Masih Sibuk

Hadoh. Bagaimana ini ya? Saya kira kesibukan akan mereda. Eh, ternyata tidak. Padahal bulan Ramadhan sudah berjalan 1/2 bulan. Menjelang lebaranpun masih tetap sibuk.

Saat ini setidaknya ada 5 mahasiswa S2 bimbingan saya yang mau sidang minggu depan. Makanya banyak yang bimbingan. hi hi hi. Okelah. Selain itu ternyata ada banyak kerjaan lain yang juga meningkat. Padahal kelas-kelas juga sudah selesai (tinggal perbaikan tugas-tugas yang belum berhasil saya periksa semuanya). Wogh.

Semangat!

Warisan

Ternyata lagi heboh soal “warisan”. Maksudnya soal tulisan tentang warisan agama itu. Saya mah nyantai saja. ha ha ha. Bayangkan begini.

Jika, misalnya (ini misalnya lho), Anda mendapat warisan 3 milyar Rupiah. Kalau Anda diberitahu bahwa Anda dapat warisan 3 milyar, bagaimana sikap Anda? Kalau saya sih akan senang dan berkata … Amiiin … eh, Alhamdulillah. hi hi hi …

Sama lah dengan warisan agama. Ya, Alhamdulillah jugalah. hi hi hi …

Tentu saja berusaha sendiri lebih baik. Sudahkah kita berusaha?

#selalupositif

[mau nulis yang panjang-panjang, tidak ada yang baca. lagian, ini lagi bulan puasa. alasan, yang tidak nyambung tapi original.]

Ramadhan Yang Tetap Sibuk

Kuliah sudah selesai. Tadinya saya pikir kegiatan akan berkurang. Pas masuk bulan Ramadhan pula. Cocoklah. Eh, ternyata kegiatan tidak berhenti. ha ha ha.

Kemarin saja saya memberikan presentasi (terkait dengan entrepreneurship), meeting, meeting, dan meeting. Tahu-tahu sudah hampir buka saja. Enaknya sih jadi tidak terasa berat puasanya, tetapi di sisi lain badan terasa banget capeknya.

Yang penting tetap semangat. Semangat!

Tidak Membalas Komentar

Secara umum, kebijakan saya di blog ini dari dahulu sampai sekarang masih tetap sama: “tidak membalas komentar“. Padahal kalau membalas komentar, maka akan lebih banyak interaksi dan lebih menarik. Nilai blognya lebih tinggi. Tetapi saya masih tetap bertahan dengan pakem itu. Mengapa?

Kalau saya membalas semua komentar, maka habis deh waktu saya hanya untuk membalas komentar-komentar. Banyak komentar yang dapat dibalas oleh pembaca lainnya. Ini juga untuk menunjukkan bahwa saya bukan serba tahu.

Tentu saja ada pengecualian. Ada komentar-komentar yang memang membutuhkan jawaban yang dapat bermanfaat bagi pembaca lainnya. Sementara itu belum ada orang yang menuliskan balasan itu. Nah, untuk hal-hal semacam ini biasanya saya membalas komentar.

Di lingkungan media sosial, hal ini lebih relevan lagi. Tidak semua komentar di media sosial pantas untuk ditanggapi. Ada orang yang menulis komentar secara sembarangan. Marah-marah pula. Kalau ditanggapi, tambah marah-marah. Apalagi kalau dia kita kritik. Banyak orang yang mengkritik, tetapi tidak mau (tidak siap) dikritik. ha ha ha. Tidak ada pelajaran positif yang dapat diambil dari hal ini. Lebih baik diamkan saja. Tidak usah ditanggapi komentarnya.

Oh ya, saya membaca (hampir) semua komentar di blog ini.

Hindari Kebiasaan Mencela

Salah satu biang keributan adalah mencela seseorang. Orang yang dicela tidak terima dan balik mencela. Cela-mencela. Akhirnya jadi baku hantam. Atau, setidaknya berkelahi di media sosial. Kebencian ini juga akhirnya terbawa ke dunia nyata.

Kalau dicari-cari, pasti setiap orang memiliki kelemahan dan kesalahan. Namanya juga manusia. Bukan malaikat. Maka apa hebatnya mencela? Kalau monyet bisa bicara, mungkin mereka akan menertawakan kita karena kebisaan kita hanya mencela. (Kalau pandai memanjat pohon, mungkin monyet akan kagum. he he he.)

Dari kebiasaan muncul kebudayaan. Akan sangat menyedihkan kalau yang dikenal orang dari budaya Indonesia adalah budaya mencela. Banyak bangsa yang menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Nah, kita mosok hanya menghasilkan kebudayaan mencela. Ini juga nanti tercatat lho seperti halnya kebudayaan bangsa jaman dahulu yang tercatat dalam artifak-artifak sejarah; prasasti, candi, dan bahkan dalamĀ  landmark-landmark. Malu ah.

Hentikan kebiasaan mencela!

Kalau ada yang mencela atau mengajak kita mencela atau bahkan sekedar mengajak kita tertawa dalam celaannya, tinggalkan. Tidak lucu.

Hobby Membaca

Dalam sebuah wawancara, terjadi ini. Ini bukan rekayasa, tetapi kejadian sebenarnya. Swear.

Tanya (kami): “Hobby apa?”
Jawab: Membaca.
Tanya: Oh ya? Membaca apa?
Jawab: Buku. Fiksi.
Tanya: Contoh buku yang dibaca apa?
Jawab: Harry Potter [terus terdiam, seolah khawatir kami tidak dapat mengikuti jawabannya]
Tanya: Coba ceritakan secara singkat, inti ceritanya bagaimana.
Jawab: … [agak ragu-ragu]
Penanya: Jangan ragu, kami juga hobby membaca kok.
Jawab: … [masih ragu] …

Ha ha ha. Salah dia mengatakan hobbynya membaca. Lah, kami-kami ini hobbynya membaca. Bahkan mungkin lebih gila membacanya daripada dia. Yang Harry Potter-pun kami baca dalam Bahasa Inggris-nya. Belum tahu dia jenis dan jumlah bacaan kami. Ha ha ha.

Tanya: Sudah baca Tolkien?
Jawab: … [agak bingung]. Belum

Nah. Dicukupkan pertanyaannya. Tadinya mau bertanya siapa pengarang favoritnya. Adakah yang kekinian? Semacam Neal Stephenson, gitu. [Kembali membaca ah.]

Kesibukan minggu lalu

Lagi-lagi ini tulisan telat. Beberapa hari terakhir ini saya lagi dalam mode super sibuk. Sebetulnya ada kalanya tidak sibuk, tetapi tidak ada akses internet. Sebagai contoh, weekend kemarin saya mengikuti acara family gathering dari group perusahaan dan komunitas kami (PT INDO CISC, PT Insan Infonesia, dan ID-CERT).

17492803_10154407197431526_7747805738232681797_o

Acara itu berlangsung di Villa Bougenvile Lembang. Saya tidak membawa notebook karena memang tujuannya adalah untuk bersenang-senang. hi hi hi. Jadinya kondisi seperti itu saya tidak ngeblok.

Sebetulnya ada banyak cerita seru yang bisa saya tuliskan tentang acara itu juga. Acaranya seru banget; mulai dari fun games, hiking, ngamen, off road, dan berendan di Maribaya. Foto-fotonya juga banyak sekali.

Eh, begitu selesai acara itu langsung dilanda kesibukan. hi hi hi. Jadi aja susah ngeblog lagi.