Mencari Gojek-nya Pendidikan

Sudah pernahkan Anda menggunakan Go-Jek (termasuk Go-Food, dll.)? Ketika pertanyaan ini saya lontarkan di berbagai pertemuan, jawabannya (sebagian besar) adalah sudah. Singkatnya, bagi banyak orang Indonesia, Go-Jek adalah hal yang natural dari penerapan teknologi terhadap layanan ojek.

Kalau kita ceritakan tentang “ojek” ke rekan kita yang berada di luar negeri, khususnya di negara maju yang memiliki transportasi publik yang bagus, mereka akan heran. Mengapa ada ojek? Mosok ada layanan transportasi publik berbasis sepeda motor?  Mereka akan mempertanyakan keamanan dari layanan ojek tersebut. Segudang pertanyaan lain akan menyusul.

Ada banyak alasan mengapa ojek dan aplikasi Go-Jek tumbuh di Indonesia. Infrastruktur transportasi yang masih belum bagus dan belum merata menyebabkan banyak jalan yang hanya dapat dilalui dengan motor. Gang, misalnya. Kemacetan di jalan besarpun membuat layanan ojek masuk akal. Belum lagi ini membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang Indonesia.

Sesuatu hal yang aneh dan tidak mungkin di luar negeri menjadi sesuatu hal yang lumrah di Indonesia.

Mari kita melirik ke dunia pendidikan. Aplikasi pendidikan apa yang Anda gunakan akhir-akhir ini? Sering? Berapa banyak orang yang menggunakan aplikasi ini? Jawabannya adalah tidak banyak atau bahkan tidak ada. Pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan memang masih kalah cepat dengan pemanfaatan di dunia bisnis.

Pendidikan di Indonesia tidak dapat disamakan dengan pendidikan di luar negeri. Lingkungan dan karakter orang Indonesia yang berbeda menyebabkan banyak cara pendidikan luar negeri yang tidak dapat diterapkan secara langsung. Kondisi infrastruktur yang dibutuhkan untuk transportasi publik sama buruknya dengan kondisi “infrastruktur” yang dibutuhkan untuk menjalankan pendidikan.

Nah, apakah “ojek” dari pendidikan di Indonesia? Mungkin ada sesuatu hal yang mungkin dianggap aneh oleh orang Barat, tetapi masuk akal bagi orang Indonesia. Sesuatu yang khas Indonesia. (Kearifan lokal?) Kalau sudah ketemu “ojek”nya, mungkin dapat dibuatkan aplikasi “gojek”nya untuk pendidikan ini.

Kita butuh pemikiran yang berbeda. Mari kita cari “the gojek app for Indonesian education”.

Konser Badai Pasti Berlalu (Plus)

Yeah, yeah, yeah.

Saya sudah dua kali nonton konser ini – Jakarta & Bandung – dan dua-duanya mantap. Berbeda. Tidak sama. Seru. Sayangnya saya tidak sempat nonton yang Surabaya dan Malang.

Lihat ini contoh video (Jurang Pemisah) yang saya ambil ketika konser di Jakarta.

14542315_10209951744086136_8011555052935738874_o

Sebenarnya ini bukan hanya sekedar tontonan, tetapi sebuah upaya pendidikan kepada masyarakat Indonesia tentang (sejarah) perjalanan musik pop Indonesia. Kita bisa banyak belajar dari para musisi ini. Sejarah itu untuk dipelajari dan tidak dilupakan. Tidak juga untuk bejalan di tempat.  Untuk bisa maju ke depan dengan lebih baik. Tahun depan ada yang baru-baru. Ayo nonton!

Informasi tiket ada di: www.mahanalive.com.

Mari kita dukung musik Indonesia. Mosok kalau ada band / artis asing biar harganya mahal  ditonton, sementara yang Indonesia tidak dihargai. Yang Indonesia didukung juga dong. Mari …

Indonesia Update 2016

Perjalanan saya ke Australia ini sebetulnya dalam rangka acara “Indonesia Update 2016” yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU) Indonesia Project. Topik dari acara tahun ini adalah Digital Indonesia. Itulah sebabnya saya diundang menjadi salah satu pembicara. Saya akan berbicara tentang “cyber security”.

Acaranya dilangsungkan di kampus ANU, di kota Canberra, selama dua hari. Presentasi saya adalah presentasi terakhir di hari terakhir. (Ini ada keuntungan tersendiri, yaitu saya bisa suka-suka saya. Meskipun tidak bisa sebebas yang saya pikirkan. hi hi hi.) Pembicara yang lain keren-keren juga.

p_20160917_063951-01-jadwal

Peserta dari acara ini ternyata sangat banyak. Ruangan yang digunakan, sebuah teater, berukuran hampir 500 orang. Dan peserta yang datang banyak sekali. Hampir memenuhi ruangan. Berarti mendekati 500 orang.

Di hari pertama saya hanya mendengarkan. Bayu pembicara kedua mengidekan situasi politik di Indonesia seperti trilogi start wars. Dias (lupa di sesi berapa) juga menyinggung soal star wars. Akhirnya saya putuskan untuk menutup acara tema star wars; the return of the Jedi. ha ha ha.

cshi2hhumaa-wjv-jedi
the return of the (code) jedi

Tadinya saya mencari apa yang bisa dipakai untuk baju (dan lightsaber) untuk manggung. Gak nemu. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan hoodie saja. Jadilah seperti foto di atas. Lumayanlah. Tema Star Wars terjadi juga. hi hi hi.

p_20160917_130953_bf-folks-0001
Foto para pembicara sesi terakhir. Potret sebelum bubar

Di kampus ini saya menginap di University House, semacam hotel / dorm untuk tamu-tamu dari universitas. Tempatnya sangat dekat dengan ruang acara. Jadi tidak perlu transportasi. Tinggal jalan 2 menit dari kamar ke tempat presentasi. Tempatnya asyik juga. [foto-foto menyusul]

Canberra ini ternyata masih dingin juga. Harusnya sih temperaturnya sudah naik tetapi masih dingin. Setelah acara selesai, hari Minggu di kampus ini kosong banget. Sepiii. [foto2 menyusul, lagi] Canberra, meskipun ibu kota, ternyata kecil dan sepi. hi hi hi.

Platform Distribusi Lagu Digital

Kadang saya bingung melihat banyak artis musik dan asosiasi (artis) musik yang ribut soal pembajakan. Mereka telah menghasilkan karya dan kemudian meras bahwa dunia digital memudahkan orang untuk “membajak” lagu mereka. Terminologi “membajak” di sini adalah mengambil (download atau sejenisnya) lagu (karya) mereka tanpa membayar.

Ok lah pembajakan digital ini tidak benar secara hukum dan etika. Lantas apa solusinya? Sebagian besar tidak membicarakan solusi. Hanya berkeluh kesah tentang pembajakan itu. Iya, lantas apa solusinya? Pokoknya nggak mau dibajak. Iyaaaa … apa solusinya?

logo-insan-musicDahulu saya dapat memahami tentang sulitnya mengatakan solusi karena belum tersedia layanan / aplikasi / teknologi / framework / platform untuk itu. Sekarang sudah banyak. Kami, salah satunya, membuat platform distribusi lagu digital di Insan Music Store. Silahkan lihat ke toko digital kami di toko.insanmusic.com. Anda bisa langsung membuat akun manager dan kemudian membuat channel musik digital Anda (sebagai artis, atau sebagai manager artis musik).

Seharusnya keluh kesah mengenai “pembajakan” ini dapat berkurang. Eh, saya lihat tidak juga. Para artis musik ini masih tetap saja melihat ke belakang, yaitu masih berkeluh kesah tentang pembajakan tanpa mau mencoba platform tersebut. Ya, mana bisa selesai masalah dengan berkeluh kesah saja.

Konser Badai Pasti Berlalu + LCLR+

Bagi Anda, penggemar musik Indonesia, silahkan tonton konser Badai Pasti Berlalu, LCLR+, Yockie Suryo Prayogo berikut. Kali ini, konsernya digelar di Surabaya. Saya sudah nonton dua konser sebelumnya – di Jakarta dan di Bandung – dan komentar saya adalah luar biasa! Keduanya beda dan keduanya sama kerennya.

konser badai pasti berlalu

Bagi yang seumuran saya (baca: tua, ha ha ha), Badai Pasti Berlalu dan LCLR merupakan bagian dari perjalanan menikmati musik Indonesia. Ini merupakan salah satu tonggak musik Indonesia. Saya punya koleksi album-albumnya dalam bentuk kaset dan CD. Beli aslinya tentunya. Sayang sekali kasetnya sudah hilang. hik hik hik.

Bagi yang muda, ini adalah tempat belajar. Melihat bagaimana musik Indonesia melalui perjalanannya. Ini juga merupakan tempat untuk menurunkan ilmu bagi yang tua ke yang muda (proses mentoring) dan juga momen untuk kolaborasi. Meneruskan tongkat estafet. Salah satu kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Tiket bisa dipesan online di: konserbadaipastiberlalu.com

Jreng!

Peran Bahasa Indonesia

Barusan membaca secara singkat tentang penelitian terkait dengan bahasa, yaitu bahasa mana yang dominan di dunia internet ini. Tentu saja yang paling dominan adalah bahasa Inggris. Pertanyaannya adalah setelah bahasa Inggris, bahasa apa? Kalau kita ingin belajar bahasa kedua, sebaiknya bahasa apa? [Silahkan baca di sini.]

Yang sedihnya adalah ternyata Bahasa Indonesia tidak termasuk bahasa yang dianggap penting. Setidaknya untuk dunia tulis menulis. Padahal jumlah orang Indonesia yang menggunakan internet sangat besar. Dugaan saya, jumlahnya sudah lebih dari 100 juta orang. Namun memang saya dapat mengerti peran 100 juta orang ini sangat sedikit dalam hal menyebarkan ide melalui tulisan. Orang Indonesia memang jarang membuat tulisan. Eh, ada … status di facebook dan twitter. hi hi hi.

Tulisan orang Indonesia kebanyakan ada di media tertutup dalam grup-grup seperti di WhatsApp, Telegram, BBM, Line, BeeTalk dan seterusnya. Yang begini memang sering tidak masuk hitungan dalam hal komunikasi ide. Seharusnya lebih banyak yang menulis di blog, tapi …

Ya begitulah …

Tidak Patuh

Foto ini saya ambil beberapa hari yang lalu. Perhatikan bagaimana motor-motor di sebelah kanan itu berhenti menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau. Sebetulnya sudah disediakan tempat untuk motor itu menunggu, bagian yang dicat merah. Tetap saja ada yang mengambil jalur arah yang berlawanan untuk menunggu. Mengapa? Padahal mereka menghambat laju kendaraan dari arah berlawanan.

IMG_3904 motor ngaco 1000

Kondisi ini saya temukan setiap hari. Beginilah rendahnya kepatuhan pengendara terhadap peraturan lalu lintas.

Perayaan 17 Agustus

Hari ini tanggal 17 Agustus 2012. Hari kemerdekaan Indonesia.

Pada hari ini biasanya diselenggarakan berbagai acara, mulai dari yang formal seperti upacara sampai ke yang informal seperti lomba balap karung. Hanya saja hari ini kebetulan umat Islam masih berpuasa, dan yang lebih berpengaruh, sebagian sedang dalam perjalanan mudik untuk Lebaran. Saya duga perayaan 17 Agustusan hari ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Atau mungkin ketidak-meriah-an acara 17 Agustusan ini karena orang Indonesia sudah tidak merasa penting lagi arti kemerdekaan?

Kemerdekaan. Independence. Kebebasan.  Kata-kata yang hilang maknanya. Kita tidak dapat merasakan maknanya sampai mereka hilang. Terus terang saya pun merasa demikian, sampai ketika mencoba memahami carut marutnya pengelolan perguruan tinggi. Saat ini otonomi – yang berarti kemerdekaan – perguruan tinggi nampaknya terberangus. Semua harus diatur oleh pemerintah. Perguruan tinggi dianggap bodoh dan harus diatur oleh pusat secara rinci.

Lho kok menjadi keluh kesah begini. Lupakan … Hari ini harusnya kita bergembira. Bersemangat! Ingat, kemerdekaan kita ini bukan sesuatu yang diberikan cuma-cuma. Kemerdekaan ini KITA REBUT dan KITA TEBUS dengan nyawa. Semoga kita tidak melupakan para pahlawan kita. Semoga Allah mengampuni segala dosa mereka dan mereka berada di tempat yang layak di alam sana. Amin.

Untuk sisi gembira hura-huranya apa ya? Hmmm… hari ini kok sepi-sepi saja ya?

Bagaimana perayaan 17 Agustusan di tempat Anda? Atau, perayaan 17 Agustusan kapan yang paling berkesan bagi Anda?

Tidak Patuh (pada peraturan lalu lintas)

Mengapa ya banyak orang yang tidak mau patuh kepada peraturan lalu lintas? Foto di bawah ini saya ambil pada suatu malam (pukul 22-an) di persimpangan Cikapayang (Dago, Bandung). Perhatikan bahwa sudah disediakan tempat untuk berhentinya motor. Mobil berhenti lebih di belakang lagi, sehingga ada tempat untuk motor. Mengapa mereka mesti harus di depan (di luar) dari tempat itu??? Padahal tempatnya kan luas dan mereka juga sudah paling depan?

Hal yang sederhana seperti ini saja tidak dapat dilakukan. Apalagi meminta mereka untuk taat pada peraturan lain dengan lingkungan yang lebih rebutan lagi. Jika hal sepele seperti ini saja kita tidak mau belajar, bagaimana menghadapi masalah yang lebih besar?

Hilangnya Kebanggaan Terhadap Indonesia

Hari ini, 28 Oktober, merupakan hari Sumpah Pemuda. Adanya tekad untuk mempersatukan Indonesia.

Berpikir … apakah memang kita masih bangga terhadap INDONESIA? Semua yang ada di Indonesia sudah dijual atau digadaikan ke pihak asing. Demi globalisasi atau pasar global, korbankan (kebanggaan atas) Indonesia. Atau memang sudah tidak ada yang dapat dibanggakan?

Menjual Kompetensi Indonesia

Gak bisa tidur karena terlalu excited memikirkan kelanjutan dari pertemuan kemarin. (Ya, kemarin karena sekarang jam 2 pagi sehingga secara teknis sekarang sudah hari berikutnya. hi hi hi.) Saya ingin menunjukkan kepada dunia betapa hebatnya manusia-manusia Indonesia. Mungkin tidak semua, tapi cukup banyaklah yang hebat. Cukup untuk menjadi penarik atau pemicu.

Ada banyak cerita yang ingin saya tuangkan. Akibatnya saya tidak bisa tidur. Maka ngeblog-lah saya. hi hi hi.

Yang pertama ingin saya tulis adalah apakah memang benar Indonesia memiliki SDM yang excellent?  (Khususnya yang terkait dengan bidang teknologi.) Kayaknya saya bisa mengatakan iya. Percayakah saya terhadap itu? He** yes! Saya melihat diri saya sendiri dan rasanya kualitasnya tidak kalah dengan orang lain di dunia. he he he, muji diri sendiri. Apakah ini too good to be true?

Tentu saja kita masih punya masalah untuk lebih banyak menghasilkan SDM yang world class. Bagaimana memotivasi anak muda agar mereka mau meraih tingkat kemampuan teknis yang lebih tinggi ya?

[Sorry kalau tulisannya agak convoluted. Maklum, jam 2 pagi. hi hi hi.]

Menyoal Server RIM di Indonesia

[Busyet dah. I opened up a can of worm 🙂 Kepalang tanggung. Bahas sekalian deh soal ini.]

Baiklah. Sekarang saya akan bahas soal permintaan (atau pemaksaan?) Research In Motion (RIM) untuk memasang server di Indonesia. Apa alasannya?

Alasan yang paling sering muncul adalah agar pemerintah Indonesia bisa menyadap komunikasi orang yang menggunakan BlackBerry. Saya sebetulnya cukup heran juga banyak yang setuju. Sebagai warga negara, semestinya kita harus mengingatkan pemerintah akan hak-hak kita (sebagai warga negara dan netizen); bahwa pemerintah tidak bisa semena-mena melakukan penyadapan.

Jika rekan-rekan membaca sejarah tentang munculnya PGP (pretty good privacy) dan juga buku-buku seperti cypherpunk, maka bisa kita lihat bahwa gerakan yang mereka lakukan adalah mempertahankan hak warga negara dari perbuatan semena-mena dari pemerintah. (Dalam hal ini adalah warga Amerika terhadap pemerintah Amerika.) Mereka kemudian menciptakan berbagai sistem pengamanan dan produk kriptografi yang menyulitkan pemerintah untuk melakukan tindakan penyadapan.

Bagaimana jika pemerintah benar-benar membutuhkan data komunikasi seseorang, misalnya untuk menangani kasus terorisme atau korupsi? Ada mekanisme yang disebut lawful interception. Ini banyak dilakukan untuk memerangi terorisme, narkoba, dan korupsi, hal-hal yang sejenisnya. Secara singkatnya, pemerintah – dalam hal ini penyidik yang sudah mendapatkan mandat untuk melakukan penyidikan kasus tertentu – dapat mengirimkan permohonan kepada penyedia jasa untuk mendapatkan data komunikasi tertentu. Umumnya penyedia jasa akan mentaati hal ini. (Catatan: hal ini sudah lazim dilakukan oleh penegak hukum di seluruh dunia, temasuk oleh penegak hukum di Indonesia.)

Jadi, server ada di mana pun, di luar negeri dan di Indonesia tetap bisa dilakukan lawful interception. Kalau Anda berniat jahat, data Anda akan dapat diungkapkan. Jadi gak perlu berbuat jahat ya? 🙂

Kalau tujuannya adalah untuk unlawful interception … nah, mosok yang kayak gitu harus kita dukung?

Oh ya, ada banyak cara untuk mendapatkan data komunikasi. Ada physical security dan  social engineering 🙂  Yang ini nampaknya lebih mudah daripada melakukan cracking encryption. Belum lagi ada pendekatan dukun 🙂 . Buktinya penegak hukum di Indonesia lebih cepat dalam menangkap penjahat daripada penegak hukum di luar negeri. he he he.

Alasan yang kedua yang sering juga digunakan mengapa RIM harus memasang server di Indonesia adalah agar kita kebagian bisnisnya, kebagian ilmunya, kebagian … pokoknya kebagian deh. Untuk yang ini saya sendiri masih pro dan kontra. Soalnya sebenarnya kita-kita ini sudah pinter ngurusin server-server kok 🙂 Technically kita sudah jago. Gak perlu ada server RIM juga kita sudah tahu cara menjalankan data center 🙂

Nah, soal kebagian bisnisnya … kok rasanya vulgar banget 🙂 Begitu tahu mereka untung, lantas kita mau dapet bagian. Emangnya kalau mereka gak untung kita mau nombokin? Soalnya sebentar lagi juga layanan mereka tidak terlalu dominan lagi kok. Lantas apa nanti kalau pelanggan mereka pindah ke teknologi, device, dan layanan lain dan kemudian RIM mulain merosot … kita mau nombokin? Ya gak lah. Kesannya kalau untung minta bagian, kalau rugi gak mau ikutan. Hadoh…

Pertandingan Sepak Bola Nanti Malam: jangan memalukan

Saya berharap kita tidak memalukan dalam pertandingan sepak bola nanti malam.

Yang saya maksudkan dengan jangan memalukan adalah sebagai penonton kita jangan mengacaukan pertandingan dengan laser dan sejenisnya. Lihat saja bagaimana kemarin orang Malaysia malu karena ada oknum di penonton yang melakukan hal itu. Kita jangan melakukan hal itu. Ini masalah harga diri bangsa, bung. We are better than that. Biarkan pemain bermain dengan tenang.

Saya khawatir kalau penonton ngaco, pertandingan malah dihentikan dan kita sendiri yang rugi. Kalau diberhentikan berarti skornya yang ada saja. Kalah kita. Sudah kalah, martabat jatuh pula. Jadi marilah kita tunjukkan bahwa kita punya kelas.

Untuk para pemain, main yang semangat ya. Yang penting main sportif, berusaha keras, itu saja. Semoga bisa menang. No pressure 🙂  ha ha ha. Kita sudah bangga kok. Yang penting juga jangan hilang konsentrasi ya. Yuk mari …

Pengguna Twitter Indonesia no #1 di Asia Pasifik

Kata berita di sini, penetrasi pengguna twitter dari Indonesia menduduki ranking nomor satu di Asia-Pacific (20.8%)

http://www.zdnetasia.com/indonesia-has-highest-twitter-penetration-62202044.htm

waaahhh… Setelah facebook, kini kita juga mendapat ranking di twitter. Keplok? Senang? Sedih? Jedotin kepala ke dinding? 🙂

Ternyata statistik ini yang digunakan oleh BBC ketika mewawancarai saya tadi sore. (Katanya ditayangkan hari ini di radio dan web.) Saya tadinya tidak percaya, karena terdengarnya seolah-oleh nomor satu di dunia. Eh, ternyata nomor satunya di Asia-Pacific. Nah, kalau itu baru percaya.

Puspa Indah

Tidak banyak album musik Indonesia yang sangat bagus sehingga bisa dibilang *klasik*, dalam artian tak lekang oleh waktu. Album ChrisyePuspa Indah” ini merupakan album salah satu yang dapat dibilang termasuk klasik.

Album ini sebenarnya merupakan soundtrack dari film dengan judul yang sama, yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessy Gusman. Tentu saja, film ini juga termasuk klasik juga. Doble klasik deh.

Yang menarik dari album musik ini adalah adanya tiga jagoan musik Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Guruh Soekarnoputra, Chrisye, dan Yockie Suryoprayogo. Pada masa itu mereka termasuk musisi kondang. Bahkan sampai saat ini pun saya masih yakin mereka masih luar biasa. Sayang sekali, Chrisye sudah meninggal. (Semoga Allah memberikan tempat yang baik buat Chrisye. Terima kasih atas lagu-lagunya.)

Kapan ya ada album klasik seperti ini lagi?

Baru saja saya mendengarkan album ini … wuih … top markotop. Sudah sekian puluh tahun, tetapi masih saja asyik. Sayang sekali saya tidak memiliki filmnya. Ada yang punya?