Sodori Buku

Saking capeknya, semalam malah saya tidak bisa tidur nyenyak. Paginya main bola dan dilanjutkan dengan pertemuan startup baru. Pokoknya capeklah. Siang sebetulnya sempat tertidur sebentar. Sorenya sudah ada tamu. Singkatnya sibuk juga Sabtu ini. Walhasil, malam hari capek dan malah tidak bisa tidur.

Solusi saya untuk situasi seperti ini tetap sama, sodori buku. Ambil beberapa buku yang agak tebal. Tidak ada yang spesifk dari buku-buku tersebut. Asal tebal saja. Letakkan di samping tempat tidur. Mending mana, tidur atau baca buku. Biasanya pilihannya jatuh ke … tidur. hi hi hi. Jadi buku-buku ini adalah obat tidur bagi saya.

DSC_7046 books_0001
buku-buku untuk memaksa tidur

 

 

Selamat membaca. Eh, selamat tidur …

Iklan

Kopi Pagi Ini

Pagi ini dibuka dengan kopi “baru” lagi. Maksudnya baru ini adalah bungkusannya yang baru, karena saya baru mendapatkan ini. Kopinya adalah Toraja. Ada dua bungkus yang saya dapatkan. Yang satu adalah Arabica, satunya Robusta. Saya bukan yang Arabica dahulu karena saya lebih suka yang Arabica.

DSC_6698 kopi_0001 Mari kita coba. Rasanya tentu saja “nendang” karena saya buat hitam pekat saja. Tanpa apa-apa.

DSC_6699 kopi_0001

Kopi sudah tersedia. Sekarang mau ngapain ya? Ngeblog sudah. Baca buku? Koding? Ngoprek IoT? Atau duduk-duduk di luar saja mumpung cuaca sangat indah di Minggu pagi ini.

DSC_6701 book_0001//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Ini buku soal hacking. hi hi hi. Baca lagi ah …

Koding Atau Buat Dokumentasi

Sekian lama saya tidak ngeblog itu ada alasannya. Saya lagi (kebanyakan) koding. Membuat kode program untuk berbagai hal, terutama untuk aplikasi Internet of Things (IoT). Tentu saja ada kegiatan-kegiatan lain yang harus saya lakukan (dan bahkan mungkin juga yang lebih dominan), tetapi kali ini saya ingin menyoroti masalah koding.

Salah satu masalah yang sering dikeluhkan terhadap para koder (programmer) adalah kuranganya dokumentasi dari kode yang mereka buat. Ini betul. Sebagai seorang koder, saya juga sering mengalami dilema. Di satu sisi saya ingin membuat dokumentasi, tetapi di sisi lain saya masih harus meneruskan kodingan. Kalau tadi beres satu bagian, maka masih ada bagian lain yang harus dikodekan. Belum lagi kode bagian sebelumnya juga masih harus dimodifikasi. Akibatnya, waktu malah digunakan untuk membuat kode baru dibandingkan dengan membuat dokumentasi.

Yang menjadi masalah adalah banyak hal yang harus didokumentasikan. Design decisions, misalnya. Mengapa saya melakukannya seperti itu di sebuah kode? Ada alasannya. Kalau tidak didokumentasikan, maka koder selanjutnya akan kesulitan untuk memahami kode yang sudah saya buat. Jangankan koder lain, saya sendiripun kalau sudah lewat sekian bulan maka sudah lupa dengan kode-kode yang saya buat sebelumnya.

Singkatnya mengabaikan dokumentasi itu buruk! Iya semua orang tahu, tetapi tetap saja dilakukan. Sayapun tetap melakukannya. Nah, sebetulnya waktu yang saya gunakan untuk ngeblog ini dapat digunakan untuk membuat dokumentasi. Ini malah ngeblog. ha ha ha. Tapi kalau saya tidak memaksakan ngeblog, pasti ada saja yang lebih “penting”(?). Akibatnya ya blognya jadi kosong.

Dokumentasi harus menunggu. Ngeblog dahulu. Wah.

Bandung Itu Jauh

Ini adalah keluh-kesah kesekian kalinya tentang Bandung. Curcol. Biarlah diulang lagi. Namanya juga ngeblog.

Untuk berbagai alasan, saya memilih untuk tinggal di Bandung. Sebetulnya alasan singkatnya sih karena saya suka Bandung. Itu saja. Mungkin juga karena saya sudah terlalu lama tinggal di Bandung sehingga susah lepas dari Bandung, meskipun saya sempat tinggal hampir 11 tahun di Kanada. Singkatnya, salah saya sendiri memilih Bandung.

Ada banyak acara yang lokasinya di luar Bandung. Kebanyakan acara-acara yang terkait dengan saya itu adanya di Jakarta. Ternyata jarak Bandung-Jakarta itu masih “jauh”. Dahulu Bandung-Jakarta itu 2 jam. Kemudian banyak kendaraan, jadinya lebih lama lagi. Kemudian ada jalan tol, 2 jam lagi. Eh, nambah kendaraan jadi lebih lama lagi. Bahkan akhir-akhir ini karena sedang ada pembangunan, maka Bandung-Jakarta (atau sebaliknya) bisa sampai 5 jam! Naik kereta api juga sekarang 3 jam.

Bayangkan, jika ada pertemuaan yang lamanya hanya 1 jam tetapi tempatnya di Jakarta maka untuk ke Jakarta dan kembali lagi setidaknya dibutuhkan waktu 5 jam (paling cepat – asumsi 2,5 jam satu arah). Naik kereta api, setidaknya 6 jam pp. Itu belum termasuk berhenti (ngaso dulu, makan dulu, shalat dulu) atau kalau naik kereta api nunggu dulu di stasiun. Sangat tidak masuk akal untuk 1 jam pertemuan saya harus menghabiskan waktu 6 – 9 jam untuk perjalanannya.

Itulah sebabnya – dengan berat hati (dan kadang disertai rasa malu) – saya sering tidak dapat menghadiri acara-acara di Jakarta. Alasannya sederhana: Bandung jauh dari mana-mana.

Tentang Pemblokiran Telegram

Beberapa hari yang lalu dunia siber Indonesia dihebohkan oleh keputusan pemerintah Indonesia (dalam hal ini Kominfo) yang memblokir layanan telegram. (Yang diblokir adalah layanan via web dulu, kemudian akan diblokir yang aplikasi mobile-nya.) Pengelola telegram dianggap tidak kooperatif dalam memblokir layanan telegram untuk group-group yang terkait dengan terorisme.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah ini. Menurut saya cara ini tidak efektif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, telegram bukan satu-satunya media komunikasi yang digunakan oleh teroris. WhatsApp dan aplikasi lain juga digunakan. Mengapa hanya telegram yang diblokir? Fitur yang ada di WA pun sama dengan yang ada di telegram. (Dahulu memang WA tidak memiliki fitur enkripsi sehingga mudah disadap, sekarang dia memiliki fitur itu.)

Kedua, keputusan pemerintah ini malah menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu melakukan (counter-)intelligence terhadap pengguna telegram. Ini makin menunjukkan bahwa telegram merupakan platform yang bagus untuk digunakan karena tidak bisa diatasi oleh pemerintah Indonesia. Wah.

Ketiga, banyak orang (perusahaan, organisasi, individu) yang mengembangkan aplikasi di atas telegram ini. Aplikasi tersebut berbentuk “bot” (robot, chat-bot) yang dapat diprogram sesuai dengan perintah (teks) yang diberikan oleh pengguna. (Machine learning / artificial intelligence) Contohnya antara lain, early warning system, help desk, payment chatbot, dan seterusnya. Inovasi-inovasi ini terbunuh begitu saja. Telegram sekarang dapat dianggap sebagai “infrastruktur” seperti halnya YouTube.

my students_0001
sebagian dari topik penelitian mahasiswa saya. yang paling bawah tentang enkripsi yang digunakan oleh berbagai aplikasi chat

Terakhir, kalau sedikit-sedikit blokir – trigger friendly – maka ada kekhawatiran akan apa saja yang akan dilakukan di kemudian hari. Ketidak pastian. Ini buruk bagi bisnis (dan penelitian).

Apakah Perlu Sekolah Formal?

Banyak orang yang mempertanyakan apakah masih perlu sekolah formal? Buktinya banyak orang yang dropout – gagal sekolah formal – yang sukses juga. Bahkan kalau di dunia IT banyak contohnya. Sekarang ditambah lagi dengan bisnis-bisnis online ada juga yang sukses. Jadi untuk apa sekolah?

Di saat yang sama, banyak orang yang menihilkan proses belajar. Ada yang kemudian menihilkan kemampuan seorang profesor yang telah puluhan tahun mendalami ilmunya. (Kebetulan kalau di Indonesia, ini kasus agama. ha ha ha. Misalnya ada yang meragukan keilmuan Prof. Quraish Shihab atau mas Nadirsyah Hosen. ha ha ha.) Banyak orang yang merasa kemudian sok bisa.

(Di bidang ilmu saya juga sama sih. Ada banyak yang tiba-tiba menjadi pakar security. he he he. Tapi kalau ini saya ambil sebagai contoh, jadi berkesan lebay. hi hi hi.)

Sekolah formal, jika dilakukan dengan benar, sangat dibutuhkan! Singkatnya demikian.

Mengapa ada embel-embel “jika dilakukan dengan benar”? Karena saat ini banyak orang yang sekolah bukan untuk mencari ilmu, tetapi hanya sekedar untuk menghabiskan waktu. Daripada anak ngganggur di rumah, lebih mereka disuruh sekolah saja. Jadinya di sekolah ya hanya sekedar membunuh waktu saja. Demikian pula yang menjadi pengajarnya, mereka bukan niat untuk menjadi guru (pengajar, dosen), tetapi hanya sekedar untuk bekerja dan menunaikan tugas administratif saja. Hasilnya menjadi buruk dan kemudian timbullah persepsi bahwa sekolah formal itu tidak penting.

Kan sudah ada buku-buku dan internet? Mengapa perlu sekolah formal?

Untuk sebagian kecil orang, belajar mandiri dapat dilakukan dan memang bagi mereka sekolah formal tidak begitu penting (selain dari ijasahnya). Tapi “sebagian kecil”nya itu sangat kecil sekali. Saya jarang menemukan orang yang dapat belajar mandiri seperti ini. Umumnya orang tidak sanggup belajar sendiri. Dibutuhkan kedewasaan dan ketekunan yang luar biasa.

Sedihnya banyak orang yang merasa dapat belajar sendiri dan kemudian mudah puas setelah mengetahui kulitnya. Padahal sesungguhnya mereka itu tidak mengerti, tapi kemudian paling vokal kalau berbicara. Ini gawat sekali.

Sekolah formal menunjukkan peta perjalanan atau tuntunan dalam belajar. Sebelum mempelajari B, sebaiknya belajar A dahulu sebagai dasarnya. Hal ini diperoleh dari pemahaman dan pengalaman sebelumnya. Maka sekolah formal dapat mempermudah proses belajar. Tanpa tuntunan tersebut, belajarnya boleh jadi nabrak ke sana sini sehingga memboroskan waktu yang semestinya tidak perlu terjadi.

Belajar dengan seorang guru yang memang gurunya dalam bidang itu membuat kita menjadi lebih mudah belajar. Guru ini biasanya ada di sekolah formal, meskipun ada juga yang informal. Yang terakhir ini jarang.

Kembali ke pokok pembicaraan, singkatnya, sekolah formal itu masih penting. Begitu.

Saya Juga Bisalah

Sekarang banyak orang yang sok jago. Merasa bisa segala hal. Semua orang dikritiknya. Padahal mereka tidak mengetahui banyak hal dari apa yang dikritiknya. Media sosial penuh dengan spesies seperti itu. Dalam olah raga, penonton selalu merasa lebih jagoan daripada pemain dan pelatih. ha ha ha.

Ada proses belajar, melalui teori dan praktek, untuk dapat mengerjakan sesuatu dengan baik. Apalagi kalau mau jadi jagoan. Proses belajar ini membutuhkan waktu. Tidak bisa seketika. Tapi, banyak yang mau instan. Proses belajar ini juga membutuhkan upaya. Tidak boleh malas.Tapi, banyak yang maunya disuapi.

Ketika orang yang merasa jagoan ini diberitahu, misalnya untuk membaca referensi ini dan itu, mereka malah bertanya “memangnya isinya apa”. Halah. Padahal sudah ditunjukkan referensinya. Mereka tinggal membaca. Namun inipun diabaikan. Jika orang tidak mau menjelaskan kepada mereka, maka mereka enggan berusaha untuk belajar dan tetap pada pendirian mereka (yang salah).

Bagaimana menghadapi orang semacam itu ya? Abaikan saja? Soalnya mengajari mereka itu membutuhkan kesabaran dalam ukuran yang luar biasa. Gimana ya?

Begitu ada orang yang berkata “saya juga bisa”, langsung saya meringis. Hadoh. Ujian kesabaran nih.