Tag Archives: food

(Masih) Memotret Makanan

Dari dulu, mungkin sejak mulai ngeblog, saya punya hobby memotret makanan. Bukan sebagai tukang potret professional, tetapi amatiran. Foto-fotonya kemudian saya upload ke internet. Mengapa memotret makanan? Karena mereka adalah obyek yang tidak bergerak sehingga mudah dipotret. Orang, misalnya, sulit dipotret karena bergerak. Selain itu makanan ada di mana-mana dan berbeda-beda. Memotret makanan adalah cara termudah belajar memotret bagi saya.

Kalau sekarang, memotret makanan dan memotret diri sendiri (selfie) sudah bukan hal yang aneh lagi. Bahkan sekarang nampaknya hal ini malah menjadi bahan tertawaan. Waaa. Ini bikin pusing saya.

Beberapa hari yang lalu, saya diundang dalam sebuah makan malam (dinner) yang agak formal. Jumlah orangnya hanya 9 orang sehingg kami hanya melingkar di satu meja saja. Ketika makanan disajikan, wah tampilannya sangat menarik. Saya jadi pusing. Mau motret kok gak enak. Gimana gitu. Mau tidak motret, kok sayang sekali. Satu makanan lewat. Makanan berikutnya datang lagi, menarik juga sajiannya. Waaa… Akhirnya saya bilang, saya minta ijin motret. Jangan ditertawakan ya? Mereka tertawa tapi memberikan ijin. hi hi hi. Akhirnya saya potret juga.

IMG_4110 dinner 1000

Foto-foto makanan yang lainnya saya simpan di tempat lain. Selamat menikmati … hi hi hi.


Mau?

Sudah lama tidak menampilkan foto-foto makanan :)

IMG_4048 spaghetti 1000

IMG_4045 gado2 1000

DSC_2608 popocorn 1000


Mau?

IMG_3663 ravioli 1000

Ravioli for lunch …


Mau?

Sudah lama tidak posting mau :)  Padahal saya sudah banyak memotret makanan. Hanya saja saya belum sempat memproses fotonya.

IMG_3585 red coffee 1000

IMG_3561 kopi tarik 1000

Kali ini memang temanya adalah kopi :)  Ya karena kebetulan saja yang terlihat di layar adalah foto-foto kopi, maka itulah yang saya pasang. Foto makanan yang lainnya menyusul. hi hi hi.


Kopi Hari Ini

Kopi pertama saya hari ini saya peroleh dari warung di belakang gedung tempat acara saya hari ini. Sebetulnya acara yang saya hadiri adalah halal bihalal. Entah mengapa di acara seperti ini – dan juga kondangan – biasanya jarang (tidak pernah) ditemukan kopi. Tadi juga. Di sana hanya ada air kemasan. Akhirnya saya putuskan untuk cari kopi di luar saja.

Gedung ini jauh dari coffee shop. Yang ada adalah warung di pinggir jalan. Untungnya kopi yang saya sukai adalah kopi Kapal Api special mix. hi hi hi. Maka jadilah saya nongkrong di warung pinggir jalan dengan segelas kopi panas.

Kopi kedua saya adalah dalam perjalanan ke Bandung. Seperti yang sudah-sudah, saya mampir ke Lawton Coffee di km 72 jalan tol Cipularang menuju Bandung. Sekalian di sana saya check-in ke  four square. Hasilnya adalah saya mengambil alih “mayor” Lawton Coffee di foursquare. Yayyy….

Kopi ketiga? Gak ah. Nanti takut gak bisa tidur.


Makan Ngaco

Sebetulnya saya sadar bahwa kebanyakan ngemil makanan yang “gak sehat” itu tidak bagus, tapi seringkali saya tidak dapat menahan diri. hi hi hi. Ada potato chips, kacang, atau cemilan yang lain di depan mata, pasti tangan nyamber. Saya sebetulnya sudah mulai bisa menahan diri terhadap gorengan, tapi yang lainnya itu masih belum bisa. (Ditambah juga dengan kopi.)

Percuma juga olah raga kalau pola makan masih gini ya? Eh, tidak percuma ding. Alhamdulillah masih olah raga sehingga efek negatif terhadap kesehatan bisa kita minimalkan.

Siapa yang punya masalah yang sama? he he he. Atau pertanyaannya diubah, siapa yang *TIDAK* punya masalah ini?


Kopi vs. Perut

Kemarin saya menghadapi sebuah dilema. Entah kenapa saya ngantuk luar biasa. Padahal ada makalah yang harus saya baca (review). Nampaknya saya butuh kopi untuk membuka mata, tapi saya khawatir perut iritasi. Akhirnya saya putuskan untuk minta dibuatkan kopi ke pak Parmis. Perlu untuk menghilangkan kantuk yang luar biasa.

IMG_1149 kopi 1000

Setelah satu cangkir. Masih ngantuk juga. Yaaah. Dan tentunya bacaan juga tidak berlanjut. Ini paper juga tidak kooperatif. Banyak yang harus dipikirkan dulu sebelum mengerti. Wah, apa mau nambah satu cangkir kopi lagi ya? Saya agak khawatir kalau kebanyakan kopi nantinya perut sakit. Ada sedikit maag. Saya putuskan tidak dulu. Masih belum produktif juga. Ah, pulang saja.

Sebelum pulang saya mampir dulu ke Kartika Sari untuk beli makanan. Hmm.. beli kopi juga ah. Nekad. Satu cangkir coffee latte masuk ke perut.

Sampai di rumah memang ngantuknya hilang tapi perut jadi sakit. Bahkan sampai malam perut menjadi super sakit. Akhirnya terpaksa nyari kunyit untuk menetralkan sakit perut ini. Lumayan juga. Hanya sayangnya makalah juga tidak dibaca. Yaaahhh …

Skor akhir, kopi (1) dan perut (0).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.298 pengikut lainnya.