Metaverse: gak usah ikut-ikutan

Sedang ramai orang membahas tentang Metaverse. Itu lho, gara-gara mas Mark Zuckerberg yang punya Facebook bercerita tentang Metaverse. Maklum, perusahaan holdingnya – yang membawahi Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lain-lain – namanya Meta. Ya sudah, ditambahkan “verse” saja. Jadinya Metaverse.

Tentang apa itu Metaverse tidak usah saya ulas panjang lebar di sini karena sudah ada tempat-tempat lain yang membahasnya. (Eh, tapi untuk kelengkapan – for the sake of completeness – seharusnya ini dibahas sedikit di sini ya?) Singkatnya ini adalah dunia virtual 3-dimensi tempat kita “berkehidupan”.

Bagaimana pendapat saya tentang Metaverse? Ya biasa-biasa saja. Sama seperti teknologi keren lainnya yang belum matang. Nama kerennya adalah “emerging technologies”, yaitu teknologi-teknologi yang baru “muncul” (atau baru tenar). Hal semacam ini dapat muncul dan kemudian membuat perubahan yang dahsyat, atau muncul, rame, dan kemudian tenggelam lagi. Macam kepopuleran batu akik lah. Atau kalau mau lebih dekat, ya semacam kepopuleran (nge)blog.

Dahulu blog juga digadang-gadang akan menenggelamkan koran. Citizen journalism akan mengalahkan conventional journalism. Buktinya blog-blog pada mati dan koran-koran masih terbit (meskipun juga tegopoh-gopoh bukan karena blog). Bahkan di Indonesia ada “Hari Blog Nasional“. (Kapan itu?) Wuih. Namun sama seperti batu akik, yang ngeblog sekarang dapat dihitung dengan jari tangan (eh, mungkin tambah kaki?). Saya tidak tahu lagi siapa yang masih ngeblog. Sayapun mulai tergopoh-gopoh dalam ngeblog karena ternyata sekarang lebih mudah membuat cerita di YouTube. Maklum, di YouTube saya model shoot-and-go seperti ngeblog ini. Tidak pakai edit-editan. Jadinya cepat. Kalau pakai edit-editan, saya yakin ngeblog lebih cepat dan lebih mudah prosesnya.

Kembali ke topik Metaverse. Kenapa menurut saya sebaiknya kita cermati dahulu? Ada banyak hal. Teknologinya juga masih belum matang. Pernah pakai head mounted display untuk melihat sebuah aplikasi kota Bandung. Yang ada adalah mual karena melayang-layang. Mau muntah. Kualitas grafik yang ada juga masih sangat rendah. Bayangkan ini seperti jaman orang membuat homepage di Geocities. Masih ada yang ingat? Tidak. Nah seperti itulah kondisinya. Bakalan terlupakan dengan teknologi yang lebih baru lagi.

Kalau homepage dan Geocities masih terlalu jauh, yang dekat sajalah. Ada yang masih pakai aplikasi Clubhouse yang sempat gempar itu? Saya sampai sekarang belum pernah pakai. Sudah lama saya tidak pakai iPhone. Atau bergeser tahunnya sedikit lagi, ada yang masih pakai Blackberry dan aplikasi BBM-nya? Waduh.

Bukan berarti saya antipati terhadap Metaverse lho. Saya hanya ingin mengatakan tidak perlu lebay. Santai saja. Tidak perlu heboh. Begitu?

Oh ya, cerita yang mirip juga saya sampaikan di channel YouTube saya. Ini videonya.

Bingung dengan statistik facebook

Baru saja saya cek facebakers.com lagi untuk mencari data statistik pengguna facebook di dunia. Kalau melihat data statistik sebelumnya, seharusnya Indonesia sudah melebihi Inggris dari jumlah penggunanya tetapi kok masih ngaco datanya. Coba lihat halaman ini:

http://www.facebakers.com/countries-with-facebook/

Ada yang tidak konsisten di sana. Di tengah-tengah disebutkan bahwa Indonesia berada di urutan ketiga, tetapi di bagian kanan disebutkan bahwa Indonesia berada di urutan kedua. Gimana sih?

Kemudian kalau melihat statistiknya, seharusnya sekarang pengguna di Indonesia sudah menambah 1 juta orang (karena laju penambahannya banyak, sekitar 700 ribu account setiap minggu) tetapi kok sampai sekarang sama saja. Apakah statistik mereka tidak real-time? Apa ada statistik lain lagi yang lebih bagus?

privasi, anonim, pengecut

Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang mengadu kepada saya bahwa teman dari teman dari temannya (rekursif? :)) diteror oleh seseorang di facebook. Nah, bagaimana mencari tahu siapa yang menteror ini?

Mencoba menghubungi penyedia layanan tidak berhasil karena ada alasan privasi. Kapan privasi perlu dilindungi dan kapan tidak?

Ada kalanya dibutuhkan layanan anonim pada kondisi tertentu. Sebagai contoh ketika sebuah negara dikuasai oleh seorang diktator yang kejam, maka mekanisme umpan balik yang anonim sangat dibutuhkan. Demikian pula kadang untuk memperbaiki kinerja dari sebuah organisasi dibutuhkan umpan balik, yang sayangnya harus dilakukan secara anonim untuk menjamin keselamatan yang memberikan masukan tersebut.

Sayangan mekanisme ini juga menimbulkan pengecut yang berkedok di balik itu semua. Menyedihkan bukan?

Nah, salah satu tugas kuliah saya minggu lalu (dan minggu ini adalah)

Diberikan sebuah “identitas seseorang” di facebook, bagaimana mencari tahu siapa sebetulnya orang itu? Atau setidaknya, apa yang bisa ketahui dari orang tersebut? Berikan ide-ide Anda.

Dalam kasus yang terpisah, ada kawan juga yang mengadukan kepada saya tentang surat kaleng yang datang dari account gmail. Dia juga ingin mengetahui siapa yang menyebarkan surat kaleng tersebut. Nah, bagaimana ide untuk mencari tahu orang ini karena setahu saya header email dari gmail sudah direkayasa oleh gmail sehingga menghilangkan informasi mengenai pengguna.

Melindungi Diri di Facebook

Bertahun-tahun saya mencoba mengajarkan kepada mahasiswa saya tentang pentingnya menjaga data pribadi kita. Sayangnya privacy tidak terlalu dikenal di Indonesia. Sampai sekarang saya masih berjuang dan nampaknya masih perlu waktu yang lebih lama.

Minggu lalu saya melakukan polling di kelas saya. Saya tanya, siapa yang memasukkan data tanggal lahir yang benar dan menampilkannya di profil facebook. Ternyata hampir semua! Hadoh. Bagi saya, data mengenai tanggal lahir merupakan sesuatu yang sepantasnya dirahasiakan. Tidak perlu semua orang mengetahui tanggal lahir kita. Hanya orang yang sangat dekat dengan kita saja yang boleh mengetahuinya.

Mengapa tanggal lahir perlu dirahasiakan? Karena ada banyak aplikasi yang menggunakan tanggal lahir sebagai bagian dari password atau PIN. Sebagai contoh, ada banyak orang yang menggunakan kombinasi tanggal , bulan, atau tahun kelahiran sebagai bagian dari PIN untuk layanan bank atau password. Itu sebabnya tanggal lahir jangan ditampilkan sembarangan.

Jadi … apakah Anda menampilkan tanggal lahir anda di profil facebook Anda? Jika ya, hapuskan atau sembunyikan sekarang juga. Atau … kalau mau bandel dikit, ngibul aja. he he he.

Tips perlindungan diri di internet yang lainnya menyusul …

Perlunya IT Research Center di Indonesia

Katanya (perlu tautan referensi) Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah pengguna facebook di dunia, setelah Amerika Serikat dan Inggris. Ini luar biasa. Entah kita perlu bangga atau tidak 🙂 Yang pasti, ini adalah sebuah fakta yang mungkin tidak bisa diduga sebelumnya.

Gara-gara facebook, penjualan BlackBerry juga meningkat luar biasa. Bisa dibilang, facebook merupakan killer application dari BlackBerry. RIM, perusahaan pembuat BlackBerry, tentunya sangat kaget dan senang dengan banyaknya penjualan di Indonesia.

Nah, siapa yang bisa memprediksi hal ini? Apakah perusahaan IT besar tidak ingin meraup keuntungan di Indonesia? Mengapa facebook? Mengapa bukan myspace? Mengapa BlackBerry bukan iPhone?

Salah satu alasannya menurut saya adalah adanya pengaruh kultur orang Indonesia. Kita cenderung suka ngobrol dan kumpul-kumpul. Facebook memungkinkan hal tersebut. Kita jadi terhubung dengan orang-orang di masa lalu kita. Hasilnya adalah reunian. Coba saja hitung reunian yang terjadi gara-gara facebook.

Bagaimana perusahaan di luar negeri mengerti hal ini? Sulit menurut saya. Itulah sebabnya perusahaan seperti Microsoft, Google, Yahoo, Nokia, IBM, Oracle, dan seterusnya harus membuat research center-nya di Indonesia untuk mengenali market Indonesia. Tidak ada jalan lain!

[Catatan: Ini yang selalu saya lemparkan kepada para petinggi di perusahaan besar tersebut. Sayangnya mereka belum paham. Ini adalah salah satu upaya BHTV – bandung high-tech valley.]

Oh ya, versi bahasa Inggris dari opini ini ada di URL di bawah ini. Silahkan komentar di sana juga kalau mau komentar dalam Bahasa Inggris. Sok lah:
http://gbt.blogspot.com/2010/01/facebook-in-indonesia-need-for-it.html

Banjir Email dari Facebook

Sudah beberapa hari ini saya tidak punya akses ke internet. Begitu sekarang dibuka … oalaaahh isinya email-email dari facebook.Ada apa gerangan?

Ternyata banyak orang yang men-tag saya di foto kartu lebaran atau ucapan selamat lebaran. Jika ada orang yang memberikan komentar terhadap foto atau gambar tersebut, saya dapat email. Jadi mailbox saya penuh dengan email facebook. Saya hapus-hapus dulu ya … Nanti cerita soal lebaran menyusul.

Update status: seberapa pentingkah?

Salah satu hal yang membuat facebook terkenal adalah adanya “status” dari pengguna. Sebetulnya fitur ini merupakan colongan dari microblogging (seperti twitter dan kronologger). Sekarang semua layanan jaringan sosial memiliki fitur status ini.

Sebetulnya, seberapa pentingkah fitur status ini bagi pengguna? Apakah ini memang benar-benar merupakan daya tarik?

Mungkin Anda memiliki beberapa account jejaring sosial (facebook, twitter, multiply, dan seterusnya). Untuk mengubah statusnya Anda harus masuk ke situs itu satu persatu. Untungnya ada aplikasi seperti ping.fm yang bisa memperbaharui status di situs-situs tersebut secara serentak.

Nah, seberapa menariknya aplikasi seperti ping.fm ini bagi Anda?

Saya kok tidak tertarik ya? Saya lebih suka status di setiap situs itu beda-beda.

Facebook bikin firefox hang

Entah kenapa, sekarang sering sekali firefox saya (3.5 di Windows XP) ngehang kalau nge-tag di facebook. Ketika dia mencoba mengeluarkan daftar nama, dia hang aja. Memang jumlah friends saya banyak sih (di atas 3000 :)) tetapi mestinya kan bukan masalah.

Ada yang mengalami masalah yang sama?

[update: hasil pencarian di internet menunjukkan bahwa banyak yang mengalami masalah yang sama. ada yang terkait dengan adblock.]

1 MB bisa untuk apa?

Pada saat tulisan ini saya tulis, ada banyak iklan operator seluler yang mengatakan bahwa setiap harinya kita bisa mendapatkan 1 MBytes gratis. Hmm… menarik. Sebetulnya 1 MBytes itu sebesar apa sih?

Untuk mengetahui hal ini, saya menugaskan mahasiswa saya untuk menangkap sesi email mereka (gmail atau yahoo) dengan menggunakan Wireshark dan mencatat jumlah paket yang mereka gunakan. Ternyata hasilnya bervariasi. Ada yang menghabiskan 300 kBytes untuk satu sesi email (login, menampilkan daftar email yang ada di mailbox, dan mengirimkan sebuah email kecil). Ada yang lebih kecil dari itu dan ada yang lebih besar. Saya belum perhatikan lebih detail paket yang mereka tangkap.

Kesimpulan sementara, 1 MBytes / hari tidak cukup untuk email-emailan. Mungkin dia hanya cukup untuk chatting dengan menggunakan YM! saja? Saya belum cek dengan facebook. Kemungkinan juga facebook menggunakan bandwidth yang besar juga.

Ada yang mau coba tangkap satu sesi facebook Anda dan ukur berapa banyak paket yang lalu lalang?

Berikut ini beberapa link terkait.

Etika Ngeblog Bagi Profesional

Saya mendapat pertanyaan dari beberapa orang profesional, yaitu orang yang bekerja di perusahaan atau institusi yang bergengsi. (Definisi bergengsi kita abaikan dulu lah. Pokoknya mereka profesional.)

Adakah rambu-rambu atau etika bagi para profesional itu jika mereka nge-blog atau ikut di social network (seperti facebook)?

Masalahnya, meskipun mereka menuliskan opininya dalam kapasitas sebagai pribadi, akan tetapi nama institusi juga ikut terseret. Mereka ingin mengeluarkan opini sebagai pribadi, tetapi kadang ini sulit. Akibatnya mereka menjadi ragu-ragu. Demikian pula institusi tempat mereka bernaung juga kebingungan dalam menentukan kebijakan.

Apakah cukup jika mereka menuliskan (di bagian mana? kalau di email ada di bagian footer) bahwa opini yang mereka sampaikan bukan merupakan opini institusi atau perusahaan di mana mereka bekerja?

Ada saran, pengalaman, hints, pointers, komentar?