Belajar Tidak Selalu Berhasil

Seharian ini saya mencoba ngoprek pemrograman lagi. Coding. Sebetulnya saya hanya ingin mencoba menggunakan bahasa pemrograman Golang untuk membaca webcam saya melalui OpenCV. Masalahnya versi OpenCV yang didukung Golang adalah versi terbaru yang tidak ada di komputer saya. Artinya saya harus mengunduh dan merakit (compile) sendiri. Oke lah.

Dahulu saya biasa merakit sendiri berbagai paket program dari kode sumbernya. Tidak masalah. Namun sekarang ternyata proses perakitannya menjadi lebih kompleks. Ini disebabkan kode sumbernya juga semakin kompleks dan platform yang digunakan orang juga bervariasi sehingga ada banyak konfigurasi yang harus dilakukan. Ternyata konfigurasi bawaan dari paket ini tidak cocok dengan sistem operasi yang saya gunakan (Linux Mint 18.1 Serena).

Setelah ngoprek nyaris seharian – dari pagi sampai menjelang Maghrib ini – ternyata hasilnya tidak ada, alias gagal. Ya begitulah. Belajar kadang memang harus seperti ini. Banyak gagalnya dahulu. Tidak selalu harus berhasil. Kesel memang. (Ini ngetiknya juga sambil kesel.) Habis mau gimana lagi? Keselnya saya adalah karena menghabiskan waktu yang seharusnya dapat saya gunakan untuk belajar yang lainnya. Grrr.

Anggap saja ini adalah upaya saya untuk menambah “jam terbang” ngoprek Linux. (Padahal saya ngoprek Linux sejak pertama kali dia dibuat Linus. ha ha ha.)

Berikut layar terakhir hari ini sebelum saya berhenti dulu. “100% tapi gagal”. Heu.

Oh ya, versi videonya ada di YouTube channel saya. Ini dia.

Mengejar Belajar

Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka ingin (ikut) belajar ini dan itu. Ketika saya mengatakan bahwa saya memberikan pelajaran ini dan itu (dan itu terbuka untuk umum), banyak yang bilang ingin ikutan. Hampir semua hanya sekedar bicara saja, tetapi tidak ada aksinya. Jadi kalau ada yang bilang, pak saya ingin ikutan ini dan itu, saya hanya tertawa. Yeah, right.

Belajar itu susah. Belajar itu mahal. Belajar itu membutuhkan waktu. Belajar itu membutuhkan usaha. Masih ada hambatan lain (lebih tepatnya alasan) dalam berusaha untuk (tidak) belajar. Ini baru pada tahap berusahanya dulu lho, belum sampai pada hasilnya.

Ketika ada orang yang hebat, maka saya kejar mereka untuk belajar. Saya satroni. Saya sisihkan waktu saya untuk mendatangi yang bersangkutan. Alasan-asalan saya tebas, hanya untuk memastikan bahwa saya bisa belajar.

Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu saya mengundang beberapa orang yang jagoan dalam bidang perkopian (dalam artian mereka memiliki usaha di bidang tersebut) dan beberapa orang penggemar kopi. Tujuannya adalah untuk berdiskusi soal alat kopi. Kali ini memang topik utamanya adalah itu, meskipun pada kenyataannya ada banyak topik yang dibicarakan. Alhamdulillah ada banyak yang datang. Ini foto sebagian yang datang.

Bandung Connection: Coffee moguls in Bandung

Saya senang sekali dapat belajar ke mereka. Luar biasa ilmu-ilmunya.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika ingin belajar, ya harus mau usaha. Harus dikejar. Itu saja. Sebagian besar orang, tidak mau usaha.

Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.

Minimnya Kemampuan Menulis

Ini saya sedang memeriksa tugas mahasiswa dalam bentuk makalah. Ada lebih dari 100 makalah yang harus saya periksa. Makalah ini berasal dari kuliah S1 dan S2. Semuanya memiliki topik keamanan (security). Yang menjadi masalah adalah mahasiswa-mahasiswa ini tidak memiliki kemampuan menulis.

Ada makalah yang bahasanya acak-adut. Ada nuansa dia menerjemahkan makalah. Kalau menerjemahkan makalah dan dia mengerti, masih lumayan. Lha ini nampaknya dia tidak mengerti apa yang dia tuliskan. Mbulet. Ketahuanlah dari tulisannya. (Penggunaan Google Translate masih menghasilkan tulisan yang aneh bahasanya.)

Sebagian besar – mungkin 8 dari 10 mahasiswa – tidak tahu cara menuliskan referensi dan tidak tahu cara menggunakannya dalam tulisan. Ini parah sekali. Padahal salah satu kunci utama dalam penulisan makalah adalah penulisan dan pemanfaatan referensi. Padahal (2), saya sudah mengajarkan di kelas bagaimana tata cara penulisan referensi. Tidak menyimak? Tidur? Hadoh.

Banyak tulisan yang terlalu banyak bagian pengantarnya. Mungkin ini karakter orang Indonesia (yang kalau bicara juga terlalu banyak pengantarnya; “sebagaimana kita ketahui, … dan seterusnya”)? Akibatnya, pembahasan materinya sendiri menjadi terlalu singkat dan kurang mendalam. Mungkin mahasiswa kita jarang membaca makalah di jurnal sehingga tidak mengetahui bagaimana membuat tulisan yang yang singkat dan langsung kepada topiknya. Maklum, jumlah halaman untuk tulisan di jurnal dibatasi. Lewat dari batas itu, harus bayar mahal.

Ada lagi yang tulisannya sangat singkat. Maka ada akal-akalan untuk membuatnya terlihat lebih panjang, misalnya dengan membuat spasi yang lebih besar atau dengan memasukkan gambar-gambar yang tidak penting. ha ha ha.

Di atas itu saya tertawa sambil menangis. Jika kualitas tulisan mahasiswa-mahasiswa saya seperti ini, saya dapat membayangkan kualitas di tempat lain. Kira-kira samalah. Mau diadu dengan karya mahasiswa di luar negeri? Walah. Keok lah.

Harus mulai dari mana memperbaikinya? Perbanyak latihan menulis. Sekarang sudah banyak media untuk belajar menulis. Lha, blog ini juga merupakan sebuah tempat untuk latihan menulis. Apa alasan untuk tidak (latihan) menulis ya?

Adil

Pernahkah engkau merasakan keadilan?

Jadi ceritanya saya melihat banyak orang yang berteriak-teriak tentang keadilan. Dalam hati saya bertanya, pernahkah mereka merasakan keadilan? Lupakan soal definisi keadilan dahulu. Gunakan nurani dahulu untuk mendefinisikannya. Jangan-jangan mereka belum pernah merasakan atau bahkan melihat keadilan.

Di Indonesia, banyak orang berebut di jalan. Demikian pula di berbagai layanan, ada banyak yang tidak ingin antri. Mengapa? Dugaan saya adalah karena mereka khawatir tidak mendapat giliran. Dengan kata lain, tidak mendapatkan keadilan. Jika mereka yakin bahwa ada keadilan, pasti mereka akan kebagian. Bahwa akan tiba datangnya giliran saya, maka saya bisa bersabar.

Kalau saya sudah menunggu, kemudian ada orang menyela dan malah dia yang dilayani dahulu, maka saya merasa tidak adil. Maka saya tidak akan membiarkan orang lain mendahului saya. Saya pun tidak akan memberikan mengalah atau memberikan giliran kepada orang lain, karena nantinya saya malah tidak mendapat giliran.

Dalam mengemudi, saya termasuk yang banyak mengalah. Memberi jalan bagi orang lain. Sering kali orang yang saya beri jalan malah bingung, karena biasanya orang lain tidak memberi jalan. Demikian pula saya sering ketawa (meringis lebih tepatnya) dengan orang yang “memberi lampu dim” untuk minta jalan. Apalagi yang berkali-kali memberi lampu dim itu. Seolah-olah berkata, “Awaaasss … saya mau jalan”. Ha ha ha. Tanpa diberi lampu pun saya sudah biasa memberi jalan. Anda / dia bukan lawan saya. Mengapa perlu dihalang-halangi? Toh saya akan mendapat giliran juga. Adil.

Keadilan justru lebih mudah dilihat di luar negeri. Di negeri yang sudah maju tentunya. Di negeri itu, kita akan mendapat keadilan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Tidak perlu khawatir tidak kebagian.

Benar juga kata sebagian orang bahwa masalah yang ada ini mungkin dapat dipecahkan dengan piknik ke luar negeri. ha ha ha. Tentunya maksudnya belajar dari luar negeri. Ambil kebiasaan atau budaya baiknya. Jangan malah membawa kebiasaan buruk kita ke luar negeri. ha ha ha. Perhatikan bagaimana keadilan terjadi di sana.

Maka, mulailah terbayang apa yang disebut dengan “adil”.

Politik dan Pesan Kebencian

Baru saja saya mendapat kiriman beberapa buku. Salah satu bukunya adalah “Hate Spin: the manufacture of religious offense and its threat to democracy”, karangan Cherian George.

P_20170412_201600 buku hate_0001

Bahasan buku ini tampaknya cocok dengan situasi politik di Indonesia saat ini. Ada banyak pesan-pesan kebencian (SARA) yang beredar hanya sekedar untuk memuaskan nafsu politik praktis.

Mungkin banyak (?) orang yang mengira bahwa masalah ini adalah masalah di Indonesia saja. Padahal tidak. Di dalam buku ini dibahas tentang kasus-kasus di India dan Amerika, selain tentunya di Indonesia. Tiga negara itu dipilih karena mereka merupakan negara demokrasi terbesar di dunia. Kasus di ketiga negara itu berbeda; Hindu di India, Kristen di Amerika, dan Islam di Indonesia.

Salah satu poin utama yang ingin disampaikan oleh sang pengarang adalah pesan-pesan kebencian itu sengaja dibuat oleh pelaku politik (dia menyebutnya political entrepreneurs) untuk kepentingan politik. Perhatikan kata kuncinya adalah SENGAJA. Masyarakat terpicu (tertipu) dengan teknik-teknik ini. Ah.

… it became clear that hate spin agents, like leaders of social movements, try to get people thinking about a situation in ways that produce solidarity and support for their cause. To achieve this, they engage in cultural framing work and cognitive interventions. As the sociologist William Gamson has argued, “injustice frames” can be particularly effective for mobilizing supporters. Injustice frames create narratives that persuade an in-group that powerful outsiders are violating its interests and values. Anchoring injustice frames on powerful symbols may be enduring, as in the case with the Holocaust for Jews, but many have a shorter shelf life, requiring activists to constantly on the lookout for fresh ones. This can explain the enthusiasm with which hate spin agents declare a book or video to be intolerably offensive to their community.

Perhatikan bahwa hate spin agents (yang biasanya dikatikan dengan political entrepreneurs) selalu mencari hal-hal yang dapat memicu kemarahan komunitas.

Bagian pentingnya yang mungkin relevan dengan situasi di Indonesia saat ini:

… This can explain the enthusiasm with which hate spin agents declare a book or video to be intolerably offensive to their community. …

Itulah sebabnya kita perlu belajar, membaca buku, untuk mengetahui hal ini. Kita tidak perlu terjun ke politik praktis, tetapi jangan buta politik juga.

Belajar dulu yuk.

Belajar, Belajar, dan Belajar

Di sebuah tempat. Melihat mahasiswa yang sedang berkerumun. Yang cowok duduk bergerombol, ketawa-ketawa, sambil merokok. Sementara itu yang cewek ada yang sedang berjalan sambil mendekap buku teks, map, dan buku catatan. Sementara itu saya lihat pandangan mereka kosong. Apa yang ada di dalam pikiran mereka ya?

Saya menduga-duga bahwa mereka ke kampus tidak dalam mode untuk belajar. Mereka ke kampus hanya sekedar untuk menghabiskan waktu saja. Dari pada di rumah nganggur, mendingan ke kampus (entah untuk ngapain). Demikian pula pikiran orang tuanya; dari pada anak saya nggak ada kerjaan di rumah, lebih baik dia ke kampus saja. Tidak ada semangat untuk *belajar*. Bahwa saya mau ke kampus untuk belajar.

Semangat untuk belajar ini sudah hilang. Keingintahuan (curiousity) menjadi barang yang langka.

Kalau ditanya sih mau belajar, tetapi berusaha untuk belajar itu tidak. Kalau mau berusaha itu harus pergi ke satu tempat, berguru. Jauh-jauh, berusaha untuk menemui guru yang terbaik. Bukan asal saja.

Contoh paling gampang. Ada training ini dan itu gratisan. Eh, yang datang sedikit. Alasan yang tidak datang adalah sibuk. ha ha ha. Semua orang juga sibuk. Itu sebetulnya alasan untuk tidak mau berusaha.

Sementara itu saya masih ingin belajar, belajar, dan belajar.

Menertawakan Sains

SSaya suka komedi. Banyak hal yang dapat dipelajari dari komedi. Saya belajar bahasa Inggris melalui komedi. Demikian pula, ada banyak cerita sejarah yang saya pelajari dari komedi juga. Sains? Matematika? Rekayasa? Semua ini dengan lawakan? Wah ini baru menarik.

Pagi hari di awal tahun 2017 ini saya membuka internet. Serius. Sehabis Subuh, sebelum matahari terbit saya membuka internet. Entah kenapa, terbuka YouTube. Yang terpampang di layar saya ada berbagai pelawak, mulai dari Johnny Carson, Jonathan Winters, dan kemudian Robin Williams. Eh, ternyata salah satunya menunjuk ke video ini.

Nampaknya ini adalah sebuah acara wawancara tentang Matematika dengan pelawak Steve Martin. Entah kenapa, Steve mengajak pelawak Robin Williams ke atas panggung. Mungkin dia tahu bahwa Robin Williams lebih tahu tentang sains (Matematika dan Fisika) lebih dari dia. Maka terjadilah berbagai adegan lucu di video itu. (Videonya dipotong menjadi beberapa video, masing-masing 10 menitan.) Gak bisa berhenti nonton video ini. Aje gile busyet dah.

Saya baru tahu bahwa Robin Williams itu ternyata cerdas banget! Dia banyak membaca dan mengerti banyak hal. Silahkan lihat videonya. Ada banyak lawakan yang terkait dengan matematika (dan fisika). Serius! Edan pisan!

Lawakan jenis ini – yang membutuhkan pendengar untuk mikir – merupakan jenis yang saya sukai. Ah, ternyata bisa juga menggabungkan lawakan dengan sains. Ini merupakan dorongan positif buat saya agar terus dapat menjelaskan konsep yang susah dengan lawakan.

Belajar ah … (dan banyak membaca tentunya).

Hi, Mister!

Ini adalah keempat kalinya dalam satu minggu ini saya dikira orang asing. Bule. Ha ha ha. Dugaan saya sih karena rambut saya yang memutih dan saya biarkan agak panjang (dan awut-awutan, tidak rapih seperti orang Indonesia?).

p_20161106_101947-students-0001

Tadi pagi saya mengunjungi Prambanan. Anak-anak ini tiba-tiba menghampiri saya dan langsung mengajak bahasa Inggris. “Where are you from, sir?” Begitu saya jawab dari Bandung, mereka agak kecewa. Tetapi, saya lanjutkan dalam bahasa Inggris bahwa saya memang sempat lama berada di luar negeri. Maka mereka kemudian mengajak bicara dalam bahasa Inggris. Maka berceritalah saya tentang pengalaman saya. ha ha ha.

Oh ya, bahasa Inggris mereka cukup baik. Bahkan menurut saya mereka bisa langsung ke luar negeri dan survive. Bahasa Inggris mereka tidak terbata-bata. Artinya mereka sudah bisa berbahasa Inggris. Tinggal jam terbang saja.

Eh, mereka tidak tahu bahwa saya ngeblog. Ha ha ha. Saya suruh cari nama saya saja. Dugaan saya sih mereka tidak bakalan cari. hi hi hi.

Good luck to all of you.

(belajar) Santun

Budaya sebuah bangsa itu berbeda. Ada kaum yang kalau bicara agak teriak-teriak, bahkan tangannya juga main ke depan muka kita. Ada yang kalau bicara langsung to-the-point. Ada yang harus membutuhkan “intro” yang panjang untuk menyampaikan maksudnya. Ada yang tidak boleh langsung. Harus muter-muter dulu. Cara menyampaikan yang salah, bisa ribut. ha ha ha. (Bayangkan itu yang biasa teriak-teriak diajak diskusi dengan orang yang biasa lemah lembut. Langsung dikira marah-marah. hi hi hi.)

Perlu diingatkan bahwa ketika kita ingin menyampaikan pesan, maka kita perlu melihat budaya penerima pesan tersebut. Salah cara menyampaikannya, maka pesanpun tidak sampai.

Budaya Indonesia itu penuh dengan kesantunan, berbeda dengan budaya “Barat” yang sering langsung kepada intinya. Sebagai contoh, ketika kita menawakan makan/minum kepada orang Indonesia biasanya tidak dijawab langsung dengan “ya”. Biasanya jawabannya adalah “tidak” dulu, meskipun yang bersangkutan lapar atau haus. Setelah beberapa kali ditanya, barulah dijawab “ya”. Sementara itu dalam budaya Barat, begitu sekali dijawab tidak, ya sudah. Tidak ditawari lagi.

Saya termasuk yang “tercemar” oleh budaya Barat. Ketika kembali ke Indonesia, saya membawa budaya Barat ini dalam berkomunikasi. Sebagai contoh, kalau ada seseorang (atasan, pejabat) yang salah, saya akan katakan terus terang “bapak salah!”. Hasilnya, banyak orang yang “terluka”. Padahal maksud saya baik, tetapi akibatnya malah jadi negatif. Sudah pesan tidak sampai, malah suasana tidak nyaman dan hubungan jadi retak. Untuk kasus yang saya jadikan contoh tadi, kalau di Indonesia, yang lebih tepat adalah “bapak kurang tepat” (bukan salah, ha ha ha). Atau, “bapak kurang optimal”. Halah.

Di sebagian komunitas, berbahasa kasar juga wajar. Misal di beberapa daerah dan komunitas tertentu di Amerika, penggunaan kata “f***” (the word) dalam berbicara mungkin dianggap biasa. Tapi coba pakai kata ini di lingkungan lain. Orang-orang bakalan melotot dan menganggap kita tidak sopan. Bukan orang sekolahan.

Di kalangan anak muda di Indonesia juga ada yang terbiasa menggunakan kata “anjing” (dan variasinya seperti “anjrit”, “anjis”, dan seterusnya) dalam berkomunikasi. Bagi mereka ini adalah hal yang lumrah. Coba kalau mereka jadi ketua RT dan memberi sambutan dengan kata-kata ini. Ha ha ha. Bakalan dilempari oleh warga. Lagi-lagi perlu diperhatikan budaya setempat.

Belajar untuk lebih santun merupakan salah satu alasan saya membuat blog ini. Saya harus bisa lebih santun dalam menyampaikan pesan. Begitu.

Belajar, Belajar, dan Belajar

Saya memang senang belajar. Apalagi kalau yang dipelajari tentang komputer. Wah, senang sekali belajarnya. Maklum, nerd.

Nah, minggu lalu saya belajar pemrograman bahasa Swift untuk iOS (itu lho, yang dipakai oleh iPhone, iPad, dan saudara-saudaranya). Bahasa Swift mirip dengan Objective-C dan ternyata masih bergerak spesifikasinya. Dukungan dari Xcode juga masih belum maksimal. Masih ada glitches di sana sini. hi hi hi. Tapi, secara keseluruhan sangat menarik. Bahkan saya ingin buat command-line twitter client dengan menggunakan Swift ini.

IMG_7810 BR swift 1000

Terlihat di foto atas, meskipun saya pusing tujuh keliling, saya tetap tertawa. Ha ha ha. Eh, jangan-jangan ini tertawanya orang gila ya? Tapi yang lain pun ikutan tertawa kok. Itu di depan saya, Andry Alamsyah, juga tertawa. Seriously, it was so much fun.

Belajar yang fun itu menyenangkan.

Belajar Itu Tidak Mudah dan Tidak Murah

Meskipun dingin, pagi ini saya putuskan untuk belajar memotret. Saya ingin memotret pagi hari. Maka saya panaskan motor dan langsung meluncur ke atas. Di dekat rumah kami ada bukit-bukit yang dapat melihat pemandangan jauh ke depan.

CIMG5245 motor 1000 water painting

Setelah memarkirkan motor, saya mulai memotret. Ternyata tidak mudah. Ada banyak hal yang terlihat indah oleh mata, tetapi terlihat biasa saja setelah dipotret. Sebagai contoh, saya melihat pemandangan yang berlapis-lapis (layered) tetapi tidak dapat tertangkap dengan baik oleh kamera. Ini mungkin karena saya memang masih belajar.

IMG_0324 morning crop

Masih untung ini kamera digital sehingga dapat dilihat hasilnya sekarang juga. Kebayang orang yang belajar motret jaman dahulu ya. Mereka harus menunggu hasil potretannya dicetak dulu. Kalau hasilnya buruk, dan pasti awal-awalnya demikian, pasti kesal setengah mati. Sudah lepas momennya, juga habis duit untuk nyetak foto. Belajar itu tidak murah.

Kuping dingin karena mengendarai motor di pagi hari. hi hi hi. Orang-orang masih tertidur sehabis sahur tadi. Saya di sini harus memulai hari di pagi hari. Demi belajar. Belajar itu tidak mudah. Sekarang bagaimana kita membuatnya menjadi menyenangkan.

Mari terus belajar … Semangat, semangat, semangat!

Mengajari Anak-Anak Programming (dengan C++)

Minggu depan saya mau mengajari anak saya tentang programming. Ceritanya panjang, tetapi singkatnya saya akan menggunakan C++ untuk bahasa ajarnya. (Alasannya karena anak saya akan menggunakan C++ di tempat sekolahnya. Itu saja sih.)

Nah, saya membutuhkan masukan

  • compiler / environment yang digunakan apa? (anak saya menggunakan MS Windows Vista, legal lho, he he he. ketika mnengajar, dulu saya menggunakan cygwin dan g++)
  • contoh-contoh yang menarik untuk anak-anak (level SMP sampai ke college), apalagi kalau bisa berhubungan dengan games
  • pengantar algoritma yang sederhana
  • apakah perlu diajarkan flowchart dan sampai ke UML? hi hi hi … atau sepintas saja (subliminal?)

Itu dulu pertanyaan-pertanyaannya. Nanti saya perbaharui lagi halaman ini.

By the way, buku pemrograman C++ yang karangan Budi Rahardjo itu bukan “budi rahardjo” saya lho. hi hi hi. banyak yang kecele.

Menulis Untuk Belajar

Ada orang yang bertanya mengapa saya menulis blog? Jawaban saya adalah untuk belajar. Orang mengira kalau saya menulis sesuatu berarti saya sudah mengerti. he he he. Justru sebaliknya. Saya menulis untuk lebih mengerti. Sering ada komentar yang memberikan pencerahan (misalnya memberikan URL, referensi tentang topik tersebut).

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Peter Drucker, “Managing Oneself” (1999), di koleksi artikel Harvard Business Review yang digabung dalam bundel “Leadership Fundamentals: Chart Your Course to Great Leaership“. Ternyata orang memiliki cara yang berbeda dalam belajar. Nah, saya ini termasuk yang menuliskan sesuatu untuk belajar, meskipun tulisan itu kemudian tidak dibaca lagi! Tadinya saya pikir saya sendiri yang seperti ini – membuat catatan, tapi tidak pernah dibaca. Ternyata banyak orang lain yang seperti itu juga. Wah, ternyata normal juga. ha ha ha.

Nah tulisan di blog ini pun demikian. Dia merupakan salah satu mekanisme belajar saya. Yang keinget ditulis (lagaknya mau dibaca lain kali, he he he), tapi kemudian nggak dibaca lagi. Ternyata ini memang proses belajar saya. Ooo gitu toh.

Yang menarik, ada orang yang proses belajarnya adalah dengan bicara. Jadi dia kumpulkan anak buahnya (para managernya) kemudian dia ngomong sendiri – ngacapruk. Setelah itu anak buahnya dibubarkan (sambil bengong? ngapain tadi dikumpulkan?). He he he. Ternyata itu adalah proses belajar dia, yaitu harus ngomong. Wah kalau yang gini ngambil kuliah bisa repot. Semuanya ngacapruk sendiri-sendiri. Wong edan. hi hi hi. Jadi gimana dong? Ya, selamat menderita untuk mereka. ha ha ha. Untung saya hanya perlu nulis.