Masih Ngeblog

Masih ngeblog di tahun 2018? Di jamannya vlog gini? Iya, masih ngeblog. hi hi hi. Tersipu-sipu juga saya. Berasa menjadi manusia yang tua gitu. Seperti dinosaurus. Sudah punah. Banyak blogger angkatan saya sudah gulung tikar – eh, naik kelas.

Tapi, tadi saya melihat ada daftar 50 blogger Indonesia terbaik di tahun 2018. Nah, artinya ngeblog itu masih hidup. Belum hilang. Alhamdulillah.

Bagusnya lagi, blog ini tidak termasuk di dalam daftar itu. Bahkan mungkin di daftar 1000 blog Indonesia terbaik pun ndak masuk. Artinya ada banyak blog-blog yang lebih baik. Peningkatan kualitas. Alhamdulillah lagi.

Iklan

Komitment, konsistensi dalam berolahraga

Topik ini sudah pernah saya angkat sebelumnya, tetapi menurut saya masih perlu diulang-ulang. Ini juga termasuk konsisten (dalam mengulang). ha ha ha.

Saya berolahraga karena “terpaksa”. Maklum, di usia yang sudah segini harus makin rajin berolahraga. Tidak seperti waktu masih muda dulu, bisa ngasal aja. Sekarang harus rutin. Maka harus dicari olah raga yang membuat kita senang melakukannya. Saya pilih futsal. Anda bisa pilih apa saja.

Yang paling penting dalam berolahraga adalah konsistensi. Olah raga itu harus rutin. Tidak bisa kita puasa olah raga, kemudian dalam satu hari kita penuh berolahraga. Kemudian puasa olah raga lagi. Kacau kalau seperti ini. Bayangkan kalau kita tidak makan selama sebulan dan kemudian hanya makan satu hari saja untuk memenuhi kebutuhan satu bulan itu.

Dalam berolahraga yang berkelompok – team – maka ada aspek tambahan yang harus dipenuhi, yaitu komitmen. Kalau kita tidak hadir, maka tim akan kekurangan pemain dan bahkan gagal untuk berolahraga. Itulah sebabnya olahraga sepak bola agak susah karena harus ada minimal 22 orang pemain; 11 untuk satu sisi. Bayangkan kalau kita malas hadir dan berpikiran bahwa akan ada yang lain. Yang lain juga berpikiran demikian. Maka yang hadir hanya 5 orang. Mana bisa main bola hanya dengan 5 orang!

Saat ini saya rutin main futsal, tetapi sayangnya komitmen dari para pesertanya kurang. Pengamatan saya sih hanya kami bertiga yang selalu hadir dalam futsal rutin kami. Terang benderang atau hujan, hadir. Kesibukan dalam keseharian juga tidak menjadi penghambat. Bagi saya ini soal komitmen.

Kebanyakan orang terlalu banyak cari alasan. Apa saja alasannya, mulai dari sibuk, hujan, tidak sempat, malas, dan kawan-kawannya. Sudahlah. Lawan saja alasan-alasan asal-asalan tersebut.

Oh ya, ini juga menunjukkan karakter seseorang.

Kesiapan Materi Presentasi

Pak, apakah materi presentasinya boleh dikirimkan ke kami?

Jangankan materi presentasi yang untuk beberapa hari ke depan, materi presentasi untuk besok saja belum dibuat. ha ha ha. Begitulah yang terjadi dengan saya. Materi presentasi hanya bisa diperoleh pada hari-H-nya saja.

materi-presentasi

Mengapa demikian? Bukannya saya malas, tetapi karena banyaknya presentasi yang harus saya lakukan. Jika digabungkan dengan materi kuliah yang harus saya siapkan (yang mana ini termasuk materi presentasinya), maka setiap hari ada dua atau tiga presentasi yang saya lakukan. Mana bisa presentasi  minggu depan siap.

Demikianlah.

Jadi kalau Anda menjalankan seminar / workshop / kuliah / talk show atau apapun yang mana saya jadi pembicaranya, maka materi presentasi dari saya baru akan selesai pada hari H. Tentu saja Anda boleh menanyakan kepada saya tentang ketersediaan materi presentasinya jauh hari sebelum acara dilangsungkan, tetapi Anda sekarang sudah tahu jawabannya.

Mengatur Lalu Lintas

Hari Jum’at lalu, Bandung macet luar biasa. Siangnya katanya hujan deras. Badai. Ada pohon tumbang di Jl. Riau menimpa dua mobil. Saya sendiri dari Jakarta menuju Bandung menggunakan kereta api. Sampai di Bandung, saya menggunakan taksi konvensional menuju rumah. Ternyata masih macet luar biasa. Akhirnya perjalanan dari stasiun kereta api ke rumah menghabiskan waktu 2 jam dan Rp. 100 ribu.

Waktu dua jam itu mungkin bisa bertambah lagi kalau saya tidak turun tangan mengatur lalu lintas. hi hi hi. Ceritanya begini.

Waktu di jalan Pahlawan, taksi berhenti karena jalanan benar-benar berhenti. Mesin mobil pun dimatikan. Setelah lebih dari 10 menit tidak bergerak akhirnya saya mengintip ke luar. Oh mampet di pertigaan antara jalan Pahlawan dan Cikutra. Pasti ini karena kendaraan saling tidak mau mengalah. Kayaknya saya harus turun membereskan. Tapi bagaimana dengan barang-barang saya? Ada tas saya yang berisi laptop dan handphone. Hmm… Akirnya saya putuskan untuk mengatur saja. Saya ambil handphone dan keluar. Bismillah saja. Toh taksinya juga tidak bisa kabur. Macet gini. he he he.

Maka keluarlah saya dan mulai mengatur. Ternyata di sana sudah ada satu orang yang mencoba mengatur. Polisi cepek. Tapi sendirian bakalan tidak bisa karena dari berbagai sudut ada mobil dan motor yang merangsek maju. Ada yang menahan di satu sisi (dua sisi) dan satu yang mengatur majunya. Ada mobil yang saling berhadapan pula. Kami atur. Sedikit demi sedikit jalan terurai. Ada juga motor yang kesenggol mobil jadi terguling, saya bantu angkat dan suruh bangkit. Jalan sana. Ada juga motor yang menghalangi jalan lawan arahnya. Satu persatu saya suruh minggir dan kadang saya angkat buntutnya. he he he. Ini semua sambil gerimis. Biarin sajalah. Kagok. Yang penting jalan terurai.

Ada yang kasih jempol. Seneng juga. Ada yang melotot karena gak mau diatur. Saya pelototin balik sambil saya suruh jalan.

Untung gak ada yang kenal saya. Kalau ada yang memvideo bisa-bisa jadi viral. wkwkwk.

Sebetulnya semua mau diatur. Yang menjadi masalah adalah ketika orang merasa tidak adil. Saya sudah nunggu teratur kok disodok. Maka dia mulai nyodok juga. Dan seterusnya. Maka terjadilah kemacetan. Yang memang harus dibuat adalah agak semua mendapat giliran secara adil. Bisa tertib juga. Biarlah ada satu dua orang yang gak sabaran. Yang penting yang lainnya bisa merasa keadilan ditegakkan. (Ini adalah poin yang penting bagi Anda yang memberikan pelayanan.)

Taksi sudah melewati saya. Ah saya harus ngejar taksi. Barang-barang saya di sana. Maka saya menyelesaikan tugas sebagai warga yang ikut menertibkan lalu-lintas. Kembali menikmati kemacetan sebelum sampai rumah.

Oh ya, ini bukan pertama kalinya saya terpaksa turun tangan ngatur lalu lintas. hi hi hi.

Harus Ada Manfaat

Surat kabar Pikiran Rakyat hari Minggu (18 Februari 2018) memuat wawancara dengan saya. Ini dia fotonya. (Halaman 16)

photo6073164107248413151

Topik wawancaranya bervariasi, tetapi utamanya dimulai dari seputar pemanfaatan media sosial. Contoh-contoh pertanyaannya antara lain adalah sejak kapan saya mengenal media sosial, media sosial apa saja yang saya gunakan, dan seterusnya. Tentang blog ini juga dibahas.

Satu point utama saya adalah apapun yang saya kerjakan harus memiliki manfaat. Blog ini juga harus memiliki manfaat. Kalau dia hanya menceritakan atau mencatatkan (log) kegiatan sehari-hari saya tanpa manfaat sih itu “kepo aja”. he he he. Untuk apa juga orang tahu ini itu yang terkait dengan saat. Tidak manfaat. Setiap topik yang dibahas dalam blog ini harus memiliki manfaat bagi pembacanya.

Mengutarakan manfaat juga tidak harus kaku dan serius. Nanti malah tidak sampai pesannya. Bagaimana caranya? Itu dia yang masih terus saya pelajari.

Jadi apa manfaat tulisan ini? Bahwa semua harus ada manfaatnya. Lah jadi mbulet begini. Rekursif.  hi hi hi.

Benci Wartawan

Kemarin ketika memberikan presentasi tentang blogging kepada beberapa jurnalis, saya bilang bahwa saya benci wartawan. hi hi hi. Kenapa? Karena banyak wartawan yang tidak melakukan pekerjaan rumahnya. Salah satunya adalah mengenali nara sumbernya. Padahal salah satu kunci utama dari kredibilitas tulisan adalah nara sumbernya.

Eh, ndilalah, pagi ini saya menemukan Instagram dari Steven Wilson (salah satu musisi favorit saya) mengemukakan hal yang saya maksudkan. Dia diwawancara dan salah satu pertanyaannya adalah “How do you come up with the name Steven Wilson for the band?” Hadoh. Mas bro, namanya beliau adalah “Steven Wilson“. wkwkwk. Ini lagi wawancara atau ngelindur sih?

photo6319113137416153039

Mudah-mudahan saya tidak ketemu wartawan seperti ini. Keep my fingers crossed.

Nge-Vlog?

Sudah lama sebetulnya saya mempertimbangkan untuk membuat video blog (vlog), tetapi sampai sekarang belum kejadian. Ada alasannya (pastinya).

Alasan pertama saya belum ngeblog adalah saya kurang suka melihat diri sendiri di video. Males saja. hi hi hi. Tetapi sebetulnya ini alasan yang kurang valid karena yang nonton vlog itu kan bukan saya. Jadi seharusnya ini bukan alasan. (Namanya juga mencari-cari alasan.)

Alasan kedua adalah belum sempat. Yang ini juga ada solusinya, disempatkan. Eh, sesungguhnya belum sempat itu ada panjang rentetannya. Belum sempat shooting videonya, belum sempat menyunting videonya, belum sempat upload, dan seterusnya. Jadi seharusnya ini tidak semudah “disempatkan” saja jawabannya.

Ada lagi alasan-alasan lain, tetapi kalau saya sampaikan di sini nanti ketahuan bahwa saya mengada-ada. Bahwa sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.

Sebetulnya saya juga sudah mencoba membuat video di YouTube, tetapi belum dalam kerangka ngevlog seperti saya ngeblog. Itu adalah artifact (jejak-jejak) digital yang saya tinggal di sana.

Mencari kesempatan …