Tag Archives: Curhat

Gagal Mencoba Cara Baru Ngeblog

Dikarenakan satu dan lain hal – yang pada prinsipnya akses ke internet saya agak susah – maka saya mencoba cara lain untuk ngeblog. Biasanya, begitu ada ide langsung saya tuliskan di blog dan langsung publish. Nah, akhir-akhir ini saya terpaksa membuat draft dulu sebelum publish. Ternyata cara ini tidak cocok untuk saya. Hasilnya adalah banyak draft dan tidak ada satu-pun yang ter-publish. Hadoh.

Nampaknya saya harus kembali ngeblog ke cara lama, atau tetap mencoba dan berlatih ngeblog dengan gaya baru ini. Eh, harus keduanya ya. Okelah. Berlatih. Sementara itu saya publish tulisan curhat ini dulu. Jreng!


Lebaran

Lebaran (dan mudik) rupanya berimbas ke blog ini juga. Beberapa hari ini belum sempat ngeblog karena “mudik”. Sebetulnya mungkin lebih tepat disebut “ngota” alias ke kota karena kami ke Jakarta. Untungnya perjalanan lebaran kami melawan arus mudik sehingga tidak mengalami kemacetan.

Sebelum lupa, saya memohon maaf lahir dan batin. Semoga amalan kita diterima oleh Allah (swt).

11705389_10153010703456526_7608551199243869090_o

Oh ya, berat badan yang turun karena puasa kemarin itu sudah kembali lagi dan malah bertambah dalam beberapa hari saja. Hadoh. Makan-makan terus tanpa disertai dengan olah raga. Alasannya sih karena nggak sopan menolak tawaran makanan dari saudara-saudara. he he he. Gawat sekali nih. Semoga berat badan dapat kembali “normal”. Hi hi hi.

Bagaimana dengan lebaran Anda? Mudik?


Waktu Cepat Berlalu

Liburan mahasiswa sudah hampir berakhir. Liburan Hari Raya sih memang sangat singkat. Nyaris tidak libur. Padahal tadinya saya ingin memperbaiki dan memperbaharui materi kuliah. Selain itu ingin mencoba berbagai tools, aplikasi, dan seterusnya. Banyaklah kemauannya, tapi kenyataannya nyaris nol besar.

Banyak waktu saya yang “terbuang” untuk membaca. Yang saya bacapun buku buku-buku teknis saja, tetapi buku novel pun ada. Sebagai orang teknis, kadang saya merasa berdosa menghabiskan waktu tidak untuk hal-hal yang teknis. Padahal sesungguhnya meningkatkan pemahaman tentang hal-hal di luar yang teknis – dengan membaca – merupakan hal yang sangat penting. Sesungguhnya waktu itu tidak terbuang dengan membaca.

Waktu cepat berlalu. Merugilah orang yang menyia-nyiakan waktu.

[dimana saya letakkan time machine itu ya? … mencari …]


Pengunjung Mulai Mudik

Iseng-iseng saya mengamati statistik pengunjung blog ini. Ternyata terjadi penurunan. Ada dua kemungkinan. Pertama, saya kurang rajin menulis sehingga pengunjung juga kurang perlu rajin melihat. Atau, kebanyakan pengunjung mengakses blog ini dari kantor atau sekolah. Nah, sekarang adalah musimnya mudik. Maka ketika pengunjung mudik, statistikpun ikut mudik. hi hi hi.

Sebetulnya ini masa yang menarik. Ketika pengunjung sedang sepi, maka saya malah dapat bereksperimen menulis macem-macem. Toh yang membaca sedikit. he he he. Tujuan membuat blog ini kan bukan mencari popularitas, tetapi sebagai tempat saya untuk melakukan eksperimen dalam hal menulis.

Mau eksperimen apa ya? Hmmm…


Kemampuan Membaca Instruksi

Ada cerita lucu, sebuah perusahaan menawarkan pekerjaan. Di dalam tawaran pekerjaannya itu disebutkan bahwa yang berminat harap membalas melalui email karena komunikasi akan dilakukan melalui email tertentu (disebutkan alamat emailnya). Tidak ada pertemuan fisik. Bagi yang tidak dapat mengerti instruksi ini tidak perlu melamar. Ternyata tidak sedikit yang menanyakan surat lamaran mau diantar (secara fisik) ke alamat mana. he he he. Ada juga yang tanya, diemailkan kemana? Lah, itu ada di instruksinya.

Anda punya contoh sejenis?

Hal semacam ini sering saya temui dengan konteks yang berbeda. Sampai sekarang! (curcol)

Saya tidak tahu apakah ini disebabkan banyak orang yang terburu-buru membaca instruksi atau tidak dapat membaca instruksi. Atau, lebih parah lagi, tidak bisa membaca. Hadoh.

Sebetulnya ada dugaan lain, yaitu banyak orang yang malas! Daripada repot-repot baca dan mengerti, lebih baik tanya saja langsung. Ini budaya minta disuapi. Ya ampun. Yang ini harus panjang lagi solusinya.


Bukber: Buka Puasa Bersama

Kemarin (dan mungkin saat ini juga) jalan-jalan di kota Bandung padat. Macet dimana-mana. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya acara buka puasa bersama – bukber. Nampaknya bukber sudah menjadi tradisi, setidaknya di kota Bandung. Bagaimana di tempat Anda? Banyak acara bukber juga?

Yang mengadakan bukber biasanya adalah alumni kampus, SMA/SMK, SMP, SD, dan organisasi-organisasi lainnya juga. Pokoknya apapun kumpulannya, ada bukber aja. Mangan ora mangan, asal ngumpul. Eh, mangan ngumpul ding. he he he.

Waktu sekarang ini memang yang paling pas. Weekend sebelum orang-orang mudik ke kampung halaman masing-masing. Minggu depan sudah banyak yang tidak bisa ikutan bukber.

Jadi males mau ke luar rumah. Pasti macet.

Oh ya, Jum’at kemarin kami mengadakan bukber di kantor. :)  Yang ini mestinya tidak bikin macet.

DSC_6738 bukber crop


Mencari Talenta

Sebuah pesan masuk ke ponsel saya:

Pak Budi, apakah punya orang yang dapat mendesain rangkaian dengan menggunakan FPGA untuk sebuah proyek. Selain itu butuh orang juga untuk membuat firmware-nya.

Selang berapa lama, ada pesan lain lagi:

Pak, saya butuh orang yang bisa python untuk mengakses data dari database (SQL) kemudian mem-push ke sebuah sistem lainnya.

Pesan-pesan semacam ini sering hadir di ponsel saya. Mungkin karena saya mengajar di ITB sehingga dipikirnya dekat dengan sumber daya manusia yang handal. Kenyataannya adalah susah untuk mendapatkan SDM, talenta, yang dibutuhkan tersebut.

Lulusan S1 dari perguruan tinggi sekarang entah pada lari kemana. Dugaan saya, sebagian melanjutkan pendidikan ke S2. Sebagian lagi bercita-cita menjadi manager. Maka tawaran pekerjaan seperti yang ditampilkan di atas sulit untuk dipenuhi. Bukan hanya ITB saja yang tidak dapat memenuhi itu, perguruan tinggi lainnya, bahkan politeknik dan SMK-pun sulit menghasilkan talenta yang dimaksudkan.

Pendidikan yang ada memang tidak mampu menghasilkan talenta yang siap digunakan. Waktu yang singat dan pelajaran yang mungkin dipaksakan (dijejalkan) kepada siswa tersebut membuat lulusannya hanya memahami kulit-kulit pelajaran saja. (Maha)siswa pun jarang yang mau belajar sendiri di luar apa yang sudah diajarkan di kelas. Mereka sudah puas jika lulus dari mata kuliah/pelajaran tersebut.

Maka, pencarian talenta masih berlanjut.

Oh ya, tawaran yang pertama, yang FPGA itu, masih terbuka.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.430 pengikut lainnya.