Ada Band

Tag

,

Entah kenapa sore ini saya tiba-tiba teringat Ada Band. Tadinya nyalain keyboard, entah kenapa main chord2nya lagu “Manusia Bodoh”. Langsung saja saya mendengarkan koleksi lagu-lagu Ada Band. Nyalakan komputer dan search YouTube.

Eh, nemun Rhoma Irama membawakan lagu “Manusia Bodoh”-nya Ada Band. Hadoh! Ha ha ha. Ini dia.

Kalau dilihat di video itu maka banyak pendengar yang bingung. Saya juga. Ha ha ha. Pasalhnya begini. Sebagian besar fans Ada Band adalah anak-anak muda yang mungkin belum pernah tahu siapa itu bang Rhoma Irama. Jarang yang tahu bahwa bang Haji ini adalah the king of Dangdut. Dia adalah profesornya. (Sayang bang Haji lari ke dunia politik. Padahal sudah bagus-bagus di dunia musik itu saja. Sayang juga musik Dangdut tidak berkembang semenjak bang Rhoma Irama tidak terlalu aktif.)  Di video dapat dilihat bahwa anak-anak muda pada bingung. Ha ha ha.

Saya penggemar Ada Band dan termasuk yang bingung. Ha ha ha. Tapi akhirnya saya harus acungi jempol untuk bang Rhoma karena menurut saya berhasil membawakan lagu klasik Ada Band dengan baik.

Kembali ke Ada Band. Saya termasuk penggemar berat mereka, terutama jaman masih ada Krishna Balagita. Bahkan dulu di web site saya ada halaman khusus untuk Ada Band. (Serius!) Saking seriusnya, saya bahkan sempat ketemuan dan makan siang bersama mas Krishna. (Entah dia masih ingat atau nggak. hi hi hi. Sayangnya jaman dahulu belum model selfie.) Link di blog ini pun masih menyisakan tautan ke blog mas Krishna.

Apa kabar Ada Band? Apa kabar Krishna Balagita?

Waktunya Untuk Unfriend

Tag

,

Pernah saya menuliskan di blog ini (url?) bahwa saya tidak lagi berlangganan surat kabar. Dulu saya langganan macem-macem; Pikiran Rakyat, Republika, Kompas, dan lain-lain. Akhirnya saya berhentikan karena semuanya sama saja, pembawa bad news. (Pikiran Rakyat masih jalan karena ketika disetop semua, sang loper salah pengertian sehingga PR masih tetap terkirim. Jadi masih langganan meskipun tidak saya baca.)

Demikian pula saya tidak nonton tv nasional. Sama saja, bad news. Saya menonton channel National Geographic, BBC, dan sejenisnya saja. Cerita-cerita yang positif saja.

Bagaimana saya mendapatkan berita? Ya dari media sosial. Cukup berimbang.

Sekarang? Media sosial sebagian besar isinya negatif melulu. Orang-orang yang dulunya berimbang sekarang entah kenapa menjadi sangat cupet (berpikiran pendek), cepat panas, emosionalan, dan singkatnya bad news.

Nampaknya, sama seperti surat kabar dan tv, ini adalah waktunya saya membabat sumber-sumber tulisan yang negatif. Mungkin dari unfollow, hide, dan bahkan unfriend jika diperlukan. They are bad news to me. Untuk apa cari yang negatif-negatif ya? Mendingan kita cari yang positif-positif saja. hi hi hi.

Waktunya untuk membuat dunia ini menjadi lebih ceria.

Aplikasi Jaga: Pencegahan Korupsi

Tag

, , , ,

jaga-logoKemarin kami berdiskusi tentang aplikasi yang namanya Jaga. Pada dasarnya aplikasi ini bertujuan untuk mencegak korupsi melalui keterbukaan informasi. Keberadaan informasi yang tersedia di aplikasi Jaga ini dapat membuat masyarakat ikut berpartisipasi dalam membantu menjaga penyalahgunaan-penyalahgunaan.  Ada informasi tentang anggaran dan ketersediaan fasilitas di sekolah, rumah sakit, puskesmas, perijinan, dan tidak menutup adanya informasi-informasi lainnya.

jaga-screen

Berikut ini adalah salah satu contoh tampilan dari aplikasi Jaga yang tersedia untuk Android dan iPhone. Kita bisa melakukan drill-down untuk mencari data yang lebih rinci.

Secara teknologi, di belakangnya menggunakan konsep ESB (Enterprise Service Bus) yang diimplementasikan menggunakan WSO2. Nampaknya saya bakalan mengajak developer-developer untuk menggunakan standar ini agar dapat saling berkomunikasi. Dia bisa menjadi platform, bukan sekedar aplikasi saja.

Secara umum aplikasi ini bagus, namun ada beberapa permasalahan yang kemarin kami diskusikan. Masalah yang utama adalah bagaimana mengajak komunitas untuk menggunakan platform ini sebagai media untuk edukasi dan pencegahan korupsi? Komunitas mana saja yang perlu diajak untuk menggunakannya secara intensif?

Ada pertanyaan tentang penggunaan artis atau buzzer untuk mempromosikan sebuah produk atau layanan. Sebetulnya ini hal yang biasa, tetapi gara-gara ada banyak demo dengan pendemo bayaran maka dikhawatirkan image penggunaan artis / buzzer ini sama saja dengan pendemo bayaran. hi hi hi. Apa pendapat Anda?

Hal lain yang menurut saya penting adalah bagaimana membuat warna (brand) yang positif, good news. Kalau orang mendengar kata korupsi atau anti-korupsi, biasanya konotasinya adalah negatif. Misal ada yang berita tentang tertangkapnya seseorang karena korupsi dan seterusnya. Bad news. Pendekatan good news menurut saya lebih menarik. (Sama seperti tulisan-tulisan saya di blog ini yang condong untuk good news. Berita-berita di luar sana kebanyakan menggoreng bad news. Males! Nyebelin. Boleh jadi memang bad news lebih menjual, tetapi good news lebih menghasilkan kultur positif di kemudian hari.)

Ayo kita coba aplikasi Jaga ini dan beri komentar Anda di sini.

Di Jalan Lagi

Beberapa kali mau ngeblog, tapi gagal. Masalahnya, pas mau ngeblog ternyata gak ada internet (atau gak ada komputer). Ketika ada komputer malah lagi sibuk (ngajar, presentasi, diskusi, dan seterusnya). Bahkan sekarang saya lagi banyak di jalan.

15042230_10154019421811526_8147443572369248314_o

susah ngeblog, mendengarkan lagu di kereta api saja

Sebetulnya di perjalanan bisa ngeblog juga. Misalnya, pas menunggu di bandara atau pas di atas kereta api semestinya ada waktu yang luang. Tapi, seperti tadi, pas lagi dalam kondisi itu internetnya kurang stabil (atau gak bisa buka notebook). Saya termasuk yang tidak bisa ngeblog pakai handphone atau pakai tablet. Selalu saja banyak salah ketik. Jadinya malah acak adut.

15000647_10154019085281526_6769346196394886770_o

sarapan di hokben stasiun bandung sebelum naik kereta api

Tambahan lagi, mood. Pas lagi ada waktu kosong, mood ngeblog sedang kabur. Yaaah. Pokoknya ada saja alasan untuk tidak ngeblog. Padahal ada banyak topik yang mau saya tulis.

Tulisan ini juga di buat di sebuah coffeeshop setelah turun dari kereta api. Sambil menunggu, ngeblog dulu ah.

Hi, Mister!

Tag

, , ,

Ini adalah keempat kalinya dalam satu minggu ini saya dikira orang asing. Bule. Ha ha ha. Dugaan saya sih karena rambut saya yang memutih dan saya biarkan agak panjang (dan awut-awutan, tidak rapih seperti orang Indonesia?).

p_20161106_101947-students-0001

Tadi pagi saya mengunjungi Prambanan. Anak-anak ini tiba-tiba menghampiri saya dan langsung mengajak bahasa Inggris. “Where are you from, sir?” Begitu saya jawab dari Bandung, mereka agak kecewa. Tetapi, saya lanjutkan dalam bahasa Inggris bahwa saya memang sempat lama berada di luar negeri. Maka mereka kemudian mengajak bicara dalam bahasa Inggris. Maka berceritalah saya tentang pengalaman saya. ha ha ha.

Oh ya, bahasa Inggris mereka cukup baik. Bahkan menurut saya mereka bisa langsung ke luar negeri dan survive. Bahasa Inggris mereka tidak terbata-bata. Artinya mereka sudah bisa berbahasa Inggris. Tinggal jam terbang saja.

Eh, mereka tidak tahu bahwa saya ngeblog. Ha ha ha. Saya suruh cari nama saya saja. Dugaan saya sih mereka tidak bakalan cari. hi hi hi.

Good luck to all of you.

Bodoh vs. Jahat

Tag

, , ,

Sedang ribut-ribut soal Ahok, ini adalah pandangan dari sudut yang non-mainstream.

Pertama, Ahok kurang informasi (not well informed) tentang Islam atau orang Islam. Ini kalimat “santun”nya. ha ha ha. Kalau kalimat yang langung to-the-point, Ahok bodoh (tentang Islam / orang Islam). Pasalnya, kalau dia tidak bodoh tentunya dia tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti yang dipermasalahkan itu. Atau mungkin juga bodohnya hanya ada di mulutnya. hi hi hi. Bahkan ada pandangan lain, bahwa kalau Ahok lebih tahu tentang Islam mungkin dia sudah jadi muslim. ha ha ha. Tapi ini pandangan lain saja lho.

Kedua, di sisi lain, Ahok itu tidak jahat. Tidak evil. Tidak malicious. Bahkan kalau dilihat dari aksinya, Ahok cenderung baik terhadap Islam. Misalnya masjid di balai kota dijadikan. Orang-orang Islampun ada yang dikirimnya untuk umroh / naik haji. Banyak contoh-contoh lainnya.

Jadi saya simpulkan Ahok itu bodoh (tentang Islam), tetapi tidak jahat (terhadap Islam).

Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini?

Penanganan terhadap orang bodoh tentunya berbeda dengan penanganan terhadap orang jahat. Adalah lucu kalau orang-orang bodoh ini kita laporkan ke Polisi, misalnya. Bisa kurang penjara kita karena saking banyaknya orang bodoh (di berbagai bidang) di Indonesia ini. Didemo juga sama saja. Bisa demo tiap hari. Lantas kapan kerjanya? hi hi hi. Bodoh itu kan biasa.

Penanganan orang bodoh adalah dengan diajari. Diberi pencerahan. Disekolahkan. Tujuannya adalah supaya dia tidak bodoh lagi. Maka dari itu untuk kasus Ahok, sebaiknya sih dia diundang ke berbagai pesantren / masjid / surau / … untuk diberi pencerahan tentang apa itu Islam, kenapa Islam mengajarkan begini dan begitu sehingga dia lebih terdidik lagi. Adem. Atau kalau untuk Ahok ini mungkin hanya mulutnya saja yang perlu diberi sekolahan. Selebihnya sih dia sudah ok. ha ha ha.

Eh, pendekatan seperti ini banyak juga contohnya kok. Bahkan di kasus-kasus ini orangnya awalnya lebih galak lagi.

Recharge

Tag

Kemarin, Senin, sudah berencana ke kampus untuk kerja. Ada makalah yang harus saya selesaikan segera. (Dan tentunya beberapa materi presentasi lain yang harus saya selesaikan juga.) Baru mulai sebentar, badan kok rasanya lemas.

Tantangan bekerja di rumah itu adalah disiplin. Terlalu banyak distraction; makan, nonton TV, baca buku, dan tidur. Akhirnya kemarin saya pilih tidur saja. Sekalian untuk recharge badan yang agak lemas.

Sekarang lumayan segar. Semangat!

Terbangnya Waktu

Tag

,

Kemarin ada suatu masa yang mana saya mengatakan ke diri sendiri, “mau ngapain?” Serasa banyak waktu luang. Leha-leha saja? Nonton? Baca buku?

Hari ini, Minggu menuju ke Senin. Terbalik. Belum apa-apa sudah tegang karena ada banyak kerjaan (plus yang ingin dikerjakan) yang harus selesai besok.

Waktu seolah-olah terbang. Time flies …

Pembenaran

Tag

, , , , ,

Bagaimana memastikan bahwa ide bisnis kita, misal dalam kerangka start-up, sudah pada jalan yang benar? Istilah kerennya adalah validasi. Ada banyak cara yang ditempuh orang. Ada yang ikutan kompetisi, ada yang ikut bimbingan atau mentoring, ada yang ikut asosiasi, dan seterusnya.

Pembenaran juga tidak hanya terjadi di dunia start-up saja tetapi dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita menuliskan sesuatu di media sosial dan berharap banyak disukai (like) oleh banyak orang. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mencari pembenaran.

Cara-cara di atas, meskipun sah-sah saja, bukan satu-satunya (eh banyak ya?) yang dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Seringkali saya melakukan inisiatif-inisiatif tanpa menunggu pembenaran dari orang lain. Masalahnya adalah banyak inisiatif yang saya lakukan (di dunia internet, bisnis, pendidikan, kepemimpinan, dan lain-lain) banyak yang belum mengerti. Jadi bagaimana mungkin saya menunggu pembenaran dari orang-orang yang belum mengerti? Cara yang saya lakukan adalah jalan terus saja. Kalau kata iklan Nike, “just do it.”

Jadi, saya hanya senyum-senyum saja ketika orang membuat lomba, perkumpulan, atau apapun tanpa mengajak saya. Padahal saya bergerak di bidang itu. ha ha ha. Biarlah. Saya toh tidak mencari pembenaran dari mereka.

Mencari Gojek-nya Pendidikan

Tag

, , , , , ,

Sudah pernahkan Anda menggunakan Go-Jek (termasuk Go-Food, dll.)? Ketika pertanyaan ini saya lontarkan di berbagai pertemuan, jawabannya (sebagian besar) adalah sudah. Singkatnya, bagi banyak orang Indonesia, Go-Jek adalah hal yang natural dari penerapan teknologi terhadap layanan ojek.

Kalau kita ceritakan tentang “ojek” ke rekan kita yang berada di luar negeri, khususnya di negara maju yang memiliki transportasi publik yang bagus, mereka akan heran. Mengapa ada ojek? Mosok ada layanan transportasi publik berbasis sepeda motor?  Mereka akan mempertanyakan keamanan dari layanan ojek tersebut. Segudang pertanyaan lain akan menyusul.

Ada banyak alasan mengapa ojek dan aplikasi Go-Jek tumbuh di Indonesia. Infrastruktur transportasi yang masih belum bagus dan belum merata menyebabkan banyak jalan yang hanya dapat dilalui dengan motor. Gang, misalnya. Kemacetan di jalan besarpun membuat layanan ojek masuk akal. Belum lagi ini membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang Indonesia.

Sesuatu hal yang aneh dan tidak mungkin di luar negeri menjadi sesuatu hal yang lumrah di Indonesia.

Mari kita melirik ke dunia pendidikan. Aplikasi pendidikan apa yang Anda gunakan akhir-akhir ini? Sering? Berapa banyak orang yang menggunakan aplikasi ini? Jawabannya adalah tidak banyak atau bahkan tidak ada. Pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan memang masih kalah cepat dengan pemanfaatan di dunia bisnis.

Pendidikan di Indonesia tidak dapat disamakan dengan pendidikan di luar negeri. Lingkungan dan karakter orang Indonesia yang berbeda menyebabkan banyak cara pendidikan luar negeri yang tidak dapat diterapkan secara langsung. Kondisi infrastruktur yang dibutuhkan untuk transportasi publik sama buruknya dengan kondisi “infrastruktur” yang dibutuhkan untuk menjalankan pendidikan.

Nah, apakah “ojek” dari pendidikan di Indonesia? Mungkin ada sesuatu hal yang mungkin dianggap aneh oleh orang Barat, tetapi masuk akal bagi orang Indonesia. Sesuatu yang khas Indonesia. (Kearifan lokal?) Kalau sudah ketemu “ojek”nya, mungkin dapat dibuatkan aplikasi “gojek”nya untuk pendidikan ini.

Kita butuh pemikiran yang berbeda. Mari kita cari “the gojek app for Indonesian education”.

Nge-vlog gak ya?

Tag

, , , ,

Belakangan ini memang sedang marak orang-orang membuat video blog (vlog). Nah, dua hari yang lalu saya diwawancara oleh harian Pikiran Rakyat tentang topik vlog ini. Hari ini, Minggu 23 Oktober 206, muncul tulisannya. hi hi hi.

p_20161023_111929-vlog-0001

Saya sendiri belum mempertimbangkan untuk membuat vlog. Sekarang saja dengan blog ini (dan yang baru saya mulai di medium) sudah riweuh. Kurang terurus. Apa lagi nanti kalau nambah dengan nge-vlog. Bisa-bisa terbengkalai semua. Ada sih beberapa video YouTube saya, tetapi isinya lebih ke arah tutorial-tutorial. Nanti kalau sudah ada mood mungkin juga buat vlog. Sekarang belum dulu.

Sementara ini, silahkan tonton bodoran saya waktu di Australia kemarin dulu ya. hi hi hi.

Atau kalau mau bodoran dalam bahasa Indonesia, yang ini? (Sudah lama sih.)

Lagian, bagusnya orang lain yang buat vlog supaya tidak kita-kita lagi. Loe lagi, loe lagi. hi hi hi. Mari kita perbesar jumlah orang kreatif. Mari menulis. Eh, membuat video?

(Beres) Manggung

Tag

, , ,

Seharusnya tulisan ini saya tampilkan segera setelah manggung minggu lalu, tetapi karena belum sempat ya terpaksa baru tampil sekarang.

Ada keponakan menikah. Kesempatan digunakan untuk manggung. Kami buat band keluarga. hi hi hi. Awalnya sih mau manggung dengan anak saya saja, tetapi keluarga mau ikutan juga. Jadinya manggung dengan keluarga setelah berdua dengan anak manggung dulu.

img-20161015-wa0017-band

img-20161015-wa0020-band

Setelah selesai manggung, beres-beres alat-alat. Setelah acara semua selesai kami kembali ke hotel. Eh, gitaran dilanjutkan di hotel. Dasar. ha ha ha. Sambil main-main begitu, eh senar gitar putus. Untungnya bukan tadi pas lagi manggung. Begitulah.

dsc_7820-guitar-minus-1string-0001

Waktunya pasang senar baru.

p_20161021_081501-strings-0001

Terburu-buru

Tag

,

Melihat media sosial saat ini, ada kesan bahwa banyak orang terlalu terburu-buru dalam membaca. Mungkin ini disebabkan karena emosi – rasa kebencian yang mendalam – yang menguburkan kesabaran. Padahal untuk memahami pesan yang tertulis, kadang kita harus membacanya berulang-ulang.

Ini baru untuk tulisan-tulisan yang relatif “mudah” dicerna. Bayangkan kalau kita harus membaca makalah yang lebih sulit untuk dimengerti. Masalah emosi juga mungkin ada, tetapi berupa rasa kesal karena tidak mengerti apa yang dibaca. (ha ha ha.) Inilah sebabnya banyak peneliti – terutama yang mengambil S3 – seringkali mengalami tekanan jiwa. Sudah susah memahami tulisan yang dibaca, orang-orang pun tidak bisa memahami. Apa susahnya sih membaca (makalah)?

Ada banyak tulisan yang membahas topik kontroversial; mulai dari masalah mistik, agama, extra terestrial (makhluk luar angkasa), dan hal-hal lain yang masih belum dimengerti secara teknis (scientific) oleh manusia. Untuk hal-hal seperti ini, belum apa-apa kita sering menghakimi bahwa tulisan atau pendapat tersebut adalah sampah.

Rasa keingintahuan (curious) seharusnya merupakan prinsip utama yang harus dipegang teguh. Disertai dengan kesabaran – tidak terburu-buru – ini adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dalam rangka mencari kebenaran.