Hilangnya Jiwa Petualang

Di kelas atau di presentasi-presentasi saya, sering saya tanyakan pertanyaan ini, “siapa yang mau ikutan Elon Musk pergi ke Mars“. Sedikit yang mengacungkan tangannya. Apalagi setelah saya berikan informasi tambahan, “dan kecil kemungkinan untuk bisa kembali ke bumi ini“. Langsung hilang itu acungan tangan. Ha ha ha. Demikianlah nyali yang ada.

Kalau saya masih muda, saya akan tetap mengacungkan tangan. Yes, I would do that. Menjadi pionir untuk umat manusia. Apa lagi yang lebih keren dari itu?

Jiwa petualang jaman sekarang sudah tidak ada lagi.

Definisi Sehat

Menurut Anda, apa definisi “sehat”?

Sehat menurut saya adalah kalau dapat makan (rasanya enak) dan lancar buang air (kecil dan besar). Mengapa definisinya seperti ini? Kalau kita sakit, maka makan rasanya tidak enak. Males mau makan. Mulut tidak enak. Perut tidak enak. Pokoknya males aja makan. Padahal kalau kita tidak makan, maka kita kekurangan energi dan malah susah untuk (recover) sembuh. Makan enak itu tidak harus mahal dan susah. Bagi saya, nasi sama telor ceplok pun sudah enak banget. Apalagi indomie … ha ha ha.

Soal buang air lancar itu juga mirip jawabannya. Ini saya melihat kucing yang sedang sakit. Indikasinya, tidak mau makan dan buang air besarnya tidak bagus; cair atau mencret. Kasihan melihatnya. Demikian pula dengan orang. Ketika kita sehat, hal ini tidak terpikirkan. Ketika kita sakit, ini merupakan siksaan tambahan.

Maka beruntunglah jika kita masih dapat makan (dan merasa enak) serta dapat buang air dengan lancar. Harus sering-sering bersyukur.

Mr. GBT

Waktunya menghidupkan kembali Mr. GBT. Apa itu? Nah, silahkan lihat blog saya yang pernah kondang di gbt.blogspot.com. Ini blog pertama saya. (Rasanya? Sebelum ini apa saya sudah punya blog lagi ya? Rasanya tidak.)

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya secara tidak sengaja sekelebat saya melihat foto 10 blog terbaik Indonesia versi majalah Tempo. Lagi-lagi kalau tidak salah ini tahun 2005. Saya ada di daftar itu di urutan ke-4 dengan blog GBT itu. GBT itu singkatan dari Gerakan Bawah Tanah. Nah, ini ceritanya lebih panjang lagi. Bisa dijadikan satu tulisan tersendiri atau satu video tersendiri. Nanti lah. Intinya saya jadi ingin menulis lagi di sana.

Dahulu saya pindah ke wordpress ini karena UI/UX-nya lebih enakeun. Terus statistiknya juga sangat bagus. Jadi saja, saya mulai rajin menulis di sini dan melupakan yang di sana. Sebetulnya saya sudah mulai memisahkan jenis tulisan di sini dan di GBT. Di sini cerita dalam bahasa Indonesia dan di sana cerita dalam bahasa Inggris. Sebetulnya yang bahasa Inggris, saya sudah memulai juga di Medium.com. Medium ini enakeun juga lho. Jadi yang di Blogspot ini bakalan punya tantangan juga. Repot juga kalau harus nulis di dua tempat dengan cerita yang sama.

Anyway. Sekarang saya mau nulis di gbt.blogspot.com dulu ah. Selamat datang kembali, Mr. GBT.

Antrian Tulisan

Ada banyak topik dalam antrian tulisan saya, tetapi nampaknya antrian ini malah makin bertambah bukan makin berkurang. Pasalnya sekarang saya lebih suka membuat video dan memasangnya di channel YouTube saya. Bukan karena apa-apa, tapi ternyata membuat video lebih mudah bagi saya. Tinggal shoot (tanpa retak), potong depan dan belakangnya. Upload. Selesai.

Sebetulnya ada banyak yang masih harus saya tuliskan karena di video masih banyak yang tertinggal. Saya tidak bisa bercerita lama di video. Itupun sudah lama (belasan menit dari target 5 menitan). Maka seharusnya detail dari apa yang saya ceritakan tersebut bisa dituliskan di sini. Ya itu tadi, masalahnya topik-topik tersebut masuk ke dalam antarian juga. Jadinya akan lambat keluarnya.

Mungkin saya harus memulai kembali menuliskan topik-topik tersebut, meskipun sedikit. Toh nanti tulisan-tulisan ini dapat disunting ulang. Video susah untuk disunting lagi. Hanya saja, saya jarang menyunting ulang tulisan. Sama seperti di video. Sekali tulis, ya sudah.

Kembali ke laptop dulu. Semoga ada paksaan saya untuk lebih banyak menulis lagi.

Bugar Setelah Mandi

Salah satu tips bekerja di rumah dari saya adalah mandi sebelum bekerja. Biarpun di rumah, mandi dulu lah. Ini membuat kita segar dan bersemangat untuk bekerja.

Hari ini saya merasa kurang fit. Agak lemas. Dan memang semalam perut agak berontak. Puasa saat ini merupakan tantangan besar bagi saya. Setelah istirahat sejenak, saya memulai hari dengan mandi dulu. Segar. Semoga badan menjadi lebih fit lagi. Setidaknya, semangatnya sudah naik dahulu. Yihaaa…

Bagi saya, mandi membuat badan segar dan meningkatkan semangat. Jika saya ke Jakarta menggunakan kereta api dan kembali ke Bandung menggunakan kereta api lagi, saya mandi dulu di stasiun Gambir. Ada tempat mandi yang lumayan bagus. Bayar Rp. 75 ribu sih, tapi ini membuat saya segar kembali. Naik kereta api menuju Bandung tinggal tidur di kereta api. Segar.

Tapi ini kan opini saya. Ada banyak orang – malah mungkin lebih banyak – yang tidak suka mandi. Ha ha ha. Bagi mereka, mandi adalah hukuman. Oh well.

Kacamata Baca

Pas lagi seru-serunya mengurung diri di rumah – work from home, bekerja dari rumah – kacamata baca patah. Ini sudah yang kesekian kalinya. Maklum kacamata baca biasanya saya beli di depan masjid setelah selesai Jum’atan. (Pertanyaan: kenapa ya selalu ada yang jualan kacamata di emperan masjid setelah habis jumatan?)

Harga kacamata baca di emperan gini murah meriah, mulai dari Rp. 25 ribu sampai Rp. 50 ribu. Kalau beli di toko (yang bukan toko kacamata) harganya sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 75 ribu. Kalau di optik, kacamata yang beneran ya harganya mahal. Saya pernah punya yang harganya Rp. 1 juta. Memang rasa dan kualitasnya beda. Ada harga, ada kualitas.

Saya dapat membeli kacamata baca dimana saja ini karena kemungkinan mata saya tidak ada silindris. Jadi tinggal dikonversi saja dengan usia. Saya tinggal sebutkan usia, penjualnya sudah tahu rentang ukuran kacamatanya. Sekarang saya menggunakan plus 2. Anda bisa menduga usia saya. Ha ha ha.

Karena sekarang sedang ada wabah virus corona, maka orang-orang diharapkan tetap tinggal di rumah. Jum’atan pun diharapkan tidak dilakukan di masjid dan dilakukan di rumah (dengan menggantinya menjadi shalat Dzuhur). Maka alternatif saya adalah mencari kacamata di toko seperti Borma atau Ace hardware. Tapi ya itu tadi, kalau boleh tidak bepergian lebih baik tidak pergi.

Belanja online! Ini adalah alternatif yang menarik. Maka mulailah kami melihat di berbagai situs online. Maka ketemu yang jualan kacamata baca yang harganya Rp. 22 ribu. Penjualnya kebetulan di Lembang. Jadi langsung kami pesan. Waktu itu weekend sehingga tidak dikirim dengan segera. Senin hari kacamata datang. Kami pesan tiga buah. Langsung saya cuci dengan sabun.

Kacamata baca murah meriah

Pagi ini saya coba. Hasilnya oke lah. Sesuai dengan harapan saya, yaitu tidak terlalu tinggi. Selama kacamata ini dapat dipakai dan dapat bertahan lebih dari sebulan, dia sudah bagus. Ini sama dengan kacamata yang biasanya saya beli di depan masjid. Jadi saya senang.

Kesimpulannya adalah … direkomendasikan. Recommended.

Semakin Sibuk

Dengan adanya kasus virus corona ini, banyak orang yang harus bekerja dari rumah (work from home). Banyak orang yang sudah mulai bosan berada di rumah karena tidak ada lagi yang dapat dikerjakan. Sementara itu saya malah kebalikannya. Semakin banyak kerjaan. Semakin sibuk.

Kalau dahulu ada banyak kerjaan yang membutuhkan saya hadir di sebuah tempat, misalnya untuk rapat ini dan itu. Seringkali saya tidak dapat ikutan dengan alasan saya tidak ada di tempat atau saya sedang berada jauh dari tempat rapat tersebut. Nah sekarang saya tidak punya alasan itu lagi. Semua rapat dilakukan secara online (daring). Jadi alasan saya yang dahulu, batasan fisik, tidak dapat digunakan. Saya harus cari alasan lain, misalnya internet lambat?

Ada statistik yang mengatakan bahwa kalau dahulu bekerja adalah 9 jam sehari sekarang – di tengah-tengah kasus virus corona – malah jadi 11 jam/hari. Hadoh. Nampaknya ini yang terjadi dengan saya. Jadi tambah sibuk.

Ada banyak hal yang menarik yang ingin saya tuliskan di blog ini, tetapi masalahnya adalah tidak sempat. Nampaknya justru alasan ini malah dapat saya gunakan untuk (tidak menulis di) blog ini. Ha.

Kebanjiran Informasi

Salah satu masalah – di antara banyak masalah lainnya – pada masa kini adalah kebanjiran informasi. Saat ini setiap orang ingin meneruskan (forward, share) informasi-informasi yang terkait dengan virus korona dan penyakit yang terkait (corona virus, covid-19). Di setiap media sosial dan terutama group WA (WhatsApp) ada banyak informasi.

Ada beberapa group WA yang ketika saya membuka handphone terlihat lebih dari 300 pesan yang belum terbaca. Sebetulnya mungkin lebih dari 500 pesan. Saya buka group WA tersebut, bukan untuk membaca, tetapi untuk scroll sampai di akhir group supaya semua pesan ditandai sudah dibaca kemudian saya keluar. Sejam kemudian saya buka handphone lagi dan ada 300 pesan lagi yang belum dibaca dari group tersebut. Ini baru satu group WA. Bayangkan saya (dan Anda) masuk ke banyak group WA.

Idenya memang baik. Semua ingin berbagi informasi. Sayangnya informasi tersebut tidak disaring dengan baik. Begitu dapat sebuah informasi / pesan, langsung diteruskan ke berbagai group. Boleh jadi di group tersebut sudah ada pesan yang sama. Anggota dari group tersebut kemungkinan besar juga sudah mendapatkan pesan yang sama dari group-group lainnya.

Banjir informasi. Banjir, banjir, banjir. Yang namanya banjir tidak ada yang bagus.

Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari berbagai group WA yang terlalu banyak memberikan pesan. Toh tidak manfaat juga bagi saya karena tidak saya baca pesan-pesannya.

Bagi Anda yang ingin berbagi pesan, sebaiknya tahan dulu satu atau dua hari (bahkan kalau pakem saya sih tunggu 3 hari) sebelum meneruskan pesan tersebut. Selektiflah dalam berbagi,

Duduk Mengajar

Dikarenakan wabah virus corona, maka perkuliahan di ITB (dan dimana-mana) terpaksa harus dilakukan secara daring (online). Saya sendiri sebetulnya sudah terbiasa mengajar kelas secara online. Ada kelas saya yang dilakukan di dua tempat bersamaan; di kampus Ganesha (ITB) dan di kampus ITB yang di Jatinangor. Ada kelas yang dilakukan secara online tetapi tidak real-time, dalam artian saya tidak langsung mengajar pada saat yang besamaan, misalnya yang di IndonesiaX. Ada juga kelas yang memang benar-benar saya lakukan secara menyeluruh online seperti yang saya lakukan di President University. Ada juga channel YouTube, tetapi ini cerita yang berbeda. Intinya, mengajar online bukan hal yang baru bagi saya, Hanya kali ini sedikit berbeda karena semua kegiatan ajar-mengajar dilakukan secara online.

Ternyata salah satu hal yang melelahkan bagi saya adalah duduk mengajar. Kalau di kelas biasa, kelas tatap muka secara fisik, saya biasanya mengajar sambil berdiri dan berjalan di depan kelas. Melakukan ini juga melelahkan, tetapi ternyata duduk itu lebih membuat badan ini pegal-pegal. Sebelum tulisan ini ditulis, saya baru beres mengajar dua kelas dan melakukan satu rapat secara online. Terus menerus dari pukul 9 pagi sampai pukul 15 sore. Bayangkan. Ternyata pegel linux juga. Ha ha ha.

Situasi ketika mengajar online

Kursi yang saya gunakan sudah cukup bagus. Bagus. Jadi ini bukan salah kursinya, tetapi memang bekerja secara online itu tetap melelahkan. Hmm. Mungkin saya yang salah. Mungkin seharusnya cara saya mengajar online-pun harus saya lakukan dengan berdiri ya? Hmmm. Nampaknya saya akan mencoba ini. Saya harus membuat dudukan untuk webcam yang lebih fleksibel. Akan dicoba di skedul kelas berikutnya. Sementara itu, sekarang saya mau istirahat dulu. Nonton TV (dokumenter) dulu ah.

Dan Terjadi Lagi

Pukul 2 pagi. Seharusnya orang sudah tertidur, ini malah terjaga. Ada banyak ide yang ingin dikerjakan dan ada banyak lagi yang harusnya dikerjakan. Kalau ide tulisan ingin dikerjakan, maka bisa sampai pagi nulisnya. Padahal pagi harus mengajar. Lantas saya harus bagaimana? Melepaskan ide itu (lagi)?

Mengejar Belajar

Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka ingin (ikut) belajar ini dan itu. Ketika saya mengatakan bahwa saya memberikan pelajaran ini dan itu (dan itu terbuka untuk umum), banyak yang bilang ingin ikutan. Hampir semua hanya sekedar bicara saja, tetapi tidak ada aksinya. Jadi kalau ada yang bilang, pak saya ingin ikutan ini dan itu, saya hanya tertawa. Yeah, right.

Belajar itu susah. Belajar itu mahal. Belajar itu membutuhkan waktu. Belajar itu membutuhkan usaha. Masih ada hambatan lain (lebih tepatnya alasan) dalam berusaha untuk (tidak) belajar. Ini baru pada tahap berusahanya dulu lho, belum sampai pada hasilnya.

Ketika ada orang yang hebat, maka saya kejar mereka untuk belajar. Saya satroni. Saya sisihkan waktu saya untuk mendatangi yang bersangkutan. Alasan-asalan saya tebas, hanya untuk memastikan bahwa saya bisa belajar.

Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu saya mengundang beberapa orang yang jagoan dalam bidang perkopian (dalam artian mereka memiliki usaha di bidang tersebut) dan beberapa orang penggemar kopi. Tujuannya adalah untuk berdiskusi soal alat kopi. Kali ini memang topik utamanya adalah itu, meskipun pada kenyataannya ada banyak topik yang dibicarakan. Alhamdulillah ada banyak yang datang. Ini foto sebagian yang datang.

Bandung Connection: Coffee moguls in Bandung

Saya senang sekali dapat belajar ke mereka. Luar biasa ilmu-ilmunya.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika ingin belajar, ya harus mau usaha. Harus dikejar. Itu saja. Sebagian besar orang, tidak mau usaha.

Saya dan Rush

Ceritanya setelah lulus dari ITB, saya gamang tentang apa yang mau saya lakukan. Saya ingin sekolah di luar negeri. Tiba-tiba ada tawaran sekolah S2 di Kanada. Tentu saja saya tertarik. Saya tanya, apa syaratnya? Tinggal tanda tangan saja. Ah, lebih menarik lagi. Ha ha ha.

Sebelum penentuan, saya diwawancara dahulu. Salah satu pertanyaannya adalah, “apa yang Anda ketahui tentang Kanada”? Nah … Hayo. Kalau Anda ditanya dengan pertanyaan tersebut, jawabannya apa?

Saya tidak tahu banyak soal Kanada. Setelah berpikir sejenak, saya jawab “RUSH”. Ha ha ha. Bagi yang belum tahu, Rush adalah group band musik (keras) dari Kanada. Ini adalah salah satu supergroup. Ketika masih SMA, ini adalah salah satu grup favorit saya.

Yang mewawancara mesem dan tertawa. You’re accepted katanya. Ha ha ha. Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain dan mestinya jawaban saya oke juga sehingga saya diterima, tetapi dalam benak saya ini adalah jawaban yang membuat saya diterima di Kanada. Rush got me into Canada.

Akhirnya saya tinggal di Kanada; sekolah dan bekerja. Yang tadinya berencana tinggal hanya 2 tahun akhirnya menjadi 10 tahun lebih (mendekati 11 tahun). Alhamdulillah.

Terima kasih Rush.

Tulisan ini saya buat dalam rangka untuk mengenang Neil Peart, drummer Rush yang baru meninggal kemarin. May you rest in peace, professor. Neil Peart adalah dummer pilihan drummers. Demikian hebatnya dia. Itulah sebabnya dia mendapat julukan the Professor.

Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Perayaan Tahun Baru Dengan Tidur

Mungkin saya termasuk minoritas, yaitu orang yang jarang merayakan hari ini itu. Bahkan untuk ulang tahunpun dirayakan dengan biasa saja. Ya mungkin ada makanan yang lebih dari biasanya saja. Hal ini saya lakukan bukan karena dogma ini dan itu, tetapi ya karena saya merasa seperti ganti hari biasa saja. Ha ha ha.

Perubahan tahun baru juga merupakan hal yang “biasa” bagi saya. Tahun baru sebelum-sebelumnya ada yang kami lewati dengan bermain (game board), kumpul-kumpul keluarga (BBQ), atau lebih seringnya adalah … tidur seperti biasa. Ha ha ha. Seingat saya, tahun lalu juga saya lewati dengan tidur seperti biasa. Maka tahun ini, kelihatannya juga mau saya lewatkan dengan tidur saja. Atau mau baca buku? Atau main game?