Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Kehadiran di Dunia Siber

Salah satu tugas yang saya berikan kepada mahasiswa MBA saya adalah melakukan pencatatan kehadiran kita di dunia siber – atau lebih tepatnya di media sosial. “Kita” yang dimaksud di sini boleh berarti akun pribadi, boleh jadi akun bisnis yang ingin kita kembangkan. Keberadaan ini dapat kita anggap sebagai salah satu tolok ukur kepopuleran yang nantinya dapat digunakan sebagai bagian dari marketing. Itu pelajaran berikutnya (yang nanti juga akan saya coba tampilkan).

Mencatat adalah salah satu kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum kita dapat melakukan pengelolaan. Bagaimana kita dapat meningkatkan keberadaan kita di dunia siber jika kita tidak mencatat? Maka kebiasaan mencatat merupakan kegiatan yang baik.

Apa yang dicatat? Kita mulai dari yang umum saja, media sosial. Pada saat tulisan ini dibuat, media yang paling banyak digunakan adalah Instagram. Oleh sebab itu, itu yang akan dijadikan patokan. Media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter, sempat lebih populer tetapi sekarang Instagram-lah rajanya. Gambar berikut ini merupakan salah satu contoh catatan yang saya buat. (Catatan: akun-akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”.)

Beberapa catatan:

  • Akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”;
  • Facebook page berbeda dengan akun Facebook yang biasa. Akun Facebook biasa saya sudah mencapai batas atas, yaitu 5000 orang. Tidak dapat menambah teman lagi. Ada lebih dari 1000 orang yang menanti untuk diterima pertemanannya. Facebook Page lebih fleksibel, tetapi ternyata lebih sedikit followers-nya. Ini karena tidak saya promosikan;
  • LinkedIn jarang saya gunakan. Ada banyak permintaan untuk disambungkan tetapi karena saya tidak kenal, jadi belum saya terima. Ada sekitar 300-an yang belum saya proses.

Nantinya pencatatan yang kita lakukan secara manual ini dapat diotomatisasi dengan menggunakan program. Ada juga perusahaan yang menyediakan layanan untuk memantau keberadaan kita ini, tetapi kita perlu tahu cara manualnya dahulu.

Data ini akan kita jadikan dasar (baseline) sebelum kita melakukan kegiatan pemasaran. Berbagai aktivitas dapat kita lakukan dan nantinya kita ukur keberhasilannya (efektivitasnya) berdasarkan data kita ini. Nanti akan kita bahas setelah saya memberikan tugas kepada mahasiswa.

Tunggu tanggal mainnya…

Tentang Unicorn dan Pendanaan Perusahaan

Kemarin saya memberikan presentasi tentang technopreneurshipentrepreneurship berbasis teknologi. Salah satu pertanyaan yang dilemparkan adalah apa pendapat saya tentang unicorn dan pendanaan perusahaan yang berjuta-juta dolar.

Jawabannya saya satukan saja ya. Soal unicorn, definisinya, Anda dapat lihat di tempat lain. Supaya Anda juga ada sedikit berusaha. ha ha ha. (Nanti kalau banyak permintaan, ya terpaksa saya buatkan tautannya di sini.) Singkatnya adalah perusahaan yang mendapat pendanaan sangat besar sekali disebut sebagai unicorn. Hal ini disebabkan langkanya perusahaan yang seperti ini.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan perlombaan untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. Perlombaan untuk menjadi unicorn. Banyak orang yang justru melihat pendanaan perusahaan sebagai sebuah prestasi. Perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. (Padahal porsi saham mereka makin berkurang.)

Mengapa mendapatkan pendanaan dianggap sebagai prestasi? Bagi saya ini bukan sebuah presetasi. Perusahaan menghasilkan inovasi, produk / servis yang keren, itu merupakan presetasi bagi saya. Mendapatkan pendanaan sebagai prestasi? Kurang pas. Saya paham bahwa mendapatkan pendanaan – apalagi dalam jumlah yang sangat besar – tidaklah mudah, tetapi itu bukan sebuah ukuran yang layak untuk dijadikan ajang perlombaan.

Analoginya begini. Bayangkan Anda seorang koki (chef) yang keren. Anda kemudian akan membuat sebuah masakan untuk saya (kami). Maka Anda mendapatkan uang untuk belanja bahan-bahannya; daging, ikan, sayuran, bumbu-bumbu, dan seterusnya. Agak aneh kalau presetasi Anda diukur dari MENDAPATKAN UANGnya. (Saya tuliskan dengan huruf besar dan tebal.)

Bagi saya, yang lebih penting adalah makanan yang Anda buat. Apakah makanan yang Anda buat itu berupa sebuah master piece – karya yang luar biasa? Enaknya kurang ajar! Jika ya, ini adalah sebuah prestasi. Inilah yang lebih penting. Bukan mendapatkan uangnya yang lebih penting.

Kalau mendapatkan uangnya yang lebih penting, maka restoran-restoran itu lebih mementingkan pengumuman mendapatkan uangnya (investasinya) dibandingkan mempromosikan makanannya.

Begitulah pendapat saya tentang unicorn dan/atau pendanaan perusahaan yang sangat besar.

Menyikapi Kasus Cuitan CEO Bukalapak

Semalam cuitan CEO Bukalapak menjadi viral. Ini tampilannya.

Cuitan yang sepertinya biasa-biasa itu ternyata menjadi viral karena kalimat yang terakhir yang memuat kata-kata “presiden baru“. Tahun ini memang banyak orang yang sensitif terhadap pemilihan presiden. Sebagian besar orang mengasosiasikan hal ini sebagai dukungan kepada calon presiden 02, Prabowo. Padahal dalam berbagai acara Bukalapak, presiden Jokowi diundang dan hadir. Banyak orang yang mengatakan bahwa Achmad Zaky tidak berterimakasih.

Mulailah dicari-cari kesalahan-kesalahan lain, seperti misalnya data tersebut adalah data tahun 2013 bukan 2016. (Ini sudah direvisi.) Dan banyaklah kesalahan lain yang dicari-cari.

Akibat dari ini maka muncullah gerakan untuk “uninstall” aplikasi Bukalapak (dengan tagarnya). Bahkan ada banyak komentar yang negatif di Playstore. Netizen memang kejam.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan semuanya. Santai saja.

Kebetulan, saya sedang mengajar kuliah “New Venture Management” di MBA Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB. Mahasiswanya adalah para pendiri (dan biasanya CEO) dari usaha-usahanya. Kebetulan ada kasus ini yang dapat saya angkat sebagai studi di kelas.

Andai kita adalah Board of Directors (BoD) dari Bukalapak. Mari kita panggil CEO-nya dan minta pertanggungjawaban. Masalah sudah terjadi. Apa yang harus dilakukan? Itu adalah salah satu dari serangkaian pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa. Apa usulannya?

Usulan pertama adalah adanya permintaan maaf. Itu sudah dilakukan (meskipun ada yang masih belum dapat menerima itu.) Ini adalah langkah klasik.

Usulan-usulan apa lagi? Yang out-of-the-box. Maka mulailah muncul ide-ide yang “cemerlang”. Berikut ini adalah beberapa usulan yang muncul.

Ada usulan untuk menggunakan momen ini untuk menerbitkan voucher khusus. Voucher “mintamaaf“. Saya usulkan namanya voucer “BukaMaaf“. ha ha ha. Orang Indonesia sangat pemaaf.

Usulan berikutnya adalah untuk memanfaatkan spotlight ini. Turn this bad publicity into a marketing stunt. Misalnya, justru gunakan momen ini untuk menjelaskan R&D yang sudah dilakukan di Bukalapak, dan seterusnya. Justru momen ini digunakan untuk lebih memperkenalkan sisi positif dari Bukalapak. Atau mungkin dapat digunakan untuk marketing lain yang lebih menjual. Mumpung lagi dapat sorotan.

Usulan lain lagi adalah membuat short movie. Bukalapak dikenal dengan iklan-iklannya yang berbau cerita. Misalnya dalam cerita ini dikisahkan Achmad Zaky dipecat dan Bukalapak bangkrut. Kemudian ditunjukkan kerugian yang terjadi bagi Indonesia. Saya malah menambahkan sedikit twist di plot ceritanya. Diceritakan Achmad Zaky pulang ke Solo dan ketemuan dengan Jokowi (yang kw saja – Jokowi kw – ha ha ha). Kemudian Zaky berkeluh kesah kepada Jokowi dan ditanggapi dengan baik. Bahkan di akhir ceritanya diberi sepeda. “Ini sepedanya”. he he he. (Dan sepedanya itu yang kemudian dibawa ke ITB untuk dijadikan sepeda di kampus ITB – yang sekarang sudah ada pun.)

Dan masih banyak usulan-usulan lainnya lagi. Serulah. Kelas menjadi menarik. Alhamdulillah ada kasus yang dapat dibahas di kelas.

Brand Image

Dalam kuliah “New Venture Management” (NVM), saya mengangkat topik Key Performance Indicators (KPI). Bahwa setelah melewati proses inisiasi bisnis dan bisnis sudah berjalan dengan baik, maka mulai masuklah kita ke tahap pengelolaan bisnis dengan menerapkan manajemen yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencatat dan mengukur berbagai indikator dari usaha kita.

Ada beberapa indikator yang dapat dicatat dan diukur, antara lain:

  1. Jumlah produk atau servis;
  2. Brand Image;
  3. Jumlah pelanggan (the number of customers);
  4. Penjualan (sales);
  5. Keuntungan (profit);
  6. Indikator keuangan lainnya (saham, nilai investasi);
  7. dan hal-hal yang terkait dengan organisasi (jumlah karyawan).

Tulisan kali ini akan menyoroti aspek “brand image saja”. Kalau menurut Anda, apa yang dimaksud dengan “brand image”?

Jawaban dari pertanyaan di atas bergantung kepada kapan dan kepada siapa ada bertanya. Saat ini, ketika saya tanyakan kepada mahasiswa, maka jawabannya terkait dengan Instagram dan YouTube. Seberapa populernya Anda di instagram. Kalau dahulu yang lebih banyak digunakan adalah Facebook dan/atau Twitter.

Ada banyak indikator kepopuleran seseorang pada instagram; jumlah pengikut (follower), jumlah yang menyukai (like) (untuk sebuah foto atau cerita), engagement, dan seterusnya. Ini masih dapat kita bahasa lebih panjang lebar lagi.

Pertanyaannya adalah apakah kepopuleran kita di instagram dapat dianggap sebagai salah satu tolok ukur dari brand image? Artikel jurnal mana yang menyatakan demikian? (Kebanyakan yang menyatakan demikian berasal dari artikel populer yang diragukan nilai akademiknya.) Dalam beberapa diskusi dengan kawan, brand image di dunia siber (misal di instagram) belum tentu sama dengan kepopuleran di dunia nyata. Nah lho.

[Saya potong dulu ya tulisannya. Nanti saya tambahkan]

Pekerjaan rumah saya kepada mahasiswa adalah mencatat kondisi media sosial masing-masing mahasiswa dan peningkatannya secara berkala (bulan depan). Kondisi saya saat ini (21 Januari 2019):

  • Instagram: 1881 followers
  • YouTube (rahard): 412 subscribers
  • WordPress: views/day atau views/month
  • Twitter: 4526 followers
  • Facebook: 5000+ followers (yang ini akan digantikan dengan Facebook Page saja)
  • Facebook Page: 1543 (like), 1539 (followers)

Data di atas akan saya pantau. Nanti pekerjaan rumah berikutnya adalah melakukan sesuatu dan melihat efeknya pada indikator-indikator tersebut.

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.