Tag Archives: Curhat

Pengalaman Naik Uber di Bandung

Awalnya ketika orang berbicara tentang Uber, saya tidak begitu tertarik. Alasannya, di Bandung saya umumnya menggunakan kendaraan sendiri. Biasanya bawaan saya banyak; tas yang sudah sangat berat (entah apa saja sih isinya), jaket, buku-buku untuk show and tell di kuliah, sepatu + tas isi peralatan futsal + bola (kalau hari futsal), gitar dan efek (kalau latihan band), dan seterusnya. Ini membuat saya susah untuk naik kendaraan orang lain atau taksi. Memang tidak selamanya bawaan saya itu sebanyak itu, tetapi umumnya memang seperti itu. Itu kalau di Bandung.

Kalau di Jakarta, saya juga belum tertarik menggunakan Uber karena kalau di Jakarta saya lebih sering naik ojek. Maklum, Jakarta macet. he he he. Dari Bandung ke Jakarta bawa mobil, sampai di Jakarta dilanjutkan naik ojek. Ojeknya pun saya belum pernah pakai Go-Jek. Langsung saja saya cari ojek yang mangkal.

Nah, barulah kejadian saya naik Uber. Ceritanya dua minggu yang lalu kami ada acara keluarga di daerah Kanayakan Dago. Hari Minggu itu pula ada acara pemilu Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) untuk daerah Jawa Barat yang dilakukan di kampus ITB. Kemudian saya juga harus latihan band untuk acara hari Sabtu kemarin. Maka berangkatlah saya dan keluarga naik mobil. Acara keluarga berlangsung sampai sore. Saya harus duluan ke kampus ITB. Nah, ini kesempatan saya mencoba Uber.

Aplikasi Uber sudah lama saya pasang di iPhone saya. Nekad saya jalankan. Pertama kali saya pakai aplikasi ini. Tahu gak ya kemana Uber ngejemputnya? Salah satu masalah pertama saya adalah ngeset tempat saya dijemput. Entah karena GPS-nya kurang akurat atau bagaimana, susah untuk memasukkan alamat rumah saudara ini. Akhirnya pakai yang sudah ada di Uber itu, yaitu asrama putri ITB yang dekat dengan rumah saudara ini. Klik saja. Baru selesai saya klik, sudah ada jawaban yang menuju tempat saya. Whoa. Cepat banget.

Satu hal yang membantu bagi saya dari aplikasi Uber ini adalah adanya estimasi kapan mobil Uber datang. Bahkan di aplikasinya dapat kita lihat posisi mobil Uber itu ada dimana. Seru juga ngelihat dia jalan. Hanya yang jadi masalah adalah GPS di iPhone saya sangat menyedot batre. Untungnya saya bawa power bank raksasa (30.000 mAh!) jadi langsung saya colok.

Tidak berapa lama, sekitar belasan menit, muncul aja mobil Uber. Avanza. Langsung saya masukkan bawaan saya (tas ransel, gitar, tas kamera). Langsung menuju kampus ITB. Hari itu macet luar biasa. Jadi saya bisa ngobrol-ngobrol dengan driver dari Uber. Orangnya baik sekali. Dia cerita bagaimana dia memulai jadi driver Uber full time. (Ini bisa jadi tulisan sendiri.) Sampai lah ITB setelah berjuang melawan kemacetan kota Bandung!

Sampai di kampus, saya langsung menuju Aula Barat untuk ikutan pemilu IA-ITB Jabar. Prosesnya lumayan lama. Katanya terjadi kekacauan pula. (Ini juga bisa jadi cerita tersendiri.) Singkatnya saya mau kabur ke studio BanDos untuk latihan band. Masih macet pula. Saya berencana naik ojek saja untuk menembus macet ini. Eh … hujan! Ya sudah, Uber lagi. hi hi hi. Ada alasan naik Uber.

Saya pesan Uber lagi. Wow cepat juga jawabannya. Kebetulan ternyata ada mobil Uber sekitar rumah sakit Boromeus. Lagi-lagi waktu yang dibutuhkan belasan menit. Ini karena macet. Mobilnya datang. Avanza juga. Menuju ke studio BanDos.

Selesai latihan BanDos, saya cek keluarga saya sudah pulang. Tadinya saya pikir bisa dijemput. Lagi-lagi pilih Uber saja. hi hi hi. Jadinya dalam satu hari ini, dari belum pernah pakai Uber jadi pakai 3 kali!

Hari Minggu, kemarin, saya pakai Uber lagi. Ceritanya kami mau nonton konser LCLR Plus di Sabuga. Khawatir macet, bingung mau makan dimana, dan seterusnya, kami putuskan naik Uber saja. Lokasi kami yang di Kabupaten tapi pas di samping Kotamadya sering masalah untuk pesanan taksi. Begitu dijalankan Uber, dia bilang 29 menit lagi datangnya. Wah lama juga ya. Berarti ada kemacetan. Eh, tiba-tiba informasinya berubah jadi 3 menit lagi! Hah! Ternyata Ubernya datang sangat cepat karena mungkin data GPS-nya dia kurang akurat. Dia baru saja mengantar orang ke kafe di daerah rumah kami. Surprised yang menyenangkan. Yang tadinya dikira 29 menit malah jadi hanya 2 atau 3 menit. hi hi hi. Ternyata cari Uber yang ke rumah kami cepat sekali.

Hanya masalahnya, lagi-lagi, saya tidak bisa set lokasi penjemputan. Entah kenapa kami tidak bisa memasukkan alamat rumah kami. Jadinya mengambil lokasi yang dekat rumah. Jadi driver Uber harus nanya dulu tepatnya kami dijemput dimana. (Ini sampai sekarang saya belum tahu ngesetnya gimana.)

Nah, pengalaman saya naik Uber adalah sebagai berikut. Pertama, saya suka dengan adanya estimasi kedatangan mobilnya. Saya bisa lihat secara hampir real-time dia ada dimana. Ini yang membedakan dengan taksi biasa. Seringkali kalau pesan taksi, saya tidak tahu dia bakal datang berapa menit lagi. Ada juga kejadian setelah nunggu lama, ditelepon taksinya sibuk semua. Hayah! Jadi pakai Uber ini lebih predictable.

Kedua, mobilnya bagus-bagus. Lebih bagus dari mobil saya. ha ha ha. Bersih. Driver-nya ramah-ramah. Bawa mobilnya juga enak. Pokoknya dari sisi ini, nyaman.

Di sisi negatifnya, aplikasinya kalau dijalankan terus boros batre. Apalagi iPhone saya batrenya sudah mulai masalah. Harus ganti handphone ini. Yang paling mengganggu adalah set lokasi penjemputan. Ini sampai sekarang saya belum tahu bagaimana ngesetnya karena selalu tidak ada di pilihan. Jadinya saya selalu harus set di lokasi terdekat dan saya ke luar ketika Uber sudah dekat.

Secara umum, Uber memberikan solusi kepada kami. Saya yang tadinya skeptik, mungkin malah jadi kesenangan nih naik Uber di Bandung. hi hi hi. Gawat…


Pengamat Jadi-jadian

Pasca aksi terorisme kemarin muncul analisis aneh-aneh dan lucu-lucu dari orang-orang yang merasa dirinya pengamat. Seperti ini adalah pengalihan isyu atau direncanakan oleh pihak pemerintah. Yang seperti ini apakah sebaiknya dibiarkan saja atau diberi pencerahan? Kalau dibiarkan saja nanti banyak orang yang terpengaruh oleh analisis yang menjerumuskan tersebut. Kalau diajari, capek juga. Pasalnya umumnya para “pengamat” ini memang tidak ingin diajari dan justru memanfaatkan situasi dan keluguan masyarakat untuk kepentingan dirinya (dalam bentuk popularitas). Bagaimana menurut Anda?

Serahkan analisis kepada pakarnya, bukan kepada pengamat jadi-jadian. Para pakar sesungguhnya sudah menekuni ilmunya bertahun-tahun dan sungguh-sungguh. Bukan hanya anak kemarin sore. Dan perlu kita sadari juga ada banyak hal yang tidak dapat diungkapkan kepada publik. Belum waktunya.

Oh ya, sayapun bukan pengamat. Saya hanya obyek penderita saja. Yang ini betulan, bukan jadi-jadian. (Kendaraan saya diparkir di area kejadian ugh. Saya terpaksa tidak bisa pulang ke Bandung hari itu juga.)


Jadwal Ketat

Ini masih soal sibuk-menyibuk. Masih soal kesibukan saya. Karena saking sibuknya, maka jadwal saya cukup ketat. Kalau ada acara yang jadwalnya molor, maka saya harus kabur duluan dari acara tersebut agar tidak mengganggu acara selanjutnya. Saya merasa tidak enak kalau kabur duluan. Tidak sopan. Tapi bagaimana lagi?

Ini baru awal tahun. Kuliah belum mulaipun jadwal sudah ketat. Hadoh.


Terjebak Terorisme Jakarta

Beberapa hari ini saya belum sempat bercerita di blog karena ke(super)sibukan. Hari ini pun sebetulnya saya super sibuk, tapi akhirnya sempat menulis.

Pagi tadi saya berangkat dari Bandung setelah Subuh untuk pertemuan (Focus Group Discussion) tentang e-Commerce di Bank Indonesia (BI). Sampai di Jakarta masih pagi, tetapi sudah kena 3-in-1. Jadi saya putuskan untuk parkir di Sarinah. Kemudian saya sarapan di McD di sana. Lepas sarapan, saya naik ojek ke BI. Meeting.

Di tengah-tengah diskusi, kami mendapat berita ada bom di Starbucks Sarinah (Thamrin). Hadoh. Ada peserta yang salah satu anggota keluarganya di sana. (Untungnya aman. Alhamdulillah.) Sementara saya baru teringat bahwa saya parkir di Sarinah. Saya lupakan sejenak dan terus meeting. Setelah meeting baru saya melihat berita-berita beserta fotonya.

Wah ternyata kejadian di sekitar tempat saya parkir. Bahkan, kadang ketika saya berangkat terlalu pagi biasanya saya mampir di Starbucks Thamrin itu. Pas parkirnya juga di tempat itu. Hadoh. “Untungnya” hari ini saya tidak parkir di sana.

Setelah selesai meeting kami juga belum dapat meninggalkan BI karena tidak diperkenankan keluar masuk. Lagi pula saya tidak bisa kemana-mana. Saya lihat di TV situasinya. Waduh. Hmm bagaimana ya. Akhirnya saya putuskan untuk menuju ke sana setelah diperkenankan meninggalkan gedung BI.

Saya pilih naik ojek menuji ke tempat itu melalui jalan Sabang. Tadinya jalan itu juga ditutup. Saya nekad saja. Jalan Sabang sudah dibuka, tetapi di ujungnya belum. Jadi ojek hanya sampai di sana. Saya turun di sana dan menuju ke Sarinah. Sambil berdebar-debar karena masih tertutup. Sampai di sana masih banyak orang. Eh, pas sampai sana orang berhamburan. Saya ikutan lari. Serem juga. Ada yang komentar masih ada bom, tetapi nampaknya itu adalah oleh TKP.

Saya melihat daerah tempat mobil saya diparkir. Ternyata itu termasuk daerah yang terlarang. Police line menutupi areanya.  Wah, gak bisa keluar tuh mobil. Ya sudah akhirnya saya memilih untuk menjauh dari tempat itu. Cari tempat istirahat saja. Ngeblog dulu ah.


Anti-Mainstream

Sejak kecil saya tahu bahwa saya berbeda. Selera musik saya berbeda dengan teman-teman. Ketika mereka menyukai musik pop, saya sudah mulai menyukai progressive rock. Saya membaca, ketika kawan saya entah ngapain. Saya ngoprek elektronik, ketika kawan-kawan membeli mainan. Dan seterusnya.

Karena saya berbeda, saya mencoba menerima perbedaan dan orang-orang yang berbeda. Jadinya banyak orang yang dianggap “aneh”, outcast, oleh kebanyakan orang tetapi saya bisa berteman dengan mereka. Banyak kejadian yang mengajari saya untuk menghargai orang, apapun latar belakang dan status sosial mereka. Ini mengharuskan saya sopan dan memberikan senyum ke jelata yang tidak dipandang oleh society. Justru malah saya menjauh dari orang-orang yang mapan karena khawatir mereka akan menganggap saya menghargai mereka karena kemapanannya.

Ini membuat saya cenderung anti-mainstream. Ketika dahulu orang belum memotret diri – selfie, saya sudah melakukannya. Justru karena sekarang banyak yang selfie, saya malah tidak suka lagi. Pokoknya yang menjadi mainstream, biasanya saya jadi kurang suka. he he he.

Berbeda itu ada untung dan ruginya. Untungnya adalah mudah teridentifikasi karena beda sendiri. Stand out in the crowd. Ruginya atau buruknya adalah mudah teridentifikasi juga. Padahal seringkali saya tidak ingin terlihat. Lebih enak tersembunyi karena bisa suka-suka sendiri. Ya, harus menerima perbedaa ini. Jiyah …

Tulisan ini juga merupakan salah satu contoh ke-anti-mainstream-an saya. Ketika orang masih berbicara tentang tahun baru – maklum, sekarang kan tanggal 1 Januari – saya malah menuliskan hal ini.

Long live anti-mainstream!


Hari-hari Biasa

Mendekati akhir tahun banyak orang yang mulai bersemangat. Maksudnya semangat untuk buat acara ini dan itu. Saya? Biasa-biasa saja. Tidak ada rencana untuk acara. Seperti yang sudah-sudah, perubahan tahunpun dilewati dengan tidur. hi hi hi.

Mungkin saya termasuk orang yang biasa-biasa saja terhadap perubahan hari. Tidak perlu ada perayaan ini dan itu.

Setiap hari adalah hari biasa yang pantas kita syukuri.

Let’s celebrate, everyday. Lah? hi hi hi


Mengapa Seperti Ini?

Apa yang salah dalam foto ini?

IMG_0006 motor ngantri

Bingung saya. Sudah saya beri tempat yang lega untuk para motoris ini. Mengapa menunggu lampu lalu lintas menjadi hijau di depan garis yang sudah disediakan?

Harus ya?


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.619 pengikut lainnya