Review Buku: The New New Thing

Ini adalah salah satu buku yang saya baca lebih dari sekali. Kenapa demikian? Ada beberapa hal. Yang pertama, pengarangnya, Michael Lewis adalah pengarang yang tulisannya sangat bagus. Setidaknya, cara penulisannya saya sukai. Dia telah membuat banyak buku yang terkenal dan sebagian bahkan menjadi film. Pasti banyak yang sudah pernah nonton film “The Blind Side” dengan Sandra Bullock. Atau pernah nonton “Moneyball” dengan Brad Pitt sebagai pemeran utamanya? Buku-buku tersebut merupakan karangan dari Michael Lewis. Ada banyak buku lainnya yang bagus-bagus. Dia termasuk penulis yang produktif.

Alasan kedua, buku The New New Thing ini menceritakan tentang Silicon Valley. Salah satu topik kesukaan saya juga. Pas bahasan dari buku ini mengambil tokoh Jim Clark, pendiri Netscape dan banyak perusahaan lainnya. Kebetulan juga saya sedang di Kanada dan menggeluti bidang-bidang itu. Jadi saya berada di pusaran itu. I was a fly on the wall, begitu kata orang-orang. Tentang hal ini bisa saya bahas lebih panjang lagi.

Kembali ke laptop. Buku ini menceritakan tentang kehidupan Jim Clark dari masa mudanya yang pendidikannya agak “tidak linier”. Di umur 16 tahun dia berhenti sekolah dan malah ikutan Navy (Angkatan Laut) selama 4 tahun. Setelah itu baru dia kembali sekolah – sekolah malam – dan ternyata sangat menguasai matematika. Singkat ceritanya dia berhasil mengumpulkan SKS sehingga dia nantinya akhirnya mendapatkan PhD (S3) dari University Utah. Di sini lah nyambung lagi dengan saya karena di sana ada Ivan Sutherland, yang paper klasiknya menjadi salah satu fondasi dari disertasi S3 saya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana dia memulai membuat perusahaan Silicon Graphics, Netscape, Healtheon, dan MyCFO. Diceritakan tentang keseruaannya – kesulitannya, kegagalannya, perkelahiannya, dan seterusnya. Bagaimana dia ribut dengan venture capital (VC) dan bagaimana hubungan mereka yang bersifat hate-and-love. Saling membenci tapi saling membutuhkan. Untuk hal ini saja buku ini sudah merupakan sebuah bacaan yang sangat penting.

Ada banyak lagi yang ingin saya ceritakan tetapi lebih baik jika Anda membaca sendiri buku ini. Tidak akan menyesal. Percayalah. (Seperti iklan saja.)

Donasi Untuk Program 10.000 Perempuan dan Guru Menulis Buku 2022

Program PEREMPUAN & GURU MENULIS BUKU ini dimotori oleh mbak Indari Mastuti, seorang penulis buku yang telah menerbitkan banyak buku. (Tentang mbak Indari Mastuti dapat dilihat pada tautan ini.) Peserta akan diajarkan cara (1) menulis buku, (2) menerbitkan buku, dan (3) menjual buku.

Kenapa perempuan dan guru harus menulis?

  1. Menulis membuat hati lebih bahagia, bahagia membuat orang bisa lebih berpikir jernih dan cerdas.
  2. Menulis buku sendiri membuat orang lebih menghargai buku yang ditulis orang lain, mereka akan menjadi suka baca.
  3. Menulis menjadi terapi jiwa yang trauma atau tak bahagia, energi negatif tersalurkan melalui tulisan.

Tiga alasan itu menjadi pendorong gerakan 10.000 perempuan dan guru menulis buku. Mereka akan menulis, membaca, lalu menjadi lebih cerdas dan bahagia. Kalau begitu siapa yang diuntungkan? Generasi di masa selanjutnya di Indonesia karena kecerdasan berawal dari rumah dan sekolahan dari IBU dan GURU.

Upaya untuk mencetak 10.000 penulis dari kalangan perempuan dan guru sudah dimulai dari akhir Oktober 2021 dan akan berakhir di akhir 2022. Saat ini sudah terbit 9 buku karya perempuan dan guru tersebar di seluruh Indonesia. Ini akan dilanjutkan. (Contoh buku tersebut dapat dilihat pada tautan berikut: https://tokopedia.link/indscriptcreative)

Bersediakah Anda menjadi bagian dari gerakan ini? Mengalokasikan sebagian rezeki agar lebih banyak perempuan dan guru ikut dalam gerakan ini? Cukup dengan memberikan sebesar 100 ribu rupiah per-orang saja, mereka akan menjadi perempuan dan guru yang lebih cerdas dan bahagia. Semoga Indonesia semakin kuat dengan semakin cerdasnya perempuan dan para guru melalui aktivitas menulis buku.

Donasi dapat dikirimkan ke rekening:

BCA DIGITAL 0086-3422-2886 atas nama Budi Rahardjo

(Catatan: Perhatikan bahwa ini adalah rekening BCA Digital – Blu Digital. Di beberapa aplikasi bank, ada beda antara BCA dan BCA Digital sehingga kalau dipilih BCA saja maka rekening ini tidak muncul. Pilih BCA DIGITAL untuk bank tujuannya.)

Berikan konfirmasi pengiriman donasi (transfer uang) ke email: bungbr@gmail.com

Secara berkala, informasi penggalang dana dan kegiatan ini akan kami publikasikan secara berkala sehingga Anda dapat memantau kemajuannya.

Tautan Terkait

Membaca Buku

Baru-baru ini kita temui (lagi) statistik yang menunjukkan rendahnya minat baca orang Indonesia. Lihatlah dari urutan 61 negara, kita menduduki peringkat 60. Alias, peringkat kedua dari bawah. ha ha ha. Kalau dari 160 negara juga mungkin tetap peringkat kedua dari bawah juga ya? Hadoh.

Oke lah. Ada banyak kemungkinan penyebabnya. Salah satunya adalah kita bukan bangsa yang senang membaca tetapi lebih senang berkomunikasi melalui verbal. Jadi semestinya kita lebih baik dalam hal menonton video (edukasi) atau mendengarkan podcast (edukasi). Saya beri kata “edukasi” dalam tanda kurung karena saya juga belum yakin. Mudah-mudahan demikian. Jadi secara intelektual tidak ada masalah karena hanya beda cara belajarnya saja. Yang repot itu kalau kita tetap tidak belajar. Jadi bukan karena medianya yang menjadi masalah tetapi kita yang masalah. Kita yang tidak mau belajar. Mosok sih?

Saya sendiri termasuk yang suka membaca. Namun saya juga sadar bahwa ini adalah anomali.

Baru-baru ini saya menemukan sebuah tulisan yang mengatakan bahwa kalau kita memposkan foto atau tulisan tentang buku yang sedang kita baca maka itu adalah riya dan harus dihindari. Hadoh. Saya sangat tidak setuju.

Untuk orang-orang yang hobby membaca, menampilkan buku yang sedang dibaca itu bukan untuk pamer tapi untuk memberitahukan orang lain mana buku yang pantas untuk dibaca dan mana yang tidak. Tentu saja ini subyektif, tetapi sangat membantu. Ada (terlalu) banyak buku di luar sana, maka bantuan untuk memilah mana buku-buku yang bagus merupakan hal yang sangat bermanfaat. Adanya resensi buku juga sangat membantu untuk memilah buku. (Itulah sebabnya ada situs seperti Goodreads, dll. yang menampilkan banyak review buku.)

Bagi orang yang banyak membaca, menampilkan buku bukan pamer. Bayangkan kalau kita rajin membaca dan sudah membaca ratusan (atau ribuan?) buku, maka menampilkan 1 buku di media sosial kita bukanlah hal yang istimewa. Biasa saja. Bukan pamer. Mungkin kalau orangnya baru membaca 3 buku kemudian mau pamer? Ya mungkin saja karena bagi yang bersangkutan membaca buku itu merupakan hal yang istimewa. ha ha ha. Ya sudahlah. Sekali lagi, bagi yang sering membaca buku menampilkan buku yang sedang dibaca – apalagi kalau ada resensinya – merupakan hal yang baik. Jauh dari riyaa.

Jadi, buku apa yang sedang Anda baca?

Belajar dari biografi

Biografi. Perjalanan hidup seseorang. Wah. Ini salah satu bacaan yang paling saya sukai. Untuk mengetahui mengapa dia melakukan sesuatu, saya perlu belajar dari perjalanan hidupnya. Dan seringkali setelah mengetahui itu saya menjadi lebih apresiasi terhadap karya-karyanya.

Biografi dari orang asing selalu lebih menyenangkan karena yang diceritakan bukan hanya keberhasilannya saja, tetapi kegagalan demi kegagalan juga. Malah, seringkali porsi kegagalan ini jauh lebih banyak dari suksesnya. Mungkin kalau orang Indonesia, malu untuk menceritakan kegagalan ya?

Dahulu saya melakukan ini dengan membaca buku-buku. Sekarang sudah ada YouTube dan Netflix yang mendokumentasikan ini semua. Asyik. Waktu untuk belajarnya jauh lebih singkat, meskipun banyak detail yang dihilangkan. Jadi buku memang selalu lebih baik. Asal kita punya waktu lebih banyak saja. Tapi memang menonton video jauh lebih mudah. Sayangnya video-video masih jarang tersedia secara gratisan. Saya terpaksa menontonnya di Netflix yang berbayar. Itu salah satu alasan saya berlangganan Netflix. Sayang sekali, saat ini Netflix difilter oleh ISP Indihome.

Biografi yang baru-baru ini saya lihat antara lain:

  • Annie Leibovitz: fotografer terkenal. Awalnya dia terkenal sebagai fotografer dari Rolling Stones (band dan majalah). Foto-fotonya banyak yang menjadi legendaris.
  • Dolly Parton: penyanyi country legendaris dengan suara yang khas dan potongan rambut (wig) yang khas juga.
  • Quncy Jones: produser legendaris. Saya baru sadar bahwa dia termasuk generasi “lawas”, yaitu generasi masa Miles Davis, Frank Sinatra, dan seterusnya. Perkenalan saya sebetulnya melalui album-album yang lebih “baru”, seperti albumnya Michael Jackson. Etika kerjanya luar biasa. Saya yang super sibuk saja mungkin tidak sanggup mengalahkan kekuatan fisiknya.

Biografi siapa lagi yang pantas untuk ditonton?

Pusing Dengan Bahasa Indonesia

Sudah berkali-kali saya mencoba membaca buku terjemahan dan gagal untuk memahaminya. Pusing. Bagi saya ternyata memang masih lebih mudah memahami buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa aslinya, bahasa Inggris maksudnya. Bukan maksud saya untu sok-sokan Ingris-Ingrisan, tapi kenyataannya memang demikian.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah buku terjemahan. Saya coba baca lagi. Dan hasilnya, pusing lagi. Ini bukunya.

photo6275926025779128563
Contoh buku terjemahan yang membingungkan

Begitu dimulai, di bagian awalnya (pada halaman “ucapan terima kasih”) ada tulisan seperti ini, “istri ahli dan putri tanpa sejawat“. Anda tahu itu maksudnya apa? Nampaknya saya harus cari tahu kalimat aslinya seperti apa.

Mungkin masalah sebenarnya adalah penerjemah terlalu harfiah dalam menerjemahkan sehingga makna aslinya hilang. Jadinya malah membingungkan. Ada banyak “idiom-idiom” dalam bahasa Inggris yang seharusnya tidak diterjemahkan begitu saja. Pusing.

Kembali ke buku-buku berbahasa Inggris deh.

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Sodori Buku

Saking capeknya, semalam malah saya tidak bisa tidur nyenyak. Paginya main bola dan dilanjutkan dengan pertemuan startup baru. Pokoknya capeklah. Siang sebetulnya sempat tertidur sebentar. Sorenya sudah ada tamu. Singkatnya sibuk juga Sabtu ini. Walhasil, malam hari capek dan malah tidak bisa tidur.

Solusi saya untuk situasi seperti ini tetap sama, sodori buku. Ambil beberapa buku yang agak tebal. Tidak ada yang spesifk dari buku-buku tersebut. Asal tebal saja. Letakkan di samping tempat tidur. Mending mana, tidur atau baca buku. Biasanya pilihannya jatuh ke … tidur. hi hi hi. Jadi buku-buku ini adalah obat tidur bagi saya.

DSC_7046 books_0001
buku-buku untuk memaksa tidur

 

 

Selamat membaca. Eh, selamat tidur …

Hobby Membaca

Dalam sebuah wawancara, terjadi ini. Ini bukan rekayasa, tetapi kejadian sebenarnya. Swear.

Tanya (kami): “Hobby apa?”
Jawab: Membaca.
Tanya: Oh ya? Membaca apa?
Jawab: Buku. Fiksi.
Tanya: Contoh buku yang dibaca apa?
Jawab: Harry Potter [terus terdiam, seolah khawatir kami tidak dapat mengikuti jawabannya]
Tanya: Coba ceritakan secara singkat, inti ceritanya bagaimana.
Jawab: … [agak ragu-ragu]
Penanya: Jangan ragu, kami juga hobby membaca kok.
Jawab: … [masih ragu] …

Ha ha ha. Salah dia mengatakan hobbynya membaca. Lah, kami-kami ini hobbynya membaca. Bahkan mungkin lebih gila membacanya daripada dia. Yang Harry Potter-pun kami baca dalam Bahasa Inggris-nya. Belum tahu dia jenis dan jumlah bacaan kami. Ha ha ha.

Tanya: Sudah baca Tolkien?
Jawab: … [agak bingung]. Belum

Nah. Dicukupkan pertanyaannya. Tadinya mau bertanya siapa pengarang favoritnya. Adakah yang kekinian? Semacam Neal Stephenson, gitu. [Kembali membaca ah.]

Politik dan Pesan Kebencian

Baru saja saya mendapat kiriman beberapa buku. Salah satu bukunya adalah “Hate Spin: the manufacture of religious offense and its threat to democracy”, karangan Cherian George.

P_20170412_201600 buku hate_0001

Bahasan buku ini tampaknya cocok dengan situasi politik di Indonesia saat ini. Ada banyak pesan-pesan kebencian (SARA) yang beredar hanya sekedar untuk memuaskan nafsu politik praktis.

Mungkin banyak (?) orang yang mengira bahwa masalah ini adalah masalah di Indonesia saja. Padahal tidak. Di dalam buku ini dibahas tentang kasus-kasus di India dan Amerika, selain tentunya di Indonesia. Tiga negara itu dipilih karena mereka merupakan negara demokrasi terbesar di dunia. Kasus di ketiga negara itu berbeda; Hindu di India, Kristen di Amerika, dan Islam di Indonesia.

Salah satu poin utama yang ingin disampaikan oleh sang pengarang adalah pesan-pesan kebencian itu sengaja dibuat oleh pelaku politik (dia menyebutnya political entrepreneurs) untuk kepentingan politik. Perhatikan kata kuncinya adalah SENGAJA. Masyarakat terpicu (tertipu) dengan teknik-teknik ini. Ah.

… it became clear that hate spin agents, like leaders of social movements, try to get people thinking about a situation in ways that produce solidarity and support for their cause. To achieve this, they engage in cultural framing work and cognitive interventions. As the sociologist William Gamson has argued, “injustice frames” can be particularly effective for mobilizing supporters. Injustice frames create narratives that persuade an in-group that powerful outsiders are violating its interests and values. Anchoring injustice frames on powerful symbols may be enduring, as in the case with the Holocaust for Jews, but many have a shorter shelf life, requiring activists to constantly on the lookout for fresh ones. This can explain the enthusiasm with which hate spin agents declare a book or video to be intolerably offensive to their community.

Perhatikan bahwa hate spin agents (yang biasanya dikatikan dengan political entrepreneurs) selalu mencari hal-hal yang dapat memicu kemarahan komunitas.

Bagian pentingnya yang mungkin relevan dengan situasi di Indonesia saat ini:

… This can explain the enthusiasm with which hate spin agents declare a book or video to be intolerably offensive to their community. …

Itulah sebabnya kita perlu belajar, membaca buku, untuk mengetahui hal ini. Kita tidak perlu terjun ke politik praktis, tetapi jangan buta politik juga.

Belajar dulu yuk.

Membaca Adalah Bekerja

Ada banyak pekerjaan yang menuntut kita untuk membaca. Untuk mengoperasikan sebuah alat harus baca manualnya dahulu. Kadang manualnya bertumpuk-tumpuk. Untuk memahami sebuah konsep, harus baca dahulu dokumen yang terkait dengan konsep tersebut. Untuk membuat sebuah laporan, harus membaca data yang diterima dahulu (dan kemudian dilanjutkan dengan memahami sebelum menuliskannya). Seringkali datanya berlembar-lembar (dan bahkan ada yang jumlahnya ratusan halaman).

Banyak orang yang menyepelekan membaca sehingga tidak dapat mengapresiasi orang yang membaca. Dianggapnya orang yang terduduk dengan sebuah dokumen di hadapannya adalah tidak bekerja. Kan hanya membaca. Apa susahnya?

Itulah sebabnya juga seringkali mahasiswa S3 disepelekan oleh berbagai pihak. Oleh tempat kerjanya dia tetap diberi pekerjaan yang berat karena toh sekarang dia hanya membaca makalah orang lain. Apa susahnya? (Oleh sebab itu mahasiswa S3 sering frustasi karena tidak dipahami.)

Kalau membaca – hanya sekedar membaca – saja sudah dianggap susah, apalagi memahami ya?

[sedang membaca dan mencoba memahami]

Resensi: Spammer

Tidak banyak novel atau cerita di Indonesia yang bersifat agak teknis. Kebanyakan ceritanya adalah keseharian dan umum-umum saja. Maka adanya sebuah cerita yang teknis – seperti spammer (orang yang melakukan spamming) – sangat menarik bagi saya. Apa lagi latar belakang saya memang urusan komputer.

Saya menerima buku ini, sebuah novel thriller karangan Ronny Mailindra dengan judul “Spammer”. Begitu terima, tidak langsung saya baca karena kesibukan saya. Begitu ada waktu senggang, saya cicil bacanya.

p_20161209_132557-spammer-0001

Novel ini bercerita tentang seorang spammer (yang kerjanya mengirim spamming untuk mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang kena spam) yang kena batunya. Tanpa sengaja, berkas yang dia curi dari sebuah komputer tenyata sebuah barang bukti kejahatan. Penjahatnya menyewa hacker untuk memastikan berkas tersebut musnah. Maka terjadilan perang antar kedua orang ahli komputer itu.

Awalnya ceritanya agak lambat (untuk selera saya). Kemudian mulai menjadi cepat dan seru sehingga saya harus menyelesaikannya dengan cepat. (Saya baca dalam dua hari. Bahkan ada yang sampai lewat tengah malam.)

Seringkali dalam film atau novel yang bercerita tentang teknis komputer (IT) ada hal-hal yang tidak akurat. Misal, nomor IP yang digunakan adalah 333.123.123.123. Padahal angka yang digunakan tidak boleh lebih dari 255 (karena 8-bit). Atau perintah-perintah yang diketik di layar salah atau tidak benar. Hal-hal seperti itu sering mengesalkan karena kita jadi tahu bahwa film/novel itu ngasal. Nah, buku ini tidak begitu. Sang pengarang memang punya latar belakang IT sehingga hal-hal yang teknis cukup akurat.

Nilai saya adalah 4,5 dalam skala 5. (Atau kalau dibuat skala 10 adalah 9. hi hi hi.) Recommended bagi orang teknis.

Waktunya Membaca

Beberapa minggu terakhir, waktu saya banyak disita untuk menghasilkan sesuatu. Menulis. Presentasi. To publish. Sayangnya menulis di blog ini malah menjadi berkurang. Hadoh. Harus diperbaiki ini.

Nah, sekarang waktunya saya untuk membaca. Mengisi otak. Menambah wawasan. Mengasah kepekaan hati. Tumpukan bahan bacaan harus dikurangi.

Mari …

Mau Diapakan Majalah Ini?

Pertama, saya harus mengaku dulu. Saya tukang mengumpulkan majalah dan buku. Ada banyak majalah yang tidak dapat saya buang. Kalau buku mungkin mudah untuk menerima agar dia tetap disimpan. Nah kalau majalah? Sebagian besar orang akan membuang majalah. Saya menyimpannya. Untungnya majalah yang saya baca adalah majalah teknis, seperti IEEE Spectrum, IEEE Computer, dan seterusnya.

Ini adalah foto yang saya ambil beberapa menit yang lalu.

P_20160724_125325-01

Ini adalah tumpukan majalah IEEE Spectrum yang berada di lantai. Tadinya dia berada di atas meja kerja, tetapi saya turunkan karena mejanya mau dibersihkan dahulu. Masih ada banyak tumpukan lagi yang sejenis. Banyak sekali. (Tidak saya foto karena mengerikan. hi hi hi.)

Saya tahu bahwa majalah-majalah ini – misal yang IEEE itu – ada versi digitalnya, tetapi saya masih suka memegang versi fisiknya. Tampilannya lebih indah dan saya dapat membuka halaman-halaman dengan mudah. Kalau nanti bentuknya digital, saya khawatir akan susah menemukan mereka kembali. (Ya saya tahu ada fitur search dan sejenisnya, tetapi mereka tidak efektif kalau saya mencari tulisan di majalan dalam bentuk fisik ini.) Suatu saat saya akan pindah ke versi digital. Mungkin. Untuk sementara ini saya masih suka versi fisik.

Masalahnya adalah dimana saya dapat menyimpan mereka? Lemari buku saya sudah penuh dengan buku-buku. Bahkan buku-buku juga berterbaran di segala penjuru rumah. Sering saya heran kalau bertamu ke rumah orang dan melihat tidak ada buku di rumah mereka. Mungkin buku-bukunya sedang bersembunyi di ruang perpustakaan mereka?

Kembali ke masalah “menyampah” majalah ini. Jadi majalah-majalah ini harus saya apakan?

Tolong!

Buku Zero to One

Horeee … Selesai baca satu buku lagi. I’m on a roll. Lagi lancar baca buku. Setelah beberapa hari yang lalu menyelesaikan satu buku, barusan selesai baca satu buku lagi. Buku yang baru selesai saya baca adalah “Zero to One” karangan Peter Thiel.

zero-to-one-cover-art

Buku yang ini sebetulnya sudah lama dimulai bacanya, tetapi tidak selesai-selesai. “Masalahnya” (kalau bisa disebut masalah) adalah banyak poin-poin bagus di dalam buku ini sehingga saya harus berhenti dan meresapi poin itu. Baca lagi, berhenti lagi, mikir dulu. Setelah beberapa hari, baca lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan lambatnya selesai membaca buku ini. Jadi, buku bagus justru membuat lambat selesai bacanya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana membuat perusahaan (startup) yang bagus. Peter Thiel ini dikenal sebagai salah satu pendiri dari PayPal. Sekarang PayPal sudah mereka jual. Pendiri-pendiri PayPal dikenal sebagai “Mafia PayPal” dan mereka kemudian mendirikan berbagai perusahaan yang juga sama (atau lebih) sukses; YouTube, Tesla, SpaceX, dan seterusnya. (Salah satu yang sekarang sedang ngetop tentunya adalah Elon Musk.)

Apa itu “0-to-1”? Maksudnya zero (0) adalah tiada. Tidak ada. Sementara zone (1) adalah ada. Jenis perusahaan yang didirkan sebaiknya adalah yang memberikan layanan atau membuat produk yang dahulu belum ada. Sebagai contoh, dulu belum ada sistem operasi komputer maka kemudian ada Microsoft yang membuat sistem operasi MS-DOS. Dahulu belum ada tempat orang kongkow-kongkow online, sekarang ada Facebook. Kalau membuat kantor cabang dari sebuah usaha yang sudah ada (membuka di kota lain, di negara lain) itu namanya dari “1” ke “n“. Ini tidak terlalu menarik.

Startup yang sukses adalah yang membuat sesuatu yang baru. Jadi jika ada yang ingin membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Google, atau sejenisnya akan sulit untuk sesukses mereka. The next big thing tidak mungkin search engine seperti Google, misalnya.

Selain membuat hal yang baru, buku ini juga menguraikan apa-apa kunci kesuksesan lainnya. Misalnya, kalau kita membuat sebuah produk (teknologi) yang mirip dengan yang sudah ada seperti sekarang maka dia harus minimal 10 kali lebih hebat dari yang sudah ada. (Istilahnya adalah “one fold better”.) Kalau hanya lebih bagus, 20% lebih bagus atau bahkan dua kali lipat lebih bagus, tidak cukup untuk menarik orang ke produk kita. Poin ini juga menarik.

Selain poin di atas, masih banyak poin-poin lain yang penting. Itulah sebabnya saya banyak berhenti membaca buku ini. Mencoba mencerna dahulu poin yang dimaksud. Apa saja poin-poin yang dibahas? Silahkan baca bukunya.

Pokoknya buku ini adalah bacaan wajib bagi yang ingin membuat Startup. Sangat direkomendasikan.

 

Kecepatan Membaca Buku

Beberapa tahun terakhir ini saya agak kesal kepada diri sendiri. Pasalnya kecepatan membaca buku saya sangat menurun. Banyak buku yang tidak selesai dibaca. Biasanya awal-awalnya cepat, terus berhenti.

Ada beberapa kemungkinan penyebab turunya kecepatan baca saya. Pertama, saya harus menggunakan kacamata baca (kacamata plus). Usia ternyata tidak bisa dibohongi. Begitu menginjak usia tertentu, langsung mata menjadi plus. Silahkan tunggu saja. hi hi hi. Nah, begitu pakai kacamata saya agak susah membaca karena kadang kacamata tidak ada atau saya ingin membaca sambil selonjoran (tiduran), yang mana ini menyulitkan bagi kacamata.

Kemungkinan kedua, yang membuat saya lambat menyelesaikan bacaan buku adalah bukunya sendiri kurang menarik untuk diselesaikan. Ya, menyalahkan orang lain memang yang paling gampang. Salahkan bukunya saja. hi hi hi. Tapi, ini serius lho. Kalau bukunya bagus, pasti saya baca sampai tuntas.

Dan ini yang terjadi dalam 3 bulan terakhir. Saya menyelesaikan dua buku! Masing-masing saya selesaikan kurang dari seminggu. Yang pertama adalah buku tentang Edward Snowden itu. Yang ini cepat saya selesaikan karena harus membuat resensi.

Yang kedua adalah buku yang baru beberapa hari yang lalu saya selesaikan. “How to capture an invisible cat” oleh Paul Tobin.

P_20160620_210801 invisible cat 0001

Ceritanya saya melihat buku ini di airport ketika menuju ke Jogja minggu lalu. Gambarnya yang pertama kali membuat saya tertarik. (Padahal gambar sampul buku yang sama di luar negeri berbeda gambarnya.) Ah saya beli saja. Ternyata bagus bukunya. Lucu. Akhirnya buku ini juga saya selesaikan dalam beberapa hari saja. (Resensinya ada di Goodreads saya.)

Mudah-mudahan kecepatan membaca buku saya bisa lebih baik lagi. Atau, setidaknya, sama seperti sekarang. Nah, tinggal mencari buku-buku yang bagus.