Tag Archives: Curhat

Jangan Ingin Terkenal

Banyak orang yang melakukan sesuatu – apa saja, sekolah, kerja, bahkan menulis di blog – karena ingin terkenal. Tadi saya menemukan gambar ini di internet.

12672161_10156635370855411_1312928337569313377_o

Wah. Pas banget.

Kita melakukan sesuatu bukan karena ingin mendapat pujian. (Dalam bahasa Sunda, “pupujieun“.) Kita melakukannya karena memang ingin melakukannya. Seperti ilustrasi gambar di atas, kita ingin mendaki puncak gunung karena ingin meliha dunia. Bukan karena ingin dilihat oleh orang lain.

Itulah sebabnya saya sering menasihati anak-anak muda yang baru menjadi terkenal (mungkin karena karyanya atau presentasinya) untuk jangan sering-sering muncul di media. hi hi hi. Itu bakal menjadi distraction. Pengalih fokus kita. Akhirnya malah jadi sibuk dengan pencitraan.

Oh ya, banyak orang yang mengira saya menulis blog ini agar jadi terkenal. Salah. Sombongnya sih … saya sudah terkenal dulu, baru nulis blog. Ha ha ha. Anywaaayyy … Mari kita kembali ke topik.


Memotret Itu Gampang, Tapi

Dulunya memotret itu susah. Eh, sebetulnya tidak susah karena tinggal tekan tombol di kamera saja. Maksudnya susah itu karena pakai mikir dulu. Kalau dulu apa lagi, mikirnya harus lebih banyak karena harga film (klise) itu mahal. Sekali cekrek, film kepakai dan nanti kalau habis harus beli lagi. Belum lagi nanti ada biaya cetaknya. Sebelum menekan tombol potret itu harus berpikir panjang.

Sekarang, memotret itu gampang. Bahkan hampir semua handphone dilengkapi dengan kamera. Sekarang hasil potret disimpan dalam memori yang mudah untuk dihapus. Kalau ada hasil jepretan yang tidak disukai, tinggal hapus (delete). Selesai. Tempatnya kosong lagi dan dapat digantikan oleh foto yang lain. Harga memori juga semakin murah sehingga jumlah foto yang kita ambil juga lebih banyak.

Jadi semestinya tidak ada masalah dalam hal potret memotret lagi bukan? Eh, ternyata masih ada. Sekarang saya menghadapi masalah itu, yaitu … kebanyakan foto. Karena saking mudahnya untuk memotret, enteng saja kita jepret sana jepret sini. Hasilnya banyak sekali foto di dalam kamera atau handphone kita. Problem saya adalah memroses dan menyimpan foto-foto tersebut. Saya harus memilah-milah foto mana yang layak untuk disimpan dan mana yang tinggal hapus. Pada kenyataannya hampir semua saya simpan. Yang jelek sekalipun. Masalahnya adalah disk tempat penyimpanan foto menjadi cepat habis.

Foto-foto itu juga sekarang saya proses. Biasanya saya crop untuk membuatnya lebih bercerita. Bagian-bagian yang tidak perlu (noise) dihilangkan dari foto tersebut. Selain itu juga kontras warna, vignette, dan seterusnya dilakukan (ditambahkan) pada foto-foto tersebut. Yang ini membutuhkan (banyak) waktu. Justru ini masalah saya. Hadoh.


Sisi Positif Berita Positif (dahulu: sisi negatif berita negatif)

Kebanyakan orang – entah sengaja atau tidak sengaja – senang mengumbar berita negatif. Begitu ada berita negatif, langsung dibagi (share) di media sosialnya. Akibatnya, isi dunia media sosial adalah berita-berita negatif yang kemudian mengundang debat dan marah-marah. Negatif juga hasilnya.

Pertanyaan saya adalah “apa manfaatnya mengumbar berita negatif tersebut”?

Apakah dengan mengumbar berita negatif tersebut kemudian mengubah keadaan menjadi lebih baik (positif)? Apakah kemudian orang-orang menjadi lebih baik? Apakah kemudian orang menjadi lebih bahagia? Bukankah orang kemudian menjadi ikut kesal, naik pitam, tekanan darah naik? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Sudahi berbagi berita negatif. Lebih baik berbagi berita positif saja. Oleh sebab itu, misi dari tulisan-tulisan di blog ini adalah menyebar berita positif. + + + Mari kita buat dan sebar tulisan yang membuat orang-orang tersenyum, tertawa, dan bahagia.

Eh, tapi tulisan ini termasuk yang positif atau negatif ya? hi hi hi. Positif lah. Maunya sih begitu. Habis nulis ini saya jadi semangat untuk makan dan buat kopi. ha ha ha. (Harus ya ada kata-kata “kopi” nya. wk wk wk.)


Banjir Pesan (di WA)

Ini masih melanjutkan tentang topik bahwa program chat seperti WhatsApp (WA) itu tidak cocok untuk orang seperti saya, yang kebanyakan kontak dan pesan. Begini.

Beberapa hari yang lalu saya ada yang mau ketemu dengan saya untuk berkordinasi. Saya bilang, ok akan saya berikan waktunya besok. Ini diskusinya via WA. Nah, besoknya saya cari pesan itu dan tidak ketemu. Maklum sudah ada puluhan group dan orang yang berikirm pesan (dan lebih dari 500 pesan yang belum terbaca). Chat kemarin itu tidak ketemu. Saya tidak bisa membalas pesan yang bersangkutan. Kalau yang bersangkutan hanya menunggu dan tidak kontak lagi (mungkin karena takut bikin sibuk, sungkan, atau apa saja alasannya) maka tidak akan ada balasan dari saya. Mungkin yang bersangkutan akan merasa bahwa saya tidak punya waktu untuk menjawabnya (dan dugaan-dugaan lainnya). Padahal alasannya adalah saya tidak dapat menemukan pesan yang bersangkutan.

Sistem email yang dibaca di komputer lebih bagus untuk hal ini karena dapat dilakukan proses tagging, pengurutan dan pencarian. Hanya saja sekarang orang mulai mengandalkan ke aplikasi pesan dibandingkan dengan email.

Oh ya, bagi yang bersangkutan (kalau membaca pesan ini), tolong kirim pesan lagi via WA agar pesan Anda muncul di urutan paling atas dan terbaca oleh saya.


Mau Diapakan Majalah Ini?

Pertama, saya harus mengaku dulu. Saya tukang mengumpulkan majalah dan buku. Ada banyak majalah yang tidak dapat saya buang. Kalau buku mungkin mudah untuk menerima agar dia tetap disimpan. Nah kalau majalah? Sebagian besar orang akan membuang majalah. Saya menyimpannya. Untungnya majalah yang saya baca adalah majalah teknis, seperti IEEE Spectrum, IEEE Computer, dan seterusnya.

Ini adalah foto yang saya ambil beberapa menit yang lalu.

P_20160724_125325-01

Ini adalah tumpukan majalah IEEE Spectrum yang berada di lantai. Tadinya dia berada di atas meja kerja, tetapi saya turunkan karena mejanya mau dibersihkan dahulu. Masih ada banyak tumpukan lagi yang sejenis. Banyak sekali. (Tidak saya foto karena mengerikan. hi hi hi.)

Saya tahu bahwa majalah-majalah ini – misal yang IEEE itu – ada versi digitalnya, tetapi saya masih suka memegang versi fisiknya. Tampilannya lebih indah dan saya dapat membuka halaman-halaman dengan mudah. Kalau nanti bentuknya digital, saya khawatir akan susah menemukan mereka kembali. (Ya saya tahu ada fitur search dan sejenisnya, tetapi mereka tidak efektif kalau saya mencari tulisan di majalan dalam bentuk fisik ini.) Suatu saat saya akan pindah ke versi digital. Mungkin. Untuk sementara ini saya masih suka versi fisik.

Masalahnya adalah dimana saya dapat menyimpan mereka? Lemari buku saya sudah penuh dengan buku-buku. Bahkan buku-buku juga berterbaran di segala penjuru rumah. Sering saya heran kalau bertamu ke rumah orang dan melihat tidak ada buku di rumah mereka. Mungkin buku-bukunya sedang bersembunyi di ruang perpustakaan mereka?

Kembali ke masalah “menyampah” majalah ini. Jadi majalah-majalah ini harus saya apakan?

Tolong!


Pak Budi, ya?

Sebelum futsal kemarin sore, saya mau shalat dulu di mushola lapangan futsal YPKP. Ternyata kucuran airnya kecil. Jadi saya putuskan untuk shalat di masjid YPKP saja yang jaraknya tidak jauh dari situ. Sekalian, di sana ada Pokemon. ha ha ha.

Setelah shalat, saya duduk sebentar. Ah mau nangkap Pokemon dulu ah. hi hi hi. Tapi kok ada yang ngelihatin dari tadi. Wah, jangan-jangan dia mau menertawakan saya karena saya mainan Pokemon Go. hi hi hi.

Setelah mau beranjak ke luar masjid, ternyata dia mendatangi saya dan menegur.

“Pak Budi, ya?”

Ya ampun. Oh, ternyata dia berkata bahwa dia mengenali saya dari halaman blog ini. Kirain mau nanya kenapa saya mainan Pokemon Go. hi hi hi. Ngobrol sebentar sebelum saya kembali ke lapangan futsal. “Masih ngeblog tiap hari pak?” Wah, sekarang agak susah tiap hari. Niatnya sih masih ada, tapi kenyataannya kadang-kadang terpaksa molor.

Sudah beberapa kali kejadian mirip seperti ini. Pernah suatu saat (kalau tidak salah somewhere di Pondok Indah), saya kelaparan dan mencari warung di pinggir jalan. Makanlah saya di warung itu. Setelah selesai makan, ada yang menegur … “Pak Budi, ya?”. Ha ha ha. Hadoh.

Yang repot untuk situasi seperti ini adalah, dia mengenali saya dan saya tidak mengenali dia. Saya berada pada posisi yang susah dan membuat saya menjadi kikuk. Maklum, nanti disangka sok lah. Saya juga sulit menghafal nama. hi hi hi. Jadi kalau saya berada pada situasi seperti itu, mohon dimaafkan ya.


Ke(Tidak)harusan Merespon Chat

Sekarang banyak orang yang terjebak dalam keharusan merespon pesan-pesan yang muncul di aplikasi chat (seperti WhatsApp / WA, Telegram, dan sejenisnya). Setiap ada pesan yang muncul di program chat tersebut, maka dia merasa harus merespon dengan segera. Kalau tidak merespon, maka dia merasa tidak enak dengan orang yang mengirimkan pesan tersebut. Akibatnya, orang yang banyak memiliki group di WA atau Telegram akan disibukkan dengan merespon pesan-pesan tersebut sehingga dia terlalu fokus kepada handphonenya. Tidak memperdulikan sekelilingnya di dunia nyata.

Aplikasi chat sebetulnya didesain untuk komunikasi asinkron. Maksudnya, pihak-pihak yang berkomunikasi TIDAK HARUS online pada saat yang sama. Ini berbeda dengan telepon, yang mana kedua belah pihak yang bertelepon harus ada pada saat yang sama. Yang ini disebut sinkron. Artinya, pengguna aplikasi chat tersebut tidak harus merespon dengan segera karena sesungguhnya dia asinkron.

Kalau dahulu sebelum ada aplikasi WA/Telegram itu kita sebenarnya sudah mempunyai SMS yang juga sifatnya asinkron. Tetapi karena SMS itu berbayar, maka pihak-pihak yang berkomunikasi sadar bahwa respon tidak harus segera dan harus dipikirkan dulu. Bayar soalnya. Respon harus singkat dan kalau bisa tidak banyak-banyak. Mahal. Sekarang aplikasi WA/Telegram dapat dianggap “gratis”, meskipun sesungguhnya kita bayar akses internetnya. Gratis ini karena dilihat bayarnya bukan dari jumlah pesan yang kita kirim atau terima. Akibatnya “tuntutan” menjawab segera dan banyak itu terasa ada. Kenapa kamu tidak membalas segera? Kan gratis.

Usul saya, kita harus menggunakan aplikasi WA/Telegram itu secara wajar saja. Jika perlu direspon segera, ya segera. Tetapi kebanyakan pesan di WA/Telegram – terutama di group-group yang tidak terlalu penting, yang hanya ngobrol ngalor ngidul – tidak perlu harus direspon segera. Tahan diri untuk berkomentar. Seperti di dunia nyata, Anda juga tidak perlu harus berkomentar (dan cerewet) untuk semua hal. Yang wajar-wajar saja. Secukupnya saja.

Berikan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dunia nyata.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.884 pengikut lainnya