Kebanyakan Pesan

banjir pesanBanjir pesan (message). Ada beberapa orang yang kemarin ngirim pesan ke saya melalui WhatsApp atau Telegram. Sekarang sudah tidak muncul lagi di layar saya. Mungkin ada, tapi di baris ke 100-an. He he he.

Masalahnya, ada banyak orang yang kirim pesan ke saya. Bayangkan saja. Ada beberapa mahasiswa yang kirim pesan soal tugas-tugas mereka. Nama mereka langsung muncul di daftar yang kirim pesan. Maka ini akan mendorong ke bawah nama-nama yang kirim pesan sebelumnya.

Nampaknya aplikasi chat seperti WhatsApp dan Telegram tidak mampu untuk menangani kasus orang yang banyak pesan seperti saya. Mereka tidak didesain untuk itu ya? Padahal saya sudah menggunakan aplikasi di komputer untuk mencoba menangani data yang banyak ini. Gak ngejar juga. User interface (UI)-nya tidak cocok untuk itu.

Saya tidak bisa membalas semua pesan-pesan itu dengan segera. Kalau saya balasi semuanya, kerjaan saya yang lain (yang lebih penting) bakalan tidak selesai. Kerjaan membalas-balas pesan saja sudah menghabiskan waktu. Bayangkan kalau untuk membalas sebuah pesan membutuhkan waktu 1 menit. Kalau ada 100 pesan, berarti sudah hampir 2 jam! Itu hanya untuk membalas pesan yang ada saat ini. Setelah dibalas, pesan itu kembali memberikan jawaban. Kayak beranak aja. Jadi tambah banyak lagi pesan yang harus dibalas. he he he.

Jadi, bagi Anda yang sudah kirim pesan ke saya dan belum saya balas, ya inilah penyebabnya. Pesan Anda sudah tidak muncul di handphone / komputer / aplikasi saya.


Minggu Terakhir Perkuliahan

Minggu lalu adalah minggu terakhir perkuliahan di ITB. Selanjutnya adalah Ujian Akhir Semester (UAS). Mahasiswa mulai sibuk dengan tugas-tugas dan persiapan ujian. Sebetulnya dosen-dosen juga sibuk menilai tugas-tugas dan menilai ujian.

P_20160429_090117 students

Kalau sekarang, di akhir kelas sering terjadi potret bersama antara dosen dan mahasiswa. Potret di atas adalah sebagian dari mahasiswa kuliah Keamanan Informasi saya. Mahasiswanya sih banyak, tetapi pada hari itu (Jum’at) banyak mahasiswa saya yang tidak hadir karena mengira saya harus ke Jakarta (untuk peluncuran Telinga Musik Indonesia) tetapi saya memutuskan untuk di Bandung (mengajar, meeting, dan beberapa pekerjaan lainnya).

Selamat ujian untuk mahasiswa dan selamat bertugas untuk para dosen.


Masih Soal Uber

Tadi seharusnya saya mengantar anak saya ke sebuah tempat, tetapi karena saya juga harus futsal maka kami mencari taksi. Puter-puter nggak ketemu taksi konvensional. Akhirnya kami berhenti dan memesan Uber.

Pulangnya anak saya juga mencari taksi konvensional tetapi lagi-lagi tidak ada. Dia kemudian memesan Uber lagi. Harganya kali ini 2,7x lebih mahal dari harga biasanya (karena peak hour?). Akhirnya yang dibayar menjadi Rp.70 ribu. Mungkin kalau naik taksi biasa hanya Rp. 40 ribu.

Banyak orang yang mengatakan bahwa kami menggunakan Uber karena murahnya. Bukan! Kami menggunakan Uber karena taksi konvensional tidak ada. Ini masalah kemudahan dan ketersediaan. Itu yang lebih utama menurut saya.


Blog Jadi Korban

Ini adalah minggu terakhir perkuliahan. Eh, ternyata aktivitas lain juga tidak menurun. Super sibuk deh. Akibatnya blog jadi korban. Tidak terurus.

Ada beberapa presentasi yang saya lakukan terakhir ini; menjadi pembicara di Global Azure Bootcamp (cerita tentang IoT dan Cloud security; mostly cloud security), Security Trend 2016 (ini adalah CRM dari perusahaan kami, indocisc). Sementara itu ada beberapa undangan presentasi terpaksa juga ditolak.

Selain itu, tentu saja sibuk dengan toko insan music. Sedang merencanakan beberapa acara. Ingin roadshow ke sekolah-sekolah. (Ada sekolahan yang mau kami kunjungi?)

Setelah minggu ini akankah turun kesibukan? Saya kok gak yakin ya. uhuk.


Tempat Koleksi Foto Online

Kehabisan disk melulu. Umumnya karena koleksi lagu dan foto. Nah, saya berniat untuk menghapus koleksi foto di komputer (disk) sendiri. Saya mau upload foto-foto saya ke tempat koleksi online (atau kalau terpaksa, disk online) kemudian saya HAPUS foto-foto itu dari disk saya.

Apakah langkah ini bijaksana?

Saya akan upload berkas-berkas foto tersebut ke beberapa tempat. Just in case. Khawatir kalau layanan tempat koleksi foto tersebut berubah atau malah tutup. Sementara ini saya mengandalkan layanan Google Photos dan Flickr. Ada juga sebagian yang saya upload ke Facebook. (Hanya kalau ke facebook, ukurannya jadi mengecil dan kualitasnya menjadi turun?) Memang yang saya cari adalah layanan yang gratisan. ha ha ha.

Apakah ada saran tempat upload foto lagi? Kalau bisa yang gratisan dan ukurannya bisa besar.


Wartawan Kurang Riset

Baru-baru ini terjadi dialog seperti ini.

Wartawan (W): Pak, besok bisa ketemuan untuk wawancara
Saya (S): Ok. Tapi siang ya.
W: Baik pak. Tempatnya dimana?
S: Mungkin seputaran ITB atau jalan Dago.
W: Lho? Bapak di Bandung? Saya kira di Jakarta.
[Saya ingin membanting handphone. he he he]

Saya jadi bertanya-tanya. Kenapa ya saya yang mau diwawancara? Alasannya apa? Kemudian, apakah sang wartawan tidak melakukan riset dulu mengenai (kredibilitas) nara sumbernya? Siapa dia? Latar belakangnya? dan lain-lain. Dengan sedikit riset, seharusnya yang bersangkutan tahu bahwa saya ini basisnya di Bandung. Atau mungkin dia disuruh?

Atau … mungkin salah “budi rahardjo”. Mungkin seharusnya dia mewawancara “budi rahardjo” yang lain?

Mudah-mudahan ini bukan potret umum. Ataukah?


Kopi (Lagi)

Asyik. Baru dapat kopi lagi.

kopi baru

Sebetulnya saya tidak tahu mereknya apa. Tapi kayaknya enak. Hari ini mau dicoba ah. Enak euy.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.765 pengikut lainnya