Menulis Setiap Hari

Baru-baru ini saya mendengarkan cerita tentang bagaimana lagu “Human Nature” dibuat. Ini lagu yang dibawakan oleh Michael Jackson. Lagu ini dikarang oleh Steve Porcaro (salah satu pemain keyboards group band Toto) dan kemudian liriknya dipermak oleh John Bettis. Kesemua orang yang saya sebut di atas sangat luar biasa kemampuannya. Tulisan kali ini terinspirasi oleh kata-kata John Bettis.

Jadi ceritanya lagu tersebut sudah luar biasa bagus, tapi liriknya belum ada. Sang produser dari album Michael Jackson itu, Quincy Jones, kemudian menelepon John Bettis yang sangat piawai dalam membuat lirik. Mengapa dia sangat piawai, karena dia selalu siap dalam membuat lirik. Dia menulis lirik SETIAP HARI selama belasan tahun (atau bahkan lebih). Bayangkan, setiap hari! Itu sebabnya dia selalu siap. Itu sebabnya saya tidak dapat membuat lirik lagu, karena tidak pernah berlatih.

Mengenai menulis setiap hari, sebetulnya tidak susah secara teknis tetapi susah dilakukan. Ini masalah keteguhan diri saja. Masalah kemauan saja. Saya sudah pernah melakukannya.

Pada awal-awal blog ini dibuat, saya memaksakan diri untuk menulis setiap hari. Betul. Saya tantang diri saya sendiri untuk melakukannya. Mantra yang saya pakai adalah “kuantitas lebih penting daripada kualitas”. Yang penting menulis tiap hari. Dahulu saya dapat melakukan hal tersebut. Sekarang terlalu banyak alasan yang saya gunakan untuk tidak melakukannya. Alasan yang paling klasik, ya sibuk. (Padahal sibuk sungguhan.)

Nampaknya saya harus mulai kembali memaksa diri untuk menulis setiap hari. Bahkan mau saya coba untuk menulis lirik setiap hari. Hmm. Mikir dulu ya. Ha ha ha. Ini komitmen yang berat.

Belajar Gagal

Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang dalam perjalanan hidupnya selalu berhasil. Tidak pernah gagal. Sekolahnya bagus terus nilainya. Setelah selesai kuliah, kemudian dia bekerja. Maka mulailah terjadi masalah karena beberapa kali dia gagal. Singkat ceritanya, akhirnya dia bunuh diri. Hah??? Iya.

Akhir-akhir ini saya mendengar berbagai cerita yang mirip, yang pada intinya adalah banyak orang yang dalam perjalanan hidupnya tidak pernah atau jarang mengalami kegagalan. Semua harus berhasil. Tidak boleh salah. Akibatnya, dalam kehidupannya dia selalu merasa takut gagal dan takut salah. Orang seperti ini biasanya bersifat defensif. Begitu dikritik sedikit, maka dia akan ngamuk atau depresi.

Sekarang saya akan melihat ini dari kacamata saya sebagai seorang pendidik. Seorang dosen. Ada yang salah dalam pendidikan kita ini. Kita mengajari anak-anak untuk tidak boleh salah. Tidak boleh gagal. Mari kita ambil contoh. Dalam ulangan atau ujian, siswa dinilai. Ada yang nilainya bagus dan ada yang nilainya buruk dan bahkan ada yang tidak lulus. Setelah itu, ya sudah selesai.

Lah memangnya ada kelanjutannya lagi? Ada. Yang gagal seharusnya diberi kesempatan untuk memperbaiki. Ini tidak terjadi! Kenapa ini tidak terjadi? Karena ini merupakan beban tambahan bagi sang guru (dosen). Bagi dia, lebih baik memberi nilai dan sudah. Salah sendiri bagi yang nilainya buruk. Salah sendiri mengapa tidak belajar. Guru (dosen) tidak mau sibuk. Sistem di sekolahanpun memaksa guru (dosen) untuk memberikan nilai sekarang juga karena sekolahan dituntut untuk mengeluarkan nilai secara tepat waktu (peduli amat tentang masalah guru dan siswanya).

Saya mencoba memecahkan masalah ini dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa saya untuk memperbaiki nilai ujian (makalah) yang mereka kerjakan. Untuk itu memang saya menjadi kerja dua kali (atau lebih). Selain itu nilai yang saya berikan juga jadi terlambat. (Sebetulnya tidak terlambat, tetapi banyak mahasiswa yang nilainya T atau incomplete alias belum selesai.) Akibatnya saya sering ditegur. Mereka tidak tahu bahwa nilai saya lambat masuk bukan karena saya lalai, tetapi karena saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk gagal.

Pelajaran yang ingin saya berikan kepada mahasiswa saya adalah; (1) gagal adalah hal yang biasa, ulangi lagi, (2) yang tidak boleh adalah curang (misal plagiat, nyontek). Poin (2) itu, yaitu curang, dapat dilakukan oleh mahasiswa karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki. Dengan metoda saya, mereka tidak perlu curang. Kalaupun gagal dapat diulangi lagi. Lakukan dengan kemampuan diri sendiri.

Kembali ke poin utamanya adalah kita semua (apalagi anak-anak) harus diajari untuk gagal. Bahwa kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Lawan terus. Kita bisa!

Solid: Memisahkan Data dari Aplikasi

Siapa yang sudah pernah dengar nama “Tim Berners-Lee”? Kalau Anda belum tahu, silahkan Google dahulu. Ya, dia adalah “penemu” – kalau dapat disebut penemu karena sebetulnya lebih cocok disebut “pengembang” – dari World Wide Web (WWW). Saya mengenal beliau sejak pertama kali WWW dikembangkan karena kebetulan. Kebetulan saya “terpaksa” menggunakan workstation NeXT dan kebetulan juga Tim Berners- Lee menggunakan NeXT workstation ketika mengembangkan WWW. (Mestinya saya cerita tentang hal ini ya? Panjang. Jadi saya tunda ya.)

Baru-baru ini Tim Berners-Lee mengusung sebuah ide baru yang disebut Solid. Apa itu Solid? Terpaksa saya membaca sana sini karena informasinya masih sangat minim. Solid adalah sebuah konsep (platform?) untuk mengembangkan aplikasi dengan memisahkan data dari aplikasi. Mengapa pemisahan ini penting?

Saat ini ketika kita menggunakan sebuah aplikasi (misalnya aplikasi untuk handphone Android kita), maka aplikasi tersebut membutuhkan informasi mengenai Anda sebagai penggunanya. Aplikasi tersebut akan meminta identitas Anda, nama, alamat email, dan seterusnya. Bahkan untuk aplikasi yang bersifat transaksional, aplikasi tersebut akan meminta nomor rekening Anda.

Ketika Anda memasang aplikasi yang lain lagi, maka proses di atas terulang kembali. Anda harus memasukkan data Anda lagi, lagi, dan lagi. Akibatnya adalah ada banyak data Anda yang tercecer dimana-mana. Di setiap aplikasi ada data Anda. Anda tidak tahu data apa saja yang disimpan di sana. Yang mengerikan lagi adalah kalau data Anda itu berada di berbagai penyedia layanan tersebut. Pokoknya kita sudah tidak dapat mengendalikan data (pribadi) kita lagi. Solid mencoba memecahkan masalah tersebut.

Pada Solid, data kita ditempatkan pada sebuah Pod (namanya itu). Aplikasi yang membutuhkan data kita akan mengakses Pod tersebut. Kita dapat memilah-milah mana yang akan kita berikan akses (atau kita cabut aksesnya). Data akan berada di satu tempat. Memudahkan kita untuk mengelolanya.

Nah, bagaimana cara mengembangkan aplikasi yang berbasis Solid ini? Itu saya juga belum tahu. Ha ha ha. Mari kita belajar bersama.

Saya Akan Marah-marah

Nampaknya banyak orang yang membuka Facebook, Twitter, Instagram, WA, Telegram, atau aplikasi media sosial / chat dengan dimulai dengan perasaan tersebut; “saya akan marah-marah“. Maka, hasilnya adalah … marah-marah. Ini yang disebut dengan “self-fulfilling prophecy“. (Silahkan cari di internet apa maksudnya itu.)

Sementara itu saya memulainya dengan semangat ingin senang, bersahabat, berbahagia, dan berbagai emosi positif lainnya. Hasilnya adalah senang. ha ha ha.

Sebetulnya saya tidak menyadari hal ini sampai saya membaca sebuah cerita pengantar tentang brainstorming. Pada trik brainstorming yang diceritakannya itu, masing-masing peserta diminta untuk mengungkapkan hasil yang akan terjadi di akhir brainstorming. Ya, sebelum dimulai sudah diminta untuk mengungkapkan hasilnya. Ternyata hasilnya biasanya sesuai dengan yang dinginkan di depan. Kalau di awal kita katakan bahwa “kita akan hasilkan lima buah ide cemerlang”, maka akan dihasilkan ide-ide cemerlang. Entah kalau di awal kita mengatakan bahwa “kita akan sia-sia melakukan ini”. Ha ha ha.

Itulah sebabnya selalu berpikiran positif. Selalu!

(Kecuali memang Anda ingin menjadi negatif. Maukah?)

Pusing Dengan Bahasa Indonesia

Sudah berkali-kali saya mencoba membaca buku terjemahan dan gagal untuk memahaminya. Pusing. Bagi saya ternyata memang masih lebih mudah memahami buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa aslinya, bahasa Inggris maksudnya. Bukan maksud saya untu sok-sokan Ingris-Ingrisan, tapi kenyataannya memang demikian.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah buku terjemahan. Saya coba baca lagi. Dan hasilnya, pusing lagi. Ini bukunya.

photo6275926025779128563
Contoh buku terjemahan yang membingungkan

Begitu dimulai, di bagian awalnya (pada halaman “ucapan terima kasih”) ada tulisan seperti ini, “istri ahli dan putri tanpa sejawat“. Anda tahu itu maksudnya apa? Nampaknya saya harus cari tahu kalimat aslinya seperti apa.

Mungkin masalah sebenarnya adalah penerjemah terlalu harfiah dalam menerjemahkan sehingga makna aslinya hilang. Jadinya malah membingungkan. Ada banyak “idiom-idiom” dalam bahasa Inggris yang seharusnya tidak diterjemahkan begitu saja. Pusing.

Kembali ke buku-buku berbahasa Inggris deh.

Seebuk

Banyak orang yang tidak percaya bahwa saya super sibuk. Kalau mengikuti kegiatan saya, bakalan gempor. Saya ambil contoh saja ya. Kemarin.

Acara saya dimulai pagi hari, pukul 9. Eh, ternyata acaranya pukul 8 pagi. Berarti saya harus berangkat 1 jam sebelum itu. Nah, kebetulan saat ini waktu Subuh di Bandung mendekati pukul 4 pagi. Jadi pukul 4 pagi saya sudah harus bangun. Acara workshop ini berjalan sampai pukul 5 sore, atau pukul 17.

Setelah acara tersebut, saya melanjutkan ke acara nonton dan diskusi film. Saya memilih film “I, Robot” karena terkait dengan Artificial Intelligence (AI). Di acara itu kami nonton film bersama dan kemudian membahas film tersebut. Acara ini berlangsung di IFI, di depan BEC Bandung. Acara itu berlangsung dari pukul 5 sore sampai pukul 21:30 malam. (Tentang acara ini nanti saya buat tulisan terpisah. Tapi nggak janji. ha ha ha.)

Sampai di rumah pukul 22:30. Jadi kegiatan saya itu dari pagi sampai malam. Selama itu saya tidak sempat membuka handphone saya. Jadi yang kirim WA / Telegram / dst. tidak akan saya baca.

Tidur mungkin hanya 5 jam kurang sedikit.

Hari berikutnya ya sama saja. Sibuk.

Industri 4.0

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang “industry 4.0”. Apa itu? Mengapa dia muncul? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah opini saya.

Pertama harus dipahami dahulu bahwa ada perbedaan antara “revolusi industri ke-4” (fourth industrial revolution) dan “industri 4.0”. Revolusi industri mencakup berbagai aspek (domain) kehidupan, sementara industri 4.0 hanya spesifik ke dalam industri-nya sendiri. Revolusi industri ke-4 menunjukkan integrasi antara dunia nyata dan dunia siber. Internet of Things (IoT) dengan berbagai sensornya merupakan contoh integrasi kedua dunia tersebut. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat dipahami. Nanti akan saya uraikan lebih dalam lagi jika dibutuhkan.

Menurut opini saya, istilah “industri 4.0” ini sebetulnya muncul dari kekalahan Jerman dalam bidang industri oleh Tiongkok (China). Perlu diingat bahwa jaman dahulu produk-produk buatan Tiongkok memiliki kualitas yang buruk, sementara produk buatan Jerman memiliki kualitas yang sangat baik. Namun sekarang, Tiongkok mampu memproduksi produk dengan tingkat kualitas yang super baik. Maka istilah “industry 4.0” dikoinkan oleh Jerman untuk menunjukkan hal lain dari hanya sekedar membuat produk yang baik saja.

Apakah sebuah instansi (perusahaan, industri) telah mengadopsi industri 4.0? Seberapa jauh tingkat adopsinya? (Ini akan saya perbaharui pada tulisan selanjutnya.)