Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.

Iklan

Kopi (Lagi)

Kalau dibilang saya adalah penggemar kopi, maka itu adalah sebuah understatement. hi hi hi. Saya gila kopi. Nah itu mungkin yang benar. Sudah senang kopi dan kebetulan banyak yang memberitahu kopi-kopi yang enak. Jadi kopi yang saya coba macam-macam. Kebetulan lagi, Bandung ini surganya kopi. Mau kopi apa saja, ada. Alhamdulillah.

Katanya “no picture = hoax“. Maka berikut ini saya tampilkan beberapa foto kopi yang saya cicipi. Yang terakhir-terakhir saja ya. Soalnya kalau saya tampilkan semua, bakalan puluhan foto.

DSC_3736_0001 DSC_3734 kpi_0001

DSC_3398 kopi_0001 DSC_3389_0001

Dan masih banyak lainnya. Percayalah, banyaaakkk. Itu adalah kopi-kopi yang terbaru saja.

Minggu lalu ada acara “Ngopi Saraosnya” di Gedung Sate, Bandung. Ada lebih dari 70 tempat kopi di sana. Semuanya adalah kopi yang berasal dari daerah Jawa Barat. Saya datang dan kalap belanja. Foto di bawah ini adalah hasil belanja di sana.

DSC_3728 kopi_0001

Pas di sana juga saya lihat penyeduhan kopi. Ini saya ambil videonya. Ini dari stand kopi WHD. Tadinya saya kira apa itu singkatan WHD. Ternyata itu dari nama pemiliknya, pak WaHiD. Ya ampun. Ha ha ha. Dalam video ini dapat dilihat kawannya pak Wahid sedang membuatkan kopi. Kemudian kopi ini juga “dikocok” denganĀ  bongkahan es. Hasilnya kopi dingin yang luar biasa enaknya. Apa lagi itu pas siang hari.

Saya termasuk yang tidak pandai membuat kopi. Hanya bisa minum kopinya saja. Penikmat kopi tulen. Bukan pembuat. ha ha ha.

Selamat menikmati kopi.

Bandung Dingin

Beberapa hari ini kata orang Bandung terasa dingin. Menurut saya juga. Bagaimana sesungguhnya? Kebetulan Bandung memiliki beberapa sensor cuaca yang dapat diakses secara online. (Saat ini layanan ini belum diluncurkan sehingga URL-nya belum dapat saya tampilkan di sini. Sebentar lagi akan beres dan akan dibuka untuk publik melalui API.)

Sebaran dari sensor-sensor tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini.

weather-1-allplaces
Sensor cuaca di kota Bandung

Daftar namanya adalah sebagai berikut.

weather-2-allsensors_0001_01
Daftar sensor cuaca di kota Bandung

Mari kita lihat kondisi Bandung pada pagi ini. Berikut ini adalah gambar sensor yang berada di kantor CBN Bandung, yang berada di jalan Pasir Kaliki. Ada hal yang menarik bahwa terjadi kenaikan temperatur sebelum jam 8 pagi. Temperatur di bawah 20 derajat Celcius dan kemudian melonjak.

weather-3-cbn_0001
Temperatur di depan kantor CBN Bandung

Sebagai perbandingan, berikut ini adalah situasi di rumah saya (Insan Music Store), yang letaknya di sekitar Bandung Timur Laut.

weather-4-insan_0001
Temperatur di kantor Insan Music Store

Saya cek data dari sensor-sensor lain, ternyata mirip. Mereka semua mengalami kenaikan setelah pukul 7:20 pagi. (Data rinciannya di database. Kapan-kapan mau dioprek ah.)

weather-5-paledang_0001
Temperatur di Kelurahan Paledang, Bandung

Jadi kesimpulan sementara, memang tadi pagi Bandung cukup dingin, yaitu di bawah 18 derajat Celcius. (Kalau di Lembang katanya di bawah 14 derajat Celcius. Wow!)

Mengapa Bandung dingin akhir-akhir ini, sudah ada pembahasannya di tempat lain. Nanti akan saya sampaikan tautannya di sini.

Sehari 3 Acara

Nampaknya kesibukan masih menjadi halangan bagi saya untuk ngeblog. Untuk menunjukkan betapa sibuknya saya, ini adalah contoh aktivitas hari Jum’at minggu lalu.

Pagi hari salah satu mahasiswa bimbingan saya (S3) maju sidang. Ini sidang kemajuan yang menuju ke sidang tertutup. Karena waktunya mepet, maka Jum’at pagi itu dilakukan sidang. Sidang berjalan lancar. Oh ya, sebelumnya ada mahasiswa S2 yang mau bimbingan. Jadi sebelum menuju sidang, bimbingan mahasiswa dulu.

Lepas dari Jum’atan, saya mampir ke acara TEDx ITB.

IMG_20180525_134044 TEDx ITB

Sebetulnya saya ingin mengikuti keseluruhan acara TEDx ITB itu, tetapi ada acara lain sehingga pas break untuk shalat Ashar, saya kabur. Menuju ke acara Talk Show yang terkait dengan kegiatan Lailatul Coding.

IMG_20180525_162156_HDR helmi lailatul coding_0001

Belum selesai acara itu, saya kabur lagi (dengan menggunakan Go-Jek) ke ITB lagi. Tapi kali ini ke MBA SBM ITB yang di Jalan Gelap Nyawang. Ada pembukaan the Greater Hub, tempat inkubasi startup yang diusung oleh SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) ITB.

Habis buka puasa di sana, saya balik lagi ke acara Lailatul Coding (dengan Go-Jek lagi karena dekat). Di sana saya ngobrol dengan teman-teman sebelum akhirnya pulang.

Jadi dalam sehari ini ada tiga acara. Eh, kalau ditambahkan dengan mahasiswa yang sidang maka ada empat acara.

Demikian laporan kesibukan saya. Selesai.

Mencari Developer Software

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara Bekraf yang diorganisir oleh Dicoding di Bandung. Acara ini mengumpulkan developer software (pengembang aplikasi) di kota Bandung dan diberikan berbagai pengetahuan (seminar, training). Berikut ini adalah contoh foto yang hadir. Banyak! Lebih dari 1000 orang!

DSC_0217_0001

Namun yang menjadi masalah adalah ketika saya mencari developer, ternyata kesulitan. Sebetulnya mereka ada dimana? Ini adalah sebuah paradoks; katanya banyak SDM yang mencari pekerjaan tetapi ada banyak perusahaan yang kesulitan mencari SDM.

Saya mendapat permintaan untuk programmer dan support (untuk berbagai jenis software baik yang sudah kadaluwarsa maupun yang masih baru). Akhir-akhir ini malahan dapat permintaan tiap minggu! Nah, apakah perlu saya tanggapi permintaan-permintaan ini dengan lebih serius? Dahulu kami memang pernah memiliki perusahaan outsourcing seperti yang dimaksudkan, tetapi sekarang para pengembangnya sudah tersebar. (Ada yang pindah ke luar kota, mengambil kuliah di luar negeri, menjadi freelancer, membuat perusahaan sendiri, atau menjadi bagian dari perusahaan kami lainnya.) Nah, perlukah kami membuat kembali perusahaan ini?

Ngopi di Bandung

Lagi-lagi ini tulisan tentang ngopi – minum kopi, bukan foto copy hi hi hi – di Bandung. Di setiap pojok kota Bandung dapat kita temui tempat-tempat untuk ngopi. Foto berikut ini merupakan salah satu contohnya; Box of Coffee, yang hanya berupa sebuah mobil box dan beberapa kursi untuk menikmati kopi. Ini letaknya di jalan Sulanjana (dekat ke Baltos).

P_20170410_164612 box of coffee 0001

Kopi dibuat secara manual oleh baristanya. Kebetulan yang ini juga open bar, artinya kalau kita mau menyeduh sendiri juga bisa. Saling bertukar ilmu. Sayangnya saya belum ahli dalam membuat kopi.

P_20170410_164502 0001

Harga kopi manual brew V60 hanya Rp. 18.000,- saja. Rasanya tentu saja umumnya lebih enak dibandingkan dengan kopi yang dijual di restoran-restoran atau hotel-hotel dengan harga berkali-kali lipat.

Oh ya, pada hari yang sama, saya juga beli kopi dari Subculture yang letaknya di depan hotel Holiday Inn di jalan Dago. Sama enaknya juga.

Bandung memang surganya kopi.