Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.

Iklan

Perjalanan Sejarah Musik Saya

Sebagai kelanjutan dari video sebelumnya – “Siapa Pahlawan Musik Indonesia Pilihanmu” – kali ini kami membuat video tentang perkenalan kami dengan musik. Kami di sini maksudnya adalah personil dari Insan Music Project Band.

Video kali ini adalah tentang latar belakang musik saya. Kapan saya mengenal musik pertama kali? Seingat saya adalah sejak kecil (SD). Pada waktu itu ada banyak saudara yang tinggal di rumah kami. Seperti keluarga-keluarga Indonesia lainnya, orang tua saya menerima keponakan dan saudara-saudara yang ingin sekolah di Bandung. Sejak kecil ada sepupu, om, dan saudara lainnya yang tinggal. Salah satunya sekolah di Seni Rupa ITB. Pada masa itu, mahasiswa menggemari musik yang aneh-aneh. Dalam hal ini  musik Progressive Rock sering diputar. Jadi sejak kecil saya sudah sering mendengar musik dari group Yes, Genesis, Gong, Pink Floyd, dan seterusnya.

Eh, kok malah bercerita di sini. Silahkan simak videonya saja ya. Ini sejarah perjalanan musik saya, yang panjangnya mungkin sama dengan sejarah perjuangan Indonesia sejak jaman Majapahit. ha ha ha.

Dan tentu saja, sebagaimana YouTuber lainnya, kalau suka mohon ikutan berlangganan (subscribe). Ha ha ha. Saya sedang mencoba menguji teori saya, tentang akuisisi pelanggan yang mana saya menargetkan untuk mendapatkan 1000 pelanggan (subscribers) di YouTube. Nampaknya ini akan menjadi cerita tersendiri.

Mengundang Saya Menjadi Pembicara

Ada banyak undangan yang meminta saya menjadi pembicara atau nara sumber di berbagai acara. (Hari ini saja saya menerima 5 permohonan sebagai pembicara.) Seringkali ini saya tolak. Ada banyak alasan. Saya akan coba urai satu persatu.

Sibuk. Super sibuk. Banyak orang yang mengenal saya dalam satu dimensi saja (dosen saja, information security expert saja, hardware / IoT expert, musician, futsal player, dan seterusnya). Padahal saya adalah orang yang multidimensi dengan kesibukan yang pol dan total commitment. Sebagai contoh, saya latihan futsal 3 sampai 4 kali seminggu. Manggung band sekitar sekali atau dua kali sebulan. Bimbingan mahasiswa saya resminya hanya belasan orang (karena dibatasi oleh kampus), meskipun realitasnya mendekati 30 orang! Itu yang dari kampus ITB saja. Belum lagi yang melakukan mentoring entrepreneurship (yang kadang hanya 1 orang, kadang 30 orang lagi).

Saya adalah orang yang serius dalam pekerjaan. Sebagai contoh, sebagai dosen, jadwal mengajar saya hampir penuh. Kemungkinan saya hanya satu kali tidak hadir. Sementara itu saya melihat banyak dosen yang seringkali menjadi pembicara di sana sini. Lantas kapan ngajarnya? Atau yang ngajar adalah asistennya.

Adalagi waktu-waktu tertentu yang mana saya harus menyediakan waktu

Alasan yang kedua adalah waktu yang tidak seimbang antara waktu yang digunakan untuk memberikan presentasi dan waktu untuk perjalanan. Sebagai contoh, kalau saya memberikan presentasi di Jakarta maka waktu presentasinya adalah 30 menit (atau maksimal 1 jam) sementara perjalanan ke Jakarta paling cepat dengan kereta api adalah 3,5 jam (bolak balik 7 jam). Itu juga belum waktu perjalanan dari rumah ke stasiun, menunggu di stasiun, dan seterusnya. Walhasil, untuk presentasi 30 menit di Jakarta saya kehilangan waktu 1 hari. Belum lagi kalau harus berangkat pagi sekali (sebelum Subuh) dan pulang malam hari sekali, maka hari besoknya saya sudah capek sehingga hari berikutnya juga tidak produktif. Dua hari hilang hanya untuk 30 menit presentasi.

Contoh di atas adalah untuk presentasi di Jakarta. Bagaimana presentasi di luar kota lainnya? Biasanya ada 1 hari perjalanan menuju kota yang bersangkutan, 1 hari habis untuk presentasi, dan sering kali harus menginap lagi maka tambah 1 hari lagi. Total waktu yang dihabiskan adalah 3 hari. Itu pergi tanpa jalan-jalan. Padahal menariknya travelling adalah jalan-jalannya. Dengan kata lain, kalau dihitung waktunya maka dia menjadi tidak efektif.

Lantas kalau saya memenuhi undangan menjadi pembicara itu, kapan saya mengajar? Kapan saya belajar? Kapan saya membuat materi presentasinya? Kapan saya mengerjakan hal=hal lainnya?

Jadi itulah sebabnya saya banyak menolak untuk menjadi pembicara atau nara sumber. Jadi kalau permohonan Anda saya tolak, Anda tahu alasannya.

Kegagalan Alat Fingerprint

Salah satu penerapan teknologi informasi yang mulai banyak digunakan adalah alat pemindai sidik jari (fingerprint scanner). Alat ini digunakan untuk mengidentifikasi seseorang berdasarkan sidik jarinya. Pemakaian yang terbanyak adalah untuk menunjukkan kehadiran – istilah sehari-harinya absensi.

Penerapan teknologi ini harus hati-hati sehingga bukan malah membuat masalah. Sebagai contoh, saya sering kesulitan untuk mengidentifikasi diri dengan alat ini. Di kampus saya, alat ini digunakan sebagai tanda kehadiran. Nah, sering saya tidak dapat dikenali oleh alat ini.

Ini contoh video yang saya ambil ketika saya mencoba mencatatkan kehadiran.

Setelah berulangkali gagal, saya menyerah. Hasilnya memang saya dianggap tidak hadir pada hari itu. Terserah lah … Kumadinya welah, kata orang Sunda. he he he.

Hari Blog(ger) Nasional

Katanya hari ini adalah Hari Blogger Nasional ya? Saya kok tidak tahu ya? Jangan-jangan saya bukan blogger. ha ha ha. Seingat saya, waktu pertama kali dicanangkan ada acaranya segala. Saya juga diundang, tetapi karena satu dan lain hal saya tidak dapat hadir. Jadinya saya tidak ingat itu kapan dan ada apa.

Tukang ngeblog yang mulai menulis jaman saya memulai ngeblog juga nampaknya sudah habis. Tumbang semua. Saya sendiri masih ngeblog meskipun intensitasnya tidak sehebat dahulu. Biasa, alasan klasik yaitu kurang waktu.

Anyway, selamat hari blogger nasional bagi yang merayakannya. (Memangnya ada?)

Adab-beradab

Adab (Arabic: أدب‎) in the context of behavior, refers to prescribed Islamic etiquette: “refinement, good manners, morals, decorum, decency, humaneness”.

Apa itu adab? Kutipan di atas merupakan definisi yang dapat kita baca dari Wikipedia. Singkatnya adalah keluakuan baik.

Sayang sekali adab ini kok terlihat menurun ya? Banyak yang dapat dikatakan tidak beradab. Mungkin karena tidak pernah diajarkan dan diharapkan orang dapat beradab dengan sendirinya? Nampaknya ini tidak terjadi. Apa perlu diajarkan kembali di sekolahan? Mungkin, tetapi dengan sudah terlalu banyaknya yang harus dipelajari di sekolahan maka pelajaran adab ini sebaiknya dilakukan oleh keluarga dan masyarakat.

Ambil contoh. Semisal kita benar dalam satu hal, maka akan “kurang beradab” kalau kita memamerkan kebenaran kita itu di depan muka orang yang salah. “Saya benar kan? Kamu salah! Weee” (sambil menjulurkan lidah). Yang seperti ini menurut saya tidak beradab.

Saya sering melihat orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi menurut saya mereka lebih berpendidikan (educated) daripada mereka yang sekolahan. Banyak yang punya gelar tapi tidak berpendidikan (uneducated). Nampaknya definisi berpendidikan juga harus kita lihat ulang. Bukan dari gelar, tetapi dari tingkah lakunya.

Setuju?