Mau?

Sudah lama tidak posting foto-foto makanan. Saatnya … hi hi hi

IMG_8197 pumpikn soup 1000

Pumpkin Soup

IMG_8199 chicken grill 1000

Chicken Grill

IMG_8301 kopi gayo

Kopi Gayo


Indonesia Darurat Malware

Dunia digemparkan dengan munculnya virus Ebola di Afrika. Korban berjatuhan dan upaya untuk mengatasinya dikerahkan di seluruh dunia. Ini bukan masalah Afrika saja, tetapi juga masalah seluruh dunia.

Apa dampak virus Ebola ini bagi Afrika? Orang menjadi takut untuk berkunjung ke sana. Ada nilai ekonomis di sana.

Ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan. Akademisi melakukan penelitian. Pelaku bisnis mengembangkan produk yang dapat dibeli dengan harga murah. Pemerintah memberikan dukungan melalui berbagi cara. Semua bahu membahu.

Mari kita terbang ke dunia lain, ke dunia cyber Indonesia. Jutaan virus – malware (malicious software) – menginfeksi komputer dan perangkat digital milik orang Indonesia. Sudah menjadi korban, kita pun dituduh menyebarkan malware ini. (Ada banyak statistik tentang ini, tetapi saya tidak akan menuliskannya di sini. Rekan-rekan yang lain akan menceritakan hal ini.) Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tidak terlalu salah jika kita katakan saat ini “Indonesia Darurat Malware”.

Sama seperti di Afrika, ada dampak juga bagi Indonesia. Indonesia boleh jadi dapat dikenal sebagai tempat masalah di dunia cyber. Sumber penyakit. Maka Indonesia akan dihindari dari dunia transaksi elektronik. Orang akan ragu untuk berinvestasi ke Indonesia.

Apa yang sudah dan akan kita lakukan? Apakah kita akan berpangku tangan? Tentu saja TIDAK!

Hari ini, Selasa 5 Mei 2015, kita berkumpul di Gedung Telkom Japati Bandung untuk berembug. Akademisi, peneliti, praktisi, pelaku usaha, komunitas, dan pemerintah – kita semua – berkumpul. Sama dengan upaya penanganan virus Ebola tersebut, kita juga harus bergegas untuk mencari solusi baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Saya berharap tumbuh penelitian-penelitian tentang malware di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah, munculnya perusahaan anti virus (penanganan malware) di Indonesia yang dikembangkan oleh para entrepreneur muda. Ini semua membutuhkan dukungan dan keberpihakan dari pemerintah.

Semoga usaha kita ini bermanfaat, tidak hanya bagi Indonesia saja tetapi juga bagi seluruh dunia. Aaamiiin.


Masalah Dengan Anonimitas

Salah satu tema yang berulang dalam pertemuan masalah keamanan di Intelligent-Sec Asia 2015 kemarin adalah masalah anonimitas. Salah satu kesulitan terbesar dari penegak hukum adalah melacak pelaku kejahatan.

Penggunaan kartu telepon (simcard) prabayar  tanpa identitas merupakan salah satu masalah terbesar di Asia. Di Manila kemarin saya membeli simcard tanpa menunjukkan identitas sama sekali. Di Indonesia, seharusnya kita mendaftarkan identitas kita ketika kita mengaktifkan kartu telepon yang baru. Namun saya melihat banyak penjual kartu yang memasukkan data asal-asalan saja. Mosok ada nama orang “Mickey Mouse”. he he he.

Upaya penegakan hukum – baik dalam hal membuat aturannya (Undang-Undang?) sampai ke penerapan dan pemberian sanksi jika melanggar – terkait dengan masalah identitas pengguna handphone ini masih sulit. Di Filipina sana, peraturannya masih terganjal – atau diganjal? oleh industri telekomunikasi.

Secara teknis, pelacakan pelaku kejahatan dengan menggunakan handphone ini dapat dilakukan. Sebetulnya anonimitas ini tidak betul-betul anonim. Ada jejak-jejaknya. Namun, upaya untuk mendapatkan identitas ini tidak mudah. Kalau masalahnya serius dan membutuhkan pelacakan at all cost, identitas dapat ditemukan. Ini masalah efisiensi dan biaya saja.

Katanya setengah dari masalah keamanan ini dapat terpecahkan jika masalah anonimitas ini dapat terpecahkan. Nah.


Internetan di Manila

Akses internet sudah merupakan kebutuhan primer saya. hi hi hi. Jadi, kalau pergi ke sebuah tempat maka yang dicari adalah akses internet. Nah, minggu lalu saya harus ke Manila, Filipina. Bagaimana akses internet dan telepon di sana?

Kasak-kusuk sana sini, saya menjadi tahu bahwa dua operator seluler yang menyediakan layanan internet di Filipina adalah Smart dan Globe. Sesampainya di airport, saya langsung cari tempat jualan kartu SIM. Ada. Eh, saya ditawari kartu SIM dengan internetan Smart dengan harga 1000 pesos. 1 Peso itu sekitar Rp. 300,-. Jadinya itu Rp. 300 ribu. Wah, mahal banget. Rasanya saya baca-baca tidak segitu. Tidak jadi beli.

Setelah check-in ke hotel, saya mencari tahu tempat membeli SIM card. Katanya bisa dibeli di Seven Eleven. Maka pergilah saya ke sana.

Ternyata memang kartu SIM dijual di Seven Eleven. Hanya saja yang jualan di sana lebih familier dengan Globe tetapi yang ada Smart. Katanya itu juga untuk nano SIM. Saya coba lihat paketnya yang Smart itu. Harganya 100 pesos dan packaging-nya bisa untuk kartu biasa, mikro, dan nano. Kartunya bisa dipotong-potong sampai jadi nano simcard, tapi orisinalnya sih dalam ukuran yang biasa. Yang jualan tidak yakin. Ah, nekad saja saya beli. Toh harganya kalau dikurskan menjadi Rp. 30 ribu. Oke lah.

Saya pasang SIM card itu di handphone Android saya. Jalan! Yes! Isinya ada pulsa sebanyak 40 pesos (atau 50 ya? saya lupa). Nah mengaktifkan internetnya bagaimana? Di bungkusnya tidak ada instrukusi untuk internetan, tetapi saya ingat komentar beberapa rekan di twitter dan facebook saya bahwa kita bisa langganan “unlimitted”(?) internet untuk sehari dengan mengirimkan instruksi  “Unli 50″ via SMS ke “211”. Dia akan mengambil 50 pesos.

Di Seven Eleven itu juga ada mesin top-up, yang bentuknya seperti mesin ATM kecil. Saya ke mesin itu dan melakukan top-up sebanyak 60 pesos (18 ribu rupiah) dan membayarkan ke kasir. Maka pulsa saya cukup untuk berlangganan internet itu. Saya kirimkan “Unli 50″ ke “211”. Internet siap! Yes!

Besoknya saya harus kirimkan SMS itu lagi untuk mengaktifkan internet untuk hari itu. Dan seterusnya. Lumayanlah bisa internetan dengan relatif “murah” di Manila (Filipina).

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang mau internetan di Filipina.


(Hampir) Seminggu Tidak Ngeblog

Sebagai seorang Indonesia, pertama-tama, saya mohon maaf karena hampir seminggu ini saya tidak ngeblog. (Orang Indonesia biasanya memulai sesuatu dengan minta maaf. hi hi hi.) Hampir seminggu ini saya berada di luar negeri mengikuti konferensi security di Manila, Filipina.

Sebetulnya acara di Manila hanya dua hari, tetapi perjalanan menuju dan kembali dari sananya lebih lama. Masalahnya, saya tinggal di Bandung dan menuju Manila dari Bandung itu ternyata tidak mudah. Skedul sambung menyambung pesawat itu membutuhkan waktu. Perjalanan dimulai hari Senin dari Bandung menuju Singapura. Berangkat siang hari dari Bandung dengan menggunakan Air Asia. Menginap dulu di Singapura karena pesawat Singapura – Manila (menggunakan Jetstar) berangkat pukul 6:30 pagi. Keesokan harinya, Selasa pagi, saya berangkat ke Manila. Perjalanan Singapura – Manila membutuhkwan waktu 3 jam.

Konferensi security di Manila berlangsung dua hari, yaitu hari Rabu dan Kamis. Saya akan ceritakan isinya di tulisan yang lain ya. Setelah selesai acara, Jum’atnya saya terbang lagi dari Manila ke Singapura. Seharusnya saya menggunakan connecting flight menuju Bandung, tetapi bandara Bandung masih ditutup karena terkait dengan acara Konferensi Asia Afrika (KAA). Akibatnya pesawat saya dibatalkal. Saya menginap lagi di Singapura. Baru besok paginya, Sabtu, terbang lagi dari Singapura ke Bandung. Phew. Hampir seminggu di luar negeri. Total perjalanan empat (4) hari, sementara acaranya sendiri hanya dua (2) hari. Nah tuh.

IMG_8044 flight schedule

Selama di perjalan waktunya mepet untuk ngeblog. Demikian pula pas di acaranya, saya menjadi chairman (yang pada intinya adalah moderator, time keeping, dan yang memastikan acara berjalan). Saya harus fokus kepada presentasi semua peserta. Tidak ada waktu untuk ngeblog. (Tulisan ini pun baru bisa saya buat setelah melewati tengah malam.)


Masalah Kejahatan Internet di Indonesia

Minggu ini saya diminta untuk memberikan presentasi mengenai “recent internet crimes in Indonesia”. Nah sekarang saya sedang mengumpulkan materi (poin-poin) untuk pembahasan itu. Isinya kira-kira:

  1. Internet threats in Indonesia;
  2. Case studies of internet crimes in Indonesia;
  3. Internet and terrorism in Indonesia.

Untuk poin pertama, saya akan mengambil data dari ID-CERT. Isinya terkait dengan statistik serangan dari / ke Indonesia. Kayaknya masih ada tuduhan bahwa Indonesia termasuk negara yang paling banyak menyerang Akamai. (Membutuhkan link2 dan data / statistik untuk ini.)

Untuk yang kedua, enaknya contoh kasus yang diangkat apa ya? Apakah kasus pembobolan internet banking yang baru-baru ini terjadi? Apa lagi ya yang menarik untuk diangkat?

Nah untuk poin ketiga, tentang terrorism, saya masih mikir. Kalau kasus dengan ISIS dan internet di Indonesia ada gak ya? Kalau keributan soal pemilihan presiden, anti aliran tertentu, penajaman perbedaan (agama, aliran, dll.) yang bertujuan untuk menghancurkan Indonesia dan sejenisnya apa mau dimasukkan ke sini saja? Kemudian ini dikaitkan dengan inisiatif pemerintah untuk memblokir situs-situs tertentu. Begitu?

Ini jadi semacam crowdsourcing gini … hi hi hi.


Masalah Band Amatiran

Ada dua hal yang paling susah dalam band amatir ketika manggung, yaitu (1) berhenti bersamaan di akhir lagu, dan (2) recover kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Mari kita bahas yang pertama dahulu, berhenti bersamaan.

Dalam memainkan lagu, memulai secara bersamaan itu relatif lebih mudah. Cara paling gampang adalah kita menghitung, satu dua tiga dan jreng. Mulai. Namun kadang memulaipun bermasalah. Nah, kalau mulainya sudah bermasalah ini tanda-tanda akan bermasalah seterusnya. he he he. Biasanya sih ini tidak masalah.

IMG_7929

[Foto Gen81 Band manggung di Ganesha Night, 17 April 2015]

Lagu sudah mulai dimainkan. Kesulitan muncul pada saat akan berhenti. Bagaimana berhenti di akhir lagu? Ada banyak lagu yang aslinya berhenti dengan menggunakan fade out. Makin lama, makin kecil volume suaranya. Kalau manggung, ini tidak bisa dilakukan. Berhenti harus jreng! Harus bersamaan. Itu susahnya. Sering ada yang berhenti duluan dan ada yang masih mau terus. he he he. Kelihatan repotnya band amatiran itu di sini. hi hi hi.

Yang lebih repot lagi adalah kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Misalnya ada bagian yang harus dimainkan 4 bar. Eh, ini baru 2 bar ada yang sudah pindah ke bagian lain. Nah lho. Bagaimana pemain musik lainnya? Apakah kemudian memaksa untuk memainkan 4 bar? Yang salah ngikut? Atau justru yang lainnya menjadi ngikut hanya 2 bar saja? Masalah recover kalau ada kesalahan itu merupakan yang sering dihadapi. Band yang baru, amatir, biasanya kacau balau kalau ini terjadi. hi hi hi.

Jika dua hal di atas bisa diatasi, maka band terlihat relatif bagus. Setidaknya, kompak! Dan kompak itu susah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.293 pengikut lainnya.