Tag Archives: Curhat

Banjir Pesan (di WA)

Ini masih melanjutkan tentang topik bahwa program chat seperti WhatsApp (WA) itu tidak cocok untuk orang seperti saya, yang kebanyakan kontak dan pesan. Begini.

Beberapa hari yang lalu saya ada yang mau ketemu dengan saya untuk berkordinasi. Saya bilang, ok akan saya berikan waktunya besok. Ini diskusinya via WA. Nah, besoknya saya cari pesan itu dan tidak ketemu. Maklum sudah ada puluhan group dan orang yang berikirm pesan (dan lebih dari 500 pesan yang belum terbaca). Chat kemarin itu tidak ketemu. Saya tidak bisa membalas pesan yang bersangkutan. Kalau yang bersangkutan hanya menunggu dan tidak kontak lagi (mungkin karena takut bikin sibuk, sungkan, atau apa saja alasannya) maka tidak akan ada balasan dari saya. Mungkin yang bersangkutan akan merasa bahwa saya tidak punya waktu untuk menjawabnya (dan dugaan-dugaan lainnya). Padahal alasannya adalah saya tidak dapat menemukan pesan yang bersangkutan.

Sistem email yang dibaca di komputer lebih bagus untuk hal ini karena dapat dilakukan proses tagging, pengurutan dan pencarian. Hanya saja sekarang orang mulai mengandalkan ke aplikasi pesan dibandingkan dengan email.

Oh ya, bagi yang bersangkutan (kalau membaca pesan ini), tolong kirim pesan lagi via WA agar pesan Anda muncul di urutan paling atas dan terbaca oleh saya.


Mau Diapakan Majalah Ini?

Pertama, saya harus mengaku dulu. Saya tukang mengumpulkan majalah dan buku. Ada banyak majalah yang tidak dapat saya buang. Kalau buku mungkin mudah untuk menerima agar dia tetap disimpan. Nah kalau majalah? Sebagian besar orang akan membuang majalah. Saya menyimpannya. Untungnya majalah yang saya baca adalah majalah teknis, seperti IEEE Spectrum, IEEE Computer, dan seterusnya.

Ini adalah foto yang saya ambil beberapa menit yang lalu.

P_20160724_125325-01

Ini adalah tumpukan majalah IEEE Spectrum yang berada di lantai. Tadinya dia berada di atas meja kerja, tetapi saya turunkan karena mejanya mau dibersihkan dahulu. Masih ada banyak tumpukan lagi yang sejenis. Banyak sekali. (Tidak saya foto karena mengerikan. hi hi hi.)

Saya tahu bahwa majalah-majalah ini – misal yang IEEE itu – ada versi digitalnya, tetapi saya masih suka memegang versi fisiknya. Tampilannya lebih indah dan saya dapat membuka halaman-halaman dengan mudah. Kalau nanti bentuknya digital, saya khawatir akan susah menemukan mereka kembali. (Ya saya tahu ada fitur search dan sejenisnya, tetapi mereka tidak efektif kalau saya mencari tulisan di majalan dalam bentuk fisik ini.) Suatu saat saya akan pindah ke versi digital. Mungkin. Untuk sementara ini saya masih suka versi fisik.

Masalahnya adalah dimana saya dapat menyimpan mereka? Lemari buku saya sudah penuh dengan buku-buku. Bahkan buku-buku juga berterbaran di segala penjuru rumah. Sering saya heran kalau bertamu ke rumah orang dan melihat tidak ada buku di rumah mereka. Mungkin buku-bukunya sedang bersembunyi di ruang perpustakaan mereka?

Kembali ke masalah “menyampah” majalah ini. Jadi majalah-majalah ini harus saya apakan?

Tolong!


Pak Budi, ya?

Sebelum futsal kemarin sore, saya mau shalat dulu di mushola lapangan futsal YPKP. Ternyata kucuran airnya kecil. Jadi saya putuskan untuk shalat di masjid YPKP saja yang jaraknya tidak jauh dari situ. Sekalian, di sana ada Pokemon. ha ha ha.

Setelah shalat, saya duduk sebentar. Ah mau nangkap Pokemon dulu ah. hi hi hi. Tapi kok ada yang ngelihatin dari tadi. Wah, jangan-jangan dia mau menertawakan saya karena saya mainan Pokemon Go. hi hi hi.

Setelah mau beranjak ke luar masjid, ternyata dia mendatangi saya dan menegur.

“Pak Budi, ya?”

Ya ampun. Oh, ternyata dia berkata bahwa dia mengenali saya dari halaman blog ini. Kirain mau nanya kenapa saya mainan Pokemon Go. hi hi hi. Ngobrol sebentar sebelum saya kembali ke lapangan futsal. “Masih ngeblog tiap hari pak?” Wah, sekarang agak susah tiap hari. Niatnya sih masih ada, tapi kenyataannya kadang-kadang terpaksa molor.

Sudah beberapa kali kejadian mirip seperti ini. Pernah suatu saat (kalau tidak salah somewhere di Pondok Indah), saya kelaparan dan mencari warung di pinggir jalan. Makanlah saya di warung itu. Setelah selesai makan, ada yang menegur … “Pak Budi, ya?”. Ha ha ha. Hadoh.

Yang repot untuk situasi seperti ini adalah, dia mengenali saya dan saya tidak mengenali dia. Saya berada pada posisi yang susah dan membuat saya menjadi kikuk. Maklum, nanti disangka sok lah. Saya juga sulit menghafal nama. hi hi hi. Jadi kalau saya berada pada situasi seperti itu, mohon dimaafkan ya.


Ke(Tidak)harusan Merespon Chat

Sekarang banyak orang yang terjebak dalam keharusan merespon pesan-pesan yang muncul di aplikasi chat (seperti WhatsApp / WA, Telegram, dan sejenisnya). Setiap ada pesan yang muncul di program chat tersebut, maka dia merasa harus merespon dengan segera. Kalau tidak merespon, maka dia merasa tidak enak dengan orang yang mengirimkan pesan tersebut. Akibatnya, orang yang banyak memiliki group di WA atau Telegram akan disibukkan dengan merespon pesan-pesan tersebut sehingga dia terlalu fokus kepada handphonenya. Tidak memperdulikan sekelilingnya di dunia nyata.

Aplikasi chat sebetulnya didesain untuk komunikasi asinkron. Maksudnya, pihak-pihak yang berkomunikasi TIDAK HARUS online pada saat yang sama. Ini berbeda dengan telepon, yang mana kedua belah pihak yang bertelepon harus ada pada saat yang sama. Yang ini disebut sinkron. Artinya, pengguna aplikasi chat tersebut tidak harus merespon dengan segera karena sesungguhnya dia asinkron.

Kalau dahulu sebelum ada aplikasi WA/Telegram itu kita sebenarnya sudah mempunyai SMS yang juga sifatnya asinkron. Tetapi karena SMS itu berbayar, maka pihak-pihak yang berkomunikasi sadar bahwa respon tidak harus segera dan harus dipikirkan dulu. Bayar soalnya. Respon harus singkat dan kalau bisa tidak banyak-banyak. Mahal. Sekarang aplikasi WA/Telegram dapat dianggap “gratis”, meskipun sesungguhnya kita bayar akses internetnya. Gratis ini karena dilihat bayarnya bukan dari jumlah pesan yang kita kirim atau terima. Akibatnya “tuntutan” menjawab segera dan banyak itu terasa ada. Kenapa kamu tidak membalas segera? Kan gratis.

Usul saya, kita harus menggunakan aplikasi WA/Telegram itu secara wajar saja. Jika perlu direspon segera, ya segera. Tetapi kebanyakan pesan di WA/Telegram – terutama di group-group yang tidak terlalu penting, yang hanya ngobrol ngalor ngidul – tidak perlu harus direspon segera. Tahan diri untuk berkomentar. Seperti di dunia nyata, Anda juga tidak perlu harus berkomentar (dan cerewet) untuk semua hal. Yang wajar-wajar saja. Secukupnya saja.

Berikan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dunia nyata.


Xiao Long Bao

Sudah lama saya tidak mampir ke restoran ini, Imperial Treasure di Plaza Indonesia, Jakarta. Menu yang menjadi pilihan saya adalah Xiao Long Bao. (Lihat foto.)

xiao-long-bao

Makanan ini di dalamnya seperti siomay tapi ada rasa jahenya sedikit. Di dalamnya ada airnya sehingga ketika digigit, maka air keluar dari “bungkusan”nya itu. Dimakan hangat-hangat (atau kalau gak sabar, panas … ha ha ha). Enak banget.

Makanan ini jarang di temukan di restoran-restoran dan kalaupun ada seringnya restorannya tidak halal. Jadi kalau ke Jakarta dan ke Plaza Indonesia pas jam makan, maka ini pilihan saya.

Sebetulnya tidak itu saja sih yang saya makan. “Teman”nya – yang sebetulnya malah lebih besar ukurannya adalah Lamian (Mie Tarik). Yang ini tidak perlu saya tampilkan fotonya kan? hi hi hi.


Melawan Arus Balik Mudik

Ini masih cerita melawan arus mudik lagi. Eh, arus balik mudik tepatnya. Bukannya mau mengejek orang yang terjebak arus mudik lho. Hi hi hi. Ini sekedar cerita saya.

Tadi pagi kami ke Jakarta lagi. Mengingat kemarin-kemarin melihat arus balik ke Jakarta yang luar biasa padatnya, maka kami berangkat dari rumah pukul 3 pagi. Pertama-tama dari Bandung sih lancar-lancar meskipun saya melihat mulai banyak kendaraan. Akhirnya memang kena macet juga di sekitar Km. 50-an (mungkin Km 52?) sampai Km. 42. Lumayan juga 10 Km macetnya. Yang saya khawatirkan adalah lewat waktu shalat Subuh. Alhamdulillah bisa shalat Subuh di Km. 42 sebelum pukul 5 pagi.

Lepas shalat Subuh, keluar dari Km. 42 jalan lancar. Lah, kemana tadi mobil-mobil yang bikin macet? Mungkin kepadatan tadi terjadi karena dekat dengan rest area. Atau mungkin juga orang banyak yang mau shalat Subuh juga. Entahlah.

Hari ini saya pulang ke Bandung juga. Mulai jalan dari Jakarta sekitar pukul 8 malam. Lumayan lancar jalan tol dalam kota. Agak sedikit tersendat pas dekat Halim, tetapi secara keseluruhan lancar.

Yang mengerikan adalah arah menuju kota Jakarta. Kepadatan terjadi di pintu tol Cikarang (Km. 29?) Nampaknya proses pembayaran di pintu tol itu harus dipercepat. Kemudian ada sedikit kekosongan sebelum padat lagi di sekitar Km. 42. Yang ini padatnya entah sampai mana karena saya keluar di Km. 65 (belok ke tol Cipularang) masih terlihat antrian kendaraan di sisi kanan. Berarti banyak yang datang dari arah Timur (Jawa).

Saya pikir itu saja sumber kemacetan. Eh, di jalan Cipularang pun arah ke Jakarta juga padat sampai sekitar Km. 72. Hadoh.

Dalam kepala saya, pantesan saja Jakarta macet. Lha wong segitu banyak kendaraan yang menuju Jakarta. (Saya melihat sendiri dari Jum’at lalu – yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya.) Ampun deh.

Ngaso …


Kekang Keinginan Berbagi Berita Negatif

Baru saja melihat sebuah berita di salah satu media sosial (Facebook). Beritanya tentang seseorang yang tidak mau patuh terhadap peraturan penerbangan. Dia merasa berkuasa. Akhirnya terpaksa pesawat diturunkan dan yang bersangkutan diamankan. Kesal juga melihat orang model begini. Ada keinginan untuk menceritakan hal ini kepada orang lain. Ingin membuat orang ini menjadi “terkenal” (buruk) sehingga dia jera.

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya batalkan untuk melakukan share. Untuk apa? Apa manfaatnya? Setelah saya bagi (share), apakah yang bersangkutan akan berubah? Belum tentu. Bahkan kemungkinan juga tidak berubah. Malah kemudian ada orang (gila) yang senang dia menjadi terkenal. Halah. Serius. Beneran.

Yang terjadi kalau kita membagi berita negatif adalah membuat orang baik-baik menjadi naik pitam juga. Naik darah. Marah-marah. Tensi! Artinya saya justru membuat orang baik menjadi kurang baik kondisinya. Padahal orang-orang baik ini tidak perlu harus ikut menderita atas berita negatif itu.

Ada banyak berita-berita negatif yang beredar. Tidak usah dicari pun ada banyak. Apalagi kalau kita cari, tambah banyak saja. Ini bikin gara-gara saja.

Jadi, lupakan saja berbagi berita negatif itu. Lebih banyak buruknya daripada manfaatnya.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.857 pengikut lainnya