Semangat 2021

Selamat pagi. Selamat tahun baru 2021. Masih pada tertidurkah? Seperti biasa, tahun baruan acara saya adalah tidur. Jadi pagi-pagi sudah segar lagi. Ha ha ha.

Tahun 2021 saya berencana akan banyak menulis kembali. Membangkitkan tantangan lama. Saya menantang orang-orang untuk menulis setiap hari. Apa saja topiknya. Yang penting adalah setiap hari. Karena saya memberikan tantangan, maka saya juga harus melakukannya. Kan gak lucu kalau saya hanya bisa ngomong saja. Jadi ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2021. Semacam sambutan gitu. ha ha ha.

Semangat!

Kebiasaan Mencatat

Kemarin di sebuah acara diskusi daring (online) saya menantang peserta. Tantangan saya adalah apakah mereka sanggup membuat tulisan tentang apa saja setiap hari selama setahun. Jadi dalam satu tahun akan ada 365 tulisan. Bahkan saya menawarkan hadiah 500 ribu rupiah jika mereka dapat melakukannya. Kenapa saya berani memberikan tantangan ini? Ini disebabkan saya tahu bahwa orang Indonesia sulit untuk membiasakan diri dalam mencatat. Konsistensi untuk mendokumentasikan berbagai hal itu tidak ada.

Mendokumentasikan itu tentunya tidak harus dengan mencatat yang notabene menulis. Mendokumentasikan dapat dilakukan dengan foto dan video. Kalau dahulu ini susah dilakukan karena tidak ada perangkatnya, atau karena fasilitasnya mahal. Sekarang dengan menggunakan handphone semua ini dapat dilakukan. Jadi sekarang masalah adalah kemauan.

Hal berikutnya adalah masalah apa yang dituliskan. Saya katakan apa saja. Silahkan mencoba menulis apa saja setiap hari dalam waktu satu tahun. Ternyata ini sudah susah, apalagi jika harus menuliskan satu bidang tertentu. Ini membutuhkan kreativitas (dan konsistensi).

Silahkan dicoba tantangan saya ini, sanggupkah Anda menulis satu topik setiap hari selama satu tahun?

Hilangnya Jiwa Petualang

Di kelas atau di presentasi-presentasi saya, sering saya tanyakan pertanyaan ini, “siapa yang mau ikutan Elon Musk pergi ke Mars“. Sedikit yang mengacungkan tangannya. Apalagi setelah saya berikan informasi tambahan, “dan kecil kemungkinan untuk bisa kembali ke bumi ini“. Langsung hilang itu acungan tangan. Ha ha ha. Demikianlah nyali yang ada.

Kalau saya masih muda, saya akan tetap mengacungkan tangan. Yes, I would do that. Menjadi pionir untuk umat manusia. Apa lagi yang lebih keren dari itu?

Jiwa petualang jaman sekarang sudah tidak ada lagi.

The Legacy of Erik

Beberapa bulan lalu datang seekor kucing kecil ke rumah kami. Waktunya seingat saya adalah di awal COVID-19 dinyatakan positif di Indonesia. Di belakang rumah kami ada kantor yang pegawainya makan siang di kantor. Jadi sering ada kucing liar yang hadir ketika makan siang. Mereka menunggu sisa-sisa makanan dari para pekerja ini. Sejak COVID-19, maka para pekerja bekerja di rumah – Work from Home (WfH). Jadinya tidak ada makanan sisa. Kucing liar pun tidak ada. Nah, ini justru ada kucing yang datang.

Kucing ini masih kecil. Saya tidak bisa memperkirakan usianya karena belum pernah punya kucing sebelumnya. Mungkin 6 bulan begitu? Bagaimana kucing ini sampai di rumah kami? Itu yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan. Kucing ini berharap dari makanan sisa yang tidak ada. Pertama tentu saja kami usir karena kucing liar yang sudah-sudah sering membuat kekacauan; buang air sembarangan (bau), dan kalau berantem di atas genteng kadang membuat masalah dengan adanya genteng yang lepas – selain berisiknya tentunya. Diusir-usir ini kucing ini paling hanya lari tapi kemudian ada lagi. Bahkan malamnya kelihatannya dia tidur di rak di luar yang biasanya digunakan untuk menyimpan boks dan alat-alat lainnya. Soal makanan ternyata dia juga berburu makanan sisa yang kebetulan ada. Nampaknya ada yang memberi makanan. Kucing ini tampaknya cerdas juga. Suatu saat saya memergoki dia mau loncat ke jendela dapur. Tinggi juga itu jendelanya, tapi saya tahu dia bisa. Lama kelamaan kucing ini diberi makanan sisa juga.

Kucing ini kami beri nama Erik. Alasannya dahulu pernah ada kucing juga di sini yang diberi nama Erik. Keren sekali nama kucingnya. Jadi ini kami beri nama yang sama, Erik. Belakangan baru kami tahu bahwa kucing ini adalah betina. Ada yang mengusulkan namanya diganti menjadi Erika saja, tetapi kami tetap menggunakan nama Erik saja.

Erik kemudian tidur di atas sandal yang ada di belakang. Nampaknya untuk menghindari dinginnya lantai. Jadi kami beri keset dan boks dari kardus bekas yang ukurannya kecil, cukup untuk kucing itu masuk ke boks kardus itu. Maka mulailah dia tidur di situ (dan tempat-tempat lain yang tidak saya ketahui). Setiap pagi dia akan hadir di pintu belakang rumah dan mengeong. Tandanya minta makan. Jadinya kami berikan makanan di belakang rumah. Tapi Erik ini masih kucing liar yang masih ngeri juga untuk saya pegang. Takut dicakar. Maklum ini kucing yang tidak jelas asalnya.

Oh ya, saya pernah dicakar kucing yang masuk ke rumah. Ceritanya ada kucing masuk ke rumah, saya hadang, terus dia mencakar kaki saya. Baret-baret dan berdarah. Sorenya saya ke dokter untuk jaga-jaga. Takut rabies saja. Tadi lukanya langsung saya betadine, tapi ternyata seharusnya lukanya tadi dibersihkan (dicuci) pakai detergen saja misalnya. Jadi di dokter dibeset lagi luka yang mulai mengering itu. Dibersihkan lagi. Hadoh. Pengalaman juga.

Kembali ke Erik. Ternyata Erik ini juga kucing yang tahu berterima kasih. Biasanya dia menggosok-gosokkan badanya ke kaki kita. Tapi tetap saja dia tidak mau dipegang (di-pet). Kalau tangan kita menjulur, kakinya juga mau mencakar. Jadinya interaksinya sebatas dia mendekat ke kita terus menempelkan badanya ke kaki kita untuk menyatakan terima kasih mungkin. Jadilah Erik penghuni di belakang rumah. Unofficial.

Ada alasan lain untuk memperbolehkan Erik tinggal di belakang rumah. Kalau kucing lain buang air sembarangan, si Erik ini ternyata kalau mau buang ari ke taman di depan dan mencari tanah. Kemudian setelah buang air, bekas buang airnya ditutup. Jadi tidak jorok dan tidak bau. Smart cat.

Kalau diperhatikan, si Erik ini tambah gendut. Jangan-jangan karena kebanyakan makanan yang kami berikan. Tapi, kayaknya gemuknya seperti yang hamil. Eh, ini kan kucing kecil. Lama kelamaan memang Erik ini hamil. Memang Erik ini kucingnya kecil. Beberapa waktu (bulan) kemudian memang terlihat dia sibuk mencari tempat. Saya simpan sebuah boks kecil di sebelah lemari di belakang. Dan betul saja. Tidak berapa lama kemudian – tidak sampai 30 menit kemudian – dia melahirkan di sana. Whoah.

Ada berapa anak Erik? Susah melihatnya karena itu di dalam boks dan kami tidak ingin mengacaukan. Kata orang kalau anak kucing sampai terpegang oleh manusia, maka ibunya tidak mau mengurusi lagi. Tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi kami tidak berani mengambil risiko. Jadi kami tidak berani. Intip mengintip, akhirnya kami tahu anaknya ada enam. Hah??? Kucing kecil begini anaknya ada enam? Kok bisa banyak? Kata orang memang kucing anaknya banyak tetapi nanti yang bertahan tinggal satu dua. Oh begitu? Satu hari kemudian memang ada satu anak kucingnya yang mati. Dikeluarkan oleh Erik dari boksnya. Jadi kami ambil kemudian dikuburkan di ladang di belakang rumah. Kebetulan ada tanah yang masih banyak pohon-pohonan, semacam hutan kecil, di belakang rumah.

Masalah mulai terjadi dua minggu setelah Erik melahirkan. Tiba-tiba Erik ditemukan mati di halaman di depan rumah. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Pagi masih seperti biasa. Pas dicari-cari tidak ada, ternyata dia sudah mati. Belum tahu kenapa, tetapi dugaan saya dia ketabrak kendaraan dan masih bisa lari ke rumah. Hanya sampai di halaman. Tidak ada tanda-tanda yang aneh. Tidak ada busa di mulutnya, misalnya. Jadi bukan diracun. Jadi tiba-tiba saja. Hadoh. Maka siang sore itu kami kuburkan Erik di belakang rumah.

Bagaimana dengan anak-anak Erik? Maka kami harus langsung mengambil alih. Hadoh. Padahal kami tidak punya pengalaman ngurusi kucing. Mana ini masih anak-anak kucing yang usianya dua minggu. Tidak ada peralatan. Tidak tahu harus makannya apa. Tanya sana sini. Akhirnya ada kawan yang memberikan susu dan botol untuk menyusui anak-anak kucing itu. Langsung pesan susu anak kucing online dan seterusnya. Maka dimulailah perjalanan mengurusi anak-anak kucing itu. Ini baru pertama kalinya kami memegang anak-anak kucing itu. Kebayang kan? Anak-anak kucing itu kami beri nama: Erik (karena persis ibunya jadi diberi nama yang sama), Kuro (karena hitam), Panda (karena belang putih hitam seperti panda), Totoro (lupa kenapa), dan Cimot (karena paling kecil ukurannya). Kami sadar bahwa akan sangat sulit mengurusi mereka. Secara statistik katanya hanya tinggal satu atau dua. Hadoh.

Anak-anak kucing ini akhirnya mau minum susu. Kami akhirnya tahu caranya. Tapi repot luar biasa. Ada lima anak kucing yang harus diberi minum susu dari botol bersamaan. Kemudian mereka malah agresif. Begitu melihat botol susu langsung mereka jadi agresif seperti gremlins. Ha ha ha. Ganas. Bahkan sampai berusaha naik ke badan kita, yang artinya mencakar-cakar. Kaki dan tangan kami akhirnya menjadi goras gores kena cakaran mereka. Yang penting mereka sehat-sehat.

Tiba-tiba terjadi masalah. Panda sore masih makan dengan lahap. Malamnya tidak berniat makan dan terlihat lemas. Hadoh bagaimana nih. Kami tidak tahu bagaimana bersikap. Akhirnya mencari tahu apakah ada dokter hewan (vet) dekat-dekat sini. Ternyata ada di Surapati Core. Oke kalau begitu kami rencanakan besok pagi dibawa ke sana. Ternyata pagi-pagi habis Subuh, kami dapati Panda sudah lemas. Kembang kempis. Langsung segera kami bawa ke dokter hewan itu. Tempatnya tidak jauh dari rumah kami. Mungkin 10 sampai dengan 15 menit sampai. Sampai di sana, Panda sudah tidak tertolong. Kami langsung pulang dan pagi itu menguburkan Panda di samping Erik senior.

Beberapa hari kemudian (lupa tepatnya), Cimot juga lemas. Kali ini kami bawa ke dokter hewan. Sampai di sana dia makin lemas. Jadinya dia harus diinapkan. Oke Cimot nginap di sana. Ternyata besoknya juga sudah tidak tertolong. Maka kami bawa pulang dan kami kuburkan di sebelah Erik dan Panda.

Beberapa hari kemudian Erik yang terlihat lemas. Kali ini kami ambil inisiatif membawa semua, tiga kucing yang tersisa. Dicurigai terkena virus. Dan betul saja, Erik yang dites kena virus ternyata positif virus Distamper. Ternyata ini virus yang lethal. Masalahnya anak-anak kucing ini masih terlalu kecil untuk divaksin. Jadi terkena. Jadi bertiga itu diinapkan semua di sana. Bersoknya, Erik tidak tertolong. Jadi kami bawa pulang Erik dan lagi-lagi kami kuburkan dekat saudara-saudaranya. Kuro dan Totoro tetap menginap. Kuro terlihat lemas tetapi Totoro terlihat sehat.

Lupa saya berapa hari Kuro dan Totoro diinapkan di sana. Dua atau tiga malam? Berikutnya ada kabar bahwa Totoro bisa dibawa pulang tetapi Kuro belum. Maka kami bawa Totoro pulang. Dia terlihat sehat meskipun agak kurus. Maka di rumah ada satu anak kucing. Ini yang masih harus diurus karena dia masih dalam pemulihan.

Dua hari kemudian Totoro boleh pulang. Alhamdulillah. Badannya kurus sekali pas pulang. Masih belum fit betul. Jadinya kami punya dua anak kucing yang harus diurusi secara terpisah. Dua hari di rumah, Kuro menjadi semakin sehat. Makan dan minumnya bersemangat sekali. Totoro juga bersemangat. Tapi, terjadi masalah lagi. Saking semangatnya Kuro minum susu di pagi hari maka sedotan botol dia gigit dan sedotannya itu dia telah. Hadoh. Ini plastik. Cukup besar juga. Hadoh bagaimana? Maka lagi-lagi dia harus dibawa ke dokter hewan.

Sampai di sana, Kuro di x-ray. Hasilnya menunjukkan memang ada benda itu di lambungnya. Ukurannya cukup besar. Jadi masih ada risiko dia dapat memblokir saluran dari lambung ke usus. Tapi boleh jadi dia masih bisa keluar juga. Sebetulnya ada solusi operasi, tetapi karena Kuro ini masih kecil, kurus (karena baru sembuh dari sakit), maka opsi operasi sangat berisiko. Jadi diberi obat pencerhaan (pencahar?) dan diberi waktu sampai besok paginya untuk melihat lokasi benda itu.

Besoknya Kuro kami bawa ke sana lagi. Kali ini harus menunggu sampai jam 11 untuk x-ray, dokter, dll. Kondisi Kuro pagi masih oke, tetapi begitu sampai di vet mulai drop. Jadi Kuro terpaksa ditinggal di sana. Hari berikutnya ternyata kondisinya masih buruk sehingga belum bisa dilakukan operasi. Sorenya, Kuro juga tidak tertolong lagi. Belum tahu apakah masih karena virusnya itu atau karena apa. Kami bawa Kuro ke rumah dan kami kuburkan (lagi-lagi) di sebelah saudara-saudaranya.

Tinggal Totoro yang tersisa. Kemarin dia masih oke. Tapi pagi ini tiba-tiba dia lemas dan tidak dapat bergerak. Hadoh. Kami sudah pasrah. Kali ini kami coba urus sendiri dulu di rumah. Kami paksa untuk minum susu (karena tidak mau makan). Tulisan ini saya buat sambil mengawasi Totoro di samping saya. Masih berjuang. Berdoa.

Update: setelah 3 malam menginap di dokter hewan (vet), akhirnya Totoro tidak terselamatkan. Dari 0 kucing, ke 6 kucing, dan kembali ke 0 lagi.

Definisi Sehat

Menurut Anda, apa definisi “sehat”?

Sehat menurut saya adalah kalau dapat makan (rasanya enak) dan lancar buang air (kecil dan besar). Mengapa definisinya seperti ini? Kalau kita sakit, maka makan rasanya tidak enak. Males mau makan. Mulut tidak enak. Perut tidak enak. Pokoknya males aja makan. Padahal kalau kita tidak makan, maka kita kekurangan energi dan malah susah untuk (recover) sembuh. Makan enak itu tidak harus mahal dan susah. Bagi saya, nasi sama telor ceplok pun sudah enak banget. Apalagi indomie … ha ha ha.

Soal buang air lancar itu juga mirip jawabannya. Ini saya melihat kucing yang sedang sakit. Indikasinya, tidak mau makan dan buang air besarnya tidak bagus; cair atau mencret. Kasihan melihatnya. Demikian pula dengan orang. Ketika kita sehat, hal ini tidak terpikirkan. Ketika kita sakit, ini merupakan siksaan tambahan.

Maka beruntunglah jika kita masih dapat makan (dan merasa enak) serta dapat buang air dengan lancar. Harus sering-sering bersyukur.

Mr. GBT

Waktunya menghidupkan kembali Mr. GBT. Apa itu? Nah, silahkan lihat blog saya yang pernah kondang di gbt.blogspot.com. Ini blog pertama saya. (Rasanya? Sebelum ini apa saya sudah punya blog lagi ya? Rasanya tidak.)

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya secara tidak sengaja sekelebat saya melihat foto 10 blog terbaik Indonesia versi majalah Tempo. Lagi-lagi kalau tidak salah ini tahun 2005. Saya ada di daftar itu di urutan ke-4 dengan blog GBT itu. GBT itu singkatan dari Gerakan Bawah Tanah. Nah, ini ceritanya lebih panjang lagi. Bisa dijadikan satu tulisan tersendiri atau satu video tersendiri. Nanti lah. Intinya saya jadi ingin menulis lagi di sana.

Dahulu saya pindah ke wordpress ini karena UI/UX-nya lebih enakeun. Terus statistiknya juga sangat bagus. Jadi saja, saya mulai rajin menulis di sini dan melupakan yang di sana. Sebetulnya saya sudah mulai memisahkan jenis tulisan di sini dan di GBT. Di sini cerita dalam bahasa Indonesia dan di sana cerita dalam bahasa Inggris. Sebetulnya yang bahasa Inggris, saya sudah memulai juga di Medium.com. Medium ini enakeun juga lho. Jadi yang di Blogspot ini bakalan punya tantangan juga. Repot juga kalau harus nulis di dua tempat dengan cerita yang sama.

Anyway. Sekarang saya mau nulis di gbt.blogspot.com dulu ah. Selamat datang kembali, Mr. GBT.

Mengagumkan

Baru saja saya perhatikan tulisan di blog ini, ternyata ada tulisan seperti ini. Mengagumkan. ha ha ha.

Pinter ini orang yang buat tulisannya (atau yang menerjemahkannya). Jadi kalian pembaca blog ini adalah orang-orang yang mengagumkan. Keren! Bagaimana tidak, ketika orang lain tidak suka membaca dengan seksama, Anda masih menyukai membaca. Keren!

Terima kasih orang-orang keren.

Membaca

Dahulu salah satu pekerjaan yang kami lakukan adalah membantu perusahaan dalam melakukan rekrutmen pegawai baru. Membaca biografi calon pekerja kadang lucu juga. Salah satu kolom yang biasanya ditanyakan adalah hobi. Banyak orang yang menuliskan “membaca” menjadi salah satu hobi-nya. Benarkan mereka menyukai membaca?

Dalam bayangan saya, kalau yang namanya “membaca” itu adalah membaca buku. Bahkan buku yang dibacanyapun adalah buku-buku yang “berat” atau bermutu. Eh, ternyata sebagian besar kenyataannya berbeda dengan yang saya bayangkan. Apa lagi kalau yang bersangkutan merasa telah keren karena membaca buku tertentu, semakin menyakitkan faktanya. Ketika saya ajak diskusi tentang isi dari buku tersebut, gelagepan. Apalagi kalau saya tanya apakah buku yang dibacanya itu merupakan buku terjemahan atau buku aslinya (yang biasanya dalam bahasa Inggris), maka mereka tambah gelagepan.

Baiklah. Saya harus menerima bahwa membaca itu bukan kultur bangsa Indonesia. Terimalah itu. Seingat saya, saya pernah buat video (di YouTube channel saya) yang mengatakan lebih baik kita buat video saja. Soalnya budaya kita adalah budaya menonton. Ha ha ha. Buktikan bahwa saya salah.

Jadi, tidak usahlah gagah-gagahan menunjukkan bahwa Anda senang membaca seperti yang saya lakukan dalam tulisan ini. Hi hi hi.

Saya yakin tulisan ini jarang ada yang membaca! Tapi kalau yang ini karena memang tulisannya tidak terlalu menarik untuk dibaca. Lain masalah.

Karakter Busuk

Ada orang yang memang karakternya busuk. Bagaimana menyikapi hal ini? Bagi saya, umumnya saya hindari orang yang seperti ini. Mereka ini toxic. Khawatirnya mereka juga bisa membuat kita jadi busuk juga. Hindari. Aman.

Bagaimana jika orang lain tidak tahu bahwa mereka itu busuk? Ya biarkan saja. Soalnya tidak mungkin juga kita menjelek-jelekkan mereka. Kita jadi busuk seperti mereka juga.

Tapi kalau tidak kita beritahu, nanti orang-orang yang lugu dan tidak tahu mereka bisa jadi busuk juga. Benar juga ya? Dilema.

Marathon Pertama Saya

Sebetulnya sudah lama saya ingin mengikuti marathon, tetapi belum kejadian. Beberapa kali mau ikutan tetapi pas waktunya bentrok dengan acara saya lainnya. Kawan-kawan dan saudara-saudara saya banyak yang sudah mengikuti marathon. Mungkin ini juga menjadi semacam trend di lingkungan saya.

Mengapa saya berani mau ikutan marathon? Setidaknya yang 5k dulu lah. Alasannya adalah setiap minggu saya futsal 2 atau 3 kali. Setiap futsal saya menempuh antara 5 Km sampai dengan 8 Km. Itu kata Mi-band yang saya gunakan untuk melakukan tracking pergerakan saya. Jadi kalau “hanya” 5 Km, semestinya sangguplah. Meskipun ada bedanya. Kalau futsal, saya tidak dituntut untuk menyelesaikan jarak tersebut dalam satu satuan waktu tertentu. Jadi tadi 8 Km itu bisa terjadi dalam kurun waktu 2 jam. Kalau marathon, waktu sangat penting.

Saya sudah siap lah untuk marathon. Bahkan sudah sempat membeli sepatu untuk lari, meskipun tidak spesifik untuk marathon. Sepatu ini tadinya memang saya rencanakan untuk marthon. Tinggal menunggu waktunya. Jreng!

Dua minggu lalu saya ditawari untuk untuk ikutan virtual marathon. Virtual marathon ini karena sekarang masih masa pandemi COVID-19 sehingga acara rame-rame dihindari. Maka marathon-nya dilakukan sendiri-sendiri. Langsung saya oke-kan sambil bingung bagaimana caranya. Intinya saya diminta untuk melakukan lari marathon sendiri dan datanya nanti dikirimkan ke panitia. Sambil bingung, saya pasang aplikasi Strava.

Hari Jum’at kemarin, saya memutuskan untuk lari marathon setelah mencari tempat (lapangan) yang memungkinan. Sekarang sebagian besar lapangan ditutup. Setelah bertanya ke sana sini, saya putuskan untuk lari di Kiara Park.

Hari H-nya saya lari. Tempatnya lumayan sepi sehingga nyaman untuk berlari. Sambil berlari, kadang-kadang saya cek sudah berapa putaran saya berlari. Sudahkah 5 Km? Oh masih belum. Lari lagi. Terus sampai angka 5 muncul di handphone saya. Setelah selesai, saya berhenti dan melihat hasilnya. Barulah saya sadar bahwa konfigurasi Strava saya masih belum menggunakan “metric”. Jadi yang tertera itu bukan 5 Km, tetapi 5 mil (miles)! Hayah … Ternyata saya lari lebih dari 8 Km. Pantesan terasa capek banget. Ha ha ha.

Setelah itu tinggal memasukkan hasilnya ke situs web panitia. Bingungnya, data saya adalah data 8 Km bukan 5 Km. Jadi saya hitung perkiraan. Rata-rata larinya saya adalah 8 Km/jam. Saya larinya 1 jam. Jadi hitung demi hitung, untuk 5 Km saya lari 40 menit. Itu hasil perhitungan. Akhirnya saya masukkan data itu saja.

[Ini adalah foto Strava saya yang sudah terkonversi ke Km. ha ha ha.]

Demikianlah pengalaman marathon pertama saya.

Mahasiswa Terlalu Sibuk

Jika diperhatikan dengan lebih seksama, nampaknya mahasiswa sekarang terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk melakukan eksplorasi hal-hal lain di luar perkuliahan. Semoga kesibukannya ini terkait dengan perkuliahan. Biarpun dengan perkuliahan, menurut saya seharusnya mahasiswa menyempatkan diri untuk melakukan eksperimen-eksperimen yang mungkin dianggap kurang penting dibandingkan tugas kuliah. Masalahnya, kapan lagi mau coba-coba ini dan itu? Kalau sudah lulus? Bwahahaha. Kalau sudah lulus, tuntutannya adalah sudah pernah mencoba macam-macam.

Apakah kesibukan mahasiswa jaman sekarang lebih dari kesibukan dari mahasiswa jaman dahulu? Kok saya ragu. Semestinya sama saja. Jaman dahulu mahasiswa juga sibuk (dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen-dosennya). Mana jaman dahulu dosen-dosennya lebih killer dari jaman sekarang. Jaman sekarang sih dosen takut dengan institusinya. Dan institusi “takut” ke mahasiswa yang membayar. ha ha ha.

Saya berkali-kali mengajari mahasiswa agar lebih sedikit “nakal”, misalnya dengan membolos kelas formal dan pergi ke acara diskusi informal. mahasiswa banyak yang ketakutan. ha ha ha. Ini memang dosennya agak mbeling. ha ha ha.

Bagi para mahasiswa, belajarlah membagi waktu. Beri waktu untuk “belajar kehidupan” yang letaknya di luar perkuliahan.

Butuh Lebih Banyak Port USB

Bekerja di rumah ini membuat setup (konfigurasi) komputer menjadi lebih permanen. Saya menyambungkan banyak hal ke komputer saya. Ternyata port USB yang tersedia masih kurang. Berikut ini adalah beberapa hal yang membutuhkan koneksi USB.

  • Webcam (external camera). Bawaan dari Macbook sudah cukup bagus, tapi webcam saya kualitasnya jauh lebih bagus. Kadang juga saya membutuhkan ini untuk menyambungkan DSLR saya. Jadi ini sangat esensial.
  • External microphone. Yang ini kalau terpaksa saya masih dapat menggunakan bawaan dari Macbook. Kalau di desktop, harus pakai mikropon eksternal.
  • Tablet. Saya menggunakan tablet Wacom untuk corat-coret.
  • Ethernet. Saya menggunakan kabel ethernet untuk terhubung ke internet di rumah. Sebetulnya dapat menggunakan access point (AP), tetapi kadang AP-nya menghilang. Tidak reliable. Jadi untuk lebih handalnya saya menggunakan kabel ethernet.
  • External disk. Disk di Macbook saya sudah habis. Kalau saya ingin merekam sesuatu – misalnya merekam video pelajaran saya – maka saya harus menyimpan datanya di disk tambahan ini.
  • Soundcard. Ini sebetulnya tambahan lain kalau saya mau memasukkan suara dari sumber lain (gitar dan juga microphone), tapi yang ini tidak harus. Ini bisa menggunakan port bagian external microphone.
  • Handphone. Untuk transfer berkas. Ini tidak harus selalu terhubung tapi kadang saya membutuhkan untuk mengambil berkas yang besar (image, video) dari handphone.

Melihat dari daftar di atas, saya membutuhkan setidaknya 4 sampi dengan 7 port USB. Di Macbook saya hanya ada 2 type C USB. Sangat kurang. Apalagi salah satunya dibutuhkan untuk charger. Jadi sekarang harus bergantian penggunaannya. Untuk komputer desktop saya (Linux Mint), port USB nya ada 6 buah tetapi 3 sudah dipakai (keyboard, mouse, WiFi card). Pokoknya kurang.

Saya sekarang menggunakan USB port extender, tetapi sesungguhnya saya agak takut menggunakannya. Saya sudah menghabiskan dua perangkat seperti ini. Mereka rusak saja. Bahkan ketika yang pertama rusak, hard disk external saya ikut menjadi corrupted. Hadoh. Jadi saya agak ngeri.

Nampaknya saya harus membeli USB port extender yang bagus. Ada saran?

Hari Blogger Nasional

Kemarin, tanggal 27 Oktober, adalah Hari Blogger Nasional. Saya tidak pernah merayakan hari itu. Padahal saya masih tetap setia ngeblog. Sementara orang-orang yang mencanangkan hari itu, sudah berhenti ngeblog.

Ngeblog bagi saya adalah merupakan semua latihan yang saya butuhkan untuk mengasah diri sendiri. Jadi saya ngeblog bukan untuk mencari perhatian orang, tetapi untuk menantang diri. Pada awalnya tantangan saya – kepada diri saya sendiri – adalah apakah dapat membuat tulisan setiap hari. Tantangannya adalah mencari topik yang bagus untuk ditulis dan kemudian menuliskannya. Mencari topik bukan masalah karena saya sampai membuat sebuah program yang saya beri nama “topic generator”, program yang menampilkan topik yang berbeda setiap kali dijalankan. Menuliskan topik tersebut dengan baik merupakan tantangan terberat. Hasilnya ya sekedar ada tulisan. Yang penting, tantangan terjawab. Soal susahnya mencari waktu untuk ngeblog itu bukan tantangan karena bagi saya itu sudah sesuatu yang … given.

Sekarang tantangan ngeblog saya berbeda. Sekarang saya sudah mulai membuat video di YouTube. Walhasil, ada hal-hal yang tersedot ke sana. Yang itu masih membutuhkan usaha, seperti awal-awal saya ngeblog ini. Kalau tanaman, masih perlu disiangi. (Kok “siang” ya?) Masih kurang content. Tadinya saya berpikiran akan lebih mudah ngeblog karena saya dapat menuliskan apa yang sudah saya videokan. Ternyata mood untuk melakukan hal itu tidak ada. “Kan sudah saya sampaikan pesannya? Jadi kenapa pula saya harus menuliskan lagi.” Itu yang ada di kepala saya. Padahal kan audiens-nya juga berbeda. Ok, ok, ok.

Kembali ke Hari Blogger Nasional. Selamat kepada yang masih ngeblog. Selamat kepada diri sendiri. Ha!

Listrik dan Kerja Dari Rumah

Ternyata salah satu komponen utama dari kerja dari rumah (work from home) adalah listrik. Ini baru saja listrik di rumah saya mati. “Aliran”, kalau kata orang Sunda. ha ha ha. Padahal saya harus memberikan kuliah. Akibatnya saya berikan pesan (via handphone) bahwa kelas terpaksa ditiadakan dan mahasiswa diminta untuk mendiskusikan serta meneruskan tugas-tugas mereka.

Listrik dibutuhkan untuk menyalakan komputer dan akses internet di rumah saya. Basis saya masih menggunakan komputer desktop dan internet wired (menggunakan access point yang terhubung ke router dan penyedia jasa internet). Begitu listrik mati, maka semuanya menjadi tidak berfungsi. Bukankah ada notebook (untuk pengganti komputer desktop) dan handphone (untuk penganti akses internet)? Betul. Notebook nampaknya tidak menjadi masalah, namun akses internet via handphone yang menjadi masalah bagi saya. “Kebetulan” – meskipun rumah saya di daerah Bandung – lokas rumah saya di atas bukit yang terhalang oleh bukit lain sehingga sinyal operator seluler sering bermasalah di sini. Ini sudah tahunan seperti begini. Dulu ketika jaman 3G masih baru mulai pun kami mengundang beberapa teknisi dari operator seluler dan mereka menyerah. (Solusinya adalah mereka pasang BTS lagi di dekat sini, yang mana ini tidak memungkinkan karena biaya untuk memasang BTS tidak murah sementara pelanggan yang bermasalah kemungkinan hanya sedikit atau malah hanya saya saja.) Singkatnya sinyal operator seluler di tempat saya ini dipertanyakan.

Kembali ke topik, walhasil kelas tadi dibubarkan. Saya yakin mahasiswa bergembira-ria. ha ha ha. Ya, sekali-sekali lah memberikan kebahagiaan kepada mahasiswa.

Nampaknya saya harus mulai memikirkan backup plan.

Kalibrasi (IoT)

Sekarang banyak orang mengembangkan IoT. Salah satunya adalah untuk mengukur temperatur dan kelembaban. Masalanya, kebanyakan hanya mengambil kode (dari internet) dan kemudian menjalankannya tanpa melakukan kalibrasi. Apakah data yang kita gunakan sudah benar? Apakah kode yang kita gunakan sudah benar? (Dalam kode terdapat konversi dari data yang diterima oleh sensor ke temperatur dan kelembaban.)

Untuk mengetahui hal tersebut, saya membeli sensor hygrometer. Saya beli dua buah. Eh, ternyata keduanya juga tidak akur datanya. Data temperatur nyaris sama (31C), tetapi data kelembaban jauh berbeda (35% dan 41%). Mana yang benar? Saya juga meragukan kebenaran data tersebut karena perasaan saya temperatur saat menulis ini tidak panas. (Ini di Bandung di rumah saya.)

Sensor Hygrometer

Memang saya membeli sensor yang harganya murah. Ini hanya untuk percobaan. Nampaknya saya harus membeli sensor yang lebih akurat (dan lebih mahal).

Bagaimana dengan data dari sensor IoT? Saya menggunakan sensor DHT-22 yang kemudian saya hubungkan dengan perangkat Wemos D1 mini. Data kemudian saya kirimkan ke komputer. Berikut ini perbandingan data dari sensor Hygrometer dan sensor IoT. (Mohon maaf fotonya agak kabur.) Mana yang benar? Temperatur: 30 C (hygrometer), 27,8 (IoT). Kelembaban : 45% (hygrometer), 77,4% (IoT).

Lagi-lagi saya tidak tahu mana yang benar. Nampaknya saya harus membeli alat hygrometer yang lebih akurat untuk mastikan hasilnya.

Tadinya saya ingin membuat grafik seperti ini, memantau temperatur dan kelembaban di rumah saya. (Saya juga memiliki sensor yang lebih akurat.)

Tulisan ini untuk menunjukkan bahwa kita harus melakukan kalibrasi dalam pengukuran yang menggunakan IoT sekalipun. Jangan merasa bahwa kalau data dari IoT sudah pasti benar.