Kuliah Hybrid (Offline & Online)

Sekarang kuliah di ITB sudah diperkenankan untuk dijalankan secara hybrid. Jadi ada mahasiswa yang datang ke kampus (offline) dan ada mahasiswa yang mengikuti kuliah secara daring (online) dengan menggunakan Zoom. Ada juga kelas yang masih full online.

IMG_20220128_084900
Kelas Hybrid saya. Itu komputer saya terhubung ke Zoom.

Kelas memang harus memiliki fasilitas internet yang cepat dan juga cukup untuk menampung mahasiswa. Untuk kasus saya, ada kelas yang tidak cukup untuk menampung semua mahasiswa sehingga digilir yang datang offline. Ternyata mahasiswa banyak yang ingin masuk kelas offline karena sudah lama tidak ke kampus dan tidak ketemu teman-temannya secara fisik. Jadi mereka lebih suka offline.

Tapi – ada tapinya – dugaan saya ini tidak akan bertahan lama. Nanti lama kelamaan juga mahasiswa akan lebih senang kuliah online. Kenapa? Karena tidak perlu harus pergi ke kampus – ngabisin waktu. Tidak perlu bersiap-siap sebelumnya. Tinggal cuci mata atau cuci muka, beres. Tidak perlu pakai baju yang resmi. Asal kelihatan rapi sudah cukup. Jadi, dugaan saya mahasiswa bakal lebih suka kuliah online. Bagaimana menurut Anda, para mahasiswa?

Sarapan di Hotel: Sosis Dingin!

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih hotel adalah sarapannya. Setidaknya, ini yang menjadi pertimbangan saya. Namun sayangnya banyak hotel yang tidak memperhatikan hal ini. Mungkin mau ngirit?

Sarapan saya di hotel dan di rumah berbeda. Kalau di hotel saya memilih sarapan dengan telur, sosis, beef bacon, dan roti. Kalau di rumah, hanya roti saja. Maklum males membuat telur dan jarang memiliki simpanan sosis dan beef bacon. Kembali ke sarapan di hotel. Untuk telur, biasanya hotel-hotel tidak terlalu bermasalah. Kan kalau memasak telur gampang. Telur mata sapi. Sunny side up. Beres.

Nah, mari kita bicarakan sosis. Yang ini, seringkali kondisinya sudah DINGIN! Ini saya tulis pakai tanda seru karena saya agak marah. Ini yang membuat sarapan menjadi tidak enak. Padahal sosis yang panas dan dingin sangat menjadi pembeda antar surga dan neraka. Ha ha ha. Memang untuk menjaga agar sosis tetap panas ini tidak mudah. Kalau dia dibiarkan di atas pelengangan, maka sosis akan menjadi kering. Tidak enak juga. Kalau dibiarkan terbuka, maka dia akan menjadi dingin. Sebetulnya saya pernah melihat alat yang membuat sosis ini berputar-putar terus sehingga panasnya tetap rata, tetapi alat seperti ini hanya saya lihat untuk sosis yang ukurannya besar dan memang biasanya untuk pembuat hotdog. Anyway, ada banyak cara untuk membuatnya tetap panas. Atau, mungkin sebaiknya saya minta tolong agar sosis ini dipanaskan lagi? Hmmm.

Tentu saja sarapan bukan hanya sosisnya saja. Kopi juga sangat menentukan. Yang ini malah lebih parah lagi. Ngasal saja. Asal ada kopi. Ini akan saya tuliskan secara terpisah. Sekarang saya sednag di rumah tapi ingin sarapan seperti di hotel. Bagaimana ya?

Oh ya, hotel mana yang sarapannya enak?

Masalah Design Charger MacBook

Beberapa versi dari Apple MacBook terakhir, charger-nya memiliki bentuk yang aneh. Tidak seperti charger notebook lainnya. Biasanya charger notebook kepalanya hanya plug (colokan) saja, kemudian komponen elektronik chargernya di dalam sebuah boks terpisah. Kalau yang MacBook, komponennya berada di colokannya. Susah menjelaskannya ya? Ini saya ada gambarnya.

IMG_20220123_075026 charger Mac
Gambar colokan MacBook (sebelah kanan)

Perhatikan bentuk badanya yang agak aneh. Colokan kemudian memanjang ke belakang. Akibat bentuk seperti ini, dia sering mengganggu tempat colokan (power bar, extension). Contoh di gambar terlihat bahwa badanya terlalu panjang sehingga nyaris tidak dapat digunakan di situ. Foto ini saya ambil di hotel tempat kami menginap kemarin.

Kenapa ya desainnya seperti itu? Ada yang tahu?

Tidak Harus Tahu Semua

Sekarang banyak orang yang sedang membicarakan tentang “Layangan Putus”. Saya tidak tahu itu apa dan menahan diri untuk tidak mencari tahu. Kebanyakan orang sekarang takut kalau dianggap “kuper” (kurang pergaulan). Eh, istilah “kuper” sudah kuno banget ya? Kalau istilah ini dalam bahasa Inggrisnya adalah FOMO, fear of missing out. Nah.

Dasar memang saya anti-mainsteram. Saya malah nonton film dokumenter tentang Mesir, ancient Egypt di National Geographic Channel. Ah, juga sedang nonton film seri “Manifest” di Netflix. Seru. Hi hi hi. Saya tidak takut ketinggalan. Yang penting ilmu nambah. Cerita tentang hal-hal yang saya tonton ini nampaknya bisa menjadi pembahasan yang lebih mendalam dan seru.

“Good morning,” says a morning person

“Selamat pagi”.

Ini betulan saya ucapkan dengan tulus dan betulan di pagi hari. Saya adalah orang yang disebut “morning person“. Maksudnya adalah orang yang senang bangun pagi hari. Jadi, biarpun saya tidur sangat larut malam – misalnya pukul 12 malam atau bahkan pukul 2 pagi – maka saya tetap bangun pagi. Tentu saja saya bangun pagi untuk shalat Subuh. It goes without saying. Itu sih sudah keharusan, tetapi bangun pagi bukan sebuah keharusan tapi sebuah kebutuhan. Kenikmatan. Setelah shalat Subuh biasanya saya tidur lagi kecuali kalau ada kuliah pagi hari (misal pukul 7 pagi sehingga saya harus berangkat dari rumah sekitar pukul 6 pagi). Tidur sebentar karena ingin tetap bangun pagi.

Ada yang saya cari ketika bangun pagi. Sarapan! Great breakfast. Kalau nginep di hotel, saya cari yang sarapannya enak. Kesukaan saya adalah telur, sosis, (hash brown atau kentang), dan beef bacon. Jangan yang bacon beneran. Itu sih haram. Ha ha ha. Kalau pergi ke restoran juga itu yang saya cari. Kalau di rumah, bisa hanya sekedar roti satu tangkep. Dan yang paling penting adalah great coffee. Kopi yang super enak!!! Saya sangat bersyukur hidup di Indonesia yang sangat banyak jenis kopi yang enak-enak. Alhamdulillah. Sangat bersyukur.

Pagi hari juga kepala kita masih bening. Masih cerah. Belum ada beban kehidupan. Ha ha ha. Siang sedikit mulai muncul kepusingan yang harus kita hadapi semua. Maka pagi hari adalah waktunya saya membuat daftar apa yang akan saya kerjakan, to do list. Tentu saja to-do list saya ini tidak saya kerjakan. Ha ha ha. Hanya membuatnya saja sudah membuat saya senang. Bahagia banget sudah menyelesaikan membuat to-do list. ha ha ha. Ingat, membuat lho. Bukan melaksanakan. Ha ha ha.

Menjadi “morning person” adalah sebuah pilihan. Pola hidup. Life style. Tidak untuk setiap orang. Anda tentunya harus mencari pola yang paling cocok untuk Anda. Yang paling menyenangkan untuk Anda. Tetapi saya bisa katakan bahwa Anda akan kehilangan banyak hal yang menyenangkan jika Anda melewati pagi hari.

“Selamat pagi”.

(Versi YouTube ada di sini.)

Metaverse: gak usah ikut-ikutan

Sedang ramai orang membahas tentang Metaverse. Itu lho, gara-gara mas Mark Zuckerberg yang punya Facebook bercerita tentang Metaverse. Maklum, perusahaan holdingnya – yang membawahi Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lain-lain – namanya Meta. Ya sudah, ditambahkan “verse” saja. Jadinya Metaverse.

Tentang apa itu Metaverse tidak usah saya ulas panjang lebar di sini karena sudah ada tempat-tempat lain yang membahasnya. (Eh, tapi untuk kelengkapan – for the sake of completeness – seharusnya ini dibahas sedikit di sini ya?) Singkatnya ini adalah dunia virtual 3-dimensi tempat kita “berkehidupan”.

Bagaimana pendapat saya tentang Metaverse? Ya biasa-biasa saja. Sama seperti teknologi keren lainnya yang belum matang. Nama kerennya adalah “emerging technologies”, yaitu teknologi-teknologi yang baru “muncul” (atau baru tenar). Hal semacam ini dapat muncul dan kemudian membuat perubahan yang dahsyat, atau muncul, rame, dan kemudian tenggelam lagi. Macam kepopuleran batu akik lah. Atau kalau mau lebih dekat, ya semacam kepopuleran (nge)blog.

Dahulu blog juga digadang-gadang akan menenggelamkan koran. Citizen journalism akan mengalahkan conventional journalism. Buktinya blog-blog pada mati dan koran-koran masih terbit (meskipun juga tegopoh-gopoh bukan karena blog). Bahkan di Indonesia ada “Hari Blog Nasional“. (Kapan itu?) Wuih. Namun sama seperti batu akik, yang ngeblog sekarang dapat dihitung dengan jari tangan (eh, mungkin tambah kaki?). Saya tidak tahu lagi siapa yang masih ngeblog. Sayapun mulai tergopoh-gopoh dalam ngeblog karena ternyata sekarang lebih mudah membuat cerita di YouTube. Maklum, di YouTube saya model shoot-and-go seperti ngeblog ini. Tidak pakai edit-editan. Jadinya cepat. Kalau pakai edit-editan, saya yakin ngeblog lebih cepat dan lebih mudah prosesnya.

Kembali ke topik Metaverse. Kenapa menurut saya sebaiknya kita cermati dahulu? Ada banyak hal. Teknologinya juga masih belum matang. Pernah pakai head mounted display untuk melihat sebuah aplikasi kota Bandung. Yang ada adalah mual karena melayang-layang. Mau muntah. Kualitas grafik yang ada juga masih sangat rendah. Bayangkan ini seperti jaman orang membuat homepage di Geocities. Masih ada yang ingat? Tidak. Nah seperti itulah kondisinya. Bakalan terlupakan dengan teknologi yang lebih baru lagi.

Kalau homepage dan Geocities masih terlalu jauh, yang dekat sajalah. Ada yang masih pakai aplikasi Clubhouse yang sempat gempar itu? Saya sampai sekarang belum pernah pakai. Sudah lama saya tidak pakai iPhone. Atau bergeser tahunnya sedikit lagi, ada yang masih pakai Blackberry dan aplikasi BBM-nya? Waduh.

Bukan berarti saya antipati terhadap Metaverse lho. Saya hanya ingin mengatakan tidak perlu lebay. Santai saja. Tidak perlu heboh. Begitu?

Oh ya, cerita yang mirip juga saya sampaikan di channel YouTube saya. Ini videonya.

Beres Kuliah, Sibuk Tetap

Ini rumusnya gimana sih? Tadinya saya pikir begitu kuliah selesai, saya bisa punya waktu sedikit untuk leha-leha. Eh, ternyata tetap saja sibuk. Adalah urusan mahasiswa yang sidang, mahasiswa minta surat rekomendasi (untuk meneruskan ke S3), bimbingan mahasiswa, mereview makalah, menjadi juri, memberikan presentasi, dan seabreg-abreg kerjaan lain. Mungkin dulu kerjaan-kerjaan ini sudah ada tetapi “tidak terlihat” karena lebih disibukkan untuk urusan perkuliahan. Sekarang karena perkuliahan sudah selesai, jadi yang ini menjadi terlihat.

Kalau memang seperti yang di atas – bahwa kalau kita memikirkan sesuatu atau tertarik ke sesuatu maka akan menjadi terlihat – maka sebaiknya kita tidak perlu memperhatikan? Kalau begitu, kita perhatikan hal yang menyenangkan saja sehingga yang terlihat hanya hal-hal yang menyenangkan. Nampaknya benar ini. Mari kita uji. Mari kita melihat hal-hal yang menyenangkan saja.

(Tapi pekerjaan dan to-do list tetap teringat euy? Gimana ya? ha ha ha. Ini yang namanya nasib.)

Menuliskan Status Tidak Real Time

Banyak orang yang senang menuliskan statusnya secara real-time. Maksudnya, ketika dia ada dimana, langsung dia ceritakan. Bahkan ada yang melakukannya secara live. Kadang memang hal ini ada kebutuhannya, misalnya untuk sebuah berita, tetapi tidak semuanya harus langsung disiarkan. Bahkan menurut saya sebagian besar harusnya dicerna dahulu baru diceritakan.

Saya termasuk yang tidak terlalu suka menuliskan status atau cerita secara real-time, tetapi dengan alasan yang berbeda. Saya tidak ingin orang tahu saya ada dimana. Kadang ketika saya di Jakarta, ada kawan-kawan yang di Jakarta ingin mengajak ketemuan untuk mendiskusikan berbagai hal atau sekedar untung ngopi. Jadi kalau saya ke Jakarta dan tidak memberitahu, ada kawan-kawan yang merasa tidak enak. Padahal saya ke Jakarta seringnya untuk sesuatu hal atau acara yang khusus sehingga tidak ada waktu untuk acara lain. Jadi hanya pihak terkait saja yang perlu tahu. Nanti setelah acaranya selesai baru saya tuliskan ceritanya.

IMG_20211204_111308 crematology
Ngopi dua hari yang lalu (baru ditampilkan sekarang)

Ada juga yang menyarankan untuk tidak memberitahukan lokasi kita secara real-time untuk masalah keamanan. Misalnya ada keluarga yang berpesiar ke luar negeri dan membuat foto-foto atau video secara live. Itu bisa menjadi informasi bagi maling untuk beroperasi. Bener juga ya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sering menuliskan status Anda secara real-time?

Donasi Kopi (part 6): Distribusi bersama donatur IFORTE

Berikut ini adalah laporan singkat mengenai distribusi “Donasi Kopi Untuk Nakes”, yang kali ini dilakukan bersama dengan donatur dari perusahaan iForte Solusi Infotek. Donasi dilakukan ke Rumah Sakit Jiwa di Bandung yang dikenal dengan nama Riau 11 karena berada di Jl. Riau nomor 11. Distribusi dilakukan pada tanggal 21 Oktober 2021. Selain ke RSJ Riau 11, kloter kopi ini juga didistribusikan ke RSUD Al Ikhsan, Puskesmas Kujang Sari, Puskesmas Pasawahan, Puskesmas Mengger, Puskesmas Cijagra Lama, dan Puskesmas Cijagra Baru. Yang terakhir ini dilakukan pada tanggal 23 November 2021.

(Ada beberapa foto yang akan saya unggah ke sini.)

Berikut ini adalah liputan dari media TV.

Tautan ke informasi Donasi Kopi Lainnya (daftar isi):

Studi Kasus Bisnis: Kegagalan Kodak

Jika disebutkan kata “Kodak”, apa yang ada di kepala Anda? Bagi sebagian besar orang yang seusia saya (baca: berumur atau tua) nama Kodak selalu diasosiasikan dengan fotografi. Jika ingin memotret, maka kita membutuhkan film buatan Kodak. Kodak merajai dunia fotografi. Bahkan di Amerika ada istilah “Kodak moment” untuk situasi yang pantas untuk diabadikan dengan foto. Namun jika kita melihat saat ini, foto tidak lagi diasosiasikan dengan Kodak tetapi dengan berbagai aplikasi – seperti Instagram – dan handphone. Apa yang terjadi?

Kodak sempat menjadi salah satu perusahaan terbesar. Namun karena keterlambatan mengadopsi teknologi maka perusahaan ini sempat menuju kebangrutan. Yang lebih mengenaskan adalah Kodak adalah perusahaan yang menemukan teknologi fotografi digital di tahun 1977. Sayangnya mereka tidak menghargai penemuan mereka sendiri dan terlena dengan posisi mereka sebagai raja film kamera.

Kodak saat ini mencoba bangkit kembali dengan masuk ke dunia Farmasi. Masih terlalu awal untuk menentukan berhasil atau tidaknya, tetapi kita dapat membuat analisis.

Dimana letak kesalahan mereka terdahulu? Apakah perubahan arah bisnis (pivot) mereka akan berhasil? Pelajaran apa yang dapat diambil? Mari kita bahas.

Bahan Bacaan:

Bahan Video:

Bukan Ahlinya, Tapi Bicara

Sering melihat acara seminar dengan pembicara yang bukan ahlinya. Bukan pakarnya. Pembicaranya adalah pejabat dari instansi ini dan itu atau direktur dari perusahaan besar. Saya yakin materi presentasinya dibuatkan oleh orang lain, yang mungkin kompeten atau mungkin juga tidak. Selain pejabat, ada juga orang-orang yang mencari spotlight. Bergegas menuju spotlight.

  • Acara perusahaan rintisan (start-up): pembicara bukan orang yang menjalankan usaha rintisan, atau setidaknya pernah terlibat;
  • Blogging: pembicara bukan orang yang masih aktif menulis di blog (ha ha ha);
  • Security: pembicara adalah pengamat;
  • IoT, blockchain, Artificial Intelligence: pembicara adalah orang yang baru mendengar judul-judul ini;
  • dan sejenisnya. Apakah perlu saya list semua?

Mungkin ini bukan salah orang-orang tersebut. Mungkin ini adalah salah dari penyelenggaranya – EO / event organizer-nya. Mereka menyelenggarakan ini hanya untuk menggenapkan tugas, supaya checklist terpenuhi. Atau juga hanya untuk menghabiskan anggaran yang belum terserap oleh kegiatan lainnya. Atau memang EO-nya malas (mau menuliskan “bodoh” kok tidak tega ya) mencari narasumber yang lebih kompeten.

Apa yang saya lakukan ketika melihat hal ini? Diam saja. Paling pol ya menuliskan di blog ini. Pasalnya kalau saya bicara, nanti kesannya seperti orang yang iri dengki karena tidak kebagian bicara. Padahal sangat jauh dari itu karena lebih seringnya saya menolak untuk menjadi pembicara karena sibuk. Kalau topiknya tidak sesuai dengan kapabilitas saya, ya otomatis saya tolak lah.

Ada sedikit rasa bersalah karena membiarkan mereka membodohi masyarakat. Mungkin kata membodohi terlalu keras. Anda paham maksud saya. Seharusnya saya ikut meluruskan dengan ikut menjadi bagian dari acara tersebut. Masalahnya, saya tidak sempat karena sudah banyak kesibukan lainnya atau alasan lainnya. Ya sudah. Terima saja. Lihat saja dari jarak jauh. Salahkan diri sendiri. Semoga masyarakat menjadi lebih pandai. Itu saja harapan dan doa saya.

NIK Seharusnya Didesain Ulang

Sudah banyak berita tentang kebocoran NIK sehingga dapat dikatakan NIK itu sudah menjadi “rahasia umum”, yang artinya bukan rahasia lagi. Saya sudah banyak membahas tentang NIK ini jangan dianggap sebagai sesuatu yang rahasia sehingga dijadikan bagian dari “credential” atau identitas. Sayangnya banyak yang tidak paham ini dan malah NIK dijadikan sebuah hal yang utama. Ini merupakan sumber masalah utama yang akan sulit dipecahkan.

Tulisan kali ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa NIK seharusnya didesain ulang jika NIK ingin kita jadikan sebuah bagian dari identitas. (Jadi bukan soal kerahasiaannya ya.) Mengapa perlu didesain ulang? Karena data yang ada di dalam NIK itu mengandung informasi yang berlebihan, misalnya tanggal lahir dari orang yang bersangkutan. Ada informasi lain lagi (yang mungkin tidak terlalu meresahkan) adalah tentang tempat tinggalnya. Kalau orang tersebut pindah, apakah NIK harus ganti? ha ha ha.

Bayangkan jika nomor kartu kredit didesain sama dengan NIK kita. Hadoh.

Angka yang ada di NIK itu tidak acak (random) sehingga memudahkan untuk dicoba-coba secara berurutan. Ini dikenal dengan istilah enumeration attack. Angka yang ada tinggal ditambahkan satu persatu. Angka yang terkait dengan tanggal lahir juga dibatasi perubahannya karena tidak mungkin ada tanggal “99” bulan “99”.

Singkat ceritanya ada terlalu banyak masalah di dalam angka NIK itu. Oleh sebab itu saya mengusulkan untuk desain ulang. Apa saja yang perlu diperhatikan? Apakah Anda memiliki ide yang pantas untuk dipertimbangkan?

Sebagai contoh, NIK tidak harus terkait langsung dengan data pribadi seseorang. Dia boleh berupa sebuah angka yang acak. Atau dia merupakan sebuah angka yang dihasilkan dari sebuah proses tertentu (misalnya dari proses hashing tertentu). Lebih bagus lagi jika dia tidak berurut (sehingga menyulitkan untuk enumerasi). Kalau bisa, angkanya juga jangan terlalu panjang sehingga menyulitkan jika orang harus menuliskan angka tersebut – misal 20 digit. Meskipun di kemudian hari proses penulisan angka ini menjadi tidak perlu, misal dengan menggunakan QRcode sehingga langsung dapat dipindai (scan) ke aplikasi.

Bagaimana menurut Anda?

Bandung Hujan Lagi

Sudah masuk musim hujan lagi ya? Bandung sekarang sudah mulai hujan setiap hari. Biasanya sih mulainya siang sampai sore, menjelang Maghrib. Tapi pernah juga terjadi hujan di pagi hari atau hujan sampai malam (dan sampai paginya lagi).

Agak susah menjelaskan tentang hujan ini dengan kata-kata. Eh, seharusnya ini menjadi pelajaran bagi saya untuk bercerita secara kata-kata ya. Untuk sementara saya tampilkan saja videonya. Ini saya rekam kemarin.

Alhamdulillah hujan. Jadi tidak panas. Semoga tidak terjadi banjir ya. Mari kita periksa selokan, gorong-gorong, saluran air, dan sejenisnya. Kalau di dalam video itu, di sebelah kanan air lebih cepat hilang karena meresap di sumur resapan. Kami membuat sumur resapan di sana.

Hari Blogger Nasional

Ternyata hari ini adalah Hari Blogger Nasional. Baru tahu saya. Eh, sebetulnya saya sudah pernah tahu tapi lupa. Dahulu ketika hari ini dicanangkan saya juga tidak terlalu tertarik. Hari yang biasa saja. Soalnya saya belum tahu apa pentingnya ya? Apakah pada saat itu orang-orang disarankan – encouraged – untuk membuat blog atau bagaimana? Pada saat itu memang ngeblog menjadi sebuah hal yang sedang populer.

Sekarang, setahu saya sudah tidak banyak lagi orang yang masih ngeblog. Mungkin saya tinggal satu-satunya orang – eh, dinosaurus – yang masih ngeblog. Meskipun ngeblog ini ternyata lebih susah dari ngevlog, saya masih ngeblog juga. Tadinya saya malah berpikiran bahwa membuat video – ngevlog – itu lebih menghabiskan waktu dibandingkan ngeblog, tetapi ternyata cara saya lebih mudah membuat vlog. Maklum, cara saya adalah sekali rekam langsung upload. Jadi tidak ada proses editing (kecuali kalau ada yang hal yang sangat besar dan harus diedit).

Selamat kepada diri sendiri saja ah, sebagai seorang blogger. Masih. Setidaknya untuk saat ini.

Kuliah Luring (Offline) Lagi

Kemarin pertama kalinya saya melakukan perkuliahan secara luring (offline) lagi. Ini kuliah di MBA, SBM (Sekolah Bisnis dan Management), ITB dengan peserta 10 orang saja. Jadi hanya 10 orang dari seluruh kelas yang boleh hadir secara fisik. Sementara itu yang lainnya masih daring (online). Kelas dilakukan di tempat perkuliahan di gedung MBA ITB jalan Gelap Nyawang.

Sayang sekali saya lupa menampilkan setup kelas yang menurut saya keren banget karena ini gabungan antara online dan offline. Di kelas ada kamera dan internet – yang terhubung dengan Zoom. Di akhir kelas kami baru ingat untuk foto, maka ini adalah foto kami setelah kelas usai,

NVM CC63 – MBA ITB

Mahasiswa senang sekali bisa melakukan perkuliahan secara fisik setelah 2 tahun tidak ketemu. Bahkan ini lebih penting lagi karena mereka hanya kuliah 2 tahun. Jadi ini nyaris mereka tidak pernah ke kampus selama mengambil MBA. ha ha ha. Alhamdulillah mereka bisa merasakan kuliah fisik di kelas yang asyik.

Minggu depan akan dilakukan kelas luring lagi dengan 10 orang yang berbeda(?). Sebetulnya kelas dapat menampung 15 orang – dengan konfigurasi kursi yang berjauhan. Mari kita lihat minggu depan.

Ruang Kelas MBA, SBM, ITB – untuk mengajar hybrid (offline dan online)