YouTube Channel Mencapai 10 ribu Subscribers

Baru sadar bahwa channel YouTube saya sudah mencapai lebih dari 10 ribu subscribers. Tadinya saya perkirakan masih minggu-minggu depan. Bahkan saya sudah mencoba membuatkan semacam hadiah untuk subscriber ke 10 ribu. Eh, tahu-tahu sudah lewat saja. Bahkan kalau saya cek sekarang sudah lewat 100 orang. Ha ha ha. Jadi hadiah yang ke 10 ribu itu lewat. Saya lagi mikir buat sayembara apa lagi ya untuk menunjukkan apresiasi. Ada ide?

Bagi yang belum pernah melihat, silahkan kunjungi YouTube channel saya di sini:

https://www.youtube.com/user/rahard

Saya agak kurang suka mempromosikan channel YouTube saya. Jadi saya nyaris tidak pernah meminta orang untuk Like atau Subscribe. Biar tumbuh secara natural saja. Mau berlangganan ya syukur. Tidak berlangganan juga tidak apa-apa.

Orang Yang Hobbynya Mencela

Pernah memperhatikan gak? Di media sosial ada orang-orang yang hobbynya mencela. Setiap mengirimkan postingan negatif tentang apa saja. Hari ini tentang pemerintahan negara, besok tentang kota, besok tentang pendidikan, besok tentang kesehatan, besok tentang … apa saja. Pokoknya setiap ada berita negatif, maka dia teruskan (forward).

Akhirnya saya menemukan postingan yang mencoba menjelaskan itu. Ternyata ini adalah orang-orang yang tidak memiliki prestasi (karya). Kalau dia memiliki prestasi, maka diskusinya akan seputar area atau bidang terkait. Tentu saja tidak harus prestasi, tetapi juga kegagalan-kegagalannya. Orang yang berprestasi ini tidak terlalu khawatir dengan kegagalan ini karena tidak mungkin ada prestasi tanpa dimulai dari kegagalan. Ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki prestasi sendiri. Yang dimiliki adalah sifat iri hati. Maka dicelanya setiap hal.

Dari kacamata agama, mencela itu bukan sesuatu yang disarankan juga. Kalau mencela merupakan sesuatu hal yang disarankan, maka mari kita mencela. Di pagi hari kita mencela. Siang hari mencela. Malam hari mencela. Karena itu semua menjadi bagian dari ibadah. Ibadah mencela. Ha ha ha. Tapi kan tidak ada ajaran seperti itu. Jadi tuntunan siapa / apa / mana yang diacu ya?

Lantas bagaimana kalau bertemu dengan orang seperti ini? Percuma untuk debat. Lebih baik dihindari saja. Jangan ditanggapi. Istilahnya, “don’t feed the troll”. Ha ha ha. Acuh saja.

Apakah Anda termasuk orang yang senang mencela?

Tidak Harus Tahu Semua

Sekarang banyak orang yang sedang membicarakan tentang “Layangan Putus”. Saya tidak tahu itu apa dan menahan diri untuk tidak mencari tahu. Kebanyakan orang sekarang takut kalau dianggap “kuper” (kurang pergaulan). Eh, istilah “kuper” sudah kuno banget ya? Kalau istilah ini dalam bahasa Inggrisnya adalah FOMO, fear of missing out. Nah.

Dasar memang saya anti-mainsteram. Saya malah nonton film dokumenter tentang Mesir, ancient Egypt di National Geographic Channel. Ah, juga sedang nonton film seri “Manifest” di Netflix. Seru. Hi hi hi. Saya tidak takut ketinggalan. Yang penting ilmu nambah. Cerita tentang hal-hal yang saya tonton ini nampaknya bisa menjadi pembahasan yang lebih mendalam dan seru.

Beres Kuliah, Sibuk Tetap

Ini rumusnya gimana sih? Tadinya saya pikir begitu kuliah selesai, saya bisa punya waktu sedikit untuk leha-leha. Eh, ternyata tetap saja sibuk. Adalah urusan mahasiswa yang sidang, mahasiswa minta surat rekomendasi (untuk meneruskan ke S3), bimbingan mahasiswa, mereview makalah, menjadi juri, memberikan presentasi, dan seabreg-abreg kerjaan lain. Mungkin dulu kerjaan-kerjaan ini sudah ada tetapi “tidak terlihat” karena lebih disibukkan untuk urusan perkuliahan. Sekarang karena perkuliahan sudah selesai, jadi yang ini menjadi terlihat.

Kalau memang seperti yang di atas – bahwa kalau kita memikirkan sesuatu atau tertarik ke sesuatu maka akan menjadi terlihat – maka sebaiknya kita tidak perlu memperhatikan? Kalau begitu, kita perhatikan hal yang menyenangkan saja sehingga yang terlihat hanya hal-hal yang menyenangkan. Nampaknya benar ini. Mari kita uji. Mari kita melihat hal-hal yang menyenangkan saja.

(Tapi pekerjaan dan to-do list tetap teringat euy? Gimana ya? ha ha ha. Ini yang namanya nasib.)

Menuliskan Status Tidak Real Time

Banyak orang yang senang menuliskan statusnya secara real-time. Maksudnya, ketika dia ada dimana, langsung dia ceritakan. Bahkan ada yang melakukannya secara live. Kadang memang hal ini ada kebutuhannya, misalnya untuk sebuah berita, tetapi tidak semuanya harus langsung disiarkan. Bahkan menurut saya sebagian besar harusnya dicerna dahulu baru diceritakan.

Saya termasuk yang tidak terlalu suka menuliskan status atau cerita secara real-time, tetapi dengan alasan yang berbeda. Saya tidak ingin orang tahu saya ada dimana. Kadang ketika saya di Jakarta, ada kawan-kawan yang di Jakarta ingin mengajak ketemuan untuk mendiskusikan berbagai hal atau sekedar untung ngopi. Jadi kalau saya ke Jakarta dan tidak memberitahu, ada kawan-kawan yang merasa tidak enak. Padahal saya ke Jakarta seringnya untuk sesuatu hal atau acara yang khusus sehingga tidak ada waktu untuk acara lain. Jadi hanya pihak terkait saja yang perlu tahu. Nanti setelah acaranya selesai baru saya tuliskan ceritanya.

IMG_20211204_111308 crematology
Ngopi dua hari yang lalu (baru ditampilkan sekarang)

Ada juga yang menyarankan untuk tidak memberitahukan lokasi kita secara real-time untuk masalah keamanan. Misalnya ada keluarga yang berpesiar ke luar negeri dan membuat foto-foto atau video secara live. Itu bisa menjadi informasi bagi maling untuk beroperasi. Bener juga ya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sering menuliskan status Anda secara real-time?

Bukan Ahlinya, Tapi Bicara

Sering melihat acara seminar dengan pembicara yang bukan ahlinya. Bukan pakarnya. Pembicaranya adalah pejabat dari instansi ini dan itu atau direktur dari perusahaan besar. Saya yakin materi presentasinya dibuatkan oleh orang lain, yang mungkin kompeten atau mungkin juga tidak. Selain pejabat, ada juga orang-orang yang mencari spotlight. Bergegas menuju spotlight.

  • Acara perusahaan rintisan (start-up): pembicara bukan orang yang menjalankan usaha rintisan, atau setidaknya pernah terlibat;
  • Blogging: pembicara bukan orang yang masih aktif menulis di blog (ha ha ha);
  • Security: pembicara adalah pengamat;
  • IoT, blockchain, Artificial Intelligence: pembicara adalah orang yang baru mendengar judul-judul ini;
  • dan sejenisnya. Apakah perlu saya list semua?

Mungkin ini bukan salah orang-orang tersebut. Mungkin ini adalah salah dari penyelenggaranya – EO / event organizer-nya. Mereka menyelenggarakan ini hanya untuk menggenapkan tugas, supaya checklist terpenuhi. Atau juga hanya untuk menghabiskan anggaran yang belum terserap oleh kegiatan lainnya. Atau memang EO-nya malas (mau menuliskan “bodoh” kok tidak tega ya) mencari narasumber yang lebih kompeten.

Apa yang saya lakukan ketika melihat hal ini? Diam saja. Paling pol ya menuliskan di blog ini. Pasalnya kalau saya bicara, nanti kesannya seperti orang yang iri dengki karena tidak kebagian bicara. Padahal sangat jauh dari itu karena lebih seringnya saya menolak untuk menjadi pembicara karena sibuk. Kalau topiknya tidak sesuai dengan kapabilitas saya, ya otomatis saya tolak lah.

Ada sedikit rasa bersalah karena membiarkan mereka membodohi masyarakat. Mungkin kata membodohi terlalu keras. Anda paham maksud saya. Seharusnya saya ikut meluruskan dengan ikut menjadi bagian dari acara tersebut. Masalahnya, saya tidak sempat karena sudah banyak kesibukan lainnya atau alasan lainnya. Ya sudah. Terima saja. Lihat saja dari jarak jauh. Salahkan diri sendiri. Semoga masyarakat menjadi lebih pandai. Itu saja harapan dan doa saya.

Hari Blogger Nasional

Ternyata hari ini adalah Hari Blogger Nasional. Baru tahu saya. Eh, sebetulnya saya sudah pernah tahu tapi lupa. Dahulu ketika hari ini dicanangkan saya juga tidak terlalu tertarik. Hari yang biasa saja. Soalnya saya belum tahu apa pentingnya ya? Apakah pada saat itu orang-orang disarankan – encouraged – untuk membuat blog atau bagaimana? Pada saat itu memang ngeblog menjadi sebuah hal yang sedang populer.

Sekarang, setahu saya sudah tidak banyak lagi orang yang masih ngeblog. Mungkin saya tinggal satu-satunya orang – eh, dinosaurus – yang masih ngeblog. Meskipun ngeblog ini ternyata lebih susah dari ngevlog, saya masih ngeblog juga. Tadinya saya malah berpikiran bahwa membuat video – ngevlog – itu lebih menghabiskan waktu dibandingkan ngeblog, tetapi ternyata cara saya lebih mudah membuat vlog. Maklum, cara saya adalah sekali rekam langsung upload. Jadi tidak ada proses editing (kecuali kalau ada yang hal yang sangat besar dan harus diedit).

Selamat kepada diri sendiri saja ah, sebagai seorang blogger. Masih. Setidaknya untuk saat ini.

Perbaharui Materi Kuliah?

Jawaban singkatnya adalah, maaf tidak sempat. Ha ha ha. Langsung to the point.

Baru saja saya selesai memberikan kuliah. Di beberapa slide – mungkin lebih tepatnya hampir di semua slide – ada perbaikan atau pembaharuan (update) yang harus saya lakukan. Karena kelas sedang berlangsung, maka saya catat itu di kertas. Kadang juga perbaikan saya catat di kepala saja. Diingat-ingat. Setelah selesai kuliah harusnya itu langsung diperbaiki, tetapi seringkali ada kesibukan lain yang harus dilakukan sehingga akhirnya perbaikan tidak terjadi juga. Hadoh.

Sekarang saya mencoba cara yang berbeda. Ketika ada yang harus diperbaiki, maka di kelas pun saya langsung update slide tersebut. Sambil berhenti sejenak, saya langsung perbaiki slidenya. Ternyata ini tidak terlalu mengganggu flow dari kelas. Hanya saja pebaikan yang dapat dilakukan adalah perbaikan yang sifatnya minor. Kalau perbaikannya cukup besar, misalnya mengubah diagram atau menambahkan diagram baru, ini belum saya coba. Rasanya ini akan membuat flow dari kelas terganggu. Jadi untuk yang ini masih belum dapat saya lakukan.

Jadi, jangan marah-marah dulu ke dosen yang materi kuliahnya itu-itu saja. Mungkin dia mengalami masalah yang sama dengan saya, tidak ada kesempatan untuk memperbaharui.

Tantangan Diri: Ngevlog setiap hari selama 1 bulan

Seperti biasa, saya menantang! Yang ditantang ya diri sini. Ini adalah ciri seorang pemberani. Ha ha ha. Mungkin ini hanya mencari pembenaran, tetapi sesungguhnya ini adalah sesuatu yang berat. Sebelum menantang orang lain, tantanglah diri sendiri.

Kali ini saya menantang diri untuk membuat video YouTube (nge-vlog) setiap hari berturut-turut selama satu bulan. Nah. Sanggupkah?

Ada banyak masalah terkait dengan hal tersebut. Pertama, orang mempermasalahkan soal topik. Saya tidak. Kalau kita bicara 30 hari, maka harus memiliki setidaknya 30 topik. Ini bukan masalah bagi saya karena saya punya aplikasi – buatan sendiri tentunya – yang mengeluarkan (generate) topik baru setiap dijalankan. Nah. Bahkan setiap hari saya punya ide topik yang perlu dibahas. Jadi, ini bukan masalah.

Kedua adalah soal waktu. Ada banyak alasan orang untuk tidak menulis (ngeblog) atau membuat video (nge-vlog) dan “tidak ada waktu” adalah alasan yang cukup tinggi juga di urutannya. Memang membuat tulisan atau video yang bagus membutuhkan waktu. Nah, bagaimana kalau membuat tulisan / video yang tidak terlalu bagus saja? Kalau alasannya adalah karena kualitas, maka mari kita buat fokusnya ke kuantitas dulu. Kualitas kita tempatkan di urutan ke 17. Masih mau cari alasan lain?

Kembali ke tantangan saya tersebut – ngevlog selama sebulan – menurut saya, saya berhasil. Hanya ada 1 kali bolong yaitu kemarin. Ada alasannya tetapi itu sudah saya bahasa di vlog saya. Tuh kan, kegagalan saja bisa menjadi topik bahasan.

Tantangan berikutnya apa? Saya mau perpanjang tantangan ini. Meneruskan menjadi 2 bulan. Ha ha ha. Tadinya mau menantang diri untuk menjadikannya 1 tahun, tetapi itu merupakan tantangan yang terlalu berat. Naik jadi 2 bulan saja sudah seperti naik tangga. Steep. Bukan landai. Mari kita coba.

Semangat!

Sibuk

Ini postingan tentang topik sibuk yang kesekian kalinya. Maklum, ini manusianya orang sibuk. Jadi topik yang paling sering muncul adalah sibuk. Hanya saja biasanya saya tidak menuliskan itu di sini. Maksudnya tidak sering-sering menuliskan itu.

Minggu ini hampir setiap hari saya ada meeting dan seminar (online) sampai pukul 9 malam. Kadang setelah itu dilanjutkan ikut (mendengarkan) meeting yang sedang berlangsung (sampai pukul 10). Belum lagi ada tugas untuk memeriksa makalah mahasiswa.

Tulisan ini dibuat sambil memeriksa tugas mahasiswa dan juga mempersiapkan materi Data Science with Python (hari kedua). Untuk materi besok, soal kelangkaan chips, baru akan saya siapkan Jum’at pagi. ha ha ha. Ini posternya.

Kata orang, “if you want to get the job done, give it to the person who is already busy”. What a concept. Ngeri kali. Ha ha ha.

Menjadi Outsider

Dari dulu saya merasa bahwa diri saya adalah seorang outsider. Maksudnya bagaimana sih? Mungkin definisi dari outsider itu harus diperjelas dulu ya? Langsung dari cerita saja ya. Mulainya entah sejak kapan. Saya ambil contoh random saja ya.

Ketika SMP atau SMA biasanya orang memiliki kelompok group. Saya kok merasa tidak punya ya. Hanya di SMA saja saya ada kelompok yang isinya hanya berempat orang saja. Selain itu tidak ada. Contohnya begini. Misalnya saya bisa main musik, tetapi di SMA saya tidak pernah ikut kelompok musik. Padahal untuk ukuran SMA mungkin kemampuan gitar saya oke lah. Eh, malah sekalinya diajak main musik ya malah menabuh drum di festival. Selain itu saya tidak pernah diajakin kelompok musik. Solusi saya, ya buat group musik sendiri. ha ha ha. Seingat saya ada beberapa kelompok amatiran yang saya ikuti, mulai dari musik eksperimen (splicing tape, slowing it down, dll.) sampai ke yang Beatles-an.

Main sepak bola juga sama. Saya tidak pernah diajakin ikut klub sepak bola. Yang ini saya tidak buat klub sepak bola sendiri, karena repotnya luar biasa. ha ha ha. (Kalau sekarang, futsal.)

Dari segi kelompok yang berasal dari strata ekonomi, juga tetap outsider. Tidak masuk ke group orang kaya. Tidak masuk group orang miskin. Tidak masuk group orang tengah. Mungkin kawan-kawan bingung, saya harusnya masuk ke kelompok mana. Walhasil, saya tidak termasuk kelompok mana-mana. Bagi semua group, saya adalah outsider.

Waktu menjadi mahasiswa juga sama saja. Di kampus juga ada kelompok band, tetapi lagi-lagi saya juga tidak diajakin. Ya buat band sendiri. Ya tetap juga tidak diajakin. Ya sudah, buat acara sendiri saja. Ha ha ha. Olah raga, politik, keilmuan, semuanya juga sama. Saya tetap jadi outsider.

Sampai sekarang kejadian outsider tetap berlangsung. Ini di semua lini; mulai dari olah raga, musik, bisnis, pendidikan, dan seterusnya. Ada acara alumni lah, itu lah, dan seterusnya, nama saya tidak pernah ada karena tidak pernah diajak. Saya ambil asumsi mereka mengira saya sibuk (padahal memang iya – ha ha ha). Atau mungkin dikiranya saya tidak atau tidak mampu. Apapun, saya tidak ikutan. Solusi saya juga gampang saja dan masih tetap sama, buat klub / kelompok sendiri. Buat acara sendiri. Happy-happy sendiri saja. ha ha ha. Jadi tidak perlu bergantung kepada orang lain.

Jadilah matahari.

Lambat Membaca (dan menulis)

Lagi kesel. Soalnya ini kok lambat sekali membaca buku. Ada banyak buku yang ngantri dibaca. Saat ini sedang membaca buku “The Prosperity Paradox” dan nampaknya majunya sangat lambat. Kalau ada buku yang bagus, ini sering terjadi. Baca satu halaman, mikir dulu. Lewat satu dua hari, baru melanjutkan baca. Selain buku itu ada beberapa buku lain lagi yang saya baca secara paralel, tetapi yang lainnya malah lebih lambat lagi. Hadoh.

Akibat dari lambatnya membaca saya juga jadi lambat menulis. Biasanya saya cepat menulis di wordpress ini. Semuanya langsung jreng ditulis, tapi kali ini sampai saya membuat tulisan yang berbentuk draft dulu. Wadaw. Lebih lambatnya menulis ini karena saya merasa bahwa waktu saya untuk menulis ini lebih baik digunakan untuk membaca dulu. Jadi membaca itu semacam bottleneck untuk semua proses.

Demikian laporan keluh kesah. Sementara ini. Jangan khawatir, akan ada laporan keluh kesah berikutnya lagi. Kembali ke membaca.

Mendongeng Apa Lagi Ya?

Sudah beberapa minggu saya tidak membuat konten podcast (dan YouTube). Masalahnya bukan karena tidak ada topik, tetapi malah kebanyakan topik yang mau dibahas. Jadinya malah bingung. Terlalu banyak pilihan. Procrastinating. hi hi hi.

Untuk tulisan di sini (blog), semestinya saya dapat menjelaskan apa-apa yang sudah saya buat di YouTube. Ini juga belum sempat. Hadoh.

Jadi, ada usulan apa yang mau saya bahas? Terutama untuk konten di podcast saya karena di sana saat ini belum ada 100 podcast. Target saya, akhir tahun ini harus ada 100 podcast. Ha ha ha. Mestinya sih bisa. Kan masih belum pertengahan tahun. Kalau setiap hari bikin podcast, 100 podcast sih tercapai mestinya. Tapi nggak janji ya.

Rocketman

Beberapa hari yang lalu saya membuat komentar di salah satu postingan kang Emil (Ridwan Kamil) di facebooknya, yaitu tentang desain istana kepresidenan yang akan datang. Desainnya berbentuk burung yang besar dan megah. Saya membuat komentar yang bernada guyonan (seperti dalam gambar berikut). Bahwa desain seperti itu gampang di-roket. he he he. Eh, yang like dan komentar banyak dong. Ha ha ha. Jarang saya mendapat banyak respon seperti itu.

Serunya yang komentar itu kadang nggak nyambung atau tendensius. Ada yang mengira saya hater kang Emil. Hadoh. Sangat jauh banget. Lah dari dulu saya termasuk yang mendukung kang Emil. Orang baik harus didukung. Anyway, saya tidak bisa membaca komentar-komentar itu karena entah kenapa facebook memiliki bugs untuk membuka banyak komentar. Eh, ini kalau saya buka di komputer. Entah kalau dibuka di handphone mungkin bisa juga.

Roket. Rocket. Sebuah kata yang selalu menarik. Apa yang terbayang di kepala Anda ketika saya sebutkan kata ini? Bagi saya sih kata ini membuat konotasi pergi ke ruang angkasa. Mungkin gara-gara waktu kecil banyak baca komik. Bahkan yang terbayang jelas oleh saya adalah halaman denpan salah satu buku Tintin.

Kalau sekarang, kata roket ini saya asosiasikan dengan Elon Musk dan SpaceX-nya. Pergi ke Mars. Dalam kaitannya dengan ini sering saya tanyakan ke mahasiswa saya, “jika Anda ditawari Elon Musk untuk pergi ke Mars, siapa yang bersedia?“. Ternyata tidak banyak yang angkat tangan. Anak muda sekarang kurang jiwa petualangannya. Kalau saya masih muda, saya akan angkat tangan. No question. Yakin. Saya ingin membuat manfaat. Meskipun pergi ke Mars sangat berisiko. Setidaknya ada risiko tidak dapat kembali ke dunia (earth). Tidak masalah. Maklum ketika masa muda banyak semangat “Me against the world“. Lah kesempatan untuk meninggalkan the world dengan berkarya merupakan salah satu jawaban. ha ha ha.

Kata roket juga mengingatkan saya akan salah satu lagu Elton John, Rocketman. Lagu ini juga sarat dengan makna. Silahkan cari liriknya dan resapi maknanya. Hebat Elton John dan Bernie Taupin.

Jadi kalau saya sebut rocket, apa yang ada di kepala Anda?

(dari) Tulisan (ke) Video (kemudian) Audio

Ini adalah perjalanan dari cara saya mendongeng. Semuanya dimulai dari blog. Eh, sebelum itu saya memulai dari membuat halaman web dengan langsung menuliskan kode HTML. Kala itu namanya masih homepage. Tapi itu kejauhan. Kita mulai dari blog saja ya.

Blog merupakan media saya mendongeng dalam bentul tulisan. Pada awalnya ini dilakukan karena teknologi yang tersedia pada masa itu baru sanggup untuk mendukung tulisan. Kecepatan internet masih lambat. GPRS. (Apa itu? Silahkan pelajari.) Sudah lambat, harganya juga mahal. Akses internet itu dapat dikatakan masih mahal. Jadilah mendongeng dengan bentuk tulisan di blog merupakan sebuah hal yang paling memungkinkan. Padahal ini kurang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang tidak suka membaca (dan menulis tentunya). Blog memiliki fitur yang memudahkan orang untuk bercerita. Seseorang yang mau nge-blog tidak harus tahu tentang HTML dan kode-kode singkatan lainnya. Dia tinggal mengetikkan apa yang ada di otak (dan hatinya?). Maka mulailah saya ngeblog. Itu tahun 2002, kalau tidak salah. Itu dimulai dengan menggunakan layanan blogspot.com (dan banyak lagi) sebelum akhirnya saya mangkal di wordpress.com (dan baru-baru ini ke medium.com).

Langkah selanjutnya saya ingin membuat dongeng dalam bentuk audio. Secara teknis ukuran berkas audio lebih besar dari teks tetapi lebih kecil dari video. Jadi dari blog ke membuat suatu yang berbentuk audio harusnya lebih natural. Namun ternyata ini tidak terjadi. Jika di tulisan ada blog, maka untuk audio ada podcast.

Membuat podcast sudah pasti lebih susah daripada membuat tulisan, tetapi tingkat kesulitannya ternyata cukup tinggi. Pertama saya harus memiliki alat rekam yang bagus. Digital recorder harganya masih mahal. Itu yang bagus. Handphone juga sudah dapat digunakan untuk merekam, tetapi memori handphone untuk menyimpan rekaman suara masih terbatas. Program (tools, software) untuk mengedit hasil rekaman juga masih ribet. Jika blog ada di banyak tempat, podcast ternyata masih sedikit dan juga ribet. Singkatnya, saya tetap ngeblog saja.

Teknologi komputer dan jaringan berkembang terus. Kemampuan komputasi handphone sudah setingkat laptop. Memorinya pun sudah besar. Handphone sudah dilengkapi dengan kamera yang kualitasnya mendekati atau bahkan di atas digital camera. Maka mengambil video merupakan hal sangat mudah. Mengedit video masih ribet. Softwarenya masih mahal dan membutuhkan kemampuan komputer yang bagus juga. Lama kelamaan masalah ini terpecahkan juga. Mulai banyak software untuk mengedit video yang kualitasnya bagus, mudah digunakan, dan gratis pula. Tempat untuk menyimpan video-video tersebut mulai banyak, yang utamanya tentu saja YouTube. Luar biasa ini YouTube. Video sebesar apapun tinggal kita unggah. Akhirnya saya membuat video untuk YouTube.

YouTube channel saya ada di sini: https://www.youtube.com/channel/UC3S4LLQIPK1TT5S2LmieCYg

Setelah membuat video barulah saya melirik lagi untuk mendongeng melalui suara. Secara tidak sengaja saya menemukan Anchor.fm. Ini sebuah layanan yang membuat podcasting semudah ngeblog. Saya tinggal mengunggah suara saya – yang saya ambil dari video YouTube saya – ke situs anchor.fm itu. Langsung saya membuat sebuah episode untuk podcast saya. Yang lebih menariknya lagi, anchor.fm juga mendistribusikan podcast itu ke beberapa tempat dan khususnya ke Spotify. Mengapa ini penting? Karena ada banyak orang yang mendengarkan musik dan podcast melalui Spotify. Jadi Anchor.fm ini menyerupai YouTube bagi saya.

Podcast saya ada di sini: https://anchor.fm/budi-rahardjo

Pendekatan saya dalam mendongeng tetap sama, “create and shoot“. Jadi saya langsung bercerita dan publish. Kalau ada editing itu hanya minor. Ya kualitasnya seperti itu. Apa adanya. Oh ya, ini semua saya lakukan sendirian. Jadi inilah sebabnya saya tidak melakukan proses editing. ha ha ha. Kebanyakan kerjaan.

Dari peta perjalanan ini ternyata saya berangkat dari tulisan (ngeblog) ke video (YouTube channel) baru ke podcast (anchor.fm dan spotify). Lucu juga. Tadinya saya pikir secara teknologi harusnya saya ke podcast dulu baru ke video. Ternyata kenyataan berkehendak lain. Yang penting Anda dapat menikmati dongeng saya. Ya kan?