Menciptakan Entrepreneur (Startup)

Di berbagai tempat sedang ramai diberitakan tentang upaya-upaya untuk meningkatkan jumlah entrepreneur (orangnya) atau startup (perusahaannya). Upaya-upaya ini harus didukung. Namun, perlu diingat bahwa menciptakan entrepreneur bukanlah usaha yang mudah. Jangan digampangkan.

Beberapa (10?) tahun yang lalu saya sempat mengusulkan adanya program 1000 startup dalam 10 tahun. Tadinya saya pikir angka 1000 itu adalah angka yang kecil dan mudah dicapai dalam 1 tahun. Ternyata setelah saya telaah, itu upaya yang terlalu berat. Kalau dalam 10 tahun, lebih masuk akal. Coba kita hitung secara kasar. Kalau 1000 startup dalam 10 tahun, berarti ada 100 startup setiap tahun, atau sekitar 10 startup setiap bulan. Bayangkan, 3 hari sekali ada startup baru!

Tentu saja kalau itu dilakukan oleh satu orang akan merupakan hal yang sangat sulit, tetapi kalau itu dilakukan secara keroyokan masih memungkinkan. Nah, ayo kita keroyok.

Tadi malam, saya ikut berpartisipasi di acara ini; upaya untuk membentuk “ITB Startup Network”. Semoga ada kelanjutan yang nyata dari acara tadi malam.

ITB startup network


Jadwal Ketat

Ini masih soal sibuk-menyibuk. Masih soal kesibukan saya. Karena saking sibuknya, maka jadwal saya cukup ketat. Kalau ada acara yang jadwalnya molor, maka saya harus kabur duluan dari acara tersebut agar tidak mengganggu acara selanjutnya. Saya merasa tidak enak kalau kabur duluan. Tidak sopan. Tapi bagaimana lagi?

Ini baru awal tahun. Kuliah belum mulaipun jadwal sudah ketat. Hadoh.


Terjebak Terorisme Jakarta

Beberapa hari ini saya belum sempat bercerita di blog karena ke(super)sibukan. Hari ini pun sebetulnya saya super sibuk, tapi akhirnya sempat menulis.

Pagi tadi saya berangkat dari Bandung setelah Subuh untuk pertemuan (Focus Group Discussion) tentang e-Commerce di Bank Indonesia (BI). Sampai di Jakarta masih pagi, tetapi sudah kena 3-in-1. Jadi saya putuskan untuk parkir di Sarinah. Kemudian saya sarapan di McD di sana. Lepas sarapan, saya naik ojek ke BI. Meeting.

Di tengah-tengah diskusi, kami mendapat berita ada bom di Starbucks Sarinah (Thamrin). Hadoh. Ada peserta yang salah satu anggota keluarganya di sana. (Untungnya aman. Alhamdulillah.) Sementara saya baru teringat bahwa saya parkir di Sarinah. Saya lupakan sejenak dan terus meeting. Setelah meeting baru saya melihat berita-berita beserta fotonya.

Wah ternyata kejadian di sekitar tempat saya parkir. Bahkan, kadang ketika saya berangkat terlalu pagi biasanya saya mampir di Starbucks Thamrin itu. Pas parkirnya juga di tempat itu. Hadoh. “Untungnya” hari ini saya tidak parkir di sana.

Setelah selesai meeting kami juga belum dapat meninggalkan BI karena tidak diperkenankan keluar masuk. Lagi pula saya tidak bisa kemana-mana. Saya lihat di TV situasinya. Waduh. Hmm bagaimana ya. Akhirnya saya putuskan untuk menuju ke sana setelah diperkenankan meninggalkan gedung BI.

Saya pilih naik ojek menuji ke tempat itu melalui jalan Sabang. Tadinya jalan itu juga ditutup. Saya nekad saja. Jalan Sabang sudah dibuka, tetapi di ujungnya belum. Jadi ojek hanya sampai di sana. Saya turun di sana dan menuju ke Sarinah. Sambil berdebar-debar karena masih tertutup. Sampai di sana masih banyak orang. Eh, pas sampai sana orang berhamburan. Saya ikutan lari. Serem juga. Ada yang komentar masih ada bom, tetapi nampaknya itu adalah oleh TKP.

Saya melihat daerah tempat mobil saya diparkir. Ternyata itu termasuk daerah yang terlarang. Police line menutupi areanya.  Wah, gak bisa keluar tuh mobil. Ya sudah akhirnya saya memilih untuk menjauh dari tempat itu. Cari tempat istirahat saja. Ngeblog dulu ah.


Memeriksa Ujian

Ini adalah waktunya para dosen berkeluh kesah; waktunya memeriksa ujian-ujian dan tugas mahasiswa. Tentu saja, termasuk saya. hi hi hi.

BR periksa tugas mhs

Yang susah dari memberi nilai adalah memberi rasa keadilan. Mahasiswa yang sudah bekerja keras dan cerdas, mestinya nilanya lebih baik daripada mahasiswa yang malas dan kurang berprestasi. Begitu kan?

Berilah kami dukungan dan doa agar cepat selesai menilai ujian dan tugas-tugas sehingga bisa cepat memasukkan nilainya. Bagi yang nilainya kurang baik, semoga ini menjadi pelajaran untuk tidak diulangi lagi.


Wearable Gadget

Sudah lebih dari sebulan (eh, lupa kapan tepatnya) saya menggunakan Mi-Band. Itu lho, gelang elektronik yang dipakai untuk mencatat jumlah pergerakan atau langkah kita. Berdasarkan itu dia dapat memperkirakan jarak yang sudah kita tempuh beserta kalori yang terpakai. Hasilnya seperti contoh di foto ini.

IMG_0057 miband

Hasil screenshot di atas menunjukkan bahwa saya telah melakukan 11452 langkah, yang kemudian dikonversikan menjadi 7,85 Km. Not bad. Yang menyedihkannya adalah sudah segitu jauh ternyata hanya menghabiskan 423 kalori. Makan bakso saja sudah lewat dari itu kali ya? hi hi hi.

Mi-band ini salah satu contoh wearable gadget, yaitu perangkat yang bisa kita “pakai”. Dahulu, ketika saya mulai tertarik kepada hal ini di tahun 1999, ukuran komponen masih besar sehingga wearable gadget ini terlihat lucu. Kayak robot yang banyak tempelan komponen elektroniknya. Sekarang, sudah nyaman dilihat. Sudah fashionable.

Saya jadi ingin buat perangkat-perangkat lain yang lebih canggih ah.


Anti-Mainstream

Sejak kecil saya tahu bahwa saya berbeda. Selera musik saya berbeda dengan teman-teman. Ketika mereka menyukai musik pop, saya sudah mulai menyukai progressive rock. Saya membaca, ketika kawan saya entah ngapain. Saya ngoprek elektronik, ketika kawan-kawan membeli mainan. Dan seterusnya.

Karena saya berbeda, saya mencoba menerima perbedaan dan orang-orang yang berbeda. Jadinya banyak orang yang dianggap “aneh”, outcast, oleh kebanyakan orang tetapi saya bisa berteman dengan mereka. Banyak kejadian yang mengajari saya untuk menghargai orang, apapun latar belakang dan status sosial mereka. Ini mengharuskan saya sopan dan memberikan senyum ke jelata yang tidak dipandang oleh society. Justru malah saya menjauh dari orang-orang yang mapan karena khawatir mereka akan menganggap saya menghargai mereka karena kemapanannya.

Ini membuat saya cenderung anti-mainstream. Ketika dahulu orang belum memotret diri – selfie, saya sudah melakukannya. Justru karena sekarang banyak yang selfie, saya malah tidak suka lagi. Pokoknya yang menjadi mainstream, biasanya saya jadi kurang suka. he he he.

Berbeda itu ada untung dan ruginya. Untungnya adalah mudah teridentifikasi karena beda sendiri. Stand out in the crowd. Ruginya atau buruknya adalah mudah teridentifikasi juga. Padahal seringkali saya tidak ingin terlihat. Lebih enak tersembunyi karena bisa suka-suka sendiri. Ya, harus menerima perbedaa ini. Jiyah …

Tulisan ini juga merupakan salah satu contoh ke-anti-mainstream-an saya. Ketika orang masih berbicara tentang tahun baru – maklum, sekarang kan tanggal 1 Januari – saya malah menuliskan hal ini.

Long live anti-mainstream!


Kebahagiaan Itu Adalah …

Di halaman facebook saya, secara iseng saya menampilkan status berikut:

Mengapa masih mengukur kebahagiaan atau kesuksesan dengan uang? Sudah banyak riset dan fakta yang menunjukkan bukan itu.

Dan tentu saja banyak yang berkomentar. Banyak orang yang masih merasa yakin bahwa uang adalah alat ukur kebahagiaan. Semakin banyak uang, semakin bahagia kita. Terjadilah komentar setuju dan tidak setuju. (Bagaimana pendapat Anda?)

Saya termasuk yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu bukan uang. Ada banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, contoh keluarga. Sebagai contoh, maukah Anda punya banyak uang tetapi tidak memiliki keluarga? Contoh lain adalah kesehatan.

Bukannya uang tidak penting. Penting. Ada semacam batas (threshold) bahwa uang itu penting, tetapi setelah melewati batas itu maka uang menjadi tidak penting lagi. Batasnya ini yang berbeda-beda.

Sebetulnya mengapa saya mengangkat topik ini? Kebetulan saya sedang membaca buku “Happy City: Transforming Our Lives Through Urban Design” karangan Charles Montgomery. Ini terkait dengan kebahagiaan. Sekalian saya sertakan videonya di TEDx Vancouver.

Selain itu saya juga melihat penduduk kota Bandung yang tingkat kebahagiaannya menaik sejak walikota kami, pak Ridwan Kamil, membenahi kota Bandung. Ada banyak taman yang direnovasi kembali. Bagus-bagus. Lucu juga, alun-alun yang dulunya kumuh sekarang menjadi ramai lagi dengan hanya meletakkan karpet rumput sintetis (seperti yang biasa dipakai untuk lapangan futsal) di lapangannya. Sekarang itu menjadi tempat keluarga berkumpul dan berfoto.

Seperti kata Charles Montgomery, “happy = social”. Kebahagiaan itu adalah fungsi dari interaksi sosial.

Update: Link terkait


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.627 pengikut lainnya