Ini Pokemon Ku

Sekarang sedang heboh aplikasi permainan Pokemon Go. Banyak sekali orang yang menggunakan aplikasi tersebut meskipun secara resmi belum beredar di Indonesia. Saya sendiri tadinya mau ikutan pasang dan main, tetapi kata anak saya jangan dulu. Nanti kalau banyak yang melanggar, Indonesia bisa diban sama mereka. Jadinya belum main.

Nah, mainan “Pokemon” yang selalu saya mainkan adalah ini … hi hi hi.

IMG_0890

Sebetulnya permainan ini namanya Onet. Pasti banyak yang sudah tahu ya? Mainnya adalah mencocokkan gambar yang sama bersebelahan. Kebetulan saja gambarnya adalah Pokemon. (Sebetulnya ada gambar yang lain, tetapi saya memilih yang Pokemon. Saya sudah bertahun-tahun memainkan permainan ini di iPad saya. hi hi hi.

Gak mau kalah, saya juga main “Pokemon” kok. Tapi bukan yang “Go”. hi hi hi.


Mengukur Kebugaran Diri

Sebagai salah satu early adopter dari teknologi, saya menggunakan smart band. Itu lho gelang elektronik. Saya menggunakannya untuk memacu diri agar rajin berolah raga. Kerennya adalah agar menjaga kebugaran diri. hi hi hi.

Gelang elektronik yang saya gunakan adalah Mi Band. Pada awalnya saya menggunakan Mi Band milik anak saya yang tidak terpakai. Kala itu saya hanya ingin mencoba saja apakah nyaman menggunakan gelang terus menerus. Seperti menggunakan jam tangan terus menerus. Ternyata dia tidak mengganggu.

13724837_10153708150076526_5986811014591242222_oYang menarik bagi saya adalah gelang elektronik memaksa saya untuk berjalan. Berapa langkah jalan yang sudah saya lakukan hari ini? Langkah ini dapat dikonversikan menjadi jarak (dalam satuan Km.) Saya bisa melihat statistiknya dan membandingkannya dengan hari-hari sebelumnya. Secara umum saya menggunakan target 8000 langkah/hari. Ini sayangnya tidak tercapai setiap hari. ha ha ha. Target ini hanya tercapai ketika saya berolah raga futsal. (Lihat gambar. Itu adalah statistik saya hari ini setelah selesai bermain futsal.)

Gelang elektronik yang saya gunakan saat ini adalah Mi Band 1S. Yang sebelumnya, yang punya anak saya, rusak karena jatuh ketika main futsal dan tidak berfungsi lagi. Yang saya gunakan kali ini adalah pemberian dari pak Djarot Subiantoro. Terima kasih pak. (Tadinya saya mau beli Mi Band 2 yang baru keluar.)

Sebelum menggunakan Mi Band ini saya menggunakan aplikasi Nike+ di handphone untuk melakukan itu. Hanya dia membutuhkan GPS, sehingga tidak dapat melakukan pencatatan jika saya berada di dalam gedung (misal sedang main futsal). Yang ini masih saya pakai ketika saya berjalan di luar. Oh ya, jeleknya aplikasi yang di handphone ini (karena menggunakan GPS) dia boros dalam penggunaan handphone. Sementara yang Mi Band ini dapat dicharge 2 minggu sekali.

Ayo berolah raga …


Melawan Arus Balik Mudik

Ini masih cerita melawan arus mudik lagi. Eh, arus balik mudik tepatnya. Bukannya mau mengejek orang yang terjebak arus mudik lho. Hi hi hi. Ini sekedar cerita saya.

Tadi pagi kami ke Jakarta lagi. Mengingat kemarin-kemarin melihat arus balik ke Jakarta yang luar biasa padatnya, maka kami berangkat dari rumah pukul 3 pagi. Pertama-tama dari Bandung sih lancar-lancar meskipun saya melihat mulai banyak kendaraan. Akhirnya memang kena macet juga di sekitar Km. 50-an (mungkin Km 52?) sampai Km. 42. Lumayan juga 10 Km macetnya. Yang saya khawatirkan adalah lewat waktu shalat Subuh. Alhamdulillah bisa shalat Subuh di Km. 42 sebelum pukul 5 pagi.

Lepas shalat Subuh, keluar dari Km. 42 jalan lancar. Lah, kemana tadi mobil-mobil yang bikin macet? Mungkin kepadatan tadi terjadi karena dekat dengan rest area. Atau mungkin juga orang banyak yang mau shalat Subuh juga. Entahlah.

Hari ini saya pulang ke Bandung juga. Mulai jalan dari Jakarta sekitar pukul 8 malam. Lumayan lancar jalan tol dalam kota. Agak sedikit tersendat pas dekat Halim, tetapi secara keseluruhan lancar.

Yang mengerikan adalah arah menuju kota Jakarta. Kepadatan terjadi di pintu tol Cikarang (Km. 29?) Nampaknya proses pembayaran di pintu tol itu harus dipercepat. Kemudian ada sedikit kekosongan sebelum padat lagi di sekitar Km. 42. Yang ini padatnya entah sampai mana karena saya keluar di Km. 65 (belok ke tol Cipularang) masih terlihat antrian kendaraan di sisi kanan. Berarti banyak yang datang dari arah Timur (Jawa).

Saya pikir itu saja sumber kemacetan. Eh, di jalan Cipularang pun arah ke Jakarta juga padat sampai sekitar Km. 72. Hadoh.

Dalam kepala saya, pantesan saja Jakarta macet. Lha wong segitu banyak kendaraan yang menuju Jakarta. (Saya melihat sendiri dari Jum’at lalu – yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya.) Ampun deh.

Ngaso …


Kekang Keinginan Berbagi Berita Negatif

Baru saja melihat sebuah berita di salah satu media sosial (Facebook). Beritanya tentang seseorang yang tidak mau patuh terhadap peraturan penerbangan. Dia merasa berkuasa. Akhirnya terpaksa pesawat diturunkan dan yang bersangkutan diamankan. Kesal juga melihat orang model begini. Ada keinginan untuk menceritakan hal ini kepada orang lain. Ingin membuat orang ini menjadi “terkenal” (buruk) sehingga dia jera.

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya batalkan untuk melakukan share. Untuk apa? Apa manfaatnya? Setelah saya bagi (share), apakah yang bersangkutan akan berubah? Belum tentu. Bahkan kemungkinan juga tidak berubah. Malah kemudian ada orang (gila) yang senang dia menjadi terkenal. Halah. Serius. Beneran.

Yang terjadi kalau kita membagi berita negatif adalah membuat orang baik-baik menjadi naik pitam juga. Naik darah. Marah-marah. Tensi! Artinya saya justru membuat orang baik menjadi kurang baik kondisinya. Padahal orang-orang baik ini tidak perlu harus ikut menderita atas berita negatif itu.

Ada banyak berita-berita negatif yang beredar. Tidak usah dicari pun ada banyak. Apalagi kalau kita cari, tambah banyak saja. Ini bikin gara-gara saja.

Jadi, lupakan saja berbagi berita negatif itu. Lebih banyak buruknya daripada manfaatnya.


Buku Zero to One

Horeee … Selesai baca satu buku lagi. I’m on a roll. Lagi lancar baca buku. Setelah beberapa hari yang lalu menyelesaikan satu buku, barusan selesai baca satu buku lagi. Buku yang baru selesai saya baca adalah “Zero to One” karangan Peter Thiel.

zero-to-one-cover-art

Buku yang ini sebetulnya sudah lama dimulai bacanya, tetapi tidak selesai-selesai. “Masalahnya” (kalau bisa disebut masalah) adalah banyak poin-poin bagus di dalam buku ini sehingga saya harus berhenti dan meresapi poin itu. Baca lagi, berhenti lagi, mikir dulu. Setelah beberapa hari, baca lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan lambatnya selesai membaca buku ini. Jadi, buku bagus justru membuat lambat selesai bacanya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana membuat perusahaan (startup) yang bagus. Peter Thiel ini dikenal sebagai salah satu pendiri dari PayPal. Sekarang PayPal sudah mereka jual. Pendiri-pendiri PayPal dikenal sebagai “Mafia PayPal” dan mereka kemudian mendirikan berbagai perusahaan yang juga sama (atau lebih) sukses; YouTube, Tesla, SpaceX, dan seterusnya. (Salah satu yang sekarang sedang ngetop tentunya adalah Elon Musk.)

Apa itu “0-to-1”? Maksudnya zero (0) adalah tiada. Tidak ada. Sementara zone (1) adalah ada. Jenis perusahaan yang didirkan sebaiknya adalah yang memberikan layanan atau membuat produk yang dahulu belum ada. Sebagai contoh, dulu belum ada sistem operasi komputer maka kemudian ada Microsoft yang membuat sistem operasi MS-DOS. Dahulu belum ada tempat orang kongkow-kongkow online, sekarang ada Facebook. Kalau membuat kantor cabang dari sebuah usaha yang sudah ada (membuka di kota lain, di negara lain) itu namanya dari “1” ke “n“. Ini tidak terlalu menarik.

Startup yang sukses adalah yang membuat sesuatu yang baru. Jadi jika ada yang ingin membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Google, atau sejenisnya akan sulit untuk sesukses mereka. The next big thing tidak mungkin search engine seperti Google, misalnya.

Selain membuat hal yang baru, buku ini juga menguraikan apa-apa kunci kesuksesan lainnya. Misalnya, kalau kita membuat sebuah produk (teknologi) yang mirip dengan yang sudah ada seperti sekarang maka dia harus minimal 10 kali lebih hebat dari yang sudah ada. (Istilahnya adalah “one fold better”.) Kalau hanya lebih bagus, 20% lebih bagus atau bahkan dua kali lipat lebih bagus, tidak cukup untuk menarik orang ke produk kita. Poin ini juga menarik.

Selain poin di atas, masih banyak poin-poin lain yang penting. Itulah sebabnya saya banyak berhenti membaca buku ini. Mencoba mencerna dahulu poin yang dimaksud. Apa saja poin-poin yang dibahas? Silahkan baca bukunya.

Pokoknya buku ini adalah bacaan wajib bagi yang ingin membuat Startup. Sangat direkomendasikan.

 


Melawan Arus Mudik

Alhamdulillah “mudik” kami melawan arus, yaitu menuju Jakarta. Yes!

Kami menuju ke Jakarta di hari kedua Lebaran. Berangkat pagi, meskipun tidak pagi amat. Jam 7-an. Awalnya agak sedikit khawatir juga melihat banyak kendaraan yang menuju Jakarta meskipun masih lancar. Tidak ada kemacetan.

Belok sebentar di rest area Km. 97 untuk makan bubur dulu. Di sini juga ramai orang berhenti meskipun tidak sampai penuh sesak. Wah. Apa bakalan tambah ramai? Ternyata tidak.

Sebetulnya kami ke Cibubur dahulu sebelum ke Jakarta. Belok ke jalan Jagorawi terlihat banyak kendaran. Ada sedikit macet. Ternyata tersendat di pintu gerbang tol. Begitu belok ke pintu gerbang menuju Cibubur, lancar. Nampaknya kendaraan yang banyak adalah yang menuju Bogor dan Puncak?

Setelah bersilaturahmi di Cibubur, kami ke Jakarta. Ramai kendaraan juga, tetapi tidak sampai macet juga. Alhamdulillah. Jakarta cukup lengang. Coba Jakarta seperti itu setiap harinya. ha ha ha.

Kembali ke Bandung kami lakukan di hari Jum’at malam. Waswas juga. Ternyata jalan lancar. Memang banyak kendaraan, tetapi semuanya berkecepatan hampir tetap sekitar 90 (atau 100) Km/jam. Cukup cepat juga. Jadi Jakarta ke Bandung tanpa berhenti kurang dari 2 jam. (Saya lihat di odometer, jaraknya 150 Km.) Sementara itu jalan menuju Jakarta di tol Cikampek dan juga bahkan di Cipularang padat dengan mobil (yang mau balik ke Jakarta?). Alhamdulillah mudik melawan arus.

Yang repot adalah sampai Bandung baru mau cari makan. Ini sudah lewat dari jam 9 malam. Ternyata agak susah juga. Tadinya mau ke restoran Padang, tapi masih pada tutup. Akhirnya dapat juga restoran. Alhamdulillah lagi.

Ini cerita mudik yang menyenangkan. Jadi ada banyak cerita mudik yang menyenangkan. Di media sosial kebanyakan cerita yang mengerikan, macet di berbagai tempat. Seakan semua mengerikan. Ada juga yang mudiknya lancar kok. Banyak malahan. Ayo tuliskan cerita mudik lancar Anda. hi hi hi.

Sekarang ngaso dulu.


Ngeblog Dengan Tablet

Di jalan. Gak punya akses ke komputer. Terpaksa ngeblog dengan tablet. Susah banget.

[update]

Nah, sekarang begitu ada akses ke komputer (pinjam), baru diedit kembail tulisannya. Tadinya acak adut.  Masalahnya ternyata tadi ada banyak; internet yang terbatas (lambat), tablet yang mungkin juga makin (terasa) melambat, aplikasi browser di tablet yang juga mungkin belum terbaru, tidak terbiasa mengetik di layar (butuh keyboard fisik), dan seterusnya. Pokoknya ada banyak alasan saja. Tapi betulan alasan.

Dahulu pernah juga mencoba aplikasi wordpress di tablet, tetapi aplikasinya buggy sehingga tulisan juga sulit diedit kembali.

Ternyata yang paling sulit bagi saya adalah mengetik di layar. Nampaknya harus beli keyboard portable yang bisa digunakan untuk iPad dan handphone (Android). Ada saran?


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.853 pengikut lainnya