Harus Kompetisi?

Saat ini kita sering melihat kompetisi “business plan”. Mengapa business plan perlu dikompetisikan? Demikian pula ada kompetisi menggambar, computer programming, musik, dan bahkan pemilihan kepala daerah. [hi hi hi. yang terakhir itu ngasal.] Mengapa semua mesti dikompetisikan?

Ketika saya mengajar pemrograman, misalnya, saya tidak mengajari mereka untuk diadu dalam sebuah kompetisi. Apa yang diajarkan itu bukan untuk dikompetisikan. Itu semua untuk dipahami dan dikuasai. Bukan untuk ditandingkan. Bahkan yang diajarkan juga boleh jadi untuk kesenangan semata-mata. Just for fun.

Apa yang ada di kepala para orang tua ketika ingin mengadu anaknya?

Motret, Tanggung Jawab

Jaman dahulu, memotret sebuah momen dipikir panjang-panjang. Masalahnya, sayang klise filmnya. Ada yang isinya hanya 24. Dua puluh empat kali jepret, habis. Harus beli lagi. Uang. Setelah itu film juga harus dicetak. Uang lagi. Maka, kita akan sangat berhati-hati dalam memotret.

Sekarang, tinggal cekrek potret saja. Foto hanya berupa sebuah berkas di memori yang biasanya berupa sebuah SD card. Tidak suka foto tadi, tinggal dihapus saja dari SD card tersebut. Tidak ada beban. Akibatnya, kita menjadi hambur dalam memotret. Ini juga yang saya alami.

Lama kelamaan koleksi foto saya menjadi super banyak dan ini berimplikasi kepada disk. Jadi sesungguhnya menghamburkan uang juga. Selaini itu, pengelolaan menjadi rumit. Kalau saya ingin mencari sebuah foto tertentu, repotnya bukan main. Foto ini tersimpan dalam folder apa ya?

dsc_0468-kopi-0001

Ngopi sore-sore. Foto yang telah saya edit dengan menghapus bagian kiri dan kanan yang tidak penting.

Hal lain yang saya lakukan terhadap foto adalah melakukan backup di situs online seperti Flickr atau Google Photos. Sesekali juga saya unggah ke Facebook, Twitter, dan Instagram. Untuk hal ini biasanya foto tidak saya unggah mentah-mentah. Foto ini harus saya edit dulu. Biasanya saya potong bagian-bagian yang tidak penting, misalnya ujung kursi yang terpotret (dan mengganggu isi foto). Atau warnanya yang terlalu terang atau terlalu gelap sehingga perlu disesuaikan. Ini yang membuat saya pusing karena banyaknya foto yang saya ambil. (Sebagai contoh, foto-foto yang saya ambil dalam sebuah konser terakhir ternyata ada 1000 foto. Sampai sekarang belum selesai diproses. Hadoh.)

Sekarang saya mulai berpikir, kalau motret jangan sembarangan. Harus tanggung jawab dalam hal mengeditnya dan mengelolanya. Pikir-pikir dahulu. Jangan asal cekrek saja. Tapi ini masih susah. Masih ngasal motret saja. Masih banyak berkas yang harus diproses. Masih harus berlajar lebih disiplin. Ugh.

Perlu Lebih Banyak Esai

Saat ini saya (masih) memeriksa ujian mahasiswa, yang harusnya selesai segera. Ujian dalam bentuk pilihan berganda (multiple choice) sangat cepat diperiksa. Kita tinggal mencocokkan daftar jawaban dengan pilihan mahasiswa. Sayangnya ujian seperti ini tidak mengukur kemampuan mahasiswa dalam menyampaikan pendapat.

Ujian yang sedang saya periksa memiliki bagian pilihan berganda dan esai. Pada bagian esai saya dapat melihat ketidakmampuan mereka dalam mengemukakan pendapat. Penyampaian pendapat tidak langsung tetapi berputar-putar. Mbulet. Hadoh.

Menilai ujian dalam bentuk esai jauh lebih susah dan menghabiskan banyak waktu, tetapi ujian jenis ini lebih mendidik. Selain mendapatkan jawaban, kita juga mengajari mahasiswa dalam menuliskan pendapatnya. Kalau mereka tidak belajar sekarang, kapan lagi? Setelah lulus?

Melintas Tengah Malam

Tengah malam ini sama dengan tengah malam yang lain. Sudah sering kulintasi tengah malam seperti ini. Bagi banyak orang, harus ada kerja keras untuk melewati tengah malam. Bagi diriku, ini justru hal yang biasa.

Ya, yang ini ada sedikit perbedaan yaitu adanya bonus perubahan tahun. Tahun 2017. Tetapi sesungguhnya, ini sama dengan sebelum-sebelumnya. Hanya sebuah pergantian hari yang baru. It’s just a brand new day.

Selamat Tahun Baru 2017!

Akhir 2016

Tengah malam akhir tahun 2016 mendekat. Saya tidak ingin membuat resolusi-resolusian, tapi tahun 2016 ini terlihat saya agak jarang ngeblog. Tahun 2017 saya harus lebih banyak ngeblog lagi. Menantang diri sini.

Singkat saja memang tulisan ini. Sekarang sudah ngantuk meskipun sudah dua cangkir kopi. Kayaknya tahun baruan mau tidur saja, seperti yang sudah-sudah.

zzzZZZ …

Mengenali Pahlawan Indonesia

Ketika jaman saya masih kecil, semua anak-anak diwajibkan mengetahui dan bahkan menghafalkan nama pahlawan-pahlawan Indonesia. Biasanya disebutkan mereka dari daerah mana. Ini mungkin bagian dari doktrinasi bernegara Indonesia? Hasilnya adalah kami jadi mengetahui pahlawan-pahlawan Indonesia.

Jaman dahulu memang belum ada internet, sehingga pengetahuan kami juga terbatas. Tetapi di sisi lain kami juga tahu bahwa kami tidak tahu semua. (Muter begini. hi hi hi.) Artinya, kami tidak sok tahu.

Baru saja Bank Indonesia menerbitkan uang baru. Uang baru ini menampilkan wajah pahlawan Indonesia. Sayangnya ketika membaca sebuah thread tulisan (post) di media sosial tentang uang ini, banyak yang menyikapinya dengan negatif. Sebagai salah satu contoh adalah banyak yang tidak tahu (dan saya pada awalnya) tentang Frans Kaisiepo yang ditampilkan pada pecahan uang 10.000 rupiah.

rupiah_10000

Tampilan uang 10.000 Rupiah yang baru [sumber sindonews]

Sedihnya banyak yang menyikapi ketidak tahuan ini dengan menghakimi. Saya tidak sampai hati untuk menuliskan komentar-komentar mereka di tulisan ini. (Dan ini juga dapat saya anggap sebagai ikut menyebarkan kebencian.) Padahal untuk memecahkan ketidaktahuan ini mereka dapat mencari informasi di internet. Ini salah satunya, “Biografi Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo“. Sangat mudah sekali. (Coba bayangkan jaman dahulu sebelum ada internet!) Keberlimpahan informasi ini ternyata tidak menjadi jaminan orang menjadi lebih terdidik. Aneh. Apakah ini merupakan kegagalan pendidikan Indonesia?

Hal yang sama dapat juga dilakukan untuk mencari informasi mengenai pahlawan-pahlawan Indonesia lainnya yang diabadikan di uang baru kita. Ayo cari tahu.

your name

SeBaru beres nonton film “your name”. Bagus atau tidak? Lumayanlah menurut saya. Tapi, tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat resensi film itu. Film ini mengingatkan saya akan beberapa hal.

Hal yang pertama – kok seperti tulisan formal? hi hi hi – adalah film ini mengingatkan saya akan cerita pendek yang bersambung karangan saya yang merupakan awal-awal dari ngeblog ini; “Aku Tak Tahu Namamu“. Whoa, baru sadar bahwa cerita itu saya buat tahun 2007. Sembilan tahun yang lalu. (Waktunya melanjutkan? Hadoh.)

Hal yang kedua, film ini mengingatkan saya akan inti dari lagu Johnny Hates Jazz – Magentized. Lihat YouTube-nya di bawah ini. Kebetulan ini adalah salah satu lagu come back dari JHJ setelah sekian tahun menghilang. (Ada versi parodi anak-anak juga.)

Hal yang ketiga. Eh, tidak ada yang ketiga. Kembali ke filmnya. Seperti halnya film Jepang yang saya tonton, biasanya romatik. hi hi hi. Selamat menonton film “your name”. Ceritakan pengalaman Anda.