Kebalik Hari

Ceritanya saya sering mengalami kejadian seperti ini. Terbangun tengah malam dengan sebuah ini. Seperti sekrang ini. Ini pukul 1:45 pagi. Ada banyak ide yang muncul. Misalnya, ide pemrograman, pengembangan produk, dan maunya langsung kontak kawan-kawan dan pengembang untuk mengeksekusi ide-ide tersebut. Tapi ini tidak mungkin karena semua sedang tertidur. Apa yang saya lakukan? Terpaksa semua ini saya catat di kertas atau buku catatan.

Masalahnya adalah kalau saya kerjakan terus, bisa-bisa ini bablas sampai Subuh. Sebetulnya ini tidak apa-apa kalau pagi hari bisa tidur. Kebalik. Ini tidak bisa saya lakukan karena pukul 8 pagi besok saya mengajar. Ha ha ha. Dan acara besok itu dari pukul 8 pagi itu berlangsung sampai pukul 3 siang. Non-stop. (Kalau dahulu malah diteruskan dengan futsal sampai pukul 6 malam.)

Ini juga nekad ngeblog karena kalau ditunda-tunda, maka ini menjadi tambahan hal yang perlu dilakukan besok pagi. (Padahal sekarang sudah pagi.) Ini menjadi sebuah baris di dalam buku catatan saya. Sekalian saja saya ngeblog supaya tidak menjadi catatan itu. Done.

Masih menimbang-nimbang tetap kerja atau kembali tidur. Selamat malam. Eh, selamat pagi.

Mencari Orang Data

Salah satu masalah dalam penanganan COVID-19 adalah data. Lagi-lagi data. Tidak ada data. Kurang data. Akurasi data dipertanyakan. Kenapa data lambat sampai? Dan seterusnya. Data terkumpul dalam betuk “silo-silo”. Terkotak-kotak.

Sebetulnya ini bukan masalah pertama (dan bukan yang terakhir) di Indonesia. Masih ingatkah kita tentang data Pemilu? Awalnya juga kita kesulitan data. Namun dengan adanya kawalpemilu, crowdsourcing data, maka keterbukaan data dan juga peningkatan kualitas data (ini asumsi saya) menjadi lebih baik.

Permasalahan utama yang saya perhatikan adalah di Indonesia ini saya kesulitan menemukan orang yang suka dengan data. Apalagi mencari orang yang senang dan dapat melakukan kurasi data. Susah sekali. Kita tidak terlalu peduli dengan data. Hard facts. Kita sering mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Ya ampun memang.

Pada suatu ketika (belasan tahun yang lalu), salah satu institusi tempat saya berada mencari orang untuk mengelola web site kami. Maka kami meminta sebuah biro psikologi untuk melakukan proses seleksi. Salah satu kriteria (bahkan yang utama) adalah suka melakukan kurasi data. Akhirnya kandidat yang kami terima memang cocok. Web site selalu up to date. Tanpa instruksipun dia lakukan proses kurasi.

Nah, sudah berapa lama ini saya membayangkan punya spin-off perusahaan yang melakukan kurasi data set (untuk training AI). Ah, nampaknya ini butuh usaha yang lebih keras.

Antrian Tulisan

Ada banyak topik dalam antrian tulisan saya, tetapi nampaknya antrian ini malah makin bertambah bukan makin berkurang. Pasalnya sekarang saya lebih suka membuat video dan memasangnya di channel YouTube saya. Bukan karena apa-apa, tapi ternyata membuat video lebih mudah bagi saya. Tinggal shoot (tanpa retak), potong depan dan belakangnya. Upload. Selesai.

Sebetulnya ada banyak yang masih harus saya tuliskan karena di video masih banyak yang tertinggal. Saya tidak bisa bercerita lama di video. Itupun sudah lama (belasan menit dari target 5 menitan). Maka seharusnya detail dari apa yang saya ceritakan tersebut bisa dituliskan di sini. Ya itu tadi, masalahnya topik-topik tersebut masuk ke dalam antarian juga. Jadinya akan lambat keluarnya.

Mungkin saya harus memulai kembali menuliskan topik-topik tersebut, meskipun sedikit. Toh nanti tulisan-tulisan ini dapat disunting ulang. Video susah untuk disunting lagi. Hanya saja, saya jarang menyunting ulang tulisan. Sama seperti di video. Sekali tulis, ya sudah.

Kembali ke laptop dulu. Semoga ada paksaan saya untuk lebih banyak menulis lagi.

Era Pendidikan 1-on-1

Sekolah dari rumah (school from home) memaksa banyak orang untuk menggunakan teknologi informasi. Mulai ada “masalah” terkait dengan ujian. Kebanyakan guru atau dosen masih menggunakan ujian secara konvensional. Kasih soal yang sama, kemudian semua mahasiswa harus menjawab. Ada LMS (Learning Management System) yang membantu mengacak soal dan jawaban sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang ingin nyontek atau mengunakan joki, tetapi ini sulit dengan kondisi saat ini.

Saya mengambil pendekatan yang berbeda. Ujian yang saya berikan kepada mahasiswa saya biasanya adalah membuat makalah, yang notabene akan berbeda-beda antar mahasiswa. Dengan kata lain, saya tidak mempunyai masalah nyontek atau joki. Namun timbul “masalah” baru bagi saya, yaitu untuk memeriksanya tidak dapat dilakukan secara gelondongan. Harus satu persatu. Selamat datang di era pendidikan 1-on-1, atau saya terjemahkan 1-ke-1.

Jika digeneralisir, pendidikan jaman sekarang masih bersifat pabrik. Semua siswa dibuat sama. Semua harus bisa mengerjakan soal yang sama. Bahan pelajaran sama. Ujian juga sama. Memang tujuannya adalah lulusannya dapat bekerja di tempat yang sama. Pabrik. Untuk pekerjaan yang individual, pendidikan seperti ini tidak cocok.

Pendidikan 1-ke-1 memberikan perhatian yang spesifik ke satu siswa. Bahan yang diberikan ke satu siswa boleh jadi berbeda dengan siswa satunya lagi. Ada siswa yang mudah mengerti dengan tulisan, sementara ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan diagram. Kecepatan belajar siswa juga akan berbeda. Sekarang semua disamakan. Harus selesai pada saat yang sama. Pada pendidikan 1-ke-1, kecepatan belajar siswa dapat berbeda. Artinya, masuk sekolah dan selesainya pun dapat berbeda.

Dahulu hal semacam ini tidak memungkinkan karena kekurangan tenaga pengajar. Namun sekarang dengan bantuan teknologi informasi (aplikasi, database, big data, artificial intelligence) seharusnya ini dapat dilakukan. Namun memang harus ada upaya yang terstruktur dan terencana untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Ayo kita mulai.

Bugar Setelah Mandi

Salah satu tips bekerja di rumah dari saya adalah mandi sebelum bekerja. Biarpun di rumah, mandi dulu lah. Ini membuat kita segar dan bersemangat untuk bekerja.

Hari ini saya merasa kurang fit. Agak lemas. Dan memang semalam perut agak berontak. Puasa saat ini merupakan tantangan besar bagi saya. Setelah istirahat sejenak, saya memulai hari dengan mandi dulu. Segar. Semoga badan menjadi lebih fit lagi. Setidaknya, semangatnya sudah naik dahulu. Yihaaa…

Bagi saya, mandi membuat badan segar dan meningkatkan semangat. Jika saya ke Jakarta menggunakan kereta api dan kembali ke Bandung menggunakan kereta api lagi, saya mandi dulu di stasiun Gambir. Ada tempat mandi yang lumayan bagus. Bayar Rp. 75 ribu sih, tapi ini membuat saya segar kembali. Naik kereta api menuju Bandung tinggal tidur di kereta api. Segar.

Tapi ini kan opini saya. Ada banyak orang – malah mungkin lebih banyak – yang tidak suka mandi. Ha ha ha. Bagi mereka, mandi adalah hukuman. Oh well.

Tanda Kehadiran Kelas Secara Digital

Kuliah sudah (hampir) selesai. Sekarang mulai masuk ke UAS (Ujian Akhir Semester). Bagi kelas saya, UAS ini dapat dilakukan di rumah karena kebetulan berupa makalah (term paper). (Untuk yang harus ujian tertulis seperti yang dilakukan secara konvensional akan kita bahas secara terpisah. Wah harus buat tulisan lagi ya?) Yang saat ini menjadi masalah adalah daftar kehadiran.

Saat ini kelas banyak yang dilakukan secara daring (online). Sebagai contoh, ini adalah cuplikan foto kelas saya yang baru selesai satu jam yang lalu. Kelas yang lain juga mirip.

advanced-programming

Bagaimana mengubah kehadiran di video conferencing (yang dalam kasus ini menggunakan aplikasi Zoom) menjadi daftar hadir kelas? Sebetulnya ini dapat dilakukan secara manual, tetapi bayangkan jika semua kelas sekarang melakukan hal ini. Harus ada cara yang mudah dan otomatis. Ini tantangan bagi pengembang teknologi. Ayo buat!

Hidup Berdampingan dengan Virus Corona

Nampaknya solusi untuk virus corona (covid-19) ini belum dapat ditemukan dalam waktu dekat. Vaksin dan obat membutuhkan waktu untuk dibuat. Memangnya sulap? Salah kita – warga seluruh dunia – sendiri kenapa tidak mengucurkan dana yang banyak untuk penelitian. Sudahlah kita hentikan saling menyalahkan. Faktanya demikian. Artinya apa? Artinya kita harus dapat hidup berdampingan dengan virus corona ini.

Tentu saja kehidupan tidak akan sama seperti dahulu. Kita tidak bisa serta merta kembali dengan kelakuan seperti dahulu. Ini sangat berbahaya. Kita ingin kembali seperti dahulu tetapi tidak boleh dengan cara yang ngawur atau sembrono. Itu akan membahayakan kita semua. Maka kita harus cari cara yang aman tetapi kehidupan dapat berlangsung (hampir) seperti semula.

Ada yang mengatakan bahwa hal yang utama adalah testing. Pengujian. Apakah seseorang itu aman untuk keluar rumah dan bekerja. Aman di sini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi aman juga bagi orang lain. Bagian yang terakhir itu yang penting. Itulah sebabnya saya tulis dengan huruf tebal. Banyak orang yang merasa sehat dan kemudian tidak peduli dengan kesehatan orang lain. Ini salah.

Masalah pengujian (testing) adalah alat & caranya masih belum baik, dalam artian alas tes masih mahal dan hasilnya membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya di Indonesia jumlah yang dites masih sedikit. (Pada saat tulisan ini ditulis baru ada sekitar 49767 yang sudah dites. Dari 250 juta orang warga Indonesia, baru 50 ribu. Di Amerika juga sedang ribut warga tidak ingin lockdown dan ingin kembali bekerja, tetapi tidak ada alat test-nya juga. Alat test tersebut masih dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit. Masih kekurangan.

Singkatnya, dibutuhkan sebuah cara untuk menguji yang murah dan cepat. Ayo para inventor. Ini sebuah tantangan.

Karena hal di atas belum ada solusi, maka dicari cara terdekat. Asosiasi. Bahwa kalau orang sedang bermasalah dengan covid-19, suhu tubuhnya meningkat. Tentu saja ini pendekatan kasar, tetapi dapat dilakukan untuk skala masif dan cepat. Itulah yang sekarang dilakukan di tempat-tempat umum. Maka mungkin di kemudian hari, salah satu prosedur sehari-hari kita adalah; pagi hari cek temperatur tubuh (sebelum pergi kerja), pulang dari tempat kerja (sampai rumah?) cek kembali. Catat ini. (Perlu diingat yang penting sebetulnya bukan angkanya tetapi perubahannya. Ini pendapat beberapa rekan peneliti.) Semua ini harus diotomatisasi. Kalau tidak, maka kita akan repot dan kita tidak akan melakukannya. Di belakang layar ada aplikasi (berbasis artificial intelligence dan big data) yang melakukan pemantauan. Berarti harus ada alat seperti ini. (Saya sudah kepikiran idenya dan bahkan sesungguhnya sudah mulai mengembangkan ini sebelum kejadian virus corona ini. Sekarnag terpaksa terhenti karena semua bekerja di rumah dan pendanaan juga berhenti.)

Hal lain yang kita harus berubah adalah cara pandang kita terhadap kesehatan. Jangan lagi meludah sembarangan. Kalau ada yang meludah sembarangan, perlu kita tegur. Jangan buang sampah sembarangan. Cuci tangan secara berkala. (Agak terpisah, saya sering melihat orang keluar dari wc umum tanpa cuci tangan! Kesel ngelihatnya.) Jaga kebersihan. Tingkatkan kebersihan dan kesehatan. Ini tidak mudah memang karena yang namanya kebiasaan itu tidak mudah untuk diubah, tetapi kalau kita tidak berubah ya kita akan tetap seperti ini; terkurung di rumah.

Apa yang saya ceritakan di atas baru satu hal saja. Satu upaya untuk kita dapat hidup di tengah-tengah virus corona ini. Perlu diingat, bahwa di sekitar kita ini ada banyak bakteri dan virus. Lihatlah kasus demam berdarah dan TBC yang masih ada di Indonesia. Kita sudah “dapat” hidup di tengah-tengah mereka. (Dari segi angka, mereka mengerikan, tetapi kita sudah tahu cara melawannya. Kita aja yang tetap sembrono. Covid-19 ini berbeda karena kita belum tahu saja.) Ini juga akan kita lawan. Sekarang kita belum menemukan cara melawannya.

Manusia adalah spesies yang tangguh. Man against nature. We will prevail! Kita akan muncul sebagai pemenang. Harus. Semangaaattt!!!

Aplikasi (Contact) Tracing vs. Privasi

Belakangan ini mungkin Anda sudah mendengar bahwa perusahaan Apple dan Google bekerjasama untuk meluncurkan sebuah aplikasi yang melakukan tracking (pemantauan) keberadaan orang dan kaitannya dengan risiko terpapar virus corona (penyakit covid-19). Di Indonesia juga ternyata ada beberapa instansi akan (sudah?) meluncurkan aplikasi sejenis. Katanya aplikasi ini memantau keberadaan kita dan orang-orang di sekitar kita.

Ada banyak permasalahan dengan aplikasi sejenis ini. Masalah tersebut terkait dengan keamanan (security), termasuk masalah privasi. Kita mulai satu persatu dahulu.

Pertama, adanya ketidakjelasan cara aplikasi tersebut bekerja. Ada sih memang penjelasan umumnya, tetapi penjelasan umum tidak cukup. Misalnya, data apa saja yang dibaca oleh aplikasi? Diapakan saja data tersebut? (Dikirimkan kemana kah? Diproses apa kah?) Misal, apakah data kontak kita juga dibaca? Bagaimana dengan orang-orang yang berada di dalam kontak kita tetapi tidak ingin diketahui oleh orang lain nomor teleponnya (credentials-nya)? (Ada banyak orang yang seperti ini. Saya tidak bersedia membocorkan nomor telepon kawan-kawan saya kepada siapapun.) Apakah data orang-orang tersebut dibaca secara plain ataukah di-obfuscate atau diubah? Dengan cara apa? Apakah data tersebut digunakan? Dikirim? Diproses? Atau apa?

Kemudian ketika Anda berdekatan dengan seseorang, data apa saja yang dipertukarkan? Ada yang menggunakan Bluetooth dan saling bertukar data. Ketika kita mendapatkan data dari Bluetooth, bagaimana kita memastikan bahwa kita tidak kesusupan malware, trojan horse, virus, dll. Ada satu panduan yang umum digunakan, yaitu ketika tidak dibutuhkan, matikan Bluetooth. Jangan membiarkan Bluetooth hidup terus menerus. Ada banyak program penyerang Bluetooth. Belum lagi kalau kita bicarakan batre yang kesedot karena Bluetooth (atau networking lain) yang hidup terus.

Semua data ini kemudian diolah oleh “siapa”? Lokal di handphone kita? Menghabiskan batrekah? Atau dikirim ke tempat lain? Apa hak-nya “siapa” (instansi) yang mengelola data kita tersebut? Kalau data kita bocor, apakah “siapa” ini dapat kita tuntut ke pengadilan?

Bayangkan ini seperti aplikasi google maps / waze yang melakukan tracking kemana saja Anda pergi, ketemu siapa saja, atau dekat dengan siapa saja. Kemudian dia bakalan tahu juga kontaknya kontak Anda.

Cara-cara (protokol, mekanisme) yang digunakan harus terdokumentasi dan terbuka untuk publik. Jika ini dirahasiakan, maka itu sebuah tanda bahwa sistem ini tidak aman. Kita ambil contoh di dunia kriptografi. Sebuah algoritma kriptografi dinyatakan aman apabila algoritma tersebut dibuka ke publik. Keamanannya bukan terletak kepada kerahasiaan algoritmanya, tetapi kepada kerahasiaan kuncinya.

Setelah desain dari aplikasi tersebut kita nyatakan aman – atau setidaknya belum ditemukan masalah – maka kita beranjak kepada implementasinya. Bagaimana ide tersebut diimplementasikan. Banyak aplikasi / sistem yang idenya bagus tetapi implementasinya buruk. Jebol di sana-sini. Yang ini harus dibuktikan melalui evaluasi atau audit.

Setelah itu ada juga masalah di operasionalnya. Apakah orang mudah menggunakannya atau cenderung mengabaikan keamanannya. Misalnya ada sebuah sistem yang didesain teramat sulit ditembus, tetapi gemboknya (password-nya) misalnya 40 karakter. Karena sulit dihafal, maka password tersebut dituliskan di layar (menggunakan post-it-note). Hal yang sama, kadang karena sulit dihafal makas sandi tersebut kita simpan di handphone. Bubar jalan.

Masih ada hal-hal lain yang bisa kita bahas. Pada intinya, selama aplikasi tersebut tidak terdokumentasi dengan terbuka dan belum dievaluasi maka jangan gunakan aplikasi tersebut. Tujuan yang baik dapat berdampak buruk jika implementasinya ngawur.

Oh ya, versi video dari penjelasan ini dapat dilihat pada channel YouTube saya.

Semoga penjelasan ini dapat memberikan cara pandang lain.

Bacaan terkait.

Kacamata Baca

Pas lagi seru-serunya mengurung diri di rumah – work from home, bekerja dari rumah – kacamata baca patah. Ini sudah yang kesekian kalinya. Maklum kacamata baca biasanya saya beli di depan masjid setelah selesai Jum’atan. (Pertanyaan: kenapa ya selalu ada yang jualan kacamata di emperan masjid setelah habis jumatan?)

Harga kacamata baca di emperan gini murah meriah, mulai dari Rp. 25 ribu sampai Rp. 50 ribu. Kalau beli di toko (yang bukan toko kacamata) harganya sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 75 ribu. Kalau di optik, kacamata yang beneran ya harganya mahal. Saya pernah punya yang harganya Rp. 1 juta. Memang rasa dan kualitasnya beda. Ada harga, ada kualitas.

Saya dapat membeli kacamata baca dimana saja ini karena kemungkinan mata saya tidak ada silindris. Jadi tinggal dikonversi saja dengan usia. Saya tinggal sebutkan usia, penjualnya sudah tahu rentang ukuran kacamatanya. Sekarang saya menggunakan plus 2. Anda bisa menduga usia saya. Ha ha ha.

Karena sekarang sedang ada wabah virus corona, maka orang-orang diharapkan tetap tinggal di rumah. Jum’atan pun diharapkan tidak dilakukan di masjid dan dilakukan di rumah (dengan menggantinya menjadi shalat Dzuhur). Maka alternatif saya adalah mencari kacamata di toko seperti Borma atau Ace hardware. Tapi ya itu tadi, kalau boleh tidak bepergian lebih baik tidak pergi.

Belanja online! Ini adalah alternatif yang menarik. Maka mulailah kami melihat di berbagai situs online. Maka ketemu yang jualan kacamata baca yang harganya Rp. 22 ribu. Penjualnya kebetulan di Lembang. Jadi langsung kami pesan. Waktu itu weekend sehingga tidak dikirim dengan segera. Senin hari kacamata datang. Kami pesan tiga buah. Langsung saya cuci dengan sabun.

Kacamata baca murah meriah

Pagi ini saya coba. Hasilnya oke lah. Sesuai dengan harapan saya, yaitu tidak terlalu tinggi. Selama kacamata ini dapat dipakai dan dapat bertahan lebih dari sebulan, dia sudah bagus. Ini sama dengan kacamata yang biasanya saya beli di depan masjid. Jadi saya senang.

Kesimpulannya adalah … direkomendasikan. Recommended.

Semakin Sibuk

Dengan adanya kasus virus corona ini, banyak orang yang harus bekerja dari rumah (work from home). Banyak orang yang sudah mulai bosan berada di rumah karena tidak ada lagi yang dapat dikerjakan. Sementara itu saya malah kebalikannya. Semakin banyak kerjaan. Semakin sibuk.

Kalau dahulu ada banyak kerjaan yang membutuhkan saya hadir di sebuah tempat, misalnya untuk rapat ini dan itu. Seringkali saya tidak dapat ikutan dengan alasan saya tidak ada di tempat atau saya sedang berada jauh dari tempat rapat tersebut. Nah sekarang saya tidak punya alasan itu lagi. Semua rapat dilakukan secara online (daring). Jadi alasan saya yang dahulu, batasan fisik, tidak dapat digunakan. Saya harus cari alasan lain, misalnya internet lambat?

Ada statistik yang mengatakan bahwa kalau dahulu bekerja adalah 9 jam sehari sekarang – di tengah-tengah kasus virus corona – malah jadi 11 jam/hari. Hadoh. Nampaknya ini yang terjadi dengan saya. Jadi tambah sibuk.

Ada banyak hal yang menarik yang ingin saya tuliskan di blog ini, tetapi masalahnya adalah tidak sempat. Nampaknya justru alasan ini malah dapat saya gunakan untuk (tidak menulis di) blog ini. Ha.

Kebanjiran Informasi

Salah satu masalah – di antara banyak masalah lainnya – pada masa kini adalah kebanjiran informasi. Saat ini setiap orang ingin meneruskan (forward, share) informasi-informasi yang terkait dengan virus korona dan penyakit yang terkait (corona virus, covid-19). Di setiap media sosial dan terutama group WA (WhatsApp) ada banyak informasi.

Ada beberapa group WA yang ketika saya membuka handphone terlihat lebih dari 300 pesan yang belum terbaca. Sebetulnya mungkin lebih dari 500 pesan. Saya buka group WA tersebut, bukan untuk membaca, tetapi untuk scroll sampai di akhir group supaya semua pesan ditandai sudah dibaca kemudian saya keluar. Sejam kemudian saya buka handphone lagi dan ada 300 pesan lagi yang belum dibaca dari group tersebut. Ini baru satu group WA. Bayangkan saya (dan Anda) masuk ke banyak group WA.

Idenya memang baik. Semua ingin berbagi informasi. Sayangnya informasi tersebut tidak disaring dengan baik. Begitu dapat sebuah informasi / pesan, langsung diteruskan ke berbagai group. Boleh jadi di group tersebut sudah ada pesan yang sama. Anggota dari group tersebut kemungkinan besar juga sudah mendapatkan pesan yang sama dari group-group lainnya.

Banjir informasi. Banjir, banjir, banjir. Yang namanya banjir tidak ada yang bagus.

Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari berbagai group WA yang terlalu banyak memberikan pesan. Toh tidak manfaat juga bagi saya karena tidak saya baca pesan-pesannya.

Bagi Anda yang ingin berbagi pesan, sebaiknya tahan dulu satu atau dua hari (bahkan kalau pakem saya sih tunggu 3 hari) sebelum meneruskan pesan tersebut. Selektiflah dalam berbagi,

Duduk Mengajar

Dikarenakan wabah virus corona, maka perkuliahan di ITB (dan dimana-mana) terpaksa harus dilakukan secara daring (online). Saya sendiri sebetulnya sudah terbiasa mengajar kelas secara online. Ada kelas saya yang dilakukan di dua tempat bersamaan; di kampus Ganesha (ITB) dan di kampus ITB yang di Jatinangor. Ada kelas yang dilakukan secara online tetapi tidak real-time, dalam artian saya tidak langsung mengajar pada saat yang besamaan, misalnya yang di IndonesiaX. Ada juga kelas yang memang benar-benar saya lakukan secara menyeluruh online seperti yang saya lakukan di President University. Ada juga channel YouTube, tetapi ini cerita yang berbeda. Intinya, mengajar online bukan hal yang baru bagi saya, Hanya kali ini sedikit berbeda karena semua kegiatan ajar-mengajar dilakukan secara online.

Ternyata salah satu hal yang melelahkan bagi saya adalah duduk mengajar. Kalau di kelas biasa, kelas tatap muka secara fisik, saya biasanya mengajar sambil berdiri dan berjalan di depan kelas. Melakukan ini juga melelahkan, tetapi ternyata duduk itu lebih membuat badan ini pegal-pegal. Sebelum tulisan ini ditulis, saya baru beres mengajar dua kelas dan melakukan satu rapat secara online. Terus menerus dari pukul 9 pagi sampai pukul 15 sore. Bayangkan. Ternyata pegel linux juga. Ha ha ha.

Situasi ketika mengajar online

Kursi yang saya gunakan sudah cukup bagus. Bagus. Jadi ini bukan salah kursinya, tetapi memang bekerja secara online itu tetap melelahkan. Hmm. Mungkin saya yang salah. Mungkin seharusnya cara saya mengajar online-pun harus saya lakukan dengan berdiri ya? Hmmm. Nampaknya saya akan mencoba ini. Saya harus membuat dudukan untuk webcam yang lebih fleksibel. Akan dicoba di skedul kelas berikutnya. Sementara itu, sekarang saya mau istirahat dulu. Nonton TV (dokumenter) dulu ah.

(dan kembali lagi) Sibuk

Tadinya saya pikir kalau semester ini kerjaan bakal berkurang. Eh, malah jadi tambah sibuk. Sibuk ngapain saja itu yang juga menjadi pertanyaan saya. Tanda-tandanya saya sibuk adalah kalau blog ini tidak diperbaharui. Ha ha ha.

Contoh kesibukan saya hari ini. Pagi ini ada Quiz untuk kelas saya. Ini Quiz menjadi pengganti UTS karena saya memutuskan kelas ini tidak ada UTS. Nah, quiz ini dilakukan pas di jam UTS yaitu jam 7 pagi. Artinya saya harus berangkat dari rumah jam 6 pagi. Artinya jam 5 pagi saya harus sudah mulai siap-siap. Habis Subuh tidak bisa tidur lagi. Langsung beberes.

Setelah quiz dan kuliah ada mahasiswa bimbingan saya yang maju sidang. Ini pukul 10 pagi. Jadi saya hanya punya waktu sekitar 30 menitan untuk bersiap-siap. Itu saya gunakan untuk membalas pesan-pesan yang urgen. Hanya yang urgen saja. Yang lainnya ditunda nanti.

Selesai dari sidang thesis ini saya sudah ditunggu mahasiswa yang mau bimbingan. Jadi bimbingan dilakukan sambil jalan dari ruang sidang ke kantor saya (di gedung PAU). Bimbingan pun terus berlangsung. Lepas bimbingan sudah pukul 12. Waktu shalat dan makan siang.

Setelah itu selesai, pukul 12:30-an siang saya pindah ruangan untuk siap-siap melakukan mentoring startup / entrepreneurship. Sudah ada yang menunggu di depan pintu. Kegiatannya sendiri sih dimulai pukul 13, tetapi kan saya harus siap-siap dulu. Ini juga sudah ada yang menunggu di depan pintu.

Mentoring hari ini berlangsung dengan seru sampai pukul 15 lebih sedikit. Ini juga diselesaikan karena ruang rapat ini mau dipakai kelas. Mahasiswa kelas selanjutnya sudah ngintip-ngintip di depan pintu karena kami masih sibuk seru berdiskusi. Jadi diskusinya masih dilakukan sambil berjalan keluar ruangan. Ada alasan lain mengapa acara ini harus selesai pukul 15, yaitu saya ada futsal pukul 16 sd 18 di YPKP. Maka saya buru-buru dari sana menuju YPKP. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menitan untuk sampai ke sana. Jadi sampai di sana bisa Ashar bentar terus ke lapangan.

Selesai futsal baru menuju ke rumah dan baru bisa leha-leha. Ini baru waktunya membuka pesan-pesan (WA, Telegram, dll.). Jadi yang tadi pagi mengirimkan pesan, ya baru malam ini dibukanya.

Sebetulnya sekarang pun saya harusnya membuat persiapan untuk presentasi besok pagi, tetapi saya ambil sedikit waktu untuk menuliskan ini. (Menuliskan ini juga butuh waktu kan? Biasanya jenis tulisan yang seperti ini saya tuliskan sekali jalan. Jreng saja. Mengalir. Tanpa rencana. Tanpa edit-editan. Apa adanya. Jadi yang Anda baca ini langsung mengalir dari kepala saya ke jari-jari tangan.)

Oh ya, kemarin juga kesibukannya mirip juga. Besok juga dugaan saya sama. Tinggal lihat saja, apakah saya menulis di blog ini atau tidak. Kalau tidak, artinya saya sedang sibuk luar biasa.

Kembali ke laptop …

Dan Terjadi Lagi

Pukul 2 pagi. Seharusnya orang sudah tertidur, ini malah terjaga. Ada banyak ide yang ingin dikerjakan dan ada banyak lagi yang harusnya dikerjakan. Kalau ide tulisan ingin dikerjakan, maka bisa sampai pagi nulisnya. Padahal pagi harus mengajar. Lantas saya harus bagaimana? Melepaskan ide itu (lagi)?

Virus Corona: Efeknya terhadap bisnis dan minuman teh sebagai penangkalnya

Sebetulnya topik ini adalah topik sampingan dari kumpul-kumpulnya kami di rumah saya. Kebetulan ini ada beberapa kawan yang berkumpul untuk mendiskusikan soal kopi, atau lebih tepatnya alat roasting kopi. Sambil menunggu yang lainnya (belum datang), maka kami ngobrol tentang topik yang sedang naik daun; virus Corona.

Diskusi ini saya rekam dan sudah saya unggah ke YouTube. Silahkan simak videonya di sini.

Ceritanya dalam bentuk tulisan akan saya sampaikan di sini. Singkatnya begini, kita boleh waspada terhadap virus Corona ini tetapi jangan panikan. Sikap kita kepada China (Tiongkok) juga harus dipikirkan dengan baik-baik. Perhatikan aspek humanity.

Kemudian kami minum white tea, yang menurut mas Pudjo dapat menguatkan badan sehingga membantu menangkal virus. Enak banget teh-nya. Yang mau pesan, bakalan susah karena saya sendiri sudah pesan dari tahun lalu belum dapat juga. ha ha ha.