Ramadhan Tahun Ini

Alhamdulillah besok adalah Hari Raya. Berhasil sudah kita berpuasa di bulan Ramadhan. Baru berani menulis setelah berbuka hari ini.

Tahun ini, terutama 10 hari terakhir, puasa agak berat bagi saya. Kondisi badan kurang prima dan ada banyak pekerjaan sehingga tantangan dalam berpuasa cukup tinggi. Kepala pusing dan badan lemas. Kondisi badan yang kurang fit yang membuatnya menjadi berat. Ada kalanya ingin menyerah. Akhirnya memilih tidur (baik di rumah maupun ketika sedang di perjalanan, di kereta api.) Tadi pagi pun perut sempat berontak sebentar. Untungnya tahun ini puasa bisa diselesaikan karena tahun lalu saya bolong satu hari karena sakit.

Semoga kita semua diberi kesehatan dan bagi yang sedang diberi cobaan sakit, semoga segera diberi kesembuhan. Kita berusaha dan berdoa. Amiiin.

Iklan

Sehari 3 Acara

Nampaknya kesibukan masih menjadi halangan bagi saya untuk ngeblog. Untuk menunjukkan betapa sibuknya saya, ini adalah contoh aktivitas hari Jum’at minggu lalu.

Pagi hari salah satu mahasiswa bimbingan saya (S3) maju sidang. Ini sidang kemajuan yang menuju ke sidang tertutup. Karena waktunya mepet, maka Jum’at pagi itu dilakukan sidang. Sidang berjalan lancar. Oh ya, sebelumnya ada mahasiswa S2 yang mau bimbingan. Jadi sebelum menuju sidang, bimbingan mahasiswa dulu.

Lepas dari Jum’atan, saya mampir ke acara TEDx ITB.

IMG_20180525_134044 TEDx ITB

Sebetulnya saya ingin mengikuti keseluruhan acara TEDx ITB itu, tetapi ada acara lain sehingga pas break untuk shalat Ashar, saya kabur. Menuju ke acara Talk Show yang terkait dengan kegiatan Lailatul Coding.

IMG_20180525_162156_HDR helmi lailatul coding_0001

Belum selesai acara itu, saya kabur lagi (dengan menggunakan Go-Jek) ke ITB lagi. Tapi kali ini ke MBA SBM ITB yang di Jalan Gelap Nyawang. Ada pembukaan the Greater Hub, tempat inkubasi startup yang diusung oleh SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) ITB.

Habis buka puasa di sana, saya balik lagi ke acara Lailatul Coding (dengan Go-Jek lagi karena dekat). Di sana saya ngobrol dengan teman-teman sebelum akhirnya pulang.

Jadi dalam sehari ini ada tiga acara. Eh, kalau ditambahkan dengan mahasiswa yang sidang maka ada empat acara.

Demikian laporan kesibukan saya. Selesai.

8 Jam Bimbingan

Seperti sudah dituliskan sebelumnya – soal sibuk – ternyata memang perkuliahan selesai bukan jaminan bakal tidak sibuk. Buktinya kemarin skedul saya lumayan padat. Delapan jam melakukan mentoring (startup / entrepreneurship) dan bimbingan thesis / disertasi mahasiswa; dari pukul 9 pagi sampai mendekati pukul 5 sore. Hadoh.

Saking sibuknya, makan siang dilakukan sambil bimbingan. Jeda sedikit hanya untuk shalat saja. Pokoknya itu non-stop.

Untungnya sebagian besar saya lakukan dengan duduk. Bukan berdiri. (Eh, kenapa pakai ditulis “untung” ya? he he he. Memang untungnya dimana?)

Yang penting tetap semangat. Hal-hal lain yang tadinya ingin saya lakukan (termasuk ngeblog yang lebih serius), terpaksa ditunda dulu.

Rp. 20.000,-

Beberapa waktu yang lalu saya harus membayar langgangan koran. Tujuh puluh ribu rupiah. Buru-buru saya keluarkan uang Rp. 50.000,- dan Rp. 20,000,- dari dompet dan menyerahkan uang itu ke pengantar koran. Tiba-tiba dia bilang, “Pak ini dua ribuan”. Ya ampuun. Setelah saya perhatikan lagi, itu memang uang Rp. 2.000,-an. Warnanya hampir sama sih. He he he.

Kejadian berikutnya juga bikin saya ketawa sendirian. Mau beli makanan di warung dekat rumat. Saya perkirakan ada lima lembar dua puluh ribuan di dompet. Okay, ada seratus ribu. Cukuplah. Setelah saya perhatikan lagi, itu semua dua ribuan. Hanya ada Rp. 10.000,-. Jauh banget. Gak bisa beli makan di warung. Akhirnya terpaksa pakai Go-Food. ha ha ha.

Berisiko juga nyimpen uang dua ribuan. Jangan-jangan mungkin saya pernah memberikan uang Rp. 20.000,- untuk parkir ya? Kayaknya kalau itu kejadian, tukang parkirnya gak bakalan protes. he he he.

Kok Masih Sibuk?

Kuliah sudah selesai satu minggu yang lalu. Seharusnya sekarang ada waktu bagi saya untuk sedikit menghela nafas. Begitu yang saya perkirakan. Eh, tapi entah kenapa kok sampai sekarang masih sibuk terus ya? Tandanya sibuk adalah blog ini tidak terupdate.

Sebetulnya ada jawabannya, yaitu ada beberapa mahasiswa yang masih bimbingan thesis karena mengejar batas waktu. Harusnya sih ini tidak begitu sibuk. Kenyataannya tidak begitu. Sibuk juga.

Ok. Mudah-mudahan minggu-minggu depan sudah mulai agak reda kesibukan. Sudah masuk bulan Ramadhan juga. Mari kita lihat apakah masih sibuk atau sudah tidak.

Berita Yang Terlalu Wah

Coba perhatikan berita yang muncul di media massa konvesional; baik yang berbentuk cetak maupun online. (Online seperti detik.com sudah saya anggap sebagai media konvensional.) Berita yang ditampilkan umumnya terlalu wah. Yang saya maksudkan dengan “wah” di sini adalah terlalu dibesar-besarkan.

Bagaimana saya tahu ini? Saya tahu karena ada berita yang saya tahu aslinya dan yang ditampilkan terlalu wah. Misalnya, si Fulan jagoan ini dan itu. Padahal saya tahu si Fulan ini biasa-biasa saja. Saya duga si Fulan tidak berniat untuk menyombongkan diri atau membesar-besarkan. Medialah yang melakukannya. Berita lain yang sejenis adalah startup ini luar biasa. Padahal saya tahu ada banyak yang lebih hebat tetapi tidak muncul di media. Jangan salah, saya suka berita yang bagus. Good news. Tetapi yang tidak saya suka adalah berita yang tidak benar. Berita yang terlalu dibesar-besarkanpun menurut saya bukan berita benar.

Pada awalnya saya tidak terlalu peduli, tetapi kalau ini dibiarkan terus menerus maka apa jadinya dunia jurnalisme Indonesia? Apakah ini didorong oleh bisnis? Bahwa berita yang heboh lebih menarik sehingga lebih banyak dibaca dan akhirnya dapat dijual kepada pihak yang tertarik untuk pasang iklan. Uang yang berbicara. Parah.

Sekarang saya lebih suka dan lebih mengandalkan berita yang ditulis oleh orang bisa. Citizen journalism. Tadinya saya mengira bahwa media massa konvensional masih akan mendominasi. Setidaknya, mendominasi bahan bacaan saya. Ternyata sekarang tidak. Berita dari orang biasa memang masih harus dipertanyakan juga keabsahannya. Take it with a grain of salt, kata orang Barat. Sekarang berita dari media konvensionalpun tidak dapat diandalkan keabsahannya.

Artinya kita harus belajar untuk membedakan mana berita atau tulisan yang sesungguhnya dan mana yang sudah penuh dengan bumbu.

Ada MSG?

Masih Ngeblog

Masih ngeblog di tahun 2018? Di jamannya vlog gini? Iya, masih ngeblog. hi hi hi. Tersipu-sipu juga saya. Berasa menjadi manusia yang tua gitu. Seperti dinosaurus. Sudah punah. Banyak blogger angkatan saya sudah gulung tikar – eh, naik kelas.

Tapi, tadi saya melihat ada daftar 50 blogger Indonesia terbaik di tahun 2018. Nah, artinya ngeblog itu masih hidup. Belum hilang. Alhamdulillah.

Bagusnya lagi, blog ini tidak termasuk di dalam daftar itu. Bahkan mungkin di daftar 1000 blog Indonesia terbaik pun ndak masuk. Artinya ada banyak blog-blog yang lebih baik. Peningkatan kualitas. Alhamdulillah lagi.