Tag Archives: Curhat

Kesibukan Minggu Ini

Kuliah sudah selesai. Saya mengira kesibukan saya akan berkurang. Eh, malah makin sibuk. Minggu ini ternyata saya super sibuk.

Beberapa presentasi yang saya lakukan minggu ini antara lain:

  • Bedah buku “The Snowden Files”. Saya menceritakan mengenai buku ini dan implikasinya terhadap Indonesia.
  • Launching “IBM Linux Challenge 2016“, yaitu kompetisi open source. Ayo daftar.
  • Presentasi tentang pemanfaatan tanda tangan digital untuk aplikasi yang diprakarsai oleh Kominfo

Nanti cerita masing-masing akan saya coba tuliskan.

Acara-acara tersebut berlangsung di Jakarta dan ada yang dimulai sangat pagi sekali. Artinya saya harus berangkat pagi sekali dari Bandung, menginap, dan kembali lagi ke Bandung. Berangkat dari Bandung pukul 3:30 pagi. Ugh.

Nah, sekarang tinggal capeknya.


Apakah Kita Bodoh?

Apakah orang Indonesia itu dianggap bodoh ya? Tidak cukup otaknya untuk berpikir sendiri sehingga harus dituntun. Patronized. Bahkan untuk hal-hal yang sederhana (trivial) sekalipun harus diberitahu.

Saya ambil contoh dalam cerita-cerita (film, sinetron, [entah apakah komik juga?]) di Indonesia. Misalnya ada seseorang yang menunggu lama sekali. Yang ditampilkan adalah seseorang yang berkata, “Duuuh. Saya sudah menunggu lama sekali”. Sementara itu kalau di luar negeri lain lagi. Untuk contoh yang sama – orang yang menunggu lama sekali – yang digambarkan adalah seseorang yang terdiam, di sekitarnya ada asbak dengan banyak puntung rokok. Atau di sekitarnya ada beberapa kaleng minuman atau piring yang menumpuk, banyak kertas diremas-remas berantakan, buku menumpuk, atau sejenisnya. Tidak perlu dikatakan “saya menunggu lama sekali”. Untuk contoh yang ini kita diajarkan untuk berpikir dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa orang tersebut sudah menunggu lama sekali.

Akibat dari pemikiran bawah orang lain itu bodoh, maka “mereka” (orang lain itu) harus diatur.

  • Internet harus diblokir karena “mereka” tidak dapat membedakan mana yang pantas dan tidak pantas.
  • Acara-acara digeruduk karena “mereka” tidak dapat membedakan acara yang baik dan benar.
  • Buku-buku, bacaan, diberangkus karena “mereka” tidak dapat berpikir dan mencerna mana yang baik/sesuai dan mana yang tidak. Mereka pasti akan terpengaruh. Mereka tidak cukup otaknya untuk memilah.
  • Acara yang berbeda keimanan digeruduk karena keimanan “mereka” masih lemah sehingga nanti pindah akidah.
  • dan seterusnya …

update.


Empati Kepada Sesama

Sebetulnya saya tidak ingin menulis apa yang akan saya tuliskan ini.  Pertama, saya tidak suka menceritakan hal-hal baik yang saya kerjakan karena saya khawatir ini akan menjadi riya. Kedua, saya kurang suka menuliskan hal-hal yang berbau mengajari. Who am I to tell you? Saya sama dengan kalian semua. I am not holier than thou. Saya tidak lebih suci dari Anda. Tetapi, saya pikir ada lebih banyak manfaat yang diperoleh dengan menceritakan ini. Sekalian ini juga untuk mengeluarkan uneg-uneg saya.

Tadi pagi ada tetangga yang meninggal. Saya tidak kenal. Tetapi, tetangga adalah tetangga. Maka ketika masjid sebelah memberitahukan akan ada shalat jenazah, saya ikutan. Sebetulnya tadinya ada perasaan enggan juga. Saya tidak kenal. Toh sudah ada orang lain yang melakukan shalat jenazah. Fardu kifayah sudah terpenuhi. Tetapi kok hati kecil merasa bersalah. Sebagai sesama manusia, sudah sepantasnya kita menghargai manusia lainnya. Bayangkan, kalau orang-orang sepemikiran saya semua – malas sekedar ikut shalat jenazah – maka ketidakpedulian ini akan semakin akut. Mana empati kita?

Dua baris lelaki dan satu baris perempuan yang ikut shalat jenazah. Kami mendoakanmu. Semoga nanti ketika waktunya, banyak orang yang mau menshalatkan kita.

Lepas shalat, keranda digotong ke pemakanan di atas. Tidak jauh dari tempat kami, kurang dari 1 Km, ada tempat pemakaman.

Lagi-lagi ada konflik. Sudah cukup saya ikut shalat jenazah. Saya tidak harus ikut mengantarkan ke liang lahat, bukan? Tapi, lagi-lagi saya merasa bersalah. Dia juga manusia. Mengapa tidak ikut mengantarkan? Toh, ada waktunya juga. Toh saya tidak sedang mengerjakan sesuatu yang super penting juga. Maka saya ikutlah dalam rombongan ke makam.

Dari orang-orang yang hadir, mungkin saya hanya kenal setengahnya. Ah, ini menunjukkan modernisasi – lepas hubungan dengan tetangga. Sebetulnya saya pun tidak ingin chit-chat dengan yang saya kenal. Saya juga tidak ingin menunjukkan diri bahwa saya hadir. Saya hanya sekedar berempati sesama manusia, mengantarkan ke liang lahat.

Saya tidak menyalahkan tetangga-tetangga lain yang tidak ikut. Mereka punya alasan masing-masing. Saya, tadi, tidak punya alasan untuk tidak ikut. Alasan saya tadi hanya malas saja. Ah.

Apa sebetulnya poin yang ingin saya sampaikan? Berempatilah! Tidak susah berempati. Syaratnya hanya sekedar MAU saja. Lepaskan ego kita. Apa yang kita hadapi bukanlah yang paling berat di dunia ini. Kita bukan siapa-siapa. Di tengah-tengah kemajuan jaman dan ketergantungan manusia pada teknologi yang membuat manusia menyendiri, berempati kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang mulai sirna.

[Aku memohon ampun kepada Allah swt atas tulisan ini. Ya, Allah, jauhkan aku dari riya. Mohon maaf untuk yang tidak berkenan.]

 

 

 


Kurang Usaha

Sering kesel juga melihat orang yang kurang usaha. Kerja hanya secukupnya saja. Tidak mau melakukan yang terbaik. Excellent.

Saya selalu teringat cerita (entah betul atau tidak) tentang Steve Jobs. Suatu hari, dia disuruh ayahnya untuk mengecat pagar. Bagian luar sudah dia cat, bagian dalamnya tidak. Pikir dia sudah selesai. Kemudian dia ditegur ayahnya, kenapa bagian dalamnya tidak dia cat? Steve menjawab, untuk apa? Toh tidak kelihatan? Jawaban ayahnya adalah, biarpun tidak kelihatan tapi kita tahu itu tidak dicat, belum selesai. Nah. Akhirnya dia menjadi perfectionist. he he he.

Dalam bekerja juga demikian. Banyak yang ngasal saja. Asal tugasnya selesai saja. Selama persyaratan “administratif” terpenuhi, sudah. Ini mulai dari pekerja level tukang sapu sampai bos (direktur). Sama saja. Tukang bersih-bersih ngasal kerjanya, yang penting lantai sudah disapu dan meja sudah dilap. Mengenai hasilnya tidak bersih, dia tidak peduli. Yang penting tugas sudah dilakukan. Begitulah.

Mahasiswa juga begitu. Mengerjakan tugas dengan asal selesai saja. Asal mengerjakan tugas. Dia tidak ingin tugasnya bagus. Alasannya tentu saja sibuk. Sama. Semua orang juga sibuk. Kalau sekarang saja – pas jadi mahasiswa – tidak bisa menangani kesibukan, tunggu saja nanti kalau sudah kerja. Kesibukannya bahkan lebih dari itu. Pasti mahasiswa tidak percaya. Yang sudah (sedang) bekerja pasti dapat mengkonfirmasikan ini. he he he.

Beberapa waktu yang lalu ada orang-orang yang menghubungi saya karena meminta saya untuk menjadi pembicara di acara mereka (atau wawancara, atau apalah). Mereka main telepon saja dan tidak mau cari tahu siapa saya dan skedul saya seperti apa. (Sedikit banyak yang ini sudah saya bahas.) Padahal kalau mereka mau tahu, mereka bisa membuka berbagai media sosial saya (facebook, twitter, dan blog) untuk mengetahui kesibukan saya sehingga dapat mencocokkan dengan acara mereka. Ini salah satu contoh kerja yang ngasal juga.


Kebanyakan Pesan

banjir pesanBanjir pesan (message). Ada beberapa orang yang kemarin ngirim pesan ke saya melalui WhatsApp atau Telegram. Sekarang sudah tidak muncul lagi di layar saya. Mungkin ada, tapi di baris ke 100-an. He he he.

Masalahnya, ada banyak orang yang kirim pesan ke saya. Bayangkan saja. Ada beberapa mahasiswa yang kirim pesan soal tugas-tugas mereka. Nama mereka langsung muncul di daftar yang kirim pesan. Maka ini akan mendorong ke bawah nama-nama yang kirim pesan sebelumnya.

Nampaknya aplikasi chat seperti WhatsApp dan Telegram tidak mampu untuk menangani kasus orang yang banyak pesan seperti saya. Mereka tidak didesain untuk itu ya? Padahal saya sudah menggunakan aplikasi di komputer untuk mencoba menangani data yang banyak ini. Gak ngejar juga. User interface (UI)-nya tidak cocok untuk itu.

Saya tidak bisa membalas semua pesan-pesan itu dengan segera. Kalau saya balasi semuanya, kerjaan saya yang lain (yang lebih penting) bakalan tidak selesai. Kerjaan membalas-balas pesan saja sudah menghabiskan waktu. Bayangkan kalau untuk membalas sebuah pesan membutuhkan waktu 1 menit. Kalau ada 100 pesan, berarti sudah hampir 2 jam! Itu hanya untuk membalas pesan yang ada saat ini. Setelah dibalas, pesan itu kembali memberikan jawaban. Kayak beranak aja. Jadi tambah banyak lagi pesan yang harus dibalas. he he he.

Jadi, bagi Anda yang sudah kirim pesan ke saya dan belum saya balas, ya inilah penyebabnya. Pesan Anda sudah tidak muncul di handphone / komputer / aplikasi saya.


Blog Jadi Korban

Ini adalah minggu terakhir perkuliahan. Eh, ternyata aktivitas lain juga tidak menurun. Super sibuk deh. Akibatnya blog jadi korban. Tidak terurus.

Ada beberapa presentasi yang saya lakukan terakhir ini; menjadi pembicara di Global Azure Bootcamp (cerita tentang IoT dan Cloud security; mostly cloud security), Security Trend 2016 (ini adalah CRM dari perusahaan kami, indocisc). Sementara itu ada beberapa undangan presentasi terpaksa juga ditolak.

Selain itu, tentu saja sibuk dengan toko insan music. Sedang merencanakan beberapa acara. Ingin roadshow ke sekolah-sekolah. (Ada sekolahan yang mau kami kunjungi?)

Setelah minggu ini akankah turun kesibukan? Saya kok gak yakin ya. uhuk.


Wartawan Kurang Riset

Baru-baru ini terjadi dialog seperti ini.

Wartawan (W): Pak, besok bisa ketemuan untuk wawancara
Saya (S): Ok. Tapi siang ya.
W: Baik pak. Tempatnya dimana?
S: Mungkin seputaran ITB atau jalan Dago.
W: Lho? Bapak di Bandung? Saya kira di Jakarta.
[Saya ingin membanting handphone. he he he]

Saya jadi bertanya-tanya. Kenapa ya saya yang mau diwawancara? Alasannya apa? Kemudian, apakah sang wartawan tidak melakukan riset dulu mengenai (kredibilitas) nara sumbernya? Siapa dia? Latar belakangnya? dan lain-lain. Dengan sedikit riset, seharusnya yang bersangkutan tahu bahwa saya ini basisnya di Bandung. Atau mungkin dia disuruh?

Atau … mungkin salah “budi rahardjo”. Mungkin seharusnya dia mewawancara “budi rahardjo” yang lain?

Mudah-mudahan ini bukan potret umum. Ataukah?


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.764 pengikut lainnya