Kurang Bacaan Online Yang Menarik

Akhir-akhir ini saya merasa kekurangan bacaan online yang menarik. Bacaan online saya cari ketika saya tidak punya akses ke buku (konvensional).Ya terpaksa cari bacaan online.

Kalau dahulu, saya masih mengakses situs berita semacam detik.com dan sejenisnya. Sekarang tidak lagi. Ada banyak alasannya. Yang pertama adalah cara menampilkan berita di situs itu sekarang dipotong-potong jadi beberapa halaman. Mungkin ini untuk membuat traffic semu? Sebagai contoh, yang dahulunya dapat dibaca 1 halaman sekarang harus mengklik 3 atau 4 kali untuk membaca keseluruhan berita. Mungkin dengan cara begini di log tercatat 4 kali akses. Padahal ini semu.

Berita yang ada di situs-situs itu juga sekarang sering tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Salah mengutip. Atau penulisannya tidak menarik. Hambar. Data saja. Seperti tidak ada wartawan yang bagus saja. Maaf.

Media sosial juga dahulu lebih menarik karena orang menuliskan berbagai hal secara kreatif. Cara masing-masing. Kalau sekarang, kebanyakan hanya melakukan re-share, re-post, re-tweet, dan re-re lainnya. Sekali-sekali tidak mengapa, tetapi kalau sebagian besar orang melakukan itu menjadi membosankan dan mengesalkan, Tidak ada kreativitas lagi.

Ubak-ubek, ke sana, ke sini. Gak nemu juga. Akhirnya ya terpaksa ngeblog seperti. Biarpun keluh kesah, ini tetap orisinal. he he he. (Padahal sesungguhnya ini bertentangan dengan prinsip yang saya anut, yaitu menuliskan hal yang positif-positif.)


(Halal Bihalal) Start Up Bandung

Jum’at kemarin (7 Agustus 2015) ada pertemuan para Start Up Bandung (#startupBDG) di Pendopo Walikota Bandung yang di Alun-alun itu. Acaranya mulai dari pukul 17:00 sore sampai pukul 21:00. Saya hadir di sana karena ingin tahu juga komunitas para Start Up di Bandung ini.

Yang hadir lumayan banyak juga. Dengar-dengar ada sekitar 90-an start up di Bandung. Ada beberapa booth juga di sana.

11850529_10153050265241526_1757808277355791290_o

Pada bagian awal ada presentasi dari Shinta Bubu. Sayang sekali pas lagi presentasi ini saya lagi Maghrib. Jadi gak sempat ambil foto2nya. Kemudian ada presentasi dari Gibran (Cybreed). Dia menceritakan perjalanan dia menjadi entrepreneur. Gibran mah lucu. he he he.

11017551_10153051101646526_7933770436519892436_o

Kemudian pak Walikota – Ridwan Kamil – juga bercerita tentang apa-apa yang telah dilakukannya dalam memberantas birokrasi dan korupsi. Selain itu pak wali juga meminta agar kita semua menjaga agar korupsi tidak bangkit lagi.

11802785_10153051103771526_5551957318659660778_o

Kemudian ada donasi aplikasi “Soca Bandung” yang dapat digunakan untuk melaporkan hal-hal di kota Bandung dan juga untuk mempromosikan hal-hal yang bagusnya. Presentasi aplikasi ini dilakukan oleh Mico Wendy (Konsep.net). Aplikasi Soca Bandung ini merupakan kontribusi dari Alumni ITB 1974, yang dalam acara ini diwakili oleh pak Cahyana.

11794071_10153051135361526_5889453488947255508_o

Kemudian pada bagian akhir ada presentasi dari Softbank, yang banyak mendanai berbagai start ups. Wakil dari Softbank ini cukup kagum juga dengan banyaknya start ups di Bandung. Nah. Mari kita tunjukkan bahwa Bandung itu keren.

11181833_10153051136411526_8456882668350622511_o(1)

Pokoknya acaranya asyik lah. Sampai ketemu di acara-acara start up Bandung lainnya.

[Detail dari acara ini akan saya update lagi. Ini posting dulu sebelum basi. hi hi hi.]


Fakta Khayalan

Bermula dari fakta khayalan
Muncul cerita rekaan
Membakar emosi kerumunan

Tak sedikitpun kau menyesal
Telah membuat orang kesal
Membuat kebencian masal

Jangan tersinggung kawan
Karena ini hanya fakta khayalan


Tidak Suka Membaca

Saya suka membaca, tetapi mengapa judul dari tulisan ini adalah tidak suka membaca? Sebenarnya saya juga tidak suka membaca. Lho? Kok? Yang tidak suka saya baca adalah tulisan saya sendiri. Jadi saya suka membaca tulisan orang lain, tetapi saya tidak suka membaca tulisan sendiri.

Saya tidak tahu apa alasannya. Seringnya saya merasa tulisan saya kok hanya segitu saja. Jelek. Merendahkan diri sendiri. he he he. Mungkin saya terlalu berat dalam mengkritik diri sendiri. Entahlah. Yang pasti, saya tidak suka membaca tulisan saya sendiri. Titik.

Lucunya, saya suka menulis. Nah lho. Akibatnya, yang saya lakukan adalah menulis dan kemudian melupakannya.


Memaksa Untuk Berjalan

Biasanya orang mencari tempat parkir yang paling dekat dengan tempat yang dituju. Kalau di kampus, orang pasti mencari yang dekat dengan kantornya atau tempat mengajar.  Khusus untuk kampus, saya memilih berbeda.

Di kampus ITB saya memilih untuk parkir di daerah Selatan sementara kantor saya di bagian paling Utara dari kampus ini. Alasan utamanya karena di bagian Selatan biasanya lebih banyak tersedia tempat parkir. Kalau mau, saya bisa memaksakan diri mencari tempat di bagian Utara, tetapi saya memilih di bagian Selatan. Ini juga untuk memaksa saya jalan. Berolah raga. Lumayanlan. Jarak dari tempat parkir ke kantor lebih sedikit dari 400 meter. Pulang pergi, 800 meter. Kalau mau ditambah sedikit menjadi 1 Km. Lumayanlah.

IMG_9046 nike parkir

Untungnya udara Bandung masih mendukung. Pagi-pagi masih dingin. Sejuk. Asyik untuk jalan. Gembira. Sementara itu ada banyak orang yang marah-marah karena tidak mendapatkan tempat parkir yang super dekat dengan kantornya. Hi hi hi.


Dilarang Beropini!

Pemanfaatan teknologi informasi sekarang membuat orang menjadi mudah untuk mengeluarkan pendapat. Opini dapat disalurkan melalui blog atau bahkan melalui status facebook dan tweet di twitter. (Saya pribadi agak sedikit alergi dengan tweet di twitter karena jadinya menggampangkan topik yang dibahas.)

Yang menjadi masalah adalah seringkali orang yang mengeluarkan opini ini bukanlah orang yang kopeten di bidangnya. Sebagai contoh, saya pernah diminta untuk mengeluarkan pendapat mengenai siapa yang akan menjadi juara dunia sepak bola. ha ha ha. Memangnya saya kredibel gitu untuk melakukan analisis sepak bola dunia? Tidak! Ya opini saya akan ngawur. Penonton bola seperti saya lebih sok tahu daripada orang yang memang menggeluti bidang sepak bola.

Di dunia media sosial, banyak orang yang mudah sekali mengeluarkan opini.  Yang ini malah lebih banyak lagi yang tidak kompeten. Sayangnya banyak pembaca yang kemudian berpikir bahwa opini tersebut valid, seperti diutarakan oleh pakarnya. Kemudian opini ngawur ini diteruskan ke berbagai teman. Tambah ngawur lagi. Tidak ada upaya untuk mencoba mencari tahu hal yang sesungguhnya. Malaslah.

Lantas, apa orang tidak boleh beropini? Kan itu hak saya.

Ya boleh juga sih beropini sesukannya, tetapi jangan marah kalau ditertawakan orang. Siap tidak? Yang ini biasanya tidak siap. Tidak mau ditertawakan. Nah. Kalau Anda merasa berhak untuk membuat opini ngawur, maka orang juga berhak untuk menertawakan Anda.

Mari kita tertawa … ha ha ha.


Pengalihan Dana Penelitian

Baru-baru ini ada keributan soal pengalihan dana penelitian dari perguruan tinggi (ke industri). Ya, ya, ya. Semua pandai berteori tetapi jarang (atau bahkan tidak ada?) dari mereka yang sesungguhnya melakukan penelitian sehingga mengetahui apa yang terjadi dengan penelitian di Indonesia. Namun begitu yang dibicarakan adalah masalah uang, semua lantas merasa berkepentingan. hi hi hi.

Perguruan tinggi dituntut untuk melakukan penelitian. Harus. Ini salah satu tri dharma perguruan tinggi. Lantas dananya mau diberhentikan? Dan kemudian semua pihak marah-marah kalau ranking penelitian (dan hasilnya dalam bentuk makalah) kalah dari Malaysia? Ha ha ha.

Begini saja. Penelitian harus selesai bulan November. Ini sudah bulan Agustus. Dana penelitian belum turun. Lantas peneliti mau hidup dari mana? Bagaimana dengan keluarganya? Jangan salahkan para peneliti yang akhirnya hijrah ke negeri lain. Lantas kita membicara dana penelitian yang tidak kunjung muncul? Ini sih berebut pepesan kosong.

Saya? Ah saya sih masih termasuk orang gila yang masih mau melakukan penelitian di Indonesia. Bagaimana lagi, wong jiwa saya adalah jiwa peneliti. Saya melakukan penelitian bukan untuk mencari tepuk tangan, tetapi karena memang harus meneliti. Dengan sumber daya yang terbatas, Alhamdulillah, saya masih masuk ke dalam ranking peneliti dari Indonesia.

Mohon maaf kalau tulisan kali ini isinya adalah curhatan (seorang peneliti).


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.458 pengikut lainnya.