Akar Masalah Kemacetan (di Bandung)

Tag

, , ,

Banyak orang Bandung yang kesal karena kemacetan di kota Bandung sudah semakin parah. Bahkan Bandung menduduki tempat yang dianggap parah dalam hal lalu-lintas.

Banyak orang yang menyalahkan kemacetan ini kepada hal-hal teknis, tetapi saya ingin mengingatkan bahwa ada aspek lain yang lebih penting. Aspek manusia.

Masalah kemacetan di kota Bandung (dan mungkin di kota-kota lainnya juga) adalah ketidaksabaran, egois, dan ketidakpatuhan terhadap peraturan. Mari kita bahas.

Banyak orang yang tidak sabar ketika mengendarai kendaraan. Mereka menyangka bahwa orang lain tidak ingin cepat sampai. Apakah hanya mereka saja yang ingin cepat sampai? Sehingga mereka buru-buru. Tidak sabar. Ada celah sedikit saja disosor. Sabar sedikit kek kenapa?

Egois. Mau menang sendiri. Tidak mau berbagi. Kadang saya bingung. Ketika saya memberi jalan ke orang lain, maka orang yang di belakang saya marah-marah. Padahal dengan memberi jalan ini membuat jalan mengalir. Tidak macet deadlock. Sering juga yang diberi jalan bingung karena biasanya mereka tidak pernah diberi jalan. Sayangnya kemurahan hati ini sering di-abuse oleh orang lain dengan tidak mau bergantian.

Ketidakpatuhan terhadap peraturan menjadi masalah terbesar. Begitu jalur terhenti, maka biasanya motor-motor (dan kadang mobil gila) masuk ke jalur lawan arah sehingga kendaraan dari arah yang berlawanan tidak bisa berjalan. Macetlah jadinya. Orang-orang ini tidak merasa bersalah telah melanggar peraturan. Saya pernah menegur orang yang seperti ini, eh malah galakan dia. ha ha ha. Kacau…

Solusi terhadap masalah ini, ya tentu lawan dari sifat-sifat yang sudah disebutkan di atas. Ayo bersabar, berbagi, patuh pada peraturan. Tidak mudah memang. Tapi jika kita ingin kemacetan berkurang, maka hal-hal ini harus diajarkan dan dilaksanakan. Sifat-sifat ini tidak dapat muncul demikian saja. Mungkin awalnya harus didisiplinkan! Kalau melanggar disuruh push-up dulu kali ya? he he he

Ketika Koding Menguasai

Tag

, , , , ,

Semalam, pukul 1 malam (atau tepatnya pukul 1 pagi) saya terbangun. Teringat sebuah ide koding (pemrograman) LED yang saya buat beberapa waktu yang lalu. [Lihat tulisan saya tentang ini.] Saya ingin membuat sebuah kode lagi. Langsung saja saya tidak bisa tidur lagi.

Ada dua pilihan. Tetap memaksakan diri untuk tidur kembali (dengan risiko kehilangan ide dan juga tidur mungkin tidak nyenyak) atau bangun dan membuat kode, koding. Saya ambil pilihan yang terakhir. Langsung ambil laptop.

Sambil koding saya nyalakan TV. Eh, film yang sedang main adalah film horor. ha ha ha. Hmm … sudah malas saya mengubah channelnya untuk memilih film yang lain. Pikiran sedang fokus ke kode. Maka saya biarkan saja film horor itu tetap on. hiii. Koding berlanjut. Ternyata semangat koding mengalahkan seramnya film horor. Baru kali ini saya tahu. ha ha ha.

Setelah sekitar setengah jaman koding, beres. Ide terimplementasi. Untungnya tidak terlalu banyak masalah di kodenya. Saya upload kode ke akun sementara saya untuk kemudian besok saya upload ke github. Baru bisa tidur kembali. Nyenyak.

Ngoprek IoT

Tag

, , , , , , , ,

Kata IoT – Internet of Things – sedang ngetop sekarang. Dimana-mana saya melihat kata ini sebagai bagian dari seminar, kompetisi, startup, dan seterusnya. Pokoknya seru saja. Nah, sayapun tidak mau ketinggalan.

Saya mencoba menggunakan Arduino UNO dan board buatan DycodeX untuk kode IoT ini. (Sebetulnya saya punya banyak board lainnya, tapi itu untuk cerita terpisah.) Selain board ini saya juga menggunakan LED board buatan ProcodeCG. Berikut ini adalah beberapa video yang saya buat untuk menunjukkan demo / contoh kode dengan board-board di atas.

Dalam dunia hardware, IoT, salah satu cara memulai atau mencoba adalah membuat demo “blinking LED”. Kalau di dunia software, ini adalah “Hello World” versi hardware. Biasanya sih blinking LED-nya hanya satu LED. Kali ini saya mencoba menggunakan beberapa LED biar lebih seru.

Video di bawah ini menunjukkan demo Knight Rider, yaitu LED yang bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Nama ini diambil dari film seri Knight Rider (jaman dahulu dan versi barunya). Dalam film tersebut ada mobil cerdas yang bernama KITT. Kalau dia aktif, maka ada LED yang bergerak-gerak seperti ini.

Dalam video di bawah ini, saya membuat Knight Rider LED juga tetapi dengan menggunakan board Arduino UNO.

Video di bawah adalah demo untuk membuat LED seperti meter yang ada di radio (equalizer). Board yang digunakan adalah DycodeX ESpectro.

Oh ya, kode-kode untuk demo di atas dapat dilihat dan diunduh dari koleksi saya di github.com yaitu di: https://github.com/rahard/BRiot-stuff. Selamat ngoprek.

Mengambil Tanggungjawab

Tag

, ,

Kemarin saya bercerita tentang apa-apa yang saya lakukan di dunia internet Indonesia, seperti mengelola nama domain .ID, mendirikan ID-CERT, dan seterusnya. Saya melakukan hal ini bukan karena ingin mencari popularitas, tetapi karena harus melakukannya. Somebody has to do it.

Ini adalah masalah mengambil tanggungjawab. Take responsibility.

Banyak orang yang memang tidak mampu atau tidak mau mengambil tanggung jawab. Ada yang merasa bahwa tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka sangat berat. Ha ha ha. Kalau saya jabarkan apa-apa saja yang saya lakukan maka mungkin baru sadar mereka. (Kadang memang ada yang bertanya kepada saya bagaimana saya membagi waktu dan perhatian untuk ini.) Saya sendiri sering melihat contoh orang-orang (yang tidak terkenal) tetapi menanggung tanggungjawab yang luar biasa. I am nothing compared to them. Akibatnya saya tidak menjadi cengeng soal tanggungjawab ini.

Kadang tanggungjawab yang diambil ini terlihat ringan atau cemen, sehingga tidak ada yang mau mengambil tanggungjawab ini. hi hi hi.

Terus yang serunya adalah setelah “sukses” maka banyak muncul “pahlawan kesiangan” yang kemudian mengambil sorotan lampu di panggung. Take the spotlight. Atau juga kemudian ada yang mengambil keuntungan dari ini semua. Untuk hal ini, saya biarkan saja. Toh saya melakukannya bukan karena ingin terkenal atau karena ingin kaya. Saya melakukannya karena memang harus dilakukan. Itu saja.

Tulisan ini untuk memberi semangat kepada anak-anak muda untuk berani mengambil tanggungjawab. Mari kita belajar bersama.

Indonesia Update 2016

Tag

, , , ,

Perjalanan saya ke Australia ini sebetulnya dalam rangka acara “Indonesia Update 2016” yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU) Indonesia Project. Topik dari acara tahun ini adalah Digital Indonesia. Itulah sebabnya saya diundang menjadi salah satu pembicara. Saya akan berbicara tentang “cyber security”.

Acaranya dilangsungkan di kampus ANU, di kota Canberra, selama dua hari. Presentasi saya adalah presentasi terakhir di hari terakhir. (Ini ada keuntungan tersendiri, yaitu saya bisa suka-suka saya. Meskipun tidak bisa sebebas yang saya pikirkan. hi hi hi.) Pembicara yang lain keren-keren juga.

p_20160917_063951-01-jadwal

Peserta dari acara ini ternyata sangat banyak. Ruangan yang digunakan, sebuah teater, berukuran hampir 500 orang. Dan peserta yang datang banyak sekali. Hampir memenuhi ruangan. Berarti mendekati 500 orang.

Di hari pertama saya hanya mendengarkan. Bayu pembicara kedua mengidekan situasi politik di Indonesia seperti trilogi start wars. Dias (lupa di sesi berapa) juga menyinggung soal star wars. Akhirnya saya putuskan untuk menutup acara tema star wars; the return of the Jedi. ha ha ha.

cshi2hhumaa-wjv-jedi

the return of the (code) jedi

Tadinya saya mencari apa yang bisa dipakai untuk baju (dan lightsaber) untuk manggung. Gak nemu. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan hoodie saja. Jadilah seperti foto di atas. Lumayanlah. Tema Star Wars terjadi juga. hi hi hi.

p_20160917_130953_bf-folks-0001

Foto para pembicara sesi terakhir. Potret sebelum bubar

Di kampus ini saya menginap di University House, semacam hotel / dorm untuk tamu-tamu dari universitas. Tempatnya sangat dekat dengan ruang acara. Jadi tidak perlu transportasi. Tinggal jalan 2 menit dari kamar ke tempat presentasi. Tempatnya asyik juga. [foto-foto menyusul]

Canberra ini ternyata masih dingin juga. Harusnya sih temperaturnya sudah naik tetapi masih dingin. Setelah acara selesai, hari Minggu di kampus ini kosong banget. Sepiii. [foto2 menyusul, lagi] Canberra, meskipun ibu kota, ternyata kecil dan sepi. hi hi hi.

Sydney

Tag

, ,

Pesawat mendarat di Sydney pagi hari. Smooth. Pilotnya jagoan euy. Garuda gitu lho. Airport Sydney okay. Tidak terlalu besar. Langsung menuju ke imigrasi dan berjalan sangat lancar. Mungkin karena masih pagi sehingga masih sepi dan orang-orangnya masih semangat. Positif.

Langkah pertama tentunya adalah mencari kartu telepon lokal. Ada dua booth, Vodafone dan Optus. Saya ambil ngasal saja, Vodafone. Saya pilih yang $30 dengan paket data 5 GB. Cukuplah untuk seminggu di Australia. Eh, ternyata dia juga bisa digunakan menelepon ke internasional gratis selama beberapa (banyak) menit. Mahal dibandingkan dengan telepon di Indonesia, tapi daripada menggunakan operator Indonesia di sini. Bisa bangkrut.

Langkah kedua adalah tukar uang. Kurs di airport ini tidak terlalu bagus. Seharusnya saya menukarkan uang di Bali kemarin. Di Bali bisa dapat Rp. 10.000,-. Di sini Rp. 11.400,-. Apa boleh buat. Tukar juga tidak banyak kok. Supaya cukup untuk naik bis dan sejenisnya.

Nah, sekarang bagaimana ke hotel. Hotel saya berada di dekat Central Railway Station. Dipilih di daerah itu karena besoknya harus naik bis ke Canberra yang lokasinya dekat di sana. Ada transport (semacam shuttle) dari airport ke hotel di daerah sana, AUS $22. Kalau taksi pasti mahal lah. Akhirnya saya pilih naik kereta saja (mirip dengan MRT di Singapura). Harus beli kartu dulu. Namanya Opal. Mau diisi berapa ya kartunya? Dari airport ke Central Station itu sekitar $16. Saya disarankan beli yang $30 karena bisa dipakai kemana-mana. Saya pikir bagus juga untuk menjelajah kota. Itu yang saya pilih. (Hadoh keluar uang lagi.)

Naik kereta menuju Central Station. Lumayan juga keretanya. (foto menyusul.) Sampai di Central Station saya langsung jalan menuju hotel. Eh, ternyata jauuuh juga. Sambil dorong atau tarik koper ini lho. Lupa berapa menit. 20 menit mungkin? Pokoknya sampai lah ke hotel yang lebih mirip motel. Eh, ternyata saya belum bisa check in juga. Kepagian. Ya sudah. Saya tinggal koper di sana dan saya jalan-jalan dulu.

Akhirnya saya jalan lagi ke Central Station. (Di kota ini saya akhirnya banyak jalan.) Kemana? Hmm … cari yang ke arah Opera House saja. Tujuannya adalah Circle Quay. Okay. Desain / denah dari stasiun keretanya membingungkan. Lebih jelas MRT di Singapura. (Atau karena sudah sering saja?) Naik kereta menuju Circle Quay.

Sampai di sana. Masih pagi dan mendung. Hadoh. Jalan dulu ah ke Opera House. Potret-potret dulu. Bosen. Akhirnya saya memilih duduk di cafe shop. Ngopi dulu. Kopi di Australia ini enak banget. Koreksi! Kopinya sebetulnya biasa saja, tetapi susunya yang luar biasa. Mantap. Saya pesan flat white. Di Australia ini saya selalu pesan flat white. Saya pernah coba kopi hitamnya, enakan di Bandung. hi hi hi.

p_20160914_103411-coffee-sydney-0001

Kopi dengan latar belakang Opera House, Sydney

Akhirnya saya habiskan waktu di Sydney untuk jalan-jalan. Siang saya kembali menuju hotel untuk check in. Di tengah perjalanan saya beli kebab dulu. (Halal!) Harganya lumayan mahal, $9.50. Kalau di Indonesiakan mungkin Rp. 100 ribu. Hadoh. Jangan dipikir Indonesianya. Ternyata ukurannya raksasa. Bisa dipakai dua kali makan. ha ha ha. Sampai di hotel, sudah bisa masuk ke kamar. Eh, ternyata kamar saya di lantai 3 dan tidak ada lift! Hadoh. Ngangkut koper deh.

Sampai di kamar, ternyata kamarnya sangat bersih! Yaaayyy. Penampilan dari luar memang tidak meyakinkan tapi tempat ini nyaman banget. Ukurannya juga besar. Makan kebab dulu sambil nonton tv. Setelah itu mau istirahat. Sore mau jalan lagi.

Yang aneh. Di Australia ini hotel itu (dan hotel yang sekarang saya tinggali di Canberra) tidak menyediakan sikat gigi. Hmmm… Untung saya bawa sikat gigi dan odol sendiri. Jadi tidak masalah. Kalau tidak bawa, repot juga.

Cerita lainnya (dan foto-foto) menyusul. Tulisan ini dibuat sambil keluar dari acara seminar. hi hi hi. Harus memaksakan diri untuk ngeblog memang.

Perjalanan …

Tag

, ,

Ini adalah cerita singkat perjalanan yang sedang saya lakukan menuju Australia. Perjalanan masih berlangsung. Ini saya tuliskan supaya tidak lupa saja (dan sudah malas menulisnya).

Malam sebelum keberangkatan siap-siap untuk melakukan web checkin. Eh, tidak bisa. Setelah bolak-bolak mencari informasi dan kontak Garuda, akhirnya saya tetap harus menunggu kabar dari travel agent. Kodenya ada di travel agent dan ternyata yang tiket yang terkirim ke saya adalah tiket yang lama. Pagi-pagi checkin, lancar. Alhamdulillah.

Pesawat terbang dari Bandung menuju Denpasar untuk transit dahulu sebelum diteruskan ke Sydney. Eh, ternyata pesawat tidak dapat mendarat di Denpasar karena cuaca yang buruk. Setelah menunggu (dan muter-muter di atas) selama 20 menit, akhirnya pesawat menuju Surabaya untuk diisi bahan bakarnya dulu. Mendarat. Isi bahan bakar. Berangkat lagi. Lancar. Alhamdulillah.

Semoga seterusnya lancar …

A Day in the Life

Tag

, ,

Saking sibuknya, sampai saya bolos ngeblog beberapa hari ini. (Wuih. Seminggu.) Ingin tahu kesibukan saya? Ini contohnya. Hari Kamis, 8 September 2016.

Hari itu, saya menjadi moderator di peluncuran “Connected Government Community“, yaitu sebuah portal untuk bertukar sesama penggiat atau pengamat eGovernment. Silahkan mendaftar di sana dan kita bisa langsung diskusi dan berbagi.

Acaranya dimulai pagi hari. Nah, saya berangkat dari Bandung pagi harinya. Karena khawatir kena macet, maka saya berangkat dari Bandung dengan mengendarai kendaraan sendiri pukul 3:30 pagi. Iya pagi sekali. (Bangunnya jam berapa coba?) Shalat Subuh dilakukan di rest area Km 42.

Sampai di Jakarta pukul 6:30 pagi. Jam segini belum banyak tempat yang buka (untuk sarapan). Jadinya saya ke McDonald’s Sarinah Thamrin. Sarapan di sana. (Foto sarapannya gak ada. Biasanya sih saya potret juga. hi hi hi.) Dari sana saya menuju tempat acara peluncuran di Bebek Bengil Menteng.

29561678755_40d5ef0f0d_o-0001

Talk show di peluncuran portal Connected Government Community

Setelah selesai acara dan makan siang, saya kembali menuju ke arah Sarinah. Sebetulnya ke jalan Sabang karena mau check in ke hotel dahulu. Mobil masih saya tinggal di Sarinah. Dari Bebek Bengil saya jalan kaki saja karena naik taksi terlalu dekat. Ojek juga ternyata gak ada. Setelah check in hotel, saya kembali menuju ke Sarinah untuk mengambil tas baju.

Sampai di Sarinah, kok haus. Ah, ke McDonald’s dulu aja beli minuman. Eh, begitu masuk terdengar nama saya dipanggil. Ternyata ada beberapa kawan yang tergabung dalam komunitas IoT (Internet of Things) Indonesia sedang berkumpul di sana. Langsung gabung jadinya.

p_20160908_142054_bf-iot

Sebetulnya saya janjian dengan kawan saya, Iman Fattah, untuk ngopi bersama. Saya dan Iman dulu menjalankan toko musik digital bersama. Selain itu kami juga punya selera musik yang aneh-aneh. he he he. Lagu-lagu karya Iman Fattah ada juga di Insan Music Store. Setelah kontak-kontakan, akhirnya Iman menuju coffee shop Excelso di sebelah. Jadinya saya ngopi dengan Iman.

28948378934_64593f1c46_o

Ngopi dengan Iman

Setelah dari sana saya baru masuk ke hotel. Setelah itu saya langsung ke Pacific Place karena janjian dengan mas Yockie Suryo Prayogo, sang maestro musik Indonesia. Lagi-lagi mau ngopi bersama. Akhirnya saya, mas Yockie, dan mbak Tiwie ketemuan di Coffee Bean di Pacific Place.

29480564971_6bebc42ae8_o

Ngopi dengan mas Yockie dan mbak Tiwie

Sebetulnya saya ke Pacific Place mau ke Hardrock Cafe. Ada cara Queen’s night, dan yang main adalah GOSS Band yang saya kenal lewat kang Diunk. Eh, ternyata sebelum ke sana ketemu dengan beberapa orang; mas Kadri, Once, Kelana. Akhirnya potret-potretan dulu dong.

28937799333_7920e93542_o

gerombolan apa ini?

Dari sana kami bersama menuju ke Hardrock Cafe. Nonton Queen’s night lah; Freddy for a day. Ini hari ulang tahun Freddy Mercury. Potretan dulu lagi dengan kang Diunk (Nur Sumintardja). Terima kasih, kang Diung, kami sudah diberi kesempatan ikutan nonton.

p_20160908_213648_bf-diunk

Yeah, yeah, yeah. Jreng!

Nonton acara Queen’s nightnya gak sempat sampai selesai karena saya besok paginya harus ke Bandung. Itu dari jam 3 pagi belum tidur. Jadi sekitar jam 11 malam saya balik ke hotel. Besok paginya, habis Subuh harus langsung menuju Bandung dan langsung menuju kelas di kampus ITB. Ngajar jam 8 pagi. hi hi hi.

Begitulah contoh kesibukan saya. Kali ini banyak ketemuan dengan orang-orang yang berhubungan dengan musik.

 

 

Haus Belajar

Tag

,

Saya adalah orang yang haus belajar. Belajar dan belajar lagi. Beneran serius ingin belajar. Kebanyakan orang yang mengatakan ingin belajar, tetapi sesungguhnya hanya ngomong saja. (Lip service.) Mereka hanya mau belajar kalau waktunya pas, kalau mereka sedang tidak sibuk, tidak berbayar, atau sejenisnya. Mereka tidak mau berusaha. Harus mau capek.

Ambil contoh. Ketika ada seseorang yang presentasi, saya memperhatikan. Kalau orang lain kebanyakan melihat dulu topiknya, kalau dirasa tidak sesuai dengan apa yang dia mau terus tidak mendengarkan. Sementara itu saya mencoba memperhatikan meskipun itu bukan bidang saya. Ini yang disebut belajar. Kalau sudah tahu, ya mungkin tidak belajar. Belajar itu kalau belum tahu. hi hi hi.

Dalam rapat (meeting) juga demikian. Biasanya kalau bukan topiknya, mereka kabur. Sementara saya mendengarkan. Belajar lagi.

Bagaimana dengan Anda?

Judul / Topik Thesis / Penelitian

Tag

, , , , ,

Minggu ini mulai banyak mahasiswa berdatangan untuk mencari topik penelitian & thesis S2 mereka. Berikut ini adalah beberapa topik yang saya tawarkan. Deskripsi dari masing-masing topik mungkin belum terlalu rinci, tetapi mudah-mudahan penjelasan ini masih dapat memberikan bayangan. Topik besarnya adalah security & big data.

  1. Anonimity + eVoting + Visual Cryptography ID. Topik ini melanjutkan disertasi dari I Made Ardhana (softcopy disertasi sedang saya telusuri dan akan diupload di web site). Fokus kepada implementasi ide-ide yang ada di dalam disertasi tersebut. Ada beberapa design decissions yang harus diambil dalam implementasinya beserta pembaharuan teorinya. Titik beratnya kepada programming. (Ada beberapa snippet code yang sudah saya buat sebagai proof of concept.) [Sudah ada rencana 1 mahasiswa yang memilih ini. Masih dapat ditambah khususnya untuk sisi attack-nya.] Untuk aspek teorinya, pengukuran tingkat anonimitas, juga sedang mencari mahasiswa. Namun yang ini lebih banyak aspek matematisnya. Jika menyukai matematika (atau memang mahasiswa matematika), bisa memikirkan topik ini.
  2. Stegokripto. Meneruskan thesis dari Almaarif (lihat budi.rahardjo.id bagian students). Pencarian kode yang berbeda antara data dan noise. (Coding theory. Mencari kode yang orthogonal terhadap noise. Ide on-curve dan off-curve pada Elliptic Curve juga dapat dipakai.) Pada thesis terdahulu proses pembedaan kode dan noise dilakukan dengan menggunakan marker tertentu. (Proses pendeteksian dapat dilakukan dengan sliding window, atau bahkan matriks. Belum dilihat aspek kinerjanya.) Kode terdahulu juga dapat lebih disempurnakan sehingga aplikasi menjadi lebih integrated. (Sebelumnya pecah-pecah menjadi beberap aplikasi.)
  3. Mekanisme pengamanan program chat (Signals / dahulu TextSecure, WA, dll.) dengan menggunakan Curve 25519. Thesis memahami protokol yang digunakan dan melakukan re-implementasi di program Open Whisper Systems. (Ini juga dapat menjadi topik thesis di Matematika.)
  4. Cryptocurrency. Block chain. Ini adalah konsep di belakang Bitcoin. Memahami dan membuat protototipe sebuah digital money. Mengembangkan teori uang digital.
  5. Secure phone. Beberapa komponen dari konsep secure phone, yaitu authentication module (menggunakan SAM). [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengerjakan ini.] Ini bagian besar dari disertasi Virtual Trusted Machine (mahasiswa S3: Raidun). Beberapa kemungkinan implementasi dari ide secure phone dengan menggunakan DSP board.
  6. Proteksi DNS terhadap DoS attack. [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengambil ini.] Fokus kepada teknis. (Sementara untuk aspek teori adanya di level S3.)
  7. Automated software security testing. Exploring several framework. [Sudah ada 1 mahasiswa yang memilih menggunakan Sully]
  8. Beberapa sub-topik dari disertasi mahasiswa saya. (Mahasiswa S3 akan memberikan beberap sub-topik dari penelitian [kesulitan] mereka saat ini yang dapat menjadi topik thesis.) Topik terkait dengan Graph-based Social Network Analysis (SNA), graph compression, big-data in SNA,  Distributed IDS (ant-colony), eLearning berbasis Jigsaw, …

Sementara ini daftarnya adalah seperti itu. Akan saya tambahkan dengan link-link lain agar lebih jelas lagi dalam update berikutnya.

Kuliah Dimulai

Tag

, ,

Minggu ini (mulai dari tanggal 22 Agustus 2016 kemarin) dimulai perkuliahan di ITB. Untuk semester ini saya mengajar dua kuliah saja; Keamanan Jaringan & Informasi (S2) dan Pengantar Teknologi Informasi (S1).

Kuliah Keamanan Jaringan dan Informasi bertemu di pagi hari. Kami membicarakan tentang administrasi perkuliahan. Salah satu masalah yang kami hadapi adalah tempat untuk berbagi materi dan kordinasi. Nampaknya kami akan menggunakan Trello karena tempat e-learning yang ada saat ini masih bermasalah. (Ada banyak masalah yang nanti akan saya tulisan secara terpisah.) Kordinasi mungkin menggunakan aplikasi Telegram atau Slack. Kita lihat apakah konfigurasi seperti ini bisa berjalan.

Kuliah kedua, Pengantar Teknologi Informasi, seharusnya sudah dimulai tetapi ketika saya datang ke kelas … mahasiswanya tidak hadir. Saya menunggu satu jaman sambil membaca dokumen dan internetan. (Kalau tidak ada internet mungkin saya sudah bete duluan. he he he.) Akhirnya kelas saya anggap WO. Kita lihat minggu depan.

14054350_10153805227926526_4904123483812699040_o

Ini foto kelas yang kosong itu

Semangat … Eh, ada mahasiswa kelas yang sedang berlangsung saat ini yang membaca tulisan ini?

Konsistensi (Futsal)

Tag

, ,

Saya penggemar olah raga futsal. Entah kapan mulainya saya menyukai olah raga ini (yang pasti lebih dari 7 atau 8 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun yang lalu?). Pada mulainya sih saya hanya bisa main 5 atau 10 menit. Setelah itu berkunang-kunang. hi hi hi. Sekarang saya bisa bermain 2 jam full.

Sebetulnya yang membuat saya bisa bermain lama ada dua hal. Pertama, rutin melakukannya. Seminggu saya bermain futsal dua kali dan itu saya lakukan secara konsisten tahunan. Yang kedua, saya bermain futsal bukan untuk mencari prestasi tetapi untuk berolah raga. Sebagai orang yang sudah berusia, saya membutuhkan olah raga. Kebetulan cocoknya futsal. Karena tujuannya tidak untuk mencari prestasi, maka saya tidak menjadi sok jago. ha ha ha. Main menjadi lepas dan menyenangkan.

Sering saya melihat orang yang tidak konsisten. Dan ke futsal hanya sekali-sekali. Kemudian ingin menonjol pula. Ha ha ha. Yang ini menggelikan bagi saya.  Meskipun mungkin mereka lebih mahir dalam bermain, tetapi saya lebih menghargai orang yang konsisten hadir latihan secara rutin. Apa lagi yang berharap punya stamina tinggi tetapi datang sekehendak sendiri. Ha ha ha.

Team work itu sangat penting. Ini dapat terlihat di luar lapangan juga. Ini membentuk karakter seseorang. Tidak percaya?

Mainan IoT

Tag

, , ,

Lagi seru-serunya topik IoT (Internet of Things). Maka saya pun tak mau ketinggalan ngoprek IoT. Pada dasarnya IoT ini adalah menghubungkan “things” ke internet. “Things” yang dimaksud di sini bisa apa saja. Biasanya sih dimulai dengan menghubungkan sensor (misal sensor temperatur) ke internet.

Beginilah konfigurasi yang saya gunakan saat ini. (Corat-coret di kertas bekas.)

14080070_10153796588911526_1526882988396792016_n

Untuk sensor, kali ini saya menggunakan SensorTag dari Texas Instrument. SensorTag ini memiliki banyak sensor; temperatur, kelembaban, akselerasi, tombol yang dapat ditekan dan seterusnya. Versi yang saya gunakan ini menggunakan Bluetooth (tepatnya BLE, Bluetooth Low Energy) untuk berkomunikasi.

Saat ini ada aplikasi bawan (untuk handphone iOS dan Android) yang dapat digunakan untuk memantau sensor-sensor tersebut. Aplikasinya bagus sekali. Nah, saya ingin membuat aplikasi serupa sehingga data dari sensor dapat saya proses sesukanya. (Misal mau dikirim ke server sendiri.) Saat ini selain dapat memantau data sensor, aplikasi ini dapat juga mengirimkan data tersebut melalui protokol MQTT ke server IBM. (Nampaknya TI ini memiliki partnership dengan IBM.) Saya mencoba menghubungkan aplikasi ini ke server MQTT lainnya tetapi belum berhasil. Ini juga salah satu alasan mengapa saya harus membuat aplikasi sendiri.

Untuk membuat aplikasi di handphone, ternyata ada tools yang menarik dari Evothings. Mereka membuat semacam interface sehingga kita dapat melakukan pemrograman di komputer desktop kita, kemudian mengirimkan kodenya ke handphone (yang dipasangi aplikasi Evothings Viewer). Maka aplikasi langsung dijalankan di handphone. Ini mengurangi kesulitan upload program ke handphone. (Sebetulnya kita bisa juga setup web server sendiri sih.)

Pemrograman di handphone tersebut ternyata menggunakan bahasa Javascript. Ada beberapa library yang perlu digunakan untuk mengakses sensor melalui BLE. Saya sudah mencoba beberapa library tersebut, belum ada yang sukses. Tidak ada error, tetapi outputnya masih kosong. (Harus melakukan debugging dulu dan saya belum terbiasa melakukan debugging dalam bahasa Javascript.)

Alternatif lain yang sedang saya pikirkan adalah menghubungkan sensor tersebut langsung dengan single board computer (SBC) semacam Raspberry Pi. Ternyata ada orang-orang yang juga sukses melakukan pendekatan itu. Saat ini saya tidak punya Raspberry Pi tetapi malah punya yang dari Getchip.com. Ini keren banget, $9 chip dan sudah bisa langsung jalan Linux di atasnya. Sudah ada Bluetooth 4.0 juga. Jadi hal lain yang ingin saya lakukan adalah melakukan pairing antara SensorTag TI ini dengan SBC dari Getchip.com ini. (Ini foto kedua benda tersebut yang saya ambil dari meja saya.)

13987404_10153796571416526_4784112517654812880_o

Saya masih belum berhasil mainan dengan getchip.com secara stabil. Entah kenapa koneksi ke benda ini via WiFi kok tidak stabil. Tersendat-sendat. Jadi malas juga koding langsung di sini. Ide lain adalah via komputer desktop saya dulu saja. Toh sama-sama Linux.

(Update: kalau saya sambungkan SBC getchip ini dengan USB ke Macbook, saya bisa akses dengan nama “chip.local”. Jadi saya bisa “ssh root@chip.local” dengan password default “chip”. Setelah itu saya bisa masuk ke console linux dengan koneksi yang lebih stabil. Saya bisa main-main dengan getchip ini seperti tutorial yang ada di sini. Misal, saya bisa sambungkan kabel ke ground untuk coba seperti switch dan dibaca via GPIO. Atau harusnya mainan dengan LED, tapi saya tidak punya breadboard dan LED.

root@chip:/sys/class/gpio# echo 415 > export
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/direction
in
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/value
1
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/value
0

)

Tadi saya pasang Bluetooth dongle yang 4.0 di komputer desktop saya (running Linux Mint). Kemudian menggunakan berbagai tools (bluez, dll.) untuk mencoba pairing dengan SensorTag ini. Belum berhasil. (Saya menggunakan panduan dari sini dan membaca data di sini. Saya lihat ada juga yang mencoba menggunakan python untuk ini.)

[To Do: Javascript vs Python. Pilih bahasa apa untuk kodingnya?]

Jika data sudah sampai di server MQTT – ini di cloud – maka saya akan dapat membuat berbagai aplikasi sendiri. Jadi tujuan akhirnya adalah saya dapat memantau sensor dari internet.

Nah, sekarang belum ada yang jalan … ha ha ha. Jadi masih ada banyak yang harus dikerjakan. Saya akan pilah-pilah dulu. (Divide and conquer.)

Selain itu dalam 2 atau 3 minggu ke dapan saya akan dapat IoT board lain dengan sensor yang langsung dihubungkan dengan boardnya. (Lihat board Espresso di smkholding.com dan DycodeX.)  Ini akan jadi thread yang berbeda. Asyik. Banyak oprekan.

Kewarganegaraan 1.0

Tag

, , ,

Setiap bercerita di depan kelas, atau memulai presentasi, sering saya bercerita tentang perjalanan hidup saya. Saat ini saya sedang dalam versi “3.3”. Ha ha ha. Kayak software saja. Tapi begitulah. Penomoran ini sebetulnya terinsipirasi dari buku karangan Thomas Friedman. (Dia mengarang banyak buku, seperti “The World is Flat” and “The Lexus and Olive Tree”. Tentang globalisasi.)

Friedman bercerita bahwa globalisasi memiliki versi. Pada versi 1.0, globalisasi ditandai dengan keinginan orang untuk menjadi warga negara lain, yaitu warga negera besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan seterusnya. Ini jaman dahulu kala. Kalau kita baca sejarah Indonesia, ada banyak orang Indonesia yang ingin bergabung menjadi bangsa penjajah (“Londo”) karena sangat menyedihkan kalau kita menjadi warga negara terjajah. Ini kewarganegaraan 1.0.

Globalisasi 2.0 terjadi dan kewarganegaraan tidak penting lagi. Yang penting adalah tempat kita bekerja, yaitu multinational companies. Maka banyak mahasiswa yang ditanya kalau lulus mau kerja dimana, jawabannya adalah perusahaan besar seperti Schlumberger, IBM, Citibank, Microsoft, General Electric, dan seterusnya. Dalam perusahaan besar tersebut kewarganegaraan tidak penting lagi. Menjadi “warga negara” perusahaan besar menjadi lebih penting.

Globalisasi 3.0 terjadi karena adanya internet dan pemanfaatan teknologi informasi. Batas fisik dunia tidak ada lagi. Maka tidak penting lagi kewarganegaraan dan perusahaan tempat bekerja, tetapi yang penting adalah diri kita sendiri. You! Maknanya adalah yang lebih penting lagi adalah apa kontribusi Anda ke dunia. What’s your contribution to society.

Maka kalau sekarang kita masih meributkan tentang kewarganegaraan maka sebetulnya kita masih berada pada globalisasi 1.0. Sudah ketinggalan jaman.

CodeMeetUp()

Tag

, ,

Di Bandung, setiap Senin siang kami mengadakan CodeMeetUp(). Isi diskusinya macem-macem. Tadi siang di Telkomsel Digilife Dago Bandung (depan hotel Holiday Inn) yang mengisi adalah Didit dari Labtek Indie. Topiknya adalah “Developing VR in Unity”. Didit ini salah satu certified Unity Developers. Keren.

DSC_6314 0001

Yang diceritakan adalah tentang apa saja yang tersedia saat ini untuk membuat (aplikasi) VR (Virtual Reality) dengan Unity. Pro dan kontra teknologi yang tersedia dan beberapa hal yang perlu dicermati. Termasuk masalah-masalah yang dihadapi ketika membuat aplikasi VR.

Senangnya mengikuti acara-acara CodeMeetUp() ini adalah kita bisa belajar terus. Dari yang memang jagoan pula di bidang itu. Asyiiik.