Indonesia Darurat Humor

Baru-baru ini saya membaca “diskusi” (kalau bisa dibilang diskusi karena isinya hanya komentar-komentar baik yang pro dan kontra) di media sosial soal iklan dari Gosend. Gambar (foto) dari iklan Gosend ada di bawah ini.

Kemudian banyak orang yang marah-marah karena katanya ini merupakan penghinaan untuk harian KOMPAS. Komentar pro dan kontra pun bermunculan. Bagaimana pendapat Anda?

Kalau menurut saya – memangnya ada yang menanyakan opini saya? – parodi seperti di atas masih normal. Cukup lucu dan tidak menjelek-jelekkan harian Kompas. Bahkan kalau dibuat seperti ini artinya orang masih menganggap Kompas sebagai sebuah acuan. Masih relevan. Masih dominan. Kalau tidak, mungkin malah harian lain yang diambil. Artinya Kompas masih positif.

Kenapa sih kita ini sedikit-sedikit marah? Nampaknya “Indonesia Darurat Humor” itu memang benar adanya. Padahal dari dahulu orang Indonesia itu dikenal suka tertawa. Makanya model Cak Lontong itu kita sukai karena dia membuat kita tertawa. Membuat kita bahagia dan menjadi lebih sehat. Katanya tertawa itu bisa membuat kita sehat. Katanya lho. Jadi jangan sedikit-sedikit marah. Malah bikin kita sakit. Jangan buat kita menjadi kering humor.

Saya jadi ingat topik bahasan dari pelawak Amerika yang sedang tenar, Dave Chappelle. (Kebetulan saya juga penggemarnya.) Dia mengatakan bahwa semakin susah bagi pelawak untuk membuat lawakan. Sedikit-sedikit ada yang tersinggung. Padahal maksudnya melawak itu bukan mengejek tetapi mengajak orang untuk melihat dari sudat pandang yang lain. Isyu yang diangkat oleh Chappelle adalah masalah transgender (atau LGBT secara umum). Kenapa dia tidak boleh melawak soal itu? Kenapa orang jadi marah-marah. Sementara melawak soal kulit hitam tidak ada yang marah-marah. Padahal penjajahan yang dilakukan terhadap orang berkulihat hitam itu masih nyata. Nah.

Bagaimana komentar Anda?

Sidang MK (babak 2)

Judul tulisan ini memang tendensius, “Sidang MK” gitu lho. Lah kan suka-suka saya, mau saya kasih judul “Sidang MK” atau “Game Mortal Kombat” juga terserah saya kan? he he he. Tapi kan bapak pakai “babak 2”. Mana “babak 1”-nya pak? Lah, apa memang harus urut? Kata siapa? Saya mau mulai dari “babak 17” terus mundur juga ndak apa-apa kan? Yo wis pak. Karepmu. Pastilah. he he he.

Kembali ke topik. Sidang MK. Saya tidak mengikuti siaran Sidang MK di televisi. Kenapa tidak? Lah, kenapa harus? Sekarang saya tanya ke Anda, “apakah Anda mengikuti FIFA Women’s World Cup?”. Tidak juga kan? Kenapa? Karena bagi Anda itu tidak penting. Nah, sidang MK juga bagi saya tidak menarik karena sudah tahu hasilnya. Berikut ini adalah narasi tanya jawab kepada saya.

Penanya: Lho, bapak sudah tahu hasil sidang MK?
Saya: Ya sudahlah. Sama dengan saya sudah tahu hasil akhir “FIFA Women’s World Cup”
Kok bisa pa? Bapak ahli nujum ya?
Bukan. Saya hanya ahli logika.
Coba buktikan. Kalau bapak sudah tahu hasil “FIFA Women’s World Cup?”, nantinya hasilnya bagaimana?
Mau bukti? Nanti hasilnya adalah “Indonesia tidak juara di Women’s World Cup” itu. Silahkan nanti buktikan.
Oalah paaak. Kan Indonesia tidak ikutan.
Lah, kan saya tidak mempermasalahkan itu. Yang penting hasilnya saya sudah tahu kan?
[yang nanya mulai mangkel. kezel.]

Ok deh. Kalau begitu, bapak tahu hasil akhir MK?
Sudah tahu juga.
Apa? Atau, bagaimana?
Sebetulnya mau saya ceritakan, tapi nanti Anda malah tambah mangkel. Jadi tidak usah saya ceritakan.


[yang nanya langsung ngeloyor pergi tanpa pamit. menengok pun tidak. ketika sudah agak jauh, saya lihat jari tangannya menunjukkan sesuatu. saya yakin bukan jempol, tapi saya tidak tahu apa itu.]

Salah Doa

Sebaiknya sebelum memulai sebuah pekerjaan, berdoa dulu. Maka, sebelum berangkat kerja atau ke sekolah, berdoa dulu. Mari …

ALLOHUMMA BAARIK LANAA FIIMAA ROZAQTANAA …

weeiiittsss … tunggu bentar. Salah! Itu salah doa euy … he he he

Coffee Shop

Seorang pembeli masuk ke sebuah coffee shop.

Pembeli: mas, saya mau coffee latte satu
Penjual: maaf, mesin kopinya rusak
Pembeli: jadi adanya apa?
Penjual (setelah berpikir sejenak): … shop?
Pembeli (berpikir sejenak juga): … buntut?

Parodi Nazaruddin

Beberapa hari ini saya diburu wartawan untuk dimintai komentar tentang Nazaruddin. Tentu saja saya menghindar he he he. Hanya tadi pagi ada media yang mau mewawancara saya. Saya bilang ditunggu di lapangan sepak bola Arcamanik deh. Saya mau main di sana dan ternyata wartawannya datang. Saya kemudian diwawancara sambil difilm. Selama itu saya berpikir bagaimana kalau wawancara ini dibuat parodi. Misalnya …

Ketika saya diwawancara, ada yang mondar-mandiri di belakang saya. Berkacamata. Kok kelihatannya familier ya? Bolak balik lagi. Eh, ternyata … pakai wig. Hi hi hi. Ada Gayus.

Wawancara masih terus berlangsung. Serius. Tiba-tiba di belakang ada jingle dari produk roti tertentu. he he he. Terhenti sejenak. Pesan roti dulu kemudian dilanjutkan wawancara.

Ketika wawancara sedang berlangsung, ada salah satu orang yang datang ke saya sambil bawa handphone; “Maaf pak, ini ada telepon.” “Dari siapa?” … “Dari Udin”. he he he.

… dan seterusnya … banyak ide parodi tentang kasus ini ya? hi hi hi. Lumayan untuk mengasah ide kreatif.

Serius dikit. Saya kok berpendapat bahwa masalah Nazaruddin ini adalah masalah internal Partai Demokrat. Kenapa kita (rakyat) dibawa-bawa ya? Mohon diselesaikan sendiri. Masih banyak masalah bangsa yang membutuhkan perhatian kita.

beurgeur

Di dalam bahasa Sunda ada “eu” yang bikin seru. Ketahuan yang bisa bahasa Sunda dengan nggak kalau mengucap kata yang ada “eu”nya itu; seperti “peuyeum”, “beureum”, dan seterusnya. hi hi hi.

Sudah lama saya lihat iklan tempat makan(?) di pinggir jalan Tubagus Ismail, “beurgeur“. hi hi hi. Apa maksudnya burger dalam bahasa Sunda ya? he he he.

(My) Sense of humour

Saya masih terus ingin menjadi pembicara yang handal dan … lucu. he he he. Dalam teori presentasi, ada berbagai style yang bisa dianut. Saya termasuk yang menganut aliran melawak. ha ha ha.

Nah, ternyata style saya ini tidak mudah dikuasai karena ada banyak faktor yang terkait. Salah satu faktor yang “bermasalah” bagi saya adalah sense of humour saya mungkin agak berbeda dengan kebanyakan orang di Indonesia. Lucu atau tidaknya sebuah lawakan atau guyonan sangat bergantung dengan kultur yang ada. Sense of humour saya agak ke-barat-baratan (dalam artian North American-like). hik hik hik.

Saya ambil satu contoh. Lawakan di Indonesia biasanya adalah dalam bentuk kelompok (group) sementara di Amerika Utara lawakan biasanya muncul dalam bentuk stand up comedy – satu orang. Tentu saja ada lawakan yang kelompok juga seperti ditampilkan dalam komedi situasi, tetapi yang terkait dengan cerita saya adalah yang stand up comedy itu. Saya bisa tertawa terbahak-bahak melihat (mendengar) Eddy Izzard, David Letterman, atau stand comedian lainnya (sayangnya tidak banyak acara semacam ini di Indonesia), sementara saya lihat kawan-kawan saya di sini hanya terdiam.

Masalah ini kemudian terbawa ketika saya akan menggunakan (membuat) bodoran (jokes). Kadang cerita lawakan yang saya gunakan hanya membuat tertawa sebagian orang saja, karena lawakannya harus sedikit berpikir. Di tempat presentasi dan di kelas saya lihat ada beberapa orang yang mengerti lawakan saya. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya (sambil menahan suara tawa kalau di kelas, he he he), sementara yang lainnya bengong atau meringis. Akhir-akhir ini sayangnya saya melihat lebih banyak yang melongo. Artinya? Lawakan saya tidak dimengerti, atau memang tidak lucu.

Di Indonesia lawakan yang sering membuat orang tertawa adalah yang menyangkut hal-hal yang porno. Justru itu yang kurang saya sukai. Repot ya?

Ada lagi yang lebih susah, yaitu menceritakan bodoran di depan audience yang campur latar belakang kulturnya. Sering saya diminta untuk memberikan presentasi di seminar dalam Bahasa Inggris. Maklum, yang datang campur dari luar negeri dan dari Indonesia. Situasi ini yang paling berat sebab kalau saya buat lawakan yang dimengerti oleh kultur Indonesia, orang asingnya melongo. Demikian pula sebaliknya. Aduh… Susah mencari lawakan yang netral terhadap kultur. Ada sih, slapstick (seperti yang dilakukan oleh Charlie Chaplin), tapi saya tidak pandai itu.

Di Indonesia sebetulnya ada beberapa contoh sih. Dulu ada Johnny Gudel. Kemudian ada Gepeng. Meskipun mereka main dalam satu group, tetapi monolog mereka sering lucu.

Siapa namamu?
Joni guuuuuudel.

ada yang masih ingat kata-kata Gepeng

untung ada saya

Nah … saya masih berjuang belajar membanyol. Style saya menulispun maunya seperti itu (BR-style), tetapi ternyata susah untuk konsisten. Saya masih perlu belajar, belajar, dan belajar.

Tulisan ini bercerita tentang humor tapi kok jadi serius ya? hi hi hi. Humour is a serious business.

Kambing dan Embeeekkk

Seperti biasa, kalau ketemu di PAU, kami bersenda gurau. Kali ini pak Armein mengajukan tebakan (yang katanya dari anaknya):

Apa bedanya kambing dengan embek?

Untuk melihat jawabannya Anda harus menggunakan enkripsi sederhana rotate13 atau rot13 (silahkan pakai layanan situs rot13.comcopy-paste-kan jawaban di bawah ini ke situs itu, kemudian klik tombol cypher/decypher). Jawabannya adalah:

Xnynh xnzovat, ovfn cnattvy xnjnaaln: rzorrrxxx.
Xnynh rzorx, tnx ovfn cnattvy xnjnaaln. Zbfbx ovfn ovynat: zovat…

he he he …

Balada Jalan Sudirman

Pada suatu hari saya diminta untuk memberikan sebuah presentasi di Hotel Intecontinental Mid Plaza di Jakarta. Malamnya (setelah Maghrib) saya diminta untuk memberikan presentasi di Bogor (saya lupa tepatnya). Nah, saya disiapkan sebuah mobil yang akan mengantar jemput saya. Berikut ini adalah dialog telepon saya dengan sopir penjemput.

Sopir: Pak, nanti sore dijemput dimana?
Saya: Di Hotel Intecontinental
Sopir: Itu dimana pak?
Saya: Di jalan Sudirman
Sopir: Baik pak

Sore harinya, setelah selesai memberikan presentasi saya telepon sopir itu lagi.

Saya: Saya sudah selesai pak, sudah bisa dijemput
Sopir: Baik pak. Saya menuju ke sana

Beberapa saat berlalu. Ada telepon.

Sopir: Pak tempat hotelnya itu dimananya BNI?
Saya (sambil berpikir, hmm… BNI kan ada di dekat Landmark itu): Ini sejajaran BNI, tapi belum sampai BNI. Kalau sudah lewat BNI, berarti sudah kelewatan.
Sopir: Baik pak. Saya akan cari.

Waktu berlalu lagi … Saya sudah mulai tidak sabar. Saya telepon kembali.

Saya: Pak, sampai dimana?
Sopir: Nggak ketemu pak hotelnya. Sebelah mana ya pak?
Saya: Gini. Anda dari arah mana? Dari Semanggi atau dari HI?
Sopir: Semanggi??? … Bapak di Jakarta?
Saya: Iya. Memangnya Anda dimana?
Sopir: Saya di Bandung.
Saya: HAH??@!!! (untung saya gak semaput)

Maka batallah acara saya yang di Bogor. He he he. Ini kejadian betul.