Perjalanan ke Sumatera Barat

Ada beberapa pertanyaan, “pak, kenapa belum update blog lagi?”. Jawabannya adalah karena saya sedang di perjalanan. Kali ini saya sedang di Sumatera Barat. Hari Minggu kemarin saya tiba di Padang dan langsung ke Bukittinggi. Leha-leha sebentar. (Foto-foto dulu.)

DSC_6172 jalan 0001

Kemudian saya kembali ke Padang untuk mengisi acara Seminar Nasional dengan topik “Fintech Security” di acara Lustrum 1 FTI, Universitas Andalas.

fintech security

Itulah sebabnya saya belum sempat ngeblog. Tulisan ini juga saya buat di kamar hotel.

Tempat Mandi (di jalan)

Salah satu kesulitan saya adalah ketika ada rapat (meeting) di Jakarta yang dimulai pagi hari. Kesulitan saya adalah kalau saya berangkat pagi hari, maka hari saya harus dimulai pukul 3 pagi. Nah, apakah saya mandi dulu baru berangkat ke Jakarta? Soalnya kalau tidak mandi dulu, sampai rapat nanti lusuh luar biasa. Alternatif lain adalah berangkat malam hari dan menginap di Jakarta. Pagi bisa mandi dahulu sebelum ke rapat.

Ada alternatif lain, yaitu mandi di jalan. Maksudnya bukan mandi di jalan raya lho. he he he. Maksudnya adalah mandi di tempat umum yang menyediakan layanan itu. Dahulu saya pernah menemukan hal ini di rest area, tetapi mandinya air dingin. brrrr … masih pagi dingin juga.

Kemarin baru tahu bahwa ada tempat shower berbayar di stasiun kereta api Gambir. (Sebetulnya ada juga hotel transit di situ. Baru tahu juga!) Biaya untuk shower adalah Rp. 65.000,-. Menurut saya ini harganya masuk akal.

Fasilitasnya seperti foto di atas. Lumayan bersih. Di shower ada sabun dan shampoo. Handuk juga disediakan. Tempatnya juga leluasa untuk berganti pakaian.

Adanya layanan ini merupakan solusi bagi masalah saya. Lain kali ada rapat di daerah itu, saya bisa ke Gambir dulu untuk mandi dan terus ke tempat rapat. Semoga layanan ini bisa tetap berlangsung, mengingat kemarin mungkin hanya saya sendiri yang menggunakan layanan ini.

Sydney

Pesawat mendarat di Sydney pagi hari. Smooth. Pilotnya jagoan euy. Garuda gitu lho. Airport Sydney okay. Tidak terlalu besar. Langsung menuju ke imigrasi dan berjalan sangat lancar. Mungkin karena masih pagi sehingga masih sepi dan orang-orangnya masih semangat. Positif.

Langkah pertama tentunya adalah mencari kartu telepon lokal. Ada dua booth, Vodafone dan Optus. Saya ambil ngasal saja, Vodafone. Saya pilih yang $30 dengan paket data 5 GB. Cukuplah untuk seminggu di Australia. Eh, ternyata dia juga bisa digunakan menelepon ke internasional gratis selama beberapa (banyak) menit. Mahal dibandingkan dengan telepon di Indonesia, tapi daripada menggunakan operator Indonesia di sini. Bisa bangkrut.

Langkah kedua adalah tukar uang. Kurs di airport ini tidak terlalu bagus. Seharusnya saya menukarkan uang di Bali kemarin. Di Bali bisa dapat Rp. 10.000,-. Di sini Rp. 11.400,-. Apa boleh buat. Tukar juga tidak banyak kok. Supaya cukup untuk naik bis dan sejenisnya.

Nah, sekarang bagaimana ke hotel. Hotel saya berada di dekat Central Railway Station. Dipilih di daerah itu karena besoknya harus naik bis ke Canberra yang lokasinya dekat di sana. Ada transport (semacam shuttle) dari airport ke hotel di daerah sana, AUS $22. Kalau taksi pasti mahal lah. Akhirnya saya pilih naik kereta saja (mirip dengan MRT di Singapura). Harus beli kartu dulu. Namanya Opal. Mau diisi berapa ya kartunya? Dari airport ke Central Station itu sekitar $16. Saya disarankan beli yang $30 karena bisa dipakai kemana-mana. Saya pikir bagus juga untuk menjelajah kota. Itu yang saya pilih. (Hadoh keluar uang lagi.)

Naik kereta menuju Central Station. Lumayan juga keretanya. (foto menyusul.) Sampai di Central Station saya langsung jalan menuju hotel. Eh, ternyata jauuuh juga. Sambil dorong atau tarik koper ini lho. Lupa berapa menit. 20 menit mungkin? Pokoknya sampai lah ke hotel yang lebih mirip motel. Eh, ternyata saya belum bisa check in juga. Kepagian. Ya sudah. Saya tinggal koper di sana dan saya jalan-jalan dulu.

Akhirnya saya jalan lagi ke Central Station. (Di kota ini saya akhirnya banyak jalan.) Kemana? Hmm … cari yang ke arah Opera House saja. Tujuannya adalah Circle Quay. Okay. Desain / denah dari stasiun keretanya membingungkan. Lebih jelas MRT di Singapura. (Atau karena sudah sering saja?) Naik kereta menuju Circle Quay.

Sampai di sana. Masih pagi dan mendung. Hadoh. Jalan dulu ah ke Opera House. Potret-potret dulu. Bosen. Akhirnya saya memilih duduk di cafe shop. Ngopi dulu. Kopi di Australia ini enak banget. Koreksi! Kopinya sebetulnya biasa saja, tetapi susunya yang luar biasa. Mantap. Saya pesan flat white. Di Australia ini saya selalu pesan flat white. Saya pernah coba kopi hitamnya, enakan di Bandung. hi hi hi.

p_20160914_103411-coffee-sydney-0001
Kopi dengan latar belakang Opera House, Sydney

Akhirnya saya habiskan waktu di Sydney untuk jalan-jalan. Siang saya kembali menuju hotel untuk check in. Di tengah perjalanan saya beli kebab dulu. (Halal!) Harganya lumayan mahal, $9.50. Kalau di Indonesiakan mungkin Rp. 100 ribu. Hadoh. Jangan dipikir Indonesianya. Ternyata ukurannya raksasa. Bisa dipakai dua kali makan. ha ha ha. Sampai di hotel, sudah bisa masuk ke kamar. Eh, ternyata kamar saya di lantai 3 dan tidak ada lift! Hadoh. Ngangkut koper deh.

Sampai di kamar, ternyata kamarnya sangat bersih! Yaaayyy. Penampilan dari luar memang tidak meyakinkan tapi tempat ini nyaman banget. Ukurannya juga besar. Makan kebab dulu sambil nonton tv. Setelah itu mau istirahat. Sore mau jalan lagi.

Yang aneh. Di Australia ini hotel itu (dan hotel yang sekarang saya tinggali di Canberra) tidak menyediakan sikat gigi. Hmmm… Untung saya bawa sikat gigi dan odol sendiri. Jadi tidak masalah. Kalau tidak bawa, repot juga.

Cerita lainnya (dan foto-foto) menyusul. Tulisan ini dibuat sambil keluar dari acara seminar. hi hi hi. Harus memaksakan diri untuk ngeblog memang.

Perjalanan …

Ini adalah cerita singkat perjalanan yang sedang saya lakukan menuju Australia. Perjalanan masih berlangsung. Ini saya tuliskan supaya tidak lupa saja (dan sudah malas menulisnya).

Malam sebelum keberangkatan siap-siap untuk melakukan web checkin. Eh, tidak bisa. Setelah bolak-bolak mencari informasi dan kontak Garuda, akhirnya saya tetap harus menunggu kabar dari travel agent. Kodenya ada di travel agent dan ternyata yang tiket yang terkirim ke saya adalah tiket yang lama. Pagi-pagi checkin, lancar. Alhamdulillah.

Pesawat terbang dari Bandung menuju Denpasar untuk transit dahulu sebelum diteruskan ke Sydney. Eh, ternyata pesawat tidak dapat mendarat di Denpasar karena cuaca yang buruk. Setelah menunggu (dan muter-muter di atas) selama 20 menit, akhirnya pesawat menuju Surabaya untuk diisi bahan bakarnya dulu. Mendarat. Isi bahan bakar. Berangkat lagi. Lancar. Alhamdulillah.

Semoga seterusnya lancar …

Tentang Kota Bandung

Sebetulnya saya ingin membuat tulisan yang lebih terstruktur tentang kota Bandung dilihat dari kacamata kreativitas. Pas hari Senin lalu sempat diskusi soal ini dengan mahasiswa yang sedang mengambil topik ini sebagai disertasi. Hari ini juga ada tulisan di web tentang orang yang tidak setuju Bandung sebagai kota kreatif. Kembali ke soal tulisan. Kalau mau buat tulisan yang bagus kayaknya lama dan bakalan terlupakan. Kalau begitu buat tulisan seadanya saja ya. he he he.

Bagi saya Bandung adalah kota yang kreatif. Eh, tapi kita harus sepakati dulu definisi dari “kreatif” dan “kota kreatif”. Saya sendiri belum punya definisinya. Jadi apa yang saya tulis ini boleh jadi ngawur.

Saya besar di Bandung. Sejak sebelum sekolah TK sekalipun. Wah, itu tahun berapa ya? Akhir 60-an mendekati 1970. (Now you know how old I am. Ouch.) Besar di Bandung saya melihat adanya jaman celana cut bray. Itu lho, “bell bottom”. Jalan Braga waktu itu adalah tempat yang keren. Bahkan sering lihat “Braga Stone“, seorang pemain kecapi yang sering memainkan lagu-lagu barat; Rolling Stones. Ada juga jalan Dago tempat mobil balapan dan zig-zag. (Kebetulan rumah kami dulu di Dago situ. Jadi tinggal nongkrong di depan rumah saja. he he he.) Bandung juga mengalami kampus (ITB) diduduki tentara. Depan rumah saya (dan SMA) nongkrong panser. Pokoknya “warna warni” dalam artian tidak membosankan.

Sekarang bagaimana? Sedikit banyak, Bandung masih menjadi tempat berkumpulnya orang-orang “kreatif” (baca: aneh? gila? he he he).

Soal musik. Ada banyak artis musik dari kota Bandung. (Meskipun sekarang surut ya?) Dahulu ada Harry Roesli yang nyleneh. Eh, kalau sekarang siapa? Burger Kill? Metal juga di Bandung – eh, Ujung Berung ding. Deketlah dengan Bandung. (Boleh juga didaftar musikus dari Bandung yang masih aktif ya.) Saya sudah lama tidak ke Auditorium RRI. Katanya sebetulnya kualitasnya sama seperti di Abbey Road (?). Seriously? Perlu dicoba nih mangung di sana. Kelompok penggemar musik Koes Plus di Bandung ada dan rajin kumpul-kumpul. Demikian pula keroncong. (Bahkan malam ini saya dapat undangan untuk kumpul-kumpul komunitas Dangdut. Seriously!)

Arts. Pernah ke tempatnya Nyoman Nuarte? Atau Selasar Sunaryo Art Space? Yang di kampus ITB juga ada, Galeri Soemardja. Atau yang lebih belum/tidak terkenal lagi? (Eh, tempatnya Aan itu namanya apa ya?) Itu soal tempatnya. Orang-orangnya juga banyak. Di ITB ada FSRD yang banyak menghasilkan seniman. (Kalau desainer, komikus, dll. itu masuk kategori seniman bukan ya?) Saya juga sering ketemu dengan seniman.

Teater. Nah, yang ini saya sudah lost contact. Sudah tidak mengikuti. Eh, Rumentang Siang masih ada acara? Yang saya tahu sih ada kawan yang rajin membina teater anak-anak muda. (Hallo, pak Bambang – Roemah Creative.) Dulu sih (SMA?) masih tertarik teater-teater-an lah. [Update: Tadi, sekitar 2 atau 3 jam yang lalu saya diskusi tentang kegiatan teater di seputaran Bandung. Ternyata masih ada. Ada pertemuan mingguan. Kalau pagelaran memang butuh waktu untuk menjadikannya. Lagi-lagi ada banyak kreativitas di sini yang tidak terlihat.]

Tradisional arts. Di dekat rumah saya, kelihatannya calung mau dihidupkan lagi. Tapi saya lihat masih kembang kempis nih. Hanya untuk 17-Agustusan saja. Mereka kayaknya belum banyak ditanggap di acara-acara. Kalau Angklung sih dekat sini. Jaipongan juga sudah jarang terdengar ya? di-banned kali ya. hi hi hi.

Software & Hardware. Ini juga bisa masuk ke kategori kreatif. Wah ini ada banyak. Ada banyak software & hardware house. Yang membuat handphone saja ada. Tempat kumpul anak-anak kecil untuk coding juga ada. (Lihat blog procodecg.) Secara rutin, seminggu sekali, kami juga kumpul-kumpul dalam acara CodeMeetUp(). Iya seminggu sekali. Edan gak? Di tempat lain paling-paling sebulan sekali. Itu pun gak gak banyak. Di Bandung ada!

Kuliner. Ha ha ha. Jangan tanya lah. Soal NAMA makanan saja di Bandung setiap minggu kayaknya ada yang baru. Belum soal resepnya. Kreatif-kreatif. Atau kadang aneh, menurut saya. Mosok ada mie+telor+keju+dll. Dan itu POPULER! Edan gak? Entah sekarang apa yang sedang ngetop. (Silahkan didaftar / dibuatkan list apa-apa yang menurut Anda sedang ngetrend di Bandung.) Yang selalu ngetop ya kopi Aroma, (berbagai tempat makan mie yang bisa bikin orang berantem saling mengatakan enak), cilok, batagor. Yang sempat ngetop; mak Icih (dan keripik2 lain), rainbow cake, brownies, keripik2, …

Fasihon. Bandung identik dengan “factory outlet”. Selalu ada desain yang baru dari kota Bandung. Baik yang bersifat “butik” ataupun “grosiran”. he he he. Bandung adalah Milan-nya daerah sini.

Oh ya, saya menjadi mentor dari beberapa calon entrepreneur yang bidangnya adalah kuliner dan fashion. Jadi saya tahu mereka kreatif! (Ini tadi pulang juga nenteng contoh makanan dari mahasiswa yang baru buka tempat makan. Makan siang tadi juga “sego njamoer”. Sementara saya sedang kerajingan “cold brew” coffee.) Kuliner dan fashion yang bikin Bandung menjadi tujuan wisata (dan menjadikan macetnya kota Bandung – ugh).

Tempat kumpul-kumpul orang Bandung yang aneh-aneh juga bermacam-macam. Ada BCCF (Bandung Creative City Forum), ada Common Room, dan masih banyak lagi. Sekarang sedang menjamu co-working places juga.

(Saya ingin menambahkan ITB. Eh, tapi apa hubungannya ITB dengan kreativitas? Ada banyak, tapi itu tulisan lain kali saja.)

Soal kotanya. Nah memang ada semacam hilang jati diri kota Bandung. Kalau dahulu, ada taste. Dulu pernah disebut Parisnya Java juga bukan karena ngasal. Tapi perlu diakui Bandung kemudian menjadi semrawut. Nah, sekarang sudah menuju ke “jalan yang benar”. Perlu waktu tentunya. Tapi coba saja sekarang datang ke Bandung. Asyik. Eh, jangan ding. Bikin macet kota Bandung saja.

[update]: Museum. Ini daftarnya. Yang paling sering dikunjungi oleh siswa-siswa dari luar kota sih yang museum Geologi.

Ada “pengamat” yang mengukur kreativitas sebuah kota dengan adanya arts building, theater, dan seterusnya. Kalau ukurannya *gedung* – physical building – dan infrastruktur fisik lainnya, boleh jadi memang Bandung kalah dengan kota-kota lain. Kalau ukurannya adalah orang dan aktivitasnya, Bandung tidak kalah. Kalau kata orang Sunda: loba nu garelo. he he he. Mungkin pengamat itu harus keluyuran di kota Bandung dulu. Jangan hanya tinggal di hotel saja. Punten ah.

Jadi, menurut saya Bandung masih dapat disebut kota kreatif.

[Di akhir tulisan biasanya ada tentang latar belakang sang penulis. Jadi saya tuliskan lagi ya latar belakang saya. Saya dibesarkan di Bandung dari sejak tahun … hmm berapa ya? 1965 atau 1966 begitu. Terus saya “kabur” sebentar (11 tahun) ke Kanada dan kembali ke Bandung. Kenapa ke Bandung? Just because I love Bandung so much.]

 

(Hampir) Seminggu Tidak Ngeblog

Sebagai seorang Indonesia, pertama-tama, saya mohon maaf karena hampir seminggu ini saya tidak ngeblog. (Orang Indonesia biasanya memulai sesuatu dengan minta maaf. hi hi hi.) Hampir seminggu ini saya berada di luar negeri mengikuti konferensi security di Manila, Filipina.

Sebetulnya acara di Manila hanya dua hari, tetapi perjalanan menuju dan kembali dari sananya lebih lama. Masalahnya, saya tinggal di Bandung dan menuju Manila dari Bandung itu ternyata tidak mudah. Skedul sambung menyambung pesawat itu membutuhkan waktu. Perjalanan dimulai hari Senin dari Bandung menuju Singapura. Berangkat siang hari dari Bandung dengan menggunakan Air Asia. Menginap dulu di Singapura karena pesawat Singapura – Manila (menggunakan Jetstar) berangkat pukul 6:30 pagi. Keesokan harinya, Selasa pagi, saya berangkat ke Manila. Perjalanan Singapura – Manila membutuhkwan waktu 3 jam.

Konferensi security┬ádi Manila berlangsung dua hari, yaitu hari Rabu dan Kamis. Saya akan ceritakan isinya di tulisan yang lain ya. Setelah selesai acara, Jum’atnya saya terbang lagi dari Manila ke Singapura. Seharusnya saya menggunakan connecting flight menuju Bandung, tetapi bandara Bandung masih ditutup karena terkait dengan acara Konferensi Asia Afrika (KAA). Akibatnya pesawat saya dibatalkal. Saya menginap lagi di Singapura. Baru besok paginya, Sabtu, terbang lagi dari Singapura ke Bandung. Phew. Hampir seminggu di luar negeri. Total perjalanan empat (4) hari, sementara acaranya sendiri hanya dua (2) hari. Nah tuh.

IMG_8044 flight schedule

Selama di perjalan waktunya mepet untuk ngeblog. Demikian pula pas di acaranya, saya menjadi chairman (yang pada intinya adalah moderator, time keeping, dan yang memastikan acara berjalan). Saya harus fokus kepada presentasi semua peserta. Tidak ada waktu untuk ngeblog. (Tulisan ini pun baru bisa saya buat setelah melewati tengah malam.)