Rocketman

Beberapa hari yang lalu saya membuat komentar di salah satu postingan kang Emil (Ridwan Kamil) di facebooknya, yaitu tentang desain istana kepresidenan yang akan datang. Desainnya berbentuk burung yang besar dan megah. Saya membuat komentar yang bernada guyonan (seperti dalam gambar berikut). Bahwa desain seperti itu gampang di-roket. he he he. Eh, yang like dan komentar banyak dong. Ha ha ha. Jarang saya mendapat banyak respon seperti itu.

Serunya yang komentar itu kadang nggak nyambung atau tendensius. Ada yang mengira saya hater kang Emil. Hadoh. Sangat jauh banget. Lah dari dulu saya termasuk yang mendukung kang Emil. Orang baik harus didukung. Anyway, saya tidak bisa membaca komentar-komentar itu karena entah kenapa facebook memiliki bugs untuk membuka banyak komentar. Eh, ini kalau saya buka di komputer. Entah kalau dibuka di handphone mungkin bisa juga.

Roket. Rocket. Sebuah kata yang selalu menarik. Apa yang terbayang di kepala Anda ketika saya sebutkan kata ini? Bagi saya sih kata ini membuat konotasi pergi ke ruang angkasa. Mungkin gara-gara waktu kecil banyak baca komik. Bahkan yang terbayang jelas oleh saya adalah halaman denpan salah satu buku Tintin.

Kalau sekarang, kata roket ini saya asosiasikan dengan Elon Musk dan SpaceX-nya. Pergi ke Mars. Dalam kaitannya dengan ini sering saya tanyakan ke mahasiswa saya, “jika Anda ditawari Elon Musk untuk pergi ke Mars, siapa yang bersedia?“. Ternyata tidak banyak yang angkat tangan. Anak muda sekarang kurang jiwa petualangannya. Kalau saya masih muda, saya akan angkat tangan. No question. Yakin. Saya ingin membuat manfaat. Meskipun pergi ke Mars sangat berisiko. Setidaknya ada risiko tidak dapat kembali ke dunia (earth). Tidak masalah. Maklum ketika masa muda banyak semangat “Me against the world“. Lah kesempatan untuk meninggalkan the world dengan berkarya merupakan salah satu jawaban. ha ha ha.

Kata roket juga mengingatkan saya akan salah satu lagu Elton John, Rocketman. Lagu ini juga sarat dengan makna. Silahkan cari liriknya dan resapi maknanya. Hebat Elton John dan Bernie Taupin.

Jadi kalau saya sebut rocket, apa yang ada di kepala Anda?

(dari) Tulisan (ke) Video (kemudian) Audio

Ini adalah perjalanan dari cara saya mendongeng. Semuanya dimulai dari blog. Eh, sebelum itu saya memulai dari membuat halaman web dengan langsung menuliskan kode HTML. Kala itu namanya masih homepage. Tapi itu kejauhan. Kita mulai dari blog saja ya.

Blog merupakan media saya mendongeng dalam bentul tulisan. Pada awalnya ini dilakukan karena teknologi yang tersedia pada masa itu baru sanggup untuk mendukung tulisan. Kecepatan internet masih lambat. GPRS. (Apa itu? Silahkan pelajari.) Sudah lambat, harganya juga mahal. Akses internet itu dapat dikatakan masih mahal. Jadilah mendongeng dengan bentuk tulisan di blog merupakan sebuah hal yang paling memungkinkan. Padahal ini kurang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang tidak suka membaca (dan menulis tentunya). Blog memiliki fitur yang memudahkan orang untuk bercerita. Seseorang yang mau nge-blog tidak harus tahu tentang HTML dan kode-kode singkatan lainnya. Dia tinggal mengetikkan apa yang ada di otak (dan hatinya?). Maka mulailah saya ngeblog. Itu tahun 2002, kalau tidak salah. Itu dimulai dengan menggunakan layanan blogspot.com (dan banyak lagi) sebelum akhirnya saya mangkal di wordpress.com (dan baru-baru ini ke medium.com).

Langkah selanjutnya saya ingin membuat dongeng dalam bentuk audio. Secara teknis ukuran berkas audio lebih besar dari teks tetapi lebih kecil dari video. Jadi dari blog ke membuat suatu yang berbentuk audio harusnya lebih natural. Namun ternyata ini tidak terjadi. Jika di tulisan ada blog, maka untuk audio ada podcast.

Membuat podcast sudah pasti lebih susah daripada membuat tulisan, tetapi tingkat kesulitannya ternyata cukup tinggi. Pertama saya harus memiliki alat rekam yang bagus. Digital recorder harganya masih mahal. Itu yang bagus. Handphone juga sudah dapat digunakan untuk merekam, tetapi memori handphone untuk menyimpan rekaman suara masih terbatas. Program (tools, software) untuk mengedit hasil rekaman juga masih ribet. Jika blog ada di banyak tempat, podcast ternyata masih sedikit dan juga ribet. Singkatnya, saya tetap ngeblog saja.

Teknologi komputer dan jaringan berkembang terus. Kemampuan komputasi handphone sudah setingkat laptop. Memorinya pun sudah besar. Handphone sudah dilengkapi dengan kamera yang kualitasnya mendekati atau bahkan di atas digital camera. Maka mengambil video merupakan hal sangat mudah. Mengedit video masih ribet. Softwarenya masih mahal dan membutuhkan kemampuan komputer yang bagus juga. Lama kelamaan masalah ini terpecahkan juga. Mulai banyak software untuk mengedit video yang kualitasnya bagus, mudah digunakan, dan gratis pula. Tempat untuk menyimpan video-video tersebut mulai banyak, yang utamanya tentu saja YouTube. Luar biasa ini YouTube. Video sebesar apapun tinggal kita unggah. Akhirnya saya membuat video untuk YouTube.

YouTube channel saya ada di sini: https://www.youtube.com/channel/UC3S4LLQIPK1TT5S2LmieCYg

Setelah membuat video barulah saya melirik lagi untuk mendongeng melalui suara. Secara tidak sengaja saya menemukan Anchor.fm. Ini sebuah layanan yang membuat podcasting semudah ngeblog. Saya tinggal mengunggah suara saya – yang saya ambil dari video YouTube saya – ke situs anchor.fm itu. Langsung saya membuat sebuah episode untuk podcast saya. Yang lebih menariknya lagi, anchor.fm juga mendistribusikan podcast itu ke beberapa tempat dan khususnya ke Spotify. Mengapa ini penting? Karena ada banyak orang yang mendengarkan musik dan podcast melalui Spotify. Jadi Anchor.fm ini menyerupai YouTube bagi saya.

Podcast saya ada di sini: https://anchor.fm/budi-rahardjo

Pendekatan saya dalam mendongeng tetap sama, “create and shoot“. Jadi saya langsung bercerita dan publish. Kalau ada editing itu hanya minor. Ya kualitasnya seperti itu. Apa adanya. Oh ya, ini semua saya lakukan sendirian. Jadi inilah sebabnya saya tidak melakukan proses editing. ha ha ha. Kebanyakan kerjaan.

Dari peta perjalanan ini ternyata saya berangkat dari tulisan (ngeblog) ke video (YouTube channel) baru ke podcast (anchor.fm dan spotify). Lucu juga. Tadinya saya pikir secara teknologi harusnya saya ke podcast dulu baru ke video. Ternyata kenyataan berkehendak lain. Yang penting Anda dapat menikmati dongeng saya. Ya kan?

Lucunya Statistik Podcast Saya

Bagi yang belum tahu, saya sekarang sudah memulai podcast. Ada di Anchor.fm. (Ini dia: https://anchor.fm/budi-rahardjo) Ocehan saya dapat diakses via Anchor.fm sendiri dan juga via Spotify. Langganan ke sana ya. Idenya adalah dia merupakan komplemen dari blog ini. Di sini kita buat versi tulisnya. Di sana ada versi audionya. Di YouTube ada versi videonya. Kira-kira begitu idenya.

Baru saja saya melihat statistik podcast saya yang nampaknya diperoleh dari Spotify. Ada bagian yang “lucu” bagi saya. Ini bagian yang lucu tersebut.

Perhatikan bahwa gender yang “not specified” lebih banyak dari yang “female“. Ha ha ha. Artinya banyak orang yang takut data pribadinya dikeruk oleh Spotify ya.

Kemudian juga mengenai statistik usia (age), kok yang usianya antara “28-34” itu tidak banyak. Maksudnya bagaimana ya? Itu termasuk generasi apa ya? Agak aneh. Soalnya dia di antara dua puncak. Aneh aja. Ada yang dapat memberikan analisis tentang hal ini?

Satu Tahun Bekerja Dari Rumah

Bulan ini, Maret 2021, merupakan waktu yang penting bagi banyak orang. Setahun yang lalu pada bulan ini pandemi COVID-19 resmi dinyatakan. Maka semua kegiatan dikurangi untuk mencegah penyebaran virus corona ini. Bekerja mulai dilakukan dari rumah. Work from Home (WfH). Sekolah juga dilakukan dari rumah.

Pada awalnya semua orang kebingungan dan khawatir. Apakah kita dapat melakukan kegiatan kita dari rumah? Tidak dari kantor? Tidak dari sekolahan? Setahun kemudian kita mengetahui bahwa kita bisa. Tentu saja dengan cara yang berbeda. Maka ada istilah new normal. Ada kegiatan yang dianggap sebagai normal, yaitu bekerja dari rumah. Dari dahulu kita ingin menerapkan remote workers, yaitu bekerja bekerja tidak di kantor, tetapi selalu gagal. COVID-19 langsung membuatnya menjadi berhasil. Tentu saja definisi dari “berhasil” itu juga akan berbeda. Tidak sama.

Bagi saya sendiri bekerja dari rumah bukanlah sebuah hal yang baru. Saya sendiri sudah biasa bekerja dari rumah, dari kantor klien, dari kampus, dari kafe, dari co-working space, dari … mana saja. Saya memang bekerja dengan menggunakan internet. Jadi bekerja dari rumah malah sebetulnya merupakan hal yang natural bagi saya. Hanya saja pada waktu itu orang lain belum bekerja dari rumah sehingga ketika diajak untuk melakukan online, video conferencing misalnya, banyak yang tidak bisa (atau tidak mau). Sekarang malah itu yang menjadi pilihan utama. Jadi lebih mudah bagi saya.

Bagimana dengan Anda? Bagaimana pengalaman Anda setelah satu tahun bekerja dari rumah?

Susahnya Jadi Dosen

Banyak orang yang merasa bisa menjadi dosen atau guru. Biasanya ini terjadi kepada seseorang yang baru saja memberikan presentasi di seminar. Wah, menarik nih menjadi pengajar. Maka kemudian dia menyatakan diri ingin menjadi dosen. Tidak semudah itu, Ferguso. Masalahnya adalah orang ini hanya memberikan presentasi satu atau dua jam. Dia belum merasakan susahnya jadi dosen. Lah, memang masalahnya apa?

Pertama, menjadi dosen itu membutuhkan sebuah rutinitas. Sekali mengajar dengan mengajar 14 atau 15 kali secara rutin merupakan hal yang berbeda. Satu dua kali masih oke. Selanjutnya, maka mulailah muncul kebosanan. Nampaknya ini sama dengan ngeblog ya? Ha ha ha. Itulah sebabnya banyak blogger yang sudah tidak aktif lagi sekarang. Kembali kepada topik, rutinitas ini atau kebosanan ini yang menjadi masalah.

Kedua, memeriksa tugas atau ujian. Nah ini yang paling menyebalkan dari kegiatan dosen. Menyiapkan materi itu merupakan pekerjaan yang kelihatannya susah, tetapi itu susah yang menyenangkan. Yang susah (mungkin susah) tapi menyebalkan itu adalah memeriksa tugas atau ujian mahasiswa. Bayangkan kalau Anda memeriksa tugas yang sama untuk 50 siswa, misalnya. Membosankan. Dan jangan lupa, ini semua membutuhkan waktu. Memeriksa tugas mahasiswa itu membutuhkan waktu. Sebagai contoh, saya membuat tulisan ini sebagai selingan dari memeriksa tugas mahasiswa. Saya sudah memulai memeriksa tugas mahasiswa mulai pukul 9 pagi tadi dan sekarang pukul 10:11. Kalau saya perhatikan yang saya periksa baru seperempatnya. Padahal ini tugas yang mudah. Ada masalah teknis, yaitu saya harus me-rename nama berkas yang mereka kirimkan. Ini kesalahan saya. Seharusnya saya buatkan standar penamaan berkas (“NIM.pdf”, misalnya) sehingga berkas sudah terurut. Baiklah.

Kembali ke memeriksa tugas mahasiswa. Nampaknya ini bakalan sampai makan siang.

Demikian sedikit cerita dari balik layar tentang dukanya jadi dosen. Masih mau jadi dosen?

Hilangnya Jiwa Petualang

Di kelas atau di presentasi-presentasi saya, sering saya tanyakan pertanyaan ini, “siapa yang mau ikutan Elon Musk pergi ke Mars“. Sedikit yang mengacungkan tangannya. Apalagi setelah saya berikan informasi tambahan, “dan kecil kemungkinan untuk bisa kembali ke bumi ini“. Langsung hilang itu acungan tangan. Ha ha ha. Demikianlah nyali yang ada.

Kalau saya masih muda, saya akan tetap mengacungkan tangan. Yes, I would do that. Menjadi pionir untuk umat manusia. Apa lagi yang lebih keren dari itu?

Jiwa petualang jaman sekarang sudah tidak ada lagi.

Definisi Sehat

Menurut Anda, apa definisi “sehat”?

Sehat menurut saya adalah kalau dapat makan (rasanya enak) dan lancar buang air (kecil dan besar). Mengapa definisinya seperti ini? Kalau kita sakit, maka makan rasanya tidak enak. Males mau makan. Mulut tidak enak. Perut tidak enak. Pokoknya males aja makan. Padahal kalau kita tidak makan, maka kita kekurangan energi dan malah susah untuk (recover) sembuh. Makan enak itu tidak harus mahal dan susah. Bagi saya, nasi sama telor ceplok pun sudah enak banget. Apalagi indomie … ha ha ha.

Soal buang air lancar itu juga mirip jawabannya. Ini saya melihat kucing yang sedang sakit. Indikasinya, tidak mau makan dan buang air besarnya tidak bagus; cair atau mencret. Kasihan melihatnya. Demikian pula dengan orang. Ketika kita sehat, hal ini tidak terpikirkan. Ketika kita sakit, ini merupakan siksaan tambahan.

Maka beruntunglah jika kita masih dapat makan (dan merasa enak) serta dapat buang air dengan lancar. Harus sering-sering bersyukur.

Mr. GBT

Waktunya menghidupkan kembali Mr. GBT. Apa itu? Nah, silahkan lihat blog saya yang pernah kondang di gbt.blogspot.com. Ini blog pertama saya. (Rasanya? Sebelum ini apa saya sudah punya blog lagi ya? Rasanya tidak.)

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya secara tidak sengaja sekelebat saya melihat foto 10 blog terbaik Indonesia versi majalah Tempo. Lagi-lagi kalau tidak salah ini tahun 2005. Saya ada di daftar itu di urutan ke-4 dengan blog GBT itu. GBT itu singkatan dari Gerakan Bawah Tanah. Nah, ini ceritanya lebih panjang lagi. Bisa dijadikan satu tulisan tersendiri atau satu video tersendiri. Nanti lah. Intinya saya jadi ingin menulis lagi di sana.

Dahulu saya pindah ke wordpress ini karena UI/UX-nya lebih enakeun. Terus statistiknya juga sangat bagus. Jadi saja, saya mulai rajin menulis di sini dan melupakan yang di sana. Sebetulnya saya sudah mulai memisahkan jenis tulisan di sini dan di GBT. Di sini cerita dalam bahasa Indonesia dan di sana cerita dalam bahasa Inggris. Sebetulnya yang bahasa Inggris, saya sudah memulai juga di Medium.com. Medium ini enakeun juga lho. Jadi yang di Blogspot ini bakalan punya tantangan juga. Repot juga kalau harus nulis di dua tempat dengan cerita yang sama.

Anyway. Sekarang saya mau nulis di gbt.blogspot.com dulu ah. Selamat datang kembali, Mr. GBT.

Antrian Tulisan

Ada banyak topik dalam antrian tulisan saya, tetapi nampaknya antrian ini malah makin bertambah bukan makin berkurang. Pasalnya sekarang saya lebih suka membuat video dan memasangnya di channel YouTube saya. Bukan karena apa-apa, tapi ternyata membuat video lebih mudah bagi saya. Tinggal shoot (tanpa retak), potong depan dan belakangnya. Upload. Selesai.

Sebetulnya ada banyak yang masih harus saya tuliskan karena di video masih banyak yang tertinggal. Saya tidak bisa bercerita lama di video. Itupun sudah lama (belasan menit dari target 5 menitan). Maka seharusnya detail dari apa yang saya ceritakan tersebut bisa dituliskan di sini. Ya itu tadi, masalahnya topik-topik tersebut masuk ke dalam antarian juga. Jadinya akan lambat keluarnya.

Mungkin saya harus memulai kembali menuliskan topik-topik tersebut, meskipun sedikit. Toh nanti tulisan-tulisan ini dapat disunting ulang. Video susah untuk disunting lagi. Hanya saja, saya jarang menyunting ulang tulisan. Sama seperti di video. Sekali tulis, ya sudah.

Kembali ke laptop dulu. Semoga ada paksaan saya untuk lebih banyak menulis lagi.

Bugar Setelah Mandi

Salah satu tips bekerja di rumah dari saya adalah mandi sebelum bekerja. Biarpun di rumah, mandi dulu lah. Ini membuat kita segar dan bersemangat untuk bekerja.

Hari ini saya merasa kurang fit. Agak lemas. Dan memang semalam perut agak berontak. Puasa saat ini merupakan tantangan besar bagi saya. Setelah istirahat sejenak, saya memulai hari dengan mandi dulu. Segar. Semoga badan menjadi lebih fit lagi. Setidaknya, semangatnya sudah naik dahulu. Yihaaa…

Bagi saya, mandi membuat badan segar dan meningkatkan semangat. Jika saya ke Jakarta menggunakan kereta api dan kembali ke Bandung menggunakan kereta api lagi, saya mandi dulu di stasiun Gambir. Ada tempat mandi yang lumayan bagus. Bayar Rp. 75 ribu sih, tapi ini membuat saya segar kembali. Naik kereta api menuju Bandung tinggal tidur di kereta api. Segar.

Tapi ini kan opini saya. Ada banyak orang – malah mungkin lebih banyak – yang tidak suka mandi. Ha ha ha. Bagi mereka, mandi adalah hukuman. Oh well.

Kacamata Baca

Pas lagi seru-serunya mengurung diri di rumah – work from home, bekerja dari rumah – kacamata baca patah. Ini sudah yang kesekian kalinya. Maklum kacamata baca biasanya saya beli di depan masjid setelah selesai Jum’atan. (Pertanyaan: kenapa ya selalu ada yang jualan kacamata di emperan masjid setelah habis jumatan?)

Harga kacamata baca di emperan gini murah meriah, mulai dari Rp. 25 ribu sampai Rp. 50 ribu. Kalau beli di toko (yang bukan toko kacamata) harganya sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 75 ribu. Kalau di optik, kacamata yang beneran ya harganya mahal. Saya pernah punya yang harganya Rp. 1 juta. Memang rasa dan kualitasnya beda. Ada harga, ada kualitas.

Saya dapat membeli kacamata baca dimana saja ini karena kemungkinan mata saya tidak ada silindris. Jadi tinggal dikonversi saja dengan usia. Saya tinggal sebutkan usia, penjualnya sudah tahu rentang ukuran kacamatanya. Sekarang saya menggunakan plus 2. Anda bisa menduga usia saya. Ha ha ha.

Karena sekarang sedang ada wabah virus corona, maka orang-orang diharapkan tetap tinggal di rumah. Jum’atan pun diharapkan tidak dilakukan di masjid dan dilakukan di rumah (dengan menggantinya menjadi shalat Dzuhur). Maka alternatif saya adalah mencari kacamata di toko seperti Borma atau Ace hardware. Tapi ya itu tadi, kalau boleh tidak bepergian lebih baik tidak pergi.

Belanja online! Ini adalah alternatif yang menarik. Maka mulailah kami melihat di berbagai situs online. Maka ketemu yang jualan kacamata baca yang harganya Rp. 22 ribu. Penjualnya kebetulan di Lembang. Jadi langsung kami pesan. Waktu itu weekend sehingga tidak dikirim dengan segera. Senin hari kacamata datang. Kami pesan tiga buah. Langsung saya cuci dengan sabun.

Kacamata baca murah meriah

Pagi ini saya coba. Hasilnya oke lah. Sesuai dengan harapan saya, yaitu tidak terlalu tinggi. Selama kacamata ini dapat dipakai dan dapat bertahan lebih dari sebulan, dia sudah bagus. Ini sama dengan kacamata yang biasanya saya beli di depan masjid. Jadi saya senang.

Kesimpulannya adalah … direkomendasikan. Recommended.

Semakin Sibuk

Dengan adanya kasus virus corona ini, banyak orang yang harus bekerja dari rumah (work from home). Banyak orang yang sudah mulai bosan berada di rumah karena tidak ada lagi yang dapat dikerjakan. Sementara itu saya malah kebalikannya. Semakin banyak kerjaan. Semakin sibuk.

Kalau dahulu ada banyak kerjaan yang membutuhkan saya hadir di sebuah tempat, misalnya untuk rapat ini dan itu. Seringkali saya tidak dapat ikutan dengan alasan saya tidak ada di tempat atau saya sedang berada jauh dari tempat rapat tersebut. Nah sekarang saya tidak punya alasan itu lagi. Semua rapat dilakukan secara online (daring). Jadi alasan saya yang dahulu, batasan fisik, tidak dapat digunakan. Saya harus cari alasan lain, misalnya internet lambat?

Ada statistik yang mengatakan bahwa kalau dahulu bekerja adalah 9 jam sehari sekarang – di tengah-tengah kasus virus corona – malah jadi 11 jam/hari. Hadoh. Nampaknya ini yang terjadi dengan saya. Jadi tambah sibuk.

Ada banyak hal yang menarik yang ingin saya tuliskan di blog ini, tetapi masalahnya adalah tidak sempat. Nampaknya justru alasan ini malah dapat saya gunakan untuk (tidak menulis di) blog ini. Ha.

Kebanjiran Informasi

Salah satu masalah – di antara banyak masalah lainnya – pada masa kini adalah kebanjiran informasi. Saat ini setiap orang ingin meneruskan (forward, share) informasi-informasi yang terkait dengan virus korona dan penyakit yang terkait (corona virus, covid-19). Di setiap media sosial dan terutama group WA (WhatsApp) ada banyak informasi.

Ada beberapa group WA yang ketika saya membuka handphone terlihat lebih dari 300 pesan yang belum terbaca. Sebetulnya mungkin lebih dari 500 pesan. Saya buka group WA tersebut, bukan untuk membaca, tetapi untuk scroll sampai di akhir group supaya semua pesan ditandai sudah dibaca kemudian saya keluar. Sejam kemudian saya buka handphone lagi dan ada 300 pesan lagi yang belum dibaca dari group tersebut. Ini baru satu group WA. Bayangkan saya (dan Anda) masuk ke banyak group WA.

Idenya memang baik. Semua ingin berbagi informasi. Sayangnya informasi tersebut tidak disaring dengan baik. Begitu dapat sebuah informasi / pesan, langsung diteruskan ke berbagai group. Boleh jadi di group tersebut sudah ada pesan yang sama. Anggota dari group tersebut kemungkinan besar juga sudah mendapatkan pesan yang sama dari group-group lainnya.

Banjir informasi. Banjir, banjir, banjir. Yang namanya banjir tidak ada yang bagus.

Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari berbagai group WA yang terlalu banyak memberikan pesan. Toh tidak manfaat juga bagi saya karena tidak saya baca pesan-pesannya.

Bagi Anda yang ingin berbagi pesan, sebaiknya tahan dulu satu atau dua hari (bahkan kalau pakem saya sih tunggu 3 hari) sebelum meneruskan pesan tersebut. Selektiflah dalam berbagi,

Duduk Mengajar

Dikarenakan wabah virus corona, maka perkuliahan di ITB (dan dimana-mana) terpaksa harus dilakukan secara daring (online). Saya sendiri sebetulnya sudah terbiasa mengajar kelas secara online. Ada kelas saya yang dilakukan di dua tempat bersamaan; di kampus Ganesha (ITB) dan di kampus ITB yang di Jatinangor. Ada kelas yang dilakukan secara online tetapi tidak real-time, dalam artian saya tidak langsung mengajar pada saat yang besamaan, misalnya yang di IndonesiaX. Ada juga kelas yang memang benar-benar saya lakukan secara menyeluruh online seperti yang saya lakukan di President University. Ada juga channel YouTube, tetapi ini cerita yang berbeda. Intinya, mengajar online bukan hal yang baru bagi saya, Hanya kali ini sedikit berbeda karena semua kegiatan ajar-mengajar dilakukan secara online.

Ternyata salah satu hal yang melelahkan bagi saya adalah duduk mengajar. Kalau di kelas biasa, kelas tatap muka secara fisik, saya biasanya mengajar sambil berdiri dan berjalan di depan kelas. Melakukan ini juga melelahkan, tetapi ternyata duduk itu lebih membuat badan ini pegal-pegal. Sebelum tulisan ini ditulis, saya baru beres mengajar dua kelas dan melakukan satu rapat secara online. Terus menerus dari pukul 9 pagi sampai pukul 15 sore. Bayangkan. Ternyata pegel linux juga. Ha ha ha.

Situasi ketika mengajar online

Kursi yang saya gunakan sudah cukup bagus. Bagus. Jadi ini bukan salah kursinya, tetapi memang bekerja secara online itu tetap melelahkan. Hmm. Mungkin saya yang salah. Mungkin seharusnya cara saya mengajar online-pun harus saya lakukan dengan berdiri ya? Hmmm. Nampaknya saya akan mencoba ini. Saya harus membuat dudukan untuk webcam yang lebih fleksibel. Akan dicoba di skedul kelas berikutnya. Sementara itu, sekarang saya mau istirahat dulu. Nonton TV (dokumenter) dulu ah.