Jangan Menilai Dengan Kacamata Sendiri

Banyak orang – mungkin sebagian besar orang? – menilai atau mengukur orang lain dengan kacamatanya sendiri. Masuk akal sih. Habis, mau mengukur dengan apa? Hmm … Okelah, tetapi saya melihat ada banyak masalah dengan pendekatan ini.

Kalau saya menilai orang lain dengan kacamata saya, maka saya akan frustrasi sendiri karena kok jauh dari standar yang saya terapkan. Saya bukan seorang yang perfectionist, tetapi memang punya standar yang tinggi untuk berbagai hal. Sebagai contoh, kalau belajar ya saya belajar serius sekali. Serius di sini maksudnya bukan duduk di depan meja dan tidak peduli kepada hal lain, tetapi lebih ke menekuninya dengan hati. Maka saya kesal kalau melihat orang yang ngasal belajarnya. Tidak sesuai dengan standar saya.

Demikian pula saya adalah orang yang “multi dimensional” (for the lack of better words). Maksudnya saya menekuni berbagai bidang sekaligus; komputer, musik, olah raga, bisnis, entrepreneurship, pendidikan, kepemimpinan, dan seterusnya, dan seterusnya. Maka orang lain akan salah dalam menilai saya karena mereka hanya menilai dari satu dimensi saja. Sebagai contoh, yang tahunya saya di bidang pendidikan maka tahunya hanya saya sebagai dosen (banyak kuliah yang saya ajar dan saya sangat rajin dalam mengajar) dan peneliti (banyak penelitian saya lho – mahasiswa bimbingan saya juga banyak). Orang yang tahu kesibukan saya di bidang pendidikan tidak tahu kesibukan saya di bidang lain. Maka mereka akan tidak percaya kalau saya juga sibuk (dan berprestasi) di bidang olah raga, musik, bisnis, dst. dst. dst.

Inilah yang saya maksud dengan menilai orang lain dengan kacamata sendiri. Akan sulit menilai saya secara keseluruhan karena model yang ada di kebanyakan orang adalah satu dimensi.

Itulah sebabnya saya juga jarang (hampir tidak pernah?) menilai orang lain karena saya paham bahwa kacamata saya pasti tidak cocok untuk menilainya.

Iklan

Minta Materi Presentasi?

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah permintaan materi presentasi (slide) dari berbagai presentasi saya. Maklum, saya (terlalu) sering memberi presentasi.

Sebetulnya tanpa diminta juga biasanya slide presentasi saya bagikan di slideshare atau di web pribadi saya. Kalau belum ada di sana biasanya adalah karena belum sempat melakukan upload saja. (Atau ada bagian dari materi presentasi yang perlu dihapus dulu, karena terlalu sensitif atau mengandung rahasia, sehingga membutuhkan usaha dan waktu untuk melakukannya. Lebih lama lagi.) Saya senang berbagi.

Iseng saja. Untuk yang sering minta materi presentasi, seberapa sering sih ada memberi materi presentasi ke orang lain (ke saya, misalnya)? hi hi hi. Sekedar ngecek saja. Jangan hanya sering meminta tapi jarang – atau bahkan tidak pernah – memberi.

Jadi kapan mau memberi materi presentasi?

Bagaimana Membuat Lirik?

Pusing. Mau ngarang lagu. Melodi dapat, lirik gak bisa. Dari dahulu saya paham bahwa saya paling tidak bisa membuat lirik. Bagaimana sih caranya? Apakah ada panduan? Buku? Link?

Saya sudah berusaha untuk membuat tulisan, prosa, puisi, apapun, tetapi kok tetap bloon aja sih? Apa memang tidak ada bakat ya? Mosok skill membuat lirik tidak bisa dipelajari sih?

Atau … memang harus berkolaborasi?

Liburan …

Di tengah-tengah kesibukan, akhirnya saya memutuskan untuk “liburan” singkat. Hari Jum’at kemarin, saya dan anak saya kabur ke Yogyakarta untuk menonton konser musik rock dengan bintang utamanya Dream Theater. Sebetulnya sudah lama saya mengetahui keberadaan konser ini, tetapi memutuskan untuk pergi nontonnya agak mepet karena saya belum tahu skedul kesibukan saya. Begitu ada jeda sedikit, langsung diputuskan berangkat saja.

Awalnya acara ini hanya akan berlangsung satu hari, yaitu tanggal 29 September 2017 saja. Saya lihat tiketnya sudah habis. Eh, ternyata acaranya berlangsung dua hari. Ada tambahan show tanggal 30 September 2017. Akhirnya kami mengambil yang hari kedua itu. Langsung pesan tiket, book pesawat, dan book hotel.

Mengenai pemesanan hotel juga ada hal yang “lucu”. Awalnya acara konser rock ini akan di adakan di pelataran Candi Prambanan. Jadi awalnya kami mencari hotel yang dekat dengan Prambanan. Cari-cari di internet, dapat. Eh, hotelnya sudah penuh. Ya sudah, kami putuskan untuk ambil hotel Victoria (di belakang hotel Ambarukmo) saja. Pesan. Eh, ternyata lokasi konser dipindahkan ke stadiun Kridosono, yang mana ini lebih dekat ke hotel. Ha ha ha. Alhamdulillah. Nampaknya memang rencana menonton kami ini direstui.

Setelah Jum’atan kami pergi ke bandara dan menunggu pesawat. Eh, pesawat delay lebih dari dua jam. Untungnya saya tidak punya acara yang mendesak. Rencananya sih malam itu mau cari makan sate klathak saja. Jadi lumayan sabar menunggu di bandara. Pesawat sampai di Jogja dengan selamat dan kami langsung menuju hotel dengan menggunakan taksi bandara. Untungnya saya baru-baru ini ke Jogja, jadi tahu harus pesan taksinya dimana. Ini tidak terlalu nampak. Not so obvious for travelers.

Sampai di hotel, simpan tas terus langsung cari makan. Sate klathak. Eh, katanya ada yang dekat dengan hotel, yaitu di daerah Nologaten. Kami putuskan untuk jalan kaki saja ke sana. Lumayan juga, 15 menitan lah jalannya (jalan cepat). Sampai kami ke tempat satenya.

P_20170929_190757 pak jede 0001 Sate klathak-nya lumayan enak dan yang penting juga adalah *TIDAK ANTRI*. Di Jogja ini banyak tempat makan yang enak, tapi antrinya luar biasa. Mosok harus antri 1 atau 2 jam untuk makan. P_20170929_191105 0001

Ceritanya masih panjang, tapi yang penting adalah  besoknya nonton konser rock. Dream Theater-nya sendiri manggung jam 9 malam (nanti pada kenyataannya mereka manggung jam 8:30 malam), tetapi saya ingin nonton band-band lokal yang menjadi pembukanya. Jadi saya datang lebih awal.

P_20170930_153733 BR 0001

P_20170930_153802 LR 0001//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

BR-jogjarockarta//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Jreng!

[cerita lainnya menyusul. nanti saya update blog ini.]

Kopi

Kopi Minggu pagi ini, sambil ngoprek IoT untuk presiapan presentasi nanti siang. Sayangnya eksperimen gagal (belum bisa jalan). Tidak apa-apa. Yang penting dapat menikmati kopi dulu.

DSC_8319 kopi_0001 Menambah koleksi kopi. Yang ini dari Ethiopia, kiriman dari Martin Crow. Thanks Martin.

DSC_6722 coffee_0001

Ini kopi dari Jawa Barat dan video (tentang kopi tentunya).

DSC_8264 kopi_0001

Indonesia memang surga kopi.