Telo yang tidak Let

Tag

, , ,

Ok, ok, ok. Sekarang semua orang sedang wabah “Om Telolet Om”. Bukan hanya di Indonesia saja, sampai ke luar negeri. Cadas sekali.

Saking banyaknya, sampai saya sebel. Saya buat saja meme seperti ini.

15541988_10154140729471526_8872625022606398657_n

Sebetulnya dari segi desain, seharusnya saya tulis “om telo …”. Sebelum Robin selesai mengucapkan katanya sudah keburu digampar Batman. Seharusnya begitu, tetapi saya teringat akan kata “telo”.

Jaman saya dahulu, kata “telo” digunakan sebagai kata yang agak sedikit makian tetapi berkesan akrab. Kamu telo. Gitu kira-kira. Jadi kalau saya buat “Om Telo …”, nanti dikira Robin sedang mencoba sok akrab atau memaki Batman. Bakalan digampar dua kali kalau begitu. he he he. Itu cerita soal design decision.

Sekarang jaman sudah berubah. Kalau saya sebut kata “telo”, pasti yang terbayang oleh anak sekarang adalah “telolet”. Maka kalau ada yang berkata “telo”, pasti akan dilanjutkan dengan “let”.

Okay? Gak pakai telolet ya …

Membaca Itu Tidak Mudah

Tag

, ,

Sungguh. Membaca itu tidak mudah alias susah. Kalau mudah, tumpukan buku saya sudah habis saya baca semua. Membacanya saja sudah susah apalagi memahaminya. Tambahan lagi kalau bahasa yang digunakan adalah bahasa asing, yang bukan bahasa ibu kita. Kelar.

Tadi saya mencoba membaca sebuah halaman ini:

https://www.brainpickings.org/2015/08/31/emerson-the-american-scholar/

Membacanya pelan-pelan. Ada banyak hal yang belum saya mengerti. Ada hal-hal yang membuat saya perlu berpikir dahulu sebelum melanjutkan bacanya. Akibatnya, untuk membaca sebuah halaman saja butuh waktu yang cukup lama.

Oleh sebab itu, jika kita menemukan sebuah tulisan – baik itu status seseorang di facebook atau tulisan di blog – maka pahami dahulu sebelum membuat komentar. hi hi hi.

Kecerdasan Buatan

Tag

, ,

Nampaknya ada pasar baru, yaitu pasar kecerdasaan buatan. Artificial Intelligence (AI). Pasalnya, kecerdasaan yang bawaan kebanyakan orang sudah tidak berfungsi. hi hi hi.

Membedakan tulisan atau berita bohong (hoax) saja sudah tidak bisa. Padahal ini kecerdasan yang paling minimal.

Maaaaaaapppppppp … kalau ada yang tersinggung.

Membaca Adalah Bekerja

Tag

, , , , , ,

Ada banyak pekerjaan yang menuntut kita untuk membaca. Untuk mengoperasikan sebuah alat harus baca manualnya dahulu. Kadang manualnya bertumpuk-tumpuk. Untuk memahami sebuah konsep, harus baca dahulu dokumen yang terkait dengan konsep tersebut. Untuk membuat sebuah laporan, harus membaca data yang diterima dahulu (dan kemudian dilanjutkan dengan memahami sebelum menuliskannya). Seringkali datanya berlembar-lembar (dan bahkan ada yang jumlahnya ratusan halaman).

Banyak orang yang menyepelekan membaca sehingga tidak dapat mengapresiasi orang yang membaca. Dianggapnya orang yang terduduk dengan sebuah dokumen di hadapannya adalah tidak bekerja. Kan hanya membaca. Apa susahnya?

Itulah sebabnya juga seringkali mahasiswa S3 disepelekan oleh berbagai pihak. Oleh tempat kerjanya dia tetap diberi pekerjaan yang berat karena toh sekarang dia hanya membaca makalah orang lain. Apa susahnya? (Oleh sebab itu mahasiswa S3 sering frustasi karena tidak dipahami.)

Kalau membaca – hanya sekedar membaca – saja sudah dianggap susah, apalagi memahami ya?

[sedang membaca dan mencoba memahami]

Banjir Informasi

Tag

, , , ,

Membaca bagian awal dari buku Madilog-nya Tan Malaka, saya merasakan kegalauan Tan Malaka akan kesulitan mendapatkan sumber bacaan (buku). Saya juga sempat mengalami masa kesulitan mendapatkan sumber referensi ketika menempuh pasca sarjana saya. Untuk mendapatkan sebuah referensi, saya harus melakukan interlibrary loan, yaitu meminjam ke perpustakaan tempat lain. Dibutuhkan waktu berhari-hari (dan bahkan minggu) untuk referensi sampai di tempat saya. Itu di Kanada, sebuah negara yang sudah maju. Tidak terbayang oleh saya jika saya berada di tempat yang sistem perpustakaannya belum sebaik itu.

Ya itu jaman sebelum ada internet. Ketika akses kepada (sumber) informasi masih sangat terbatas. (Sebetulnya jaman itu sudah ada internet, tetapi akses kepada internet masih dibatasi untuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Juga, kecepatan akses internet masih sangat terbatas. Masih teringat saya harus mengakses jaringan kampus dengan menggunakan layar teks saja melalui modem 1200 bps.)

Internet (dan teknologi terkait) mendobrak akses kepada informasi. Sekarang – setidaknya di kota-kota besar di Indonesia – akses kepada informasi tidak ada batasnya. Seperti halnya aliran air dari sebuah sungai yang tadinya mampet, sekarang menjadi lancar.

Sayangnya air yang tadinya jernih sekarang berubah menjadi keruh. Terlalu banyak sampah. Ditambah lagi, air yang tadinya mengalir dengan baik sekarang menjadi banjir badang. Tanggul-tanggul bobol. Sekarang kita kebanjiran informasi.

Ketika banjir – dimana-mana ada banyak air – kita kesulitan mendapatkan air yang jernih untuk minum. Kondisi saat ini sama. Terlalu banyak informasi abal-abal, sehingga untuk mendapatkan informasi yang jernih tidak mudah. Dibutuhkan keahlian dan teknologi untuk menyaring informasi yang keruh menjadi informasi yang dapat kita teguk.

Sementara itu, kita jangan ikut serta memperkeruh “air informasi” ini dengan melemparkan “sampah informasi” yang tidak penting. Tahan diri untuk membuang “sampah informasi”. Maukah kita melakukannya?

Politik

Tag

,

Ketika masih mahasiswa dahulu, saya mendapat nasihat: pahami politik, tapi tak usah terjun ke politik praktis. Maka diam-diam saya memperhatikan soal politik. Ketika itu masih jaman Orde Baru. Ada ketakutan ketika orang menyebutkan kata “politik”. Kebanyakan orang menjauh dari kata itu. Poilitik adalah barang haram. Sementara itu kampus ITB waktu itu sarat dengan diskusi soal politik. Maka menyimaklah saya.

Sampai sekarang saya tidak tertarik kepada politik praktis, karena saya tahu siapa saya. I am an engineer. Itulah panggilan saya. Tetapi, saya tetap harus paham politik agar tidak dibodohi orang.

15403882_10154108717946526_5614794402798610057_o

Banyak kejadian (dahulu dan sekarang) yang mempolitisir masyarakat. Umumnya masyarakat tidak tahu bahwa mereka digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Berbagai topik (issues) digunakan. Yang paling efektif memang topik agama. Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Sayangnya masyarakat tidak paham. Saya pun tidak pada posisi untuk menjelaskan. Tidak punya kredibilitas di sana. Maka sayapun hanya dapat mengelus dada.

Belajarlah …

Resensi: Spammer

Tag

, , , ,

Tidak banyak novel atau cerita di Indonesia yang bersifat agak teknis. Kebanyakan ceritanya adalah keseharian dan umum-umum saja. Maka adanya sebuah cerita yang teknis – seperti spammer (orang yang melakukan spamming) – sangat menarik bagi saya. Apa lagi latar belakang saya memang urusan komputer.

Saya menerima buku ini, sebuah novel thriller karangan Ronny Mailindra dengan judul “Spammer”. Begitu terima, tidak langsung saya baca karena kesibukan saya. Begitu ada waktu senggang, saya cicil bacanya.

p_20161209_132557-spammer-0001

Novel ini bercerita tentang seorang spammer (yang kerjanya mengirim spamming untuk mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang kena spam) yang kena batunya. Tanpa sengaja, berkas yang dia curi dari sebuah komputer tenyata sebuah barang bukti kejahatan. Penjahatnya menyewa hacker untuk memastikan berkas tersebut musnah. Maka terjadilan perang antar kedua orang ahli komputer itu.

Awalnya ceritanya agak lambat (untuk selera saya). Kemudian mulai menjadi cepat dan seru sehingga saya harus menyelesaikannya dengan cepat. (Saya baca dalam dua hari. Bahkan ada yang sampai lewat tengah malam.)

Seringkali dalam film atau novel yang bercerita tentang teknis komputer (IT) ada hal-hal yang tidak akurat. Misal, nomor IP yang digunakan adalah 333.123.123.123. Padahal angka yang digunakan tidak boleh lebih dari 255 (karena 8-bit). Atau perintah-perintah yang diketik di layar salah atau tidak benar. Hal-hal seperti itu sering mengesalkan karena kita jadi tahu bahwa film/novel itu ngasal. Nah, buku ini tidak begitu. Sang pengarang memang punya latar belakang IT sehingga hal-hal yang teknis cukup akurat.

Nilai saya adalah 4,5 dalam skala 5. (Atau kalau dibuat skala 10 adalah 9. hi hi hi.) Recommended bagi orang teknis.

Budaya Produktif

Tag

, , , , ,

Mengapa saya ngeblog? Ada banyak alasan. Salah satunya adalah agar saya bisa produktif. Selalu menghasilkan karya. Mungkin kualitas tulisan saya ini tidak hebat-hebat amat, tetapi yang penting adalah produktif.

Saat ini kita punya masalah dengan media sosial. Di sana, kebanyak orang hanya “berbagi” (share) tulisan orang lain. Atau kalau tidak tulisan ya foto, video, dan berita-berita dari tempat lain (yang seringkali palsu dan gak mutu) yang ditampilkan. Kebiasaan untuk membuat tulisan (content) sendiri nampaknya malah makin dijauhkan dengan keberadaan media sosial tersebut.

Memang lebih mudah menekan tombol “share” daripada mengarang sendiri. Mengarang itu harus pakai mikir. hi hi hi. Sementara menekan tombol share, tidak. ha ha ha. Ini tidak fair juga sih. Menekan tombol share itu masih harus mikir. Tapi mestinya sel otak yang dipakai untuk itu jauh lebih kecil daripada kalau kita menulis sendiri. Eh, siapa tahu tidak juga. Siapa tahu kalau menekan tombol share sambil marah-marah malah sel-sel otak semua membara. ha ha ha.

15369063_10154092908046526_7944125947555663912_o

selfie sesudah ngeblog

Anyway … tulisan ngasal pagi ini. Tapi ini asli karangan sendiri lho. Makanya ngasal.

Ketika Masjid Menangis

Tag

, ,

Hari itu, sang masjid merapikan dirinya
Bersiap menerima tamu-tamunya
Namun mereka tak kunjung datang
Masjid tak mengerti

Ah, mungkin mereka ke masjid lain
Tak mungkin mereka ke tempat lain
Selain ke masjid
Masjid tak mengerti (jika tidak)

Adakah mereka malu untuk hadir di tempatku?
Apakah yang mereka ingin buktikan
Sehingga mereka memilih tempat lain selain masjid?
Masjid tak mengerti

Wahai tamuku, adakah engkau takut
Diberi label tertentu oleh manusia lain
Sehingga engkau harus hadir di tempat lain (selain masjid)
Masjid tak mengerti

Di sini engkau memang tidak terlihat wahai tamuku
Tapi Pemilikku mengetahui kecintaanmu kepadaNya
Tak perlu kau tunjukkan itu kepada dunia
Masjid tak mengerti

Jum’at
Hari ini
Masjid sepi
Masjid tak mengerti

Ganti Theme

Tag

,

Sudah waktunya blog ini berganti theme. Maka bergantilah. Jadi jangan kaget kalau tampilan saat ini berubah.

Sebetulnya perubahan tema ini tidak direncanakan. Saya sedang mencoba mengubah theme dari instalasi wordpress di komputer saya (lokalan). Eh, saya salah lihat tab di browser saya. Yang saya ubah ternyata theme dari wordpress ini. ha ha ha. Dan ternyata tidak bisa balik ke konfigurasi yang lama. (Saya juga sudah lupa apa saja yang saya pasang di widgetnya.) oalah … Ya sudahlah.

Selamat menikmati tampilan yang baru ini. Semoga tidak membingungkan.

Shalat Jum’at Yang Kurang Khusyu

Tag

, , , ,

Kayaknya shalat Jum’at saya tadi kurang khusyu. hi hi hi. Masalahnya ada dua kejadian yang terlihat oleh saya. Ceritanya begini. Di masjid kami ini sering ada anak-anak yang ikutan Jum’atan (dan kemudian biasanya minta tanda tangan ke khatib). [Saya juga masa kecil pernah ngalami hal yang sama. hi hi hi.] Nah, tadi ada kejadian ini.

Kejadian yang pertama. Dua shaf di depan saya ada tiga anak kecil yang mungkin masih SD. (Di depan saya shafnya kosong.) Yang di tengah berbicara dengan teman di sebelah kirinya ketika khatib sedang khutbah. Ngobrol. Temannya yang sebelah kanan akhirnya menegur; “sssttt maneh teh ulah ngobrol. batal siah!”  (Sunda: sssttt kamu jangan ngobrol. batal!)  Yang ditegur tidak terima. “Maneh oge batal! Ngomong!“. (Kamu juga batal karena ngomong”. “Maneh nu batal“. “Maneh” … saling tunjuk. Sampai akhirnya yang sebelah kiri juga nimbrung “sssttt”. he he he. Lucu aja. Jadi teringat kasus yang ada saat ini. Saling menyalahkan. ha ha ha. Seperti kanak-kanak saja. hi hi hi.

Kejadian kedua. Entah kenapa, kotak sumbangan (kencleng) datang dari sebelah kanan saya dan melewati baris shaf di depan saya. Padahal di situ ada anak kecil juga. Ketika saya mengisi kencleng, dia melirik terus karena kencleng akan saya teruskan ke sebelah kiri saya. Di tangannya saya lihat dia pegang uang. Eh. Maka kencleng saya teruskan ke dia (kanan depan) bukan ke kiri dulu. Maka dia memasukkan uangnya dengan susah payah. Rp. 5000,-. Ah, mungkin itu uang jajannya. Bagus juga anak ini. Tanpa dinyana, anak di depannya juga mau ngisi kencleng itu. Terlihat oleh saya, lembaran Rp. 50 ribu! Whoa. Malu saya. Ini anak kecil dengan entengnya memasukkan uang Rp 50 ribu. Sementara kita-kita ini memasukkan Rp. 2000,- saja terasa berat. Plak! Tamparan keras.

Jum’atan menjadi kurang khusyu karena saya mendapat dua pelajaran dari anak-anak ini. (Berusaha keras untuk mendengarkan isi khutbah; tentang pentingnya silaturahim.) Semoga Allah masih menerima shalat Jum’at saya ini. Amiiin.

Nonton Konser Badai Pasti Berlalu – Jogja

Tag

, , ,

Ini untuk ketiga kalinya saya nonton konser Badai Pasti Berlalu (Plus). Yang pertama, yang di Jakarta. Kemudian dilanjutkan yang di Bandung. Nah, yang di Jogja ini yang ketiga. Di antaranya ada yang di Surabaya dan Malang yang tidak sempat saya tonton. Sebelum yang di Jakarta itu juga sudah ada lagi katanya.

Nonton kali ini saya niatkan lebih banyak untuk potret memotret. Saya minta ijin ke mbak Tiwie agar diperbolehkan memotret. Saya dikasih ID supaya bisa blusukan. Yayyy.

Ke Jogja memang saya niatkan spesifik untuk nonton konser yang dilakukan tanggal 6 Desember November 2016. Itu hari Minggu malam. Wah. Karena saya berangkat dari Bandung dan pesawat dari Bandung adanya sore hari, maka saya berangkat sehari sebelumnya. Daripada nanti pesawat telat dan tidak bisa nonton. Lagian, saya mau lihat juga pas mereka checksound. Maka berangkatlah saya ke Jogja hari Sabtu. (Minggu pagi ada kesempatan jalan-jalan ke Prambanan dulu. hi hi hi.)

dsc_8612-yockie-epic-0001

Hari Minggu siang, saya mampir dulu ke Grand Pacific tempat acara akan dilangsungkan. Di sana sudah ada mas Yockie Suryo Prayogo dan band yang sedang checksound. Mulailah saya mencoba motret sana sini dengan kamera yang saya miliki (hanya Nikon D3100 saja). Saya sendiri tidak berani mengganggu keseriusan mereka. Jadi untuk menegursapa mas Yockie-pun tidak saya lakukan. Saya hanya sampai jam 3-an kalau tidak salah, karena saya mau pulang istirahat dulu bentar (karena tadi ke Prambanan).

Malam sebelum jam 7, saya sudah jalan dari hotel ke Grand Pacific. Hotel yang saya pilihpun yang dekat dengan venue supaya bisa jalan kaki. Sesampainya di sana penonton sudah mulai berdatangan, tetapi artis-artisnya belum ada. Ternyata hanya mas Kadri saja yang sudah ada di tempat. Saya beli kaos plus CD mas Kadri saja.

Nunggu-nggung, akhirnya juga datang para pemain dengan menggunakan bis. Lantas mereka berkumpul di ruang tunggu. (Potret-potret lagi.) Setelah siap, maka dilanjutkan dengan berdoa yang dipimpin oleh Keenan Nasution. Setelah itu jreng!

Maka sibuklah saya memotret sana sini sambil menikmati konsernya. (Jadi pengen beli kamera dan lensa yang lebih bagus lagi euy.)

Dari segi konser, kalau saya urutkan maka yang saya sukai secara musik adalah (1) yang di Jakarta, (2) di Bandung [karena saya jauh dari panggung], (3) yang di Jogja. Tapi kalau acara konsernya yang di Jogja yang lebih berkesan karena saya bisa kluyuran potret memotret. Ini baru pertama kalinya saya diberikan ijin motret konser. hi hi hi.

Oh ya, foto-foto konser ini ada di halaman Facebook saya. [nanti link menyusul]

Soto Jakarta

Tag

, , ,

Sebuah percakapan di restoran kemarin siang

Saya: mbak pesan Soto Jakarta
Pramusaji: ??? nggak ada, pak
Saya: habis?
Pramusaji: kita gak jual Soto Jakarta
Saya: lah. biasanya kan ada
Pramusaji: [bingung … tak lama kemudian, ting … nemu]
Pramusaji: Soto Betawi, maksudnya pak?
Saya: iya. itu … Betawi, Jakarta, sama saja kan? Satu ya.
Pramusaji ngeloyor. Dalam hatinya dia mungkin berkata, bapak satu ini perlu ditampol juga dengan nampan ini.

[Ini cerita fiktif saja, tapi nyaris terjadi. Serius lho. Saya pikir namanya Soto Jakarta.]

Menjauh Dari Spotlight

Tag

,

Ada beberapa orang yang bertanya kemana saja saya. Saya jawab, ada di sini. Hanya saja memang sudah lama saya tidak tertarik untuk muncul di berbagai acara seremonial. Tidak tertarik dengan spotlight. Dulu tidak, sekarang juga tidak. Kalau dulu mungkin banyak muncul karena terpaksa. Atau mungkin dulu karena masih (lebih) muda sehingga tidak terlalu memikirkan hal ini.

Sementara itu banyak orang yang justru mencari spotlight. Apapun dilakukan untuk mendapatkan popularitas. Jika perlu mengorbankan orang lain, korbankan! Saya, saya, dan saya. Itu saja yang ada di kepala mereka. Padahal boleh jadi spotlight yang ada bukanlah lampu sorot tetapi bara api yang dapat membakar mereka.

Ada satu hal lagi. Saya masih dapat mengerti (meski tidak sepakat) kalau yang mencari spotlight ini adalah anak muda, tetapi kalau orang yang sudah tua? Ah. Apa yang kau cari wahai manusia uzur?

Jadi saya ada dimana? Ada di belakang layar saja. Sesekali muncul di lingkungan yang terbatas saja, jika memang dibutuhkan. Ada ketentraman di sana.

Spotlight itu terlalu menyilaukan sehingga tidak dapat menampakkan apa yang sesungguhnya terjadi.

Parodi

Tag

, ,

Katanya orang Indonesia itu humoris. Punya sense of humor yang tinggi. Apa-apa – bahkan deritapun – dapat dijadi bahan lawakan. Guyonan. Bodoran.

Saat ini ada beberapa situs parodi yang (terlalu) dianggap serius oleh banyak orang. Jadinya banyak orang yang marah-marah. Mungkin situasi saat inilah yang  membuat banyak orang tidak dapat mengenali dan menghargai lawakan.

Tulisan ini pun tadinya mau saya buat ringan dan bahkan lucu. Eh, malah jadi serius. Tidak jadi tertawa.

Nampaknya saya harus ngarang parodi superhero lagi nih. hi hi hi. (Ini link ke Parodi Superhero (3))