Tag Archives: Curhat

Mengambil Tanggungjawab

Kemarin saya bercerita tentang apa-apa yang saya lakukan di dunia internet Indonesia, seperti mengelola nama domain .ID, mendirikan ID-CERT, dan seterusnya. Saya melakukan hal ini bukan karena ingin mencari popularitas, tetapi karena harus melakukannya. Somebody has to do it.

Ini adalah masalah mengambil tanggungjawab. Take responsibility.

Banyak orang yang memang tidak mampu atau tidak mau mengambil tanggung jawab. Ada yang merasa bahwa tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka sangat berat. Ha ha ha. Kalau saya jabarkan apa-apa saja yang saya lakukan maka mungkin baru sadar mereka. (Kadang memang ada yang bertanya kepada saya bagaimana saya membagi waktu dan perhatian untuk ini.) Saya sendiri sering melihat contoh orang-orang (yang tidak terkenal) tetapi menanggung tanggungjawab yang luar biasa. I am nothing compared to them. Akibatnya saya tidak menjadi cengeng soal tanggungjawab ini.

Kadang tanggungjawab yang diambil ini terlihat ringan atau cemen, sehingga tidak ada yang mau mengambil tanggungjawab ini. hi hi hi.

Terus yang serunya adalah setelah “sukses” maka banyak muncul “pahlawan kesiangan” yang kemudian mengambil sorotan lampu di panggung. Take the spotlight. Atau juga kemudian ada yang mengambil keuntungan dari ini semua. Untuk hal ini, saya biarkan saja. Toh saya melakukannya bukan karena ingin terkenal atau karena ingin kaya. Saya melakukannya karena memang harus dilakukan. Itu saja.

Tulisan ini untuk memberi semangat kepada anak-anak muda untuk berani mengambil tanggungjawab. Mari kita belajar bersama.


Sydney

Pesawat mendarat di Sydney pagi hari. Smooth. Pilotnya jagoan euy. Garuda gitu lho. Airport Sydney okay. Tidak terlalu besar. Langsung menuju ke imigrasi dan berjalan sangat lancar. Mungkin karena masih pagi sehingga masih sepi dan orang-orangnya masih semangat. Positif.

Langkah pertama tentunya adalah mencari kartu telepon lokal. Ada dua booth, Vodafone dan Optus. Saya ambil ngasal saja, Vodafone. Saya pilih yang $30 dengan paket data 5 GB. Cukuplah untuk seminggu di Australia. Eh, ternyata dia juga bisa digunakan menelepon ke internasional gratis selama beberapa (banyak) menit. Mahal dibandingkan dengan telepon di Indonesia, tapi daripada menggunakan operator Indonesia di sini. Bisa bangkrut.

Langkah kedua adalah tukar uang. Kurs di airport ini tidak terlalu bagus. Seharusnya saya menukarkan uang di Bali kemarin. Di Bali bisa dapat Rp. 10.000,-. Di sini Rp. 11.400,-. Apa boleh buat. Tukar juga tidak banyak kok. Supaya cukup untuk naik bis dan sejenisnya.

Nah, sekarang bagaimana ke hotel. Hotel saya berada di dekat Central Railway Station. Dipilih di daerah itu karena besoknya harus naik bis ke Canberra yang lokasinya dekat di sana. Ada transport (semacam shuttle) dari airport ke hotel di daerah sana, AUS $22. Kalau taksi pasti mahal lah. Akhirnya saya pilih naik kereta saja (mirip dengan MRT di Singapura). Harus beli kartu dulu. Namanya Opal. Mau diisi berapa ya kartunya? Dari airport ke Central Station itu sekitar $16. Saya disarankan beli yang $30 karena bisa dipakai kemana-mana. Saya pikir bagus juga untuk menjelajah kota. Itu yang saya pilih. (Hadoh keluar uang lagi.)

Naik kereta menuju Central Station. Lumayan juga keretanya. (foto menyusul.) Sampai di Central Station saya langsung jalan menuju hotel. Eh, ternyata jauuuh juga. Sambil dorong atau tarik koper ini lho. Lupa berapa menit. 20 menit mungkin? Pokoknya sampai lah ke hotel yang lebih mirip motel. Eh, ternyata saya belum bisa check in juga. Kepagian. Ya sudah. Saya tinggal koper di sana dan saya jalan-jalan dulu.

Akhirnya saya jalan lagi ke Central Station. (Di kota ini saya akhirnya banyak jalan.) Kemana? Hmm … cari yang ke arah Opera House saja. Tujuannya adalah Circle Quay. Okay. Desain / denah dari stasiun keretanya membingungkan. Lebih jelas MRT di Singapura. (Atau karena sudah sering saja?) Naik kereta menuju Circle Quay.

Sampai di sana. Masih pagi dan mendung. Hadoh. Jalan dulu ah ke Opera House. Potret-potret dulu. Bosen. Akhirnya saya memilih duduk di cafe shop. Ngopi dulu. Kopi di Australia ini enak banget. Koreksi! Kopinya sebetulnya biasa saja, tetapi susunya yang luar biasa. Mantap. Saya pesan flat white. Di Australia ini saya selalu pesan flat white. Saya pernah coba kopi hitamnya, enakan di Bandung. hi hi hi.

p_20160914_103411-coffee-sydney-0001

Kopi dengan latar belakang Opera House, Sydney

Akhirnya saya habiskan waktu di Sydney untuk jalan-jalan. Siang saya kembali menuju hotel untuk check in. Di tengah perjalanan saya beli kebab dulu. (Halal!) Harganya lumayan mahal, $9.50. Kalau di Indonesiakan mungkin Rp. 100 ribu. Hadoh. Jangan dipikir Indonesianya. Ternyata ukurannya raksasa. Bisa dipakai dua kali makan. ha ha ha. Sampai di hotel, sudah bisa masuk ke kamar. Eh, ternyata kamar saya di lantai 3 dan tidak ada lift! Hadoh. Ngangkut koper deh.

Sampai di kamar, ternyata kamarnya sangat bersih! Yaaayyy. Penampilan dari luar memang tidak meyakinkan tapi tempat ini nyaman banget. Ukurannya juga besar. Makan kebab dulu sambil nonton tv. Setelah itu mau istirahat. Sore mau jalan lagi.

Yang aneh. Di Australia ini hotel itu (dan hotel yang sekarang saya tinggali di Canberra) tidak menyediakan sikat gigi. Hmmm… Untung saya bawa sikat gigi dan odol sendiri. Jadi tidak masalah. Kalau tidak bawa, repot juga.

Cerita lainnya (dan foto-foto) menyusul. Tulisan ini dibuat sambil keluar dari acara seminar. hi hi hi. Harus memaksakan diri untuk ngeblog memang.


Perjalanan …

Ini adalah cerita singkat perjalanan yang sedang saya lakukan menuju Australia. Perjalanan masih berlangsung. Ini saya tuliskan supaya tidak lupa saja (dan sudah malas menulisnya).

Malam sebelum keberangkatan siap-siap untuk melakukan web checkin. Eh, tidak bisa. Setelah bolak-bolak mencari informasi dan kontak Garuda, akhirnya saya tetap harus menunggu kabar dari travel agent. Kodenya ada di travel agent dan ternyata yang tiket yang terkirim ke saya adalah tiket yang lama. Pagi-pagi checkin, lancar. Alhamdulillah.

Pesawat terbang dari Bandung menuju Denpasar untuk transit dahulu sebelum diteruskan ke Sydney. Eh, ternyata pesawat tidak dapat mendarat di Denpasar karena cuaca yang buruk. Setelah menunggu (dan muter-muter di atas) selama 20 menit, akhirnya pesawat menuju Surabaya untuk diisi bahan bakarnya dulu. Mendarat. Isi bahan bakar. Berangkat lagi. Lancar. Alhamdulillah.

Semoga seterusnya lancar …


A Day in the Life

Saking sibuknya, sampai saya bolos ngeblog beberapa hari ini. (Wuih. Seminggu.) Ingin tahu kesibukan saya? Ini contohnya. Hari Kamis, 8 September 2016.

Hari itu, saya menjadi moderator di peluncuran “Connected Government Community“, yaitu sebuah portal untuk bertukar sesama penggiat atau pengamat eGovernment. Silahkan mendaftar di sana dan kita bisa langsung diskusi dan berbagi.

Acaranya dimulai pagi hari. Nah, saya berangkat dari Bandung pagi harinya. Karena khawatir kena macet, maka saya berangkat dari Bandung dengan mengendarai kendaraan sendiri pukul 3:30 pagi. Iya pagi sekali. (Bangunnya jam berapa coba?) Shalat Subuh dilakukan di rest area Km 42.

Sampai di Jakarta pukul 6:30 pagi. Jam segini belum banyak tempat yang buka (untuk sarapan). Jadinya saya ke McDonald’s Sarinah Thamrin. Sarapan di sana. (Foto sarapannya gak ada. Biasanya sih saya potret juga. hi hi hi.) Dari sana saya menuju tempat acara peluncuran di Bebek Bengil Menteng.

29561678755_40d5ef0f0d_o-0001

Talk show di peluncuran portal Connected Government Community

Setelah selesai acara dan makan siang, saya kembali menuju ke arah Sarinah. Sebetulnya ke jalan Sabang karena mau check in ke hotel dahulu. Mobil masih saya tinggal di Sarinah. Dari Bebek Bengil saya jalan kaki saja karena naik taksi terlalu dekat. Ojek juga ternyata gak ada. Setelah check in hotel, saya kembali menuju ke Sarinah untuk mengambil tas baju.

Sampai di Sarinah, kok haus. Ah, ke McDonald’s dulu aja beli minuman. Eh, begitu masuk terdengar nama saya dipanggil. Ternyata ada beberapa kawan yang tergabung dalam komunitas IoT (Internet of Things) Indonesia sedang berkumpul di sana. Langsung gabung jadinya.

p_20160908_142054_bf-iot

Sebetulnya saya janjian dengan kawan saya, Iman Fattah, untuk ngopi bersama. Saya dan Iman dulu menjalankan toko musik digital bersama. Selain itu kami juga punya selera musik yang aneh-aneh. he he he. Lagu-lagu karya Iman Fattah ada juga di Insan Music Store. Setelah kontak-kontakan, akhirnya Iman menuju coffee shop Excelso di sebelah. Jadinya saya ngopi dengan Iman.

28948378934_64593f1c46_o

Ngopi dengan Iman

Setelah dari sana saya baru masuk ke hotel. Setelah itu saya langsung ke Pacific Place karena janjian dengan mas Yockie Suryo Prayogo, sang maestro musik Indonesia. Lagi-lagi mau ngopi bersama. Akhirnya saya, mas Yockie, dan mbak Tiwie ketemuan di Coffee Bean di Pacific Place.

29480564971_6bebc42ae8_o

Ngopi dengan mas Yockie dan mbak Tiwie

Sebetulnya saya ke Pacific Place mau ke Hardrock Cafe. Ada cara Queen’s night, dan yang main adalah GOSS Band yang saya kenal lewat kang Diunk. Eh, ternyata sebelum ke sana ketemu dengan beberapa orang; mas Kadri, Once, Kelana. Akhirnya potret-potretan dulu dong.

28937799333_7920e93542_o

gerombolan apa ini?

Dari sana kami bersama menuju ke Hardrock Cafe. Nonton Queen’s night lah; Freddy for a day. Ini hari ulang tahun Freddy Mercury. Potretan dulu lagi dengan kang Diunk (Nur Sumintardja). Terima kasih, kang Diung, kami sudah diberi kesempatan ikutan nonton.

p_20160908_213648_bf-diunk

Yeah, yeah, yeah. Jreng!

Nonton acara Queen’s nightnya gak sempat sampai selesai karena saya besok paginya harus ke Bandung. Itu dari jam 3 pagi belum tidur. Jadi sekitar jam 11 malam saya balik ke hotel. Besok paginya, habis Subuh harus langsung menuju Bandung dan langsung menuju kelas di kampus ITB. Ngajar jam 8 pagi. hi hi hi.

Begitulah contoh kesibukan saya. Kali ini banyak ketemuan dengan orang-orang yang berhubungan dengan musik.

 

 


Haus Belajar

Saya adalah orang yang haus belajar. Belajar dan belajar lagi. Beneran serius ingin belajar. Kebanyakan orang yang mengatakan ingin belajar, tetapi sesungguhnya hanya ngomong saja. (Lip service.) Mereka hanya mau belajar kalau waktunya pas, kalau mereka sedang tidak sibuk, tidak berbayar, atau sejenisnya. Mereka tidak mau berusaha. Harus mau capek.

Ambil contoh. Ketika ada seseorang yang presentasi, saya memperhatikan. Kalau orang lain kebanyakan melihat dulu topiknya, kalau dirasa tidak sesuai dengan apa yang dia mau terus tidak mendengarkan. Sementara itu saya mencoba memperhatikan meskipun itu bukan bidang saya. Ini yang disebut belajar. Kalau sudah tahu, ya mungkin tidak belajar. Belajar itu kalau belum tahu. hi hi hi.

Dalam rapat (meeting) juga demikian. Biasanya kalau bukan topiknya, mereka kabur. Sementara saya mendengarkan. Belajar lagi.

Bagaimana dengan Anda?


Jangan Ingin Terkenal

Banyak orang yang melakukan sesuatu – apa saja, sekolah, kerja, bahkan menulis di blog – karena ingin terkenal. Tadi saya menemukan gambar ini di internet.

12672161_10156635370855411_1312928337569313377_o

Wah. Pas banget.

Kita melakukan sesuatu bukan karena ingin mendapat pujian. (Dalam bahasa Sunda, “pupujieun“.) Kita melakukannya karena memang ingin melakukannya. Seperti ilustrasi gambar di atas, kita ingin mendaki puncak gunung karena ingin meliha dunia. Bukan karena ingin dilihat oleh orang lain.

Itulah sebabnya saya sering menasihati anak-anak muda yang baru menjadi terkenal (mungkin karena karyanya atau presentasinya) untuk jangan sering-sering muncul di media. hi hi hi. Itu bakal menjadi distraction. Pengalih fokus kita. Akhirnya malah jadi sibuk dengan pencitraan.

Oh ya, banyak orang yang mengira saya menulis blog ini agar jadi terkenal. Salah. Sombongnya sih … saya sudah terkenal dulu, baru nulis blog. Ha ha ha. Anywaaayyy … Mari kita kembali ke topik.


Memotret Itu Gampang, Tapi

Dulunya memotret itu susah. Eh, sebetulnya tidak susah karena tinggal tekan tombol di kamera saja. Maksudnya susah itu karena pakai mikir dulu. Kalau dulu apa lagi, mikirnya harus lebih banyak karena harga film (klise) itu mahal. Sekali cekrek, film kepakai dan nanti kalau habis harus beli lagi. Belum lagi nanti ada biaya cetaknya. Sebelum menekan tombol potret itu harus berpikir panjang.

Sekarang, memotret itu gampang. Bahkan hampir semua handphone dilengkapi dengan kamera. Sekarang hasil potret disimpan dalam memori yang mudah untuk dihapus. Kalau ada hasil jepretan yang tidak disukai, tinggal hapus (delete). Selesai. Tempatnya kosong lagi dan dapat digantikan oleh foto yang lain. Harga memori juga semakin murah sehingga jumlah foto yang kita ambil juga lebih banyak.

Jadi semestinya tidak ada masalah dalam hal potret memotret lagi bukan? Eh, ternyata masih ada. Sekarang saya menghadapi masalah itu, yaitu … kebanyakan foto. Karena saking mudahnya untuk memotret, enteng saja kita jepret sana jepret sini. Hasilnya banyak sekali foto di dalam kamera atau handphone kita. Problem saya adalah memroses dan menyimpan foto-foto tersebut. Saya harus memilah-milah foto mana yang layak untuk disimpan dan mana yang tinggal hapus. Pada kenyataannya hampir semua saya simpan. Yang jelek sekalipun. Masalahnya adalah disk tempat penyimpanan foto menjadi cepat habis.

Foto-foto itu juga sekarang saya proses. Biasanya saya crop untuk membuatnya lebih bercerita. Bagian-bagian yang tidak perlu (noise) dihilangkan dari foto tersebut. Selain itu juga kontras warna, vignette, dan seterusnya dilakukan (ditambahkan) pada foto-foto tersebut. Yang ini membutuhkan (banyak) waktu. Justru ini masalah saya. Hadoh.