Siapakah Saya?

Bagi banyak orang, menunjukkan eksitensi dirinya merupakan hal yang penting. Harus tampil. Harus mendapat acungan jempol. Harus diperhatikan atasan. Kalau di media sosial, harus mendapat banyak “like” atau acungan jempol.

Mungkin karena perjalanan hidup, bagi saya, approval dari banyak orang itu sudah tidak penting lagi. Saya cenderung tidak suka spotlight. Lebih baik tidak dikenali. Alhamdulillah ini sudah mulai berjalan dengan baik. hi hi hi. Banyak orang yang tidak tahu siapa saya. Padahal saya adalah adalah sebuah buku yang terbuka. An open book. It’s very easy to find who I am. Apalagi dengan adanya internet, semua dapat dicari dengan mudah.

Belajar untuk tidak egois. Nah itu dia. Belajar untuk mengendalikan diri sendiri merupakan hal yang sulit. Apalagi jika Anda dihina atau dibully oleh orang yang tidak tahu apa-apa. Panas. Emang ente itu siapa? hi hi hi. Ketika masih muda mungkin demikian jawaban saya. Kalau sekarang, tersenyum saja.

Keabaran ini yang saya pelajari dari para guru (yang sudah pada sepuh dan memiliki kesabaran yang luar biasa). Saya bukan apa-apa dibandingkan mereka jika diukur dari tingkat kesabarannya.

hiding …

Melupakan Cita-Cita?

Masih ingatkah cita-cita kita ketika kita masih kecil dahulu? Banyak yang cita-citanya sederhana (misal menjadi tukang lotek) atau kompleks (mendaki gunung Himalaya). Namun sayangnya, sesuai dengan bertambahnya usia, kita mulai melupakan cita-cita kita itu. Kenyataan hidup membunuh cita-cita.

Apa cita-cita Anda ketika umur Anda masih belasan tahun? 20-tahunan? 30-tahunan? 40-tahunan? 50-tahunan? 60-tahunan? (Lihat video ini. Cerita perjalanan hidupmu?)

Ayo nyalakan kembali cita-cita kita itu!

Lompat-lompat Topik

Ketika mengerjakan sesuatu, saya teringat harus mengerjakan sesuatu lainnya lagi. Ketika mengerjakan yang itu, kemudian teringat harus mengerjakan hal lainnya lagi. Jadinya yang satu belum selesai sudah pindah ke topik lainnya lagi. Ini memang masalah orang yang multi-tasking seperti saya. ha ha ha.

Kejadian ini mengingatkan saya akan browsing di internet. Buka satu halaman web. Belum selesai membaca tulisan (artikel) itu, sudah pindah ke link lainnya lagi. Dari sana, pindah ke link lainnya lagi. Lompat-lompat topik.

Kalau bisa kembali ke topik yang awal sih oke-oke saja. Biasanya sih sudah kehabisan waktu sehingga topik awalnya tidak jadi dibaca. Hadoh.

Membaca Buku

Anak muda Indonesia jaman sekarang nampaknya tidak suka membaca buku. Padahal jaman sekarang sudah ada eBooks. Semestinya tidak ada lagi hambatan untuk membaca buku. Kalau jaman dahulu kan harus cari buku fisik. Kalau pesan belipun harus nunggu lama dan mahal. Mungkin justru kemudahan itu yang membuat orang menjadi malas?

Saya sudah mencoba menghimbau dan menyindir mahasiswa saya supaya gemar membaca. Hasilnya masih nol besar. Mungkin saya harus memberikan tugas baca kepada mereka. Kemudian harus disertakan juga foto halaman yang mereka baca (atau malah sekalian foto mereka membaca ha ha ha) sebagai bukti. Hi hi hi.

Masalahnya, tanpa membaca ilmu kita rendah sekali. Sudah ilmu rendah, banyak komentar pula (di media sosial misalnya). ha ha ha. Jadinya kacau balau.

Baca, baca, dan baca!

Fakir Bandwidth

Ini tulisan tentang keluh kesah susahnya akses internet. Link internet di tempat ini (tidak perlu disebutkan namanya) sangat lambat. Padahal ini seharusnya merupakan tempat yang internetnya kecang. Di Indonesia masih banyak fakir bandwidth.

Yang sedang saya coba akses adalah StackOverflow, karena ini sedang mengajar pemrograman. Bayangkan, di tempat lain internetnya wuzzz, wuzzz, wuzzz. Di sini siswa terpaksa nunggu dulu. Belajar tersendat-sendat. Jadi inget pejabat yang mengatakan “internet cepat untuk apa”? Ya, untuk belajar!

Keluh kesah pagi ini … [meringis]

Gelas Yang Penuh

Perjalanan hidup seseorang membentuk karakternya. Saya bersyukur melalui jalan hidup yang diberikan kepada saya. Lengkap dengan positif dan negatifnya. Komplit. Hasilnya adalah saya menjadi seseorang yang (mudah-mudahan) selalu bersykur dengan apapun yang saya peroleh. Positif thinking. Dalam perdebatan gelas yang setengah kosong atau gelas yang setengah isi, mungkin saya menyebutnya gelas yang hampir penuh. ha ha ha.

Hal yang membuat saya demikian mungkin karena saya sudah melalui masa susah juga. Bahkan pada masa susahpun saya masih dapat melihat orang lain yang lebih susah lagi dari saya, sehingga saya masih dapat bersyukur. Jadi mungkin kuncinya adalah mencari dan melihat orang lain yang lebih menderita? ha ha ha. Mellow tetap ada, tetapi tetap bersyukur.

Apakah kemampuan untuk bersyukur ini dapat diajarkan? Saya tidak tahu. Mestinya sih iya, tetapi bagaimana mengajarkannya itu yang saya tidak tahu. Ada orang yang melihat orang lain lebih susah, tapi bukannya bersyukur tapi malah tetap menggerutu. ha ha ha. Tetap saja negatif. Mungkin ini bukan ilmu, tapi seni. The art of grateful.

Alhamdulillah … masih bisa bersyukur.