Long Live Electronics!

[Mohon maaf, judulnya dalam bahasa Inggris karena itulah yang terbayang di kepala saya.]

Beberapa tahun yang lalau ada diskusi “galau” di antara kami, lulusan dan dosen dari jurusan Teknik Elektro. Pasalnya, mahasiswa lebih tertarik kepada ngoprek software daripada hardware. Banyak tugas akhir dan thesis dari mahasiswa Elektro yang akhirnya lebih berat aspek softwarenya. Ketika ditanyakan kepada sang mahasiswa, alasannya sederhana yaitu “software lebih mudah“. Hadoh.

Sesungguhnya ngoprek software itu terlihat mudah kalau dia hanya mainan (dolanan). Kalau dia dikerjakan secara sungguhan, software itu tidak mudah. Ada ilmunya. Kemarin ada orang yang mengatakan, buat apa kuliah untuk belajar pemrograman. Bisa belajar sendiri. Boleh jadi dia benar untuk sebagian kecil orang, tetapi umumnya orang masih harus sekolah untuk belajar pemrograman yang baik dan benar. (Ini bisa menjadi bahan diskusi yang lebih dalam.)

Ngoprek software itu lebih murah daripada ngoprek hardware. Nah, kalau yang ini mungkin benar. Kalau membuat rangkaian elektronik, kita harus beli komponen. Kalau komponennya rusak – dan ini sering terjadi dalam eksperimen – maka kita harus beli komponen lagi. Biarpun harganya murah, tetapi ini keluar uang secara nyata.

Anyway. Intinya adalah ada anggapan bahwa software itu lebih mudah sehingga banyak yang tidak tertarik kepada hardware.

Kami, khususnya yang berlatar belakang Elektronika, agak khawatir. Jangan-jangan masa depan Elektronika dan secara umum Electrical Engineering akan mati. Dia menjadi tidak relevan lagi. Hadoh.

Namun ternyata masa depan Elektronika cerah (kembali) dengan munculnya Internet of Things (IoT). Ada banyak aplikasi baru yang membutuhkan perangkat keras. Elektronika! Yaaayyy. Ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah kompleksitas dari komponen elektronika sudah semakin tinggi sehingga kemampuan komputasi komponen dalam ukuran kecil sudah menyamai komputasi komputer desktop (jaman dahulu). Mulanya muncul Arduino. Kemudian ada Raspberry Pi. Sekarang muncul yang lebih canggih (dan lebih kecil lagi), seperti Intel Curie.

Peningkatan kompleksitas dalam ukuran kecil ini juga dibarengi dengan harga yang murah. Ini yang membuat ngoprek perangkat keras (kembali) masuk ke dalam jangkauan kantong mahasiswa (dan laboratorium). Sementara itu banyak ide aplikasi yang dapat dikembangkan dengan menambahkan hardware ini; wearable computing, smart sensors, health & personal applications, dan masih banyak lagi. Maka ngoprek perangkat keras menjadi relevan lagi. Ilmu elektronika menjadi relevan kembali. Alhamdulillah.

Long Live Electronics!


Menjadi Pakar

Experts.
Expertice is great until it begins to shut you off from new learning. Many self-dsecribed experts, for example, talk more than they listen. Experts can inadvertently block an innovation by saying “It’s never been done that way.”
(Tom Kelley – The Art of Innovation)

Banyak orang yang berusaha menjadi “pakar” di bidang tertentu. Mereka kemudian memang menjadi pakar di bidang tersebut. Namun sayangnya kemudian mereka berhenti belajar. Mereka merasa sudah menjadi pakar dan akan menjadi pakar selamanya. Ini membuatnya menjadi sombong. Arogan. Berhenti belajar. Padahal ilmu selalu berkembang. Selalu ada hal baru yang harus dipelajari.

Pasti Anda mengenal “pakar” yang semacam itu ya?

Jika kepakaran membuat saya menjadi berhenti untuk belajar, maka saya tidak ingin menjadi pakar.


Soal Matematika

[Soal ini sudah saya sampaikan di halaman Facebook saya dan menuai banyak komentar. Sekarang sata dokumentasikan di sini.]

Ceritanya saya diminta untuk mencari himpunan permutasi 4 bilangan x1, x2, x3, x4 yang jumlah keempatnya adalah s (misalnya 27). Rentang bilangan xn adalah 0 sampai dengan 9. Adakah algoritma yang efisien untuk mencari solusi tersebut? (Catatan: tadinya di dalam postingan saya di Facebook, saya menyebutkan kombinasi bukan permutasi.)

Di halaman facebook saya banyak solusi yang diusulkan. (Terima kasih.) Bahkan ada yang sudah menampilkan snippet kode.

Secara visual, soal ini dapat dilihat seperti gambar berikut. (Maaf kalau gambarnya kurang jelas. Maklum ini corat-coret di buku.) Siapa tahu dengan gambaran secara visual dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik.

masalah matematika

Bayangkan jika kita harus berjalan dari sisi kiri ke sisi kanan melewati 4 lapisan. Setiap titik memiliki biaya (cost) mulai dari 9 sampai dengan 0. Kita harus mencari jalan (path) yang nilainya sesuai dengan yang kita inginkan, seperti dala contoh adalah angka 27. Salah satu jalurnya adalah {7, 7, 7, 6}.

Nah selamat mencoba.

[Catatan: masalah ini merupakan bagian dari penelitian kami tentang anonimitas dalam e-voting.]


Gagal Mencoba Cara Baru Ngeblog

Dikarenakan satu dan lain hal – yang pada prinsipnya akses ke internet saya agak susah – maka saya mencoba cara lain untuk ngeblog. Biasanya, begitu ada ide langsung saya tuliskan di blog dan langsung publish. Nah, akhir-akhir ini saya terpaksa membuat draft dulu sebelum publish. Ternyata cara ini tidak cocok untuk saya. Hasilnya adalah banyak draft dan tidak ada satu-pun yang ter-publish. Hadoh.

Nampaknya saya harus kembali ngeblog ke cara lama, atau tetap mencoba dan berlatih ngeblog dengan gaya baru ini. Eh, harus keduanya ya. Okelah. Berlatih. Sementara itu saya publish tulisan curhat ini dulu. Jreng!


Lebaran

Lebaran (dan mudik) rupanya berimbas ke blog ini juga. Beberapa hari ini belum sempat ngeblog karena “mudik”. Sebetulnya mungkin lebih tepat disebut “ngota” alias ke kota karena kami ke Jakarta. Untungnya perjalanan lebaran kami melawan arus mudik sehingga tidak mengalami kemacetan.

Sebelum lupa, saya memohon maaf lahir dan batin. Semoga amalan kita diterima oleh Allah (swt).

11705389_10153010703456526_7608551199243869090_o

Oh ya, berat badan yang turun karena puasa kemarin itu sudah kembali lagi dan malah bertambah dalam beberapa hari saja. Hadoh. Makan-makan terus tanpa disertai dengan olah raga. Alasannya sih karena nggak sopan menolak tawaran makanan dari saudara-saudara. he he he. Gawat sekali nih. Semoga berat badan dapat kembali “normal”. Hi hi hi.

Bagaimana dengan lebaran Anda? Mudik?


Waktu Cepat Berlalu

Liburan mahasiswa sudah hampir berakhir. Liburan Hari Raya sih memang sangat singkat. Nyaris tidak libur. Padahal tadinya saya ingin memperbaiki dan memperbaharui materi kuliah. Selain itu ingin mencoba berbagai tools, aplikasi, dan seterusnya. Banyaklah kemauannya, tapi kenyataannya nyaris nol besar.

Banyak waktu saya yang “terbuang” untuk membaca. Yang saya bacapun buku buku-buku teknis saja, tetapi buku novel pun ada. Sebagai orang teknis, kadang saya merasa berdosa menghabiskan waktu tidak untuk hal-hal yang teknis. Padahal sesungguhnya meningkatkan pemahaman tentang hal-hal di luar yang teknis – dengan membaca – merupakan hal yang sangat penting. Sesungguhnya waktu itu tidak terbuang dengan membaca.

Waktu cepat berlalu. Merugilah orang yang menyia-nyiakan waktu.

[dimana saya letakkan time machine itu ya? … mencari …]


Kok Dosen Tahu?

Kadang ada mahasiswa yang mau menipu (ngibulin) dosen dengan tugas-tugasnya. (Hal yang serupa dengan siswa dan guru.) Tentu saja modus seperti ini seringkali ketahuan. Sang mahasiswa bertanya-tanya, kok dosennya tahu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya tampilkan foto (yang lucu) ini.

anak nyalahin dog

Dialog yang terjadi mungkin seperti ini.

Orang tua: Hadoh biyuuung. Siapa yang corat-coret?
Anak: Emm … bukan aku. Dia (sambil nunjuk doggy)
Doggy sambil mendhelik: (aje gile busyet, teganya mas bro)

Tentu saja bagi orang tua akan gampang mengetahui kejadiannya. Sementara bagi sang anak, heran banget. Bagaimana orang tua saya kok tahu? Kira-kira hal yang mirip seperti ini terjadi antara mahasiswa dengan dosen.

Nah. Lain kali jangan coba-coba nipu dosen atau guru ya.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.462 pengikut lainnya.