Syarat Untuk Menjadi Kreatif

Banyak orang yang ingin menjadi kreatif tetapi tidak tahu caranya. Banyak juga yang sudah tahu caranya tetapi tidak melakukannya. Baiklah. Ini adalah salah satu cara saya untuk menjadi kreatif.

Saya selalu menantang diri saya sendiri. Challenge myself. Salah satu caranya adalah menahan diri untuk tidak sering-sering membagikan ulang (reshare)  sesuatu di media sosial. Misalnya, saya hanya boleh melakukan sharing setelah saya membuat tulisan / gambar / foto / program / atau apapun yang buatan saya sendiri sebanyak 10 kali. Jadi rasio buatan kita sendiri dan buatan orang lain adalah 10:1.

P_20170712_092816-01
ngoprek IoT dulu sambil ngopi

Hal-hal kecil seperti ini membuat kita memutar otak. Kreatif. Silahkan dicoba deh. Melatih diri sendiri untuk menjadi kreatif.

Sekarang banyak orang yang hobby-nya hanya reshare. Apa hebatnya? Apa pentingnya? Ini mengajari kita untuk tidak kreatif.

J-POP (Jepang), K-POP (Korea), dan lain-lainnya tidak muncul dengan sendirinya. Ada program-program, kegiatan-kegiatan untuk menjadikannya kreatif. Indonesia bagaimana?

Ayo kreatif!

Iklan

Belajar (Sambil Nonton)

Hari Rabu ini (17 Mei 2017) saya berniat untuk hadir di acara ini; Konser Musik dari mas Yockie Suryo Prayogo. [Lihat posternya.] Yang mengisi acaranya bukan hanya mas Yockie sendiri, tapi banyak musisi / penyanyi yang berkualitas. Saya sudah nonton berbagai konsernya. Keren-keren dan tidak membosankan.

18422397_724427514428427_8031676336600894694_o

Biasanya orang nonton konser hanya untuk bersenang-senang, tetapi kalau sama mas Yockie ini kita mau belajar. Dalam beberapa kali pertemuan dengan mas Yockie, umumnya informal sambil ngopi-nopi, saya banyak belajar. Ada banyak seluk beluk industri musik dan kebudayaan yang tidak muncul ke permukaan. Dalam diskusi baru bisa dipahami mengapa demikian. Nah, konser ini merupakan salah satu media untuk belajar.

Saya banyak berharap agar banyak anak muda yang hadir sehingga dunia musik Indonesia dapat lebih maju.

Jreng ah! Sudah beli tiketnya? Saya sudah …

Meningkatkan Kreativitas dan Produktivitas

Ini bukan tulisan tentang pabrik, karena di pabrik biasanya produktivitas lebih utama dibandingkan kreativitas. hi hi hi. Ini bukan juta cerita tentang paradoks, tetapi tentang peningkatan keduanya pada saat yang bersamaan. Yang saya maksud adalah membuat tulisan.

Membuat tulisan yang banyak itu tidak mudah. Silahkan dicoba. Silahkan coba ngeblog setiap hari. Dilarang copy-and-paste tentunya. Ini baru soal kuantitas. Kita belum bicara soal kualitas. Itu lebih susah lagi. Lihat saja kualitas cerita sinetron kita. ha ha ha. Maaappp …

Bagaimana meningkatkan kreativitas (dan produktivitas) dalam membuat tulisan? Kalau ini bisa saya jawab dengan tuntas, bisa kaya raya saya. Ini adalah 1-million-dollar-question. Saya tidak bisa menjawab dengan seratus persen, tetapi saya juga tidak mau melarikan diri dari pertanyaan ini.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan menggunakan musik. Musik membuat saya lebih mudah menulis. Tetapi ada sampingannya juga. Topik dari tulisan jadi terpengaruh dari musik yang sedang didengarkan. Contoh tadi pagi. Saya harus menulis sebuah artikel dalam 1 jam. Musik yang saya pasang adalah jenis musik dari tahun 70an – yang banyak berjenis pop, balada, folk, nelangsa (mellow). Ternyata produktif juga. Artikel selesai dalam 1 jam. Efek sampingannya adalah mood saya jadi mellow. Akhirnya ngeblog juga tebawa mellow.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah gunakan apa saja yang cocok dengan Anda karena sifat kita berbeda-beda. Whatever works. Kebetulan, salah satu metoda yang cocok bagi saya adalah dengan musik. (Tulisan ini juga dibuat sambil mendengarkan musik tahun 70an juga.)

Selamat mencoba. Semoga kreativitas dan produktivas Anda mencuat.

Pembenaran

Bagaimana memastikan bahwa ide bisnis kita, misal dalam kerangka start-up, sudah pada jalan yang benar? Istilah kerennya adalah validasi. Ada banyak cara yang ditempuh orang. Ada yang ikutan kompetisi, ada yang ikut bimbingan atau mentoring, ada yang ikut asosiasi, dan seterusnya.

Pembenaran juga tidak hanya terjadi di dunia start-up saja tetapi dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita menuliskan sesuatu di media sosial dan berharap banyak disukai (like) oleh banyak orang. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mencari pembenaran.

Cara-cara di atas, meskipun sah-sah saja, bukan satu-satunya (eh banyak ya?) yang dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Seringkali saya melakukan inisiatif-inisiatif tanpa menunggu pembenaran dari orang lain. Masalahnya adalah banyak inisiatif yang saya lakukan (di dunia internet, bisnis, pendidikan, kepemimpinan, dan lain-lain) banyak yang belum mengerti. Jadi bagaimana mungkin saya menunggu pembenaran dari orang-orang yang belum mengerti? Cara yang saya lakukan adalah jalan terus saja. Kalau kata iklan Nike, “just do it.”

Jadi, saya hanya senyum-senyum saja ketika orang membuat lomba, perkumpulan, atau apapun tanpa mengajak saya. Padahal saya bergerak di bidang itu. ha ha ha. Biarlah. Saya toh tidak mencari pembenaran dari mereka.

Nge-vlog gak ya?

Belakangan ini memang sedang marak orang-orang membuat video blog (vlog). Nah, dua hari yang lalu saya diwawancara oleh harian Pikiran Rakyat tentang topik vlog ini. Hari ini, Minggu 23 Oktober 206, muncul tulisannya. hi hi hi.

p_20161023_111929-vlog-0001

Saya sendiri belum mempertimbangkan untuk membuat vlog. Sekarang saja dengan blog ini (dan yang baru saya mulai di medium) sudah riweuh. Kurang terurus. Apa lagi nanti kalau nambah dengan nge-vlog. Bisa-bisa terbengkalai semua. Ada sih beberapa video YouTube saya, tetapi isinya lebih ke arah tutorial-tutorial. Nanti kalau sudah ada mood mungkin juga buat vlog. Sekarang belum dulu.

Sementara ini, silahkan tonton bodoran saya waktu di Australia kemarin dulu ya. hi hi hi.

Atau kalau mau bodoran dalam bahasa Indonesia, yang ini? (Sudah lama sih.)

Lagian, bagusnya orang lain yang buat vlog supaya tidak kita-kita lagi. Loe lagi, loe lagi. hi hi hi. Mari kita perbesar jumlah orang kreatif. Mari menulis. Eh, membuat video?

Topik Tulisan di Blog

Bolak-balik saya menuliskan tentang hal ini, (mencari) topik tulisan di blog. Tadi pagi ketika presentasi saya juga bercerita tentang program (skrip perl) yang saya buat untuk menghasilkan topik (topic generator). Sebetulnya program ini memilih secara random data topik yang saya simpan di dalam database. Jadi sesungguhnya topik-topik tersebut sudah saya buat duluan. ha ha ha.

Rencana saya adalah tiap hari melakukan brainstorming sendiri, mencari topik tulisan dan memasukkannya ke dalam database tersebut. Ternyata ini tidak kejadian. Update database tersebut mungkin saya lakukan beberapa bulan sekali dengan memasukkan beberapa topik sekaligus. Jadi sifatnya batch tidak rutin. Ini buruk.

Ada ide juga untuk membuat sistem yang online, mengajak Anda untuk memasukkan topik ke dalam database tersebut. Tidak susah membuat aplikasi online ini, tetapi ini membutuhkan waktu, yang mana saya justru waktu senggang ini yang tidak saya miliki. Nah, bagaimana jika Anda-Anda menyumbangkan topik-topik tersebut melalui komentar di tulisan ini saja? Jika ada 365 komentar usulan topik, maka itu topik-topik ini bisa digunakan untuk menulis blog selama satu tahun. ha ha ha.

Saya mulai dengan beberapa usulan topik untuk tulisan di blog Anda. Ini dia.

  1. Jika Anda menjadi seekor binatang, binatang apakah Anda? Ceritakan tentang mengapa Anda memilih binatang itu. (Ternyata untuk menjawab ini tidak gampang ya? Jangan-jangan gara-gara sulit untuk menjawab pertanyaan ini maka Anda tidak menulis di blog. ha ha ha. Harus buat topik yang lebih gampang.)
  2. Ceritakan salah satu pengalaman lucu atau aneh yang Anda alami ketika Anda masih sekolah SD. (Saya punya banyak cerita. Salah satunya adalah di SD saya dahulu, kami tiap hari upacara. Bukan hanya hari Senin saja, tapi betul-betul *TIAP HARI*. Tapi seingat saya, itu tidak masalah kok. Tidak menjadi sesuatu yang memberatkan. Hasilnya, kami lebih disiplin.)
  3. Ceritakan tentang salah satu kejadian yang memalukan bagi Anda. (Ini pasti banyak, tapi mosok hal-hal yang memalukan diceritakan di blog??? No way! Next topik! hi hi hi)
  4. … [nanti saya tambahkan lagi]

Nah, sekarang giliran Anda untuk menyumbangkan usulan topik-topik. Mari kita lihat apakah tulisan ini bisa meghasilkan komentar-komentar dengan total topik sampai 365 topik.

Mencari Topik Itu Gampang

Salah satu alasan yang paling banyak digunakan untuk tidak menulis blog adalah kesulitan mencari topik. Bagi saya ini justru yang paling gampang. Yang paling susah adalah mencari waktu untuk menulisnya itu lho.

Untuk membuktikan bahwa mencari topik itu gampang, coba jawab pertanyaan berikut:

  • sebutkan gambar (image) yang ada di pikiran Anda saat ini;
  • apakah Anda mudik (karena 2 hari lagi Lebaran) dan kalau tidak, mengapa?
  • adakah hal yang aneh-aneh atau menarik dalam Lebaran (atau mudik) kali ini?

Ada banyak pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kemudian dapat dijadikan topik tulisan blog. Sebagai contoh, dari tadi pagi saya masih tetap terbayang gambar yang ada di halaman Google. Ini gambarnya.

mudik-2016-5638818859319296-hp

Ternyata Google mengetahui bahwa orang Indonesia sedang sibuk-sibuknya terima bingkisan (parcel) dan juga mudik. hi hi hi. Lucu juga. Google tahu bahwa banyak orang Indonesia yang menjadi pengguna internet – dan tentunya pengguna Google juga. Makanya mereka membuat gambar ini.

Nah, ini hanya salah satu contoh untuk topik tulisan blog. hi hi hi. (Sekarang lagi musim buat tulisan yang isinya adalah CONTOH, seperti contoh undangan berbuka puasa. he he he.)

Yang menjadi masalah adalah bukan mencari topiknya, tetapi menceritakannya. Story telling. Yang ini masalah terpisah. Komentar singkat saya terhadap hal ini adalah banyak-banyak menulis saja. Lama kelamaan jadi kebiasaan bercerita dan mudah-mudahan makin menarik cara berceritanya.