Klakson

Sebetulnya saya termasuk yang tidak suka menggunakan klakson. Berisik. Polusi suara. Mungkin ini kebiasaan yang saya bawa dari dulu dan dari luar negeri. Dan sebetulnya bisa sih mengendarai tanpa menggunakan klakson.

Akhir-akhir ini saya jadi lebih sering menggunakan klakson. Pasalnya, banyak pengemudi – yang umumnya adalah pengendara motor – yang tidak melihat ke kiri, kanan, belakang. Mereka pandangannya lurus ke depan tetapi cara mengendarainya meliuk-liuk. Berbahaya sekali. Begitu saya klakson, baru mereka melihat ke belakang (karena spionnya pun seringkali tidak di arahkan ke belakang – mungkin untuk melihat dirinya sendiri? Ngaca? hi hi hi.) Jadi saya membunyikan klakson karena terpaksa. Sedihnya sekarang lebih banyak terpaksanya daripada tidak terpaksanya.

Saya masih berusaha untuk menahan diri agar tidak membunyikan klakson. Tapi, bagaimana ya mengajari pengemudi agar lebih sering-sering lihat kanan, kiri, dan belakang?

Ojek …

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, ojek mungkin bukan sesuatu yang aneh. Bagi orang asing, ini aneh luar biasa. Ada public transport yang berbentuk motor. Dan mengendarainya juga kadang gila-gila-an. he he he. Bagi kita ini solusi.

Kemarin saya terjebak macet ketika menuju Jakarta. Dari Bandung sudah pagi tetapi entah kenapa macet luar biasa sejak pintu tol Cikarang. (Sebetulnya tidak perlu ditanyakan. Cukup diterima saja fakta Jakarta macet. he he he.) Akhirnya mobil yang saya kendarai masuk Jakarta juga, meskipun merayap jalannya. Sampai di depan bank Bukopin Tebet saya lihat jam, sudah pukul 12:15 siang. Sementara acara saya di daerah jalan Medan Merdeka adalah pukul 13 siang. Langsung saya menyerahkan mobil ke Andika yang seperjalanan. Saya sendiri langsung naik ojek, yang melesat menuju tujuan. Sampai di tempat, *persis* pukul 13:00. Phew.

Setelah acara selesai, saya harus ketemuan dengan seorang kawan di daerah SCBD (Semanggi dan sekitarnya). Maka, waktunya menggunakan ojek lagi. hi hi hi. Meskipun sudah menggunakan ojek, kami harus menembus kemacetan jalan di Jakarta. Hampir satu jam kemudian saya sampai di tempat tujuan. Saya tidak kebayang kalau harus naik taksi. Berapa lama sampai tujuan? Dua setengah jam kemudian. Itu pun masih mungkin.

Ojek merupakan solusi bagi saya kali ini. Memang kadang menggunakan ojek tidak mudah. Minggu lalu, di Jakarta juga, saya harus naik ojek dengan membaca cup cakes. Saya terpaksa bawa pakai tas besar dan dipegang hati-hati supaya tidak terguling (karena di atas cup cakes ini ada hiasannya). Lumayan repot juga. Mana ngebut pula. Waks.

Hidup ojek!

Tanpa Peran Pemerintah

Banyak layanan publik yang seharusnya diselenggarakan oleh pemerintah tetapi karena satu dan lain hal tidak terjadi. Akibatnya masyarakat harus turun tangan sendiri. Contoh layanan publik yang saya maksudkan antara lain adalah penerangan jalan, jalannya sendiri, dan masih banyak lainnya.

Di banyak jalan di kota kami, Bandung, yang notabene kota besar tidak ada penerangan. Penerangan terjadi karena warga memasang lampu di depan rumahnya. Warga ini ikut membayar listrik untuk menerangi jalan sehingga tidak terjadi kecelakaan bagi penggunanya.

Di tempat kami, jalan kembali berlubang. Memang dari segi kualitas pembuatannya sangat dipertanyakan, tetapi alhamdulillah masih ada jalan. Untuk memperbaiki jalan ini terpaksa kami harus mengumpulkan dana sendiri. Kadang ada bantuan dana dari calon-calon pimpinan daerah yang sedang kampanye. Setelah itu, tidak ada. Ya, sudahlah, terpaksa swadaya.

CIMG4254 swadaya crop gloom

Lantas apa peran / manfaat dari pemerintah ya?

Kedai Bernuansa Jadul

Saya lihat ada beberapa restoran (kedai, warung) yang mencoba menampilkan suasana jaman dulu (jadul). Kalau di Bandung, contohnya adalah Warung Purnama (di Alketeri), Sagoo (di PvJ dan di jalan Riau), dan restoran Bancakan. Yang mereka tampilkan bukan hanya sekedar desain interiornya saja, tetapi juga barang-barang dan makanan yang mereka jual.

Lihatlah ini (dipotret di Sagoo)

Perhatikan tempat gula yang terbuat dari gelas kaleng 🙂

Bagaimana dengan di tempat Anda?

Jum’at dan Batik

Sudah dua hari Jum’at saya perhatikan orang yang jumatan di tempat saya jumatan (masjid Batan). Banyak orang yang menggunakan batik bahkan mengalahkan orang yang menggunakan gamis (baju koko dan sejenisnya). Bahkan, minggu lalu saya hampir sulit menemukan orang yang menggunakan baju gamis. Mungkin hanya saya sendiri? hi hi hi.

Memang hari Jum’at banyak yang menggunakan batik. Maklum, kantoran memang sudah biasa menggunakan batik di hari Jum’at, tapi saya lihat porsinya menjadi lebih banyak setelah ada hari batik nasional(?). Sekarang semakin ada alasan untuk menggunakan batik. Yang tadinya tidak biasa menggunakan batik sekarang mempunyai alasan untuk menggunakan batik 🙂

Anda pakai batik di hari Jum’at?

Bahasa Inggris Ngawur

Pasti Anda sudah pernah dengar banyolan bahasa Inggris yang ngawur kan? Nggak papa kalau saya ulas lagi kan?

Foto di samping ini merupakan salah satu contoh penggunaan bahasa Inggris yang salah.

Jauhi Narkoba!
Hide Drug!

Kenapa kok “hide drug” sih? hi hi hi. Kan itu artinya jadi “sembunyikan narkoba”. he he he. Jadi malah menyuruh yang nggak bener.

[Catatan: Siapa yang membuat foto ini? Ada yang tahu? Maaf, karena saya tidak tahu, saya tidak bisa memberikan acknowledgement kepada Anda. Fotonya lucu. Soalnya gak enak juga kalau dibilang asal comot foto orang.]

Jadi ingat sebuah spanduk kursus Bahasa Inggris di sebuah tempat (di Jawa Barat):

We make your English perpect.

Hi hi hi … Udah ah.

Tinggal Urusan Cewek

Setelah menyusuri jalan tol Jakarta Bandung, saya menunggu taksi. Lama taksi tak kunjung muncul. Ya sudah. Jepret foto sana sini. Ketemu iklan ini.

“Program kerja” di iklan itu adalah

  • Jadi Rockstar
  • Ngurusin Badan
  • Kepergok Lihatin Cewek Orang
  • Deketin Cewek

Saya mau ketawa karena … dua yang pertama itu sedang saya lalui. Ha! Lumayan sukses. Tahun lalu saya sempat manggung lebih dari 20 kali. Tahun ini baru 2 kali (tapi ini kan baru Januari – semestinya malam ini juga bisa ikutan manggung tapi harus kerja. hik hik hik. Sorry Roel).

Dalam urusan ngurusin badan, lumayan sukses juga. Kesuksesan ditandai dengan turunnya nomor celana sehingga saya harus beli celana baru dengan nomor yang lebih kecil! Hore! Belum pernah kejadian nih. Ini merupakan hasil dari olah raga rutin (futsal seminggu sekali, jogging tiap hari) dan menjaga makan (meski kadang ngamuk seperti makan sate kemarin).

Yang dua selanjutnya – urusan cewek – tidak dalam program kerja saya. Ha ha ha … Repot kalau dijadiin program kerja karena I am already taken. Istri bisa ngamuk. hi hi hi. Jadi untuk kedua hal tersebut, coret dari daftar program kerja.

Kasih Sayang Siapa?

Nemu gambar ini dari milis IA-ITB, EL-ITB, dan milis lainnya. (Tidak tahu siapa yang memiliki gambar aslinya. Kalau gambar seperti ini – misalnya, ITB yang di Semarang itu – cepat sekali menyebarnya. Dibutuhkan ahli untuk mengevaluasi keaslian gambar ini.)

Apa komentar Anda? Di milis sudah ada beberapa komentar, mulai dari yang serius sampai ke yang lucu.

Nama siswanya kok tidak lazim seperti nama Indonesia yang konvensional? Keren juga.

Kemudian memang muncul komentar tentang soal yang jawabannya tidak satu. Jadi inget kuliah Kimia pak Hiskia dulu. Kalau kita menghitung dengan rumus yang salah … ada jawabannya. Pakai rumus satunya lagi, ada juga jawabannya. Tadinya mau pakai metoda eliminasi. he he he. Ternyata nggak bisa. Jadi kalau menebak-nebak, bakalan kacau. He he he. (Ini jago buat soalnya.)

Kembali ke gambar di atas. Padahal yang benar jawabannya “(c). ayah”, kan? Iya kan? (Mosok ayah nggak boleh gondrong rambutnya. hi hi hi.)