Startup Accelerator

Kemarin saya memberikan presentasi di LPIK ITB terkait dengan Startup. Topik yang seyogyanya saya bawakan adalah tentang kaitan antara startup dengan corporate. Acara ini merupakan bagian dari pengenalan Plug and Play Tech Center, sebuah accelerator startup.

Kalau dilihat dari siklus sebuah startup, accelerator ini berada setelah inkubator. Urutannya kira-kira begini. Mulai dari ide. Ide tersebut dikembangkan menjadi produk (atau servis). Pendanaan di awal dapat dimulai dari diri sendiri atau angel investor. Langkah selanjutnya adalah menjadi bisnis betulan. Ada kalanya ini dilakukan melalui inkubator (meskipun sesungguhnya tidak semuanya harus melalui inkubator). Accelerator letaknya setelah itu, yaitu untuk meningkatkan bisnis menjadi lebih besar skalanya.

Plug and Play Tech Center, yang berpusat di Silicon Valley, memiliki beberapa lokasi di dunia. Sekarang mereka baru membuka tempat di Jakarta. Ada banyak layanan yang mereka berikan, mulai dari tempat (co-working space), mentor, pendanaan, dan seterusnya. Silahkan lihat situs webnya.

Presentasi saya akhirnya bercerita tentang perjalanan starting-up saya. Mudah-mudahan menginspirasi. Jreng!

16667160_10210962499791026_1664075578_o
In action. [Foto: Javad]

Festival Band Alumni ITB 2017

Setelah 3,5 tahun berlalu, festival band alumni ITB ada lagi. Pada fesband yang lalu saya tidak ikutan. Lupa kenapa. Kali ini saya ikutan. Bahkan, saya ikutan di 3 band (dalam dua hari). Sebetulnya saya bisa ikutan di satu kategori lagi, sehingga 4 band dalm 3 hari. Mungkin itu rekor di antara peserta. ha ha ha.

Jum’at malam (3 Feb 2017). Band yang pertama manggung – membuka acara – adalah Band Alumni Elektro ITB. Lagu yang dibawakan adalah (1) Kansas – Carry on Wayward Son dan (2) Cokelat – Bendera. Yang dicari memang lagu yang bernuansa rock! Di festband kali ini memang hanya diberikan kesempatan untuk membawakan dua lagu dengan catatan harus ada minimal satu lagu berbahasa Indonesia atau buatan sendiri.

band-el-fesband-2017-0001
Band Alumni Elektro ITB

16463646_10154979500928749_717606295467438938_o
Waktu check sound. [Sumber Foto: Uut]
Hari Sabtu saya ikutan dua band; Band Dosen ITB (BANDOS) dan Father and Son (berdua dengan anak saya). Bersama BANDOS, kami membawakan lagu (1) Moody’s Mood (versi Brian McKnight) dan (2) Panah Asmara (versi Afgan, bukan Chrisye). Untuk band ini saya hanya bermain gitar dan keyboard, plusĀ  vokal latar saja.

16487800_10208642935735674_8485832120577806802_o-br-keyboard

Di Father and Son, kami membawakan (1) Extreme – More than Words dan (2) Ungu – Tercipta Untukmu. Kami masuk ke kategori IDOL. Memang agak membingungkan karena kami tidak berniat untuk masuk kategori ini. Habis gak ada lagi kategorinya. hi hi hi. Kami membuka sesi IDOL.

16427218_10154224007325778_8744350497478206683_n
Father and Son. Luqman (kiri), saya (kanan). (Sumber Foto: Kadri)

Agak susah juga membuka sesi ini karena konfigurasi sound belum pas. Monitor suara gak bunyi sehingga saya tidak dapat mendengarkan suara saya sendiri. Pas checksound malah lebih asyik.

16473048_10154988901152486_4375659508002605105_n
Checksound – menyanyikan Creed – One Last Breath. (Sumber Foto: Yayo)

Hari Minggu (5 Feb 2017) saya kembali ke Bandung. Phew … Istirahat dulu. Sampai berjumpa di acara musik berikutnya.

Membaca Buku

Anak muda Indonesia jaman sekarang nampaknya tidak suka membaca buku. Padahal jaman sekarang sudah ada eBooks. Semestinya tidak ada lagi hambatan untuk membaca buku. Kalau jaman dahulu kan harus cari buku fisik. Kalau pesan belipun harus nunggu lama dan mahal. Mungkin justru kemudahan itu yang membuat orang menjadi malas?

Saya sudah mencoba menghimbau dan menyindir mahasiswa saya supaya gemar membaca. Hasilnya masih nol besar. Mungkin saya harus memberikan tugas baca kepada mereka. Kemudian harus disertakan juga foto halaman yang mereka baca (atau malah sekalian foto mereka membaca ha ha ha) sebagai bukti. Hi hi hi.

Masalahnya, tanpa membaca ilmu kita rendah sekali. Sudah ilmu rendah, banyak komentar pula (di media sosial misalnya). ha ha ha. Jadinya kacau balau.

Baca, baca, dan baca!

Neovim: editor “baru”

Tahun 80-an saya harus bekerja mengelola sistem yang berbasis Unix, lebih tepatnya SunOS. Mulailah saya harus belajar menggunakan editor teks yang bernama “vi”. Sebetulnya selain editor vi itu ada editor lain yang berbasis GUI, tetapi masalahnya editor ini hanya ada di sistem SunOS. Sementara itu saya harus mengelola sistem lain yang menggunakan sistem operasi lain (seperti HP-UX, AIX, DOS, dan seterusnya). Akhirnya saya putuskan untuk menguasai editor vi. Sampai sekarang saya masih menggunakan editor vi sebagai editor utama saya.

Pemilihan editor vi pada masa itu adalah karena di semua sistem operasi (kecuali di Mainframe) ada editor itu. Bahkan untuk sistem operasi DOS pun ada variasi dari vi. Ketika kita menguasai vi maka kita dapat hidup di lingkungan apa saja.

Berbicara tentang variasi vi, ada beberapa variasi. Yang paling terkenal adalah vim. Maka, sekarang orang-orang kenalnya adalah vim.

Baru-baru ini saya menemukan editor “Neovim”, yaitu versi terbaru dari implementasi vim. (Ada banyak hal yang diperbaharui pada editor ini.) Saya pasang di komputer Linux dan Mac OS X saya. Ngoprek deh. Mengaktifkan syntax highlight dulu ah.

Hal yang pertama saya tambahkan adalah “package manager” untuk menambahkan plugin di neovim itu. Ada banyak package manager. Yang saya gunakan saat ini adalah vim-plug. Dengan vim-plug ini saya kemudian memasang color scheme Oceanic-Next yang mirip dengan warna yang ada di editor Sublime. Hasilnya seperti ini.

neovim

(Cara memasang vim-plug dan Oceanic-Next theme itu yang akan saya tuliskan di lain kesempatan. Instruksi yang ada agak berbeda.)

Ngoprek ah …

Fakir Bandwidth

Ini tulisan tentang keluh kesah susahnya akses internet. Link internet di tempat ini (tidak perlu disebutkan namanya) sangat lambat. Padahal ini seharusnya merupakan tempat yang internetnya kecang. Di Indonesia masih banyak fakir bandwidth.

Yang sedang saya coba akses adalah StackOverflow, karena ini sedang mengajar pemrograman. Bayangkan, di tempat lain internetnya wuzzz, wuzzz, wuzzz. Di sini siswa terpaksa nunggu dulu. Belajar tersendat-sendat. Jadi inget pejabat yang mengatakan “internet cepat untuk apa”? Ya, untuk belajar!

Keluh kesah pagi ini … [meringis]

Gelas Yang Penuh

Perjalanan hidup seseorang membentuk karakternya. Saya bersyukur melalui jalan hidup yang diberikan kepada saya. Lengkap dengan positif dan negatifnya. Komplit. Hasilnya adalah saya menjadi seseorang yang (mudah-mudahan) selalu bersykur dengan apapun yang saya peroleh. Positif thinking. Dalam perdebatan gelas yang setengah kosong atau gelas yang setengah isi, mungkin saya menyebutnya gelas yang hampir penuh. ha ha ha.

Hal yang membuat saya demikian mungkin karena saya sudah melalui masa susah juga. Bahkan pada masa susahpun saya masih dapat melihat orang lain yang lebih susah lagi dari saya, sehingga saya masih dapat bersyukur. Jadi mungkin kuncinya adalah mencari dan melihat orang lain yang lebih menderita? ha ha ha. Mellow tetap ada, tetapi tetap bersyukur.

Apakah kemampuan untuk bersyukur ini dapat diajarkan? Saya tidak tahu. Mestinya sih iya, tetapi bagaimana mengajarkannya itu yang saya tidak tahu. Ada orang yang melihat orang lain lebih susah, tapi bukannya bersyukur tapi malah tetap menggerutu. ha ha ha. Tetap saja negatif. Mungkin ini bukan ilmu, tapi seni. The art of grateful.

Alhamdulillah … masih bisa bersyukur.