Sidang Mahasiswa

Hari ini saya baru bisa sedikit bernafas lega. Dua minggu terakhir ini (dan sebetulnya sebelumnya juga) saya disibukkan untuk urusan kampus. Ada tujuh mahasiswa bimbingan saya yang maju sidang. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa S2. Sementara itu ada tiga mahasiswa bimbingan S3 yang juga melakukan sidang kemajuan.

Berikut ini foto-fotonya. Yang pertama adalah foto-foto mahasiswa S2.

P_20170613_091148-01 yogi P_20170613_101452-01 auliak

P_20170613_111214-01 ali P_20170614_131048-01 naim

P_20170614_142004-01 syarifudin P_20170615_100401-01 syaiful andy

P_20170615_110611-01 bakti

Yang berikut adalah foto-foto mahasiswa S3 bimbingan.

P_20170616_075106 kholish

P_20170620_090605-01 andry P_20170620_112535-01 teguh

Untuk melakukan itu semua ada banyak persiapan-persiapan, yang artinya kesibukan. Selain itu saya masih ada urusan lain, yaitu menilai makalah-makalah mahasiswa untuk tiga kuliah yang saya berikan semester lalu. Itulah sebabnya saya agak hilang di blog ini. Padahal niat untuk membuat tulisan setiap hari masih ada. Semangat.

Iklan

Festival Band Alumni ITB 2017

Setelah 3,5 tahun berlalu, festival band alumni ITB ada lagi. Pada fesband yang lalu saya tidak ikutan. Lupa kenapa. Kali ini saya ikutan. Bahkan, saya ikutan di 3 band (dalam dua hari). Sebetulnya saya bisa ikutan di satu kategori lagi, sehingga 4 band dalm 3 hari. Mungkin itu rekor di antara peserta. ha ha ha.

Jum’at malam (3 Feb 2017). Band yang pertama manggung – membuka acara – adalah Band Alumni Elektro ITB. Lagu yang dibawakan adalah (1) Kansas – Carry on Wayward Son dan (2) Cokelat – Bendera. Yang dicari memang lagu yang bernuansa rock! Di festband kali ini memang hanya diberikan kesempatan untuk membawakan dua lagu dengan catatan harus ada minimal satu lagu berbahasa Indonesia atau buatan sendiri.

band-el-fesband-2017-0001
Band Alumni Elektro ITB

16463646_10154979500928749_717606295467438938_o
Waktu check sound. [Sumber Foto: Uut]
Hari Sabtu saya ikutan dua band; Band Dosen ITB (BANDOS) dan Father and Son (berdua dengan anak saya). Bersama BANDOS, kami membawakan lagu (1) Moody’s Mood (versi Brian McKnight) dan (2) Panah Asmara (versi Afgan, bukan Chrisye). Untuk band ini saya hanya bermain gitar dan keyboard, plusĀ  vokal latar saja.

16487800_10208642935735674_8485832120577806802_o-br-keyboard

Di Father and Son, kami membawakan (1) Extreme – More than Words dan (2) Ungu – Tercipta Untukmu. Kami masuk ke kategori IDOL. Memang agak membingungkan karena kami tidak berniat untuk masuk kategori ini. Habis gak ada lagi kategorinya. hi hi hi. Kami membuka sesi IDOL.

16427218_10154224007325778_8744350497478206683_n
Father and Son. Luqman (kiri), saya (kanan). (Sumber Foto: Kadri)

Agak susah juga membuka sesi ini karena konfigurasi sound belum pas. Monitor suara gak bunyi sehingga saya tidak dapat mendengarkan suara saya sendiri. Pas checksound malah lebih asyik.

16473048_10154988901152486_4375659508002605105_n
Checksound – menyanyikan Creed – One Last Breath. (Sumber Foto: Yayo)

Hari Minggu (5 Feb 2017) saya kembali ke Bandung. Phew … Istirahat dulu. Sampai berjumpa di acara musik berikutnya.

Semester Baru

 

Semester baru sudah dimulai di ITB hari-hari kemarin. Kelas sudah mulai. Saya mengajar tiga kelas semester ini. Semuanya berhubungan dengan keamanan informasi (information security). Ini foto kelas Keamanan Informasi (7:00 s/d 9:00), dipotret di akhir kelas. Masih pada segar.

P_20170118_083618_BF-01 kelas

Selain mengajar, saya juga membimbing S2 dan S3. Lupa jumlah mahasiswa bimbingannya. ha ha ha. Ini foto ketika bimbingan dengan sebagian mahasiswa.

P_20170118_111302_BF bimb

Waktunya memperbaharui halaman web juga. (Belum sempat euy.) Demikian pula masih ada setumpuk makalah (perbaikan) mahasiswa yang harus saya koreksi lagi. Ballpoint sudah disiapkan.

p_20170117_114824-01-ballpoint

Ayo semangat!

Minggu Terakhir Perkuliahan

Minggu lalu adalah minggu terakhir perkuliahan di ITB. Selanjutnya adalah Ujian Akhir Semester (UAS). Mahasiswa mulai sibuk dengan tugas-tugas dan persiapan ujian. Sebetulnya dosen-dosen juga sibuk menilai tugas-tugas dan menilai ujian.

P_20160429_090117 students

Kalau sekarang, di akhir kelas sering terjadi potret bersama antara dosen dan mahasiswa. Potret di atas adalah sebagian dari mahasiswa kuliah Keamanan Informasi saya. Mahasiswanya sih banyak, tetapi pada hari itu (Jum’at) banyak mahasiswa saya yang tidak hadir karena mengira saya harus ke Jakarta (untuk peluncuran Telinga Musik Indonesia) tetapi saya memutuskan untuk di Bandung (mengajar, meeting, dan beberapa pekerjaan lainnya).

Selamat ujian untuk mahasiswa dan selamat bertugas untuk para dosen.

Menilai Tugas Mahasiswa

Dan tibalah saatnya saya harus menghadapi pekerjaan yang menyebalkan, menilai tugas mahasiswa. Kalau boleh sih, sambil tutup mata semuanya saya beri nilai “A” saja. Ha ha ha. Tapi ini tidak adil bagi yang sudah bekerja keras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Mereka pantas untuk mendapatkan nilai “A”. Sisanya? Ya kurang dari A lah. Apalagi yang super malas, ya paling tinggi “C” lah. Atau, sekalian tidak diluluskan saja. wogh.

Kali ini saya salah perhitungan. Tadinya nilai terakhir masuk pertengahan bulan Juni. Eh, ternyata nilai masuk minggu depan. Senin! Padahal saya memberitahukan mahasiswa bahwa batas terakhir memasukkan tugas adalah lusa. Maka akhir pekan ini saya harus bekerja keras untuk memeriksa dan memberi nilai. Hadoh.

Derita dosen tiada akhir …

Sarapan Gratis Untuk Mahasiswa ITB

Sudah beberapa bulan ini Koperasi Keluargha Pegawai (KKP) ITB dibawah asuhan pak Nana menyediakan sarapan pagi gratis bagi mahasiswa ITB. Saya beberapa kali hadir pukul 6:30 pagi untuk ikut menyeduh kopi dan melihat betapa mahasiswa merespon. Paket sarapan – saya kurang tahu jumlahnya, mungkin 200 paket – habis dalam waktu kurang dari 30 menit. Nampaknya memang mahasiswa membutuhkan ini; pagi-pagi harus kuliah dan belum sempat sarapan yang cukup baik.

Saya mengajak rekan-rekan yang memiliki rezeki untuk berbagi kepada mahasiswa ini melalui KKP. Sudah dibuatkan rekening untuk itu. Berikut ini adalah nomor rekeningnya.

Koperasi Keluarga Pegawai ITB No. 0331372279 BNI cab PTB Bandung

Semoga dapat membantu para mahasiswa. Kita pernah menjadi mahasiswa, bukan?

Sterilisasi Kampus?

Kemarin saya mendapat kabar bahwa Jokowi akan memberikan kuliah terbuka di kampus ITB hari ini. Maka setelah turun dari pesawat (saya baru kembali dari acara InnovFest 2014 di Singapura – cerita menyusul), saya menuju kampus ITB. Tadinya saya pikir acaranya biasa-biasa saja. Yang datang cukup satu aula (Barat atau Timur) saja lah. Biasanya kan kalau pejabat datang ke kampus ya segitu saja pesertanya. Eh, ternyata begitu sampai kampus heboh banget.

Banyak mahasiswa di luar yang mendemo kedatangan Jokowi ke kampus ITB. Katanya mungkin mendekati 100 orang. Ada spanduk dan ada yang berorasi di depan Aula Timur. Saya bergegas menuju pintu masuk yang sudah dikunci. Ada penjaga yang mengenal saya sebagai dosen dan memperbolehkan saya masuk. Maka saya masuk dan menuju bagian belakang aula yang sudah padat. Jumlahnya? Wuih gak tahu saya. Yang pasti, Aula Timur penuh sesak. Nampaknya yang mau mendengarkan Jokowi lebih banyak.

Pak Jokowi baru maju ke dapan setelah acara dibuka Rektor ITB. Setelah mengucapkan salam, pak Jokowi menjelaskan bahwa kedatangannya ke kampus adalah atas undangan ITB untuk menandatangani kerjasama ITB dengan DKI. Kesempatan ini digunakan pula untuk mengisi kuliah terbuka. Tetapi karena ada pro dan kontra dan agar tidak ada keributan di dalam, maka pak Jokowi memutuskan untuk tidak jadi mengisi kuliah terbuka. Begitu dia menutup. Mungkin kurang dari 5 menit. Wah. Bagi saya, sebetulnya perbedaan pendapat di kampus itu adalah yang biasa. Jokowi bisa saja memberikan kuliah tentang DKI.

Di akhir ada mahasiswa yang memberikan penjelasan (berorasi) bahwa mahasiswa tidak mendukung capres tertentu. Ok no problem. Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.

Hmmm… saya jadi berpikir puluhan tahun ke belakang. Akhir tahun 70-an terjadi kericuhan di kampus ITB (dan kampus-kampus lain di Indonesia), antara mahasiswa dengan militer. Pemerintah mencoba membuat kampus steril dari politik. Mahasiswa tentu saja tidak mau diatur oleh pemerintah. Maka para mahasiswa ini melawan. Kampus bahkan diduduki militer. Pada akhirnya kampus berhasil ditundukkan. Disterilkan.

Sangat terbalik dengan sekarang. Mahasiswa bahkan ingin memandulkan dirinya sendiri.

Saya ingat sebuah pendapat dari seorang Profesor (yang saya lupa sumbernya). Mahasiswa (ITB) tidak perlu terlibat politik praktis, tetapi mahasiswa tidak boleh buta/bodoh politik. Nah. Lantas bagaimana mahasiswa dapat mengerti politik jika tidak belajar di kampus? Hadirkan tokoh-tokoh di kampus. Treat them like a regular person. Biasa-biasa wae lah. Mengapa demikian ketakutannya mahasiswa dengan politik? Demikian lemahnyakah mahasiswa sekarang? Mahasiswa seharusnya dapat membuat dirinya kuat dan tidak terpengaruh dengan (partai) politik, tetapi tidak dengan membuat dirinya steril.

Nampaknya usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil. Mahasiswa sekarang memang sudah menjadi anak baik yang fokus kepada kuliah dan lulus saja. Mahasiswa menjadi tidak relevan dan tidak perlu ditakuti oleh pemerintah lagi. Mahasiswa sudah menjadi kucing, bukan harimau. Kita tunggu saja nanti. Kekurangan pemimpin akan terus berlangsung. Golput akan tetap menjadi dominan.

Rasakno

Link serupa: