Pusing Dengan Bahasa Indonesia

Sudah berkali-kali saya mencoba membaca buku terjemahan dan gagal untuk memahaminya. Pusing. Bagi saya ternyata memang masih lebih mudah memahami buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa aslinya, bahasa Inggris maksudnya. Bukan maksud saya untu sok-sokan Ingris-Ingrisan, tapi kenyataannya memang demikian.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah buku terjemahan. Saya coba baca lagi. Dan hasilnya, pusing lagi. Ini bukunya.

photo6275926025779128563
Contoh buku terjemahan yang membingungkan

Begitu dimulai, di bagian awalnya (pada halaman “ucapan terima kasih”) ada tulisan seperti ini, “istri ahli dan putri tanpa sejawat“. Anda tahu itu maksudnya apa? Nampaknya saya harus cari tahu kalimat aslinya seperti apa.

Mungkin masalah sebenarnya adalah penerjemah terlalu harfiah dalam menerjemahkan sehingga makna aslinya hilang. Jadinya malah membingungkan. Ada banyak “idiom-idiom” dalam bahasa Inggris yang seharusnya tidak diterjemahkan begitu saja. Pusing.

Kembali ke buku-buku berbahasa Inggris deh.

Seebuk

Banyak orang yang tidak percaya bahwa saya super sibuk. Kalau mengikuti kegiatan saya, bakalan gempor. Saya ambil contoh saja ya. Kemarin.

Acara saya dimulai pagi hari, pukul 9. Eh, ternyata acaranya pukul 8 pagi. Berarti saya harus berangkat 1 jam sebelum itu. Nah, kebetulan saat ini waktu Subuh di Bandung mendekati pukul 4 pagi. Jadi pukul 4 pagi saya sudah harus bangun. Acara workshop ini berjalan sampai pukul 5 sore, atau pukul 17.

Setelah acara tersebut, saya melanjutkan ke acara nonton dan diskusi film. Saya memilih film “I, Robot” karena terkait dengan Artificial Intelligence (AI). Di acara itu kami nonton film bersama dan kemudian membahas film tersebut. Acara ini berlangsung di IFI, di depan BEC Bandung. Acara itu berlangsung dari pukul 5 sore sampai pukul 21:30 malam. (Tentang acara ini nanti saya buat tulisan terpisah. Tapi nggak janji. ha ha ha.)

Sampai di rumah pukul 22:30. Jadi kegiatan saya itu dari pagi sampai malam. Selama itu saya tidak sempat membuka handphone saya. Jadi yang kirim WA / Telegram / dst. tidak akan saya baca.

Tidur mungkin hanya 5 jam kurang sedikit.

Hari berikutnya ya sama saja. Sibuk.

Rajin Futsal

Saya termasuk yang rajin futsal. Terlalu rajin, bahkan. Seminggu saya futsal tiga kali; Senin, Rabu, dan Sabtu. Masing-masing itu waktunya 2 jam. Hal ini sudah saya lakukan selama belasan tahun.

Alasan utama saya rajin futsal adalah untuk kesehatan. Semakin berusia saya harus memaksakan diri berolahraga. Futsal ini salah satu olah raga yang cocok bagi saya karena dia olah raga rame-rame. Kalau olah raga sendirian, misal jalan atau lari di thread mill, jadi malas. Akhirnya berhenti berolahraga. Memang pemilihan jenis olahraganya ya cocok-cocokan. Saya cocok dengan futsal.

Banyak orang yang tidak berolahraga dan mencari banyak alasan; capek, jauh tempatnya, hujan, tidak punya uang, dan sejuta alasan lainnya. Kalau mau dicari, ya akan selalu ada alasannya. Memang bagian yang terberat bagi olah raga adalah memaksakan diri pergi ke tempat olah raganya.

Karena tujuannya adalah untuk kesehatan, maka dalam bermain futsal saya tidak mencari prestasi. Mau kalah atau menang, tidak penting itu. Yang penting adalah hadir dan bersemangat. Nah, soal semangat itu banyak anak muda yang kurang atau hilang semangat ketika kalah dalam bermain. Saya tidak. Kalau mau diadu, maka saya akan menang dalam hal semangat. Soalnya di aspek lain, skill misalnya, pastilah saya kalah dengan yang lebih muda. Tapi soal semangat, saya masih bisa menang. Ha ha ha. Jadi bisa dipastikan saya yang paling semangat di tim.

Mau sehat? Ya harus berusaha. Futsal adalah salah satu upaya saya untuk sehat.

Sudah Lama Ku Tak Menangis

Menangis. Seseorang dapat menangis karena kesedihannya. Orang dapat juga menangis karena bahagia. Menangis katanya juga merupakan obat.

Beruntungkah orang yang tak pernah menangis?

Bagi saya ada beberapa lagu yang membuat saya menangis. Menjadi mellow. Baru kali ini saya mendengarkan lagu dari Payung Teduh dengan serius. Eh, nemu lagu yang aransemennya bagus banget di YouTube. Mendengarkan lagu ini langsung saya menjadi menangis. Menangis karena berterimakasih atas banyak karunia yang saya dapati. (Interpretasi lirik yang berbeda.)

Di hari Jum’at ini, saya bersyukur kepada Allah swt yang telah berbaik hati kepada saya. Ya, Allah, terimalah cinta hambaMu ini.

Update: dan khotbah Jum’at kali ini pun membahas bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur atas karunia yang kita terima. Lho, kok bisa pas banget. There’s no such thing as coincidence.

Update lagi: Jadi ingin melanjutkan cerpen Jek and Sar. hi hi hi. Jangan nagih saya soal yang ini ya.

Menjadi Rektor?

Menyambung tulisan sebelum ini (tentang rektor asing), saat ini sedang ada pendaftaran untuk menjadi Rektor ITB. Maka mulailah kawan-kawan kasak kusuk.

Kawan: “Mas, nggak daftar jadi Rektor ITB?”
Saya: “Untuk apa? Apa untungnya buat saya.”
Kawan: “Ya ngeramein aja.”
Saya (dengan percaya dirinya): “Lah, kalau kepilih gimana?”

Ha ha ha. Bagi yang sudah kenal dengan saya mungkin sudah tahu bahwa jabatan administratif tidak menarik bagi saya. Jangankan jadi rektor, jadi menteri pun saya tidak mau. (Memangnya ada yang nawarin jadi menteri? Ada lah. Meskipun saya yakin tawaran itu tidak serius.)

Kalau mau hitung-hitungan, jabatan-jabatan tersebut tidak bermanfaat bagi saya secara pribadi. Entah itu bermanfaat bagi orang lain (orang banyak), tetapi bagi saya ini tidak ada manfaatnya. Kalau saya mau sih sudah dari dulu bisa. Cieeehhh.

Begini. Seseorang itu harus tahu impiannya. Menjadi rektor – atau menjadi menteri – bukan impian saya. Bukan cita-cita saya. Itu hanya akan menjadi distraction bagi saya.

Lantas, cita-citanya apa dong? Menjadi entrepreneur. Technopreneur. Nah.

Sibuk

Iya, iya, iya. Saya sudah agak lama tidak menulis di blog ini. Alasan saya – sama seperti orang lain – masih tetap klasik, sibuk. Whoaaahhh. Iya. Beneran.

Menulis blog tadinya merupakan satu-satunya saya mengungkapkan ide. Ternyata sekarang lebih mudah menggunakan video. Dahulu, jaringan internet masih lambat (dan komputernya juga masih lambat) sehingga untuk membuat video masih susah. Sekarang tinggal rekam – dan kalau perlu edit sedikit – selesai.

Ini contoh video yang saya buat dan langsung upload ke channel saya di YouTube. Ya, vlog pertama saya.

Saya termasuk yang membuat video dalam satu take. One shot. That’s all. Sekali jadi. Tidak ada ambil ulang. Saya paham bahwa kebanyakan orang membuat video dengan melakukan pengambilan berkali-kali. Agar sempurna tentunya. Akibatnya, membuat video masih lebih sulit dari sekedar menulis.

Untuk menulis blog ini saya harus menunggu sampai saya berada di depan komputer untuk waktu yang agak lama. Membuka internet, kemudian mengetikkan tulisannya. Hal ini agak sulit untuk dilakukan sambil berjalan. Saya juga masih sulit untuk menulis dengan mengunakan handphone. Saya harus menulis dengan menggunakan keyboard dalam ukuran sebenarnya. Ini juga yang membuat saya menjadi lambat menulis di blog.

Baiklah. Sudah saya jelaskan mengapa saya lambat memperbaharui blog ini. Mengenai kesibukan saya, akan saya ceritakan di sini. Atau … malah di channel YouTube saya? ha ha ha. Ya jadinya malah tambah lambat update ini dong.

Pakaian dan Perlakuan

Perlakuan seseorang terhadap kita bergantung pada pakaian yang kita pakai. Seharusnya sih tidak begitu banget, tetapi itulah kenyataan. Kalau kita pakai pakaian keren (baca: mahal), maka kita akan mendapatkan perlakuan spesial. Sementara itu kalau kita berpakaian gembel, maka kita akan mendapatkan perlakukan busuk juga. Itulah sebabnya banyak orang berpakaian keren-keren.

Saya melakukan yang sebaliknya. Saya sering berpakaian tidak terlalu keren. Apa adanya. Selama pakaian itu bersih, tidak masalah bagi saya. Bersih itu sebuah keharusan. Sisanya, optional. Ha ha ha. Dan tentu saja saya mendapatkan perlakukan yang berbeda.

Seringkali saya gunakan hal ini – berpakaian seadanya – untuk menguji layanan dari seseorang atau sebuah organisasi, saya berpakaian seadanya. Jika orang itu memang ramah, maka dia akan tetap ramah meskipun pakaian saya bukan pakaian mahal.

Berani mencoba?