Jokowi dan 2019

Sesekali saya menemukan tulisan atau pertanyaan tentang bagaimana kans Jokowi menjadi presiden kembali di tahun 2019. Jawabannya tentu saja bergantung kepada siapa yang ditanya. ha ha ha. Secara, Indonesia begitu lho. Menjawab tanpa data. Itu yang pertama. Yang kedua adalah, mengapa sih tahun 2019 diributkan? Ini saja baru masuk ke tahun 2018. Bukannya lebih baik memikirkan tahun 2018? Tapi baiklah. Saya akan coba membuat opini saya. Tentu saja opini ini datang dari pengamat yang bukan bergerak di bidang ilmu Politik. Take it with a grain of salt.

Kalau saya ditanya tentang peluang Jokowi terpilih kembali pada tahun 2019 dengan kondisi saat ini, maka jawaban saya adalah bakal gagal. (Sebelum saya dituduh ini dan itu, saya sampaikan dahulu bahwa saya termasuk yang mendukung Jokowi menjadi presiden. Nah.) Lho?

Mengapa kok tidak bisa terpilih kembali? Bukankah sekarang ada kemajuan di banyak hal, khususnya di bidang infrastruktur? Jawaban saya adalah justru itu masalahnya! Maksudnya bagaimana sih?

Begini, infrastruktur di banyak tempat di Indonesia ini – khususnya di luar pulau Jawa – banyak yang terabaikan. Sekarang ada banyak pembangunan di sana sini sehingga luar pulau Jawa tidak lagi “dianaktirikan”. (To Do: data dan statistik tentang berbagai pembangunan tersebut perlu ditautkan di sini.) Permasalahannya adalah pembangunan ini membutuhkan dana yang luar biasa. Pasti menyedot banyak kas negara. Akibatnya semua warga negara harus memikul biaya ini.

Masalahnya adalah tidak semua orang Indonesia – khususnya yang berada di pulau Jawa – mau berbagi dengan penduduk di luar pulau Jawa. Mereka akan memikirkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, ada perbandingan tentang harga bensin sekarang dan beberapa tahun yang lalu. Jika kita melihat harga di pulau Jawa, maka bisa dilihat bahwa harga naik. Tetapi kalau dilihat harga di Papua, misalnya, akan terlihat turun. Bagi orang yang berada di pulau Jawa – yang vokal dan jumlahnya banyak – peduli amat dengan Papua. Harga apa lagi yang dapat diperbandingkan ya? [Ada beberapa meme yang sudah beredar. Seperti misalnya “penak jamanku toh?”]

Penduduk Indonesia masih terfokus di pulau Jawa. Pemilupun akan didominasi dari suara di pulau Jawa. Dimana-mana juga, tempat yang populasinya padatlah yang menentukan hasil pemilihan suara. Itulah sebabnya jika masalah persepsi ini tidak ditangani, maka kans Jokowi di 2019 akan kecil.

Subsidi dikurangi. Selain BBM, biaya listrik contohnya. Bagi masyarakat yang sudah biasa ngempeng,  ini merupakan pukulan. Mereka masih tetap ingin seperti bayi. Tidak ingin dewasa kalau dilihat dari soal subsidi ini. Maka persepsi semuanya menjadi mahal menjadi bertambah. Padahal mereka tidak melihat perbaikan infrastruktur dan kemudahan-kemudahan yang sekarang mereka peroleh. Growing up is never easy.

Intinya: persepsi masalah ekonomi yang dilihat oleh penduduk pulau Jawa.

Oh ya, sekalian untuk pak Jokowi. Jangan hanya bangun infrastuktur saja pak. Suprastruktur juga harus dibenahi. Tapi yang lebih penting adalah manusianya yang harus dibenahi. (Apakah “Revolusi Mental” masih berjalan?) Banyak inisiatif yang “merendahkan” kemampuan manusia Indonesia. Patronizing. Semua harus disuapi. Dan sejenisnya. Yang ini tentu saja lebih susah dibenahi daripada infrastruktur fisik. Tapi, masalah infrastruktur yang sulit juga bisa dibenahi mengapa yang ini juga tidak dicoba?

Kembali ke soal pembangunan infrastruktur, siapa “Bapak Pembangunan” Indonesia? Yep. Itulah sebabnyak banyak orang yang khawatir pak Jokowi akan menjadi “Bapak Pembangunan Kedua”. Seingat saya ada karikatur yang dibuat oleh Kompas atau Tempo ya yang menampilkan hal ini? (Karikatur yang sama sempat saya lihat di sebuah presentasi tentang politik Indonesia di sebuah seminar di Australia.)

[Tulisan ini sudah lama ingin saya buat tetapi selalu tidak jadi saya lakukan karena saya membutuhkan data yang lebih banyak. Namun data tersebut tidak kunjung saya cari. ha ha ha. Akibatnya tidak jadi ditulis terus. Lha kapan jadinya. Ya sudah. Saya buat versi ini dulu yang nanti akan saya perbaharui dengan data dan analisis yang lebih baik. Oh ya, ini bukan parodi. Ini opini. Just in case you are wondering.]

Iklan

Kopi Arabica Urang Awak

Salah satu oleh-oleh perjalanan ke Sumatera Barat kemarin adalah kopi Arabica Urang Awak ini. Rasanya hitam, pahit, dan nendang. Saya masih belum menemukan rasa yang pas untuk kopi ini. Nanti mau coba buat lagi. Baru mencoba satu cangkir.

DSC_6602 kopi_0001

Mari ngopi…

Kopi Tanpa Gula

Minum kopi itu nikmatnya tanpa gula. Kopi hitam. Gitu saja. Ah, yang bener? Iya, serius.

Banyak yang tidak percaya bahwa ngopi itu enaknya kopi hitam biasa saja. Saya dahulu termasuk yang tidak percaya. Kalau ngopi, ya harus disertai dengan gula (meskipun tidak banyak). Pada suatu saat saya berniat untuk mencoba kopi tanpa gula. Setelah beberapa waktu (rasanya kurang dari 6 bulan) mengurangi kadar gula, akhirnya saya ngopi tanpa gula. Sudah bertahun-tahun seperti itu.

Ngopi tanpa gula juga lebih sehat karena kalau kebanyakan ngopi pakai gula, yang bikin masalah itu malah gulanya. Apalagi untuk orang-orang yang sudah berusia. (Maksudnya yang sudah tua. he he he.) Jadi tidak ada salahnya untuk belajar ngopi tanpa gula.

DSC_6595 kopi_0001
Kopi sore ini; Arabica – Kerinci

Mari … ngopi tanpa gula.

Perjalanan ke Sumatera Barat

Ada beberapa pertanyaan, “pak, kenapa belum update blog lagi?”. Jawabannya adalah karena saya sedang di perjalanan. Kali ini saya sedang di Sumatera Barat. Hari Minggu kemarin saya tiba di Padang dan langsung ke Bukittinggi. Leha-leha sebentar. (Foto-foto dulu.)

DSC_6172 jalan 0001

Kemudian saya kembali ke Padang untuk mengisi acara Seminar Nasional dengan topik “Fintech Security” di acara Lustrum 1 FTI, Universitas Andalas.

fintech security

Itulah sebabnya saya belum sempat ngeblog. Tulisan ini juga saya buat di kamar hotel.

Peluncuran Buku Digital Indonesia

Hari Kamis lalu (6 Juli 2017) diadakan peluncuruan Buku “Digital Indonesia: Connectivity and Divergence” di ITB. Buku yang diedit oleh Edwin Jurriens dan Ross Tapesll ini merupakan hasil kegiatan “Indonesia Project” yang dimotori oleh ANU (the Australian National University). Buku ini sangat penting karena seringkali kita kekurangan referensi (apalagi yang akademik) tentang situasi “digital” di Indonesia. Nah, sekarang tidak perlu mencari-cari lagi.

Saya ikut terlibat dengan menulis satu bab di dalamnya, tentang keamanan teknologi informasi. (Tampilannya dapat dilihat di bawah ini.) Materi ini juga sudah saya presentasikan di Canberra dan Perth. Kamis lalu, update dari materi ini juga saya presentasikan di ITB.

photo6280633421604693950

Bahasan dari buku ini cukup komplit. Nanti akan saya tampilkan daftar isinya di sini. Sementara ini saya mau lapor itu dulu. hi hi hi. Mengenai bagaimana cara memperoleh buku ini juga akan saya beritahukan segera.

Buku ini berisi empat bagian (5 parts); connectivity (2-4), divergence (5-7), identity (8-10)knowledge (11-12), dan commerce (13-15). Masing-masing isinya adalah sebagai berikut:

  1. Edwin Jurriens & Ross Tapsell, “Challenges and opportunities of the digital revolution in Indonesia”
  2. Yanuar Nugroho & Agung Hikmat, “An insider’s vide of e-governance under Jokowi: political promise or technocratic vision?”
  3. Emma Baulch, “Mobile phones: advertising, consumerism, and class”
  4. Ross Tapsell, “The political economy of digital media”
  5. Onno W. Purbo, “the digital divide”
  6. Usman Hamid, “Laws, crackdowns and control mechanisms: digital platforms and the state”
  7. Budi Rahardjo, “The state of cybersecurity in Indonesia”
  8. John Postill & Kurniawan Saputro, “Digital activism in conteporary Indonesia: victims, volunteers and voices”
  9. Martin Slama, “Social media and Islamic practice: Indonesian ways of being digitally pious”
  10. Nava Nuraniyah, “Online extremism: the advent of encrypted private chat groups”
  11. Kathleen Azali, “Digitalising knowledge: education, libraries, archives”
  12. Edwin Jurriens, “Digital art: hacktivism and social engagement”
  13. Mari Pangestu & Grace Dewi, “Indonesia and digital economy: creative destruction, opportunities and challenges”
  14. Bode Moore, “A recent history of the Indonesian e-commerce”
  15. Michele Ford & Vivian Honan, “The Go-Jek effect”

Selamat menikmati 🙂

Hindari Kebiasaan Mencela

Salah satu biang keributan adalah mencela seseorang. Orang yang dicela tidak terima dan balik mencela. Cela-mencela. Akhirnya jadi baku hantam. Atau, setidaknya berkelahi di media sosial. Kebencian ini juga akhirnya terbawa ke dunia nyata.

Kalau dicari-cari, pasti setiap orang memiliki kelemahan dan kesalahan. Namanya juga manusia. Bukan malaikat. Maka apa hebatnya mencela? Kalau monyet bisa bicara, mungkin mereka akan menertawakan kita karena kebisaan kita hanya mencela. (Kalau pandai memanjat pohon, mungkin monyet akan kagum. he he he.)

Dari kebiasaan muncul kebudayaan. Akan sangat menyedihkan kalau yang dikenal orang dari budaya Indonesia adalah budaya mencela. Banyak bangsa yang menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Nah, kita mosok hanya menghasilkan kebudayaan mencela. Ini juga nanti tercatat lho seperti halnya kebudayaan bangsa jaman dahulu yang tercatat dalam artifak-artifak sejarah; prasasti, candi, dan bahkan dalam  landmark-landmark. Malu ah.

Hentikan kebiasaan mencela!

Kalau ada yang mencela atau mengajak kita mencela atau bahkan sekedar mengajak kita tertawa dalam celaannya, tinggalkan. Tidak lucu.

Mengenali Pahlawan Indonesia

Ketika jaman saya masih kecil, semua anak-anak diwajibkan mengetahui dan bahkan menghafalkan nama pahlawan-pahlawan Indonesia. Biasanya disebutkan mereka dari daerah mana. Ini mungkin bagian dari doktrinasi bernegara Indonesia? Hasilnya adalah kami jadi mengetahui pahlawan-pahlawan Indonesia.

Jaman dahulu memang belum ada internet, sehingga pengetahuan kami juga terbatas. Tetapi di sisi lain kami juga tahu bahwa kami tidak tahu semua. (Muter begini. hi hi hi.) Artinya, kami tidak sok tahu.

Baru saja Bank Indonesia menerbitkan uang baru. Uang baru ini menampilkan wajah pahlawan Indonesia. Sayangnya ketika membaca sebuah thread tulisan (post) di media sosial tentang uang ini, banyak yang menyikapinya dengan negatif. Sebagai salah satu contoh adalah banyak yang tidak tahu (dan saya pada awalnya) tentang Frans Kaisiepo yang ditampilkan pada pecahan uang 10.000 rupiah.

rupiah_10000
Tampilan uang 10.000 Rupiah yang baru [sumber sindonews]
Sedihnya banyak yang menyikapi ketidak tahuan ini dengan menghakimi. Saya tidak sampai hati untuk menuliskan komentar-komentar mereka di tulisan ini. (Dan ini juga dapat saya anggap sebagai ikut menyebarkan kebencian.) Padahal untuk memecahkan ketidaktahuan ini mereka dapat mencari informasi di internet. Ini salah satunya, “Biografi Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo“. Sangat mudah sekali. (Coba bayangkan jaman dahulu sebelum ada internet!) Keberlimpahan informasi ini ternyata tidak menjadi jaminan orang menjadi lebih terdidik. Aneh. Apakah ini merupakan kegagalan pendidikan Indonesia?

Hal yang sama dapat juga dilakukan untuk mencari informasi mengenai pahlawan-pahlawan Indonesia lainnya yang diabadikan di uang baru kita. Ayo cari tahu.