Teknik Mengajari Seseorang

Pada suatu hari Hasan dan Husein sedang berada di masjid. Mereka melihat seorang tua yang sedang berwudhu. Diperhatikan, cara berwudhunya salah. Kemudian orang tua ini melakukan shalat, tata caranya pun shalat. Eh, salaaahhh. Hasan dan Husein ingin mengajari orang tua ini, tetapi mereka masih terlalu muda. Jika mereka menegur dan mengajari, kemungkinan besar orang tua ini akan marah dan tidak mau terima. Jadi harus bagaimana?

Mereka berdua akhirnya mencari cara yang lebih baik. Mereka pura-pura bertengkar tentang tata cara wudhu dan shalat mereka di depan sang orang tua tersebut. Mereka kemudian pura-pura minta tolong kepada orang tua tersebut untuk memberitahu mereka cara wudhu (dan shalat) mana yang lebih benar. Orang tua tersebut memberi tahu tata cara wudhu dan shalat yang benar. Ah, dia teringat kembali tata caranya yang benar. Pada saat yang sama dia tidak dipermalukan.

Ini adalah salah satu teknik untuk mengajari seseorang. Ada kalanya ego seseorang terlalu besar untuk diberitahu bahwa dia salah. Jika kita langung mengatakan bahwa Anda salah, ini yang benar maka kemungkinan besar dia tidak akan terima. Dia akan merasa malu dan akan mempertahankan pendapatnya (yang salah). Akhirnya tujuan untuk mengajari yang benar menjadi tidak tercapai. Ingat, tujuannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa kita benar. Tidak penting “kita”nya. Jangan karena kita merasa ingin dikatakan benar maka kita memaksakan diri. Tahanlah ego.

Jadi ketika saya bertanya, mungkin sebetulnya saya sedang mengajari Anda. hi hi hi.

Iklan

Data Entry

Mari kita bahas (lagi) tentag dota entry, eh data entry. Supaya lebih jelas, saya akan ambilkan sebuah contoh kasus pemilihan umum di sebuah negara antah berantah.

Seorang operator data entry menemukan form (borang) dengan data seperti berikut:

calon #1 = 20
calon #2 = 20
calon #3 = 20
total suara = 80

Jika kita perhatikan, maka jumlah total suara tidak sama dengan jumlah yang seharunya. Jumlah seharusnya adalah 20+20+20 = 60. Jika Anda operator data entry tersebut, apa yang Anda lakukan?
(a) perbaiki data;
(b) masukkan (entry) data persis seperti itu.

Misalnya Anda berniat untuk memperbaiki data tersebut. Apa yang akan Anda perbaiki? Misal Anda ambil inisiatif mengubah jumlah total suara. Oleh Anda total suara diganti menjadi 60. Jreng! Anda masukkan data dan ternyata keputusan Anda itu salah! Maka Anda (dan institusi tempat Anda bekerja) langsung mendapat tuduhan menghilangkan suara! Ribut.

Kenapa keputusan Anda salah? Karena ternyata ada beberapa kemungkinan kesalahan. Kemungkinan pertama, yang salah adalah data untuk calon #3. Seharusnya data yang benar adalah “calon #3 = 40“. Maka jumlah total suara sudah benar, 80. Nah lho.

Kemungkinan tersebut bukan satu-satunya kemungkinan. Bisa jadi yang salah adalah data di calon #1 atau calon #2 atau keduanya atau ketiganya. Misalnya, bisa jadi datanya harusnya “calon #2 = 30” dan “calon #3 = 30“. Dan seterusnya. Paham maksud saya kan?

Ok. Cara yang paling aman adalah data dimasukkan APA ADANYA. As is. Pilihan (b). Sebagai seorang operator, Anda memasukkan data apa adanya. Seperti mesin scanner saja. Namun form ini diberi tanda (flag, warning) bahwa ada masalah di dalamnya. Tolong seseorang (manusia) melakukan verifikasi ulang.

Nah, inilah yang terjadi pada sistem perhitungan suara di Pilpres 2019. Itulah sebabnya terlihat bahwa sistem seperti tidak melakukan perhitungan, padahal dia melakukan perhitungan tetapi untuk jumlah yang salah ini maka aplikasi akan meminta perhatian seorang pemeriksa.

Ada yang berkomentar juga, kalau begitu seharusnya aplikasi tidak mau menerima data yang salah tersebut. Data yang jumlahnya totalnya salah, misalnya, jangan dimasukkan. Lah, jika demikian maka data itu mau diapakan dibuang? Ini malah bermasalah. Seolah-olah operator melakukan kecurangan dengan membuang data. Malah akan lebih bermasalah lagi. Tuduhannya malah lebih berat lagi. Jadi sudah benar bahwa data tetap dimasukkan tetapi diberi tanda (flag, warning).

Sudah kepanjangan ah.

Banyak

Banyak orang senang menggunakan kata “banyak“. Lah, kalimat barusan juga. ha ha ha. Eh, tapi serius sedikit. Beberapa kali saya menguji mahasiswa dan menanyakan berapa kali pengujian yang sudah dia lakukan. Jawabannya adalah “banyak”. Maksudnya? Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata dia melakukan percobaannya sepuluh kali. Wah, itu belum “banyak” menurut saya. Kalau 40 itu banyak, menurut saya. (sttt … jangan ditanya kenapa ya. hi hi hi.)

Kadang kata “banyak” cukup untuk menjelaskan sesuatu, tetapi ketika kita berbicara angka – kuantitatif – kata “banyak” itu harus digantikan dengan sebuah angka. 3? 7? 73?

Angka 12 dapat disebut banyak kalau terkait dengan jumlah anak. Banyak itu. Angka 12 disebut sedikit kalau dia menyatakan jumlah penduduk sebuah kota. Sedikit sekali, bahkan.

Seringkali kita tidak dapat menentukan angka persisnya, tetapi yang lebih penting adalah “ball of park”-nya. Apakah puluhan? Ratusan? Ribuan? Jutaan? Jadi ketika Anda menyatakan “banyak”, sebutkan juga perkiraan rentangnya.

7? 15? 75? 300? 2500? 64.000? 120.000? 1.000.000? 1 Milyar?

Desain Sistem Informasi

Mumpung sedang ramai dibahas tentang web KPU, ini adalah sedikit corat-coret dari saya. Disclaimer dulu. Saya tidak terkait / terlibat dengan KPU saat ini, sehingga apa yang saya tuliskan saat ini tidak terkait dengan KPU.

Jika saya diminta untuk mendesain sebuah sistem informasi yang dapat diakses dari internet, maka desain saya kemungkinan seperti gambar di bawah ini. Namun, sebelumnya harus ada asumsi-asumsi dahulu. Sistem yang saya maksudkan bukan sistem yang real-time, dalam artian kita memasukkan sesuatu langsung tampil responnya. Sistem internet banking itu saya masukkan ke kategori “real-time”. Soalnya ketika kita melakukan transaksi, kita kan ingin melihat hasilnya segera bukan 10 menit lagi. Sementara itu sistem tabulasi hasil pemilu, misalnya, tidak harus demikian. Data dimasukkan dan hasil tabulasi boleh 5 menit lagi dikeluarkan (secara berkala).

Kita mulai dari agak kanan bawah, ke bagian aplikasi data entry. Aplikasi ini terhubung dengan sebuah database (db). Aplikasi ini diletakkan di belakang sebuah firewall dan tidak dapat diakses langsung oleh operator (user / pengguna).

Operator mengakses aplikasi melalui internet dengan menggunakan VPN. Operator terhubung ke sebuah “application gateway” yang merupakan proxy untuk aplikasi sesungguhnya. Data yang dimasukkan (entry) oleh operator akan diterima oleh aplikasi proxy dan diteruskan ke aplikasi sesungguhnya. Pada proxy ini dapat dilakukan proses perlindungan, verifikasi (terhadap kemungkinan serangan pada tingkat aplikas), sanitasi input, dan seterusnya. Data yang sudah disanitasi ini kemudian diteruskan ke aplikasi data entry sesungguhnya yang kemudian memasukkan data tersebut ke dalam database (db).

Database (db) ini kemudian dipindahkan ke database satunya lagi yang berada di bagian paling kanan bawah (ah, seharusnya pada gambar tersebut saya beri nomor ya). Dimungkinkan proses koreksi, verifikasi, dan proses-proses lainnya terhadap data. Data dalam database inilah yang kemudian dipakai untuk perhitungan atau ditambilkan. Data dalam bentuk report dapat dihasilkan oleh proses perhitungan. (Biasanya hasilnya dibuat dalam bentuk static agar nanti mudah disajikan dan menghindari penyerangan di tingkat aplikasi).

Hasil tabulasi ini (halaman web statik) dilemparkan ke application gateway (sebelah kiri, harusnya pakai nomor juga). Application gateway inilah yang mendistribusikan hasil ke web (server) publik, ke SMS gateway, ke fax, ke TV, dan seterusnya. Update distribusi ini dapat dilakukan berkala. Misal untuk web dapat dilakukan setiap 5 menit sekali.

Publik mengakses hasil di web (server) publik yang berisi data statik yang diupdate setiap 5 menit sekali. Jika web ini diretas (hacked) – amit-amit – maka dalam waktu 5 menit, hasilnya akan diperbaiki lagi. Otomatis. ha ha ha.

Demikianlah corat-coret singkat saya.

[Catatan: diagram saya sederhanakan. Ada banyak hal yang tidak saya tampilkan, misalnya IDS, NTP, log server, SIEM, monitoring, redundansi, dll.]

Untuk aplikasi. Nanti ya. Saya mau ngajar dulu.

Update: versi video dari tulisan ini sudah tersedia di YouTube.

Sistem informasi (berbasis) Internet


Menghadapi Orang Kalah dan Marah

Kalah itu tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang senang kalau kalah. Kalau kalah pasti kesel. Maunya marah-marah. Nah bagaimana menghadapi orang yang kalah dan marah ini?

Misalnya Anda bermain sepak bola. Tim Anda menang (dan tentunya tim satunya kalah). Apa yang Anda lakukan? Melakukan selebrasi sah-sah saja, tetapi kalau berlebihan? Priiiit. Kartu kuning.

Apa yang Anda lakukan melihat lawan Anda yang terduduk. Menangis. Bahkan marah?

Jika Anda berjalan ke depannya dan mengatakan “saya menang, kamu kalah”, apa yang akan terjadi? Berantemlah jadinya. Memang apa yang Anda katakan itu adalah fakta, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat.

Jadi apa yang Anda lakukan? Berempati. Pahami bahwa lawan Anda sedang bersedih (dan bahkan marah). Rangkullah mereka. Bantulah mereka untuk melewati kegalauan ini. Give them comforts.

Sportif!


Pemilu Yang Dapat Diverifikasi

Mari kita bahas tentang electronic voting (e-voting). Perkembangan teknologi informasi memungkinkan kita untuk melakukan berbagai aktivitas secara elektronik. Demikian pula, pemilihan umum akan dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi teknologi informasi. Tinggal tunggu waktu saja.

Salah satu masalah yang mengganjal mengapa orang-orang belum mau menggunakan e-voting adalah masalah keamanannya (security). Ternyata ini masih menjadi ketakutan utama. Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan keamanan dari berbagai e-voting. Namun fokus utama dari kebanyakan penelitian ini adalah pada aspek kerahasiaannya saja. Anonimity. Memang ini adalah salah satu faktor utama dari pemilu. Di Indonesia, ini menjadi bagian dari LUBER; Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia.

Salah satu aspek lagi yang mengganjal adalah bagaimana kita dapat memastikan bahwa suara kita sampai ke pusat dan tidak berubah. Verifiability. Masalahnya adalah kita juga tidak ingin orang lain tahu. Ini ternyata susah. Mau keduanya: anonimity & verifiability.

Ini adalah fokus utama dari penelitian mahasiswa S3 saya, pak Teguh. Penelitian masih berlangsung. Nanti jika penelitian sudah selesai, disertasinya dapat diunduh.

Harapan kami adalah para pemilih dapat menguji apakah suaranya yang dihitung di pusat perhitungan (kalau di Indonesia, KPU) sudah benar. Hal ini mudah-mudahan dapat membuat masyarakat dapat menerima e-voting.

Data Entry Pemilu 1999

Mumpung sedang ramai dibahas tentang “lambatnya” data masuk dari hasil Pemilu 2019 ini, saya ingin cerita pengalaman 20 tahun yang lalu. Iya, 20 tahun yang lalu ketika Pemilu 1999. Mungkin banyak yang belum lahir ya tahun segitu?

Pada tahun 1999, komputer dan internet akan digunakan sebagai bagian dari penyampaian informasi data pemilu. Perlu diingat – sekali lagi, perlu diingat – bahwa hasil pemilu yang sah adalah hasil perhitungan manual. Sampai sekarang masih demikian. Tetapi kami ingin penampilan yang cepat ini untuk menjadi kendali (control) agar penyelenggara (KPU) tetap netral dan kesalahan-kesalahan dapat dihindari / dikurangi. Pada waktu itu ada banyak partai politik dan tingkat kepercayaan satu sama lainnya juga tidak terlalu tinggi. Jadi harus ada sebuah cara agar mereka dapat memantau. Maka penggunaan teknologi informasi dalam pemilu sebagai alat bantu sangat disetujui oleh semuanya.

Salah satu sumber utama dalam kesalahan adalah kesalahan dalam memasukkan data ke sistem. Kesalahan pada data entry. Begini, jika kita memasukkan data dalam bentuk tabel ke komputer – misal ke spreadsheet – maka pekerjaan ini terlihat mudah. Iya, jika yang kita masukkan datanya sedikit. Kalau misalnya kita diminta untuk memasukkan data *SEHARIAN*, dapat dijamin pasti ada kesalahan. Maklum, yang namanya manusia pasti ada lelahnya.

Itu baru kesalahan oleh satu orang manusia. Ketika kita berbicara ribuan orang yang melakukan data entry, maka dapat dibayangkan jumlah kesalahan yang dapat terjadi.

Scale matters!

Kami mencoba mencari solusi-solusi yang dapat membantu memudahkan data entry tersebut. Salah satunya adalah dengan menggunakan scanner. Kami sempat kontak berbagai perusahaan pembuat scanner di dunia. Ya, skala dunia. Ternyata, pada waktu itu, scanner yang memiliki kecepatan tinggi (high speed) dan tingkat akurasinya tinggi harganya mahal dan tidak bisa di-deliver dalam waktu singkat. Saya lupa lagi tingkat akurasinya berapa, tetapi sebetulnya masih belum memuaskan. Ini juga terkait dengan borang (form) yang akan di-scan. Jadi solusi scanner terpaksa lewat.

Kemudian kami sempat pula mendesain borang (form) untuk memasukkan data tersebut. Form yang dibuat ditujukan untuk mengurangi dan mendeteksi kesalahan. Pinjam ide dari pencatatan keuangan. Jumlah ke kanan dan ke bawah nantinya kalau dijumlahkan harus sama. Ternyata form-nya menjadi kompleks. Kebayang kalau ini harus dikerjakan oleh para petugas di lapangan. Padahal kami sudah berusaha untuk membuatnya lebih mudah. Maksimal hanya butuh kalkulator. Tapi tetap saja ini masih kurang masuk akal. Pendekatan ini berhenti juga.

Berikutnya lagi adalah mencari orang-orang yang terampil dalam memasukkan data. Ide yang muncul adalah bagaimana jika menggunakan operator-operator yang ada di bank? Ini ide keren. Pertama, mereka sudah terbiasa menggunakan komputer dan sudah terbiasa melakukan data entry. Kedua, bank-bank sudah terhubung dengan jaringan, bukan internet tetapi SISKOHAT (sistem informasi untuk penyelenggaraan haji). Jadi tidak perlu tarik jaringan sendiri. Ingat ini 20 tahun yang lalu ketika internet masih belum tersedia dimana-mana. Handphone belum ada. ha ha ha. Bank ada dimana-mana. Ketiga, kalau pegawai bank ini nakal maka bisa ada sanksi dipecat sehingga ada kendali. (Ditambah lagi ada SOP – standard operating procedure – bahwa panitia pemilu melihat pegawai bank ini melakukan data entry). Keempat, jaringan SIKOHAT ini adalah jaringan antar bank yang bukan internet, sehingga kalau mau menyerang harus menjadi bagian dari jaringan bank ini. Jauh lebih aman daripada internet. Maka ide ini dilaksanakan.

Hasilnya, tanpa banyak orang yang mengetahui, maka data pemilu dapat diproses lebih cepat dari sebelumnya. Demikian pula, banyak orang dapat melihat, memantau, dan mengawasi. (Soal penampilan di web, ceritanya akan menyusul ya.)

Ini hanya sedikit cerita tentang data entry. Masih ada cerita-cerita lainnya, tetapi sudah kepanjangan. Nanti kapan-kapan diceritakan lagi. Semoga ini dapat memberikan pencerahan bahwa data entry itu tidak mudah. Sampai sekarang ini masih tetap menjadi masalah. Beneran.