Membaca Buku

Anak muda Indonesia jaman sekarang nampaknya tidak suka membaca buku. Padahal jaman sekarang sudah ada eBooks. Semestinya tidak ada lagi hambatan untuk membaca buku. Kalau jaman dahulu kan harus cari buku fisik. Kalau pesan belipun harus nunggu lama dan mahal. Mungkin justru kemudahan itu yang membuat orang menjadi malas?

Saya sudah mencoba menghimbau dan menyindir mahasiswa saya supaya gemar membaca. Hasilnya masih nol besar. Mungkin saya harus memberikan tugas baca kepada mereka. Kemudian harus disertakan juga foto halaman yang mereka baca (atau malah sekalian foto mereka membaca ha ha ha) sebagai bukti. Hi hi hi.

Masalahnya, tanpa membaca ilmu kita rendah sekali. Sudah ilmu rendah, banyak komentar pula (di media sosial misalnya). ha ha ha. Jadinya kacau balau.

Baca, baca, dan baca!

Neovim: editor “baru”

Tahun 80-an saya harus bekerja mengelola sistem yang berbasis Unix, lebih tepatnya SunOS. Mulailah saya harus belajar menggunakan editor teks yang bernama “vi”. Sebetulnya selain editor vi itu ada editor lain yang berbasis GUI, tetapi masalahnya editor ini hanya ada di sistem SunOS. Sementara itu saya harus mengelola sistem lain yang menggunakan sistem operasi lain (seperti HP-UX, AIX, DOS, dan seterusnya). Akhirnya saya putuskan untuk menguasai editor vi. Sampai sekarang saya masih menggunakan editor vi sebagai editor utama saya.

Pemilihan editor vi pada masa itu adalah karena di semua sistem operasi (kecuali di Mainframe) ada editor itu. Bahkan untuk sistem operasi DOS pun ada variasi dari vi. Ketika kita menguasai vi maka kita dapat hidup di lingkungan apa saja.

Berbicara tentang variasi vi, ada beberapa variasi. Yang paling terkenal adalah vim. Maka, sekarang orang-orang kenalnya adalah vim.

Baru-baru ini saya menemukan editor “Neovim”, yaitu versi terbaru dari implementasi vim. (Ada banyak hal yang diperbaharui pada editor ini.) Saya pasang di komputer Linux dan Mac OS X saya. Ngoprek deh. Mengaktifkan syntax highlight dulu ah.

Hal yang pertama saya tambahkan adalah “package manager” untuk menambahkan plugin di neovim itu. Ada banyak package manager. Yang saya gunakan saat ini adalah vim-plug. Dengan vim-plug ini saya kemudian memasang color scheme Oceanic-Next yang mirip dengan warna yang ada di editor Sublime. Hasilnya seperti ini.

neovim

(Cara memasang vim-plug dan Oceanic-Next theme itu yang akan saya tuliskan di lain kesempatan. Instruksi yang ada agak berbeda.)

Ngoprek ah …

Fakir Bandwidth

Ini tulisan tentang keluh kesah susahnya akses internet. Link internet di tempat ini (tidak perlu disebutkan namanya) sangat lambat. Padahal ini seharusnya merupakan tempat yang internetnya kecang. Di Indonesia masih banyak fakir bandwidth.

Yang sedang saya coba akses adalah StackOverflow, karena ini sedang mengajar pemrograman. Bayangkan, di tempat lain internetnya wuzzz, wuzzz, wuzzz. Di sini siswa terpaksa nunggu dulu. Belajar tersendat-sendat. Jadi inget pejabat yang mengatakan “internet cepat untuk apa”? Ya, untuk belajar!

Keluh kesah pagi ini … [meringis]

Gelas Yang Penuh

Perjalanan hidup seseorang membentuk karakternya. Saya bersyukur melalui jalan hidup yang diberikan kepada saya. Lengkap dengan positif dan negatifnya. Komplit. Hasilnya adalah saya menjadi seseorang yang (mudah-mudahan) selalu bersykur dengan apapun yang saya peroleh. Positif thinking. Dalam perdebatan gelas yang setengah kosong atau gelas yang setengah isi, mungkin saya menyebutnya gelas yang hampir penuh. ha ha ha.

Hal yang membuat saya demikian mungkin karena saya sudah melalui masa susah juga. Bahkan pada masa susahpun saya masih dapat melihat orang lain yang lebih susah lagi dari saya, sehingga saya masih dapat bersyukur. Jadi mungkin kuncinya adalah mencari dan melihat orang lain yang lebih menderita? ha ha ha. Mellow tetap ada, tetapi tetap bersyukur.

Apakah kemampuan untuk bersyukur ini dapat diajarkan? Saya tidak tahu. Mestinya sih iya, tetapi bagaimana mengajarkannya itu yang saya tidak tahu. Ada orang yang melihat orang lain lebih susah, tapi bukannya bersyukur tapi malah tetap menggerutu. ha ha ha. Tetap saja negatif. Mungkin ini bukan ilmu, tapi seni. The art of grateful.

Alhamdulillah … masih bisa bersyukur.

Itu Lagi Topiknya

Mau ngeblog tapi kok topiknya itu lagi, itu lagi. Sebetulnya karena ini adalah sebuah blog, ya dia merupakan catatan (log) keseharian. Tentunya dalam keseharian ada topik yang itu lagi, itu lagi. Yang rutin seperti itu tampaknya tidak perlu diceritakan lebih dari sekali ya?

Topik yang saya maksud adalah kesibukan saya. Iya, saya orang yang super sibuk. Pasti banyak yang tidak percaya. Hi hi hi.

Tanda-tanda kalau saya sedang sibuk itu adalah tidak ngeblog. Saya mencanangkan akan ngeblog setiap hari. Nah, kalau gagal melakukan itu pasti ada sesuatu yang lebih penting dari ngeblog. (Sesungguhnya hampir semua lebih penting dari ngeblog. hi hi hi.)

Ini ada waktu beberapa menit. Mencatatkan log dulu.

[kembali ke kesibukan]

Semester Baru

 

Semester baru sudah dimulai di ITB hari-hari kemarin. Kelas sudah mulai. Saya mengajar tiga kelas semester ini. Semuanya berhubungan dengan keamanan informasi (information security). Ini foto kelas Keamanan Informasi (7:00 s/d 9:00), dipotret di akhir kelas. Masih pada segar.

P_20170118_083618_BF-01 kelas

Selain mengajar, saya juga membimbing S2 dan S3. Lupa jumlah mahasiswa bimbingannya. ha ha ha. Ini foto ketika bimbingan dengan sebagian mahasiswa.

P_20170118_111302_BF bimb

Waktunya memperbaharui halaman web juga. (Belum sempat euy.) Demikian pula masih ada setumpuk makalah (perbaikan) mahasiswa yang harus saya koreksi lagi. Ballpoint sudah disiapkan.

p_20170117_114824-01-ballpoint

Ayo semangat!