Superhero Cyber

Superhero – di komik – muncul karena ketidakmampuan penegak hukum dalam menegakkan keadilan. Maka muncullah orang-orang swasta yang menegakkan hukum sendiri. Vigilante. Tentu saja dalam keadaan normal, hal ini tidak dibenarkan. Tapi, ini kan keadaan abnormal. Maka muncullah superhero.

Dunia maya – cyber – sama seperti dunia nyata. Penegak hukum masih tertatih-tatih dalam menegakkan keadilan di dunia maya. Maka semestinya muncul juga superhero dunia maya. Cyber vigilante.

Saat ini sudah ada beberapa cerita tentang superhero di dunia cyber. Baru-baru ini saya melihat ada film seri yang berjudul Mr. Robot. Saya baru melihat satu episode. Belum tahu episode selanjutnya. Mungkin ada film-film yang sejenis ini.

Sayangnya karakter superhero cyber ini belum dikembangkan secara lebih sempurna seperti halnya karakter para superhero di dunia komik (dan sekarang menjadi film). Nampaknya ini membutuhkan story teller kawakan untuk mengembangkannya.

Atau kita buat yuk? Kita kembangkan karakternya secara keroyokan. Kita jadikan sebuah proyek.


Pengunjung Mulai Mudik

Iseng-iseng saya mengamati statistik pengunjung blog ini. Ternyata terjadi penurunan. Ada dua kemungkinan. Pertama, saya kurang rajin menulis sehingga pengunjung juga kurang perlu rajin melihat. Atau, kebanyakan pengunjung mengakses blog ini dari kantor atau sekolah. Nah, sekarang adalah musimnya mudik. Maka ketika pengunjung mudik, statistikpun ikut mudik. hi hi hi.

Sebetulnya ini masa yang menarik. Ketika pengunjung sedang sepi, maka saya malah dapat bereksperimen menulis macem-macem. Toh yang membaca sedikit. he he he. Tujuan membuat blog ini kan bukan mencari popularitas, tetapi sebagai tempat saya untuk melakukan eksperimen dalam hal menulis.

Mau eksperimen apa ya? Hmmm…


Happy City Bandung

Setiap kota menghadapi masalah pertumbuhan penduduk tetapi infrastruktur – misal, jalan, transportasi publik – tidak bertambah. Atau, infrastruktur kalaupun bertambah, penambahannya kalah cepat dengan penambahan jumlah penduduk. Taman disingkirkan dan digantikan dengan jalan (yang mungkin juga bertumpuk). Mobil bertambah, jalan tetap. Kota dikuasai oleh kendaraan. Dan masih banyak “kemajuan” lain yang menyesatkan. Akibatnya kota menjadi kacau balau.

Ada beberapa insisatif untuk meningkatkan “kebagusan” sebuah kota, dengan definisi “kebagusan” yang berbeda-beda. Salah satu contoh yang paling banyak diambil adalah membuat smartcity. Membuat kota menjadi cerdas dengan memanfaatkan teknologi. Ada pendekatan lain yang jarang diambil orang, tetapi ternyata mulai mendapat perhatian, yaitu Happy City.

Pendekatan Happy City mendapatkan kesuksesan di Bogota. Pada awalnya mereka ingin mengejar ketinggalan kota mereka dengan membandingkan dan mengikuti kota-kota besar lain di dunia. Masalahnya, Bogota memiliki masalah yang berbeda. Pendapatan yang rendah, masalah kejahatan yang tinggi, dan seterusnya. Jika membandingkan diri dengan kota lain, maka akan terasa sangat ketinggalan. Pecundang. Akhirnya mereka menggunakan pendekatan lain, yaitu mereka mengembangkan hal-hal yang membuat mereka senang, seperti misalnya membuat taman, public transport, bahkan mencoba membatasi jumlah kendaraan (semacam car free day) pada hari tertentu, dan seterusnya. Hasilnya, mereka happy.

Di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, nampaknya Bandung mengambil pendekatan yang serupa. Taman-taman yang lama mulai diperbaiki dan ada yang baru dibuat. Alun-alun dipercantik. Sekarang jadi ajang orang berpotret (selfie). Daerah sekitar Museum Asia Afrika dan jalan Braga juga semakin baik. Sekarang di Bandung adanya banyak taman dan perbaikan kosmetik kota ini membuat warga menjadi lebih happy. Saya ingin menuliskan lebih banyak tentang kebagusan kota Bandung, tetapi belum sempat. Lagi ada kejar tayang pekerjaan. :) Intinya adalah pendekatan Happy City Bandung nampaknya mulai menjadi kenyataan. Saya bahagia.

IMG_7416 alun2 bdg 1000

[Alun-alun Bandung yang baru]

Kalau kita telaah lebih mendalam lagi, sebetulnya yang kita inginkan kita kebahagiaan (happy) atau kecerdasan (smart). Banyak tempat (atau lebih tepatnya warganya) yang terlihat smart tetapi orangnya tidak happy. Sebagai contoh, indeks prestasi siswa Indonesia (matematika, misalnya) rendah di bandingkan Singapura, tetapi kebahagiaan siswa Indonesia jauh lebih tinggi dari yang lain. Bukan maksud saya kita tidak berusaha untuk menjadi lebih cerdas, itu selalu perlu, tetapi kita jangan melupakan kebahagiaan.

Hidup Happy City Bandung!

Link lain:


Kemampuan Membaca Instruksi

Ada cerita lucu, sebuah perusahaan menawarkan pekerjaan. Di dalam tawaran pekerjaannya itu disebutkan bahwa yang berminat harap membalas melalui email karena komunikasi akan dilakukan melalui email tertentu (disebutkan alamat emailnya). Tidak ada pertemuan fisik. Bagi yang tidak dapat mengerti instruksi ini tidak perlu melamar. Ternyata tidak sedikit yang menanyakan surat lamaran mau diantar (secara fisik) ke alamat mana. he he he. Ada juga yang tanya, diemailkan kemana? Lah, itu ada di instruksinya.

Anda punya contoh sejenis?

Hal semacam ini sering saya temui dengan konteks yang berbeda. Sampai sekarang! (curcol)

Saya tidak tahu apakah ini disebabkan banyak orang yang terburu-buru membaca instruksi atau tidak dapat membaca instruksi. Atau, lebih parah lagi, tidak bisa membaca. Hadoh.

Sebetulnya ada dugaan lain, yaitu banyak orang yang malas! Daripada repot-repot baca dan mengerti, lebih baik tanya saja langsung. Ini budaya minta disuapi. Ya ampun. Yang ini harus panjang lagi solusinya.


Bukber: Buka Puasa Bersama

Kemarin (dan mungkin saat ini juga) jalan-jalan di kota Bandung padat. Macet dimana-mana. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya acara buka puasa bersama – bukber. Nampaknya bukber sudah menjadi tradisi, setidaknya di kota Bandung. Bagaimana di tempat Anda? Banyak acara bukber juga?

Yang mengadakan bukber biasanya adalah alumni kampus, SMA/SMK, SMP, SD, dan organisasi-organisasi lainnya juga. Pokoknya apapun kumpulannya, ada bukber aja. Mangan ora mangan, asal ngumpul. Eh, mangan ngumpul ding. he he he.

Waktu sekarang ini memang yang paling pas. Weekend sebelum orang-orang mudik ke kampung halaman masing-masing. Minggu depan sudah banyak yang tidak bisa ikutan bukber.

Jadi males mau ke luar rumah. Pasti macet.

Oh ya, Jum’at kemarin kami mengadakan bukber di kantor. :)  Yang ini mestinya tidak bikin macet.

DSC_6738 bukber crop


Bongkar Gitar

Senar gitar putus. Terpaksa beli senar satu set. Sekalian waktunya untuk ganti seluruh senar. Bongkar gitar dulu.

IMG_8812 bongkar gitar

Ternyata salah satu masalahnya adalah mencabut pin yang digunakan untuk mengunci senar. Mungkin karena sudah lama belum ganti senar dan memang dia harus tertanam dengan baik sehingga sukar untuk dibukanya. Takut juga saya membukanya. Lihat-lihat dulu di internet tentang cara membukanya. Katanya pakai tang, tapi saya takut malah tang itu merusak pin-nya.

IMG_8815 ungkit pin 1000

Akhirnya saya putuskan untung mengungkit pin tersebut dengan obeng kecil. Eh, ternyata berhasil dengan mudah. (Lihat foto di atas.)

Sekalian juga waktunya untuk membersihkan kotoran (dekil) yang melekat di fretboard. Bingung juga pakai cairan apa. Takutnya malah ngerusak catnya. Akhirnya saya pakai cairan yang biasa digunakan untuk membersihkan keyboard komputer. Lancar jaya.

Terakhir, pasang senar lagi. Saya beli senar yang ukurannya 10. Eh, ternyata terlalu keras. Saya lupa. Kayaknya dahulu saya menggunakan senar yang ukurannya 9. Lebih kecil (light, enteng) dan lebih nyaman di jari. (Tapi jadi tidak terbiasa pakai gitar orang yang umumnya menggunakan ukuran 10.) Akhirnya terpaksa gitar distem turun satu kunci. Beres.

Jreng!


Mencari Talenta

Sebuah pesan masuk ke ponsel saya:

Pak Budi, apakah punya orang yang dapat mendesain rangkaian dengan menggunakan FPGA untuk sebuah proyek. Selain itu butuh orang juga untuk membuat firmware-nya.

Selang berapa lama, ada pesan lain lagi:

Pak, saya butuh orang yang bisa python untuk mengakses data dari database (SQL) kemudian mem-push ke sebuah sistem lainnya.

Pesan-pesan semacam ini sering hadir di ponsel saya. Mungkin karena saya mengajar di ITB sehingga dipikirnya dekat dengan sumber daya manusia yang handal. Kenyataannya adalah susah untuk mendapatkan SDM, talenta, yang dibutuhkan tersebut.

Lulusan S1 dari perguruan tinggi sekarang entah pada lari kemana. Dugaan saya, sebagian melanjutkan pendidikan ke S2. Sebagian lagi bercita-cita menjadi manager. Maka tawaran pekerjaan seperti yang ditampilkan di atas sulit untuk dipenuhi. Bukan hanya ITB saja yang tidak dapat memenuhi itu, perguruan tinggi lainnya, bahkan politeknik dan SMK-pun sulit menghasilkan talenta yang dimaksudkan.

Pendidikan yang ada memang tidak mampu menghasilkan talenta yang siap digunakan. Waktu yang singat dan pelajaran yang mungkin dipaksakan (dijejalkan) kepada siswa tersebut membuat lulusannya hanya memahami kulit-kulit pelajaran saja. (Maha)siswa pun jarang yang mau belajar sendiri di luar apa yang sudah diajarkan di kelas. Mereka sudah puas jika lulus dari mata kuliah/pelajaran tersebut.

Maka, pencarian talenta masih berlanjut.

Oh ya, tawaran yang pertama, yang FPGA itu, masih terbuka.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.431 pengikut lainnya.