Kuliah Semester Ini

Tanpa saya sadari, ternyata semester ini saya mengajar banyak kuliah. Biasanya saya hanya mengajar dua mata kuliah, tetapi kali ini ternyata menjadi empat. Hadoh.

  1. Keamanan Informasi (Introduction to Security) – untuk S1
  2. Keamanan Jaringan (Network Security) – S2
  3. Keamanan Perangkat Lunak (Software Security) – S2
  4. Secure Operation and Incident Handling – S2

Busyet dah. Nanti kita organisir dulu kelas dan jadwalnya. Sementara ini saya masih sibuk mempersiapkan materi kuliahnya.


Diam Adalah Emas

Riuh rendah di dunia media {konvensional, sosial}. Kesannya, semua ingin bicara. Ingin tampil. Ingin eksis. Ingin jadi jagoan. Padahal mereka belum tahu apa yang terjadi dan mengapa terjadi. Apalagi mengetahui langkah selanjutnya.

Diam …

Mungkin diam adalah hal yang terbaik untuk kita lakukan. Saya akan diam dan kembali ke pojokan tempat saya bersembunyi.

We can be so violent with our silence …


Ke(terlalu)sibukan

Ini adalah minggu pertama perkuliahan dimulai di ITB. Ternyata langsung super sibuk. Gas pol. Akibatnya tidak sempat ngeblog dalam beberapa hari. Luar biasa. Kemarin malam mau coba ngeblog, eh listrik di rumah bermasalah sehingga tidak bisa ngeblog. Pokoknya sih banyak hambatan untuk ngeblog. Ini bukan cari-cari alasan, tetapi alasan sesungguhnya. Apa sih … hi hi hi.

Malam ini nyaris tidak dapat ngeblog lagi karena (lagi-lagi) urusan perkulihanan. Kayaknya semester ini banyak sekali kuliah yang harus saya ajarkan. Nah lho. Ini pusing ngatur waktunya. Ada kemungkinan ada kuliah yang terpaksa tidak saya ajarkan. (Mikir dulu malam ini, yang mana.)

Sementara ini dulu yang mau saya tuliskan. Ada beberapa hal yang sudah ingin saya tuliskan juga tetapi waktunya belum ada. Ugh.


Terlalu Banyak Berencana

Rencana saya pagi ini adalah ingin membuat dokumentasi program twitter crawler yang saya buat. Membuat dokumentasi merupakan pekerjaan yang kurang disukai oleh engineer. Tahu, dokumentasi itu penting, tetapi tetap saja prioritas dari upaya dan daya untuk mendokumentasi itu rendah.

Masalah saya adalah di kepala saya sudah ada rencana mau nulis ini dan itu. Untuk itu dibutuhkan waktu sekian lama. Oke, harus menyiapkan meja. Musik siap. Kopi harus buat dulu. Dan seterusnya. Kebanyakan berencana sehingga waktu yang sesunguhnya digunakan untuk menulis menjadi sedikit. Begitu mikir bahwa waktu menulisnya sedikit, maka mood turun lagi. Wah, males deh. Ngopi dan mendengarkan musik iya, menulis tidak. he he he.

Ngeblog dulu ah … Woles weh …


Rekomendasi Buku

Kalau dahulu, mencari buku itu susah. Apalagi bagi kita yang tinggal di Indonesia. Fasilitas perpustakaan di Indonesia jauh ketinggalan daripada perpustakaan di luar negeri. Eh, sekarang juga masih demikian kondisinya. Kita hanya bisa ngiler melihat ketersediaan buku-buku di perpustakaan di luar negeri. Selain perpustakaan, toko buku di luar negeri juga jauh lebih baik daripada toko buku di Indonesia. Intinya, kita sulit mendapatkan buku yang bagus-bagus.

Sekarang, dengan adanya internet, kesulitan untuk mendapatkan bahan bacaan sudah sangat berkurang. Permasalahan sekarang justru di sisi ekstrim yang lain, yaitu terlalu banyak bahan bacaan. Tidak semua bahan bacaan tersebut bagus dan pantas ditukar dengan waktu yang kita “buang” untuk membaca buku tersebut. Masalah sekarang adalah memilah bacaan yang bagus di tumpukan bahan bacaan.

Kesulitan mendapatkan buku yang bagus (dahulu) dipecahkan dengan membuat klub buku (book club). Di situ kita bisa bertukar buku. Setidaknya kehausan akan bahan bacaan dapat dikurangi dengan klub tersebut.

Permasalahan memilah buku mana yang pantas dibaca dipecahkan dengan meminta bantuan orang lain untuk memberikan saran atau rekomendasi. Rekomendasi ini dapat dilakukan secara manual atau secara otomatis. Atau, kita juga dapat melihat buku-buku yang dibaca orang lain melalui berbagai situs rekomendasi buku. Setidaknya mekanisme ini dapat mempermudah proses filtering.

Secara berkala nampaknya kita perlu bertukar daftar buku yang sedang kita baca.


Siapa Kamu?

kanye mccartneyBeberapa waktu yang lalu ada yang menampilkan twitter yang lucu seperti (di samping) ini. Saya ketawa ngakak. Lucu banget! Bagi saya, penggemar musik yang tidak tahu Paul McCartney itu siapa menandakan bahwa pengetahuannya sangat terbatas. (Mau bilang “bodoh” kok agak gimana gitu. he he he.)

Apa yang terjadi dengan ini? Nampaknya generasi muda – asumsi saya yang menuliskan twit tersebut adalah generasi muda – tidak mau belajar dan sok tahu. Cobalah usaha sedikit saja. Silahkan cari tahulah siapa itu Paul McCartney. Boleh jadi Anda tidak suka dengan dia, tetapi tahu lah.

Kejadian seperti ini banyak terjadi. Ini ada beberapa cerita yang saya tahu.

Pada suatu saat, ada sebuah acara musik yang akan di-streaming-kan via internet. Saya minta bantuan kawan saya yang punya ISP (internet service provider) untuk itu. Kebetulan kawan saya ini adalah bos (founder) dari ISP tersebut. Maka pada hari H-nya saya melakukan setup dan melihat-lihat persiapannya. Ada meja admin yang memantau dan mengendalikan streaming tersebut. Kawan saya datang dan melihat-lihat juga. Dia tanya-tanya ke operator yang ada di situ. Si operator jawab-jawab. Kawan saya juga nanya lagi. Kayaknya si operator mungkin bingung, siapa sih ini orang yang nanya-nanya … maka dia nanya, “bapak siapa?”. Wk wk wk. Maka kawan saya sontak ngeloyor. Wk wk wk. Pegawainya sendiri gak tahu itu bosnya. Wk wk wk. Saya ngakak dengernya. Ya ampuuun. Mas, mosok gak tahu itu bosnya???

Beberapa waktu yang lalu juga saya mendapat pertanyaan (atau pernyataan?) … “bapak sudah pernah pakai linux?” (ini dalam kaitan tentang membuat sistem operasi baru dan saya mempertanyakan untuk apa buat sistem operasi baru, memangnya kalian bisa?). Saya gak tahu mau jawab apa. Wk wk wk. Eh, saya jadi ragu juga. Jangan-jangan memang saya belum pernah pakai linux. Hadoh.

Ada video tentang John Petrucci main gitar dan anaknya nanyi (lagu Frozen). Ada komentar lawakan, “penyanyinya bagus, tapi yang main gitar kayaknya harus banyak belajar lagi meskipun punya potensi”. Glodak … pengsan saya.


Salah Fokus Ketika Presentasi

Ini adalah waktunya sidang-sidang di tempat saya. Ada sidang thesis mahasiswa S2 dan sidang kemajuan / proposal untuk mahasiswa S3. Ada presentasi mahasiswa yang oke, tetapi kebanyakan malah bermasalah.

Salah satu masalah utama dalam presentasi adalah salah fokus dalam materi yang dipresentasikan. Seringkali mahasiswa langsung masuk ke hal-hal yang teknis tanpa memberikan cerita mengenai latar belakang atau konteksnya. Akibatnya, pertanyaan yang muncul menjadi seperti bola liar. Kemana-mana. Bayangkan, kalau dalam sebuah presentasi tiba-tiba saya mengatakan “Kita dapat meningkatkan theta untuk mendapatkan hasil yang lebih baik“. Lah, “theta” itu apa???

Mahasiswa sering lupa bahwa penguji mereka bukan orang bodoh, tetapi boleh jadi mereka bukan berada di bidang yang ditekuni mahasiswa yang bersangkutan. Istilah-istilah atau konsep yang ada di bidang itu boleh jadi tidak dimengerti oleh penguji. Maka berilah gambaran kerangka besarnya. Fokus kepada konsep utamanya. Ketika diminta untuk menjelaskan rinciannya, barulah kita masuk lebih ke hal-hal yang lebih teknis. Penguji sudah siap untuk menerima penjelasan kita.

Masalah berikutnya adalah banyaknya yang ingin dijelaskan tetapi waktu yang tersedia tidak cukup. Ini bahasan di lain kesempatan. :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.112 pengikut lainnya.