Tag Archives: buku

Waktunya Membaca

Beberapa minggu terakhir, waktu saya banyak disita untuk menghasilkan sesuatu. Menulis. Presentasi. To publish. Sayangnya menulis di blog ini malah menjadi berkurang. Hadoh. Harus diperbaiki ini.

Nah, sekarang waktunya saya untuk membaca. Mengisi otak. Menambah wawasan. Mengasah kepekaan hati. Tumpukan bahan bacaan harus dikurangi.

Mari …


Mau Diapakan Majalah Ini?

Pertama, saya harus mengaku dulu. Saya tukang mengumpulkan majalah dan buku. Ada banyak majalah yang tidak dapat saya buang. Kalau buku mungkin mudah untuk menerima agar dia tetap disimpan. Nah kalau majalah? Sebagian besar orang akan membuang majalah. Saya menyimpannya. Untungnya majalah yang saya baca adalah majalah teknis, seperti IEEE Spectrum, IEEE Computer, dan seterusnya.

Ini adalah foto yang saya ambil beberapa menit yang lalu.

P_20160724_125325-01

Ini adalah tumpukan majalah IEEE Spectrum yang berada di lantai. Tadinya dia berada di atas meja kerja, tetapi saya turunkan karena mejanya mau dibersihkan dahulu. Masih ada banyak tumpukan lagi yang sejenis. Banyak sekali. (Tidak saya foto karena mengerikan. hi hi hi.)

Saya tahu bahwa majalah-majalah ini – misal yang IEEE itu – ada versi digitalnya, tetapi saya masih suka memegang versi fisiknya. Tampilannya lebih indah dan saya dapat membuka halaman-halaman dengan mudah. Kalau nanti bentuknya digital, saya khawatir akan susah menemukan mereka kembali. (Ya saya tahu ada fitur search dan sejenisnya, tetapi mereka tidak efektif kalau saya mencari tulisan di majalan dalam bentuk fisik ini.) Suatu saat saya akan pindah ke versi digital. Mungkin. Untuk sementara ini saya masih suka versi fisik.

Masalahnya adalah dimana saya dapat menyimpan mereka? Lemari buku saya sudah penuh dengan buku-buku. Bahkan buku-buku juga berterbaran di segala penjuru rumah. Sering saya heran kalau bertamu ke rumah orang dan melihat tidak ada buku di rumah mereka. Mungkin buku-bukunya sedang bersembunyi di ruang perpustakaan mereka?

Kembali ke masalah “menyampah” majalah ini. Jadi majalah-majalah ini harus saya apakan?

Tolong!


Buku Zero to One

Horeee … Selesai baca satu buku lagi. I’m on a roll. Lagi lancar baca buku. Setelah beberapa hari yang lalu menyelesaikan satu buku, barusan selesai baca satu buku lagi. Buku yang baru selesai saya baca adalah “Zero to One” karangan Peter Thiel.

zero-to-one-cover-art

Buku yang ini sebetulnya sudah lama dimulai bacanya, tetapi tidak selesai-selesai. “Masalahnya” (kalau bisa disebut masalah) adalah banyak poin-poin bagus di dalam buku ini sehingga saya harus berhenti dan meresapi poin itu. Baca lagi, berhenti lagi, mikir dulu. Setelah beberapa hari, baca lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan lambatnya selesai membaca buku ini. Jadi, buku bagus justru membuat lambat selesai bacanya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana membuat perusahaan (startup) yang bagus. Peter Thiel ini dikenal sebagai salah satu pendiri dari PayPal. Sekarang PayPal sudah mereka jual. Pendiri-pendiri PayPal dikenal sebagai “Mafia PayPal” dan mereka kemudian mendirikan berbagai perusahaan yang juga sama (atau lebih) sukses; YouTube, Tesla, SpaceX, dan seterusnya. (Salah satu yang sekarang sedang ngetop tentunya adalah Elon Musk.)

Apa itu “0-to-1”? Maksudnya zero (0) adalah tiada. Tidak ada. Sementara zone (1) adalah ada. Jenis perusahaan yang didirkan sebaiknya adalah yang memberikan layanan atau membuat produk yang dahulu belum ada. Sebagai contoh, dulu belum ada sistem operasi komputer maka kemudian ada Microsoft yang membuat sistem operasi MS-DOS. Dahulu belum ada tempat orang kongkow-kongkow online, sekarang ada Facebook. Kalau membuat kantor cabang dari sebuah usaha yang sudah ada (membuka di kota lain, di negara lain) itu namanya dari “1” ke “n“. Ini tidak terlalu menarik.

Startup yang sukses adalah yang membuat sesuatu yang baru. Jadi jika ada yang ingin membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Google, atau sejenisnya akan sulit untuk sesukses mereka. The next big thing tidak mungkin search engine seperti Google, misalnya.

Selain membuat hal yang baru, buku ini juga menguraikan apa-apa kunci kesuksesan lainnya. Misalnya, kalau kita membuat sebuah produk (teknologi) yang mirip dengan yang sudah ada seperti sekarang maka dia harus minimal 10 kali lebih hebat dari yang sudah ada. (Istilahnya adalah “one fold better”.) Kalau hanya lebih bagus, 20% lebih bagus atau bahkan dua kali lipat lebih bagus, tidak cukup untuk menarik orang ke produk kita. Poin ini juga menarik.

Selain poin di atas, masih banyak poin-poin lain yang penting. Itulah sebabnya saya banyak berhenti membaca buku ini. Mencoba mencerna dahulu poin yang dimaksud. Apa saja poin-poin yang dibahas? Silahkan baca bukunya.

Pokoknya buku ini adalah bacaan wajib bagi yang ingin membuat Startup. Sangat direkomendasikan.

 


Kecepatan Membaca Buku

Beberapa tahun terakhir ini saya agak kesal kepada diri sendiri. Pasalnya kecepatan membaca buku saya sangat menurun. Banyak buku yang tidak selesai dibaca. Biasanya awal-awalnya cepat, terus berhenti.

Ada beberapa kemungkinan penyebab turunya kecepatan baca saya. Pertama, saya harus menggunakan kacamata baca (kacamata plus). Usia ternyata tidak bisa dibohongi. Begitu menginjak usia tertentu, langsung mata menjadi plus. Silahkan tunggu saja. hi hi hi. Nah, begitu pakai kacamata saya agak susah membaca karena kadang kacamata tidak ada atau saya ingin membaca sambil selonjoran (tiduran), yang mana ini menyulitkan bagi kacamata.

Kemungkinan kedua, yang membuat saya lambat menyelesaikan bacaan buku adalah bukunya sendiri kurang menarik untuk diselesaikan. Ya, menyalahkan orang lain memang yang paling gampang. Salahkan bukunya saja. hi hi hi. Tapi, ini serius lho. Kalau bukunya bagus, pasti saya baca sampai tuntas.

Dan ini yang terjadi dalam 3 bulan terakhir. Saya menyelesaikan dua buku! Masing-masing saya selesaikan kurang dari seminggu. Yang pertama adalah buku tentang Edward Snowden itu. Yang ini cepat saya selesaikan karena harus membuat resensi.

Yang kedua adalah buku yang baru beberapa hari yang lalu saya selesaikan. “How to capture an invisible cat” oleh Paul Tobin.

P_20160620_210801 invisible cat 0001

Ceritanya saya melihat buku ini di airport ketika menuju ke Jogja minggu lalu. Gambarnya yang pertama kali membuat saya tertarik. (Padahal gambar sampul buku yang sama di luar negeri berbeda gambarnya.) Ah saya beli saja. Ternyata bagus bukunya. Lucu. Akhirnya buku ini juga saya selesaikan dalam beberapa hari saja. (Resensinya ada di Goodreads saya.)

Mudah-mudahan kecepatan membaca buku saya bisa lebih baik lagi. Atau, setidaknya, sama seperti sekarang. Nah, tinggal mencari buku-buku yang bagus.


Beres Baca Satu Buku Lagi

Baru beres membaca satu buku lagi. Asyik. Bisa dilanjutkan dengan buku berikutnya.

DSC_2778 buku

Ada sedihnya juga. Buku yang baru selesai saya baca, dilihat dari jumlah halamannya, termasuk tipis (80-an halaman). Namun untuk menyelesaikan membaca buku ini saja saya membutuhkan waktu hampir satu bulan. Baca, berhenti, baca lagi, dan seterusnya. Ternyata kecepatan membaca saya sudah berkurang. Alasan saya sih karena kesibukan, tetap mungkin ada banyak alasan lain seperti misalnya buku yang dibaca kurang menarik.

Iya, buku-buku sekarang jarang yang sangat menarik sehingga tidak bisa berhenti membaca. Dahulu, sering saya tidak bisa berhenti membaca buku. Bisa-bisa buku yang hanya 80 halaman ini selesai dalam satu hari.

Tidak mengapa. Dinikmati saja. Sekarang bersiap-siap membaca buku-buku berikutnya.


Sabtu Yang Produktif

Pagi ini, Sabtu pagi, saya memulai hari dengan melakukan backup komputer. Rencananya memindahkan data dari berbagai disk di komputer ke backup disk 2 TB. Dugaan saya jumlah data yang harus dibackup lebih dari 1 TB. Masalahnya proses ini dilakukan melalui USB yang agak lambat. Jam-jaman lah waktunya. (Ketika membuat tulisan ini, di belakang layar sedang terjadi proses backup.)

Sebetulnya seharusnya pagi ini ada main sepak bola di lapangan besar, tetapi nanti sore saya ada futsal dan nanti malam akan ada pertemuan yang akan menyita waktu dan tenaga. (Lewat tengah malam.) Terpaksa tidak ikutan sepak bola.

Sekarang saya sambil membereskan materi kuliah, web, data insan music, dan juga akan melanjutkan menulis laporan (tentang e-commerce). Pokoknya semuanya harus saya kerjakan pagi ini. Padahal di luar cuacanya begitu indah. Beautiful morning in Bandung. duh. Mendingan berjemur di luar saja.

Atau, alternatif lain adalah membawa. Ada banyak buku baru yang saya peroleh karena kemarin menunggu toko buka di BEC dan mampir ke Gramedia. Pulangnya bawa buku. Hadoh. Kapan bacanya ya? Yang membuat saya galau adalah saya merasa kalau membaca itu tidak produktif. Menghabiskan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk menulis. Bagaimana nih?

25906487520_bdba7871d0_o

 


Buku (Catatan) Teknis

Dalam keseharian  ada banyak hal yang harus saya lakukan, mulai dari menjadi administrator sistem sampai ke programmer. Ditambah lagi, saya sebagai pengguna. Ada beberapa banyak hal yang harus saya kuasai.

Selain membaca manual, saat ini banyak tempat di internet untuk mencari jawaban. Bahkan membuka situs “stackoverflow” sering dianggap sebagai cara standar untuk mencari jawabab, bukan membaca manual. ha ha ha.

Permasalahan saya adalah saya mudah lupa. Jadi, misalnya saya sudah bisa ngoprek database MongoDB kemudian beberapa waktu kemudian saya lupa apa yang saya lakukan. Hanya sekedar untuk membuka database saja saya sudah lupa. Untuk mencari tahu, bisa cari di internet lagi, tetapi ini butuh waktu dan internet yang bagus.

Nampaknya saya harus membuat buku catatan sendiri. Catatan sendiri ini bagusnya juga dibuat tersedia untuk orang lain agak dapat dimanfaatkan juga. Dengan kata lain, saya harus membuat buku. Nah ini dia masalahnya. Saya kebanyakan mikir untuk membuatnya. Misalnya, saat ini saya sedang mencari LaTeX styles yang pas untuk buku saya. Ini lagi baca-baca tanya jawab di internet (tex.stackexchange.com – ha ha ha). Soalnya kalau bukunya jelek juga nggak menarik untuk dibaca diri sendiri.

Sekarang lagi baca manual dari “memoir style”. Mau nulis mesti baca manual dulu. Kelamaan ya?

Jreng ah!