Nyobain Bebek Kaleyo

Kemarin saya diundang untuk mencoba makan bebak di rumah makan Bebek Kaleyo yang baru buka di Bandung. Saya sendiri bukan penggemar bebek. Beberapa kali nyoba makan bebek kok rasanya kurang pas. hi hi hi. Maka kali ini pun saya agak was-was. Tapi, dasar hobby makan … dijabanin juga.

Lokasi restoran Bebek Kaleyo yang di Bandung itu di jalan Pasir Kaliki, tepat di perempatan dengan jalan Pasteur. Dekat dengan flyover itu. Tempatnya ternyata bagus juga. Tempat parkirnya luas sekali. Tempatnya juga luas.

IMG_7460 bebek kaleyo parkir

Akhirnya saya pesan bebek keremes dengan nasi uduk. Kelihatannya menarik dan memang rasanya … ENAK! Saya bakalan kembali ke tempat ini lagi.

IMG_7459 bebek kaleyo

Oh ya, selain menu bebek masih ada menu-menu lainnya lagi. Saya nyoba dim sum-nya. Enak juga. Halah. Kayaknya makanan itu memang hanya dua; enak dan enak sekali.


Starting-Up: Ideation

BR starting-up

Sesi mentoring untuk mahasiswa (SBM ITB) dimulai lagi. Semester ini saya mendapatkan beberapa mahasiswa baru yang akan memulai perjalanan mereka dalam mengembangkan start “start up”. Tentu saja masih ada mahasiswa mentoring lama saya yang sudah pada fasa berikutnya. Kita ke mahasiswa yang baru memulai dulu.

Langkah awal dalam memulai sebuah usaha – start-up – adalah ide usaha. Ini langkah penting karena menentukan jadi atau tidaknya usaha mereka tersebut. Bagi saya, mereka harus dapat menjawab pertanyaan ini.

1. Masalah apa yang akan dipecahkan oleh start-up Anda?

Sebuah start-up biasanya menjawab sebuah masalah. Tanpa itu, saya tidak tertarik untuk membimbing start-up Anda (karena biasanya tidak berhasil). More on this later on.

Ada banyak usaha yang tidak menjawab pertanyaan di atas, tetapi hanya sekedar ikut-ikutan. Misalnya, Anda membuka sebuah usaha web desain (atau fashion, kuliner, atau apa saja) karena lihat orang lain membuat usaha sejenis dan terlihat berhasil. Yang seperti ini, biasanya cepat gagal.

Kembali ke pertanyaan di atas, apa masalah yang Anda hadapi? Misal, Anda mengembangkan sistem untuk membuat obat-obatan untuk penyakit demam berdarah karena penyakit itu masih sering menjadi masalah di Indonesia. Atau Anda membuat alat untuk memperpanjang usia batre handphone. Nah … itu saya juga nyari. hi hi hi.

Oh ya, saya bohong. Ada juga usaha yang dimulai dengan “solution looking for problem(s)“. Contoh dari ini adalah twitter. Sebetulnya problem yang ingin diselesaikan oleh twitter itu apa ya? Rasanya kok tidak jelas, tetapi twitter itu termasuk start up yang sukses juga. Jadi, mungkin bisa saja ada memulai usaha dengan “saya bisa (dan suka) membuat web dan melakukan pemrograman”, kemudian dilanjutkan dengan “masalah apa yang dapat diselesaikan dengan perusahaan yang saya buat?”.

Pertanyaan kedua

2. Apakah itu masalah Anda?

Yang ini sebetulnya opini saya pribadi. Jika itu masalah Anda, maka Anda akan tekun mencari solusi terhadap masalah tersebut. Ada punya passion terhadap masalah itu. Jika itu bukan masalah Anda, maka saya masih bertanya-tanya. Contohnya begini, Anda ingin memecahkan masalah transportasi di kota Jakarta (ini masalah) tetapi Anda sendiri tinggal di Bandung dan jarang pergi ke Jakarta. Saya tidak yakin Anda akan serius dalam memecahkan masalah tersebut.  Lagi pula, masih ada banyak masalah lain yang sangat personal bagi Anda dan memang harus Anda pecahkan.

Ada pepatah yang mengatakan, “necessity is the mother of invention“. Begitu.

Pertanyaan berikutnya,

3. Apa yang sudah dilakukan orang lain untuk memecahkan masalah tersebut?

Boleh jadi (dan biasanya memang) sudah ada orang-orang terdahulu yang berupaya memecahkan masalah tersebut. Jika mereka sudah memecahkan masalah tersebut, ya untuk apa kita membuat solusi yang sama? Kita tinggal menggunakan solusi mereka saja, bukan? Selesai.

Kalau mereka belum berhasil menyelasikan masalah tersebut, ini mungkin menjadi kesempatan (opportunity) untuk Anda. Boleh jadi dahulu teknologi belum tersedia sehingga sekarang mungkin ide tersebut bisa terlaksana. Sebagai contoh, mengirim lagu lewat internet dahulu tidak memungkinkan karena kecepatan internet masih super lambat. Sekarang, teknologi sudah tersedia untuk melakukannya sehinga layanan untuk mengirim lagu dapat dilakukan. (Lagu dapat digantikan dengan data medis, misalnya untuk keperluan e-health.)

Namun ada kemungkinan juga Anda masih gagal karena memang teknologi masih belum tersedia, hukum boleh memperbolehkan, orang yang sanggup melakukannya belum ada, dan seterusnya.

Pertanyaan selanjutnya…

4. Apakah Anda jagoan di bidang (start up) itu?

Jika tidak, lupakan saja ide Anda. Orang lain akan memecahkan masalah tersebut dengan lebih baik, sehingga start up mereka (jika mereka membuatnya) akan memiliki potensi kesuksesan yang lebih besar daripada Anda. Anda harus menjadi yang terbaik di bidang Anda. Harus!

Ini adalah sesi pertama saya. Pembahasan di sini mungkin masih terlalu singkat, tetapi mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada para pembaca.


Menuju Bandung Smart(er) City

Hari Minggu lalu saya mengikuti pertemuan antara Dewan Smartcity Kota Bandung dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung. Pertemuan ini pada intinya adalah melakukan kordinasi program-program yang sudah ada di SKPD, yang terkait dengan teknologi informasi.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memberi arahan bahwa Bandung ini memiliki banyak layanan publik. Pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan SKPD untuk memberikan layanan dengan lebih baik dan lebih cepat. Setiap SKPD diminta untuk mendata layanan-layanan apa saja yang mereka berikan dan berapa yang sudah dapat diakses secara online. Jika belum maka aplikasi-aplikasi apa saja yang akan dikembangan. Tahun ini, tahun 2015, adalah tahun untuk merealisasikan sebagian dari aplikasi tersebut.

Rapat kali ini membahas prioritas dari aplikasi yang akan dikembangkan di tahun 2015 oleh para SKPD tersebut. Tidak semua aplikasi harus dikembangkan saat ini juga, tetapi roadmapnya sudah harus jelas. Selain itu ada juga hal-hal yang mendasar bagi kebutuhan semua SKPD seperti misalnya infrastruktur internet.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah aplikasi-aplikasi ini seharusnya dapat digunakan oleh kota / kabupaten lainnya. Jika ada kota / kabupaten lain yang sudah mengembangkan aplikasi tertentu, maka kita dapat menggunakan aplikasi tersebut. Tidak perlu setiap kota / kabupaten mengembangkan sendiri-sendiri. Untuk itu mungkin perlu ada sebuah app store untuk aplikasi e-government kota / kabupaten. Hmmm.

Begitu laporan dari saya. Laporan selesai. Bubar jalan … grak!


Bagaimana Mempopulerkan Situs (How to Generate Traffic to Your Site)

Untuk ketigakalinya dalam minggu ini saya mendapat pertanyaan atau keluhan dari beberapa instansi tentang tidak populernya situs (portal, web site, blog) mereka. Ada yang aksesnya dalam satu bulan ini adalah … nol. hi hi hi. Mereka kemudian berencana untuk mendesain ulang situs mereka. Padahal menurut saya bukan di situ masalahnya.

Ada juga orang-orang yang ingin mempromosikan layanan mereka dengan menumpang (ndompleng) situs-situs yang rame, termasuk blog ini. hi hi hi. (Lihat saja ada yang komentarnya OOT.) Topik SEO (Search Engine Optimization) merupakan sebuah hal yang dicari-cari orang. Bahkan ada bisnisnya tersendiri. Jadi masalah mempopulerkan situs atau menghasilkan traffic pengunjung itu merupakan “masalah” bersama.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa masalah utama dari ketidakpopuleran sebuah situs itu adalah informasi (data) yang tersedia tidak berubah untuk waktu yang terlalu lama. Ada situs pemerintahan yang terakhir diperbaharui tiga tahun yang lalu. Tentu saja tidak ada yang ingin mengunjungi situs itu kembali. Sekali mengunjungi – tahun lalu, misalnya – sudah cukup.

Salah satu cara untuk mempopulerkan situs adalah memperbaharui informasinya (content) secara berkala. Sering! Setiap hari kalau bisa. Itulah sebabnya situs-situs berita mendapatkan banyak traffic karena setiap hari orang hadir untuk mendapatkan berita terbaru. Ini juga saya terapkan di blog ini. Saya berusaha untuk menulis *setiap hari* (meskipun akhir-akhir ini banyak terjadi kegagalan). Jadi rumus saya adalah:

Kuantitas lebih penting daripada kualitas

Oleh sebab maka daripada itu … (hi hi hi), sering perbaharui situs Anda. Setelah sering diperbaharui, mulai kita tingkatkan kualitasnya.

Rumus kedua saya adalah

Tulisan yang baru (bukan copy and paste) lebih menarik

Maksudnya begini. Tulisan Anda yang “ngaco” jauh lebih menarik daripada menuliskan ulang (copy and paste) karangan orang lain, meskipun karangan orang lain itu super bagus. Percayalah. Cobalah. Kenapa demikian? Karena orang dapat membaca tulisan tersebut dari sumber aslinya. Lah kalau tulisannya adalah tulisan asli Anda, maka tentu saja kembalinya ke Anda. Tentu saja tulisan Anda ini tidak serta merta langsung disukai orang tetapi ini membutuhkan waktu, tetapi prinsipnya adalah buatlah yang orisinal.

Begitulah tips saya untuk mempopulerkan situs. Semoga bermanfaat.


Terlalu Banyak Bicara

Melihat kondisi akhir-akhir ini di media sosial – terkait dengan berbagai kasus politik – saya jadi agak sedih, kesal, geram. Galau, kata anak-anak sekarang. Pasalnya banyak orang yang berkomentar, seperti yang paling tahu. Kemudian ada banyak organisasi yang mendukung ini dan itu dengan penyataan-pernyataan yang menurut saya normatif. Maksudnya begitu, “mari kita dukung pemberantasan korupsi”. Lah tentu saja. Pernyataan seperti itu tidak perlu harus keluar dari berbagai orang / organisasi.

Apakah mereka itu

  1. Mencari muka? Agar muncul (eksis)?
  2. Takut kalau dikatakan tidak ikutan (ketinggalan kereta)?
    [tuh mereka sudah membuat pernyataan. kita harus juga buat pernyataan. seperti begitu?]
  3. … [apa lagi ya]

Masalahnya, membuat pernyataan-pernyataan itu tidak memberikan solusi. Yang dibutuhkan oleh masyarakat itu adalah solusi. Jalan keluar. Bukan pernyataan. Anak kecil juga bisa buat pernyataan. hi hi hi.

Bikin pernyataan-pernyataan itu hanya memperkeruh suasana dan … bising. Berisik! Eh, jangan-jangan blog ini juga jadi berisik. hi hi hi.


Menceritakan Sejarah

Salah satu alasan saya suka menonton History channel di TV adalah cara mereka menceritakan sejarah. Sangat menarik sekali. Sebagai contoh, seri Pawn Stars sangat menarik. Di acara itu diceritakan tentang sebuah toko gadai yang membeli dan menjual barang. Ceritanya lebih banyak tentang bagian membelinya. Yang membuatnya menjadi menarik adalah cerita dan pengetahuan di balik barang yang dijual. Bagaimana dia (mereka) mengetahui hal itu?

Di Indonesia, kita sering tidak menghargai sejarah. Kita bilang bahwa kita menghargai sejarah, tetapi pada kenyataannya tidak. Hayo, siapa yang senang kelas sejarah?

Masalahnya adalah bagaimana mengajarkan atau menceritakan sejarah. Umumnya ini dilakukan dengan cara yang sangat membosankan. Ceritanya hanya tentang data, tetapi tidak ada emosi di belakangnya. Padahal justru ceritanya itu yang membuat apa saja menjadi menarik.

Saya sendiri menyukai sejarah yang berhubungan dengan komputer. Ketika mengajar, saya sering bercerita hal-hal yang terjadi di belakang layar. Sangat menarik. (Misal, ketika membahas tentang “shellshock” atau “bash bug”, saya bercerita tentang sejarah bash – Bourne Again Shell. hi hi hi. Mengapa namanya seperti itu?)  Itu pula yang membuat topik yang dibahas menjadi lebih mudah diingat. Melekat selama-lamanya. Dan … tanpa penyiksaan harus mendengarkan cerita yang membosankan. hi hi hi.

Nampaknya kita harus lebih banyak belajar cara bercerita. Story telling.


Kuliah Semester Ini

Tanpa saya sadari, ternyata semester ini saya mengajar banyak kuliah. Biasanya saya hanya mengajar dua mata kuliah, tetapi kali ini ternyata menjadi empat. Hadoh.

  1. Keamanan Informasi (Introduction to Security) – untuk S1
  2. Keamanan Jaringan (Network Security) – S2
  3. Keamanan Perangkat Lunak (Software Security) – S2
  4. Secure Operation and Incident Handling – S2

Busyet dah. Nanti kita organisir dulu kelas dan jadwalnya. Sementara ini saya masih sibuk mempersiapkan materi kuliahnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.101 pengikut lainnya.