Tentang Rush Lagi

Semalam, pas mau tidur saya pikir puter lagu atau video dulu. Ternyata di iPad saya gak ada yang jalan. Maklum ini iPad versi pertama (atau kedua?) yang sudah lama dan kadaluwarsa. Pokoknya sudah tidak bisa diupgrade lagi OS-nya. Tapi masih ada beberapa aplikasi yang jalan, terutama aplikasi untuk baca buku. Itu yang penting. Aplikasi YouTube tidak jalan. Eh, ada aplikasi Netflix yang masih jalan. Ya sudah cari sesuatu di Netflix. Nemu tentang dokumentasi band Rush. Nontonlah itu. Akibatnya malah nyaris tidak bisa tidur. ha ha ha.

Bagi sebagian (kecil) pembaca, mungkin sudah tahu bahwa band Rush inilah yang membuat saya sekolah di Kanada dan menjadi bagian dari kehidupan saya. Salah satu cita-cita saya ke Kanada adalah supaya bisa ketemu Rush juga. Dan selama tinggal di Kanada (lebih dari 10 tahun), tidak pernah ketemu Rush dong. ha ha ha. Nanti kapan-kapan saya ceritakan ini.

Dari video dokumenter tentang Rush yang saya saksikan tadi malam ada beberapa hal yang penting. Salah satunya adalah Neil Peart, drummernya, tidak suka temu muka dengan fans. Bukan karena arogan, tetapi karena dia memang pemalu (shy). Introvert? Pokoknya dia memang merasa tidak nyaman bertemu dengan fans saja. Jadi kalau ada artis atau pemusik yang bisa dan lazim ketemu dengan fans, dia malah merasa aneh. Jadinya dia malah melarikan diri kalau ada acara “meet and greet“. Untung pemain lainnya, Geddy Lee and Alex Lifeson tidak masalah dengan ketemu fans. Diwakilkan oleh mereka saja. Hi hi hi. Wah kebetulan juga. Kalau saya sebagai fans pengen ketemu dengan dia sudah bakalan ditolak juga. ha ha ha. Jadi untung juga tidak berusaha. Alesan.

Nonton video ini terpaksa saya hentikan supaya saya bisa tidur. Kalau tidak, bisa sampai pagi menyimaknya. Jadi nonton dokumenternya akan disambung lagi. Ya tulisan ini akan disambung lagi. Mungkin.

Ini videonya: https://www.netflix.com/title/70137744

Festival Band Alumni ITB 2017

Setelah 3,5 tahun berlalu, festival band alumni ITB ada lagi. Pada fesband yang lalu saya tidak ikutan. Lupa kenapa. Kali ini saya ikutan. Bahkan, saya ikutan di 3 band (dalam dua hari). Sebetulnya saya bisa ikutan di satu kategori lagi, sehingga 4 band dalm 3 hari. Mungkin itu rekor di antara peserta. ha ha ha.

Jum’at malam (3 Feb 2017). Band yang pertama manggung – membuka acara – adalah Band Alumni Elektro ITB. Lagu yang dibawakan adalah (1) Kansas – Carry on Wayward Son dan (2) Cokelat – Bendera. Yang dicari memang lagu yang bernuansa rock! Di festband kali ini memang hanya diberikan kesempatan untuk membawakan dua lagu dengan catatan harus ada minimal satu lagu berbahasa Indonesia atau buatan sendiri.

band-el-fesband-2017-0001
Band Alumni Elektro ITB

16463646_10154979500928749_717606295467438938_o
Waktu check sound. [Sumber Foto: Uut]
Hari Sabtu saya ikutan dua band; Band Dosen ITB (BANDOS) dan Father and Son (berdua dengan anak saya). Bersama BANDOS, kami membawakan lagu (1) Moody’s Mood (versi Brian McKnight) dan (2) Panah Asmara (versi Afgan, bukan Chrisye). Untuk band ini saya hanya bermain gitar dan keyboard, plusĀ  vokal latar saja.

16487800_10208642935735674_8485832120577806802_o-br-keyboard

Di Father and Son, kami membawakan (1) Extreme – More than Words dan (2) Ungu – Tercipta Untukmu. Kami masuk ke kategori IDOL. Memang agak membingungkan karena kami tidak berniat untuk masuk kategori ini. Habis gak ada lagi kategorinya. hi hi hi. Kami membuka sesi IDOL.

16427218_10154224007325778_8744350497478206683_n
Father and Son. Luqman (kiri), saya (kanan). (Sumber Foto: Kadri)

Agak susah juga membuka sesi ini karena konfigurasi sound belum pas. Monitor suara gak bunyi sehingga saya tidak dapat mendengarkan suara saya sendiri. Pas checksound malah lebih asyik.

16473048_10154988901152486_4375659508002605105_n
Checksound – menyanyikan Creed – One Last Breath. (Sumber Foto: Yayo)

Hari Minggu (5 Feb 2017) saya kembali ke Bandung. Phew … Istirahat dulu. Sampai berjumpa di acara musik berikutnya.

Bisnis Musik

Sudah lama saya ingin membuat tulisan tentang bisnis musik (dan entertainment secara umum), dikaitkan dengan perkembangan teknologi. Sayang sekali saya belum berhasil membuat sebuah tulisan yang komprehensif. Sabar ya. Saya sekarang sedang dalam proses membaca dan mengalami (melalui proses) bisnis musik ini.

Tahun lalu saya dan beberapa kawan membuat toko musik digital “Digital Beat Store” (sebetulnya secara umum adalah digital entertainment). Selain itu saya juga mencoba mendalami proses manggung. (Saya manggung hampir 25 kali di tahun 2007!) Ternyata masih banyak yang harus saya pelajari. Tahun 2008 ini saya masih akan terus belajar dan juga akan mengaplikasikan pelajaraan tersebut dalam hal nyata; manggung, membuat musik/lagu, mengumpulkan perangkat dan modal untuk membuat studio / tempat bereksperimen, dan seterusnya. Pokoknya “Mr. GBT projects” lah.

Ada beberapa kesimpulan sementara saya

  • Memang terjadi perubahan model bisnis musik. Teknologi, lagi-lagi, mengubah budaya. Yang diuntungkan dengan perubahan ini adalah … artis / musisi! Tapi pola pikir harus diubah dulu. Konsep intellectual property yang lama (misalnya mengandalkan kepada royalty penjualan) harus diganti dengan pemikiran baru. Hak cipta semata sudah kadaluwarsa.
  • DRM is dead! Ada banyak salah pengertian terhadap Digital Rights Management (DRM). Saya termasuk aliran yang tidak setuju dengan DRM (meskipun salah satu perusahaan saya mengimplementasikan DRM untuk sebuah perusahaan di Eropa). Lihatlah bagaimana Apple, Amazon, dll. tidak menggunakan DRM. (Wah Steve Jobs ngikutin kata BR. Gayane rek. Bolehlah sok GR / PD. Padahal dia udah tahu duluan he he he.)
  • … apa lagi ya? Nanti saya tambahkan deh kalau sudah keinget.

Saya ingin lebih banyak berdiskusi dengan artis, composer, sound engineer, graphic designer, budayawan, manager, pelaku bisnis, roadies, dan seterusnya. Kapan kita kopdar yuk? Saya cerita apa yang saya mengerti dan saya ingin belajar dari Anda-Anda.

Untuk sementara itu, bagi yang sudah tidak sabar, saya akan sertakan beberapa link untuk bahan bacaan.

Itu dulu ya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi awal kemajuan musik dan industri musik di Indonesia.

Sementara itu, saya juga dibujuki oleh sobat saya untuk juga melihat sisi perfilman. Wah, sabar dulu Dave. Saya janji akan belajar dulu ya. Let me finish working on music first.

Ngelantur Malam Ini

Judul semula adalah “renungan malam ini”, tetapi kok kesannya serius dan religi banget. Padahal memang ada aspek kontemplasi juga ketika menuliskan ini. Sambil membuat tulisan, saya gonta ganti theme dari blog ini karena ada banyak yang kurang suka dengan tema “reog ponorogo” (merah hitam) saya yang kemarin. hi hi hi. Yah, apa boleh buat, saya hanya bisa memilih apa yang disediakan oleh wordpress saja.

Kembali saya pilih tema “misty” karena ada kesan embun di pagi hari; ada nuansa misteri di sana. Pokoknya gimana gitu. Susah menjelaskan. Susah mencari kata-kata yang pas. Pokoknya susah aja. Sebetulnya mungkin saya bisa lebih baik untuk menuliskan ini semua, tapi saya sudah capek.

Hari ini kerja saya dimulai jam 8 pagi dengan memberikan presentasi di Hotel Preanger. Artinya saya harus siap lebih awal dari itu, toh? Ada banyak aktivitas hari ini; meeting, mengajar kuliah di kampus, dan latihan band. Sampai di rumah baru jam 21:30. (Belum makan malam. Ah, malas!) Harusnya saya cepat-cepat ngaso, karena besok juga acara saya padat sampai malam juga. (Heran juga, ngapain aja sih?), tetapi tidak tahan untuk membereskan kehidupan internet saya dulu. (Terlalu banyak email!)

Sebenernya sih ini hanya alasan untuk tulisan yang nggak mutu ini. (Emangnya tulisan yang lain mutu? Sok tahu! he he he.)

Ehm, tadi mau nulis apa ya? Kok lupa lagi? Sebetulnya sih tidak lupa, tetapi topik yang ingin saya tuliskan berat-berat. Topik tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk menuliskannya (setidaknya 1 jam lah). Padahal, sekarang mata sudah terasa berat. Sudah waktunya untuk mencari bantal.

Sebentar, sebentar, tunda dulu bantalnya. Ada banyak yang bisa saya ceritakan; tentang hasil survey security dari mahasiswa kelas saya tadi, misalnya. Ya itu dulu.

Ceritanya tadi saya minta mahasiswa saya untuk keluar dari kelas, kemudian mencari mahasiswa lain di luar untuk diwawancara. Tujuannya adalah (1) mencari tahu pemahaman mereka tentang security [apa itu security menurut mereka?]; (2) penerapan yang terkait dengan mereka. Ternyata banyak yang mengasosiasikan security dengan satpam. Kalau dikaitkan dengan komputer, masuknya ke virus. Ketika ditanya apakah pernah berbagai password atau PIN, umumnya mereka membagi password dengan orang yang dekat. Kalau PIN dibagi ke keluarga. Nah itulah dia potret mengenai pemahaman security di sekeliling kami.

Saya pulang agak malam tadi karena latihan band dulu. Nah, jadi keinget lagu “Beth” dari group Kiss. Lagu ini berisi tentang permintaan maaf seorang pemain band kepada istrinya karena dia masih belum bisa pulang. Sedikit lagi, soundnya belum kena, … dan seterusnya. Sementara sang istri sudah menunggu di rumah. Kemana suami saya ya? Wah, kena banget tuh lirik.

Beth, I hear you callin’
But I can’t come home right now
Me and the boys are playin’
And we just cant find the sound
Just a few more hours
And I’ll be right home to you
I think I hear them callin’
Oh, beth what can I do
Beth what can I do

cause me and the boys will be playin
All night

Dua gitar saya sudah saya bersihkan dan saya jajar di ruang tamu. Besok mereka akan kerja keras. Ha! (Jadi pengen beli gitar dan efek lagi, euy. Tapi nampaknya harus menunggu dulu karena harus nabung dulu.)

Ah, sudah larut. Selamat malam.