Tag Archives: bandung

(Halal Bihalal) Start Up Bandung

Jum’at kemarin (7 Agustus 2015) ada pertemuan para Start Up Bandung (#startupBDG) di Pendopo Walikota Bandung yang di Alun-alun itu. Acaranya mulai dari pukul 17:00 sore sampai pukul 21:00. Saya hadir di sana karena ingin tahu juga komunitas para Start Up di Bandung ini.

Yang hadir lumayan banyak juga. Dengar-dengar ada sekitar 90-an start up di Bandung. Ada beberapa booth juga di sana.

11850529_10153050265241526_1757808277355791290_o

Pada bagian awal ada presentasi dari Shinta Bubu. Sayang sekali pas lagi presentasi ini saya lagi Maghrib. Jadi gak sempat ambil foto2nya. Kemudian ada presentasi dari Gibran (Cybreed). Dia menceritakan perjalanan dia menjadi entrepreneur. Gibran mah lucu. he he he.

11017551_10153051101646526_7933770436519892436_o

Kemudian pak Walikota – Ridwan Kamil – juga bercerita tentang apa-apa yang telah dilakukannya dalam memberantas birokrasi dan korupsi. Selain itu pak wali juga meminta agar kita semua menjaga agar korupsi tidak bangkit lagi.

11802785_10153051103771526_5551957318659660778_o

Kemudian ada donasi aplikasi “Soca Bandung” yang dapat digunakan untuk melaporkan hal-hal di kota Bandung dan juga untuk mempromosikan hal-hal yang bagusnya. Presentasi aplikasi ini dilakukan oleh Mico Wendy (Konsep.net). Aplikasi Soca Bandung ini merupakan kontribusi dari Alumni ITB 1974, yang dalam acara ini diwakili oleh pak Cahyana.

11794071_10153051135361526_5889453488947255508_o

Kemudian pada bagian akhir ada presentasi dari Softbank, yang banyak mendanai berbagai start ups. Wakil dari Softbank ini cukup kagum juga dengan banyaknya start ups di Bandung. Nah. Mari kita tunjukkan bahwa Bandung itu keren.

11181833_10153051136411526_8456882668350622511_o(1)

Pokoknya acaranya asyik lah. Sampai ketemu di acara-acara start up Bandung lainnya.

[Detail dari acara ini akan saya update lagi. Ini posting dulu sebelum basi. hi hi hi.]


Happy City Bandung

Setiap kota menghadapi masalah pertumbuhan penduduk tetapi infrastruktur – misal, jalan, transportasi publik – tidak bertambah. Atau, infrastruktur kalaupun bertambah, penambahannya kalah cepat dengan penambahan jumlah penduduk. Taman disingkirkan dan digantikan dengan jalan (yang mungkin juga bertumpuk). Mobil bertambah, jalan tetap. Kota dikuasai oleh kendaraan. Dan masih banyak “kemajuan” lain yang menyesatkan. Akibatnya kota menjadi kacau balau.

Ada beberapa insisatif untuk meningkatkan “kebagusan” sebuah kota, dengan definisi “kebagusan” yang berbeda-beda. Salah satu contoh yang paling banyak diambil adalah membuat smartcity. Membuat kota menjadi cerdas dengan memanfaatkan teknologi. Ada pendekatan lain yang jarang diambil orang, tetapi ternyata mulai mendapat perhatian, yaitu Happy City.

Pendekatan Happy City mendapatkan kesuksesan di Bogota. Pada awalnya mereka ingin mengejar ketinggalan kota mereka dengan membandingkan dan mengikuti kota-kota besar lain di dunia. Masalahnya, Bogota memiliki masalah yang berbeda. Pendapatan yang rendah, masalah kejahatan yang tinggi, dan seterusnya. Jika membandingkan diri dengan kota lain, maka akan terasa sangat ketinggalan. Pecundang. Akhirnya mereka menggunakan pendekatan lain, yaitu mereka mengembangkan hal-hal yang membuat mereka senang, seperti misalnya membuat taman, public transport, bahkan mencoba membatasi jumlah kendaraan (semacam car free day) pada hari tertentu, dan seterusnya. Hasilnya, mereka happy.

Di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, nampaknya Bandung mengambil pendekatan yang serupa. Taman-taman yang lama mulai diperbaiki dan ada yang baru dibuat. Alun-alun dipercantik. Sekarang jadi ajang orang berpotret (selfie). Daerah sekitar Museum Asia Afrika dan jalan Braga juga semakin baik. Sekarang di Bandung adanya banyak taman dan perbaikan kosmetik kota ini membuat warga menjadi lebih happy. Saya ingin menuliskan lebih banyak tentang kebagusan kota Bandung, tetapi belum sempat. Lagi ada kejar tayang pekerjaan. :) Intinya adalah pendekatan Happy City Bandung nampaknya mulai menjadi kenyataan. Saya bahagia.

IMG_7416 alun2 bdg 1000

[Alun-alun Bandung yang baru]

Kalau kita telaah lebih mendalam lagi, sebetulnya yang kita inginkan kita kebahagiaan (happy) atau kecerdasan (smart). Banyak tempat (atau lebih tepatnya warganya) yang terlihat smart tetapi orangnya tidak happy. Sebagai contoh, indeks prestasi siswa Indonesia (matematika, misalnya) rendah di bandingkan Singapura, tetapi kebahagiaan siswa Indonesia jauh lebih tinggi dari yang lain. Bukan maksud saya kita tidak berusaha untuk menjadi lebih cerdas, itu selalu perlu, tetapi kita jangan melupakan kebahagiaan.

Hidup Happy City Bandung!

Link lain:


Bukber: Buka Puasa Bersama

Kemarin (dan mungkin saat ini juga) jalan-jalan di kota Bandung padat. Macet dimana-mana. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya acara buka puasa bersama – bukber. Nampaknya bukber sudah menjadi tradisi, setidaknya di kota Bandung. Bagaimana di tempat Anda? Banyak acara bukber juga?

Yang mengadakan bukber biasanya adalah alumni kampus, SMA/SMK, SMP, SD, dan organisasi-organisasi lainnya juga. Pokoknya apapun kumpulannya, ada bukber aja. Mangan ora mangan, asal ngumpul. Eh, mangan ngumpul ding. he he he.

Waktu sekarang ini memang yang paling pas. Weekend sebelum orang-orang mudik ke kampung halaman masing-masing. Minggu depan sudah banyak yang tidak bisa ikutan bukber.

Jadi males mau ke luar rumah. Pasti macet.

Oh ya, Jum’at kemarin kami mengadakan bukber di kantor. :)  Yang ini mestinya tidak bikin macet.

DSC_6738 bukber crop


Nyobain Bebek Kaleyo

Kemarin saya diundang untuk mencoba makan bebak di rumah makan Bebek Kaleyo yang baru buka di Bandung. Saya sendiri bukan penggemar bebek. Beberapa kali nyoba makan bebek kok rasanya kurang pas. hi hi hi. Maka kali ini pun saya agak was-was. Tapi, dasar hobby makan … dijabanin juga.

Lokasi restoran Bebek Kaleyo yang di Bandung itu di jalan Pasir Kaliki, tepat di perempatan dengan jalan Pasteur. Dekat dengan flyover itu. Tempatnya ternyata bagus juga. Tempat parkirnya luas sekali. Tempatnya juga luas.

IMG_7460 bebek kaleyo parkir

Akhirnya saya pesan bebek keremes dengan nasi uduk. Kelihatannya menarik dan memang rasanya … ENAK! Saya bakalan kembali ke tempat ini lagi.

IMG_7459 bebek kaleyo

Oh ya, selain menu bebek masih ada menu-menu lainnya lagi. Saya nyoba dim sum-nya. Enak juga. Halah. Kayaknya makanan itu memang hanya dua; enak dan enak sekali.


Menuju Bandung Smart(er) City

Hari Minggu lalu saya mengikuti pertemuan antara Dewan Smartcity Kota Bandung dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung. Pertemuan ini pada intinya adalah melakukan kordinasi program-program yang sudah ada di SKPD, yang terkait dengan teknologi informasi.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memberi arahan bahwa Bandung ini memiliki banyak layanan publik. Pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan SKPD untuk memberikan layanan dengan lebih baik dan lebih cepat. Setiap SKPD diminta untuk mendata layanan-layanan apa saja yang mereka berikan dan berapa yang sudah dapat diakses secara online. Jika belum maka aplikasi-aplikasi apa saja yang akan dikembangan. Tahun ini, tahun 2015, adalah tahun untuk merealisasikan sebagian dari aplikasi tersebut.

Rapat kali ini membahas prioritas dari aplikasi yang akan dikembangkan di tahun 2015 oleh para SKPD tersebut. Tidak semua aplikasi harus dikembangkan saat ini juga, tetapi roadmapnya sudah harus jelas. Selain itu ada juga hal-hal yang mendasar bagi kebutuhan semua SKPD seperti misalnya infrastruktur internet.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah aplikasi-aplikasi ini seharusnya dapat digunakan oleh kota / kabupaten lainnya. Jika ada kota / kabupaten lain yang sudah mengembangkan aplikasi tertentu, maka kita dapat menggunakan aplikasi tersebut. Tidak perlu setiap kota / kabupaten mengembangkan sendiri-sendiri. Untuk itu mungkin perlu ada sebuah app store untuk aplikasi e-government kota / kabupaten. Hmmm.

Begitu laporan dari saya. Laporan selesai. Bubar jalan … grak!


Budaya Buang Sampah Sembarangan

Di Bandung, ada upaya untuk mengajari memungut sampah. Walikota Bandung, pak Ridwan Kamil, secara berkala di media sosial dan di dunia nyata mengajak masyarakat untuk memungut sampah. Menurut saya ini merupakan hal yang penting karena mengubah budaya tidak dapat terjadi secara instan. Upaya untuk mengubah ini harus dilakukan terus menerus. Salah satunya adalah harus diucapkan, ditampilkan, dan di-brain-wash. Ini butuh kesabaran.

Yang masih perlu juga adalah upaya untuk mengubah budaya buang sampahnya. Kalau membuangnya sudah benar, tidak perlu memungut. Buanglah sampah pada tempatnya. Bukan di selokan ya … he he he. Soalnya saya pernah nanya ke anak-anak (SD) di dekat rumah saya – “dimana buang sampah?” – jawabannya adalah … “di selokan”. Hadoh. Pingsan … Mereka harus diajari bahwa sampah harus dibuang di tempat sampah.

[Nemu gambar ini. Mohon info sumber aslinya ya.]

sampah dan banjir


Perlakuan Tidak Adil Mizone di Bandung Car Free Day

Seperti biasa, hari Minggu kami bersiap-siap untuk buka lapak toko kami di Bandung Car Free Day. Tempat kami di depan bank Muamalat, dekat dengan SMAN1.

Namun pagi ini ternyata kami tidak boleh berada di tempat tersebut oleh seseorang dari Mizone. Saya tanya kenapa. Katanya akan ada acara senam di depan SMAN1 Bandung dan pak Walikota Bandung, Ridwan Kamil – atau dikenal juga dengan nama Kang Emil, akan datang mengikuti senam yang mereka adakan itu.

Karena tidak mau ribut dan menghargai kang Emil, saya mengalah dan memasang banner kami jauh dari jalan. Saya kemudian menanyakan kepada rekan-rekan apakah benar memang kang Emil mau datang ke acara itu? Hasil ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di Bandung Smart City Forum, ternyata kang Emil tidak ada acara ke sana. Nah lho. Jadi panitia ini mencatut nama Kang Emil? (Oh ya, pencatutan nama kang Emil ini sudah saya laporkan ke lapor.ukp.go.id)

Yang saya tidak terima adalah mengapa Mizone (sebagai perusahaan besar) mengusir para pedagang kecil (yang protes ke saya; ada penjual juice, minuman, dll.) dari tempat itu. Sementara mereka sendiri berjualan produk mereka??? Apakah ini adil? Mereka juga mengambil seluruh bagian jalan Dago yang menuju ke atas (di depan SMAN1) untuk acara mereka. Di mana letak keberpihakan kepada usaha kecil? Saya sendiri yang menjalankan usaha kreatif ikut terusir.

Ini gambar seorang petugas (entah dari mana) yang melarang pedagang masuk ke daerah di depan SMAN 1. Tadinya mau saya tanya dia dari mana dan mana surat tugasnya.

IMG_6319 body guard 1000

Saya bersabar saja dan tidak mau bikin ribut. Mosok saya harus bilang bahwa saya ini calon menteri – yang menolak. ha ha ha. Atau saya bilang bahwa saya adalah wakil ketua Bandung Smart City? Atau pakai atribut-atribut lain? Di sana, saya memakai topi saya sebagai orang kecil – agar saya dapat merasakan bagaimana sesungguhnya menjadi orang kecil. (Blusukan incognito?)

Akhirnya saya duduk di pinggir jalan dan melakukan marketing seperti biasa. Sementara itu pedagang lain tidak berani dan mereka menjauh atau malah gagal membuka lapak. Salah seorang bahkan mengeluhkan bahwa dia tidak dapat berjualan hari itu. Terusir. Dia berkata harusnya dia mendapat kompensasi. Saya dapat merasakan kegundahannya.

[biasanya di sebelah kami ada lapak bapak yang jualan mainan binatang dari plastik / karet seperti ini, tetapi tadi tidak ada. entah dia pindah ke mana.]

IMG_5985 lapak 1000

Seharusnya tidak apa-apa para pedagang kecil itu ikut berjualan di tempat biasanya. Toh ini namanya berbagi bersama. Tidak ada hak perusahaan besar lebih besar dari hak pedagang kecil. Itu tidak adil. Mengapa harus over acting seperti ini. (Jika ada rekan-rekan yang kenal dengan pimpinan Mizone, tolong beritahu ya. Tegur panitianya / korlap acaranya.)

Sebagai seseorang yang tadinya penggemar Mizone, saya sekarang berhenti beli Mizone ah.

Update: Tadi sore (22 Oktober 2014), organizer acara (dari Jakarta dan partnernya yang di Bandung) dan saya bertemu. Kami membahas mengenai kasus ini. Seharusnya memang ada sosialisasi terhadap para penjual yang berada di area tersebut 2 minggu dan 1 minggu sebelum acaranya. Kemudian ada kompensasi bagi pedagang yang ada di situ. Hal ini nampaknya kurang tereksekusi dengan sempurna. Hal lain, saya mengusulkan agar di kesempatan lain mereka tidak melakukan pemisahan diri dengan masyarakat (pedagang) lainnya. Toh para pedagang ini bukan kompetitor dari mereka dan juga tidak mengganggu. (Contoh: di depan hotel Regency juga ada acara senam bersama tanpa perlu mengalienasi pedagang lainnya.) Perlu dipikirkan lagi setingannya. Di tempat lain, yang luas, mungkin bisa dibuat pembatasan tetapi di Bandung CFD tidak bisa karena menghabiskan jalan, membuat choke point, serta membuat pemisahan. Harus dapat berbagi dengan para pedagangan lainnya. Ini adalah tempat bersama. Begitu.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.464 pengikut lainnya.