa perusahaan Apple dan Google bekerjasama untuk meluncurkan sebuah aplikasi yang melakukan tracking (pemantauan) keberadaan orang dan kaitannya dengan risiko terpapar virus corona (penyakit covid-19). Di Indonesia juga ternyata ada beberapa instansi akan (sudah?) meluncurkan aplikasi sejenis. Katanya aplikasi ini memantau keberadaan kita dan orang-orang di sekitar kita.

Ada banyak permasalahan dengan aplikasi sejenis ini. Masalah tersebut terkait dengan keamanan (security), termasuk masalah privasi. Kita mulai satu persatu dahulu.

Pertama, adanya ketidakjelasan cara aplikasi tersebut bekerja. Ada sih memang penjelasan umumnya, tetapi penjelasan umum tidak cukup. Misalnya, data apa saja yang dibaca oleh aplikasi? Diapakan saja data tersebut? (Dikirimkan kemana kah? Diproses apa kah?) Misal, apakah data kontak kita juga dibaca? Bagaimana dengan orang-orang yang berada di dalam kontak kita tetapi tidak ingin diketahui oleh orang lain nomor teleponnya (credentials-nya)? (Ada banyak orang yang seperti ini. Saya tidak bersedia membocorkan nomor telepon kawan-kawan saya kepada siapapun.) Apakah data orang-orang tersebut dibaca secara plain ataukah di-obfuscate atau diubah? Dengan cara apa? Apakah data tersebut digunakan? Dikirim? Diproses? Atau apa?

Kemudian ketika Anda berdekatan dengan seseorang, data apa saja yang dipertukarkan? Ada yang menggunakan Bluetooth dan saling bertukar data. Ketika kita mendapatkan data dari Bluetooth, bagaimana kita memastikan bahwa kita tidak kesusupan malware, trojan horse, virus, dll. Ada satu panduan yang umum digunakan, yaitu ketika tidak dibutuhkan, matikan Bluetooth. Jangan membiarkan Bluetooth hidup terus menerus. Ada banyak program penyerang Bluetooth. Belum lagi kalau kita bicarakan batre yang kesedot karena Bluetooth (atau networking lain) yang hidup terus.

Semua data ini kemudian diolah oleh “siapa”? Lokal di handphone kita? Menghabiskan batrekah? Atau dikirim ke tempat lain? Apa hak-nya “siapa” (instansi) yang mengelola data kita tersebut? Kalau data kita bocor, apakah “siapa” ini dapat kita tuntut ke pengadilan?

Bayangkan ini seperti aplikasi google maps / waze yang melakukan tracking kemana saja Anda pergi, ketemu siapa saja, atau dekat dengan siapa saja. Kemudian dia bakalan tahu juga kontaknya kontak Anda.

Cara-cara (protokol, mekanisme) yang digunakan harus terdokumentasi dan terbuka untuk publik. Jika ini dirahasiakan, maka itu sebuah tanda bahwa sistem ini tidak aman. Kita ambil contoh di dunia kriptografi. Sebuah algoritma kriptografi dinyatakan aman apabila algoritma tersebut dibuka ke publik. Keamanannya bukan terletak kepada kerahasiaan algoritmanya, tetapi kepada kerahasiaan kuncinya.

Setelah desain dari aplikasi tersebut kita nyatakan aman – atau setidaknya belum ditemukan masalah – maka kita beranjak kepada implementasinya. Bagaimana ide tersebut diimplementasikan. Banyak aplikasi / sistem yang idenya bagus tetapi implementasinya buruk. Jebol di sana-sini. Yang ini harus dibuktikan melalui evaluasi atau audit.

Setelah itu ada juga masalah di operasionalnya. Apakah orang mudah menggunakannya atau cenderung mengabaikan keamanannya. Misalnya ada sebuah sistem yang didesain teramat sulit ditembus, tetapi gemboknya (password-nya) misalnya 40 karakter. Karena sulit dihafal, maka password tersebut dituliskan di layar (menggunakan post-it-note). Hal yang sama, kadang karena sulit dihafal makas sandi tersebut kita simpan di handphone. Bubar jalan.

Masih ada hal-hal lain yang bisa kita bahas. Pada intinya, selama aplikasi tersebut tidak terdokumentasi dengan terbuka dan belum dievaluasi maka jangan gunakan aplikasi tersebut. Tujuan yang baik dapat berdampak buruk jika implementasinya ngawur.

Oh ya, versi video dari penjelasan ini dapat dilihat pada channel YouTube saya.

Semoga penjelasan ini dapat memberikan cara pandang lain.

Bacaan terkait.

Virus Corona: Efeknya terhadap bisnis dan minuman teh sebagai penangkalnya

Sebetulnya topik ini adalah topik sampingan dari kumpul-kumpulnya kami di rumah saya. Kebetulan ini ada beberapa kawan yang berkumpul untuk mendiskusikan soal kopi, atau lebih tepatnya alat roasting kopi. Sambil menunggu yang lainnya (belum datang), maka kami ngobrol tentang topik yang sedang naik daun; virus Corona.

Diskusi ini saya rekam dan sudah saya unggah ke YouTube. Silahkan simak videonya di sini.

Ceritanya dalam bentuk tulisan akan saya sampaikan di sini. Singkatnya begini, kita boleh waspada terhadap virus Corona ini tetapi jangan panikan. Sikap kita kepada China (Tiongkok) juga harus dipikirkan dengan baik-baik. Perhatikan aspek humanity.

Kemudian kami minum white tea, yang menurut mas Pudjo dapat menguatkan badan sehingga membantu menangkal virus. Enak banget teh-nya. Yang mau pesan, bakalan susah karena saya sendiri sudah pesan dari tahun lalu belum dapat juga. ha ha ha.

Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Industri 4.0

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang “industry 4.0”. Apa itu? Mengapa dia muncul? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah opini saya.

Pertama harus dipahami dahulu bahwa ada perbedaan antara “revolusi industri ke-4” (fourth industrial revolution) dan “industri 4.0”. Revolusi industri mencakup berbagai aspek (domain) kehidupan, sementara industri 4.0 hanya spesifik ke dalam industri-nya sendiri. Revolusi industri ke-4 menunjukkan integrasi antara dunia nyata dan dunia siber. Internet of Things (IoT) dengan berbagai sensornya merupakan contoh integrasi kedua dunia tersebut. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat dipahami. Nanti akan saya uraikan lebih dalam lagi jika dibutuhkan.

Menurut opini saya, istilah “industri 4.0” ini sebetulnya muncul dari kekalahan Jerman dalam bidang industri oleh Tiongkok (China). Perlu diingat bahwa jaman dahulu produk-produk buatan Tiongkok memiliki kualitas yang buruk, sementara produk buatan Jerman memiliki kualitas yang sangat baik. Namun sekarang, Tiongkok mampu memproduksi produk dengan tingkat kualitas yang super baik. Maka istilah “industry 4.0” dikoinkan oleh Jerman untuk menunjukkan hal lain dari hanya sekedar membuat produk yang baik saja.

Apakah sebuah instansi (perusahaan, industri) telah mengadopsi industri 4.0? Seberapa jauh tingkat adopsinya? (Ini akan saya perbaharui pada tulisan selanjutnya.)