Saya Bukan Seorang Oportunis

BR pilih 2Saat ini banyak yang bertanya-tanya, kemana para pendukung Jokowi? Ini di sini. Saya masih mendukung Jokowi. Saya bukan seorang oportunis, yang melarikan diri ketika masalah datang tetapi muncul terdepan ketika kemenangan hadir. Masalah harus dihadapi dan dipecahkan, bukan untuk dihindari (untuk kemudian muncul lagi bagi generasi berikutnya).

Saya tampilkan kutipan berikut:

penghuni tikungan jalanan, lenyap saat peristiwa, muncul paling depan setelah kejadian” (Yockie Suryo Prayogo)

Membangun negara yang sudah kocar-kacir membutuhkan waktu. Ada banyak hal yang harus dibenahi. Membangun infrastruktur tidak bisa instan. Butuh waktu dan pengorbanan. Sama seperti dengan menanam pohon (kelapa). Mungkin kita tidak sempat merasakan buahnya. Ini adalah untuk generasi berikutnya.

Oh ya, untuk pak Jokowi, tetaplah tegas dengan prinsip-prinsip bapak. Gantilah bawahan dengan orang-orang yang memegang visi dan cita-cita yang sama. Yang memiliki keberanian untuk menggapai cita-cita meskipun jalan menuju ke sana terjal dan berliku-liku. Saya paham bahwa ada manuver-manuver politik yang harus dilakukan. Ada risiko yang harus diambil. Namun, janganlah mengorbankan prinsip untuk jabatan. Paling-paling bapak ditendang seperti halnya Gus Dur, yang masih saya hargai (respect). You have to prove nothing to nobody, but yourself.

Mari kita tetap berjuang. Kerja, kerja, kerja. Mari kita kerja.


Komitmen, Konsistensi, dan Ketekunan

Dalam berbagai kegiatan – baik itu pendidikan, olah raga, hobby – ada banyak inisiatif yang pada mulanya ramai namun akhirnya kendor. Pada mulanya yang hadir banyakan. Setelah beberapa kali pertemuan – jangankan beberapa kali, 2 atau 3 kali saja – jumlah yang hadir mulai menurun. Setelah itu yang hadir malah justru satu atau dua orang saja. Ha ha ha. (Saya pernah mengajar kuliah dengan jumlah mahasiswa yang menurun dengan drastis. Nama mata kuliahnya adalah “Metoda Formal” – Formal Methods. Jumlah yang mendaftar dapat dihiutung dengan jari tangan. Satu tangan saja.)

Komitmen pada kelompok (untuk ikut aktif), konsistensi dalam hal kehadiran, dan ketekunan untuk tetap menekuni ilmu dan skill tersebut merupakan hal yang ternyata langka. Instan memang lebih menarik.

Banyak yang bertanya mengapa blog saya ini ramai dikunjungi. Ya, karena ketiga hal di atas itu (dalam hal menulis di blog). Tidak terlalu susah secara teori, tetapi susah untuk dipraktekkan. Hal yang terlihat mudah dan sederhana sering diremehkan sehingga tidak dilakukan. Bagi yang terbiasa dengan hal-hal yang instan, ini merupakan hambatan yang luar biasa.

Bagi Anda-Anda yang aktif menyelenggarakan kegiatan, jangan kecewa atau putus asa jika kehadiran dari para peserta anjlok dan bahkan mungkin tinggal hanya Anda sendiri. hi hi hi. Anda tidak perlu membuktikan kepada orang lain. Anda hanya perlu meyakinkan kepada diri Anda sendiri.

Saya bermain futsal dengan kawan-kawan sudah bertahun-tahun (rasanya sudah lebih dari 7 atau 8 tahun). Saya futsal bukan untuk cari prestasi tapi cari olah raganya. Kadang yang datang belasan orang (cukup untuk 3 tim), kadang pernah hanya 3 orang – yang akhirnya harus bujukin orang-orang lain untuk bergabung. Saya mencoba untuk tetap rutin melakukannya.

Mengajar (atau presentasi) juga demikian. Mau yang datang 100 orang atau hanya 1 orang, tetapi saya layani dengan semangat yang sama. Bermain musik juga sama. Membuat dan menjalankan perusahaan (usaha) juga sama. Terlalu banyak tantangan untuk membuat kita berhenti. Terlalu banyak alasan atau pembenaran untuk membuat kita tidak tekun.


Carilah Tulisan Yang Baik

Jika ada pilihan makanan yang enak dan bergizi atau sampah, Anda pilih mana? Orang yang waras pasti pilih makanan yang enak dan bergizi. hi hi hi. Saya pilih yang itu. Maklum, kan saya orang waras. (Mana ada orang gila ngaku gila. he he he. Eh, ada. Temen saya! Tapi itu cerita lain.)

Badan, fisik, kita membutuhkan makanan. Bagaimana dengan jiwa, rohani, soul kita? Dia juga membutuhkan makanan. Salah satu “makanan”nya adalah melalui bacaan.

Anda punya pilihan lagi. Mana yang akan Anda pilih? Bacaan yang enak dibaca dan membuat jiwa kita senang atau bacaan yang isinya maki-makian (sampah)? Kalau dahulu, ada banyak buku yang bagus-bagus. Sayangnya sekarang buku sudah mulai ditinggalkan dan diganti dengan media sosial.

Dunia media sosial – facebooo, twitter, dan sejenisnya – penuh dengan pilihan itu. Ada tulisan-tulisan yang baik tetapi lebih banyak lagi maki-makian (baca: sampah). Saya melihat ada banyak orang yang memilih membaca maki-makian hanya karena satu aliran atau karena membenci pihak yang sama. Aneh saja, membaca kok memilih yang maki-makian. Apa asyiknya ya? Setelah membaca yang seperti itu, apa yang Anda rasakan? Nikmat? Bahagia? Ataukah justru menambah amarah, dendam, kesumat? Belum lagi tekanan darah yang ikut naik. hi hi hi.

Carilah tulisan yang baik. Yang membuka wawasan. Yang membuat Anda bahagia.

Kayaknya bisa jadi misi baru nih: menyediakan tulisan-tulisan yang enak untuk media sosial.


Mari Kita Blokir Memblokir

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang blokiran situs tertentu karena dianggap terkait dengan radikalisme(?) sesuai dengan permintaan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). [Link Kominfo.] Riuh rendah pendapat dan komentar di media sosial (Facebook, Twitter). Ada yang menuduh pemerintah anti Islam. Padahal tuduhan ini tidak benar, tetapi begitulah pendapat yang ada di dunia siber Indonesia. Kominfo kurang public relation nampaknya. hi hi hi.

Tidak produktif. Sebetulnya blokir memblokir ini bukan untuk pertama kalinya. Sebelumnya sudah diterapkanĀ  blokiran dengan alasan pornografi. Sekarang alasannya adalah terkait dengan radikalisme. Nanti lama kelamaan alasannya adalah tidak sesuai dengan budaya Indonesia atau bahkan beda cara pandang dengan Pemerintah. Ini berbahaya. Padahal jaman pak Harto-pun internet Indonesia tidak pernah ada blokir-blokiran.

Dari dahulu saya berpendapat bahwa blokir-memblokir yang dilakukan Pemerintah ini kurang tepat. Terlalu banyak cara untuk melewati pemblokiran tersebut. Ini menjadi kontraproduktif. Kita jadi sibuk memblokir dan membuat anti-blokir. (Nanti dilanjutkan dengan anti-anti-blokir dan anti-anti-anti-blokir … dan seterusnya.)

Cara terbaik untuk menangani kasus-kasus perbedaan pendapat dan sejenisnya adalah dengan pendidikan dan perbanyak konten positif. Cara ini lebih elegan dan berkesinambungan (long lasting).

Ayo kita perbanyak konten yang positif. Mosok kita hanya bisa berkeluh kesah?


Kabel iPhone5

Ternyata punya handphone iPhone itu agak rese. Sebetulnya semua produk Apple itu agak rese kalau urusan perkabelan. he he he. Kabel data yang merangkap untuk nge-charge untuk iPhone 5 saya rusak. Padahal saya memakainya baik-baik saja, tapi dia rusak juga. Kadang nyambung, kadang tidak. Repot kalau batre habis dan ternyata ketika di-charge tidak ngisi.

Akhirnya saya mencoba beli kabel yang bukan asli. Cari-cari di toko handphone. Ada yang harganya 75 ribu, tetapi tidak jalan semua. Akhirnya saya membeli yang 200 ribu. Beberapa hari pertama dipakai tidak apa-apa. Selang beberapa hari mulailah dia bermasalah. Si iPhone mendeteksi bahwa ini bukan kabel asli dan dia TIDAK MAU nge-charge. Grrr. Anehnya, kadang dia mau, kadang tidak. Intermitten. Jadi repot juga.

Ketika di sebuah mall Jakarta beberapa hari yang lalu, iseng-iseng saya masuk ke TokoPDA.com. Nanya ada kabel iPhone 5 dan dijawab ada. Kemudian diberikan kabel ini. Harganya 150 ribu rupiah. Sebetulnya saya agak ragu. Lah yang 200 ribu saja gak jalan, apa lagi yang ini. Saya coba dulu kabel itu di sana, jalan. Bisa ngecharge. Langsung dibayar. (Maklum lagi mau meeting jadi harus buru-buru.) Alhamdulillah sampai sekarang dia bisa ngecharge. Semoga iPhone tidak mendeteksi bahwa ini bukan kabel aslinya (dan berhenti ngecharge lagi).

IMG_7765

IMG_7762 box kabel iphone


Hari Terbaik Untuk Ngeblog

Berdasarkan statistik yang saya miliki dari blog ini, hari yang terbaik untuk menuliskan (menampilkan) blog adalah Senin pagi menjelang siang. Orang terbanyak mengakses blog ini menjelang atau sekitar makan siang.

Meskipun akses internet bisa lewat handphone pribadi, nampaknya orang masih banyak mengakses internet – setidaknya, blog – dari kantor atau kampus. Itulah sebabnya, setelah liburan Sabtu dan Minggu, orang kembali ke kantor untuk memulai kerja. Pas jam makan siang mereka mau istirahat, menghela nafas sejenak. Ini waktu untuk membuka blog. Nah, jika Anda ingin mendapatkan traffic terbaik ke blog Anda, tampilkan pas jam makan siang hari Senin.

Hari Senin juga merupakan hari kerja yang paling bahagia. Katanya. Setelah kita di-charge pada weekend, maka hari Senin masih ada sisa kebahagiaan … he he he. Sebelum dihajar oleh pekerjaan, kuliah, dan tugas-tugas lainnya. Jadi, kalau mau nagih hutang, lakukan hari Senin. Mumpung masih bahagia. wk wk wk.

Sayangnya, hari Senin (dan Selasa) bagi saya di semester ini adalah hari yang paling sibuk! Dari pagi sampai malam ada saja pekerjaan yang harus saya selesaikan. Akibatnya, saya tidak bisa ngeblog di prime time. uhuk. Tulisan ini saja saya buat di antara kesibukan (sehabis ngajar, sebelum mentoring / bimbingan mahasiswa). Begitulah ceritanya.


Menuliskan Konsep

Mengapa ya kita – orang Indonesia – kurang suka menulis? Ada yang mengatakan ini budaya. Bukankah budaya dapat kita ubah? Jika kita mau berubah tentunya. Atau, memang sesungguhnya kita tidak ingin berubah?

Saya sering menugaskan mahasiswa untuk menulis. Hasilnya kurang maksimal. Mahasiswa ternyata tidak siap untuk menulis. Saya perhatikan juga tulisan-tulisan mereka yang seharusnya formal tetapi keluarnya menjadi “alay“. hi hi hi.

Saat ini mahasiswa sedang ramai berdemo. Berteriak-teriak menyuarakan ini dan itu. Saya belum melihat mereka menghasilkan semacam “buku putih”, atau apalah, yang berisi konsep pemikiran mereka tentang apa-apa yang terjadi saat ini dan kemungknan solusinya. Saya tidak tahu apakah masalahnya hanya pada penulisannya saja atau – malah lebih menyeramkan lagi – mereka tidak memiliki konsep. Ah, bahkan membuat memikirkan soal konsep pun mungkin bangsa kita sudah tidak sanggup. Kering.

Mengkhayal? Mungkin itu pun sudah merupakan sebuah hal yang “mahal”. Padahal mengkhayal merupakan hal yang paling murah dan mudah.

Mungkin harapan saya agar mereka (kita?) mulai menulis konsep dengan baik terlalu berlebihan. Berteriak-teriak memang lebih mudah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.278 pengikut lainnya.