Presentasi Tentang Blogging

Ini adalah blog tentang blogging. Rekursif. Ha ha ha. Seriously, pagi ini saya akan presentasi tentang bagaimana memanfaatkan blog untuk mendiseminasikan ilmu pengetahuan dan teknologi.

blogging-2018

Sebetulnya sekarang masih berpikir apa-apa yang ingin saya sampaikan. Masih campur aduk dan belum tertata dengan rapih. Ada hal terkait dengan menulis, ngeblog, dan tentang topik yang akan ditulis.

Kemampuan menulis ternyata merupakan barang yang langka. Padahal kemampuan ini tidak dapat muncul dengan tiba-tiba. Dibutuhkan latihan yang rutin. Dahulu untuk melatih dan mendapatkan tanggapan (feedback) dari pembaca, kita harus mencari media. Surat kabar merupakan media yang memiliki pembaca sangat banyak, tetapi sulit untuk menembus surat kabar. Untuk hal yang lebih teknis, jurnal merupakan target media, tetapi ini lebih sulit lagi. Akibatnya kita kekurangan penulis yang handal.

Saat ini sudah ada blog seperti ini. Blog ini mudah digunakan dan murah (dan bahkan gratisan seperti yang ini). Pembacanya juga tidak terbatas. Siapapun yang memiliki akses internet merupakan potensi pembaca. Tinggal bagaimana kita membuat tulisan yang bagus sehingga banyak pembacanya.

Jadi apa lagi alasan untuk tidak berlatih menulis?

Iklan

Nge-Vlog?

Sudah lama sebetulnya saya mempertimbangkan untuk membuat video blog (vlog), tetapi sampai sekarang belum kejadian. Ada alasannya (pastinya).

Alasan pertama saya belum ngeblog adalah saya kurang suka melihat diri sendiri di video. Males saja. hi hi hi. Tetapi sebetulnya ini alasan yang kurang valid karena yang nonton vlog itu kan bukan saya. Jadi seharusnya ini bukan alasan. (Namanya juga mencari-cari alasan.)

Alasan kedua adalah belum sempat. Yang ini juga ada solusinya, disempatkan. Eh, sesungguhnya belum sempat itu ada panjang rentetannya. Belum sempat shooting videonya, belum sempat menyunting videonya, belum sempat upload, dan seterusnya. Jadi seharusnya ini tidak semudah “disempatkan” saja jawabannya.

Ada lagi alasan-alasan lain, tetapi kalau saya sampaikan di sini nanti ketahuan bahwa saya mengada-ada. Bahwa sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.

Sebetulnya saya juga sudah mencoba membuat video di YouTube, tetapi belum dalam kerangka ngevlog seperti saya ngeblog. Itu adalah artifact (jejak-jejak) digital yang saya tinggal di sana.

Mencari kesempatan …

Memulai Perkuliahan Lagi

Hari ini sebetulnya sudah merupakan minggu kedua dari perkuliahan di ITB. Semester ini saya mengajar tiga (3) mata kuliah. Semuanya di bidang information security:

  • II3230 – Keamanan Informasi (Information Security)
  • EL5215 – Keamanan Perangkat Lunak (Software Security)
  • EL6115 – Secure Operation and Incident Handling

Ini potret yang saya ambil di kelas Keamanan Informasi minggu lalu.

ITB information security class 2018

Kelasnya dimulai pagi sekali, pukul 7 pagi. Ayo semangat! Semoga tetap bersemangat sampai akhir semester.

Semangat: Karena Hanya Itu Yang Kumiliki

Saya senang bermain futsal dan sepak bola. Khususnya untuk futsal, saya boleh dibilang suka sekali. Secara rutin saya bermain futsal dua kali seminggu, masing-masing 2 jam. Ini sudah saya lakukan sejak … hmm … lupa berapa tahun yang lalu. (5? 7? 10? Lupa. Pokoknya sudah lama sekalilah.) Alasan saya tetap tekun berolahraga futsal ini adalah untuk menjaga kesehatan. Tetapi tulisan ini bukan tentang itu.

Ketika bermain futsal, biasanya saya bermain dengan yang usianya lebih muda dari saya. Bahkan seringkali usia mereka dikali dua pun masih lebih muda dari usia saya. ha ha ha. Namun dari cara bermain mereka ada perbedaan yang mendasar.

Saya sadar bahwa saya kalah skill dari banyak orang. Yang saya miliki hanya semangat (dan biasanya juga stamina). Yang SERING SEKALI (sampai pakai huruf besar dan bold) saya lihat adalah anak muda cepat sekali kehilangan semangat. Kalau bermain dan pada posisi kalah, lantas hilang semangatnya. Pernah suatu kali di sebuah pertandingan, tim saya ketinggalan 0-4 di babak pertama untuk kemudian memenangkan pertandingan dengan skor 8-5. Masalahnya ya itu, begitu mereka disamakan kedudukan langsung hilang semangat mereka. Bubar jalanlah.

Skill dan stamina sangat sulit menjaga. Apalagi dengan bertambahnya usia. Tetapi, semangat? Ini tidak ada batasan usia.

Semangat atau hilang semangat itu menular. Jika kita bersemangat, maka yang lain terbawa bersemangat juga. Seringkali saya belum main dan tim mainnya buruk sekali. Begitu saya masuk dan menjadi bagian dari penyerang, permainan tim kami menjadi bagus sekali. Bahkan sering saya ikut menghasilkan gol. (Saya sering masuk ke jajaran top scorer, yang saya sendiri tidak mengerti kenapa kok bisa.) Padahal – sekali lagi – soal skill saya kalah jauh dari lawan main dan kawan-kawan satu tim. Saya sendiri sebetulnya tidak menyadari hal ini sampai salah seorang anggota tim mengatakan ini. Oh iya ya.

Sementara itu seringkali jika ada anggota tim yang hilang semangat, klemar kelemer, maka pemain lain pun akhirnya menjadi tidak semangat. Permainan tim langsung menjadi buruk juga. Bahkan ada pemain yang kalau pada posisi kalah, langsung mutung.  Keluar. Bahkan pulang duluan. Mental pecundang!

Saya tahu, hanya semangat yang saya miliki. Semangat tidak membutuhkan modal apa-apa, hanya keinginan diri untuk bersemangat saja.

Hal ini juga ternyata berlaku di luar lapangan. Dalam kehidupanpun demikian. Bersemangatlah dalam hidup. Apapun situasinya, bersemangatlah.

Tanpa KTP: mencari dompet ukuran A4

Kemarin siang saya mengunjungi salah satu grapari Telkomsel untuk membeli Kartu Halo. Setelah menunggu hampir 30 menit, akhirnya saya dilayani, Namun, akhirnya gagal untuk mendapatkan Kartu Halo-nya Telkomsel. Alasannya adalah saya tidak memiliki KTP.

Setahun yang lalu, KTP saya habis. Sementara itu eKTP saya tak kunjung datang meskipun saya sudah mendaftarkan diri tahunan yang lalu – di awal program eKTP. Alasannya adalah blankonya tidak ada. Lucu saja. Blanko kok tidak ada selama tahunan. Kalau disuruh mengadakan sendiri, beli sendiri blanko-nya pun saya mau kok. Akibatnya, saya sekarang tidak memiliki KTP. KTP saya digantikan dengan SUKET (Surat Keterangan). [saya juga baru tahu singkatannya adalah SUKET – ha ha ha.]

SUKET ini – seperti namanya – adalah surat dalam bentuk kertas A4. Saya belum tahu apakah ada orang yang kemana-mana membawa SUKET ini. Adakah dompet berukuran A4? ahahay. Walhasil, SUKET ini saya pindai (scan) dan hasil pemindaiannya ini yang ada di handphone saya. Ternyata waktu daftar di grapari Telkomsel itu foto SUKET di handphone saya tidak laku,

Di tengah kehebatan pemanfaatan teknologi informasi, pembuatan KTP saja negeri ini tidak mampu.

Suatu saat, saya diminta untuk menjadi salah satu anggota tim untuk membenahi eKTP. Saya ingin tertawa karena melihat ironinya. Lah, saya sendiri termasuk manusia SUKET. Ah, sudahlah.

Sementara itu saya akhirnya membeli kartu SIM dari operator lain yang tidak membutuhkan kehadiran SUKET fisik. Saya tidak menyalahkan operator, saya menyalahkan siapa ya? #korbaneKTP

Ngeblog Lagi

Beberapa hari ini saya hilang dari peredaran blog. Pasalnya, ibu saya masuk rumah sakit dan saya kebagian menjaga. Kebetulan tempatnya di stroke unit sehingga yang menjaga tidak boleh masuk. Yang menjaga rame-rame di hall di depan ruangan saja. Untungnya sekarang disediakan matras untuk tidur untuk masing-masing kamar. Lumayan. Hanya saja saya tidak berani membawa notebook. Hanya bawa handphone dan buku saja (yang tidak sempat dibaca juga). Singkat kata, tidak sempat ngeblog.

Sekarang ibu saya sudah ditempatkan di kamar biasa (dan mudah-mudahan besok sudah bisa pulang ke rumah). Jadi sekarang pas sempat, ngeblog dulu.

photo6253543117248636942

Di rumah sakit Boromeus (Bandung) ada banyak tempat makan yang enak. Saya belok dulu ke Calais untuk beli kopi hitam untuk di bawa ke kamar. Ini ngopi pagi ini.

Selamat pagi! Semoga kita semua sehat selalu. Amiiin.

Sederhanakan!

Zen: the art of simplicity

Entah kenapa, saya selalu mencoba untuk membuat yang kompleks menjadi lebih sederhana. Menjadi lebih mudah dimengerti. Ternyata menyederhanakan masalah itu tidak sederhana. (Rekursif?)

Problem utama dalam menyederhanakan masalah adalah membuatnya tidak menjadi “cemen” (watered down). Masalah tetap menjadi masalah, tetapi lebih mudah dimengerti. Masih masalah. Ya ampun. Kenapa jadi susah begini untuk mencoba menyampaikan penyederhanaan. Ironis ya? Mari kita ambil contoh.

Rumus yang dibuat Einstein ini; E = mc^2  (lebih baik lihat gambar di bawah ini).

emc2

Rumusnya keren kan? Meskipun kita tidak mengerti, tidak apa-apa. Rumus itu demikian sederhananya sehingga kita mudah menghafalnya (dan mudah mengertinya?), meskipun saya yakin di dalamnya sangat kompleks. Itu yang saya sebut menyederhanakan dengan sempurna. Bandingkan dengan persamaan Schrödinger di bawah ini.

schro

Eh, mungkin juga persamaan Schrödinger itu sederhana ya? Hanya saja saya yang tidak mengerti. Sebetulnya masih ada contoh-contoh persamaan lain yang juga rumit, tapi nanti kalau saya tampilkan malah poin utama saya tidak sampai. (Maxwell anybody?)

Kembali ke persoalan menyederhanakan masalah. Dua contoh di atas mudah-mudahan dapat menunjukkan bahwa sederhana itu bagus. Elegan. Lebih mudah dimengerti, meskipun proses untuk membuatnya tidak mudah.

Even if something looks effortlessly simple, it likely took a great deal of effort to reach such a state.

Sisi lain dari menyederhanakan masalah adalah kita dituduh tidak mengerti. Hi hi hi. Sering sekali saya mendapat tuduhan seperti itu. Padahal untuk membuatnya menjadi lebih sederhana itu kita harus mengerti secara mendalam (sehingga dapat mengerti bagian-bagian mana yang dapat dihapus tanpa mengurangi maknanya).

pak, kalau Sederhana … itu nama restoran

hayah …