Ngeblog di Jalan

Sudah lama saya tidak ngeblog. Alasan klasiknya adalah sibuk. Jika Anda melihat YouTube channel saya, mungkin bisa melihat sedikit dari kesibukan saya. Kali ini saya di kereta api dalam perjalanan dari Bandung ke Solo. Kesempatan ini saya gunakan untuk ngeblog. Mari kita lihat berhasil atau tidaknya – ngeblok di jalan.

Ceritanya saya ngeblog selalu dengan menggunakan komputer. Jari-jari saya jempol semua sehingga tidak bisa ngetik dengan nyaman di handphone. Saya juga tidak suka ngeblog offline. Gak mood. Jadi ini menggunakan komputer yang tethering ke handphone dengan menggunakan operator Telkomsel.

Selama melewati kota-kota, nampaknya sinyal Telkomsel cukup baik. Tadi sempat ketutup bukit (hutan?), sinyal menghilang. Sekarang nyambung lagi. Setidaknya teknologi sekarang jauh lebih baik dari dahulu. Coverage dari layanan operator seluler juga semakin bagus. Mestinya ngeblog kali ini lancar. (Ini saya ngetik sambil waswas juga. Khawatir sudah ngetik banyak-banyak eh putus dan hilang.)

Saya kira intro-nya cukup sekian dulu. Nanti mau cerita yang lebih panjang. Lebih bener. Sebetulnya ngeblog yang ngasal juga tidak masalah sih. Soalnya sekarang kan orang tidak lagi membaca blog. Ha ha ha. Yakin tidak ada yang membaca tulisan ini.

Barusan saya coba publish kemudian ini saya sunting lagi. Ini untuk mencoba mode menulis sedikit, publish, sunting lagi, publish, edit lagi, publish, dan seterusnya. Nampaknya mode seperti bisa saya lakukan.

Healing Adalah Tidur

Lucu juga mendengar istilah “healing” di antara anak-anak sekarang. Saya mengambil arti dari “healing” sebagai upaya untuk mencari penyembuhan dari kelelahan, kejenuhan, kecapekan dari rutinitas atau pekerjaan yang keras atau berat. Upaya “healing” ini biasanya dilakukan dengan berbagai cara, tetapi bagi saya adalah dengan tidur.

Namanya juga manusia, saya seperti lainnya juga bisa lelah juga. Seperti saat ini kebetulan saya capek dari acara yang kemarin berturut-turut saya ikuti. Mulai dari seminar, yang mana saya menjadi chairman-nya sehingga harus mengatur jalannya acara dan seterusnya, sampai ke acara musik yang mana kami akan manggung padahal belum pernah latihan sebelumnya. Jadi acara itu padat dari pagi sampai malam selama beberapa hari. Ini di luar kota pula. Di Jakarta sih, tetapi bagi saya Jakarta itu adalah luar kota. Ha ha ha. Jadinya setelah semuaca acara itu beres, maka saya perlu “healing”. ha ha ha. Maka saya perlu tidur. Itu yang saya lakukan. Jadi mohon maaf, saya belum bisa melakukan pekerjaan rutin saya secara sempurna karena saya tertidur.

Kalau healing saya adalah tidur, bagaimana dengan healing Anda?

YouTube Channel Mencapai 10 ribu Subscribers

Baru sadar bahwa channel YouTube saya sudah mencapai lebih dari 10 ribu subscribers. Tadinya saya perkirakan masih minggu-minggu depan. Bahkan saya sudah mencoba membuatkan semacam hadiah untuk subscriber ke 10 ribu. Eh, tahu-tahu sudah lewat saja. Bahkan kalau saya cek sekarang sudah lewat 100 orang. Ha ha ha. Jadi hadiah yang ke 10 ribu itu lewat. Saya lagi mikir buat sayembara apa lagi ya untuk menunjukkan apresiasi. Ada ide?

Bagi yang belum pernah melihat, silahkan kunjungi YouTube channel saya di sini:

https://www.youtube.com/user/rahard

Saya agak kurang suka mempromosikan channel YouTube saya. Jadi saya nyaris tidak pernah meminta orang untuk Like atau Subscribe. Biar tumbuh secara natural saja. Mau berlangganan ya syukur. Tidak berlangganan juga tidak apa-apa.

Orang Yang Hobbynya Mencela

Pernah memperhatikan gak? Di media sosial ada orang-orang yang hobbynya mencela. Setiap mengirimkan postingan negatif tentang apa saja. Hari ini tentang pemerintahan negara, besok tentang kota, besok tentang pendidikan, besok tentang kesehatan, besok tentang … apa saja. Pokoknya setiap ada berita negatif, maka dia teruskan (forward).

Akhirnya saya menemukan postingan yang mencoba menjelaskan itu. Ternyata ini adalah orang-orang yang tidak memiliki prestasi (karya). Kalau dia memiliki prestasi, maka diskusinya akan seputar area atau bidang terkait. Tentu saja tidak harus prestasi, tetapi juga kegagalan-kegagalannya. Orang yang berprestasi ini tidak terlalu khawatir dengan kegagalan ini karena tidak mungkin ada prestasi tanpa dimulai dari kegagalan. Ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki prestasi sendiri. Yang dimiliki adalah sifat iri hati. Maka dicelanya setiap hal.

Dari kacamata agama, mencela itu bukan sesuatu yang disarankan juga. Kalau mencela merupakan sesuatu hal yang disarankan, maka mari kita mencela. Di pagi hari kita mencela. Siang hari mencela. Malam hari mencela. Karena itu semua menjadi bagian dari ibadah. Ibadah mencela. Ha ha ha. Tapi kan tidak ada ajaran seperti itu. Jadi tuntunan siapa / apa / mana yang diacu ya?

Lantas bagaimana kalau bertemu dengan orang seperti ini? Percuma untuk debat. Lebih baik dihindari saja. Jangan ditanggapi. Istilahnya, “don’t feed the troll”. Ha ha ha. Acuh saja.

Apakah Anda termasuk orang yang senang mencela?

Tidak Harus Tahu Semua

Sekarang banyak orang yang sedang membicarakan tentang “Layangan Putus”. Saya tidak tahu itu apa dan menahan diri untuk tidak mencari tahu. Kebanyakan orang sekarang takut kalau dianggap “kuper” (kurang pergaulan). Eh, istilah “kuper” sudah kuno banget ya? Kalau istilah ini dalam bahasa Inggrisnya adalah FOMO, fear of missing out. Nah.

Dasar memang saya anti-mainsteram. Saya malah nonton film dokumenter tentang Mesir, ancient Egypt di National Geographic Channel. Ah, juga sedang nonton film seri “Manifest” di Netflix. Seru. Hi hi hi. Saya tidak takut ketinggalan. Yang penting ilmu nambah. Cerita tentang hal-hal yang saya tonton ini nampaknya bisa menjadi pembahasan yang lebih mendalam dan seru.

Beres Kuliah, Sibuk Tetap

Ini rumusnya gimana sih? Tadinya saya pikir begitu kuliah selesai, saya bisa punya waktu sedikit untuk leha-leha. Eh, ternyata tetap saja sibuk. Adalah urusan mahasiswa yang sidang, mahasiswa minta surat rekomendasi (untuk meneruskan ke S3), bimbingan mahasiswa, mereview makalah, menjadi juri, memberikan presentasi, dan seabreg-abreg kerjaan lain. Mungkin dulu kerjaan-kerjaan ini sudah ada tetapi “tidak terlihat” karena lebih disibukkan untuk urusan perkuliahan. Sekarang karena perkuliahan sudah selesai, jadi yang ini menjadi terlihat.

Kalau memang seperti yang di atas – bahwa kalau kita memikirkan sesuatu atau tertarik ke sesuatu maka akan menjadi terlihat – maka sebaiknya kita tidak perlu memperhatikan? Kalau begitu, kita perhatikan hal yang menyenangkan saja sehingga yang terlihat hanya hal-hal yang menyenangkan. Nampaknya benar ini. Mari kita uji. Mari kita melihat hal-hal yang menyenangkan saja.

(Tapi pekerjaan dan to-do list tetap teringat euy? Gimana ya? ha ha ha. Ini yang namanya nasib.)

Menuliskan Status Tidak Real Time

Banyak orang yang senang menuliskan statusnya secara real-time. Maksudnya, ketika dia ada dimana, langsung dia ceritakan. Bahkan ada yang melakukannya secara live. Kadang memang hal ini ada kebutuhannya, misalnya untuk sebuah berita, tetapi tidak semuanya harus langsung disiarkan. Bahkan menurut saya sebagian besar harusnya dicerna dahulu baru diceritakan.

Saya termasuk yang tidak terlalu suka menuliskan status atau cerita secara real-time, tetapi dengan alasan yang berbeda. Saya tidak ingin orang tahu saya ada dimana. Kadang ketika saya di Jakarta, ada kawan-kawan yang di Jakarta ingin mengajak ketemuan untuk mendiskusikan berbagai hal atau sekedar untung ngopi. Jadi kalau saya ke Jakarta dan tidak memberitahu, ada kawan-kawan yang merasa tidak enak. Padahal saya ke Jakarta seringnya untuk sesuatu hal atau acara yang khusus sehingga tidak ada waktu untuk acara lain. Jadi hanya pihak terkait saja yang perlu tahu. Nanti setelah acaranya selesai baru saya tuliskan ceritanya.

IMG_20211204_111308 crematology
Ngopi dua hari yang lalu (baru ditampilkan sekarang)

Ada juga yang menyarankan untuk tidak memberitahukan lokasi kita secara real-time untuk masalah keamanan. Misalnya ada keluarga yang berpesiar ke luar negeri dan membuat foto-foto atau video secara live. Itu bisa menjadi informasi bagi maling untuk beroperasi. Bener juga ya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sering menuliskan status Anda secara real-time?

Bukan Ahlinya, Tapi Bicara

Sering melihat acara seminar dengan pembicara yang bukan ahlinya. Bukan pakarnya. Pembicaranya adalah pejabat dari instansi ini dan itu atau direktur dari perusahaan besar. Saya yakin materi presentasinya dibuatkan oleh orang lain, yang mungkin kompeten atau mungkin juga tidak. Selain pejabat, ada juga orang-orang yang mencari spotlight. Bergegas menuju spotlight.

  • Acara perusahaan rintisan (start-up): pembicara bukan orang yang menjalankan usaha rintisan, atau setidaknya pernah terlibat;
  • Blogging: pembicara bukan orang yang masih aktif menulis di blog (ha ha ha);
  • Security: pembicara adalah pengamat;
  • IoT, blockchain, Artificial Intelligence: pembicara adalah orang yang baru mendengar judul-judul ini;
  • dan sejenisnya. Apakah perlu saya list semua?

Mungkin ini bukan salah orang-orang tersebut. Mungkin ini adalah salah dari penyelenggaranya – EO / event organizer-nya. Mereka menyelenggarakan ini hanya untuk menggenapkan tugas, supaya checklist terpenuhi. Atau juga hanya untuk menghabiskan anggaran yang belum terserap oleh kegiatan lainnya. Atau memang EO-nya malas (mau menuliskan “bodoh” kok tidak tega ya) mencari narasumber yang lebih kompeten.

Apa yang saya lakukan ketika melihat hal ini? Diam saja. Paling pol ya menuliskan di blog ini. Pasalnya kalau saya bicara, nanti kesannya seperti orang yang iri dengki karena tidak kebagian bicara. Padahal sangat jauh dari itu karena lebih seringnya saya menolak untuk menjadi pembicara karena sibuk. Kalau topiknya tidak sesuai dengan kapabilitas saya, ya otomatis saya tolak lah.

Ada sedikit rasa bersalah karena membiarkan mereka membodohi masyarakat. Mungkin kata membodohi terlalu keras. Anda paham maksud saya. Seharusnya saya ikut meluruskan dengan ikut menjadi bagian dari acara tersebut. Masalahnya, saya tidak sempat karena sudah banyak kesibukan lainnya atau alasan lainnya. Ya sudah. Terima saja. Lihat saja dari jarak jauh. Salahkan diri sendiri. Semoga masyarakat menjadi lebih pandai. Itu saja harapan dan doa saya.

Hari Blogger Nasional

Ternyata hari ini adalah Hari Blogger Nasional. Baru tahu saya. Eh, sebetulnya saya sudah pernah tahu tapi lupa. Dahulu ketika hari ini dicanangkan saya juga tidak terlalu tertarik. Hari yang biasa saja. Soalnya saya belum tahu apa pentingnya ya? Apakah pada saat itu orang-orang disarankan – encouraged – untuk membuat blog atau bagaimana? Pada saat itu memang ngeblog menjadi sebuah hal yang sedang populer.

Sekarang, setahu saya sudah tidak banyak lagi orang yang masih ngeblog. Mungkin saya tinggal satu-satunya orang – eh, dinosaurus – yang masih ngeblog. Meskipun ngeblog ini ternyata lebih susah dari ngevlog, saya masih ngeblog juga. Tadinya saya malah berpikiran bahwa membuat video – ngevlog – itu lebih menghabiskan waktu dibandingkan ngeblog, tetapi ternyata cara saya lebih mudah membuat vlog. Maklum, cara saya adalah sekali rekam langsung upload. Jadi tidak ada proses editing (kecuali kalau ada yang hal yang sangat besar dan harus diedit).

Selamat kepada diri sendiri saja ah, sebagai seorang blogger. Masih. Setidaknya untuk saat ini.

Perbaharui Materi Kuliah?

Jawaban singkatnya adalah, maaf tidak sempat. Ha ha ha. Langsung to the point.

Baru saja saya selesai memberikan kuliah. Di beberapa slide – mungkin lebih tepatnya hampir di semua slide – ada perbaikan atau pembaharuan (update) yang harus saya lakukan. Karena kelas sedang berlangsung, maka saya catat itu di kertas. Kadang juga perbaikan saya catat di kepala saja. Diingat-ingat. Setelah selesai kuliah harusnya itu langsung diperbaiki, tetapi seringkali ada kesibukan lain yang harus dilakukan sehingga akhirnya perbaikan tidak terjadi juga. Hadoh.

Sekarang saya mencoba cara yang berbeda. Ketika ada yang harus diperbaiki, maka di kelas pun saya langsung update slide tersebut. Sambil berhenti sejenak, saya langsung perbaiki slidenya. Ternyata ini tidak terlalu mengganggu flow dari kelas. Hanya saja pebaikan yang dapat dilakukan adalah perbaikan yang sifatnya minor. Kalau perbaikannya cukup besar, misalnya mengubah diagram atau menambahkan diagram baru, ini belum saya coba. Rasanya ini akan membuat flow dari kelas terganggu. Jadi untuk yang ini masih belum dapat saya lakukan.

Jadi, jangan marah-marah dulu ke dosen yang materi kuliahnya itu-itu saja. Mungkin dia mengalami masalah yang sama dengan saya, tidak ada kesempatan untuk memperbaharui.

Tantangan Diri: Ngevlog setiap hari selama 1 bulan

Seperti biasa, saya menantang! Yang ditantang ya diri sini. Ini adalah ciri seorang pemberani. Ha ha ha. Mungkin ini hanya mencari pembenaran, tetapi sesungguhnya ini adalah sesuatu yang berat. Sebelum menantang orang lain, tantanglah diri sendiri.

Kali ini saya menantang diri untuk membuat video YouTube (nge-vlog) setiap hari berturut-turut selama satu bulan. Nah. Sanggupkah?

Ada banyak masalah terkait dengan hal tersebut. Pertama, orang mempermasalahkan soal topik. Saya tidak. Kalau kita bicara 30 hari, maka harus memiliki setidaknya 30 topik. Ini bukan masalah bagi saya karena saya punya aplikasi – buatan sendiri tentunya – yang mengeluarkan (generate) topik baru setiap dijalankan. Nah. Bahkan setiap hari saya punya ide topik yang perlu dibahas. Jadi, ini bukan masalah.

Kedua adalah soal waktu. Ada banyak alasan orang untuk tidak menulis (ngeblog) atau membuat video (nge-vlog) dan “tidak ada waktu” adalah alasan yang cukup tinggi juga di urutannya. Memang membuat tulisan atau video yang bagus membutuhkan waktu. Nah, bagaimana kalau membuat tulisan / video yang tidak terlalu bagus saja? Kalau alasannya adalah karena kualitas, maka mari kita buat fokusnya ke kuantitas dulu. Kualitas kita tempatkan di urutan ke 17. Masih mau cari alasan lain?

Kembali ke tantangan saya tersebut – ngevlog selama sebulan – menurut saya, saya berhasil. Hanya ada 1 kali bolong yaitu kemarin. Ada alasannya tetapi itu sudah saya bahasa di vlog saya. Tuh kan, kegagalan saja bisa menjadi topik bahasan.

Tantangan berikutnya apa? Saya mau perpanjang tantangan ini. Meneruskan menjadi 2 bulan. Ha ha ha. Tadinya mau menantang diri untuk menjadikannya 1 tahun, tetapi itu merupakan tantangan yang terlalu berat. Naik jadi 2 bulan saja sudah seperti naik tangga. Steep. Bukan landai. Mari kita coba.

Semangat!

Sibuk

Ini postingan tentang topik sibuk yang kesekian kalinya. Maklum, ini manusianya orang sibuk. Jadi topik yang paling sering muncul adalah sibuk. Hanya saja biasanya saya tidak menuliskan itu di sini. Maksudnya tidak sering-sering menuliskan itu.

Minggu ini hampir setiap hari saya ada meeting dan seminar (online) sampai pukul 9 malam. Kadang setelah itu dilanjutkan ikut (mendengarkan) meeting yang sedang berlangsung (sampai pukul 10). Belum lagi ada tugas untuk memeriksa makalah mahasiswa.

Tulisan ini dibuat sambil memeriksa tugas mahasiswa dan juga mempersiapkan materi Data Science with Python (hari kedua). Untuk materi besok, soal kelangkaan chips, baru akan saya siapkan Jum’at pagi. ha ha ha. Ini posternya.

Kata orang, “if you want to get the job done, give it to the person who is already busy”. What a concept. Ngeri kali. Ha ha ha.

Menjadi Outsider

Dari dulu saya merasa bahwa diri saya adalah seorang outsider. Maksudnya bagaimana sih? Mungkin definisi dari outsider itu harus diperjelas dulu ya? Langsung dari cerita saja ya. Mulainya entah sejak kapan. Saya ambil contoh random saja ya.

Ketika SMP atau SMA biasanya orang memiliki kelompok group. Saya kok merasa tidak punya ya. Hanya di SMA saja saya ada kelompok yang isinya hanya berempat orang saja. Selain itu tidak ada. Contohnya begini. Misalnya saya bisa main musik, tetapi di SMA saya tidak pernah ikut kelompok musik. Padahal untuk ukuran SMA mungkin kemampuan gitar saya oke lah. Eh, malah sekalinya diajak main musik ya malah menabuh drum di festival. Selain itu saya tidak pernah diajakin kelompok musik. Solusi saya, ya buat group musik sendiri. ha ha ha. Seingat saya ada beberapa kelompok amatiran yang saya ikuti, mulai dari musik eksperimen (splicing tape, slowing it down, dll.) sampai ke yang Beatles-an.

Main sepak bola juga sama. Saya tidak pernah diajakin ikut klub sepak bola. Yang ini saya tidak buat klub sepak bola sendiri, karena repotnya luar biasa. ha ha ha. (Kalau sekarang, futsal.)

Dari segi kelompok yang berasal dari strata ekonomi, juga tetap outsider. Tidak masuk ke group orang kaya. Tidak masuk group orang miskin. Tidak masuk group orang tengah. Mungkin kawan-kawan bingung, saya harusnya masuk ke kelompok mana. Walhasil, saya tidak termasuk kelompok mana-mana. Bagi semua group, saya adalah outsider.

Waktu menjadi mahasiswa juga sama saja. Di kampus juga ada kelompok band, tetapi lagi-lagi saya juga tidak diajakin. Ya buat band sendiri. Ya tetap juga tidak diajakin. Ya sudah, buat acara sendiri saja. Ha ha ha. Olah raga, politik, keilmuan, semuanya juga sama. Saya tetap jadi outsider.

Sampai sekarang kejadian outsider tetap berlangsung. Ini di semua lini; mulai dari olah raga, musik, bisnis, pendidikan, dan seterusnya. Ada acara alumni lah, itu lah, dan seterusnya, nama saya tidak pernah ada karena tidak pernah diajak. Saya ambil asumsi mereka mengira saya sibuk (padahal memang iya – ha ha ha). Atau mungkin dikiranya saya tidak atau tidak mampu. Apapun, saya tidak ikutan. Solusi saya juga gampang saja dan masih tetap sama, buat klub / kelompok sendiri. Buat acara sendiri. Happy-happy sendiri saja. ha ha ha. Jadi tidak perlu bergantung kepada orang lain.

Jadilah matahari.

Lambat Membaca (dan menulis)

Lagi kesel. Soalnya ini kok lambat sekali membaca buku. Ada banyak buku yang ngantri dibaca. Saat ini sedang membaca buku “The Prosperity Paradox” dan nampaknya majunya sangat lambat. Kalau ada buku yang bagus, ini sering terjadi. Baca satu halaman, mikir dulu. Lewat satu dua hari, baru melanjutkan baca. Selain buku itu ada beberapa buku lain lagi yang saya baca secara paralel, tetapi yang lainnya malah lebih lambat lagi. Hadoh.

Akibat dari lambatnya membaca saya juga jadi lambat menulis. Biasanya saya cepat menulis di wordpress ini. Semuanya langsung jreng ditulis, tapi kali ini sampai saya membuat tulisan yang berbentuk draft dulu. Wadaw. Lebih lambatnya menulis ini karena saya merasa bahwa waktu saya untuk menulis ini lebih baik digunakan untuk membaca dulu. Jadi membaca itu semacam bottleneck untuk semua proses.

Demikian laporan keluh kesah. Sementara ini. Jangan khawatir, akan ada laporan keluh kesah berikutnya lagi. Kembali ke membaca.

Mendongeng Apa Lagi Ya?

Sudah beberapa minggu saya tidak membuat konten podcast (dan YouTube). Masalahnya bukan karena tidak ada topik, tetapi malah kebanyakan topik yang mau dibahas. Jadinya malah bingung. Terlalu banyak pilihan. Procrastinating. hi hi hi.

Untuk tulisan di sini (blog), semestinya saya dapat menjelaskan apa-apa yang sudah saya buat di YouTube. Ini juga belum sempat. Hadoh.

Jadi, ada usulan apa yang mau saya bahas? Terutama untuk konten di podcast saya karena di sana saat ini belum ada 100 podcast. Target saya, akhir tahun ini harus ada 100 podcast. Ha ha ha. Mestinya sih bisa. Kan masih belum pertengahan tahun. Kalau setiap hari bikin podcast, 100 podcast sih tercapai mestinya. Tapi nggak janji ya.