Kopi (Lagi)

Asyik. Baru dapat kopi lagi.

kopi baru

Sebetulnya saya tidak tahu mereknya apa. Tapi kayaknya enak. Hari ini mau dicoba ah. Enak euy.


Beres Baca Satu Buku Lagi

Baru beres membaca satu buku lagi. Asyik. Bisa dilanjutkan dengan buku berikutnya.

DSC_2778 buku

Ada sedihnya juga. Buku yang baru selesai saya baca, dilihat dari jumlah halamannya, termasuk tipis (80-an halaman). Namun untuk menyelesaikan membaca buku ini saja saya membutuhkan waktu hampir satu bulan. Baca, berhenti, baca lagi, dan seterusnya. Ternyata kecepatan membaca saya sudah berkurang. Alasan saya sih karena kesibukan, tetap mungkin ada banyak alasan lain seperti misalnya buku yang dibaca kurang menarik.

Iya, buku-buku sekarang jarang yang sangat menarik sehingga tidak bisa berhenti membaca. Dahulu, sering saya tidak bisa berhenti membaca buku. Bisa-bisa buku yang hanya 80 halaman ini selesai dalam satu hari.

Tidak mengapa. Dinikmati saja. Sekarang bersiap-siap membaca buku-buku berikutnya.


Kopi

Pagi ini dimulai pukul 3:30 pagi di Bumi Serpong Damai (BSD). Semalam ada meeting sehingga saya terpaksa menginap di sana. Pukul 4 pagi meluncur dari BSD menuju Bandung. Ada kelas pukul 8 pagi.

Perjalanan Jakarta – Bandung cukup lancar. Sampai di kampus pukul 7 pagi. Langsung menuju kafe Eititu, yang berada di Campus Center Timur. Mereka belum buka, tetapi karena saya sering makan di sana para pekerjanya sudah hafal dengan saya. Jadi, mereka sedang menyapu dan ngepel tapi saya sudah bisa pesan kopi hitam. Long black.

IMG_20160415_073147

Nendang! Membuat saya terjaga selama kuliah. Eh, sebetulnya tanpa kopi pun tidak masalah. Ini hanya pembenaran saja. he he he.

Setelah mengajar saya pulang karena siang, setelah Jum’atan, ada rapat. Kali ini saya minta dibuatkan kopi lagi. Sama juga, kopi hitam. Ukurannya malah lebih banyak, satu mug. hi hi hi. Lumayan membuat saya lebih terjaga ketika rapat. (Lagi-lagi ini pembenaran.)

Sekarang pengen kopi lagi, tapi kayaknya jatah kopi hari ini sudah cukup.


Mahasiswa Dan Anggota DPR

Di media sosial banyak yang mencemoohkan kinerja dan pekerjaan anggota DPR. Ada banyak guyonan yang menunjukkan anggota DPR sedang tidur, bolos hadir, dan seterusnya. Mahasiswapun banyak(?) yang mempertanyakan (anggota) DPR ini. Mau tahu kenyataan yang ada saat ini?

Menurut saya, mahasiswa saat ini tidak berbeda dengan anggota DPR!

Mahasiswa datang ke kelas untuk sekedar hadir. Memenuhi kuota kehadiran saja. Administratif.  Ada juga yang datang ke kelas dan kemudian tertidur. Yang bolos juga tidak sedikit kok. Kalau mahasiswa hadir di kelas dan ditanya, “ada pertanyaan?”, tidak ada yang menjawab. (Masih mending anggota DPR ada banyak yang bertanya.)

Lantas apa bedanya mahasiswa dengan anggota DPR?


Kurang Inisiatif dan Secukupnya Saja

Hasil ngobrol-ngobrol dengan sesama teman yang memiliki perusahaan dan juga dengan dosen-dosen, nampaknya ada benang merah dari SDM saat ini. Menurut saya ada dua hal yang sangat bermasalah, yaitu (1) kurang inisiatif, dan (2) bekerja (berusaha) secukupnya saja.

Anak-anak (SDM) sekarang kurang inisiatif. Untuk melakukan sesuatu harus disuruh. Bahkan disuruhnyapun harus rinci dan spesifik. Dalam presentasi sebuah studio animasi minggu lalu, dikatakan bahwa animator sekarang harus diberitahu detail. Tidak bisa lagi disuruh, misalnya, buat “si karakter itu memberi sesuatu ke lawannya”. Nah “memberi sesuatu” itu harus dijabarkan oleh kita, sang pemberi pemerintah. Mereka tidak bisa memiliki inisiatif sendiri menjabarkan itu.

Menurut saya hal ini disebabkan mereka takut salah. Takut kalau mengambil inisiatif ternyata bukan itu yang dimaksud. Padahal salah adalah biasa. Sistem pendidikan dan lingkungan terlalu menghukum orang yang salah jalan. Akibatnya orang takut untuk berinisiatif.

Masalah kedua adalah bekerja secukupnya saja. Kalau diberi tugas A, ya yang dikerjakan hanya A saja. Mereka tidak tertarik untuk mengerjakan A+ atau A, B, C, … dan seterusnya. Padahal justru prestasi itu dicapai ketika mereka bekerja melebihi dari yang diharapkan.

Hal ini mungkin disebabkan oleh hilangnya keingintahuan (curiousity). Entah ini karena malas atau karena mereka melihat orang lain (kawannya) tidak melakukan maka dia juga tidak melakukannya. Untuk apa lebih?

Cukup ah ngomel pagi-pagi ini.


Ngaso

Dua hari kemarin cukup padat acara saya. Sebetulnya yang paling padat adalah hari Sabtu. Itu adalah hari kami, Insan Music Store, mengadakan launching – seperti telah dituliskan di artikel sebelumnya. Seharian kami berada di tempat acara. Akibatnya, belum sempat ngeblog.

Tadi pagi mau ngeblog, tetapi ada banyak kerjaan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah menjemur alat-alat musik dan peralatan lain yang kemarin kehujanan. Selain itu saya juga mengumpulkan foto-foto dari acara kemarin. Ada banyak fotonya. Mungkin jumlahnya lebih dari 600 foto. Tentunya harus dipilah-pilah mana yang layak disimpan dan mana yang bisa dihapus saja. Jadinya belum sempat ngeblog dengan serius.

Tulisan ini hanya untuk menceritakan bahwa saya ngaso sejenak. Eh, kebanyakan ngasonya ding. hi hi hi.


Bagaimana Melakukan Multitasking

Banyak orang yang mengatakan bahwa multitasking – mengerjakan beberapa hal sekaligus – itu tidak baik. Mereka benar. Namun dalam kenyataannya ada orang yang melakukan multitasking karena satu dan lain hal. Saya melakukannya.

Bagaimana melakukan multitasking? Berikut ini adalah hal-hal yang penting untuk dipahami. Saya menemukan ada tigal (3) hal.

Pertama, turunkan harapan (expectation). Sebagai contoh, jika kita mengerjakan sesuatu dengan harapan mencapai 90% dari target, maka ketika kita multitasking hasil yang dapat dicapai mungkin turun menjadi 70%. Ini akan menjadi masalah bagi seseorang yang perfectionist. Penurunan hasil yang dicapai ini apakah bisa Anda terima? Bagi saya, ini lebih masuk akal. Mengerjakan tiga hal secara bersamaan dengan hasil masing-masing 70% lebih menarik daripada mengerjakan tiga hal secara serial dengan hasil 90%.

Kedua, skeduling atau pemilihan prioritas apa yang dilakukan berdasarkan urgency. Deadline mana yang paling dekat, itu yang dikerjakan dahulu. Yang didahulukan bukan yang penting (importance). Padahal seharusnya yang dikerjakan dahulu adalah yang penting. Skedul akan berubah dengan sangat cepat dan kadang-kadang chaos. he he he.

Ketiga, yang paling susah, carilah tangan kanan untuk menangani tugas-tugas. Dengan kata lagi, delegasi. Delegasikan pekerjaan. Susahnya adalah mencari orang yang dapat mengerjakan sesuai dengan harapan kita. Susah sekali. Ada pepatah yang mengatakan, “if you want to do it right, do it yourself“. Masalahnya, jika semua kita kerjakan maka kita tidak dapat melakukan task yang lainnya. Jadi mencari orang untuk mendelegasikan pekerjaan merupakan sesuatu yang penting.

Ada masalah lagi terkait dengan poin ketiga, yaitu biasanya kalau kita mendelegasikan sesuatu maka hasilnya juga hanya 70% dari harapan kita. Hadoh.

Nah, jika ketiga hal di atas dapat kita lakukan, maka multitasking dapat kita lakukan.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.768 pengikut lainnya