Perbaharui Materi Kuliah?

Jawaban singkatnya adalah, maaf tidak sempat. Ha ha ha. Langsung to the point.

Baru saja saya selesai memberikan kuliah. Di beberapa slide – mungkin lebih tepatnya hampir di semua slide – ada perbaikan atau pembaharuan (update) yang harus saya lakukan. Karena kelas sedang berlangsung, maka saya catat itu di kertas. Kadang juga perbaikan saya catat di kepala saja. Diingat-ingat. Setelah selesai kuliah harusnya itu langsung diperbaiki, tetapi seringkali ada kesibukan lain yang harus dilakukan sehingga akhirnya perbaikan tidak terjadi juga. Hadoh.

Sekarang saya mencoba cara yang berbeda. Ketika ada yang harus diperbaiki, maka di kelas pun saya langsung update slide tersebut. Sambil berhenti sejenak, saya langsung perbaiki slidenya. Ternyata ini tidak terlalu mengganggu flow dari kelas. Hanya saja pebaikan yang dapat dilakukan adalah perbaikan yang sifatnya minor. Kalau perbaikannya cukup besar, misalnya mengubah diagram atau menambahkan diagram baru, ini belum saya coba. Rasanya ini akan membuat flow dari kelas terganggu. Jadi untuk yang ini masih belum dapat saya lakukan.

Jadi, jangan marah-marah dulu ke dosen yang materi kuliahnya itu-itu saja. Mungkin dia mengalami masalah yang sama dengan saya, tidak ada kesempatan untuk memperbaharui.

Tantangan Diri: Ngevlog setiap hari selama 1 bulan

Seperti biasa, saya menantang! Yang ditantang ya diri sini. Ini adalah ciri seorang pemberani. Ha ha ha. Mungkin ini hanya mencari pembenaran, tetapi sesungguhnya ini adalah sesuatu yang berat. Sebelum menantang orang lain, tantanglah diri sendiri.

Kali ini saya menantang diri untuk membuat video YouTube (nge-vlog) setiap hari berturut-turut selama satu bulan. Nah. Sanggupkah?

Ada banyak masalah terkait dengan hal tersebut. Pertama, orang mempermasalahkan soal topik. Saya tidak. Kalau kita bicara 30 hari, maka harus memiliki setidaknya 30 topik. Ini bukan masalah bagi saya karena saya punya aplikasi – buatan sendiri tentunya – yang mengeluarkan (generate) topik baru setiap dijalankan. Nah. Bahkan setiap hari saya punya ide topik yang perlu dibahas. Jadi, ini bukan masalah.

Kedua adalah soal waktu. Ada banyak alasan orang untuk tidak menulis (ngeblog) atau membuat video (nge-vlog) dan “tidak ada waktu” adalah alasan yang cukup tinggi juga di urutannya. Memang membuat tulisan atau video yang bagus membutuhkan waktu. Nah, bagaimana kalau membuat tulisan / video yang tidak terlalu bagus saja? Kalau alasannya adalah karena kualitas, maka mari kita buat fokusnya ke kuantitas dulu. Kualitas kita tempatkan di urutan ke 17. Masih mau cari alasan lain?

Kembali ke tantangan saya tersebut – ngevlog selama sebulan – menurut saya, saya berhasil. Hanya ada 1 kali bolong yaitu kemarin. Ada alasannya tetapi itu sudah saya bahasa di vlog saya. Tuh kan, kegagalan saja bisa menjadi topik bahasan.

Tantangan berikutnya apa? Saya mau perpanjang tantangan ini. Meneruskan menjadi 2 bulan. Ha ha ha. Tadinya mau menantang diri untuk menjadikannya 1 tahun, tetapi itu merupakan tantangan yang terlalu berat. Naik jadi 2 bulan saja sudah seperti naik tangga. Steep. Bukan landai. Mari kita coba.

Semangat!

Sibuk

Ini postingan tentang topik sibuk yang kesekian kalinya. Maklum, ini manusianya orang sibuk. Jadi topik yang paling sering muncul adalah sibuk. Hanya saja biasanya saya tidak menuliskan itu di sini. Maksudnya tidak sering-sering menuliskan itu.

Minggu ini hampir setiap hari saya ada meeting dan seminar (online) sampai pukul 9 malam. Kadang setelah itu dilanjutkan ikut (mendengarkan) meeting yang sedang berlangsung (sampai pukul 10). Belum lagi ada tugas untuk memeriksa makalah mahasiswa.

Tulisan ini dibuat sambil memeriksa tugas mahasiswa dan juga mempersiapkan materi Data Science with Python (hari kedua). Untuk materi besok, soal kelangkaan chips, baru akan saya siapkan Jum’at pagi. ha ha ha. Ini posternya.

Kata orang, “if you want to get the job done, give it to the person who is already busy”. What a concept. Ngeri kali. Ha ha ha.

Menjadi Outsider

Dari dulu saya merasa bahwa diri saya adalah seorang outsider. Maksudnya bagaimana sih? Mungkin definisi dari outsider itu harus diperjelas dulu ya? Langsung dari cerita saja ya. Mulainya entah sejak kapan. Saya ambil contoh random saja ya.

Ketika SMP atau SMA biasanya orang memiliki kelompok group. Saya kok merasa tidak punya ya. Hanya di SMA saja saya ada kelompok yang isinya hanya berempat orang saja. Selain itu tidak ada. Contohnya begini. Misalnya saya bisa main musik, tetapi di SMA saya tidak pernah ikut kelompok musik. Padahal untuk ukuran SMA mungkin kemampuan gitar saya oke lah. Eh, malah sekalinya diajak main musik ya malah menabuh drum di festival. Selain itu saya tidak pernah diajakin kelompok musik. Solusi saya, ya buat group musik sendiri. ha ha ha. Seingat saya ada beberapa kelompok amatiran yang saya ikuti, mulai dari musik eksperimen (splicing tape, slowing it down, dll.) sampai ke yang Beatles-an.

Main sepak bola juga sama. Saya tidak pernah diajakin ikut klub sepak bola. Yang ini saya tidak buat klub sepak bola sendiri, karena repotnya luar biasa. ha ha ha. (Kalau sekarang, futsal.)

Dari segi kelompok yang berasal dari strata ekonomi, juga tetap outsider. Tidak masuk ke group orang kaya. Tidak masuk group orang miskin. Tidak masuk group orang tengah. Mungkin kawan-kawan bingung, saya harusnya masuk ke kelompok mana. Walhasil, saya tidak termasuk kelompok mana-mana. Bagi semua group, saya adalah outsider.

Waktu menjadi mahasiswa juga sama saja. Di kampus juga ada kelompok band, tetapi lagi-lagi saya juga tidak diajakin. Ya buat band sendiri. Ya tetap juga tidak diajakin. Ya sudah, buat acara sendiri saja. Ha ha ha. Olah raga, politik, keilmuan, semuanya juga sama. Saya tetap jadi outsider.

Sampai sekarang kejadian outsider tetap berlangsung. Ini di semua lini; mulai dari olah raga, musik, bisnis, pendidikan, dan seterusnya. Ada acara alumni lah, itu lah, dan seterusnya, nama saya tidak pernah ada karena tidak pernah diajak. Saya ambil asumsi mereka mengira saya sibuk (padahal memang iya – ha ha ha). Atau mungkin dikiranya saya tidak atau tidak mampu. Apapun, saya tidak ikutan. Solusi saya juga gampang saja dan masih tetap sama, buat klub / kelompok sendiri. Buat acara sendiri. Happy-happy sendiri saja. ha ha ha. Jadi tidak perlu bergantung kepada orang lain.

Jadilah matahari.

Lambat Membaca (dan menulis)

Lagi kesel. Soalnya ini kok lambat sekali membaca buku. Ada banyak buku yang ngantri dibaca. Saat ini sedang membaca buku “The Prosperity Paradox” dan nampaknya majunya sangat lambat. Kalau ada buku yang bagus, ini sering terjadi. Baca satu halaman, mikir dulu. Lewat satu dua hari, baru melanjutkan baca. Selain buku itu ada beberapa buku lain lagi yang saya baca secara paralel, tetapi yang lainnya malah lebih lambat lagi. Hadoh.

Akibat dari lambatnya membaca saya juga jadi lambat menulis. Biasanya saya cepat menulis di wordpress ini. Semuanya langsung jreng ditulis, tapi kali ini sampai saya membuat tulisan yang berbentuk draft dulu. Wadaw. Lebih lambatnya menulis ini karena saya merasa bahwa waktu saya untuk menulis ini lebih baik digunakan untuk membaca dulu. Jadi membaca itu semacam bottleneck untuk semua proses.

Demikian laporan keluh kesah. Sementara ini. Jangan khawatir, akan ada laporan keluh kesah berikutnya lagi. Kembali ke membaca.

Mendongeng Apa Lagi Ya?

Sudah beberapa minggu saya tidak membuat konten podcast (dan YouTube). Masalahnya bukan karena tidak ada topik, tetapi malah kebanyakan topik yang mau dibahas. Jadinya malah bingung. Terlalu banyak pilihan. Procrastinating. hi hi hi.

Untuk tulisan di sini (blog), semestinya saya dapat menjelaskan apa-apa yang sudah saya buat di YouTube. Ini juga belum sempat. Hadoh.

Jadi, ada usulan apa yang mau saya bahas? Terutama untuk konten di podcast saya karena di sana saat ini belum ada 100 podcast. Target saya, akhir tahun ini harus ada 100 podcast. Ha ha ha. Mestinya sih bisa. Kan masih belum pertengahan tahun. Kalau setiap hari bikin podcast, 100 podcast sih tercapai mestinya. Tapi nggak janji ya.

Rocketman

Beberapa hari yang lalu saya membuat komentar di salah satu postingan kang Emil (Ridwan Kamil) di facebooknya, yaitu tentang desain istana kepresidenan yang akan datang. Desainnya berbentuk burung yang besar dan megah. Saya membuat komentar yang bernada guyonan (seperti dalam gambar berikut). Bahwa desain seperti itu gampang di-roket. he he he. Eh, yang like dan komentar banyak dong. Ha ha ha. Jarang saya mendapat banyak respon seperti itu.

Serunya yang komentar itu kadang nggak nyambung atau tendensius. Ada yang mengira saya hater kang Emil. Hadoh. Sangat jauh banget. Lah dari dulu saya termasuk yang mendukung kang Emil. Orang baik harus didukung. Anyway, saya tidak bisa membaca komentar-komentar itu karena entah kenapa facebook memiliki bugs untuk membuka banyak komentar. Eh, ini kalau saya buka di komputer. Entah kalau dibuka di handphone mungkin bisa juga.

Roket. Rocket. Sebuah kata yang selalu menarik. Apa yang terbayang di kepala Anda ketika saya sebutkan kata ini? Bagi saya sih kata ini membuat konotasi pergi ke ruang angkasa. Mungkin gara-gara waktu kecil banyak baca komik. Bahkan yang terbayang jelas oleh saya adalah halaman denpan salah satu buku Tintin.

Kalau sekarang, kata roket ini saya asosiasikan dengan Elon Musk dan SpaceX-nya. Pergi ke Mars. Dalam kaitannya dengan ini sering saya tanyakan ke mahasiswa saya, “jika Anda ditawari Elon Musk untuk pergi ke Mars, siapa yang bersedia?“. Ternyata tidak banyak yang angkat tangan. Anak muda sekarang kurang jiwa petualangannya. Kalau saya masih muda, saya akan angkat tangan. No question. Yakin. Saya ingin membuat manfaat. Meskipun pergi ke Mars sangat berisiko. Setidaknya ada risiko tidak dapat kembali ke dunia (earth). Tidak masalah. Maklum ketika masa muda banyak semangat “Me against the world“. Lah kesempatan untuk meninggalkan the world dengan berkarya merupakan salah satu jawaban. ha ha ha.

Kata roket juga mengingatkan saya akan salah satu lagu Elton John, Rocketman. Lagu ini juga sarat dengan makna. Silahkan cari liriknya dan resapi maknanya. Hebat Elton John dan Bernie Taupin.

Jadi kalau saya sebut rocket, apa yang ada di kepala Anda?

(dari) Tulisan (ke) Video (kemudian) Audio

Ini adalah perjalanan dari cara saya mendongeng. Semuanya dimulai dari blog. Eh, sebelum itu saya memulai dari membuat halaman web dengan langsung menuliskan kode HTML. Kala itu namanya masih homepage. Tapi itu kejauhan. Kita mulai dari blog saja ya.

Blog merupakan media saya mendongeng dalam bentul tulisan. Pada awalnya ini dilakukan karena teknologi yang tersedia pada masa itu baru sanggup untuk mendukung tulisan. Kecepatan internet masih lambat. GPRS. (Apa itu? Silahkan pelajari.) Sudah lambat, harganya juga mahal. Akses internet itu dapat dikatakan masih mahal. Jadilah mendongeng dengan bentuk tulisan di blog merupakan sebuah hal yang paling memungkinkan. Padahal ini kurang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang tidak suka membaca (dan menulis tentunya). Blog memiliki fitur yang memudahkan orang untuk bercerita. Seseorang yang mau nge-blog tidak harus tahu tentang HTML dan kode-kode singkatan lainnya. Dia tinggal mengetikkan apa yang ada di otak (dan hatinya?). Maka mulailah saya ngeblog. Itu tahun 2002, kalau tidak salah. Itu dimulai dengan menggunakan layanan blogspot.com (dan banyak lagi) sebelum akhirnya saya mangkal di wordpress.com (dan baru-baru ini ke medium.com).

Langkah selanjutnya saya ingin membuat dongeng dalam bentuk audio. Secara teknis ukuran berkas audio lebih besar dari teks tetapi lebih kecil dari video. Jadi dari blog ke membuat suatu yang berbentuk audio harusnya lebih natural. Namun ternyata ini tidak terjadi. Jika di tulisan ada blog, maka untuk audio ada podcast.

Membuat podcast sudah pasti lebih susah daripada membuat tulisan, tetapi tingkat kesulitannya ternyata cukup tinggi. Pertama saya harus memiliki alat rekam yang bagus. Digital recorder harganya masih mahal. Itu yang bagus. Handphone juga sudah dapat digunakan untuk merekam, tetapi memori handphone untuk menyimpan rekaman suara masih terbatas. Program (tools, software) untuk mengedit hasil rekaman juga masih ribet. Jika blog ada di banyak tempat, podcast ternyata masih sedikit dan juga ribet. Singkatnya, saya tetap ngeblog saja.

Teknologi komputer dan jaringan berkembang terus. Kemampuan komputasi handphone sudah setingkat laptop. Memorinya pun sudah besar. Handphone sudah dilengkapi dengan kamera yang kualitasnya mendekati atau bahkan di atas digital camera. Maka mengambil video merupakan hal sangat mudah. Mengedit video masih ribet. Softwarenya masih mahal dan membutuhkan kemampuan komputer yang bagus juga. Lama kelamaan masalah ini terpecahkan juga. Mulai banyak software untuk mengedit video yang kualitasnya bagus, mudah digunakan, dan gratis pula. Tempat untuk menyimpan video-video tersebut mulai banyak, yang utamanya tentu saja YouTube. Luar biasa ini YouTube. Video sebesar apapun tinggal kita unggah. Akhirnya saya membuat video untuk YouTube.

YouTube channel saya ada di sini: https://www.youtube.com/channel/UC3S4LLQIPK1TT5S2LmieCYg

Setelah membuat video barulah saya melirik lagi untuk mendongeng melalui suara. Secara tidak sengaja saya menemukan Anchor.fm. Ini sebuah layanan yang membuat podcasting semudah ngeblog. Saya tinggal mengunggah suara saya – yang saya ambil dari video YouTube saya – ke situs anchor.fm itu. Langsung saya membuat sebuah episode untuk podcast saya. Yang lebih menariknya lagi, anchor.fm juga mendistribusikan podcast itu ke beberapa tempat dan khususnya ke Spotify. Mengapa ini penting? Karena ada banyak orang yang mendengarkan musik dan podcast melalui Spotify. Jadi Anchor.fm ini menyerupai YouTube bagi saya.

Podcast saya ada di sini: https://anchor.fm/budi-rahardjo

Pendekatan saya dalam mendongeng tetap sama, “create and shoot“. Jadi saya langsung bercerita dan publish. Kalau ada editing itu hanya minor. Ya kualitasnya seperti itu. Apa adanya. Oh ya, ini semua saya lakukan sendirian. Jadi inilah sebabnya saya tidak melakukan proses editing. ha ha ha. Kebanyakan kerjaan.

Dari peta perjalanan ini ternyata saya berangkat dari tulisan (ngeblog) ke video (YouTube channel) baru ke podcast (anchor.fm dan spotify). Lucu juga. Tadinya saya pikir secara teknologi harusnya saya ke podcast dulu baru ke video. Ternyata kenyataan berkehendak lain. Yang penting Anda dapat menikmati dongeng saya. Ya kan?

Lucunya Statistik Podcast Saya

Bagi yang belum tahu, saya sekarang sudah memulai podcast. Ada di Anchor.fm. (Ini dia: https://anchor.fm/budi-rahardjo) Ocehan saya dapat diakses via Anchor.fm sendiri dan juga via Spotify. Langganan ke sana ya. Idenya adalah dia merupakan komplemen dari blog ini. Di sini kita buat versi tulisnya. Di sana ada versi audionya. Di YouTube ada versi videonya. Kira-kira begitu idenya.

Baru saja saya melihat statistik podcast saya yang nampaknya diperoleh dari Spotify. Ada bagian yang “lucu” bagi saya. Ini bagian yang lucu tersebut.

Perhatikan bahwa gender yang “not specified” lebih banyak dari yang “female“. Ha ha ha. Artinya banyak orang yang takut data pribadinya dikeruk oleh Spotify ya.

Kemudian juga mengenai statistik usia (age), kok yang usianya antara “28-34” itu tidak banyak. Maksudnya bagaimana ya? Itu termasuk generasi apa ya? Agak aneh. Soalnya dia di antara dua puncak. Aneh aja. Ada yang dapat memberikan analisis tentang hal ini?

Satu Tahun Bekerja Dari Rumah

Bulan ini, Maret 2021, merupakan waktu yang penting bagi banyak orang. Setahun yang lalu pada bulan ini pandemi COVID-19 resmi dinyatakan. Maka semua kegiatan dikurangi untuk mencegah penyebaran virus corona ini. Bekerja mulai dilakukan dari rumah. Work from Home (WfH). Sekolah juga dilakukan dari rumah.

Pada awalnya semua orang kebingungan dan khawatir. Apakah kita dapat melakukan kegiatan kita dari rumah? Tidak dari kantor? Tidak dari sekolahan? Setahun kemudian kita mengetahui bahwa kita bisa. Tentu saja dengan cara yang berbeda. Maka ada istilah new normal. Ada kegiatan yang dianggap sebagai normal, yaitu bekerja dari rumah. Dari dahulu kita ingin menerapkan remote workers, yaitu bekerja bekerja tidak di kantor, tetapi selalu gagal. COVID-19 langsung membuatnya menjadi berhasil. Tentu saja definisi dari “berhasil” itu juga akan berbeda. Tidak sama.

Bagi saya sendiri bekerja dari rumah bukanlah sebuah hal yang baru. Saya sendiri sudah biasa bekerja dari rumah, dari kantor klien, dari kampus, dari kafe, dari co-working space, dari … mana saja. Saya memang bekerja dengan menggunakan internet. Jadi bekerja dari rumah malah sebetulnya merupakan hal yang natural bagi saya. Hanya saja pada waktu itu orang lain belum bekerja dari rumah sehingga ketika diajak untuk melakukan online, video conferencing misalnya, banyak yang tidak bisa (atau tidak mau). Sekarang malah itu yang menjadi pilihan utama. Jadi lebih mudah bagi saya.

Bagimana dengan Anda? Bagaimana pengalaman Anda setelah satu tahun bekerja dari rumah?

Susahnya Jadi Dosen

Banyak orang yang merasa bisa menjadi dosen atau guru. Biasanya ini terjadi kepada seseorang yang baru saja memberikan presentasi di seminar. Wah, menarik nih menjadi pengajar. Maka kemudian dia menyatakan diri ingin menjadi dosen. Tidak semudah itu, Ferguso. Masalahnya adalah orang ini hanya memberikan presentasi satu atau dua jam. Dia belum merasakan susahnya jadi dosen. Lah, memang masalahnya apa?

Pertama, menjadi dosen itu membutuhkan sebuah rutinitas. Sekali mengajar dengan mengajar 14 atau 15 kali secara rutin merupakan hal yang berbeda. Satu dua kali masih oke. Selanjutnya, maka mulailah muncul kebosanan. Nampaknya ini sama dengan ngeblog ya? Ha ha ha. Itulah sebabnya banyak blogger yang sudah tidak aktif lagi sekarang. Kembali kepada topik, rutinitas ini atau kebosanan ini yang menjadi masalah.

Kedua, memeriksa tugas atau ujian. Nah ini yang paling menyebalkan dari kegiatan dosen. Menyiapkan materi itu merupakan pekerjaan yang kelihatannya susah, tetapi itu susah yang menyenangkan. Yang susah (mungkin susah) tapi menyebalkan itu adalah memeriksa tugas atau ujian mahasiswa. Bayangkan kalau Anda memeriksa tugas yang sama untuk 50 siswa, misalnya. Membosankan. Dan jangan lupa, ini semua membutuhkan waktu. Memeriksa tugas mahasiswa itu membutuhkan waktu. Sebagai contoh, saya membuat tulisan ini sebagai selingan dari memeriksa tugas mahasiswa. Saya sudah memulai memeriksa tugas mahasiswa mulai pukul 9 pagi tadi dan sekarang pukul 10:11. Kalau saya perhatikan yang saya periksa baru seperempatnya. Padahal ini tugas yang mudah. Ada masalah teknis, yaitu saya harus me-rename nama berkas yang mereka kirimkan. Ini kesalahan saya. Seharusnya saya buatkan standar penamaan berkas (“NIM.pdf”, misalnya) sehingga berkas sudah terurut. Baiklah.

Kembali ke memeriksa tugas mahasiswa. Nampaknya ini bakalan sampai makan siang.

Demikian sedikit cerita dari balik layar tentang dukanya jadi dosen. Masih mau jadi dosen?

Hilangnya Jiwa Petualang

Di kelas atau di presentasi-presentasi saya, sering saya tanyakan pertanyaan ini, “siapa yang mau ikutan Elon Musk pergi ke Mars“. Sedikit yang mengacungkan tangannya. Apalagi setelah saya berikan informasi tambahan, “dan kecil kemungkinan untuk bisa kembali ke bumi ini“. Langsung hilang itu acungan tangan. Ha ha ha. Demikianlah nyali yang ada.

Kalau saya masih muda, saya akan tetap mengacungkan tangan. Yes, I would do that. Menjadi pionir untuk umat manusia. Apa lagi yang lebih keren dari itu?

Jiwa petualang jaman sekarang sudah tidak ada lagi.

Definisi Sehat

Menurut Anda, apa definisi “sehat”?

Sehat menurut saya adalah kalau dapat makan (rasanya enak) dan lancar buang air (kecil dan besar). Mengapa definisinya seperti ini? Kalau kita sakit, maka makan rasanya tidak enak. Males mau makan. Mulut tidak enak. Perut tidak enak. Pokoknya males aja makan. Padahal kalau kita tidak makan, maka kita kekurangan energi dan malah susah untuk (recover) sembuh. Makan enak itu tidak harus mahal dan susah. Bagi saya, nasi sama telor ceplok pun sudah enak banget. Apalagi indomie … ha ha ha.

Soal buang air lancar itu juga mirip jawabannya. Ini saya melihat kucing yang sedang sakit. Indikasinya, tidak mau makan dan buang air besarnya tidak bagus; cair atau mencret. Kasihan melihatnya. Demikian pula dengan orang. Ketika kita sehat, hal ini tidak terpikirkan. Ketika kita sakit, ini merupakan siksaan tambahan.

Maka beruntunglah jika kita masih dapat makan (dan merasa enak) serta dapat buang air dengan lancar. Harus sering-sering bersyukur.

Mr. GBT

Waktunya menghidupkan kembali Mr. GBT. Apa itu? Nah, silahkan lihat blog saya yang pernah kondang di gbt.blogspot.com. Ini blog pertama saya. (Rasanya? Sebelum ini apa saya sudah punya blog lagi ya? Rasanya tidak.)

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya secara tidak sengaja sekelebat saya melihat foto 10 blog terbaik Indonesia versi majalah Tempo. Lagi-lagi kalau tidak salah ini tahun 2005. Saya ada di daftar itu di urutan ke-4 dengan blog GBT itu. GBT itu singkatan dari Gerakan Bawah Tanah. Nah, ini ceritanya lebih panjang lagi. Bisa dijadikan satu tulisan tersendiri atau satu video tersendiri. Nanti lah. Intinya saya jadi ingin menulis lagi di sana.

Dahulu saya pindah ke wordpress ini karena UI/UX-nya lebih enakeun. Terus statistiknya juga sangat bagus. Jadi saja, saya mulai rajin menulis di sini dan melupakan yang di sana. Sebetulnya saya sudah mulai memisahkan jenis tulisan di sini dan di GBT. Di sini cerita dalam bahasa Indonesia dan di sana cerita dalam bahasa Inggris. Sebetulnya yang bahasa Inggris, saya sudah memulai juga di Medium.com. Medium ini enakeun juga lho. Jadi yang di Blogspot ini bakalan punya tantangan juga. Repot juga kalau harus nulis di dua tempat dengan cerita yang sama.

Anyway. Sekarang saya mau nulis di gbt.blogspot.com dulu ah. Selamat datang kembali, Mr. GBT.